Bab Dua Belas: Mereka Ingin Mundur Ketika Tidak Memiliki Status atau Tidak Ada Harapan untuk Memperoleh Berkat
Persekutuan hari ini adalah tentang butir yang kedua belas dari berbagai perwujudan antikristus, yaitu mereka ingin mundur ketika tidak memiliki status atau tidak ada harapan untuk memperoleh berkat. Butir ini juga berkaitan dengan watak antikristus dan merupakan salah satu perwujudan konkretnya. Dari sudut pandang yang dangkal, seorang antikristus akan mundur jika tidak memiliki status dan tidak ada harapan untuk memperoleh berkat. Begitu kehilangan dua hal tersebut, mereka akan langsung ingin mundur. Penafsiran dangkalnya tampak sangat mudah dipahami—tidak terlalu rumit atau abstrak, tetapi apa saja perwujudan spesifiknya? Dengan kata lain, situasi seperti apa yang menyebabkan seorang antikristus ingin mundur karena berdampak pada status dan harapannya untuk memperoleh berkat? Apakah ini layak untuk dipersekutukan secara mendalam? Jika engkau semua diminta untuk membagikan persekutuan tentang hal ini, apakah yang akan engkau semua katakan tentang detail dan perwujudan spesifiknya? Sebagian mungkin berkata, "Kami sudah sering mempersekutukan hal ini. Antikristus mencintai status dan kekuasaan, mereka menyukai reputasi tinggi, dan tujuannya dalam beriman adalah untuk diberkati, dimahkotai, dan diberi upah. Jika harapan ini hancur dan hilang, mereka akan kehilangan minatnya untuk percaya kepada Tuhan dan tidak mau lagi beriman." Apakah persekutuan engkau semua tentang hal tersebut akan sesederhana beberapa kata ini saja? (Ya.) Jika memang sesingkat itu, dan persekutuan ini bisa disimpulkan dalam beberapa kalimat saja, aspek perwujudan antikristus ini tidak layak dimasukkan sebagai bagian terpisah dalam rangkaian persekutuan kita tentang perwujudan antikristus, juga tidak akan menyentuh esensi naturnya. Namun, karena butir ini berkaitan dengan esensi dan watak antikristus, serta berkaitan dengan tujuan pribadi dan pandangan hidupnya, maka sudah tentu ini adalah topik yang melibatkan berbagai aspek. Jadi, apa saja aspek spesifik yang terlibat? Dengan kata lain, hal apa saja yang dihadapi antikristus yang berdampak pada status dan harapannya untuk meraih berkat? Apa pandangan, pemikiran, dan sikapnya terkait masalah tersebut? Tentu saja, ada sedikit tumpang tindih antara persekutuan ini dan persekutuan kita sebelumnya tentang pandangan antikristus terhadap berbagai hal, tetapi persekutuan hari ini fokusnya berbeda, dan pembahasannya dilakukan dari sudut pandang yang berbeda pula. Hari ini kita akan secara khusus bersekutu tentang perwujudan yang muncul ketika antikristus kehilangan status dan harapannya untuk memperoleh berkat. Hal ini dapat membuktikan bahwa pandangan antikristus dalam mengejar sesuatu tidaklah benar dan mereka tidak memiliki iman yang sejati kepada Tuhan, juga dapat membuktikan bahwa mereka memang memiliki esensi seorang antikristus.
I. Perilaku Antikristus Ketika Dipangkas
Pertama, kita harus melihat perilaku yang ditunjukkan oleh antikristus ketika dipangkas; bagaimana mereka menghadapi situasi ini; sikap, pikiran, dan pandangannya terhadap pemangkasan; serta apa yang secara spesifik mereka katakan dan lakukan. Semua ini layak untuk kita telaah dan analisis. Kita telah banyak bersekutu tentang topik pemangkasan; ini adalah topik umum yang sudah sangat dikenal oleh semua orang. Sebagian besar orang, setelah beberapa kali mengalami pemangkasan akan mulai mengalami perubahan. Mereka dapat mencari kebenaran dan menangani berbagai persoalan sesuai prinsip ketika melaksanakan tugasnya. Hanya dengan demikian, iman mereka mulai diperbarui dan mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Dapat dikatakan bahwa setiap kali seseorang mengalami pemangkasan yang keras, itu akan selalu diingat dan tidak akan terlupakan. Tentu saja, setiap pemangkasan juga akan selalu diingat oleh antikristus, tetapi di manakah letak perbedaannya? Sikap antikristus terhadap pemangkasan, berbagai perwujudannya, serta pemikiran, pandangan, ide, dan sebagainya yang muncul dari situasi tersebut, sangat berbeda dari orang pada umumnya. Ketika antikristus dipangkas, hal pertama yang mereka lakukan adalah menentang dan menolaknya di lubuk hati mereka. Mereka melawannya. Dan mengapa mereka melakukannya? Ini karena, berdasarkan esensi natur mereka, antikristus muak akan kebenaran dan membencinya, dan mereka sama sekali tidak menerima kebenaran. Tentu saja, esensi dan watak antikristus menghalangi mereka untuk mengakui kesalahan mereka sendiri atau mengakui watak rusak mereka sendiri. Berdasarkan dua fakta ini, sikap antikristus ketika mereka dipangkas adalah sama sekali menolak dan menentang sepenuhnya. Mereka membencinya dan menentangnya dari lubuk hati, dan tidak memiliki sedikit pun penerimaan atau ketundukan, apalagi perenungan atau pertobatan sejati. Ketika antikristus dipangkas, siapa pun yang melakukannya, berkenaan dengan apa pun, sejauh mana pun mereka harus disalahkan atas masalah ini, sejelas apa pun kesalahan mereka, sebanyak apa pun kejahatan yang mereka lakukan, atau konsekuensi apa pun yang diakibatkan oleh kejahatan mereka terhadap pekerjaan gereja—antikristus tidak memikirkan semuanya ini. Bagi antikristus, orang yang memangkas mereka adalah orang yang mengasingkan mereka, atau mencari-cari kesalahan untuk menyiksa mereka. Antikristus bahkan mungkin menganggap diri mereka sedang dirundung dan dipermalukan, bahwa mereka tidak diperlakukan sebagai manusia, dan bahwa mereka diremehkan dan dicemooh. Setelah antikristus dipangkas, mereka tidak pernah merenungkan apa sebenarnya perbuatan salah mereka, watak rusak apa yang telah mereka perlihatkan, dan apakah mereka telah mencari prinsip yang seharusnya mereka patuhi, apakah mereka bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran, atau memenuhi tanggung jawab mereka dalam hal yang tentangnya mereka dipangkas. Mereka tidak memeriksa atau merenungkan semua ini, mereka juga tidak memikirkan dan merenungkan masalah ini. Sebaliknya, mereka memperlakukan pemangkasan terhadap diri mereka sesuai keinginan mereka sendiri dan dengan sikap yang gampang marah. Setiap kali antikristus dipangkas, mereka akan penuh dengan kemarahan, ketidaktaatan, dan kebencian, dan tidak akan mendengarkan nasihat dari siapa pun. Mereka tidak mau menerima diri mereka dipangkas, dan tidak mampu kembali ke hadapan Tuhan untuk mengenal dan merenungkan diri mereka sendiri, untuk menangani tindakan mereka yang melanggar prinsip, seperti bersikap asal-asalan atau berperilaku buruk dalam tugas mereka, dan mereka juga tidak menggunakan kesempatan ini untuk mengatasi watak rusak mereka sendiri. Sebaliknya, mereka mencari-cari alasan untuk membela diri, membenarkan diri, dan mereka bahkan akan mengatakan hal-hal untuk memancing konflik dan menghasut orang lain. Singkatnya, ketika antikristus dipangkas, perwujudan spesifiknya adalah ketidaktaatan, ketidakpuasan, perlawanan, dan pembangkangan. Dalam hatinya, mereka pun mengeluh, "Aku sudah membayar harga yang begitu besar dan melakukan banyak pekerjaan. Meskipun aku tidak mengikuti prinsip atau mencari kebenaran dalam beberapa hal, aku tidak melakukan semua itu untuk diriku sendiri! Bahkan jika aku menyebabkan sejumlah kerusakan pada pekerjaan gereja, itu bukan disengaja! Siapa yang tidak pernah melakukan kesalahan? Engkau tidak bisa terus-menerus mempersoalkan kesalahanku dan memangkasku tanpa mempertimbangkan kelemahanku, tanpa peduli suasana hati atau harga diriku. Rumah tuhan tidak punya kasih terhadap orang-orang, dan ini sangat tidak adil! Lagi pula, engkau memangkasku hanya karena kesalahan kecil—bukankah itu berarti engkau tidak menyukaiku dan ingin menyingkirkanku?" Ketika antikristus dipangkas, hal pertama yang timbul dalam pikirannya bukanlah dorongan untuk merenungkan kesalahan yang telah mereka lakukan atau watak rusak yang telah mereka perlihatkan, tetapi untuk membantah, menjelaskan, dan membenarkan diri sendiri sambil membuat dugaan-dugaan. Dugaan seperti apa? Mereka akan berpikir, "Aku telah membayar harga yang begitu besar dalam menjalankan tugasku di rumah tuhan, tetapi akhirnya justru dipangkas. Kelihatannya tidak banyak harapan bagiku untuk memperoleh berkat. Apakah mungkin tuhan tidak ingin memberi upah kepada manusia sehingga dia menggunakan cara ini untuk menyingkapkan dan menyingkirkan mereka? Kalau tidak ada harapan untuk memperoleh berkat, untuk apa aku harus bersusah payah? Mengapa aku harus menanggung kesukaran? Kalau memang tidak ada harapan memperoleh berkat, lebih baik aku berhenti percaya saja! Bukankah tujuan percaya kepada tuhan adalah untuk memperoleh berkat? Kalau tidak ada harapan untuk itu, mengapa aku harus mengorbankan diri? Apa sebaiknya aku berhenti percaya dan mengakhiri saja semuanya? Kalau aku tidak percaya, apa engkau masih dapat memangkasku? Kalau aku berhenti percaya, engkau tidak dapat memangkasku." Antikristus tidak dapat menerima pemangkasan Tuhan sama sekali. Mereka tidak dapat menerima dan menaati melalui sudut pandang dan sikap yang benar. Mereka tidak dapat merenungkan diri sendiri melalui hal tersebut untuk memahami watak rusaknya agar watak rusak itu dapat dibersihkan. Sebaliknya, mereka justru berspekulasi dan mempelajari tujuan pemangkasannya dengan pikiran yang sempit dan penuh prasangka. Mereka mengamati perkembangan situasi dengan hati-hati, mendengarkan nada bicara orang lain, memperhatikan bagaimana orang-orang di sekitar memandang dirinya, cara orang berbicara kepadanya, dan sikap orang lain. Dari semua ini, mereka mencoba memastikan apakah masih ada harapan baginya untuk diberkati atau apakah mereka benar-benar akan disingkapkan dan disingkirkan. Satu pemangkasan yang sederhana saja sudah menimbulkan gejolak hebat dan begitu banyak perenungan dalam hati antikristus. Setiap kali mereka dipangkas, reaksi pertamanya adalah perlawanan. Dalam hatinya, mereka merasa jijik, menolaknya, dan menentangnya. Kemudian mereka mengamati bahasa dan ekspresi orang lain, lalu membuat spekulasi. Mereka menggunakan otak, pemikiran, dan kecerdikannya untuk mengamati perkembangan situasi, pandangan orang di sekitarnya, dan sikap para pemimpin senior terhadapnya. Dari semua ini, mereka menilai seberapa besar harapan yang masih dimilikinya untuk diberkati, apakah masih ada secercah harapan untuk diberkati, atau apakah mereka benar-benar telah disingkapkan dan disingkirkan. Ketika sudah terdesak, antikristus kembali mengkaji firman Tuhan, berusaha menemukan dasar yang akurat, secercah harapan, dan jalan keluar. Jika setelah mereka dipangkas, ada seseorang yang menghibur, mendukung, dan membantunya dengan penuh kasih, hal itu membuatnya merasa masih dianggap sebagai anggota rumah Tuhan, masih ada harapan baginya untuk diberkati. Harapannya masih kuat, dan mereka akan mengurungkan niatnya untuk mundur. Namun, jika situasinya berbalik dan mereka melihat harapannya untuk diberkati berkurang atau hilang sama sekali, mereka akan langsung bereaksi dengan berkata, "Kalau aku tidak dapat memperoleh berkat, aku tidak akan lagi percaya kepada tuhan. Siapa pun di antaramu yang ingin percaya kepada tuhan, silakan saja, tetapi aku tidak akan menerima pemangkasanmu terhadapku. Segala sesuatu yang kaukatakan ketika memangkasku itu tidak benar. Aku tidak ingin mendengarnya, aku tidak mau mengindahkannya, dan aku tidak akan menerima pemangkasan itu. Sekalipun engkau mengatakan bahwa itu adalah hal yang paling bermanfaat bagi seseorang, aku tidak akan menerimanya!" Ketika melihat bahwa harapannya untuk diberkati sirna, status yang telah lama mereka kejar dan impiannya untuk memasuki kerajaan surga akan menjadi sia-sia dan akan hilang, mereka tidak berpikir untuk mengubah caranya mengejar atau mengubah tujuannya. Sebaliknya, mereka berpikir untuk pergi dan mundur, tidak mau lagi percaya kepada Tuhan, dan berpikir bahwa mereka tidak lagi memiliki harapan untuk diberkati dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan. Bagi antikristus, jika impian dan harapannya akan upah, berkat, dan mahkota yang mereka inginkan ketika pertama kali percaya kepada Tuhan hilang, motivasinya untuk percaya kepada Tuhan pun hilang, begitu juga motivasinya untuk mengorbankan diri bagi Tuhan dan menjalankan tugas. Begitu motivasi itu hilang, mereka tidak mau lagi tinggal di gereja atau menjalani hidup seperti itu, mereka ingin meninggalkan tugasnya dan meninggalkan gereja. Inilah segala hal yang dipikirkan oleh antikristus ketika menghadapi pemangkasan, yang sepenuhnya menyingkapkan esensi natur mereka. Secara keseluruhan, baik dalam perkataan maupun perbuatan, antikristus tidak pernah menerima kebenaran. Apakah itu watak yang tidak menerima kebenaran? Bukankah itu berarti muak akan kebenaran? Tepat sekali. Pemangkasan itu sendiri sebenarnya adalah hal sederhana yang cukup mudah diterima. Pertama, tidak ada niat buruk dari orang yang memangkas mereka. Kedua, jelas bahwa alasan pemangkasan adalah antikristus telah melanggar pengaturan rumah Tuhan, melanggar prinsip kebenaran, atau melakukan kesalahan atau kelalaian dalam pekerjaannya yang menimbulkan kekacauan dan gangguan terhadap pekerjaan gereja. Mereka dipangkas karena tercampurnya keinginan manusia, wataknya yang rusak, dan karena mereka bertindak sembarangan tanpa memahami prinsip kebenaran. Ini adalah hal yang sangat wajar. Di seluruh dunia, setiap organisasi besar, kelompok, atau perusahaan memiliki aturan dan regulasi, dan siapa pun yang melanggar aturan dan regulasi ini harus dihukum dan dikendalikan. Ini sepenuhnya normal dan sangat wajar. Namun, seorang antikristus menganggap bahwa dikendalikan dengan benar akibat melanggar aturan sebagai tindakan seseorang untuk mempersulitnya, mencari-cari kesalahan, dan mempermasalahkan mereka. Apakah ini yang disebut sikap menerima kebenaran? Jelas sekali bukan. Tanpa sikap menerima kebenaran, apakah mungkin orang semacam ini menghindari kesalahan, menghindari kekacauan dan gangguan dalam menjalankan tugas? Tentu saja tidak. Apakah orang semacam itu cocok untuk melaksanakan tugas? Secara tegas, tidak cocok. Sangat kecil kemungkinan orang semacam ini akan mampu menjalankan tugas dengan baik.
Melaksanakan tugas adalah kesempatan yang diberikan Tuhan kepada umat pilihan-Nya agar mereka dapat melatih diri, tetapi banyak orang tidak tahu bagaimana menghargainya. Ketika dipangkas, mereka justru mengamuk, melawan, dan berteriak menentangnya; mereka membangkang dan marah, seolah-olah mereka adalah orang-orang kudus yang tidak pernah berbuat kesalahan. Siapa di antara manusia yang rusak yang tidak pernah membuat kesalahan? Membuat kesalahan adalah hal yang sangat wajar. Rumah Tuhan hanya sedang memangkasmu secara lisan, bukan meminta pertanggungjawaban atau menghukummu karenanya, apalagi mengutukmu. Terkadang pemangkasan itu mungkin cukup keras, kata-katanya mungkin terdengar tajam atau tidak menyenangkan, dan perasaanmu mungkin terluka. Mereka yang telah menyebabkan kerusakan pada keuangan atau peralatan rumah Tuhan akan didisiplinkan oleh rumah Tuhan dengan meminta denda atau ganti rugi. Apakah ini dianggap keras? Atau apakah itu dapat dianggap pantas? Engkau tidak diminta untuk menyediakan ganti rugi dua kali lipat atau diperas. Engkau hanya perlu mengganti dengan harga yang sama. Bukankah itu sangat wajar? Itu jauh lebih ringan daripada denda yang diterapkan di sejumlah negara di dunia. Di beberapa kota, engkau akan didenda besar hanya karena meludah atau membuang sepotong kertas sembarangan. Apakah engkau bisa melawan atau menolak membayar denda? Jika menolak, mungkin engkau akan dipenjara, dan di sana akan ada konsekuensi hukum yang bahkan lebih keras lagi. Begitulah sistemnya. Beberapa orang tidak memahami itu dan berpikir bahwa pemangkasan orang oleh rumah Tuhan terlalu keras dan menegakkan aturan seperti itu terlalu otoriter. Jika orang-orang seperti itu dipangkas dengan cara yang sedikit lebih keras, dan harga dirinya terluka dan natur Iblis mereka terpicu, mereka merasa bahwa itu tidak dapat diterima dan tidak sesuai dengan gagasannya. Mereka percaya bahwa karena ini adalah rumah Tuhan, orang seharusnya tidak diperlakukan seperti itu, rumah Tuhan seharusnya menunjukkan toleransi dan kesabaran di setiap kesempatan dan membiarkan orang bertindak sembarangan dan berbuat semaunya. Mereka berpikir bahwa apa pun yang dilakukan orang adalah baik dan harus dihargai oleh Tuhan. Apakah itu masuk akal? (Tidak.) Apa esensi natur manusia? Apakah mereka benar-benar manusia? Dalam bahasa yang lebih halus, mereka adalah Iblis dan setan. Dalam bahasa yang lebih kasar, mereka adalah binatang, mereka tidak tahu aturan bagaimana bertindak, sangat kasar, malas, ingin hidup enak, tidak suka bekerja keras, serta ingin bertindak semaunya melakukan hal-hal buruk. Hal yang paling meresahkan adalah fakta bahwa banyak orang yang melaksanakan tugas dalam rumah Tuhan selalu ingin membawa falsafah duniawi, cara, dan kecenderungan jahat dari dunia sekuler bersamanya. Mereka bahkan berusaha keras untuk meneliti, mempelajari, dan meniru semua hal tersebut, dan akibatnya, mereka menciptakan kekacauan dan gejolak di sejumlah pekerjaan dalam rumah Tuhan. Ini sangat tidak dapat diterima oleh semua orang, beberapa saudara-saudari yang baru beriman pun mengatakan bahwa orang-orang ini tidak saleh, tindakan mereka mengikuti kecenderungan duniawi dan tidak mencerminkan tindakan orang Kristen. Bahkan orang-orang percaya baru itu pun tidak dapat menerima tindakan orang-orang tersebut. Orang-orang ini membayar sedikit harga, memiliki sedikit semangat, serta sedikit motivasi dan niat baik. Mereka juga membawa segala omong kosong yang telah mereka pelajari ke dalam rumah Tuhan serta menerapkannya pada tugas dan pekerjaannya. Akibatnya, mereka menyebabkan gangguan dan kekacauan pada pekerjaan gereja dan akhirnya dipangkas. Beberapa orang tidak memahami hal ini, lalu bertanya, "Bukankah Tuhan mengatakan bahwa Dia akan mengingat perbuatan baik manusia? Lalu, mengapa aku justru dipangkas karena melakukan tugasku? Mengapa aku tidak dapat memahami hal ini? Bagaimana firman Tuhan digenapi? Apakah mungkin semua itu hanya kata-kata kosong yang terdengar indah?" Jika demikian, mengapa engkau tidak merenungkan apakah tindakanmu adalah perbuatan baik yang layak untuk diingat? Apa yang Tuhan tuntut darimu? Apa tugas yang telah engkau laksanakan, pekerjaan yang telah engkau tuntaskan, serta ide dan saran yang telah engkau berikan sesuai dengan kesopanan orang kudus? Apakah hal tersebut sesuai dengan standar yang dituntut oleh rumah Tuhan? Pernahkah engkau memikirkan kesaksian Tuhan dan nama Tuhan? Apakah engkau sudah mempertimbangkan reputasi rumah Tuhan? Apakah engkau sudah memikirkan kesopanan orang kudus? Apakah engkau mengakui dirimu adalah orang Kristen? Engkau belum pernah memikirkan semua hal tersebut, jadi apa yang sebenarnya telah kaulakukan? Apakah tindakanmu layak diingat? Engkau telah mengacaukan pekerjaan gereja, dan rumah Tuhan hanya memangkasmu tanpa mencabut kelayakanmu untuk melaksanakan tugas. Ini adalah kasih yang terbesar, kasih yang paling sejati. Namun, engkau tetap merasa marah. Apakah engkau mempunyai alasan untuk merasa marah? Engkau sungguh tidak bernalar!
Ada beberapa orang yang baru percaya kepada Tuhan selama dua atau tiga tahun. Namun, tindakan-tindakan mereka, caranya berbicara dan tertawa, pandangan yang diungkapkan, bahkan ekspresi wajah dan gerakan tubuhnya ketika berbicara dengan orang lain tidak menyenangkan serta menunjukkan bahwa mereka sepenuhnya adalah orang tidak percaya dan pengikut yang bukan orang percaya. Orang-orang seperti ini harus dikendalikan, dipangkas, dan diberi aturan agar mereka mengetahui seperti apa itu kemanusiaan yang normal, seperti apa kesopanan orang kudus, dan seperti apa seharusnya seorang Kristen itu. Mereka pun bisa belajar cara menjadi manusia dan dapat memiliki keserupaan dengan manusia. Ada juga orang yang telah percaya kepada Tuhan selama delapan atau sepuluh tahun, bahkan lebih, tetapi jika dilihat dari pemikiran, pandangan, perkataan, tindakan, caranya menangani berbagai hal, dan ide yang muncul dalam dirinya ketika berbagai hal menimpa, jelas terlihat bahwa mereka sepenuhnya adalah orang tidak percaya dan pengikut yang bukan orang percaya. Orang-orang itu telah mendengarkan sejumlah khotbah serta memiliki sedikit pengalaman dan wawasan. Mereka juga telah cukup banyak berinteraksi dengan saudara-saudarinya dan seharusnya memiliki cara berbicara yang mencerminkn kehidupannya, tetapi sebagian besar dari mereka tidak dapat memberikan kesaksian. Ketika berbicara dan mengungkapkan pandangannya, mereka menggunakan bahasa yang sangat sederhana dan tidak dapat mengungkapkan apa pun dengan jelas. Mereka benar-benar miskin, menyedihkan, dan buta—jelas terlihat bahwa mereka sangat memprihatinkan. Ketika orang seperti itu melaksanakan tugas dan memikul tanggung jawab, mereka selalu dipangkas. Hal itu tidak bisa dihindari. Mengapa mereka dipangkas? Itu karena tindakan mereka sangat bertentangan dengan prinsip kebenaran, bahkan tidak dapat mencapai hati nurani dan nalar orang normal. Mereka berbicara dan bertindak seperti orang tidak percaya, seolah-olah mempekerjakan orang tidak percaya untuk melaksanakan pekerjaan di rumah Tuhan. Lalu, bagaimana kualitas pekerjaan yang dihasilkan oleh orang-orang tersebut dalam melaksanakan tugas-tugasnya? Apakah pekerjaan mereka ada nilainya? Apakah ada unsur ketundukan dalam diri mereka? Bukankah mereka memiliki terlalu banyak masalah dan hanya menyebabkan kekacauan dan gangguan? (Ya.) Kalau begitu, apakah orang-orang ini pantas dipangkas? (Ya.) Ada beberapa orang menulis naskah tentang kehidupan seorang Kristen, tentang penganiayaan, cobaan, dan berbagai lingkungan yang dihadapi oleh tokoh utamanya, serta bagaimana mereka mengalami firman Tuhan. Namun, sepanjang cerita, sang tokoh utama nyaris tidak pernah berdoa, dan terkadang, ketika dihadapkan pada sesuatu, mereka bahkan tidak tahu apa yang harus dikatakan dalam doa. Dahulu, ada orang yang selalu menulis doa yang sama berulang kali; ketika sang tokoh utama menghadapi sesuatu, mereka akan berdoa, "Oh Tuhan, aku sangat sedih saat ini! Aku sangat menderita, sungguh sangat menderita! Kumohon, bimbinglah aku dan cerahkanlah aku." Mereka hanya menulis kata-kata sepele semacam ini, tetapi ketika berhadapan dengan peristiwa, lingkungan atau suasana lain, sang tokoh utama tidak tahu cara berdoa dan tidak mempunyai apa-apa untuk dikatakan. Hal itu membuat-Ku bertanya-tanya, jika orang-orang itu tidak membuat tokoh utama mereka berdoa ketika menghadapi masalah, apakah mereka sendiri memiliki kebiasaan berdoa? Jika mereka tidak berdoa ketika menghadapi masalah, apa yang mereka andalkan dalam hidup sehari-hari dan pelaksanaan tugasnya? Apa yang mereka pikirkan? Apakah ada Tuhan dalam hatinya? (Tidak ada Tuhan dalam hatinya. Mereka mengandalkan pikiran dan karunianya sendiri dalam melakukan sesuatu.) Akibatnya, mereka dipangkas. Menurut engkau semua, bagaimana Aku akan menilai persoalan itu? Orang-orang tersebut harus dipangkas. Mereka ini tidak bertumbuh, yang memiliki otak tetapi tidak memiliki hati, telah menjadi orang percaya selama bertahun-tahun, tetapi tidak mengetahui hal-hal yang harus dikatakan dalam doa ketika menghadapi suatu masalah. Mereka tidak memiliki apa pun untuk dikatakan kepada Tuhan, tidak mengetahui bagaimana berterus terang kepada-Nya, dan tidak tahu bagaimana berbicara dari hati ke hati dengan-Nya. Tuhan adalah Pribadi yang paling dekat denganmu, Pribadi yang paling layak engkau percayai dan andalkan, tetapi engkau tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun kepada-Nya—lalu kepada siapa engkau memercayakan pikiran terdalammu? Kepada siapa pun engkau berbicara, jika engkau tidak memiliki apa pun untuk dikatakan kepada Tuhan, lalu orang macam apa engkau ini? Bukankah engkau adalah orang yang paling tidak memiliki kemanusiaan? Jika dalam naskah tersebut tidak ada hal tentang kemanusiaan tokoh utama, kehidupannya sebagai orang percaya, bagaimana mereka mengalami firman Tuhan, dan seterusnya; jika naskah itu hanya seperti cangkang kosong, lalu apa yang ingin kautunjukkan kepada orang-orang melalui film itu? Apakah gunanya naskah yang kautulis? Apakah engkau telah memberi kesaksian tentang Tuhan atau hanya menunjukkan sedikit pengetahuan dan pendidikanmu? Bukti paling konkret dari kesaksian tentang Tuhan adalah bagaimana seseorang berdoa dan mencari Tuhan, serta bagaimana ide, sikap, pandangan, dan pemikirannya tentang Tuhan berubah ketika mereka menghadapi sesuatu atau kesulitan. Sayangnya, beberapa orang sama sekali tidak memiliki pemahaman tentang ini. Mereka masih tidak mengetahui bagaimana berdoa setelah beberapa tahun beriman—tidak heran mereka masih belum bertumbuh. Kemampuan profesional mereka belum meningkat, dan mereka tidak membuat kemajuan dalam jalan masuk kehidupannya. Bukankah orang-orang seperti itu pantas dipangkas? Jadi, ada alasannya mengapa orang dipangkas. Jika engkau semua tidak menerima pemangkasan, atau jika engkau tidak dipangkas, dampak dan kesudahanmu akan sangat berbahaya. Beruntunglah sekarang ada orang yang memangkas dan mendisiplinkan engkau semua. Hal yang sangat baik dan bermanfaat seperti ini tidak dapat diterima oleh antikristus. Mereka berpikir bahwa ketika dirinya dipangkas, itu berarti bahwa semuanya telah selesai, tidak ada harapan lagi, dan kesudahan mereka sudah terlihat. Mereka berpikir bahwa dipangkas itu menunjukkan bahwa mereka tidak lagi disukai, tidak lagi populer di mata Yang di Atas, dan mungkin akan disingkirkan. Lalu, mereka kehilangan motivasi dalam iman mereka dan mulai merencanakan untuk kembali ke dunia, menghasilkan banyak uang, mengikuti kecenderungan duniawi, makan, minum, dan bersenang-senang. Niat jahatnya pun mulai terlihat dan ini sangat berbahaya. Langkah selanjutnya akan membawa mereka melangkah melewati ambang tersebut untuk meninggalkan rumah Tuhan.
Ketika seorang antikristus memiliki status dan kekuasaan di rumah Tuhan, ketika mereka dapat memanfaatkan setiap kesempatan dan mengambil keuntungan pribadi, ketika orang-orang mengagumi dan menyanjungnya, serta ketika mereka berpikir bahwa berkat, upah, dan tempat tujuan yang indah telah terlihat ada di depan mata, di permukaan, mereka terlihat penuh iman kepada Tuhan, firman Tuhan, janji-janji-Nya kepada umat manusia, serta pekerjaan dan prospek dalam rumah Tuhan. Namun, begitu mereka dipangkas, ketika keinginannya akan berkat terancam, mereka menjadi curiga dan salah paham kepada Tuhan. Dalam sekejap mata, iman mereka yang terlihat melimpah itu pun lenyap, hilang tanpa jejak. Mereka tidak lagi memiliki tenaga untuk berjalan atau berbicara, kehilangan minat untuk menjalankan tugas, dan mereka kehilangan seluruh semangat, kasih, dan iman. Mereka telah kehilangan sedikit niat baik yang dimiliki, dan juga tidak peduli dengan siapa pun yang berbicara dengannya. Mereka berubah menjadi orang yang sama sekali berbeda dalam sekejap. Bukankah ini mereka tersingkap? Ketika orang seperti itu sedang menggenggam harapannya untuk diberkati, mereka terlihat penuh semangat dan setia kepada Tuhan. Dia dapat bangun pagi-pagi dan bekerja hingga larut malam serta sanggup menderita dan membayar harga. Namun, ketika telah kehilangan harapan untuk diberkati, mereka seperti balon kempis. Mereka ingin mengubah rencananya, mencari jalan lain, dan tidak ingin lagi memercayai Tuhan. Mereka menjadi putus asa, kecewa dengan Tuhan, dan dipenuhi oleh ketidakpuasan. Apakah ini gambaran seseorang yang mengejar dan mencintai kebenaran, seseorang yang memiliki kemanusiaan dan integritas? (Bukan.) Mereka berada dalam bahaya. Ketika engkau semua menghadapi orang semacam itu, jika mereka mampu melakukan pelayanan, bersikaplah lembut ketika memangkasnya, dan carilah kata-kata yang enak didengar untuk memujinya. Sanjunglah dan lambungkan egonya seperti balon sehingga langkahnya menjadi ringan seperti pegas. Engkau dapat mengatakan hal-hal seperti, "Engkau begitu diberkati, matamu bersinar, dan dapat kulihat bahwa engkau memiliki tenaga yang tidak terbatas. Engkau pastilah akan menjadi andalan rumah Tuhan. Kerajaan Tuhan tidak mungkin ada tanpa dirimu, dan tanpamu pekerjaan rumah Tuhan akan menderita kerugian. Namun, engkau memiliki satu kekurangan kecil. Engkau dapat mengatasinya dengan sedikit usaha, dan begitu hal itu dibereskan, segalanya akan baik-baik saja dan mahkota terbesar pun pasti akan menjadi milikmu." Ketika orang semacam itu melakukan sesuatu kesalahan, engkau dapat memangkasnya langsung di depan mereka. Bagaimana sebaiknya engkau melakukannya? Katakan saja, "Engkau sangat pintar. Bagaimana bisa membuat kesalahan dasar seperti ini? Seharusnya itu tidak terjadi! Engkau adalah orang yang paling berkualitas dan berpendidikan dalam tim kita, dan engkaulah yang paling berkelas di antara kita. Engkau seharusnya tidak membuat kesalahan semacam ini. Betapa memalukan! Pastikan tidak membuat kesalahan seperti ini lagi, atau itu pasti akan menyakiti Tuhan. Jika engkau melakukannya lagi, reputasimu akan rusak. Aku tidak akan mengatakannya kepadamu di depan semua orang. Aku memberitahumu secara pribadi agar saudara-saudari tidak berpikiran macam-macam tentangmu. Aku hanya berusaha memastikan agar engkau tidak kehilangan muka, dan aku memikirkan perasaanmu, bukan? Lihat, bukankah rumah Tuhan penuh kasih?" Kemudian mereka berkata, "Ya." "Jadi, apa yang selanjutnya?" Mereka akan menjawab, "Terus bekerja dengan baik!" Apa pendapatmu tentang memperlakukan mereka seperti itu? Orang semacam itu hanya ingin memperoleh berkat dengan bekerja, tidak pernah mencari prinsip-prinsip kebenaran dalam perkataan atau tindakannya, dan tidak menerima kebenaran sama sekali. Mereka tidak pernah berpikir apakah mereka seharusnya mengatakan apa yang dikatakannya atau melakukan apa yang dilakukannya. Mereka juga tidak memikirkan akibat dari tindakannya, mereka tidak pernah berdoa, merenung, mencari, atau bersekutu. Mereka hanya melakukan berbagai hal menurut idenya sendiri. Mereka melakukan apa pun yang diinginkannya. Ketika seseorang menghancurkan harga diri atau kepentingannya lewat sesuatu yang dikatakan atau dilakukannya, mengungkapkan kekurangan atau masalahnya, atau memberinya saran yang masuk akal, mereka langsung marah, menyimpan dendam, dan ingin menuntut balas. Dalam kasus-kasus yang lebih serius, mereka ingin meninggalkan imannya dan melaporkan gereja kepada naga merah yang sangat besar. Kita memiliki cara untuk menangani orang seperti ini, yaitu dengan menghindari pemangkasan dan justru memanjakannya.
Kita baru saja bersekutu tentang bagaimana antikristus ketika dipangkas, selalu menghubungkannya dengan harapan mereka untuk mendapatkan berkat. Sikap dan pandangan ini tidak benar, dan berbahaya. Ketika seseorang menunjukkan kekurangan atau masalah pada dirinya, antikristus merasa harapan mereka untuk mendapatkan berkat telah hilang; dan ketika mereka dipangkas, atau didisiplinkan, atau ditegur, mereka juga merasa harapan mereka untuk memperoleh berkat telah hilang. Begitu ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai dengan keinginan mereka atau tidak sesuai dengan gagasan mereka, begitu mereka disingkapkan dan dipangkas, mereka merasa harga diri mereka telah mengalami pukulan, mereka langsung berpikir apakah mereka tidak lagi memiliki harapan untuk memperoleh berkat. Bukankah mereka terlalu sensitif? Bukankah mereka terlalu berhasrat untuk mendapatkan berkat? Katakan kepada-Ku, bukankah orang-orang seperti itu menyedihkan? (Ya.) Mereka sungguh menyedihkan! Dan dalam hal apa mereka menyedihkan? Apakah orang dapat memperoleh berkat atau tidak, ada hubungannya dengan mereka dipangkas? (Tidak.) Tidak ada hubungannya. Lalu, mengapa antikristus merasa harapan mereka untuk mendapatkan berkat telah hilang ketika mereka dipangkas? Bukankah ini ada hubungannya dengan pengejaran mereka? Apa yang mereka kejar? (Mendapatkan berkat.) Mereka tidak pernah melepaskan keinginan dan niat mereka untuk mendapatkan berkat. Mereka telah berniat untuk mendapatkan berkat dari awal mereka percaya kepada Tuhan, dan meskipun mereka telah mendengarkan banyak khotbah, mereka tidak pernah menerima kebenaran. Mereka tidak pernah melepaskan keinginan dan niat mereka untuk mendapatkan berkat. Mereka belum memperbaiki atau mengubah pandangan mereka tentang kepercayaan kepada Tuhan, dan niat mereka dalam melaksanakan tugas belum dimurnikan. Mereka selalu melakukan segala sesuatu sambil mencengkeram harapan dan niat mereka untuk mendapatkan berkat, dan pada akhirnya, ketika harapan mereka untuk mendapatkan berkat akan pupus, mereka meledak marah, dan mengeluh dengan getir, yang akhirnya memperlihatkan keadaan buruk dari keraguan mereka terhadap Tuhan dan penolakan mereka terhadap kebenaran. Bukankah mereka sedang mencari mati? Seperti itulah akibat yang pasti antikristus alami karena tidak menerima kebenaran sedikit pun, juga tidak menerima dirinya dipangkas. Dalam mengalami pekerjaan Tuhan, semua umat pilihan Tuhan mampu mengetahui bahwa penghakiman, hajaran, dan pemangkasan-Nya adalah kasih dan berkat-Nya—tetapi antikristus percaya bahwa ini hanyalah sesuatu yang dikatakan orang, dan tidak percaya bahwa itu adalah kebenaran. Jadi, mereka tidak menganggap pemangkasan sebagai pelajaran yang bisa mereka petik, mereka juga tidak mencari kebenaran atau merenungkan diri mereka sendiri. Sebaliknya, mereka percaya bahwa pemangkasan berasal dari kehendak manusia, bahwa itu adalah siksaan yang disengaja, sarat dengan niat manusia, dan tentu saja bukan dari Tuhan. Mereka memilih untuk menolak dan mengabaikannya, dan bahkan mempelajari mengapa seseorang memperlakukan mereka demikian. Mereka sama sekali tidak tunduk. Mereka menghubungkan segala sesuatu yang terjadi dalam pelaksanaan tugas mereka untuk mendapatkan berkat dan upah, dan mereka menganggap mendapatkan berkat sebagai pengejaran terpenting dalam hidup mereka, serta tujuan utama dan tertinggi dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan. Mereka berpegang teguh seumur hidup pada niat mereka untuk mendapatkan berkat, tidak peduli bagaimana rumah Tuhan mempersekutukan kebenaran, dan tidak mau melepaskan niat tersebut, menganggap jika kepercayaan kepada Tuhan bukan untuk mendapatkan berkat, maka itu adalah kebodohan dan ketololan, bahwa itu adalah kerugian yang besar. Mereka menganggap siapa pun yang melepaskan niatnya untuk mendapatkan berkat telah tertipu, bahwa hanya orang bodoh yang akan berhenti berharap untuk mendapatkan berkat, dan bahwa orang yang menerima dirinya dipangkas memperlihatkan kebodohan dan ketidakmampuan dirinya, sesuatu yang tidak akan dilakukan oleh orang pintar. Inilah cara berpikir dan logika seorang antikristus. Jadi, ketika seorang antikristus dipangkas, mereka sangat menentangnya dalam hati, dan mahir dalam tipu daya dan kepura-puraan; mereka tidak menerima kebenaran sedikit pun, juga tidak tunduk. Sebaliknya, mereka dipenuhi dengan ketidaktaatan dan penentangan. Hal ini cenderung mengarah pada penentangan terhadap Tuhan, menghakimi Tuhan, dan melawan Tuhan, yang pada akhirnya akan mengakibatkan mereka disingkapkan dan disingkirkan.
II. Perilaku Antikristus Ketika Tugas Mereka Disesuaikan
Antikristus memiliki sikap yang sangat keras kepala dalam hal memperoleh berkat. Mereka berpegang teguh pada niatnya untuk memperoleh berkat, dan ketika dihadapkan pada pemangkasan, mereka menanggapinya dengan perlawanan dan berusaha sekuat tenaga untuk membantah dan membela diri. Ini memastikan bahwa antikristus sama sekali tidak menerima kebenaran. Ketika mereka diberhentikan atau penugasannya disesuaikan, mereka menjadi sangat sensitif terhadap perkara memperoleh berkat. Mengapa mereka menjadi sensitif? Karena hati orang-orang seperti ini dipenuhi dengan keinginan dan ambisi untuk memperoleh berkat. Segala hal yang mereka lakukan adalah demi memperoleh berkat, bukan demi hal lain. Keinginan terbesarnya dalam hidup adalah memperoleh berkat. Itulah sebabnya, ketika diberhentikan atau tugasnya disesuaikan, mereka merasa harapannya untuk memperoleh berkat telah sirna sehingga mereka menolak untuk tunduk dan terus berdebat untuk membela diri. Mereka hanya memikirkan kepentingannya sendiri dan tidak memedulikan pekerjaan rumah Tuhan. Misalnya, beberapa orang menganggap diri mereka terampil dalam kata-kata tertulis, jadi mereka dengan keras meminta untuk melakukan tugas yang berhubungan dengan hal tersebut. Tentu saja, rumah Tuhan tidak akan mengecewakan mereka, rumah Tuhan menghargai orang-orang yang berbakat, dan apa pun karunia atau kekuatan yang orang miliki, rumah Tuhan akan memberi mereka kesempatan untuk menggunakannya, dan oleh karena itu, gereja mengatur agar mereka melakukan pekerjaan berbasis teks. Namun, beberapa waktu kemudian, didapati bahwa mereka sebenarnya tidak memiliki keterampilan ini, dan tak mampu menjalankan tugas ini dengan benar; mereka sama sekali tidak efektif. Bakat dan kualitas mereka membuat mereka benar-benar tidak cakap dalam pekerjaan ini. Jadi, apa yang harus dilakukan dalam keadaan seperti itu? Apakah mungkin untuk hanya menoleransi mereka dan berkata, "Engkau memiliki semangat, dan meskipun engkau tidak memiliki banyak bakat dan kualitasmu rata-rata, asalkan engkau mau dan bersedia bekerja keras, rumah Tuhan akan menoleransimu, dan membiarkanmu terus menjalankan tugas ini. Tidak masalah jika engkau tidak melakukannya dengan baik. Rumah Tuhan akan berpura-pura tidak tahu, dan engkau tidak perlu diganti?" Inikah prinsip yang digunakan rumah Tuhan untuk menangani hal-hal semacam itu? Tentu saja tidak. Dalam keadaan seperti itu, tugas-tugas yang sesuai biasanya diatur untuk mereka berdasarkan kualitas dan kelebihan mereka; itu salah satu aspeknya. Namun, tidaklah cukup untuk bergantung pada hal ini saja, karena dalam banyak kasus, orang itu sendiri tidak tahu tugas apa yang sesuai untuk mereka jalankan, dan sekalipun menurut mereka diri mereka ahli dalam hal itu, itu belum tentu benar, jadi mereka harus mencobanya dan dilatih selama jangka waktu tertentu; memutuskan berdasarkan apakah mereka efektif atau tidak adalah hal yang benar untuk dilakukan. Jika mereka dilatih untuk jangka waktu tertentu, tetapi tetap tidak membuahkan hasil atau menunjukkan kemajuan, dan dipastikan bahwa mereka tidak layak untuk terus dilatih, penugasan mereka harus disesuaikan dan tugas yang lebih cocok harus diberikan untuknya. Pengaturan dan penyesuaian tugas seperti ini adalah tindakan yang tepat dan selaras dengan prinsip. Namun, ada orang-orang yang tidak mampu mematuhi penataan rumah Tuhan dan justru selalu mengikuti preferensi dagingnya dalam melaksanakan tugas. Misalnya, ada yang berkata, "Impian terbesarku adalah menjadi seorang literatur atau jurnalis, tetapi karena kondisi keluargaku dan alasan lainnya, aku tidak dapat mewujudkannya. Kini di rumah Tuhan, aku bisa melakukan pekerjaan tulis-menulis. Akhirnya, keinginanku terwujud!" Namun, karena dia tidak memiliki pemahaman kebenaran yang cukup bagus, tidak memiliki banyak pemahaman rohani, dan tidak mampu menangani pekerjaan tulis-menulis secara kompeten, setelah melaksanakan tugasnya selama beberapa waktu, dia dipindahtugaskan ke tugas lain. Dia pun mengeluh dan berkata, "Mengapa aku tidak boleh melakukan pekerjaan yang kuinginkan? Aku tidak suka pekerjaan lain!" Apakah masalahnya di sini? Rumah Tuhan menyesuaikan tugasnya berdasarkan prinsip, jadi mengapa dia tidak dapat menerimanya? Bukankah ini menunjukkan adanya masalah terkait kemanusiaannya? Dia tidak dapat menerima kebenaran dan tidak tunduk kepada Tuhan. Itu menunjukkan kurangnya nalar. Dia selalu melaksanakan tugas sesuai dengan kesukaannya dan selalu ingin menentukan pilihan sendiri. Bukankah ini menunjukkan watak yang rusak? Apakah dengan menyukai suatu pekerjaan menjamin bahwa engkau dapat melakukannya dengan baik? Apakah menyukai suatu tugas itu berarti engkau akan mampu melakukannya dengan baik? Hanya karena engkau suka melakukan sesuatu, bukan berarti engkau cocok melakukannya, dan engkau mungkin tidak mampu memahami dengan jelas apa yang paling sesuai untukmu. Oleh karena itu, engkau perlu memiliki nalar dan belajar untuk patuh. Jadi, ketika ada penyesuaian tugas, bagaimana seharusnya engkau menerapkan kepatuhan? Di satu sisi, engkau harus yakin bahwa rumah Tuhan telah menyesuaikan tugasmu berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran dan bukan berdasarkan kesukaanmu atau prasangka pemimpin atau pekerja mana pun. Engkau harus yakin bahwa penyesuaian tugasmu diputuskan berdasarkan karunia, kelebihan, dan keadaanmu yang sebenarnya, bukan berasal dari pemikiran satu orang. Engkau harus belajar untuk patuh ketika tugasmu disesuaikan. Setelah engkau berlatih melaksanakan tugas barumu selama beberapa waktu dan telah memperoleh hasil dalam melaksanakannya, engkau akan mendapati bahwa engkau lebih cocok untuk melaksanakan tugas ini, dan engkau akan menyadari bahwa memilih tugas berdasarkan kesukaanmu sendiri adalah kesalahan. Bukankah ini menyelesaikan masalahnya? Yang terpenting, rumah Tuhan mengatur orang untuk menjalankan tugas tertentu bukan berdasarkan kesukaan orang, melainkan berdasarkan kebutuhan pekerjaan dan apakah dengan menjalankannya orang mampu memperoleh hasil. Menurutmu, bolehkah rumah Tuhan mengatur tugas berdasarkan kesukaan masing-masing orang? Bolehkah rumah Tuhan memakai orang-orang dengan syarat memuaskan kesukaan pribadi mereka? (Tidak.) Cara mana yang sesuai dengan prinsip rumah Tuhan dalam memakai orang? Cara mana yang sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran? Cara yang sesuai adalah dengan memilih orang berdasarkan kebutuhan pekerjaan di rumah Tuhan dan berdasarkan hasil yang orang peroleh dari pelaksanaan tugas mereka. Sekalipun engkau memiliki kesukaan dan minat tertentu dan engkau memiliki sedikit keinginan untuk melaksanakan tugasmu, bolehkah engkau lebih mendahulukan keinginan, minat dan kesukaanmu itu daripada pekerjaan rumah Tuhan? Jika engkau dengan gigih bersikeras, berkata, "Aku harus melakukan pekerjaan ini; jika aku tidak diizinkan melakukannya, aku tidak mau hidup, aku tidak mau melaksanakan tugasku. Jika aku tidak diizinkan melakukan pekerjaan ini, aku tidak akan bersemangat melakukan hal apa pun, dan aku juga tidak akan mengerahkan segenap kemampuanku untuk melakukannya," bukankah ini memperlihatkan bahwa ada masalah dengan sikapmu terhadap pelaksanaan tugas? Bukankah itu berarti engkau sama sekali tidak berhati nurani dan bernalar? Demi memuaskan keinginan, minat dan kesukaanmu, engkau tidak ragu-ragu memengaruhi dan menunda pekerjaan gereja. Apakah ini sesuai dengan kebenaran? Bagaimana seharusnya orang memperlakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan kebenaran? Ada orang-orang yang berkata: "Orang harus mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi." Benarkah pernyataan ini? Apakah ini kebenaran? (Tidak.) Pernyataan macam apa ini? (Ini adalah kekeliruan Iblis.) Ini adalah pernyataan yang keliru, menyesatkan dan terselubung. Jika engkau menerapkan perkataan "Orang harus mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi" untuk konteks pelaksanaan tugasmu, berarti engkau sedang menentang dan menghujat Tuhan. Mengapa ini menghujat Tuhan? Karena engkau sedang memaksakan kehendakmu sendiri terhadap Tuhan, dan itu adalah penghujatan! Engkau sedang berusaha menukarkan pengorbanan dirimu sendiri dengan penyempurnaan dan berkat Tuhan; niatmu adalah bertransaksi dengan Tuhan. Tuhan tidak membutuhkanmu untuk mengorbankan apa pun dari dirimu; yang Tuhan tuntut adalah agar orang menerapkan kebenaran dan memberontak terhadap daging. Jika engkau tidak mampu menerapkan kebenaran, engkau sedang memberontak dan menentang Tuhan. Engkau melaksanakan tugasmu dengan buruk karena niatmu salah, pandanganmu tentang segala sesuatu tidak benar, dan pernyataanmu sepenuhnya bertentangan dengan kebenaran. Namun, rumah Tuhan tidak merampas hakmu untuk melaksanakan tugas; hanya saja tugasmu harus disesuaikan karena engkau tidak cocok untuk tugasmu sebelumnya, dan engkau ditugaskan kembali untuk tugas yang cocok untukmu. Ini hal yang sangat normal dan mudah dipahami. Engkau harus memperlakukan hal ini dengan benar. Bagaimana cara yang benar untuk menangani persoalan ini? Ketika itu terjadi, engkau harus terlebih dahulu menerima penilaian rumah Tuhan terhadapmu. Meskipun secara subjektif engkau mungkin menyukai tugasmu, kenyataannya engkau tidak mampu atau tidak terampil di bidang itu sehingga engkau tidak bisa melakukannya. Itu berarti tugasmu perlu disesuaikan. Engkau harus patuh dan menerima tugas barumu. Pertama-tama, berlatihlah selama beberapa waktu. Jika masih merasa dirimu belum cukup baik dan kualitasmu masih kurang, engkau harus memberi tahu gereja dengan berkata, "Aku tidak mampu menjalankan tugas ini. Jika diteruskan, pekerjaan akan terhambat." Itu adalah tindakan yang sangat masuk akal! Jangan coba-coba bertahan dalam tugas yang tak bisa kaulakukan karena itu hanya akan menghambat pekerjaan. Jika engkau mengangkat masalah itu lebih awal, gereja akan mengatur tugas yang sesuai berdasarkan situasimu. Rumah Tuhan tidak akan memaksa seseorang untuk melaksanakan tugas. Bukankah mengalami penyesuaian tugas itu adalah hal yang baik bagimu? Pertama, penyesuaian itu memungkinkanmu untuk menyikapi kesukaan dan keinginanmu dengan rasional. Engkau sebelumnya mungkin memiliki minat dalam hal itu, menyukai sastra dan menulis, tetapi pekerjaan tulis-menulis ini juga membutuhkan pemahaman rohani. Setidaknya, engkau perlu memahami istilah rohani. Jika engkau tidak memahami kebenaran sedikit pun, hanya memiliki sedikit keahlian dalam menulis, itu tidaklah cukup. Engkau perlu mencapai pemahaman rohani, memahami kosakata rohani, dan menguasai bahasa kehidupan rohani melalui pengalaman selama beberapa waktu. Baru setelah itulah engkau dapat melaksanakan pekerjaan tulis-menulis di rumah Tuhan. Melalui suatu periode pengalaman dan menjalani berbagai hal, engkau akan menemukan bahwa engkau tidak memiliki bahasa pengalaman hidup, menyadari bahwa engkau terlalu banyak kekurangan, mengetahui tingkat pertumbuhanmu yang sebenarnya, serta memungkinkan rumah Tuhan dan saudara-saudarimu melihat kualitas dan tingkat pertumbuhanmu dengan jelas. Itu adalah hal yang baik bagimu. Setidaknya, ini akan menunjukkan kepadamu seberapa tinggi atau kecilnya kualitasmu, dan memungkinkanmu untuk memperlakukan dirimu sendiri dengan benar. Engkau tidak akan lagi terjebak dalam imajinasi tentang kualitas dan minatmu. Engkau akan mengetahui tingkat pertumbuhanmu yang sebenarnya, akan melihat secara lebih akurat dan jelas mana yang cocok untukmu dan mana yang tidak, serta akan menjadi lebih teguh dan nyata ketika melaksanakan tugas. Ini adalah salah satu aspeknya. Aspek lain yang lebih penting adalah terlepas dari tingkat pemahaman yang kaucapai atau apakah engkau dapat memahaminya, ketika rumah Tuhan membuat pengaturan untukmu, engkau setidaknya harus menghadapinya dengan sikap patuh, bukan bersikap selektif, pilih-pilih, atau memasukkan rencana dan pilihanmu sendiri. Inilah penalaran yang harus paling kaumiliki. Jika engkau tidak mampu merenungkan hal-hal yang mencemari pelaksanaan tugasmu, itu tidak masalah. Yang penting adalah engkau memiliki ketundukan dalam hatimu serta dapat menerima kebenaran, sungguh-sungguh dalam tugasmu, dan menunjukkan kesetiaanmu. Lalu, ketika masalah muncul atau engkau memperlihatkan kerusakan, engkau dapat merenungkan dirimu sendiri, memahami kekurangan dan kelemahanmu, serta mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah atau perwujudan kerusakanmu. Dengan demikian, tanpa engkau sadari, hidup dan tingkat pertumbuhanmu perlahan akan tumbuh seiring pelaksanaan tugasmu, dan engkau akan melaksanakannya dengan berkualitas. Selama engkau dengan tulus mengorbankan diri bagi Tuhan, dan tidak pernah berhenti mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalahmu ketika mengalami pekerjaan Tuhan, engkau akan menerima berkat-Nya, dan Dia tidak akan memperlakukanmu dengan buruk.
Ketika tugas mereka disesuaikan, jika keputusan itu dibuat oleh gereja, orang-orang seharusnya menerima dan menaati, mereka harus merenungkan diri mereka sendiri, serta memahami esensi masalahnya dan kekurangan mereka sendiri. Ini sangatlah bermanfaat bagi orang-orang dan merupakan sesuatu yang harus diterapkan. Mengenai sesuatu yang begitu sederhana, orang biasa dapat mengetahuinya dan memperlakukannya dengan benar tanpa menemui terlalu banyak kesulitan atau rintangan yang tidak dapat diatasi. Ketika penyesuaian dilakukan dalam tugas mereka, setidaknya, orang harus tunduk, serta menarik manfaat dari merenungkan diri mereka sendiri, dan memiliki penilaian yang lebih akurat tentang apakah kinerja tugas mereka memadai atau tidak. Namun, tidak demikian bagi para antikristus. Yang mereka wujudkan berbeda dari orang normal, apa pun yang terjadi pada diri mereka. Di manakah letak perbedaannya? Mereka tidak taat, mereka tidak secara proaktif bekerja sama, juga tidak mencari kebenaran sedikit pun. Sebaliknya, mereka merasa antipati terhadap penyesuaian tersebut, dan mereka menolaknya, menganalisisnya, merenungkannya, dan memutar otak mereka dengan berspekulasi: "Mengapa aku tidak diizinkan melakukan tugas ini? Mengapa aku dipindahkan ke tugas yang tidak penting? Apakah ini cara untuk menyingkapkanku dan menyingkirkanku?" Di benaknya, mereka terus memikirkan apa yang telah terjadi, tanpa henti menganalisis dan merenungkannya. Ketika tidak ada apa pun yang terjadi, mereka baik-baik saja, tetapi ketika ada sesuatu yang terjadi, mulailah muncul gejolak dalam hati mereka seolah-olah berada di lautan badai, dan benak mereka dipenuhi dengan pertanyaan. Di luarnya mungkin mereka terlihat lebih baik daripada orang lain dalam hal merenungkan masalah, tetapi sebenarnya, antikristus lebih jahat daripada orang normal. Bagaimana kejahatan ini diwujudkan? Pertimbangan mereka ekstrem, rumit, dan penuh intrik. Hal-hal yang tidak terpikirkan oleh orang normal, pada orang yang berhati nurani dan bernalar, adalah hal yang biasa bagi seorang antikristus. Ketika penyesuaian sederhana dilakukan dalam tugas mereka, orang seharusnya menjawab dengan sikap yang taat, melakukan apa yang rumah Tuhan perintahkan kepada mereka, dan melakukan apa yang mampu mereka lakukan, dan, apa pun yang mereka lakukan, mereka melakukannya sesuai dengan kemampuan mereka, dengan segenap hati dan segenap kekuatan mereka. Apa yang telah Tuhan lakukan tidak salah. Kebenaran sesederhana itu dapat diterapkan oleh orang yang memiliki sedikit hati nurani dan nalar, tetapi ini di luar kemampuan antikristus. Dalam hal penyesuaian tugas, antikristus akan langsung berargumen, berdalih, dan menunjukkan sikap yang menentang, dan jauh di lubuk hatinya mereka tidak mau menerimanya. Apa sebenarnya yang ada di dalam hati mereka? Kecurigaan dan keraguan, kemudian mereka menggali informasi dari orang lain dengan berbagai cara, menguji situasi dengan perkataan dan tindakannya, bahkan memaksa dan membujuk orang lain untuk mengatakan yang sebenarnya dan berbicara jujur melalui cara-cara yang tidak bermoral. Mereka berusaha mencari tahu: sebenarnya mengapa mereka dipindahkan? Mengapa mereka tidak diizinkan melaksanakan tugas mereka? Siapa sebenarnya yang mengendalikan hal ini? Siapa yang berusaha mencari gara-gara dengan mereka? Di dalam hatinya, mereka terus bertanya mengapa, mereka terus berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, agar mereka bisa menemukan seseorang untuk berdebat dan menerima pembalasan mereka. Mereka tidak tahu bahwa mereka harus datang ke hadapan Tuhan untuk merenungkan diri mereka, melihat apa masalah yang ada dalam diri mereka, mereka tidak mencari penyebab hal itu dalam diri mereka, dan mereka tidak berdoa kepada Tuhan dan merenungkan diri mereka serta berkata, "Apa masalahnya dalam caraku melaksanakan tugasku? Apakah aku bersikap asal-asalan dan tidak memiliki prinsip? Apakah ada pengaruhnya?" Bukannya menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini kepada diri mereka sendiri, mereka terus-menerus mempertanyakan Tuhan di dalam hati mereka: "Mengapa tugasku disesuaikan? Mengapa aku diperlakukan seperti ini? Mengapa mereka begitu tidak pengertian? Mengapa mereka tidak adil terhadapku? Mengapa mereka tidak memikirkan harga diriku? Mengapa mereka menyerang dan mengucilkanku?" Semua "mengapa" ini adalah pengungkapan yang sangat jelas dari watak rusak dan karakter antikristus. Tak seorang pun dapat membayangkan bahwa untuk masalah sekecil perubahan tugas, antikristus akan membuat keributan seperti itu, menyebabkan kegaduhan seperti itu, dan mencoba segala cara untuk membesar-besarkannya seperti itu. Mengapa mereka membuat hal yang sederhana menjadi begitu rumit? Hanya ada satu alasan: antikristus tidak pernah menaati pengaturan rumah Tuhan, dan mereka selalu sangat mengaitkan tugas, ketenaran, keuntungan dan status dengan harapan untuk mendapatkan berkat dan tempat tujuan di masa depan, seolah-olah begitu reputasi dan status mereka hilang, harapan mereka untuk mendapatkan berkat dan upah pun hilang, dan ini rasanya seperti kehilangan nyawa mereka. Mereka berpikir, "Aku harus berhati-hati, aku tidak boleh lengah! Rumah Tuhan, saudara-saudari, para pemimpin dan pekerja, dan bahkan tuhan, semuanya tidak dapat diandalkan. Aku tidak dapat memercayai seorang pun dari mereka. Orang yang paling bisa kuandalkan dan yang paling layak dipercaya adalah diriku sendiri. Jika aku tidak membuat rencana untuk diriku sendiri, lalu siapa yang akan memedulikanku? Siapa yang akan memikirkan masa depanku? Siapa yang akan memikirkan apakah aku akan mendapatkan berkat atau tidak? Oleh karena itu, aku harus membuat rencana dan perhitungan yang matang demi kepentinganku sendiri. Aku tidak boleh melakukan kesalahan, bahkan sama sekali tidak boleh ceroboh, jika tidak, apa yang akan kulakukan jika ada orang yang mencoba mengambil keuntungan dariku?" Jadi, mereka pun bersikap waspada terhadap para pemimpin dan pekerja rumah Tuhan, karena takut ada orang yang akan mengenali dan mengetahui yang sebenarnya tentang mereka, sehingga mereka kemudian akan diberhentikan dan impian mereka untuk mendapatkan berkat akan hancur. Mereka berpikir bahwa mereka harus menjaga reputasi dan status mereka demi harapan mereka untuk mendapatkan berkat. Seorang antikristus memandang berkat sebagai sesuatu yang lebih besar daripada surga, lebih besar daripada hidup, lebih penting daripada mengejar kebenaran, perubahan watak, atau keselamatan pribadi, dan lebih penting daripada melakukan tugas mereka dengan baik, dan menjadi makhluk ciptaan yang memenuhi standar. Mereka berpikir bahwa menjadi makhluk ciptaan yang memenuhi standar, melakukan tugas mereka dengan baik dan diselamatkan, semua itu adalah hal-hal remeh yang hampir tidak layak disebutkan atau dikomentari, sedangkan mendapatkan berkat adalah satu-satunya hal di sepanjang hidup mereka yang tidak akan pernah bisa dilupakan. Dalam apa pun yang mereka hadapi, sebesar atau sekecil apa pun, mereka menghubungkannya dengan diberkati, dan sangat berhati-hati dan penuh perhatian, serta selalu mencadangkan jalan keluar untuk diri mereka sendiri. Jadi ketika tugas mereka disesuaikan, jika itu adalah promosi, seorang antikristus akan berpikir ada harapan untuk mereka diberkati. Jika itu adalah penurunan jabatan, dari pemimpin tim menjadi asisten pemimpin tim, atau dari asisten pemimpin tim menjadi anggota kelompok biasa, mereka memperkirakan bahwa ini akan menjadi masalah besar dan mereka berpikir harapan mereka untuk mendapatkan berkat sangat kecil. Pandangan macam apa ini? Apakah itu pandangan yang benar? Sama sekali tidak. Pandangan ini tidak masuk akal! Apakah seseorang mendapatkan perkenanan Tuhan atau tidak, itu bukan didasarkan pada tugas apa yang dia laksanakan, tetapi didasarkan pada apakah dia memiliki kebenaran, apakah dia benar-benar tunduk kepada Tuhan, dan apakah dia setia atau tidak. Ini adalah hal yang terpenting. Selama masa penyelamatan manusia oleh Tuhan, mereka harus menderita banyak ujian. Terutama dalam melaksanakan tugas mereka, mereka harus melewati banyak kegagalan dan rintangan, tetapi pada akhirnya, jika mereka memahami kebenaran dan benar-benar tunduk kepada Tuhan, mereka akan menjadi orang yang mendapatkan perkenanan Tuhan. Dalam hal dipindahkan dalam tugas mereka, dapat dilihat bahwa antikristus tidak memahami kebenaran, dan mereka sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk memahami.
Di antara mereka yang melaksanakan tugas, selalu ada beberapa yang tidak bisa melakukan apa pun dengan baik. Mereka tidak pandai menulis artikel karena tidak memahami kebenaran, dan mereka bahkan tidak menguasai istilah rohani atau bahasa yang biasa digunakan oleh orang Kristen. Mereka mungkin memiliki sedikit kemampuan menulis dan sedikit pengetahuan, tetapi mereka tidak mampu mengerjakan tugas tersebut. Jika engkau meminta mereka memeriksa naskah, dalam waktu sebentar saja akan terlihat bahwa mereka juga tidak pandai dalam bidang tersebut. Kualitasnya kurang dan selalu melewatkan hal-hal sehingga mereka dipindahkan lagi. Lalu, mereka mengatakan bahwa mereka memiliki keahlian komputer, tetapi, setelah melaksanakan tugas di bidang itu selama beberapa waktu, mereka juga tidak bisa mengerjakannya dengan baik. Kelihatannya mereka pandai memasak, jadi engkau memintanya memasak makanan untuk saudara-saudari. Ternyata semua orang melaporkan bahwa makanan yang mereka masak entah terlalu asin atau terlalu tawar, dan mereka selalu membuatnya terlalu banyak atau terlalu sedikit. Melihat bahwa mereka tidak cocok untuk memasak, akhirnya mereka diatur untuk memberitakan Injil. Namun, begitu mendengar dirinya akan bergabung dengan tim penginjilan, mereka merasa kecewa dan berpikir, "Inilah akhirnya. Aku dibuang dan tidak ada harapan untuk diberkati. Tidak ada lagi yang dapat dilakukan selain menangis." Lalu, dengan perasaan negatif dan hati yang terpuruk, mereka tenggelam dan merosot, serta kehilangan fokus pada tugas memberitakan Injil dan memberi kesaksian bagi pekerjaan baru Tuhan. Sebaliknya, mereka terus-menerus berpikir, "Kapan aku bisa kembali menjalankan tugas menulis? Kapan aku bisa merasa bangga lagi? Kapan aku dapat berbicara dengan yang di atas lagi, atau terlibat dalam pengambilan keputusan tingkat tinggi? Kapan semua orang akan menyadari bahwa aku adalah pemimpin lagi?" Mereka menunggu selama beberapa tahun tanpa diangkat kembali, lalu mulai berpikir, "Tidak ada gunanya percaya kepada Tuhan. Aku seperti orang-orang yang mengalami banyak rintangan dalam perjalanan menjadi pejabat di dunia, bukan?" Ketika memikirkan banyaknya rintangan itu, mereka makin kehilangan semangat dan merasa sangat kecewa. Mereka berkata, "Setelah bertahun-tahun menjadi orang percaya, aku belum pernah sekali pun menjadi pemimpin besar. Setelah akhirnya berhasil menjadi pemimpin tim, aku diberhentikan, dan aku pun belum pernah menunjukkan kinerja yang baik dalam tugas-tugas lain. Nasibku sungguh buruk. Tidak ada yang berjalan sesuai dengan keinginanku. Ini sama seperti menghadapi rintangan bertubi-tubi dalam perjalanan untuk menjadi pejabat. Mengapa rumah tuhan tidak mempromosikanku? Status dan reputasiku benar-benar jatuh. Tidak ada lagi yang mengingatku, dan yang di atas tidak pernah menyebut namaku. Masa kejayaanku telah berlalu. Apa yang harus kulakukan untuk menyikapi kegagalanku? Aku sangat mengasihi tuhan dan begitu mencintai gereja dan rumah tuhan, tetapi mengapa aku tidak berhasil? Tidak ada gunanya percaya kepada tuhan. Aku benar-benar ingin mewujudkan impian besarku di rumah tuhan, memanfaatkan tenaga dan kemampuanku, tetapi tuhan tidak menempatkanku di posisi penting atau melihatku. Tidak ada gunanya." Apa maksud mereka dengan terus-menerus meributkan bahwa semua itu "tidak ada gunanya"? Maksudnya adalah tidak ada gunanya melaksanakan tugas, mengejar perubahan watak, mendengarkan kebenaran dan khotbah, membaca firman Tuhan, dan mencari prinsip-prinsip kebenaran. Lalu bagi mereka, apa yang ada gunanya? Memiliki kedudukan pejabat, memperoleh berkat, memenuhi keinginan dan ambisi untuk memperoleh berkat, memamerkan diri di setiap kesempatan, dikagumi, dan memiliki prestise. Baginya, yang lain tidak ada gunanya. Ketika merasa tidak berguna dan kecewa, mereka mendapati diri mereka bergerak dengan sendirinya menuju pintu keluar. Mereka ingin meninggalkan rumah Tuhan dan mundur. Artinya, mereka berada dalam bahaya. Ada orang-orang yang melaksanakan tugas, khususnya mereka yang melaksanakan tugas yang tidak terlalu mencolok yang mengharuskannya banyak berinteraksi dengan orang tidak percaya, dan beberapa orang dalam kelompok itu memiliki satu kaki di dalam dan satu kaki di luar. Apakah maksudnya? Maksudnya, orang-orang itu dapat mundur kapan saja, dan jika pertahanan terakhirnya runtuh, mereka akan dengan pasti melangkah keluar, benar-benar memutuskan hubungannya dengan rumah Tuhan, dan meninggalkan gereja sepenuhnya. Ketika tugas mereka disesuaikan, seperti ke mana mereka dipindahkan, tugas apa yang mereka lakukan, apakah tugas tersebut memenuhi keinginan pribadi, apakah tugas itu membuat mereka dihormati, serta posisi dan jabatan dalam tugas barunya, semua itu mereka kaitkan dengan niat dan keinginannya untuk memperoleh berkat. Berdasarkan sikap dan pandangan antikristus terhadap penyesuaian tugasnya, di manakah letak masalahnya? Apakah itu masalah besar atau bukan? (Masalah besar.) Apa masalahnya? (Mereka menghubungkan penyesuaian tugas yang normal dengan statusnya di gereja dan apakah mereka dapat memperoleh berkat atau tidak. Ketika tugasnya disesuaikan, bukannya menerima dan mematuhi pengaturan rumah Tuhan, mereka justru merasa kehilangan status dan tidak dapat memperoleh berkat lagi, lalu mereka merasa bahwa percaya kepada Tuhan tidak ada gunanya dan ingin meninggalkan rumah Tuhan.) Kesalahan terbesar mereka di sini adalah menghubungkan penyesuaian tugas dengan memperoleh berkat. Itulah hal yang paling tidak boleh mereka lakukan. Sebenarnya, kedua hal tersebut tidak berhubungan sama sekali. Namun, karena hati antikristus dipenuhi keinginan untuk memperoleh berkat, apa pun tugas yang dilakukan, mereka akan menghubungkannya dengan apakah dirinya dapat memperoleh berkat atau tidak. Itu berarti bahwa mereka tidak mungkin menjalankan tugas dengan baik, dan akhirnya hanya dapat disingkapkan dan disingkirkan. Artinya, mereka hanya menciptakan masalah bagi dirinya sendiri dan mengarah pada jalan kehancuran.
Bagaimanakah seharusnya engkau menyikapi persoalan pelaksanaan tugasmu? Engkau harus memiliki sikap yang benar, yang merupakan prasyarat untuk melaksanakan tugas dengan baik. Tugas apa yang sesuai untukmu harus didasarkan pada kelebihanmu sendiri. Jika terkadang tugas yang diatur untukmu oleh gereja bukanlah sesuatu yang kaukuasai atau bukan sesuatu yang ingin kaulakukan, engkau dapat mengangkat masalah tersebut dan menyelesaikannya melalui komunikasi. Namun, jika engkau dapat melaksanakan tugas itu, dan itu adalah tugas yang harus kaulaksanakan, dan engkau tidak ingin melakukannya hanya karena engkau takut menderita, berarti ada masalah denganmu. Jika engkau bersedia untuk taat dan mampu memberontak terhadap dagingmu, barulah engkau dapat dikatakan cukup bernalar. Namun, jika engkau selalu berusaha mempertimbangkan tugas mana yang lebih bergengsi, dan engkau menganggap tugas tertentu akan membuat orang lain memandang rendah dirimu, ini membuktikan bahwa engkau memiliki watak yang rusak. Mengapa engkau begitu berprasangka dalam memahami tugasmu? Mungkinkah engkau mampu melaksanakan tugas dengan baik jika itu adalah tugas yang kaupilih berdasarkan gagasanmu sendiri? Belum tentu. Yang terpenting di sini adalah menyelesaikan watak rusakmu, dan jika engkau tidak menyelesaikan watak rusakmu, engkau tidak akan mampu melaksanakan tugasmu dengan baik, meskipun itu adalah tugas yang kaunikmati. Ada orang-orang yang melaksanakan tugasnya tanpa prinsip, dan pelaksanaan tugas mereka selalu didasarkan pada kesukaan mereka, sehingga mereka tidak pernah mampu menyelesaikan kesulitan, mereka selalu asal-asalan dalam melaksanakan setiap tugas, dan akhirnya mereka disingkirkan. Dapatkah orang semacam ini diselamatkan? Engkau harus memilih tugas yang sesuai dengan dirimu, melaksanakannya dengan baik, dan mampu mencari kebenaran untuk membereskan watak rusakmu. Hanya dengan demikianlah engkau akan dapat masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Jika engkau selalu mengejar kenikmatan daging dan berusaha terlihat baik dalam tugasmu, engkau tidak akan mampu melaksanakan tugasmu dengan baik. Jika engkau tidak dapat melaksanakan tugas apa pun dengan baik, engkau akan disingkirkan. Ada orang-orang yang selalu merasa tidak puas dengan tugas apa pun yang dilaksanakan. Mereka selalu memandang tugasnya sebagai hal yang sementara, melakukannya dengan asal-asalan, dan tidak mencari kebenaran untuk membereskan watak rusak yang mereka perlihatkan. Akibatnya, mereka melaksanakan tugas-tugas selama bertahun-tahun tanpa mencapai jalan masuk kehidupan. Mereka menjadi orang yang berjerih payah dan akhirnya disingkirkan. Bukankah ini adalah akibat dari tindakan mereka sendiri? Orang jahat dan antikristus tidak pernah memiliki sikap yang benar dalam tugas mereka. Apa yang mereka pikirkan ketika mereka dipindahkan? "Apakah menurutmu aku hanya pelaku pelayanan? Ketika engkau memanfaatkan aku, engkau membuatku melakukan pelayanan untukmu, dan ketika engkau selesai denganku, engkau begitu saja mengusirku. Baiklah, aku tidak akan melakukan pelayanan seperti itu! Aku ingin menjadi pemimpin atau pekerja karena itulah satu-satunya pekerjaan terhormat di sini. Jika engkau tak mau mengizinkanku menjadi pemimpin atau pekerja dan engkau tetap ingin aku bekerja keras, lupakan saja!" Sikap macam apa ini? Apakah mereka tunduk? Atas dasar apa mereka menanggapi diri mereka dipindahtugaskan? Atas dasar sikap yang gampang marah, ide mereka sendiri, dan watak mereka yang rusak, bukan? Dan apa konsekuensi memperlakukan hal ini seperti ini? Pertama-tama, akankah mereka mampu setia dan tulus dalam tugas mereka yang selanjutnya? Tidak, mereka tidak akan mampu. Akankah mereka memiliki sikap yang positif? Akan seperti apa keadaan mereka? (Keadaan putus asa.) Apa esensi dari putus asa? Esensinya adalah penentangan. Dan apa hasil akhir dari suasana hati yang penuh penentangan dan keputusasaan? Dapatkah seseorang dengan perasaan seperti itu melaksanakan tugasnya dengan baik? (Tidak.) Jika orang selalu negatif dan melawan, layakkah mereka melaksanakan tugas? Apa pun tugas yang mereka jalankan, mereka tidak mampu menjalankannya dengan baik. Ini adalah lingkaran setan, dan tidak akan berakhir dengan baik. Mengapa demikian? Karena orang semacam itu tidak berada di jalan yang baik; mereka tidak mencari kebenaran, mereka tidak tunduk, dan mereka tidak mampu memahami dengan baik sikap dan pendekatan rumah Tuhan terhadap mereka. Bukankah ini masalah? Perubahan dalam tugas sangat tepat untuk dilakukan, tetapi antikristus mengatakan bahwa itu dilakukan untuk menyiksa mereka, bahwa mereka tidak diperlakukan seperti manusia, bahwa rumah Tuhan tidak memiliki kasih, bahwa mereka diperlakukan seperti mesin, dipanggil saat dibutuhkan, lalu disingkirkan saat tidak dibutuhkan. Bukankah itu argumen yang terbalik? Apakah orang yang mengatakan hal semacam itu memiliki hati nurani atau nalar? Mereka tidak memiliki kemanusiaan! Mereka memutarbalikkan hal yang sangat tepat; mereka memutarbalikkan tindakan yang sepenuhnya tepat menjadi sesuatu yang negatif—bukankah inilah kejahatan antikristus? Dapatkah orang yang sejahat ini memahami kebenaran? Sama sekali tidak. Inilah masalah antikristus; apa pun yang terjadi pada diri mereka, mereka akan memikirkannya dengan cara yang memutarbalikkan. Mengapa mereka berpikir dengan cara memutarbalikkan? Karena natur mereka sangat jahat. Esensi natur antikristus terutama jahat, diikuti dengan kekejaman mereka, dan semua ini adalah karakteristik utama mereka. Natur jahat antikristus menghalangi mereka untuk memahami apa pun dengan benar, dan sebaliknya mereka menyimpangkan semuanya, berperilaku ekstrem, memperdebatkan hal-hal sepele, dan tak mampu menangani segala sesuatu dengan benar ataupun mencari kebenaran. Selanjutnya, mereka secara aktif melawan dan membalas dendam, bahkan menyebarkan gagasan dan melampiaskan kenegatifan, menghasut dan menarik orang lain untuk mengganggu pekerjaan gereja. Mereka secara diam-diam menyebarkan beberapa keluhan, mengkritik bagaimana orang diperlakukan oleh rumah Tuhan, beberapa aturan administrasinya, bagaimana pemimpin tertentu melakukan segala sesuatu, dan mengutuk para pemimpin ini. Watak macam apa ini? Ini adalah watak yang kejam. Antikristus bukan hanya menentang dan melawan seorang diri, melainkan juga menarik lebih banyak orang untuk ikut melawan bersamanya, memihak dan mendukungnya. Begitulah esensi natur antikristus. Mereka bahkan tidak dapat menyikapi penyesuaian sederhana dalam tugasnya dengan benar, atau menerimanya dan patuh dengan rasional, tetapi justru membesar-besarkan masalah dan melontarkan berbagai alasan, yang beberapa di antaranya tidak pantas dan membuat orang merasa muak serta kesal. Setelah menyebarkan kekeliruan dan ajaran sesat, antikristus akan berusaha memperbaiki situasi yang buruk demi dirinya sendiri dan membuat orang lain percaya kepadanya. Jika upaya tersebut tidak berhasil, apakah antikristus akan mampu berbalik? Jika mereka tidak bisa menempuh jalan ini, apakah mereka akan mampu mencari kebenaran? Apakah mereka memiliki keinginan untuk bertobat? Sama sekali tidak. Mereka akan berkata, "Jika engkau menghentikanku untuk memperoleh berkat, aku akan menghentikan engkau semua untuk memperolehnya! Jika aku tidak dapat memperoleh berkat, aku tidak mau percaya lagi!" Sebelumnya, Aku pernah membicarakan bagaimana antikristus sama sekali tidak masuk akal. Esensi natur di balik ketidakwajaran ini adalah bahwa mereka sangat jahat dan kejam. Hal yang kita persekutukan sekarang adalah perwujudan dan penyingkapan yang secara penuh menunjukkan esensi natur tersebut, dan ini adalah bukti yang paling sejati dari esensi naturnya. Sebagian dari orang-orang ini akan menjadi marah jika tugasnya disesuaikan bahkan sekali saja. Ada juga yang setelah dipindahkan berkali-kali dan beralih dari satu tugas ke tugas lain, tetap tidak mampu melakukan apa pun dengan baik. Akhirnya, mereka merasa tidak mempunyai harapan untuk mendapatkan berkat dan ingin mundur. Singkatnya, bagaimanapun tugasnya disesuaikan, selama ada penyesuaian, mereka akan terus menganalisis, menilai, serta memikirkannya dalam hati, dan baru bisa tenang jika mendapati bahwa penyesuaian itu tidak terkait dengannya untuk memperoleh berkat. Akan tetapi, begitu penyesuaian tersebut terkait sedikit saja dengan upaya untuk memperoleh berkat atau memengaruhi harapannya untuk mendapatkannya, mereka akan segera bangkit melawan dan esensi naturnya pun akan tersingkap. Jika mereka gagal dalam perlawanan itu, lalu disingkapkan dan ditolak, mereka akan segera membuat rencana cadangan dan meninggalkan rumah Tuhan dengan pasti dan tanpa ragu-ragu. Mereka tidak lagi percaya akan keberadaan Tuhan dan tidak lagi mengakui bahwa dirinya percaya kepada Tuhan. Kehidupan sehari-harinya akan berubah seketika, dan semua tanda-tanda sebagai orang yang percaya kepada Tuhan pun lenyap dalam dirinya. Mereka akan segera kembali bermabuk-mabukan, merokok, mengenakan pakaian yang aneh dan riasan menor, serta berpakaian berlebihan. Setelah merasa dibatasi dari kesenangan-kesenangan ini sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, mereka akan bergegas untuk mengganti apa yang dianggapnya sebagai waktu yang telah hilang. Ketika mempertimbangkan untuk mundur, mereka akan segera memikirkan langkah selanjutnya, bagaimana mereka dapat bekerja keras di dunia agar bisa maju, membangun tempat bagi dirinya sendiri, mendapatkan kehidupan yang nyaman sekaligus memikirkan jalan keluar dari situasi tersebut. Mereka akan dengan cepat mencari jalan bagi dirinya sendiri, memposisikan diri di tengah tren jahat yang ada di dunia yang jahat ini, serta menentukan tindakan apa yang harus diambil, baik dalam bisnis, politik, maupun jenis pekerjaan lain yang akan memungkinkan mereka untuk menjalani kehidupan yang lebih baik daripada orang lain, memberinya kegembiraan dan kebahagiaan selama sisa hidupnya, menikmati kenyamanan daging, dan sepenuhnya menikmati hidup dengan segala hiburan dan kesenangannya.
Ketika seorang antikristus dipangkas dan tugasnya disesuaikan, yang mereka pikirkan adalah soal menerima berkat yang terkait erat dengannya. Ketika harapan untuk berkat itu tidak ada lagi, mereka mulai berpikir untuk mundur, meninggalkan rumah Tuhan, dan kembali ke kehidupan orang tidak percaya. Berdasarkan hal tersebut, jelas bahwa esensi natur seseorang sangatlah penting, jadi bukankah pengejaran dan pilihan seseorang juga sangat penting? Satu pemikiran saja bisa membuat perbedaan besar: satu keputusan yang benar dapat membuatmu terus menerima penyelamatan Tuhan, sedangkan satu pilihan yang keliru dapat mengubahmu menjadi orang tidak percaya dalam sekejap, menjadi seseorang yang tidak terkait sama sekali dengan rumah Tuhan, dengan pekerjaan Tuhan, atau tugasnya. Hanya satu pemikiran, satu momen, atau satu perkara kecil dapat sepenuhnya mengubah nasib seseorang. Satu pilihan yang tidak disadari, satu pemikiran kecil yang tidak disadari, pemikiran sekilas, atau pandangan sederhana dapat mengubah takdir seseorang dan dapat menentukan arah hidupnya dalam sekejap. Ketika seseorang belum dihadapkan pada berbagai hal apa pun, mereka merasa telah memahami banyak kebenaran, memiliki tingkat pertumbuhan, dan mampu berdiri teguh. Namun, ketika dihadapkan pada suatu keputusan, prinsip yang lebih penting, atau masalah besar, pilihan apa yang akhirnya kauambil, apa sikapmu terhadap Tuhan, serta apa pandangan dan sikapmu terhadap persoalan tersebut akan menentukan takdirmu dan menentukan apakah engkau akan bertahan atau pergi. Pilihan yang biasanya diambil oleh antikristus dan keinginan terdalam mereka, semuanya bertentangan dengan kebenaran. Tidak ada ketundukan di dalamnya, hanya perlawanan tanpa kebenaran atau kemanusiaan, hanya watak rusak manusia, serta kekeliruan dan ajaran sesat. Semua hal ini sering kali memunculkan pemikiran untuk meninggalkan rumah Tuhan dan tenggelam dalam tren-tren jahat, dan mendorong mereka setiap saat berpikir, "Jika tidak ada lagi harapan untuk diberkati, mengapa tidak meninggalkan rumah tuhan saja? Jika begini, aku tidak akan percaya lagi, atau tidak akan menjalankan tugasku. Jika rumah tuhan memperlakukanku seperti ini, aku tidak akan lagi mengakui tuhan." Pemikiran-pemikiran yang sangat memberontak, ajaran sesat, kekeliruan, dan ide jahat seperti ini seringkali ada dan melekat dalam hati antikristus. Itulah sebabnya, meskipun mereka tidak mundur di tengah jalan dalam mengikuti Tuhan, sangat sulit bagi mereka untuk tetap berada di jalan tersebut hingga akhir. Sebagian besar dari mereka akan dikeluarkan dan diusir dari gereja karena banyaknya kejahatan yang telah dilakukannya, serta kekacauan dan gangguan yang telah mereka sebabkan. Bahkan jika mereka dapat memaksakan diri untuk bertahan hingga akhir, kenyataannya, kita dapat melihat dari esensi natur antikristus bahwa mereka pasti akan mundur dari gereja. Jauh dalam hatinya, mereka mungkin berpikir, "Aku sama sekali tidak bisa meninggalkan rumah tuhan. Sekalipun aku memiliki pemikiran semacam itu, aku tidak akan pergi. Aku akan bertahan di rumah tuhan bahkan hingga akhir hayatku. Aku akan tetap berada di sini dan mengikuti tuhan hingga akhir." Sekuat apa pun keinginan subjektif mereka yang memaksanya untuk tidak meninggalkan rumah Tuhan, dan meskipun mereka bersikeras untuk tetap tinggal berdasarkan keinginannya sendiri, mereka pada akhirnya ditakdirkan untuk dibenci dan ditolak oleh Tuhan, dan dengan sukarela meninggalkan rumah Tuhan karena kebenciannya terhadap kebenaran dan kejahatannya yang mengakar.
III. Perilaku Antikristus Ketika Mereka Diberhentikan
Kita baru saja bersekutu tentang dua perwujudan antikristus, yaitu ketika menghadapi pemangkasan, dan ketika menghadapi penyesuaian tugas. Fokus dari persekutuan kita adalah sikap antikristus ketika menghadapi situasi tersebut dan keputusan yang mereka ambil. Tentu saja, terlepas dari pandangan dan sikap antikristus ketika dipangkas atau tugasnya disesuaikan, mereka selalu mengaitkan kedua hal tersebut dengan kemungkinan mereka mendapatkan berkat. Jika yakin tidak akan diberkati atau tidak memiliki harapan sama sekali, mereka akan mundur dengan sendirinya. Bagi orang biasa yang tidak memiliki ambisi atau keinginan tertentu, dipangkas atau disesuaikan tugasnya sebenarnya bukanlah masalah besar. Keduanya tidak akan berdampak besar pada mereka. Haknya untuk melaksanakan tugas tidak dicabut dan harapan mereka untuk diselamatkan pun tidak hilang. Jadi, bagi orang biasa, tidak ada alasan untuk bereaksi berlebihan, merasa takut, sedih, atau mulai merencanakan jalan keluar. Namun, tidak demikian halnya dengan para antikristus. Mereka memandang hal tersebut sebagai persoalan yang sangat serius karena mereka menghubungkannya dengan memperoleh berkat, dan akhirnya itu menimbulkan berbagai macam pikiran dan perilaku memberontak dalam diri mereka, yang pada gilirannya menimbulkan gagasan dan rencana untuk mundur dan meninggalkan Tuhan. Bahkan, ketika menghadapi hal-hal yang sangat biasa seperti ini, antikristus bisa memunculkan gagasan untuk mundur. Jadi, bagi seseorang yang memiliki status dan bertanggung jawab atas pekerjaan penting di rumah Tuhan, bagaimana sikap mereka ketika menghadapi pemberhentian? Bagaimanakah mereka akan menanganinya, dan pilihan apakah yang akan mereka ambil? Ini memberikan gambaran yang lebih jelas. Bagi seorang antikristus, status, kekuasaan, dan reputasi merupakan prioritas utama dan sesuatu yang mereka anggap setara dengan hidupnya. Itulah sebabnya, ketika seorang antikristus diberhentikan, kehilangan gelar "pemimpin" dan tidak lagi memiliki status, yang berarti mereka kehilangan kekuasaan dan kehormatan, serta tidak lagi menerima perlakuan istimewa, seperti dikagumi, didukung, dan dihormati oleh orang lain, sebagai seorang antikristus yang memandang status dan kekuasaan sebagai hidupnya, ini adalah sesuatu yang benar-benar tidak dapat mereka terima. Ketika seorang antikristus diberhentikan, reaksi pertamanya adalah seperti tersambar petir, seolah-olah langit runtuh, dan dunianya hancur. Segala yang menjadi tumpuan harapannya telah hilang, begitu pula kesempatan untuk hidup dengan segala keuntungan dari status, termasuk dorongan yang membuatnya bertindak sembrono dan melakukan hal-hal buruk. Ini adalah hal yang paling tidak dapat mereka terima. Pikiran pertamanya adalah, "Sekarang statusku sudah hilang, bagaimana orang-orang akan memandangku? Apakah yang akan dipikirkan saudara-saudari di kampung halamanku? Bagaimana semua orang yang mengenalku akan memandangku? Apakah mereka masih akan menyanjungku? Apakah mereka masih akan ramah kepadaku? Apakah mereka akan tetap mendukungku di setiap kesempatan? Apakah mereka masih akan mengikutiku? Apakah mereka masih akan mengurus segala kebutuhanku dalam hidup? Ketika aku berbicara dengan mereka, apakah mereka masih akan bersikap sopan dan menyambutku dengan senyuman? Bagaimana aku akan bertahan hidup tanpa statusku? Bagaimana aku akan melanjutkan jalan ini? Bagaimana aku dapat memperoleh tempat berpijak di antara yang lain? Sekarang aku telah kehilangan statusku, bukankah itu berarti bahwa harapanku untuk diberkati akan berkurang? Apakah aku masih bisa memperoleh berkat yang besar? Apakah aku akan mendapatkan upah yang besar atau mahkota?" Ketika mereka berpikir bahwa harapannya untuk diberkati telah hancur atau berkurang drastis, kepalanya serasa mau meledak, hatinya serasa dipukul palu, dan rasa sakitnya seperti ditusuk pisau. Ketika mereka akan kehilangan berkat untuk memasuki kerajaan surga yang sangat mereka dambakan siang dan malam, baginya itu terasa seperti kabar buruk yang datang tiba-tiba. Bagi seorang antikristus, tidak memiliki status sama artinya dengan tidak memiliki harapan untuk diberkati. Mereka seperti mayat berjalan dan tubuhnya bagaikan cangkang kosong, tanpa jiwa, tanpa sesuatu yang membimbing hidupnya. Mereka tidak punya harapan dan apa pun juga untuk dinantikan. Ketika seorang antikristus dihadapkan pada penyingkapan dan pemberhentian, hal pertama yang terlintas di benaknya adalah mereka telah kehilangan harapan untuk diberkati. Jadi, pada titik ini, apakah mereka akan menyerah begitu saja? Apakah mereka akan bersedia untuk tunduk? Apakah mereka akan menggunakan kesempatan ini untuk melepaskan keinginannya akan berkat, meninggalkan ambisi status, dengan sukarela menjadi pengikut biasa, serta dengan senang hati bekerja untuk Tuhan dan menjalankan tugasnya dengan baik? (Tidak.) Apakah ini bisa menjadi titik balik baginya? Apakah titik balik ini akan membuatnya berkembang ke arah yang baik dan positif, atau justru membuatnya berkembang ke arah yang lebih buruk dan negatif? Berdasarkan esensi natur antikristus, jelas bahwa pemberhentian sama sekali bukanlah awal bagi mereka melepaskan keinginannya untuk diberkati, atau awal bagi mereka mencintai dan mencari kebenaran. Sebaliknya, mereka akan berusaha lebih keras untuk memperjuangkan kesempatan dan harapan mendapatkan berkat. Mereka akan berpegang teguh pada setiap kesempatan yang dapat membawa berkat, yang dapat membantunya kembali bangkit dan memungkinkannya untuk mendapatkan kembali statusnya. Itulah sebabnya, ketika menghadapi pemberhentian, selain merasa kesal, kecewa, dan bersikap menentang, seorang antikristus juga akan berusaha mati-matian untuk menghindari pemberhentian itu dan akan berusaha keras untuk membalikkan dan mengubah keadaan. Mereka akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk memastikan bahwa mereka masih memiliki harapan untuk diberkati, serta menjaga agar status, kehormatan, dan kekuasaannya tetap seperti semula. Bagaimanakah antikristus memperjuangkannya? Dengan berusaha membela diri, memberikan pembenaran, membuat dalih, dan menjelaskan mengapa mereka bertindak seperti itu, apa yang menyebabkan kesalahan mereka, bagaimana mereka bergadang semalaman untuk membantu orang lain dan bersekutu dengan mereka, serta apa yang menyebabkan kelalaiannya dalam persoalan ini. Mereka akan mengklarifikasi dan menjelaskan secara menyeluruh setiap bagian dari persoalan tersebut untuk menyelamatkan situasi dan menghindari nasib buruk berupa pemberhentian.
Dalam konteks dan perkara apakah para antikristus paling mungkin mengungkap dan memperlihatkan natur Iblis mereka? Itu terjadi ketika mereka disingkapkan dan diberhentikan, yaitu ketika mereka kehilangan status. Perwujudan utama yang ditampilkan oleh antikristus adalah mereka akan berusaha keras untuk membela diri dan berdalih. Seperti apa pun caramu bersekutu dengan mereka, antikristus akan bersikap menentang dan tidak mau menerima yang engkau katakan. Ketika dihadapkan dengan umat pilihan Tuhan yang mengungkap segala fakta tentang perbuatan jahatnya, mereka tidak mengakuinya sama sekali, jika mengakuinya, mereka takut akan dianggap bersalah, lalu dikeluarkan dan diusir. Bukannya mengakui tuduhan-tuduhan yang diarahkan kepadanya, mereka justru menyalahkan orang lain atas kesalahan dan tanggung jawabnya. Fakta ini cukup menunjukkan bahwa antikristus tidak pernah menerima kebenaran, tidak mengakui kesalahan, atau betul-betul mengenal dirinya sendiri. Itu makin membuktikan bahwa natur mereka congkak dan merasa diri benar, muak akan kebenaran, membenci kebenaran, serta tidak menerima kebenaran sama sekali sehingga mereka tidak dapat diselamatkan. Mereka yang masih memiliki sedikit kemanusiaan dan nalar, dapat mengakui dan menerima kesalahannya sendiri, menundukkan kepala ketika dihadapkan pada fakta, serta merasa menyesal atas kejahatan yang dilakukan. Namun, antikristus tidak mampu melakukan hal tersebut. Itu menunjukkan bahwa antikristus sama sekali tidak memiliki hati nurani atau nalar, dan sama sekali tidak ada kemanusiaan dalam dirinya. Di dalam hatinya, antikristus selalu menyamakan seberapa tinggi atau rendah status mereka dengan seberapa besar atau kecil berkat yang akan mereka dapatkan. Baik di rumah Tuhan maupun di kelompok mana pun, bagi mereka, status dan kelas seseorang telah digariskan, begitu pula kesudahannya; seberapa tinggi status seseorang dan seberapa besar kuasa yang mereka miliki di rumah Tuhan dalam kehidupan ini setara dengan besarnya berkat, upah, dan mahkota yang akan mereka terima di dunia yang akan datang—hal-hal ini dikaitkan. Apakah pandangan seperti itu benar? Tuhan tidak pernah mengatakan ini, Dia juga tidak pernah menjanjikan hal seperti itu, tetapi pemikiran seperti inilah yang muncul dalam diri seorang antikristus. Untuk saat ini, kita tidak akan membahas lebih jauh alasan mengapa antikristus memiliki pemikiran semacam itu. Namun, jika dilihat dari esensi naturnya, mereka dilahirkan dengan kecintaan terhadap status serta berharap mempunyai status yang bergengsi dan pengaruh yang tinggi dalam hidup ini, memegang kekuasaan, serta ingin terus menikmati semua ini di dunia yang akan datang. Jadi, bagaimanakah mereka akan meraih semua itu? Dalam pikiran antikristus, mereka akan meraihnya dengan melakukan beberapa hal yang mampu mereka lakukan, hal-hal yang mereka nikmati dan inginkan ketika memiliki status, kekuasaan, dan reputasi dalam hidup ini, kemudian menukarnya dengan berkat, mahkota, dan upah di masa depan. Itulah falsafah duniawi antikristus, dan seperti inilah cara mereka percaya kepada Tuhan dan pandangan yang mereka anut dalam imannya kepada Tuhan. Pemikiran, pandangan, dan cara mereka percaya kepada Tuhan sama sekali tidak ada hubungannya dengan firman Tuhan dan janji-Nya—semuanya benar-benar tidak ada kaitannya. Katakan kepada-Ku, bukankah ada yang salah dengan pikiran antikristus ini? Bukankah mereka sangat jahat? Mereka mengabaikan dan menolak menerima apa pun yang firman Tuhan katakan, mereka menganggap bahwa cara mereka berpikir dan cara mereka percaya kepada Tuhan adalah benar, dan mereka menemukan kesenangan dalam hal ini, menikmati dan mengagumi diri mereka sendiri. Mereka tidak mencari kebenaran, juga tidak menyelidiki apakah firman Tuhan mengatakan hal-hal semacam itu atau apakah Tuhan telah membuat janji-janji semacam itu. Antikristus percaya bahwa mereka memang sejak lahir lebih cerdas daripada orang lain serta secara alamiah bijaksana, berbakat, dan sangat berkarunia. Antikristus merasa bahwa mereka seharusnya menonjol di antara orang lain, menjadi pemimpin, dikagumi oleh orang lain, memiliki kekuasaan, serta memerintah orang lain, seolah-olah semua orang yang percaya kepada Tuhan harus berada di bawah kendalinya dan semua orang ada di sana semata-mata untuk mereka pimpin. Inilah yang ingin mereka dapatkan dalam kehidupan ini. Mereka juga ingin mendapatkan berkat yang tidak bisa diperoleh oleh orang lain di dunia yang akan datang, dan mereka menganggap ini sebagai sesuatu yang wajar. Jika antikristus memiliki pikiran dan pandangan yang demikian, bukankah ini menunjukkan mereka sama sekali tidak tahu malu? Bukankah mereka agak tidak masuk akal? Atas dasar apa engkau berpikir demikian? Atas dasar apa engkau ingin dihormati oleh orang lain? Atas dasar apakah engkau ingin mengendalikan orang lain? Atas dasar apa engkau ingin memiliki kekuasaan dan menduduki posisi tinggi di antara orang-orang? Apakah Tuhan telah menetapkan semua ini, atau apakah engkau memiliki kebenaran dan kemanusiaan? Apakah engkau layak untuk menyatakan statusmu dan memimpin orang lain hanya karena engkau berpendidikan dan memiliki sedikit pengetahuan, atau karena engkau lumayan tinggi dan berpenampilan menarik? Apakah itu membuatmu layak untuk memberi perintah? Apakah itu membuatmu layak untuk mengendalikan orang lain? Apakah ada firman Tuhan yang berbunyi, "Engkau menarik, engkau memiliki kelebihan dan karunia, jadi engkau harus memimpin orang lain dan memiliki status tetap"? Apakah Tuhan memberimu kuasa semacam itu? Apakah Tuhan telah menetapkan hal ini sebelumnya? Tidak. Ketika saudara-saudari memilihmu untuk menjadi pemimpin dan pekerja, apakah mereka memberimu status? Apakah itu berkat yang layak engkau dapatkan di kehidupan ini? Sebagian orang menganggap bahwa menikmati semua itu berarti mereka menerima seratus kali lipat dalam hidup ini. Mereka berpikir bahwa selama mereka memiliki status dan kekuasaan serta dapat memberi perintah dan mengendalikan banyak orang, mereka harus dikelilingi oleh serombongan pengikut, serta selalu memiliki banyak orang yang melayani dan berada di sekelilingnya ke mana pun mereka pergi. Atas dasar apa engkau ingin menikmati semua itu? Saudara-saudari memilihmu untuk menjadi pemimpin agar engkau dapat melaksanakan tugas, bukan untuk menyesatkan orang, dihormati atau dikagumi oleh saudara-saudari, apalagi untuk memegang kekuasaan dan menikmati keuntungan dari status. Mereka memilihmu justru agar engkau dapat menjalankan tugasmu sesuai dengan pengaturan kerja dan prinsip-prinsip kebenaran. Selain itu, Tuhan tidak pernah menetapkan bahwa seseorang yang dipilih oleh saudara-saudari untuk menjadi pemimpin tidak dapat diberhentikan. Apakah engkau berpikir dirimu adalah orang yang dipakai oleh Roh Kudus? Apakah engkau berpikir bahwa tidak ada seorang pun yang dapat memberhentikanmu? Lalu, apa salahnya memberhentikanmu? Jika engkau tidak diusir, itu karena engkau patut dikasihani dan diberi kesempatan untuk bertobat, tetapi engkau masih tidak puas. Apakah yang engkau perdebatkan? Jika engkau ingin mundur dan tidak percaya kepada Tuhan lagi karena harapanmu untuk diberkati telah musnah, lakukan saja dan mundurlah! Menurutmu, apakah rumah Tuhan tidak dapat bertahan tanpa dirimu? Apakah dunia ini akan berhenti berputar tanpa dirimu? Apakah tanpamu pekerjaan rumah Tuhan tidak dapat terlaksana? Jika kaupikir demikian, engkau salah besar! Kehilangan satu orang pun tidak akan membuat dunia berhenti berputar, atau matahari berhenti terbit. Hanya Tuhanlah yang tidak tergantikan, bukan manusia. Pekerjaan gereja akan tetap berjalan seperti biasa. Jika seseorang berpikir bahwa gereja tidak dapat berjalan tanpanya, dan rumah Tuhan tidak dapat bertahan tanpanya, bukankah mereka antikristus? Engkau terbiasa menikmati keuntungan dari status, bukan? Engkau terbiasa dihormati, dikagumi, dan dielu-elukan oleh orang lain, bukan? Bagaimana engkau layak dihormati oleh orang lain? Bagaimana engkau layak disambut dengan senyum oleh orang lain? Apakah engkau juga ingin agar orang lain membungkuk dan menyembahmu? Jika demikian, bukankah itu berarti engkau benar-benar tidak tahu malu? Ketika beberapa orang diberhentikan dari tugasnya, mereka menjadi makin kesal dan lebih menderita daripada ketika ada anggota keluarga yang meninggal. Mereka mengungkit segalanya dan berdebat dengan rumah Tuhan, seolah-olah tidak ada orang lain yang dapat memimpin gereja, seolah-olah hanya merekalah satu-satunya yang mendukung pekerjaan gereja hingga saat ini. Ini adalah kesalahan besar. Kenyataan bahwa umat pilihan Tuhan tidak meninggalkan Tuhan adalah dampak dari firman Tuhan, dan mereka menghadiri pertemuan dan menjalani kehidupan bergereja karena mereka percaya kepada Tuhan dan memiliki iman sejati kepada-Nya, bukan berarti umat pilihan Tuhan tetap teguh dan menghadiri pertemuan secara normal karena orang-orang tadi telah memahami kebenaran dan menyiraminya dengan baik. Para pemimpin gereja diganti dari waktu ke waktu, banyak pemimpin palsu dan pekerja palsu diberhentikan, tetapi umat pilihan Tuhan tetap menghadiri pertemuan serta makan dan minum firman Tuhan seperti biasa. Itu tidak ada hubungannya dengan para pemimpin palsu dan pekerja palsu tersebut. Apa gunanya menyampaikan argumen seperti itu? Bukankah engkau hanya membuat argumen yang tidak masuk akal dan membingungkan? Jika engkau benar-benar memiliki kenyataan kebenaran dan telah menyelesaikan banyak masalah umat pilihan Tuhan terkait jalan masuk kehidupan, umat pilihan Tuhan akan mengetahuinya dalam hati mereka. Jika engkau tidak memiliki kenyataan kebenaran dan tidak dapat bersekutu tentang kebenaran untuk menyelesaikan masalah, perkembangan normal dari pekerjaan gereja tidak ada hubungannya denganmu. Ada banyak sekali pemimpin palsu dan pekerja palsu, setelah diberhentikan, mereka terus berdalih, seolah-olah mereka memberikan kontribusi besar untuk gereja, padahal kenyataannya mereka tidak melakukan pekerjaan nyata, atau tatanan normal kehidupan bergereja tidak dipertahankan melalui pemeliharaan mereka. Tanpa mereka sekalipun, umat pilihan Tuhan terus menghadiri pertemuan secara normal dan menjalankan tugas-tugas mereka seperti biasa. Jika engkau tidak memiliki kenyataan kebenaran dan tidak dapat melakukan pekerjaan nyata, engkau harus diberhentikan agar tidak terus-menerus memengaruhi dan menunda, baik pekerjaan gereja maupun jalan masuk kehidupan dari umat pilihan Tuhan. Rumah Tuhan tidak akan memakai para pemimpin palsu dan pekerja palsu sepertimu. Apakah kaupikir rumah Tuhan tidak memiliki kuasa untuk memberhentikanmu? Engkau telah mengacaukan pekerjaanmu, engkau telah menimbulkan banyak masalah dan kerugian besar bagi pekerjaan gereja, dan engkau telah menyebabkan Yang di Atas sangat khawatir. Memakaimu sangatlah menyusahkan dan membuat orang merasa jijik, muak, dan benci. Engkau begitu bodoh, bebal, dan keras kepala serta bahkan tidak layak dipangkas sehingga rumah Tuhan ingin mengusirmu, menyingkirkanmu secepatnya, dan menyelesaikan persoalan ini. Namun, apakah engkau masih ingin agar Yang di Atas memberimu kesempatan lagi untuk terus menjadi pemimpin? Lupakan saja! Bagi para pemimpin palsu dan antikristus yang tidak memiliki hati nurani dan nalar, serta melakukan kejahatan dan menyebabkan gangguan, sekali mereka disingkirkan, mereka akan disingkirkan selamanya. Jika mampu melakukan pekerjaan nyata, engkau akan dipakai. Jika tidak mampu melakukan pekerjaan nyata, dan masih melakukan kejahatan dan menyebabkan gangguan, engkau akan disingkirkan secepatnya. Ini adalah prinsip rumah Tuhan dalam memakai orang. Ada antikristus yang tidak menyerah dan berkata, "Engkau memberhentikanku karena aku tidak melakukan pekerjaan nyata. Mengapa engkau tidak memberiku kesempatan untuk bertobat?" Bukankah ini argumen yang menyimpang? Engkau diberhentikan karena telah melakukan banyak kejahatan, dan engkau baru diberhentikan setelah dipangkas berkali-kali dan tetap saja menolak untuk bertobat, jadi alasan apa lagi yang ingin kaukatakan? Engkau mengejar ketenaran, keuntungan, dan status serta tidak melakukan pekerjaan nyata, membuat pekerjaan gereja terhenti, dan ada banyak masalah yang menumpuk yang tidak kautangani. Seberapa besarkah kekhawatiran Yang di Atas akibat ulahmu? Ketika Yang di Atas mendukung dan membantumu dengan pekerjaanmu, engkau justru melakukan berbagai hal secara sembunyi-sembunyi, hal yang melanggar prinsip, dan hal-hal yang memalukan di belakang Yang di Atas, seenaknya membelanjakan persembahan bagi Tuhan untuk membeli banyak sekali hal yang seharusnya tidak engkau beli, serta menyebabkan banyak sekali kerugian terhadap kepentingan rumah Tuhan dan membawa bencana yang sangat besar kepada pekerjaan gereja! Mengapa engkau tidak pernah berbicara tentang perbuatan-perbuatan jahat itu? Ketika rumah Tuhan akan memberhentikanmu, engkau dengan tidak tahu malunya berkata, "Bisakah engkau memberiku kesempatan lagi?" Apakah rumah Tuhan harus memberimu kesempatan lagi agar engkau bisa terus bertindak semaunya dan melakukan hal-hal buruk? Apakah engkau begitu tidak tahu malunya sehingga meminta rumah Tuhan untuk memberimu kesempatan lagi? Apakah engkau layak diberi kesempatan lagi ketika engkau tidak mengenal naturmu sama sekali, apalagi memiliki penyesalan dalam hatimu? Orang-orang semacam ini tidak tahu malu, mereka sudah mati rasa terhadap rasa malu, dan mereka adalah orang-orang jahat dan antikristus!
Beberapa pemimpin dan pekerja sama sekali tidak dapat melakukan pekerjaan nyata, bahkan setelah mereka diberi bimbingan dan bantuan oleh Yang di Atas selama beberapa waktu. Mereka bahkan tidak dapat menangani pekerjaan urusan umum dengan baik, yang menunjukkan bahwa kualitas mereka terlalu rendah. Yang di Atas juga harus secara rutin melakukan penyelidikan dan pemeriksaan terhadap semua aspek pekerjaan itu dan meminta saudara-saudari untuk secepatnya melaporkan masalah apa pun yang timbul. Yang di Atas juga perlu melakukan pengecekan, memberi bimbingan, dan bersekutu tentang prinsip-prinsip terkait segala aspek pekerjaan. Setelah Yang di Atas selesai bersekutu tentang prinsip-prinsip itu, ada beberapa yang tetap tidak tahu cara melakukannya, atau mereka melakukannya dengan buruk. Ada pula yang bahkan bertindak sesuka hati dan melakukan hal-hal buruk. Apa pun pekerjaan yang dilakukan, mereka tidak pernah mencari pemahaman dari Yang di Atas dan tidak pernah melaporkan masalah apa pun kepada Yang di Atas, tetapi justru melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Apa masalahnya? Apakah natur dari orang-orang seperti ini? Apakah mereka mencintai kebenaran? Apakah mereka layak untuk dibina? Apakah mereka masih layak untuk menjadi pemimpin dan pekerja? Pertama, mereka tidak mencari pemahaman sebelum melakukan sesuatu. Kedua, mereka tidak membuat laporan selama bekerja. Ketiga, mereka tidak memberikan umpan balik setelah menyelesaikannya. Mereka bertindak dengan begitu memalukan, tetapi masih saja tidak mau diberhentikan, dan bahkan setelah diberhentikan, mereka tidak mau tunduk. Apakah orang-orang itu masih mungkin untuk ditolong? Katakan kepada-Ku, apakah sebagian besar orang yang tidak mungkin ditolong itu benar-benar tidak tahu malu dan tidak masuk akal? Mereka tidak melakukan apa pun dengan baik, mereka malas, dan hanya mencari kenyamanan. Dalam setiap pekerjaan, mereka hanya membuka mulut untuk memberikan perintah, dan setelah berbicara, mereka tidak melakukan apa-apa lagi. Mereka tidak pernah mengawasi, memeriksa, atau menindaklanjuti pekerjaan, dan mereka menyimpan permusuhan dan kebencian terhadap siapa pun yang melakukannya, bahkan ingin membuat orang itu menderita. Bukankah ini ciri khas antikristus? Inilah keburukan antikristus. Mereka tidak mengenal diri sendiri, bertindak dengan sangat memalukan dan masih ingin diberkati, masih ingin bersaing dengan rumah Tuhan dan Yang di Atas, bahkan masih ingin berargumen. Bukankah ini sama saja dengan menantang maut? Ketika orang-orang tidak berguna seperti ini diberhentikan, mereka menjadi sangat marah dan menentangnya. Mereka benar-benar tidak tahu malu dan sama sekali tidak memiliki nalar. Ketika melaksanakan tugas, mereka bertindak sesuka hati dan melakukan hal-hal buruk, serta mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja. Namun, ketika diberhentikan, mereka bukan hanya menolak mengakui kesalahannya, melainkan juga melemparkan tanggung jawab kepada orang lain dan mencari-cari kesalahan orang lain dengan berkata, "Merekalah yang melakukannya, dan aku bukanlah satu-satunya yang bertanggung jawab atas hal ini. Semuanya membahas persoalan itu bersama-sama, dan aku bukanlah pemimpinnya." Mereka sama sekali tidak bertanggung jawab, seolah-olah jika bertanggung jawab, mereka akan dihukum dan disingkirkan serta akan sepenuhnya kehilangan harapan untuk diberkati. Oleh karena itu, mereka lebih memilih mati daripada mengakui kesalahan dan menerima tanggung jawab langsung. Sebaliknya, mereka justru terus mencari kambing hitam. Ditilik dari pola pikirnya, mereka akan melawan Tuhan hingga akhir! Apakah orang-orang seperti ini menerima kebenaran? Apakah orang-orang seperti ini menerima penghakiman dan hajaran Tuhan? Fakta bahwa mereka mampu melawan rumah Tuhan dengan cara demikian menunjukkan bahwa ada sesuatu yang sangat salah dalam watak mereka. Terkait dengan caranya menyikapi kesalahan, pertama-tama, mereka tidak mencari kebenaran, dan kedua, mereka tidak merenungkan diri sendiri. Mereka juga mengalihkan tanggung jawab, dan, ketika rumah Tuhan menindak mereka dengan cara tertentu dan memberhentikan mereka dari tugasnya, mereka pun melawan rumah Tuhan serta menyebarkan keluhan dan kenegatifan ke mana pun mereka pergi, berusaha mendapatkan simpati dari umat pilihan Tuhan. Mereka percaya kepada Tuhan, tetapi melawan-Nya. Bukankah ini sama saja dengan menantang maut? Orang-orang itu benar-benar tidak masuk akal! Jadi, bagaimana jika mereka diberhentikan dari tugas dan kehilangan statusnya? Mereka belum diusir, dan hak hidup mereka pun belum dicabut. Mereka dapat bertobat, mulai lagi dari awal, dan bangkit kembali di titik mana pun mereka gagal dan terjatuh. Antikristus bahkan tidak dapat menerima hal yang sesederhana itu. Orang-orang seperti ini betul-betul tidak dapat diselamatkan! Tentu saja, ketika sejumlah antikristus diberhentikan, mereka tampak menaatinya dengan enggan di permukaan. Mereka tidak terlihat terlalu putus asa atau menunjukkan permusuhan, tetapi apakah itu berarti bahwa mereka menerima kebenaran dan tunduk kepada Tuhan? Tidak. Antikristus memiliki watak dan esensi antikristus, dan inilah yang membedakan mereka dari orang normal. Meskipun di luarnya mereka tidak mengatakan apa pun setelah diberhentikan, di dalam hatinya, mereka terus menentang. Mereka tidak mengakui kesalahan mereka, dan berapa lama pun waktu berlalu, mereka tidak akan pernah mampu sungguh-sungguh mengenal diri mereka sendiri. Ini sudah lama terbukti. Ada juga hal lain yang tentangnya antikristus yang tidak pernah berubah: di mana pun mereka melakukan sesuatu, mereka ingin terlihat berbeda, ingin dihormati dan dihargai oleh orang lain; sekalipun mereka tidak memiliki kedudukan dan jabatan yang sah sebagai pemimpin gereja atau pemimpin tim, mereka tetap ingin menjadi lebih unggul dalam hal kedudukan dan nilai diri mereka. Entah mereka dapat melakukan pekerjaan atau tidak, seperti apa pun kemanusiaan atau pengalaman hidup yang mereka miliki, mereka akan merancang berbagai macam cara dan berusaha keras mencari kesempatan untuk pamer, untuk mendapatkan perkenanan orang lain, memenangkan hati orang, dan memikat serta menyesatkan orang, demi mendapatkan penghargaan mereka. Hal apa yang antikristus inginkan untuk orang kagumi tentang diri mereka? Meskipun mereka telah diberhentikan, mereka berpikir "beruang yang lemah masih lebih kuat daripada rusa" dan mereka tetaplah elang yang terbang di atas ayam-ayam. Bukankah ini kecongkakan dan sikap merasa diri benar dari antikristus, dan merupakan hal berbeda tentang mereka? Mereka tidak tahan jika tidak memiliki status, menjadi orang percaya biasa dan orang biasa, hanya melaksanakan tugas mereka dengan baik dengan praktis dan realistis, tetap di posisi mereka, atau hanya melakukan pekerjaan dengan baik, memperlihatkan kesetiaan mereka, melakukan yang terbaik dalam pekerjaan yang dipercayakan kepada mereka. Hal-hal ini sama sekali tidak memuaskan mereka. Mereka tidak mau menjadi orang semacam itu atau melakukan hal-hal semacam itu. Apa "cita-cita besar" mereka? Mereka ingin dihargai dan dihormati, dan memegang kekuasaan. Jadi, sekalipun mereka tidak memiliki gelar tertentu pada nama mereka, seorang antikristus akan berjuang untuk kepentingannya sendiri, berbicara untuk kepentingannya sendiri dan membenarkan diri mereka sendiri, melakukan semua yang mereka bisa untuk memamerkan diri mereka, takut tak seorang pun akan melihat atau tak seorang pun akan memperhatikan mereka. Mereka akan berupaya keras pada setiap kesempatan untuk menjadi lebih dikenal, meningkatkan gengsi mereka, membuat lebih banyak orang melihat bakat dan kelebihan mereka, dan memperlihatkan bahwa mereka unggul daripada orang lain. Sementara melakukan hal-hal ini, antikristus bersedia membayar berapa pun harganya untuk memamerkan dan memuji diri mereka sendiri, untuk membuat semua orang berpikir bahwa, meskipun mereka bukan pemimpin dan tidak memiliki status, mereka tetap unggul daripada orang biasa. Dengan demikian, antikristus telah mencapai tujuan mereka. Mereka tidak mau menjadi orang kebanyakan, orang biasa; mereka menginginkan kekuasaan dan gengsi, dan ingin terlihat paling menonjol. Beberapa orang berkata, "Ini tidak dapat diterima. Apalah gunanya memiliki status, kehormatan, dan kekuasaan?" Bagi orang yang bernalar, kekuasaan dan status tidak berguna dan bukanlah sesuatu yang harus mereka kejar. Namun, bagi antikristus yang penuh ambisi, status, kekuasaan, dan kehormatan sangatlah penting. Tidak ada yang dapat mengubah pandangan, cara hidup, dan tujuan hidup mereka. Inilah esensi natur antikristus. Oleh karena itu, jika engkau melihat seseorang yang melaksanakan tugasnya secara proaktif dan melindungi statusnya ketika memilikinya, serta tetap ingin melakukan segala yang mereka mampu untuk melindungi reputasinya ketika tidak memiliki status, orang semacam itu sudah tidak dapat diselamatkan, dan mereka adalah antikristus yang sesungguhnya.
Sebelum dan sesudah seorang antikristus diberhentikan, ketika mereka masih gagal mendapatkan status, kekuasaan, dan reputasi yang mereka inginkan meskipun telah berupaya keras, mereka tidak akan melepaskan status dan keinginannya untuk memperoleh berkat. Mereka tidak akan melepaskan hal tersebut dan berbalik untuk mengejar kebenaran atau menjalankan tugasnya dengan baik, secara jujur dan rendah hati. Mereka tidak akan pernah benar-benar bertobat atas kesalahan yang pernah dilakukannya, dan justru akan terus membuat penilaian seperti, "Apakah aku akan mempunyai harapan mendapatkan status di masa depan? Tanpa status, apakah aku mempunyai sedikit harapan untuk diberkati? Apakah keinginanku untuk mendapat berkat dapat terpenuhi? Apa posisiku di rumah tuhan, di gereja? Di mana posisiku di dalam hierarki?" Ketika menyimpulkan bahwa mereka tidak mempunyai reputasi besar dalam gereja, tidak dipandang baik oleh sebagian besar orang, dan bahkan banyak orang memakainya sebagai contoh teladan yang buruk, mereka merasa bahwa reputasinya dalam gereja telah hancur sepenuhnya, mereka tidak didukung oleh sebagian besar orang, dan tidak mungkin diakui lagi oleh sebagian besar orang, dan harapannya untuk diberkati nyaris tidak ada. Ketika mereka melihat semua itu dan mencapai kesimpulan dalam penilaiannya, pemikiran dan sikapnya tetap tidak ingin melepaskan niat dan keinginannya sendiri, serta sungguh-sungguh bertobat kepada Tuhan atau mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk berjerih payah bagi Tuhan dan menjalankan tugasnya dengan setia. Ini bukanlah yang ada dalam benaknya. Jadi, seperti apa? Mereka berpikir, "Karena aku tidak akan meraih aspirasiku atau tidak memiliki status di rumah tuhan dan di gereja, mengapa aku harus terus mengikuti jalan buntu ini? Pindah lokasi mungkin bermanfaat. Segalanya akan lebih bagus jika aku pergi ke tempat lain. Mengapa aku tidak keluar dari tempat yang menghancurkan hatiku ini? Mengapa aku tidak meninggalkan tempat ini, yang tidak dapat membantuku meraih aspirasiku, yang membuatku kesulitan mewujudkan aspirasiku?" Ketika seorang antikristus memikirkan semua hal tersebut, bukankah itu berarti mereka akan meninggalkan gereja? Apakah engkau semua menginginkan orang semacam itu untuk pergi atau tetap tinggal? Haruskah mereka dibujuk untuk tinggal? (Mereka tidak harus dibujuk, dan mereka tidak akan tinggal meskipun seseorang berusaha membujuknya.) Tidak ada yang dapat membuat mereka tetap tinggal. Ini adalah kenyataan. Apakah penyebabnya? Pada akhirnya, antikristus tidak mencintai kebenaran, jadi tinggal di rumah Tuhan hanya akan membuat mereka sakit hati. Itu sama saja seperti berusaha meminta seorang pelacur atau perempuan sundal untuk membantu suaminya dan mendidik anak-anaknya, serta untuk menjadi perempuan berbudi, istri yang baik, dan ibu yang penyayang. Dapatkah perempuan itu melakukan semua itu? (Tidak.) Itu adalah masalah natur seseorang. Jadi, jika engkau melihat seorang antikristus ingin mundur, apa pun yang engkau lakukan, jangan berusaha meyakinkannya untuk tidak mundur, kecuali dalam situasi khusus ketika mereka berkata, "Meskipun aku seorang antikristus, aku ingin berjerih payah untuk rumah Tuhan. Aku akan memaksa diriku untuk tidak melakukan kejahatan, dan aku akan memberontak terhadap Iblis." Dalam kasus seperti itu, apakah mereka perlu diusir seperti lalat? (Tidak.) Dalam kasus demikian, kita dapat membiarkan keadaan itu berjalan apa adanya, tetapi ada satu prosedur yang harus diterapkan. Antikristus itu harus diawasi dan dipantau oleh lebih banyak orang, dan begitu muncul tanda masalah, seperti mereka ingin berbuat jahat, mereka harus dikeluarkan secepatnya. Jika mereka tidak tahan diawasi dan dipantau oleh orang lain, merasa diperlakukan salah, dan tidak bersedia untuk berjerih payah, lantas bagaimana seharusnya orang semacam itu diperlakukan? Engkau harus mendukungnya ke arah yang diinginkannya dengan berkata, "Engkau berbakat, dan engkau harus pergi ke luar, ke dunia orang tidak percaya dan mewujudkan rencana besarmu. Engkau ibarat ikan yang terlalu besar untuk kolam ini. Gereja tidak cocok untukmu. Engkau tidak dapat merentangkan sayapmu di sini. Pekerjaan ini tidak layak untuk bakatmu. Jika kembali ke dunia, mungkin engkau akan dipromosikan, menghasilkan banyak uang, dan menjadi kaya. Mungkin engkau akan menjadi selebritis!" Cepat-cepatlah dorong mereka untuk pergi. Jika mereka mengejar kekayaan dan status serta mendambakan keuntungan dari status, biarkan saja mereka kembali ke dunia untuk bekerja dan menghasilkan uang, menjadi pejabat, dan menikmati kehidupan daging. Beberapa mungkin bertanya apakah dengan memperlakukannya seperti itu, kita tidak memiliki hati yang mengasihi. Kenyataannya, bahkan jika engkau tidak mengatakan hal-hal seperti itu kepadanya, seorang antikristus akan berpikir dalam hati, "Huh, satu hari dipromosikan, hari lain diberhentikan. Aku diberi status, tetapi dipantau, diawasi, dan dipangkas. Betapa pedihnya! Status semacam itu tidak sulit untuk kuperoleh. Jika aku tidak percaya kepada tuhan, aku pasti sudah kaya dan mencapai posisi sosial yang tinggi di dunia saat ini. Setidak-tidaknya, aku pasti telah menjadi pejabat tingkat kota. Aku terlahir untuk menjadi seorang pejabat. Aku ini luar biasa, apa pun yang kulakukan di dunia ini. Aku melakukan segalanya dengan baik. Aku bisa terkenal di bidang apa pun, dan aku adalah orang yang giat." Meskipun engkau tidak mengatakan hal-hal seperti itu kepadanya, mereka akan mengatakan hal demikian. Itulah sebabnya engkau harus secepatnya mengatakan hal-hal manis yang ingin mereka dengar dan mendorongnya untuk meninggalkan gereja. Itu akan menguntungkan semua orang. Antikristus mengejar status, kekuasaan, dan reputasi. Mereka tidak mau menjadi orang biasa, tetapi justru selalu mau menjadi yang terdepan dari yang lain hingga akhirnya mereka menghancurkan reputasi dan nama baiknya, serta dilaknat oleh Tuhan. Jadi, apakah engkau semua bersedia untuk menjadi orang biasa? (Ya.) Menjadi orang biasa itu sebenarnya bermakna. Tidak mengejar ketenaran dan keuntungan, dan justru merasa puas dengan kehidupan yang nyata, hidup dalam kedamaian dan kegembiraan, serta memiliki hati yang tenang. Itulah jalan hidup yang benar. Jika orang selalu ingin menjadi lebih unggul dan lebih baik dari orang lain, maka itu sama seperti mereka sedang memanggang diri mereka sendiri di atas api dan memasukkan diri mereka ke dalam penggiling daging. Mereka sedang mencari masalah. Mengapa mereka memiliki perasaan seperti itu? Apakah menjadi yang terdepan dari yang lain itu sesuatu yang baik? (Tidak.) Itu bukanlah hal yang baik. Namun, para antikristus tetap bersikeras memilih jalan ini. Apa pun yang engkau semua lakukan, jangan mengikuti jalan tersebut!
Ketika orang biasa dan rusak belum memiliki dasar iman kepada Tuhan, belum membangun iman yang sejati kepada Tuhan, mereka memiliki iman dan tingkat pertumbuhan yang kecil. Ketika orang seperti itu menghadapi kegagalan, mereka akan berpikir buruk tentang dirinya sendiri, serta berpikir bahwa Tuhan tidak mengasihinya, dan Dia membencinya. Ketika melihat dirinya menghadapi rintangan dan selalu gagal, dan tidak mampu menyenangkan Tuhan, mereka akan merasa putus asa. Mereka juga akan mengalami sejumlah kelemahan dan kenegatifan, dan terkadang pikiran untuk meninggalkan gereja akan timbul dalam dirinya. Namun, itu tidak sama dengan sikap menentang. Itu adalah semacam pikiran yang timbul dalam diri seseorang ketika putus asa dan kecewa, dan itu jauh berbeda dari sikap ingin mundur yang ditunjukkan oleh antikristus. Ketika seorang antikristus ingin mundur, mereka akan lebih memilih mati daripada bertobat. Namun, ketika orang biasa dan rusak merasa putus asa dan berpikir untuk meninggalkan gereja, dengan bantuan dan persekutuan dari orang lain, dibantu oleh sikap kooperatif dan proaktifnya sendiri, serta diiringi tindakan berdoa, mencari, dan membaca firman Tuhan, firman Tuhan dapat secara perlahan memengaruhinya, mengubahnya, serta menentukan apakah mereka tetap tinggal atau pergi, mengubah keputusan, dan pikirannya. Sementara itu, firman Tuhan juga dapat membantunya untuk secara perlahan mengembangkan sikap pertobatan, sikap positif, dan kemauan untuk bertahan yang secara perlahan memungkinkannya untuk menjadi kuat. Inilah perwujudan dari proses jalan masuk kehidupan bagi orang normal. Sebaliknya, antikristus akan berjuang sampai titik darah penghabisan. Mereka tidak akan pernah bertobat dan lebih memilih mati daripada mengakui bahwa mereka bersalah, daripada mengenal diri sendiri, dan daripada melepaskan keinginannya akan berkat. Mereka tidak memiliki sedikit pun jalan masuk kehidupan. Jadi, untuk orang seperti itu, yang tidak bersedia berjerih payah atau yang tidak bekerja dengan baik, cukup sarankan mereka untuk meninggalkan gereja. Itu adalah keputusan yang bijak dan cara yang paling arif untuk menangani persoalan tersebut. Bahkan jika engkau tidak menyarankan hal tersebut kepadanya, apakah engkau bisa membuatnya tetap tinggal? Dapatkah engkau mengubah cara pengejaran atau sudut pandangnya? Engkau tidak akan pernah bisa mengubahnya. Ada beberapa orang yang didorong untuk tetap tinggal, dibantu, dan didukung oleh rumah Tuhan karena kenegatifan, kelemahan, dan watak-watak rusak yang mereka perlihatkan adalah hal yang umum bagi semua orang biasa dan rusak, dan termasuk dalam kategori normal. Dengan bersekutu tentang firman Tuhan serta melalui bantuan dan dukungan orang lain, mereka secara bertahap dapat menjadi kuat, mencapai tingkat pertumbuhan, menumbuhkan iman kepada Tuhan, dan tulus dalam menjalankan tugasnya. Seperti itulah orang yang harus kita bantu dan dorong untuk tetap tinggal. Namun, bagi antikristus yang tidak ingin berjerih payah, atau tidak berjerih payah dengan baik, doronglah mereka untuk pergi, karena jauh sebelum engkau menyarankannya untuk pergi, mereka sudah ingin melakukannya, atau sudah berada di ambang untuk pergi kapan saja. Ini adalah berbagai perwujudan dan pemikiran yang dimiliki oleh antikristus ketika dihadapkan pada pemberhentian dan keinginan untuk mundur.
IV. Perilaku Antikristus Ketika Mereka Tidak Dipromosikan
Ada satu lagi tipe orang yang tidak mengejar kebenaran. Karena orang semacam ini tidak mengejar kebenaran, mereka tidak menjalankan tugas-tugas penting, dan akibatnya, mereka jarang mengalami pemangkasan di rumah Tuhan. Mereka juga belum pernah mengalami pemberhentian dari tugas-tugasnya, dan tentu saja, sangat jarang dipindahtugaskan. Namun, ketika mereka belum juga dipromosikan setelah bertahun-tahun percaya kepada Tuhan, mereka mulai sering mengevaluasi seberapa besar harapan mereka untuk diberkati. Apalagi ketika melihat firman Tuhan yang berbunyi, "Orang yang tidak mengejar kebenaran tidak dapat memperoleh keselamatan," mereka merasa bahwa harapan mereka untuk diberkati sangatlah kecil, dan mereka pun mulai berpikir untuk mundur. Beberapa dari orang-orang yang tidak pernah mengejar kebenaran ini, memiliki pengetahuan dan kemampuan tertentu, dan karena mereka belum pernah dipromosikan, mereka merasa tidak puas dan mulai mengeluh. Mereka ingin mundur, tetapi takut akan kehilangan kesempatan untuk diberkati. Namun, jika tidak mundur, mereka tetap tidak akan dipromosikan—mereka terjebak dalam dilema. Apa pendapat engkau semua tentang persoalan ini? Meskipun orang-orang tersebut tidak mengejar kebenaran, beberapa di antaranya cukup rajin dan bersemangat. Apa pun tugas yang dijalankan, mereka selalu bersedia mempelajari pengetahuan profesional yang relevan, selalu ingin dipromosikan oleh rumah Tuhan, dan berharap bisa menonjol suatu hari nanti dan memperoleh status serta berbagai keuntungan yang mereka inginkan. Secara sepintas, orang-orang seperti ini tampak pendiam, tidak diperhatikan, rajin, dan bersungguh-sungguh ketika bersama orang lain, tetapi hati mereka dipenuhi ambisi dan keinginan. Apakah moto mereka? Kesempatan datang kepada mereka yang siap. Di permukaan, mereka sama sekali tidak diperhatikan, tidak memamerkan diri, tidak bersaing atau berebut sesuatu, tetapi di dalam hati, mereka menyimpan "ambisi besar". Itulah sebabnya, ketika melihat seseorang dipromosikan dan menjadi pemimpin dan pekerja di gereja, mereka merasa agak makin sedih dan kecewa. Siapa pun yang dipromosikan, dibina, atau diberi peranan penting, baginya mereka, itu selalu menjadi pukulan. Bahkan ketika seseorang dihormati, dipuji, dan didukung oleh saudara-saudari, dalam hati, mereka merasa iri dan sedih. Beberapa bahkan diam-diam mencucurkan air mata, kerap bertanya ke diri sendiri, "Kapan aku akan dihormati dan dicalonkan? Kapan aku akan dikenal oleh yang di atas? Kapan seorang pemimpin akan melihat kelebihan, kebajikan, karunia, dan bakatku? Kapan aku akan dipromosikan dan dibina?" Mereka merasa tertekan dan negatif, tetapi tidak ingin terus seperti itu. Jadi, mereka diam-diam menyemangati diri sendiri untuk tidak merasa negatif, memiliki kegigihan, dan pantang menyerah. Mereka sering mengingatkan dirinya sendiri dengan berkata, "Aku adalah seseorang dengan ambisi besar. Aku tidak boleh puas hanya menjadi orang biasa, orang kebanyakan. Aku tidak boleh rela hanya menjalani kehidupan yang sibuk, tetapi biasa-biasa saja. Imanku kepada Tuhan haruslah luar biasa dan menghasilkan pencapaian besar. Jika aku terus menjalani kehidupan yang tenang dan biasa-biasa saja begini, itu sangat pengecut dan menyesakkan! Aku tidak bisa menjadi orang seperti itu. Aku akan bekerja dua kali lebih keras, memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya, lebih banyak membaca dan menghafal firman Tuhan, memperoleh pengetahuan, dan mempelajari profesi ini lebih dalam. Aku harus melakukan apa yang orang lain bisa lakukan, dan aku harus mampu bersekutu tentang hal-hal yang bisa dipersekutukan orang lain." Setelah bekerja keras selama beberapa waktu, pemilihan gereja pun tiba, tetapi mereka tetap tidak terpilih. Setiap kali gereja mencari seseorang untuk dibina, dipromosikan, atau diberikan peran penting, mereka tidak terpilih. Setiap kali mereka berpikir bahwa mereka memiliki harapan untuk dipromosikan, mereka akhirnya kecewa, dan setiap kekecewaan pun membuatnya merasa putus asa dan negatif. Mereka mulai merasa bahwa diberkati dalam imannya kepada Tuhan adalah hal yang sangat jauh dari dirinya. Akhirnya, gagasan untuk mundur pun muncul di benaknya. Namun, mereka tidak mau mundur, tetapi justru ingin bekerja lebih keras dan berjuang sekali lagi. Makin keras mereka bekerja dan berjuang, makin besar harapannya untuk direkomendasikan dan dipromosikan oleh seseorang. Makin besar harapan mereka, tetapi pada akhirnya, yang mereka terima hanyalah kekecewaan. Inilah bagaimana kesombongan dan keinginan untuk diberkati menyiksa mereka. Setiap kekecewaan membuatnya merasa seperti sedang dibakar dan ditempa dalam kobaran api. Mereka tidak dapat memperoleh yang diinginkannya, ingin mundur, tetapi merasa tidak mampu. Mereka tidak mampu menggenggam apa yang ingin dicapai, dan yang tersisa hanyalah kekecewaan, keputusasaan, dan penantian yang tak berkesudahan. Mereka ingin mundur, tetapi takut kehilangan berkat yang besar, dan makin mereka ingin mempertahankan berkat tersebut, makin mereka tidak mampu mempertahankannya. Akhirnya, mereka terjebak dalam pergumulan terus-menerus antara harapan untuk mendapatkan berkat dan kekecewaan, dan itu sangat menyakitkan hatinya. Namun, apakah mereka akan berdoa kepada Tuhan untuk masalah ini? Tidak, mereka tidak akan melakukannya. Mereka berpikir, "Apa gunanya berdoa? Saudara-saudari tidak memujiku, para pemimpin juga tidak menghargaiku. Jadi, apakah Tuhan akan membuat pengecualian dan memberiku peran penting?" Mereka tahu bahwa menempatkan harapannya pada orang lain hanya akan membuatnya kecewa, dan menaruh harapan untuk diberkati pada Tuhan juga bukanlah tindakan yang aman. Mereka pernah melihat firman Tuhan yang berbunyi, "Orang yang tidak mengejar kebenaran tidak dapat memperoleh keselamatan," dan mereka pun menjadi putus asa dan kecewa. Tidak ada yang memperhatikannya di gereja, dan mereka juga tidak melihat adanya harapan. Ketika mereka bercermin pada dirinya sendiri, mereka pun tidak melihat adanya harapan untuk memperoleh berkat, lalu berpikir, "Haruskah aku mundur atau tetap bertahan? Apakah aku benar-benar tidak memiliki harapan untuk diberkati?" Tahun demi tahun berlalu sementara mereka terus dalam kebimbangan dan memikirkan hal tersebut berulang kali, dan mereka tetap tidak dapat dipromosikan atau ditempatkan di posisi penting. Mereka ingin bersaing demi status, tetapi merasa bahwa itu bukanlah hal yang rasional atau pantas untuk dilakukan. Mereka merasa malu melakukannya. Namun, jika tidak berusaha, lalu kapan mereka akan dipromosikan dan diberi peran penting? Mereka berpikir tentang orang-orang yang percaya kepada Tuhan yang ada bersamanya, yang menghadiri pertemuan dan melaksanakan tugas bersama-sama. Ada banyak sekali di antara mereka yang telah dipromosikan dan diberi peran penting, sedangkan mereka sendiri tidak bisa mendapatkan peran penting, betapa pun kerasnya dirinya berusaha. Mereka merasa bingung dan kehilangan arah. Mereka tidak pernah bersekutu atau terbuka kepada siapa pun tentang gagasan, keadaan, pemikiran, pandangan, penyimpangan, dan kekurangannya. Mereka betul-betul menutup diri. Sekilas, mereka tampaknya berbicara dengan wajar dan bertindak dengan cara yang agak rasional, tetapi ambisi dan keinginan dalam dirinya sangatlah kuat. Mereka berusaha keras dan berjuang serta menanggung penderitaan dan membayar harga demi mewujudkan ambisi dan keinginannya, dan mereka bersedia mengorbankan segalanya demi harapannya untuk diberkati. Namun, ketika tidak melihat hasil yang diinginkan, mereka pun dipenuhi kebencian dan amarah terhadap Tuhan, rumah Tuhan, dan bahkan semua orang di gereja. Mereka membenci semua orang karena tidak melihat usahanya, kelebihan, dan kebaikannya. Mereka juga membenci Tuhan karena tidak memberinya kesempatan, tidak mempromosikannya atau memberinya peran penting. Dengan rasa iri dan kebencian yang begitu besar di hatinya, dapatkah mereka mengasihi saudara-saudarinya? Dapatkah mereka memuji Tuhan? Dapatkah mereka melepaskan ambisi dan keinginan mereka untuk menerima kebenaran, melaksanakan tugas mereka dengan baik, dengan kaki berpijak kokoh di bumi, dan menjadi orang biasa? Dapatkah mereka membuat keputusan seperti itu? (Tidak.) Mereka bukan hanya tidak memiliki tekad tersebut, melainkan juga tidak memiliki keinginan untuk bertobat. Setelah menyembunyikan dirinya seperti ini selama bertahun-tahun, kebenciannya terhadap rumah Tuhan, saudara-saudari, bahkan terhadap Tuhan, tumbuh makin kuat. Seberapa kuat kebenciannya? Mereka berharap agar saudara-saudarinya tidak bisa menjalankan tugas-tugasnya dengan baik, agar pekerjaan rumah Tuhan terhenti, dan rencana pengelolaan Tuhan berantakan. Mereka bahkan berharap agar saudara-saudarinya ditangkap oleh naga merah yang sangat besar. Mereka membenci saudara-saudarinya dan juga membenci Tuhan. Mereka mengeluh bahwa Tuhan tidaklah benar, mengutuk dunia karena tidak ada penyelamat, dan wajah Iblisnya pun sepenuhnya tersingkap. Orang seperti ini biasanya sangat menyembunyikan dirinya, pandai menjaga kepura-puraan di luar, berpura-pura rendah hati, lembut, dan penuh kasih, padahal sebenarnya mereka adalah serigala berbulu domba. Mereka menyembunyikan niat jahat dan tidak pernah mengungkapkannya, tidak ada yang dapat melihat siapa mereka sebenarnya, apa yang mereka pikirkan. Siapa pun yang pernah berinteraksi dengannya selama beberapa waktu, dapat melihat bahwa mereka sangat iri hati, suka bersaing, sangat ingin menonjol, selalu berusaha untuk menjadi lebih baik dari orang lain, dan selalu ingin menjadi yang pertama dalam segala hal yang dilakukan. Inilah yang terlihat dari luar, tetapi apakah itu diri mereka yang sebenarnya? Pada kenyataannya, keinginan mereka untuk mendapatkan berkat bahkan lebih kuat. Mereka berharap bahwa melalui kerja keras, pengorbanan, dan harga yang mereka bayar secara diam-diam, orang-orang dapat melihat kebaikan dan kemampuan kerjanya agar mereka dapat diberi peran penting di rumah Tuhan. Lalu apa hasil dari diberi peran penting itu? Hasilnya adalah mereka sangat disegani oleh semua orang dan akhirnya mewujudkan ambisi besarnya. Mereka dapat menjadi sosok yang menonjol di antara orang lain, yaitu seseorang yang sangat dihormati dan dikagumi oleh semua orang, dan semua kerja keras, harga yang dibayar, dan perjuangannya selama bertahun-tahun tidak akan sia-sia. Itulah ambisi dan keinginan yang tersembunyi di lubuk hatinya.
Orang-orang semacam itu tidak mengejar kebenaran, tetapi mereka masih ingin dipromosikan dan diberi peran penting di rumah Tuhan. Dalam hatinya, mereka percaya bahwa makin besar kemampuan kerja seseorang, makin tinggi posisi yang mereka dapatkan, makin sering mereka dipromosikan dan dihargai di rumah Tuhan, maka makin besar pula kesempatannya untuk menerima berkat, mahkota, dan upah. Mereka percaya bahwa, jika seseorang tidak memiliki kemampuan kerja atau keahlian tertentu, mereka merasa orang tersebut tidak memenuhi syarat untuk diberkati. Mereka berpikir bahwa karunia, keahlian, kemampuan, keterampilan, tingkat pendidikan, kemampuan kerja seseorang, dan bahkan tekad kuat dan sikap pantang menyerah, yang sering dianggap sebagai kemampuan dan kelebihan di dalam kemanusiaan yang dihargai di dunia, dapat dijadikan modal untuk menerima berkat dan upah. Standar macam apakah ini? Apakah ini standar yang sesuai dengan kebenaran? (Tidak.) Itu tidak sesuai dengan standar kebenaran. Jadi, bukankah ini logika Iblis? Bukankah ini logika zaman yang jahat dan kecenderungan dunia yang jahat? (Benar.) Dilihat dari logika, cara, dan kriteria yang mereka gunakan untuk menilai sesuatu, serta sikap dan pendekatannya terhadap hal tersebut, tampaknya mereka sama sekali tidak pernah mendengar firman Tuhan atau membacanya. Namun faktanya, mereka mendengar, membaca, dan mendoa-bacakan firman Tuhan setiap hari. Lalu, mengapa pandangan mereka tidak pernah berubah? Satu hal yang pasti—sebanyak apa pun mereka mendengar atau membaca firman Tuhan, di dalam hatinya mereka tidak akan pernah yakin bahwa firman Tuhan adalah kebenaran dan kriteria untuk mengukur segala hal. Mereka tidak akan memahami atau menerima fakta ini dari hatinya. Itulah sebabnya, betapa pun tidak masuk akal atau biasnya pandangannya, mereka akan tetap mempertahankannya selamanya, dan sebenar apa pun firman Tuhan, mereka akan menolak dan mengecamnya. Inilah natur kejam antikristus. Begitu mereka gagal mendapatkan peran penting, dan keinginan serta ambisinya tidak terpenuhi, sifat asli dan natur kejamnya pun terungkap, dan mereka bahkan ingin menyangkal keberadaan Tuhan. Sebenarnya, sebelum menyangkal keberadaan Tuhan, mereka telah menyangkal bahwa firman Tuhan adalah kebenaran. Justru karena esensi natur mereka adalah menyangkal kebenaran, menyangkal bahwa firman Tuhan adalah kriteria untuk mengukur segalanya, mereka sanggup memusuhi Tuhan. Setelah begitu banyak perhitungan, perencanaan, dan kerja kerasnya tidak menghasilkan posisi penting, mereka mulai berpikir untuk menyangkal, mengkhianati, menolak Tuhan dan untuk meninggalkan rumah Tuhan. Meskipun mereka tidak terlihat memperebutkan kekuasaan dan keuntungan, atau tidak mencari cara sendiri, atau secara terang-terangan mendirikan kerajaan independen, atau mengelola statusnya sendiri, kita dapat melihat dari esensi naturnya bahwa mereka adalah antikristus yang sesungguhnya. Mereka berpikir bahwa apa pun pengejaran mereka adalah benar, dan apa pun yang dikatakan oleh firman Tuhan, bagi mereka firman itu tidak layak disebutkan atau didengarkan, apalagi digunakan. Orang-orang macam apa mereka ini? Firman Tuhan tidak berdampak sama sekali pada mereka, tidak menggerakkannya, tidak menyentuh hati, dan tidak juga menarik baginya. Lalu, apa yang mereka anggap berharga? Karunia, bakat, kemampuan, pengetahuan, strategi manusia, serta ambisi, rencana besar, dan usaha besarnya. Itulah yang mereka anggap bernilai. Apa semua itu? Apakah semua itu berharga bagi Tuhan? Tidak. Itu semua adalah hal-hal yang dihargai dan dikagumi oleh umat manusia yang rusak, dan juga oleh Iblis. Semua itu justru berlawanan dengan jalan Tuhan, firman-Nya, dan tuntutan-Nya terhadap mereka yang Dia selamatkan. Namun, orang-orang seperti ini tidak pernah berpikir bahwa semuanya berasal dari Iblis, itu adalah kejahatan dan bertentangan dengan kebenaran. Sebaliknya, mereka justru menghargai semua hal tersebut, mempertahankannya dengan teguh, dan memandangnya sebagai yang tertinggi. Mereka bahkan menggunakan hal tersebut untuk menggantikan pengejaran dan penerimaan kebenaran. Bukankah ini pemberontakan yang luar biasa? Pada akhirnya, apa hasil satu-satunya dari pemberontakan mereka yang luar biasa serta sikapnya yang sangat tidak masuk akal tersebut? Hasilnya adalah orang-orang itu tidak akan dapat diselamatkan dan tidak akan ada orang yang bisa mengubah mereka. Inilah nasib mereka. Katakan kepada-Ku, bukankah orang-orang ini seperti sedang diam-diam membangun kekuatan dan menunggu waktu yang tepat? Prinsip yang mereka pegang adalah bahwa emas pada akhirnya akan bersinar. Mereka harus diam-diam belajar membangun kekuatan, menunggu waktu dan kesempatan yang tepat, sambil membuat persiapan dan berencana untuk masa depan, keinginan, dan impian mereka. Dilihat dari prinsip yang dipegang, prinsip bertahan hidup, tujuan yang mereka kejar, dan hal-hal yang mereka dambakan dalam esensi batin mereka, orang-orang ini adalah antikristus yang sesungguhnya. Ada yang berkata, "Namun, bukankah antikristus mendirikan kerajaan independen dan memperebutkan status?" Nah, apakah orang-orang seperti itu mampu mendirikan suatu kerajaan independen setelah mendapatkan kekuasaan? Apakah mereka mampu menyiksa orang? (Ya.) Begitu mereka berkuasa, apakah mereka mampu melakukan segala sesuatu sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran? Apakah mereka mampu mengejar kebenaran? Apakah mereka akan membawa orang ke hadirat Tuhan? (Tidak.) Apakah yang akan terjadi jika orang-orang seperti itu diberi posisi penting? Mereka akan mempromosikan orang-orang yang berkarunia, pandai bicara, dan berpengetahuan, terlepas dari apakah orang-orang itu dapat melakukan pekerjaan atau tidak. Mereka akan mempromosikan orang-orang yang seperti dirinya, sementara mereka akan menekan orang-orang yang benar, memahami hal-hal rohani, mengejar kebenaran, dan orang yang jujur. Ketika situasi seperti ini terjadi, bukankah esensi antikristus mereka tersingkap? Bukankah hal tersebut menjadi sangat jelas? Ada yang mungkin tidak begitu mengerti ketika Aku katakan di awal bahwa siapa pun yang ingin mundur ketika tidak mendapat peran penting dan tidak memiliki harapan untuk diberkati adalah antikristus. Namun sekarang, dapatkah engkau melihat bahwa mereka adalah antikristus? (Ya.)
Ketika beberapa orang diberhentikan dari posisinya sebagai pemimpin, dan mereka mendengar Yang di Atas mengatakan bahwa mereka tidak akan dibina atau dipakai lagi, mereka merasa sangat sedih dan menangis sejadi-jadinya, seolah-olah mereka telah disingkirkan. Apa masalahnya? Apakah tidak lagi dibina atau dipakai berarti mereka telah disingkirkan? Apakah itu berarti bahwa mereka tidak dapat memperoleh keselamatan? Apakah ketenaran, keuntungan, dan status benar-benar sepenting itu baginya? Jika mereka adalah orang-orang yang mengejar kebenaran, ketika kehilangan ketenaran, keuntungan, dan status, mereka seharusnya merenungkan diri sendiri dan merasa benar-benar menyesal. Mereka seharusnya memilih jalan mengejar kebenaran, membuka lembaran baru, dan tidak terlalu kecewa atau menangis berlebihan. Jika mereka tahu dalam hatinya bahwa mereka telah diberhentikan oleh rumah Tuhan karena tidak melakukan pekerjaan nyata dan tidak mengejar kebenaran, lalu mereka mendengar rumah Tuhan mengatakan bahwa mereka tidak akan dipromosikan lagi, mereka seharusnya merasa malu, merasa berutang kepada Tuhan, merasa telah mengecewakan Tuhan. Mereka harus menyadari bahwa mereka tidak layak dipakai oleh Tuhan. Jika demikian, mereka dapat dianggap memiliki sedikit nalar. Namun, jika mereka menjadi negatif dan kecewa ketika mendengar bahwa rumah Tuhan tidak akan membina atau memakai mereka lagi, itu menunjukkan bahwa mereka mengejar ketenaran, keuntungan, dan status. Mereka bukanlah orang yang mengejar kebenaran. Keinginan mereka untuk mendapatkan berkat sangatlah kuat, mereka sangat menghargai status, tetapi tidak melakukan pekerjaan nyata. Wajar jika mereka diberhentikan. Mereka seharusnya merenung dan memahami watak rusaknya, menyadari bahwa jalan yang ditempuhnya adalah jalan yang salah. Mereka menempuh jalan antikristus dengan mengejar status, ketenaran, dan keuntungan, bukan hanya Tuhan tidak akan berkenan, melainkan juga itu akan menyinggung watak-Nya. Jika mereka melakukan segala macam kejahatan, mereka juga akan dihukum oleh Tuhan. Bukankah engkau semua juga memiliki masalah seperti ini? Bukankah engkau semua akan merasa tidak senang jika kini Aku mengatakan bahwa engkau semua tidak memiliki pemahaman rohani? (Ya.) Ketika beberapa orang mendengar pemimpin tingkat atas mengatakan bahwa mereka tidak memiliki pemahaman rohani, mereka merasa tidak mampu memahami kebenaran, Tuhan pasti tidak menginginkannya, dan mereka tidak mempunyai harapan untuk diberkati. Namun, meskipun merasa sedih, mereka masih bisa menjalankan tugas seperti biasa. Orang-orang seperti ini memiliki sedikit nalar. Ketika ada yang mendengar seseorang mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki pemahaman rohani, mereka menjadi negatif dan tidak mau lagi melaksanakan tugasnya. Mereka berpikir, "Engkau bilang aku tidak memiliki pemahaman rohani. Bukankah itu berarti aku tidak memiliki harapan untuk diberkati? Jika aku tidak akan mendapatkan berkat di masa depan, untuk apa aku percaya? Aku tidak akan menerima jika hanya disuruh melakukan pelayanan. Siapa yang mau bekerja keras jika tidak ada imbalannya? Aku tidak sebodoh itu!" Apakah orang-orang semacam itu memiliki hati nurani dan nalar? Mereka menikmati begitu banyak kasih karunia Tuhan, tetapi tidak tahu bagaimana membalasnya. Bahkan, untuk melakukan pelayanan pun, mereka tidak mau. Orang-orang semacam itu telah tamat. Mereka bahkan tidak bisa menyelesaikan tugas pelayanan, dan tidak memiliki iman sejati kepada Tuhan. Mereka adalah pengikut yang bukan orang percaya. Jika mereka memiliki hati yang tulus untuk Tuhan dan iman sejati kepada-Nya, apa pun penilaian yang diberikan kepada mereka, itu hanya akan membantunya untuk benar-benar lebih mengenal diri sendiri dengan akurat. Mereka seharusnya menyikapi persoalan itu secara tepat dan tidak membiarkannya memengaruhi mereka dalam mengikuti Tuhan atau menjalankan tugas. Bahkan, sekalipun mereka tidak mendapatkan berkat, mereka seharusnya tetap rela untuk melakukan pelayanan untuk Tuhan sampai akhir, melakukannya dengan sukacita tanpa keluhan, dan menyerahkan segala sesuatu pada pengaturan Tuhan. Hanya dengan begitu, mereka akan menjadi seseorang yang memiliki hati nurani dan nalar. Segala berkat dan bencana yang dialami seseorang ada di tangan Tuhan. Dialah yang berdaulat atas hal tersebut dan mengaturnya, dan ini bukanlah sesuatu yang dapat diminta atau diupayakan oleh manusia. Hal itu justru bergantung pada apakah orang tersebut dapat menaati firman Tuhan, menerima kebenaran, dan menjalankan tugasnya dengan baik sesuai dengan tuntutan-Nya. Tuhan akan membalas setiap orang sesuai dengan perbuatannya. Jika seseorang sedikit memiliki ketulusan ini dan memberikan segala kekuatan yang dapat mereka kerahkan dalam tugas yang harus mereka lakukan, itu sudah cukup, dan mereka akan memperoleh perkenanan dan berkat Tuhan. Sebaliknya, jika seseorang tidak menjalankan tugasnya dengan baik dan bahkan melakukan segala macam kejahatan, tetapi tetap ingin menerima berkat dari Tuhan, bukankah tindakan mereka yang demikian itu sangat tidak bernalar? Jika engkau merasa belum melakukannya dengan cukup baik, sudah mengerahkan banyak tenaga, tetapi tetap tidak mampu menangani berbagai persoalan dengan prinsip, merasa berutang kepada Tuhan, tetapi Dia tetap memberkatimu dan menunjukkan kasih karunia-Nya kepadamu, bukankah ini berarti Tuhan sedang menunjukkan kemurahan-Nya kepadamu? Jika Tuhan ingin memberkatimu, tidak ada seorang pun yang dapat mengambilnya. Engkau mungkin merasa belum berbuat cukup baik, tetapi dalam penilaian Tuhan, Dia mengatakan bahwa engkau tulus dan telah memberikan yang terbaik, dan Dia ingin menunjukkan kasih karunia dan memberkatimu. Tindakan Tuhan tidak ada yang salah, dan engkau harus memuji kebenaran-Nya. Apa pun yang Tuhan lakukan, itu selalu benar. Bahkan jika engkau menyimpan gagasan bahwa apa yang dilakukan Tuhan tidak mempertimbangkan perasaan manusia atau tidak sesuai dengan keinginanmu, engkau harus tetap memuji Tuhan. Mengapa engkau harus melakukannya? Engkau semua tidak tahu alasannya, bukan? Itu sebenarnya mudah dijelaskan, yaitu karena Tuhan adalah Tuhan dan engkau adalah manusia; Dia adalah Sang Pencipta dan engkau adalah makhluk ciptaan. Engkau tidak memiliki hak untuk menuntut Tuhan melakukan sesuatu atau memperlakukanmu dengan cara tertentu, sedangkan Tuhan memiliki hak untuk menuntutmu. Berkat, kasih karunia, upah, mahkota—bagaimana semua hal tersebut diberikan dan kepada siapa, itu semua terserah Tuhan. Mengapa terserah Tuhan? Karena semua itu adalah milik Tuhan, bukan aset milik bersama antara manusia dan Tuhan untuk dibagi rata. Itu adalah milik Tuhan, dan Tuhan memberikannya kepada siapa pun yang Dia kehendaki. Jika Tuhan tidak berkehendak memberikannya kepadamu, engkau tetap harus tunduk kepada-Nya. Jika engkau berhenti memercayai Tuhan karena alasan tersebut, apa yang bisa diselesaikan? Apakah engkau akan berhenti menjadi makhluk ciptaan? Apakah engkau dapat lepas dari kedaulatan-Nya? Tuhan tetap berdaulat atas segala sesuatu, dan ini adalah fakta yang tidak akan pernah berubah. Identitas, status, dan esensi Tuhan tidak akan pernah bisa disamakan dengan identitas, status, dan esensi manusia, dan ini juga tidak akan pernah berubah—Tuhan akan selamanya menjadi Tuhan, dan manusia akan selamanya menjadi manusia. Jika seseorang mampu memahami hal ini, apa yang seharusnya dilakukan? Mereka harus tunduk kepada kedaulatan dan pengaturan Tuhan—ini cara paling rasional untuk menyikapi segala sesuatu. Tidak ada cara lain. Jika engkau tidak tunduk, itu berarti engkau memberontak, dan jika engkau menentang dan berargumen, itu berarti engkau sangat memberontak, dan harus dihancurkan. Kemampuan untuk tunduk kepada kedaulatan dan pengaturan Tuhan, menunjukkan bahwa engkau bernalar. Ini adalah sikap yang harus dimiliki oleh manusia, dan hanya sikap inilah yang seharusnya dimiliki oleh makhluk ciptaan. Misalnya, jika engkau memelihara seekor kucing atau anjing—apakah kucing atau anjing itu berhak menuntut agar engkau membelikannya berbagai makanan lezat atau mainan yang menyenangkan? Adakah kucing atau anjing yang begitu tidak masuk akal sehingga menuntut pemiliknya? (Tidak.) Lalu, apakah ada anjing yang memilih untuk meninggalkan pemiliknya setelah melihat anjing di rumah orang lain hidup lebih baik darinya? (Tidak.) Naluri alaminya akan berpikir, "Pemilikku memberiku makanan dan tempat tinggal, jadi aku harus menjaga rumah pemilikku. Bahkan seandainya pemilikku tidak memberiku makanan atau memberiku makanan yang tidak terlalu enak, aku tetap harus menjaga rumahnya." Anjing itu tidak memiliki pikiran lain yang tidak semestinya. Entah pemiliknya itu baik atau tidak, anjing itu sangat senang setiap kali pemiliknya pulang, ekornya terus dikibas-kibaskan dengan sangat gembira. Entah pemiliknya itu menyukainya atau tidak, entah pemiliknya itu membelikannya makanan lezat atau tidak, anjing itu selalu berperilaku sama terhadap pemiliknya, dan tetap menjaga rumah pemiliknya. Jadi, dari sudut pandang ini, apakah manusia lebih buruk daripada anjing? (Ya.) Manusia selalu membuat tuntutan kepada Tuhan dan selalu memberontak terhadap-Nya. Apakah akar dari masalah ini? Akarnya adalah manusia memiliki watak rusak dan tidak dapat menjaga posisinya sebagai makhluk ciptaan sehingga mereka kehilangan nalurinya dan menjadi seperti Iblis. Naluri mereka berubah menjadi naluri Iblis untuk melawan Tuhan, menolak kebenaran, melakukan kejahatan, dan tidak tunduk kepada-Nya. Bagaimana naluri manusia itu dapat dipulihkan? Mereka harus memiliki hati nurani dan nalar, melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh manusia, dan menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya. Itu seperti anjing yang menjaga rumah atau kucing yang menangkap tikus—seperti apa pun perlakuan pemiliknya, mereka menggunakan segenap kekuatan yang dimiliki untuk melakukan hal itu, mencurahkan diri sepenuhnya pada tugas tersebut, tetap berada di tempatnya, dan memanfaatkan nalurinya sepenuhnya agar pemiliknya menyukainya. Jika manusia mampu melakukan itu, Tuhan tidak perlu mengucapkan semua firman ini atau menyatakan semua kebenaran ini. Manusia telah begitu rusak, tidak memiliki nalar dan hati nurani, serta memiliki integritas yang rendah. Watak rusak mereka terus-menerus menimbulkan masalah, terungkap dalam dirinya, memengaruhi pilihan dan pikirannya, membuat mereka memberontak terhadap Tuhan dan tidak mampu tunduk kepada-Nya, serta membuat mereka selalu memiliki keinginan, ide, dan kesukaannya sendiri sehingga kebenaran tidak pernah dapat menguasainya, atau menjadi hidupnya. Inilah alasan mengapa Tuhan harus menghakimi, menguji, dan memurnikan mereka dengan firman-Nya agar mereka dapat diselamatkan. Sebaliknya, antikristus selalu memainkan peran negatif di antara orang-orang. Mereka seutuhnya adalah setan dan Iblis. Mereka bukan hanya tidak menerima kebenaran, melainkan juga tidak mengakui bahwa mereka memiliki watak yang rusak. Mereka juga merebut dengan paksa demi memperoleh berkat, mahkota, dan upah dari Tuhan. Sampai sejauh manakah mereka berjuang? Mereka berjuang sampai ke titik di mana mereka benar-benar tidak tahu malu dan sama sekali tidak bernalar. Jika setelah melakukan segala macam kejahatan, mereka disingkapkan dan disingkirkan, mereka akan menyimpan dendam dalam hati. Mereka akan mengutuk Tuhan, mengutuk para pemimpin dan pekerja, serta membenci gereja dan semua orang percaya sejati. Ini sepenuhnya memperlihatkan wajah buruk dari semua orang jahat dan antikristus.
Butir kedua belas dari berbagai perwujudan antikristus adalah: mereka ingin mundur ketika tidak memiliki status atau tidak ada harapan untuk memperoleh berkat. Kita akan membahas makna "mundur" dengan bahasa yang sederhana. Makna harfiah dari "mundur" adalah mundur dari satu tempat ke tempat lain—ini yang disebut sebagai "mundur". Selalu ada beberapa orang yang tidak mencintai kebenaran di rumah Tuhan, yang dengan sukarela meninggalkan gereja dan saudara-saudari karena mereka muak menghadiri pertemuan dan mendengarkan khotbah, serta tidak bersedia menjalankan tugasnya—ini disebut mundur. Ini adalah makna harfiah dari kata "mundur". Akan tetapi, ketika seseorang benar-benar digolongkan sebagai orang yang telah mundur di mata Tuhan, itu sebenarnya bukan sekadar masalah bahwa mereka telah meninggalkan rumah-Nya, mereka tidak lagi terlihat, atau mereka telah dicoret dari daftar gereja. Sebenarnya, jika seseorang tidak membaca firman Tuhan, maka sebesar apa pun imannya, dan terlepas apakah dia mengaku dirinya sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, itu membuktikan bahwa di dalam hatinya, dia tidak mengakui bahwa Tuhan itu ada, dan tidak mengakui bahwa firman-Nya adalah kebenaran. Bagi Tuhan, orang itu telah mundur dan tidak lagi dianggap sebagai anggota rumah-Nya. Mereka yang tidak membaca firman Tuhan adalah salah satu jenis orang yang telah mundur. Tipe lainnya adalah orang-orang yang tidak pernah ikut serta dalam kehidupan bergereja dan dalam kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kehidupan bergereja, seperti ketika saudara-saudari menyanyikan lagu pujian, mendoa-bacakan firman Tuhan, serta bersekutu tentang pengalaman dan pemahaman pribadinya bersama-sama. Tuhan memandang mereka sebagai orang-orang yang telah mundur. Ada jenis lainnya: mereka yang tidak mau menjalankan tugas. Apa pun tuntutan rumah Tuhan terhadap mereka, jenis pekerjaan apa pun yang gereja berikan kepada mereka, tugas apa pun yang gereja ingin mereka jalankan, entah itu besar atau kecil, bahkan dalam hal yang begitu sederhana seperti meminta mereka untuk sesekali menyampaikan pesan—mereka tidak mau melakukannya. Mereka, yang mengaku sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, bahkan tidak mampu melakukan tugas yang bisa dibantu oleh orang yang tidak percaya; ini adalah penolakan untuk menerima kebenaran dan penolakan untuk melakukan tugas. Bagaimanapun saudara-saudari menasihatinya, mereka menolak dan tidak menerimanya; ketika gereja mengatur suatu tugas untuk mereka lakukan, mereka mengabaikannya dan membuat banyak alasan untuk menolaknya. Mereka adalah orang-orang yang menolak untuk melakukan tugas. Bagi Tuhan, orang semacam itu telah mundur. Mundurnya mereka bukanlah masalah rumah Tuhan telah mengeluarkan atau mencoret mereka dari daftar gereja, melainkan karena mereka sendiri tidak memiliki iman yang sejati—mereka tidak mengakui dirinya sebagai orang yang percaya kepada Tuhan. Siapa pun yang termasuk dalam salah satu dari tiga kategori tersebut adalah orang yang telah dianggap mundur. Apakah ini definisi yang akurat? (Ya.) Jika engkau tidak membaca firman Tuhan, apakah engkau dapat dianggap sebagai orang yang percaya kepada Tuhan? Jika engkau tidak hidup dalam kehidupan bergereja, tidak berinteraksi atau bergaul dengan saudara-saudarimu, apakah engkau masih dianggap sebagai orang percaya? Tentu tidak. Selain itu, jika engkau menolak melaksanakan tugasmu, bahkan tidak memenuhi kewajibanmu sebagai makhluk ciptaan, itu bahkan lebih serius. Ketiga tipe orang ini adalah mereka yang Tuhan anggap telah mundur. Bukan karena mereka diusir atau dikeluarkan dari rumah Tuhan, melainkan karena mereka secara sukarela mundur dan menyerah atas keinginannya sendiri. Perilaku mereka sepenuhnya menunjukkan bahwa mereka tidak mencintai atau menerima kebenaran. Mereka adalah contoh tipikal dari orang-orang yang hanya ingin makan roti hingga kenyang dan berharap mendapatkan berkat.
17 Oktober 2020