Cara Mengejar Kebenaran (20)
Hari ini, kita akan melanjutkan persekutuan kita tentang topik sebelumnya. Sebelumnya, kita telah bersekutu tentang asal-usul segala jenis orang, dan kita membahas ketiga jenisnya. Apakah engkau semua ingat apa ketiga jenis tersebut? (Jenis yang bereinkarnasi dari binatang, jenis yang bereinkarnasi dari setan, dan jenis yang bereinkarnasi dari manusia.) Sampai di mana pembahasan kita? (Kita sampai pada poin pembahasan bahwa jenis orang yang bereinkarnasi dari manusia memiliki kemanusiaan yang normal, dan bahwa mereka memiliki hati nurani serta nalar dalam kemanusiaan mereka. Ini mencakup dua karakteristik, yaitu mampu membedakan yang benar dan yang salah serta mengetahui apa yang benar dan apa yang tidak benar.) Yang satu adalah mampu membedakan yang benar dan yang salah, dan yang lainnya adalah mengetahui apa yang benar dan apa yang tidak benar; ini adalah karakteristik manusia. Manusia memiliki dua karakteristik ini terutama karena mereka memiliki hati nurani dan nalar; jadi, mereka yang memiliki hati nurani dan nalar mampu membedakan yang benar dan yang salah serta mengetahui apa yang benar dan apa yang tidak benar. Kita juga telah mempersekutukan aspek ini secara terperinci. Kita terutama bersekutu tentang perwujudan mereka yang tidak mampu membedakan yang benar dan yang salah serta yang tidak mampu mengetahui apa yang benar dan apa yang tidak benar, menyingkapkan beberapa perwujudan mereka dari sisi negatif, dan setelah itu, kita membahas tentang apa itu hal positif, bukan? (Ya.) Hari ini, mari kita lanjutkan persekutuan tentang topik bereinkarnasi dari manusia. Mereka yang bereinkarnasi dari manusia bukan hanya mampu membedakan yang benar dan yang salah, melainkan juga mengetahui apa yang benar dan apa yang tidak benar. Mampu membedakan yang benar dan yang salah itu terutama tentang mengetahui apa itu hal positif dan apa itu hal negatif; artinya, orang yang mampu membedakan yang benar dan yang salah mampu membedakan segala macam orang, peristiwa, dan hal-hal; bahkan untuk hal-hal yang belum pernah mereka temui sebelumnya, mereka akan menggunakan hati nurani dan nalar mereka untuk membuat penilaian sederhana tentang hal-hal tersebut. Jika mereka menemui hal-hal semacam itu dan di dalam hati nuraninya merasa gelisah atau tidak dapat menyelaraskan hal-hal ini dengan nalarnya, mereka akan membuat pilihan dasar, secara tidak sadar merasakan benar atau tidaknya hal-hal tersebut, atau apakah natur dari hal-hal tersebut positif atau negatif. Dengan kata lain, manusia sejati akan menggunakan perasaan dasar dari hati nurani atau nalar mereka untuk menilai hal-hal asing yang mereka temui untuk membedakan apakah itu hal positif atau hal negatif, dan apakah itu benar atau tidak benar. Namun, bagi orang-orang yang tidak memiliki hati nurani dan nalar, sangatlah sulit untuk membedakan yang benar dan yang salah serta mengetahui apa yang benar dan apa yang tidak benar, entah itu mengenai hal-hal yang belum dikenal maupun hal-hal yang sudah dikenal. Terutama, mereka bahkan lebih tidak mampu mengetahui apakah beberapa hal baru yang muncul di tengah masyarakat itu benar atau tidak. Mereka tidak mampu membedakan apakah itu hal positif atau hal negatif. Jika suatu hal positif muncul di tengah masyarakat, mereka bahkan akan mengikuti tren-tren duniawi dalam cara mereka menyikapinya, bahkan dalam mengutuk dan menolaknya. Inilah perbedaan antara manusia dan bukan manusia. Engkau lihat, meskipun mereka tetap tampak seperti manusia, ada orang-orang yang belum pernah mendengar kebenaran atau menerima perbekalan firman Tuhan, tetapi di lingkungan apa pun mereka berada, mereka memiliki batas minimal dalam tindakan mereka—paling tidak, batas minimal hati nurani. Mereka sama sekali tidak akan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani atau moralitas. Ini karena di lubuk hatinya, mereka jijik terhadap hal-hal negatif, dan mereka memiliki hati nurani serta nalar manusia, sehingga dalam cara mereka berperilaku dan bertindak, mereka memiliki batas dasar minimal dalam moralitas. Sementara itu, dilihat berdasarkan sifat golongannya, mereka yang bukan manusia tidak memiliki hati nurani dan nalar. Di satu sisi, mereka tidak mampu membedakan hal positif dan hal negatif. Di sisi lain, mereka tidak merasa jijik atau benci terhadap hal-hal negatif tersebut atau bahkan terhadap hal yang jelas-jelas tidak benar, mereka juga tidak memiliki kemampuan untuk menentangnya; mereka bahkan mampu mencintai hal-hal negatif dan mengikuti tren-tren jahat. Yang jauh lebih menyedihkan adalah ada orang-orang yang percaya kepada Tuhan dan mengaku mengikuti Tuhan yang masih bisa mengikuti tren-tren jahat dan melakukan hal-hal jahat tersebut seperti halnya orang tidak percaya, melakukannya tanpa rasa malu sama sekali, dan bahkan tanpa merasakan teguran dari hati nurani mereka.
Sekarang ini, banyak orang berswafoto dengan ponsel mereka. Foto seperti apa yang diambil oleh orang-orang dengan kemanusiaan yang normal? Mereka mengambil foto-foto yang bermakna dan layak untuk dikenang, dengan tujuan untuk meninggalkan beberapa kenangan indah. Sekalipun mereka mengambil foto diri mereka sendiri, fotonya terlihat sopan, pantas, bermartabat, dan berintegritas. Semua tindakan mereka dalam hal ini berada dalam lingkup hati nurani dan nalar kemanusiaan yang normal. Namun, berbeda halnya dengan mereka yang tidak memiliki hati nurani dan nalar; mereka juga berswafoto, tetapi swafoto mereka bermasalah. Foto seperti apa yang diambil oleh beberapa wanita? Mereka tidak mengambil foto diri yang bermartabat, berintegritas, dan pantas. Ketika mereka melihat wanita-wanita yang tidak percaya di internet mengambil beberapa foto yang provokatif, foto berbau seksual, atau foto yang sangat aneh, mereka menirunya, juga mengambil beberapa foto yang membuat pria tergiur dan berpikiran cabul—yaitu, mereka secara khusus mengambil foto diri mereka sendiri yang terlihat seperti pelacur, wanita murahan, atau foto-foto berbau seksual. Ada wanita yang suka memakai riasan tebal, mendempul wajah mereka menjadi sangat putih dan bibir mereka sangat merah, serta merias mata mereka sedemikian rupa sehingga mereka akhirnya terlihat seperti orang aneh; mereka dengan sengaja menampilkan sikap yang menggoda dan memikat di depan kamera, dengan tatapan mata yang memikat dan cabul, membuat pria berpikiran cabul ketika melihat semua ini. Ada juga beberapa wanita yang menggerai rambut panjang mereka menutupi wajah, sedikit mendongakkan wajah mereka dan menunjukkan tatapan yang menggoda dan cabul melalui celah-celah rambut mereka. Singkatnya, wanita-wanita semacam itu mengambil foto dengan menggunakan ekspresi dan sikap apa pun yang mereka anggap menggoda dan seksi. Setelah mengambilnya, wanita-wanita ini juga merasa sangat narsis, terkadang mengagumi foto-foto mereka sendiri yang provokatif. Terlebih lagi, mereka menjadikan swafoto kebanggaan dan kesukaan mereka sebagai gambar latar di komputer atau ponsel mereka, dan beberapa dari wanita ini bahkan mengunggahnya ke internet. Setiap kali melihat foto-foto ini, mereka merasa begitu menawan, bahwa mereka dilahirkan untuk menjadi bintang, dan jika mereka tidak percaya kepada Tuhan, mereka pasti akan menjadi selebritas besar. Lihatlah, jalan macam apa yang sedang mereka tempuh? Mereka tidak hanya mengagumi foto mereka sendiri sepanjang waktu, tetapi mereka juga menunjukkan foto-foto ini kepada orang-orang di sekitar mereka. Jika orang-orang tidak memuji mereka setelah melihat foto-foto itu, di dalam hatinya, mereka merasa tidak puas. Jika mereka bertemu jenis orang serupa yang sangat menyukai foto-foto mereka dan berkata, "Foto ini diambil dengan sangat baik, ini adalah foto seorang bintang! Sangat mirip dengan si anu", mereka merasa jauh lebih puas akan diri mereka sendiri, dan menikmati perasaan ini setiap hari. Ada juga orang-orang yang suka menghias foto mereka, menaruh sepasang telinga kelinci di kepala mereka dan menambahkan kumis kucing, berpikir mereka lebih imut daripada kelinci dan anak kucing. Mereka bertanya kepada setiap orang yang mereka temui, "Menurutmu, aku lebih mirip kelinci atau anak kucing?" Ketika orang berkata, "Aku tidak tahu pasti kau terlihat seperti apa", mereka menjadi sangat marah. Katakan kepada-Ku, bukankah menyimpang bahwa orang tidak ingin menjadi manusia yang semestinya, tetapi malah ingin menjadi binatang? Mereka bahkan mengunggah "karya agung" mereka ini ke internet, berusaha mendapatkan pujian dari lebih banyak orang. Ada juga orang-orang yang berdandan seperti pendekar pedang atau kesatria pengembara saat berswafoto—atau sebagai Spider-Man atau Batman dari film-film Barat—atau mereka berdandan sebagai sosok yang keren, penyendiri, dan misterius. Mereka melakukan semua ini dengan harapan bahwa orang lain akan menyukai dan menerima mereka, dan mereka menjadi terobsesi dengan hal ini setiap hari. Katakan kepada-Ku, orang macam apa mereka? Apakah mereka orang normal? Sama sekali tidak; mereka bukan manusia. Meskipun berswafoto hanyalah hal sederhana dan sepele di antara tren-tren jahat, hal itu menyingkapkan preferensi dan pengejaran seseorang, serta menyingkapkan karakternya, kebutuhan kemanusiaannya, dan hal-hal yang tersembunyi jauh di dalam jiwanya. Orang-orang yang bermartabat dan berintegritas menggunakan ponsel, alat ini, untuk mengambil foto hal-hal yang positif, bermakna, dan berharga, sedangkan orang-orang yang tidak memiliki kualitas kemanusiaan mengambil foto hal-hal yang negatif dan jahat, hal-hal yang dibutuhkan oleh esensi natur mereka sendiri. Dapat dikatakan bahwa orang macam apa seseorang itu menentukan jenis kebutuhannya, jenis foto yang dia ambil, dan caranya memilih dalam berpakaian dan menampilkan dirinya. Orang dengan kemanusiaan yang normal akan memilih untuk mengambil beberapa foto yang bermartabat, berintegritas, sopan, bermakna, dan berharga sebagai kenang-kenangan, sementara orang-orang tanpa kemanusiaan yang normal akan mengikuti tren-tren jahat duniawi, melakukan hal-hal yang mereka sukai. Meskipun berswafoto adalah hal kecil, itu cukup untuk melihat preferensi dan pengejaran di lubuk hati orang-orang. Hal apa pun itu, sekalipun itu adalah sesuatu yang tidak dapat dibedakan dengan sangat jelas oleh orang dengan kemanusiaan yang normal, hal mana yang positif dan yang negatif, karena orang semacam itu dikendalikan oleh hati nurani dan nalar, mereka secara alami akan memilih hal-hal positif. Jika, karena tidak mampu membedakan untuk sesaat, mereka memilih hal negatif atau tanpa disadari melakukan sesuatu yang negatif, mereka akan segera merasakan sesuatu di dalam hati mereka; hati nurani mereka akan menegur mereka, atau mereka tidak akan dapat menyelaraskan hal ini dengan nalar mereka. Ketika orang yang tidak memiliki kemanusiaan menghadapi hal-hal positif, mereka merasa bahwa hal-hal positif itu begitu hambar dan membosankan, sangat tidak layak untuk disinggung, dan dipandang rendah oleh orang-orang, padahal di dalam hatinya, mereka sangat menyukai dan mengagumi hal-hal negatif, terutama hal-hal yang sangat populer dalam tren-tren jahat. Jika engkau mengambil foto yang bermartabat dan berintegritas dari orang-orang semacam ini, mereka akan merasa jijik dan mencibir, berkata, "Siapa yang masih mengambil foto seperti ini? Ini sangat kuno!" Mereka sendiri memilih untuk mengambil foto-foto berbau seksual. Orang normal menganggap foto-foto semacam itu menjijikkan dan tidak sedap dipandang, tetapi orang-orang semacam ini berkata, "Ini seksi. Mengertikah kau apa artinya seksi? Ini berarti modis; ini seni tingkat tinggi. Kau tidak mengerti seni!" Mereka bukan hanya tidak merasa jijik ketika mengambil foto diri yang berbau seksual, tetapi mereka juga sangat suka mengikuti hal-hal yang modis dan berbau seksual ini.
Mereka yang bukan manusia sangat antusias dengan hal-hal negatif. Ketika muncul hal-hal negatif di tengah tren-tren jahat, mereka akan cepat menangkapnya dan akan memiliki tingkat penerimaan yang tinggi terhadap hal-hal tersebut. Jika ada kesempatan dan kondisinya memungkinkan, mereka pasti akan melakukan hal-hal yang mereka sukai dan terima dari tren-tren jahat tersebut. Mereka sama sekali tidak akan menolak, dan sama sekali tidak akan menjadi penonton, apalagi merasa benci atau menjauhinya; sebaliknya, mereka akan terjun ke dalamnya. Terutama, ada orang-orang yang percaya kepada Tuhan yang juga sangat mengikuti beberapa perkataan dan praktik-praktik populer yang mereka dengar dari Barat. Sebagai contoh, ada hari raya di Barat yang disebut Halloween, yang sebenarnya merupakan festival hantu. Pada hari ini, semua orang dewasa dan anak-anak mengenakan berbagai kostum seperti kostum untuk pertunjukan panggung atau teater. Ada yang berdandan seperti penyihir, ada yang seperti pangeran atau putri, dan ada yang seperti katak, ular, dinosaurus, dan sebagainya. Kemudian mereka membawa keranjang atau tas ke berbagai mal, toko, dan rumah untuk meminta permen. Ada orang-orang yang percaya kepada Tuhan yang juga merayakan festival ini, dan mengenakan kostum hantu, merasa cukup senang dan berpikir bahwa ini adalah kesempatan yang baik untuk memainkan peran yang berbeda. Kostum apa yang mereka pilih untuk dikenakan? Mereka tidak memakai kostum tokoh-tokoh yang relatif positif, seperti perwira militer, jenderal, atau pahlawan; mereka bersikeras mengenakan kostum penyihir dan dukun. Saat berdandan seperti berbagai setan untuk merayakan festival hantu, mereka merasa senang dan menganggap hal ini menyenangkan, tidak menyadari bahwa hal ini adalah sesuatu yang Tuhan benci dan merupakan hal negatif di dunia manusia. Di lubuk hatinya, orang-orang semacam ini tidak memiliki pemahaman yang jelas tentang hal-hal negatif semacam itu, dan tidak tahu bagaimana mereka seharusnya memperlakukan hal-hal dari budaya tradisional dan tren-tren sekuler ini. Mereka juga tidak memiliki pemahaman yang benar tentang siapa diri mereka sebenarnya, tidak tahu apakah mereka manusia atau hantu. Mereka tidak tahu apakah mereka manusia atau hantu, tetapi sulit meminta mereka untuk menjadi manusia, sedangkan jika engkau meminta mereka untuk menjadi hantu atau binatang, mereka menganggapnya sangat menyenangkan dan tidak pernah menolak. Jadi, katakan kepada-Ku, siapa sebenarnya orang semacam ini? Jika engkau meminta mereka menjadi orang yang memiliki hati nurani dan nalar, mereka akan sering berkata, "Seberapa berhargakah hati nurani? Sekarang ini, siapa yang masih memedulikan hati nurani? Siapa yang masih memedulikan kasih sayang dan keadilan moral? Siapa yang masih memedulikan moralitas?" Namun, jika engkau meminta mereka untuk berdandan dan berperan sebagai dukun, atau mengenakan kostum dinosaurus untuk berperan sebagai dinosaurus, mereka tidak keberatan ataupun menolaknya. Katakan kepada-Ku, orang macam apa mereka? Dalam esensi natur mereka, apakah mereka sebenarnya memiliki sedikit saja kecintaan akan hal-hal positif? Apakah mereka sama sekali tidak merasa jijik akan hal-hal negatif? Jika dilihat dari orang, peristiwa, dan hal-hal yang mereka pilih, jelaslah bahwa mereka sama sekali tidak memiliki kecintaan akan hal-hal positif, dan sama sekali tidak merasa jijik akan hal-hal negatif. Sebaliknya, mereka sangat merasa jijik akan hal-hal positif, memandangnya dengan sikap yang mengejek dan menghina. Adapun hal-hal negatif—terutama hal-hal yang sangat populer dan saat ini sangat digemari di antara tren-tren jahat—mereka sangat mengagumi dan menerimanya. Terutama, ada orang-orang yang merasa bangga karena mampu mengikuti tren-tren jahat dan memainkan peran para setan, roh jahat, dan binatang buas, merasa bahwa mereka berbeda dari orang lain. Jelaslah bahwa orang semacam ini tidak memiliki hati nurani dan nalar; makin sesuatu berasal dari tren jahat, makin mereka menyukainya. Beberapa orang Timur khususnya—setelah mendengar orang-orang berbicara tentang apa yang populer di Barat, apa yang disukai orang Barat, dan apa yang dikenakan serta digunakan orang Barat—menerima semuanya tanpa sedikit pun berusaha mengetahui yang sebenarnya tentang hal-hal itu, dan berusaha menirunya. Sekalipun itu adalah sesuatu yang jahat, yang bertentangan dengan hati nurani dan nalar, serta bertentangan dengan kebenaran, mereka tetap menerimanya. Ada orang-orang yang berkata, "Apakah ini berarti memuja hal-hal asing dan menjilat orang asing?" Benarkah demikian? (Tidak, dalam esensi naturnya, mereka memang menyukai hal-hal jahat ini.) Jawabanmu benar. Mereka merasa bahwa hal-hal yang populer di kalangan orang Timur tidak cukup berkelas, jadi mereka mengikuti hal-hal yang populer di Barat, ingin menjadi unik dan berbeda dari orang lain, dan dihormati oleh orang lain. Bagaimanapun juga, orang semacam ini tidak memiliki sifat kemanusiaan. Dilihat dari preferensi dan pengejaran mereka, dan juga dari pemikiran, pandangan, serta perwujudan mereka dalam segala hal, mereka tidak memiliki hati nurani dan nalar. Pemikiran dan pandangan mereka sama dengan yang dimiliki oleh mereka yang bukan manusia, bahkan sama dengan mereka yang berasal dari para setan dan Iblis. Pendirian dan perspektif mereka dalam memandang berbagai hal justru bertentangan dan berlawanan dengan pendirian dan perspektif orang normal sebagaimana dituntut oleh Tuhan. Namun, karena manusia sejati secara bawaan memiliki hati nurani dan nalar manusia, mereka akan menilai setiap orang, peristiwa, atau hal berdasarkan perasaan hati nurani dan nalar mereka, memilih hal-hal positif di antaranya, dan mampu membedakan apa yang benar dan apa yang tidak benar.
Di lingkungan masyarakat Timur, ada orang-orang yang dibatasi oleh budaya tradisional Timur dan mampu mematuhi beberapa tradisi Timur. Meskipun mereka tidak melakukan beberapa hal yang bertentangan dengan hati nurani dan moralitas, di lubuk hatinya, mereka menyukai hal-hal ini. Oleh karena itu, begitu lingkungannya berubah, begitu ada kesempatan, mereka akan menunjukkan sisi kemanusiaan mereka yang sebenarnya, sepenuhnya mengubah kesan yang mereka tampilkan, dan memperlihatkan sifat bukan manusia. Seperti apa sifat bukan manusia itu? Itu ditandai dengan tidak mampu membedakan yang benar dan yang salah, tidak mampu mengetahui apa yang benar dan apa yang tidak benar, dan tidak memiliki hati nurani serta nalar kemanusiaan yang normal. Ada orang-orang yang, ketika berada di Timur, terlihat memiliki gaya yang berintegritas, bermartabat, berbudi luhur, dan sopan, serta sangat memedulikan keluarga mereka, tidak memiliki reputasi buruk. Namun, ketika tiba di Barat, mereka berbeda. Mereka mendengar ada orang-orang yang berkata, "Orang Barat sangat terbuka, dan sangat bebas dalam hal hubungan antara pria dan wanita." Sebenarnya, ini tidak sesuai dengan fakta, tetapi menurut pemikiran dan gagasan mereka, mereka percaya bahwa begitu mereka tiba di Barat, mereka bebas, dan mereka tidak perlu khawatir tentang reputasi atau integritas moral apa pun, atau perkataan dari budaya tradisional Timur. Mereka berpikir bahwa wanita tidak perlu mematuhi kebajikan sebagai wanita, dan pria tidak perlu berpaut pada monogami, dan bahwa setelah datang ke Barat, mereka bisa bersikap bebas dengan lawan jenis, dan tidak ada yang akan mentertawakan atau mengkritik mereka. Mereka percaya bahwa memang begitulah budaya Barat, bahwa ini adalah tren sosial, dan tidak seorang pun menentangnya. Begitu mereka mulai berpikir seperti ini, bukankah mereka tidak lagi menempuh jalan yang baik? Hal yang benar-benar mereka cintai dalam kemanusiaan mereka akan segera tersingkap, begitu pula kemanusiaan mereka yang sebenarnya. Setelah orang Timur—terutama orang Tionghoa—datang ke Barat, karena pasangan mereka berada di negara asal, sementara mereka sendirian di negeri asing dengan orang-orang dan tempat-tempat yang tidak dikenal, dan mereka harus bekerja bertahan hidup sekaligus menangani beberapa hal rumit lainnya, kehidupan mereka menjadi cukup sulit, dan mereka merasa sangat kesepian sendirian. Oleh karena itu, semacam "pasangan masa perang" telah menjadi populer di kalangan komunitas Tionghoa di Amerika Serikat, yaitu mencari pasangan sementara untuk membangun rumah tangga sementara dan tinggal bersama, saling membantu dan mendukung untuk mengatasi kesulitan hidup bersama, sekaligus memenuhi kebutuhan fisiologis daging. Karena sulit untuk bertahan hidup sendirian di negeri asing, banyak orang mencari lawan jenis untuk menjadi pasangan masa perang guna memenuhi berbagai kebutuhan mereka. Dikatakan bahwa setelah beberapa pasangan masa perang hidup bersama selama bertahun-tahun, pasangan sah dari kedua belah pihak datang, dan kedua keluarga itu bahkan menjadi teman dan saling berinteraksi. Ini adalah praktik yang telah menjadi tren di kalangan orang tidak percaya untuk mengatasi kesulitan hidup. Katakan kepada-Ku, di antara orang-orang yang percaya kepada Tuhan, adakah yang melakukan hal-hal semacam itu? (Beberapa pengikut yang bukan orang percaya juga bisa melakukan hal ini.) Di antara mereka yang percaya kepada Tuhan, ada banyak orang yang tidak mengejar kebenaran, dan juga ada orang yang jelas-jelas merupakan pengikut yang bukan orang percaya yang sama sekali tidak tertarik pada kebenaran. Ada yang bahkan tidak memiliki hati nurani dan nalar. Ketika orang-orang ini mendengar tentang hal-hal negatif ini, di lubuk hatinya, mereka justru tidak merasa jijik; mereka merasa hal-hal ini dapat diterima, dan bahkan ada orang-orang yang menikmatinya. Mereka tidak merasa jijik akan hal-hal ini, dan bahkan berpikir, "Ini sangat normal. Semua orang tidak percaya melakukan hal ini; ini adalah tren, bukan kejahatan. Pertama, ini tidak ilegal. Kedua, ini tidak merusak moral publik. Ketiga, ini adalah kebutuhan fisiologis manusia. Melakukan hal ini adil, masuk akal, dan legal. Apa salahnya melakukan hal ini?" Mereka menganggap hal ini normal. Kita tidak perlu membahas orang tidak percaya. Jika orang yang percaya kepada Tuhan bisa melakukan hal-hal semacam itu, orang macam apa mereka? Bukankah ada yang salah dengan kemanusiaan mereka? (Ya, orang semacam ini tidak memiliki kemanusiaan.) Orang yang tidak memiliki kemanusiaan bisa melakukan hal-hal menjijikkan semacam itu. Sementara orang yang memiliki kemanusiaan, jangankan melakukan hal-hal semacam itu, mereka bahkan tidak bisa menerima pemikiran dan pandangan dari tren jahat ini, dan di lubuk hatinya, mereka merasa jijik dan membencinya. Entah tujuannya adalah agar kedua belah pihak dapat saling merawat atau untuk tujuan lain, dari perspektif hati nurani dan nalar kemanusiaan, membentuk "pasangan masa perang" bukanlah hal positif. Jika orang yang percaya kepada Tuhan bahkan tidak tahu apakah hal semacam ini adalah hal positif atau apakah itu masuk akal, lalu apakah mereka memiliki hati nurani dan kemanusiaan? Ada orang-orang yang berkata, "Meskipun aku tidak tahu apakah ini hal yang positif, aku percaya kepada Tuhan, jadi aku tidak bisa melakukannya. Orang-orang tidak percaya, mereka tidak percaya kepada Tuhan ataupun takut akan Tuhan, jadi mereka tidak menyadarinya saat melakukannya, tetapi aku percaya kepada Tuhan, jadi aku tidak bisa melakukannya." Jika mereka berpikir seperti ini, itu membuktikan bahwa mereka memiliki hati nurani dan nalar manusia. Meskipun mereka tidak tahu apakah hal ini benar atau tidak, juga tidak tahu apakah hal ini positif atau apa yang Tuhan katakan tentangnya, mereka mampu menggunakan hati nurani dan nalar dasar kemanusiaan untuk menilainya. Sekalipun mereka tidak dapat mengetahui dengan jelas apakah hal tersebut positif atau negatif, mereka dapat melihat bahwa hal ini bertentangan dengan moralitas dan kemanusiaan serta tidak seharusnya dilakukan. Mereka memiliki tingkat pembedaan tertentu mengenai hal-hal semacam itu, jadi ketika hal-hal tersebut terjadi pada mereka, mereka menolaknya. Dapat dikatakan bahwa mereka yang tidak menolak dan yang dapat menerima hal-hal semacam itu sepenuhnya bukanlah manusia; mereka tidak memiliki kemanusiaan yang normal, dan tidak memiliki hati nurani serta nalar. Fakta bahwa mereka dapat menerima hal-hal negatif ini menunjukkan bahwa hati nurani dan nalar mereka sama sekali tidak berfungsi, dan bahwa mereka tidak menggunakan standar minimum yaitu hati nurani dan nalar untuk membedakan, menentang, atau menolak hal-hal semacam itu; oleh karena itu, jelas bahwa ada masalah dengan kemanusiaan orang semacam ini. Ada orang-orang yang berkata, "Ada masalah dengan kemanusiaan orang semacam ini, jadi apakah mereka berasal dari binatang atau dari setan?" Entah mereka berasal dari binatang atau dari setan, secara kolektif mereka bukanlah manusia. Ketika mereka datang ke Barat dan melihat bahwa negara-negara Barat itu maju, makmur, dan bebas, dan bahwa sistem sosialnya lebih maju daripada negara-negara Timur, mereka menganggap segala sesuatu di Barat itu benar dan lebih baik daripada di Timur. Mereka menganggap orang Timur itu tertutup, konservatif, dan kurang pengalaman dalam hal duniawi, sementara orang Barat itu terbuka, bebas, dan berpengalaman dalam hal duniawi, serta sangat terbuka mengenai pernikahan atau hubungan antar lawan jenis. Mereka menganggap sangat normal bagi pria dan wanita untuk berpelukan dan berciuman ketika bertemu di jalan. Padahal sebenarnya, orang Barat memiliki prinsip dalam hal berpelukan saat bertemu; mereka tidak sembarangan memeluk siapa pun. Terutama, orang dewasa tidak banyak melakukan hal semacam ini; sebagian besar anak mudalah yang suka melakukan hal semacam ini. Sebaliknya, di tempat-tempat berkumpulnya orang Asia, sering terlihat pria dan wanita melakukan berbagai tindakan intim di depan umum, terutama di daerah yang ramai di jalan. Bahkan terkadang orang yang lebih tua terlihat melakukan hal ini, yang sangat menjijikkan untuk dilihat. Mungkin ada orang-orang Asia yang bepergian ke Barat dan melihat kehidupan budaya dan etiket orang Barat, kemudian mengeklaim bahwa orang Barat itu lepas, terbuka, dan bebas secara seksual. Berdasarkan klaim-klaim ini, banyak orang Asia dengan semaunya membayangkan segala macam hal jahat di benak mereka. Padahal, jika engkau benar-benar mendalami masyarakat Barat atau berhubungan dan berinteraksi yang mendalam dengan orang Barat, engkau akan menemukan bahwa ada banyak hal yang sama sekali berbeda dari apa yang dibayangkan dan dikatakan oleh orang Asia. Terutama di beberapa komunitas dengan latar belakang agama atau komunitas yang lebih terpencil, mereka sangat konservatif dan tradisional, sama sekali tidak seperti mitos yang disebarkan oleh orang Asia. Klaim bahwa orang Barat sangat terbuka tentang hubungan antar lawan jenis hanyalah imajinasi orang-orang, bukan fakta. Jika seseorang benar-benar berpikir seperti ini, dan menerapkan apa yang disebut keterbukaan yang ia anggap benar ini pada dirinya sendiri, menuruti nafsu daging mereka dengan semaunya, itu adalah masalah mereka sendiri; itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan tren, budaya, atau tradisi masyarakat mana pun. Bukan budaya atau tradisi Barat yang menyesatkan mereka, melainkan mereka sendirilah yang memiliki masalah. Bukankah benar demikian? (Ya.) Ketika orang Timur menyebut orang Barat, hal pertama yang mereka katakan adalah, "Orang Barat itu lepas, terbuka, dan bebas secara seksual," yang menyiratkan bahwa orang-orang di Barat dapat menuruti hawa nafsu atau bahkan melakukan inses. Dengan dikendalikan oleh pemikiran dan pandangan semacam itu, orang Timur mulai menuruti hawa nafsu mereka sendiri setelah tiba di Barat. Mereka menuruti hawa nafsu mereka sendiri bukan karena mereka benar-benar melihat fenomena ini dan menirunya, melainkan karena memang mencintai kejahatan adalah natur mereka; mereka hanya menggunakan apa yang disebut budaya Barat atau tradisi Barat sebagai alasan untuk memuaskan daging mereka. Sebenarnya, karena orang semacam ini bukanlah sosok yang positif dan tidak memiliki sifat kemanusiaan, dan karena sudah menjadi natur bawaan mereka untuk mencintai hal-hal negatif dan semua hal yang tidak benar, mereka mencari berbagai alasan dan dalih untuk melakukan hal-hal yang bertentangan atau bahkan yang bermusuhan dengan hal-hal positif. Terlebih lagi, mereka merasa sepenuhnya dapat dibenarkan, berpikir bahwa semua orang Barat sekarang ini seperti itu. Apakah ini sesuai fakta? Mereka hanya melontarkan omong kosong dan membuat tuduhan tak berdasar! Jelas, ketika orang semacam ini berkata, "Orang Barat itu lepas, terbuka, dan bebas secara seksual," mereka sebenarnya memiliki niat tersembunyi, yaitu untuk mencapai tujuan mereka menuruti hawa nafsu. Mengapa orang semacam ini bisa mengikuti hal-hal negatif ini dengan begitu percaya diri? Di satu sisi, mereka tidak memiliki pemahaman yang benar tentang hal positif dan hal negatif; ketika menemui hal-hal yang asing, mereka tidak mampu menggunakan standar minimum yaitu hati nurani dan nalar untuk menilai hal-hal tersebut. Jelas, orang semacam ini tidak memiliki sifat kemanusiaan. Jika mereka tidak mampu memahami hal yang jelas-jelas positif sebagai hal positif, dan tidak menerimanya sebagai hal positif, orang semacam ini pasti tidak memiliki hati nurani dan nalar orang normal. Di sisi lain, jika orang tidak tahu apa itu hal positif, tidak tahu apa itu hal negatif, mereka jelas tidak mampu membedakan yang benar dan yang salah serta yang benar dan yang tidak benar. Karena mereka memegang pemikiran dan pandangan yang keliru, sekalipun mereka melakukan beberapa hal yang tidak benar atau hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani dan nalar, mereka sama sekali tidak menyadarinya. Sangat jelas bahwa orang semacam ini tidak mampu membedakan yang benar dan yang salah serta yang benar dan yang tidak benar. Mereka tidak memiliki hati nurani dan nalar kemanusiaan yang normal, dan mereka tidak tahu apakah beberapa hal yang terjadi dalam hidup atau dalam proses bertahan hidup itu benar atau tidak benar, juga tidak mungkin bagi mereka untuk menggunakan hati nurani mereka untuk menilai dan mengevaluasi benar tidaknya hal-hal tersebut. Oleh karena itu, mereka sering melakukan beberapa hal tidak benar yang bertentangan dengan hati nurani dan nalar, dan setelah melakukannya, mereka sama sekali tidak menyadarinya, dan bahkan merasa sepenuhnya dapat dibenarkan, berpikir bahwa mereka telah bertindak dengan benar dan merupakan orang-orang yang berintegritas. Bukankah ini sepenuhnya memutarbalikkan fakta? (Ya.)
Ada orang yang melihat anak orang lain sangat nakal dan berkata, "Betapa nakalnya anak ini; sekilas saja sudah terlihat bahwa dia tidak baik. Dia pasti tidak akan melakukan pekerjaan dengan semestinya saat dia besar nanti. Bagaimana mungkin dia akan menjadi orang yang berhasil?" Namun, jika orang lain berkata kepada orang semacam itu bahwa anaknya nakal, dia menjawab, "Memangnya kenapa kalau dia nakal? Nakalnya anakku adalah perwujudan dari masa depannya yang cerah. Saat dia besar nanti, dia akan mampu menonjol di antara orang banyak; mungkin dia bahkan akan menjadi pejabat tinggi!" Ketika anak orang lain nakal, dia berkata anak itu tidak akan menjadi orang yang berhasil saat dia besar nanti, tetapi ketika anaknya sendiri nakal, dia berkata anaknya akan mampu menonjol di antara orang banyak saat dia besar nanti. Manakah dari pernyataannya yang benar? (Tidak ada yang benar.) Lalu mengapa dia berkata demikian? Apakah dia berbicara berdasarkan keadilan? (Tidak.) Bahwa dia bisa mengatakan hal-hal semacam itu menunjukkan bahwa dia tidak memiliki kesadaran hati nurani. Anak orang lain itu bahkan belum dewasa, jadi bagaimana dia bisa tahu bahwa anak itu tidak akan menjadi orang yang berhasil? Apakah orang akan berhasil atau tidak saat mereka dewasa, itu bergantung pada penetapan Tuhan dan jalan yang mereka tempuh; bagaimana mungkin itu bergantung pada satu kalimat darinya! Bahwa dia bisa mengatakan hal-hal semacam itu menunjukkan bahwa dia tidak memiliki kesadaran hati nurani. Masalahnya sama, yaitu nakal, tetapi ketika membicarakan anaknya sendiri, dia memelintirnya menjadi positif, sedangkan ketika membicarakan anak orang lain, dia memelintirnya menjadi negatif. Apakah perkataannya adil? (Tidak.) Lalu orang seperti apa yang adil? (Orang yang memiliki hati nurani.) Apa saja ciri-ciri dari orang yang memiliki hati nurani? Orang yang memiliki hati nurani memiliki dua ciri: integritas dan kebaikan. Berintegritas berarti hati orang setidaknya harus benar saat mereka berbicara dan bertindak. Perkataan yang diucapkannya harus adil, objektif, dan berdasarkan fakta; perkataan itu tidak boleh bias, berfungsi untuk menutupi kekurangan, atau didasarkan pada perasaan. Ketika anak orang lain nakal, dia berkata bahwa anak itu tidak akan berhasil saat dewasa nanti, tetapi ketika anaknya sendiri nakal, dia berkata bahwa anaknya akan memiliki masa depan yang cerah saat dewasa nanti. Perwujudan kenakalan yang sama mendapatkan dua gambaran yang berbeda darinya. Apakah menurutmu orang ini berintegritas? (Tidak.) Apakah orang yang berbicara semata-mata berdasarkan perasaan memiliki hati nurani? (Tidak.) Poin ini saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa dia tidak memiliki hati nurani. Dia hanya mengatakan hal-hal yang baik tentang anaknya sendiri, disertai berkat dan harapan yang baik, tetapi mengutuk anak orang lain saat berbicara tentangnya. Ini adalah sikap yang tidak baik dan tidak berintegritas. Karena dia tidak memiliki hati nurani, dia mampu mengucapkan kata-kata yang berniat jahat semacam itu. Orang semacam itu tidak berbicara dengan adil dan hanya mengungkapkan penalaran yang menyimpang. Di satu sisi, ini menunjukkan bahwa dia tidak berintegritas; di sisi lain, ini menunjukkan bahwa dia tidak baik hati. Orang yang tidak baik hati akan menggambarkan situasi orang lain sebagai hal yang buruk, siapa pun orang itu. Mereka berbicara dengan niat tersembunyi, sangat berharap hal-hal buruk terjadi pada orang lain. Perkataan mereka penuh niat jahat dan terkesan mengutuk orang lain. Mereka selalu berbicara seperti ini dan tidak pernah merasa gelisah tentang hal itu dalam hati nurani mereka. Mereka berbicara seperti ini tentang urusan orang lain, dan mereka juga memperlakukan orang lain dengan cara seperti ini. Sebagai contoh, ada seorang wanita yang suaminya berselingkuh. Karena takut dengan apa yang akan dikatakan orang lain tentang hal ini, dia memberi tahu orang-orang, "Suamiku berselingkuh karena dia terlalu luar biasa. Dia tampan dan cakap. Di tengah masyarakat yang jahat saat ini, wanita-wanita itu sangat lancang; merekalah yang mengejar-ngejar dia. Itu hanya karena dia terlalu luar biasa. Ini juga membuktikan bahwa aku tidak salah menilainya; seleraku sangat bagus!" Namun, jika suami orang lain berselingkuh, dia berkata, "Dia jelas bukan orang yang baik. Dia tidak punya uang ataupun ketampanan, tetapi di luar sana dia mengejar wanita simpanan. Wanita mana pun yang tetap bersamanya pasti buta!" Dia bahkan menasihati orang itu untuk bergegas meninggalkan suaminya dan pergi mencari suami baru. Orang itu bertanya, "Suamimu juga berselingkuh, jadi mengapa kau tidak mencari suami baru?" Dia berkata, "Suamiku berbeda dengan suamimu. Suamimu adalah bajingan. Suamiku hanya terlalu luar biasa, dan orang lainlah yang merayu dan mendekatinya. Suamiku tidak bisa menahan diri, sedangkan suamimu aktif mencari wanita simpanan." Engkau lihat, apa yang dia katakan tentang segala sesuatu berubah ketika hal tersebut berkaitan dengan dirinya. Apa pun yang berkaitan dengan dirinya dapat dimaafkan dan merupakan kasus khusus; dia menggambarkan semuanya dari sudut pandang yang positif. Namun, berbeda halnya ketika itu berkaitan dengan orang lain; dia menggambarkan semuanya sebagai hal yang buruk. Lalu, jika orang tua dari orang semacam itu tidak percaya kepada Tuhan, apa yang akan mereka katakan? "Meskipun orang tuaku tidak percaya kepada Tuhan, mereka adalah orang baik di dunia. Mereka tidak terlibat perkelahian atau tidak mengumpat orang lain, dan mereka membantu siapa pun yang mengalami kesulitan. Mereka dikenal luas sebagai orang yang sangat baik dan murah hati. Jika mereka percaya kepada Tuhan, mereka pasti akan lebih baik daripada kita!" Namun, ketika orang tua dari saudara-saudari tidak percaya kepada Tuhan, mereka berkata, "Orang tuamu semuanya adalah setan." Ketika orang tua dari saudara-saudari percaya kepada Tuhan, mereka berkata, "Sekalipun mereka percaya kepada Tuhan, mereka hanya percaya sebatas nama, dan mereka bukan orang baik. Karena mereka percaya kepada Tuhan, mengapa mereka tidak mendukungmu untuk melaksanakan tugas?" Setiap kali itu berkaitan dengan diri mereka, apa yang mereka katakan berubah. Mereka tidak pernah berbicara berdasarkan fakta objektif, dan perkataan mereka tidak pernah adil. Mereka memiliki satu standar untuk urusan mereka sendiri dan standar lain untuk urusan orang lain. Di lubuk hati mereka, tidak ada standar yang adil untuk menilai semua jenis orang, peristiwa, dan hal-hal. Apa pun yang berkaitan dengan diri mereka, itu baik dan positif, dan memiliki berbagai alasan yang dapat dibenarkan; apa pun yang berkaitan dengan orang lain, itu harus dikutuk, disumpahi, dan ditolak, serta berasal dari para setan dan Iblis. Adapun keluarga, kerabat, dan teman-teman mereka, semuanya adalah orang baik, orang percaya sejati, dan saudara-saudari. Namun, terhadap saudara-saudari di gereja, mereka menghakimi dengan sewenang-wenang, mengatakan bahwa yang ini adalah pengikut yang bukan orang percaya, yang itu tidak sepenuh hati dalam melaksanakan tugasnya, dan bahwa mereka semua harus dikeluarkan. Jika seorang saudara atau saudari melakukan kesalahan kecil atau memiliki masalah kecil, mereka segera mempermasalahkannya, memublikasikannya, lalu menceramahi dan meremehkan saudara atau saudari tersebut dengan tatapan mata tajam. Namun, ketika kerabat mereka sendiri melakukan kesalahan, mereka hanya berusaha meredakan situasi dan melakukan semua yang mereka bisa untuk membela orang-orang itu dengan perkataan yang menyesatkan. Apakah orang semacam itu memiliki keadilan? (Tidak.) Mereka sama sekali tidak memiliki keadilan. Ketika berurusan dengan saudara-saudari dan orang lain, mereka "menaati prinsip" dengan tatapan mata tajam, merasa bahwa mereka memiliki kenyataan kebenaran. Mereka sering menyombongkan diri di depan orang lain, dengan berkata, "Lihatlah betapa aku menaati prinsip. Betapa teguhnya pendirianku. Aku mampu menerapkan kebenaran dengan sangat baik." Namun, dalam hal urusan keluarga mereka sendiri—suami atau istri, anak-anak, kerabat, dan bahkan anjing mereka—sikap mereka berubah. Sebagai contoh, jika anjing mereka menggonggong setiap kali melihat orang asing dan menggigit sembarangan saat kenalan berkunjung, mereka berkata, "Lihat, anjing ini benar-benar penjaga yang baik dan setia. Dia sangat setia kepadaku, majikannya; dia tidak pernah berubah!" Namun, jika anjing orang lain menggigit sembarangan saat melihat kenalan, mereka berkata, "Anjing ini buta. Dia bahkan tidak melihat siapa yang datang. Dia tidak punya prinsip dalam menjaga rumah. Untuk apa dia menggigit sembarangan?" Mereka bahkan tidak adil terhadap anjing. Orang macam apa ini? (Ini bukan manusia.) Mereka menganggap semua yang mereka lakukan adalah benar dan masuk akal, dan bahwa itu selaras dengan hal-hal positif; mereka bahkan berpikir bahwa mereka sedang menaati prinsip-prinsip kebenaran. Namun, dalam setiap ketidakadilan yang mereka lakukan atau alasan menyimpang yang mereka ungkapkan, mereka tidak pernah menganggap itu salah, mereka juga tidak pernah memperbaikinya. Jika engkau menegur atau menyingkapkan mereka, mereka tidak menerimanya. Apa hasil akhirnya? Hasilnya, mereka dengan keras kepala berpegang pada klaim mereka sendiri dan apa yang mereka sebut prinsip, bahkan bertindak seolah-olah mereka adalah perwujudan keadilan dan menilai segala hal. Sebenarnya, perspektif dan pendirian yang mereka gunakan untuk menilai benar tidaknya berbagai hal sepenuhnya bertentangan dan berlawanan dengan prinsip-prinsip kebenaran, tetapi mereka sendiri tidak pernah menyadarinya. Mereka melontarkan banyak ajaran sesat dan argumen yang keliru, dengan keras kepala berpaut pada perkataan ini, dan bahkan menentang kebenaran serta mencoba berdebat dengan orang yang mampu membedakan yang benar dan yang salah serta memahami kebenaran. Orang macam apa mereka? Mereka adalah orang-orang yang tidak masuk akal. Sekalipun apa yang mereka lakukan dan pertahankan tidak dianggap salah di mata orang-orang, dilihat dari banyak perwujudan dan perilaku mereka, mereka sama sekali tidak memiliki integritas, kebaikan, dan nalar, ciri-ciri kemanusiaan ini. Hanya dengan melihat cara mereka memperlakukan berbagai orang, peristiwa, dan hal-hal dalam kehidupan sehari-hari, penilaian mereka bahkan terhadap seorang anak atau seekor anjing pun menyimpang—seburuk apa pun anjing mereka sendiri, itu tetap yang terbaik di dunia; dan sebaik apa pun anjing orang lain, mereka enggan mengatakan satu hal baik apa pun tentangnya. Mereka sama sekali tidak akan menilai seseorang atau suatu masalah secara adil, apalagi memperlakukan seseorang atau suatu hal secara adil. Dalam kemanusiaan mereka, hanya ada perasaan dan bias. Mereka hanya melindungi kepentingan mereka sendiri dan setiap orang, peristiwa, dan hal yang ada kaitannya dengan mereka. Selain dari ini, mereka merasa bahwa tidak ada hal dalam hidup yang berharga untuk dilakukan. Di antara kelompok orang mana pun dan dalam hal apa pun, sifat natur yang mereka perlihatkan adalah memutarbalikkan semua orang, peristiwa, dan hal-hal objektif, serta menggambarkannya secara keliru. Mereka menilai dan memperlakukan hal-hal itu sepenuhnya berdasarkan pemikiran dan pandangan mereka sendiri atau berdasarkan apakah hal-hal itu menguntungkan bagi mereka.
Orang-orang semacam ini, yang tidak memiliki sifat kemanusiaan, tidak memiliki integritas, kebaikan, dan nalar kemanusiaan. Dilihat dari perwujudan-perwujudan ini, bukankah orang-orang semacam itu sulit untuk dihadapi? (Ya.) Mereka sulit untuk dihadapi dan sulit untuk diajak bergaul. Engkau tidak akan pernah bisa membuat mereka menerima pemikiran dan pandangan yang benar, karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk menerima hal-hal positif. Ini berarti mereka tidak memiliki kondisi untuk menerima pemikiran dan pandangan benar apa pun. Oleh karena itu, banyak pandangan yang benar dan hal-hal positif disalahartikan dan diputarbalikkan oleh mereka, dan setelah diputarbalikkan, hal-hal itu menjadi berbagai pemikiran, pandangan, dan klaim khas dari orang semacam ini. Sekalipun mereka percaya kepada Tuhan, sebanyak apa pun firman Tuhan yang telah mereka baca atau sebanyak apa pun khotbah dan persekutuan yang telah mereka dengarkan, di dalam hatinya, mereka selalu berpegang pada pemikiran dan pandangan keliru mereka sendiri, tidak pernah melepaskannya. Sekalipun Tuhan memberi mereka kebenaran, mereka tidak mungkin dapat menerima pemikiran dan pandangan yang benar dari Tuhan, mereka juga tidak mungkin dapat memperlakukan atau menilai seseorang atau suatu hal dengan gambaran yang benar dan dengan cara yang benar. Berdasarkan sifat kemanusiaan mereka, mereka hanya akan memperlakukan semua jenis orang, peristiwa, dan hal-hal dengan menggunakan pemikiran serta pandangan khas mereka yang keliru, dan mereka akan bersikeras melakukannya. Jadi, engkau dapat melihat dari orang-orang semacam itu bahwa, selain memiliki watak yang congkak dan licik, mereka memiliki watak lain yang sangat menonjol, yaitu sangat keras kepala. Perwujudan spesifik dari hal ini adalah bahwa mereka sangat tegar tengkuk, bodoh, keras hati, dan bahkan picik. Ketika engkau berinteraksi dengan orang semacam itu dan mendiskusikan beberapa topik, atau engkau menghadapi beberapa hal bersama-sama saat bergaul dengan mereka, engkau melihat bahwa sikap dan watak mereka dalam menghadapi berbagai hal sangatlah keras kepala, tegar tengkuk, bodoh, dan keras hati. Suatu hal yang benar atau pemikiran dan pandangan benar yang jelas-jelas sangat mudah diterima oleh orang normal menjadi sangat sulit untuk mereka terima, dengan banyak hambatan yang menyertainya. Itu membuatmu tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis, dan engkau merasa bahwa orang ini sangat merepotkan: "Mengapa hal yang begitu sederhana menjadi masalah yang sulit bagi mereka? Apakah mereka bahkan manusia?" Membuat mereka menerima hal yang benar atau pandangan yang benar sama sulitnya dengan membuat serigala berhenti makan daging dan beralih makan berbagai sayuran. Itu sama seperti meminta mereka untuk mengubah golongan mereka—sesulit itulah hal tersebut. Mungkin saja, untuk suatu hal kecil, engkau menghabiskan banyak waktu untuk menjelaskan dan bersusah payah hingga akhirnya engkau bisa membujuk mereka untuk menerimanya, tetapi ketika hal lain muncul, watak keras kepala mereka kembali terlihat, bahkan dengan cara yang sangat jelas—mereka memperlihatkan pemahaman mereka yang menyimpang dan dengan bersikap tegar tengkuk, serta bersikap bodoh, keras hati, dan picik. Saat engkau makin sering berinteraksi dan mendapatkan lebih banyak wawasan tentang orang-orang semacam itu, engkau akan mendapati bahwa esensi orang berbeda-beda. Mengenai esensi orang-orang semacam itu, engkau mungkin harus mengerahkan upaya yang sangat besar untuk membuat mereka mengerti, dan menerangkan dengan jelas tentang beberapa hal yang tidak penting, dan akhirnya mencapai beberapa hasil dengan sangat susah payah. Namun, mengenai masalah sudut pandang dan pendirian, atau hal-hal besar, engkau tidak akan pernah bisa berkomunikasi dengan mereka. Pada saat itu, engkau akan tahu bahwa ada orang terbagi dalam berbagai golongan, dan golongan setiap orang berbeda-beda. Jika dua orang tidak dapat berkomunikasi dengan lancar atau tidak bekerja sama dengan harmonis, dan tidak dapat dengan cepat mencapai keharmonisan dan kesepakatan tentang sudut pandang mereka saat mendiskusikan hal apa pun, berarti mereka berasal dari golongan yang berbeda. Karena orang dari golongan yang tidak tahu apa yang benar dan apa yang tidak benar tidaklah memiliki kemampuan dalam kemanusiaan mereka untuk membedakan apa yang benar dan apa yang tidak benar, mereka tidak akan pernah menyadari mengapa pemikiran dan pandangan, perkataan serta hal yang sudah jelas-jelas benar, adalah benar, atau di mana letak benarnya hal-hal tersebut. Mereka akan berkata, "Mengapa hal yang kaukatakan benar? Mengapa hal yang kukatakan tidak benar? Memangnya mengapa hal yang kaukatakan itu benar?" Terkadang, untuk membuktikan bahwa hal yang kaukatakan itu benar, engkau harus menyajikan fakta dan memberikan alasan, memberikan banyak contoh dan membuat banyak analogi, melalui begitu banyak kesulitan dan mencurahkan banyak pemikiran sebelum engkau dapat menerangkan satu hal dengan jelas kepada mereka. Setelah akhirnya melakukannya, engkau masih harus mencurahkan banyak pemikiran dan melalui banyak kesulitan untuk menjelaskan hal berikutnya yang muncul dengan jelas kepada mereka. Jika engkau selalu melakukan hal ini, seiring berjalannya waktu, engkau akan mendapati bahwa melakukan hal ini pada akhirnya tidak dapat mengubah golongan seseorang, dan bahwa engkau telah melakukan pekerjaan yang sia-sia. Sekalipun engkau mengerahkan banyak upaya dan menaruh harapan besar pada mereka, hasil yang akan kauterima sangatlah kecil, karena tidak ada seorang pun yang dapat mengubah golongan seseorang. Jika orang bahkan tidak tahu apa yang benar dan apa yang tidak benar, hanya ada satu cara yang dapat mengubah golongan mereka, yaitu mereka kembali ke bentuk asal mereka untuk bereinkarnasi lagi. Jika mereka beruntung, mereka akan bereinkarnasi sebagai manusia; jika mereka tidak beruntung dan sekali lagi bereinkarnasi menjadi sesuatu selain manusia, tetap tidak ada harapan untuk membuat orang-orang semacam itu mengetahui apa yang benar dan apa yang tidak benar. Memang begitulah kenyataannya.
Orang-orang semacam ini, yang tidak memiliki sifat kemanusiaan, memiliki karakteristik lain dalam interaksi mereka dengan orang lain: Mereka dapat mencari-cari berbagai macam kesalahan pada orang lain, tetapi ketika mereka memiliki kesalahan yang sama, mereka tidak pernah mengakui bahwa itu adalah kesalahan. Mereka sama sekali tidak dapat melihat kelebihan atau keunggulan apa pun dalam diri orang lain; mereka hanya mencari-cari kesalahan orang lain dan menyingkapkan kekurangannya, menggunakan ini sebagai alasan untuk mengatakan bahwa orang-orang itu tidak dapat bekerja sama secara harmonis dengan mereka, dan bahwa ketidakmampuan untuk bekerja sama secara harmonis sepenuhnya adalah kesalahan orang lain, sementara mereka sendiri sama sekali tidak bersalah, dan orang lainlah yang perlu mengenal diri sendiri. Apa masalahnya di sini? Dalam cara mereka berperilaku dan menangani berbagai hal, orang-orang semacam itu tidak pernah dapat memperlakukan orang lain secara rasional, juga tidak dapat menyikapi masalah mereka sendiri dengan cara yang rasional, benar, dan adil. Menurut kalian, apakah sikap mereka dalam menangani berbagai hal dan memperlakukan orang lain itu benar atau tidak benar? (Tidak benar.) Namun, apakah mereka mengetahui hal ini? (Tidak.) Mereka selalu menilai dan memandang orang lain dari posisi moral yang tinggi. Cara mereka memandang orang lain, dan perspektif mereka dalam melakukannya, menggunakan apa yang mereka anggap "benar dan tidak benar" untuk menilai orang lain. Mereka menganggap semua yang orang lain lakukan salah dan lebih rendah dari apa yang mereka lakukan. Jika muncul perselisihan dan mereka tidak dapat bekerja sama secara harmonis, mereka percaya bahwa itu sepenuhnya adalah masalah orang lain dan bahwa itu disebabkan oleh orang lain, bahwa orang lain memiliki watak yang rusak, dan bahwa orang lainlah yang harus melakukan perubahan dan memperbaiki diri. Di mata mereka, orang lain penuh dengan kesalahan dan masalah, tanpa satu pun keunggulan, sementara diri mereka sendiri penuh dengan keunggulan, tanpa kesalahan apa pun. Apakah menurutmu orang-orang semacam itu memiliki nalar? (Tidak.) Apakah mata orang-orang yang tidak memiliki nalar ada gunanya? (Tidak.) Mereka benar-benar tidak dapat melihat kelebihan dan keunggulan dalam diri segala macam orang. Sebaliknya, mereka langsung mempermasalahkan kekurangan orang lain—yang sebenarnya, belum tentu merupakan kekurangan—dan membesar-besarkannya. Segala sesuatunya baik-baik saja jika tidak ada masalah yang muncul, tetapi begitu suatu masalah muncul, mereka mempermasalahkan kekurangan pihak lain dan tidak mau melepaskannya, dengan berkata, "Dalam hal apa engkau lebih baik daripada aku? Jika engkau lebih baik daripada aku, mengapa masalah ini tetap terjadi?" Penentangan mereka yang selama ini terpendam itu pun meledak, dan sudut pandang batin mereka yang sebenarnya semuanya tersingkap. Mereka tidak pernah memandang orang, peristiwa, dan hal-hal dengan cara yang rasional. Di mata mereka, perwujudan apa pun dari orang lain adalah masalah, kesalahan. Berdasarkan pemikiran dan pandangan mereka, tak satu pun dari semua itu memenuhi standar; semuanya salah, semuanya adalah hal-hal negatif, dan semuanya adalah bahan bagi mereka untuk menghakimi. Orang-orang semacam itu sulit untuk dihadapi. Mereka tidak memiliki hati nurani dan nalar kemanusiaan yang normal, jadi di lubuk hatinya, yang mereka sebut "benar dan tidak benar" itu hanya berarti bahwa apa pun yang mereka anggap benar adalah benar, dan apa pun yang mereka anggap tidak benar adalah tidak benar. Mereka menilai benar tidaknya orang, peristiwa, dan hal-hal berdasarkan penilaian dan preferensi mereka sendiri, dan juga berdasarkan kepentingan mereka sendiri. Mereka tidak akan memandang orang dan hal-hal secara adil. Siapa pun dan hal apa pun yang tidak mereka sukai, yang tidak sesuai dengan mereka, yang tidak menguntungkan mereka, atau yang mereka pandang rendah, semuanya dianggap salah dan buruk, tanpa bisa didiskusikan lagi. Orang-orang semacam itu tidak hanya sulit untuk dihadapi, tetapi juga menakutkan. Jika ada orang semacam itu di sekitarmu, begitu pemikiran dan pandangan mereka semuanya terungkap, karakter mereka pun sepenuhnya tersingkap. Engkau dapat melihat apa sebenarnya yang ada di kedalaman jiwa mereka, apa sebenarnya yang mereka cintai, apa sebenarnya kebutuhan mereka, dan apa sebenarnya yang mereka kejar. Melihat hal-hal ini dalam diri mereka dapat membuatmu merasa jijik pada mereka seumur hidup. Tentu saja, ketika semua masalah mereka ini tersingkap, engkau akan mendapatkan jawaban tentang perwujudan mereka seperti pemahaman mereka yang menyimpang, dan sikap mereka yang tegar tengkuk, bodoh, keras hati, serta kecenderungan untuk menyimpang yang mereka perlihatkan karena watak mereka yang keras kepala. Apa jawabannya? Jawabannya adalah bahwa orang-orang semacam itu tidak memiliki kemanusiaan yang normal—artinya, mereka tidak memiliki hati nurani dan nalar seorang manusia; mereka bukan manusia. Jika mereka memiliki sedikit hati nurani dan nalar, mereka tidak akan berpegang teguh pada penalaran yang menyimpang dan membicarakannya seolah-olah itu benar. Setelah mendengarkan begitu banyak khotbah dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan, mereka seharusnya telah memahami setidaknya sedikit kebenaran, dan sudut pandang mereka tentang berbagai hal seharusnya telah sedikit berubah. Lalu mengapa mereka masih memandang berbagai hal dengan menggunakan sudut pandang orang tidak percaya, dan menganggap sudut pandang yang keliru serta penalaran yang menyimpang sebagai hal yang benar dan sebagai kebenaran, dan bahkan mengutuk kebenaran, hal-hal positif, dan hal-hal yang benar sebagai hal-hal negatif? Ketika pemikiran dan pandangan mereka yang keliru tersingkap, engkau mendapatkan jawabannya. Pantas saja mereka dapat mengatakan begitu banyak hal dalam hidup yang memutarbalikkan yang benar dan yang salah serta memutarbalikkan fakta—itu karena mereka sama sekali tidak mau menerima kebenaran. Karena mereka memiliki sifat yang muak akan kebenaran, sangat masuk akal bahwa mereka memperlihatkan hal-hal tersebut. Ini bukan karena cara orang tua mereka mengajari mereka, juga bukan karena pengaruh lingkungan, apalagi apa yang diajarkan masyarakat kepada mereka; ini adalah sifat kemanusiaan mereka. Mereka muak akan kebenaran; mereka memiliki sifat ini. Apa yang dicintai seseorang, kemanusiaan seperti apa yang dia perlihatkan, apa yang secara alami dia perlihatkan dalam kehidupan sehari-hari, dan seperti apa keadaan normalnya dalam hidup—semua ini bergantung pada sifat yang orang miliki. Tak seorang pun dapat mengubah sifat seseorang. Sama seperti ular: Karena sifat ular itu bengkok, ia tidak akan pernah melata dengan lurus. Sama seperti kepiting: Ia berjalan menyamping, dan sekalipun engkau menaruhnya di ruang yang sempit, ia akan tetap berjalan menyamping. Ini adalah sifat mereka, dan sifat ini tidak dapat diubah. Jika seseorang tidak dapat membedakan apa yang benar dan apa yang salah atau tidak mengetahui apa yang benar dan apa yang tidak benar, dapat dikatakan bahwa karakteristik ini adalah sifat yang mereka miliki. Karena memiliki sifat ini, mereka secara alami memperlihatkan banyak hal yang berkaitan dengannya dalam kehidupan mereka sehari-hari—ini sangat normal.
Dalam hal perasaan atau menangani berbagai hal, ada orang-orang yang tidak tahu apa yang benar dan apa yang tidak benar. Demikian pula, mereka tidak tahu apa yang benar dan apa yang tidak benar dalam hal cara berperilaku di antara pria dan wanita. Sebagai contoh, mereka tidak tahu harus menjaga jarak seperti apa saat berinteraksi dan bergaul dengan lawan jenis, topik, perkataan, dan perilaku seperti apa yang harus dihindari, atau detail apa yang harus diperhatikan dalam bertutur kata dan berperilaku sehari-hari. Ini sulit dipahami—bukankah semua orang normal tahu bahwa harus ada batas dalam bergaul dengan lawan jenis? (Ya.) Apakah ini sesuatu yang perlu diajarkan? Orang tua mungkin perlu mengajarkan hal ini kepada anak-anaknya saat masih kecil, tetapi setelah orang beranjak dewasa dan menjadi berakal sehat, mereka secara alami mengetahui hal-hal ini tanpa perlu diajari oleh keluarga mereka atau oleh masyarakat. Itu adalah sesuatu yang bersifat bawaan, bukan? Mengetahui bahwa ada batas antara pria dan wanita adalah sifat kemanusiaan. Sifat kemanusiaan mencakup hati nurani dan nalar, jadi orang pasti tahu apa artinya memiliki rasa malu. Jika engkau memiliki rasa malu, engkau tahu bagaimana memperlakukan lawan jenis. Jika engkau tidak tahu, dan bertindak tanpa rasa malu—tidak tahu cara bertindak yang benar dan yang salah, mana yang pantas dan rasional, dan mana yang berlebihan dan melewati batas—berarti ada masalah pada kemanusiaanmu, karena ini adalah hal paling dasar yang seharusnya diketahui oleh orang normal. Jika orang mengetahui hal-hal ini dan mampu mematuhinya, orang tersebut memiliki hati nurani dan nalar kemanusiaan; jika orang tidak mengetahui satu pun dari hal-hal ini, bahkan perlu diingatkan dan dikendalikan oleh orang lain, berarti ada masalah besar pada orang semacam ini. Ada jenis orang yang secara khusus tidak mau duduk dengan orang-orang berjenis kelamin sama saat berada di antara banyak orang, tetapi justru sengaja duduk di sebelah lawan jenis, dan bahkan sangat berdekatan, tanpa berusaha menghindari hal ini. Ketika orang lain mengingatkan orang semacam itu, mereka bahkan menganggapnya aneh, dan berkata, "Apa salahnya duduk berdekatan? Memangnya apa yang bisa kami lakukan di depan umum? Aku sudah dewasa—apakah aku perlu kau awasi? Mengapa kau selalu mengincarku?" Mereka bahkan berani berkata, "Memangnya apa yang bisa kami lakukan di depan umum?"—apakah mereka punya rasa malu? (Tidak.) Apakah mereka benar-benar harus melakukan sesuatu dulu baru dianggap masalah? Ataukah, selama mereka tidak melakukan apa pun, mereka tidak perlu mematuhi batas antara pria dan wanita? Bukankah ada perbedaan antara pria dan wanita? (Ya.) Karena itu, harus ada batas di antara mereka, dan menjaga batas ini didorong oleh rasa malu dalam kemanusiaan. Jika engkau memiliki rasa malu, engkau akan secara alami menjaga batas saat berinteraksi dengan lawan jenis; engkau tidak akan perlu diawasi orang lain, engkau juga tidak perlu dikendalikan oleh lingkungan—engkau mampu melakukannya sendiri. Jika engkau bahkan tidak memiliki rasa malu sesedikit ini dan perlu diawasi serta diingatkan orang lain, maka orang sepertimu berada dalam bahaya besar. Ada orang-orang yang sangat sembarangan tentang hal-hal di antara pria dan wanita, dan akan sering mengedipkan mata dan main mata dengan lawan jenis, serta menyentuh mereka dengan lancang. Secara khusus, ada orang-orang yang sangat suka menyombongkan diri di depan lawan jenis. Makin banyak lawan jenis yang hadir, makin liar dan bersemangat mereka, dan makin gencar mereka menyombongkan diri. Orang lain menganggap ini tidak pantas dan tidak bermartabat, tetapi mereka tidak merasa itu adalah masalah, juga tidak merasa ditegur oleh hati nurani mereka. Sebaliknya, mereka berpikir, "Ini sangat normal. Bukankah beginilah seharusnya di antara pria dan wanita? Bukankah wanita dilahirkan ke dunia ini untuk pria? Dan pria untuk wanita? Apa salahnya sedikit bersenang-senang bersama? Bukankah ini hal yang membahagiakan? Hidup seserius kalian sangatlah melelahkan! Belum pernahkah kalian mendengar orang berkata, 'Jika pria dan wanita bekerja bersama, beban terasa lebih ringan'?" Lihatlah, mereka merasa bahwa pemikiran atau pandangan apa pun dapat diterima. Terutama, mereka sepenuhnya menerima pemikiran dan pandangan yang keliru ini, tetapi sama sekali tidak menerima pernyataan positif sedikit pun, justru menentang, membantah, dan menolaknya. Jika engkau mencoba mengingatkan, mereka merasa muak mendengarnya, dan di dalam hatinya, mereka membencimu dan memusuhimu. Mereka tidak menerima nasihat siapa pun, dan bersikeras untuk bertindak seperti ini. Ada orang-orang yang mungkin kehilangan kendali atau lengah sesaat, sesekali bertindak sedikit tidak bermoral. Tanpa perlu diingatkan oleh orang lain, mereka merasa gelisah di dalam hatinya dan merasa bahwa mereka harus berhati-hati di masa mendatang. Ini adalah perwujudan yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang yang berhati nurani dan bernalar. Namun, jenis orang yang satu ini sudah bertindak terlalu jauh dan melewati batas dengan cara yang parah; mereka telah menuruti hawa nafsu daging. Banyak orang tidak tahan melihatnya. Jika mereka terus seperti ini, mereka akan mendatangkan bahaya bagi diri mereka sendiri, dan mereka akan dibenci dan ditolak serta disingkirkan oleh Tuhan. Namun, mereka tidak peduli, dan berkata, "Bahaya apa yang bisa terjadi dalam menuruti hawa nafsu?" Mereka benar-benar tidak memiliki kesadaran sama sekali. Ada para wanita berusia dua puluhan yang bergaul sembarangan dengan lawan jenis, menginap di rumah para pria. Jika hal ini tersebar, itu akan menghancurkan reputasi mereka, tetapi bagaimanapun juga, mereka tidak peduli. Apakah orang semacam itu memiliki rasa malu? (Tidak.) Mereka sama sekali tidak memiliki rasa malu. Baik pria maupun wanita, jika orang tidak memiliki batas minimal dalam hati mereka mengenai hal-hal di antara pria dan wanita, dan tidak tahu arti kata "malu", ini sepenuhnya menegaskan bahwa mereka tidak memiliki sifat kemanusiaan. Jika orang benar-benar memiliki sifat kemanusiaan, dan mereka sesekali melakukan kesalahan yang melibatkan lawan jenis atau melakukan sesuatu yang terlalu jauh, mereka akan menyesalinya seumur hidup. Setiap kali memikirkannya, wajah mereka akan memanas, dan samar-samar hati mereka terasa seperti ditusuk-tusuk; mereka akan merasa tidak nyaman dan gelisah, tidak ingin mengungkit masalah itu lagi, dan berharap hal semacam itu tidak akan pernah terjadi lagi di masa depan. Apa yang mereka lakukan adalah noda permanen bagi mereka. Orang normal memiliki rasa malu dan batas minimal mengenai hal-hal di antara pria dan wanita; mereka akan mengendalikan dan menahan diri, dan tidak melakukan hal-hal semacam itu. Sekalipun mereka kehilangan kendali untuk sesaat dan melakukan kesalahan dengan lawan jenis, mereka akan merasa menyesal. Mereka tidak akan memperparah kesalahan mereka, juga tidak akan memanjakan diri mereka sendiri dan membiarkan diri mereka terjerumus ketika lingkungan memungkinkan; sebaliknya, mereka akan menahan diri. Bagaimana hal ini tercapai? Ini adalah hasil baik yang kaudapatkan karena dikendalikan oleh hati nurani dan nalarmu. Hati nurani dan nalarmu akan mengendalikan dan mengaturmu, serta memberimu batas minimal, yang juga merupakan standar minimalmu untuk menangani hal-hal semacam itu; artinya, hati nurani dan nalarmu akan membantumu agar tidak melewati batas minimal ini dan menahan diri dari melakukan hal-hal semacam itu. Begitu ada kelemahan atau alasan khusus tertentu yang menyebabkanmu untuk sementara waktu tidak mampu mengatasi dorongan dalam dirimu dan dengan demikian melakukan kesalahan dengan lawan jenis, di lubuk hatimu engkau akan merasa jijik dan muak, dan bahkan merasa menyesal seumur hidup—itu tidak akan terjadi untuk kedua kalinya dalam hidup ini. Namun, orang yang tidak memiliki kemanusiaan tidak peduli ketika mereka melakukan hal-hal semacam itu. Mereka bahkan menyebarkannya ke mana-mana dan membandingkan diri dengan orang lain, berpikir bahwa ini adalah keterampilan dan kemampuan, bahwa ini disebut memiliki pesona, dan bahwa ini disebut mendapatkan keuntungan—dan akan sia-sia jika tidak melakukannya. Jika orang-orang semacam itu memiliki kesempatan, akankah mereka melakukan hal-hal semacam itu lagi? Jawabannya pasti ya—mereka pasti akan melakukannya. Mereka tidak pernah merasa gelisah telah melakukan hal-hal semacam itu, tetapi malah memamerkannya. Bukankah ini menjijikkan? (Itu menjijikkan.) Sudah cukup mengecewakan bahwa mereka tidak merasa gelisah, tetapi mereka bahkan memamerkannya, dan ini jauh lebih menjijikkan. Apa yang mereka lakukan membuat orang lain memandang rendah, tetapi mereka sendiri tidak merasa malu sama sekali; orang-orang semacam itu tidak pantas disebut manusia. Mereka sering melakukan hal-hal memalukan semacam itu, tetapi tidak merasa malu, menyesal, ataupun gelisah, dan jika ada kesempatan atau jika nanti kondisinya tepat, mereka akan melakukannya lagi—ini adalah perwujudan dari tidak adanya rasa malu. Kalau begitu, katakan kepada-Ku, jika orang semacam itu tidak menerapkan kebenaran, apakah mereka akan merasa gelisah atau tertegur? (Tidak.) Benar, mereka juga tidak akan merasa gelisah atau tertegur. Mengapa demikian? (Karena mereka tidak memiliki hati nurani atau nalar.) Mengenai berbuat hal-hal memalukan, orang yang tidak berhati nurani atau tidak bernalar tidak merasa malu melakukan sesuatu yang bahkan dianggap memalukan oleh orang tidak percaya, mereka juga tidak merasa gelisah ketika melakukannya. Dengan demikian, lebih kecil kemungkinannya mereka akan merasa gelisah ketika melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kebenaran, bukan? (Ya.) Di mata orang tidak percaya, tidak menerapkan kebenaran dan tidak mengejar kebenaran adalah hal yang sangat normal; itu tidak dianggap memalukan, juga tidak dianggap bertentangan dengan moralitas manusia, karena memang seperti itulah mayoritas orang. Jadi, hal tersebut tidak membuat orang semacam itu merasakan apa pun. Jika orang normal dipangkas karena mereka gagal menerapkan kebenaran dan melanggar prinsip, karena mereka memiliki hati nurani dan nalar, di dalam hatinya, mereka akan merasa tertegur, dan hati nurani mereka akan gelisah. Namun, ketika orang yang tidak berhati nurani dan tidak bernalar melakukan hal-hal yang tidak tahu malu, atau hal-hal yang membuat orang lain memandang hina dan merasa jijik, mereka tidak merasa tidak nyaman ataupun gelisah. Dalam pandangan mereka, bukankah tidak menerapkan kebenaran adalah hal yang sangat normal? Mereka tidak memiliki kesadaran sama sekali, jadi orang-orang semacam itu sudah tidak ada harapan.
Katakan kepada-Ku, apakah ada banyak orang yang mampu memahami dengan jelas apa yang benar dan salah, apa yang benar dan tidak benar? Lihatlah orang-orang di sekitar kalian, termasuk keluarga, teman, dan rekan kerja, lalu lihatlah saudara-saudari. Di antara orang-orang ini, apakah mereka yang mampu membedakan dan memahami dengan jelas apa yang benar dan salah, dan apa yang benar dan tidak benar, ada banyak atau sedikit jumlahnya? (Sangat sedikit.) Tidak banyak orang yang bisa mengetahui apa yang benar dan apa yang tidak benar. Artinya, di dunia ini, tidak banyak orang yang memiliki kemanusiaan yang berintegritas dan baik hati, tidak banyak yang adil dan objektif dalam tutur kata serta tindakan mereka, dan yang tidak merajalela melakukan hal-hal buruk, dan tidak banyak yang berbicara dengan masuk akal, dan yang tidak menggunakan penalaran yang menyimpang. Terutama di antara orang tidak percaya, orang-orang semacam itu sangatlah sedikit. Ketika engkau berhubungan dengan orang tidak percaya mana pun, engkau hanya perlu mendengar mereka berbicara untuk mengetahui orang macam apa mereka. Ada terlalu banyak ketidaktepatan dan ketidakmurnian dalam perkataan orang tidak percaya. Sebagian besar dari mereka tidak berbicara secara adil dan objektif; mereka berbicara berdasarkan perasaan mereka dan untuk melindungi kepentingan mereka sendiri. Apa pun perkataan salah yang mereka ucapkan atau apa pun kesalahan yang mereka lakukan, mereka tidak menyadari hal itu di lubuk hatinya. Sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, jika sama halnya dengan orang tidak percaya, mereka tidak tahu apa yang benar dan apa yang tidak benar dalam tutur kata dan tindakan mereka—dan meskipun perkataan yang mereka ucapkan dan sudut pandang yang mereka pegang salah, mereka tetap secara membabi buta bersikeras mempertahankannya, menganggap sudut pandang yang salah sebagai hal positif dan kebenaran, dan bahkan menggunakan sudut pandang semacam itu untuk menggantikan kebenaran dan firman Tuhan—adakah harapan bagi orang semacam itu untuk diselamatkan? (Tidak.) Ada orang-orang yang telah percaya kepada Tuhan selama dua puluh atau tiga puluh tahun, atau bahkan seumur hidup, tetapi mereka tidak pernah tahu apa itu hal positif dan apa itu hal negatif, mereka juga tidak pernah mengerti apa yang benar dan apa yang tidak benar. Selama sesuatu itu menguntungkan bagi mereka, mereka menyukainya dan membelanya; jika itu tidak menguntungkan bagi mereka, mereka mengatakan bahwa itu buruk dan salah, serta menolaknya. Mereka telah hidup sampai sekarang dengan sikap dan falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain semacam itu, tetapi masih mengeklaim bahwa mereka percaya kepada Tuhan dan ingin diselamatkan—bukankah ini lelucon? (Ya.) Mereka juga mengeklaim bahwa mereka adalah pengikut Tuhan dan saksi bagi Tuhan. Apa yang bisa mereka gunakan untuk bersaksi tentang Tuhan? Mereka bahkan tidak tahu apa yang benar dan apa yang tidak benar, tetapi mengeklaim bahwa mereka ingin bersaksi tentang Tuhan—bukankah ini sepenuhnya omong kosong? Akankah Tuhan menggunakan orang yang bingung semacam itu untuk bersaksi tentang-Nya? (Tidak.) Jika orang-orang semacam itu bersaksi tentang Tuhan, itu akan membawa penghinaan terhadap-Nya. Mereka tidak pernah merasa bahwa apa pun yang Tuhan lakukan itu benar. Dinilai dengan menggunakan pemikiran dan pandangan mereka, banyak hal yang Tuhan lakukan tidak sesuai dengan pemikiran dan pandangan mereka, juga tidak sesuai dengan gagasan mereka, dan tentu saja, juga tidak sesuai dengan kepentingan daging mereka. Sering kali, firman Tuhan atau pekerjaan Tuhan bertentangan dengan keinginan mereka, dengan hasrat dan ambisi pribadi mereka, dan segala macam kepentingan pribadi mereka. Oleh karena itu, bagi beberapa orang yang telah percaya kepada Tuhan selama sepuluh atau dua puluh tahun, sangat sulit untuk mengucapkan sepatah kata yang berasal dari hati, untuk mengatakan bahwa segala sesuatu yang Tuhan lakukan itu benar dan bebas dari kesalahan. Dapat dikatakan bahwa ada sesuatu yang tersembunyi dalam hati mereka. Setelah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun ini, mereka memiliki pengalaman langsung: Mereka merasa bahwa keinginan mereka tidak terpenuhi; mereka ingin menjadi pejabat tetapi tidak berhasil, dan ingin mendapatkan berkat tetapi tidak mendapatkannya. Seolah-olah rumah Tuhan memperlakukan mereka secara tidak adil. Di dalam hatinya, mereka memiliki keluhan dan perasaan diperlakukan tidak adil yang ingin mereka katakan tetapi tidak bisa; mereka takut jika mereka angkat bicara, mereka akan menyinggung Tuhan, memberi orang lain celah yang dapat digunakan untuk melawan mereka, atau gagal mempertahankan citra baik mereka di hati orang-orang. Karena itu, mereka memendam banyak hal di dalam hatinya. Hanya karena mereka tidak mengatakannya dengan lantang bukan berarti mereka tidak memiliki pemikiran atau hal-hal tertentu di dalam hatinya. Apakah yang disebut "hal-hal" ini? Itu bukanlah pemahaman dan pengetahuan positif orang-orang ini tentang Tuhan dan pekerjaan-Nya, melainkan ketidakpahaman, penentangan, dan kebencian mereka terhadap Tuhan, serta keluhan yang mereka yakini telah mereka derita, yang terakumulasi selama bertahun-tahun percaya kepada Tuhan. Namun, karena Tuhanlah yang mereka percaya, mereka tidak dapat mengatakannya. Mengapa ada begitu banyak hal di dalam hati mereka yang tidak dapat mereka katakan? Ada alasan di balik ini juga. Poin ini saja sudah cukup untuk menunjukkan bahwa mereka belum benar-benar memahami kebenaran meskipun telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun. Mereka tidak menganggap serius pengejaran akan kebenaran dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan. Apa pun yang terjadi pada mereka, mereka tidak memandang segala sesuatu berdasarkan firman Tuhan, juga tidak mencari kebenaran untuk menemukan jalan penerapan. Mereka tidak pernah menerima firman Tuhan sebagai kebenaran dan sebagai hidup. Mereka tidak menghargai atau menganggap penting kebenaran, mereka juga tidak bersungguh-sungguh tentang bagaimana menerapkan kebenaran. Selama bertahun-tahun mereka percaya kepada Tuhan, mereka selalu mengambil sikap yang melawan Tuhan, meneliti, menyelidiki, dan mempertanyakan firman Tuhan, bahkan menentang firman Tuhan, atau menilai dan menghakimi firman dan pekerjaan Tuhan dengan apa yang mereka sebut sebagai sudut pandang yang benar. Jadi, setelah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, mereka akhirnya mengatakan sesuatu dari hati: "Apa yang telah kudapatkan dari kepercayaanku kepada Tuhan?" Maksud perkataan mereka sebenarnya adalah bahwa mereka tidak mendapatkan apa pun dari kepercayaan mereka kepada Tuhan. Di dalam hatinya, mereka percaya bahwa mereka telah banyak menderita dan banyak membayar harga dalam melaksanakan tugas mereka di rumah Tuhan selama bertahun-tahun, tetapi hasrat mereka untuk memperoleh berkat dan keinginan mereka untuk mengejar ketenaran serta keuntungan tidak terpenuhi. Bahkan ada orang-orang yang percaya bahwa Tuhan tidak mengganti kerugian atas ketidakadilan yang mereka derita, sehingga di dalam hatinya, mereka merasa menentang, membenci, dan penuh dengan keluhan. Demi mendapatkan berkat dan demi tempat tujuan mereka, mereka terpaksa melaksanakan sedikit tugas mereka dan melakukan sedikit pekerjaan di rumah Tuhan dengan penuh keluhan, tetapi pada akhirnya, harapan mereka sia-sia dan mereka tidak memperoleh apa pun. Adakah orang-orang seperti ini? Setidaknya ada sebagian orang yang seperti itu. Mereka tidak memperoleh apa pun setelah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun karena masalah mereka sendiri. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk memahami atau mengerti kebenaran, dan mereka mengikuti Tuhan serta melaksanakan tugas mereka dengan niat untuk memperoleh berkat. Meskipun mereka telah dengan tulus sedikit mengorbankan diri, telah banyak membayar harga dan banyak menderita, mereka tidak pernah tertarik pada firman yang Tuhan ucapkan atau kebenaran yang Tuhan ungkapkan. Mereka tidak pernah menerimanya ke dalam hati mereka, juga tidak menganggap serius penerapan kebenaran. Oleh karena itu, mereka tidak pernah tahu apakah mereka memiliki kenyataan kebenaran atau tidak. Mereka berpikir, "Kami mampu mempersekutukan kebenaran dan kami memahami beberapa kebenaran, jadi bagaimana bisa dikatakan bahwa kami tidak memiliki kenyataan kebenaran?" Namun, mereka tidak bisa menulis satu pun kesaksian pengalaman yang sejati, jadi di manakah kenyataan kebenaran mereka itu? Tindakan dan perbuatan mereka masih sama dengan orang tidak percaya; hanya saja perilaku mereka telah sedikit berubah dibandingkan dengan orang tidak percaya. Dengan cara dan metode mereka dalam berperilaku, serta pemikiran dan pandangan mereka tentang semua peristiwa dan hal-hal—terutama tentang hal positif dan hal negatif, dan tentang apa yang benar dan apa yang tidak benar—mereka tidak pernah memandang segala sesuatu berdasarkan firman Tuhan atau kebenaran. Sebaliknya, mereka memandang segala sesuatu berdasarkan pemikiran dan pandangan mereka sendiri. Mereka yakin bahwa apa pun yang mereka sukai adalah hal positif, dan apa pun yang mereka benci adalah hal negatif. Mereka tidak pernah memandang orang dan hal-hal berdasarkan firman Tuhan, dan mereka tidak pernah mencari kebenaran atau menerima kebenaran dalam orang, peristiwa, dan hal-hal yang mereka temui—mereka hanya mengikuti angan-angan mereka sendiri untuk bertindak, hidup, dan melaksanakan tugas mereka berdasarkan hasrat, niat, dan preferensi mereka sendiri. Mereka yakin bahwa karena mereka mampu meninggalkan segala sesuatu, mengorbankan diri, menderita, dan membayar harga, itu berarti bahwa mereka telah berkontribusi besar kepada Tuhan; mereka berpikir bahwa inilah yang dimaksud dengan percaya kepada Tuhan dan mengejar kebenaran. Mereka percaya kepada tuhan yang mereka bayangkan di dalam hati mereka dengan cara mereka sendiri, dan mengejar kebenaran dengan cara mereka sendiri. Ketika mereka dipangkas karena selalu bertindak semaunya dan sembrono menurut kehendak mereka sendiri dalam melaksanakan tugas mereka, atau ketika mereka tidak dipakai untuk tugas-tugas penting di rumah Tuhan, mereka merasa berkecil hati dan kecewa. Pada akhirnya, mereka menyimpulkan semuanya ke dalam satu pernyataan: "Apa yang telah kuperoleh dari percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun?" Mereka benar-benar tidak memperoleh apa pun. Mereka tidak memperoleh kebenaran karena mereka tidak mengejar kebenaran; Tuhan tidak bisa disalahkan untuk hal ini. Ini karena Tuhan tidak pilih kasih terhadap manusia, begitu pula kebenaran. Engkau gagal memperoleh kebenaran bukan karena Tuhan tidak memberimu kesempatan atau karena Dia tidak membiarkanmu mendengar firman-Nya, melainkan karena engkau telah mendengar firman Tuhan tetapi tidak merenungkan, memikirkan, menerapkan, ataupun mengalaminya. Karena engkau tidak mencintai kebenaran, engkau tidak menerimanya. Tuhan tidak menutup matamu atau menutup hatimu; sebaliknya, preferensimu dan sikapmu yang tidak masuk akallah yang telah menghalangi hatimu sehingga engkau tidak dapat menerima kebenaran. Engkau gagal memperoleh kebenaran bukan karena Tuhan tidak menyediakannya untukmu, melainkan karena engkau tidak pernah suka membaca firman Tuhan, dan di dalam hatimu, engkau tidak menerima firman Tuhan atau kebenaran. Engkau menganggap kepercayaan dan sudut pandangmu sendiri sebagai kebenaran untuk kaukejar dan tunduk padanya—apakah engkau ingin orang-orang menyembahmu sebagai Tuhan? Firman Tuhan dan pekerjaan Tuhan hanyalah formalitas, hanyalah rumus bagimu; engkau sama sekali tidak mengejar kebenaran dan hidup. Jadi, dalam kepercayaanmu kepada Tuhan, hasil akhirnya hanya satu—engkau benar-benar tidak memperoleh apa pun. Mengapa engkau tidak memperoleh kebenaran? Bukan karena Tuhan tidak memberimu kasih karunia, melainkan karena jalan yang kautempuh sendiri. Tuhan telah memberimu banyak kesempatan dan dengan sungguh-sungguh serta sabar menasihati dan membantumu, tetapi engkau tidak mengindahkannya. Engkau juga tidak terima dirimu dipangkas. Engkau selalu mengejar berkat atau mengejar reputasi dan status, tanpa pernah berhenti. Pada akhirnya, kegagalanmu untuk memperoleh kebenaran sepenuhnya disebabkan oleh jalan yang kautempuh sendiri. Engkau tidak menempuh jalan mengejar kebenaran. Ini tidak ada hubungannya dengan Tuhan. Tuhan tidak pilih kasih terhadap orang-orang, begitu pula kebenaran. Termasuk golongan apa pun dirimu, selama engkau adalah manusia, bahkan seandainya kemampuanmu untuk memahami kebenaran mungkin sedikit lebih buruk daripada orang normal, jika engkau tetap dapat mendengarkan firman Tuhan dengan hatimu, menerima firman Tuhan, dan menerapkan firman Tuhan—meskipun sebenarnya engkau mungkin hanya memahami beberapa doktrin dan mematuhi beberapa peraturan—engkau masih dapat memperoleh sesuatu. Sebagian besar orang bisa melakukan ini, jadi mengapa engkau tidak bisa? Orang lain mendengarkan khotbah dan melaksanakan tugas mereka sama sepertimu, jadi mengapa mereka dapat memperoleh kebenaran, melaksanakan tugas mereka dengan memenuhi standar, dan menyingkirkan watak rusak mereka serta tunduk kepada Tuhan, tetapi engkau tidak bisa? Tuhan telah mengatur lingkungan bagimu untuk melaksanakan tugasmu, berharap engkau akan memahami kebenaran dan mampu menerapkannya. Tuhan tidak menghalangimu, tetapi engkau sendiri selalu mendambakan hal-hal duniawi dan kesenangan daging, engkau tidak makan dan minum firman Tuhan, dan engkau muak akan kebenaran serta menolaknya di dalam hatimu. Engkau menjunjung tinggi falsafah serta pembelajaran dan pengetahuan Iblis sebagai hal-hal positif dan sebagai kebenaran, sementara mengabaikan firman Tuhan dan kebenaran, menganggapnya sebagai musuhmu, sebagai sesuatu yang berlawanan denganmu. Karena di dalam hatimu, engkau tidak mencintai kebenaran, mengapa engkau percaya kepada Tuhan? Engkau percaya kepada Tuhan tetapi tidak mendengarkan firman Tuhan ataupun menerima firman Tuhan—masih bisakah engkau berharap untuk diselamatkan? Engkau tidak menerima kebenaran atau tidak menyingkirkan watak rusakmu, jadi bagaimana mungkin engkau diselamatkan? Engkau tidak menerima firman Tuhan dan tidak mengejar kebenaran, tetapi masih ingin diterima dan diakui oleh Tuhan, ini adalah angan-angan belaka; itu tidak akan berhasil. Engkau tidak menerima firman Tuhan dan tidak menerima kebenaran, maka artinya tidak ada tempat bagi Tuhan di dalam hatimu. Engkau hanya akan makin menjauh dari Tuhan. Engkau hanya akan menjadi seperti orang tidak percaya; mustahil bagimu untuk memperoleh keselamatan.
Ada orang yang di lubuk hatinya tidak pernah benar-benar menerima firman Tuhan; mereka bahkan tidak menerima satu pun firman Tuhan. Ketika rumah Tuhan tidak mempromosikan atau memakai mereka, mereka mengeluh: "Mengapa Tuhan tidak menyukaiku? Mengapa rumah Tuhan tidak pernah mempromosikan atau menempatkanku pada posisi penting? Aku memahami beberapa kebenaran, aku memiliki aspirasi dan tekad, dan aku bersedia mengorbankan diri untuk Tuhan! Aku berpendidikan dan memiliki kelebihan, dan aku mampu menderita serta membayar harga, lalu mengapa rumah Tuhan tidak memberiku kesempatan? Memperlakukanku seperti ini tidaklah adil! Orang lain mendapatkan kesempatan, lalu mengapa aku tidak? Tuhan tidak adil!" Lalu mengapa engkau tidak melihat apakah engkau sesuai dengan prinsip-prinsip rumah Tuhan dalam mempromosikan dan memakai orang? Hatimu tertutup terhadap Tuhan, dan engkau menentang firman yang Tuhan ucapkan; sudahkah engkau menerima apa yang Tuhan firmankan? Pernahkah engkau mencari firman Tuhan ketika engkau melakukan sesuatu? Engkau tidak mendengarkan apa yang firman Tuhan katakan, dan tidak pernah mencari maksud Tuhan atau prinsip-prinsip kebenaran, jadi bagaimana mungkin rumah Tuhan memakaimu? Sekalipun Tuhan mengatur lingkungan bagimu, dan rumah Tuhan memberimu kesempatan untuk dipromosikan dan dipakai, pekerjaan apa yang mampu kautangani dengan baik? Pekerjaan apa yang mampu kaupikul? Jika orang seperti itu dipakai untuk pekerjaan gereja, dia pasti akan mengikuti kehendaknya sendiri untuk berbuat jahat dengan sembarangan, dan menyebabkan kekacauan dan gangguan, yang hanya dapat mengakibatkan satu hal: Dia akan disingkirkan. Ada dua alasan orang disingkirkan: Pertama karena menjadi pemimpin palsu yang tidak mampu melakukan pekerjaan nyata, dan kedua karena menjadi antikristus yang dengan sembarangan berbuat jahat, melakukan berbagai hal dengan cara mereka sendiri, dan tidak menjunjung tinggi pekerjaan gereja ataupun kepentingan rumah Tuhan. Pada akhirnya, keduanya harus disingkirkan. Engkau tidak pernah menerima kebenaran, engkau muak membaca firman Tuhan, hatimu tertutup terhadap Tuhan, dan engkau tidak mencari prinsip-prinsip kebenaran ketika melakukan sesuatu. Sekalipun Tuhan memperlakukanmu dengan kasih karunia dan memberimu kesempatan, dan sekalipun rumah Tuhan mempromosikan serta memakaimu, engkau tidak akan cakap dalam pekerjaan itu, dan engkau juga tidak mampu melakukan pekerjaan apa pun secara mandiri. Pada akhirnya, engkau tetap harus disingkirkan. Engkau berharap rumah Tuhan mempromosikan dan memakaimu, tetapi apakah mentalitasmu positif? Jika tujuanmu bukanlah untuk melaksanakan tugasmu, memperoleh kebenaran, dan membalas kasih Tuhan, mentalitasmu tidak lebih dari ambisi dan keinginan; ini disebabkan oleh watak congkakmu yang berulah, dan Tuhan tidak menerimanya. Katakan kepada-Ku, dengan perwujudanmu yang seperti itu, apakah rumah Tuhan berani memakaimu? Jika engkau dipakai, itu hanya akan membuat pekerjaan gereja mendapat masalah dan kerugian. Engkau tidak dapat melakukan apa pun dengan baik, dan setelah engkau melakukan sesuatu, beberapa orang harus memperbaiki situasi dan membereskan kekacauanmu. Oleh karena itu, rumah Tuhan tidak berani memakaimu. Setiap pekerjaan gereja sangatlah penting; mampukah engkau memikulnya? Jika terjadi kesalahan, mampukah engkau bertanggung jawab? Engkau tidak cakap dalam pekerjaan itu dan tidak mampu memikulnya, tetapi engkau masih ingin rumah Tuhan menempatkanmu pada posisi penting, betapa besarnya ambisimu! Jika engkau benar-benar ingin dipromosikan untuk menjadi penanggung jawab atas pekerjaan gereja, lalu mengapa engkau tidak berpikir untuk memperlengkapi dirimu dengan lebih banyak kebenaran dan memahami lebih banyak kebenaran? Jangan menjadi musuh firman Tuhan. Lepaskan apa yang kausebut pemikiran dan pandangan yang benar itu, dan bacalah firman Tuhan dengan sungguh-sungguh. Bahkan memiliki sikap yang tunduk pada firman Tuhan saja sudah bagus. Engkau bahkan tidak memiliki sikap yang tunduk pada firman Tuhan, apalagi menerimanya. Jika engkau tidak menerima firman Tuhan tetapi masih ingin dipromosikan di rumah Tuhan dan melakukan pekerjaan gereja, engkau tidak akan bertahan beberapa hari sebelum disingkirkan. Semua orang semacam ini sepertinya memiliki aspirasi mereka sendiri di lubuk hatinya, tetapi aspirasi ini tidak pernah dapat terwujud, dan hati mereka tidak dapat terpuaskan. Meskipun mereka telah percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugas mereka di rumah Tuhan selama bertahun-tahun, dan dapat meninggalkan hal-hal tertentu serta mengorbankan diri, karena hati mereka selalu tertutup terhadap Tuhan dan mereka memiliki sikap yang menentang terhadap kebenaran, mereka merasa tidak memperoleh apa pun setelah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun. Aku berkata, "Apa yang kaukatakan itu memang benar; engkau benar-benar tidak memperoleh apa pun." Jika engkau benar-benar memperoleh beberapa kebenaran setelah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, itu memang berharga. Jika benar-benar ada harta di dalam dirimu, rumah Tuhan akan benar-benar menyukai dan menghargai orang seperti itu. Sayangnya, engkau bukan orang seperti itu. Yang telah kauperoleh bukanlah kebenaran, juga bukan harta; sebaliknya, yang telah kauperoleh adalah kepala yang penuh dengan keluhan, pembangkangan, ketidakpuasan, dan protes. Engkau berkata tidak memperoleh apa pun, dan itu benar; memang itulah kenyataannya. Jika engkau benar-benar memahami beberapa kebenaran dan telah memperoleh beberapa kebenaran, engkau tidak akan memiliki keluhan, pembangkangan, keluhan, dan hal-hal negatif lainnya di dalam hatimu. Sebaliknya, engkau akan memiliki iman kepada Tuhan, pemahaman tentang Tuhan, pemikiran akan Tuhan, ketundukan kepada Tuhan, dan takut akan Tuhan—semua hal positif ini. Sayangnya, yang ada di dalam hatimu bukanlah hal-hal positif, melainkan sepenuhnya hal-hal negatif. Namun, engkau berpegang erat pada hal-hal tersebut, menganggap semua ini hal yang paling berharga; saat berpegang pada semua itu, engkau mengira engkau benar dan memiliki alasan. Ini adalah ide yang bodoh. Kemarahan, kebencian, penghakiman, serta pembangkangan dan rasa sakit hatimu itu bukanlah kebenaran. Semua itu adalah hal-hal yang berasal dari Iblis; semua itu adalah tumor ganas yang dihasilkan dari watak rusak Iblis. Engkau harus memikirkan cara untuk membereskannya. Hal-hal ini tidak dapat membuatmu memperoleh keselamatan, juga tidak dapat membuatmu menerima kebenaran dan datang ke hadapan Tuhan secara terbuka dan menyingkapkan dirimu sepenuhnya untuk menjadi makhluk ciptaan yang sejati dan menerima kedaulatan serta pengaturan Sang Pencipta. Jika, sebaliknya, engkau selalu menghargai hal-hal ini dan tidak melepaskannya, itu hanya akan membuatmu makin jauh dari Tuhan, dan engkau menjadi jauh lebih gelap serta jauh lebih terpuruk di dalam hatimu. Pada akhirnya, itu akan membuat imanmu kepada Tuhan makin kecil, dan engkau menjadi makin jijik pada firman Tuhan, pekerjaan Tuhan, tuntutan Tuhan, dan esensi watak Tuhan. Engkau percaya kepada Tuhan tetapi berangsur-angsur makin jauh dari-Nya; ini bukanlah pertanda baik. Bagimu, ini adalah malapetaka yang akan membawa kehancuran total. Engkau seharusnya mengubah ini dan tidak berpaut pada hal-hal ini. Jika engkau berpaut pada hal-hal negatif ini, itu hanya akan mengarahkanmu pada kehancuran. Lebih baik engkau mengungkapkan hal-hal ini untuk menelaahnya, melepaskannya, dan menerima kebenaran. Ada orang-orang yang berkata, "Bukankah Kau mengatakan bahwa orang-orang seperti kami tidak memiliki kemampuan untuk menerima kebenaran?" Engkau tidak memiliki kemampuan untuk menerima kebenaran, tetapi Kuberitahukan kepadamu sekarang: Keluhan, ketidakpuasan, pembangkangan, rasa sakit hati, kebencian, dan penghakiman di dalam dirimu adalah semua hal yang menentang Tuhan. Jika engkau memahami hal ini dan dapat mengenali masalah di dalam dirimu, engkau seharusnya melepaskan hal-hal ini. Ada orang-orang yang berkata, "Aku tidak memahami kebenaran, jadi aku tidak tahu bagaimana cara melepaskannya." Kalau begitu, apakah engkau tahu bagaimana mematuhi peraturan? Lakukan saja apa pun yang firman Tuhan katakan kepadamu. Misalnya, dapatkah engkau menahan diri untuk tidak melakukan kejahatan? Dapatkah engkau menahan diri untuk tidak menghakimi Tuhan? Dapatkah engkau melakukan lebih banyak hal baik? Dapatkah engkau menahan diri untuk tidak mengikuti para pelaku kejahatan? Dapatkah engkau membuka hatimu kepada Tuhan? Dapatkah engkau melaporkan masalah kepada rumah Tuhan ketika engkau menemukannya? Dapatkah engkau berbicara dari hati ketika berdoa kepada Tuhan? Dapatkah engkau menahan diri untuk tidak bersikap asal-asalan dalam melaksanakan tugasmu? Jika engkau dapat melakukan hal-hal ini, masih ada harapan bagimu. Jika engkau bahkan tidak dapat melakukan hal-hal ini, Kuberitahukan kepadamu yang sebenarnya: Engkau sudah tidak ada harapan. Yang ada di hadapanmu bukanlah terang melainkan kegelapan. Engkau masih termasuk orang yang menjadi milik Iblis, dan engkau tidak dapat diselamatkan.
Sekalipun seseorang tidak memahami kebenaran, jika dia memiliki hati nurani dan nalar, dia mampu membedakan apa yang benar dan yang tidak benar hingga taraf tertentu, apa pun yang mereka hadapi. Namun, orang yang tidak memiliki hati nurani dan nalar tidak mengetahui apa yang benar dan yang tidak benar dalam banyak hal, dan ini membuat orang lain menganggap mereka sangat aneh. Ketika orang berinteraksi atau menangani berbagai hal bersama mereka, banyak hal tidak berhasil, dan banyak perkataan tidak dapat mereka pahami. Terlebih lagi, pemikiran dan pandangan mereka sangat tidak lazim dan ekstrem, dan orang-orang menganggapnya tidak dapat dipahami, seolah-olah mereka tidak pernah hidup di dunia manusia. Mereka tidak memahami banyak hal yang secara universal diakui sebagai hal yang benar; mereka bukan hanya tidak dapat menyetujui atau menerimanya, mereka bahkan mampu mengungkapkan serangkaian penalaran yang menyimpang dan ajaran sesat. Khususnya, ada orang-orang yang sering melakukan manuver licik dalam suatu kelompok, menabur perselisihan serta memutarbalikkan fakta dan menyebarkan kebohongan. Seolah-olah setiap hari mereka tidak memiliki hal yang semestinya dikerjakan; entah mereka menghakimi orang ini atau menghakimi masalah itu, dan mereka senang melakukannya. Sekalipun tidak ada yang memperhatikan hal-hal yang mereka katakan, dan tidak seorang pun tertarik dengan hal-hal ini, mereka tetap tidak pernah bosan mengatakan dan melakukannya. Mereka selalu menabur perselisihan dalam hubungan orang lain, menghakimi orang lain dan memutarbalikkan fakta serta menyebarkan kebohongan di belakang orang lain. Ketika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai keinginan mereka, mereka menggerutu, mengeluh, dan bahkan menghakimi orang di belakangnya. Kehidupan mereka benar-benar dipenuhi dengan hal-hal ini. Engkau tidak pernah melihat mereka mempersekutukan pemahaman mereka sendiri, entah mempersekutukan pencerahan dan terang yang telah mereka peroleh dari firman Tuhan, atau mempersekutukan dan membagikan pengalaman mereka dalam hal tertentu kepada semua orang. Makin sering hal-hal yang semestinya tersebut dibahas, makin mereka menjadi diam, tidak bersikap proaktif, serta tampak lesu dan tidak bertenaga sama sekali. Hal yang membuat mereka bersemangat adalah menabur perselisihan serta memutarbalikkan fakta dan menyebarkan kebohongan. Bahkan ketika membahas suatu hal, mereka bertindak seperti orang tidak percaya dengan memandang hal tersebut dari sudut pandang benar dan salah, benar dan tidak benar, tidak pernah membahas hal apa pun dari segi hati nurani dan nalar kemanusiaan yang normal. Mereka selalu berperan sebagai nyamuk, lalat, tikus, dan sebagainya di tengah kelompok orang, mengganggu dan mengusik kehidupan normal orang lain. Begitu mereka berbicara dan mengungkapkan pandangan mereka, atau mengevaluasi dan menilai sesuatu, orang-orang merasa muak dan terganggu di dalam hatinya, dan beberapa orang dengan tingkat pertumbuhan yang kecil yang tidak memahami kebenaran bahkan disesatkan dan dikekang oleh mereka. Orang-orang ini tidak pernah memainkan peran positif dalam suatu kelompok; mereka selalu bergosip dan memutarbalikkan fakta serta menyebarkan kebohongan, membicarakan kesalahan orang ini lalu apa yang dilakukan orang itu. Namun, mereka tidak pernah merasa ada yang salah dengan melakukan hal ini; sebaliknya, mereka percaya bahwa beginilah seharusnya orang hidup, dan bahwa hanya dengan hidup seperti ini, barulah orang bisa bahagia dan bebas. Mereka menganggap gaya hidup dan cara bertindak yang salah ini sebagai sesuatu yang benar, sebagai gaya hidup yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang dengan kemanusiaan yang normal, dan mereka tidak terima ketika orang lain memangkas serta menyingkapkan mereka. Jika pendekatan mereka tidak berhasil di kelompok tertentu, mereka pergi ke kelompok lain untuk menemukan orang-orang yang sejenis dengan mereka—orang-orang yang memiliki pola pikir kotor seperti mereka—untuk menilai apa yang benar dan yang salah bersama-sama. Begitu mereka menemukan orang yang sejalan, mereka merasa bahwa setiap hari dalam hidup mereka begitu bahagia dan penuh sukacita. Di lingkungan mana pun, orang-orang ini berperan sebagai orang yang memutarbalikkan fakta dan menyebarkan kebohongan, menabur perselisihan, mencoba menarik orang ke pihak mereka, serta mengganggu dan menyerang orang. Jika engkau bertanya kepada mereka motif tersembunyi apa yang mereka simpan dengan melakukan hal ini dan tujuan apa yang ingin mereka capai, mereka sendiri tidak dapat menjelaskan dengan gamblang alasan mereka melakukannya. Mereka mungkin tidak memiliki tujuan yang jelas, tetapi kondisi hidup mereka biasanya dipenuhi dengan perwujudan dan tindakan-tindakan ini. Katakan kepada-Ku, termasuk golongan apakah orang-orang semacam itu? Jika kaukatakan mereka memiliki motif tersembunyi dalam melakukan hal ini, mereka punya banyak alasan: "Aku tidak bermaksud memengaruhi pelaksanaan tugas siapa pun, aku tidak bermaksud mengganggu siapa pun, dan aku tidak bermaksud mengganggu pekerjaan rumah Tuhan. Memangnya aku tidak boleh mengatakan apa yang ada dalam pikiranku?" Ketika engkau menyingkapkan mereka, mereka bersikap membangkang; mereka bersikeras melakukan hal ini, mereka bersikeras melakukan hal-hal dengan cara mereka sendiri, dan bersikeras hidup seperti ini di antara orang-orang. Siapa pun yang mereka hakimi atau fakta apa pun yang mereka putarbalikkan dan kebohongan apa pun yang mereka sebarkan, apakah cara mereka hidup dan berperilaku itu benar? (Tidak.) Namun, mereka justru menyukainya. Apakah menurutmu masalah orang-orang semacam itu sangat serius? (Ya.) Mereka adalah orang dewasa, tetapi tidak tahu perkataan mana dan tindakan mana yang benar, berharga, bermakna, serta merupakan hal yang semestinya mereka lakukan, dan tidak tahu tindakan mana yang termasuk melalaikan hal yang semestinya dilakukan; orang-orang semacam ini pada dasarnya adalah preman, bukan orang normal. Entah mereka menyebabkan gangguan bagi orang lain atau tidak, mengingat bahwa mereka hidup setiap hari dalam kondisi berbuat jahat secara sembarangan tanpa tahu apakah yang mereka lakukan itu benar atau tidak benar, dan menganggap memutarbalikkan fakta dan menyebarkan kebohongan serta menabur perselisihan sebagai hal yang semestinya dilakukan, tanpa memiliki kesadaran dalam hati nurani mereka, apakah menurutmu mereka memiliki kemanusiaan? Jika mereka benar-benar memiliki kemanusiaan yang normal, mereka seharusnya tahu apa prinsip-prinsip yang mengatur cara berbicara dan bertindak, dan terlebih lagi, mereka seharusnya tahu bahwa dalam berperilaku, orang haruslah memahami kebenaran, dan bahwa ini adalah kebutuhan terbesar manusia. Namun, mereka tidak tahu apa yang orang butuhkan atau apa yang seharusnya orang lakukan. Mereka tidak memiliki kemanusiaan yang normal; mereka adalah binatang. Ada orang-orang yang bahkan lebih buruk daripada binatang. Lihatlah kucing: Mereka tidur dan terkadang bermain di siang hari, dan pergi menangkap tikus saat hari mulai gelap. Tikus berbahaya bagi manusia, jadi dengan menangkapnya, kucing melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia. Atau lihatlah bagaimana anjing hidup. Selain bermain dengan tuannya, anjing menjaga rumah. Selama ada orang asing yang datang, mereka mulai menggonggong untuk memperingatkan tuannya dan menjaga rumah. Ketika tuannya membawa mereka keluar, mereka tetap berada di sisi tuannya, dan jika ada orang asing yang mendekat, mereka melindungi tuannya. Mereka memenuhi peran menjaga dan mengawasi rumah. Baik kucing maupun anjing, mereka semua mampu melakukan hal yang semestinya mereka lakukan. Tentu saja, hewan melakukan ini bukan karena kendali hati nurani melainkan karena naluri. Ketika Tuhan menciptakan mereka, Dia menciptakan naluri ini dan memberi mereka misi semacam itu, dan mereka berpegang teguh pada misi mereka, dan tak seorang pun dapat mengubah hal ini. Hewan bahkan mampu memenuhi tanggung jawab mereka dan melakukan hal yang semestinya dilakukan. Jika seseorang adalah manusia, setidaknya, dia harus dikendalikan oleh hati nurani dan nalar. Orang harus memiliki standar dan batas minimal di dalam hatinya tentang apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan setiap hari, tindakan mana yang berkaitan dengan kebenaran, dan tindakan mana yang termasuk melalaikan hal yang semestinya dilakukan. Standar dan batas minimal ini dapat dengan cepat diukur dengan menggunakan hati nurani dan nalar kemanusiaan. Misalnya, tidak bermoral dan tidak terkendali, suka memutarbalikkan fakta dan menyebarkan kebohongan, dan sebagainya—orang macam apa yang melakukan hal-hal ini? Orang normal dapat menyadari: "Itu adalah hal-hal yang dilakukan oleh pemalas dan preman yang melalaikan hal yang semestinya dilakukan. Orang normal terlalu sibuk dengan hal-hal yang semestinya dilakukan; siapa yang akan melakukan hal-hal yang tidak semestinya itu? Tidak ada gunanya melakukan hal-hal tersebut! Lagi pula, memutarbalikkan fakta dan menyebarkan kebohongan serta menabur perselisihan ini semua adalah hal negatif dan salah. Jika orang memiliki hati nurani dan nalar, mereka seharusnya tidak boleh melakukannya sama sekali. Terkadang, mungkin ada semacam keadaan khusus—seseorang menyinggungmu—dan engkau mungkin sedikit menggerutu karena sikap yang gampang marah, tetapi engkau tidak boleh menjadikannya norma dalam kehidupanmu sehari-hari; engkau tidak boleh menganggapnya sebagai hal yang sudah semestinya kaulakukan!" Ini adalah sesuatu yang dapat diukur dengan menggunakan hati nurani dan nalar orang normal, sehingga mereka mampu menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal ini. Namun, orang-orang yang tidak memiliki hati nurani dan nalar menganggap hal-hal ini sebagai hal yang semestinya dilakukan. Mereka tidak merasa cemas atau khawatir tugas mereka akan tertunda. Ketika mereka belum menyelesaikan pekerjaan mereka dan didesak orang lain, mereka tidak menganggapnya serius. Semua orang sibuk melaksanakan tugas, tetapi mereka berpura-pura tidak melihat hal ini. Mereka mengobrol santai kapan pun mereka mau, entah memutarbalikkan fakta dan menyebarkan kebohongan atau menabur perselisihan. Ini bukanlah perwujudan kemanusiaan yang normal, melainkan perwujudan mereka yang bukan manusia. Sebagai salah seorang dari umat manusia, setelah mencapai usia dewasa, setiap orang seharusnya merenungkan beberapa hal yang semestinya, seperti pandangan hidup apa yang seharusnya dibangun, aspirasi dan pengejaran apa yang seharusnya dimiliki, apa yang seharusnya orang percayai, jalan apa yang seharusnya ditempuh, bagaimana menjalani hidup agar bernilai dan bermakna, dan sebagainya; ada terlalu banyak hal yang seharusnya direnungkan dan dipahami. Terutama setelah orang percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugas di rumah Tuhan, di mana volume setiap pekerjaan sangatlah besar, membutuhkan progres dan efisiensi untuk diselesaikan. Semua orang sangat sibuk; siapa yang punya waktu luang untuk memutarbalikkan fakta dan menyebarkan kebohongan serta menabur perselisihan? Sebagian besar orang tidak akan menghabiskan waktu mereka untuk hal-hal ini. Selain itu, sebagian besar orang tidak memiliki hobi ini; siapa pun yang memilikinya terlihat sangat aneh dan ganjil. Mereka yang menganggap memutarbalikkan fakta dan menyebarkan kebohongan serta menabur perselisihan sebagai hobi bukanlah manusia, karena perilaku mereka sama sekali berbeda dari orang normal, dan bertentangan dengan prinsip-prinsip tentang cara bertindak yang seharusnya dimiliki oleh orang normal. Oleh karena itu, orang-orang semacam itu adalah orang-orang celaka yang melalaikan hal-hal yang semestinya mereka lakukan. Hal-hal yang mereka lakukan bukanlah apa yang seharusnya dilakukan oleh orang normal; mereka berperan sebagai bukan manusia. Namun, mereka sendiri menganggapnya cukup baik dan benar. Bukankah ini berarti tidak mengetahui apa yang benar dan apa yang tidak benar? (Ya.)
Ada orang-orang yang selalu berperilaku dengan cara mencuri-curi dan memata-matai di belakang orang lain. Misalnya, ada yang suka memeriksa informasi pribadi orang lain, seperti buku harian pribadi dan catatan saat teduh mereka. Ada yang suka menguping doa orang lain, atau menguping percakapan orang lain untuk mengetahui apakah mereka sedang dibicarakan dan apa pendapat orang lain tentang mereka. Ada yang mengintip komputer orang lain untuk melihat pesan apa saja yang dimiliki orang tersebut, siapa saja yang dihubungi, lagu apa saja yang didengarkan, dan video apa saja yang ditonton orang tersebut, selalu mengorek-ngorek kehidupan pribadi orang lain. Ada juga orang yang suka mencuri yang menggeledah barang-barang pribadi, paket, dan bahkan tempat tidur orang lain tanpa izin. Mereka memeriksa apa pun yang orang lain makan, kenakan, atau gunakan. Jika mereka menemukan sesuatu yang bagus, mereka mengambil dan menggunakannya, dan jika mereka merasa nyaman menggunakannya, mereka menganggapnya sebagai milik mereka sendiri. Ketika orang lain membeli camilan atau kue, mereka diam-diam melihatnya, dan jika mereka menemukan sesuatu yang lezat, mereka mencicipinya atau mengambil sepotong. Tujuan mereka tidak hanya untuk melihat, tetapi untuk makan karena mereka rakus. Jika mereka ingin makan, mereka bisa memintanya, dan tidak ada yang akan mentertawakan mereka. Namun, mengapa mereka mencuri makanan orang lain tanpa sepengetahuan pemiliknya? Apakah benar melakukan hal ini? (Tidak.) Mereka tahu itu salah tetapi tetap melakukannya, bahkan sering, lalu menggeledah barang-barang orang lain seolah-olah itu milik mereka sendiri. Jika ketahuan, mereka membenarkan diri mereka sendiri dengan mengatakan bahwa mereka hanya melihat-lihat, dan mereka tidak merasa malu akan hal ini. Ketika tidak ada orang di dekat mereka, mereka terus menggeledah dan mencuri. Mereka tidak memiliki rasa malu; mereka bahkan tidak tahu apakah itu benar atau tidak. Orang macam apa yang melakukan hal-hal semacam itu? Umumnya, anak-anak berusia enam atau tujuh tahun yang tahu mana yang pantas bahkan tidak melakukan hal-hal ini. Jika orang dewasa masih melakukannya, itu karena mereka sudah terbiasa melakukannya sejak kecil, seperti pencuri yang sudah terbiasa mencuri dan mengutil ke mana pun mereka pergi. Sekalipun mereka tidak kekurangan apa pun, mereka tetap ingin mencuri; itu telah menjadi natur kedua dan mereka tidak bisa berhenti. Sekalipun mereka ingin berhenti, mereka tidak bisa. Mereka terlahir sebagai pencuri. Bukankah mereka itu bukan manusia? (Ya.) Engkau penasaran dan bersikeras untuk melihat barang-barang pribadi orang lain, tetapi apa gunanya melihat? Sekalipun engkau melihatnya, barang-barang itu bukan milikmu, dan engkau tidak bisa mendapatkannya. Jika engkau benar-benar ingin meminjam sesuatu sekali saja, tanyakan saja kepada orang tersebut, dan baru gunakan setelah disetujuinya. Lakukan segala sesuatu secara terbuka dan terang-terangan; jangan dengan mencuri-curi. Jika engkau ingin mengenakan pakaian orang lain, tanyakan secara terbuka apakah mereka mau meminjamkannya kepadamu. Engkau hanya boleh mengenakannya jika mereka setuju untuk meminjamkannya kepadamu. Jika mereka dengan berat hati bersedia meminjamkan sesuatu yang mereka hargai kepadamu, ini sudah termasuk kasih sayang di antara saudara-saudari. Jika mereka tidak meminjamkannya kepadamu, jangan mengenakannya secara diam-diam. Orang-orang yang percaya kepada Tuhan semuanya sudah dewasa, tetapi beberapa dari mereka masih bertindak tidak pantas, dan beberapa individu bahkan suka mencuri. Mereka diam-diam menggeledah barang orang lain tanpa mengetahui bahwa itu salah. Begitu mereka ketahuan dan dibicarakan orang lain, mereka tidak merasa malu, dan bahkan berpikir, "Memangnya kenapa kalau aku menggeledah barang-barangmu? Kau tidak kehilangan apa pun, dan barang-barangmu tidak dipisahkan untuk menjadi kudus, jadi mengapa aku tidak boleh melihatnya?" Lihat, mereka bahkan menggunakan penalaran yang menyimpang. Masalah ini serius; ini bukan hanya masalah perilaku, tetapi juga masalah esensi kemanusiaan mereka. Apa masalah esensi mereka? Orang-orang semacam itu sama sekali tidak menyadari ketika berbuat salah. Begitu ada seseorang yang mengetahui apa yang telah mereka lakukan dan mengoreksinya, mereka bukan hanya tidak menerimanya, melainkan juga membenarkan diri mereka sendiri, menggunakan penalaran yang menyimpang, dan bersikeras melakukannya. Ini memperlihatkan bahwa mereka bukanlah manusia. Salah satu ciri orang yang bukan manusia adalah tidak pernah mengakui bahwa mereka salah ketika berbuat salah, sama sekali tidak memiliki penyesalan, bersikeras meyakini bahwa mereka benar, dan penuh dengan pembenaran. Artinya, mereka membicarakan hal-hal yang salah, hal-hal yang menyimpang, serta hal-hal yang bengkok dan jahat sebagai hal-hal yang benar. Ini berarti menganggap penalaran yang keliru seolah-olah itu benar. Mereka yang memiliki ciri ini tidak memiliki hati nurani dan nalar. Orang yang tidak memiliki hati nurani dan nalar bukanlah manusia. Inilah tepatnya jenis-jenis perwujudan yang dimiliki oleh mereka yang bukan manusia. Ketika mereka diam-diam menggeledah barang-barang orang lain, seperti apa pun caramu menyingkapkan mereka atau mempersekutukan kebenaran kepada mereka, mereka tidak menerimanya. Mereka bukan hanya tidak merasa menyesal, melainkan juga menggunakan penalaran yang menyimpang, dengan berkata, "Aku hanya menggeledah barang seseorang, apa salahnya? Dibandingkan dengan mereka yang terlibat dalam pergaulan bebas, pembunuhan, atau pembakaran, dan yang telah melakukan setiap perbuatan jahat yang dapat dibayangkan, akulah orang yang terbaik! Di mana lagi engkau bisa menemukan orang sebaik aku?" Bukankah ini sama sekali tidak masuk akal? (Ya.) Jika orang melakukan sesuatu yang salah dan dengan keras kepala menolak untuk mengakuinya, mereka sudah tidak ada harapan lagi. Ada orang-orang yang melakukan kesalahan yang begitu serius sampai-sampai tidak dapat diterima bahkan jika dinilai dengan menggunakan moralitas manusia, apalagi kebenaran; karena kualitas mereka, mereka tidak mampu menyadari hal ini. Dalam hal kemanusiaan, begitu orang tidak memiliki hati nurani dan nalar, mereka bukanlah manusia. Betapa pun engkau menganggap dirimu baik, ramah, hebat, atau mulia apa, jika engkau tidak memiliki perwujudan hati nurani dan nalar, tetapi justru hidup dalam banyak perwujudan dari mereka yang bukan manusia, dan bahkan melakukan banyak tindakan tertentu serta memiliki pemikiran dan pandangan yang keliru, maka engkau bukanlah manusia. Ciri utama dari mereka yang bukan manusia adalah tidak menerima kebenaran atau hal-hal positif, tetapi menerima hal-hal yang keliru sebagai sudut pandang yang benar, dan bahkan dapat mengacaukan yang benar dan yang salah serta memutarbalikkan fakta untuk menyesatkan orang.
Ada jenis orang yang karena melihat putrinya berparas cantik, ingin memanfaatkannya untuk menghasilkan banyak uang. Jadi, mereka mempertunangkannya dengan seorang pria kaya dan menuntut banyak hadiah pertunangan. Begitu mendapatkan hadiah-hadiah tersebut, mereka mulai makan, minum, dan bersenang-senang. Beberapa waktu kemudian, setelah semua uang itu hampir habis, mereka kembali ke keluarga pria tersebut untuk meminta lebih banyak. Ketika keluarga itu mengatakan bahwa mereka telah memberikan semua uang pertunangan dan tidak dapat memberikan lebih banyak lagi, orang tua tersebut mempertunangkan putrinya dengan pria lain dan sekali lagi menuntut cukup banyak hadiah pertunangan. Keluarga pertama melihat bahwa orang tua itu tidak akan membiarkan putrinya menikah dengan putra mereka, jadi mereka menuntut agar hadiah pertunangan itu dikembalikan. Apa yang orang-orang itu katakan? "Putriku tidak bisa menikah dengan putramu karena engkau tidak memberikan uang pertunangan yang cukup. Kami tidak seharusnya mengembalikan uang itu kepadamu. Siapa yang menyuruhmu untuk tidak memberikan cukup uang? Engkau tidak memberikan cukup uang dan masih ingin menikahi putriku? Tidak mungkin!" Setelah menipu untuk mendapatkan uang itu, mereka mulai menggunakan alasan yang memutarbalikkan fakta. Keluarga pertama menyadari bahwa mereka telah bertemu dengan penipu, bajingan, jadi mereka mengabaikannya saja. Keluarga kedua juga tertipu dengan cara yang sama. Gadis itu bolak-balik dipertunangkan dengan beberapa pria, dan setelah semua tarik-ulur itu, dia akhirnya tidak menikah, tetapi keluarganya telah menghasilkan banyak uang. Apakah keluarga ini baik? (Tidak.) Mengapa tidak? (Mereka menggunakan pernikahan putri mereka untuk menipu para pria demi mendapatkan uang. Ketika diminta untuk mengembalikannya, mereka menolak dan menggunakan penalaran yang menyimpang. Mereka sama sekali tidak bernalar. Orang-orang seperti ini tidak tahu apa yang benar dan apa yang tidak benar, dan tidak punya rasa malu, jadi mereka jahat.) Mereka memperlihatkan semua perilaku ini. Mereka tidak tahu apa yang benar dan apa yang tidak benar serta tidak punya rasa malu. Mereka menghabiskan uang hasil tipuan itu tanpa merasa bersalah, dan bahkan makan dan minum dengan enak, serta hidup setiap hari dengan hati nurani yang tenang. Katakan kepada-Ku, adakah orang-orang seperti ini di antara mereka yang percaya kepada Tuhan? (Mungkin ada.) Ada. Orang-orang ini memiliki segala macam taktik penipuan, sehingga mustahil untuk waspada terhadap mereka. Dunia kejahatan yang kacau dari orang tidak percaya memang seperti ini, tetapi jika orang yang percaya kepada Tuhan mampu menipu orang dengan cara ini, mereka pasti bukanlah orang baik. Natur mereka terlalu buruk; bahkan saat percaya kepada Tuhan, mereka adalah pengikut yang bukan orang percaya. Bukankah ini ditentukan oleh natur mereka? (Ya.) Mereka bahkan tidak percaya pada pembalasan, tetapi mereka percaya kepada Tuhan; orang celaka macam apa mereka? Mereka menipu orang untuk mendapatkan hadiah pertunangan dan tidak membiarkan putri mereka menikah. Ini adalah penipuan. Terlebih lagi, mereka tidak hanya menipu satu keluarga, tetapi beberapa keluarga, dan masih hidup dengan hati nurani yang tenang. Mereka bahkan mengaku percaya kepada Tuhan. Apakah Tuhan mengakui orang semacam itu? (Tidak.) Tuhan tidak mengakui kepercayaan mereka. Jika ada orang-orang semacam itu di rumah Tuhan, mereka harus dikeluarkan. Rumah Tuhan tidak menginginkan orang-orang semacam itu. Penipu tidak dapat diubah; Tuhan tidak menyelamatkan orang-orang jahat. Seorang penipu akan menipu orang di mana pun ia berada. Ketika ia datang ke rumah Tuhan, apakah ia akan menipu saudara-saudari? Apakah ia akan menipu rumah Tuhan? Ia pasti akan melakukannya. Apakah Tuhan akan menyelamatkan orang semacam itu? Tuhan tidak akan menyelamatkannya. Orang macam apakah para penipu itu? Tepatnya, mereka bukan manusia. Orang yang bukan manusia adalah orang yang tidak memiliki hati nurani dan nalar. Jadi, apakah seseorang semacam itu akan pergi ke sana kemari untuk menipu orang saat percaya kepada Tuhan? Ia pasti akan melakukannya. Jika ia mengaku percaya kepada Tuhan, beberapa saudara-saudari akan memperlakukannya dengan kasih, membantunya dalam kesulitan dan memberinya saat ia membutuhkan. Namun pada akhirnya, seiring berjalannya waktu, mereka menyadari bahwa orang ini sama sekali tidak mengejar kebenaran dan merupakan seorang penipu. Bukankah mereka telah tertipu? Oleh karena itu, orang harus tahu bagaimana mengenali penipu agar tidak tertipu. Ini adalah untuk melindungi saudara-saudari agar tidak tertipu. Jika orang semacam itu ditemukan, mereka harus dikeluarkan, karena mereka memiliki reputasi yang buruk dan mampu melakukan hal buruk apa pun; mereka adalah bajingan di tengah masyarakat. Bagaimana mungkin seorang bajingan memperoleh keselamatan? Bajingan tidak diizinkan ada di dalam gereja. Mereka tidak pantas hidup di antara umat pilihan Tuhan. Mereka seharusnya dikeluarkan; mereka tidak layak untuk tetap berada di rumah Tuhan.
Ada juga orang yang sangat suka meminjam barang dari orang lain. Entah itu makanan, pakaian, peralatan, komputer, atau perabotan, mereka meminjam segala sesuatu, bahkan uang, perhiasan, dan mobil. Ada orang yang memiliki uang sendiri tetapi tidak membeli barang sendiri; mereka hanya suka meminjam dari orang lain, dengan sengaja mengambil keuntungan dari orang lain. Sebagai contoh, ada orang yang meminjam mobil untuk pergi keluar, dan setelah menghabiskan bahan bakarnya, mereka tidak mengisinya kembali. Bahkan ada yang meminjam mobil dan tidak mengembalikannya, menunggu sampai pemiliknya datang dan memintanya baru mengembalikannya. Ada orang yang meminjam peralatan, dan tidak memperbaikinya setelah merusaknya, bahkan sama sekali tidak meminta maaf. Ada orang yang meminjam uang dan menghabiskan semuanya, tanpa niat untuk mengembalikannya, seolah-olah itu uang mereka sendiri. Mereka hanya berharap pemberi pinjaman melupakannya, dan memang itulah keinginan mereka, dengan sengaja mengambil keuntungan dari orang itu. Mereka menggunakan uang orang lain untuk berbisnis, untuk makanan, minuman, dan hiburan, sementara menyimpan uang mereka sendiri untuk mendapatkan bunga atau berinvestasi saham. Ketika ditanya kapan mereka akan mengembalikan uang itu, mereka berkata, "Aku akan mengembalikannya saat aku punya uang. Bagaimana aku bisa mengembalikannya saat aku tidak punya uang sekarang!" Lihat? Yang sebenarnya tentang mereka tersingkap, bukan? Sejak awal, mereka memang berniat untuk tidak mengembalikannya. Orang macam apa ini? Ini adalah bajingan. Ada orang yang, setelah melihat seseorang memiliki jam tangan yang bagus, meminta untuk meminjamnya selama beberapa hari, dan akhirnya membuat jam tangan itu sangat kotor. Ketika pemiliknya datang untuk mengambilnya kembali, mereka menjadi kesal dan berkata, "Kau sangat pelit! Aku baru meminjamnya beberapa hari dan kau sudah memintanya kembali!" Mentalitas macam apa ini? Selalu ingin mengambil barang-barang bagus milik orang lain untuk dijadikan milik mereka sendiri. Bukankah ini serakah? Mereka merasa bahwa meminjam barang adalah hal yang sepenuhnya sah, jadi mereka selalu mencari kesempatan untuk meminjam dari orang lain. Apa pun yang mereka pinjam, mereka tidak pernah ingin mengembalikannya, berharap barang-barang itu menjadi milik mereka sendiri. Orang macam apakah ini? (Ini adalah bangsat dan bajingan; ini bukan manusia.) Ada begitu banyak bajingan dan orang bukan manusia seperti ini di antara orang tidak percaya; kita tidak akan membahas mereka lebih jauh. Namun, adakah orang-orang semacam ini di antara mereka yang percaya kepada Tuhan? Jika orang semacam itu menyusup ke dalam gereja, bukankah mereka adalah bangsat dan bajingan? (Ya.) Bajingan seperti ini percaya kepada Tuhan hanya untuk memperoleh berkat. Ketika berinteraksi dengan saudara-saudari, mereka selalu memiliki mentalitas memanfaatkan saudara-saudari. Mereka selalu mencari tahu siapa di antara saudara-saudari yang memiliki uang, siapa yang memiliki pengaruh, atau keluarga siapa yang memiliki barang-barang bagus, dan mereka secara khusus menargetkan orang-orang ini. Mereka memanfaatkan siapa pun yang bisa dimanfaatkan dan berinteraksi dengan siapa pun yang mudah diambil keuntungannya. Mereka selalu meminjam barang dari saudara-saudari dan menyuruh mereka melakukan berbagai hal dengan alasan "saudara-saudari adalah satu keluarga", dan bahkan menuntut saudara-saudari untuk menjadi tuan rumah bagi mereka. Beberapa saudara-saudari yang baru mulai percaya kepada Tuhan tidak memahami kebenaran dan tidak memiliki kemampuan untuk membedakan, jadi mereka memperlakukan orang semacam itu sebagai saudara atau saudari, merasa sungkan untuk menolak mereka. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka mendapati bahwa orang ini menumpang hidup di rumah mereka dan tidak mau pergi, makan tanpa henti setiap kali melihat makanan enak, dan mengambil barang-barang bagus sesuka hati. Terlebih lagi, orang ini tidak mengejar kebenaran atau tidak melaksanakan tugasnya sedikit pun, hanya berpikir untuk mengambil keuntungan dari orang lain sepanjang hari. Karena itu, saudara-saudari menjadi jijik terhadapnya. Melihat ada orang-orang semacam itu di rumah Tuhan, beberapa orang bahkan mulai memiliki gagasan tentang Tuhan, berpikir, "Bagaimana mungkin Tuhan memilih orang semacam itu?" Sebenarnya, orang semacam itu tidak dipilih oleh Tuhan; sebaliknya, mereka menyusup ke dalam gereja. Orang-orang yang memberitakan Injil kepada mereka tidak mengetahui latar belakang mereka yang sebenarnya, dan gereja menerima mereka. Situasi seperti ini memang terjadi. Tuhan sama sekali tidak memilih bajingan dan orang yang bukan manusia semacam itu. Jika orang-orang jahat dan bajingan semacam itu ditemukan, mereka seharusnya dijauhi dan ditolak. Jangan memperlakukan mereka sebagai saudara-saudari; mereka hanyalah pendompleng. Jika engkau memperlakukan bajingan semacam itu sebagai saudara atau saudari dan menganggap mereka sebagai orang yang dipilih Tuhan, maka pemahamanmu itu menyimpang. Orang-orang yang Tuhan pilih, setidaknya, adalah mereka dengan kemanusiaan yang baik, yang mampu menerima kebenaran. Tuhan sama sekali tidak akan pernah memilih bajingan dan orang jahat, karena Tuhan tidak menyelamatkan bajingan dan orang jahat; Tuhan tidak menginginkan orang-orang semacam itu. Sekalipun orang-orang semacam itu percaya kepada Tuhan, mereka tetap akan disingkapkan dan disingkirkan oleh-Nya. Apakah sekarang engkau paham? (Ya.) Orang-orang merasa sangat jijik setelah berurusan dengan individu-individu semacam itu, serta merasa benci dan muak terhadap mereka. Jadi, jika mereka berinteraksi dengan Tuhan, mungkinkah Tuhan menyukai orang-orang semacam itu? Jawabannya jelas: Tuhan sama sekali tidak menyukai orang-orang semacam itu, Dia juga tidak akan pernah memilih mereka. Rumah Tuhan tidak membutuhkan orang-orang semacam itu untuk melaksanakan tugas, dan mereka tidak kompeten untuk pekerjaan apa pun. Mereka hanyalah preman, orang-orang yang hanya hidup luntang-lantung tanpa tujuan. Mereka datang ke rumah Tuhan hanya untuk mendompleng. Mereka menganggap semua orang yang percaya kepada Tuhan itu polos, sangat tulus dan penuh kasih, serta bersedia membantu orang lain. Mereka berpikir bahwa sekalipun orang-orang percaya meminjamkan uang kepada mereka, orang-orang itu akan merasa terlalu sungkan untuk memintanya kembali, dan sekalipun mereka tidak mengembalikan uang itu, orang-orang percaya tidak akan melaporkan mereka. Mereka berpikir bahwa paling mudah untuk mengambil keuntungan dari orang-orang ini. Selain itu, karena mereka tidak mau bekerja, mereka hanya meminjam uang dari saudara-saudari. Mereka bisa bertahan hidup tanpa bekerja, dan gereja bisa membantu jika mereka mengalami kesulitan. Tidak hanya biaya sewa rumah mereka yang diurus, tetapi uang saku mereka juga ditanggung, dan mereka menjalani hari-hari mereka tanpa rasa khawatir. Beberapa saudara-saudari tidak memiliki kemampuan membedakan dan akhirnya justru menanggung penghidupan orang-orang semacam itu, benar-benar membiarkan mereka mengambil keuntungan dan memanfaatkan celah. Bukankah ini karena mereka tidak memiliki kemampuan membedakan? (Ya.) Orang-orang terlalu bodoh dan tidak memiliki kemampuan membedakan orang lain, jadi mereka terkadang melakukan hal-hal bodoh. Apakah engkau tahu bagaimana membedakan orang-orang semacam itu sekarang? (Ya.) Karena engkau bisa membedakan mereka, engkau semua harus mengeluarkan orang-orang semacam itu. Mereka bukan umat pilihan Tuhan, jadi tidak perlu menunjukkan kasih apa pun kepada mereka. Mereka selalu ingin mendapatkan sesuatu secara cuma-cuma dan menuai tanpa pernah menabur; mereka adalah preman! Atas dasar apa mereka berhak menghabiskan uang hasil jerih payahmu dan menggunakan barang-barangmu sesuka hati mereka? Menoleransi dan memanjakan orang semacam itu, dan bahkan menanggung penghidupan mereka, bukanlah tugas yang Tuhan berikan kepadamu, ini juga bukan amanat dan misi yang telah Tuhan percayakan kepadamu. Engkau sama sekali tidak memiliki tanggung jawab atau kewajiban untuk menunjukkan kasih kepada mereka. Menunjukkan kasih kepada saudara-saudari sejati adalah sesuai dengan prinsip dan tuntutan Tuhan; ini adalah tanggung jawab dan kewajibanmu. Menyediakan kebutuhan, membantu, dan mendukung saudara-saudari sejati, bahkan dengan bantuan keuangan dan materi, semuanya sesuai dengan maksud Tuhan. Ini adalah perbuatan baik dan diingat oleh Tuhan. Namun, terhadap mereka yang bukan manusia, tidak perlu bersikap sopan, juga tidak perlu bertindak dengan kasih terhadap mereka. Kasih, toleransi, dan kesabaran dimaksudkan untuk saudara-saudari sejati. Terhadap orang yang bukan manusia, bagi para bangsat, bajingan, dan preman, tidak perlu menunjukkan kasih, toleransi, atau kesabaran. Inilah prinsipnya. Terhadap preman, pendompleng yang tidak punya rasa malu dan tidak tahu apa yang benar dan apa yang tidak benar, jika engkau secara membabi buta menunjukkan kesabaran dan kasih kepada mereka, itu adalah tindakan bodoh dan tidak berprinsip, dan Tuhan sama sekali tidak mengingatnya. Tindakanmu melakukan hal-hal ini tidak ada hubungannya dengan kebenaran; itu tidak diterima oleh Tuhan, dan itu sia-sia.
Ada orang-orang yang sering menyerang saudara-saudari, para pemimpin dan pekerja, serta rumah Tuhan dan pengaturan kerja rumah Tuhan; mereka bahkan menyerang dan menghakimi Tuhan. Apa dalih mereka melakukan hal ini? "Aku bertindak adil. Aku tidak punya niat lain. Aku mengatakan hal-hal ini dan melakukan ini dengan sikap yang mencari kebenaran dan bersungguh-sungguh!" Mereka terdengar cukup masuk akal dan berbicara dengan kesan seolah-seolah mereka benar. Padahal, setiap kata yang mereka ucapkan dan segala sesuatu yang mereka lakukan tidak sesuai dengan kebenaran dan merupakan hasil dari pemikiran serta pandangan mereka yang keliru; terlebih lagi, semua itu menyebabkan kekacauan dan gangguan pada pekerjaan gereja, tetapi mereka berpikir, "Apa yang kulakukan itu benar. Aku benar. Kau tidak bisa mengutukku!" Mereka percaya kepada Tuhan, tetapi mereka menyerang-Nya. Hati mereka penuh dengan pembangkangan dan kebencian terhadap Tuhan, dan mereka bahkan meremehkan serta memandang rendah Dia, tetapi mereka tidak menyadari bahwa ini salah, dan malah melakukannya seolah-olah ini adalah hal yang benar, seolah-olah ini adalah tugas dan kewajiban mereka. Di antara umat manusia yang rusak, orang-orang semacam itu dapat dikatakan memiliki masalah yang paling serius. Perwujudan mereka dan apa yang mereka perlihatkan bukanlah pemikiran dan pandangan yang keliru atau cara menangani hal-hal yang biasa terlihat pada orang normal, juga bukan kekurangan dalam kemanusiaan. Sebaliknya, berkaitan dengan apakah perwujudan itu? (Itu berkaitan dengan Tuhan dan pekerjaan rumah Tuhan.) Itu berkaitan dengan sikap orang terhadap hal-hal positif dan terhadap Tuhan. Perwujudan mereka ini tidak hanya berkaitan dengan hubungan antarorang atau cara dan sarana orang dalam menangani berbagai hal; itu berkaitan dengan hubungan antara orang dan Tuhan, bagaimana orang memperlakukan Tuhan, dan sikap orang terhadap-Nya. Orang-orang ini bukan hanya tidak memiliki sedikit pun ketundukan dalam sikap mereka terhadap Tuhan, tetapi di dalam hatinya, mereka juga sering menyerang, menghakimi, dan mengutuk semua pekerjaan serta firman Tuhan yang tidak sesuai dengan gagasan manusia. Mereka bahkan menyangkal bahwa semua firman Tuhan adalah kebenaran, dan dapat menolak semua pengaturan kerja rumah Tuhan. Di luarnya, mereka tidak mengemukakan argumen atau pernyataan apa pun atau tidak menghasut orang secara terang-terangan dan mencolok, tetapi di lubuk hatinya, mereka sering memendam pemikiran yang menghakimi dan menyerang Tuhan. Dari waktu ke waktu, mereka menyebarkan beberapa pemikiran dan pandangan keliru yang menghakimi Tuhan, menyebarkan kenegatifan dan kematian untuk mengganggu hati orang-orang dan menjauhkan mereka dari Tuhan. Esensi orang-orang ini adalah esensi antikristus. Di dalam hatinya, antikristus memiliki begitu banyak pemikiran dan pandangan yang keliru. Meskipun mereka tidak berani mengungkapkannya secara terang-terangan di depan umum, hal-hal ini secara alami terlihat ketika mereka berinteraksi dengan orang-orang secara diam-diam. Katakan kepada-Ku, apakah orang-orang semacam ini bermasalah? (Ya.) Masalah macam apa? (Orang-orang semacam itu memiliki esensi setan, karena tidak ada permusuhan antara Tuhan dan mereka, dan Tuhan mengungkapkan begitu banyak kebenaran untuk menyelamatkan orang-orang, tetapi mereka terus-menerus menyerang dan menghakimi-Nya. Di dalam hatinya, mereka membenci kebenaran dan membenci Tuhan; mereka memiliki esensi setan.) Engkau lihat, Aku sedang berkhotbah di sini, dan sementara semua orang mendengarkan, di lubuk hatinya beberapa orang merenungkan bagaimana mereka dapat memahami dan menerimanya dengan benar: "Apa topik khotbah hari ini? Bagaimana seharusnya aku memeriksa diriku sendiri terhadap perwujudan kerusakan yang diungkapkan ini dan mengenal diriku sendiri?" Mereka memiliki sikap yang menerima. Orang-orang dengan sikap yang menerima ini, yang hidup dalam hati nurani dan nalar kemanusiaan yang normal, sering memperoleh pencerahan dan terang. Di lubuk hatinya, mereka tidak menolak pekerjaan Tuhan atau hal-hal positif. Hanya saja karena kualitas mereka yang buruk, mereka agak lambat dalam memahami kebenaran, dan terkadang keadaan mereka salah karena mereka dikendalikan oleh watak rusak mereka. Namun, hati mereka berusaha untuk mencapai standar kebenaran, dan hubungan mereka dengan Tuhan sering kali normal. Hanya saja terkadang, ketika diganggu oleh watak rusak mereka, mereka jatuh ke dalam keadaan yang negatif dan tidak begitu dekat dengan Tuhan. Namun di dalam hati, mereka tidak meneliti ataupun mempertanyakan Tuhan, mereka juga tidak menentang atau menolak-Nya, apalagi memiliki sikap yang meremehkan Tuhan, mencemooh Tuhan, atau mentertawakan-Nya. Namun, berbeda halnya dengan kelompok orang lainnya. Apa pun topik yang sedang dibahas, mereka tidak mendengarkan khotbah dengan mentalitas yang haus akan kebenaran serta tunduk pada kebenaran dan menerimanya. Sebaliknya, mereka mendengarkan dengan mentalitas yang meneliti dan mempertanyakan: "Mengapa kau mengatakan ini? Apa tujuanmu mengatakan hal-hal ini? Siapa yang sedang berusaha kauungkapkan dan singkapkan? Atau siapa yang sedang berusaha kauserang dan kutuk? Apa hubungan hal ini denganku?" Jika orang lain mampu menerimanya dan menerapkannya pada diri sendiri, mereka merasa kesal. Jika mereka mendapati ada orang yang merasa kebenaran-kebenaran ini berada di luar jangkauannya dan tidak mampu menerapkannya pada diri sendiri, mereka merasa sangat senang dan memiliki rasa pencapaian yang besar: "Akhirnya, aku bisa mengejek Tuhan! Akhirnya, aku mendapatkan sesuatu untuk melawan-Nya!" Mereka sering mendengarkan khotbah dengan mentalitas semacam ini. Terutama ketika beberapa isi khotbah yang dibicarakan membahas keadaan dan perwujudan mereka, mereka tidak bersikap menerima, juga tidak bersikap rendah hati dan sederhana. Sebaliknya, di dalam hatinya, mereka merasa menentang, jijik, dan benci. Mereka merasa bahwa apa yang Kukatakan hanyalah menceramahi dan melontarkan perkataan yang terdengar muluk-muluk. Mereka tidak mau mendengarkan dan tidak dapat menerimanya. Terutama ketika titik sensitif dan kelemahan mereka disinggung, mereka merasa jauh lebih jijik dan benci, dan di dalam hatinya, merasa sangat tidak nyaman. Ketidaknyamanan mereka bukan berasal dari penyesalan atau kesedihan karena fakta bahwa mereka memiliki watak yang rusak, melainkan dari penentangan dan penolakan mereka terhadap metode dan bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan mereka, serta isi pengungkapan tersebut dan esensi mereka sendiri yang tersingkap. Dalam situasi biasa, ketika orang normal menangani suatu pekerjaan gereja, asalkan mereka menerima pengaturan kerja atau penyediaan dan bimbingan dari Yang di Atas dengan sikap rendah hati dan tunduk, mereka akan mengalami beberapa kemajuan setelah beberapa waktu. Mereka akan memahaminya, menemukan beberapa metode, dan menemukan beberapa prinsip serta jalan penerapan. Dengan kata lain, mereka akan terus mengalami kemajuan, berubah, dan memperoleh sesuatu. Namun, berbeda halnya dengan mereka yang memendam penentangan dalam hati mereka. Karena hati mereka penuh dengan sikap yang meneliti, menentang, mengejek, dan waspada terhadap Tuhan, bagi mereka, Tuhan dan kebenaran adalah objek penelitian mereka. Mereka tidak haus akan kebenaran. Ketika melaksanakan tugas, mereka mengandalkan karunia atau kecerdikan picik mereka untuk melakukan berbagai hal. Begitu mereka menghadapi masalah atau kesulitan, mereka tidak akan mencari kebenaran untuk menyelesaikannya. Ketika menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan prinsip-prinsip kebenaran, mereka tidak tahu apa-apa. Apa pun masalah yang mereka hadapi, selama itu berkaitan dengan prinsip-prinsip kebenaran, mereka merasa itu berat, melelahkan, dan di luar jangkauan mereka, seperti memaksa ikan untuk hidup di darat atau memaksa babi untuk terbang. Sekeras apa pun orang-orang semacam itu berusaha, mereka tidak dapat mencapai kebenaran. Apa pun yang mereka katakan, mereka terdengar seperti orang awam, membuatmu ragu apakah mereka pernah membaca firman Tuhan atau mempersekutukan kebenaran selama bertahun-tahun mereka percaya, dan apakah mereka benar-benar pernah menjalani kehidupan bergereja. Itu benar-benar membingungkan. Bukankah orang-orang semacam itu sangat merepotkan? Aku punya istilah untuk menggambarkan mereka: Mereka tidak memiliki aura rohani. Artinya, bahkan ketika melakukan hal yang paling sederhana, mereka tidak tahu bagaimana melakukannya, dan tidak dapat memahaminya sekalipun mereka mengerahkan upaya. Tidak memiliki aura rohani tidak selalu berarti bahwa seseorang terlihat lamban dan lesu. Sebaliknya, itu berarti mereka tidak berpikir ketika melakukan berbagai hal. Apa pun yang mereka lakukan, mereka tidak dapat menemukan prinsip atau arah, dan seberapa lama pun mereka melakukannya, mereka tidak dapat memahami aturan yang terlibat. Ini terutama berlaku untuk berbagai pekerjaan di rumah Tuhan. Meskipun orang-orang semacam itu mungkin berpendidikan, relatif muda, dan terlihat cerdas, mereka tampak sangat canggung saat melaksanakan tugas dan melakukan pekerjaan di rumah Tuhan. Melihat mereka saja sudah membuat orang marah; itu tampak membingungkan. Mereka adalah orang yang hidup, bernapas, berpendidikan dan berbakat, bagaimana mereka bisa begitu tidak kompeten dalam setiap pekerjaan? Bagaimana mereka bisa secanggung ini? Padahal, pekerjaan yang mereka lakukan di dunia tidaklah buruk, jadi mengapa mereka begitu canggung dan tidak cakap saat melakukan pekerjaan rumah Tuhan? Ada masalah di sini. Setelah orang-orang semacam itu percaya kepada Tuhan selama tiga sampai lima tahun, yang mereka pahami hanyalah beberapa kata dan doktrin. Mereka hanya meneriakkan slogan-slogan saat mereka berbicara dan sama sekali tidak memiliki prinsip dalam tindakan mereka. Setelah mereka percaya selama tujuh atau delapan tahun, hal yang mereka katakan masih sama, tanpa kemajuan sedikit pun. Seperti bunga plastik, mereka tidak berubah sama sekali. Mereka tidak memiliki pengenalan akan diri sendiri, tidak memiliki jalan masuk ke dalam firman Tuhan, dan tidak memperoleh apa pun. Ketika mempersekutukan kebenaran, mereka seperti sedang bercerita atau berbicara tentang urusan rumah tangga; mengapa kedengarannya sangat canggung? Orang lain berkata, "Kita harus melaksanakan tugas kita dengan penuh pengabdian, mempersembahkan ketulusan kita, dan melaksanakan tugas kita dengan baik, serta mengorbankan diri kita untuk Tuhan." Namun, apa yang mereka katakan? "Mari kita bekerja keras saja, mengerahkan segenap kemampuan kita, dan melakukan pekerjaan dengan baik!" Setelah percaya kepada Tuhan selama lebih dari satu dekade, mereka bahkan tidak bisa mengucapkan perkataan "melaksanakan tugas dengan penuh pengabdian". Mereka hanya bisa berkata, "Kerahkan lebih banyak upaya, lakukan lebih banyak pekerjaan, lakukan berbagai hal bagi rumah Tuhan, dedikasikan hidup kita untuk bekerja bagi rumah Tuhan. Kita tidak punya banyak hal, tetapi kita punya kekuatan!" Semua ini adalah perkataan yang diucapkan orang awam; mereka bahkan tidak dapat menggunakan istilah-istilah rohani sepenuhnya. Orang-orang semacam itu telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, setidaknya tujuh atau delapan, atau lebih dari sepuluh tahun. Mereka telah melaksanakan tugas di rumah Tuhan selama ini dan telah cukup banyak mendengarkan khotbah. Jadi, mengapa mereka tidak dapat menggunakan istilah-istilah rohani dengan benar ketika berbicara? Apa yang dipikirkan, yang menyita pikiran, yang direnungkan, dan dipertimbangkan oleh orang-orang semacam itu di dalam hati mereka setiap hari? Itu benar-benar sebuah misteri! Jika engkau mengamati mereka selama beberapa waktu, engkau akan mendapati bahwa apa yang mereka pikirkan, renungkan, dan yang menyita pikiran mereka setiap hari sebenarnya adalah semua hal daging itu. Mereka berpikiran sempit, picik, dan sangat perhitungan, terus memikirkan siapa yang baik dan siapa yang buruk, dendam pribadi, serta hal sepele dan hal tidak berarti semacam itu, yang tidak ada hubungannya dengan kebenaran. Semua pemikiran, ide, dan sudut pandang mereka keliru, tidak masuk akal, dan konyol. Di luarnya, orang-orang semacam itu terlihat berpendidikan dan memiliki kualitas; beberapa bahkan pernah menjalankan bisnis di tengah masyarakat. Mengapa setelah mereka percaya kepada Tuhan, mereka tampaknya tidak memiliki aura rohani sedikit pun? Tidak peduli bagaimana engkau melihat mereka, mereka hanya tampak seperti boneka kayu atau robot. Mengapa mereka begitu canggung dalam tugas apa pun yang mereka laksanakan? Mengapa istilah-istilah rohani terdengar begitu canggung saat keluar dari mulut mereka? Mereka bahkan tidak sebaik burung beo yang bisa menirukan ucapan. Jika engkau terus berkata "Amin, syukur kepada Tuhan!" di depan burung beo, burung itu bisa belajar mengucapkannya dengan sangat fasih. Namun orang-orang ini bahkan tidak bisa mengucapkan "syukur kepada Tuhan"; mereka mengucapkan "terima kasih, Tuhan". Selain itu, jika engkau melihat prinsip-prinsip mereka dalam menangani berbagai hal, apa yang mereka pikirkan, perhitungkan, dan rencanakan di dalam hati mereka setiap hari, dan apa yang mereka cintai dan kejar dengan penuh semangat di dalam hatinya, itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan hal-hal positif; semuanya adalah hal-hal yang berasal dari tren-tren jahat, hal-hal negatif. Oleh karena itu, apa yang dipikirkan orang-orang ini di dalam hatinya, semuanya jahat; pernyataan ini sama sekali tidak salah. Bahkan ketika mereka bersekutu dalam pertemuan, isi persekutuan mereka serta pemikiran dan pandangan yang mereka perlihatkan semuanya menyimpang. Mereka sama sekali tidak mencari kebenaran dan tidak mampu memperoleh pencerahan atau penerangan. Ketika orang lain bersekutu dan membagikan pencerahan, penerangan, dan pemahaman pribadi tentang firman Tuhan, mereka tampak sangat canggung, merasa terasing, dan sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ketika menyangkut berjerih payah dan bekerja, mereka memiliki kekuatan dan bersedia bekerja keras, tetapi jika engkau meminta mereka untuk mempersekutukan kebenaran, mereka tidak dapat mengatakan apa pun. Berapa tahun pun orang-orang semacam itu percaya kepada Tuhan, mereka tidak pernah menyadari jalan apa yang seharusnya orang tempuh dalam hidup atau apa yang paling berharga untuk dikejar. Orang yang memiliki sedikit hati nurani dan nalar, sekalipun tidak percaya kepada Tuhan, dapat memiliki sebagian akal sehat dan wawasan yang seharusnya orang miliki dalam hidup pada saat mereka berusia lima puluh atau enam puluh tahun; pada tingkat yang lebih dalam, mereka juga dapat mengenali beberapa falsafah hidup. Terlebih lagi, ini berlaku bagi orang-orang yang percaya kepada Tuhan; setelah percaya selama sepuluh atau dua puluh tahun, mereka dapat memahami beberapa kebenaran dan memiliki iman yang sejati serta hati yang takut akan Tuhan. Namun, mereka yang tidak mencintai kebenaran, berapa tahun pun mereka percaya kepada Tuhan, tidak memiliki kesadaran atau perasaan apa pun tentang hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan mereka, jalan apa yang harus ditempuh, atau hal-hal rohani dalam hidup. Sekalipun mereka hidup sampai usia seratus tahun, mereka hanya akan mampu mengucapkan beberapa doktrin itu dan berpaut pada beberapa sudut pandang itu dengan keras kepala. Bukankah orang-orang semacam itu sangat merepotkan? Orang macam apa mereka? Jika orang-orang semacam itu memiliki kemanusiaan yang jahat, mereka adalah para setan dan Iblis. Jika mereka bukan orang jahat melainkan hanya orang yang bingung, mati rasa, dan lamban berpikir, apa mereka itu? (Binatang.) Itu berarti mereka bereinkarnasi dari binatang; itu sepenuhnya benar. Baik mereka yang bereinkarnasi dari setan maupun mereka yang bereinkarnasi dari binatang memiliki ciri yang sama: Mereka tidak menerima kebenaran dan muak akan kebenaran. Selama engkau mempersekutukan kebenaran, mereka yang bereinkarnasi dari setan dengan jelas memperlihatkan kemuakan dan penentangan; mereka memiliki ide, pemikiran, dan pandangan yang jelas yang menargetkan setiap kebenaran. Namun, mereka yang bereinkarnasi dari binatang tidak memiliki pemikiran dan pandangan yang jelas; mereka bingung. Mereka hanya merasa jijik di dalam hatinya dan tidak menerima kebenaran. Mereka juga memiliki beberapa pemikiran dan pandangan yang menyimpang yang sama sekali tidak dapat dipertahankan. Ini adalah pandangan-pandangan yang tidak dapat diungkapkan secara terbuka, dan yang tidak akan pernah dikatakan oleh orang normal mana pun, tetapi mereka sangat menghargainya. Singkatnya, perwujudan dari mereka yang bereinkarnasi dari setan maupun mereka yang bereinkarnasi dari binatang adalah memiliki sikap kejijikan dan kebencian yang ekstrem terhadap kebenaran: Yang bereinkarnasi dari setan memiliki kejijikan, kebencian, dan pengutukan yang sangat subjektif; yang bereinkarnasi dari binatang memiliki kejijikan, kebencian, dan sikap menjauh yang tanpa disadari; meskipun tidak sama radikalnya, natur dari sikap mereka terhadap kebenaran sama. Oleh karena itu, sebanyak apa pun khotbah yang didengar oleh kedua jenis orang ini, mereka tidak dapat memahaminya atau tidak mengerti karena mereka sama sekali tidak dapat menerimanya. Jika orang telah percaya kepada Tuhan selama tiga atau lima tahun dan tidak dapat menggunakan istilah-istilah rohani sepenuhnya atau dengan baik, ini dapat dimaklumi, karena istilah-istilah rohani sangat asing bagi semua orang; itu adalah jenis bahasa yang baru. Ketika orang baru mulai percaya kepada Tuhan, mereka tidak memahami istilah-istilah rohani yang mereka dengar dengan sangat baik, dan ada banyak yang asing bagi mereka. Namun, setelah percaya kepada Tuhan selama lebih dari lima tahun, karena mereka sering mendengarkan khotbah, mempersekutukan kebenaran, dan terpapar bahasa ini, mereka secara bertahap mengenalnya. Mereka akan mampu mengucapkannya dengan mudah, fasih, alami, dan bebas. Mereka akan mampu menggunakannya, dan itu akan menjadi bahasa mereka sendiri dan bagian dari kehidupan mereka. Ini adalah perwujudan orang normal. Mereka yang tidak memiliki perwujudan orang normal tidak dapat mencapai hal-hal ini. Bahkan ketika mereka mengucapkan beberapa istilah rohani dasar, itu terdengar sangat canggung dan sulit dipahami orang lain. Ketika engkau berinteraksi dengan orang-orang semacam itu, kecil kemungkinan engkau akan mendengar mereka mengatakan satu hal pun yang mendidik kerohanian orang lain, atau yang rasional atau lengkap. Apa pun yang mereka katakan tidaklah lengkap—ada awalnya tetapi tidak ada akhirnya, atau ada akhirnya tetapi tidak ada awalnya—atau tidak ada logika dalam cara berpikir mereka, hanya rentetan omong kosong. Setelah hidup begitu lama, mereka masih tidak tahu cara berbicara. Mereka tidak dapat mengungkapkan, menggambarkan, atau menjelaskan dengan gamblang apa yang sedang mereka pikirkan atau apa yang telah mereka alami. Mereka selalu berbicara dalam kalimat yang terpotong-potong, selalu memancarkan kebodohan, atau mengungkapkan pemikiran dan pandangan yang menyimpang. Dari sudut mana pun engkau melihatnya—sikap mereka terhadap Tuhan, apa yang mereka perlihatkan, dan perwujudan kemanusiaan mereka dalam kehidupan sehari-hari, atau fakta bahwa mereka tidak memperoleh apa pun setelah hidup selama bertahun-tahun—orang-orang semacam itu bukanlah manusia. Mudahkah bagi orang yang bukan manusia untuk memahami kebenaran? (Tidak.) Sekarang menjadi makin jelas bahwa tidak mudah bagi orang-orang semacam itu untuk memahami kebenaran.
Tentang mengetahui apa yang benar dan apa yang tidak benar, setelah membahas contoh-contoh ini, bukankah sekarang engkau seharusnya tahu bagaimana membedakan apa yang benar dan apa yang tidak benar? Sebagian besar contoh yang telah kita bahas adalah negatif. Melalui perbandingan dengan contoh-contoh negatif ini, orang pada dasarnya seharusnya tahu hal-hal mana yang merupakan hal positif. Siapa pun yang memiliki sifat kemanusiaan memiliki kesadaran akan hal-hal negatif semacam itu. Oleh karena itu, orang normal hanya akan melakukan hal-hal semacam itu dalam situasi khusus, dan setelah melakukannya, mereka akan merasa sedih dan menderita, serta memiliki sikap yang bertobat. Namun, berbeda halnya dengan orang yang bukan manusia. Sekalipun mereka melakukan hal-hal ini selama seratus tahun, mereka tidak akan tahu bahwa mereka salah; mereka akan tetap berpikir bahwa mereka benar dan bersikeras sampai akhir. Jika engkau menyingkapkan bahwa apa yang mereka lakukan itu salah, mereka akan membalas, "Atas dasar apa kaukatakan bahwa apa yang kulakukan ini salah? Aku telah melakukan ini selama bertahun-tahun, dan tak seorang pun pernah mengatakan bahwa aku salah." Bagaimana perasaanmu ketika mendengar mereka mengatakan ini? (Aku merasa orang ini tidak memiliki nalar.) Mereka memang tidak memiliki nalar. Engkau memberi tahu mereka bahwa melakukan ini salah, tetapi mereka tidak menerimanya, tetap tidak menyadari tentang apa yang benar dan apa yang tidak benar. Kemudian, engkau hanya bisa terdiam: "Kau tidak mungkin bisa diajak bernalar; aku tidak mau bicara lagi denganmu!" Sekarang, apakah engkau mengerti dengan jelas tentang perwujudan orang yang bukan manusia? (Ya.) Orang yang bukan manusia tidak memahami hal-hal tentang kehidupan, hal-hal tentang perasaan, cara berperilaku dan menangani berbagai hal, atau hal-hal yang berkaitan dengan integritas dan martabat; dapat juga dikatakan bahwa hal-hal ini berada di luar jangkauan mereka. Tanpa merasa tertegur dalam hati nuraninya, mereka memilih pemikiran, pandangan, dan metode yang keliru itu untuk memperlakukan orang dan menghadapi berbagai hal, dan dalam cara mereka berperilaku serta bertindak. Terlebih lagi, mereka secara membabi buta bersikeras dan yakin bahwa melakukan hal itu adalah benar. Ini memperlihatkan bahwa sama sekali tidak ada hati nurani atau nalar dalam kemanusiaan mereka. Jadi, jelaslah bahwa orang-orang ini tidak memiliki sifat kemanusiaan; hanya dapat dikatakan bahwa mereka bukanlah manusia. Mereka tidak memiliki sedikit pun hati nurani atau nalar, dan hidup sepenuhnya berdasarkan falsafah Iblis, berpikir bahwa mereka itu hebat dan tidak mau tunduk pada siapa pun. Setelah percaya kepada Tuhan, jika orang-orang ini sedikit saja mengorbankan diri untuk Tuhan, mereka kemudian berpikir bahwa mereka adalah orang-orang yang mengasihi Tuhan dan tunduk kepada-Nya. Orang-orang semacam itu mungkin mengaku bahwa mereka mengasihi Tuhan, tetapi di dalam hatinya, mereka masih memendam gagasan tentang Dia, dan ketika mereka melihat Tuhan melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan gagasan mereka, mereka masih dapat menghakimi dan menentang Tuhan. Dalam situasi semacam itu, mereka bahkan berani-beraninya tanpa malu menyatakan bahwa merekalah yang paling mengasihi Tuhan. Bukankah mereka tidak memiliki nalar? Ada begitu banyak orang seperti ini di dalam agama. Mereka berbicara tentang Alkitab, dan di luarnya mereka tampak memahami semua doktrin, tetapi mereka tidak mampu mengenali kebenaran yang diungkapkan oleh Tuhan. Meskipun percaya kepada Tuhan Yesus, mereka mengutuk Tuhan yang berinkarnasi. Orang-orang percaya kepada Tuhan tetapi menentang-Nya, dan bahkan dapat mencoba mencari-cari kesalahan-Nya dan menyerang-Nya. Mereka selalu mencoba bersiasat terhadap Tuhan, selalu ingin menghakimi Tuhan, selalu ingin menilai apakah firman Tuhan benar atau salah, menilai apakah tindakan Tuhan benar atau salah, dan meneliti apakah Tuhan benar atau salah. Apakah orang-orang semacam itu memiliki hati nurani atau nalar? Engkau percaya kepada Tuhan, makan dan minum firman-Nya, dan menikmati begitu banyak kasih karunia-Nya serta begitu banyak berkat-Nya, tetapi selama engkau mendapati Tuhan melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan gagasanmu, engkau berani menghakimi Tuhan, menentang Tuhan, dan mengutuk Tuhan. Inilah yang disebut tidak memiliki nalar. Orang yang tidak memiliki nalar bukanlah manusia; mereka tidak pantas untuk percaya kepada Tuhan dan tidak pantas untuk datang ke hadapan Tuhan.
Baiklah, sekian persekutuan kita hari ini. Sampai jumpa!
27 April 2024