Aplikasi Seluler mengenai Gereja Tuhan Yang Mahakuasa

Mendengarkan suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali!

Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia

Warna yang Kuat

Tema

Font

Ukuran Font

Spasi Baris

Lebar laman

% Hasil Pencarian

Hasil tidak ditemukan

Visi Pekerjaan Tuhan (3)

Penjelmaan Tuhan menjadi manusia yang pertama kalinya adalah saat Ia dikandung dari Roh Kudus. Penjelmaan ini berkaitan dengan pekerjaan yang ingin dilakukan-Nya. Nama Yesus menandai permulaan zaman baru, yakni Zaman Kasih Karunia. Ketika Yesus mulai melakukan pelayanan-Nya, Roh Kudus pun mulai bersaksi tentang nama Yesus, tetapi nama Yahweh tidak lagi dibicarakan; malahan, Roh Kudus melakukan pekerjaan baru, terutama dalam nama Yesus. Kesaksian mereka yang percaya kepada-Nya ditujukan kepada Yesus Kristus, dan demi Yesus Kristus pula pekerjaan mereka. Dengan berakhirnya Zaman Hukum Taurat Perjanjian Lama berarti bahwa pekerjaan yang dilakukan terutama atas nama Yahweh telah selesai. Sejak itu, nama Tuhan bukan lagi Yahweh, tetapi Ia disebut Yesus, dan dari sini Roh Kudus pun pada dasarnya memulai pekerjaan-Nya dalam nama Yesus. Jadi, engkau yang sekarang ini masih makan dan minum perkataan Yahweh dan masih melakukan semuanya sesuai dengan pekerjaan Zaman Hukum Taurat—bukankah engkau secara membabi buta mengikuti aturan-aturan belaka? Tidakkah engkau sedang terjebak dalam masa lalu? Engkau semua saat ini tahu bahwa akhir zaman telah tiba. Mungkinkah pada kedatangan-Nya nanti Dia masih akan disebut Yesus? Yahweh memberi tahu orang Israel bahwa Mesias akan datang, tetapi ketika Mesias itu datang, Dia tidak disebut Mesias, melainkan Yesus. Yesus berkata bahwa Dia akan kembali, dan bahwa Dia akan kembali dengan cara sebagaimana Dia telah pergi. Ini adalah perkataan Yesus sendiri, tetapi apakah engkau melihat bagaimana cara Yesus pergi? Yesus naik awan putih, tetapi mungkinkah Dia secara pribadi akan kembali di tengah-tengah manusia dengan awan putih itu juga? Kalau begitu, bukankah Dia akan tetap disebut Yesus? Ketika Yesus datang lagi, zaman sudah akan berubah, maka mungkinkah Dia tetap akan disebut Yesus? Apakah Tuhan dapat dikenali dengan nama Yesus saja? Tidak mungkinkah Dia disebut dengan nama yang baru pada zaman yang baru? Dapatkah gambar satu pribadi dan satu nama tertentu merepresentasikan Tuhan seutuhnya? Di setiap zaman, Tuhan melakukan pekerjaan baru dan disebut dengan nama baru; bagaimana mungkin Dia melakukan pekerjaan yang sama pada zaman yang berbeda? Bagaimana mungkin Dia melekat erat pada sesuatu yang lama? Nama Yesus dipakai demi pekerjaan penebusan, maka apakah Dia masih akan dipanggil dengan nama yang sama ketika Dia kembali pada akhir zaman? Apakah Dia akan tetap melakukan pekerjaan penebusan? Mengapa Yahweh dan Yesus adalah satu, tetapi dipanggil dengan nama yang berbeda pada zaman yang berbeda? Bukankah karena zaman pekerjaan Mereka berbeda? Mungkinkah satu nama merepresentasikan Tuhan seutuhnya? Jika demikian, Tuhan harus dipanggil dengan nama yang berbeda pada zaman yang berbeda, dan harus pula menggunakan nama tersebut untuk mengubah dan merepresentasikan zaman tersebut. Karena tiada satu nama pun yang dapat sepenuhnya merepresentasikan Tuhan dan setiap nama hanya dapat merepresentasikan aspek temporal dari watak Tuhan pada zaman tertentu, maka tiada lain kecuali nama-Nya mewakili pekerjaan-Nya. Oleh karena itu, Tuhan dapat memilih nama apa pun yang sesuai dengan watak-Nya untuk merepresentasikan seluruh zaman. Terlepas dari apakah suatu zaman merupakan zaman Yahweh atau zaman Yesus, masing-masing zaman direpresentasikan oleh sebuah nama. Pada akhir dari Zaman Kasih Karunia, zaman terakhir telah tiba dan Yesus telah datang. Bagaimana mungkin Dia masih disebut Yesus? Bagaimana mungkin Dia masih mengenakan bentuk tubuh Yesus di tengah-tengah manusia? Apakah engkau sudah lupa bahwa Yesus tidak lebih dari gambaran seorang Nazaret? Sudah lupakah engkau bahwa Yesus hanya Penebus umat manusia? Bagaimana mungkin Dia melakukan pekerjaan penaklukan dan penyempurnaan manusia di akhir zaman? Yesus naik suatu awan putih ketika pergi merupakan fakta, tetapi bagaimana mungkin Dia kembali ke tengah-tengah manusia dengan cara yang sama dan tetap disebut Yesus? Jikalau benar Dia sudah datang di atas awan, bagaimana mungkin manusia tidak mengenal-Nya? Bukankah semua orang di seluruh dunia akan mengenal-Nya? Dalam hal itu, bukankah hanya Yesus saja yang adalah Tuhan? Dalam hal itu, gambar Tuhan akan menjadi penampakan badani seorang Yahudi, dan terlebih lagi, akan serupa seperti itu untuk selamanya. Yesus berkata bahwa Dia akan datang sebagaimana Dia telah pergi, tetapi apakah engkau tahu betul makna perkataan-Nya yang sesungguhnya? Mungkinkah Dia telah mengatakan maknanya kepada kelompokmu ini? Engkau memang tahu bahwa Dia akan datang sebagaimana Dia telah pergi, yakni menaiki suatu awan, tetapi apakah engkau tahu persis bagaimana Tuhan itu sendiri melakukan pekerjaan-Nya? Jika engkau betul-betul dapat mengerti, bagaimana perkataan Yesus dijelaskan? Dia berkata, “Kapan Anak Manusia datang pada akhir zaman, Dia sendiri tidak tahu, para malaikat tidak, para utusan di surga tidak, apalagi manusia. Hanya Bapa sendiri, yaitu, hanya Roh yang tahu." Jika engkau dapat melihat dan mengetahui, bukankah perkataan tersebut tidak ada gunanya? Bahkan Anak Manusia sendiri pun tidak mengetahuinya, tetapi engkau malah dapat melihat dan mengetahuinya? Jika engkau telah melihat sendiri, bukankah sia-sia saja ucapan tersebut? Dan apa yang dikatakan Yesus saat itu? “Tetapi mengenai hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, tidak juga malaikat di surga, hanya Bapa-Ku yang di surga yang tahu. Tetapi sama seperti pada zaman Nuh, begitu juga saat kedatangan Anak Manusia. … Karena itu hendaklah engkau berjaga-jaga: sebab Anak Manusia akan datang pada waktu yang tidak engkau duga” Anak Manusia pun tidak tahu kapan hari itu tiba. Anak Manusia ini mengacu pada daging inkarnasi Tuhan, seorang manusia yang normal dan biasa. Orang ini sendiri pun tidak tahu, bagaimana mungkin engkau tahu? Yesus berkata bahwa Dia akan datang sebagaimana Dia telah pergi. Dapatkah Dia memberitahukanmu lebih dahulu tentang kapan Dia datang, padahal Dia sendiri pun tidak tahu? Apakah engkau mampu melihat kedatangan-Nya? Apakah ini bukan lelucon? Setiap kali datang ke bumi, Tuhan mengubah nama-Nya, gender-Nya, gambar-Nya, dan pekerjaan-Nya. Dia tidak mengulangi pekerjaan-Nya. Dia adalah Tuhan yang selalu baru dan tidak pernah tua. Ketika pertama kali datang, Dia dipanggil Yesus; dapatkah Dia tetap disebut Yesus apabila Dia datang lagi? Ketika pertama kali datang, Dia seorang laki-laki; mungkinkah ia menjadi laki-laki lagi kali ini? Pekerjaannya ketika Dia datang selama Zaman Kasih Karunia ialah untuk dipakukan pada kayu salib; ketika Dia datang lagi, mungkinkah Dia masih menebus umat manusia dari dosa? Mungkinkah Dia dipaku pada kayu salib lagi? Bukankah itu akan mengulangi pekerjaan-Nya? Tidak tahukah engkau bahwa Tuhan selalu baru dan tidak pernah tua? Ada orang yang mengatakan bahwa Tuhan itu tidak berubah. Memang benar, tetapi ini mengacu pada ketidakberubahan watak Tuhan dan hakikat-Nya. Perubahan nama dan pekerjaan-Nya tidak membuktikan bahwa hakikat-Nya berubah. Dengan kata lain, Tuhan selamanya adalah Tuhan dan tidak akan pernah berubah. Jika engkau mengatakan bahwa pekerjaan Tuhan tidak berubah, mungkinkah rencana pengelolaan enam ribu tahun-Nya akan dapat diselesaikan-Nya? Engkau sekadar tahu bahwa Tuhan selamanya tidak berubah, tetapi apakah engkau tahu bahwa Tuhan selalu baru dan tidak pernah tua? Jika pekerjaan Tuhan tidak berubah, dapatkah Dia memimpin umat manusia hingga ke masa sekarang? Jika Tuhan tidak berubah, lalu mengapa Dia telah melakukan pekerjaan dua zaman? Pekerjaan-Nya tidak pernah berhenti bergerak maju, dalam artian bahwa tahap demi tahap Ia menyingkapkan watak-Nya kepada manusia, dan yang Dia ungkapkan adalah watak inheren-Nya. Pada mulanya, watak Tuhan tersembunyi dari manusia. Dia tidak pernah secara terbuka menyingkapkan watak-Nya kepada manusia, dan manusia sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang Dia. Karena itu, Dia secara bertahap menggunakan pekerjaan-Nya untuk menyingkapkan watak-Nya kepada manusia, tetapi bekerja dengan cara ini tidak berarti bahwa watak Tuhan berubah di setiap zaman. Tidak dapat diartikan bahwa watak Tuhan terus berubah karena kehendak-Nya selalu berubah. Sebaliknya, karena zaman dari pekerjaan-Nya berbeda, maka Tuhan mengambil watak dasar-Nya secara menyeluruh dan secara bertahap disingkapkan-Nya kepada manusia sehingga manusia dapat mengenal-Nya. Akan tetapi, ini sama sekali tidak membuktikan bahwa Tuhan pada mulanya tidak memiliki watak tertentu atau bahwa watak-Nya telah berangsur-angsur berubah seiring berjalannya waktu—pemahaman seperti ini keliru adanya. Tuhan menyatakan kepada manusia watak dasar dan watak khusus-Nya, yakni siapa diri-Nya sesuai dengan berlalunya zaman. Pekerjaan satu zaman tidak dapat mengungkapkan seluruh watak Tuhan. Karena itu, firman "Tuhan selalu baru dan tidak pernah tua" merujuk pada pekerjaan-Nya, dan firman "Tuhan itu tidak berubah" merujuk pada apa yang dimiliki-Nya dan siapa Ia. Terlepas dari itu, engkau tidak dapat membuat pekerjaan enam ribu tahun bergantung pada satu titik, atau membatasinya dengan kata-kata mati. Hal seperti itu merupakan kebodohan manusia. Tuhan tidak sesederhana yang dibayangkan manusia dan pekerjaan-Nya tidak dapat tinggal dalam satu zaman saja. Yahweh, misalnya, tidak dapat selalu merepresentasikan nama Tuhan; Tuhan dapat pula melakukan pekerjaan-Nya dalam nama Yesus. Ini menandakan bahwa pekerjaan Tuhan selalu bergerak maju.

Tuhan tetaplah Tuhan dan tidak akan pernah menjadi Iblis; Iblis tetaplah Iblis dan tidak akan pernah menjadi Tuhan. Hikmat dan keagungan Tuhan, kebenaran dan kemegahan Tuhan tidak akan pernah berubah, termasuk esensi-Nya, apa yang dimiliki-Nya, dan siapa Ia. Tetapi, pekerjaan-Nya selalu bergerak maju, selalu lebih mendalam, karena Dia selalu baru dan tidak pernah tua. Tuhan mengenakan nama baru dan melakukan pekerjaan baru di setiap zaman. Demikian pula di setiap zaman Dia mengizinkan makhluk-Nya melihat kehendak-Nya yang baru dan watak-Nya yang baru. Jika di zaman baru orang gagal melihat pengungkapan watak Tuhan yang baru, apakah mereka tidak akan memakukan Dia pada kayu salib untuk selamanya? Kalau begitu, apakah mereka tidak pula mematok batasan tentang Tuhan? Jika Tuhan datang ke dunia hanya sebagai laki-laki, maka orang mendefinisikan Dia sebagai sebagai Tuhan atas laki-laki dan orang tidak akan pernah percaya bahwa Dia adalah Tuhan atas perempuan. Para lelaki lalu menganggap bahwa ada kesamaan antara mereka dan Tuhan, yakni sama-sama laki-laki, dan bahwa Tuhan adalah kepala para lelaki. Lalu, bagaimana dengan perempuan? Tidak adil; bukankah ini perlakuan istimewa bagi laki-laki? Kalau begini keadaannya, semua orang yang Tuhan selamatkan adalah laki-laki seperti diri-Nya, dan tidak seorang perempuan pun akan diselamatkan. Sewaktu menciptakan umat manusia, Tuhan menciptakan Adam dan Dia menciptakan Hawa. Dia menciptakan bukan hanya Adam, melainkan menjadikan laki-laki dan perempuan sesuai dengan gambar-Nya. Maka, Tuhan bukan hanya Tuhan atas laki-laki, melainkan juga Tuhan atas perempuan. Tuhan memasuki tahap pekerjaan baru di akhir zaman. Dia akan menyingkapkan lebih banyak lagi watak-Nya, tetapi bukan watak belas kasihan dan kasih sebagaimana pada zaman Yesus. Karena Dia mempunyai pekerjaan baru, maka pekerjaan baru ini akan disertai dengan watak baru. Jadi, seandainya pekerjaan ini dilakukan oleh Roh dan seandainya Tuhan tidak menjadi manusia, lalu Roh ini berbicara langsung melalui guntur sehingga tiada cara bagi manusia untuk berkomunikasi dengan-Nya, akankah manusia dapat mengetahui watak Tuhan? Seandainya Roh melakukan pekerjaan itu sendirian saja, tidak akan ada cara bagi manusia untuk mengetahui watak Tuhan. Orang hanya bisa melihat watak Tuhan dengan mata kepalanya sendiri kalau Dia menjadi manusia, kalau Firman itu menampakkan diri dalam daging dan Dia menyatakan seluruh watak-Nya melalui daging. Tuhan benar-benar dan sungguh-sungguh hidup di antara manusia. Dia nyata. Manusia dapat terlibat dengan watak-Nya, dengan apa yang dimiliki-Nya dan siapa diri-Nya. Hanya dengan cara ini, manusia dapat benar-benar mengenal Dia. Pada saat yang sama, Tuhan juga telah merampungkan pekerjaan-Nya sebagai “Tuhan adalah Tuhan atas laki-laki dan Tuhan atas perempuan,” dan menyelesaikan seluruh pekerjaan-Nya dalam daging. Dia tidak akan melakukan pekerjaan yang sama di zaman mana pun. Karena akhir zaman telah tiba, Dia akan melakukan pekerjaan akhir zaman dan menyingkapkan semua watak yang merupakan milik-Nya di akhir zaman. Akhir zaman mengacu pada suatu zaman tersendiri, zaman ketika Yesus mengatakan engkau semua pasti akan menghadapi bencana, gempa bumi, kelaparan, malapetaka, yang akan menunjukkan bahwa ini adalah zaman baru dan bukan lagi merupakan Zaman Kasih Karunia yang lama. Andaikan saja seperti yang dikatakan orang bahwa Tuhan selamanya tidak berubah, watak-Nya selalu Pengasih dan Penyayang, Dia mengasihi manusia seperti diri-Nya sendiri, Dia menawarkan keselamatan bagi setiap manusia, dan tidak pernah membenci manusia, mungkinkah pekerjaan-Nya akan berakhir? Ketika Yesus datang dan dipaku pada kayu salib, mengorbankan diri-Nya sendiri bagi semua orang berdosa, dan mempersembahkan diri-Nya di atas mezbah, Dia telah menyelesaikan pekerjaan penebusan dan mengakhiri Zaman Kasih Karunia. Jadi, apa gunanya mengulangi pekerjaan zaman itu di akhir zaman? Tidakkah melakukan yang sama seperti itu merupakan penyangkalan terhadap pekerjaan Yesus? Seandainya Tuhan tidak melaksanakan pekerjaan penyaliban ketika Dia datang pada tahap ini, namun tetap mengasihi dan berbelas kasih, mungkinkah Dia dapat mengakhiri zaman itu? Mungkinkah Tuhan yang mengasihi dan berbelas kasih dapat mengakhiri zaman itu? Dalam pekerjaan terakhir-Nya untuk mengakhiri zaman, salah satu watak Tuhan ialah menghajar dan menghakimi. Dengan watak ini Dia menyingkapkan segala sesuatu yang tidak benar untuk menghakimi semua orang secara terbuka dan menyempurnakan mereka yang mengasihi-Nya dengan hati yang tulus. Watak seperti inilah yang dapat mengakhiri zaman. Akhir zaman telah tiba. Semua makhluk ciptaan akan dikelompokkan menurut jenis mereka, dan dibagi ke dalam kategori berbeda berdasarkan sifat mereka. Ini saat ketika Tuhan mengungkap kesudahan manusia dan tempat tujuan mereka. Jika manusia tidak mengalami hajaran dan penghakiman, tidak akan ada jalan untuk mengungkap ketidakpatuhan serta ketidakbenaran mereka. Hanya melalui hajaran dan penghakimanlah kesudahan semua makhluk ciptaan bisa diungkapkan. Manusia hanya menunjukkan warna aslinya ketika ia dihajar dan dihakimi. Yang jahat akan dikumpulkan bersama yang jahat, yang baik dengan yang baik, dan semua manusia akan dikelompokkan berdasarkan jenis mereka. Melalui hajaran dan penghakiman, kesudahan semua ciptaan akan diungkap, sehingga yang jahat bisa dihukum dan yang baik diberikan upah, dan semua orang menjadi tunduk di bawah kekuasaan Tuhan. Semua pekerjaan ini harus dicapai melalui hajaran dan penghakiman yang benar. Karena kerusakan manusia telah mencapai puncak dan ketidakpatuhan mereka semakin parah, hanya watak Tuhan yang benar, yang pada prinsipnya adalah termasuk hajaran dan penghakiman serta diungkapkan di akhir zaman–yang bisa benar-benar mentransformasi dan melengkapi manusia. Hanya watak ini yang bisa menyingkap kejahatan dan menghukum semua yang tidak benar dengan keras. Oleh karena itu, watak seperti ini dijiwai dengan makna yang temporal, dan pengungkapan serta pergelaran watak-Nya dinyatakan demi kepentingan pekerjaan setiap zaman yang baru. Namun, tidak berarti bahwa Tuhan menyatakan watak-Nya secara sewenang-wenang dan tanpa makna. Andaikan dalam menyingkapkan kesudahan manusia selama akhir zaman, Tuhan masih menganugerahi manusia dengan belas kasihan dan kasih yang tak terhingga dan terus mengasihinya; tidak memperhadapkan manusia dengan penghakiman yang benar, melainkan menunjukkan toleransi, kesabaran, dan pengampunan kepadanya dan mengampuni manusia tanpa peduli betapa beratnya dosa mereka dan tanpa penghakiman yang benar sedikit pun: kapankah semua pengelolaan Tuhan akan diakhiri? Kapankah watak seperti itu dapat menuntun orang ke tempat tujuan yang pantas bagi umat manusia? Misalkan saja, ada seorang hakim, yang selalu mengasihi, seorang hakim yang berwajah ramah dan berhati lembut. Dia panjang sabar dan selalu mengasihi orang tanpa memandang bulu dan tanpa memandang kejahatan yang mungkin dilakukannya. Dapatkah ia memberi putusan yang benar dalam penghakiman? Selama akhir zaman, hanya penghakiman yang benar yang dapat mengelompokkan manusia menurut jenisnya dan membawa manusia ke dalam dunia baru. Dengan kata lain, seluruh zaman diakhiri melalui watak Tuhan yang benar, yakni menghakimi dan menghajar.

Pekerjaan Tuhan dalam keseluruhan pengelolaan-Nya sangat jelas: Zaman Kasih Karunia adalah Zaman Kasih Karunia, dan akhir zaman adalah akhir zaman. Ada perbedaan yang jelas antara setiap zaman karena di setiap zaman Tuhan melakukan pekerjaan yang mewakili zaman itu. Supaya pekerjaan pada akhir zaman dilakukan, harus ada siksa-api, penghakiman, hajaran, murka, dan penghancuran untuk mengakhiri zaman tersebut. Akhir zaman mengacu pada zaman terakhir. Selama zaman terakhir, apakah Tuhan tidak akan mengakhiri zaman tersebut? Untuk mengakhiri zaman, Tuhan harus membawa serta hajaran dan penghakiman bersama-Nya. Hanya dengan cara ini, Dia dapat mengakhiri zaman. Tujuan Yesus adalah supaya manusia dapat terus bertahan hidup, hidup terus, dan manusia boleh hidup dengan cara yang lebih baik. Dia menyelamatkan manusia dari dosa sehingga manusia dapat menghentikan kebobrokannya dan tidak lagi hidup dalam dunia orang mati dan neraka. Dengan menyelamatkan manusia dari dunia orang mati dan neraka, Dia mengizinkan manusia untuk terus hidup. Sekarang, akhir zaman telah tiba. Dia akan memusnahkan manusia dan menghancurkan ras manusia seluruhnya, artinya, Dia akan mengubah pemberontakan umat manusia. Karena alasan ini, mustahil bagi Tuhan dengan watak belas kasihan dan kasih masa lalu untuk mengakhiri zaman, atau membuat rencana pengelolaan enam ribu tahun berhasil. Setiap zaman ditandai dengan representasi khusus watak Tuhan dan di setiap zaman terdapat pekerjaan yang mesti dilakukan Tuhan. Jadi, pekerjaan yang dilakukan Tuhan sendiri di setiap zaman mengandung pengungkapan watak sejati-Nya, dan baik nama-Nya maupun pekerjaan yang dilakukan-Nya berubah seiring zaman; semuanya baru. Selama Zaman Hukum Taurat, pekerjaan membimbing umat manusia dilakukan atas nama Yahweh dan tahap pertama pekerjaan dimulai di bumi. Pada tahap ini, pekerjaan itu terdiri dari membangun Bait Suci dan mezbah, menggunakan hukum Taurat untuk membimbing orang Israel, dan bekerja di tengah-tengah mereka. Dengan membimbing orang Israel, Dia membangun suatu pangkalan untuk pekerjaan-Nya di bumi. Dari pangkalan ini, Dia memperluas pekerjaan-Nya melampaui Israel, yang berarti bahwa dari Israel, Dia memperluas pekerjaan-Nya ke luar, sehingga generasi selanjutnya secara bertahap mengetahui bahwa Yahweh adalah Tuhan, dan bahwa adalah Yahweh yang menciptakan langit bumi dan segala sesuatunya, dan adalah Yahweh yang menjadikan segala makhluk. Dia menyebarluaskan pekerjaan-Nya melalui orang Israel kepada suku bangsa lain. Tanah Israel adalah tempat suci pertama pekerjaan Yahweh di bumi, dan di tanah Israel pula Tuhan pertama kali bekerja di bumi. Inilah pekerjaan Zaman Hukum Taurat. Mengenai pekerjaan Zaman Kasih Karunia, Yesus-lah Tuhan yang menyelamatkan manusia. Apa yang dimiliki-Nya dan siapa Ia adalah karunia, kasih, belas kasihan, kesabaran, ketabahan, kerendahan hati, perhatian, toleransi, dan karena itu, sangat banyak pekerjaan yang telah dilakukan-Nya yang merupakan pekerjaan penebusan manusia. Adapun watak-Nya antara lain belas kasihan dan kasih, dan karena berbelas kasih dan mengasihi, Dia harus dipaku pada kayu salib demi manusia, untuk menunjukkan bahwa Tuhan mengasihi manusia seperti diri-Nya sendiri, bahkan sedemikian besar kasih-Nya sampai-sampai Dia rela mengorbankan diri-Nya seutuhnya. Iblis berkata, "Karena Engkau mengasihi manusia, maka Engkau harus mengasihinya sehabis-habisnya: Engkau harus dipaku pada kayu salib untuk membebaskan manusia dari salib, dari dosa, dan Engkau harus mengorbankan diri-Mu sebagai ganti seluruh umat manusia." Lalu, Iblis bertaruh, "Karena Engkau adalah Tuhan Yang Pengasih dan Penyayang, maka Engkau harus mengasihi manusia sehabis-habisnya dan harus mengorbankan diri-Mu di salib.” Yesus menjawab, “Sejauh demi umat manusia, Aku rela melepaskan segala milik-Ku.” Dia pun disalibkan tanpa sedikit pun ingat diri. Segenap umat manusia ditebus-Nya. Selama Zaman Kasih Karunia, nama Tuhan adalah Yesus, yang artinya, Tuhan adalah Tuhan yang menyelamatkan manusia, pengasih dan penyayang, Tuhan yang menyertai manusia. Cinta, belas kasihan, dan keselamatan-Nya menyertai setiap orang. Hanya dengan menerima nama Yesus dan kehadiran-Nya, orang bisa memperoleh damai dan sukacita untuk menerima berkat dan rahmat-Nya yang besar dan berlimpah, serta keselamatan-Nya. Melalui penyaliban Yesus, semua orang yang mengikuti-Nya memperoleh keselamatan dan diampuni dosa-dosanya. Selama Zaman Kasih Karunia, Yesus merupakan nama Tuhan. Dengan kata lain, pekerjaan Zaman Kasih Karunia dilakukan, terutama dalam nama Yesus. Selama Zaman Kasih Karunia, Tuhan disebut Yesus. Dia melakukan suatu tahap pekerjaan baru di luar Perjanjian Lama, dan pekerjaan-Nya berakhir dengan penyaliban. Inilah keseluruhan pekerjaan-Nya. Sebab itu, selama Zaman Hukum Taurat, Yahweh merupakan nama Tuhan, dan pada zaman Kasih Karunia nama Yesus merepresentasikan Tuhan. Selama akhir zaman, nama-Nya adalah Tuhan Yang Mahakuasa—Yang Mahakuasa, yang menggunakan kuasa-Nya untuk membimbing, menaklukkan, dan memperoleh manusia, dan pada akhirnya mengakhiri zaman. Di setiap zaman, di setiap tahap pekerjaan-Nya, watak Tuhan tampak nyata.

Pada mulanya, membimbing manusia selama Zaman Hukum Taurat Perjanjian Lama sama halnya dengan membimbing kehidupan seorang anak. Umat manusia paling awal adalah anak-anak Yahweh yang baru lahir; mereka adalah orang Israel. Mereka tidak mengerti tentang bagaimana menghormati Tuhan atau bagaimana hidup di bumi. Dengan kata lain, Yahweh menciptakan umat manusia, yakni menciptakan Adam dan Hawa, tetapi Dia tidak memberikan mereka kemampuan untuk mengerti bagaimana menghormati Yahweh atau mengikuti hukum Yahweh di bumi. Tanpa bimbingan langsung dari Yahweh, tidak seorang pun dapat secara langsung mengetahui hal tersebut, karena pada mulanya manusia tidak memiliki kemampuan untuk itu. Manusia hanya tahu bahwa Yahweh adalah Tuhan, tetapi mengenai cara menghormati-Nya, perilaku seperti apa yang bisa disebut memuja-Nya, dengan pikiran seperti apa orang harus menghormati-Nya, atau apa yang harus dipersembahkan sebagai penghormatan kepada-Nya: manusia mutlak tidak tahu. Manusia hanya tahu bagaimana menikmati apa yang dapat dinikmati di antara segala hal yang diciptakan Yahweh, tetapi mengenai jenis kehidupan apa yang layak bagi ciptaan Tuhan, manusia tidak memiliki isyarat apa pun. Tanpa seseorang yang menginstruksikan dan membimbing secara pribadi, umat manusia ini tidak akan pernah menjalani kehidupan selayaknya kehidupan manusia, tetapi hanya secara diam-diam hidup sebagai tawanan Iblis. Yahweh menciptakan manusia, dengan kata lain, Dia menciptakan leluhur umat manusia, Hawa dan Adam, tetapi Dia tidak menganugerahi mereka kecerdasan atau hikmat lebih lanjut. Meskipun sudah hidup di bumi, mereka hampir tidak mengerti apa-apa. Karena itu, pekerjaan menciptakan umat manusia oleh Yahweh baru separuh jalan dan jauh dari rampung. Dia hanya membentuk model manusia dari tanah liat dan memberikan napas-Nya, namun tidak disertai dengan kemauan yang cukup untuk menghormati-Nya. Mula-mula, jauh di luar pikiran manusia untuk memuja, atau takut akan Dia. Manusia hanya tahu cara mendengarkan perkataan-Nya, tetapi tidak tahu tentang pengetahuan dasar kehidupan di bumi dan aturan hidup manusia yang tepat. Maka, meskipun Yahweh menciptakan laki-laki dan perempuan dan menyelesaikan proyek tujuh hari, Dia sama sekali tidak merampungkan penciptaan manusia sehingga manusia hanyalah debu dan tidak memiliki realitas sebagai manusia. Manusia hanya tahu bahwa Yahweh-lah yang telah menciptakan umat manusia, tetapi tidak tahu bagaimana harus mematuhi perkataan atau hukum Yahweh. Maka, setelah umat manusia muncul, pekerjaan Yahweh masih jauh dari rampung. Dia masih harus membimbing mereka untuk datang ke hadapan-Nya sehingga mereka dapat hidup bersama di bumi dan menghormati-Nya, dan supaya dengan bimbingan-Nya mereka bisa memasuki jalur yang benar dari kehidupan manusia yang normal di bumi. Hanya setelah itu pekerjaan yang dilakukan, terutama atas nama Yahweh, benar-benar rampung; yaitu, hanya setelah itu, pekerjaan penciptaan dunia oleh Yahweh benar-benar rampung. Maka, setelah menciptakan umat manusia, Dia harus menuntun hidup umat manusia di bumi selama beberapa ribu tahun agar umat manusia dapat mematuhi ketetapan dan hukum-Nya dan mengambil bagian dalam semua kegiatan kehidupan manusia normal di bumi. Baru setelah itu pekerjaan Yahweh benar-benar rampung. Ia melakukan pekerjaan ini setelah menciptakan umat manusia, dan melanjutkannya sampai ke zaman Yakub, yakni ketika Dia menjadikan dua belas anak Yakub sebagai dua belas suku Israel. Sejak saat itu dan seterusnya, semua orang Israel menjadi bangsa manusia yang secara resmi dipimpin oleh-Nya di bumi, dan Israel menjadi suatu tempat yang khusus di bumi, tempat Dia melakukan pekerjaan-Nya. Yahweh menjadikan orang-orang ini kelompok pertama yang secara resmi menerima pekerjaan yang dilakukan-Nya di bumi. Dia menjadikan seluruh tanah Israel sebagai titik awal pekerjaan-Nya, menggunakan mereka sebagai awal dari pekerjaan yang lebih besar sehingga semua orang yang lahir dari-Nya di bumi akan tahu bagaimana menghormati-Nya dan bagaimana hidup di bumi. Dan dengan demikian, perbuatan orang Israel menjadi contoh bagi orang-orang dari bangsa bukan Yahudi, dan apa yang dikatakan di antara orang Israel akan didengar pula oleh orang-orang dari bangsa bukan Yahudi. Karena merekalah yang pertama menerima hukum dan perintah Yahweh, demikian pula yang pertama tahu bagaimana menghormati cara hidup yang ditetapkan Yahweh. Merekalah leluhur umat manusia yang selain mengetahui cara hidup yang ditetapkan Yahweh juga merupakan representasi ras manusia yang dipilih oleh Yahweh. Ketika Zaman Kasih Karunia tiba, Yahweh tidak lagi membimbing manusia dengan cara ini. Manusia telah berdosa dan tenggelam dalam dosa, maka Dia mulai menyelamatkan manusia dari dosa. Dengan cara ini, Dia mengecam manusia sampai manusia benar-benar dibebaskan dari dosa. Sekarang ini, manusia sudah dirusak sedemikian parahnya sehingga pekerjaan tahap ini hanya dapat dilakukan melalui penghakiman dan hajaran. Hanya dengan cara inilah pekerjaan dapat diselesaikan. Ini telah menjadi pekerjaan beberapa zaman. Dalam menggunakan nama Tuhan, pekerjaan Tuhan, dan gambar Tuhan yang berbeda untuk memisahkan zaman yang satu dari zaman yang lain dan untuk membuat peralihan antar zaman, nama Tuhan dan pekerjaan-Nya merepresentasikan baik zaman maupun pekerjaan-Nya pada tiap-tiap zaman. Seandainya pekerjaan Tuhan di setiap zaman selalu sama, dan Ia selalu disebut dengan nama yang sama, bagaimana manusia dapat mengenal-Nya? Tuhan harus disebut Yahweh; Selain Tuhan yang disebut Yahweh itu, siapa pun yang dipanggil dengan nama lain, bukanlah Tuhan. Atau, Tuhan hanya dapat Dia yang disebut Yesus, dan selain nama Yesus, Dia tidak mungkin dipanggil dengan nama lain. Selain Yesus, selain Yahweh bukan merupakan Tuhan, dan Tuhan yang Mahakuasa pun bukan merupakan Tuhan. Manusia percaya bahwa memang benar bahwa Tuhan itu mahakuasa, tetapi Tuhan adalah Tuhan yang menyertai manusia, dan Dia harus disebut Yesus karena Tuhan menyertai manusia. Untuk melakukan ini berarti mengikuti doktrin dan membatasi Tuhan dalam ruang lingkup tertentu. Jadi, di setiap zaman, pekerjaan yang dilakukan Tuhan, nama panggilan-Nya, dan gambar yang dikenakan pada-Nya, termasuk pekerjaan yang dilakukan-Nya pada setiap tahap sampai hari ini-ini semua tidak mengikuti satu aturan pun dan tidak tunduk pada batasan apa pun. Dia adalah Yahweh, tetapi Dia juga adalah Yesus, Mesias, dan Tuhan Yang Mahakuasa. Pekerjaan-Nya dapat mengalami transformasi secara bertahap diiringi dengan perubahan nama-Nya pula. Tidak ada satu nama pun yang dapat sepenuhnya merepresentasikan diri-Nya, tetapi semua nama panggilan-Nya dapat merepresentasikan diri-Nya, sementara pekerjaan yang dilakukan-Nya di setiap zaman merepresentasikan watak-Nya. Seandainya ketika akhir zaman tiba, Tuhan yang engkau lihat masih tetap Yesus dan selain itu, Dia naik suatu awan putih, dan Ia tetap memiliki rupa dan penampilan Yesus, dan perkataan yang diucapkan-Nya masih perkataan Yesus yang dahulu, “Engkau semua harus mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri, engkau harus berpuasa dan berdoa; kasihi musuhmu sebagaimana engkau menghargai hidupmu sendiri; hendaknya engkau panjang sabar terhadap orang lain, tekun, dan rendah hati. Engkau semua harus melakukan semua ini agar dapat menjadi murid-Ku.” Dan seandainya dengan melakukan semua ini engkau boleh memasuki kerajaan-Ku, bukankah ini termasuk dalam pekerjaan Zaman Kasih Karunia? Bukankah apa yang dikatakan-Nya merupakan jalan di Zaman Kasih Karunia? Bagaimana perasaanmu jika engkau mendengar perkataan ini? Apakah engkau tidak merasa bahwa ini masih pekerjaan Yesus? Bukankah ini menduplikasi itu? Dapatkah manusia menemukan kesukaan dalam hal ini? Engkau semua akan merasa bahwa pekerjaan Tuhan hanya bisa tetap seperti ini sekarang dan tidak ada kemajuan lebih lanjut. Dia sekadar memiliki begitu banyak kuasa, tidak ada lagi pekerjaan baru yang harus dilakukan, dan Dia telah menggunakan kuasa-Nya sampai pada batasnya. Dua ribu tahun sebelum saat ini adalah Zaman Kasih Karunia, dua ribu tahun kemudian Dia masih memberitakan jalan Zaman Kasih Karunia dan menobatkan orang. Orang akan berkata: “Tuhan, Engkau sekadar memiliki begitu banyak kuasa. Saya percaya Engkau Maha Bijaksana, namun yang Engkau ketahui hanyalah kesabaran, yang Engkau perhatikan hanyalah ketekunan, dan yang Engkau ketahui hanyalah bagaimana mengasihi musuh-Mu, tidak lebih." Dalam pikiran manusia, Tuhan akan selamanya sama seperti pada zaman Kasih Karunia, dan manusia akan selalu percaya bahwa Tuhan itu Pengasih dan Penyayang. Apakah menurutmu pekerjaan Tuhan itu akan selalu berpijak pada tanah lama yang sama? Maka, dalam tahap pekerjaan-Nya ini Dia tidak akan disalibkan, dan segala sesuatu yang engkau semua lihat dan sentuh tidak akan seperti apa pun yang engkau semua bayangkan atau dengar. Saat ini, Tuhan tidak terlibat dengan orang Farisi, dan tidak juga diizinkan-Nya dunia untuk mengetahuinya, dan hanya engkau semua yang mengikuti-Nya yang mengenal-Nya karena Dia tidak akan disalibkan lagi. Selama Zaman Kasih Karunia, Yesus berkhotbah secara terbuka di seluruh negeri demi pekerjaan Injil-Nya. Dia terlibat dengan kaum Farisi demi pekerjaan penyaliban; kalau Dia tidak terlibat dengan kaum Farisi sementara mereka yang berkuasa tidak pernah tahu tentang Dia, bagaimana mungkin Dia dikutuk, kemudian dikhianati dan dipaku pada kayu salib? Maka, Dia terlibat dengan kaum Farisi demi penyaliban. Sekarang ini, Dia melakukan pekerjaan-Nya secara rahasia untuk menghindari pencobaan. Dalam kedua inkarnasi Tuhan itu, pekerjaan dan makna pentingnya berbeda, demikian pula pengaturannya, jadi bagaimana bisa pekerjaan yang dilakukan-Nya sepenuhnya sama?

Mungkinkah nama Yesus—“Tuhan menyertai kita”—merepresentasikan watak Tuhan secara keseluruhannya? Mungkinkah itu sepenuhnya memperjelas Tuhan? Kalau manusia mengatakan bahwa Tuhan hanya dapat disebut Yesus dan mungkin tidak memiliki nama lain karena Tuhan tidak dapat mengubah watak-Nya, maka kata-kata ini benar-benar penghujatan! Apakah engkau percaya bahwa nama Yesus yang berarti Tuhan menyertai kita, cukup untuk merepresentasikan Tuhan secara keseluruhannya? Tuhan mungkin dipanggil dengan banyak nama, tetapi di antara banyak nama ini, tidak ada satu pun yang mampu merangkum semua nama Tuhan, tidak satu pun dapat merepresentasikan Tuhan sepenuhnya. Karena itu, Tuhan memiliki banyak nama, tetapi nama yang banyak ini tidak dapat sepenuhnya memperjelas watak Tuhan karena watak Tuhan sangat kaya sehingga melebihi kemampuan manusia untuk mengenal-Nya. Tidak ada cara bagi manusia selain menggunakan bahasa umat manusia untuk merangkum Tuhan seutuhnya. Umat manusia memiliki kosakata yang terbatas untuk merangkum semua yang diketahuinya tentang watak Tuhan: besar, terhormat, menakjubkan, tak terselami, tertinggi, suci, benar, bijaksana, dan seterusnya. Terlalu banyak kata! Keterbatasan kosakata ini tidak mampu menggambarkan watak Tuhan yang telah disaksikan sedikit oleh manusia. Seiring waktu, banyak orang menambahkan kata-kata yang dikiranya lebih tepat menggambarkan semangat dalam hatinya, tetapi Tuhan itu terlalu besar! Tuhan itu terlalu suci! Tuhan itu terlalu indah! Sekarang ini, ucapan manusia seperti ini telah mencapai puncaknya, namun manusia masih belum mampu mengungkapkan diri-Nya secara jelas. Jadi, bagi manusia, Tuhan memiliki banyak nama, bukan satu nama saja, karena Tuhan itu hakikat-Nya Maha Melimpah, sedangkan bahasa umat manusia teramat miskin. Satu kata atau nama tertentu saja tidak cukup untuk merepresentasikan Tuhan secara menyeluruh. Jadi, apakah menurutmu nama-Nya dapat ditentukan? Tuhan itu begitu agung dan begitu suci, tetapi engkau tidak mengizinkan-Nya untuk mengubah nama-Nya di setiap zaman yang baru? Oleh karena itu, di setiap zaman ketika Tuhan secara pribadi melakukan pekerjaan-Nya sendiri, Dia menggunakan nama yang cocok dengan zaman itu untuk merangkum pekerjaan yang ingin dilakukan-Nya. Dia menggunakan nama khusus yang memiliki makna temporal untuk merepresentasikan watak-Nya pada zaman tertentu. Inilah Tuhan yang menggunakan bahasa umat manusia untuk mengungkapkan watak-Nya sendiri. Bahkan, banyak orang yang telah memiliki pengalaman spiritual dan secara pribadi telah melihat Tuhan, merasa bahwa satu nama saja tidak mampu merepresentasikan Tuhan dalam keseluruhan diri-Nya. Ah, ini tak terhindarkan! Maka, manusia tidak lagi memanggil Tuhan dengan nama apa pun kecuali memanggil-Nya “Tuhan.” Seakan-akan hati manusia dipenuhi dengan kasih sekaligus diliputi kontradiksi karena tidak tahu bagaimana menjelaskan Tuhan. Siapakah Tuhan itu, itu terlalu melimpah, tidak ada cara untuk melukiskannya. Tiada satu nama pun yang mampu merangkum watak Tuhan, dan tiada satu nama pun mampu menggambarkan segala apa yang dimiliki-Nya dan siapa Ia. Kalau seseorang menanyai-Ku, “Tepatnya, nama apa yang Engkau gunakan?” Kepada mereka akan Kukatakan, “Tuhan adalah Tuhan!” Bukankah itu nama terbaik untuk Tuhan? Bukankah itu rangkuman terbaik dari watak Tuhan? Kalau begitu, mengapa engkau semua menghabiskan banyak tenaga untuk mencari nama Tuhan? Mengapa harus engkau gadaikan otakmu, tidak makan tidak tidur hanya demi nama? Harinya akan tiba ketika Tuhan tidak lagi disebut Yahweh, Yesus, atau Mesias, melainkan Ia akan disebut “Sang Pencipta” saja. Saat itu, semua nama yang telah dikenakan-Nya di bumi akan lekang sebab pekerjaan-Nya di bumi sudah akan berakhir. Setelah itu, lenyap sudah semua nama-Nya. Tatkala segala sesuatu sudah berada di bawah kekuasaan Sang Pencipta, masihkah Dia membutuhkan sebuah nama yang sangat tepat, tetapi tidak lengkap? Masihkah engkau mencari nama Tuhan saat ini? Masih beranikah engkau berkata bahwa Tuhan hanya disebut Yahweh? Masih beranikah engkau berkata bahwa Tuhan hanya dapat disebut Yesus? Sanggupkah engkau menanggung dosa hujat terhadap Tuhan? Engkau harus tahu bahwa awalnya Tuhan tidak bernama. Dia mengambil satu, dua, atau banyak nama hanya karena Dia memiliki pekerjaan yang harus dilakukan, selain harus mengelola umat manusia. Nama panggilan apa pun, tidakkah Dia bebas memilih nama bagi diri-Nya sendiri? Apakah Dia butuh salah satu makhluk-Nya seperti dirimu untuk menentukan nama-Nya? Nama panggilan Tuhan adalah nama yang sesuai dengan apa yang sanggup dipahami manusia dengan bahasa umat manusia, tetapi nama ini mustahil dijangkau (akal budi) manusia. Engkau hanya bisa berkata bahwa ada Tuhan di surga, bahwa Dia disebut Tuhan, bahwa Dia adalah Tuhan itu sendiri dengan kuasa yang teramat besar, yang terlalu bijaksana, terlalu tinggi, terlalu menakjubkan, terlalu misterius, dan terlalu mahakuasa, lalu engkau kehabisan kata; seujung kuku saja yang bisa engkau ketahui. Kalau begitu, dapatkah sekadar nama Yesus merepresentasikan Tuhan itu sendiri? Ketika akhir zaman tiba, kendati Tuhan jua yang masih melakukan pekerjaan-Nya, nama-Nya pasti berubah, karena zamannya berbeda.

Tuhan menjadi yang terbesar di seluruh alam semesta, baik di atas maupun di bawah, dapatkah Dia menjelaskan diri-Nya sendiri sepenuhnya dengan menggunakan gambar manusia? Yahweh mengenakan daging ini untuk melakukan satu tahap pekerjaan-Nya. Tidak ada makna khusus dalam gambar manusia ini, tidak ada kaitannya dengan berlalunya zaman, juga tidak ada hubungannya dengan watak Tuhan. Mengapa Yesus tidak membiarkan gambar diri-Nya tetap ada? Mengapa tidak dibiarkan-Nya manusia melukis gambar diri-Nya sehingga dapat diteruskan ke generasi selanjutnya? Mengapa Dia tidak membiarkan orang mengakui bahwa gambar diri-Nya adalah gambar Tuhan? Meskipun manusia diciptakan menurut gambar Tuhan, mungkinkah rupa manusia merepresentasikan gambar Tuhan Yang Mahamulia? Ketika Tuhan menjadi daging, Dia hanya turun dari surga ke dalam daging tertentu. Adapun yang turun ke dalam daging tersebut ialah Roh-Nya, dan melalui daging itu, Dia melakukan pekerjaan Roh. Roh inilah yang diungkapkan dalam daging dan Roh inilah yang melakukan pekerjaan-Nya dalam daging. Pekerjaan yang dilakukan dalam daging sepenuhnya merepresentasikan Roh-Nya, dan daging tersebut adalah demi kepentingan pekerjaan itu. Namun demikian, bukan berarti bahwa gambar manusia itu menggantikan gambar sejati Tuhan sendiri; ini bukan tujuan atau makna penting dari Tuhan menjadi manusia. Dia menjadi daging hanya agar Roh dapat menemukan tempat tinggal yang tepat ketika melakukan pekerjaan-Nya, tempat yang lebih baik untuk menyelesaikan pekerjaan-Nya dalam daging—sehingga orang dapat melihat pekerjaan-Nya, berhubungan dengan watak-Nya, mendengarkan firman-Nya, dan mengetahui keajaiban pekerjaan-Nya. Nama-Nya merepresentasikan watak-Nya, pekerjaan-Nya merepresentasikan identitas-Nya, tetapi Dia tidak pernah mengatakan bahwa penampakan-Nya dalam daging merepresentasikan gambar-Nya. Itu semata-mata gagasan manusia. Karena itu, aspek penting dari inkarnasi Tuhan ialah nama-Nya, pekerjaan-Nya, watak-Nya, dan gender-Nya. Semua aspek ini digunakan untuk merepresentasikan pengelolaan-Nya di zaman ini. Penampakan-Nya dalam daging tidak ada kaitannya dengan pengelolaan-Nya, tetapi semata-mata demi pekerjaan-Nya saat itu. Namun, tidak mungkin Tuhan yang berinkarnasi tidak memiliki penampakan tertentu. Karena itu, Dia memilih keluarga yang tepat untuk menentukan penampakan-Nya. Seandainya penampakan Tuhan mempunyai makna penting yang representatif, semua orang yang berwajah mirip dengan-Nya juga akan merepresentasikan Tuhan. Bukankah itu kesalahan yang luar biasa? Potret Yesus dilukis oleh manusia agar manusia dapat menyembah-Nya. Pada saat itu, Roh Kudus tidak memberi arahan khusus, jadi manusia mengedarkan potret tersebut sampai hari ini. Padahal, menurut maksud Tuhan yang semula, manusia tidak boleh melakukan hal tersebut. Hanya karena semangat manusialah potret Yesus itu tetap ada sampai hari ini. Tuhan adalah Roh, dan karena itu, manusia tidak akan pernah mampu menangkap gambar-Nya. Gambar-Nya hanya bisa direpresentasikan oleh watak-Nya. Adapun penampakan hidung, mulut, mata, dan rambut-Nya, semua ini berada di luar kemampuanmu untuk menerimanya. Ketika pewahyuan sampai kepada Yohanes, ia melihat gambar Anak Manusia: dari mulut-Nya keluar pedang tajam bermata dua, mata-Nya bagaikan nyala api, kepala dan rambut-Nya putih bagaikan bulu domba, kaki-Nya seperti dipoles perunggu, dan ada selempang emas di dada-Nya. Meskipun perkataan Yohanes sangat jelas, gambar Tuhan yang dijelaskannya itu bukan gambar makhluk ciptaan. Gambar yang dilihatnya hanyalah sebuah penglihatan, bukan gambar seseorang dari dunia materiel. Yohanes menyaksikan penglihatan, tetapi dia tidak melihat penampakan Tuhan yang sebenarnya. Gambar daging inkarnasi Tuhan, wujud gambar makhluk ciptaan, tidak mampu merepresentasikan watak Tuhan seluruhnya. Ketika Yahweh menciptakan umat manusia, Ia berkata bahwa menurut gambar-Nya Ia menciptakan laki-laki dan perempuan. Pada waktu itu, Ia berkata bahwa Ia menciptakan laki-laki dan perempuan menurut gambar Tuhan. Meskipun gambar manusia menyerupai gambar Tuhan, tidak dapat ditafsirkan bahwa penampakan manusia adalah gambar Tuhan. Engkau pun tidak dapat menggunakan bahasa umat manusia untuk sepenuhnya menjelaskan gambar Tuhan, sebab Tuhan itu terlalu mulia, terlalu besar, terlalu menakjubkan, dan tak terselami!

Ketika Yesus datang untuk melakukan pekerjaan-Nya, itu di bawah arahan Roh Kudus. Dia melakukan apa yang diinginkan oleh Roh Kudus, bukan apa yang sesuai dengan Zaman Hukum Taurat Perjanjian Lama atau pun pekerjaan Yahweh. Meskipun pekerjaan yang dilakukan Yesus tidak mengikuti hukum atau perintah Yahweh, sumber Mereka satu dan sama. Pekerjaan yang Yesus lakukan merepresentasikan nama Yesus dan Zaman Kasih Karunia. Sedangkan pekerjaan yang dilakukan Yahweh merepresentasikan Yahweh dan Zaman Hukum Taurat. Pekerjaan mereka adalah pekerjaan satu Roh dalam dua zaman yang berbeda. Pekerjaan yang Yesus lakukan hanya bisa merepresentasikan Zaman Kasih Karunia, dan pekerjaan yang Yahweh lakukan hanya bisa merepresentasikan Zaman Hukum Taurat Perjanjian Lama. Yahweh hanya membimbing orang Israel dan Mesir serta semua bangsa di luar Israel. Pekerjaan Yesus di Zaman Kasih Karunia Perjanjian Baru adalah pekerjaan Tuhan dalam nama Yesus sewaktu Dia menuntun zaman itu. Kalau engkau mengatakan bahwa pekerjaan Yesus didasarkan pada pekerjaan Yahweh, bahwa Dia tidak memulai pekerjaan yang baru, dan bahwa semua yang dilakukan-Nya adalah menurut perkataan dan pekerjaan Yahweh serta nubuatan Yesaya, maka Yesus tidak akan menjadi Tuhan yang menjadi manusia. Andaikan dahulu Dia melakukan pekerjaan-Nya dengan cara ini, Dia tentu akan menjadi rasul atau pekerja dari Zaman Hukum Taurat. Kalau memang demikian seperti yang engkau katakan, Yesus tidak dapat membuka suatu zaman ataupun melakukan pekerjaan lain. Demikian halnya, Roh Kudus terutama harus melakukan pekerjaan-Nya melalui Yahweh, dan kecuali melalui Yahweh, Roh Kudus tidak dapat melakukan pekerjaan baru. Jelas salah jika manusia memahami pekerjaan Yesus dengan cara demikian. Jika manusia percaya bahwa pekerjaan yang dilakukan Yesus sesuai dengan perkataan Yahweh dan nubuatan Yesaya, apakah Yesus adalah Tuhan yang berinkarnasi, atau apakah Dia salah satu dari para nabi? Menurut pandangan ini, tidak akan ada Zaman Kasih Karunia, dan Yesus tidak akan menjadi inkarnasi Tuhan, karena pekerjaan yang dilakukan-Nya tidak dapat merepresentasikan Zaman Kasih Karunia, dan hanya dapat merepresentasikan Zaman Hukum Taurat Perjanjian Lama. Zaman yang baru hanya bisa ada ketika Yesus datang dengan tujuan untuk melakukan pekerjaan yang baru, memulai zaman yang baru, menerobos pekerjaan yang sebelumnya dilakukan di Israel; dan melakukan pekerjaan-Nya yang tidak sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan Yahweh di Israel, atau hukum-Nya yang lama, atau menurut aturan apa pun, tetapi melakukan pekerjaan baru yang harus Dia lakukan. Tuhan sendiri datang untuk membuka suatu zaman dan Dia Sendiri yang datang untukmengakhiri zaman itu. Manusia tidak mampu melakukan pekerjaan untuk memulai suatu zaman dan mengakhiri zaman itu. Kalau Yesus tidak mengakhiri pekerjaan Yahweh, akan terbukti bahwa Dia hanyalah manusia dan tidak mampu merepresentasikan Tuhan. Justru karena Yesus telah datang dan merampungkan pekerjaan Yahweh, mengikuti pekerjaan Yahweh dengan memulai pekerjaan-Nya sendiri, yakni pekerjaan baru, terbukti bahwa inilah zaman baru, dan bahwa memang Yesus adalah Tuhan Sendiri. Mereka melakukan dua tahap pekerjaan yang jelas berbeda. Satu tahap dilakukan di Bait Suci, dan tahap lainnya dilakukan di luar Bait Suci. Satu tahap untuk memimpin kehidupan manusia menurut hukum Taurat, dan tahap lainnya untuk mempersembahkan korban penghapus dosa. Kedua tahap pekerjaan ini sangat berbeda; ini memisahkan zaman baru dari yang lama, dan tepat sekali bila dikatakan bahwa kedua zaman itu berbeda. Lokasi pekerjaan Mereka berbeda, demikian pula isi dan tujuan pekerjaan Mereka. Karena itu, pekerjaan Mereka dapat dibagi menjadi dua zaman: Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama, yang berarti, zaman yang baru dan yang lama. Dahulu ketika Yesus datang, Dia tidak pergi ke Bait Suci dan itu membuktikan bahwa zaman Yahweh telah berakhir. Dia tidak masuk ke Bait Suci karena pekerjaan Yahweh di Bait Suci telah selesai dan tidak perlu dilakukan lagi; melakukan lagi berarti mengulanginya. Hanya dengan meninggalkan Bait Suci, memulai pekerjaan baru, dan membuka jalan baru di luar Bait Suci, Dia dapat membawa pekerjaan Tuhan ke titik puncaknya. Kalau Dia tidak keluar dari Bait Suci untuk melakukan pekerjaan-Nya, pekerjaan Tuhan tentu akan stagnan di atas fondasi Bait Suci dan tidak akan pernah ada perubahan baru. Karena itu, ketika Yesus datang Dia tidak masuk ke Bait Suci, dan tidak melakukan pekerjaan-Nya di Bait Suci. Dia melakukan pekerjaan-Nya di luar Bait Suci, dan dengan memimpin para murid, Dia mulai mengerjakan pekerjaan-Nya secara bebas. Kepergian Tuhan dari Bait Suci untuk melakukan pekerjaan-Nya mengandung arti bahwa Tuhan memiliki rencana baru. Pekerjaan-Nya harus dilakukan di luar Bait Suci, dan itulah pekerjaan baru yang cara penerapannya tidak dibatasi. Segera setelah Yesus datang, Dia mengakhiri pekerjaan Yahweh pada masa Perjanjian Lama. Meskipun Mereka disebut dengan dua nama yang berbeda, Roh yang sama itulah yang menyelesaikan kedua tahap pekerjaan, dan pekerjaan yang sudah dilakukan terus berjalan. Karena berbeda nama dan isi pekerjaan itu, maka berbeda pula zamannya. Ketika Yahweh datang, itulah zaman Yahweh, dan ketika Yesus datang itulah zaman Yesus. Karena itu, pada setiap kedatangan-Nya, Tuhan disebut dengan satu nama, Dia merepresentasikan satu zaman, dan Dia membuka jalan baru; dan di setiap jalan baru, Dia menggunakan nama baru, yang menunjukkan bahwa Tuhan selalu baru dan tidak pernah tua, dan bahwa pekerjaan-Nya tidak pernah berhenti bergerak maju. Sebagaimana sejarah selalu bergerak maju, demikian pula pekerjaan Tuhan. Supaya rencana pengelolaan enam ribu tahun mencapai akhirnya, pekerjaan-Nya harus terus maju. Setiap hari dan setiap tahun Dia harus melakukan pekerjaan baru; Dia harus membuka jalan baru, meluncurkan era baru, memulai pekerjaan baru dan lebih besar, dan bersama semua ini, membawa nama-nama baru dan pekerjaan baru. Dari waktu ke waktu, Roh Tuhan sedang melakukan pekerjaan baru, tidak pernah berpegang pada cara dan peraturan lama. Pekerjaan-Nya juga tidak pernah berhenti, tetapi akan terjadi dengan setiap momen yang berlalu. Kalau engkau mengatakan bahwa pekerjaan Roh Kudus tidak dapat berubah, lalu mengapa Yahweh meminta para imam untuk melayani-Nya di Bait Suci, sedangkan Yesus tidak masuk ke Bait Suci—meskipun ketika Dia datang, orang-orang juga mengatakan bahwa Dia imam besar, dan Dia adalah keturunan Daud, Imam Besar dan Raja yang agung? Dan mengapa Dia tidak mempersembahkan korban? Memasuki atau tidak memasuki Bait Suci—apakah semua ini bukan pekerjaan Tuhan sendiri? Kalau seperti yang dibayangkan manusia, Yesus akan datang kembali dan di akhir zaman, akan tetap disebut Yesus dan tetap datang di atas awan putih, turun di tengah-tengah manusia dalam rupa Yesus: bukankah itu merupakan pengulangan pekerjaan-Nya? Apakah Roh Kudus mampu berpegang pada sesuatu yang lama? Semua yang dipercaya manusia adalah konsepsi, dan semua yang dimengerti manusia adalah sesuai dengan arti harfiah dan juga imajinasi manusia. Semua itu tidak sejalan dengan prinsip-prinsip pekerjaan Roh Kudus, dan tidak sesuai dengan maksud Tuhan. Tuhan tidak akan bekerja dengan cara itu; Tuhan tidak sedemikian bodoh dan dungu, dan pekerjaan-Nya tidak semudah yang engkau bayangkan. Berdasarkan segala sesuatu yang dilakukan dan dipikirkan manusia, Yesus akan datang dengan menaiki awan dan turun di tengah engkau semua. Engkau semua akan melihat-Nya, dan Dia, menaiki awan, akan memberi tahu engkau semuabahwa Dia adalah Yesus. Engkau semua juga akan melihat bekas paku pada tangan-Nya, dan akan mengenal-Nya sebagai Yesus. Dan Dia akan menyelamatkanmu lagi, dan akan menjadi Tuhan yang perkasa bagimu. Dia akan menyelamatkan engkau sekalian, memberimu nama baru, memberimu masing-masing sebuah batu putih, dan setelah itu engkau semua akan diizinkan masuk ke dalam kerajaan surga dan diterima ke dalam taman firdaus. Apakah keyakinan semacam itu bukan gagasan manusia? Apakah Tuhan bekerja sesuai dengan gagasan manusia, ataukah Dia bekerja melawan gagasan manusia? Bukankah gagasan manusia semuanya berasal dari Iblis? Bukankah semua manusia telah dirusak oleh Iblis? Seandainya Tuhan melakukan pekerjaan-Nya seturut gagasan manusia, bukankah Dia kemudian akan menjadi Iblis? Tidakkah Dia akan sama seperti makhluk ciptaan-Nya sendiri? Karena makhluk ciptaan-Nya saat ini sudah sangat rusak oleh Iblis, sehingga manusia telah menjadi perwujudan Iblis, jika Tuhan bekerja sesuai dengan sifat-sifat Iblis, bukankah kemudian Dia akan bersekutu dengan Iblis? Bagaimana manusia dapat menyelami pekerjaan Tuhan? Karena itu, Tuhan tidak akan pernah bekerja sesuai dengan gagasan manusia, tidak akan pernah bekerja dengan cara yang engkau bayangkan. Ada orang-orang yang mengatakan bahwa Tuhan sendiri berkata bahwa Dia akan datang di atas awan. Memang benar bahwa Tuhan sendiri berkata demikian, tetapi tidakkah engkau tahu bahwa tidak ada orang yang dapat memahami misteri Tuhan? Tidakkah engkau tahu bahwa tidak ada manusia yang bisa menjelaskan firman Tuhan? Apakah engkau yakin, tanpa ragu, bahwa engkau dicerahkan dan diterangi oleh Roh Kudus? Tentunya bukan itu yang ditunjukkan Roh Kudus kepadamu secara langsung seperti itu? Apakah Roh Kudus yang memerintahkan, ataukah gagasanmu sendiri yang membuatmu berpikir demikian? Engkau berkata, “Ini dikatakan oleh Tuhan sendiri.” Namun, kita tidak dapat menggunakan gagasan dan pikiran kita sendiri untuk mengukur firman Tuhan. Mengenai perkataan yang diucapkan Yesaya, bisakah engkau dengan kepastian mutlak menjelaskannya? Apakah engkau berani menjelaskan perkataannya? Karena engkau tidak berani menjelaskan perkataan Yesaya, mengapa engkau berani menjelaskan perkataan Yesus? Siapakah yang lebih mulia, Yesus atau Yesaya? Karena jawabannya adalah Yesus, mengapa engkau menjelaskan perkataan yang diucapkan Yesus? Akankah Tuhan memberitahumu lebih dahulu tentang pekerjaan-Nya? Tidak satu pun makhluk yang bisa tahu, tidak juga para utusan di surga, bahkan tidak pula Anak Manusia, jadi bagaimana engkau bisa tahu? Betapa kurangnya manusia. Yang terpenting bagi engkau semua saat ini ialah mengetahui ketiga tahap pekerjaan. Mulai dari pekerjaan Yahweh hingga pekerjaan Yesus, dan dari pekerjaan Yesus sampai tahap sekarang ini, tiga tahap ini mencakup urutan berkelanjutan dari keseluruhan pengelolaan Tuhan, dan semuanya merupakan pekerjaan satu Roh. Sejak penciptaan dunia, Tuhan selalu bekerja mengelola umat manusia. Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Pertama dan Yang Terakhir, dan Dialah Pribadi yang memulai dan mengakhiri suatu zaman. Ketiga tahap pekerjaan tersebut, di zaman yang berbeda dan lokasi yang berbeda, tidak salah lagi merupakan pekerjaan dari satu Roh. Semua orang yang memisahkan ketiga tahap ini bertentangan dengan Tuhan. Sekarang, engkau harus memahami bahwa semua pekerjaan dari tahap pertama hingga hari ini adalah pekerjaan dari satu Tuhan, pekerjaan dari satu Roh. Tentang hal ini, tentu tidak ada keraguan.

Sebelumnya:Visi Pekerjaan Tuhan (2)

Selanjutnya:Tentang Alkitab (1)

Anda Mungkin Juga Menyukai