40. Akibat Tidak Bekerja Keras dalam Tugasku

Oleh Saudari Linda, Italia

Pada tahun 2019, aku dan Saudari Andrea ditugaskan memimpin pekerjaan desain di gereja. Saat pertama memulai tugas ini, ada banyak prinsip yang tidak kupahami, jadi Andrea dengan sabar bersekutu denganku dan melakukan sebagian besar pekerjaan itu sendiri. Kemudian, aku mengetahui dia telah memegang tugas ini selama dua tahun, dan memiliki sedikit pengalaman kerja dan dalam segala sesuatu mulai dari menyelesaikan masalah di pertemuan hingga merekap pekerjaan, pemikirannya lebih komprehensif daripada pemikiranku. Saat saudara-saudari mengajukan pertanyaan, dia selalu punya solusi bagus. Dibandingkan dengannya, aku merasa sangat jauh tertinggal. Kupikir, "Berapa banyak penderitaan yang harus kulewati dan berapa banyak harga yang harus kubayar untuk menjadi seperti Andrea? Karena dia memiliki lebih banyak pengalaman dan menanggung lebih banyak beban, aku akan membiarkan dia melakukan lebih banyak pekerjaan."

Sebelum merangkum pekerjaan, Andrea terlebih dahulu memintaku memikirkan cara bersekutu untuk menyelesaikan masalah, dan kupikir, "Itu merepotkan. Selain merangkum masalah yang ada dalam tugas kami, aku harus menemukan firman Tuhan yang relevan dan prinsip untuk mempersekutukan solusi. Aku tidak punya banyak pengalaman, khususnya dalam masalah profesional. Untuk memberikan solusi, aku harus mengerahkan segenap kemampuan untuk menemukan banyak informasi, dan mencari persekutuan tentang apa yang tidak kupahami. Itu akan memakan banyak waktu dan upaya. Andrea menguasai bidang ini, jadi biar dia saja yang membuat rangkumannya. Biar dia yang mengerjakan." Aku tidak pernah memikirkan lagi tentang rangkuman pekerjaan setelah itu. Selama rangkuman itu, ketika Andrea menanyakan pendapat dan pemikiranku, aku berkata, "Aku tidak menguasai bidang ini, jadi sebaiknya kau saja yang membuat rangkuman." Terkadang, saat dia merencanakan arah penyelidikan kami, dia selalu bertanya apakah aku mau berpartisipasi atau tidak, seperti memberinya saran dan membantunya menghindari potensi masalah. Kupikir, "Andrea selalu menjadi penanggung jawab pembelajaran kami. Untuk berpartisipasi, aku harus memikirkannya, dan mempelajari hal-hal yang tidak kupahami secara mendalam. Itu terlalu merepotkan. Lupakan saja, aku tidak mau terlibat." Jadi, aku menolak ajakan Andrea.

Kemudian, kami mempelajari teknik menggambar baru. Selama pembelajaran ini kami terus menghadapi kesulitan dan masalah, tetapi Andrea mendiskusikan dan menyelesaikannya bersama kami. Karena aku tidak mengetahui teknik itu dengan baik, aku masih bingung setelah dijelaskan dua kali, dan kupikir, "Mempelajari keterampilan baru di bidang ini sangat melelahkan. Kurasa aku tidak akan terlibat kali ini. Lagi pula, kita punya Andrea, dia bisa membantu kita belajar." Lalu, saat belajar, aku tidak mendengarkan dengan saksama. Terkadang aku tidak mengatakan apa pun selama belajar; di lain waktu, aku mengerjakan hal lain. Saat Andrea menanyakan ide dan pemikiranku, aku selalu menjawab dengan seadanya. Perlahan-lahan, bebanku semakin berkurang dalam tugasku dan aku berhenti memperhatikan masalah dalam menindaklanjuti pekerjaan. Selama masa itu, hatiku terasa kosong setiap hari, dan aku semakin negatif. Aku merasa kualitasku rendah dan tidak mampu memenuhi tugas itu.

Suatu hari, setelah mendiskusikan pekerjaan denganku, Andrea berkata, "Kau sudah lama menjalankan tugas ini, tetapi kau tetap berkata tidak punya pengalaman atau tidak mengerti. Kau hanya tidak mau menanggung beban atau berusaha. Aku punya ide-ide bagus karena sering berdoa, mengandalkan Tuhan, dan mencari prinsip untuk memahami segala sesuatu. Khususnya jika menyangkut masalah profesional yang tidak kita pahami, kita harus berinisiatif untuk belajar. Jika tidak, bagaimana kita bisa melaksanakan tugas kita dengan baik?" Lalu, dia membicarakan tentang bagaimana dia mengandalkan Tuhan dan mencari solusi saat menghadapi kesulitan. Namun, pada waktu itu aku sama sekali tidak menyadari masalahku. Sebaliknya, aku merasa Andrea tidak memahami kesulitanku, jadi aku tidak mendengarkan sarannya, juga tidak merenungkan diriku sendiri.

Tak lama kemudian, Andrea ditugaskan untuk pekerjaan lain. Aku merasa sangat sedih saat dia pergi. Karena menghadapi begitu banyak pekerjaan, pikiranku kosong. Aku berpikir, "Aku sudah satu tahun memimpin pekerjaan ini, jadi mengapa aku masih tidak mampu melakukan pekerjaan ini?" Saat itulah aku ingat perkataan Andrea kepadaku. Apa aku benar-benar tidak terbeban dalam tugasku? Aku berdoa kepada Tuhan untuk memohon bimbingan-Nya untuk merenungkan diri dan mengenal diriku sendiri. Aku membaca bagian firman Tuhan ini: "Sering kali, engkau semua tidak mampu menjawab ketika ditanya tentang masalah pekerjaan. Beberapa orang di antaramu pernah terlibat dalam pekerjaan, tetapi engkau semua tidak pernah bertanya apakah pekerjaan berjalan dengan baik atau memikirkan dengan saksama tentang hal ini. Mengingat kualitas dan pengetahuanmu, engkau setidaknya harus memahami sesuatu, karena engkau telah mengambil bagian dalam pekerjaan ini. Jadi mengapa kebanyakan orang tidak mengatakan apa pun? Ada kemungkinan engkau semua benar-benar tidak tahu harus berkata apa—engkau tidak tahu apakah semuanya sedang berjalan dengan baik atau tidak. Ada dua alasan untuk ini: pertama, engkau semua sama sekali tidak peduli, dan tidak pernah memedulikan hal-hal ini, dan hanya memperlakukannya sebagai tugas yang harus diselesaikan. Kedua, engkau semua tidak bertanggung jawab dan tidak mau memedulikan hal-hal ini. Jika engkau benar-benar peduli, dan benar-benar terlibat, engkau pasti memiliki pandangan dan perspektif terhadap segala sesuatunya. Tidak memiliki perspektif atau pandangan sering kali berasal dari sikap acuh tak acuh dan apatis, serta tidak bertanggung jawab. Engkau tidak tekun dalam melaksanakan tugasmu, engkau tidak memikul tanggung jawab sedikit pun, engkau tidak mau membayar harga atau membuat dirimu terlibat. Engkau juga tidak mau bersusah payah, juga tidak bersedia mengerahkan lebih banyak tenaga; engkau hanya ingin menjadi bawahan, yang berarti engkau tidak ada bedanya dengan cara orang tidak percaya bekerja untuk majikan mereka. Pelaksanaan tugas seperti ini tidak disukai oleh Tuhan dan tidak menyenangkan hati-Nya. Itu tidak mungkin mendapatkan perkenanan-Nya" (Firman, Vol. 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Hanya Orang Jujur yang Mampu Hidup dalam Keserupaan dengan Manusia Sejati"). Firman Tuhan menyingkapkan keadaanku dengan akurat. Ketika aku bekerja sama dan mendiskusikan pekerjaan dengan Andrea, aku tidak pernah punya pandangan atau ide sendiri. Aku selalu merasa itu karena aku tidak menguasai bidang atau pekerjaan itu dengan baik. Hanya setelah membaca firman Tuhan barulah aku mengerti bahwa itu disebabkan oleh kecerobohan dan sikapku yang tidak bertanggung jawab. Mengingat kembali saat bekerja sama dengan Andrea, setiap kali aku menghadapi masalah profesional, aku tidak pernah mengkhawatirkannya. Aku memakai kurangnya pengalamanku dalam tugas dan pemahaman prinsip yang buruk sebagai alasan untuk mengelak dari masalah dan menghindarinya. Saat membahas pekerjaan, aku hanya menjadi pendengar. Aku tidak pernah memikirkannya dengan saksama. Aku sering kali berkata di hadapan Andrea bahwa aku tidak mengerti, bahwa aku tidak mampu, dan bahwa dia punya lebih banyak pengalaman kerja, tetapi semua ini sebenarnya hanya alasan. Tujuanku yang sesungguhnya adalah mendapatkan simpati dan pengertian darinya, agar dia melakukan lebih banyak pekerjaan, dan aku bisa tetap menikmati waktu luangku. Aku sangat licik dan curang. Aku telah diminta memimpin tugas ini selama lebih dari satu tahun, dan punya dasar profesional, jadi jika aku bertanggung jawab dan belajar dengan rajin, aku seharusnya punya pandangan sendiri saat membahas pekerjaan. Aku bahkan mungkin mampu mengambil alih pekerjaan saat Andrea dipindahkan. Aku selalu tidak bertanggung jawab dalam tugasku, seolah hanya bekerja untuk mendapatkan upah, sebisa mungkin bertahan hidup dengan sedikit upaya atau kekhawatiran. Aku tidak pernah memikirkan cara melakukan sesuatu dengan benar, melakukan yang terbaik, dan memenuhi tanggung jawabku. Aku hanya bekerja asal-asalan dalam tugasku, hanya memikirkan cara menghindari penderitaan daging. Aku sama sekali tidak memikirkan kehendak Tuhan. Bagaimana mungkin aku punya tempat bagi Tuhan di hatiku? Bagaimana mungkin Tuhan tidak membenciku karena sikapku terhadap tugasku?

Setelah itu, aku membaca bagian lain firman Tuhan: "Tuhan Yesus pernah berkata: 'Karena barang siapa yang memiliki, kepada dia akan diberikan, dan dia akan memilikinya lebih melimpah; tetapi barang siapa yang tidak memiliki, apa pun yang dia miliki akan diambil darinya' (Matius 13:12). Apa maksud dari perkataan ini? Maksudnya adalah jika engkau bahkan tidak melaksanakan atau mendedikasikan dirimu untuk tugas atau pekerjaanmu sendiri, Tuhan akan mengambil apa yang pernah menjadi milikmu. Apa maksudnya 'mengambil'? Apa yang akan orang rasakan jika Tuhan melakukannya? Mungkin ketika engkau gagal mencapai apa yang bisa kaucapai dengan kualitas dan karuniamu, dan engkau tidak merasakan apa pun, dan menjadi sama seperti orang tidak percaya. Itu berarti engkau mengalami segalanya diambil oleh Tuhan. Jika dalam tugasmu, engkau lalai, tidak membayar harga, dan engkau tidak tulus, Tuhan akan mengambil apa yang pernah menjadi milikmu, Dia akan mengambil kembali hakmu untuk melaksanakan tugasmu, Dia tidak akan memberimu hak ini. Karena Tuhan memberimu karunia dan kualitas, tetapi engkau tidak melaksanakan tugasmu dengan benar, tidak mengorbankan dirimu bagi Tuhan, atau membayar harga, dan engkau tidak mengerahkan segenap hatimu untuk tugasmu, Tuhan bukan saja tidak akan memberkatimu, tetapi Dia juga akan mengambil apa yang pernah kaumiliki. Tuhan menganugerahkan karunia-karunia kepada manusia, memberikan kepada mereka keterampilan khusus serta kecerdasan dan hikmat. Bagaimana seharusnya manusia menggunakan karunia-karunia ini? Engkau harus mendedikasikan keterampilan khususmu, karunia-karuniamu, kecerdasan dan hikmatmu dalam melaksanakan tugasmu. Engkau harus menggunakan hatimu dan menerapkan semua yang kauketahui, semua yang kaupahami, dan semua yang mampu kaucapai dalam tugasmu. Dengan melakukan itu, engkau akan diberkati. Apa arti diberkati Tuhan? Apa yang orang rasakan akan hal ini? Artinya mereka telah dicerahkan dan dibimbing oleh Tuhan, dan itu berarti mereka memiliki jalan saat mereka melaksanakan tugas mereka. Bagi orang lain, mungkin kualitasmu dan segala sesuatu yang telah kaupelajari tampaknya tidak cukup untuk memampukanmu menyelesaikan segala sesuatu—tetapi jika Tuhan bekerja dan mencerahkanmu, engkau bukan saja akan mampu memahami dan melakukan hal-hal itu, tetapi engkau juga akan melakukannya dengan baik. Pada akhirnya, engkau bahkan akan bertanya-tanya dalam hatimu, 'Biasanya aku tidak secakap ini, tetapi sekarang ada jauh lebih banyak hal baik dalam diriku—semuanya itu positif. Aku tidak pernah mempelajari hal-hal tersebut, tetapi sekarang aku tiba-tiba memahaminya. Bagaimana aku tiba-tiba menjadi begitu pintar? Mengapa ada begitu banyak hal yang mampu kulakukan sekarang?' Engkau tidak akan dapat menjelaskannya. Ini adalah pencerahan dan berkat Tuhan; seperti inilah cara Tuhan memberkati orang. Jika engkau tidak merasakan hal ini saat melaksanakan tugasmu atau melakukan pekerjaanmu, itu berarti engkau belum diberkati oleh Tuhan" (Firman, Vol. 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Hanya Orang Jujur yang Mampu Hidup dalam Keserupaan dengan Manusia Sejati"). Setelah merenungkan firman Tuhan, aku memahami bahwa Tuhan memberkati orang yang jujur dan orang yang mengorbankan diri mereka untuk-Nya. Semakin seseorang rajin dan berusaha meningkatkan diri dalam tugasnya, semakin banyak Roh Kudus mencerahkan mereka, dan semakin efektif mereka dalam tugas. Sebaliknya, jika engkau melakukan tugas dengan kecurangan, tidak rajin, dan tidak membayar harga, engkau tidak akan pernah mengalami kemajuan atau menerima manfaat apa pun dari tugasmu, dan engkau bahkan mungkin kehilangan apa yang tadinya bisa kaucapai. Pada saat ini, aku teringat pengalaman yang diceritakan Andrea. Sebenarnya ada banyak pekerjaan yang tidak dia pahami pada awalnya, tetapi dia sering membawa kesulitannya kepada Tuhan, berdoa, mencari, dan merenungkannya secara mendalam, dan juga mempersekutukan dan merangkumnya dengan orang lain, lalu, tanpa disadari, dia dicerahkan Roh Kudus, dan selalu mampu memunculkan gagasan baru. Dia semakin mengalami kemajuan dan semakin efektif dalam tugasnya. Namun, aku berusaha mempertahankan status quo, tidak mencari kemajuan, berusaha menikmati waktu luang, tidak pernah mau menderita atau membayar harga. Akibatnya, aku tidak pernah mencapai potensiku. Sebagaimana firman Tuhan berkata: "Barang siapa yang tidak memiliki, apa pun yang dia miliki akan diambil darinya" (Matius 13:12). Tuhan membenci sikapku yang masa bodoh dan tidak bertanggung jawabku terhadap tugas. Aku sadar jika tidak bertobat, aku pasti ditolak oleh Tuhan, dan akhirnya sama sekali kehilangan kesempatanku untuk melakukan tugasku. Dengan pemikiran ini, aku merasa takut, jadi aku langsung berdoa kepada Tuhan untuk bertobat dan mencari bimbingan-Nya untuk menemukan jalan penerapan.

Kemudian, aku membaca firman Tuhan: "Apa yang harus engkau pahami tentang tugas? Engkau harus memahami tugas sebagai sesuatu yang diberikan oleh sang Pencipta—oleh Tuhan—kepada seseorang untuk dilaksanakannya; dengan cara ini muncullah tugas yang harus manusia lakukan. Amanat yang Tuhan berikan kepadamu adalah tugasmu, maka sepenuhnya wajar dan dapat dibenarkan jika engkau melaksanakan tugasmu sesuai dengan tuntutan Tuhan. Jika engkau paham bahwa tugas ini adalah amanat dari Tuhan, dan ini adalah bentuk kasih dan berkat Tuhan untukmu, engkau akan dapat menerima tugasmu dengan hati yang mengasihi Tuhan, dan engkau akan mampu memperhatikan maksud Tuhan saat melaksanakan tugasmu, dan engkau akan mampu mengatasi semua kesulitan untuk memuaskan Tuhan. Orang yang sungguh-sungguh mengorbankan diri untuk Tuhan tidak akan pernah menolak amanat Tuhan; mereka tidak akan pernah menolak tugas apa pun. Apa pun tugas yang Tuhan percayakan kepadamu, sesulit apa pun tugas tersebut, engkau tidak boleh menolaknya, melainkan harus menerimanya. Inilah jalan penerapannya, yaitu engkau harus menerapkan kebenaran dan mencurahkan segenap keloyalanmu dalam segala hal, untuk memuaskan Tuhan. Apa yang menjadi fokus dalam penerapan ini? Fokusnya adalah kata 'dalam segala hal'. 'Dalam segala hal' bukan berarti hal-hal yang engkau sukai atau kuasai, apalagi hal-hal yang familier untukmu. Terkadang segala hal itu adalah hal-hal yang tidak engkau kuasai, hal-hal yang perlu kaupelajari, hal yang sulit, atau hal yang membuatmu harus menderita. Namun, hal apa pun itu, selama Tuhan telah memercayakannya kepadamu, engkau harus menerimanya dari Dia; engkau harus menerimanya dan melaksanakan tugas tersebut dengan baik, mencurahkan segenap keloyalanmu dan memenuhi maksud Tuhan. Inilah jalan penerapannya" (Firman, Vol. 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Setelah merenungkan firman Tuhan ini, aku sangat terinspirasi. Tugasku adalah amanat dari Tuhan, dan entah kita terampil atau tidak dalam tugas itu, entah tugas itu sederhana atau rumit, itu berasal dari Tuhan, jadi kita harus bertanggung jawab, dan kita harus sebisa mungkin setia. Hanya setelah kita berupaya yang terbaik dan memenuhi tanggung jawab kita, barulah kita dapat menerima bimbingan dan berkat Tuhan. Aku teringat saat berjanji di hadapan Tuhan bahwa aku akan setia melakukan tugasku untuk membalas kasih-Nya. Kini saat tugasnya sedikit rumit dan menantang, dan aku harus menderita serta membayar harga, aku hanya bekerja asal-asalan, berusaha menghindarinya. Saat menyadari hal ini, aku merasa berutang kepada Tuhan dan merasa tidak layak menikmati kasih-Nya. Aku tidak bisa terus seperti itu. Aku harus melakukan penerapan berdasarkan firman Tuhan, memperlakukan tugasku dengan tulus, dan memenuhi tanggung jawabku sepenuhnya untuk menghindari penyesalan di kemudian hari.

Jadi setelah ini, aku mengambil inisiatif dan mulai menyelidiki dan menjadi familier dengan pekerjaan yang dahulu tidak familier bagiku, dan ketika aku menghadapi masalah-masalah rumit, aku tidak lagi berusaha menghindarinya. Sebaliknya, aku berinisiatif untuk berdiskusi dan menyelesaikannya dengan saudara-saudariku, meminta mereka mengajariku saat aku tidak mengerti. Secara berangsur, aku mulai menguasai detailnya dan mampu memberikan solusi yang tepat saat orang lain menghadapi kesulitan. Saat merangkum pekerjaan kami, awalnya aku sama sekali tidak tahu caranya dan tetap ingin menghindarinya, tetapi aku ingat yang kubaca dalam firman Tuhan, jadi aku secara sadar meninggalkan dagingku, memikirkan masalah-masalah yang ada dalam tugas kami, lalu mencari prinsip dan menggali informasi. Setelah cukup lama menerapkan itu, aku jelas merasakan bimbingan Tuhan. Bahkan tanpa disadari, aku mulai memahami banyak hal yang tidak kupahami atau yang membingungkanku, dan setiap kali kami merangkum pekerjaan, kami memperoleh hasil. Saudara-saudariku menerapkan yang kami rangkum, dan juga mengalami kemajuan.

Aku mengira sikapku terhadap tugas telah sedikit berubah, tetapi saat aku kembali menghadapi situasi yang sama, aku melakukan lagi hal yang sama.

Pada September 2021, karena kebutuhan pekerjaan, aku mulai bekerja sama dengan Saudari Rosie untuk menyiram para petobat baru. Kupikir tugas ini tidak akan melibatkan masalah teknis, jadi tidak akan terlalu memusingkan, tetapi kenyataannya, begitu aku mulai melakukannya, aku mendapati tidaklah mudah menyirami para petobat baru dengan baik. Aku tidak hanya harus berkomunikasi dalam bahasa asing, aku juga harus mempersekutukan kebenaran untuk menyelesaikan gagasan dan kebingungan mereka dengan cepat. Aku melihat Rosie sangat mahir dalam semua aspek pekerjaan itu. Dia mampu dengan cepat menemukan kebenaran yang relevan untuk menyelesaikan masalah petobat baru, tetapi aku menyadari bahwa aku sangat buruk dalam hal itu. Aku tidak mampu mempersekutukan kebenaran dengan jelas atau menyelesaikan masalah mereka. Untuk mencapai level Rosie, aku harus sangat lama belajar dan memperlengkapi diri, serta membayar harga yang sangat mahal. Kupikir, "Lupakan saja, lagi pula Rosie sekarang adalah rekan sekerjaku, jadi aku tidak perlu khawatir." Dengan pemikiran ini, aku tidak dengan semangat memperlengkapi diriku dengan kebenaran tentang penyiraman, dan setelah pertemuan, aku tidak secara proaktif menanyakan para petobat baru tentang masalah-masalah mereka. Suatu hari, aku merenungkan bahwa aku telah melakukan tugas ini selama dua bulan, tetapi masih belum bisa menyirami para petobat baru sendirian. Aku selalu beralasan bahwa aku tidak memahami, tetapi kenyataannya aku tidak berjuang untuk membayar harga. Aku bertanya pada diriku sendiri, "Mengapa begitu menghadapi tugas yang tidak kukuasai, aku menggunakan 'ketidakpahaman' dan 'ketidakmampuan'-ku sebagai alasan untuk bekerja asal-asalan, dan tidak mau membayar harga?" Aku membawa keadaan dan kebingunganku ke hadapan Tuhan dan berdoa.

Suatu hari, dalam perenunganku, aku membaca firman Tuhan: "Saat melaksanakan tugas, orang selalu memilih pekerjaan ringan, pekerjaan yang tidak akan melelahkannya, dan yang tidak melibatkan unsur di luar ruangan. Ini berarti memilih pekerjaan yang mudah dan mengabaikan pekerjaan yang sulit, dan inilah yang terwujud ketika orang mendambakan kenyamanan daging. Apa lagi? (Selalu mengeluh ketika tugasnya sedikit sulit, sedikit melelahkan, ketika harus membayar harga.) (Sibuk dengan makanan dan pakaian, dan kesenangan daging.) Semua inilah yang terwujud ketika orang mendambakan kenyamanan daging. Ketika orang seperti itu melihat bahwa suatu tugas terlalu melelahkan atau berisiko, dia melemparkannya ke orang lain; dia sendiri hanya melakukan pekerjaan santai, dan dia berdalih dengan mengatakan bahwa kualitasnya buruk, bahwa dia tidak memiliki kemampuan kerja, dan tidak mampu mengambil tugas tersebut—padahal sebenarnya, itu karena dia mendambakan kenyamanan daging. ... Selain itu, ketika orang selalu mengeluh saat melaksanakan tugasnya, ketika dia tidak mau berupaya keras, ketika, segera setelah dia memiliki sedikit waktu luang, dia beristirahat, mengobrol santai, atau ikut serta dalam kesenangan dan hiburan. Dan ketika pekerjaan meningkat dan itu merusak ritme dan rutinitas hidupnya, dia tidak senang dan tidak puas akan hal itu. Dia menggerutu dan mengeluh, menjadi ceroboh dan asal-asalan dalam melaksanakan tugasnya. Ini artinya mendambakan kenyamanan daging, bukan? ... Apakah orang yang mendambakan kenyamanan daging cocok untuk melaksanakan tugas? Begitu ada orang yang membahas topik tentang pelaksanaan tugasnya, atau berbicara tentang membayar harga dan mengalami kesukaran, dia akan terus menggelengkan kepalanya. Dia selalu memiliki terlalu banyak masalah, dia penuh dengan keluhan, dan dia dipenuhi hal-hal negatif. Orang semacam itu tidak berguna, dia tidak memenuhi syarat untuk melaksanakan tugasnya, dan harus disingkirkan" (Firman, Vol. 5, Tanggung Jawab Para Pemimpin dan Pekerja, "Tanggung Jawab Para Pemimpin dan Pekerja (2)"). "Ada pemimpin palsu yang sebenarnya sedikit berkualitas, tetapi mereka tidak melakukan pekerjaan nyata, dan mendambakan kenyamanan daging. Orang yang mendambakan kenyamanan daging tidak banyak berbeda dari babi. Babi menghabiskan hari-harinya dengan tidur dan makan. Mereka tidak melakukan apa-apa. Namun, setelah bekerja keras selama setahun untuk memberi mereka makan, ketika seluruh keluarga makan daging mereka pada akhir tahun, babi-babi itu dapat dikatakan ada gunanya. Jika seorang pemimpin palsu dipelihara seperti babi, makan dan minum gratis tiga kali setiap hari, tumbuh gemuk dan kuat, tetapi mereka tidak melakukan pekerjaan nyata apa pun dan merupakan orang-orang tidak berguna, bukankah memelihara mereka adalah sia-sia? Apakah ada gunanya? Mereka hanya bisa menjadi kontras bagi pekerjaan Tuhan dan harus disingkirkan. Sebenarnya, lebih baik memelihara babi daripada pemimpin palsu. Pemimpin palsu mungkin memiliki gelar 'pemimpin', mereka mungkin menempati kedudukan ini, makan enak tiga kali sehari, menikmati banyak anugerah Tuhan, dan pada akhir tahun mereka pun menjadi gemuk—tetapi apa hasil pekerjaan mereka? Lihatlah semua yang telah kaucapai dalam pekerjaanmu tahun ini: adakah hasil dalam bidang pekerjaanmu tahun ini? Pekerjaan nyata apa yang telah kaulakukan? Rumah Tuhan tidak menuntutmu melakukan setiap pekerjaan dengan sempurna, tetapi engkau harus melakukan pekerjaan utama dengan baik—misalnya, pekerjaan penginjilan, atau pekerjaan audio visual, pekerjaan tulis-menulis, dan sebagainya. Semua ini harus membuahkan hasil. Dalam keadaan normal, efek—hasil—dapat dilihat setelah tiga sampai lima bulan; jika tidak ada hasil setelah satu tahun, maka ini masalah serius. Setelah satu tahun, lihatlah pekerjaan apa dalam lingkup tanggung jawabmu yang paling berhasil, yang dalam melakukannya engkau membayar harga terbesar dan paling menderita. Lihatlah pencapaianmu: dalam hatimu, engkau seharusnya sadar apakah engkau telah menghasilkan pencapaian yang bernilai setelah setahun menikmati anugerah Tuhan. Apa sebenarnya yang kaulakukan saat engkau memakan makanan rumah Tuhan dan menikmati kasih karunia Tuhan selama ini? Sudahkah engkau mencapai sesuatu? Jika engkau belum mencapai apa pun, artinya engkau adalah seorang pendompleng, benar-benar seorang pemimpin palsu" (Firman, Vol. 5, Tanggung Jawab Para Pemimpin dan Pekerja, "Tanggung Jawab Para Pemimpin dan Pekerja (4)"). Setelah merenungkan firman Tuhan ini, aku merasa firman Tuhan menghunjam hatiku. Baru setelah itulah aku mengerti bahwa aku selalu mundur dari kesulitan dalam tugasku dan menggunakan "ketidakpahaman" dan "ketidakmampuan"-ku sebagai alasan, karena aku terlalu malas dan terlalu mendambakan kenyamanan daging. Dahulu, saat memimpin tugas bersama Andrea, aku selalu memilih tugas yang mudah dan sederhana untuk diriku dan memberi dia apa pun yang tidak kukuasai atau yang membutuhkan pemikiran cermat. Kini, dalam menyirami para petobat baru bersama Rosie, aku tetap tidak ingin khawatir atau membayar harga. Aku merenungkan perilakuku, dan sadar bahwa alasan utamanya adalah karena aku dikendalikan oleh falsafah iblis. Hal-hal seperti "Tiap orang memperjuangkan kepentingannya sendiri," "Isi harimu dengan kesenangan karena hidup ini singkat," dan "Bersenang-senanglah selagi kau masih hidup" telah berakar dalam di lubuk hatiku. Aku selalu merasa orang haruslah hidup bagi diri mereka sendiri, dan bahwa ketika kita tidak menderita dan menikmati kenyamanan daging, kita sedang hidup dengan sebagaimana mestinya. Ketika aku datang ke gereja untuk memenuhi tugasku, aku masih memegang pandangan ini. Ketika ada tugas-tugas yang tidak kukuasai, saat aku menghadapi kesulitan dan mengharuskanku membayar harga, aku mundur seperti orang pengecut dan mengutamakan kenyamanan dagingku. Babi tidak punya pikiran atau melakukan apa pun. Mereka hanya tahu makan, minum, dan tidur. Aku juga sama, hanya peduli dengan kenyamananku. Aku menjalani kehidupan yang cabul! Aku teringat bagaimana dahulu sebagai pengawas, dan sekarang dalam penyiraman, Tuhan telah bermurah hati kepadaku, tetapi aku tidak berusaha membuat kemajuan, atau memikirkan tanggung jawab dan tugasku sama sekali. Aku tidak bertanggung jawab terhadap pekerjaan gereja dan terhadap kehidupan saudara-saudariku. Aku tidak punya hati nurani sedikit pun! Aku tidak mau menderita atau membayar harga, tetapi aku memakai alasan "ketidakpahaman" atau "ketidakmampuan" untuk mendapatkan simpati agar orang lain berpikir aku bisa mengakui kekuranganku, jadi mereka melihatku sebagai orang yang bernalar dan jujur. Sebenarnya aku memakai kata-kata ini untuk menutupi kemalasan dan sikap tidak bertanggung jawab. Aku sangat licik dan curang, dan aku menipu semua saudara-saudariku! Meskipun aku bisa menipu mereka untuk sementara waktu, Tuhan melihat segalanya, dan Tuhan itu benar. Aku mencoba mengelabui dan menipu Tuhan, bagaimana mungkin Tuhan tidak membenciku? Inilah sebabnya aku tidak pernah melihat bimbingan Tuhan dalam tugasku selama ini. Kebingunganku yang terus-menerus dan kurangnya kemajuanku yang terlihat jelas adalah tanda bahaya!

Aku membaca firman Tuhan: "Setelah menerima apa yang Tuhan percayakan kepadanya, Nuh mulai melaksanakan dan menyelesaikan pembangunan bahtera yang Tuhan katakan seolah-olah itu adalah hal terpenting dalam hidupnya, tanpa sedikit pun berpikir untuk mengabaikannya. Hari-hari berlalu, tahun-tahun berlalu, hari demi hari, tahun demi tahun. Tuhan tidak pernah mengawasi Nuh, mendorongnya, tetapi di sepanjang waktu ini, Nuh bertekun dalam melakukan tugas penting yang Tuhan percayakan kepadanya. Setiap kata dan frasa yang Tuhan ucapkan telah terukir di hati Nuh seperti firman yang diukir di atas loh batu. Tanpa menghiraukan perubahan di dunia luar, ejekan orang-orang di sekitarnya, kesukaran yang ada, atau kesulitan yang dia hadapi, dia bertekun, dengan sepenuh hati melakukan apa yang telah Tuhan percayakan kepadanya, tidak pernah berputus asa atau berpikir untuk menyerah. Firman Tuhan terukir di hati Nuh, dan itu telah menjadi kenyataan Nuh sehari-hari. Nuh mempersiapkan setiap bahan yang dibutuhkan untuk membangun bahtera, dan bentuk serta spesifikasi bahtera yang diperintahkan oleh Tuhan secara bertahap mulai terbentuk dengan setiap pukulan palu dan pahat Nuh yang teliti. Sekalipun menghadapi angin atau hujan, dan sekalipun orang-orang mengejek atau memfitnahnya, kehidupan Nuh berjalan dengan cara ini, tahun demi tahun. Tuhan secara diam-diam mengawasi setiap tindakan Nuh, tanpa pernah mengucapkan firman lagi kepadanya, dan hati-Nya tersentuh oleh Nuh. Namun, Nuh tidak mengetahui atau merasakan hal ini; dari awal sampai akhir, dia hanya membangun bahtera dan mengumpulkan segala jenis makhluk hidup, dengan kesetiaan yang tidak tergoyahkan kepada firman Tuhan. Dalam hati Nuh, tidak ada perintah yang lebih tinggi yang harus dia ikuti dan laksanakan: firman Tuhan adalah arah dan tujuannya seumur hidup. Jadi, apa pun yang Tuhan katakan kepadanya, apa pun yang Tuhan minta atau perintahkan kepadanya, Nuh menerima sepenuhnya, dan menghayatinya; dia menganggapnya sebagai hal yang terpenting dalam hidupnya, dan memperlakukannya dengan benar. Dia bukan saja tidak lupa, dia bukan saja menyimpannya di dalam hatinya, tetapi dia juga mewujudkannya dalam kehidupannya sehari-hari, menggunakan hidupnya untuk menerima dan melaksanakan amanat Tuhan. Dan dengan cara ini, papan demi papan, bahtera itu dibangun. Setiap tindakan Nuh, setiap harinya, didedikasikan untuk melaksanakan firman dan perintah Tuhan. Mungkin kelihatannya, Nuh tidak sedang melakukan pekerjaan yang sangat penting, tetapi di mata Tuhan, semua yang Nuh lakukan, bahkan setiap langkah yang dia ambil untuk mencapai sesuatu, setiap pekerjaan yang dilakukan oleh tangannya—semuanya berharga, dan layak untuk dikenang, dan layak diteladani oleh umat manusia ini. Nuh mematuhi apa yang telah Tuhan percayakan kepadanya. Dia tidak tergoyahkan dalam kepercayaannya bahwa setiap firman yang Tuhan ucapkan adalah benar; akan hal ini, dia sama sekali tidak memiliki keraguan. Dan sebagai hasilnya, bahtera itu selesai dibangun, dan segala jenis makhluk hidup dapat hidup di dalamnya" (Firman, Vol. 4, Menyingkapkan Antikristus, "Lampiran Dua: Bagaimana Nuh dan Abraham Menaati Firman Tuhan dan Tunduk kepada-Nya (Bagian Satu)"). Saat merenungkan firman Tuhan, aku sangat tersentuh. Nuh sangat taat dan memikirkan Tuhan. Saat Tuhan menyuruh Nuh membangun bahtera, Nuh menjunjung amanat-Nya dan mematuhi tuntutan-Nya. Awalnya, dia tidak tahu cara membangun bahtera, dan kesulitan membangunnya benar-benar terlalu besar. Pada setiap tahap, dia harus menderita dan membayar harga, tetapi Nuh setia pada amanat Tuhan. Untuk menyelesaikan amanat Tuhan, dia rela menderita, membayar harga, dan membangun bahtera dengan satu demi satu paku. Nuh bertahan selama 120 tahun dan akhirnya menyelesaikan amanat Tuhan. Meskipun Nuh sangat menderita untuk membangun bahtera dan tidak menikmati kenyamanan daging, dia telah melaksanakan amanat Tuhan, memuaskan-Nya, dan mendapatkan perkenanan-Nya. Dibandingkan dengan sikap Nuh terhadap amanat Tuhan, aku sadar bahwa aku sama sekali tidak punya kemanusiaan. Ketika melaksanakan tugasku, aku tidak setia. Aku malas dan licik, hanya mendambakan kenyamanan daging, dan sama sekali tidak mau menderita. Aku benar-benar sedang menjalani kehidupan yang hina! Jika terus seperti ini dan tidak berubah, aku pasti kehilangan tugasku, yang akan kusesali seumur hidupku.

Hari-hari selanjutnya, aku mengatur waktuku dengan baik, dan bertekad untuk memperlengkapi diriku setiap hari dengan kebenaran yang diperlukan berkenaan dengan penyiraman para petobat baru. Suatu hari saat pertemuan, saudara-saudari mengangkat masalah dalam pekerjaan penyiraman, dan saat mendengar sesuatu yang tidak kupahami, aku ingin menghindarinya. Aku berpikir untuk membiarkan mereka menyelesaikannya sendiri di antara mereka. Namun kali ini, aku tiba-tiba sadar akan keinginanku untuk bersikap asal-asalan dan tidak bertanggung jawab. Aku teringat tentang sikap serius dan bertanggung jawab Nuh terhadap amanatnya, dan kemudian dengan segera memperbaiki keadaanku yang keliru. Aku mendengarkan dengan saksama bagaimana mereka mempersekutukan kebenaran untuk memecahkan masalah. Di akhir rangkuman, aku memberikan saranku. Aku terkejut ketika mereka berkata saranku bagus. Saat menyirami para petobat baru bersama Rosie, aku mengambil inisiatif untuk berlatih memecahkan kesulitan nyata para petobat baru, dan jika ada masalah yang tidak mampu kuselesaikan, aku akan segera meminta bantuannya. Setelah beberapa waktu, aku juga mampu menyirami para petobat baru sendiri. Meskipun masih punya banyak kekurangan dan kelemahan, aku bisa merasakan diriku bertumbuh dan mendapatkan sesuatu, serta merasa lebih tenang. Pemahaman dan manfaat yang mampu kuterima sepenuhnya adalah dampak dari pekerjaan Tuhan. Syukur kepada Tuhan!

Sebelumnya: 39. Aku Teguh di Jalan Ini

Selanjutnya: 41. Apakah Keselamatan Membutuhkan Status?

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

44. Aku Telah Pulang

Oleh Saudara Chu Keen Pong, MalaysiaAku telah percaya kepada Tuhan selama lebih dari sepuluh tahun dan melayani di gereja selama dua tahun,...

84. Iman yang Tak Terhancurkan

Oleh Saudara Meng Yong, TiongkokPada Desember 2012, beberapa saudara-saudari dan aku naik mobil menuju suatu tempat untuk mengabarkan...

Pengaturan

  • Teks
  • Tema

Warna Solid

Tema

Jenis Huruf

Ukuran Huruf

Spasi Baris

Spasi Baris

Lebar laman

Isi

Cari

  • Cari Teks Ini
  • Cari Buku Ini