Jalan Masuk ke Dalam Kehidupan I
Firman Tuhan Harian: Kutipan 374
Tuhan Yang Mahakuasa, Kepala segala sesuatu, menjalankan kuasa kerajaan-Nya dari takhta-Nya. Dia memerintah atas alam semesta dan segala sesuatu, dan Dia sedang menuntun kita di seluruh muka bumi. Kita harus mendekat kepada-Nya setiap saat dan menghampiri-Nya dalam ketenangan, tanpamelewatkan satu momen pun, dan selalu ada pelajaran yang dapat kita petik setiap saat. Lingkungan di sekitar kita, juga orang, peristiwa, dan hal-hal, ada atas seizin takhta-Nya. Jangan sekali-kali membiarkan keluhantimbul di hatimu, jika tidak, Tuhan tidak akan menganugerahkan kasih karunia-Nya kepadamu. Ketika penyakit menimpa, itu adalah kasih Tuhan, dan maksud baik Tuhan tentu terkandung di baliknya. Meskipun dagingmu mungkin mengalami sedikit penderitaan, jangan terima pemikiran Iblis. Pujilah Tuhan di tengah penyakitmu dan nikmatilah Tuhan di tengah puji-pujianmu. Jangan putus asa saat menghadapi penyakit, tetaplah mencari berulang kali dan jangan pernah menyerah, maka Tuhan akan menerangi dan mencerahkanmu. Seperti apa iman Ayub? Tuhan Yang Mahakuasa adalah tabib yang mahakuasa! Hidup di dalam penyakit berarti sakit, tetapi hidup di dalam roh berarti sehat. Selama engkau masih mempunyai satu napas, Tuhan tak akan membiarkanmu mati.
Kita memiliki kehidupan Kristus yang telah bangkit dalam diri kita. Kita benar-benar kekurangan iman di hadapan Tuhan: kiranya Tuhan memberikan iman sejati ke dalam kita. Firman Tuhan sungguh manis! Firman Tuhan adalah obat yang manjur! Firman Tuhan mempermalukan Iblis dan setan-setan! Memahami Firman Tuhan memberi kita dukungan. Firman-Nya bertindak cepat untuk menyelamatkan hati kita! Firman-Nya menghalau segala sesuatu dan menjadikan segala sesuatu damai. Iman itu seperti jembatan dari sebatang kayu: Mereka yang mencintai hidup dan takut mati akan sulit menyeberanginya, tetapi mereka yang siap menyerahkan nyawanya dapat menyeberang dengan mantap, tanpa rasa khawatir. Jika manusia menyimpan pikiran yang penakut dan gentar, itu karena mereka telah diperdaya Iblis, karena Iblis takut kita akan menyeberangi jembatan iman untuk masuk ke dalam Tuhan. Iblis berusaha dengan segala cara untuk menanamkan pikiran-pikirannya kepada kita. Kita harus senantiasa berdoa agar Tuhan menerangi dan mencerahkan kita, senantiasa bergantung kepada Tuhan untuk membersihkan racun Iblis dari dalam diri kita, senantiasa berlatih dalam roh kita untuk mendekat kepada Tuhan, dan membiarkan Tuhan berkuasa atas seluruh keberadaan kita.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Perkataan Kristus pada Mulanya, Bab 6"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 375
Ketika orang tidak memiliki pemahaman tentang sesuatu yang terjadi pada dirinya, dan tidak tahu tindakan tepat apa yang harus dia lakukan, apakah hal pertama yang harus dia lakukan? Dia harus terlebih dahulu berdoa; doalah yang harus didahulukan. Menunjukkan apa jika engkau berdoa? Itu menunjukkan bahwa engkau adalah orang yang saleh, bahwa engkau memiliki sedikit hati yang takut akan Tuhan, dan bahwa engkau tahu bagaimana mencari Tuhan, yang membuktikan bahwa engkau mengutamakan Tuhan. Jika Tuhan ada di dalam hatimu, dan bersemayam di sana, dan jika engkau mampu tunduk kepada Tuhan, itu berarti engkau adalah seorang Kristen yang saleh. Ada banyak orang percaya lanjut usia yang berlutut dalam doa pada waktu yang sama setiap hari. Setiap kali mereka berlutut selama satu atau dua jam, tetapi sekalipun mereka berlutut seperti ini selama bertahun-tahun, itu belum menyelesaikan masalah dosa mereka yang banyak itu. Mari kita kesampingkan terlebih dahulu tentang apakah doa agamawi semacam itu berguna atau tidak. Setidaknya saudara-saudari yang sudah lanjut usia ini sedikit saleh. Mereka jauh lebih baik daripada kaum muda dalam hal ini. Jika engkau ingin hidup di hadirat Tuhan dan mengalami pekerjaan Tuhan, hal pertama yang harus kaulakukan ketika sesuatu terjadi padamu adalah berdoa. Berdoa bukanlah sekadar melantunkan frasa-frasa hafalan tanpa berpikir, dan tidak lebih dari itu; engkau tidak akan mendapatkan apa-apa dengan berdoa seperti ini. Engkau harus berlatih berdoa dengan hatimu. Engkau mungkin berdoa seperti ini delapan atau sepuluh kali tanpa banyak mendapatkan hasil, tetapi jangan berkecil hati: engkau harus terus berlatih. Berdoalah terlebih dahulu ketika sesuatu terjadi padamu. Pertama, katakan kepada Tuhan dan biarkan Tuhan yang mengambil alih. Biarlah Tuhan menolongmu, biarlah Dia membimbingmu dan menunjukkan jalannya kepadamu. Ini akan membuktikan bahwa engkau memiliki hati yang takut akan Tuhan dan bahwa engkau mengutamakan Tuhan. Jika sesuatu terjadi padamu atau engkau menghadapi kesulitan dan engkau bersikap negatif dan menjadi marah, ini adalah perwujudan ketidakhadiran Tuhan dalam hatimu dan kurangnya takut akan Tuhan dalam dirimu. Kesulitan apa pun yang engkau hadapi dalam kehidupan nyata, engkau harus datang ke hadirat Tuhan. Hal pertama yang harus kaulakukan adalah berlutut dalam doa. Ini adalah hal yang terpenting. Doa menunjukkan bahwa Tuhan memiliki tempat di hatimu. Ketika engkau berada dalam masalah, pandanglah kepada Tuhan serta berdoalah kepada-Nya dan mencari dari-Nya untuk menunjukkan bahwa engkau memiliki hati yang agak takut akan Tuhan; engkau tidak akan melakukan ini jika Tuhan tidak ada dalam hatimu. Ada orang-orang yang berkata, "Aku berdoa, tetapi Tuhan tetap tidak mencerahkanku!" Engkau tidak boleh berkata seperti itu. Engkau harus terlebih dahulu melihat apakah niat di balik doamu itu benar. Jika engkau mencari kebenaran dengan sungguh-sungguh dan sering berdoa kepada Tuhan, mungkin ada hal tertentu yang tentangnya Tuhan mencerahkanmu dan memampukanmu untuk mengerti. Bagaimanapun, Tuhan akan membuatmu mengerti. Jika Tuhan tidak mencerahkanmu, engkau tidak akan mampu memahaminya sendiri. Ada beberapa hal yang tidak dapat dicapai oleh pikiran manusia, entah engkau memiliki kemampuan untuk memahami atau tidak dan seberapa pun tingginya kualitasmu. Saat engkau benar-benar memahami, apakah pemahamanmu itu berasal dari pikiranmu? Mengenai maksud Tuhan dan mengenai pekerjaan Roh, jika Roh Kudus tidak mencerahkanmu, engkau tidak akan menemukan seorang pun yang mengetahuinya. Engkau hanya akan mengetahuinya jika Tuhan itu sendiri memberitahumu apa yang Dia maksudkan. Jadi, hal pertama yang harus kaulakukan ketika sesuatu terjadi padamu adalah berdoa. Ketika engkau berdoa, engkau harus mengungkapkan kepada Tuhan pemikiran, pandangan dan sikapmu, dan mencari kebenaran dari-Nya dengan mentalitas ketundukan; inilah yang harus orang terapkan. Engkau tidak akan mencapai hasil apa pun jika engkau bersikap asal-asalan dan engkau tidak boleh mengeluh bahwa Roh Kudus belum mencerahkanmu. Aku telah mendapati ada orang-orang yang sekadar mengikuti ritual keagamaan dan melakukan aktivitas keagamaan dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan. Tidak ada tempat bagi-Nya sama sekali di hati mereka; mereka bahkan menolak pekerjaan Roh Kudus. Mereka tidak berdoa, ataupun membaca firman Tuhan. Mereka hanya terus menghadiri pertemuan dan tidak lebih dari itu. Seperti inikah percaya kepada Tuhan? Mereka terus percaya seperti itu, tetapi tidak ada Tuhan dalam kepercayaan mereka. Tuhan tidak ada di hati mereka, mereka tidak mau lagi berdoa kepada Tuhan, dan mereka tidak mau lagi membaca firman Tuhan. Bukankah itu berarti mereka sudah menjadi orang yang tidak percaya? Ada pemimpin dan pekerja tertentu yang sering kali mengurusi urusan umum. Mereka tidak pernah berfokus pada jalan masuk kehidupan, tetapi menempatkan urusan umum sebagai pekerjaan utama mereka. Mereka telah menjadi tak lebih dari manajer pengelola tugas dan sama sekali tidak melakukan pekerjaan esensial yang seharusnya dilakukan para pemimpin dan pekerja. Akibatnya, setelah percaya kepada Tuhan selama dua puluh atau tiga puluh tahun, mereka tidak bisa mengatakan apa-apa tentang pengalaman hidup mereka dan mereka tidak memiliki pengetahuan yang benar tentang Tuhan. Mereka hanya mampu mengatakan sedikit kata-kata dan doktrin. Bukankah dengan demikian mereka telah menjadi pemimpin palsu? Ini karena dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan, mereka tidak melakukan tugas mereka yang semestinya atau tidak mengejar kebenaran. Hanya mengandalkan pemahaman mereka tentang kata-kata dan doktrin tidak akan menyelesaikan apa pun. Mereka mengeluh kepada Tuhan begitu mereka diuji, ditimpa malapetaka, atau jatuh sakit. Mereka tidak mengenal diri mereka sendiri dengan benar, dan tidak memiliki kesaksian pengalaman sama sekali. Ini memperlihatkan bahwa mereka belum mengejar kebenaran selama bertahun-tahun mereka percaya kepada Tuhan, bahwa mereka hanya menyibukkan diri dengan hal-hal lahiriah, dan akibatnya mereka menghancurkan diri mereka sendiri. Seberapa pun lamanya orang telah percaya kepada Tuhan, mereka setidaknya harus memahami beberapa kebenaran jika mereka ingin memastikan bahwa mereka tidak akan jatuh, tidak akan melakukan kejahatan, atau tidak akan disingkirkan. Inilah yang setidaknya harus mereka miliki. Ada orang-orang yang bersikap setengah hati saat mereka mendengarkan khotbah dan mereka tidak merenungkan firman Tuhan. Mereka tidak mencari kebenaran apa pun yang terjadi pada diri mereka. Mereka puas hanya dengan memahami kata-kata dan doktrin, menganggap mereka telah memperoleh kebenaran. Kemudian, ketika ujian datang, mereka sama sekali tidak memahami apa pun, dan hati mereka penuh dengan keluhan dan ketidakpuasan, yang tak berani mereka katakan, sekalipun mereka ingin mengatakannya. Bukankah orang-orang semacam itu sangat menyedihkan? Banyak orang yang selalu bersikap asal-asalan dalam melaksanakan tugas mereka. Mereka tidak merenungkan atau berusaha mengenal diri sendiri ketika mereka dipangkas. Mereka selalu membenarkan diri, dan dengan demikian keburukan mereka muncul dengan berbagai macam cara, dan mereka disingkapkan dan disingkirkan, tak mampu mengenal diri mereka sendiri hingga akhir. Lalu, apa gunanya mereka memahami doktrin seperti itu? Sama sekali tidak ada gunanya. Seberapa pun lamanya orang telah percaya kepada Tuhan, tidak ada gunanya jika mereka sekadar mengerti dan mampu mengkhotbahkan doktrin. Mereka belum memperoleh kebenaran, melainkan telah tersesat. Oleh karena itu, ketika sesuatu terjadi padamu dan engkau berdoa kepada Tuhan, berusaha mengetahui maksud-maksud-Nya, yang terpenting adalah engkau harus memahami kebenaran untuk dapat menyelesaikan masalah tersebut. Inilah jalan yang benar, dan engkau harus selalu bertekun menerapkannya dengan cara seperti itu.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Dalam Kepercayaan kepada Tuhan, Memperoleh Kebenaran adalah Hal yang Terpenting"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 376
Hikmat yang terbesar adalah mencari Tuhan dan mengandalkan Tuhan dalam segala sesuatu. Hal ini tidak disadari oleh orang biasa. Semua orang mengira bahwa menghadiri lebih banyak pertemuan, lebih banyak mendengarkan khotbah, lebih sering bersekutu dengan saudara-saudari mereka, lebih banyak meninggalkan segala sesuatu, lebih banyak menderita, dan lebih banyak membayar harga akan membuat mereka memperoleh perkenanan dan keselamatan Tuhan. Mereka berpikir menerapkan dengan cara ini adalah hikmat yang terbesar, tetapi mereka mengabaikan perkara terbesar: mencari Tuhan dan mengandalkan Tuhan. Mereka menganggap kecerdasan manusia yang picik sebagai hikmat, dan mengabaikan efek utama yang seharusnya dicapai oleh tindakan mereka. Ini adalah kekeliruan. Sebanyak apa pun kebenaran yang orang pahami, sebanyak apa pun tugas yang telah orang laksanakan, sebanyak apa pun yang orang alami saat melaksanakan tugas-tugas tersebut, sebesar atau sekecil apa pun tingkat pertumbuhan orang, atau jenis lingkungan apa yang orang hadapi, sikap yang harus orang miliki adalah mencari Tuhan dan mengandalkan Dia dalam segala sesuatu yang dilakukannya. Inilah hikmat yang terbesar. Mengapa Kukatakan bahwa inilah hikmat yang terbesar? Sekalipun orang telah mulai memahami beberapa kebenaran, akan cukupkah itu jika dia tidak mengandalkan Tuhan? Ada orang-orang yang telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, dan mereka telah mengalami beberapa ujian, memiliki beberapa pengalaman nyata, memahami beberapa kebenaran, dan memiliki sedikit pengetahuan nyata tentang kebenaran, tetapi mereka tidak tahu cara mengandalkan Tuhan, dan mereka juga tidak memahami cara mencari Tuhan dan mengandalkan Dia. Apakah orang semacam itu memiliki hikmat? Mereka adalah orang yang paling bodoh, dan mereka adalah jenis orang yang menganggap diri mereka cerdas; mereka tidak takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Beberapa orang berkata: "Aku memahami banyak kebenaran dan memiliki kenyataan kebenaran. Tidak masalah hanya melakukan segala sesuatu dengan cara yang berprinsip. Aku setia kepada Tuhan, dan aku tahu bagaimana cara mendekat kepada-Nya. Bukankah sudah cukup aku menerapkan kebenaran ketika segala sesuatu menimpaku? Tidak perlu berdoa kepada Tuhan atau mencari Tuhan." Menerapkan kebenaran adalah hal yang benar, tetapi ada banyak waktu dan keadaan di mana orang tidak tahu kebenaran apa dan prinsip kebenaran mana yang relevan. Semua orang yang memiliki pengalaman nyata memahami hal ini. Sebagai contoh, ketika engkau menghadapi masalah tertentu, engkau mungkin tidak tahu kebenaran mana yang relevan dengan masalah ini, atau bagaimana kebenaran yang relevan dengan masalah ini harus diterapkan. Apa yang seharusnya kaulakukan pada saat-saat seperti ini? Sebanyak apa pun pengalaman nyata yang kaumiliki, engkau tidak dapat memahami prinsip kebenaran dalam semua situasi. Berapa lama pun engkau telah percaya kepada Tuhan, sebanyak apa pun hal yang telah kaualami, dan sebanyak apa pun pemangkasan atau pendisiplinan yang telah kaualami, meskipun engkau memahami kebenaran, beranikah engkau berkata bahwa engkau adalah kebenaran? Beranikah engkau berkata bahwa engkau adalah sumber kebenaran? Beberapa orang berkata: "Aku hafal semua perkataan dan bagian-bagian yang terkenal dalam buku Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia; aku tidak perlu mengandalkan Tuhan atau mencari Tuhan. Aku akan baik-baik saja dengan hanya mengandalkan firman Tuhan ini." Firman yang telah kauhafalkan ini bersifat statis, tetapi lingkungan yang kauhadapi—serta keadaanmu—bersifat dinamis. Engkau mampu mengkhotbahkan kata-kata dan doktrin, tetapi tidak dapat menggunakannya ketika sesuatu terjadi padamu, yang membuktikan bahwa engkau tidak memahami kebenaran. Sebaik apa pun engkau dalam mengucapkan kata-kata dan doktrin, ini bukan berarti engkau memahami kebenaran, apalagi mampu menerapkan kebenaran. Jadi, ada pelajaran yang sangat penting untuk dipetik di sini. Dan pelajaran apakah ini? Bahwa manusia harus mencari Tuhan dalam segala sesuatu, dan bahwa dengan melakukannya, mereka dapat mengandalkan Tuhan. Hanya dengan mengandalkan Tuhan barulah manusia akan memiliki jalan untuk diikuti dan memiliki pekerjaan Roh Kudus. Jika tidak, engkau bisa saja melakukan sesuatu dengan benar dan tanpa melanggar kebenaran, tetapi jika engkau tidak mengandalkan Tuhan, tindakanmu hanya merupakan perilaku baik manusia, dan hal itu tidak bisa memuaskan Tuhan. Karena orang memiliki pemahaman yang sangat dangkal tentang kebenaran, mereka cenderung menerapkan peraturan dan berpegang teguh pada kata-kata dan doktrin dengan menggunakan kebenaran yang sama saat menghadapi berbagai situasi. Mereka mungkin saja dapat menyelesaikan banyak masalah secara umum sesuai dengan prinsip kebenaran, tetapi bimbingan Tuhan tidak terlihat dalam hal ini, juga tidak terlihat pekerjaan Roh Kudus. Ada masalah yang serius di sini, yaitu orang melakukan banyak hal dengan mengandalkan pengalaman mereka dan peraturan yang telah mereka pahami, serta imajinasi manusia tertentu. Sulit untuk mencapai doa yang benar kepada Tuhan dan benar-benar mencari Tuhan serta mengandalkan Dia dalam semua yang mereka lakukan. Sekalipun orang memahami maksud Tuhan, sulit untuk mencapai efek di mana orang mampu bertindak sesuai tuntunan Tuhan dan sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Karena alasan ini, Kukatakan bahwa hikmat yang terbesar adalah mencari Tuhan dan mengandalkan Dia dalam segala sesuatu.
Bagaimana orang dapat berlatih berharap kepada Tuhan dan mengandalkan Tuhan dalam segala sesuatu? Beberapa orang berkata, "Aku masih muda, tingkat pertumbuhanku kecil, dan aku belum lama percaya kepada Tuhan. Aku tidak tahu bagaimana berlatih berharap kepada Tuhan dan mengandalkan Tuhan ketika sesuatu terjadi." Apakah ini masalah? Ada banyak kesulitan dalam memercayai Tuhan, dan engkau harus mengalami banyak kesengsaraan, ujian, dan penderitaan. Semua hal ini mengharuskanmu untuk berharap kepada Tuhan dan mengandalkan Tuhan untuk melewati masa-masa sulit. Jika engkau tidak dapat berlatih untuk berharap kepada Tuhan dan mengandalkan Tuhan, engkau tidak akan mampu melewati kesulitan, dan engkau tidak akan mampu mengikuti Tuhan. Berharap kepada Tuhan dan mengandalkan Tuhan bukanlah doktrin kosong, juga bukan mantra untuk percaya kepada Tuhan. Melainkan, itu adalah kebenaran penting, kebenaran yang harus kaumiliki untuk percaya dan mengikut Tuhan. Beberapa orang berkata, "Berharap kepada Tuhan dan mengandalkan Tuhan hanya berlaku ketika sebuah peristiwa besar terjadi. Misalnya, engkau hanya perlu berharap kepada Tuhan dan mengandalkan Tuhan ketika menghadapi kesengsaraan, ujian, penangkapan, dan penganiayaan, atau ketika engkau menghadapi kesulitan dalam tugasmu, atau ketika engkau dipangkas. Tidak perlu berharap kepada Tuhan dan mengandalkan Tuhan untuk hal-hal sepele dalam kehidupan pribadi, karena Tuhan tidak peduli dengan semua itu." Apakah pernyataan ini benar? Tentu saja tidak benar. Ada penyimpangan di sini. Berharap kepada Tuhan dalam hal-hal besar adalah penting, tetapi bolehkah engkau menangani hal-hal sepele dan perkara-perkara kecil dalam hidup tanpa prinsip? Dalam hal-hal seperti berpakaian dan makan, bolehkah engkau bertindak tanpa prinsip? Tentu saja tidak. Bagaimana dalam hal menangani hubunganmu dengan orang-orang dan masalah, bolehkah engkau bertindak tanpa prinsip? Tentu saja tidak. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari dan hal-hal sepele, engkau setidaknya harus memiliki prinsip agar mampu hidup dalam keserupaan dengan manusia. Masalah yang berkaitan dengan prinsip adalah masalah yang berkaitan dengan kebenaran. Bolehkah orang menyelesaikannya sendiri? Tentu saja tidak. Jadi, engkau harus berharap kepada Tuhan dan mengandalkan Tuhan. Hanya ketika engkau mendapatkan pencerahan Tuhan dan memahami kebenaran, barulah masalah-masalah sepele ini dapat diselesaikan. Jika engkau tidak berharap kepada Tuhan dan mengandalkan Tuhan, apakah menurutmu masalah yang berkaitan dengan prinsip-prinsip ini dapat diselesaikan? Tentu saja tidak dengan mudah. Dapat dikatakan bahwa dalam semua hal yang tidak dapat dilihat dengan jelas oleh manusia dan yang mengharuskan manusia mencari kebenaran, mereka harus berharap kepada Tuhan dan mengandalkan Tuhan. Sebesar atau sekecil apa pun, masalah apa pun yang harus diselesaikan dengan menggunakan kebenaran mengharuskanmu untuk berharap kepada Tuhan dan mengandalkan Tuhan. Ini adalah suatu keharusan. Meskipun orang memahami kebenaran dan mampu menyelesaikan masalah mereka sendiri, pemahaman dan solusi ini terbatas dan dangkal. Jika orang tidak berharap kepada Tuhan dan mengandalkan Tuhan, maka jalan masuk mereka tidak akan pernah terlalu dalam. Misalnya, jika engkau sakit hari ini, dan itu memengaruhi pelaksanaan tugasmu, engkau harus berdoa tentang hal ini dan berkata, "Ya Tuhan, aku kurang sehat hari ini, aku tidak bisa makan, dan ini memengaruhi pelaksanaan tugasku. Aku harus memeriksa diriku sendiri. Apa alasan sebenarnya aku sakit? Apakah aku sedang didisiplinkan oleh Tuhan karena tidak sepenuh hati dalam tugasku? Tuhan, kumohon cerahkan dan bimbinglah aku." Engkau harus berseru seperti ini. Inilah arti berharap kepada Tuhan. Namun, ketika engkau berharap kepada Tuhan, engkau tidak boleh hanya mengikuti formalitas dan mematuhi peraturan. Jika engkau tidak mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah, engkau akan menunda segala sesuatu. Setelah engkau berdoa kepada Tuhan dan berharap kepada Tuhan, engkau tetap harus menjalani hidupmu sebagaimana mestinya, tanpa menunda tugas yang harus kaulaksanakan. Jika engkau sakit, engkau harus berobat ke dokter, dan ini benar. Pada saat yang sama, engkau harus berdoa, merenungkan diri sendiri, dan mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah. Hanya melakukan penerapan seperti inilah yang benar-benar tepat. Untuk hal-hal tertentu, jika orang tahu cara melakukannya dengan benar, mereka harus melakukannya. Beginilah cara orang seharusnya bekerja sama. Namun, entah efek dan tujuan yang diinginkan dapat tercapai sepenuhnya dalam perkara-perkara ini atau tidak, tergantung pada berharap kepada Tuhan dan mengandalkan Tuhan. Dalam masalah yang tidak dapat dilihat dengan jelas dan tidak mampu ditangani sendiri dengan baik, mereka harus lebih berharap kepada Tuhan dan mencari kebenaran untuk menyelesaikannya. Kemampuan untuk melakukan hal inilah yang harus dimiliki oleh orang dengan kemanusiaan normal. Ada banyak pelajaran yang perlu dipetik dalam berharap kepada Tuhan. Dalam proses berharap kepada Tuhan, engkau mungkin menerima pencerahan Roh Kudus, dan engkau akan memiliki jalan, atau jika firman Tuhan datang kepadamu, engkau akan tahu cara bekerja sama, atau mungkin Tuhan akan mengatur beberapa lingkungan supaya engkau bisa memetik pelajaran, di mana ada maksud baik Tuhan. Dalam proses berharap kepada Tuhan, engkau akan melihat bimbingan dan pimpinan Tuhan, dan ini akan membantumu memetik banyak pelajaran dan mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang Tuhan. Inilah efek yang dicapai dengan berharap kepada Tuhan. Oleh karena itu, berharap kepada Tuhan adalah pelajaran yang harus sering dipetik oleh orang-orang yang mengikut Tuhan, dan itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah berhenti mereka alami seumur hidup. Ada banyak orang yang pengalamannya terlalu dangkal dan tidak dapat melihat tindakan Tuhan, jadi mereka berpikir, "Ada banyak hal kecil yang dapat kulakukan sendiri dan karena itu aku tak perlu berharap kepada Tuhan." Ini salah. Beberapa hal kecil mengarah pada hal-hal besar, dan maksud Tuhan tersembunyi dalam beberapa hal kecil. Banyak orang mengabaikan hal-hal kecil, dan akibatnya, mereka mengalami kemunduran besar karena hal-hal kecil. Mereka yang benar-benar memiliki hati yang takut akan Tuhan, baik dalam hal besar maupun kecil, akan memandang Tuhan, berdoa kepada Tuhan, memercayakan segala sesuatunya kepada Tuhan, dan kemudian melihat bagaimana Tuhan memimpin dan membimbing mereka. Setelah engkau memiliki pengalaman seperti itu, engkau akan mampu memandang Tuhan dalam segala sesuatu, dan semakin engkau mengalami hal ini, semakin engkau akan merasa bahwa memandang Tuhan dalam segala sesuatu sangatlah praktis. Ketika engkau memandang Tuhan dalam suatu masalah, mungkin Tuhan tidak akan memberimu perasaan, makna yang jelas, apalagi petunjuk yang jelas, tetapi Dia akan membuatmu memahami sebuah maksud yang sangat relevan dengan masalah ini, dan ini berarti Tuhan sedang membimbingmu dengan menggunakan metode berbeda dan memberimu jalan. Jika engkau dapat merasakan dan memahami hal ini, engkau akan mendapat manfaat. Engkau mungkin tidak memahami apa pun pada saat itu, tetapi engkau harus terus berdoa dan memandang Tuhan. Tidak ada yang salah dengan hal ini, dan cepat atau lambat engkau akan dicerahkan. Menerapkan dengan cara ini bukan berarti mematuhi peraturan. Sebaliknya, ini memenuhi kebutuhan roh, dan seperti inilah seharusnya orang menerapkan. Engkau mungkin tidak menerima pencerahan dan bimbingan setiap kali engkau berdoa kepada Tuhan dan memandang Tuhan, tetapi orang harus melakukan penerapan dengan cara ini, dan jika mereka ingin memahami kebenaran, mereka harus menerapkan dengan cara ini. Inilah keadaan hidup dan roh yang normal, dan hanya dengan cara inilah orang dapat mempertahankan hubungan yang normal dengan Tuhan sehingga hati mereka tidak menjauh dari Tuhan. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa memandang Tuhan adalah interaksi normal dengan Tuhan di dalam hati manusia. Entah engkau mampu menerima pencerahan dan bimbingan Tuhan atau tidak, engkau harus berdoa kepada Tuhan dan memandang Tuhan dalam segala sesuatu. Ini juga merupakan jalan yang diperlukan untuk hidup di hadapan Tuhan. Ketika orang percaya kepada Tuhan dan mengikut Tuhan, mereka harus memiliki keadaan pikiran yang selalu memandang Tuhan. Inilah keadaan pikiran yang harus dimiliki oleh orang-orang dengan kemanusiaan yang normal. Terkadang, mencari Tuhan bukan berarti menggunakan kata-kata tertentu untuk memohon kepada-Nya untuk melakukan sesuatu atau memberikan bimbingan, atau meminta perlindungan-Nya. Sebaliknya, ketika orang menghadapi suatu masalah, mereka dapat berseru kepada-Nya dengan tulus. Jadi, apa yang Tuhan lakukan ketika orang berseru kepada-Nya? Ketika hati seseorang tergerak dan mereka berpikir: "Ya Tuhan, aku tidak dapat melakukan ini sendiri. Aku tidak tahu bagaimana melakukannya, dan aku merasa lemah dan negatif ...," ketika pemikiran ini muncul di dalam diri mereka, bukankah Tuhan tahu akan hal itu? Ketika pemikiran ini muncul di dalam diri manusia, apakah hati mereka tulus? Ketika mereka berseru kepada Tuhan dengan tulus seperti ini, apakah Tuhan berkenan untuk membantu mereka? Meskipun kenyataannya mereka mungkin tidak mengucapkan sepatah kata pun, mereka menunjukkan ketulusan, dan karena itu Tuhan berkenan untuk membantu mereka. Ketika seseorang menghadapi masalah yang sangat sulit, ketika mereka tidak memiliki siapa pun untuk berpaling, dan ketika mereka merasa sangat tidak berdaya, mereka menaruh satu-satunya harapan mereka kepada Tuhan. Seperti apa doa mereka? Bagaimana keadaan pikiran mereka? Apakah mereka tulus? Apakah ada ketidakmurnian pada saat itu? Ketika engkau memercayai Tuhan seolah-olah Dia adalah harapan terakhir yang engkau genggam erat, berharap bahwa Dia akan membantumu, baru pada saat itulah hatimu tulus. Meskipun engkau mungkin tidak banyak bicara, hatimu telah tergerak. Artinya, engkau memberikan hatimu yang tulus kepada Tuhan, dan Tuhan mendengar. Ketika Tuhan mendengar, Dia melihat kesulitanmu, dan Dia akan mencerahkan, membimbing, dan membantumu. Kapan hati manusia paling tulus? Hati manusia paling tulus ketika manusia berharap kepada Tuhan saat tidak ada jalan keluar. Hal terpenting yang harus kaumiliki dalam berharap kepada Tuhan adalah hati yang tulus. Engkau harus berada dalam keadaan yang benar-benar membutuhkan Tuhan. Artinya, hati orang setidaknya harus tulus, tidak bersikap acuh tak acuh; mereka tidak boleh hanya menggerakkan mulut mereka dan bukan hati mereka. Jika engkau sekadar melakukan formalitas dalam berbicara kepada Tuhan, tetapi hatimu tidak bergerak, dan engkau bermaksud mengatakan, "Aku telah membuat rencanaku sendiri, dan Tuhan, aku hanya memberitahu-Mu. Aku akan melakukannya entah Engkau setuju atau tidak. Aku hanya sedang melakukan formalitas," maka ini berarti masalah. Engkau sedang menipu dan mempermainkan Tuhan, dan ini juga merupakan ungkapan penghinaan terhadap Tuhan. Bagaimana Tuhan akan memperlakukanmu setelah ini? Tuhan akan mengabaikanmu dan mengesampingkanmu, dan engkau akan benar-benar dipermalukan. Jika engkau tidak secara aktif mencari Tuhan dan tidak berupaya mengejar kebenaran, engkau akan disingkirkan.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Kepercayaan kepada Tuhan Harus Dimulai dengan Memahami yang Sebenarnya mengenai Tren Jahat Dunia"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 377
Kebenaran adalah hidup Tuhan itu sendiri; kebenaran merepresentasikan watak-Nya, esensi-Nya, dan apa yang Dia miliki dan siapa diri-Nya. Jika menurutmu dengan memiliki sedikit pengetahuan berdasarkan pengalaman, itu berarti engkau memiliki kebenaran, maka apakah itu berarti engkau telah mencapai kekudusan? Mengapa engkau masih memperlihatkan kerusakan? Mengapa engkau tak mampu membedakan berbagai jenis orang? Mengapa engkau tak mampu bersaksi tentang Tuhan? Sekalipun engkau memahami beberapa kebenaran, mampukah engkau merepresentasikan Tuhan? Mampukah engkau hidup dalam watak Tuhan? Engkau mungkin memiliki sedikit pengetahuan berdasarkan pengalaman tentang aspek kebenaran tertentu, dan mungkin ada pencerahan dalam perkataanmu, tetapi apa yang engkau berikan kepada orang-orang sangatlah terbatas dan tak dapat bertahan lama. Ini karena pemahaman dan terang yang telah engkau peroleh itu tidak merepresentasikan esensi kebenaran, dan tidak merepresentasikan seluruh kebenaran. Itu hanya merepresentasikan satu sisi atau aspek kecil dari kebenaran tersebut, itu hanyalah satu tingkat yang mampu dicapai oleh manusia, dan masih jauh dari esensi kebenaran. Terang, pencerahan, pengetahuan berdasarkan pengalaman yang sangat sedikit ini tidak pernah bisa menggantikan kebenaran. Sekalipun semua orang telah mencapai hasil tertentu dengan mengalami suatu kebenaran, dan seluruh pengetahuan berdasarkan pengalaman mereka digabungkan, itu tidak akan mencapai keseluruhan dan esensi dari satu saja pernyataan kebenaran ini. Dahulu pernah dikatakan, "Aku meringkaskan ini dengan peribahasa bagi dunia manusia: Di antara manusia, tidak ada seorang pun yang mengasihi Aku." Kalimat ini adalah kebenaran, esensi hidup yang sejati, hal yang paling mendalam, dan merupakan ungkapan dari Tuhan itu sendiri. Engkau melalui berbagai pengalaman, dan setelah pengalaman selama tiga tahun, engkau mungkin memiliki sedikit pemahaman yang dangkal, dan setelah tujuh atau delapan tahun, engkau mungkin memiliki sedikit lebih banyak pemahaman, tetapi pemahaman ini tidak pernah dapat menggantikan satu baris kebenaran ini. Setelah dua tahun, seseorang yang lain mungkin memiliki sedikit pemahaman, atau lebih banyak pemahaman setelah sepuluh tahun, atau memiliki pemahaman yang relatif lebih tinggi setelah satu masa kehidupan, tetapi gabungan pemahamanmu dan pemahaman orang itu tidaklah dapat menggantikan satu baris kebenaran ini. Sebanyak apa pun gabungan wawasan, terang, pengalaman, atau pengetahuan yang engkau dan orang itu miliki, itu tak pernah mampu menggantikan satu baris kebenaran ini. Artinya, kehidupan manusia selalu merupakan kehidupan manusia, dan betapa pun sesuainya pengetahuanmu itu dengan kebenaran, maksud Tuhan, atau tuntutan Tuhan, itu tidak pernah dapat menggantikan kebenaran. Bila orang memiliki kebenaran berarti orang itu benar-benar memahami kebenaran, hidup dalam sebagian kenyataan kebenaran firman Tuhan, memiliki sedikit pengetahuan yang nyata tentang Tuhan, dan mampu meninggikan serta bersaksi tentang Tuhan. Namun, orang tersebut tidak bisa dianggap sudah memiliki kebenaran, karena kebenaran itu terlalu dalam. Hanya satu baris firman Tuhan sudah cukup untuk dialami orang seumur hidupnya, dan bahkan setelah dialami selama beberapa kali masa kehidupan, atau setelah ribuan tahun, satu baris firman Tuhan pun tidak dapat sepenuhnya dialami. Jelaslah bahwa proses memahami kebenaran dan mengenal Tuhan memang tidak ada habisnya, dan ada batas mengenai berapa banyak kebenaran yang mampu orang pahami dalam pengalamannya seumur hidup. Ada orang yang mengira bahwa mereka memiliki kebenaran begitu mereka memahami makna tekstual dari firman Tuhan. Bukankah ini omong kosong? Dalam hal terang dan pengetahuan, ada masalah kedalaman. Kenyataan kebenaran yang mampu orang masuki sepanjang kehidupan percayanya sangatlah terbatas. Oleh karena itu, hanya karena engkau memiliki sedikit pengetahuan dan terang, bukan berarti engkau memiliki kenyataan kebenaran. Hal utama yang harus kaulihat adalah apakah terang dan pengetahuan ini menyentuh esensi kebenaran. Inilah hal yang terpenting. Ada orang yang merasa bahwa mereka memiliki kebenaran ketika mereka dapat berbicara dengan terang atau menyampaikan sedikit pemahaman yang dangkal. Ini membuat mereka merasa senang, jadi mereka menjadi congkak dan sombong. Sebenarnya, mereka masih jauh dari masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Kebenaran apa yang mampu orang miliki? Dapatkah orang yang memiliki kebenaran jatuh kapan pun dan di mana pun? Jika orang memiliki kebenaran, bagaimana mungkin mereka tetap mampu menentang dan mengkhianati Tuhan? Jika engkau menyatakan bahwa dirimu memiliki kebenaran, yang membuktikan bahwa di dalam dirimu terdapat hidup Kristus—itu sangat keterlaluan! Engkau telah menjadi Tuhan, engkau telah menjadi Kristus? Ini adalah pernyataan yang tak masuk akal, dan sepenuhnya merupakan kesimpulan manusia; ini berkaitan dengan gagasan dan imajinasi manusia, dan itu sama sekali tidak dapat dipertahankan di mata Tuhan.
Dalam hal orang memahami kebenaran, dan menjalani kehidupan dengan kebenaran sebagai hidup mereka, apakah arti "hidup" di sini? Itu artinya kebenaranlah yang berkuasa di hati mereka, itu artinya mereka mampu hidup berdasarkan firman Tuhan, dan itu artinya mereka memiliki pengetahuan yang nyata tentang firman Tuhan dan pemahaman sejati tentang kebenaran. Ketika orang memiliki hidup yang baru ini dalam diri mereka, itu sepenuhnya dicapai dengan menerapkan dan mengalami firman Tuhan. Hidup yang baru ini dibangun di atas dasar kebenaran firman Tuhan, dan itu dicapai dengan mereka hidup di dalam alam kebenaran; semua yang terkandung dalam hidup orang itu adalah pengetahuan dan pengalaman mereka tentang kebenaran. Itu adalah landasannya dan itu tidak melampaui ruang lingkup itu; inilah hidup yang dimaksud ketika membicarakan tentang memperoleh kebenaran dan hidup. Mampu hidup berdasarkan kebenaran firman Tuhan bukan berarti bahwa kehidupan kebenaran itu ada di dalam diri orang, juga bukan berarti jika mereka memiliki kebenaran sebagai hidup mereka, mereka menjadi kebenaran, dan kehidupan batin mereka menjadi kehidupan kebenaran; apalagi menganggap bahwa mereka adalah kebenaran dan hidup. Pada akhirnya, hidup mereka tetaplah hidup seorang manusia. Jika engkau mampu hidup berdasarkan firman Tuhan dan memiliki pengetahuan tentang kebenaran, jika pengetahuan ini berakar di dalam dirimu dan menjadi hidupmu, dan kebenaran yang kauperoleh melalui pengalaman akan menjadi dasar keberadaanmu, jika engkau hidup berdasarkan firman Tuhan ini, tak seorang pun dapat mengubahnya, dan Iblis tidak dapat menyesatkan atau merusakmu, maka engkau sudah memperoleh kebenaran dan hidup. Artinya, hidupmu hanya berisi kebenaran, yang berarti pemahaman, pengalaman, dan wawasanmu tentang kebenaran; dan apa pun yang kaulakukan, engkau akan hidup berdasarkan hal-hal ini, dan engkau tidak akan melampaui ruang lingkup hal-hal ini. Inilah artinya memiliki kenyataan kebenaran, dan orang-orang semacam itulah yang pada akhirnya ingin Tuhan dapatkan dengan pekerjaan-Nya. Namun, sebaik apa pun orang memahami kebenaran, esensi mereka tetaplah esensi manusia, dan sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan esensi Tuhan. Ini karena mereka tidak akan pernah dapat mengalami semua kebenaran, dan tidaklah mungkin bagi mereka untuk sepenuhnya hidup dalam kebenaran; mereka hanya dapat hidup dalam sedikit kebenaran yang sangat terbatas yang mampu diperoleh manusia. Dengan demikian, bagaimana mungkin mereka berubah menjadi Tuhan? ... Jika engkau memiliki sedikit pengalaman akan firman Tuhan, dan hidup menurut pengetahuan sejati akan kebenaran berdasarkan pengalaman, maka firman Tuhan akan berangsur menjadi hidupmu. Namun, engkau tetap tidak boleh berkata bahwa kebenaran adalah hidupmu atau bahwa apa yang kauungkapkan adalah kebenaran; jika itu adalah pendapatmu, engkau keliru. Jika engkau hanya memiliki pengalaman tertentu dengan satu aspek kebenaran tertentu, dapatkah ini dengan sendirinya merepresentasikan bahwa engkau memiliki kebenaran? Dapatkah ini dianggap sebagai memperoleh kebenaran? Dapatkah engkau menjelaskan kebenaran secara menyeluruh? Dapatkah engkau menemukan watak Tuhan, dan apa yang Tuhan miliki dan siapa Dia, dari kebenaran? Jika efek ini tidak tercapai, ini membuktikan bahwa hanya mengalami aspek tertentu dari kebenaran tidak dapat dianggap benar-benar memahami kebenaran, atau mengenal Tuhan, terlebih lagi, tidak dapat dianggap telah memperoleh kebenaran. Semua orang memiliki pengalaman dengan hanya satu aspek dan ruang lingkup kebenaran; mereka mengalaminya dalam lingkup terbatas mereka sendiri, dan mereka tidak dapat menyentuh seluruh aspek kebenaran yang tak terhitung jumlahnya. Dapatkah orang hidup dalam makna asli kebenaran? Seberapa besar persentase kebenaran dari sedikit pengalamanmu? Hanya sebutir pasir di pantai, setetes air di lautan. Oleh karena itu, betapa pun berharganya pemahaman dan perasaan yang kauperoleh dari pengalamanmu itu, semuanya tetap tidak dapat dianggap sebagai kebenaran. Semuanya hanya bisa dikatakan sesuai dengan kebenaran. Kebenaran berasal dari Tuhan, dan makna terdalam dan kenyataan kebenaran mencakup rentang yang sangat luas, dan tak seorang pun dapat memahami sepenuhnya atau menyanggahnya. Asalkan engkau memiliki pemahaman yang nyata tentang kebenaran dan tentang Tuhan, engkau akan memahami beberapa kebenaran; tak seorang pun akan mampu menyanggah pemahaman yang nyata ini, dan kesaksian yang berisi kenyataan kebenaran selamanya dapat dipertahankan. Tuhan berkenan pada mereka yang memiliki kenyataan kebenaran. Asalkan engkau mengejar kebenaran, dan engkau dapat mengandalkan Tuhan untuk mengalami firman Tuhan dan dapat menerima kebenaran sebagai hidupmu di lingkungan apa pun engkau berada, maka engkau akan memiliki jalan, mampu bertahan hidup, dan mendapatkan perkenanan Tuhan. Meskipun hal-hal kecil yang orang peroleh sesuai dengan kebenaran, tidak dapat dikatakan bahwa ini adalah kebenaran, terlebih lagi, tidak dapat dikatakan bahwa mereka telah memperoleh kebenaran. Sedikit terang yang telah orang dapatkan hanya cocok untuk diri mereka sendiri atau untuk orang lain dalam ruang lingkup tertentu, tetapi tidak akan cocok dalam ruang lingkup yang berbeda. Sedalam apa pun pengalaman seseorang, itu tetap sangat terbatas, dan pengalaman mereka tidak akan pernah mencapai kedalaman kebenaran. Terang seseorang dan pemahaman seseorang tidak pernah dapat dibandingkan dengan kebenaran.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 378
Jika engkau ingin menerapkan dan memahami kebenaran, engkau harus terlebih dahulu mencari kebenaran ketika sesuatu terjadi padamu dalam kehidupanmu sehari-hari. Itu berarti, engkau harus memandang segala sesuatu berdasarkan firman Tuhan dan kebenaran; jika esensi masalahnya jelas bagimu, engkau akan tahu bagaimana melakukan penerapan sesuai dengan prinsip kebenaran. Dan jika engkau selalu memandang segala sesuatu sesuai dengan firman Tuhan, engkau akan dapat melihat tangan Tuhan—perbuatan Tuhan—dalam segala sesuatu yang terjadi di sekitarmu. Apa pun yang terjadi di sekitar mereka, beberapa orang berpikir bahwa itu tidak ada kaitannya dengan iman mereka kepada Tuhan atau kebenaran; mereka hanya mengikuti keinginan mereka sendiri, bereaksi sesuai dengan falsafah Iblis. Dapatkah mereka memetik pelajaran jika mereka seperti ini? Tentu saja tidak. Karena alasan inilah banyak orang telah percaya kepada Tuhan selama sepuluh atau dua puluh tahun dan mereka tetap tidak memiliki pemahaman tentang kebenaran atau jalan masuk kehidupan. Mereka tak mampu mengaitkan Tuhan dengan kehidupan mereka sehari-hari, atau menangani segala sesuatu yang terjadi di sekitar mereka berdasarkan firman Tuhan, dan karena itu setiap kali sesuatu terjadi pada mereka, mereka tidak dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, juga tidak mampu menanganinya berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran. Orang-orang semacam itu tidak memiliki jalan masuk kehidupan. Ada orang-orang yang hanya melibatkan pikiran mereka ketika mereka sedang membaca firman Tuhan dalam pertemuan; pada saat-saat seperti itu, mereka mampu menyampaikan sedikit pengetahuan, tetapi mereka tak mampu menerapkan firman Tuhan apa pun yang terjadi pada diri mereka dalam kehidupan nyata, dan mereka juga tidak tahu cara menerapkan kebenaran, dan karena itu mereka berpikir bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan mereka sehari-hari tidak ada kaitannya dengan kebenaran, tidak ada kaitannya dengan firman Tuhan. Dalam iman mereka kepada Tuhan, seolah-olah mereka memperlakukan firman Tuhan dan kebenaran sebagai suatu bidang ilmu pengetahuan, sama sekali terpisah dari kehidupan mereka sehari-hari dan sama sekali terpisah dari pandangan mereka tentang segala sesuatu, tujuan hidup mereka, dan pengejaran hidup mereka. Bentuk kepercayaan kepada Tuhan seperti apakah ini? Akankah mereka mampu memahami kebenaran dan masuk ke dalam kenyataan? Jika mereka percaya kepada Tuhan dengan cara ini, apakah mereka pengikut Tuhan? Mereka bukan orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan, apalagi pengikut Tuhan. Semua masalah dalam kehidupan mereka sehari-hari—termasuk segala sesuatu yang menyangkut keluarga, pernikahan, pekerjaan, atau prospek mereka—mereka anggap tidak ada kaitannya dengan kebenaran, dan karenanya berusaha menyelesaikannya dengan menggunakan cara-cara manusia. Karena mengalaminya dengan cara demikian, mereka tidak akan pernah memperoleh kebenaran, tidak akan pernah mampu memahami apa yang Tuhan ingin capai dalam diri manusia, dan efek yang ingin Dia capai dalam diri mereka. Tuhan mengungkapkan kebenaran untuk menyelamatkan manusia, untuk mentahirkan dan mengubah watak mereka yang rusak, tetapi mereka tidak menyadari bahwa hanya jika mereka menerima dan mengejar kebenaran, barulah mereka akan mampu menyelesaikan watak rusak mereka sendiri; mereka tidak menyadari bahwa hanya ketika mereka mengalami dan menerapkan firman Tuhan dalam kehidupan mereka sehari-hari, barulah mereka mampu memperoleh kebenaran. Bukankah orang-orang seperti itu bodoh dan dungu? Bukankah mereka orang-orang paling bodoh dan konyol? Ada orang-orang yang tidak pernah mengejar kebenaran dalam iman mereka kepada Tuhan. Mereka mengira beriman kepada Tuhan itu berarti menghadiri pertemuan, berdoa, menyanyikan lagu-lagu pujian, membaca firman Tuhan; mereka menekankan upacara keagamaan, dan mereka tidak pernah menerapkan atau mengalami firman Tuhan. Inilah cara orang-orang beragama percaya kepada Tuhan. Dan ketika orang memperlakukan sesuatu yang sangat penting seperti iman kepada Tuhan sebagai kepercayaan beragama, bukankah mereka pengikut yang bukan orang percaya? Bukankah mereka adalah orang tidak percaya? Mengejar kebenaran mengharuskan kita mengalami banyak proses. Ada sisi sederhana dan ada sisi kompleks dalam mengejar kebenaran. Sederhananya, kita harus mencari kebenaran dan menerapkan serta mengalami firman Tuhan dalam apa pun yang terjadi di sekitar kita. Begitu engkau mulai melakukannya, engkau akan semakin mengerti seberapa banyak kebenaran yang perlu kauperoleh dan kejar dalam kepercayaanmu kepada Tuhan, dan bahwa kebenaran sungguh nyata dan kebenaran adalah hidup. Tuhan menyelamatkan manusia agar manusia dapat memperoleh kebenaran sebagai hidup. Semua manusia yang diciptakan harus menerima kebenaran sebagai hidup, bukan saja mereka yang melaksanakan tugas, yang menjadi pemimpin dan pekerja, atau yang melayani Tuhan. Firman Tuhan ditujukan kepada semua manusia, dan Tuhan berbicara kepada semua manusia. Oleh karena itu, semua makhluk ciptaan dan semua manusia harus menerima firman Tuhan dan kebenaran, mencari kebenaran dalam segala sesuatu, dan kemudian melakukan penerapan sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran sehingga mereka menjadi mampu menerapkan dan tunduk pada kebenaran. Jika hanya para pemimpin dan pekerja yang dituntut untuk menerapkan kebenaran, ini sama sekali bertentangan dengan maksud Tuhan, karena kebenaran yang diungkapkan Tuhan adalah untuk semua manusia, dan itu diungkapkan dengan tujuan untuk menyelamatkan manusia, bukan hanya untuk menyelamatkan beberapa orang. Jika hanya untuk menyelamatkan beberapa orang, firman yang Tuhan nyatakan akan menjadi kurang bermakna. Sekarang, sudahkah engkau semua memiliki jalan untuk mengejar kebenaran? Apa hal pertama yang harus diterapkan ketika mengejar kebenaran? Pertama, engkau harus meluangkan lebih banyak waktu untuk makan dan minum firman Tuhan dan mendengarkan khotbah dan persekutuan. Ketika engkau menghadapi suatu masalah, berdoalah dan carilah lebih lagi. Setelah engkau memperlengkapi dirimu dengan lebih banyak kebenaran, saat engkau semua bertumbuh dengan cepat dan memiliki tingkat pertumbuhan, engkau akan mampu melaksanakan suatu tugas, mengerjakan suatu pekerjaan kecil, dan akan mampu melewati ujian dan pencobaan. Pada waktu itu, engkau semua akan merasa bahwa engkau telah sungguh-sungguh mengerti dan memperoleh beberapa kebenaran, dan engkau akan merasa bahwa firman yang diucapkan Tuhan seluruhnya adalah kebenaran, bahwa semua itu adalah kebenaran yang paling dibutuhkan untuk keselamatan manusia yang rusak, dan bahwa semua itu adalah kebenaran hidup yang diberikan oleh satu-satunya Sang Pencipta.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Makna Penting Mengejar Kebenaran dan Jalan Pengejarannya"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 379
Jika orang ingin diselamatkan ketika mereka percaya kepada Tuhan, kuncinya adalah apakah mereka memiliki hati yang takut akan Tuhan atau tidak, apakah Tuhan memiliki tempat di hati mereka atau tidak, apakah mereka mampu hidup di hadapan Tuhan dan memelihara hubungan yang normal dengan Tuhan atau tidak. Yang penting adalah apakah orang mampu menerapkan kebenaran dan mencapai ketundukan kepada Tuhan atau tidak. Demikianlah jalan dan syarat untuk diselamatkan. Jika hatimu tidak mampu hidup di hadapan Tuhan, jika engkau tidak sering berdoa kepada Tuhan dan bersekutu dengan Tuhan, serta kehilangan hubungan yang normal dengan Tuhan, engkau tidak akan pernah diselamatkan karena engkau telah menghalangi jalanmu menuju keselamatan. Jika engkau tidak memiliki hubungan apa pun dengan Tuhan, engkau telah mencapai jalan buntu. Jika Tuhan tidak ada di hatimu, tidak ada gunanya engkau menyatakan bahwa dirimu beriman, hanya percaya kepada Tuhan di bibir saja. Sebanyak apa pun perkataan dan doktrin yang mampu kauucapkan, sebanyak apa pun engkau telah menderita karena kepercayaanmu kepada Tuhan, atau betapa pun berbakatnya dirimu; jika Tuhan tidak ada di hatimu, dan engkau tidak takut akan Tuhan, tidak soal bagaimana engkau percaya kepada Tuhan. Dia akan berkata, "Pergilah dari-Ku, engkau pelaku kejahatan." Engkau akan digolongkan sebagai pelaku kejahatan. Engkau tidak akan memiliki hubungan dengan Tuhan; Dia tidak akan menjadi Tuanmu atau Tuhanmu. Meskipun engkau mengakui bahwa Tuhan berdaulat atas segala sesuatu, dan mengakui bahwa Dia adalah Sang Pencipta, engkau tidak menyembah-Nya dan tidak tunduk pada kedaulatan-Nya. Engkau mengikuti Iblis dan setan; hanya Iblis dan setanlah yang menjadi tuanmu. Jika, dalam segala hal, engkau percaya pada dirimu sendiri, dan mengikuti kehendakmu sendiri, jika engkau percaya bahwa nasibmu berada di tanganmu sendiri, apa yang kaupercayai adalah dirimu sendiri. Meskipun engkau mengaku percaya dan mengakui Tuhan, Dia tidak mengakuimu. Engkau tidak memiliki hubungan dengan Tuhan, dan oleh karena itu, engkau ditakdirkan untuk akhirnya dibenci dan ditolak oleh-Nya, dihukum dan disingkirkan oleh-Nya; Dia tidak menyelamatkan orang-orang sepertimu. Orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan adalah mereka yang menerima-Nya sebagai Juruselamat, yang menerima bahwa Dia adalah jalan, kebenaran, dan hidup. Mereka dapat dengan tulus mengorbankan diri mereka sendiri untuk Tuhan dan melaksanakan tugas sebagai makhluk ciptaan, mereka mengalami pekerjaan Tuhan, mereka menerapkan firman-Nya dan kebenaran, mereka menempuh jalan mengejar kebenaran. Mereka adalah orang-orang yang tunduk kepada kedaulatan dan pengaturan Tuhan, dan yang mengikuti kehendak-Nya. Hanya jika orang memiliki iman seperti itu kepada Tuhan, barulah mereka dapat diselamatkan; jika tidak, mereka akan dihukum. Apakah dapat diterima jika orang mengejar angan-angan ketika mereka percaya kepada Tuhan? Dalam iman mereka kepada Tuhan, dapatkah orang memperoleh kebenaran jika mereka selalu berpegang teguh pada gagasan mereka sendiri dan pada imajinasi abstrak yang samar? Sama sekali tidak. Jika orang percaya kepada Tuhan, mereka harus menerima kebenaran, percaya kepada Tuhan seperti yang Dia tuntut, serta tunduk kepada pengaturan dan penataan-Nya; hanya dengan cara demikianlah mereka dapat memperoleh keselamatan. Tidak ada cara lain selain ini; apa pun yang kaulakukan, engkau tidak boleh mengejar angan-angan apa pun. Mempersekutukan topik ini sangat penting bagi orang-orang, bukan? Ini adalah peringatan untuk engkau semua.
Sekarang setelah engkau semua mendengar firman ini, engkau seharusnya memahami kebenaran dan mengerti dengan jelas apa artinya diselamatkan. Apa pun yang orang sukai, apa yang mereka kejar, apa yang menjadi gairah mereka, tak satu pun dari hal-hal ini penting. Hal yang terpenting adalah menerima kebenaran. Kesimpulannya, mampu memperoleh kebenaran adalah hal terpenting, dan apa yang memampukanmu untuk memperoleh rasa takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan adalah jalan yang benar. Jika engkau telah percaya kepada Tuhan selama beberapa tahun dan selalu berfokus pada pengejaran akan hal-hal yang tidak berkaitan dengan kebenaran, maka imanmu tidak ada kaitannya dengan kebenaran, dan tidak ada hubungannya dengan Tuhan. Engkau bisa saja mengaku bahwa engkau percaya kepada Tuhan dan mengakui Tuhan secara verbal, tetapi Tuhan bukan Tuanmu, Dia bukan Tuhanmu; engkau tidak menerima kedaulatan Tuhan atas nasibmu, engkau tidak tunduk pada semua yang Tuhan tata untukmu, engkau tidak mengakui fakta bahwa Tuhan adalah kebenaran. Jika begitu, harapanmu untuk diselamatkan telah hancur. Jika engkau tidak menempuh jalan mengejar kebenaran, artinya engkau menempuh jalan kehancuran. Jika segala sesuatu yang kaukejar, kaufokuskan, kaudoakan, dan kauminta didasarkan pada firman Tuhan, dan didasarkan pada apa yang Tuhan tuntut, dan jika engkau makin merasa bahwa engkau tunduk kepada Sang Pencipta dan menyembah Sang Pencipta, dan merasakan bahwa Tuhan adalah Tuanmu, Tuhanmu, jika engkau semakin senang tunduk kepada semua yang Tuhan atur dan tata untukmu, dan hubunganmu dengan Tuhan menjadi jauh lebih dekat serta jauh lebih normal, dan jika kasihmu kepada Tuhan menjadi jauh lebih murni dan benar, maka keluhan dan kesalahpahamanmu terhadap Tuhan, dan keinginanmu yang berlebihan terhadap Tuhan akan semakin berkurang, dan engkau akan sepenuhnya memperoleh rasa takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, yang berarti engkau telah menjejakkan kaki di jalan keselamatan. Meskipun menempuh jalan keselamatan selalu disertai dengan pendisiplinan, pemangkasan, penghakiman, dan hajaran Tuhan, dan ini menyebabkan engkau mengalami banyak penderitaan, ini adalah kasih Tuhan yang dilimpahkan kepadamu. Jika, dalam kepercayaanmu kepada Tuhan, engkau hanya mengejar berkat, dan mengejar status, ketenaran, dan keuntungan, serta tidak pernah didisiplinkan, atau dipangkas, atau dihakimi dan dihajar, maka meskipun engkau mungkin memiliki hidup yang mudah, hatimu akan semakin jauh dari Tuhan, engkau akan kehilangan hubungan yang normal dengan Tuhan, dan engkau juga tidak akan bersedia menerima pemeriksaan Tuhan; engkau ingin menjadi tuan bagi dirimu sendiri—yang semuanya membuktikan bahwa jalan yang kautempuh bukanlah jalan yang benar. Jika engkau mengalami pekerjaan Tuhan selama beberapa waktu dan semakin merasa betapa sangat dalamnya kerusakan manusia, dan betapa sangat mudahnya manusia menentang Tuhan, dan jika engkau takut bahwa harinya akan tiba ketika engkau melakukan sesuatu yang menentang Tuhan, menyinggung Tuhan, dan ditinggalkan oleh-Nya, dan dengan demikian engkau merasa bahwa tidak ada yang lebih menakutkan daripada menentang Tuhan, engkau akan memiliki hati yang takut akan Tuhan. Engkau akan merasa bahwa ketika orang percaya kepada Tuhan, mereka tidak boleh menyimpang dari Tuhan; jika mereka menyimpang dari Tuhan, jika mereka menyimpang dari pendisiplinan Tuhan, dan dari penghakiman dan hajaran Tuhan, ini sama dengan kehilangan perlindungan dan pemeliharaan Tuhan, kehilangan berkat Tuhan, dan tamatlah riwayat manusia; mereka hanya bisa menjadi makin rusak, mereka akan menjadi seperti orang-orang dalam dunia keagamaan, dan akan tetap cenderung menentang Tuhan sementara mereka percaya kepada Tuhan—dan dalam hal ini, mereka telah menjadi antikristus. Jika engkau mampu menyadari hal ini, engkau akan berdoa kepada Tuhan, "Ya Tuhan! Kumohon hakimi dan hajarlah aku. Dalam segala sesuatu yang kulakukan, kumohon agar engkau memeriksaku. Jika aku melakukan sesuatu yang melanggar kebenaran dan melanggar maksud-Mu, kiranya Engkau menghakimiku dan menghajarku dengan berat—aku tak bisa hidup tanpa penghakiman dan hajaran-Mu." Inilah jalan yang benar yang harus orang tempuh dalam iman mereka kepada Tuhan. Jadi, nilailah berdasarkan standar ini: Apakah engkau berani berkata bahwa engkau telah menjejakkan kaki di jalan keselamatan? Engkau semua tidak berani karena engkau belum menjadi salah seorang dari mereka yang mengejar kebenaran, dalam banyak hal, engkau tidak mencari kebenaran, dan engkau tidak mampu menerima dan tunduk pada pemangkasan—yang membuktikan bahwa engkau semua masih jauh dari jalan keselamatan. Apakah mudah untuk menjejakkan kaki di jalan keselamatan jika engkau bukan orang yang mengejar kebenaran? Sebenarnya, itu tidak mudah. Jika orang belum mengalami penghakiman dan hajaran Tuhan, jika mereka belum mengalami pendisiplinan, didikan, pemangkasan oleh Tuhan, maka tidak mudah bagi mereka untuk menjadi orang yang mengejar kebenaran, dan akibatnya sangat sulit bagi mereka untuk menjejakkan kaki di jalan keselamatan. Jika, setelah mendengar firman ini, engkau tahu bahwa itu adalah kebenaran, tetapi engkau belum menjejakkan kakimu di jalan mengejar kebenaran dan memperoleh keselamatan, dan engkau tidak menganggap hal ini sesuatu yang serius, merasa cepat atau lambat, akan tiba saatnya engkau akan mencapainya—tidak perlu terburu-buru melakukannya—lalu pandangan macam apakah ini? Jika engkau memiliki pandangan seperti itu, engkau berada dalam masalah, dan engkau akan mengalami kesulitan untuk menjejakkan kaki di jalan keselamatan. Jadi, tekad macam apa yang harus engkau miliki agar mampu menjejakkan kaki di jalan ini? Engkau harus berkata, "Ah! Saat ini aku belum menjejakkan kaki di jalan keselamatan—ini cukup berbahaya! Tuhan berkata bahwa manusia harus hidup di hadapan-Nya setiap saat, dan harus lebih banyak berdoa, dan bahwa hati mereka harus tenang, dan tidak bersikap impulsif—jadi aku harus mulai menerapkan semua ini sekarang juga." Melakukan penerapan seperti ini berarti memasuki jalur iman yang benar kepada Tuhan; sesederhana itu. Orang macam apa mereka yang mendengar firman Tuhan, lalu pergi dan menerapkannya? Apakah mereka orang yang baik? Ya—mereka adalah orang-orang yang mencintai kebenaran. Orang macam apa mereka jika, setelah mendengar firman Tuhan, mereka tetap mati rasa, acuh tak acuh, berkeras hati—jika mereka menganggap enteng firman Tuhan, dan tidak mau mendengar serta berpura-pura tidak memperhatikannya? Apakah mereka tidak bingung? Orang-orang selalu bertanya apakah ada jalan pintas untuk diselamatkan ketika mereka percaya kepada Tuhan. Kuberitahukan kepadamu tidak ada jalan pintas, dan kemudian Kuberitahukan kepadamu tentang jalan yang sederhana ini, tetapi setelah mendengarnya, engkau semua tidak menerapkannya—yang menunjukkan bahwa engkau orang yang tidak mengetahui hal yang baik padahal engkau mendengarnya. Dapatkah orang semacam itu diselamatkan? Meskipun ada sedikit harapan bagi mereka, harapannya tidak besar; keselamatan akan sangat sulit mereka dapatkan. Mungkin ada suatu hari ketika mereka terbangun dari tidur, ketika mereka berpikir sendiri, "Aku tidak muda lagi, dan aku belum melaksanakan tugasku yang semestinya setelah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun. Tuhan mengharuskan manusia untuk hidup di hadapan-Nya setiap saat, dan aku tidak pernah hidup di hadapan Tuhan. Aku harus segera berdoa." Jika mereka sadar di dalam hati mereka dan mulai melaksanakan tugas mereka yang semestinya, mereka belum terlambat! Namun, jangan sampai terlambat; jika engkau semua menunggu sampai engkau berusia tujuh puluhan atau delapan puluhan, dan tubuhmu melemah, dan engkau tak lagi punya tenaga, bukankah akan terlambat untuk mengejar kebenaran? Jika engkau semua menghabiskan tahun-tahun terbaik dalam hidupmu untuk hal-hal yang tidak berarti, dan akhirnya menunda atau melewatkan pengejaran akan kebenaran, yang merupakan hal terpenting dari semuanya, bukankah ini sangat bodoh? Apakah ada sesuatu yang lebih bodoh? Banyak orang tahu betul jalan yang benar tetapi menunggu sampai nanti untuk menerima dan mengejarnya—mereka semua adalah orang bodoh. Mereka tidak tahu bahwa mengejar kebenaran membutuhkan upaya puluhan tahun sebelum mereka dapat memperoleh hidup. Akan terlambat untuk menyesal jika mereka menyia-nyiakan waktu terbaik untuk diselamatkan!
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Hanya dengan Takut akan Tuhan Orang Dapat Menempuh Jalan Keselamatan"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 380
Sebagai pemimpin gereja, engkau bukan saja harus belajar menggunakan kebenaran untuk menyelesaikan masalah, engkau juga harus belajar menemukan dan membina orang-orang berbakat, yang kepadanya engkau sama sekali tidak boleh merasa iri atau menekan. Menerapkan dengan cara ini bermanfaat bagi pekerjaan gereja. Jika engkau dapat membina beberapa orang yang mengejar kebenaran untuk bekerja sama denganmu dan melaksanakan semua pekerjaan dengan baik, dan pada akhirnya, engkau semua memiliki kesaksian pengalaman, engkau adalah pemimpin atau pekerja yang memenuhi standar. Jika engkau mampu menangani segala sesuatu berdasarkan prinsip, berarti engkau sedang menunjukkan kesetiaanmu. Ada orang-orang yang selalu takut orang lain lebih baik daripada mereka atau mengungguli mereka, takut orang lain akan diakui sedangkan mereka diabaikan, dan ini membuat mereka menyerang dan mengucilkan orang lain. Bukankah ini contoh perasaan iri terhadap orang-orang yang berbakat? Bukankah itu egois dan hina? Watak macam apa ini? Ini adalah watak berniat jahat. Orang-orang yang hanya memikirkan kepentingan mereka sendiri, yang hanya memuaskan keinginan egois mereka sendiri, tanpa memikirkan orang lain atau tanpa memikirkan kepentingan rumah Tuhan memiliki watak yang buruk, dan Tuhan tidak mengasihi mereka. Jika engkau benar-benar mampu memikirkan maksud-maksud Tuhan, engkau akan mampu memperlakukan orang lain dengan adil. Jika engkau merekomendasikan orang yang baik dan membiarkan mereka berlatih dan melaksanakan suatu tugas, dengan demikian menambahkan seorang yang berbakat ke dalam rumah Tuhan, bukankah itu akan mempermudah pekerjaanmu? Bukankah itu berarti engkau akan menunjukkan kesetiaan dalam tugasmu? Itu adalah sebuah perbuatan baik di hadapan Tuhan; inilah hati nurani dan nalar yang minimal harus dimiliki oleh orang yang melayani sebagai pemimpin. Mereka yang mampu menerapkan kebenaran mampu menerima pemeriksaan Tuhan dalam segala sesuatu yang mereka lakukan. Ketika engkau menerima pemeriksaan Tuhan, hatimu akan menjadi lurus. Jika engkau selalu hanya melakukan sesuatu supaya dilihat orang lain, dan selalu ingin mendapatkan pujian dan kekaguman orang lain, dan engkau tidak mau menerima pemeriksaan Tuhan, apakah Tuhan masih ada di dalam hatimu? Orang-orang semacam itu tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan. Jangan selalu melakukan segala sesuatu demi dirimu sendiri dan jangan selalu memikirkan kepentinganmu sendiri; jangan memikirkan kepentingan manusia, dan jangan memikirkan harga diri, reputasi, dan statusmu sendiri. Engkau harus terlebih dahulu memikirkan kepentingan rumah Tuhan, dan menjadikannya prioritasmu. Engkau harus memperhatikan maksud-maksud Tuhan dan memulainya dengan merenungkan apakah ada ketidakmurnian dalam pelaksanaan tugasmu, apakah engkau selama ini sepenuh hati, memenuhi tanggung jawabmu, dan mengerahkan segenap kemampuanmu atau tidak, dan apakah engkau selama ini memikirkan tugasmu dan pekerjaan gereja dengan segenap hatimu atau tidak. Engkau harus memikirkan hal-hal ini. Jika engkau sering memikirkannya dan bisa memahaminya dengan jelas, akan menjadi lebih mudah bagimu untuk melaksanakan tugasmu dengan baik. Jika kualitasmu buruk, jika pengalamanmu dangkal, atau jika engkau tidak cakap dalam pekerjaan profesionalmu, berarti mungkin ada beberapa kesalahan atau kekurangan dalam pekerjaanmu, dan engkau mungkin tidak akan memperoleh hasil yang baik—tetapi engkau telah berusaha sebaik mungkin. Engkau tidak memuaskan keinginan egoismu sendiri maupun preferensi pribadimu. Sebaliknya, engkau terus-menerus memikirkan pekerjaan gereja dan kepentingan rumah Tuhan. Meskipun engkau mungkin tidak memperoleh hasil yang baik dalam tugasmu, hatimu telah diluruskan; jika, selain itu, engkau mampu mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam tugasmu, engkau akan memenuhi standar dalam pelaksanaan tugasmu, dan pada saat yang sama, engkau akan mampu masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Inilah yang dimaksud dengan memiliki kesaksian.
Ada orang-orang yang percaya kepada Tuhan tetapi tidak mengejar kebenaran. Mereka selalu hidup menurut daging, mendambakan kesenangan daging, selalu memuaskan keinginan egois mereka sendiri. Sekalipun mereka telah bertahun-tahun percaya kepada Tuhan, mereka tidak akan pernah masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Inilah tanda orang yang mencemarkan nama Tuhan. Engkau berkata, "Aku belum pernah melakukan apa pun yang menentang Tuhan. Bagaimana aku bisa mempermalukan Dia?" Semua ide dan pemikiranmu jahat. Niat, tujuan, dan motif di balik apa yang kaulakukan, dan akibat dari tindakanmu selalu memuaskan Iblis, menjadikan dirimu bahan tertawaannya, dan membiarkan dia menemukan kelemahanmu. Engkau sama sekali tidak memiliki kesaksian yang seharusnya dimiliki seorang Kristen. Engkau berasal dari Iblis. Engkau mempermalukan nama Tuhan dalam segala hal dan engkau tidak memiliki kesaksian yang sejati. Apakah Tuhan akan mengingat hal-hal yang telah kaulakukan? Pada akhirnya, kesimpulan apa yang akan Tuhan ambil tentang semua tindakan, perilaku, dan tugas yang telah kaulaksanakan? Bukankah pasti ada sesuatu, semacam pernyataan, mengenai semua yang telah kaulakukan itu? Dalam Alkitab, Tuhan Yesus berkata: "Banyak orang akan berkata kepada-Ku di hari itu kelak, Tuhan, Tuhan, bukankah kami telah bernubuat demi nama-Mu, telah mengusir setan-setan demi nama-Mu, dan melakukan banyak pekerjaan ajaib demi nama-Mu? Saat itu Aku akan menyatakan kepada mereka, Aku tidak pernah mengenalmu: pergilah daripada-Ku, engkau yang melakukan kejahatan" (Matius 7:22-23). Mengapa Tuhan Yesus mengatakan ini? Mengapa begitu banyak dari antara mereka yang berkhotbah, mengusir setan, dan melakukan banyak mukjizat dalam nama Tuhan menjadi pelaku kejahatan? Itu karena mereka tidak menerima kebenaran yang diungkapkan oleh Tuhan Yesus, mereka tidak menaati perintah-perintah-Nya, dan mereka tidak mencintai kebenaran di dalam hati mereka. Mereka hanya ingin menukar pekerjaan yang telah mereka lakukan, kesukaran yang telah mereka tanggung, dan pengorbanan yang telah mereka berikan bagi Tuhan dengan berkat kerajaan surga. Dalam hal ini, mereka berusaha bertransaksi dengan Tuhan, dan mereka berusaha memanfaatkan Tuhan dan menipu Tuhan, jadi Tuhan Yesus merasa muak dengan mereka, membenci mereka, dan mengutuk mereka sebagai pelaku kejahatan. Pada zaman sekarang, orang menerima penghakiman dan hajaran firman Tuhan, tetapi ada orang yang tetap mengejar reputasi dan status, serta selalu ingin menonjolkan diri, selalu ingin menjadi pemimpin dan pekerja untuk mendapatkan reputasi dan status. Meskipun mereka semua berkata bahwa mereka percaya kepada Tuhan dan mengikut Tuhan, dan mereka meninggalkan hal-hal serta mengorbankan diri untuk Tuhan, mereka melaksanakan tugas mereka untuk memperoleh ketenaran dan status, dan mereka selalu memiliki rencana sendiri. Mereka tidak tunduk atau setia kepada Tuhan, mereka melakukan hal-hal buruk semaunya tanpa sama sekali merenungkan diri mereka sendiri, dan karena itu mereka menjadi pelaku kejahatan. Tuhan membenci orang-orang jahat ini, dan Tuhan tidak menyelamatkan mereka. Standar apa yang digunakan untuk menilai apakah tindakan dan perbuatan seseorang itu baik atau jahat? Lihatlah apakah mereka, dalam pemikiran, penyingkapan, dan tindakan mereka, memiliki kesaksian dalam hal menerapkan kebenaran dan hidup dalam kenyataan kebenaran atau tidak. Jika engkau tidak memiliki kenyataan ini atau tidak hidup di dalamnya, maka tidak diragukan lagi, engkau adalah seorang pelaku kejahatan. Bagaimana Tuhan memandang pelaku kejahatan? Bagi Tuhan, pemikiran dan tindakan lahiriahmu tidak menjadi kesaksian bagi-Nya, juga tidak mempermalukan atau mengalahkan Iblis; sebaliknya, pemikiran dan tindakan lahiriahmu mempermalukan Dia, dan penuh dengan tanda-tanda yang memperlihatkan bahwa engkau mempermalukan Dia. Engkau tidak bersaksi bagi Tuhan, engkau tidak mengorbankan dirimu untuk Tuhan, engkau juga tidak memenuhi tanggung jawab dan kewajibanmu kepada Tuhan; sebaliknya, engkau bertindak demi kepentinganmu sendiri. Apakah sebenarnya arti "demi kepentinganmu sendiri"? Tepatnya, itu berarti demi Iblis. Karena itu, pada akhirnya, Tuhan akan berkata, "Pergilah daripada-Ku, engkau yang melakukan kejahatan." Di mata Tuhan, tindakanmu tidak akan dianggap perbuatan baik, tetapi akan dianggap perbuatan jahat. Mereka bukan saja gagal mendapatkan perkenan Tuhan, mereka akan dikutuk. Apa yang orang harapkan untuk diperoleh dari kepercayaan seperti itu kepada Tuhan? Bukankah kepercayaan seperti itu pada akhirnya akan sia-sia?
Bagi semua orang yang melaksanakan tugas, sedalam atau sedangkal apa pun pemahaman mereka akan kebenaran, cara paling sederhana untuk masuk ke dalam kenyataan kebenaran adalah dengan memikirkan kepentingan rumah Tuhan dalam segala sesuatu, dan melepaskan keinginan mereka yang egois, niat pribadi, motif, harga diri, dan status mereka. Prioritaskan kepentingan rumah Tuhan—inilah setidaknya yang harus orang lakukan. Jika seseorang yang melaksanakan tugas bahkan tak mampu berbuat sebanyak ini, lalu bagaimana mungkin dia bisa disebut melaksanakan tugasnya? Itu bukanlah melaksanakan tugas. Engkau harus terlebih dahulu memikirkan kepentingan rumah Tuhan, memikirkan maksud-maksud Tuhan, dan memikirkan pekerjaan gereja. Menempatkan hal-hal ini sebagai yang pertama dan terutama; baru setelah itulah engkau dapat memikirkan tentang stabilitas statusmu atau tentang bagaimana orang lain memandangmu. Bukankah engkau semua akan merasa bahwa ini menjadi sedikit lebih mudah apabila engkau membaginya menjadi kedua langkah ini dan melakukan beberapa kompromi? Jika engkau menerapkan hal ini selama beberapa waktu, engkau akan mulai merasa bahwa memuaskan Tuhan bukanlah hal yang sesulit itu. Selain itu, engkau harus mampu memenuhi tanggung jawabmu, melaksanakan kewajiban dan tugasmu, serta mengesampingkan keinginan egois, niat dan motifmu; engkau harus memikirkan maksud-maksud Tuhan, dan juga mengutamakan kepentingan rumah Tuhan, pekerjaan gereja, serta tugas yang harus kaulaksanakan. Setelah mengalami hal ini selama beberapa waktu, engkau akan merasa bahwa ini adalah cara berperilaku yang baik. Ini berarti menjalani hidup dengan terus terang dan jujur, serta tidak menjadi orang yang hina dan keji; ini berarti hidup secara adil dan terhormat, bukannya menjadi orang pengecut, tercela, dan hina. Engkau akan merasa bahwa inilah cara orang seharusnya bertindak dan citra diri yang seharusnya mereka jalani. Lambat laun, keinginanmu untuk memuaskan kepentinganmu sendiri akan berkurang. Saat ini, selama apa pun engkau telah percaya kepada Tuhan, jalan masuk, dan pengalamanmu dalam hal pelajaran yang berkaitan dengan mengejar kebenaran, menerapkan kebenaran, dan masuk ke dalam kenyataan kebenaran kurang mendalam, dan engkau tidak memiliki pengalaman yang nyata tentang semua itu, jadi engkau tak mampu menghasilkan kesaksian yang nyata. Saat ini Aku sudah menyampaikan kepadamu strategi sederhana ini: Mulailah dengan menerapkan dengan cara ini, dan setelah engkau melakukannya selama beberapa waktu, keadaan dalam dirimu akan mulai berubah tanpa kausadari. Itu akan berubah dari keadaan yang ambigu, di mana engkau tidak sangat tertarik untuk percaya kepada Tuhan, tetapi juga tidak sangat muak akan hal itu, menjadi suatu keadaan di mana engkau merasa bahwa percaya kepada Tuhan dan menjadi orang yang jujur itu adalah hal yang baik, dan engkau tertarik untuk menjadi orang yang jujur dan merasa ada makna dan makanan rohani dalam menjalani kehidupan dengan cara seperti itu. Engkau akan merasakan kestabilan, kedamaian, dan kenikmatan dalam hatimu. Keadaanmu akan menjadi seperti itu. Itulah hasilnya jika engkau melepaskan niat, kepentingan, dan keinginanmu yang egois. Itulah hasilnya. Hasil ini sebagian merupakan hasil kerja sama manusia dan sebagian lagi merupakan pekerjaan Roh Kudus. Roh Kudus tidak akan bekerja tanpa kerja sama manusia.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Kebebasan dan Kelepasan Hanya Dapat Diperoleh dengan Menyingkirkan Watak yang Rusak"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 381
Apa yang engkau semua ketahui tentang perubahan watak? Perubahan watak pada dasarnya berbeda dengan perubahan perilaku, dan itu juga berbeda dalam penerapannya—semuanya pada dasarnya berbeda. Kebanyakan orang memberikan penekanan khusus pada perilaku dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan, sebagai akibatnya terjadi perubahan tertentu dalam perilaku mereka. Setelah mereka mulai percaya kepada Tuhan, mereka berhenti merokok dan mabuk-mabukan, dan mereka tidak lagi bertengkar dengan orang lain, lebih memilih untuk bersabar ketika mereka menderita kerugian. Mereka mengalami beberapa perubahan perilaku. Beberapa orang merasa bahwa begitu mereka percaya kepada Tuhan, mereka memahami kebenaran dengan membaca firman Tuhan; mereka telah mengalami pekerjaan Roh Kudus, dan mereka memiliki kenikmatan sejati di dalam hati mereka, dan itu membuat mereka sangat bersemangat, dan tidak ada satu pun yang tidak mampu mereka tinggalkan atau derita. Meskipun demikian, setelah percaya selama delapan, sepuluh, atau bahkan dua puluh atau tiga puluh tahun, karena tidak ada perubahan dalam watak hidup mereka, pada akhirnya, mereka kembali jatuh ke jalan-jalan mereka yang lama; kecongkakan dan kesombongan mereka semakin terasa, mereka mulai bersaing untuk memperebutkan kekuasaan dan keuntungan, mereka mengingini uang gereja, mereka merasa iri kepada orang-orang yang memanfaatkan rumah Tuhan. Mereka menjadi parasit dan hama di dalam rumah Tuhan, dan beberapa bahkan disingkapkan dan disingkirkan sebagai pemimpin palsu dan antikristus. Dan fakta ini membuktikan apa? Sekadar perubahan pada perilaku tidak akan bertahan; jika tidak ada perubahan dalam watak hidup orang, maka cepat atau lambat, mereka akan memperlihatkan diri mereka yang sebenarnya. Ini karena perubahan perilaku muncul karena mereka bersemangat, dan dengan adanya sedikit pekerjaan Roh Kudus pada waktu itu, menjadi sangat mudah bagi mereka untuk menjadi bersemangat, atau memiliki niat yang baik untuk waktu yang singkat. Sebagaimana dikatakan orang-orang tidak percaya, "Melakukan satu hal baik itu mudah, yang sulit adalah melakukan hal baik seumur hidup." Mengapa manusia tidak mampu melakukan hal baik seumur hidup mereka? Karena pada dasarnya, manusia itu jahat, egois, dan rusak. Perilaku manusia diarahkan oleh natur mereka; apa pun natur mereka, seperti itulah perilaku yang mereka perlihatkan dan hanya apa yang orang perlihatkan secara alamilah yang merepresentasikan natur orang tersebut. Hal-hal yang palsu tidak akan bertahan. Ketika Tuhan bekerja untuk menyelamatkan manusia, itu bukanlah untuk menghiasi manusia dengan perilaku yang baik—pekerjaan Tuhan adalah untuk mengubah watak manusia, membuat mereka lahir kembali menjadi manusia baru. Penghakiman, hajaran, ujian, dan pemurnian Tuhan terhadap manusia semuanya bertujuan untuk mengubah wataknya sehingga dia mencapai ketundukan dan kesetiaan mutlak kepada Tuhan, dan menyembah Tuhan secara normal. Inilah tujuan pekerjaan Tuhan. Memiliki perilaku yang baik tidak sama dengan menaati Tuhan, apalagi menjadi sesuai dengan Kristus. Perubahan dalam perilaku didasarkan pada doktrin dan lahir dari semangat—bukan didasarkan pada pengenalan yang benar akan Tuhan, atau kebenaran, dan perubahan itu tidak didasarkan pada bimbingan Roh Kudus. Walaupun ada waktu-waktu di mana sebagian dari apa yang manusia lakukan dicerahkan atau dibimbing oleh Roh Kudus, ini bukanlah penyingkapan hidup mereka. Mereka belum masuk ke dalam kenyataan kebenaran, dan watak hidup mereka sama sekali belum berubah. Sebaik apa pun perilaku seseorang, itu tidak membuktikan mereka tunduk kepada Tuhan atau mereka menerapkan kebenaran. Perubahan perilaku tidak merepresentasikan perubahan dalam watak hidup dan itu tidak bisa dianggap sebagai penyingkapan hidup.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 382
Jika orang memiliki banyak perilaku baik, itu bukan berarti mereka memiliki kenyataan kebenaran. Hanya jika engkau menerapkan kebenaran dan bertindak sesuai prinsip, barulah engkau dapat memiliki kenyataan kebenaran. Hanya jika engkau takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, barulah engkau dapat memiliki kenyataan kebenaran. Beberapa orang memiliki semangat, mampu membicarakan doktrin, mengikuti aturan, dan melakukan banyak hal baik, tetapi yang dapat dikatakan tentang mereka hanyalah bahwa mereka memiliki sedikit kemanusiaan. Mereka yang mampu membicarakan doktrin dan selalu mengikuti aturan belum tentu menerapkan kebenaran. Meskipun apa yang mereka katakan itu benar dan terdengar seperti bebas dari masalah, mereka tidak mengatakan apa pun dalam perkara-perkara yang berkaitan dengan esensi kebenaran. Oleh karena itu, sebanyak apa pun doktrin yang mampu orang katakan, itu bukan berarti mereka memahami kebenaran, dan sebanyak apa pun doktrin yang mereka pahami, mereka tidak mampu menyelesaikan masalah apa pun. Semua ahli teori agama mampu menjelaskan Alkitab, tetapi pada akhirnya, mereka semua jatuh, karena mereka tidak menerima seluruh kebenaran yang telah Tuhan ungkapkan. Orang-orang yang telah mengalami perubahan dalam watak mereka berbeda; mereka telah memahami kebenaran, mereka mampu membedakan segala sesuatu, mereka tahu cara bertindak sesuai dengan maksud Tuhan, cara bertindak sesuai dengan prinsip kebenaran, dan cara bertindak agar memuaskan Tuhan, dan mereka memahami sifat dari kerusakan yang mereka singkapkan. Ketika ide-ide dan gagasan mereka sendiri disingkapkan, mereka mampu membedakan dan memberontak terhadap daging. Dengan cara demikianlah perubahan watak mereka diwujudkan. Perwujudan utama dari orang yang telah mengalami perubahan watak adalah mereka mulai dapat dengan jelas memahami kebenaran, dan ketika melakukan sesuatu, mereka melakukan kebenaran dengan cukup akurat dan mereka tidak sering menyingkapkan kerusakan. Secara umum, mereka yang wataknya telah berubah tampak sangat berakal sehat dan mampu membedakan, dan karena pemahaman mereka akan kebenaran, mereka tidak menyingkapkan terlalu banyak sikap yang membenarkan diri sendiri atau kecongkakan. Mereka dapat melihat banyak kerusakan yang telah disingkapkan di dalam diri mereka dengan jelas dan membedakannya, sehingga mereka tidak menjadi congkak. Mereka mampu memiliki pemahaman yang saksama tentang di mana manusia harus menempatkan dirinya dan tentang hal-hal yang harus mereka lakukan yang masuk akal, tentang cara menjadi bertanggung jawab dalam tugas, tentang apa yang boleh dikatakan dan apa yang tidak boleh dikatakan, dan tentang apa yang harus dikatakan serta apa yang harus dilakukan dan kepada siapa itu dikatakan dan dilakukan. Oleh karena itu, orang-orang yang wataknya telah berubah relatif masuk akal, dan hanya orang-orang semacam itulah yang benar-benar hidup dalam keserupaan dengan manusia. Karena mereka memahami kebenaran, mereka mampu berbicara dan melihat segala sesuatu sesuai dengan kebenaran, dan mereka berprinsip dalam segala sesuatu yang mereka lakukan; mereka tidak tunduk pada pengaruh orang, peristiwa, atau hal-hal dan mereka semua memiliki pandangan mereka sendiri dan dapat mempertahankan prinsip-prinsip kebenaran. Watak mereka relatif stabil, mereka tidak terombang-ambing, dan apa pun keadaan yang mereka hadapi, mereka mengerti cara melakukan tugas-tugas mereka dengan benar dan cara berperilaku untuk kepuasan Tuhan. Mereka yang wataknya telah berubah tidak berfokus pada apa yang harus dilakukan secara lahiriah untuk membuat orang lain berpikir baik tentang mereka; di lubuk hatinya mereka telah memahami dengan jelas apa yang harus dilakukan untuk menyenangkan Tuhan. Oleh karena itu, di luarnya, mereka mungkin tidak tampak sangat bersemangat atau telah melakukan sesuatu yang sangat penting, tetapi segala sesuatu yang mereka lakukan bermakna, bernilai, dan membuahkan hasil yang nyata. Mereka yang wataknya telah berubah pasti memiliki banyak kenyataan kebenaran, dan ini dapat ditegaskan melalui cara pandang mereka tentang berbagai hal dan prinsip-prinsip yang mendasari cara mereka bertindak. Mereka yang belum memperoleh kebenaran sama sekali belum mencapai perubahan dalam watak hidupnya. Bagaimana sebenarnya cara mencapai perubahan dalam watak? Manusia telah sangat dirusak oleh Iblis, mereka semua menentang Tuhan, dan mereka semua memiliki natur yang menentang Tuhan. Tuhan menyelamatkan manusia dengan mengubah mereka yang memiliki natur yang menentang Tuhan dan yang bisa menentang Tuhan menjadi orang yang tunduk dan takut akan Tuhan. Inilah artinya menjadi orang yang wataknya telah berubah. Seberapa rusaknya pun orang atau sebanyak apa pun watak rusak yang mereka miliki, selama mereka mampu menerima kebenaran, menerima penghakiman dan hajaran Tuhan, dan menerima berbagai ujian dan pemurnian, mereka akan memiliki pemahaman yang benar tentang Tuhan, dan pada saat yang sama mereka akan mampu melihat dengan jelas esensi natur mereka sendiri. Ketika mereka benar-benar mengenal diri mereka sendiri, mereka akan mampu membenci diri mereka sendiri dan membenci Iblis, dan mereka akan bersedia memberontak terhadap Iblis, dan sepenuhnya tunduk kepada Tuhan. Begitu orang memiliki tekad ini, mereka akan mampu mengejar kebenaran. Jika manusia memiliki pengetahuan yang benar tentang Tuhan, jika watak Iblis dalam diri mereka dimurnikan, dan firman Tuhan berakar di dalam diri mereka, dan telah menjadi hidup dan dasar keberadaan mereka, jika mereka hidup berdasarkan firman Tuhan, dan telah sepenuhnya berubah dan menjadi manusia baru—maka ini bisa dianggap sebagai perubahan dalam watak hidup mereka. Perubahan dalam watak bukan berarti memiliki kemanusiaan yang dewasa dan berpengalaman, juga bukan berarti watak lahiriah orang menjadi lebih lembut daripada sebelumnya, bahwa mereka dahulu congkak tetapi sekarang dapat berkomunikasi dengan nalar, atau mereka dahulu tidak mau mendengarkan siapa pun tetapi sekarang dapat sedikit mendengarkan orang lain; perubahan-perubahan lahiriah semacam ini tidak dapat dikatakan sebagai perubahan watak. Tentu saja, perubahan watak memang mencakup perwujudan seperti itu, tetapi unsur yang paling penting adalah bahwa secara batin, hidup mereka telah berubah. Ini sepenuhnya karena firman Tuhan dan kebenaran telah berakar di dalam diri mereka, memerintah di dalam diri mereka, dan telah menjadi hidup mereka. Pandangan mereka tentang segala sesuatu juga telah berubah. Mereka dapat mengetahui yang sebenarnya mengenai apa yang sedang terjadi di dunia dan dengan umat manusia, bagaimana Iblis merusak umat manusia, bagaimana si naga merah yang sangat besar menentang Tuhan, dan esensi si naga merah yang sangat besar. Mereka mampu membenci si naga merah yang sangat besar, si Iblis, di dalam hati mereka, dan mereka dapat sepenuhnya berbalik dan mengikut Tuhan. Ini berarti watak hidup mereka telah berubah, dan mereka telah didapatkan oleh Tuhan. Perubahan dalam watak hidup merupakan perubahan yang mendasar, sedangkan perubahan dalam perilaku bersifat lahiriah. Hanya orang yang telah mencapai perubahan dalam watak hidup adalah orang yang telah memperoleh kebenaran, dan hanya merekalah yang telah didapatkan oleh Tuhan.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 383
Perubahan dalam watak seseorang bukanlah perubahan dalam perilakunya, juga bukan perubahan lahiriah yang pura-pura atau perubahan sementara karena semangat. Sebaik apa pun perubahan ini, itu tidak dapat menggantikan perubahan dalam watak hidup, karena perubahan lahiriah ini dapat dicapai melalui upaya manusia, sedangkan perubahan dalam watak hidup tidak dapat dicapai melalui upaya manusia saja. Untuk mencapai perubahan watak, orang harus mengalami penghakiman, hajaran, ujian, dan pemurnian Tuhan, serta penyempurnaan oleh Roh Kudus. Meskipun orang yang percaya kepada Tuhan memperlihatkan beberapa perilaku yang baik, tak seorang pun dari mereka yang benar-benar tunduk kepada Tuhan, benar-benar mengasihi Tuhan, atau mampu mengikuti kehendak Tuhan. Mengapa demikian? Karena ini menuntut adanya perubahan dalam watak hidupmu, dan sekadar perubahan dalam perilaku masih jauh dari cukup. Mengalami perubahan dalam watakmu berarti engkau memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang kebenaran, dan kebenaran itu telah menjadi hidupmu, yang berarti kebenaran itu dapat mengarahkan dan menguasai hidupmu serta segala sesuatu tentang dirimu. Inilah arti perubahan dalam watak hidupmu. Hanya orang yang memiliki kebenaran sebagai hidup mereka adalah orang yang wataknya telah berubah. Dahulu, mungkin ada beberapa kebenaran yang tak mampu kauterapkan ketika engkau memahaminya, tetapi sekarang engkau mampu menerapkan aspek kebenaran apa pun yang kaupahami tanpa hambatan atau kesulitan. Ketika engkau menerapkan kebenaran, engkau mendapati dirimu dipenuhi kedamaian dan kebahagiaan, tetapi jika engkau tak mampu menerapkan kebenaran, engkau merasa menderita dan hati nuranimu terganggu. Engkau mampu menerapkan kebenaran dalam segala sesuatu, hidup berdasarkan firman Tuhan, dan memiliki dasar untuk hidup. Ini artinya watakmu telah berubah. Kini engkau dapat dengan mudah melepaskan gagasan dan imajinasimu, pengejaran dan keinginan dagingmu, dan hal-hal yang tak mampu kaulepaskan sebelumnya. Engkau merasa bahwa firman Tuhan itu benar-benar baik, bahwa menerapkan kebenaran adalah hal terbaik untuk kaulakukan. Ini artinya watakmu telah berubah. Perubahan watak kedengarannya sangat sederhana, tetapi sebenarnya ini adalah proses yang melibatkan banyak pengalaman. Selama proses ini, orang harus mengalami banyak kesukaran, mereka harus menaklukkan tubuh mereka sendiri dan memberontak terhadap daging mereka, mereka juga harus mengalami penghakiman, hajaran, pemangkasan, ujian, dan pemurnian, dan mereka juga harus mengalami banyak kegagalan, kejatuhan, pergumulan batin, dan siksaan di dalam hati mereka. Hanya setelah pengalaman inilah orang dapat memiliki sedikit pemahaman tentang natur mereka sendiri, tetapi sedikit pemahaman tidak langsung menghasilkan perubahan sepenuhnya; mereka harus melewati proses pengalaman yang panjang sebelum mereka akhirnya mampu menyingkirkan watak rusak mereka sedikit demi sedikit. Inilah sebabnya dibutuhkan seumur hidup untuk orang mengubah wataknya. Sebagai contoh, jika engkau memperlihatkan kerusakan dalam suatu hal, mampukah engkau dengan segera menerapkan kebenaran begitu engkau menyadarinya? Engkau tidak mampu. Pada tahap pemahaman ini, orang lain memangkasmu, dan kemudian lingkungan mendesak dan memaksamu untuk bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Terkadang, engkau masih tidak mau melakukannya, dan engkau berkata dalam hatimu, "Apakah aku harus melakukannya seperti ini? Mengapa aku tak boleh melakukannya seperti yang kuinginkan? Mengapa aku selalu dituntut untuk menerapkan kebenaran? Aku tak mau melakukannya, aku sudah muak!" Mengalami pekerjaan Tuhan membutuhkan proses berikut: dari yang tadinya enggan menerapkan kebenaran, menjadi mau menerapkan kebenaran; dari kenegatifan dan kelemahan, menjadi kekuatan dan kemampuan untuk memberontak terhadap daging. Ketika orang mencapai titik pengalaman tertentu dan kemudian menjalani beberapa ujian, pemurnian, dan akhirnya mulai memahami maksud Tuhan dan beberapa kebenaran, mereka akan merasa cukup senang dan mau bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Manusia pada mulanya enggan menerapkan kebenaran. Sebagai contoh, dalam hal melaksanakan tugas dengan sepenuh hati: Engkau memiliki pemahaman tertentu tentang pelaksanaan tugasmu dan pengabdian penuh kepada Tuhan, dan engkau juga memiliki sedikit pemahaman tentang kebenaran, tetapi kapan engkau akan mampu sepenuh hati? Kapankah engkau dapat melaksanakan tugasmu dalam perkataan dan dalam perbuatan? Ini akan membutuhkan proses. Selama proses ini, engkau bisa saja mengalami banyak kesulitan. Beberapa orang mungkin memangkasmu, dan yang lain mungkin mengkritikmu. Mata setiap orang akan tertuju kepadamu, memeriksa dirimu, dan baru setelah itulah, engkau akan mulai menyadari bahwa engkau di pihak yang salah dan bahwa engkau adalah orang yang telah melakukan tugasmu dengan buruk, bahwa tidak sepenuh hati dalam melaksanakan tugasmu tidaklah bisa diterima, dan bahwa engkau tidak boleh bersikap asal-asalan! Roh Kudus akan mencerahkanmu dari dalam dan menegurmu ketika engkau melakukan kesalahan. Selama proses ini, engkau akan mulai memahami beberapa hal tentang dirimu sendiri dan akan mengetahui bahwa engkau memiliki terlalu banyak ketidakmurnian, memendam terlalu banyak motif pribadi, dan memiliki terlalu banyak keinginan yang berlebihan dalam melaksanakan tugasmu. Setelah engkau memahami esensi dari semua hal ini, jika engkau dapat datang ke hadapan Tuhan dalam doa dan sungguh-sungguh bertobat, engkau akan dapat ditahirkan dari hal-hal yang rusak itu. Jika dalam hal ini, engkau sering mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah nyatamu sendiri, engkau akan secara berangsur memasuki jalur yang benar dalam imanmu; engkau akan mulai memiliki pengalaman hidup yang nyata, dan watak rusakmu akan mulai secara berangsur dimurnikan. Semakin watak rusakmu dimurnikan, semakin watak hidupmu akan berubah.
Meskipun sekarang ini ada banyak orang yang sedang melaksanakan tugasnya, pada dasarnya, berapa banyak orang yang bersikap asal-asalan dalam melaksanakan tugas mereka? Berapa banyak orang yang mampu menerima kebenaran dan melaksanakan tugasnya sesuai dengan prinsip kebenaran? Berapa banyak orang yang memenuhi tugas mereka sesuai dengan tuntutan Tuhan setelah watak mereka berubah? Dengan menyelidiki hal-hal ini lebih lanjut, engkau akan dapat mengetahui apakah engkau benar-benar memenuhi standar dalam pelaksanaan tugasmu, dan engkau juga akan dapat melihat dengan jelas apakah watakmu telah berubah atau belum. Mencapai perubahan dalam watak bukanlah masalah sederhana; ini bukan berarti hanya mengalami sedikit perubahan dalam perilaku, mendapatkan sedikit pengetahuan tentang kebenaran, bisa berbicara sedikit tentang pengalaman seseorang dengan setiap aspek kebenaran, atau mengalami sedikit perubahan atau menjadi sedikit tunduk setelah didisiplinkan. Hal-hal ini bukan merupakan perubahan dalam watak hidup seseorang. Mengapa Kukatakan ini? Meskipun engkau mungkin sudah sedikit berubah, engkau masih belum benar-benar menerapkan kebenaran. Mungkin karena engkau untuk sementara berada di lingkungan yang cocok, dan situasinya memungkinkan, atau keadaanmu saat ini telah memaksamu, maka engkau pun berperilaku dengan cara seperti ini. Selain itu, ketika engkau sedang berada dalam suasana hati yang baik, ketika keadaanmu normal, dan ketika engkau memiliki pekerjaan Roh Kudus, engkau mampu menerapkan kebenaran. Namun, misalkan saja engkau berada di tengah ujian, ketika engkau sedang menderita seperti Ayub di tengah ujianmu, atau engkau menghadapi ujian maut. Ketika ini menimpamu, apakah engkau masih mampu menerapkan kebenaran dan tetap teguh dalam kesaksianmu? Mampukah engkau mengatakan sesuatu seperti yang Petrus katakan, "Bahkan jika aku mati setelah mengenal-Mu, bagaimana mungkin aku tidak melakukannya dengan senang hati dan gembira?" Apa yang Petrus hargai? Yang Petrus hargai adalah ketundukan, dan dia menganggap mengenal Tuhan sebagai hal yang terpenting sehingga dia bisa tunduk sampai mati. Perubahan watak tidak terjadi dalam semalam; dibutuhkan pengalaman seumur hidup untuk mencapainya. Memahami kebenaran sedikit lebih mudah, tetapi mampu menerapkan kebenaran dalam berbagai keadaan itu sulit. Mengapa orang selalu mengalami kesulitan dalam menerapkan kebenaran? Sebenarnya, semua kesulitan ini berkaitan langsung dengan watak manusia yang rusak, dan semua itu adalah penghalang yang berasal dari watak yang rusak. Oleh karena itu, engkau harus banyak menderita dan membayar harga agar engkau mampu menerapkan kebenaran. Jika engkau tidak memiliki watak yang rusak, engkau tidak perlu menderita dan membayar harga untuk menerapkan kebenaran. Bukankah ini fakta yang jelas? Terkadang sepertinya engkau sedang menerapkan kebenaran, tetapi pada kenyataannya, natur dari tindakanmu tidak memperlihatkan bahwa engkau sedang menerapkan kebenaran. Dalam mengikut Tuhan, banyak orang mampu mengesampingkan keluarga dan karier serta melaksanakan tugas mereka, dan karenanya mereka yakin bahwa mereka sedang menerapkan kebenaran. Namun, mereka tak pernah mampu memberikan kesaksian pengalaman yang nyata. Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Jika diukur menurut gagasan manusia, mereka tampaknya menerapkan kebenaran, tetapi Tuhan tidak mengakui bahwa mereka sedang menerapkan kebenaran. Jika segala sesuatu yang kaulakukan memiliki motif pribadi di baliknya dan dicemari, engkau cenderung menyimpang dari prinsip, dan ini tidak dapat dianggap menerapkan kebenaran; ini hanyalah sejenis perilaku. Secara tegas, jenis perilakumu ini mungkin akan dikutuk oleh Tuhan; itu tidak akan diperkenan atau diingat oleh-Nya. Jika dianalisis lebih jauh hingga ke esensi dan sumbernya, engkau adalah orang yang melakukan kejahatan dan perilaku lahiriahmu ini merupakan penentangan terhadap Tuhan. Di luarnya, engkau tidak terlihat mengacaukan atau mengganggu apa pun dan engkau belum melakukan kerusakan nyata apa pun. Semuanya tampak logis dan masuk akal, tetapi di dalam dirimu, terdapat ketidakmurnian dan niat manusia, dan esensi dari hal itu adalah melakukan kejahatan dan menentang Tuhan. Oleh karena itu, engkau harus memastikan apakah telah terjadi perubahan dalam watakmu dan apakah engkau sedang menerapkan kebenaran dengan menggunakan firman Tuhan, dan dengan melihat motif di balik tindakanmu sendiri. Itu bukan tergantung pada apakah tindakanmu itu sesuai dengan imajinasi dan pemikiran manusia, atau apakah itu sesuai dengan seleramu; hal-hal seperti itu tidak penting. Sebaliknya, itu tergantung pada apakah menurut Tuhan engkau sedang menyelaraskan diri dengan maksud-Nya atau tidak, apakah tindakanmu memiliki kenyataan kebenaran atau tidak, dan apakah tindakanmu memenuhi standar yang dituntut-Nya atau tidak. Hanya dengan mengukur dirimu sendiri terhadap tuntutan Tuhan, barulah itu akurat. Perubahan watak dan menerapkan kebenaran tidak sesederhana dan semudah yang orang bayangkan. Apakah engkau memahami ini sekarang? Apakah engkau memiliki pengalaman dengan ini? Mengenai esensi masalahnya, engkau semua mungkin tidak memahaminya; masuknya dirimu dalam hal ini terlalu dangkal. Engkau semua sibuk kian kemari sepanjang hari, dari fajar hingga petang, bangun awal dan tidur larut malam, tetapi engkau belum mencapai perubahan dalam watak hidupmu, dan engkau tidak dapat memahami apa yang dimaksud dengan perubahan watak. Ini berarti masuknya dirimu dalam hal ini terlalu dangkal, bukan? Terlepas dari berapa lama engkau sudah percaya kepada Tuhan, engkau mungkin tidak merasakan esensi dan hal-hal mendalam yang berkaitan dengan perubahan watak. Dapatkah dikatakan bahwa watakmu telah berubah? Bagaimana engkau tahu apakah Tuhan memperkenanmu atau tidak? Setidaknya, engkau akan merasa luar biasa teguh dalam segala sesuatu yang kaulakukan, dan engkau akan merasakan Roh Kudus membimbing dan mencerahkanmu dan bekerja dalam dirimu sementara engkau sedang melaksanakan tugasmu, sedang melakukan pekerjaan apa pun di rumah Tuhan, atau melakukan pekerjaan pada umumnya. Tindakanmu akan selaras dengan firman Tuhan, dan begitu engkau sudah mendapatkan suatu tingkat pengalaman tertentu, engkau akan merasa bahwa caramu bertindak di masa lalu relatif sesuai. Namun, jika sesudah mendapatkan pengalaman untuk jangka waktu tertentu, engkau merasa bahwa beberapa hal yang kaulakukan di masa lalu tidak sesuai, dan engkau tidak puas akan hal itu, dan merasa bahwa semua itu tidak sesuai dengan kebenaran, maka ini membuktikan bahwa segala sesuatu yang kaulakukan dilakukan dengan sikap yang menentang Tuhan. Itu adalah bukti bahwa pelayananmu penuh dengan pemberontakan, penentangan, dan cara-cara bertindak manusia, dan bahwa engkau sama sekali telah gagal untuk mencapai perubahan dalam watakmu.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Apa yang Harus Orang Ketahui tentang Perubahan Watak"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 384
Dalam mengukur apakah orang mampu tunduk kepada Tuhan atau tidak, yang terpenting lihatlah apakah mereka memiliki keinginan yang berlebihan atau motif tersembunyi terhadap-Nya atau tidak. Jika orang selalu mengajukan tuntutan terhadap Tuhan, itu membuktikan bahwa mereka tidak tunduk kepada-Nya. Apa pun yang terjadi padamu, jika engkau tidak menerima bahwa hal itu adalah dari Tuhan, dan engkau tidak mencari kebenaran, dan engkau selalu membantah untuk membela dirimu dan selalu merasa bahwa hanya engkaulah yang benar, dan jika engkau bahkan mampu meragukan bahwa Tuhan adalah kebenaran dan keadilan, maka engkau akan berada dalam masalah. Orang-orang semacam itu adalah yang paling congkak dan memberontak terhadap Tuhan. Orang yang selalu mengajukan tuntutan terhadap Tuhan tidak mampu benar-benar tunduk kepada-Nya. Jika engkau mengajukan tuntutan terhadap Tuhan, ini membuktikan bahwa engkau sedang mencoba bertransaksi dengan Tuhan, bahwa engkau sedang memilih kehendakmu sendiri, dan bertindak berdasarkan kehendakmu sendiri. Dalam hal ini, engkau sedang mengkhianati Tuhan, dan tidak memiliki ketundukan. Mengajukan tuntutan terhadap Tuhan itu saja adalah hal yang tidak bernalar; jika engkau sungguh-sungguh percaya bahwa Dia adalah Tuhan, engkau tidak akan berani mengajukan tuntutan terhadap-Nya, engkau juga akan merasa tidak memenuhi syarat untuk mengajukan tuntutan terhadap-Nya, entah engkau menganggap tuntutanmu itu masuk akal atau tidak. Jika engkau sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, dan percaya bahwa Dia adalah Tuhan, maka engkau hanya akan menyembah dan tunduk kepada-Nya, tidak ada pilihan lain. Sekarang ini, manusia bukan saja membuat pilihan mereka sendiri, mereka bahkan meminta Tuhan untuk bertindak sesuai dengan kehendak mereka sendiri. Mereka bukan saja tidak memilih untuk tunduk kepada Tuhan, mereka bahkan meminta Tuhan untuk tunduk kepada mereka. Bukankah ini sangat tidak masuk akal? Jadi, jika tidak ada iman yang sejati dalam diri seseorang, dan jika tidak ada kepercayaan yang mendasar, mereka tidak akan pernah bisa mendapatkan perkenan Tuhan. Jika orang mampu lebih sedikit menuntut Tuhan, mereka akan lebih memiliki iman dan ketundukan yang sejati, dan nalar mereka juga akan menjadi relatif normal. Sering kali yang terjadi adalah semakin orang cenderung membantah, dan semakin banyak mereka membenarkan diri, semakin sulit mereka untuk ditangani. Mereka bukan saja memiliki banyak tuntutan, tetapi jika mereka diberi hati, mereka malah minta jantung. Ketika mereka dipuaskan dalam satu hal, mereka kemudian mengajukan tuntutan dalam hal lain, mereka harus dipuaskan dalam segala hal, dan jika tidak, mereka akan mulai mengeluh, dan menganggap diri mereka tidak ada harapan, lalu bertindak ceroboh. Setelah itu, mereka merasa berutang dan menyesal, dan mereka dengan hati getir menangis tersedu, dan ingin mati. Apa gunanya bersikap seperti itu? Bukankah mereka bersikap tak masuk akal dan selalu menjengkelkan? Rentetan masalah ini harus diselesaikan dari sumbernya. Jika engkau memiliki watak yang rusak dan tidak menyelesaikannya, jika engkau menunggu sampai engkau mendapat masalah atau menyebabkan bencana, baru engkau menyelesaikannya, bagaimana engkau bisa menebus kerugian ini? Bukankah ini hampir sama seperti engkau mengunci kandang kuda setelah kudanya kabur? Oleh karena itu, untuk sepenuhnya menyelesaikan masalah watak rusakmu, engkau harus mencari kebenaran untuk menyelesaikannya saat pertama kali masalah itu muncul. Engkau harus menyelesaikan watak yang rusak dari keadaan awalnya, dengan demikian memastikan engkau tidak akan melakukan kesalahan apa pun dan mencegah masalah di masa depan. Jika watak yang rusak sudah berakar dan menjadi pemikiran atau sudut pandang seseorang, itu akan dapat mengarahkan orang itu untuk melakukan kejahatan. Jadi, tujuan utama merenungkan dan mengenal diri sendiri adalah untuk menemukan watak yang rusak, dan dengan segera mencari kebenaran untuk membereskannya. Engkau harus mengetahui hal-hal apa yang ada di dalam naturmu, apa yang kausukai, apa yang kaukejar, dan apa yang ingin kauperoleh. Engkau harus menganalisis hal-hal ini berdasarkan firman Tuhan untuk melihat apakah semua itu sesuai dengan maksud-maksud Tuhan, dan memahami di mana letak kekeliruannya. Setelah engkau memahami hal-hal ini, engkau harus menyelesaikan masalah nalarmu yang tidak normal itu, yaitu masalah sikapmu yang tidak masuk akal dan selalu menjengkelkan itu. Ini bukan saja masalah watak yang rusak, ini juga berkaitan dengan masalah apakah seseorang itu bernalar atau tidak. Terutama dalam hal-hal yang berkaitan dengan kepentingannya, orang yang sangat mengutamakan kepentingannya sendiri tidak memiliki nalar yang normal. Ini adalah masalah psikologis, dan ini juga merupakan kelemahan utama orang. Ada orang-orang yang merasa bahwa mereka memiliki kualitas dan karunia tertentu, dan mereka selalu ingin menjadi pemimpin dan ingin menonjol, jadi mereka meminta Tuhan untuk memakai mereka. Jika Tuhan tidak memakai mereka, mereka berkata, "Bagaimana mungkin Tuhan tidak berkenan akan diriku? Tuhan, jika Engkau memakaiku untuk melakukan sesuatu yang penting, aku berjanji akan mengorbankan diri untuk-Mu!" Apakah niat seperti ini benar? Mengorbankan diri bagi Tuhan adalah hal yang baik, tetapi ada motivasi di balik kerelaan mereka untuk mengorbankan diri bagi Tuhan. Yang mereka cintai adalah status, dan inilah yang mereka fokuskan. Setelah orang mampu untuk benar-benar tunduk, mengikut Tuhan dengan sepenuh hati entah Tuhan memakai mereka atau tidak, dan mengorbankan diri bagi Tuhan entah mereka memiliki status atau tidak, barulah mereka dapat dianggap memiliki nalar dan tunduk kepada Tuhan. Adalah baik ketika orang rela mengorbankan diri bagi Tuhan, dan Tuhan mau memakai orang-orang semacam itu, tetapi jika mereka tidak diperlengkapi dengan kebenaran, Tuhan tidak mungkin dapat memakai mereka. Jika orang mau berusaha mengejar kebenaran dan bekerja sama, harus ada tahap persiapan. Hanya setelah orang memahami kebenaran dan mampu dengan sungguh-sungguh tunduk kepada Tuhan, barulah Tuhan akan dapat memakai mereka secara resmi. Tahap latihan ini sangat diperlukan. Sekarang ini, para pemimpin dan pekerja semuanya berada dalam tahap latihan ini. Setelah mereka memiliki pengalaman hidup dan mampu menangani masalah berdasarkan prinsip, barulah mereka akan layak untuk dipakai oleh Tuhan.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Manusia Mengajukan Terlalu Banyak Tuntutan Terhadap Tuhan"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 385
Satu-satunya sikap yang harus makhluk ciptaan miliki terhadap Penciptanya adalah ketundukan, ketundukan tanpa syarat. Ini adalah sesuatu yang mungkin tidak mampu diterima oleh beberapa orang pada zaman sekarang. Ini karena tingkat pertumbuhan orang terlalu rendah dan mereka tidak memiliki kenyataan kebenaran. Jika, ketika Tuhan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan gagasanmu, engkau cenderung salah memahami Tuhan—bahkan memberontak melawan Tuhan dan mengkhianati-Nya—itu artinya engkau jauh dari mampu untuk tunduk kepada Tuhan. Selagi orang menerima pembekalan dan penyiraman dari firman Tuhan, mereka sebenarnya sedang berjuang untuk satu tujuan, yaitu untuk pada akhirnya mampu mencapai ketundukan yang mutlak dan tanpa syarat kepada Tuhan. Ketika engkau mencapai titik ini, engkau, makhluk ciptaan ini, akan memenuhi standar. Ada kalanya ketika Tuhan dengan sengaja melakukan hal-hal yang bertentangan dengan gagasanmu, dan dengan sengaja melakukan hal-hal yang bertentangan dengan keinginanmu, dan hal-hal yang bahkan mungkin tampak bertentangan dengan kebenaran, tidak bertimbang rasa terhadapmu, dan tidak sesuai dengan yang engkau mau. Hal-hal ini mungkin sulit untuk kauterima, engkau mungkin tidak dapat memahaminya, dan bagaimanapun engkau menganalisisnya, semua itu mungkin terasa salah bagimu dan engkau mungkin tidak bisa menerimanya, engkau mungkin merasa bahwa Tuhan tidak masuk akal untuk melakukan ini—tetapi sebenarnya, Tuhan melakukan ini dengan sengaja. Jadi, apa tujuan Tuhan melakukan hal-hal ini? Tujuan-Nya adalah untuk menguji dan menyingkapkanmu, untuk melihat apakah engkau mampu mencari kebenaran atau tidak, apakah engkau memiliki ketundukan sejati kepada Tuhan atau tidak. Jangan mencari dasar untuk semua yang Tuhan lakukan dan tuntut, dan jangan tanyakan alasannya. Berusaha berargumen dengan Tuhan tidak ada gunanya. Engkau hanya harus mengakui bahwa Tuhan adalah kebenaran dan mampu tunduk secara mutlak. Engkau hanya harus mengakui bahwa Tuhan adalah Penciptamu dan Tuhanmu. Ini lebih tinggi dari penalaran apa pun, lebih tinggi dari hikmat duniawi apa pun, lebih tinggi dari moralitas, etika, pengetahuan, falsafah, atau budaya tradisional manusia mana pun—bahkan lebih tinggi daripada perasaan manusia, kebenaran manusia, dan apa yang disebut kasih manusia. Ini lebih tinggi dari segalanya. Jika hal ini tidak jelas bagimu, maka cepat atau lambat harinya akan tiba ketika sesuatu terjadi padamu dan engkau jatuh. Setidaknya, engkau akan memberontak terhadap Tuhan dan menempuh jalan yang menyimpang; jika engkau akhirnya dapat bertobat, dan mengenali keindahan Tuhan, dan mengenali arti dari pekerjaan Tuhan di dalam dirimu, maka engkau masih akan memiliki harapan untuk diselamatkan—tetapi jika engkau jatuh karena hal ini dan tidak mampu bangkit lagi, engkau tidak punya harapan. Entah Tuhan menghakimi, menghajar, atau mengutuk manusia, semua ini adalah untuk menyelamatkan mereka, dan mereka tidak perlu takut. Apa yang seharusnya kautakuti? Engkau harus takut bahwa Tuhan akan berkata, "Aku membenci dan menolakmu." Jika Tuhan mengatakan ini, engkau berada dalam masalah: Ini berarti Tuhan tidak akan menyelamatkanmu, bahwa engkau tidak ada harapan untuk diselamatkan. Jadi, dalam menerima pekerjaan Tuhan, orang harus memahami maksud Tuhan. Apa pun yang kaulakukan, jangan mencari-cari kesalahan ketika membahas firman Tuhan, dengan berkata, "Penghakiman dan hajaran tidak masalah, tetapi penghukuman, kutukan, pemusnahan—bukankah itu berarti semuanya sudah berakhir bagiku? Apa gunanya menjadi makhluk ciptaan? Jadi, aku tidak akan menjadi makhluk ciptaan Tuhan, dan Engkau tidak akan lagi menjadi Tuhanku." Jika engkau menolak Tuhan dan tidak berdiri teguh dalam kesaksianmu, Tuhan mungkin akan benar-benar menolakmu. Apakah engkau semua tahu hal ini? Seberapa lamanya pun orang percaya kepada Tuhan, sebanyak apa pun jalan yang telah mereka tempuh, sebanyak apa pun pekerjaan yang telah mereka lakukan, atau sebanyak apa pun tugas yang telah mereka laksanakan, semua yang telah mereka lakukan selama ini adalah persiapan untuk satu hal. Apakah itu? Mereka telah mempersiapkan diri untuk pada akhirnya memiliki ketundukan mutlak kepada Tuhan, ketundukan tanpa syarat. Apa artinya "tanpa syarat"? Ini artinya engkau tidak membenarkan diri dan tidak membicarakan alasan objektifmu sendiri, itu artinya engkau tidak berdebat sedikit pun; engkau adalah makhluk ciptaan Tuhan, engkau tidak layak melakukan hal-hal ini. Ketika engkau berdebat dengan Tuhan, engkau telah salah memosisikan dirimu, dan ketika engkau berusaha berargumen dengan Tuhan, engkau kembali salah memosisikan dirimu. Jangan berdebat dengan Tuhan, jangan selalu berusaha mencari tahu alasannya, jangan bersikeras untuk mengerti sebelum engkau tunduk, dan jangan bersikeras untuk tidak tunduk ketika engkau tidak mengerti. Ketika engkau melakukan ini, engkau telah salah memosisikan dirimu, dalam hal ini ketundukanmu kepada Tuhan tidak mutlak; itu adalah ketundukan yang relatif dan bersyarat. Apakah orang yang membuat syarat untuk ketundukan mereka kepada Tuhan adalah orang yang benar-benar tunduk kepada Tuhan? Apakah engkau sedang memperlakukan Tuhan sebagai Tuhan? Apakah engkau menyembah Tuhan sebagai Sang Pencipta? Jika tidak, maka Tuhan tidak akan mengakuimu. Apa yang harus kaualami untuk mencapai ketundukan mutlak dan tanpa syarat kepada Tuhan? Dan bagaimana seharusnya engkau mengalaminya? Di satu sisi, orang harus menerima penghakiman dan hajaran Tuhan, mereka harus menerima diri mereka dipangkas. Di sisi lain, mereka harus menerima amanat Tuhan, mereka harus mengejar kebenaran saat mereka melaksanakan tugas mereka, mereka harus memahami berbagai aspek kebenaran yang berkaitan dengan jalan masuk kehidupan, dan mencapai pemahaman tentang maksud Tuhan. Terkadang, ini di luar kualitas manusia, dan mereka tidak memiliki kekuatan wawasan untuk memperoleh pemahaman tentang kebenaran, dan hanya mampu memahami sedikit ketika orang lain bersekutu dengan mereka atau melalui memetik pelajaran dari berbagai situasi yang diatur Tuhan. Namun, engkau harus menyadari bahwa engkau harus memiliki hati yang tunduk kepada Tuhan, engkau tidak boleh berusaha berargumen dengan Tuhan atau menuntut syarat; segala sesuatu yang Tuhan lakukan adalah apa yang harus dilakukan, karena Dia adalah Sang Pencipta; engkau adalah makhluk ciptaan Tuhan, dan engkau harus memiliki sikap ketundukan, dan tidak boleh selalu menanyakan alasan atau berbicara tentang syarat. Jika engkau bahkan tidak memiliki sikap tunduk yang paling mendasar, dan bahkan cenderung ragu dan waspada terhadap Tuhan, atau berpikir dalam hatimu, "Aku harus melihat apakah Tuhan benar-benar akan menyelamatkanku, apakah Tuhan sungguh-sungguh benar atau tidak. Semua orang berkata Tuhan adalah kasih—baiklah, kalau begitu, aku harus melihat apakah memang ada kasih dalam apa yang Tuhan lakukan dalam diriku, apakah itu benar-benar kasih," jika engkau selalu memeriksa apakah yang Tuhan lakukan sesuai dengan gagasan dan seleramu, atau bahkan sesuai dengan apa yang kauyakini sebagai kebenaran, maka engkau telah salah memosisikan dirimu, dan engkau berada dalam masalah: Engkau kemungkinan besar akan menyinggung watak Tuhan. Kebenaran yang berkaitan dengan ketundukan sangatlah penting, dan tidak ada kebenaran yang dapat diungkapkan secara lengkap dan jelas hanya dalam beberapa kalimat; semua itu berkaitan dengan berbagai keadaan dan kerusakan orang. Masuk ke dalam kenyataan kebenaran tidak dapat dicapai dalam waktu satu atau dua tahun, dalam tiga atau lima tahun. Orang harus mengalami banyak hal, mengalami banyak penghakiman dan hajaran firman Tuhan, mengalami banyak pemangkasan, dan pada akhirnya mampu menerapkan kebenaran. Hanya dengan cara demikianlah pengejaran akan kebenaran menjadi efektif, dan hanya dengan cara demikianlah orang akan memiliki kenyataan kebenaran. Hanya mereka yang memiliki kenyataan kebenaran adalah mereka yang memiliki pengalaman sejati.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 386
Selama mengalami pekerjaan Tuhan, berapa kali pun engkau telah gagal, jatuh, dipangkas, atau disingkapkan, semua ini bukan hal yang buruk. Dengan cara apa pun engkau telah dipangkas, atau entah itu oleh para pemimpin, pekerja, saudara atau saudarimu, semua ini adalah hal yang baik. Engkau harus ingat ini: Sebanyak apa pun engkau menderita, engkau sebenarnya mendapat manfaat. Siapa pun yang memiliki pengalaman dapat membuktikannya. Apa pun yang terjadi, entah dipangkas, atau disingkapkan, itu selalu merupakan hal yang baik. Itu bukan hukuman. Itu adalah keselamatan Tuhan dan kesempatan terbaik bagimu untuk mengenal dirimu sendiri. Ini bisa membawa perubahan pada pengalaman hidupmu. Tanpa disingkapkan dan dipangkas, engkau tidak akan memiliki kesempatan, syarat, maupun konteks yang memampukanmu untuk mencapai pemahaman tentang kenyataan kerusakanmu. Jika engkau benar-benar memahami kebenaran, dan mampu menggali hal-hal rusak yang tersembunyi di lubuk hatimu, jika engkau dapat membedakannya dengan jelas, maka ini bagus, ini telah menyelesaikan masalah utama jalan masuk kehidupan, dan sangat bermanfaat bagi perubahan dalam watakmu. Menjadi mampu untuk sungguh-sungguh mengenal dirimu sendiri adalah kesempatan terbaik bagimu untuk memperbaiki jalanmu dan menjadi manusia yang baru; inilah kesempatan terbaik bagimu untuk memperoleh kehidupan baru. Begitu engkau benar-benar mengenal dirimu sendiri, engkau akan dapat melihat bahwa saat kebenaran menjadi hidup seseorang, itu sungguh sebuah hal yang berharga, dan engkau akan menjadi haus akan kebenaran, menerapkan kebenaran, dan masuk ke dalam kenyataan. Ini adalah hal yang luar biasa! Jika engkau dapat meraih kesempatan ini dan dengan sungguh-sungguh merenungkan dirimu sendiri serta mendapatkan pengetahuan yang benar tentang dirimu sendiri setiap kali engkau gagal atau jatuh, maka di tengah-tengah sikap negatif dan kelemahan, engkau akan mampu bangkit kembali. Setelah melewati ambang batas ini, engkau akan mampu mengambil langkah maju yang besar dan masuk ke dalam kenyataan kebenaran.
Jika engkau percaya pada kedaulatan Tuhan, maka engkau harus percaya bahwa peristiwa yang terjadi setiap hari, baik atau buruk, semua itu tidak terjadi secara acak. Itu bukannya seseorang dengan sengaja bersikap keras kepadamu atau menyasar dirimu; semua ini ditata dan diatur oleh Tuhan. Mengapa Tuhan mengatur semua hal ini? Bukan untuk mengungkapkan dirimu yang sebenarnya atau menyingkapkan dan menyingkirkanmu; menyingkapkanmu bukanlah tujuan akhir. Tujuannya adalah menyempurnakan dan menyelamatkanmu. Bagaimana Tuhan menyempurnakanmu? Dan bagaimana Dia menyelamatkanmu? Dia memulainya dengan membuatmu menyadari watakmu sendiri yang rusak, dan dengan membuatmu mengetahui esensi naturmu, kekuranganmu, dan kelemahanmu. Hanya dengan mengetahui hal-hal ini, dan memiliki pemahaman tentang hal-hal tersebut, barulah engkau dapat mengejar kebenaran dan secara berangsur menyingkirkan watakmu yang rusak. Ini adalah kesempatan yang Tuhan berikan kepadamu. Ini adalah belas kasihan Tuhan. Engkau seharusnya tahu untuk memanfaatkan kesempatan ini. Engkau tidak boleh bersikap menentang Tuhan, melawan Tuhan, atau salah paham terhadap Tuhan. Khususnya, saat menghadapi orang, peristiwa, dan hal-hal yang Tuhan atur di sekitarmu, jangan selalu merasa bahwa segala sesuatu tidak seperti yang kauinginkan, jangan selalu ingin melarikan diri atau selalu mengeluh dan salah paham terhadap Tuhan. Jika engkau selalu melakukan hal-hal itu, maka engkau tidak sedang mengalami pekerjaan Tuhan, dan itu akan membuatmu sangat sulit untuk masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Apa pun yang kauhadapi yang tidak mampu kaupahami sepenuhnya, atau yang menyebabkanmu mengalami kesulitan, engkau harus belajar untuk tunduk. Engkau harus terlebih dahulu datang ke hadapan Tuhan dan lebih banyak berdoa. Dengan begitu, sebelum engkau menyadarinya, keadaan batinmu akan berubah, dan engkau akan mampu mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalahmu. Dengan demikian, engkau akan dapat mengalami pekerjaan Tuhan. Ketika ini terjadi, kenyataan kebenaran akan dibentuk di dalam dirimu, dan beginilah caranya engkau akan mengalami kemajuan dan mengalami perubahan dalam keadaan hidupmu. Begitu engkau sudah mengalami perubahan ini dan memiliki kenyataan kebenaran ini, engkau juga akan memiliki tingkat pertumbuhan, dan dengan adanya tingkat pertumbuhan, datanglah hidup. Jika seseorang selalu hidup berdasarkan watak Iblis yang rusak, tidak peduli seberapa besar antusiasme atau seberapa banyak energi yang mereka miliki, mereka tetap tidak dapat dianggap mengalami tingkat pertumbuhan atau memiliki hidup. Tuhan bekerja dalam diri semua orang, dan apa pun cara-Nya, jenis orang, peristiwa dan hal-hal yang Dia gunakan dalam pelayanan-Nya, atau seperti apa pun nada bicara firman-Nya, Dia hanya memiliki satu tujuan: menyelamatkanmu. Dan bagaimana Dia menyelamatkanmu? Dia mengubahmu. Jadi bagaimana mungkin itu terjadi tanpa engkau sedikit menderita? Engkau harus menderita. Penderitaan ini dapat melibatkan banyak hal. Pertama, orang pasti menderita ketika mereka menerima penghakiman dan hajaran firman Tuhan. Ketika firman Tuhan terlalu keras dan berterus terang dan orang-orang salah memahami Tuhan—dan bahkan memiliki gagasan—itu juga bisa menyakitkan. Terkadang Tuhan mengatur lingkungan di sekitar orang untuk menyingkapkan kerusakan mereka, untuk membuat mereka merenungkan dan mengenal diri mereka sendiri, dan mereka juga akan sedikit menderita saat itu. Terkadang, ketika orang langsung dipangkas, dan disingkapkan, mereka harus menderita. Seolah-olah mereka sedang menjalani pembedahan—jika tidak ada penderitaan, tidak akan ada hasil. Jika setiap kali engkau dipangkas, dan setiap kali engkau disingkapkan oleh suatu lingkungan, itu menggugah hatimu dan memberimu dorongan, melalui pengalaman-pengalaman semacam ini, engkau akan masuk ke dalam kenyataan kebenaran, dan akan memiliki tingkat pertumbuhan. Jika, setiap kali engkau dipangkas, dan disingkapkan oleh lingkungan, engkau sama sekali tidak merasakan penderitaan ataupun ketidaknyamanan, dan sama sekali tidak merasakan apa pun, dan engkau tidak datang ke hadapan Tuhan untuk mencari maksud-Nya, tidak berdoa ataupun mencari kebenaran, berarti engkau benar-benar mati rasa! Tuhan tidak bekerja di dalam dirimu jika rohmu tidak merasakan apa pun, jika rohmu tidak bereaksi. Dia akan berkata, "Orang ini sudah terlalu mati rasa, dan telah dirusak terlalu dalam. Bagaimana pun Aku mendisiplinkan dia, memangkas dirinya, atau berusaha membatasinya, Aku tetap tidak dapat menggerakkan hatinya atau membangunkan rohnya. Orang ini akan berada dalam masalah; dia tidak mudah untuk diselamatkan." Katakanlah Tuhan mengatur lingkungan, orang-orang, peristiwa-peristiwa, dan hal-hal tertentu bagimu, atau memangkasmu, dan engkau memetik pelajaran darinya; engkau belajar untuk datang ke hadapan Tuhan, mencari kebenaran, dan tanpa sadar, dicerahkan dan diterangi serta mendapatkan kebenaran; engkau mengalami perubahan di lingkungan ini, mendapatkan sesuatu, dan membuat kemajuan, dan engkau mulai memiliki sedikit pemahaman tentang maksud Tuhan serta berhenti mengeluh. Ini berarti engkau telah berdiri teguh di tengah ujian di lingkungan ini, dan telah bertahan dalam ujian. Dalam hal ini, engkau telah berhasil melewati rintangan ini. Bagaimana Tuhan akan memandang mereka yang bertahan dalam ujian? Tuhan akan berkata bahwa mereka memiliki hati yang tulus dan mampu menanggung penderitaan semacam ini, dan bahwa di dalam hatinya, mereka mencintai kebenaran dan ingin memperoleh kebenaran. Jika Tuhan menilai dirimu seperti ini, bukankah itu berarti engkau adalah orang yang memiliki tingkat pertumbuhan? Bukankah itu berarti engkau memiliki hidup? Lalu, bagaimana hidup ini diperoleh? Apakah hidup ini dianugerahkan oleh Tuhan? Tuhan membekalimu dengan berbagai cara dan memakai berbagai orang, peristiwa, dan hal-hal untuk melatihmu. Ini seakan-akan Tuhan sendirilah yang memberimu makanan dan minuman, secara pribadi memberikan makanan dan minuman di hadapanmu untuk engkau makan dan nikmati; dan hanya dengan cara demikianlah engkau akan bertumbuh dan berdiri teguh. Beginilah seharusnya caramu dalam mengalami dan memahami hal-hal ini; beginilah caramu untuk tunduk pada semua yang berasal dari Tuhan. Inilah pola pikir dan sikap yang harus kaumiliki, dan engkau harus belajar untuk mencari kebenaran. Engkau tidak boleh selalu mencari penyebab eksternal atau menyalahkan orang lain karena masalahmu atau mencari-cari kesalahan orang; engkau harus memiliki pemahaman yang jelas tentang maksud Tuhan. Dari luar, beberapa orang mungkin memiliki pendapat tentangmu atau berprasangka terhadapmu, tetapi engkau tidak boleh memandangnya seperti itu. Jika engkau memandang segala sesuatu dari sudut pandang seperti ini, satu-satunya hal yang akan kaulakukan adalah membantah, dan engkau tidak akan mendapatkan apa pun. Engkau harus memandang segala sesuatu secara objektif dan menerima segala sesuatu dari Tuhan. Ketika engkau memandang segala sesuatu dengan cara seperti ini, akan mudah bagimu untuk tunduk pada pekerjaan Tuhan, dan engkau akan mampu mencari kebenaran, dan memahami maksud Tuhan. Begitu cara pandang dan keadaan pikiranmu diperbaiki, kau akan mampu memperoleh kebenaran. Jadi, mengapa tidak kaulakukan saja hal itu? Mengapa engkau menentang? Jika engkau berhenti menentang, engkau akan memperoleh kebenaran. Jika engkau menentang, engkau tidak akan mendapatkan apa pun, dan engkau juga akan melukai perasaan Tuhan dan mengecewakan-Nya. Mengapa Tuhan akan dikecewakan? Karena engkau tidak menerima kebenaran, engkau tidak memiliki harapan untuk diselamatkan, dan Tuhan tidak bisa mendapatkanmu, jadi bagaimana mungkin Dia tidak kecewa? Ketika engkau tidak menerima kebenaran, ini sama saja dengan menolak makanan yang telah diberikan kepadamu oleh Tuhan secara pribadi. Engkau berkata bahwa engkau tidak lapar dan bahwa engkau tidak membutuhkannya; Tuhan terus-menerus mendorongmu untuk makan, tetapi engkau tetap tidak menginginkannya. Engkau lebih suka kelaparan. Engkau mengira bahwa engkau sudah kenyang, padahal sebenarnya, engkau sama sekali tidak memiliki apa pun. Orang semacam ini sangat tidak bernalar, dan sangat merasa dirinya benar; sesungguhnya, mereka tidak tahu hal yang baik padahal hal yang baik itu terlihat oleh mereka, mereka adalah orang yang paling miskin dan menyedihkan.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Untuk Memperoleh Kebenaran, Orang Harus Belajar dari Orang-Orang, Peristiwa dan Hal-Hal di Sekitar Mereka"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 387
Dalam pekerjaan mereka, para pemimpin dan pekerja gereja harus memperhatikan dua prinsip: pertama adalah melakukan pekerjaan mereka tepat sesuai dengan prinsip-prinsip yang ditetapkan oleh pengaturan kerja, tidak pernah melanggar prinsip-prinsip itu dan tidak mendasarkan pekerjaan mereka pada apa pun yang mungkin mereka bayangkan atau pada kehendak mereka sendiri. Dalam segala hal yang mereka lakukan, mereka harus menunjukkan perhatian pada pekerjaan gereja, dan selalu mengutamakan kepentingan rumah Tuhan. Hal lain—dan ini adalah yang paling penting—yaitu bahwa dalam segala sesuatu, mereka harus berfokus mengikuti tuntunan Roh Kudus dan melakukan segala sesuatu dengan ketat sesuai dengan firman Tuhan. Jika mereka masih mampu menentang tuntunan Roh Kudus, atau jika mereka dengan keras kepala mengikuti kehendak mereka sendiri dan melakukan segala sesuatu sesuai dengan imajinasi mereka sendiri, tindakan-tindakan mereka akan merupakan penentangan paling serius terhadap Tuhan. Sering menolak pencerahan dan tuntunan Roh Kudus hanya akan menghasilkan jalan buntu. Jika mereka kehilangan pekerjaan Roh Kudus, mereka tidak akan mampu bekerja; bahkan sekalipun mereka ternyata mampu bekerja, mereka tidak akan mencapai apa pun. Inilah dua prinsip utama yang para pemimpin dan pekerja harus patuhi saat bekerja: pertama adalah melakukan pekerjaan mereka persis sesuai dengan pengaturan kerja dari Yang di Atas, serta bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan oleh Yang di Atas; dan yang kedua adalah mengikuti tuntunan Roh Kudus di dalam diri mereka. Setelah kedua prinsip ini dipegang teguh, mereka tidak akan sedemikian cenderung untuk melakukan kesalahan dalam pekerjaan mereka. Pengalamanmu dalam melakukan pekerjaan gereja masih terbatas, dan ketika engkau bekerja, itu sangat dicemari oleh kehendakmu sendiri. Terkadang, engkau mungkin tidak memahami pencerahan atau bimbingan di dalam dirimu yang berasal dari Roh Kudus; di lain waktu, engkau tampak memahaminya, tetapi engkau cenderung mengabaikannya. Engkau selalu membayangkan atau menyimpulkan dengan cara manusia, bertindak dengan cara yang menurutmu tepat, tanpa sama sekali memedulikan maksud Roh Kudus. Engkau melakukan pekerjaanmu hanya menurut kehendakmu sendiri, mengesampingkan pencerahan apa pun dari Roh Kudus. Situasi seperti itu sering terjadi. Bimbingan batin dari Roh Kudus tidaklah supernatural; sebenarnya, itu hal yang sangat normal. Artinya, di lubuk hatimu, engkau merasa bahwa ini adalah cara yang tepat untuk bertindak, dan bahwa ini adalah cara terbaik. Pemikiran ini sebenarnya cukup jelas; itu bukan datang dari perenunganmu, dan terkadang engkau tidak sepenuhnya memahami mengapa engkau bertindak seperti ini. Ini sering kali tak lain adalah pencerahan dari Roh Kudus. Ini paling sering terjadi pada orang yang memiliki pengalaman. Roh Kudus membimbingmu untuk melakukan apa yang paling tepat. Ini bukan sesuatu yang kaupikirkan, melainkan perasaan di hatimulah yang membuatmu sadar bahwa ini adalah cara terbaik untuk melakukannya, dan engkau suka melakukannya seperti itu tanpa mengetahui alasannya. Ini mungkin berasal dari Roh Kudus. Kehendak diri sendiri sering kali berasal dari pemikiran dan pertimbangan, dan semuanya dicemari oleh keinginan diri sendiri; mereka selalu memikirkan apa manfaat dan keuntungannya bagi mereka; setiap tindakan yang manusia putuskan untuk dilakukan memiliki hal-hal ini di dalamnya. Namun, bimbingan dari Roh Kudus sama sekali tidak mengandung pencampuran semacam itu. Penting untuk memperhatikan dengan cermat bimbingan atau pencerahan dari Roh Kudus; khususnya dalam masalah-masalah utama, engkau harus berhati-hati agar dapat memegangnya dengan teguh. Orang yang suka menggunakan otak mereka, dan yang suka bertindak berdasarkan kehendak mereka sendiri, sangat cenderung melewatkan bimbingan atau pencerahan tersebut. Para pemimpin dan pekerja yang memenuhi standar adalah orang-orang yang memiliki pekerjaan Roh Kudus, yang setiap saat memperhatikan pekerjaan Roh Kudus, yang tunduk kepada Roh Kudus, memiliki hati yang takut akan Tuhan, memikirkan maksud Tuhan, dan tanpa lelah mengejar kebenaran. Untuk dapat memuaskan Tuhan dan memberi kesaksian bagi-Nya dengan benar, engkau harus sering merenungkan motif dan pencemaran dalam pelaksanaan tugasmu, dan kemudian berusaha untuk mengamati seberapa banyak pekerjaan itu dimotivasi oleh kehendak manusia, berapa banyak yang lahir dari pencerahan oleh Roh Kudus, dan berapa banyak yang sesuai dengan firman Tuhan. Engkau harus selalu, dan dalam segala keadaan, merenungkan apakah perkataan dan perbuatanmu sesuai dengan kebenaran. Sering melakukan penerapan dengan cara ini akan menempatkanmu pada jalur yang benar dalam melayani Tuhan. Orang harus memiliki kenyataan kebenaran agar mereka mampu melayani Tuhan dengan cara yang sesuai dengan maksud-Nya. Hanya setelah orang memahami kebenaran, barulah mereka memiliki kemampuan untuk membedakan dan mengenali apa yang muncul dari kehendak mereka sendiri dan apa yang muncul dari motif manusia. Mereka mampu mengenali ketidakmurnian manusia, serta apa artinya bertindak sesuai dengan kebenaran. Hanya setelah mereka mampu mengenali hal-hal ini, barulah dapat dipastikan bahwa mereka mampu menerapkan kebenaran dan sepenuhnya sesuai dengan maksud Tuhan. Tanpa memahami kebenaran, mustahil bagi orang untuk menerapkan kemampuan membedakan. Orang yang bingung mungkin percaya kepada Tuhan sepanjang hidupnya tanpa mengetahui apa artinya jika kerusakannya sendiri disingkapkan atau apa artinya menentang Tuhan, karena dia tidak memahami kebenaran; pemikiran itu bahkan tidak ada dalam pikirannya. Kebenaran berada di luar jangkauan orang-orang yang berkualitas terlalu rendah; bagaimanapun engkau bersekutu tentang hal itu dengan mereka, mereka tetap tidak memahami. Orang-orang semacam itu bingung. Dalam iman mereka, orang-orang yang bingung tidak bisa memberi kesaksian bagi Tuhan; mereka hanya mampu melakukan sedikit jerih payah. Jika para pemimpin dan pekerja ingin melaksanakan tugas mereka dengan baik, maka kualitas mereka tidak boleh terlalu rendah. Setidaknya, mereka harus memiliki pemahaman rohani dan memahami berbagai hal secara murni sehingga mereka mampu dengan mudah memahami kebenaran dan menerapkan kebenaran. Pengalaman beberapa orang terlalu dangkal sehingga terkadang mereka memiliki penyimpangan dalam pemahaman mereka tentang kebenaran, dan kemudian mereka cenderung melakukan kesalahan. Ketika ada penyimpangan dalam pemahaman mereka, mereka tidak memenuhi standar untuk menerapkan kebenaran. Ketika ada penyimpangan dalam pemahaman orang, mereka cenderung mengikuti aturan, dan ketika mereka mengikuti aturan, mereka akan mudah untuk melakukan kesalahan, dan mereka tidak memenuhi standar untuk menerapkan kebenaran. Ketika ada penyimpangan dalam pemahaman mereka, mereka juga akan mudah untuk disesatkan dan dimanfaatkan oleh antikristus. Oleh karena itu, penyimpangan dalam pemahaman dapat menyebabkan banyak kesalahan. Akibatnya, mereka bukan saja akan gagal melaksanakan tugas mereka dengan baik, tetapi juga akan mudah tersesat, yang merugikan jalan masuk kehidupan umat pilihan Tuhan. Apa gunanya orang melaksanakan tugas mereka seperti ini? Mereka hanya menjadi orang yang mengganggu dan mengacaukan pekerjaan gereja. Selain itu, harus ada pelajaran yang dipetik dari kegagalan ini. Untuk dapat melaksanakan pekerjaan yang Tuhan percayakan, adalah perlu bagi para pemimpin dan pekerja untuk memegang teguh dua prinsip ini: orang harus secara ketat mematuhi pengaturan kerja dari Yang di Atas dalam melaksanakan tugasnya, dan harus memperhatikan dan tunduk kepada setiap bimbingan dari Roh Kudus sesuai dengan firman Tuhan. Hanya jika kedua prinsip ini dipegang teguh, barulah pekerjaan orang bisa efektif dan maksud Tuhan akan dipenuhi.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 388
Petrus berusaha mengenal dirinya sendiri dan memeriksa apa yang disingkapkan dalam dirinya melalui pemurnian firman Tuhan dan dalam berbagai ujian yang telah Tuhan sediakan baginya. Setelah dia benar-benar memahami dirinya sendiri, Petrus menyadari betapa sangat rusaknya manusia, dan betapa tidak berharga dan tidak layaknya manusia melayani Tuhan, dan betapa tidak layaknya mereka hidup di hadapan Tuhan. Petrus kemudian bersujud di hadapan Tuhan. Setelah mengalami begitu banyak, Petrus akhirnya merasa, "Mengenal Tuhan adalah hal yang paling berharga! Jika aku mati sebelum mengenal Dia, itu akan sangat menyedihkan. Mengenal Tuhan adalah hal yang paling penting dan paling bermakna. Jika manusia tidak mengenal Tuhan, dia tidak layak untuk hidup, dia sama seperti binatang, dan tidak memiliki kehidupan." Pada saat pengalaman Petrus telah mencapai titik ini, dia telah mengerti naturnya sendiri dan dia telah mendapatkan pemahaman yang relatif baik tentang naturnya. Meskipun dia mungkin tidak akan bisa menjelaskannya dengan gamblang seperti orang-orang zaman sekarang, Petrus benar-benar telah mencapai keadaan ini. Oleh karena itu, agar orang mampu menempuh jalan mengejar kebenaran dan disempurnakan oleh Tuhan, orang harus mengenal naturnya sendiri dari dalam perkataan Tuhan, serta memahami berbagai aspek dari natur dirinya dan mampu menjelaskannya secara akurat, membicarakannya dengan jelas dan terus terang. Hanya inilah yang disebut benar-benar mengenal dirimu sendiri, dan hanya dengan cara inilah engkau akan mencapai hasil yang dituntut oleh Tuhan. Jika pengetahuanmu belum mencapai titik ini, tetapi engkau mengaku mengenal dirimu sendiri dan berkata bahwa engkau telah mendapatkan hidup, bukankah engkau hanya menyombongkan diri? Engkau tidak mengenal dirimu sendiri, engkau juga tidak tahu siapa dirimu di hadapan Tuhan, apakah engkau telah benar-benar memenuhi standar menjadi manusia, atau berapa banyak unsur Iblis yang masih kaumiliki di dalam dirimu. Engkau masih belum jelas tentang milik siapakah engkau, dan engkau bahkan tidak memiliki kesadaran akan dirimu sendiri—jadi bagaimana bisa engkau memiliki nalar di hadapan Tuhan? Ketika Petrus mengejar kehidupan, dia berfokus untuk memahami dirinya sendiri dan mengubah wataknya selama masa ujiannya, dan dia berjuang untuk mengenal Tuhan. Pada akhirnya, dia berpikir, "Manusia haruslah mengejar pemahaman tentang Tuhan dalam hidup; mengenal Dia adalah hal yang paling penting. Jika aku tidak mengenal Tuhan, aku tidak bisa beristirahat dengan tenang ketika aku mati. Begitu aku mengenal-Nya, jika Tuhan kemudian membuatku harus mati, aku tetap akan merasa paling bersyukur. Aku tidak akan mengeluh sedikit pun, dan seluruh hidupku akan dipuaskan." Petrus tidak mampu memperoleh tingkat pemahaman ini atau mencapai titik ini segera setelah dia mulai percaya kepada Tuhan; sebaliknya dia mengalami banyak ujian. Pengalamannya harus mencapai tahap tertentu, dan dia harus sepenuhnya mengenal dirinya sendiri barulah dia bisa merasakan nilai mengenal Tuhan. Karena itu, jalan yang ditempuh Petrus adalah jalan mengejar kebenaran, dan jalan memperoleh hidup dan disempurnakan. Inilah aspek yang menjadi fokus utama penerapan yang Petrus lakukan secara spesifik.
Dalam kepercayaanmu kepada Tuhan, jalan apa yang kautempuh sekarang? Jika engkau tidak seperti Petrus, tidak mencari hidup, tidak mengenal dirimu sendiri, dan tidak mengenal Tuhan, itu artinya engkau tidak sedang menempuh jalan Petrus. Pada zaman sekarang, kebanyakan orang berada dalam keadaan seperti ini: untuk mendapatkan berkat, aku harus mengorbankan diriku bagi Tuhan dan membayar harga bagi-Nya. Untuk mendapatkan berkat, aku harus meninggalkan segalanya bagi Tuhan; aku harus menyelesaikan apa yang telah Dia percayakan kepadaku, dan aku harus melaksanakan tugasku dengan baik. Keadaan ini didominasi oleh niat untuk mendapatkan berkat, yang adalah contoh mengorbankan diri sepenuhnya bagi Tuhan dengan tujuan memperoleh upah dari-Nya dan mendapatkan mahkota. Orang-orang semacam itu tidak memiliki kebenaran di dalam hati mereka, dan dapat dipastikan bahwa pemahaman mereka hanya terdiri dari beberapa kata-kata dan doktrin yang mereka pamerkan ke mana pun mereka pergi. Jalan mereka adalah jalan Paulus. Iman orang semacam itu adalah tindakan kerja keras yang terus-menerus, dan di lubuk hati mereka, mereka merasa bahwa semakin banyak mereka melakukannya, semakin itu akan membuktikan kesetiaan mereka kepada Tuhan; semakin banyak mereka melakukannya, semakin Dia pasti akan dipuaskan; dan semakin banyak mereka melakukannya, semakin mereka akan layak diberikan mahkota di hadapan Tuhan, dan semakin besar berkat yang akan mereka peroleh. Mereka mengira jika mereka mampu menanggung penderitaan, berkhotbah, dan mati bagi Kristus, jika mereka mampu mengorbankan hidup mereka sendiri, dan jika mereka mampu menyelesaikan semua tugas yang dipercayakan Tuhan kepada mereka, mereka akan menjadi orang yang mendapatkan berkat terbesar, dan mereka pasti akan diberikan mahkota. Inilah tepatnya yang Paulus bayangkan dan yang dikejarnya. Inilah tepatnya jalan yang ditempuhnya, dan di bawah tuntunan pemikiran seperti itulah dia bekerja untuk melayani Tuhan. Bukankah pemikiran dan niat seperti itu berasal dari natur Iblis? Ini sama seperti orang-orang duniawi, yang yakin bahwa selama berada di bumi mereka harus mengejar pengetahuan, dan setelah memperolehnya mereka bisa menjadi menonjol, menjadi pejabat, dan memiliki status. Mereka mengira begitu mereka memiliki status, mereka dapat mewujudkan ambisi mereka dan membawa bisnis dan rumah tangga mereka naik hingga mencapai tingkat kemakmuran tertentu. Bukankah semua orang tidak percaya menempuh jalan ini? Mereka yang dikuasai oleh watak Iblis ini hanya dapat menjadi seperti Paulus dalam iman mereka. Mereka berpikir: "Aku harus meninggalkan segalanya dan mengorbankan diriku untuk tuhan. Aku harus sepenuh hati di hadapan tuhan, dan pada akhirnya, aku pasti akan menerima upah yang sangat besar dan mahkota yang paling indah." Ini adalah sikap yang sama seperti sikap yang dimiliki oleh orang-orang dunia yang mengejar hal-hal duniawi. Mereka sama sekali tidak ada bedanya, dan mereka tunduk pada natur yang sama. Ketika manusia memiliki watak Iblis semacam ini, di dunia ini, mereka akan berusaha mendapatkan pengetahuan, pembelajaran, status, dan menonjolkan diri. Jika mereka percaya kepada Tuhan, mereka akan berusaha mendapatkan mahkota mulia dan berkat yang besar. Jika orang-orang tidak mengejar kebenaran ketika mereka percaya kepada Tuhan, mereka pasti akan mengambil jalan ini. Ini adalah fakta yang tidak dapat diubah, ini adalah hukum alam. Jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang tidak mengejar kebenaran sangat bertentangan dengan jalan Petrus. Jalan mana yang sedang engkau semua tempuh saat ini? Meskipun engkau mungkin tidak berencana untuk menempuh jalan Paulus, naturmu telah mengendalikanmu untuk menempuh jalan ini, dan engkau akan pergi ke arah itu meskipun engkau tidak ingin melakukannya. Meskipun engkau ingin menginjakkan kaki di jalan Petrus, jika engkau tidak jelas tentang cara melakukannya, tanpa sadar engkau akan menempuh jalan Paulus: ini adalah kenyataan situasinya. Sebenarnya, bagaimana seharusnya orang menempuh jalan Petrus pada zaman sekarang? Jika engkau tidak mampu membedakan antara jalan Petrus dan jalan Paulus, atau jika engkau sama sekali tidak memahami jalan-jalan itu, sebanyak apa pun engkau menyatakan diri sedang menempuh jalan Petrus, kata-katamu itu hanyalah kata-kata kosong. Engkau harus terlebih dahulu memiliki pemahaman yang jelas tentang apa arti jalan Petrus dan apa arti jalan Paulus. Hanya ketika engkau benar-benar memahami bahwa jalan Petrus adalah jalan mengejar kehidupan, dan satu-satunya jalan menuju kesempurnaan, barulah engkau akan mampu menempuh jalan Petrus, mengejar seperti cara dia mengejar, dan menerapkan prinsip-prinsip yang dia terapkan. Jika engkau tidak memahami jalan Petrus, maka jalan yang kautempuh pasti adalah jalan Paulus, karena tidak akan ada jalan lain untukmu; engkau tidak akan punya pilihan dalam hal itu. Orang yang tidak memahami kebenaran dan yang tak mampu mengejar kebenaran akan merasa sulit untuk menempuh jalan Petrus, sekalipun mereka memiliki tekad. Dapat dikatakan bahwa karena kasih karunia dan peninggian Tuhanlah Dia sekarang ini telah menyingkapkan jalan keselamatan dan kesempurnaan kepada engkau semua. Dialah yang membimbingmu ke jalan Petrus. Tanpa bimbingan dan pencerahan Tuhan, tak seorang pun mampu menempuh jalan Petrus, dan satu-satunya pilihan adalah menempuh jalan Paulus, mengikuti jejak langkah Paulus menuju kebinasaan. Pada waktu itu, Paulus tidak merasa dia salah menempuh jalan itu; dia sepenuhnya yakin bahwa jalan itu benar. Dia tidak memperoleh kebenaran, dan dia khususnya tidak mengalami perubahan dalam wataknya. Dia terlalu percaya pada dirinya sendiri, dan merasa bahwa tidak ada masalah sedikit pun jika percaya dengan cara seperti itu. Dia terus maju, penuh percaya diri dan penuh keyakinan akan dirinya. Pada akhirnya, dia tidak pernah sadar. Dia tetap berpikir bahwa baginya hidup adalah kristus. Dengan demikian, Paulus terus menempuh jalan itu sampai akhir, dan pada saat dia akhirnya dihukum, semuanya sudah berakhir baginya. Jalan Paulus tidak melibatkan mengenal dirinya sendiri, apalagi mengejar perubahan watak. Dia tidak pernah menganalisis naturnya sendiri, dia juga tidak memperoleh pengenalan apa pun tentang dirinya. Dia hanya tahu bahwa dia adalah pelaku utama dalam penganiayaan Yesus. Namun, dia tidak memiliki pengenalan sedikit pun tentang naturnya sendiri, dan setelah menyelesaikan pekerjaannya, Paulus merasa bahwa dia hidup sebagai Kristus dan harus diberi upah. Pekerjaan yang Paulus lakukan hanyalah memberikan pelayanannya kepada Tuhan. Bagi Paulus secara pribadi, meskipun dia menerima beberapa pewahyuan dari Roh Kudus, dia sama sekali tidak memperoleh kebenaran atau hidup. Oleh karena itu, dia tidak diselamatkan oleh Tuhan. Sebaliknya, dia dihukum oleh Tuhan. Mengapa dikatakan bahwa jalan Petrus adalah jalan menuju kesempurnaan? Itu karena, dalam penerapan Petrus, dia menempatkan penekanan khusus pada hidup, pada upaya untuk mengenal Tuhan, dan pada mengenal dirinya sendiri. Lewat mengalami pekerjaan Tuhan, dia mulai mengenal dirinya sendiri, memperoleh pemahaman tentang keadaan manusia yang rusak, memahami kekurangannya sendiri, dan menemukan hal paling berharga yang harus dikejar manusia. Dia mampu mengasihi Tuhan dengan tulus, dia belajar bagaimana membalas kasih Tuhan, dia memperoleh beberapa kebenaran, dan dia memiliki kenyataan yang Tuhan tuntut. Dari semua hal yang Petrus katakan selama ujiannya, terlihat bahwa dialah yang paling mengenal Tuhan. Karena dia memahami begitu banyak kebenaran dari firman Tuhan, jalannya pun menjadi semakin terang, dan semakin sesuai dengan maksud Tuhan. Jika Petrus tidak memiliki kebenaran ini, maka jalan yang dia tempuh tidak mungkin sedemikian akuratnya.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Cara Menempuh Jalan Petrus"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 389
Petrus setia kepada-Ku selama bertahun-tahun, tetapi dia tidak pernah menggerutu ataupun mengeluh; bahkan Ayub tidak sebanding dengannya, dan, selama berabad-abad, semua orang kudus lainnya sangat jauh bila dibandingkan dengan Petrus. Dia tidak hanya berusaha untuk mengenal-Ku, tetapi juga jadi mengenal-Ku pada saat Iblis sedang melakukan rencananya yang licik. Ini membuat Petrus melayani-Ku selama bertahun-tahun, selalu sejalan dengan maksud-maksud-Ku, dan karena alasan inilah dia tidak pernah diperalat oleh Iblis. Petrus belajar dari iman Ayub, tetapi dia juga dengan jelas menyadari kekurangan Ayub. Meskipun Ayub memiliki iman yang luar biasa, dia tidak memiliki pengetahuan akan hal-hal di alam roh, jadi dia mengucapkan banyak perkataan yang tidak sesuai dengan kenyataan; ini menunjukkan bahwa pengetahuan Ayub masih dangkal dan tidak dapat menjadi sempurna. Oleh karena itu, Petrus selalu berfokus untuk memperoleh kepekaan dalam rohnya, dan selalu memperhatikan dinamika alam roh. Sebagai hasilnya, dia tidak hanya mampu mengetahui apa yang menjadi maksud-maksud-Ku, tetapi juga memiliki sedikit pengetahuan tentang rencana licik Iblis. Karena ini, pengenalannya akan Aku menjadi lebih besar daripada siapa pun di sepanjang zaman.
Dari pengalaman Petrus, tidaklah sulit untuk memahami bahwa jika manusia ingin mengenal-Ku, mereka harus berfokus untuk memberikan perhatian yang saksama di dalam roh mereka. Aku tidak memintamu untuk "mempersembahkan" hal-hal tertentu kepada-Ku secara lahiriah; itu adalah hal yang sekunder. Jika engkau tidak mengenal-Ku, maka seluruh iman, kasih, dan kesetiaan yang kaubicarakan hanyalah ilusi, semua itu hanya buih, dan engkau pasti akan menjadi orang yang menyombongkan diri di hadapan-Ku tetapi tidak mengenal dirinya sendiri. Dengan demikian, engkau kembali akan dijerat oleh Iblis dan tidak mampu melepaskan dirimu sendiri; engkau akan menjadi manusia durhaka dan objek pemusnahan. Namun, jika engkau dingin dan tidak peduli terhadap firman-Ku, maka tidak diragukan lagi bahwa engkau menentang Aku. Ini adalah kenyataan, dan engkau sebaiknya melayangkan pandanganmu melalui gerbang alam roh untuk melihat berbagai macam roh yang telah Kuhajar. Siapakah di antara mereka, diperhadapkan dengan firman-Ku, yang tidak negatif, tidak peduli, dan tidak menerima firman-Ku? Siapakah di antara mereka yang tidak sinis terhadap firman-Ku? Siapakah di antara mereka yang tidak mencoba mencari-cari kesalahan terhadap firman-Ku? Siapakah di antara mereka yang tidak menggunakan firman-Ku sebagai "senjata pertahanan" untuk melindungi diri mereka sendiri? Mereka tidak menggunakan isi firman-Ku sebagai jalan untuk mengenal-Ku, tetapi hanya menggunakan firman-Ku sebagai mainan untuk mereka mainkan. Dalam hal ini, bukankah mereka sedang menentang-Ku secara langsung? Siapakah firman-Ku? Siapakah Roh-Ku? Aku telah berkali-kali menanyakan kepada engkau semua pertanyaan semacam itu, tetapi pernahkah engkau mendapatkan wawasan yang lebih tinggi dan jelas tentangnya? Pernahkah engkau benar-benar mengalaminya? Aku mengingatkanmu sekali lagi: jika engkau tidak mengetahui firman-Ku, ataupun menerimanya, ataupun menerapkannya, maka engkau pasti akan menjadi objek hajaran-Ku! Engkau pasti akan menjadi korban si Iblis!
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Firman Tuhan kepada Seluruh Alam Semesta, Bab 8"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 390
Meskipun banyak orang percaya kepada Tuhan, hanya sedikit yang memahami apa arti percaya kepada Tuhan, dan bagaimana tepatnya mereka harus bertindak agar sesuai dengan maksud-maksud Tuhan. Ini karena, walaupun orang mengetahui kata "Tuhan" dan frasa seperti "pekerjaan Tuhan", mereka tidak mengenal Tuhan, apalagi mengetahui pekerjaan-Nya. Maka tak heran jika semua orang yang tidak mengenal Tuhan, mereka bingung dalam kepercayaan mereka kepada-Nya. Orang tidak menganggap serius kepercayaan kepada Tuhan, dan ini sepenuhnya karena percaya kepada Tuhan sangat tidak familier, sangat asing bagi mereka. Dengan demikian, mereka masih jauh dari tuntutan Tuhan. Dengan kata lain, jika orang tidak mengenal Tuhan, dan tidak mengetahui pekerjaan-Nya, mereka tidak layak untuk dipakai Tuhan, apalagi memenuhi maksud-maksud-Nya. "Percaya kepada Tuhan" berarti percaya bahwa Tuhan itu ada; ini adalah konsep paling sederhana tentang percaya kepada Tuhan. Lebih jauh dari ini, percaya bahwa Tuhan itu ada tidaklah sama dengan benar-benar percaya kepada Tuhan; sebaliknya, ini adalah sejenis keyakinan sederhana dengan nuansa agamawi yang kuat. Arti yang benar percaya kepada Tuhan adalah: Di atas dasar kepercayaan bahwa Tuhanlah yang berdaulat atas segala sesuatu, orang mengalami firman-Nya dan pekerjaan-Nya, dan dengan cara demikian membuang watak-watak rusak yang dimilikinya, memenuhi maksud-maksud Tuhan, dan mengenal Tuhan. Hanya perjalanan semacam inilah yang disebut "percaya kepada Tuhan". Namun, orang sering menganggap kepercayaan kepada Tuhan sebagai hal yang sangat sederhana dan dangkal. Ketika orang percaya kepada Tuhan dengan cara ini, kepercayaan itu telah kehilangan maknanya, dan meskipun mereka mungkin terus percaya sampai akhir, mereka tidak akan pernah mendapatkan perkenanan Tuhan, karena mereka menempuh jalan yang salah. Orang-orang yang sampai hari ini percaya kepada Tuhan berdasarkan kata-kata dan doktrin yang kosong, mereka masih belum tahu bahwa tidak terdapat esensi dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan, dan mereka tidak dapat menerima perkenanan Tuhan. Namun, mereka masih saja berdoa agar Tuhan memberkati mereka dengan kedamaian dan anugerah yang cukup. Mari kita menenangkan hati kita, dan berpikir keras: mungkinkah percaya kepada Tuhan adalah hal yang termudah di bumi? Mungkinkah percaya kepada Tuhan semata-mata berarti menerima banyak kasih karunia dari Tuhan? Apakah orang yang percaya kepada Tuhan tanpa mengenal-Nya atau yang percaya kepada Tuhan tetapi menentang-Nya benar-benar bisa memenuhi maksud-maksud Tuhan?
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Kata Pengantar"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 391
Apa yang telah diterima manusia sejak pertama kali dia mulai percaya kepada Tuhan? Apa yang telah engkau ketahui tentang Tuhan? Seberapa banyak engkau telah berubah karena kepercayaanmu kepada Tuhan? Sekarang, engkau semua tahu bahwa kepercayaan manusia kepada Tuhan bukanlah semata-mata demi keselamatan jiwa dan kesejahteraan fisiknya belaka, bukan pula sekadar untuk memperkaya kehidupannya melalui mengasihi Tuhan, dan lain sebagainya. Masalahnya, jika engkau mengasihi Tuhan demi kesejahteraan fisik atau kenikmatan sesaat, sekalipun pada akhirnya kasihmu kepada Tuhan mencapai puncaknya dan engkau tidak menginginkan apa pun lagi, kasih yang kaucari ini tetap adalah kasih yang tercemar dan tidak berkenan bagi Tuhan. Orang-orang yang menggunakan kasih kepada Tuhan untuk memperkaya kehidupan mereka yang membosankan dan mengisi kekosongan dalam hati mereka adalah jenis orang yang berhasrat mencari kehidupan yang mudah, bukan orang yang benar-benar berupaya untuk mengasihi Tuhan. Kasih seperti ini adalah kasih yang terpaksa, itu merupakan pengejaran kepuasan emosi semata, dan Tuhan tidak membutuhkan kasih semacam ini. Jadi, kasih seperti apa yang kaumiliki? Apa tujuanmu mengasihi Tuhan? Seberapa besar kasih sejati yang kaumiliki bagi Tuhan saat ini? Kasih kebanyakan di antaramu adalah kasih seperti yang disebutkan di atas. Kasih semacam ini hanya mempertahankan status quo; kasih semacam ini tidak dapat bertahan untuk selamanya, ataupun berakar dalam diri manusia. Kasih semacam ini bagaikan bunga yang tidak menghasilkan buah setelah mekar dan kemudian layu. Dengan kata lain, setelah engkau telanjur mengasihi Tuhan dengan cara seperti itu, jika tak seorang pun yang membimbingmu dalam perjalanan selanjutnya, engkau akan jatuh. Jika engkau hanya bisa mengasihi Tuhan pada masa mengasihi Tuhan tetapi tidak ada perubahan watak setelahnya, engkau akan tetap tidak mampu melepaskan diri dari selubung pengaruh kegelapan, engkau akan tetap tidak sanggup melepaskan diri dari ikatan Iblis dan tipu dayanya. Tak seorang pun dari orang semacam itu yang bisa sepenuhnya didapatkan oleh Tuhan; pada akhirnya, roh, jiwa, dan tubuh mereka akan tetap dimiliki Iblis. Tidak ada keraguan tentang hal ini. Semua orang yang tidak bisa sepenuhnya didapatkan oleh Tuhan akan kembali ke tempat asal mereka, yakni kembali kepada Iblis, dan mereka akan turun ke lautan api dan belerang untuk menerima penghukuman selanjutnya dari Tuhan. Orang-orang yang didapatkan oleh Tuhan adalah mereka yang memberontak terhadap Iblis dan melepaskan diri dari kuasanya. Orang-orang seperti ini secara sah terhitung sebagai anak-anak kerajaan. Begitulah cara anak-anak kerajaan dibentuk. Apakah engkau ingin menjadi orang-orang semacam ini? Apakah engkau ingin didapatkan oleh Tuhan? Apakah engkau ingin melepaskan diri dari kuasa Iblis dan kembali kepada Tuhan? Apakah engkau sekarang menjadi milik Iblis ataukah terhitung di antara anak-anak kerajaan? Hal-hal ini seharusnya sudah jelas, dan tidak perlu dijelaskan lebih lanjut.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Pandangan yang Harus Dimiliki Orang Percaya"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 392
Di masa lampau, banyak orang mencari dengan ambisi dan gagasan liar, mereka mencari sebagai hasil dari harapan mereka sendiri. Mari kita kesampingkan sejenak masalah itu; yang terpenting sekarang adalah menemukan jalan penerapan yang akan memampukan setiap orang dari antaramu untuk mempertahankan keadaan yang normal di hadapan Tuhan dan secara berangsur-angsur membebaskan diri dari belenggu pengaruh Iblis, sehingga engkau semua bisa didapatkan oleh Tuhan, dan hidup di bumi seturut apa yang dikehendaki Tuhan darimu. Hanya dengan cara inilah engkau mampu memenuhi maksud-maksud Tuhan. Banyak orang percaya kepada Tuhan, tetapi tidak mengetahui apa yang Tuhan inginkan ataupun apa yang Iblis inginkan. Dengan cara yang kacau, mereka percaya dan hanya mengikuti orang-orang lain, dan karena itu tidak pernah memiliki kehidupan Kristiani yang normal; di samping itu, mereka tidak pernah memiliki hubungan pribadi yang normal, apalagi hubungan yang normal dengan Tuhan. Dari sini dapat dipahami bahwa ada banyak kesulitan dan kelemahan manusia serta faktor-faktor lain yang dapat merintangi kehendak Tuhan. Ini cukup untuk membuktikan bahwa manusia belum sampai pada jalan yang benar dalam kepercayaan kepada Tuhan, ataupun telah masuk ke dalam pengalaman nyata kehidupan manusia. Jadi, apa maksudnya sampai pada jalan yang benar dalam kepercayaan kepada Tuhan? Sampai pada jalan yang benar berarti engkau selalu dapat menenangkan hatimu di hadapan Tuhan dan menikmati persekutuan yang normal dengan Tuhan, secara berangsur-angsur mulai memahami apa yang kurang dalam diri manusia, dan secara perlahan memperoleh pengenalan akan Tuhan yang lebih dalam. Dengan cara itu, engkau memperoleh pemahaman dan pencerahan baru dalam rohmu setiap hari; kerinduanmu bertumbuh, engkau berupaya untuk masuk ke dalam kebenaran, dan setiap hari ada terang dan pemahaman yang baru. Melalui jalan ini, engkau secara berangsur-angsur terbebas dari pengaruh Iblis dan bertumbuh dalam hidupmu. Orang semacam ini telah masuk ke jalan yang benar. Evaluasilah pengalaman nyatamu dan periksalah jalan yang telah kautempuh dalam imanmu: ketika engkau membandingkan hal-hal tersebut terhadap apaa yang dijelaskan di atas, apakah engkau mendapati dirimu sedang berada di jalan yang benar? Dalam hal apa engkau telah bebas dari belenggu dan pengaruh Iblis? Jika engkau belum berada di jalan yang benar, artinya ikatanmu dengan Iblis belum putus. Dalam kondisi seperti ini, akankah usahamu untuk mengasihi Tuhan menghasilkan kasih yang tulus, penuh pengabdian, dan murni? Engkau berkata bahwa kasihmu kepada Tuhan teguh dan sepenuh hati, tetapi engkau belum terbebas dari belenggu Iblis. Bukankah engkau sedang mencoba membodohi Tuhan? Jika engkau ingin mencapai suatu keadaan di mana kasih-Mu bagi Tuhan adalah murni, dan engkau ingin sepenuhnya didapatkan oleh Tuhan dan terhitung di antara anak-anak kerajaan, engkau harus terlebih dahulu menempatkan dirimu sendiri pada jalan yang benar dalam kepercayaan kepada Tuhan.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Pandangan yang Harus Dimiliki Orang Percaya"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 393
Masalah umum yang ada pada semua orang adalah bahwa mereka memahami kebenaran tetapi gagal melakukannya. Hal ini karena, pada satu sisi, mereka tidak bersedia membayar harga, dan pada sisi lain, karena kearifan mereka terlalu tidak memadai; mereka tidak dapat melihat banyak kesulitan dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana adanya, dan tidak tahu bagaimana melakukan penerapan dengan benar. Karena pengalaman orang terlalu dangkal, kualitas mereka sangat buruk, dan kadar pemahaman mereka akan kebenaran terbatas, mereka tidak memiliki cara untuk menyelesaikan kesulitan yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari mereka. Mereka percaya kepada Tuhan hanya dengan kata-kata, dan tidak mampu membawa Tuhan ke dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dengan kata lain, Tuhan adalah Tuhan, hidup adalah hidup, dan seolah-olah manusia tidak memiliki hubungan dengan Tuhan dalam hidup mereka. Itulah yang dipikirkan semua orang. Dengan percaya kepada Tuhan seperti ini, pada realitasnya, manusia tidak akan didapatkan dan disempurnakan oleh-Nya. Kenyataannya, bukan karena firman Tuhan belum diungkapkan secara utuh, tetapi kemampuan pemahaman oranglah yang sangat tidak memadai. Orang bisa mengatakan bahwa hampir tidak ada yang bertindak sesuai dengan hasrat Tuhan yang sebenarnya; sebaliknya, iman mereka kepada Tuhan sesuai dengan hasrat mereka sendiri, gagasan agamawi yang mereka pegang di masa lalu, dan cara mereka sendiri dalam melakukan segala sesuatu. Sedikit yang mengalami transformasi setelah menerima firman Tuhan dan mulai bertindak sesuai dengan maksud-maksud-Nya. Sebaliknya, mereka bertahan dalam keyakinan mereka yang keliru. Ketika orang mulai percaya kepada Tuhan, mereka melakukannya berdasarkan aturan agama yang konvensional, dan mereka hidup dan berinteraksi dengan orang lain sepenuhnya berdasarkan falsafah duniawi mereka sendiri. Orang bisa mengatakan bahwa ini benar untuk sembilan dari setiap sepuluh orang. Hanya sedikit yang merumuskan rencana lain dan membuka lembaran baru setelah mulai percaya kepada Tuhan. Umat manusia telah gagal untuk memandang firman Tuhan sebagai kebenaran, atau menganggapnya sebagai kebenaran untuk diterapkan.
Contohnya, iman kepada Yesus. Entah seseorang baru saja percaya ataupun sudah sangat lama percaya, mereka semua hanya menggunakan talenta apa pun yang mereka punyai dan menunjukkan keterampilan apa pun yang mereka miliki. Orang-orang hanya menambahkan "iman kepada Tuhan", tiga kata ini, ke dalam kehidupan mereka yang biasa, tetapi tidak membuat perubahan pada watak mereka, dan iman mereka kepada Tuhan tidak tumbuh sedikit pun. Pengejaran mereka tidak panas atau dingin. Mereka tidak mengatakan bahwa mereka akan meninggalkan iman mereka, tetapi mereka juga tidak menguduskan semua untuk Tuhan. Mereka tidak pernah benar-benar mengasihi Tuhan atau tunduk kepada-Nya. Iman mereka kepada Tuhan adalah campuran dari yang asli dan yang palsu, mereka mendekatinya dengan satu mata terbuka dan satu mata tertutup, dan tidak bersungguh-sungguh dalam mengamalkan iman mereka. Mereka terus berada dalam keadaan kebingungan, dan akhirnya mati dalam keadaan bingung. Apa gunanya semua itu? Hari ini, untuk percaya kepada Tuhan yang praktis, engkau harus menginjakkan kaki di jalan yang benar. Jika engkau percaya kepada Tuhan, engkau tidak semestinya hanya mencari berkat, tetapi berusahalah mengasihi dan mengenal Tuhan. Melalui pencerahan-Nya, melalui pencarian pribadimu sendiri, engkau dapat makan dan minum firman-Nya, mengembangkan pemahaman sejati akan Tuhan, dan memiliki kasih sejati akan Tuhan yang bersumber dari hatimu yang paling dalam. Dengan kata lain, ketika kasihmu kepada Tuhan paling tulus, dan tidak ada yang bisa menghancurkan atau menghalangi kasihmu kepada-Nya, saat inilah engkau berada di jalan yang benar dalam kepercayaanmu kepada Tuhan. Ini membuktikan bahwa engkau adalah milik Tuhan, karena hatimu sudah menjadi milik Tuhan dan tidak ada hal lain yang bisa memilikimu. Melalui pengalamanmu, melalui harga yang telah kaubayar, dan melalui pekerjaan Tuhan, engkau dapat mengembangkan kasih kepada Tuhan tanpa diminta—dan ketika engkau melakukannya, engkau akan menjadi bebas dari pengaruh Iblis dan akan hidup dalam terang firman Tuhan. Hanya ketika engkau telah terbebas dari pengaruh kegelapan, barulah dapat dikatakan engkau telah memperoleh Tuhan. Dalam imanmu kepada Tuhan, engkau harus berusaha mencari tujuan ini. Ini adalah tugasmu masing-masing. Tak satu pun darimu yang boleh puas dengan keadaan saat ini. Pemikiranmu tidak boleh bercabang terhadap pekerjaan Tuhan, maupun menganggapnya enteng. Engkau harus memikirkan Tuhan dalam segala hal dan setiap saat, dan melakukan semua hal demi Dia. Dan setiap kali engkau berbicara atau bertindak, engkau harus mengutamakan kepentingan rumah Tuhan. Hanya dengan demikian, engkau dapat sejalan dengan maksud-maksud Tuhan.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Engkau Harus Hidup untuk Kebenaran karena Engkau Percaya kepada Tuhan"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 394
Dalam iman mereka kepada Tuhan, kesalahan terbesar orang adalah mereka hanya percaya di bibir saja, dan Tuhan sama sekali tidak ada dalam kehidupan sehari-hari mereka. Semua orang memang percaya akan keberadaan Tuhan, tetapi Tuhan bukanlah bagian dari kehidupan mereka sehari-hari. Mulut manusia mengucapkan banyak doa kepada Tuhan, tetapi Tuhan hanya memiliki sedikit tempat di hati mereka, dan karenanya, Tuhan menguji mereka lagi dan lagi. Itu karena manusia tidak suci, sehingga Tuhan tidak memiliki pilihan selain menguji mereka, sehingga mereka bisa merasa malu dan mengenal diri mereka sendiri di tengah-tengah ujian ini. Jika tidak, umat manusia akan berubah menjadi keturunan penghulu malaikat, dan menjadi semakin rusak. Dalam proses iman mereka kepada Tuhan, setiap orang membuang banyak niat dan tujuan pribadi mereka di dalam penahiran tanpa henti dari Tuhan. Jika tidak, Tuhan tidak mungkin dapat menggunakan siapa pun, dan tidak mungkin melakukan pekerjaan yang seharusnya Dia lakukan dalam diri manusia. Pertama-tama, Tuhan menahirkan manusia, dan melalui proses ini, mereka dapat mengenal diri mereka sendiri dan Tuhan dapat mengubah mereka. Hanya pada saat itulah, Tuhan mengerjakan hidup-Nya di dalam diri mereka, dan hanya dengan demikian, hati mereka dapat sepenuhnya berbalik kepada Tuhan. Jadi, Kukatakan, percaya kepada Tuhan tidak sesederhana yang dikatakan orang. Dalam pandangan Tuhan, jika engkau hanya memiliki pengetahuan, tetapi tidak memiliki firman-Nya sebagai hidup, dan jika engkau hanya terbatas pada pengetahuanmu sendiri, tetapi tidak dapat melakukan kebenaran atau hidup dalam firman Tuhan, ini masih membuktikan bahwa engkau tidak memiliki hati yang mengasihi Tuhan, dan itu menunjukkan bahwa hatimu bukan milik Tuhan. Seseorang dapat mengenal Tuhan dengan percaya kepada-Nya: ini adalah tujuan akhir, dan tujuan pengejaran manusia. Engkau harus berusaha hidup dalam firman Tuhan sehingga firman itu membuahkan hasil dalam penerapanmu. Jika engkau hanya memiliki pengetahuan doktrinal, imanmu kepada Tuhan akan sia-sia. Hanya bila engkau juga melakukan penerapan dan hidup dalam firman-Nya, barulah imanmu dapat dianggap utuh dan sesuai dengan maksud-maksud Tuhan. Di jalan ini, banyak orang mampu menyampaikan banyak pemahaman, tetapi saat menjelang ajal, mata mereka penuh dengan air mata, dan mereka membenci diri mereka sendiri karena telah menyia-nyiakan seluruh hidup mereka dan menjalani hidup hingga lanjut usia dalam kesia-siaan. Mereka hanya memahami doktrin, tetapi tidak mampu menerapkan kebenaran atau memberi kesaksian bagi Tuhan; Mereka hanya berlari ke sana kemari di permukaan, sibuk seperti lebah, dan hanya di ambang kematian mereka akhirnya sadar bahwa mereka tidak memiliki kesaksian yang benar, bahwa mereka sama sekali tidak mengenal Tuhan. Bukankah ini sudah terlambat? Mengapa engkau tidak memanfaatkan hari ini dan mengejar kebenaran yang kaukasihi? Mengapa menunggu hingga esok hari? Jika semasa hidupmu, engkau tidak menderita demi kebenaran atau berusaha memperolehnya, mungkinkah engkau ingin merasa menyesal saat menjelang kematianmu? Jika demikian, mengapa percaya kepada Tuhan? Sebenarnya, dalam banyak hal, jika manusia berusaha sedikit saja, mereka dapat menerapkan kebenaran dan memuaskan Tuhan. Hanya saja, karena pikiran manusia selalu dibutakan, mereka menjadi tak mampu bertindak demi Tuhan, dan selalu sibuk berlari ke sana kemari demi daging mereka, tanpa mencapai apa pun pada akhirnya. Karena alasan ini, orang terus-menerus dilanda masalah dan kesulitan. Bukankah ini siksaan Iblis? Bukankah ini kerusakan daging? Jangan coba-coba menipu Tuhan dengan omong kosongmu. Sebaliknya, engkau harus bertindak nyata. Jangan menipu dirimu sendiri—apa gunanya melakukan hal itu? Apa yang bisa kauperoleh dengan hidup demi dagingmu dan berjuang demi ketenaran dan keuntungan?
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Engkau Harus Hidup untuk Kebenaran karena Engkau Percaya kepada Tuhan"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 395
Sekarang, engkau semua harus berusaha keras untuk menjadi umat Tuhan, dan akan mulai sepenuhnya masuk ke jalur yang benar. Menjadi umat Tuhan berarti masuk ke dalam Zaman Kerajaan. Sekarang ini, engkau semua secara resmi mulai masuk ke dalam pelatihan dari kerajaan, dan kehidupan masa depanmu tidak akan lagi kendur dan ceroboh seperti sebelumnya; kehidupan seperti itu tidak dapat memenuhi standar yang dituntut oleh Tuhan. Jika engkau tidak merasakan sedikit pun perasaan terdesak, ini menunjukkan bahwa engkau tidak punya keinginan untuk membenahi dirimu sendiri, bahwa pengejaranmu itu kacau dan bingung, dan engkau tidak mampu untuk memenuhi maksud Tuhan. Masuk ke dalam pelatihan kerajaan berarti mengawali kehidupan sebagai umat Tuhan—maukah engkau menerima pelatihan seperti itu? Maukah engkau memiliki suatu perasaan keterdesakan? Maukah engkau hidup dalam pendisiplinan Tuhan? Maukah engkau hidup dalam hajaran Tuhan? Ketika firman Tuhan datang kepadamu dan mengujimu, bagaimana engkau akan bertindak? Dan, apa yang akan engkau lakukan ketika diperhadapkan dengan segala macam fakta? Di masa lalu, pusat perhatianmu bukan pada kehidupan; sekarang ini, engkau harus berfokus untuk masuk ke dalam kenyataan hidup, dan mengejar perubahan dalam watak hidupmu. Inilah yang harus dicapai oleh umat kerajaan. Semua orang yang merupakan umat Tuhan harus memiliki hidup, mereka harus menerima pelatihan kerajaan, dan mengejar perubahan dalam watak hidupnya. Inilah yang dituntut Tuhan dari umat kerajaan.
Tuntutan Tuhan terhadap umat kerajaan adalah sebagai berikut:
1. Mereka harus menerima amanat Tuhan. Ini berarti, mereka harus menerima semua firman yang diucapkan dalam pekerjaan Tuhan pada akhir zaman.
2. Mereka harus masuk ke dalam pelatihan dari kerajaan.
3. Mereka harus berusaha keras agar hati mereka dijamah oleh Tuhan. Ketika hatimu telah berpaling sepenuhnya kepada Tuhan dan engkau telah memiliki kehidupan rohani yang normal, engkau akan hidup dalam alam kebebasan, yang berarti engkau akan hidup di bawah pemeliharaan dan perlindungan kasih Tuhan. Hanya ketika engkau hidup di bawah pemeliharaan dan perlindungan Tuhan-lah, engkau akan menjadi milik Tuhan.
4. Mereka harus didapatkan oleh Tuhan.
5. Mereka harus menjadi perwujudan kemuliaan Tuhan di muka bumi.
Kelima poin ini merupakan amanat-Ku bagi engkau semua. Firman-Ku disampaikan kepada umat Tuhan, dan jika engkau tidak mau menerima amanat ini, Aku tidak akan memaksamu—tetapi jika engkau benar-benar menerimanya, engkau akan dapat mengikuti kehendak Tuhan. Sekarang ini, engkau semua mulai menerima amanat Tuhan, dan berusaha keras untuk menjadi umat kerajaan, dan mencapai standar yang dituntut untuk menjadi umat kerajaan. Inilah langkah pertama untuk masuk. Jika engkau ingin mengikuti kehendak Tuhan sepenuhnya, engkau harus menerima kelima amanat ini, dan jika engkau mampu mencapainya, engkau akan sejalan dengan maksud Tuhan, dan Tuhan pasti akan sangat memakai dirimu. Apa yang paling penting sekarang ini ialah masuk ke dalam pelatihan kerajaan. Masuk ke dalam pelatihan kerajaan melibatkan kehidupan rohani. Sebelumnya, tidak ada pembicaraan tentang kehidupan rohani, tetapi sekarang, pada saat engkau mulai masuk ke dalam pelatihan dari kerajaan, engkau secara resmi masuk ke dalam kehidupan rohani.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Kenalilah Pekerjaan Terbaru Tuhan dan Ikutilah Jejak Langkah-Nya"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 396
Kehidupan seperti apakah kehidupan rohani itu? Kehidupan rohani adalah kehidupan di mana hatimu telah berpaling sepenuhnya kepada Tuhan dan sanggup mengindahkan kasih Tuhan. Ini adalah kehidupan di mana engkau hidup dalam firman Tuhan, dan tidak ada hal lain yang menguasai hatimu, engkau mampu memahami maksud Tuhan pada zaman sekarang, dan dibimbing oleh cahaya Roh Kudus pada zaman sekarang untuk melaksanakan tugasmu. Kehidupan antara manusia dan Tuhan seperti itu adalah kehidupan rohani. Jika engkau tidak mampu mengikuti cahaya yang sekarang ini, berarti jarak telah terbuka dalam hubunganmu dengan Tuhan—bahkan hubungan itu mungkin telah putus—dan engkau tidak memiliki kehidupan rohani yang normal. Hubungan yang normal dengan Tuhan dibangun di atas fondasi penerimaan firman Tuhan zaman sekarang. Apakah engkau memiliki kehidupan rohani yang normal? Apakah engkau memiliki hubungan yang normal dengan Tuhan? Apakah engkau seseorang yang mengikuti pekerjaan Roh Kudus? Jika engkau dapat mengikuti cahaya Roh Kudus hari ini, dan dapat memahami maksud Tuhan di dalam firman-Nya, serta masuk ke dalam firman ini, maka engkaulah orang yang mengikuti aliran Roh Kudus. Jika engkau tidak mengikuti aliran Roh Kudus, tidak disangsikan lagi bahwa engkau adalah orang yang tidak mengejar kebenaran. Roh Kudus tidak mungkin bekerja di dalam diri orang yang tidak punya keinginan untuk memperbaiki dirinya, dan sebagai akibatnya, orang seperti itu tidak pernah dapat mengerahkan kekuatannya dan selalu negatif. Sekarang ini, apakah engkau mengikuti aliran Roh Kudus? Apakah engkau berada dalam aliran Roh Kudus? Sudahkah engkau keluar dari keadaanmu yang negatif? Semua orang yang percaya kepada firman Tuhan, yang menjadikan pekerjaan Tuhan sebagai fondasi, dan yang mengikuti cahaya Roh Kudus pada zaman sekarang—mereka semua berada dalam aliran Roh Kudus. Jika engkau percaya bahwa firman Tuhan sungguh benar dan tepat, dan jika engkau percaya akan firman Tuhan, apa pun yang Dia katakan, engkau adalah orang yang berusaha keras untuk masuk ke dalam pekerjaan Tuhan, dan dengan cara inilah engkau memenuhi maksud Tuhan.
Untuk masuk ke dalam aliran Roh Kudus, engkau harus memiliki hubungan yang normal dengan Tuhan, dan engkau harus terlebih dahulu melepaskan diri dari keadaanmu yang negatif. Beberapa orang selalu mengikuti mayoritas, dan hati mereka menyimpang terlalu jauh dari Tuhan; orang-orang seperti itu tidak memiliki hasrat untuk memperbaiki diri, dan standar yang mereka kejar terlampau rendah. Hanya upaya keras untuk mengasihi Tuhan, dan didapatkan oleh Tuhan-lah yang merupakan maksud Tuhan. Ada orang yang hanya menggunakan hati nurani mereka untuk membalas kasih Tuhan, tetapi ini tidak dapat memenuhi maksud Tuhan; makin tinggi standar yang kaukejar, makin itu selaras dengan maksud Tuhan. Sebagai seseorang yang normal dan yang mengejar kasih terhadap Tuhan, masuk ke dalam Kerajaan untuk menjadi salah seorang umat Tuhan adalah masa depanmu yang sejati, dan suatu kehidupan yang paling berharga dan bermakna; tak seorang pun lebih diberkati dari dirimu. Mengapa Kukatakan demikian? Sebab mereka yang tidak percaya kepada Tuhan hidup untuk daging, dan mereka hidup untuk Iblis, tetapi sekarang, engkau semua hidup untuk Tuhan, dan hidup untuk mengikuti kehendak Tuhan. Itu sebabnya Kukatakan bahwa hidup engkau semua adalah hidup yang paling bermakna. Hanya sekelompok orang ini, yang telah dipilih oleh Tuhan, yang dapat hidup dalam kehidupan yang paling bermakna: tidak ada orang lain di dunia ini yang dapat menjalani kehidupan yang sedemikian berharga dan bermakna. Karena engkau semua telah dipilih oleh Tuhan, telah ditinggikan oleh Tuhan, dan terlebih lagi, karena kasih Tuhan, engkau semua telah memahami kehidupan yang sejati, dan tahu bagaimana hidup dengan cara yang paling bernilai. Ini bukanlah karena engkau semua mengejar dengan baik, tetapi karena kasih karunia Tuhan; Tuhanlah yang membuka mata rohanimu, dan Roh Tuhanlah yang telah menjamah hatimu, memberimu keberuntungan untuk datang ke hadapan-Nya. Jika Roh Tuhan tidak mencerahkan dirimu, engkau semua tidak akan mampu melihat apa yang indah mengenai Tuhan, juga tidak mungkin bagimu untuk mengasihi Tuhan. Sepenuhnya karena Roh Tuhan telah menjamah hati manusia, sehingga hati mereka berbalik kepada Tuhan. Adakalanya, ketika engkau sedang menikmati firman Tuhan, rohmu terjamah dan engkau merasa bahwa, tidak dapat tidak, engkau harus mengasihi Tuhan, bahwa dalam dirimu ada kekuatan dahsyat, dan bahwa tidak ada apa pun yang tidak dapat engkau singkirkan. Jika engkau merasa seperti itu, engkau telah dijamah oleh Roh Tuhan, dan hatimu telah sepenuhnya berbalik kepada Tuhan, dan engkau akan berdoa kepada Tuhan dengan berkata: "Ya, Tuhan! Kami benar-benar telah Kautentukan dari semula dan Kaupilih. Kemuliaan-Mu memberiku kebanggaan, dan betapa mulia rasanya bagiku untuk menjadi salah seorang dari umat-Mu. Aku akan mengorbankan dan memberikan apa pun untuk mengikuti kehendak-Mu, dan akan mengabdikan seluruh tahun-tahunku, dan semua upaya seumur hidupku, bagi-Mu." Ketika engkau berdoa seperti ini, akan ada kasih tanpa akhir dan ketundukan sejati kepada Tuhan dalam hatimu. Pernahkah engkau memiliki pengalaman seperti ini? Jika orang sering dijamah oleh Roh Tuhan, mereka secara khusus bersedia mengabdikan diri kepada Tuhan dalam doa-doanya: "Ya, Tuhan! Aku ingin melihat hari kemuliaan-Mu dan aku ingin hidup bagi-Mu—tiada yang lebih berharga atau bermakna selain dari hidup bagi-Mu, dan tidak kupunyai sedikit pun keinginan untuk hidup bagi Iblis dan daging. Engkau meninggikan aku dengan memampukan aku untuk hidup bagi-Mu saat ini." Ketika engkau telah berdoa dengan cara ini, engkau akan merasa bahwa engkau, tidak dapat tidak, harus menyerahkan hatimu kepada Tuhan, bahwa engkau harus mendapatkan Tuhan, dan bahwa engkau tidak ingin mati tanpa mendapatkan Tuhan selagi engkau masih hidup. Setelah mengucapkan doa seperti itu, akan ada kekuatan yang tak terbatas dalam dirimu, tetapi engkau tidak akan tahu dari mana datang kekuatan itu; di dalam hatimu akan ada kekuatan tak terbatas, dan engkau akan memiliki suatu perasaan bahwa Tuhan itu begitu indah dan bahwa Dia patut dicintai. Pada saat inilah engkau telah dijamah oleh Tuhan. Semua orang yang memiliki pengalaman seperti itu telah dijamah oleh Tuhan. Bagi mereka yang kerap kali dijamah Tuhan, perubahan terjadi dalam hidupnya, mereka mampu membulatkan tekad mereka dan ingin untuk sepenuhnya mendapatkan Tuhan, hati mereka yang mengasihi Tuhan relatif kuat, dan hati mereka telah sepenuhnya berpaling kepada Tuhan. Mereka tidak mengindahkan keluarga, dunia, keterikatan, atau masa depan mereka, dan mereka rela mengabdikan upaya seumur hidup mereka bagi Tuhan. Semua orang yang telah dijamah oleh Roh Tuhan adalah orang-orang yang mengejar kebenaran dan yang mempunyai harapan untuk disempurnakan oleh Tuhan.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Kenalilah Pekerjaan Terbaru Tuhan dan Ikutilah Jejak Langkah-Nya"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 397
Yang paling penting dalam mengikuti Tuhan adalah bahwa segala sesuatu haruslah sesuai dengan firman Tuhan zaman sekarang: entah engkau sedang berusaha memiliki jalan masuk kehidupan, atau berusaha memenuhi maksud Tuhan, semuanya itu harus terpusat pada firman Tuhan zaman sekarang. Jika apa yang engkau persekutukan dan masuki tidak terpusat pada firman Tuhan zaman sekarang, berarti engkau adalah orang asing bagi firman Tuhan, dan sama sekali kehilangan pekerjaan Roh Kudus. Yang diinginkan Tuhan ialah orang-orang yang mengikuti jejak langkah-Nya. Sebagus dan semurni apa pun pemahamanmu sebelumnya, Tuhan tidak menginginkannya, dan jika engkau tidak mampu menyingkirkan hal-hal seperti itu, semua itu akan menjadi penghalang yang luar biasa untuk jalan masukmu di masa depan. Semua orang yang mampu mengikuti cahaya Roh Kudus saat ini, diberkati. Orang dari masa lalu juga mengikuti jejak langkah Tuhan, tetapi mereka tidak dapat mengikuti-Nya hingga sekarang ini; ini adalah berkat bagi orang-orang pada akhir zaman. Mereka yang dapat mengikuti pekerjaan Roh Kudus saat ini dan dapat mengikuti jejak langkah Tuhan, sampai sedemikian rupa hingga mereka mengikuti Tuhan ke mana pun Tuhan memimpin mereka—mereka inilah orang-orang yang diberkati Tuhan. Mereka yang tidak mengikuti pekerjaan Roh Kudus pada saat ini, mereka belum masuk ke dalam pekerjaan firman Tuhan, dan sebanyak apa pun mereka bekerja, atau sebesar apa pun penderitaan mereka, atau sebanyak apa pun mereka menyibukkan diri, tidak ada yang berarti bagi Tuhan, dan Tuhan tidak akan memperkenankan mereka. Sekarang ini, semua orang yang mengikuti firman Tuhan zaman sekarang berada dalam aliran Roh Kudus; mereka yang tidak mengenal firman Tuhan zaman sekarang, berada di luar aliran Roh Kudus, dan orang-orang seperti itu tidak diperkenan oleh Tuhan. Pelayanan yang terpisah dari perkataan Roh Kudus pada masa sekarang adalah pelayanan yang berasal dari daging dan gagasan manusia, dan pelayanan itu tidak mungkin selaras dengan maksud Tuhan. Jika orang hidup di tengah gagasan keagamaan, mereka tidak dapat melakukan apa pun yang sejalan dengan maksud Tuhan dan meskipun melayani Tuhan, mereka melayani di tengah-tengah imajinasi dan gagasan mereka dan sama sekali tidak dapat melayani sesuai dengan maksud Tuhan. Mereka yang tidak dapat mengikuti pekerjaan Roh Kudus tidak memahami maksud Tuhan, dan mereka yang tidak memahami maksud Tuhan tidak dapat melayani Tuhan. Tuhan menghendaki pelayanan yang sejalan dengan maksud-Nya; Dia tidak menginginkan pelayanan yang berasal dari gagasan dan keinginan daging. Jika orang tidak mampu mengikuti langkah-langkah pekerjaan Roh Kudus, mereka hidup sesuai gagasan mereka. Pelayanan orang-orang seperti itu mengacaukan dan mengganggu, dan pelayanan seperti itu bertentangan dengan Tuhan. Dengan demikian, mereka yang tidak dapat mengikuti jejak langkah Tuhan tidak dapat melayani Tuhan; mereka yang tidak dapat mengikuti jejak langkah Tuhan tentu saja menentang Tuhan dan tidak dapat selaras dengan Tuhan. "Mengikuti pekerjaan Roh Kudus" berarti memahami maksud Tuhan pada zaman sekarang, dapat bertindak sesuai dengan tuntutan Tuhan di masa sekarang, dapat tunduk dan mengikuti Tuhan zaman sekarang, dan masuk sesuai dengan perkataan-perkataan terbaru dari Tuhan. Hanya orang seperti inilah yang mengikuti pekerjaan Roh Kudus dan berada dalam aliran Roh Kudus. Orang-orang seperti itu tidak hanya dapat menerima pujian dari Tuhan dan melihat Tuhan, tetapi mereka juga dapat mengetahui watak Tuhan dari pekerjaan Tuhan yang terbaru, dan dapat mengetahui gagasan serta pemberontakan manusia, serta natur dan hakikat manusia, dari pekerjaan-Nya yang terbaru; lebih jauh lagi, mereka dapat secara bertahap mengalami perubahan dalam watak mereka selama melakukan pelayanannya. Hanya orang-orang seperti ini yang dapat memperoleh Tuhan dan yang benar-benar menemukan jalan yang benar. Mereka yang disingkirkan oleh pekerjaan Roh Kudus adalah orang yang tidak dapat mengikuti pekerjaan Tuhan yang terbaru, dan yang memberontak terhadap pekerjaan Tuhan yang terbaru. Orang-orang seperti itu secara terbuka menentang Tuhan karena Tuhan telah melakukan pekerjaan baru, dan karena gambaran Tuhan tidak sama dengan gambaran yang ada di dalam gagasan mereka—sebagai hasilnya, mereka secara terbuka menentang Tuhan dan menghakimi Tuhan, sehingga akibatnya Tuhan membenci dan menolak mereka. Memiliki pengetahuan tentang pekerjaan Tuhan yang terbaru bukan hal mudah, tetapi jika orang memiliki kehendak untuk tunduk terhadap pekerjaan Tuhan dan mencari pekerjaan Tuhan, mereka akan memiliki kesempatan untuk melihat Tuhan dan mendapatkan bimbingan terbaru dari Roh Kudus. Mereka yang dengan sengaja menentang pekerjaan Tuhan tidak dapat menerima pencerahan Roh Kudus atau bimbingan Tuhan. Dengan demikian, entah orang dapat menerima pekerjaan Tuhan yang terbaru atau tidak, itu tergantung pada anugerah Tuhan, itu tergantung pada pengejaran mereka, dan itu tergantung pada niat mereka.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Kenalilah Pekerjaan Terbaru Tuhan dan Ikutilah Jejak Langkah-Nya"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 398
Semua orang yang mampu tunduk terhadap perkataan Roh Kudus pada masa sekarang, diberkati. Tidak peduli bagaimana keadaan mereka dahulu, atau bagaimana Roh Kudus dahulu bekerja di dalam diri mereka—mereka yang telah memperoleh pekerjaan Tuhan yang terbaru adalah yang paling diberkati, dan mereka yang tidak dapat mengikuti pekerjaan terbaru pada masa sekarang akan disingkirkan. Tuhan menginginkan mereka yang dapat menerima terang yang baru dan Dia menginginkan mereka yang menerima dan mengetahui pekerjaan-Nya yang terbaru. Mengapa dikatakan bahwa engkau harus menjadi perawan suci? Seorang perawan suci mampu mencari pekerjaan Roh Kudus dan memahami perkara baru, dan lebih dari itu, dia mampu mengesampingkan gagasan yang lama dan tunduk terhadap pekerjaan Tuhan pada zaman sekarang. Kelompok orang ini, yang menerima pekerjaan terbaru pada zaman sekarang, telah ditentukan oleh Tuhan sejak sebelum segala zaman dan mereka merupakan orang-orang yang paling diberkati. Engkau semua mendengar suara Tuhan secara langsung dan melihat penampakan Tuhan, dan dengan demikian, di seluruh langit dan bumi, serta di sepanjang zaman, tidak ada yang lebih diberkati selain daripadamu, selain daripada sekelompok orang ini. Semua ini karena pekerjaan Tuhan, karena predestinasi dan pemilihan Tuhan, dan karena kasih karunia Tuhan; jika Tuhan tidak berbicara dan mengucapkan firman-Nya, dapatkah keadaanmu seperti sekarang ini? Oleh karena itu, segala kemuliaan dan pujian hanya bagi Tuhan, sebab semua ini terjadi karena Tuhan meninggikan dirimu. Dengan semua hal ini dalam benakmu, mungkinkah engkau tetap negatif? Mungkinkah kekuatanmu tetap tidak dapat bangkit?
Bahwa sekarang ini engkau mampu menerima penghakiman, hajaran, pukulan, serta pemurnian dari firman Tuhan, dan terlebih lagi, mampu menerima amanat Tuhan, itu telah ditentukan dari semula oleh Tuhan sebelum segala zaman, dan dengan demikian engkau seharusnya tidak terlalu tertekan ketika dihajar. Tidak seorang pun dapat merampas pekerjaan yang telah dilakukan di dalam dirimu, dan berkat-berkat yang telah dianugerahkan kepadamu, dan tidak seorang pun dapat merampas segala sesuatu yang telah diberikan kepadamu. Orang agamawi tidak sebanding denganmu. Engkau semua tidak memiliki banyak pengetahuan tentang Alkitab dan tidak dilengkapi dengan doktrin rohani, tetapi karena Tuhan telah bekerja di dalam dirimu, engkau semua telah memperoleh lebih daripada siapa pun dari zaman ke zaman—dan ini adalah berkatmu yang paling besar. Karena itu, engkau semua bahkan harus lebih berdedikasi kepada Tuhan, bahkan harus lebih setia lagi kepada-Nya. Demi ditinggikan oleh Tuhan, engkau harus meningkatkan upayamu dan harus mempersiapkan tingkat pertumbuhanmu untuk menerima amanat dari Tuhan. Engkau harus berdiri teguh di tempat yang telah Tuhan berikan kepadamu, berusaha keras untuk menjadi salah seorang umat Tuhan, menerima pelatihan dari kerajaan, didapatkan oleh Tuhan, dan pada akhirnya menjadi kesaksian yang mulia bagi Tuhan. Apakah engkau memiliki tekad-tekad ini? Jika engkau memiliki tekad seperti itu, pada akhirnya engkau pasti didapatkan oleh Tuhan dan akan menjadi kesaksian yang mulia bagi Tuhan. Engkau harus memahami bahwa amanat yang utama adalah didapatkan oleh Tuhan dan menjadi kesaksian yang mulia bagi Tuhan. Ini adalah maksud Tuhan.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Kenalilah Pekerjaan Terbaru Tuhan dan Ikutilah Jejak Langkah-Nya"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 399
Perkataan Roh Kudus pada zaman sekarang merupakan dinamika pekerjaan Roh Kudus, dan pencerahan Roh Kudus dalam diri manusia secara berkesinambungan selama periode ini merupakan tren pekerjaan Roh Kudus. Lantas, tren apakah yang terdapat dalam pekerjaan Roh Kudus pada zaman sekarang? Tren tersebut adalah kepemimpinan orang-orang untuk masuk ke dalam pekerjaan Tuhan zaman sekarang, dan ke dalam kehidupan rohani yang normal. Ada beberapa langkah untuk masuk ke dalam kehidupan rohani yang normal:
1. Pertama, engkau harus mencurahkan hatimu ke dalam firman Tuhan. Engkau tidak boleh mengejar firman Tuhan pada masa lalu, dan tidak boleh mempelajari atau membandingkannya dengan firman Tuhan zaman sekarang. Sebaliknya, engkau harus mencurahkan segenap hatimu ke dalam firman Tuhan pada masa sekarang. Jika ada orang yang masih ingin membaca firman Tuhan, buku-buku rohani, atau tulisan lain berupa khotbah dari masa lalu, dan tidak mengikuti perkataan Roh Kudus pada zaman sekarang, mereka adalah orang yang paling bodoh; Tuhan membenci orang-orang seperti itu. Jika engkau bersedia menerima terang Roh Kudus sekarang ini, curahkanlah hatimu sepenuhnya ke dalam perkataan Tuhan pada zaman sekarang. Inilah hal pertama yang harus engkau capai.
2. Engkau harus berdoa berlandaskan firman yang diucapkan oleh Tuhan pada zaman sekarang, masuk ke dalam firman Tuhan dan bersekutu dengan Tuhan, dan menyatakan tekadmu di hadapan Tuhan, menetapkan standar apa yang ingin engkau capai.
3. Engkau harus mengejar jalan masuk yang lebih mendalam kepada kebenaran berlandaskan pekerjaan Roh Kudus pada zaman sekarang. Jangan berpegang pada perkataan dan teori usang dari masa lalu.
4. Engkau harus berusaha untuk dijamah oleh Roh Kudus dan masuk ke dalam firman Tuhan.
5. Engkau harus berusaha keras untuk masuk ke jalan yang ditempuh oleh Roh Kudus pada zaman sekarang.
Dan bagaimana caramu berusaha agar dijamah oleh Roh Kudus? Yang penting ialah hidup dalam firman Tuhan pada masa sekarang dan berdoa berdasarkan pada tuntutan Tuhan. Setelah berdoa dengan cara ini, Roh Kudus pasti akan menjamahmu. Jika engkau tidak mencari berdasarkan fondasi firman yang diucapkan oleh Tuhan pada zaman sekarang, itu tidak akan ada hasilnya. Engkau harus berdoa, dan berkata: "Ya, Tuhan! Aku telah menentang-Mu, dan aku sangat berutang kepada-Mu; aku sangat tidak tunduk, dan tidak pernah dapat memuaskan-Mu. Ya Tuhan, kumohon Engkau menyelamatkan aku, aku ingin berjerih payah untuk-Mu sampai akhir, aku rela mati demi Engkau. Hakimilah aku dan hajarlah aku, dan aku tidak akan mengeluh; aku telah menentang Engkau dan aku layak mati, sehingga semua orang dapat melihat watak-Mu yang benar dalam kematianku." Ketika engkau berdoa dari dalam hatimu dengan cara ini, Tuhan akan mendengarmu dan akan membimbingmu; jika engkau tidak berdoa berlandaskan firman yang Roh Kudus ucapkan pada zaman sekarang, tidak ada kemungkinan bagi Roh Kudus untuk menjamahmu. Jika engkau berdoa sesuai dengan maksud Tuhan dan sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan untuk kaulakukan sekarang ini, engkau akan berkata: "Ya, Tuhan! Aku ingin menerima amanat-Mu dan setia kepada amanat-Mu, dan aku bersedia mencurahkan seluruh hidupku demi kemuliaan-Mu, sehingga apa pun yang kulakukan dapat mencapai standar umat Tuhan. Biarlah hatiku dijamah oleh-Mu. Aku mohon agar Roh-Mu senantiasa mencerahkan aku, supaya semua yang kulakukan mempermalukan Iblis, sehingga aku pada akhirnya didapatkan oleh-Mu." Jika engkau berdoa seperti ini, dengan cara yang berpusat pada maksud Tuhan, Roh Kudus pasti akan bekerja di dalam dirimu. Tidak penting berapa banyak kata yang kauucapkan dalam doamu—yang terpenting ialah apakah engkau memahami maksud Tuhan atau tidak. Engkau semua mungkin pernah memiliki pengalaman berikut ini: Adakalanya, ketika berdoa dalam kebaktian, dinamika pekerjaan Roh Kudus mencapai puncaknya, menyebabkan kekuatan setiap orang bertambah. Beberapa orang menangis getir dan berlinang air mata ketika berdoa, diliputi penyesalan di hadapan Tuhan, dan beberapa orang menunjukkan ketetapan hatinya dan membuat ikrar. Seperti itulah dampak yang harus dicapai oleh pekerjaan Roh Kudus. Sekarang ini, sangat penting bahwa semua orang benar-benar mencurahkan hati mereka ke dalam firman Tuhan. Jangan pusatkan perhatianmu pada firman yang diucapkan sebelumnya; jika engkau masih berpegang pada apa yang datang sebelumnya, Roh Kudus tidak akan bekerja di dalam dirimu. Apakah engkau mengerti betapa pentingnya hal ini?
Apakah engkau semua mengetahui jalan yang ditempuh oleh Roh Kudus pada zaman sekarang? Beberapa pokok di atas adalah apa yang harus diselesaikan oleh Roh Kudus pada zaman sekarang dan di masa depan; hal-hal itu adalah jalan yang diambil oleh Roh Kudus, dan jalan masuk yang harus dikejar oleh manusia. Dalam jalan masuk kehidupanmu, setidak-tidaknya engkau harus mencurahkan hatimu ke dalam firman Tuhan dan dapat menerima penghakiman dan hajaran dari firman Tuhan; hatimu harus merindukan Tuhan, engkau harus mengejar lebih dalam lagi untuk masuk ke dalam kebenaran dan mencapai tujuan-tujuan yang dituntut oleh Tuhan. Ketika engkau memiliki kekuatan ini, ini menunjukkan bahwa engkau telah dijamah oleh Tuhan, dan hatimu mulai berpaling kepada Tuhan.
Langkah pertama untuk memiliki jalan masuk kehidupan adalah mencurahkan segenap hatimu ke dalam firman Tuhan, dan langkah kedua adalah menerima dirimu dijamah oleh Roh Kudus. Dampak apakah yang ingin dicapai dengan menerima dirimu dijamah oleh Roh Kudus? Agar dapat memiliki kerinduan, mencari, dan menggali kebenaran yang lebih dalam dan agar mampu bekerja sama dengan Tuhan dalam cara yang positif. Sekarang ini, engkau bekerja sama dengan Tuhan, yang berarti ada tujuan dalam pengejaranmu, dalam doa-doamu, dan dalam persekutuanmu perihal firman Tuhan, dan dalam engkau melakukan tugasmu sesuai dengan tuntutan Tuhan—hanya inilah yang artinya bekerja sama dengan Tuhan. Jika engkau hanya berbicara tentang membiarkan Tuhan bertindak, tetapi tidak mengambil tindakan apa pun, tidak berdoa, tidak mencari, dapatkah ini disebut kerja sama? Jika di dalam dirimu tidak terdapat sedikit pun kerja sama, dan engkau kehilangan pelatihan untuk jalan masuk yang memiliki tujuan tertentu, maka engkau tidak sedang bekerja sama. Beberapa orang berkata: "Segalanya bergantung pada predestinasi Tuhan, semuanya dilakukan oleh Tuhan itu sendiri; jika Tuhan tidak melakukannya, bagaimana mungkin manusia bisa melakukannya?" Pekerjaan Tuhan itu normal dan tidak sedikit pun supernatural, dan hanya melalui pencarianmu secara aktif, Roh Kudus bekerja, sebab Tuhan tidak memaksa manusia—engkau harus memberi Tuhan kesempatan untuk bekerja, dan jika engkau tidak mengejar ataupun masuk, jika tidak ada sedikit pun kerinduan dalam hatimu, Tuhan tidak memiliki kesempatan untuk bekerja. Dengan cara apakah engkau dapat berusaha untuk dirimu dijamah oleh Tuhan? Melalui doa dan semakin mendekat kepada Tuhan. Namun, yang paling penting, ingat, semua itu harus berlandaskan pada firman yang Tuhan ucapkan. Ketika engkau sering dijamah Tuhan, engkau tidak dikekang oleh daging: suami, istri, anak-anak, dan uang—mereka semua tidak dapat membatasimu, dan engkau semata-mata ingin mengejar kebenaran serta hidup di hadapan Tuhan. Pada saat inilah, engkau akan menjadi orang yang hidup dalam alam kebebasan.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Kenalilah Pekerjaan Terbaru Tuhan dan Ikutilah Jejak Langkah-Nya"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 400
Tuhan telah bertekad untuk melengkapi manusia, dan Terlepas dari perspektif mana pun Dia berfirman, semuanya demi menjadikan orang-orang sempurna. Firman yang diucapkan dari perspektif Roh sulit dipahami orang; mereka tidak memiliki sarana untuk menemukan jalan penerapan, karena kemampuan pemahaman mereka terbatas. Pekerjaan Tuhan mencapai dampak yang berbeda, dan dalam mengambil setiap langkah pekerjaan, Dia memiliki tujuan-Nya. Terlebih lagi, sangatlah penting bagi-Nya untuk berfirman dari berbagai perspektif yang berbeda, karena hanya dengan melakukannya, Dia dapat menyempurnakan manusia. Jika Dia hanya memperdengarkan suara-Nya dari sudut pandang Roh, tidak akan ada jalan untuk menyelesaikan tahap pekerjaan Tuhan ini. Dari nada suara-Nya ketika berbicara, engkau dapat mengerti bahwa Dia berketetapan untuk melengkapi sekelompok orang ini. Jadi, apa yang harus menjadi langkah pertama bagi setiap orang yang ingin dijadikan sempurna? Di atas segalanya, engkau harus mengenal pekerjaan Tuhan. Dewasa ini, suatu metode baru telah dimulai dalam pekerjaan Tuhan; zaman telah berubah, cara Tuhan bekerja pun telah berubah, dan metode yang Tuhan gunakan untuk berfirman berbeda. Saat ini, bukan hanya metode pekerjaan-Nya yang berubah, tetapi zaman juga berubah. Sekarang adalah Zaman Kerajaan. Sekarang juga adalah zaman mengasihi Tuhan. Ini adalah sebuah pendahuluan dari Zaman Kerajaan Seribu Tahun—yang juga merupakan Zaman Firman, dan yang di dalamnya Tuhan menggunakan banyak cara berbicara untuk menyempurnakan manusia, dan berbicara dari sudut pandang yang berbeda untuk membekali manusia. Pada saat memasuki Zaman Kerajaan Seribu Tahun, Tuhan akan mulai menggunakan firman untuk menyempurnakan manusia, memungkinkan manusia untuk memasuki kenyataan hidup dan memimpin mereka ke jalan yang benar. Setelah mengalami begitu banyak langkah pekerjaan Tuhan, manusia telah menyaksikan bahwa pekerjaan Tuhan tidak tetap sama, melainkan tanpa henti terus berkembang dan menjadi semakin dalam. Setelah manusia mengalaminya sedemikian lama, pekerjaan itu telah berulang kali berputar, dan terus-menerus berubah. Namun sebanyak apa pun perubahannya, itu tidak pernah menyimpang dari tujuan Tuhan untuk membawa keselamatan bagi manusia. Bahkan melalui sepuluh ribu perubahan pun, pekerjaan itu tidak pernah menyimpang dari tujuannya yang semula. Betapapun pekerjaan Tuhan dapat berubah, pekerjaan itu tidak pernah menyimpang dari kebenaran atau dari kehidupan. Berbagai perubahan metode dalam melakukan pekerjaan tersebut hanya melibatkan perubahan dalam format pekerjaan dan perspektif yang Tuhan gunakan untuk berfirman; tidak ada perubahan dalam tujuan utama pekerjaan Tuhan. Perubahan nada suara Tuhan dan metode kerja-Nya dibuat untuk mencapai suatu efek. Perubahan nada suara bukan berarti perubahan tujuan atau prinsip di balik pekerjaan itu. Orang percaya kepada Tuhan terutama demi mencari kehidupan; jika engkau percaya kepada Tuhan tetapi tidak mencari kehidupan atau mengejar kebenaran atau pengetahuan akan Tuhan, ini bukanlah kepercayaan kepada Tuhan! Apakah realistis untuk terus berupaya memasuki kerajaan demi menjadi raja? Mencapai kasih sejati bagi Tuhan melalui pencarian kehidupan—hanya inilah realitas; pengejaran dan penerapan kebenaran—semua ini adalah realitas. Dengan membaca firman Tuhan dan mengalami firman-Nya, engkau akan bisa memahami pengetahuan akan Tuhan di tengah-tengah pengalaman nyata, dan inilah yang dimaksud dengan sungguh-sungguh melakukan pengejaran.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Zaman Kerajaan adalah Zaman Firman"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 401
Sekarang adalah Zaman Kerajaan. Mengenai apakah engkau telah memasuki zaman yang baru ini atau belum, itu tergantung dari apakah engkau telah memasuki realitas firman Tuhan, apakah firman-Nya telah menjadi kenyataan hidupmu. Firman Tuhan diberitakan kepada setiap orang sehingga, pada akhirnya, semua orang akan hidup di dunia firman Tuhan dan firman-Nya akan mencerahkan dan menerangi tiap-tiap orang dari dalam batinnya. Jika, selama waktu ini, engkau ceroboh dalam membaca firman Tuhan, dan tidak tertarik dengan firman-Nya, hal itu menunjukkan bahwa ada kondisimu salah. Jika engkau tidak dapat memasuki Zaman Firman, Roh Kudus tidak bekerja dalam dirimu; jika engkau sudah memasuki zaman ini, Dia akan melakukan pekerjaan-Nya. Apa yang dapat engkau lakukan pada permulaan Zaman Firman ini untuk memperoleh pekerjaan Roh Kudus? Di zaman ini, dan di tengah-tengahmu, Tuhan akan menggenapkan kenyataan berikut ini: bahwa setiap orang akan hidup dalam firman Tuhan, akan dapat menerapkan kebenaran, dan akan mengasihi Tuhan dengan sungguh-sungguh; bahwa semua orang akan menggunakan firman Tuhan sebagai dasar dan kenyataan mereka, dan akan memiliki hati yang takut akan Tuhan; dan melalui menerapkan firman Tuhan, manusia kemudian akan menggunakan kekuasaan raja bersama-sama dengan Tuhan. Inilah pekerjaan yang akan dicapai oleh Tuhan. Bisakah engkau bertahan tanpa membaca firman Tuhan? Dewasa ini, ada banyak orang yang merasa bahwa mereka tidak tahan bahkan satu atau dua hari pun tanpa membaca firman Tuhan. Mereka harus membaca firman-Nya setiap hari, dan jika waktunya tidak memungkinkan, mendengarkannya akan cukup. Inilah perasaan yang Roh Kudus berikan kepada orang, dan inilah cara Dia mulai menggerakkan mereka. Artinya, Dia mengatur orang melalui firman sehingga mereka dapat masuk ke dalam realitas firman Tuhan. Jika, setelah satu hari saja tanpa makan dan minum firman Tuhan, engkau merasakan kegelapan dan kehausan, dan tidak tahan, ini menunjukkan bahwa engkau telah digerakkan oleh Roh Kudus, dan bahwa Dia tidak berpaling darimu. Maka, engkau adalah orang yang berada di aliran ini. Namun, jika setelah satu atau dua hari tanpa makan dan minum firman Tuhan, engkau tidak merasakan apa-apa, jika engkau tidak haus, dan sama sekali tidak tersentuh, ini menunjukkan bahwa Roh Kudus telah berpaling darimu. Maka, ini berarti ada sesuatu yang tidak beres dengan keadaan batiniahmu; engkau belum memasuki Zaman Firman, dan engkau adalah salah seorang yang sudah jauh tertinggal. Tuhan menggunakan firman untuk memerintah orang; engkau merasa baik jika makan dan minum firman Tuhan, dan jika tidak melakukannya, engkau tidak mempunyai jalan yang harus diikuti. Firman Tuhan menjadi makanan orang dan kekuatan yang menggerakkan mereka. Alkitab mengatakan bahwa "Manusia hidup bukan hanya dari roti, melainkan dari setiap firman yang keluar dari mulut Tuhan" (Matius 4:4). Dewasa ini, Tuhan akan menyelesaikan pekerjaan ini, dan Dia akan menggenapkan kenyataan ini di dalam engkau sekalian. Bagaimana mungkin di masa lampau orang bisa tahan berhari-hari tidak membaca firman Tuhan dan bisa makan dan bekerja seperti biasa, tetapi tidak demikian halnya sekarang? Di zaman ini, Tuhan terutama menggunakan firman untuk memerintah segalanya. Melalui firman Tuhan, manusia dihakimi dan disempurnakan, lalu akhirnya dibawa ke dalam kerajaan. Hanya firman Tuhan yang dapat membekali kehidupan manusia, dan hanya firman Tuhan yang dapat memberi terang kepada manusia memberi jalan penerapan kepada manusia, khususnya di Zaman Kerajaan. Selama engkau tidak menyimpang dari kenyataan firman Tuhan, makan dan minum firman-Nya setiap hari, Tuhan akan dapat menyempurnakanmu.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Zaman Kerajaan adalah Zaman Firman"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 402
Pengejaran kehidupan bukanlah sesuatu yang dapat diburu-buru; pertumbuhan kehidupan tidak terjadi hanya dalam waktu satu atau dua hari. Pekerjaan Tuhan itu normal dan praktis, dan ada proses yang harus dilalui. Butuh tiga puluh tiga setengah tahun bagi Yesus yang berinkarnasi untuk menyelesaikan pekerjaan penyaliban-Nya—apalagi menyucikan manusia dan mengubah kehidupan mereka, yang merupakan pekerjaan paling sulit! Bukan tugas yang mudah untuk membentuk manusia normal yang memanifestasikan Tuhan. Ini khususnya berlaku bagi orang-orang yang lahir di negeri si naga merah yang sangat besar, yang berkualitas buruk dan membutuhkan firman dan pekerjaan Tuhan selama jangka waktu panjang. Jadi jangan tidak sabar untuk melihat hasilnya. Engkau harus proaktif dalam makan dan minum firman Tuhan, dan mengerahkan upaya lebih besar pada firman Tuhan. Apabila engkau selesai membaca firman-Nya, engkau harus dapat menerapkannya dalam pengamalan sesungguhnya, bertumbuh dalam pengetahuan, wawasan, kebijaksanaan, dan hikmat dalam firman Tuhan. Melalui ini, engkau akan berubah tanpa menyadarinya. Jika engkau dapat menerapkan prinsip makan dan minum firman Tuhan, membacanya, mengenalnya, mengalaminya, dan melakukannya, engkau akan mencapai kedewasaan tanpa menyadarinya. Ada orang-orang yang mengatakan bahwa mereka tidak dapat melakukan firman Tuhan bahkan setelah membacanya. Mengapa engkau terburu-buru? Ketika engkau mencapai tingkat pertumbuhan tertentu, engkau akan dapat melakukan firman-Nya. Akankah seorang anak berusia empat atau lima tahun mengatakan bahwa dia tidak dapat menafkahi atau menghormati orang tuanya? Engkau harus mengenali sejauh mana tingkat pertumbuhanmu saat ini. Lakukan hal yang dapat engkau lakukan, dan hindari menjadi seseorang yang mengganggu pengelolaan Tuhan. Makan dan minum saja firman Tuhan, dan jadikanlah itu sebagai prinsipmu mulai sekarang. Sementara itu, jangan khawatir tentang apakah Tuhan dapat menjadi lengkap. Jangan dahulu menyelidikinya. Makan dan minum saja firman Tuhan ketika firman itu datang kepadamu, dan Tuhan pasti akan melengkapimu. Namun, ada suatu prinsip yang olehnya engkau harus makan dan minum firman-Nya. Jangan melakukannya secara membabi buta. Dalam makan dan minum firman Tuhan, di satu sisi, carilah firman yang harus engkau ketahui—yaitu yang terkait dengan penglihatan—dan di sisi lain, carilah firman yang harus engkau terapkan dalam kenyataan—yakni hal yang harus engkau masuki. Satu aspek berhubungan dengan pengetahuan, dan aspek lainnya dengan jalan masuk. Setelah engkau memahami keduanya—apabila engkau telah memahami hal yang harus engkau ketahui dan hal yang harus engkau lakukan—engkau akan mengetahui cara makan dan minum firman Tuhan.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Zaman Kerajaan adalah Zaman Firman"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 403
Sejak sekarang, pembicaraan tentang firman Tuhan haruslah menjadi prinsip dalam caramu berbicara. Biasanya, ketika engkau sekalian berkumpul, haruslah engkau terlibat dalam persekutuan tentang firman Tuhan, menelaah firman Tuhan sebagai inti interaksimu, membicarakan apa yang engkau ketahui tentang firman ini, bagaimana caramu mengamalkannya, dan bagaimana Roh Kudus bekerja. Selama engkau mempersekutukan firman Tuhan, Roh Kudus akan menerangimu. Untuk memperoleh dunia firman Tuhan, dibutuhkan kerja sama manusia. Jika engkau tidak memasuki hal ini, Tuhan tidak akan memiliki cara untuk bekerja; jika engkau tetap tutup mulut dan tidak bicara tentang firman-Nya, Dia tidak punya cara untuk menerangimu. Setiap kali engkau tidak sibuk, bicaralah tentang firman Tuhan, dan jangan mengobrol seperti orang kurang kerjaan! Biarlah hidupmu dipenuhi dengan firman Tuhan—baru kemudian engkau akan menjadi orang percaya yang taat. Tak masalah jika persekutuanmu dangkal. Tanpa kedangkalan, tidak akan ada kedalaman. Harus ada proses. Melalui pelatihanmu, engkau akan memahami penerangan Roh Kudus atas dirimu, dan bagaimana cara makan dan minum firman Tuhan secara efektif. Setelah selang waktu menyelidik, engkau akan masuk ke dalam realitas firman Tuhan. Hanya jika engkau bertekad untuk bekerja sama, engkau akan dapat menerima pekerjaan Roh Kudus.
Dalam prinsip-prinsip makan dan minum firman Tuhan, yang satu berhubungan dengan pengetahuan, dan yang lainnya tentang jalan masuk. Firman manakah yang harus engkau ketahui? Engkau harus mengetahui firman yang berhubungan dengan penglihatan (misalnya, yang berkaitan dengan zaman apa yang pekerjaan Tuhan masuki sekarang, hal apa yang hendak Tuhan capai sekarang, apa yang dimaksud dengan inkarnasi, dan sebagainya; semua ini berhubungan dengan penglihatan). Apa yang dimaksud dengan jalan yang harus dimasuki manusia? Ini mengacu pada firman Tuhan yang harus dilakukan dan dimasuki manusia. Hal tersebut di atas adalah dua aspek dari makan dan minum firman Tuhan. Mulai sekarang, makan dan minumlah firman Tuhan dengan cara ini. Jika engkau memiliki pemahaman yang jelas tentang firman-Nya mengenai penglihatan, tidak perlu lagi untuk terus membaca di sepanjang waktu. Yang paling penting adalah makan dan minum lebih banyak firman tentang jalan masuk, seperti bagaimana cara menujukan hatimu kepada Tuhan, bagaimana menenangkan hatimu di hadapan-Nya, dan bagaimana memberontak terhadap daging. Hal-hal inilah yang harus engkau lakukan. Tanpa mengetahui cara makan dan minum firman Tuhan, persekutuan yang benar adalah mustahil. Begitu engkau mengetahui cara makan dan minum firman-Nya, ketika engkau telah memahami apa yang menjadi kuncinya, persekutuan akan menjadi bebas, dan apa pun masalah yang timbul, engkau akan dapat bersekutu dan memahami realitas. Jika saat mempersekutukan tentang firman Tuhan engkau tidak memiliki realitas, berarti engkau belum memahami apa yang menjadi kuncinya, yang menunjukkan bahwa engkau tidak tahu bagaimana cara makan dan minum firman Tuhan. Beberapa orang mungkin merasa bahwa membaca firman Tuhan itu melelahkan, yang bukan merupakan keadaan normal. Hal yang normal adalah jangan pernah lelah membaca firman Tuhan, selalu merasa haus akan firman itu, dan selalu menyadari firman-Nya begitu menyenangkan. Inilah cara seseorang yang sungguh-sungguh telah masuk memakan dan meminum firman Tuhan. Ketika engkau merasa bahwa firman Tuhan sangat praktis dan persis yang harus dimasuki oleh manusia; apabila engkau merasa bahwa firman-Nya sangat berguna dan bermanfaat bagi manusia, bahwa firman adalah perbekalan kehidupan manusia—Roh Kuduslah yang memberikan perasaan ini kepadamu, dan Roh Kuduslah yang menggerakkanmu. Ini membuktikan bahwa Roh Kudus sedang bekerja dalam dirimu dan bahwa Tuhan tidak berpaling darimu. Beberapa orang, yang menganggap bahwa Tuhan selalu berbicara, menjadi lelah dengan firman-Nya, dan mengira bahwa tidak ada konsekuensinya apakah mereka membacanya atau tidak—yang bukanlah keadaan yang normal. Mereka tidak memiliki hati yang haus untuk memasuki realitas, dan orang-orang seperti itu tidak haus atau tidak mementingkan agar dapat disempurnakan. Setiap kali engkau merasa tidak haus akan firman Tuhan, ini menunjukkan bahwa engkau tidak berada dalam keadaan yang normal. Di masa lalu, apakah Tuhan telah berpaling darimu dapat ditentukan oleh apakah engkau merasa damai dalam batinmu, dan apakah engkau mengalami kenikmatan. Sekarang kuncinya adalah apakah engkau haus akan firman Tuhan, apakah firman-Nya adalah realitasmu, apakah engkau setia, dan apakah engkau mampu melakukan segala yang dapat engkau lakukan bagi Tuhan. Dengan kata lain, manusia dihakimi oleh realitas firman Tuhan. Tuhan mengarahkan firman-Nya kepada seluruh umat manusia. Jika engkau bersedia membacanya, Dia akan mencerahkanmu, tetapi jika tidak, Dia tidak akan melakukannya. Tuhan menerangi orang-orang yang lapar dan haus akan kebenaran, dan Dia mencerahkan mereka yang mencari Dia. Ada orang yang mengatakan bahwa Tuhan tidak menerangi mereka bahkan setelah mereka membaca firman-Nya. Tetapi dengan cara bagaimanakah engkau membaca firman ini? Jika engkau membaca firman-Nya layaknya orang yang memacu kudanya sambil mengamati bunga dan tidak mementingkan realitas, bagaimana mungkin Tuhan mencerahkanmu? Bagaimana mungkin seseorang yang tidak menghargai firman Tuhan disempurnakan oleh-Nya? Jika engkau tidak menghargai firman Tuhan, engkau tidak akan memiliki kebenaran ataupun realitas. Jika engkau menghargai firman-Nya, engkau akan dapat menerapkan kebenaran, dan hanya dengan demikian engkau akan memiliki realitas. Inilah sebabnya engkau harus makan dan minum firman Tuhan setiap saat, entah sibuk atau tidak, situasinya merugikan atau tidak, dan apakah engkau sedang diuji atau tidak. Secara keseluruhan, firman Tuhan adalah dasar dari keberadaan manusia. Tidak seorang pun bisa berpaling dari firman Tuhan, tetapi harus makan firman-Nya sebagaimana mereka makan tiga kali sehari. Mungkinkah disempurnakan dan didapatkan oleh Tuhan bisa sesederhana itu? Entah engkau mengerti atau tidak saat ini, dan apakah engkau memiliki wawasan ke dalam pekerjaan Tuhan ataukah tidak, engkau harus makan dan minum firman Tuhan sebanyak mungkin. Inilah yang dimaksud masuk dengan cara yang proaktif. Setelah membaca firman Tuhan, segeralah lakukan apa yang dapat engkau masuki, dan sisihkan untuk sementara waktu apa yang tidak dapat engkau lakukan. Mungkin ada banyak firman Tuhan yang tidak dapat engkau pahami pada awalnya, tetapi setelah dua atau tiga bulan, bahkan mungkin satu tahun, engkau akan memahaminya. Bagaimana ini bisa terjadi? Ini karena Tuhan tidak dapat menyempurnakan manusia dalam satu atau dua hari. Sering kali, ketika membaca firman-Nya, engkau mungkin tidak langsung mengerti. Saat itu, firman Tuhan tidak ubahnya seperti teks belaka; engkau harus mengalaminya beberapa waktu lamanya sebelum mampu memahaminya. Tuhan telah begitu banyak berfirman, engkau harus melakukan yang terbaik untuk makan dan minum firman-Nya, dan kemudian, tanpa kausadari, engkau akan menjadi paham, dan tanpa kausadari, Roh Kudus akan mencerahkanmu. Ketika Roh Kudus mencerahkan manusia, sering kali tanpa manusia menyadarinya. Dia mencerahkan dan membimbingmu apabila engkau haus dan mencari. Prinsip kerja Roh Kudus terpusat pada firman Tuhan yang engkau makan dan minum. Semua orang yang tidak mementingkan firman Tuhan dan selalu memiliki sikap yang berbeda terhadap firman-Nya—dengan pikiran keruh, mereka yakin bahwa tidak ada bedanya entah mereka membaca firman-Nya atau tidak—adalah mereka yang tidak memiliki realitas. Baik pekerjaan Roh Kudus maupun pencerahan-Nya tidak dapat dilihat pada orang semacam itu. Orang-orang seperti ini hanya berbuat ala kadarnya, penuh kepura-puraan tanpa kualifikasi sejati, seperti Tuan Nanguo dalam cerita kiasan.[a]
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Zaman Kerajaan adalah Zaman Firman"
Catatan kaki:
a. Naskah asli tidak mengandung frasa "cerita kiasan".
Firman Tuhan Harian: Kutipan 404
Saat firman Tuhan dinyatakan, engkau harus segera menerimanya, serta memakan dan meminumnya. Seberapa banyak pun yang engkau pahami, satu sudut pandang yang harus engkau pegang teguh adalah makan dan minum, mengenal, dan melakukan firman-Nya. Inilah sesuatu yang harus mampu engkau lakukan. Jangan pikirkan tentang seberapa hebat tingkat pertumbuhanmu; cukup berfokuslah pada makan dan minum firman-Nya. Inilah yang harus menjadi bentuk kerja sama manusia. Kehidupan rohanimu terutama adalah mencoba masuk ke dalam realitas dari makan dan minum firman Tuhan dan melakukannya. Bukan urusanmu untuk berfokus pada hal lain. Para pemimpin gereja hendaknya dapat membimbing semua saudara-saudari mereka sehingga mereka tahu cara makan dan minum firman Tuhan. Inilah tanggung jawab setiap pemimpin gereja. Baik muda ataupun tua, semua harus menganggap makan dan minum firman Tuhan sangatlah penting dan harus menyimpan firman-Nya di dalam hati mereka. Masuk ke dalam realitas ini berarti memasuki Zaman Kerajaan. Dewasa ini, kebanyakan orang merasa bahwa mereka tidak dapat hidup tanpa makan dan minum dari firman Tuhan, dan merasa bahwa firman-Nya selalu baru, terlepas dari waktu. Ini berarti bahwa mereka mulai mengarah pada jalur yang benar. Tuhan menggunakan firman untuk melakukan pekerjaan-Nya dan membekali manusia. Ketika setiap orang merindukan dan haus akan firman Tuhan, manusia akan memasuki dunia firman-Nya.
Tuhan telah banyak berfirman. Berapa banyak yang sudah kauketahui? Berapa banyak yang sudah engkau masuki? Jika seorang pemimpin gereja tidak membimbing saudara-saudari seimannya ke dalam realitas firman Tuhan, dia akan lalai dalam tugasnya dan gagal memenuhi tanggung jawabnya! Entah pemahamanmu itu mendalam atau dangkal, sampai sejauh mana pun pemahamanmu, engkau harus tahu bagaimana makan dan minum firman-Nya, engkau harus sangat memperhatikan firman-Nya, dan memahami pentingnya dan perlunya memakan dan meminumnya. Tuhan sudah demikian banyak berfirman, jika engkau tidak makan dan minum firman-Nya, atau berusaha mencari, atau melakukan firman-Nya, ini tidak dapat disebut percaya kepada Tuhan. Karena engkau percaya kepada Tuhan, engkau harus makan dan minum firman-Nya, mengalami firman-Nya, dan hidup dalam firman-Nya. Hanya ini yang bisa disebut percaya kepada Tuhan! Jika engkau mengatakan percaya kepada Tuhan dengan mulutmu tetapi tidak dapat menerapkan apa pun dari firman-Nya atau menghasilkan kenyataan apa pun, ini tidak bisa disebut percaya kepada Tuhan. Sebaliknya, itu hanya "ingin makan roti sampai kenyang". Hanya bicara tentang kesaksian yang sepele, hal-hal yang tidak berguna, dan persoalan yang dangkal, tanpa memiliki sedikit pun realitas: ini bukan merupakan kepercayaan kepada Tuhan, dan engkau sama sekali belum memahami cara yang benar untuk percaya kepada Tuhan. Mengapa engkau harus makan dan minum sebanyak mungkin firman Tuhan? Jika engkau tidak makan dan minum firman-Nya tetapi hanya berusaha naik ke surga, apakah itu disebut percaya kepada Tuhan? Apa langkah pertama yang harus dilakukan oleh orang yang percaya kepada Tuhan? Dengan jalan apakah Tuhan menyempurnakan manusia? Bisakah engkau disempurnakan tanpa makan dan minum firman Tuhan? Dapatkah engkau dianggap sebagai warga kerajaan tanpa firman Tuhan yang berfungsi sebagai realitasmu? Apa sebenarnya makna percaya kepada Tuhan? Orang-orang percaya di dalam Tuhan setidaknya harus berperilaku baik secara lahiriah; yang paling penting dari semuanya adalah memiliki firman Tuhan. Apa pun yang terjadi, engkau tidak pernah bisa berpaling dari firman-Nya. Mengenal Tuhan dan memenuhi maksud-maksud-Nya semua dicapai melalui firman-Nya. Di masa depan, setiap bangsa, denominasi, agama, dan sektor akan ditaklukkan melalui firman Tuhan. Tuhan akan berfirman secara langsung, dan semua orang akan memegang firman Tuhan dalam tangan mereka; dan dengan cara ini, umat manusia akan disempurnakan. Di dalam dan di luar, firman Tuhan meliputi seluruhnya: umat manusia akan mengucapkan firman Tuhan dengan mulut mereka, melakukan penerapan sesuai dengan firman Tuhan, dan menyimpan firman Tuhan di dalam batin mereka, tetap mendalami firman Tuhan baik secara batiniah maupun lahiriah. Dengan demikian, manusia akan disempurnakan. Mereka yang memenuhi maksud-maksud Tuhan dan mampu menjadi saksi bagi-Nya adalah orang-orang yang memiliki firman Tuhan sebagai realitas mereka.
Masuk ke dalam Zaman Firman—Zaman Kerajaan Seribu Tahun—adalah pekerjaan yang sedang digenapkan sekarang. Mulai sekarang, terapkanlah keterlibatan dalam persekutuan tentang firman Tuhan. Hanya dengan makan dan minum serta mengalami firman Tuhan, engkau akan sanggup hidup dalam firman Tuhan. Engkau harus menghasilkan beberapa pengalaman praktis agar dapat meyakinkan orang lain. Jika engkau tidak dapat hidup dalam realitas firman Tuhan, tidak seorang pun akan bisa diyakinkan! Semua orang yang dipakai Tuhan mampu hidup dalam realitas firman Tuhan. Jika engkau tidak bisa menghasilkan kenyataan ini dan menjadi kesaksian bagi Tuhan, ini menunjukkan bahwa Roh Kudus belum bekerja dalam dirimu, dan engkau belum disempurnakan. Inilah pentingnya firman Tuhan. Apakah engkau memiliki hati yang haus akan firman Tuhan? Mereka yang haus akan firman Tuhan berarti haus akan kebenaran, dan hanya orang-orang seperti inilah yang diberkati oleh Tuhan. Di masa mendatang, lebih banyak lagi firman yang akan Tuhan sampaikan kepada semua agama dan denominasi. Dia pertama kali berfirman dan memperdengarkan suara-Nya di antara engkau sekalian untuk melengkapimu sebelum lanjut berbicara dan memperdengarkan suara-Nya di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi untuk menaklukkan mereka. Melalui firman-Nya, semua orang akan dengan tulus dan sepenuhnya diyakinkan. Melalui firman Tuhan dan pewahyuan-Nya, watak manusia yang rusak menyusut, dia mendapatkan penampakan sebagai manusia, dan wataknya yang memberontak berkurang. Firman bekerja atas manusia dengan otoritas dan menaklukkan manusia di dalam terang Tuhan. Pekerjaan yang Tuhan lakukan di zaman sekarang, serta titik balik dari pekerjaan-Nya, semua dapat ditemukan dalam firman-Nya. Jika engkau tidak membaca firman-Nya, engkau tidak akan mengerti apa-apa. Melalui makan dan minum sendiri dari firman-Nya, dan melalui keterlibatan dalam persekutuan dengan saudara-saudari seiman serta berbagai pengalaman nyatamu, engkau akan mendapatkan pengenalan penuh akan firman Tuhan. Hanya saat itulah engkau akan bisa sungguh-sungguh hidup dalam realitasnya.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Zaman Kerajaan adalah Zaman Firman"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 405
Aku sebelumnya pernah berkata: "Semua orang yang berfokus pada melihat tanda dan mukjizat akan ditinggalkan; mereka bukanlah orang-orang yang akan disempurnakan." Aku sudah mengucapkan begitu banyak firman, tetapi manusia belum memiliki pengetahuan sedikit pun tentang pekerjaan ini, dan, setelah tiba di titik ini, manusia masih meminta tanda dan mukjizat. Apakah kepercayaanmu kepada Tuhan tak lain hanyalah pengejaran tanda dan mukjizat atau supaya mendapat kehidupan? Yesus juga mengucapkan banyak firman, dan beberapa di antaranya masih belum digenapi. Dapatkah engkau mengatakan bahwa Yesus bukan Tuhan? Tuhan bersaksi bahwa Dia adalah Kristus dan Anak Tuhan yang terkasih. Dapatkah engkau menyangkalnya? Zaman sekarang ini, Tuhan hanya menyampaikan firman, dan jika engkau tidak mengetahui ini secara menyeluruh, engkau tidak akan mampu berdiri teguh. Apakah engkau percaya kepada-Nya karena Dia adalah Tuhan, atau engkau percaya kepada-Nya berdasarkan apakah firman-Nya digenapi atau tidak? Apakah engkau percaya kepada tanda dan mukjizat, atau percaya kepada Tuhan? Zaman sekarang ini, Dia tidak menunjukkan tanda dan mukjizat—apakah Dia benar-benar Tuhan? Jika firman yang Dia ucapkan tidak digenapi, apakah Dia benar-benar Tuhan? Apakah esensi Tuhan ditentukan oleh apakah firman-Nya digenapi atau tidak? Mengapa ada beberapa orang yang selalu menunggu penggenapan firman Tuhan sebelum mereka percaya kepada-Nya? Bukankah ini berarti mereka tidak mengenal Dia? Semua orang yang memiliki pemahaman seperti itu adalah orang yang menyangkal Tuhan. Mereka menggunakan pemahaman untuk mengukur Tuhan; jika firman Tuhan digenapi, mereka percaya kepada Tuhan, dan jika tidak, mereka tidak percaya kepada-Nya; dan mereka selalu mengejar tanda dan mukjizat. Bukankah orang-orang ini adalah orang Farisi zaman modern? Yang menentukan engkau akan mampu tetap teguh atau tidak adalah apakah engkau mengenal Tuhan yang nyata atau tidak—ini sangat penting! Semakin besar realitas firman Tuhan dalam dirimu, semakin besar pengenalanmu akan kenyataan Tuhan, dan semakin engkau mampu berdiri teguh selama ujian. Semakin engkau berfokus untuk melihat tanda dan mukjizat; semakin engkau tidak mampu berdiri teguh, dan engkau akan jatuh di tengah ujian. Tanda dan mukjizat bukanlah dasar; hanya kenyataan Tuhan yang adalah kehidupan. Sebagian orang tidak tahu dampak yang akan dicapai oleh pekerjaan Tuhan. Mereka menghabiskan waktu dalam kebingungan, tidak mengejar pengenalan akan pekerjaan Tuhan. Tujuan pengejaran mereka hanya untuk membuat Tuhan memenuhi keinginan mereka, dan baru setelah itulah mereka akan serius dalam kepercayaan mereka. Mereka mengatakan bahwa mereka akan mengejar kehidupan jika firman Tuhan digenapi, tetapi jika tidak, tidak mungkin bagi mereka mengejar kehidupan. Manusia berpikir bahwa kepercayaan kepada Tuhan adalah pengejaran untuk melihat tanda dan mukjizat dan pengejaran naik ke surga dan ke tingkat yang ketiga dari surga. Tak satu pun dari mereka yang mengatakan bahwa kepercayaan mereka kepada Tuhan adalah pengejaran jalan masuk ke dalam realitas, pengejaran kehidupan, dan pengejaran agar didapatkan oleh Tuhan. Apakah nilai dari pengejaran semacam ini? Mereka yang tidak mengejar pengenalan akan Tuhan dan memuaskan Tuhan adalah orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan; mereka adalah orang yang menghujat Tuhan!
Sekarang apakah engkau semua memahami apa arti kepercayaan kepada Tuhan? Apakah kepercayaan kepada Tuhan berarti melihat tanda dan mukjizat? Apakah itu berarti naik ke surga? Percaya kepada Tuhan tidaklah mudah. Praktik-praktik agamawi semacam itu harus disingkirkan; mengejar kesembuhan orang sakit dan mengusir setan, berfokus pada tanda dan mukjizat, mendambakan lebih banyak kasih karunia, damai sejahtera dan sukacita, mengejar prospek dan kenyamanan daging—semua ini adalah praktik-praktik agamawi, dan praktik-praktik agamawi semacam itu merupakan jenis kepercayaan yang samar. Apa yang dimaksud dengan kepercayaan yang sejati kepada Tuhan sekarang ini? Itu adalah penerimaan terhadap firman Tuhan sebagai kenyataan hidupmu dan mengenal Tuhan dari firman-Nya untuk mencapai kasih sejati kepada-Nya. Lebih jelasnya: kepercayaan kepada Tuhan adalah agar engkau bisa tunduk kepada Tuhan, mengasihi-Nya, dan memenuhi tugas yang seharusnya dipenuhi oleh makhluk ciptaan. Inilah tujuan percaya kepada Tuhan. Engkau harus mencapai pengetahuan tentang keindahan Tuhan, tentang betapa Tuhan layak untuk dihormati, tentang bagaimana Tuhan melakukan pekerjaan keselamatan dalam diri semua makhluk ciptaan dan menyempurnakan mereka—inilah inti dari kepercayaanmu kepada Tuhan. Kepercayaan kepada Tuhan pada dasarnya adalah peralihan dari hidup dalam daging kepada hidup yang mengasihi Tuhan; dari hidup dalam kerusakan menjadi hidup dalam firman Tuhan; ini berarti keluar dari kuasa Iblis dan hidup di bawah pemeliharaan dan perlindungan Tuhan; ini berarti mampu mencapai ketundukan kepada Tuhan dan bukan ketundukan kepada daging; ini berarti mengizinkan Tuhan mendapatkan seluruh hatimu, mengizinkan Tuhan menyempurnakanmu, dan membebaskan dirimu sendiri dari watak jahat yang rusak. Kepercayaan kepada Tuhan pada prinsipnya adalah agar kuasa besar dan kemuliaan Tuhan termanifestasi dalam dirimu, sehingga engkau bisa mengikuti kehendak Tuhan, dan menyelesaikan rencana Tuhan, dan bisa menjadi kesaksian bagi Tuhan di hadapan Iblis. Kepercayaan kepada Tuhan seharusnya tidak berputar di sekitar keinginan untuk melihat tanda dan mukjizat, ataupun untuk kepentingan dagingmu sendiri. Kepercayaan itu seharusnya tentang pengejaran pengenalan akan Tuhan, dan mampu tunduk kepada Tuhan, dan sama seperti Petrus, tunduk kepada-Nya sampai mati. Inilah tujuan utama percaya kepada Tuhan. Orang makan dan minum firman Tuhan supaya mengenal Tuhan dan memuaskan Dia. Makan dan minum firman Tuhan memberimu pengenalan yang lebih besar tentang Tuhan, dan baru setelah itulah engkau mampu tunduk kepada-Nya. Dengan pengenalan akan Tuhan barulah engkau bisa mengasihi Dia, dan inilah tujuan yang manusia harus miliki dalam kepercayaannya kepada Tuhan. Jika, dalam kepercayaanmu kepada Tuhan, engkau selalu berusaha melihat tanda dan mukjizat, artinya cara pandang kepercayaan ini salah. Kepercayaan kepada Tuhan pada prinsipnya adalah penerimaan terhadap firman Tuhan sebagai kenyataan hidup. Tujuan Tuhan hanya dicapai dengan melakukan firman Tuhan yang keluar dari mulut-Nya dan melaksanakannya di dalam dirimu. Dalam memercayai Tuhan, manusia harus berjuang untuk disempurnakan oleh Tuhan, mampu tunduk kepada Tuhan, dan tunduk sepenuhnya kepada Tuhan. Jika engkau mampu tunduk kepada Tuhan tanpa keluhan, memperhatikan maksud Tuhan, mencapai tingkat pertumbuhan seperti Petrus, dan memiliki sikap Petrus yang dikatakan oleh Tuhan, itulah saatnya ketika engkau telah mencapai keberhasilan dalam kepercayaan kepada Tuhan, dan itu akan menandakan bahwa engkau telah didapatkan oleh Tuhan.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Segala Sesuatu Terlaksana oleh Firman Tuhan"