Penderitaan yang Menimpa Kita Juga Merupakan Kasih Tuhan
Saat aku berusia tujuh belas tahun, ayahku meninggal karena penyakit. Tak lama kemudian, ibuku kehilangan penglihatannya. Untuk merawat...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Ketika aku berusia enam belas tahun, aku didiagnosis menderita purpura trombositopenia, dan tahun berikutnya menderita penyakit lupus. Jenis penyakit ini tidak dapat disembuhkan dan hanya dapat dikendalikan dengan obat-obatan. Sejak saat itu, hidupku diselimuti bayang-bayang kelam. Aku harus dirawat di rumah sakit hampir setiap tahun. Kemudian, sendi-sendi di anggota tubuhku mulai bengkak dan sakit, dan terkadang rasa sakitnya begitu parah hingga aku bahkan tidak bisa berjalan, maupun mengikat rambutku sendiri. Melihat diriku dalam keadaan seperti itu di usia yang begitu muda, aku merasa pedih dan tak berdaya, bertanya-tanya mengapa aku harus terkena penyakit seperti itu. Terkadang, rasa sakitnya begitu hebat hingga aku ingin mati saja, tetapi aku tidak tega melakukannya saat melihat keluargaku bekerja begitu keras dan sibuk mengurusku. Hari demi hari kujalani begitu saja.
Pada bulan September 2012, seseorang memberitakan pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman kepadaku. Ketika aku mendengar bahwa percaya kepada Tuhan dapat mendatangkan pemeliharaan dan perlindungan-Nya, muncullah secercah harapan di keputusasaanku, jadi aku menerimanya dengan senang hati. Setahun kemudian, kesehatanku cukup membaik. Dalam hati, aku sangat bersyukur kepada Tuhan, dan berharap suatu hari nanti penyakitku akan sembuh total sehingga aku bisa hidup seperti orang normal. Namun, suatu hari di bulan April 2014, hidungku tiba-tiba mulai mimisan tak terkendali. Darah terus mengucur keluar, dan tak bisa dihentikan dengan cara apa pun. Aku terus menyekanya dengan tisu, dan tak lama kemudian lantai dipenuhi tisu yang berlumuran darah. Saat itu aku sendirian di rumah. Rasa takut menyelimutiku, dan aku menangis tersedu-sedu, ketakutan dan tidak tahu harus berbuat apa. Pada saat itu, aku teringat akan Tuhan dan berseru kepada-Nya, "Tuhan Yang Mahakuasa, tolong selamatkan aku ...." Aku terus berseru kepada Tuhan, tetapi mimisan itu tidak berhenti. Aku menatap langit-langit dengan putus asa, untuk pertama kalinya merasa bahwa kematian begitu dekat. Aku berpikir dalam hati, "Jika aku harus mati, biarlah. Lagipula aku tidak bisa menghindarinya, dan kematian akan membebaskan ...." Kemudian, orang tuaku bergegas pulang dan segera membawaku ke rumah sakit. Selama dirawat di rumah sakit, aku berpikir dalam hati, "Bukankah percaya kepada Tuhan itu untuk mendapat perlindungan? Aku percaya kepada Tuhan sekarang, jadi bagaimana mungkin hal seperti ini masih terjadi padaku? Jika Tuhan benar-benar ada, Dia seharusnya melakukan mukjizat dan menghentikan mimisanku ketika aku berseru kepada-Nya. Namun, mengapa Tuhan tidak menyembuhkanku? Mengapa Dia membiarkan penyakitku kambuh? Jadi, apa gunanya aku percaya kepada Tuhan? Lebih baik aku tidak percaya saja." Setelah aku keluar dari rumah sakit dan kembali ke rumah, aku mengembalikan buku-buku firman Tuhan kepada pemimpin dan memutuskan untuk berhenti percaya kepada Tuhan.
Kemudian, ketika saudara-saudari dari gereja mengetahui keadaanku, mereka datang untuk membantu dan mendukungku, dan mereka membacakan satu bagian firman Tuhan untukku: "Ketika Ayub menjalani ujian, Tuhan dan Iblis bertaruh, dan Tuhan mengizinkan Iblis menyakiti Ayub. Meskipun Tuhan-lah yang sedang menguji Ayub, Iblislah yang datang kepada Ayub. Bagi Iblis, dia sedang mencobai Ayub, tetapi Ayub ada di pihak Tuhan. Jika tidak demikian halnya, Ayub pasti telah jatuh ke dalam pencobaan. Begitu orang jatuh ke dalam pencobaan, mereka berada dalam bahaya. Menjalani pemurnian bisa dikatakan sebagai ujian dari Tuhan, tetapi jika engkau sedang tidak dalam keadaan baik, bisa dikatakan itu adalah pencobaan dari Iblis. Jika engkau tidak jelas tentang visi, Iblis akan menuduhmu dan mengaburkanmu dalam aspek visi. Tanpa sadar, engkau sudah jatuh ke dalam pencobaan" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Mereka yang Akan Disempurnakan Harus Mengalami Pemurnian"). Salah seorang saudari bersekutu, "Hari ini, Tuhan telah datang untuk melakukan pekerjaan menyelamatkan kita, tetapi Iblis terus-menerus mengganggu kita, menyebabkan hal-hal buruk terjadi pada kita. Tujuannya adalah untuk membuat kita mengeluh tentang Tuhan, atau bahkan menyangkal dan meninggalkan-Nya, sehingga pada akhirnya ia dapat menelan kita. Kita harus melihat dengan jelas tipu muslihat Iblis. Ini persis seperti ketika Ayub menghadapi ujiannya. Iblislah yang menuduh Ayub di alam roh, mengatakan bahwa Ayub hanya takut akan Tuhan karena Tuhan telah memberinya terlalu banyak berkat, dan bahwa jika segala sesuatu yang dimilikinya dihancurkan, dia pasti akan meninggalkan Tuhan. Setelah itu, Iblis melakukan segala yang ia bisa untuk mencelakai Ayub, mengambil anak-anaknya dan kekayaannya yang melimpah, dan bahkan menyebabkannya dipenuhi bisul yang busuk, semuanya adalah upaya membuat Ayub meninggalkan Tuhan. Namun, Ayub berpegang teguh pada imannya kepada Tuhan, tidak mengeluh, dan bahkan memuji nama Tuhan, tetap teguh dalam kesaksiannya bagi Tuhan. Pada akhirnya, Iblis mundur dengan rasa malu. Ini menunjukkan bahwa Iblis suka mempermainkan dan mencelakai manusia, dan tujuannya adalah untuk membuat manusia menjauhkan diri dari Tuhan dan mengkhianati-Nya. Hari ini, engkau berhenti percaya kepada Tuhan hanya karena penyakitmu kambuh. Bukankah engkau jatuh tepat ke dalam perangkap Iblis?" Setelah mendengar persekutuan saudari itu, aku tersadar. Aku menyadari bahwa penyakit ini adalah ujian bagiku, untuk melihat apakah aku akan berdiri di pihak Tuhan atau Iblis. Jika aku benar-benar berhenti percaya, maka intrik yang dijalankan Iblis akan berhasil. Setelah memikirkan hal ini, aku memutuskan untuk terus percaya kepada Tuhan. Jadi, aku meminta satu eksemplar Firman Menampakkan Diri dalam Daging kepada gereja dan mulai membaca firman Tuhan dengan sungguh-sungguh di rumah setiap hari. Melalui membaca firman Tuhan, aku jadi memahami asal mula penyakit dan penderitaan manusia. Pada mulanya, Tuhan menciptakan Adam dan Hawa, dan mereka hidup bahagia di Taman Eden. Namun karena pencobaan Iblis, mereka memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Sejak saat itu, mereka hidup dalam dosa, dan demikianlah terjadinya kelahiran, penuaan, penyakit, dan kematian. Seiring umat manusia yang makin lama makin dirusak oleh Iblis, manusia pun makin jauh dari Tuhan, penyakit dan penderitaan mereka bertambah parah, dan hidup mereka makin lama makin sengsara. Kali ini, Tuhan secara pribadi telah menjadi daging untuk melakukan pekerjaan penghakiman dan hajaran, mengungkapkan kebenaran untuk menyucikan kerusakan manusia, menyelamatkan manusia sepenuhnya dari kuasa Iblis, memulihkan manusia ke keserupaan aslinya, serta membawa manusia ke tempat tujuan yang indah. Di masa depan, tidak akan ada lagi rasa sakit dan air mata. Setelah memahami semua ini, aku sangat terharu. Aku merasa bahwa kasih Tuhan kepada manusia begitu besar, dan aku bertekad untuk mengejar kebenaran dengan sungguh-sungguh serta mengalami pekerjaan Tuhan.
Suatu hari, aku membaca satu bagian firman Tuhan dan memperoleh pemahaman tentang ketidakmurnian dalam imanku, yaitu niatku untuk mengejar berkat. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Begitu banyak orang percaya kepada-Ku hanya agar Aku dapat menyembuhkan mereka. Begitu banyak orang percaya kepada-Ku hanya agar Aku dapat menggunakan kuasa-Ku untuk mengusir roh-roh najis dari tubuh mereka, dan begitu banyak orang percaya kepada-Ku hanya supaya mereka dapat menerima damai dan sukacita dari-Ku. Begitu banyak orang percaya kepada-Ku hanya untuk menuntut lebih banyak kekayaan materi dari-Ku. Begitu banyak orang percaya kepada-Ku hanya untuk menjalani hidup ini dengan damai dan agar aman dan selamat di dunia yang akan datang. Begitu banyak orang percaya kepada-Ku untuk menghindari penderitaan neraka dan menerima berkat-berkat surga. Begitu banyak orang percaya kepada-Ku hanya demi kenyamanan sementara, tetapi tidak berusaha memperoleh apa pun dari dunia yang akan datang. Saat Aku mengaruniakan murka-Ku kepada manusia dan merampas semua sukacita dan damai yang pernah mereka miliki, mereka menjadi ragu. Saat Aku mengaruniakan penderitaan neraka kepada orang dan menarik kembali berkat-berkat surga, mereka menjadi marah. Ketika orang meminta-Ku untuk menyembuhkan mereka, dan Aku tidak mengindahkan mereka dan merasa muak terhadap mereka, mereka meninggalkan-Ku untuk mencari cara pengobatan lewat perdukunan dan ilmu sihir. Saat Aku mengambil semua yang telah orang tuntut dari-Ku, mereka semua menghilang tanpa jejak. Maka dari itu, Aku berkata bahwa orang beriman kepada-Ku karena kasih karunia-Ku terlalu berlimpah, dan karena ada terlalu banyak manfaat yang bisa didapatkan" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Apa yang Kauketahui tentang Iman?"). Setelah membaca firman Tuhan, aku merasa bahwa Tuhan benar-benar memeriksa lubuk hati kita yang terdalam. Dia telah sepenuhnya menyingkapkan niatku untuk mengejar berkat dalam imanku. Kepercayaanku kepada Tuhan semata-mata adalah untuk menerima kasih karunia dari-Nya dan agar Dia menyembuhkan penyakitku. Awalnya, aku dengan senang hati menerima pekerjaan Tuhan pada akhir zaman demi disembuhkan. Ketika Tuhan mengaruniakan kedamaian dan berkat kepadaku dan kesehatanku membaik, aku penuh dengan ucapan syukur dan pujian bagi-Nya. Namun, ketika penyakitku kambuh dan hidungku tidak berhenti mimisan bahkan setelah aku berseru kepada-Nya, aku mengeluh bahwa Tuhan tidak melindungiku, dan aku mulai meragukan-Nya, bahkan sampai pada titik ingin berhenti percaya. Aku sadar aku sama sekali tidak benar-benar percaya kepada Tuhan; imanku hanyalah tentang mendapatkan berkat. Aku telah memperlakukan Tuhan sebagai dokter, dan pengorbanan diriku dalam tugasku juga bertujuan agar Tuhan menyembuhkanku. Ini benar-benar berusaha tawar-menawar dengan Tuhan; ini menipu Tuhan! Manusia diciptakan oleh Tuhan dan seharusnya percaya serta menyembah-Nya tanpa mencoba bertransaksi atau mengajukan tuntutan apa pun. Namun, yang kupercayai adalah karena aku percaya kepada-Nya, Tuhan seharusnya menyembuhkanku. Jadi saat penyakitku kambuh, aku mengeluh tentang Dia dan bahkan mengkhianati serta meninggalkan-Nya. Bisa-bisanya aku sangat tidak memiliki hati nurani dan nalar! Jika Tuhan tidak menggunakan saudara-saudari untuk membantu dan mendukungku, aku pasti sudah dicelakai dan ditelan oleh Iblis. Syukur kepada Tuhan karena telah menyelamatkanku! Menyadari hal ini, aku bertobat kepada Tuhan dan mengakui dosa-dosaku. Aku memutuskan untuk tidak lagi percaya kepada Tuhan dengan niat mendapatkan berkat, dan menjadi bersedia menyerahkan penyakitku ke dalam tangan Tuhan dan tunduk pada pengaturan serta penataan-Nya.
Setelah aku keluar dari rumah sakit, jumlah trombositku hampir kembali normal, tetapi terus menurun selama pemeriksaan mingguanku, dan memar-memar kecil mulai muncul di tubuhku. Dokter meningkatkan dosis obatku hingga maksimal, tetapi kondisiku masih belum membaik, jadi aku harus dirawat di rumah sakit lagi. Aku merasa sangat lemah dan khawatir, berpikir, "Aku sedang berusaha percaya kepada Tuhan dengan benar sekarang, jadi mengapa Dia tidak membiarkan jumlah trombositku naik?" Aku menyadari bahwa aku sedang menuntut Tuhan, jadi aku berdoa dalam hati, "Ya Tuhan, aku tahu tidak seharusnya aku menuntut-Mu, tetapi tingkat pertumbuhanku begitu kecil, dan aku tidak pernah bisa sepenuhnya tunduk kepada-Mu. Tuhan, aku berdoa kiranya Engkau membimbingku dan memberiku iman." Kemudian aku teringat akan firman Tuhan: "Jangan khawatirkan tentang bagaimana hari esokmu kelak, atau bagaimana masa depanmu nanti. Selama engkau mengandalkan-Ku untuk kehidupanmu setiap hari, maka Aku pasti akan menuntunmu" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Perkataan Kristus pada Mulanya, Bab 28"). "Iman itu seperti jembatan titian: Mereka yang sayang akan nyawa dan takut mati akan sulit menyeberanginya, tetapi mereka yang siap menyerahkan nyawanya dapat menyeberang dengan mantap, tanpa rasa khawatir. Jika orang menyimpan pikiran yang takut dan gentar, itu karena mereka telah diperdaya Iblis; Iblis takut kita akan menyeberangi jembatan iman untuk masuk ke dalam Tuhan. Iblis berusaha dengan segala cara untuk mengirimkan pikiran-pikirannya kepada kita. Kita harus senantiasa berdoa agar Tuhan menerangi dan mencerahkan kita, senantiasa bergantung kepada Tuhan untuk membersihkan racun Iblis dari dalam diri kita, senantiasa berlatih dalam roh kita untuk mendekat kepada Tuhan, dan membiarkan Tuhan berkuasa atas seluruh keberadaan kita" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Perkataan Kristus pada Mulanya, Bab 6"). Firman Tuhan membantuku memahami bahwa pikiran-pikiran kekhawatiran dan ketakutan itu semuanya berasal dari Iblis, dan hanya dengan setiap saat mengandalkan Tuhan serta memiliki tekad untuk mempertaruhkan nyawaku, aku dapat membuang sifat pengecutku dan menang atas Iblis. Firman Tuhan memberiku iman. Tuhan berdaulat atas segala sesuatu dan memerintah atas segalanya. Penyakitku ada di tangan-Nya. Apa pun yang terjadi, aku bersedia mengandalkan Tuhan untuk mengalaminya. Dengan Tuhan di sisiku, tidak ada yang perlu kutakuti. Bagi orang yang tidak berarti sepertiku, yang digerogoti penyakit, bisa datang ke hadapan Tuhan hari ini dan menikmati firman-Nya sudah merupakan kasih karunia dan peninggian dari-Nya. Bahkan jika aku harus mati suatu hari nanti, hidupku tidak akan sia-sia. Menyadari hal ini, hatiku tidak lagi begitu khawatir atau takut. Aku menjadi bersedia untuk tunduk pada kedaulatan Tuhan dan terus setiap hari membaca firman Tuhan seperti biasanya. Setelah itu, dokter mengurangi obatku, dan yang mengejutkanku, jumlah trombositku justru naik. Aku keluar dari rumah sakit segera setelah itu. Aku tak henti-hentinya bersyukur kepada Tuhan dalam hatiku. Aku melihat bahwa Tuhanlah yang memegang keputusan akhir dalam segala hal, dan imanku kepada-Nya bertumbuh. Setelah itu, bulan demi bulan jumlah trombositku terus naik, dan beberapa bulan kemudian telah benar-benar kembali normal. Aku tak bisa menaham rasa kagumku akan kemahakuasaan Tuhan dan makin dalam merasakan bahwa Tuhan berdaulat atas segalanya. Hatiku dipenuhi dengan rasa syukur yang tak terhingga kepada-Nya.
Kemudian, aku membaca dua bagian firman Tuhan lagi dan memperoleh pemahaman baru tentang masalah-masalahku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Dalam gagasan manusia, Tuhan harus selalu memperlihatkan tanda dan keajaiban, harus selalu menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan, dan harus selalu seperti Yesus. Namun, kali ini, Tuhan sama sekali tidak seperti itu. Jika, pada akhir zaman, Tuhan masih memperlihatkan tanda dan keajaiban, dan masih mengusir setan dan menyembuhkan orang sakit—jika Dia melakukan hal yang sama persis seperti yang Yesus lakukan—berarti Tuhan mengulangi pekerjaan yang sama, dan pekerjaan Yesus tidak memiliki makna atau nilai. ... Mengapa pekerjaan Tuhan pada zaman sekarang berbeda dengan pekerjaan Yesus? Mengapa Tuhan sekarang ini tidak memperlihatkan tanda dan keajaiban, tidak mengusir setan, dan tidak menyembuhkan orang sakit? Jika pekerjaan Yesus sama dengan pekerjaan yang dilakukan pada Zaman Hukum Taurat, mungkinkah Dia merepresentasikan Tuhan Zaman Kasih Karunia? Mungkinkah Dia menyelesaikan pekerjaan penyaliban? Jika, seperti pada Zaman Hukum Taurat, Yesus masuk ke dalam Bait Suci dan memelihara hari Sabat, Dia tidak akan dianiaya oleh siapa pun dan akan dirangkul oleh semua orang. Jika demikian keadaannya, mungkinkah Dia disalibkan? Mungkinkah Dia menyelesaikan pekerjaan penebusan? Apa gunanya jika pada akhir zaman Tuhan yang berinkarnasi memperlihatkan tanda dan keajaiban seperti yang Yesus lakukan? Hanya bila Tuhan melakukan bagian pekerjaan-Nya yang lain pada akhir zaman, yakni pekerjaan yang merepresentasikan sebagian dari rencana pengelolaan-Nya, barulah manusia dapat memperoleh pengenalan yang lebih dalam akan Tuhan, dan hanya dengan demikianlah rencana pengelolaan Tuhan dapat diselesaikan" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Pengenalan akan Pekerjaan Tuhan Sekarang Ini"). "Sekarang ini, seharusnya jelas bagi engkau semua bahwa, pada akhir zaman, fakta bahwa 'Firman menjadi daging' adalah yang terutama yang digenapi oleh Tuhan. Melalui pekerjaan-Nya yang nyata di bumi, Dia membuat manusia mengenal diri-Nya, dan berhubungan dengan-Nya, dan melihat perbuatan-perbuatan-Nya yang nyata. Dia membuat manusia melihat dengan jelas bahwa Dia dapat memperlihatkan tanda dan keajaiban, tetapi ada pula masa ketika Dia tidak dapat melakukan itu; ini tergantung pada zamannya. Berdasarkan hal ini, engkau dapat melihat bahwa Tuhan bukan tidak mampu memperlihatkan tanda dan keajaiban, melainkan Dia mengubah cara-Nya bekerja sesuai dengan pekerjaan yang harus dilakukan dan sesuai dengan zamannya. Pada tahap pekerjaan yang sekarang ini, Dia tidak memperlihatkan tanda dan keajaiban; bahwa Dia memperlihatkan beberapa tanda dan keajaiban pada zaman Yesus adalah karena pekerjaan-Nya pada zaman itu berbeda. Tuhan tidak melakukan pekerjaan tersebut pada zaman sekarang, dan beberapa orang meyakini bahwa Dia tak mampu memperlihatkan tanda dan keajaiban, atau mereka berpikir jika Dia tidak memperlihatkan tanda dan keajaiban, maka Dia bukanlah Tuhan. Bukankah ini sebuah kekeliruan? Tuhan sanggup memperlihatkan tanda dan keajaiban tetapi Dia sedang bekerja di zaman yang berbeda, dan karena itu Dia tidak melakukan pekerjaan seperti itu. Karena ini adalah zaman yang berbeda, dan karena ini adalah tahap pekerjaan Tuhan yang berbeda, perbuatan-perbuatan yang diperlihatkan Tuhan juga berbeda. Kepercayaan manusia kepada Tuhan bukanlah kepercayaan pada tanda dan keajaiban, bukan pula kepercayaan pada mukjizat, melainkan kepercayaan pada pekerjaan-Nya yang nyata selama zaman yang baru. Manusia mengenal Tuhan melalui cara Tuhan bekerja, dan pengenalan ini menghasilkan kepercayaan kepada Tuhan dalam diri manusia, yang artinya, kepercayaan pada pekerjaan dan perbuatan Tuhan. ... Di setiap zaman, Tuhan memperlihatkan perbuatan-perbuatan yang berbeda. Di setiap zaman, Dia memperlihatkan sebagian dari perbuatan-Nya, dan pekerjaan setiap zaman merepresentasikan satu bagian dari watak Tuhan, dan merepresentasikan satu bagian dari perbuatan Tuhan. Perbuatan yang Dia perlihatkan berbeda-beda tergantung pada zaman Dia bekerja, tetapi semuanya memberi kepada manusia pengetahuan tentang Tuhan yang lebih mendalam, kepercayaan kepada Tuhan yang lebih nyata dan lebih solid. Manusia percaya kepada Tuhan oleh karena semua perbuatan Tuhan, karena Tuhan begitu ajaib, begitu besar, karena Dia mahakuasa, dan tidak terselami" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Pengenalan akan Pekerjaan Tuhan Sekarang Ini"). Setelah membaca firman Tuhan, aku menyadari bahwa gagasan yang kusingkapkan selama sakitku persis seperti ini: keyakinan bahwa jika Dia adalah Tuhan, Dia harus mengadakan tanda dan mukjizat, menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan, dan jika Dia tidak melakukannya, Dia bukan Tuhan. Pandanganku begitu konyol dan tidak masuk akal! Iblis dan roh-roh jahat juga bisa meniru Tuhan dengan mengadakan beberapa tanda dan mukjizat untuk menyembuhkan orang. Apakah itu berarti mereka bisa disebut Tuhan? Bukankah itu menghujat Tuhan? Tuhan adalah Sang Pencipta, yang memerintah dan berdaulat atas segala sesuatu, serta dapat membimbing dan menyelamatkan umat manusia. Pada akhir zaman, Tuhan telah menjadi daging untuk mengungkapkan kebenaran guna menyelamatkan manusia sepenuhnya. Dengan menerima penghakiman serta hajaran firman Tuhan Yang Mahakuasa, orang dapat membuang watak rusak Iblis mereka, memperoleh keselamatan, dan disempurnakan. Pekerjaan dan firman semacam ini jauh melampaui otoritas dan kuasa Tuhan dalam mengadakan tanda dan mukjizat untuk menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan. Ini adalah sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh manusia ciptaan mana pun, maupun oleh Iblis atau roh jahat mana pun. Aku teringat betapa banyaknya orang yang saat ini menentukan apakah seseorang adalah Tuhan atau bukan dengan berdasarkan apakah mereka bisa menyembuhkan orang sakit atau mengadakan mukjizat. Ketika Iblis dan roh-roh jahat memberi mereka sedikit keuntungan atau mengadakan beberapa mukjizat, mereka menyembahnya, memperlakukan Iblis sebagai Tuhan yang benar, sambil menutup pintu bagi Tuhan yang benar yang mengungkapkan kebenaran dan dapat menyelamatkan manusia. Akibatnya, mereka kehilangan kesempatan untuk diselamatkan. Pandangan seperti itu benar-benar konyol dan menghancurkan! Dari firman Tuhan, aku juga memahami bahwa menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, serta mengadakan tanda dan mukjizat adalah pekerjaan yang Tuhan lakukan pada Zaman Kasih Karunia. Jika Tuhan melakukannya lagi pada akhir zaman, itu akan menjadi pengulangan. Jika Tuhan selalu menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, dan mengadakan mukjizat, maka semua orang akan percaya dan mengikuti Tuhan hanya karena penyakit mereka sembuh atau karena mereka melihat mukjizat. Ini akan membuat mustahil untuk menyingkapkan siapa yang benar-benar percaya dan siapa yang memiliki iman palsu, apalagi memilah masing-masing menurut jenisnya. Kali ini, Tuhan tidak mengadakan satu pun tanda atau mukjizat dalam pekerjaan-Nya, yang dapat lebih baik dalam menyingkapkan watak rusak manusia serta lebih bermanfaat untuk mengubah dan menyucikan mereka. Contohnya aku. Jika Tuhan benar-benar mengabulkan setiap permintaanku dan menyembuhkan penyakitku sepenuhnya, aku tidak akan pernah merenungkan pandanganku yang keliru tentang iman atau niatku yang tercela untuk mencoba tawar-menawar dengan Tuhan. Aku akan terus membatasi Tuhan berdasarkan gagasan dan imajinasiku sendiri. Jika cara percayaku seperti itu, aku tidak akan pernah memperoleh kebenaran dan hidup, watak rusakku tidak akan berubah, dan pada akhirnya aku akan disingkirkan. Meskipun selama sakit ini aku mengalami penderitaan fisik, melalui doa dan mengandalkan Tuhan di tengah penderitaanku, Tuhan mencerahkan dan membimbingku dengan firman-Nya, membebaskanku dari kekangan penyakitku dan dari hidup dalam kesakitan dan ketakutan. Aku juga memperoleh sedikit iman kepada Tuhan. Inilah yang kuperoleh yang tidak akan pernah bisa kudapatkan di lingkungan yang nyaman. Aku benar-benar merasa bahwa pekerjaan Tuhan menggunakan firman-Nya untuk menyelamatkan manusia begitu nyata dan bijaksana! Setelah memahami hal ini, dalam hati aku berdoa kepada Tuhan, "Ya Tuhan, apa pun yang terjadi dengan penyakitku kelak, aku bersedia memercayakan segalanya kepada-Mu, untuk dengan tulus mengejar kebenaran serta melaksanakan tugasku dengan baik."
Kemudian aku membaca lebih banyak firman Tuhan dan jadi mengetahui apa itu iman yang sejati kepada Tuhan. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "'Percaya kepada Tuhan' berarti percaya bahwa Tuhan itu ada; ini adalah konsep paling sederhana tentang percaya kepada Tuhan. Lebih jauh lagi, percaya bahwa Tuhan ada tidaklah sama dengan benar-benar percaya kepada Tuhan; sebaliknya, ini adalah sejenis kepercayaan sederhana dengan nuansa agamawi yang kuat. Kepercayaan sejati kepada Tuhan berarti: Atas dasar kepercayaan bahwa Tuhanlah yang berdaulat atas segala sesuatu, orang mengalami firman-Nya dan pekerjaan-Nya, dan dengan demikian membuang watak rusaknya, memenuhi maksud-maksud Tuhan, dan akhirnya mengenal Tuhan. Hanya perjalanan semacam inilah yang dapat disebut 'percaya kepada Tuhan'" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Kata Pengantar"). "Engkau mungkin berpikir bahwa percaya kepada Tuhan adalah tentang menderita, atau melakukan banyak hal bagi-Nya, atau dagingmu merasakan kedamaian, atau segala sesuatu berjalan lancar bagimu, dan engkau merasa nyaman dan tenang dalam segala hal. Tak satu pun dari hal-hal ini merupakan tujuan yang seharusnya orang miliki dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan. Jika engkau percaya demi tujuan-tujuan ini, berarti sudut pandangmu salah, dan sama sekali tidak mungkin bagimu untuk disempurnakan. Perbuatan Tuhan, watak benar Tuhan, hikmat-Nya, firman-Nya, keajaiban-Nya serta diri-Nya yang tak terselami, semua itulah yang seharusnya orang pahami. Melalui pemahaman ini, engkau harus menyingkirkan tuntutan, harapan dan gagasan pribadimu dari dalam hatimu. Hanya dengan menyingkirkan hal-hal ini, barulah engkau dapat memenuhi syarat yang dituntut oleh Tuhan. Hanya melalui ini, barulah engkau dapat memiliki hidup dan memuaskan Tuhan. Tujuan percaya kepada Tuhan adalah untuk memuaskan-Nya dan untuk hidup dalam watak yang Dia inginkan, agar perbuatan dan kemuliaan-Nya dapat terwujud melalui sekelompok orang yang tidak layak ini. Inilah cara pandang yang benar dalam percaya kepada Tuhan, dan ini juga merupakan tujuan yang seharusnya engkau kejar. Engkau harus memiliki cara pandang yang benar dalam memercayai Tuhan dan engkau harus berusaha mendapatkan firman Tuhan. Engkau perlu makan dan minum firman Tuhan dan harus bisa hidup dalam kebenaran dan terutama engkau harus mampu melihat perbuatan-perbuatan-Nya yang nyata, perbuatan-Nya yang menakjubkan di seluruh alam semesta, juga pekerjaan nyata yang Dia lakukan dalam daging. Melalui pengalaman praktis mereka, manusia bisa menyadari bagaimana Tuhan melakukan pekerjaan-Nya dalam diri mereka dan apa yang menjadi maksud-Nya bagi mereka. Tujuan semua ini adalah untuk menyingkirkan watak Iblis mereka yang rusak" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Mereka yang Akan Disempurnakan Harus Mengalami Pemurnian"). "Sekarang apakah engkau semua memahami apa arti kepercayaan kepada Tuhan? Apakah kepercayaan kepada Tuhan berarti melihat tanda dan mukjizat? Apakah itu berarti naik ke surga? Percaya kepada Tuhan tidaklah mudah. Praktik-praktik agamawi semacam itu harus disingkirkan; mengejar kesembuhan orang sakit dan mengusir setan, berfokus pada tanda dan mukjizat, mendambakan lebih banyak kasih karunia, damai sejahtera dan sukacita, mengejar prospek dan kenyamanan daging—semua ini adalah praktik-praktik agamawi, dan praktik-praktik agamawi semacam itu merupakan jenis kepercayaan yang samar. Apa yang dimaksud dengan kepercayaan yang sejati kepada Tuhan sekarang ini? Itu adalah penerimaan terhadap firman Tuhan sebagai kenyataan hidupmu dan mengenal Tuhan dari firman-Nya untuk mencapai kasih sejati kepada-Nya. Lebih jelasnya: kepercayaan kepada Tuhan adalah agar engkau bisa tunduk kepada Tuhan, mengasihi-Nya, dan memenuhi tugas yang seharusnya dipenuhi oleh makhluk ciptaan. Inilah tujuan percaya kepada Tuhan" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Segala Sesuatu Terlaksana oleh Firman Tuhan"). Dari firman Tuhan, aku jadi mengetahui bahwa percaya kepada Tuhan seharusnya bukan demi kedamaian fisik, juga bukan demi berkat. Sebaliknya, itu seharusnya tentang lebih banyak makan dan minum firman Tuhan serta mengalami pekerjaan-Nya, untuk membuang watak rusak Iblis dalam diri seseorang dan hidup berdasarkan firman Tuhan serta mampu mengenal, tunduk, dan takut akan Tuhan; hanya dengan begitu seseorang pada akhirnya dapat diselamatkan oleh Tuhan. Namun perspektifku tentang iman salah sejak awal. Aku ingin Tuhan menyembuhkanku dan memberiku kedamaian fisik. Iman semacam ini adalah kepercayaan agama yang samar, dan Tuhan sama sekali tidak mengakuinya. Aku teringat akan Ayub. Dia tidak mencari kedamaian fisik dalam imannya. Sebaliknya, dia berfokus untuk merasakan kedaulatan Tuhan dan mengenal perbuatan-Nya dalam kehidupan sehari-harinya, dan yang dia kejar adalah takut akan Tuhan serta menjauhi kejahatan. Ketika tubuhnya ditimpa penyakit, dia tidak berbuat dosa dengan bibirnya. Dia lebih memilih menanggung rasa sakit yang luar biasa daripada mengeluh atau menyalahkan Tuhan, dan dia tetap memuji nama Tuhan. Imannya diperkenan oleh Tuhan. Namun, aku tidak mengejar kebenaran dalam imanku; aku hanya mencari kedamaian fisik. Ketika penyakitku kambuh, hatiku dipenuhi keluhan terhadap Tuhan, dan aku bahkan menyangkal serta mengkhianati-Nya. Aku bahkan tidak bisa dibandingkan dengan Ayub. Hidupku ini diberikan oleh Tuhan. Fakta bahwa nyawaku tidak dalam bahaya selama mimisan tanpa henti itu sudah merupakan pemeliharaan dan perlindungan Tuhan. Namun, aku bukannya bersyukur kepada Tuhan; melainkan justru mengeluhkan dan mengkhianati-Nya. Aku benar-benar sangat tidak memiliki hati nurani dan nalar! Selain itu, aku sudah terkena penyakit ini bahkan sebelum aku percaya kepada Tuhan. Bahkan jika aku tidak percaya, penyakitku pasti akan tetap kambuh. Kambuhnya penyakitku tidak ada hubungannya dengan apakah aku percaya kepada Tuhan atau tidak. Aku seharusnya tidak mengeluh tentang Dia. Aku kemudian memahami apa itu iman yang sejati kepada Tuhan, dan aku menjadi bersedia untuk dengan tulus mengejar kebenaran sesuai dengan tuntutan-Nya dan mengalami pekerjaan Tuhan.
Setelah itu, setiap kali aku mengalami sakit, aku berfokus untuk merenungkan watak rusak yang kusingkapkan dan mencari kebenaran untuk menyelesaikannya. Dengan menerapkan cara ini, aku tidak lagi begitu terkekang oleh penyakitku. Syukur kepada Tuhan karena telah menggunakan penyakit ini untuk memberiku pemahaman tentang pandanganku yang keliru tentang iman dan membantuku menemukan jalan iman yang benar kepada Tuhan. Apa pun yang terjadi pada tubuhku kelak atau apakah penyakitku bisa disembuhkan atau tidak, aku akan mengikuti Tuhan dan menempuh jalan mengejar kebenaran. Syukur kepada Tuhan!
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Saat aku berusia tujuh belas tahun, ayahku meninggal karena penyakit. Tak lama kemudian, ibuku kehilangan penglihatannya. Untuk merawat...
Pada Desember 2022, aku menderita neuralgia trigeminal. Setelah operasi, sisi kanan kepalaku masih mati rasa dan aku sering merasa pusing...
Pada tahun 2011, aku menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa di akhir zaman, dan kurang dari dua tahun kemudian, suamiku meninggal dunia...
Oleh Saudari Jin Xin, TiongkokIbuku mengidap kanker dan meninggal sebelum aku menikah dan ayahku menderita tekanan darah tinggi ketika...