Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Perkataan Kristus pada Akhir Zaman

Warna yang Kuat

Tema

Font

Ukuran Font

Spasi Baris

Lebar laman

% Hasil Pencarian

Hasil tidak ditemukan

Keyakinan kepada Tuhan Harus Berfokus pada Realitas, Bukan Ritual Keagamaan

Berapa banyak ibadah keagamaan yang engkau praktikkan? Berapa kali engkau telah memberontak terhadap firman Tuhan dan menyimpang mengikuti jalanmu sendiri? Seberapa sering engkau melakukan firman Tuhan karena sesungguhnya engkau menanggung beban-Nya dan berupaya memenuhi kehendak-Nya? Pahamilah firman Tuhan dan wujudkan dalam tindakan. Tanamkan prinsip dalam tindakan dan perbuatanmu. Ini lebih dari sekadar mematuhi peraturan atau melakukannya dengan enggan untuk citra semata. Namun, inilah praktik kebenaran dan hidup oleh firman Tuhan. Hanya praktik ini yang memuaskan hati Tuhan. Setiap ibadah untuk menyenangkan Tuhan tidak dilakukan karena aturan, melainkan demi kebenaran.

Beberapa orang cenderung menjadikan dirinya pusat perhatian. Di hadapan saudara dan saudari seimannya, orang ini berkata bahwa ia berutang kepada Tuhan. Namun di belakang mereka, ia tidak melakukan kebenaran dan berbuat hal yang sama sekali bertentangan. Bukankah ini tak ubahnya dengan kaum Farisi yang agamawi? Orang yang sungguh mengasihi Tuhan dan berpegang pada kebenaran adalah orang yang setia kepada Tuhan, namun tidak merasa perlu menunjukkannya kepada orang lain. Ia bersedia melakukan kebenaran sekalipun muncul persoalan, dan tidak berbicara atau bertindak jika bertentangan dengan hati nuraninya. Ia bersikap bijak di tengah masalah dan meneguhkan prinsip dalam perbuatan tanpa memandang keadaannya. Orang seperti inilah yang dapat dikatakan sungguh-sungguh melayani. Ada orang-orang yang mengucapkan janji di bibir belaka untuk menunaikan kewajiban kepada Tuhan. Mereka menjalani hari dengan mengerutkan kening penuh kekhawatiran, wajah penuh kepura-puraan, dan raut muka cemberut. Betapa memuakkan! Jika ditanya, "Dalam hal apa engkau berkewajiban kepada Tuhan? Jawablah pertanyaanku!" Ia akan terdiam. Jika engkau setia kepada Tuhan, jangan hanya bicara di muka umum. Tunjukkan kasihmu kepada Tuhan melalui tindakan nyata dan berdoalah kepada-Nya dengan hati yang tulus. Mereka yang hanya berelasi dengan Tuhan melalui perkataan adalah orang munafik! Sebagian orang berbicara tentang kewajiban mereka kepada Tuhan melalui doa, sembari berlinang air mata dalam setiap doa mereka, sekalipun tanpa sentuhan Roh Kudus. Orang-orang seperti ini begitu terbebani dengan berbagai ritual agamawi dan pemikirannya sendiri. Mereka hidup dengan ritual dan pemikiran tersebut, selalu mengira bahwa tindakan itu dapat menyenangkan Tuhan. Mereka menyangka kemurahan Tuhan dapat diraih dengan kesalehan semu atau air mata sedih. Adakah kebaikan untuk kekonyolan ini? Demi memamerkan kerendahan hati, sebagian orang mengenakan topeng keluguan ketika berbicara di hadapan orang lain. Sebagian lagi sengaja merendahkan diri seperti budak di hadapan orang lain, bak domba tak berdaya sama sekali. Inikah perilaku orang yang tinggal di kerajaan Tuhan? Orang yang tinggal di kerajaan Tuhan harus hidup dengan penuh semangat dan bebas, tulus, dan terbuka, dengan jujur serta penuh kasih. Orang ini hidup dalam kebebasan sejati. Ia menjunjung karakter dan martabat. Ia mampu menjadi saksi Kristus di mana pun ia berada. Ia dikasihi Tuhan dan sesamanya. Mereka yang baru bertobat biasanya terlalu berfokus pada praktik lahiriah. Mereka harus mengalami masa pasang dan surut. Dari luar, hati orang yang beriman kepada Tuhan memang tidak berbeda dengan hati orang lain. Namun, tindakan dan perbuatannya terhadap orang lain sangat terpuji. Inilah mereka yang dianggap telah mengamalkan firman Tuhan. Meskipun engkau memberitakan Injil setiap hari dan menuntun orang ke jalan keselamatan, jika pada akhirnya engkau sendiri terperosok ke dalam aturan dan doktrin, engkau tidak dapat memuliakan Tuhan. Inilah perilaku kaum agamawi, dan orang-orang munafik.

Setiap kali kaum agamawi berkumpul, mereka bertanya, "Saudaraku, bagaimana keadaanmu?" Ia menjawab, "Aku merasa berutang kepada Tuhan dan aku tidak mampu memenuhi kerinduan hati-Nya." Yang lain berujar, "Aku juga berutang kepada Tuhan dan tidak mampu memuaskan-Nya." Kalimat semacam ini sesungguhnya mengungkap kekejian yang mengakar di dalam hati mereka. Inilah kalimat yang paling menjijikkan. Sifat orang-orang ini menentang Tuhan. Mereka yang memusatkan perhatian pada realitas mengeluarkan segala isi hatinya dan membuka hati dalam komunikasi mereka. Tiada kepalsuan, tidak pula ada basa-basi atau senda gurau kosong. Yang ada hanyalah keterbukaan, tanpa terkekang aturan duniawi. Ada orang yang gemar pamer, sekalipun tanpa alasan yang masuk akal. Saat orang lain bernyanyi, ia mulai menari, tanpa menyadari bahwa kebusukannya tercium hingga hidung orang lain. Perilaku manusia seperti ini jauh dari kata saleh maupun terhormat, dan jelas-jelas terlalu sembrono. Inilah manifestasi krisis realitas! Beberapa orang berkumpul untuk membahas perihal hidup di dalam Roh. Meski mereka tidak membahas tentang kewajiban kepada Tuhan, mereka menyimpan kasih kepada Tuhan dalam hatinya. Kewajibanmu kepada Tuhan tidak ada kaitannya dengan orang lain. Ini karena engkau berutang kepada Tuhan, bukan manusia. Jadi, apa gunanya terus membahasnya dengan orang lain? Engkau harus menekankan pentingnya mendalami realitas, bukan kegiatan lahiriah atau aksi pamer.

Apa sesungguhnya yang tersembunyi di balik kebaikan palsu? Ini hanya nafsu kedagingan! Bahkan, praktik lahiriah terbaik sekalipun tidak menggambarkan kehidupan, namun hanya temperamen individu. Praktik lahiriah manusia tidak dapat memenuhi keinginan Tuhan. Engkau terus-menerus berbicara tentang kewajibanmu kepada Tuhan, tetapi tidak membantu hidup orang lain atau mendorong orang lain mengasihi Tuhan. Yakinkah engkau bahwa tindakan seperti itu akan memuaskan Tuhan? Engkau meyakini bahwa inilah keinginan hati Tuhan dan berasal dari Roh Tuhan. Namun, sebenarnya, ini tidak masuk akal! Engkau percaya bahwa hal yang engkau sukai dan kehendaki juga disukai Tuhan. Benarkah hal yang engkau sukai sama dengan hal yang disukai Tuhan? Lalu, dapatkah karakter manusia menggambarkan kemuliaan Tuhan? Apa yang engkau sukai adalah hal yang Tuhan benci, serta kebiasaanmu adalah apa yang Tuhan benci dan tolak. Jika engkau merasa berutang, datang dan berdoalah kepada Tuhan. Engkau tidak perlu membicarakannya dengan orang lain. Jika engkau tidak berdoa di hadapan Tuhan dan hanya terus-menerus menjadikan dirimu pusat perhatian di hadapan orang lain, dapatkah hal ini memenuhi keinginan hati Tuhan? Jika tindakanmu sekadar aksi pamer, engkau tidak lain adalah manusia yang paling sia-sia. Bagaimana dengan orang yang melakukan kebaikan palsu dan hampa makna? Mereka inilah kaum Farisi atau agamawi yang munafik! Jika engkau tidak menanggalkan praktik lahiriah dan tidak membuat perubahan hidup, kadar kemunafikan dalam dirimu akan kian meluap. Semakin tinggi kadar kemunafikan, semakin kuat engkau menentang keinginan Tuhan. Pada akhirnya, orang—orang ini sungguhlah kaum yang terbuang!

Sebelumnya:Deru Tujuh Guruh—Menubuatkan Bahwa Injil Kerajaan Akan Tersebar ke Seluruh Alam Semesta

Selanjutnya:Hanya Mereka yang Mengenal Pekerjaan Tuhan Saat Ini yang Dapat Melayani Tuhan

Anda Mungkin Juga Menyukai