2. Memahami tujuan dari ketiga tahap pekerjaan pengelolaan Tuhan atas umat manusia
Firman Tuhan yang Relevan:
Seluruh rencana pengelolaan-Ku, rencana yang terbentang selama enam ribu tahun, terdiri dari tiga tahap atau tiga zaman: Zaman Hukum Taurat pada bagian awal; Zaman Kasih Karunia (yang juga merupakan Zaman Penebusan); dan Zaman Kerajaan pada akhir zaman. Pekerjaan-Ku di ketiga zaman ini berbeda dalam isinya sesuai masing-masing zaman, tetapi pada setiap tahap, pekerjaan ini dilakukan sesuai dengan kebutuhan manusia—atau lebih tepatnya, setiap tahap dilakukan sesuai dengan tipu muslihat yang Iblis gunakan dalam peperangan yang telah Kulancarkan melawan dirinya. Tujuannya adalah untuk mengalahkan Iblis, untuk menyingkapkan hikmat dan kemahakuasaan-Ku, untuk mengungkapkan semua tipu muslihat Iblis, dan dengan cara demikian menyelamatkan seluruh umat manusia yang hidup di bawah wilayah kekuasaan Iblis. Tujuan pekerjaan-Ku adalah untuk menunjukkan hikmat dan kemahakuasaan-Ku dan menyingkapkan kejahatan Iblis yang tak tertahankan; bahkan lebih dari itu, memungkinkan makhluk ciptaan untuk membedakan antara yang baik dan yang jahat, mengetahui bahwa Akulah Yang Berdaulat atas segala sesuatu, melihat dengan jelas bahwa Iblis adalah musuh manusia, yang hina dan jahat, dan untuk memungkinkan mereka mengetahui dengan kepastian mutlak, perbedaan antara kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan kekeliruan, antara kekudusan dan kenajisan, dan antara yang agung dan yang tidak mulia. Dengan demikian, manusia yang bebal akan jadi mampu memberikan kesaksian tentang Aku bahwa bukan Aku yang merusak manusia, dan bahwa hanya Aku—Sang Pencipta—yang dapat menyelamatkan manusia, dapat menganugerahkan kepada manusia hal-hal yang dapat mereka nikmati; dan mereka akan mengetahui bahwa Akulah Yang Berdaulat atas segala sesuatu dan Iblis hanyalah salah satu makhluk yang Aku ciptakan dan yang kemudian mengkhianati-Ku. Rencana pengelolaan-Ku selama enam ribu tahun terbagi menjadi tiga tahap, dan Aku bekerja dengan cara demikian untuk mencapai dampak, yakni memampukan makhluk ciptaan untuk menjadi saksi-Ku, memahami maksud-maksud-Ku, dan mengetahui bahwa Akulah kebenaran.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Fakta Sebenarnya di Balik Pekerjaan pada Zaman Penebusan"
Hari ini kita akan pertama-tama merangkum pemikiran, gagasan, dan setiap gerakan Tuhan sejak Dia menciptakan umat manusia. Kita akan memperhatikan pekerjaan apa yang telah dilakukan-Nya, mulai dari penciptaan dunia sampai dimulainya secara resmi Zaman Kasih Karunia. Setelah itu, kita bisa mengetahui mana sajakah dari pemikiran dan gagasan Tuhan yang tidak diketahui oleh manusia, dan dari situ kita dapat mengerti dengan jelas urutan rencana pengelolaan Tuhan, dan memahami secara menyeluruh konteks di mana Tuhan menciptakan pekerjaan pengelolaan-Nya, berikut sumber serta proses perkembangannya, dan juga dapat memahami secara menyeluruh hasil-hasil seperti apa yang Dia inginkan dari pekerjaan pengelolaan-Nya—yaitu, inti dan tujuan dari pekerjaan pengelolaan-Nya. Untuk memahami hal-hal tersebut kita perlu kembali ke suatu waktu yang hening dan tenang ketika belum ada manusia ...
Tuhan itu Sendiri Menciptakan Manusia Pertama
Ketika Tuhan bangun dari peristirahatan-Nya, pikiran pertama dalam benak-Nya adalah ini: menciptakan seorang yang hidup, seorang manusia yang nyata dan hidup—seseorang yang akan hidup bersama-Nya dan menjadi pendamping-Nya terus-menerus; orang ini dapat mendengarkan Dia, dan Tuhan dapat mencurahkan isi hati-Nya serta berbicara kepadanya. Lalu, untuk pertama kalinya, Tuhan meraup segenggam tanah dan menggunakannya untuk menciptakan manusia hidup pertama yang sesuai dengan gambaran yang Dia bayangkan dalam pikiran-Nya, dan kemudian Dia memberi nama kepada makhluk hidup ini—Adam. Begitu Tuhan memiliki seseorang yang hidup dan bernapas ini, bagaimanakah perasaan-Nya? Untuk pertama kalinya, Dia merasakan sukacita memiliki seseorang yang dikasihi, seorang pendamping. Dia juga merasakan untuk pertama kalinya tanggung jawab sebagai seorang ayah serta kekhawatiran yang menyertai tanggung jawab tersebut. Orang yang hidup dan bernapas ini membuat Tuhan merasakan kebahagiaan dan sukacita; Dia merasa terhibur untuk pertama kalinya. Inilah hal pertama yang Tuhan lakukan yang tidak dikerjakan oleh pikiran atau bahkan oleh firman-Nya, melainkan dikerjakan oleh tangan-Nya sendiri. Ketika makhluk semacam ini—seseorang yang hidup dan bernapas—berdiri di hadapan Tuhan, terbuat dari daging dan darah, memiliki tubuh dan bentuk, dan dapat bercakap-cakap dengan Tuhan, Dia merasakan semacam sukacita yang belum pernah Dia rasakan sebelumnya. Tuhan benar-benar merasakan tanggung jawab-Nya, dan makhluk hidup ini tidak hanya menarik hati-Nya, tetapi setiap langkah kecilnya juga menyentuh dan menghangatkan hati-Nya. Ketika makhluk hidup ini berdiri di hadapan Tuhan, inilah pertama kalinya Dia berpikir untuk mendapatkan lebih banyak orang-orang seperti ini. Inilah rangkaian peristiwa yang dimulai dari pemikiran pertama yang Tuhan pikirkan. Bagi Tuhan, semua peristiwa ini terjadi untuk pertama kalinya, tapi dalam peristiwa-peristiwa pertama ini, apa pun yang Dia rasakan pada saat itu—sukacita, tanggung jawab, kepedulian—tidak ada seorang pun yang kepadanya Dia dapat membagikan perasaan-perasaan ini. Dimulai dari saat itulah, Tuhan benar-benar merasakan kesepian dan kesedihan yang belum pernah Dia rasakan sebelumnya. Dia merasa bahwa manusia tidak dapat menerima ataupun memahami kasih dan kepedulian-Nya, ataupun maksud-maksud-Nya bagi manusia, sehingga Dia tetap merasakan kesedihan dan kepedihan di dalam hati-Nya. Walaupun Dia telah melakukan hal-hal ini bagi manusia, manusia tidak menyadarinya dan tidak memahaminya. Selain kebahagiaan, sukacita, dan penghiburan yang ditimbulkan manusia pada diri-Nya, segera untuk pertama kalinya Dia pun merasakan kesedihan dan kesepian. Inilah pikiran dan perasaan Tuhan pada waktu itu. Sementara Tuhan sedang melakukan semua hal ini, di dalam hati-Nya Dia mengalami, dari sukacita menjadi kesedihan dan dari kesedihan menjadi kepedihan, dan perasaan-perasaan ini bercampur dengan kecemasan. Satu-satunya yang ingin dilakukan-Nya adalah bergegas membuat orang ini, manusia ini, tahu apa isi hati-Nya dan mengerti apa maksud-Nya dengan lebih cepat. Kemudian, mereka dapat menjadi pengikut-Nya dan sepikiran dengan-Nya dan menjadi sesuai dengan maksud-Nya. Mereka tidak akan lagi hanya mendengarkan Tuhan berbicara dan tetap tak mampu berkata-kata; mereka tidak akan lagi tak tahu cara bergabung dengan Tuhan dalam pekerjaan-Nya; dan yang terutama, mereka tak akan lagi menjadi orang yang acuh tak acuh dengan tuntutan Tuhan. Hal-hal pertama yang Tuhan lakukan ini sangatlah berarti dan sangat bernilai bagi rencana pengelolaan-Nya, dan juga bagi umat manusia pada zaman sekarang.
Setelah menciptakan segala sesuatu dan umat manusia, Tuhan tidak beristirahat. Dia gelisah dan ingin segera melaksanakan pengelolaan-Nya, dan mendapatkan orang-orang yang sangat Dia kasihi di antara umat manusia.
—Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Pekerjaan Tuhan, Watak Tuhan, dan Tuhan itu Sendiri III"
Tuhan menganggap hal pengelolaan-Nya atas umat manusia, penyelamatan-Nya atas umat manusia ini, lebih penting daripada hal lain apa pun. Dia melakukan hal-hal ini bukan hanya dengan pikiran-Nya, dan bukan hanya dengan firman-Nya, dan Dia tentu saja tidak melakukannya secara sambil lalu—Dia melakukan hal-hal ini dengan maksud-Nya, dengan memiliki rencana, tujuan, dan standar. Dapat dilihat bahwa hal pekerjaan Tuhan menyelamatkan umat manusia ini memiliki makna yang sangat penting baik bagi Tuhan maupun bagi manusia. Betapa pun sulitnya pekerjaan itu, betapa pun besar rintangannya, betapa pun lemahnya manusia, atau betapa pun dalamnya pemberontakan umat manusia, tidak satu pun dari semua ini yang sulit bagi Tuhan. Tuhan terus menyibukkan diri-Nya, Dia mencurahkan segenap diri-Nya, dan Dia mengelola pekerjaan yang ingin Dia lakukan; Dia juga mengatur segala sesuatunya, dan Dia berdaulat atas semua orang yang di dalam dirinya Dia ingin bekerja dan atas semua pekerjaan yang ingin Dia lakukan—semua hal ini belum pernah dilakukan sebelumnya. Ini adalah pertama kalinya Tuhan menggunakan cara-cara ini dan membayar harga yang sebesar ini untuk melaksanakan proyek besar mengelola dan menyelamatkan umat manusia ini. Sementara Tuhan melaksanakan semua pekerjaan ini, sedikit demi sedikit, tanpa syarat apa pun, Dia mengungkapkan dan menyatakan kepada umat manusia, segenap diri-Nya, apa yang Dia miliki dan siapa Dia, hikmat dan kemahakuasaan-Nya, dan setiap aspek dari watak-Nya. Pengungkapan dan pernyataan dengan menggunakan cara ini belum pernah dilakukan sebelumnya. Jadi, di seluruh alam semesta, selain orang-orang yang bertujuan untuk Tuhan kelola dan selamatkan, tidak pernah ada lagi makhluk lain yang demikian dekat dengan Tuhan, yang memiliki hubungan sedemikian intim dengan-Nya. Di dalam hati-Nya, umat manusia yang ingin Dia kelola dan selamatkan adalah yang paling utama, dan Dia menghargai umat manusia ini lebih daripada semua hal lainnya. Meskipun Dia telah membayar harga yang sangat mahal demi mereka, dan meskipun Dia terus-menerus disakiti dan menghadapi pemberontakan mereka, Dia tidak pernah mengeluh atau menyesal, Dia tetap tidak meninggalkan mereka dan menyerah atas mereka, dan Dia terus melaksanakan pekerjaan-Nya tanpa henti. Ini karena Dia tahu bahwa cepat atau lambat, saatnya akan tiba ketika orang-orang akan terbangun oleh panggilan firman-Nya, tergerak oleh firman-Nya, menyadari bahwa Dia adalah Sang Pencipta, dan dengan demikian kembali ke sisi-Nya ...
—Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Pekerjaan Tuhan, Watak Tuhan, dan Tuhan itu Sendiri III"
Apa pun yang Tuhan lakukan atau cara Dia melakukannya, berapa pun harga yang harus dibayar, apa pun sasaran-Nya, tujuan dari tindakan-Nya tidak berubah. Tujuan-Nya adalah untuk memasukkan firman Tuhan, serta tuntutan dan maksud Tuhan bagi manusia ke dalam diri manusia; dengan kata lain, tujuannya adalah untuk memasukkan semua yang Tuhan anggap positif ke dalam diri manusia sesuai dengan langkah-langkah-Nya, memampukan manusia untuk memahami hati Tuhan dan memahami esensi Tuhan, serta memungkinkan manusia untuk tunduk pada kedaulatan dan pengaturan Tuhan, dan dengan demikian memungkinkan manusia untuk mencapai takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan—semua ini merupakan salah satu aspek dari tujuan Tuhan dalam semua yang Dia lakukan. Aspek lainnya adalah bahwa, karena Iblis adalah kontras dan objek pelayanan dalam pekerjaan Tuhan, manusia sering diserahkan kepada Iblis; ini adalah sarana yang Tuhan gunakan untuk memungkinkan manusia melihat kejahatan, keburukan, dan kekejian Iblis dalam pencobaan dan serangan Iblis, sehingga menyebabkan manusia membenci Iblis dan mampu mengetahui dan mengenali apa yang negatif. Proses ini membuat mereka untuk secara berangsur-angsur membebaskan diri mereka sendiri dari kendali Iblis dan dari tuduhan, gangguan, dan serangan Iblis—sampai, karena firman Tuhan, pengenalan mereka akan Tuhan, ketundukan mereka kepada Tuhan, iman mereka kepada Tuhan, dan rasa takut mereka akan Tuhan, mereka menang atas serangan dan tuduhan Iblis; baru setelah itulah mereka akan benar-benar dibebaskan dari kuasa Iblis. Pembebasan manusia berarti bahwa Iblis telah dikalahkan, itu berarti bahwa mereka tidak lagi menjadi santapan di mulut Iblis—alih-alih menelan mereka, Iblis telah melepaskan mereka. Ini karena orang-orang semacam ini jujur, karena mereka memiliki iman, ketundukan, dan takut akan Tuhan, dan karena mereka sepenuhnya memutuskan hubungan dengan Iblis. Mereka mempermalukan Iblis, mereka membuat Iblis menjadi takut, dan mereka sepenuhnya mengalahkan Iblis. Iman mereka dalam mengikut Tuhan, dan ketundukan serta sikap mereka yang takut akan Tuhan mengalahkan Iblis, dan membuat Iblis melepaskan mereka sepenuhnya. Hanya orang-orang semacam inilah yang sudah benar-benar didapatkan oleh Tuhan, dan inilah yang merupakan tujuan akhir Tuhan dalam menyelamatkan manusia.
—Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Pekerjaan Tuhan, Watak Tuhan, dan Tuhan itu Sendiri II"
Seperti inilah pengelolaan Tuhan: menyerahkan manusia kepada Iblis—manusia yang tidak mengenal siapa Tuhan, siapa Sang Pencipta, bagaimana menyembah Tuhan, atau mengapa manusia harus tunduk kepada Tuhan—dan membiarkan Iblis merusak dirinya. Selangkah demi selangkah, Tuhan kemudian mengambil kembali manusia itu dari tangan Iblis, sampai manusia sepenuhnya menyembah Tuhan dan menolak Iblis. Inilah pengelolaan Tuhan. Ini mungkin terdengar seperti dongeng khayalan, dan ini mungkin tampak membingungkan. Orang merasa bahwa cerita ini seperti cerita khayalan karena mereka sama sekali tidak dapat membayangkan betapa banyaknya yang telah terjadi pada manusia selama beberapa ribu tahun terakhir, apalagi membayangkan betapa banyaknya kisah yang telah terjadi di alam semesta dan cakrawala. Dan selain itu, itu karena mereka tidak dapat memahami adanya dunia yang lebih mencengangkan dan menakutkan di luar dunia yang lahiriah, dunia yang tidak dapat dilihat oleh mata jasmani mereka. Perkara ini tampaknya tidak dapat dipahami oleh manusia karena manusia tidak memiliki pemahaman mengenai pentingnya pekerjaan penyelamatan Tuhan bagi umat manusia atau pentingnya pekerjaan pengelolaan-Nya, dan tidak memahami apa yang pada akhirnya Tuhan harapkan bagi umat manusia. Apakah untuk menjadi sama sekali tidak dirusak oleh Iblis, seperti Adam dan Hawa? Tidak! Tujuan pengelolaan Tuhan adalah untuk mendapatkan sekelompok orang yang menyembah Tuhan dan tunduk kepada-Nya. Meskipun orang-orang ini telah dirusak oleh Iblis, mereka tidak lagi memandang Iblis sebagai bapa mereka; mereka mengenali wajah Iblis yang menjijikkan dan menolaknya, dan mereka datang ke hadapan Tuhan untuk menerima penghakiman dan hajaran Tuhan. Mereka tahu perbedaan antara yang buruk dengan yang kudus, dan mengakui kebesaran Tuhan dan kejahatan Iblis. Umat manusia yang semacam ini tidak akan lagi melayani Iblis, atau menyembah Iblis, atau memuja Iblis. Hal itu karena merekalah sekelompok orang yang benar-benar telah didapatkan oleh Tuhan. Inilah makna penting pekerjaan Tuhan dalam mengelola umat manusia.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Lampiran 3: Manusia Hanya Dapat Diselamatkan di Tengah Pengelolaan Tuhan"
Tuhan menciptakan manusia, Dia menempatkan mereka di bumi dan telah membimbing mereka sejak saat itu, belakangan Dia menyelamatkan manusia dan menjadi korban penghapus dosa bagi manusia, dan pada akhirnya, Dia masih harus menaklukkan manusia, menyelamatkan mereka sepenuhnya, dan memulihkan keserupaan asli mereka. Inilah pekerjaan yang telah dilakukan-Nya sejak awal hingga akhir—memulihkan manusia kepada gambar dan keserupaan aslinya. Tuhan akan membangun kerajaan-Nya dan memulihkan keserupaan asli manusia, yang artinya Dia akan memulihkan otoritas-Nya di bumi dan di antara segala makhluk ciptaan. Manusia kehilangan hati mereka yang takut akan Tuhan serta fungsi yang seharusnya dimiliki oleh makhluk ciptaan setelah dirusak oleh Iblis, dengan demikian menjadi musuh yang memberontak terhadap-Nya. Manusia telah hidup di bawah wilayah kekuasaan Iblis dan takluk pada manipulasi Iblis; karenanya, Tuhan tidak mungkin bekerja di antara makhluk ciptaan-Nya, dan menjadi makin tidak dapat memperoleh rasa takut mereka. Manusia diciptakan oleh Tuhan dan harus menyembah-Nya, tetapi mereka sebenarnya berpaling dari-Nya dan malah menyembah Iblis. Iblis menjadi berhala di hati manusia. Dengan demikian, Tuhan kehilangan kedudukan-Nya di hati manusia, yang berarti makna di balik penciptaan-Nya atas manusia pun hilang. Oleh karena itu, untuk memulihkan makna di balik penciptaan-Nya atas umat manusia, Dia harus memulihkan keserupaan asli manusia dan membebaskan mereka dari watak rusaknya. Untuk merebut kembali manusia dari Iblis, Dia harus menyelamatkan manusia dari dosa. Hanya dengan cara inilah Tuhan secara berangsur-angsur dapat memulihkan keserupaan dan fungsi asli manusia, dan akhirnya memulihkan kerajaan-Nya. Pada akhirnya, pemusnahan total atas anak-anak pemberontak juga demi memungkinkan manusia menyembah Tuhan dan hidup di bumi dengan lebih baik. Karena Tuhan menciptakan manusia, Dia akan membuat mereka menyembah-Nya; karena Dia ingin memulihkan fungsi asli manusia, Dia akan memulihkannya sepenuhnya, tanpa percampuran apa pun. Memulihkan otoritas-Nya berarti membuat manusia menyembah-Nya dan tunduk kepada-Nya; ini berarti Dia akan membuat manusia hidup karena Dia dan membuat musuh-musuh-Nya binasa karena otoritas-Nya. Ini berarti Tuhan akan membuat segala sesuatu tentang diri-Nya terus ada di antara manusia tanpa penentangan dari siapa pun. Kerajaan yang ingin dibangun-Nya adalah kerajaan-Nya sendiri. Manusia yang diinginkan-Nya adalah yang menyembah-Nya, yang sepenuhnya tunduk kepada-Nya dan memiliki kemuliaan-Nya. Jika Tuhan tidak menyelamatkan manusia yang rusak, maka makna di balik penciptaan-Nya atas manusia akan hilang; Dia tidak akan memiliki otoritas lagi di antara manusia, dan kerajaan-Nya tidak akan ada lagi di bumi. Jika Tuhan tidak memusnahkan musuh-musuh yang memberontak kepada-Nya itu, Dia tidak akan dapat memperoleh kemuliaan-Nya yang sempurna, ataupun membangun kerajaan-Nya di muka bumi. Semua ini akan menjadi tanda penyelesaian pekerjaan-Nya dan pencapaian besar-Nya: untuk benar-benar memusnahkan orang-orang di antara manusia yang memberontak melawan-Nya, dan membawa mereka yang telah disempurnakan ke tempat perhentian. Saat manusia telah dipulihkan kepada keserupaan aslinya, dan saat mereka dapat melaksanakan tugasnya masing-masing, menjaga posisinya yang semestinya dan tunduk pada semua pengaturan Tuhan, Dia akan mendapatkan sekelompok orang di bumi yang menyembah-Nya, dan Dia juga akan membangun kerajaan di muka bumi yang menyembah-Nya. Dia akan meraih kemenangan kekal di atas bumi, dan mereka yang menentang-Nya akan binasa selamanya. Ini akan memulihkan maksud-Nya yang semula dalam menciptakan manusia; ini akan memulihkan tujuan-Nya dalam menciptakan segala sesuatu, dan ini juga akan memulihkan otoritas-Nya di bumi, di antara segala sesuatu, dan di antara musuh-musuh-Nya. Semua ini akan menjadi lambang kemenangan sempurna-Nya. Sejak saat itu, manusia akan masuk ke perhentian dan memulai kehidupan yang berada di jalur yang benar. Tuhan juga akan masuk ke perhentian kekal bersama manusia, dan masuk ke dalam kehidupan kekal bersama manusia. Kekotoran dan pemberontakan di muka bumi akan lenyap, dan semua ratapan akan lenyap, dan segala sesuatu di dunia ini yang menentang Tuhan akan lenyap. Hanya Tuhan dan orang-orang yang telah diselamatkan-Nya yang akan tetap hidup; hanya ciptaan-Nya yang akan tetap hidup.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Tuhan dan Manusia akan Masuk ke Tempat Perhentian Bersama-sama"
Tuhan telah menjalankan enam ribu tahun pekerjaan-Nya hingga hari ini, dan telah menyingkapkan banyak perbuatan-Nya, terutama dalam mengalahkan Iblis dan menyelamatkan seluruh umat manusia. Melalui kesempatan ini, Tuhan memungkinkan segala hal di surga, segala hal di bumi, segala hal yang ada di lautan, dan bahkan setiap makhluk di bumi tanpa terkecuali, untuk melihat kemahakuasaan-Nya dan seluruh perbuatan-Nya. Melalui kesempatan kemenangan-Nya atas Iblis, Dia menyingkapkan segenap perbuatan-Nya kepada manusia, agar mereka semua bisa memuji Dia dan memuliakan hikmat-Nya dalam mengalahkan Iblis. Segala hal di bumi, di surga, dan di dalam lautan membawa kemuliaan bagi Tuhan, memuji kemahakuasaan-Nya, memuji setiap perbuatan-Nya, dan menyerukan nama-Nya yang kudus. Inilah bukti kekalahan Iblis oleh-Nya; inilah bukti penaklukan-Nya atas Iblis. Terlebih lagi, inilah bukti penyelamatan-Nya atas manusia. Seluruh ciptaan Tuhan membawa kemuliaan bagi-Nya, memuji Dia karena mengalahkan musuh-Nya dan kembali dengan kemenangan, serta memuji Dia sebagai Raja pemenang yang agung. Tujuan-Nya bukan hanya untuk mengalahkan Iblis, inilah sebabnya pekerjaan-Nya telah berlanjut selama enam ribu tahun. Dia menggunakan kekalahan Iblis untuk menyelamatkan manusia; Dia menggunakan kekalahan Iblis untuk mengungkapkan seluruh perbuatan-Nya dan seluruh kemuliaan-Nya. Dia akan memperoleh kemuliaan, dan segenap malaikat akan menyaksikan segala kemuliaan-Nya. Para utusan di surga, manusia di bumi, dan seluruh ciptaan-Nya di bumi akan menyaksikan kemuliaan Sang Pencipta. Inilah pekerjaan yang Dia lakukan. Ciptaan-Nya di surga dan di bumi semuanya akan menyaksikan kemuliaan-Nya, dan Dia akan kembali dengan kemenangan setelah sepenuhnya mengalahkan Iblis, dan mengizinkan umat manusia memuji Dia, sehingga mencapai kemenangan ganda dalam pekerjaan-Nya. Pada akhirnya, seluruh umat manusia akan ditaklukkan oleh-Nya, dan Dia akan memusnahkan siapa saja yang menentang atau memberontak; dengan kata lain, Dia akan memusnahkan semua orang yang adalah milik Iblis.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Engkau Seharusnya Tahu Bagaimana Seluruh Umat Manusia Telah Berkembang Hingga Hari Ini"