53. Jalanku yang Penuh Rintangan dalam Mengabarkan Injil

Oleh Saudari Anna, Myanmar

Aku berasal dari Myanmar. Aku menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman pada tahun 2019. Aku tahu dari membaca firman Tuhan bahwa Tuhan melakukan pekerjaan penghakiman-Nya pada akhir zaman untuk sepenuhnya menyelamatkan manusia dari pengaruh Iblis, membawa kita ke tempat tujuan yang indah. Aku sangat bersyukur atas keselamatan dari Tuhan. Sejak saat itu, aku mengabarkan Injil di gereja. Di sebuah pertemuan, kami membaca satu bagian dari firman Tuhan: "Pekerjaan terakhir-Ku bukan hanya demi menghukum manusia, tetapi juga demi mengatur tempat tujuan manusia. Selain itu, pekerjaan ini bertujuan agar semua orang dapat mengakui perbuatan dan tindakan-Ku. Aku ingin setiap orang melihat bahwa semua yang telah Kulakukan adalah benar, dan bahwa semua yang telah Kulakukan adalah pengungkapan dari watak-Ku. Bukan perbuatan manusia, apalagi naturnya, yang telah melahirkan umat manusia, tetapi Akulah yang memelihara setiap makhluk hidup dalam penciptaan. Tanpa keberadaan-Ku, umat manusia hanya akan binasa dan menderita kengerian bencana. Tidak seorang manusia pun akan pernah dapat melihat kembali matahari dan bulan yang indah, ataupun alam yang hijau; umat manusia hanya akan menghadapi malam yang dingin dan lembah bayang-bayang maut yang tak terhindarkan. Akulah satu-satunya keselamatan umat manusia. Akulah satu-satunya harapan umat manusia dan terlebih dari itu, Akulah Dia yang menjadi sandaran keberadaan seluruh umat manusia. Tanpa Aku, umat manusia akan segera terhenti. Tanpa Aku, umat manusia akan menderita malapetaka dan diinjak-injak oleh segala macam roh, meski tidak seorang pun memperhatikan diri-Ku. Aku telah melakukan pekerjaan yang tidak dapat dilakukan oleh siapa pun, dan hanya berharap orang dapat membalas-Ku dengan beberapa perbuatan baik. Walaupun hanya sedikit orang yang telah mampu membalas-Ku, Aku tetap akan mengakhiri perjalanan-Ku di dunia manusia, dan memulai langkah berikutnya dari pekerjaan-Ku yang sedang berlangsung, karena semua kesibukan-Ku kian kemari di tengah manusia selama bertahun-tahun ini telah membuahkan hasil, dan Aku sangat senang. Yang Kupedulikan bukanlah jumlah orang, melainkan lebih pada perbuatan baik mereka. Dalam hal apa pun, Aku berharap engkau semua mempersiapkan perbuatan baik yang cukup demi tempat tujuanmu sendiri. Maka, Aku akan merasa puas; kalau tidak, tak seorang pun di antaramu dapat lolos dari bencana yang akan menimpamu. Bencana berasal dari-Ku dan tentu saja Akulah yang mengaturnya. Jika engkau semua tidak dapat terlihat sebaik itu di mata-Ku, engkau semua tidak akan luput dari tertimpa bencana" (Firman, Vol. 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Persiapkan Perbuatan Baik yang Cukup demi Tempat Tujuanmu"). Membaca firman Tuhan membuatku sangat termotivasi. Karena bencana makin dahsyat dan ada banyak orang yang merindukan penampakan Tuhan belum mendengar suara-Nya atau menerima keselamatan akhir zaman-Nya, aku menjadi cemas dan merasakan suatu keterdesakan dalam hatiku. Jadi, aku berdoa, memohon agar Tuhan membimbingku untuk mengabarkan Injil akhir zaman-Nya kepada lebih banyak orang.

Awal Juli 2022, aku pergi bersama beberapa saudara-saudari ke sebuah desa untuk mengabarkan Injil. Seorang saudara telah dilaporkan dan ditangkap karena memberitakan Injil di sana, dan kepala desa, setiap kali kembali dari rapat pemerintah kabupaten, selalu mengatakan kepada para warga bahwa mereka tidak diizinkan menganut agama. Jika ada orang percaya yang didapatinya, mereka akan didenda mahal atau bahkan ditangkap. Jadi, tak seorang pun berani mendengarkan pemberitaan kami. Mereka ingin kami berbicara terlebih dahulu dengan kepala desa sebelum mereka berani untuk menyelidikinya. Aku orang luar. Orang-orang yang mengabarkan Injil bersamaku semuanya berasal dari desa tetangga dan kami tidak mengenal kepala desa itu. Penduduk setempat juga tidak mau membawa kami menemui dia. Aku tak tahu bagaimana mengatasi kesulitan ini, kami juga setiap saat berada dalam bahaya dilaporkan dan ditangkap. Aku berdoa, memohon agar Tuhan menunjukkan kami jalan. Kami membaca satu bagian dari firman Tuhan dalam sebuah pertemuan: "Engkau harus percaya bahwa segala sesuatu berada di tangan Tuhan, dan bahwa manusia hanya bekerja sama. Jika engkau tulus, Tuhan akan melihat, dan Dia akan membuka jalan keluar untukmu di setiap situasi. Tidak ada kesulitan yang tidak dapat diatasi; engkau harus memiliki keyakinan ini. Oleh karena itu, ketika engkau semua melaksanakan tugasmu, tidak perlu merasa was-was. Selama engkau mengerahkan segenap kemampuanmu, berusaha dengan segenap hatimu, Tuhan tidak akan memberimu kesulitan, juga tidak akan memberimu melebihi yang dapat kautangani" (Firman, Vol. 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Dalam Kepercayaan kepada Tuhan, yang Terpenting adalah Menerapkan dan Mengalami Firman-Nya"). Firman Tuhan memberiku iman dan kekuatan. Entah aku dapat bertemu dengan kepala desa atau tidak, atau aku akan dilaporkan dan ditangkap, itu sepenuhnya berada di tangan Tuhan. Menyebarluaskan Injil adalah perintah Tuhan, sesuatu yang Tuhan ingin tuntaskan. Meskipun pemerintah menindas dan kepala desa menghalangi, mereka tidak dapat menghentikan penyebarluasan Injil Kerajaan Tuhan. Mereka tidak dapat menghalangi domba Tuhan untuk kembali kepada-Nya. Selama kami mengerahkan segenap kemampuan dalam pekerjaan kami, aku tahu Tuhan akan menunjukkan arah dan membuka jalan bagi kami. Setelah memahami kehendak Tuhan, ada keyakinan dalam diri kami untuk terus memberitakan Injil. Kami lalu mendapati bahwa seorang saudara dari desa tetangga berkerabat dengan kepala desa. Dia mengatakan akan membawa kami menemui kepala desa keesokan harinya. Sore itu, kami kembali ke desa dan memberitakan Injil kepada beberapa penduduk setempat yang memiliki kemanusiaan yang baik. Saat kami bersekutu, wakil kepala desa, seorang kepala keamanan, dan bendahara desa tiba-tiba muncul, lalu pergi setelah mendengarkan sebentar. Seorang warga berkata, "Mereka datang untuk melihat apakah kalian memberitakan Injil. Kami tidak boleh mendengarkan lagi. Bicaralah terlebih dahulu dengan kepala desa, kami akan mendengarkan lagi jika dia setuju." Kami tak punya pilihan selain pergi. Di rumah, aku merasa sangat sedih. Wakil kepala desa tahu kami memberitakan Injil. Jika dia menghalangi, penduduk desa pasti tidak akan menyelidiki jalan yang benar. Selain itu, ketika dahulu saudara itu ditangkap, itu karena dilaporkan oleh bendahara desa. Karena khawatir ditangkap juga, aku tak mau bicara dengan kepala desa. Pengawas tahu tentang keadaanku dan bersekutu denganku, "Menghadapi situasi seperti itu, kita tidak boleh mundur. Kita harus menggunakan kesempatan ini untuk berbicara kepada kepala desa dan memberitakan Injil kepadanya. Selama kita memenuhi tanggung jawab kita, entah mereka menerima Injil atau tidak, tidak akan ada perasaan bersalah di dalam hati kita." Saat itu, aku teringat bagian dari firman Tuhan yang pernah kubaca: "Dalam menyebarkan Injil, orang harus memenuhi tanggung jawab mereka dan memperlakukan setiap calon penerima Injil dengan sungguh-sungguh. Tuhan menyelamatkan manusia semaksimal mungkin, dan manusia harus memperhatikan maksud-maksud Tuhan, mereka tidak boleh dengan sembarangan melewatkan siapa pun yang sedang mencari dan menyelidiki jalan yang benar. ... Asalkan mereka mau menyelidiki jalan yang benar dan mampu mencari kebenaran, engkau harus berupaya sebaik mungkin untuk membacakan lebih banyak firman Tuhan dan mempersekutukan lebih banyak kebenaran kepada mereka, dan bersaksi tentang pekerjaan Tuhan serta meluruskan gagasan dan menjawab pertanyaan mereka, sehingga engkau bisa memenangkan mereka dan membawa mereka ke hadapan Tuhan. Ini sesuai dengan prinsip-prinsip penyebaran Injil. Jadi, bagaimana mereka bisa dimenangkan? Jika, selama proses menginjili mereka, engkau yakin bahwa orang ini memiliki kualitas yang baik dan kemanusiaan yang baik, engkau harus berupaya sebaik mungkin untuk memenuhi tanggung jawabmu; engkau harus membayar harga tertentu, dan menggunakan cara dan sarana tertentu, dan engkau boleh menggunakan cara serta sarana apa pun selama engkau menggunakannya untuk memenangkan orang itu. Singkatnya, untuk memenangkan mereka, engkau harus memenuhi tanggung jawabmu, dan menggunakan kasih, dan berupaya sebaik mungkin. Engkau harus mempersekutukan semua kebenaran yang kaupahami dan melakukan semua hal yang harus kaulakukan. Meskipun orang ini tidak dimenangkan, tidak akan ada perasaan bersalah di dalam hatimu. Engkau telah melakukan semua yang mampu dan harus kaulakukan" (Firman, Vol. 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Menyebarkan Injil adalah Tugas yang Wajib Semua Orang Percaya Laksanakan"). Firman Tuhan memberi tahu kita bahwa saat memberitakan Injil, kita harus memenuhi tanggung jawab kita agar tidak ada rasa bersalah dalam hati kita. Selama orang yang diinjili itu sesuai dengan prinsip-prinsipnya, kita harus memberitakan Injil kepadanya dengan segala cara. Penduduk desa tertarik untuk menyelidiki jalan yang benar. Hanya karena penindasan pemerintah mereka takut didenda atau ditangkap, dan tidak mau mendengarkannya. Aku harus memenuhi tanggung jawabku dan mempersekutukan lebih banyak firman Tuhan, menyelesaikan masalah dan kesulitan mereka. Jika kepala desa adalah orang baik yang siap mendengarkan firman Tuhan, aku harus berusaha dengan segala cara untuk memberitakan Injil kepadanya. Itu berarti aku benar-benar memenuhi tanggung jawabku. Namun, jika aku tidak memberitakan Injil karena takut dilaporkan dan ditangkap, maka aku akan berutang kepada Tuhan. Setelah memahami kehendak Tuhan, ada keyakinan dalam hatiku untuk berbicara dengan kepala desa, dan memberitakan Injil kepada penduduk desa.

Esok harinya, saudara itu membawa kami ke rumah kepala desa. Wakil kepala desa dan bendahara juga ada di sana. Kami menyampaikan persekutuan bahwa Tuhan melakukan tiga tahap pekerjaan-Nya untuk menyelamatkan umat manusia, dan memberi tahu mereka bahwa kini kita hidup pada akhir zaman, dan bahwa Tuhan Yang Mahakuasa adalah Juruselamat yang telah datang. Dia sedang mengungkapkan kebenaran dan melakukan pekerjaan penghakiman untuk menyucikan dan menyelamatkan manusia. Kita harus menerima penghakiman dan pentahiran-Nya agar dilindungi oleh Tuhan selama terjadinya bencana, dan masuk ke dalam kerajaan-Nya. Kepala desa tertarik dan ingin menyelidiki. Namun, wakil kepala desa dan bendahara bersikap buruk. Mereka berkata, "Kami mendengarkan pemerintah. Mereka tidak mengizinkan kepercayaan beragama, jadi kami tak bisa percaya. Kalau kami percaya, kami akan ditangkap." Melihat mereka begitu bersikeras dengan pendirian mereka, aku berdoa kepada Tuhan, memercayakan mereka kepada Tuhan dan meminta bimbingan-Nya. Kemudian, aku membacakan satu bagian dari firman Tuhan Yang Mahakuasa kepada mereka: "Mungkin negaramu saat ini makmur, tetapi bila engkau biarkan rakyatmu menyimpang dari Tuhan, negaramu dengan sendirinya akan semakin tidak memperoleh berkat-berkat Tuhan. Peradaban negaramu akan semakin terinjak-injak, dan tak lama kemudian, rakyat akan bangkit melawan Tuhan dan mengutuk Surga. Demikianlah, tanpa sepengetahuan manusia, nasib suatu negara akan dibawa pada kehancuran. Tuhan akan membangkitkan negara-negara yang kuat untuk melawan negara-negara yang telah dikutuk Tuhan, dan bahkan mungkin melenyapkan mereka dari muka bumi. Kebangkitan dan kejatuhan suatu negara atau bangsa didasarkan pada apakah para penguasanya menyembah Tuhan atau tidak, dan apakah mereka memimpin rakyatnya untuk mendekat kepada Tuhan dan menyembah-Nya atau tidak" (Firman, Vol. 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Lampiran 2: Tuhan Mengendalikan Nasib Seluruh Umat Manusia"). Lalu kusampaikan persekutuanku, "Sekarang ini pemerintah tidak mengizinkan orang untuk percaya, dan mereka bahkan menentang Tuhan. Kalian mendengarkan mereka dan tidak berani percaya. Siapa yang benar-benar mampu menyelamatkan manusia—Tuhankah atau pemerintah? Pandemi makin parah akhir-akhir ini. Kaya atau miskin, berkedudukan tinggi atau rendah, manusia tidak ada artinya dalam menghadapi bencana. Tak seorang pun mampu menyelamatkan kita dari kuasa Iblis, atau melindungi kita selama terjadinya bencana. Hanya Tuhan yang mampu menyelamatkan kita! Tuhan telah menjadi daging pada akhir zaman, mengungkapkan kebenaran dan bekerja untuk menyelamatkan manusia. Ini kesempatan sekali seumur hidup. Kalian semua adalah pemimpin desa ini. Jika kalian tidak memimpin penduduk desa untuk menyembah Tuhan, sebaliknya justru menentang Dia, mereka akan hancur karena kalian semua." Kepala desa lalu berkata, "Aku percaya nasib orang berada di tangan Tuhan, dan aku ingin membimbing penduduk desa untuk percaya kepada Tuhan." Bendahara berkata, "Aku tahu percaya kepada Tuhan adalah hal yang baik, tapi kami akan ditangkap oleh pemerintah jika kami tidak mematuhi mereka. Kami tidak berdaya." Aku membacakan bagian lain dari firman Tuhan kepada mereka: "Kita percaya bahwa tidak ada negara atau kuasa apa pun yang dapat menghalangi apa yang ingin dicapai Tuhan. Orang-orang yang menghalangi pekerjaan Tuhan, menentang firman Tuhan dan mengganggu serta merusak rencana Tuhan pada akhirnya akan dihukum oleh-Nya. Orang yang menentang pekerjaan Tuhan pasti akan dikirim ke neraka; setiap negara yang menentang pekerjaan Tuhan akan dimusnahkan; setiap bangsa yang bangkit untuk menentang pekerjaan Tuhan akan dihapuskan dari bumi ini, dan akan lenyap. Aku mendorong orang dari segala bangsa, dari semua negara, dan bahkan orang dari semua industri untuk mendengarkan suara Tuhan, untuk mengamati pekerjaan Tuhan dan memperhatikan nasib umat manusia, untuk menjadikan Tuhan menjadi yang paling kudus, paling terhormat, paling tinggi, dan satu-satunya Tuhan yang disembah di antara umat manusia, dan membuat seluruh umat manusia hidup dalam berkat Tuhan, sama seperti keturunan Abraham yang hidup dalam janji Yahweh, dan seperti Adam dan Hawa, yang pada mulanya diciptakan oleh Tuhan, hidup di dalam Taman Eden" (Firman, Vol. 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Lampiran 2: Tuhan Mengendalikan Nasib Seluruh Umat Manusia"). Kukatakan, "Watak Tuhan tidak menoleransi pelanggaran oleh manusia. Dia akan menghukum semua orang yang menentang pekerjaan-Nya. Itu adalah watak benar Tuhan, dan tak seorang pun dapat menghindarinya. Bencana makin dahsyat. Ini adalah pengingat dan peringatan Tuhan kepada umat manusia, sekaligus juga hukuman. Sebagai contoh, pemerintahan di bagian selatan Negara Bagian Wa di Myanmar, mereka sering menangkap orang percaya, dan tidak mengizinkan orang untuk menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa. Ini adalah penentangan yang serius terhadap Tuhan. Bulan Juni ini terjadi banjir di sana, dan ada banyak rumah yang hanyut. Menentang sesama manusia bukan masalah besar, tetapi jika orang menentang Tuhan, akibatnya akan serius. Kita semua pernah melakukan hal-hal yang melawan Tuhan, tetapi selama kita bertobat kepada Tuhan dan membimbing penduduk desa untuk menyelidiki jalan yang benar dan berpaling kepada-Nya, Tuhan akan berbelas kasih dan mengampuni kita." Setelah kusampaikan persekutuanku, sikap bendahara tampak sedikit mengendur. Kepala desa dan yang lainnya setuju untuk mengizinkan kami untuk memberitakan Injil kepada penduduk desa. Keesokan paginya, kami mengumpulkan penduduk desa dan menyampaikan kesaksian tentang pekerjaan Tuhan pada akhir zaman kepada mereka. Setelah menyampaikan persekutuan kami selama lebih dari 10 hari, lebih dari 40 orang di desa, termasuk kepala desa dan wakil kepala desa, semuanya menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa. Mereka merindukan firman Tuhan, dengan penuh semangat berpartisipasi dalam pertemuan, juga secara proaktif mengajak orang lain datang mendengarkan khotbah. Beberapa waktu kemudian, dengan kerja sama dan kerja keras saudara-saudari, penduduk di banyak desa di Myanmar menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa.

Dengan makin banyaknya orang yang menerima Injil Tuhan pada akhir zaman, penindasan pemerintah pun menjadi makin parah. Aku telah beberapa kali dilaporkan karena mengabarkan Injil. Kebanyakan orang dari kampung halamanku tahu bahwa aku percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa, dan polisi mencariku ke mana-mana. Karena aku tidak berada di rumah, mereka pergi ke rumah orang tuaku, lalu menangkap dan memenjarakan ibuku yang bukan orang percaya. Aku sangat marah. Imanku benar dan baik, memberitakan Injil juga adalah hal yang tepat yang harus kulakukan. Pemerintah memburuku ke mana pun karena imanku dan penginjilanku, dan mereka mengatakan tidak akan membebaskan ibuku sampai mereka menangkapku. Itu sangat jahat! Keluargaku tidak memahamiku dan mengatakan bahwa imanku itulah yang menyebabkan ibuku ditangkap. Mereka menghubungiku dan menuduhku kejam. Bahkan, saudara-saudariku mengatakan aku harus menyerahkan diri. Aku merasa sangat sedih dan sangat khawatir ibuku akan menderita. Aku terus memberitakan Injil, tetapi tidak seaktif sebelumnya. Dalam penderitaanku, aku berdoa kepada Tuhan, "Ya Tuhan, tingkat pertumbuhanku terlalu rendah. Ibuku ditangkap dan keluargaku tidak memahamiku—aku sangat sedih. Kumohon berilah aku iman agar tetap teguh." Aku membaca firman Tuhan setelah berdoa: "Tak seorang pun dari antaramu yang dilindungi oleh hukum—sebaliknya, engkau semua dihukum oleh hukum. Bahkan, yang lebih jadi masalah adalah orang-orang tidak memahamimu: entah itu kerabat, orang tua, para sahabat, atau rekan-rekanmu, tak seorang pun dari antara mereka yang memahami dirimu. Ketika engkau dibuang Tuhan, mustahil bagimu untuk melanjutkan hidup di bumi, tetapi, meskipun demikian, manusia tidak tahan berada jauh dari Tuhan, inilah arti penting penaklukan Tuhan atas manusia, dan inilah kemuliaan Tuhan" (Firman, Vol. 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Apakah Pekerjaan Tuhan Sesederhana yang Manusia Bayangkan?"). Firman Tuhan benar-benar menyentuhku. Sebagai orang percaya, memberitakan Injil dan menempuh jalan hidup yang benar adalah hal paling benar di dunia ini. Namun, orang-orang percaya bukan saja tidak memperoleh perlindungan hukum di negara-negara anti-Tuhan, mereka juga dihukum dan ditangkap, bahkan anggota keluarga mereka pun disangkutpautkan. Pejabat pemerintah mengatakan pengedar narkoba dan pembunuh bisa diampuni; hanya orang percaya yang tidak boleh diampuni. Selain itu, begitu orang percaya ditangkap, mereka didenda, dipenjara, atau diserahkan kepada pejabat sebagai pekerja fisik. Orang percaya sama sekali tidak diperlakukan seperti manusia. Ini adalah negara yang sangat gelap dan jahat. Ini adalah Sodom zaman modern, negara yang menentang Tuhan. Menjadi orang percaya, mengikuti Tuhan saat ini berarti dianiaya, tetapi dari firman Tuhan aku memahami kehendak-Nya. Tuhan menggunakan kesulitan itu untuk menyempurnakan iman kami, sembari memungkinkanku juga untuk mengetahui yang sebenarnya tentang esensi jahat pemerintah yang menentang Tuhan agar aku mampu menolak dan meninggalkan Iblis, dan sungguh-sungguh berpaling kepada Tuhan. Rasa sedihku berkurang setelah memahami kehendak Tuhan. Aku merasa siap untuk mengandalkan Tuhan dan terus memberitakan Injil.

Kemudian, aku mengumpulkan orang-orang percaya baru dan menyampaikan persekutuanku tentang firman Tuhan untuk membantu mereka agar mengetahui pekerjaan Tuhan dan memahami kehendak-Nya. Kami mendengarkan lagu pujian firman Tuhan bersama-sama, "Waktu yang Hilang Tidak Akan Pernah Kembali": "Bangkitlah, saudara-saudara! Bangkitlah, saudari-saudari! Hari-Ku tidak akan tertunda; waktu adalah kehidupan, dan memanfaatkan waktu berarti menyelamatkan kehidupan! Waktunya tidak lama lagi! Jika engkau semua gagal dalam ujian masuk perguruan tinggi, engkau dapat belajar lagi dan mengulangi ujian itu sesering yang engkau mau. Namun, hari-Ku tidak akan mengalami penundaan lagi. Ingat! Ingat! Aku menasihatimu dengan perkataan baik ini. Akhir dunia dibukakan di depan matamu, dan bencana besar mendekat dengan cepat. Mana yang lebih penting: hidupmu, ataukah tidur, makanan, minuman, dan pakaianmu? Waktunya telah tiba bagimu untuk menimbang hal-hal ini" (Firman, Vol. 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Perkataan Kristus pada Mulanya, Bab 30"). Setelah mendengarkan lagu pujian, kukatakan, "Ada orang-orang yang mengatakan mereka akan percaya setelah kekuatan Iblis hancur dan setelah tidak ada lagi penindasan, tetapi pada saat itu, pekerjaan Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia sudah berakhir dan kita akan benar-benar kehilangan kesempatan untuk diselamatkan oleh Tuhan. Jika kita terhalang oleh pemerintah dan tidak berani percaya karena mereka melarang kita, lalu mampukah pemerintah menyelamatkan kita? Tentu saja tidak. Hanya Tuhan yang mampu menyelamatkan kita. Jika kita mendengarkan pemerintah dan tidak percaya kepada Tuhan, kita akan kehilangan keselamatan Tuhan pada akhir zaman. Saat pekerjaan Tuhan berakhir, kita akan dihancurkan bersama dengan Iblis. Kita telah menderita akibat penindasan dan penangkapan pemerintah karena iman kita, tetapi penderitaan ini bernilai. Kita harus membayar mahal jika ingin menerima keselamatan dari-Nya. Tuhan juga berkuasa atas segala sesuatu, jadi, apakah kita akan ditangkap atau tidak, itu sepenuhnya berada di tangan-Nya. Jika kita ditangkap, itu atas seizin Tuhan. Kita harus tunduk kepada-Nya dan memetik pelajaran." Kemudian aku membacakan lebih banyak firman Tuhan Yang Mahakuasa: "Mereka yang Tuhan sebut 'para pemenang' adalah mereka yang tetap mampu menjadi kesaksian dan mempertahankan keyakinan dan pengabdian mereka kepada Tuhan ketika berada di bawah pengaruh Iblis dan dikepung oleh Iblis, yaitu saat mereka mendapati diri mereka berada di tengah kekuatan kegelapan. Jika engkau tetap mampu menjaga hati yang murni di hadapan Tuhan dan mempertahankan kasih yang tulus kepada Tuhan apa pun yang terjadi, engkau sedang menjadi kesaksian di hadapan Tuhan, dan inilah yang Tuhan maksudkan sebagai 'pemenang'" (Firman, Vol. 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Engkau Sudah Seharusnya Mempertahankan Kesetiaanmu kepada Tuhan"). "Engkau sekarang harus mengerti bahwa alasan Tuhan tidak menghancurkan Iblis pada saat penyelamatan-Nya bagi manusia adalah agar manusia dapat melihat dengan jelas bagaimana Iblis telah merusak mereka dan sejauh mana Iblis telah merusak mereka, serta bagaimana Tuhan memurnikan dan menyelamatkan mereka. Pada akhirnya, setelah orang memahami kebenaran dan dengan jelas menyadari wajah Iblis yang menjijikkan, serta menyadari dosa besar yang Iblis lakukan dengan merusak mereka, Tuhan akan menghancurkan Iblis, memperlihatkan keadilan-Nya kepada mereka" (Firman, Vol. 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Kukatakan, "Tuhan mengizinkan pemerintah menindas dan menangkap. Ini adalah untuk menguji apakah kita benar-benar percaya kepada Tuhan, apakah kita beriman atau tidak. Melalui penindasan dan kesukaran semacam ini, jika kita mampu mempertahankan iman kita dan tidak terjerumus dalam kenegatifan atau mengkhianati Tuhan, sebaliknya kita tetap mengikuti Tuhan, ikut pertemuan dan memberitakan Injil, itu berarti kita memiliki kesaksian, dan Iblis akan dipermalukan dan dikalahkan. Penderitaan itu sangat bernilai. Mengapa Tuhan tidak menghancurkan Iblis saat ini juga? Tujuannya adalah menggunakan Iblis sebagai cara untuk menyempurnakan sekelompok pemenang, sekaligus juga membuat kita belajar untuk membedakan mana yang baik dan mana yang jahat. Kita akan mampu memahami bagaimana Tuhan bekerja untuk menyelamatkan manusia, dan bagaimana Iblis merusak dan menyakiti manusia. Lalu suatu hari, saat Tuhan menghancurkan Iblis, kita akan melihat betapa benarnya Tuhan itu. Jika Tuhan langsung memusnahkan Iblis, kita tidak akan tahu yang sebenarnya tentang dirinya, juga tidak akan membenci dan meninggalkannya. Sama halnya dengan rezim Iblis yang anti-Tuhan dan para setan yang menjalankan pemerintahan—mereka sangat pandai menyamarkan diri mereka dan menipu. Di luarnya, mereka terlihat melakukan perbuatan baik, padahal itu hanyalah agar orang-orang memuja mereka. Tuhan Yang Mahakuasa telah menampakkan diri dan bekerja pada akhir zaman untuk menyelamatkan manusia. Dia telah menyingkapkan bahwa esensi jahat rezim-rezim tersebut adalah menentang Tuhan. Mereka menyangkal dan mengutuk Tuhan Yang Mahakuasa, menangkap, mendenda, menghukum dan memenjarakan orang-orang yang percaya kepada-Nya. Mereka sama seperti Iblis, si setan, yang memaksa orang untuk menyembah dirinya, dan mereka tidak mengizinkan orang-orang untuk percaya kepada Tuhan dan mengikuti Dia. Pada akhirnya, mereka semua akan masuk neraka dan dihukum bersama dengan Iblis." Setelah mendengar persekutuan, para petobat baru memperoleh pemahaman dan iman, semua orang juga aktif selama pertemuan itu. Aku sangat senang.

Setelah itu, orang-orang yang baru percaya ini membawa orang-orang terkasih mereka untuk datang mendengarkan khotbah. Setelah beberapa hari, lebih dari 80 orang dari desa itu telah menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman. Aku melihat hikmat Tuhan dikerahkan berdasarkan tipu daya Iblis. Iblis memainkan segala macam tipuannya untuk menghentikan pekerjaan penginjilan, membuat kita frustrasi dan tertekan, tetapi firman Tuhan memberi kita iman dan kekuatan. Kita mengerahkan segenap kemampuan kita untuk memberitakan Injil, dan melihat bimbingan Tuhan. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan. Aku mengerti bahwa tidak ada manusia yang mampu menghentikan apa yang ingin Tuhan tuntaskan, dan imanku menjadi makin kuat karena memberitakan Injil.

Pada September 2022, seorang percaya baru membawa kami ke desa orang tuanya untuk memberitakan Injil, di sana lebih dari 40 orang tertarik pada jalan yang benar. Aku sangat senang dan mulai membagikan kesaksianku kepada mereka tentang pekerjaan Tuhan pada akhir zaman. Kemudian aku menerima berita bahwa pejabat pemerintah daerah menunjukkan fotoku dalam rapat, mereka menyatakan aku buron, dan meminta orang-orang untuk melaporkanku jika melihatku memberitakan Injil. Polisi juga memberhentikan mobil-mobil dengan pengadang jalan, mencariku. Kupikir, karena polisi mencariku di mana-mana, jika suatu hari aku tertangkap, mereka mungkin akan membunuhku. Haruskah aku terus memberitakan Injil? Jika aku berhenti, bagaimana dengan penduduk desa yang sedang menyelidiki pekerjaan Tuhan? Mereka tidak akan bisa mendengar suara Tuhan dan menerima pekerjaan baru-Nya. Itu akan berarti aku tidak memenuhi tanggung jawabku. Saudara-saudari ingin mengirimku ke tempat jauh, demi keselamatanku. Aku takut, jadi aku pergi. Aku merasa sangat bersalah setelah itu. Aku ingin kembali dan terus memberitakan Injil kepada penduduk desa itu. Jadi, aku berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, polisi mencariku ke mana-mana, dan aku takut. Namun, aku tahu entah aku ditangkap atau tidak, itu sepenuhnya berada di tangan-Mu. Aku ingin memercayakan segalanya kepada-Mu. Kumohon bimbinglah aku agar imanku kuat untuk terus memberitakan Injil dan menjadi kesaksian bagi-Mu." Kemudian, aku membaca ini dalam firman Tuhan: "Sadarkah engkau akan beban yang engkau pikul, akan amanatmu, dan tanggung jawabmu? Di manakah rasa bermisimu yang bersejarah itu? Bagaimana engkau akan melayani secara memadai sebagai seorang tuan di masa yang akan datang? Apakah engkau memiliki rasa pertuanan yang kuat? Bagaimana engkau akan menjelaskan tentang tuan atas segala sesuatu? Apakah itu berarti benar-benar tuan atas semua makhluk hidup dan atas semua hal jasmani di dunia? Rencana apa yang engkau miliki bagi kemajuan tahap pekerjaan berikutnya? Berapa banyak orang yang menantikanmu untuk menjadi gembala mereka? Apakah tugasmu berat? Mereka miskin, menyedihkan, buta, dan bingung, meratap dalam kegelapan—di manakah jalan itu? Betapa mereka merindukan terang, seperti bintang jatuh, untuk tiba-tiba turun dan melenyapkan kekuatan kegelapan yang telah menindas manusia bertahun-tahun lamanya. Siapa yang dapat mengetahui betapa mereka sungguh-sungguh berharap, dan bagaimana mereka merindukan hal ini, siang dan malam? Bahkan di hari ketika cahaya melintas, orang-orang yang sangat menderita ini tetap terkurung di penjara bawah tanah yang gelap, tanpa harapan kebebasan; kapankah mereka akan berhenti menangis? Yang mengerikan adalah kemalangan dari roh-roh yang rapuh ini, yang tidak pernah diberi istirahat, dan yang sudah lama diikat dalam keadaan seperti ini oleh ikatan tanpa ampun dan sejarah yang membeku. Dan, siapa yang pernah mendengar suara ratapan mereka? Siapa yang pernah melihat keadaan mereka yang menyedihkan? Pernahkah terlintas dalam benakmu betapa sedih dan cemasnya hati Tuhan? Bagaimana Dia sanggup menyaksikan manusia lugu yang telah Dia ciptakan dengan tangan-Nya sendiri, menderita siksaan seperti itu? Manusia, bagaimanapun juga, adalah korban yang telah diracuni. Dan walaupun manusia telah bertahan hingga sekarang, siapa yang pernah mengetahui bahwa umat manusia sudah lama diracuni oleh si jahat? Sudah lupakah engkau bahwa engkau adalah salah satu dari korban-korban itu? Bersediakah engkau berjuang, demi kasihmu kepada Tuhan, untuk menyelamatkan orang-orang yang bertahan ini? Tidak bersediakah engkau mencurahkan segenap tenagamu untuk membalas kebaikan Tuhan, yang mengasihi manusia seperti darah dan daging-Nya sendiri? Kesimpulannya, bagaimana engkau menafsirkan tentang dipakai oleh Tuhan untuk menjalani hidup yang luar biasa? Apakah engkau sungguh-sungguh memiliki ketetapan hati dan keyakinan untuk menjalani hidup yang penuh makna sebagai orang saleh yang melayani Tuhan?" (Firman, Vol. 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Bagaimana Seharusnya Engkau Mengelola Misimu yang akan Datang?"). Firman Tuhan sungguh menginspirasi, tetapi juga membuatku merasa bersalah. Ada begitu banyak orang yang masih belum menerima keselamatan Tuhan pada akhir zaman, dan hidup di bawah kuasa Iblis. Mereka tak berdaya dan menderita. Tuhan merasakan kesedihan dan keterdesakan bagi mereka. Ada orang-orang yang bekerja sangat lama demi mendapatkan uang, menjalani kehidupan yang sulit dan melelahkan, dan sebagian dari mereka tetap merasa hampa dan sengsara bahkan setelah mendapatkan sedikit uang. Mereka tidak tahu nilai kehidupan manusia dan tak mampu menemukan arah yang harus mereka tuju. Ada orang-orang yang ingin mencari jalan yang benar, tetapi terlalu takut karena penindasan dan penangkapan pemerintah. Itu berarti kita perlu mempersekutukan firman Tuhan kepada mereka, bersaksi tentang pekerjaan Tuhan, dan menggunakan firman Tuhan untuk menyelesaikan masalah mereka agar mereka mampu memahami kebenaran, terang dan harapan di dalam firman Tuhan, serta menerima keselamatan dari Tuhan. Selain itu, bencana menjadi makin dahsyat akhir-akhir ini, dan banyak orang masih belum mendengar suara Tuhan. Mereka tidak memiliki siapa pun yang dapat mereka andalkan saat menghadapi bencana. Memberitakan Injil kepada orang-orang ini adalah tanggung jawabku. Tuhan tidak ingin siapa pun yang ingin Dia selamatkan binasa dalam bencana. Jika aku tidak lagi mengabarkan Injil demi keselamatanku sendiri, itu berarti aku tidak melaksanakan tugasku. Itu berarti aku akan sangat berutang kepada Tuhan, dan aku tak pantas disebut bagian dari keluarga-Nya. Aku memikirkan bagaimana dahulu aku sama seperti para penduduk desa itu, hidup di bawah wilayah kekuasaan Iblis tanpa tujuan atau harapan. Tuhan mengilhami saudara-saudari untuk memberitakan Injil kepadaku berulang kali, sampai akhirnya aku mendengar suara Tuhan dan menerima keselamatan dari-Nya pada akhir zaman. Itu adalah kasih dan rahmat Tuhan bagiku. Aku harus memikirkan kehendak Tuhan, berusaha sekuat tenaga untuk memberi kesaksian tentang pekerjaan Tuhan dan membalas kasih-Nya. Keesokan harinya, aku kembali ke desa itu untuk terus memberitakan Injil. Namun, beberapa hari kemudian, petobat baru yang membawa kami ke sana pergi karena urusan mendesak. Aku sedikit khawatir. Apakah tanpa perlindungan warga setempat, aku akan ditangkap? Namun, jika aku berhenti memberitakan Injil, mereka yang sedang menyelidiki jalan yang benar akan tertunda dalam menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa. Selama beberapa hari terakhir ini, mereka menyelinap ke perbukitan untuk mendengarkan kami berkhotbah dalam upaya mereka mencari dan menyelidiki. Mereka sangat merindukan Injil. Jika aku lari karena takut ditangkap, tidak mau terus berkhotbah, aku akan berutang kepada mereka, serta menyakiti hati Tuhan. Jadi, aku menemui mereka yang sedang menyelidiki jalan yang benar itu satu per satu dan membacakan firman Tuhan Yang Mahakuasa kepada mereka. Pada akhirnya, mereka semua menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa. Setelah itu, mereka membawa orang lain untuk mendengarkan khotbah kami. Makin banyak orang menerima pekerjaan baru Tuhan setelah mendengar firman Tuhan Yang Mahakuasa. Melihat bimbingan Tuhan, aku merasa sangat bersyukur kepada-Nya. Milisi desa sering melakukan patroli malam, membatasi pertemuan kami. Jadi, aku mempersekutukan firman Tuhan kepada orang percaya baru untuk membantu mereka memahami tipu muslihat Iblis dan belajar berkumpul secara diam-diam. Mengetahui hal itu, mereka tidak lagi terpengaruh oleh pemerintah. Mereka semua menyelinap ke bukit atau ke ladang sayur untuk berkumpul di malam hari. Melihatnya membuatku makin bersemangat untuk memberitakan Injil.

Aku teringat ada seorang saudari yang memberitahuku bahwa beberapa orang yang pernah kuinjili telah ditangkap oleh pemerintah karena mendengarkan khotbah kami. Keluarga mereka yang bukan orang percaya mencariku ke rumahku, berkata mereka akan membunuhku. Saudariku menyuruhku berhati-hati. Itu menakutkan bagiku. Jika aku ada di rumah saat itu, entah apa yang akan mereka lakukan terhadapku. Jika aku terus memberitakan Injil di sana dan mereka menangkapku, mereka pasti tidak akan membiarkanku lolos begitu saja. Aku ingin meninggalkan tempat itu dan tidak lagi memberitakan Injil di sana. Namun, pikiran meninggalkan tempat itu membuatku sangat sedih. Lalu, aku teringat firman Tuhan ini: "Engkau tahu bahwa segala sesuatu di lingkungan sekitarmu berada di sana atas seizin-Ku, semuanya diatur oleh-Ku. Lihatlah dengan jelas dan puaskanlah hati-Ku di lingkungan yang telah Kuberikan kepadamu. Jangan takut, Tuhan Yang Mahakuasa atas alam semesta pasti akan menyertaimu; Dia berdiri di belakang engkau semua dan Dia adalah perisaimu" (Firman, Vol. 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Perkataan Kristus pada Mulanya, Bab 26"). Dari firman Tuhan aku mengerti bahwa aku menghadapi situasi ini atas seizin Tuhan. Karena aku memberitakan Injil, bersaksi tentang pekerjaan Tuhan, Iblis pasti menggunakan segala cara untuk menghalangiku, mengganggu pikiranku agar aku terlalu takut untuk mengabarkan Injil. Itulah niat jahat Iblis. Jika aku tidak lagi memberitakan Injil karena takut, berusaha mempertahankan nyawaku, bukankah aku teperdaya oleh tipu muslihat Iblis? Entah aku ditangkap dan entah aku akan mati atau tidak, semuanya ada di tangan Tuhan. Ayub sangat menderita saat Iblis mencobainya. Dia kehilangan semua anaknya, kekayaannya, dan menderita barah di sekujur tubuhnya. Namun, Tuhan tidak mengizinkan Iblis mengambil nyawa Ayub. Iblis tak berani menentang kehendak Tuhan—dia tidak berani membahayakan nyawa Ayub. Jadi, jika Tuhan tidak mengizinkan orang-orang itu menyakitiku, mereka tak akan mampu melakukan apa pun terhadapku. Hidupku berada di tangan Tuhan—mereka tak mampu menentukan hidup dan matiku. Jika aku ditangkap, ada maksud baik Tuhan di baliknya, dan aku harus tunduk. Aku berpikir, karena keadaan di desa ini buruk, aku bisa berkhotbah di desa lain. Aku akan baik-baik saja jika bertindak bijaksana dan berhati-hati. Sebagaimana yang Tuhan Yesus katakan: "Bila mereka menganiaya engkau di kota ini, larilah ke kota lain" (Matius 10:23). Aku membaca lebih banyak firman Tuhan Yang Mahakuasa: "Tuhan punya rencana bagi masing-masing pengikut-Nya. Masing-masing dari mereka akan mengalami lingkungan tertentu yang Tuhan persiapkan bagi manusia, yang di dalamnya mereka melaksanakan tugas mereka, dan mereka dapat menikmati kasih karunia dan kebaikan yang Tuhan karuniakan untuk manusia nikmati. Manusia juga mengalami keadaan-keadaan khusus, yang Tuhan aturkan baginya, dan ada banyak penderitaan yang harus dialaminya—bukan keadaan yang mudah dan tanpa masalah seperti yang manusia bayangkan. Selain itu, jika engkau mengakui bahwa engkau adalah makhluk ciptaan, engkau harus mempersiapkan dirimu untuk menderita dan membayar harga demi memenuhi tanggung jawabmu mengabarkan Injil dan demi melaksanakan tugasmu dengan benar. Harganya mungkin engkau akan menderita penyakit atau kesukaran jasmani, atau menderita penganiayaan si naga merah yang sangat besar atau kesalahpahaman orang-orang dunia terhadapmu, serta berbagai kesengsaraan yang orang alami ketika mengabarkan Injil: dikhianati, dipukul dan dicaci, dikutuk—bahkan diserang dan berada dalam bahaya maut. Mungkin saja, selama proses mengabarkan Injil, engkau akan mati sebelum pekerjaan Tuhan selesai, dan engkau tidak akan hidup untuk melihat hari kemuliaan Tuhan. Engkau harus siap untuk ini. Ini tidak dimaksudkan untuk menakut-nakutimu; ini adalah kenyataannya. ... Bagaimanakah kematian para murid Tuhan Yesus? Di antara para murid, ada yang dirajam, diseret di belakang kuda, disalibkan terbalik, dikoyak-koyakkan oleh lima ekor kuda—berbagai jenis kematian menimpa mereka. Apakah alasan kematian mereka? Apakah mereka dihukum mati secara sah karena kejahatan mereka? Tidak. Mereka dijatuhi hukuman, dipukuli, dicaci, dan dibunuh karena mereka mengabarkan Injil Tuhan dan ditolak oleh orang-orang dunia—dengan cara seperti itulah mereka menjadi martir. ... Bagaimanapun cara kematian dan kepergian mereka, bagaimanapun itu terjadi, itu bukanlah cara Tuhan mendefinisikan kesudahan akhir dari hidup mereka, kesudahan akhir dari makhluk ciptaan tersebut. Ini adalah sesuatu yang harus kaupahami dengan jelas. Sebaliknya, mereka justru menggunakan cara-cara itu untuk menghakimi dunia ini dan untuk bersaksi tentang perbuatan-perbuatan Tuhan. Makhluk ciptaan ini menggunakan hidup mereka yang paling berharga—mereka menggunakan saat-saat terakhir hidup mereka untuk bersaksi tentang perbuatan-perbuatan Tuhan, untuk bersaksi tentang kuasa Tuhan yang besar, dan untuk menyatakan kepada Iblis dan dunia bahwa perbuatan-perbuatan Tuhan benar, bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan, bahwa Dia adalah Tuhan, dan daging inkarnasi Tuhan. Bahkan hingga di saat terakhir hidup mereka, mereka tidak pernah menyangkal nama Tuhan Yesus. Bukankah ini suatu bentuk penghakiman terhadap dunia ini? Mereka menggunakan nyawa mereka untuk menyatakan kepada dunia, untuk menegaskan kepada manusia bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan, bahwa Tuhan Yesus adalah Kristus, bahwa Dia adalah daging inkarnasi Tuhan, bahwa pekerjaan penebusan yang Dia lakukan bagi semua manusia memungkinkan manusia untuk terus hidup—fakta ini tidak akan berubah selamanya. Mengenai mereka yang menjadi martir karena mengabarkan Injil Tuhan Yesus, sampai sejauh mana mereka melaksanakan tugas mereka? Apakah sampai ke taraf tertinggi? Bagaimana taraf tertinggi itu diwujudkan? (Mereka mempersembahkan nyawa mereka.) Benar, mereka membayar harga dengan nyawa mereka. Keluarga, kekayaan, dan hal-hal material dari kehidupan ini semuanya adalah hal-hal lahiriah; satu-satunya hal yang berkaitan dengan diri mereka adalah nyawa mereka. Bagi setiap orang yang hidup, nyawa adalah hal yang paling bernilai untuk dihargai, hal yang paling berharga dan, yang terjadi adalah, orang-orang ini mampu mempersembahkan milik mereka yang paling berharga—nyawa—sebagai penegasan dan kesaksian tentang kasih Tuhan bagi manusia. Hingga saat wafatnya, mereka tidak menyangkal nama Tuhan, juga tidak menyangkal pekerjaan Tuhan, dan mereka menggunakan saat terakhir hidup mereka untuk bersaksi tentang keberadaan fakta ini—bukankah ini bentuk kesaksian tertinggi? Inilah cara terbaik orang dalam melaksanakan tugasnya; inilah yang artinya orang memenuhi tanggung jawabnya. Ketika Iblis mengancam dan meneror mereka, dan, pada akhirnya, bahkan ketika Iblis membuat mereka harus membayar harga dengan nyawa mereka, mereka tidak melalaikan tanggung jawab mereka. Ini artinya orang memenuhi tugasnya hingga taraf tertinggi. Apakah yang Kumaksud dengan ini? Apakah yang Kumaksudkan adalah agar engkau semua menggunakan metode yang sama untuk bersaksi tentang Tuhan dan mengabarkan Injil-Nya? Engkau tidak perlu melakukan hal yang seperti itu, tetapi engkau harus memahami bahwa ini adalah tanggung jawabmu, bahwa jika Tuhan memintamu untuk melakukannya, engkau harus menerimanya sebagai suatu kehormatan" (Firman, Vol. 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Menyebarkan Injil adalah Tugas yang Wajib Semua Orang Percaya Laksanakan"). Firman Tuhan membantuku menyadari bahwa murid-murid Tuhan Yesus dikutuk, dipenjarakan, dan menderita segala macam penganiayaan demi pengabaran Injil. Banyak dari mereka menjadi martir. Namun, seperti apa pun kesudahan mereka, mereka mampu menyerahkan nyawa mereka yang berharga, tidak pernah menyangkal Tuhan bahkan pada saat menghadapi kematian. Mereka menjadi kesaksian bagi Tuhan dan memuliakan Dia dengan nyawa mereka sendiri. Itulah kesaksian termulia dan cara terbaik melakukan tugas. Sedangkan aku, karena diburu pemerintah dan diancam oleh orang jahat, aku berusaha keras mempertahankan nyawaku, dan ingin melarikan diri dari desa, tidak terus memberitakan Injil dan menyirami petobat baru. Di manakah kesaksianku? Aku merenung: mengapa aku menjadi takut setiap kali menghadapi situasi hidup atau mati? Itu karena aku terlalu menghargai nyawaku, tidak memahami tentang hidup dan mati. Sesungguhnya, Tuhan sudah menentukan hidup dan mati kita. Menjadi martir bagi Tuhan, meskipun tubuh kita mati, itu sama sekali bukan kematian. Itu bukan berarti kita tidak akan memiliki kesudahan dan tempat tujuan yang baik. Tuhan Yesus berfirman: "Barangsiapa ingin menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangannya, tetapi barang siapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan mendapatkannya" (Matius 16:25). Jika aku tidak melaksankan tugasku dan mengkhianati Tuhan karena ingin mempertahankan nyawaku, dagingku mungkin tidak menderita, tetapi Tuhan akan menolak dan menyingkirkanku dan jiwaku akan dihukum. Jika aku mampu mengorbankan nyawa demi bersaksi bagi Tuhan, dan lebih baik mati daripada mengkhianati-Nya, itu artinya mempermalukan Iblis, dan itu adalah hal yang bermakna. Menyadari hal ini, aku tidak lagi mengkhawatirkan nyawaku, dan aku bertekad: selama aku tidak berada dalam penjara, selama aku masih bernapas, aku akan terus memberitakan Injil dan bersaksi bagi Tuhan untuk mempermalukan Iblis. Aku terus memberitakan Injil setelah itu. Tak lama kemudian, kebanyakan orang di desa itu telah menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa.

Aku pergi ke desa lain setelah itu untuk memberitakan Injil. Awalnya ada belasan orang yang bergabung, tetapi pemerintah kotapraja menemukan kami saat sedang memberitakan Injil kepada sepasang suami istri. Kepala kotapraja, wakil kepala, bendahara, dan beberapa anggota milisi—yang seluruhnya berjumlah lebih dari belasan orang—semuanya menyerbu masuk ke dalam ruangan dan berkata kami harus ikut dengan mereka. Aku merasa sangat gugup saat itu. Apa mereka akan menangkapku dan memenjarakanku? Pemerintah selam ini memburuku. Mereka memberitahukan namaku ke setiap rumah, menyuruh mereka melaporkanku jika aku kedapatan memberitakan Injil. Mereka tidak akan melepaskanku begitu saja jika aku dikenali. Lalu, para orang percaya baru akan terdampak—bagaimana jika itu yang terjadi? Aku berdoa tanpa henti, memohon Tuhan memberiku iman agar mampu tetap teguh dalam kesaksianku. Tak lama kemudian, seorang saudara dan saudari yang telah pergi ke desa itu untuk memberitakan Injil bersama kami juga ditangkap. Mereka membawa kami semua ke pemerintah kotapraja dan mengambil ponsel kami. Lalu, kepala kotapraja mulai menginterogasi kami: "Siapa kalian? Apa kalian datang ke sini untuk memberitakan Injil?" Kami tidak menjawab. Jadi, mereka mengurung kami di ruangan gelap dan menyuruh lima atau enam anggota milisi mengawasi kami. Aku khawatir mereka akan mengenaliku. Jika dikirim ke kampung halamanku, aku pasti akan dipenjara untuk disiksa dan dianiaya oleh mereka. Kepala pemerintah daerah berkata, setelah mereka menangkapku, mereka akan memotong rambutku, memasang tanda di leherku, dan mengarakku berkeliling. Saat itu, aku terus berdoa kepada Tuhan, "Ya Tuhan, aku siap tunduk untuk ditangkap, tetapi tingkat pertumbuhanku rendah. Kumohon berilah aku iman dan jagalah aku agar aku mampu tetap teguh." Setelah berdoa, aku teringat video kesaksian yang pernah kutonton. Ada saudara-saudari yang dipukuli sampai mati di penjara oleh polisi Tiongkok, mereka tidak menyangkal ataupun mengkhianati Tuhan, bahkan saat menghadapi kematian. Banyak lagi yang disiksa secara brutal, dihukum dan dikurung, tetapi dengan berdoa dan mengandalkan Tuhan, iman mereka yang sejati menjadi makin kuat melalui firman Tuhan. Mereka bersumpah tidak akan mengkhianati Tuhan sampai mati, meskipun harus dipenjara seumur hidup. Mereka memberikan kesaksian yang teguh dan menggema. Aku sangat terinspirasi. Aku ingat firman Tuhan: "Iman dan kasih yang terbesar dituntut dari kita dalam tahap pekerjaan ini. Kita mungkin tersandung akibat kecerobohan yang paling kecil, karena tahap pekerjaan ini berbeda dari semua pekerjaan sebelumnya: yang sedang Tuhan sempurnakan adalah iman manusia, yang tidak dapat dilihat dan diraba. Yang Tuhan lakukan adalah mengubah firman menjadi iman, menjadi kasih, dan menjadi hidup. Orang-orang harus mencapai titik di mana mereka telah menanggung ratusan pemurnian dan memiliki iman yang lebih besar dari iman Ayub. Mereka harus menanggung penderitaan luar biasa dan segala macam siksaan tanpa pernah meninggalkan Tuhan. Ketika mereka tunduk sampai mati, dan memiliki iman yang besar kepada Tuhan, maka tahap pekerjaan Tuhan ini selesai" (Firman, Vol. 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Jalan ... (8)"). Firman Tuhan menunjukkan kepadaku bahwa pekerjaan-Nya pada akhir zaman adalah menggunakan firman untuk menyempurnakan iman dan kasih kita, agar bisa menerapkan dan mengalami firman-Nya melalui penindasan dan kesukaran yang kita alami, sehingga firman-Nya menjadi hidup kita. Aku teringat saat aku ditindas dan diburu oleh pemerintah. Saat aku takut dan gentar, firman Tuhanlah yang membimbingku, memberiku iman untuk terus memberitakan Injil. Karena sekarang aku telah ditangkap, aku harus beriman untuk tetap teguh. Meskipun aku harus dipenjara dan dianiaya, atau bahkan mati, aku siap untuk tunduk. Kemudian sebuah lagu pujian gereja berjudul "Kesaksian Hidup" muncul di benakku: "Satu hari aku mungkin ditangkap dan dihukum karena bersaksi bagi Tuhan, penderitaan ini adalah demi kebenaran, yang aku tahu di dalam hatiku. Jika hidupku lenyap bagai percikan api dalam sekejap mata, aku akan tetap merasa bangga bahwa aku dapat mengikut Kristus dan menjadi saksi-Nya dalam hidup ini. Jika aku tidak dapat melihat peristiwa besar perluasan Injil kerajaan, aku akan tetap mempersembahkan harapan-harapan yang paling indah. Jika aku tak dapat melihat hari saat kerajaan diwujudkan, tapi aku dapat mempermalukan Iblis sekarang, maka hatiku akan dipenuhi dengan sukacita dan damai. ... Firman Tuhan tersebar ke seluruh dunia, terang telah muncul di antara manusia. Kerajaan Kristus bangkit dan didirikan dalam kesulitan. Kegelapan akan segera berlalu, fajar kebenaran telah datang. Waktu dan realitas telah melahirkan kesaksian bagi Tuhan" (Ikuti Anak Domba dan Nyanyikan Lagu Baru). Lagu pujian ini sangat menginspirasiku. Aku mengerti jika aku ditangkap karena mengabarkan Injil, itu berarti dianiaya demi kebenaran. Karena sekarang aku telah ditangkap, aku mungkin akan masuk penjara, tak dapat lagi memberitakan Injil. Namun, meskipun aku ditangkap dan dianiaya, aku telah berkesempatan untuk memberikan kesaksian yang indah bagi Tuhan dan mempermalukan Iblis. Aku merasa sangat bangga. Pemikiran ini memberiku iman. Setelah fajar, mereka menginterogasi kami lagi. Melihat mereka tidak mendapatkan apa pun dari kami, mereka mendenda kami 3.000 kyat dan membiarkan kami pergi. Mereka juga memperingatkan kami untuk tidak terus berkhotbah, dan mengatakan banyak hal yang menghujat Tuhan. Aku makin membenci setan-setan itu.

Setelah dibebaskan, aku masih terus mengabarkan Injil. Suatu hari, seorang saudara menelepon dan memberitahuku, "Para pejabat kotapraja tahu kau adalah orang luar yang datang untuk memberitakan Injil. Mereka menangkapku dan dua orang percaya baru agar kami memberi tahu lokasimu. Namun, tak seorang pun dari kami bicara, jadi mereka mendenda kami dan membiarkan kami pergi. Mereka juga berkata jika mereka kembali mendapatiku memberitakan Injil, mereka akan memerkosamu di tempat. Mereka mencarimu ke mana-mana, cepatlah lari ...." Aku hampir tak percaya mendengar perkataan saudaraku ini. Saat kudengar mereka akan memerkosaku jika mendapatiku sedang memberitakan Injil, aku sangat marah. Orang-orang itu benar-benar setan dan tak punya kemanusiaan! Aku hanya orang percaya yang memberitakan Injil, tetapi mereka begitu penuh kebencian. Mereka tidak akan membiarkan kami percaya, ingin menangkap, menganiaya, dan mendenda kami, bahkan memerkosa dan menodaiku. Mereka benar-benar para setan yang anti-Tuhan. Makin mereka menindasku, makin aku ingin memberitakan Injil dan bersaksi.

Kemudian pada bulan Oktober, kami pergi ke desa lain untuk mengabarkan Injil. Saudara-saudari pernah memberitakan Injil di sana, tetapi pendeta mereka menyebarkan kabar bohong untuk mencegah orang-orang percaya menyelidiki jalan yang benar dan pemerintah mulai menangkap orang-orang percaya. Penduduk desa, karena disesatkan oleh kabar bohong dan takut ditangkap, menjadi tidak berani menyelidiki jalan yang benar. Mengabarkan Injil akan sulit bagi kami. Aku berdoa, memohon bimbingan Tuhan. Lalu, aku mencari empat orang yang cukup memahami kebenaran dan bersekutu dengan mereka tentang apa artinya jalan yang benar, apa artinya jalan yang salah, dan tentang bagaimana Tuhan menggunakan penindasan dan gangguan Iblis pada akhir zaman untuk menyingkap dan menyempurnakan orang, memisahkan gandum dari lalang, gadis bijaksana dari gadis bodoh. Gadis-gadis bodoh hanya mendengarkan manusia, mendengarkan Iblis. Mereka tidak mencari dan menyelidiki saat mendengar kabar bahwa Tuhan telah datang dan mengucapkan firman, sehingga mereka tak dapat menyambut mempelai laki-laki. Hanya mereka yang berusaha mendengarkan suara Tuhan, yang teguh imannya untuk mengikut Tuhanlah yang adalah gadis-gadis bijaksana. Hanya merekalah yang dapat menghadiri perjamuan kawin bersama dengan Tuhan. Setelah persekutuan itu, mereka berempat ingin terus menyelidiki. Selama beberapa hari berikutnya, aku bersekutu bersama mereka, mempersekutukan firman Tuhan. Salah seorang dari mereka berkata, "Aku dahulu mendengarkan pendeta dan kepala desa. Mereka melarangku mendengarkan firman Tuhan Yang Mahakuasa, jadi aku tidak mendengarkannya. Aku hampir kehilangan kesempatanku untuk menyambut kedatangan Tuhan. Aku tidak mau lagi mendengarkan manusia. Aku akan selalu mendengarkan Tuhan." Seorang lagi berkata, "Membaca firman Tuhan Yang Mahakuasa telah meyakinkanku bahwa Dia adalah Tuhan Yesus yang datang kembali. Bagaimanapun orang lain menghalangi jalanku, aku menerima Tuhan Yang Mahakuasa." Aku sangat senang mendengar perkataan mereka. Setelah itu, mereka membawa beberapa kerabat untuk mendengarkan khotbah, dan dalam waktu singkat, lebih dari 20 orang telah menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman. Aku sangat terharu karena orang-orang percaya baru ini mampu mencari jalan yang benar dan tidak terpengaruh kabar bohong. Semua itu karena bimbingan dari firman Tuhan. Ibuku akhirnya dibebaskan pada bulan Desember. Dia melakukan kerja paksa setiap hari selama beberapa bulan saat dikurung. Para pegawai pemerintah bilang mereka pasti akan menangkap dan memenjarakanku. Aku teringat bagaimana sebelum ibuku dibebaskan, polisi yang membawa senjata dan pentungan sering mendatangi rumahku untuk menangkapku, berkata bahwa mereka tidak akan membebaskan ibuku sampai aku pulang. Namun, sekarang mereka melepaskan ibuku tanpa menangkapku. Aku benar-benar mengalami bahwa Tuhan mengatur segalanya, dan entah aku akan ditangkap atau tidak, itu sepenuhnya berada di tangan-Nya. Aku tidak terkekang—aku terus memberitakan Injil dan bersaksi bagi Tuhan.

Selama memberitakan Injil aku mengalami banyak kesulitan, termasuk merasa sedih dan lemah. Namun, setiap kali firman Tuhan selalu membimbingku, membuatku tetap teguh saat aku merasa tertekan dan lemah, memberiku iman untuk terus memberitakan Injil dan bersaksi bagi Tuhan. Aku benar-benar mengalami bahwa Tuhan sedang menggunakan kesulitan ini untuk menyempurnakan imanku. Aku bersyukur kepada Tuhan. Aku akan memenuhi tanggung jawabku, memberitakan Injil akhir zaman Tuhan kepada lebih banyak orang, dan membalas kasih Tuhan.

Sebelumnya: 52. Melepaskan Cara-Caraku yang Sewenang-Wenang

Selanjutnya: 54. Keegoisan Itu Keji

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Pengaturan

  • Teks
  • Tema

Warna Solid

Tema

Jenis Huruf

Ukuran Huruf

Spasi Baris

Spasi Baris

Lebar laman

Isi

Cari

  • Cari Teks Ini
  • Cari Buku Ini