Keluar dari Pusaran Pengejaranku akan Uang

11 Maret 2026

Waktu aku masih kecil, keluargaku sangat miskin. Orang tuaku mencari nafkah sebagai petani, dan ayahku sering pergi bekerja mengangkut karung demi mendapatkan uang. Untuk sedikit meringankan beban hidup, aku dan ibu biasa pergi ke ladang saat panen gandum untuk memungut sisa-sisa gandum dan menjualnya demi uang tambahan. Setiap kali, aku mendengar orang-orang mengejek kami, berkata, "Kau memungut gandum bersama ibumu lagi? Apa ayahmu tidak bisa menafkahimu?" Aku merasa sangat sedih, dan aku bertekad bahwa kelak, aku akan bekerja keras demi mendapatkan uang dan mengungguli orang lain, supaya tidak ada lagi yang mengejek kami. Saat berumur 7 tahun, aku memetik buah kesemek dari pohon kami dan menjualnya di jalanan. Di SMA, aku mencoba membuka kelas bimbingan belajar musim panas, dan meskipun berakhir dengan kegagalan, aku menolak menyerah dalam mencari uang. Saat kuliah, aku membuka lapak di jalanan selama liburan untuk menghasilkan uang, dan aku juga bekerja paruh waktu. Sebenarnya, pada tahun 2006, saat aku masih SMP, aku mengikuti ibuku percaya kepada Tuhan dan menghadiri pertemuan. Namun, saat itu, aku berfokus pada sekolah dan pekerjaan, serta mengesampingkan imanku. Terkadang saat aku pulang, ibu memperlihatkan firman Tuhan kepadaku, tetapi aku menolaknya dengan tidak sabar, berpikir bahwa menghadiri pertemuan dan membaca firman Tuhan itu buang-buang waktu. Seluruh fokusku adalah mengembangkan karierku, karena yakin bahwa hanya melalui usahaku sendirilah aku bisa menghasilkan lebih banyak uang. Lagipula, bukankah kesuksesan di dunia saat ini diukur dengan rumah, mobil, dan uang? Hanya ketika seseorang menghasilkan cukup uang, barulah dia bisa dikagumi orang lain, bahkan orang tuanya juga bisa ikut dikagumi.

Karena aku mengambil jurusan pertunjukan musik, setelah lulus pada tahun 2016, aku bekerja sebagai guru pengganti. Pada tahun 2018, aku memulai bisnisku sendiri dan mendirikan sekolah seni. Untuk merekrut murid, aku membagikan selebaran dari pintu ke pintu di bawah terik matahari siang, dan pada malam hari, aku berkeliling kota membawa alat musikku untuk merekrut murid, sering kali baru sampai di rumah sekitar pukul sebelas malam. Semua tekanan dan kebiasaan begadang itu membuatku sering sakit kepala, tetapi saat teringat untuk mencari lebih banyak murid yang mau mendaftar dan menghasilkan lebih banyak uang membuat semuanya terasa sepadan. Melalui usahaku yang tekun, aku merekrut makin banyak murid. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mendapat jumlah uang yang cukup besar. Melihat sekolahku berkembang pesat, para tetangga dan orang tua murid memujiku cakap dan kompeten. Mendengar pengakuan mereka membuatku merasa bangga, dan akhirnya aku dapat berperilaku dengan kepala tegak.

Bagi sekolah seni, Juli adalah masa emas dalam setahun. Karena para murid sedang libur musim panas, jika pendaftarannya tinggi, satu bulan ini bisa mendatangkan keuntungan puluhan ribu. Pada bulan Juli 2021, untuk memanfaatkan kesempatan mendapatkan lebih banyak uang, aku membuka lebih banyak kelas kursus dan bertanggung jawab atas makanan para murid. Mengurus makan begitu banyak murid sangat menambah beban kerjaku, dan aku harus pergi setiap hari untuk membeli bahan makanan. Aku ingat suatu pagi ketika hujan turun sangat deras, di tengah hujan deras, aku mengangkut satu demi satu keranjang sayuran ke mobil, masing-masing keranjang beratnya puluhan kilo. Aku basah kuyup sampai ke tulang, tetapi aku sama sekali tidak merasa ini berat. Aku berpikir dalam hati, "Hanya satu bulan ini saja; jika aku bertahan, ini akan segera berlalu. Setelah bulan ini, saatnya menghitung uang, dan aku akan selangkah lebih dekat dengan kehidupan tingkat atas yang kudambakan." Memikirkannya saja sudah membuatku senang. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa pada minggu ketiga bulan Juli, aku akan menerima kabar bahwa karena pandemi, semua sekolah harus meliburkan kelas. Kabar ini bagaikan petir di siang bolong. Aku telah mengerahkan usaha yang sangat besar untuk mempersiapkan kelas musim panas ini, menginvestasikan banyak tenaga, materi, dan uang. Menurut rencanaku, asalkan aku berhasil melewati bulan ini, aku bisa mengantongi uang itu dengan lancar, tetapi pada titik ini, baru setengah pelajaran yang selesai, dan aku masih harus mengembalikan uang untuk pelajaran yang belum selesai. Saat melihat uang yang sudah di tanganku melayang begitu saja, aku pun ingin menangis, tetapi tidak ada yang bisa kulakukan. Setelah pengembalian uang, aku sadar selama musim panas ini aku bekerja hampir tanpa hasil, dan aku merasa cukup sedih karenanya. Aku menghabiskan hari-hariku dengan perasaan murung. Dengan diliburkannya kelas karena pandemi, tiba-tiba aku punya waktu luang. Sekitar waktu itu, seorang saudari datang ke rumahku, dan dia bersekutu denganku dan mengatakan bahwa Tuhan adalah Yang Berdaulat atas segala sesuatu, dan bahwa Dia telah mengatur nasib kita masing-masing. Dia juga berkata bahwa selama beberapa tahun aku tidak menghadiri pertemuan, saudara-saudari selalu memikirkanku, ingin membantu dan mendukungku. Aku teringat bagaimana aku sudah begitu lama tidak membaca firman Tuhan dan telah menjauh dari-Nya, tetapi Dia masih peduli padaku dan mengatur agar saudari itu menghiburku. Aku merasakan kehangatan yang mendalam di hatiku. Kali ini, aku tidak menolak lagi, dan setelah tiga belas tahun, akhirnya aku kembali ke rumah Tuhan dan menjalani kehidupan gereja lagi.

Suatu kali saat melakukan saat teduh, aku membaca firman Tuhan ini: "Pekerjaan yang orang pilih, bagaimana orang mencari nafkah: apakah orang memiliki kendali mengenai apakah mereka mengambil pilihan yang baik atau buruk dalam hal-hal ini? Apakah hal-hal ini selaras dengan keinginan dan keputusan orang? Kebanyakan orang memiliki keinginan berikut: bekerja lebih sedikit tetapi berpenghasilan lebih banyak, tidak berjerih lelah di bawah terik matahari dan hujan, berpakaian bagus, tampak gemilang dan bersinar ke mana pun mereka pergi, berkedudukan lebih tinggi dibanding orang lain, dan membawa kehormatan bagi leluhur mereka. Manusia mengharapkan kesempurnaan, tetapi saat mereka mengambil langkah pertama dalam perjalanan hidupnya, mereka berangsur-angsur menyadari betapa tidak sempurnanya nasib manusia, dan untuk pertama kalinya mereka benar-benar memahami fakta bahwa, meskipun orang dapat membuat rencana yang berani untuk masa depannya dan meskipun orang dapat memiliki banyak khayalan yang liar, tidak seorang pun yang punya kemampuan atau kuasa untuk mewujudkan impian mereka sendiri, dan tidak seorang pun mampu untuk mengendalikan masa depan mereka. Akan selalu ada jarak antara mimpi seseorang dan kenyataan yang harus dihadapinya; segala sesuatu tidak pernah menjadi seperti yang orang inginkan, dan dihadapkan pada kenyataan seperti itu, orang tidak akan pernah mencapai kepuasan atau rasa cukup. Sebagian orang akan melakukan apa pun yang terbayangkan oleh mereka, akan mengerahkan segala upaya dan mengorbankan banyak hal demi penghidupan dan masa depan mereka, dalam upaya mengubah nasib mereka sendiri. Namun, pada akhirnya, sekalipun mereka dapat mewujudkan mimpi dan keinginan mereka melalui kerja keras mereka sendiri, mereka tidak pernah bisa mengubah nasib mereka, dan segigih apa pun mereka berusaha, mereka tidak pernah dapat melampaui nasib yang telah ditentukan bagi mereka. Terlepas dari perbedaan dalam kemampuan, kecerdasan, dan tekad, semua orang adalah setara di hadapan nasib, yang tidak membedakan antara yang besar dan yang kecil, yang tinggi dan yang rendah, yang terpandang dan yang hina. Pekerjaan apa pun yang dijalani seseorang, apa yang orang lakukan untuk mencari nafkah, dan berapa banyak kekayaan yang orang kumpulkan dalam hidup ini, itu tidaklah ditentukan oleh orang tua, talenta, upaya, ataupun ambisi seseorang, melainkan telah ditetapkan oleh Sang Pencipta" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik III"). Firman Tuhan seolah membangunkanku dari mimpi, dan aku mengerti bahwa nasibku serta apakah aku memiliki kekayaan atau tidak, semuanya ada di bawah kedaulatan dan pengaturan Tuhan. Seberapa keras pun aku berusaha dan berjuang, pada akhirnya, aku tidak bisa mengubah apa yang telah ditakdirkan Tuhan. Sebelumnya, aku tidak mengenal kedaulatan Tuhan, dan selalu ingin mengandalkan usahaku sendiri untuk mengubah nasibku. Waktu masih kecil, keluargaku miskin, dan aku selalu diejek orang lain, jadi aku bermimpi suatu hari nanti aku bisa menjalani hidup sebagai orang kaya yang akan membuat orang lain kagum. Itulah sebabnya, waktu kecil, aku meniru orang dewasa dengan belajar menjual barang, dan aku membuka kelas bimbingan belajar selama liburan musim panas sebelum lulus SMA. Saat kuliah, aku bersikeras membuka lapak di jalanan dan melakukan pekerjaan paruh waktu, lalu setelah lulus, aku memulai bisnis dengan membuka sekolah. Semuanya itu hanya untuk menghasilkan lebih banyak uang. Namun, ketika pandemi tiba-tiba melanda dan aku harus menghentikan kelas, semua rencanaku hancur, dan aku harus menyaksikan uang yang sudah masuk ke kantongku dikembalikan. Saat itu aku benar-benar merasakan bahwa kerja keras belum tentu membuahkan hasil, dan tidak semuanya berjalan sesuai rencana manusia. Nasib seseorang sepenuhnya ada di tangan Tuhan. Seberapa banyak kekayaan yang kumiliki dalam hidup ini tidak bergantung pada usaha dan rencanaku, melainkan pada penakdiran dan kedaulatan Sang Pencipta. Rencana dan usaha manusia hanyalah cita-cita dan keinginan belaka. Itu tidak bisa menentukan hasil akhirnya, juga tidak bisa mengubah takdir Tuhan. Tuhan memberiku bakat dalam musik dan pertunjukan supaya aku bisa menghidupi diriku sendiri. Namun, aku tetap tidak puas, selalu ingin mengandalkan usahaku sendiri untuk menjalani hidup yang kaya dan berkelimpahan, tidak mampu tunduk pada pengaturan dan penataan Tuhan. Pada akhirnya, bukan saja aku gagal memenuhi keinginanku, tetapi aku juga membuat diriku kelelahan dan merasakan kepedihan di hati. Aku benar-benar bodoh! Kemudian aku membaca lebih banyak firman Tuhan dan menemukan jalan penerapan. Tuhan berfirman: "Setelah engkau menyadari ini, yang harus kaulakukan adalah melepaskan pandangan hidupmu yang lama, menjauhi berbagai perangkap, membiarkan Tuhan mengendalikan hidupmu dan membuat pengaturan baginya, hanya berusaha untuk tunduk pada pengaturan dan bimbingan Tuhan tanpa membuat pilihanmu sendiri, dan menjadi orang yang menyembah Tuhan" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik III"). Aku tidak lagi ingin berjuang melawan takdir Tuhan dan bersedia tunduk pada kedaulatan dan pengaturan-Nya. Setelah itu, aku aktif menghadiri pertemuan dan makan dan minum firman Tuhan, dan aku juga mulai berlatih untuk menyirami anggota baru. Hatiku merasa tenang dan lega dan aku melihat kasih karunia Tuhan. Selama pandemi, semua industri sedang lesu, dan sebagian besar lembaga pendidikan menderita kerugian besar. Namun, sekolahku bukan hanya bisa berjalan dengan normal, tetapi dua lembaga lain bahkan menghubungiku untuk kerja sama, membantuku melewati masa sulit ini.

Pada Juni 2022, aku mengemban tugas sebagai pemimpin kelompok penyiraman. Dengan makan dan minum firman Tuhan, aku jadi mengerti bahwa saat ini, Tuhan sedang melaksanakan penyelamatan terakhir-Nya bagi umat manusia, dan bahwa pada akhirnya, Tuhan akan menggunakan berbagai malapetaka untuk menyudahi zaman ini, memberi upah kepada yang baik dan menghukum yang jahat sesuai dengan perbuatan masing-masing. Hanya mereka yang menerapkan kebenaran, melaksanakan tugas mereka dengan baik, dan dibersihkan watak rusaknya, yang bisa diselamatkan oleh Tuhan serta bertahan hidup. Adapun aku, selain jadwal kelasku yang tidak teratur setiap minggu, aku juga harus menangani berbagai masalah di kampus mitra, dan aku sama sekali tidak punya cukup waktu atau tenaga untuk mengejar kebenaran serta melaksanakan tugasku dengan baik. Jadi aku berpikir untuk melepaskan sebagian pekerjaanku agar punya lebih banyak waktu untuk tugasku. Namun, aku merasa bimbang, pikirku, "Tugasku lebih penting daripada mengajar dan mencari uang, tapi mengajar itu tidak terlalu melelahkan, dan kampus mitra berkembang dengan stabil. Jika aku melepaskan hal-hal ini, penghasilanku akan jauh berkurang!" Aku merasa agak tidak rela melepaskan hal-hal ini. Aku kemudian berdoa kepada Tuhan, meminta Dia membimbingku supaya aku bisa melepaskan beban ini dan punya lebih banyak waktu untuk makan dan minum firman-Nya dan melaksanakan tugasku. Kemudian, aku teringat firman Tuhan: "Kerajaan sedang meluas di tengah umat manusia, sedang terbentuk di tengah umat manusia, sedang tegak berdiri di tengah umat manusia; tidak ada kekuatan yang dapat menghancurkan kerajaan-Ku. Umat-Ku, yang berada di dalam kerajaan-Ku sekarang ini, siapakah dari antaramu yang bukan anggota umat manusia? Siapakah dari antaramu yang berada di luar kondisi manusia? Ketika titik awal-Ku yang baru diumumkan kepada orang banyak, bagaimana orang-orang akan bereaksi? Engkau semua telah melihat keadaan dunia manusia dengan matamu sendiri; bukankah engkau semua belum mengenyahkan pemikiran untuk hidup selamanya di dunia ini?" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Firman Tuhan kepada Seluruh Alam Semesta, Bab 19"). Injil Kerajaan Tuhan telah disebarkan ke semua bangsa di dunia, berbagai bencana dan peperangan sudah melanda, dan pekerjaan Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia akan segera berakhir. Jika aku tidak melaksanakan tugasku dengan benar dan terus berfokus mengejar uang, aku hanya akan menghancurkan kesempatanku untuk mendapatkan kebenaran dan diselamatkan. Pada akhirnya, jika aku jatuh ke dalam bencana, uang sebanyak apa pun tidak akan bisa menyelamatkan nyawaku. Mengejar kebenaran dan melaksanakan tugasku dengan baik adalah hal yang benar-benar penting. Jadi aku mulai dengan mengundurkan diri dari kelas-kelas sekolah swastaku, dan kemudian, satu per satu, aku mengakhiri kemitraan dengan kedua kampus itu. Ini membuatku punya waktu luang dari Senin sampai Jumat untuk melaksanakan tugasku, artinya aku hanya mengajar pada akhir pekan. Meskipun sekarang sekolah mitraku lebih sedikit dan penghasilanku berkurang, aku punya lebih banyak waktu untuk makan dan minum firman Tuhan dan melaksanakan tugasku, dan hatiku merasa tenang dan damai. Aku mengira sudah agak melepaskan keterikatanku pada uang, tetapi tanpa kusadari, godaan besar lainnya menantiku.

Pada April 2023, kakak iparku memperkenalkanku pada bisnis toko online, dan dia bilang aku bisa menghasilkan 500.000 yuan dalam 3 sampai 6 bulan. Aku cukup tergiur, berpikir, "Menghasilkan 500.000 dalam waktu sesingkat itu—itu jauh lebih banyak daripada penghasilanku mengajar. Aku sudah punya rumah, tetapi kalau aku bisa mengganti mobilku dengan merek mewah, aku akan terlihat lebih keren saat mengendarainya keliling kota." Namun, saat itu, aku merasa tidak tenang dan takut ditipu, dan aku juga khawatir berbisnis akan memengaruhi tugasku, jadi aku menolak. Kemudian, kakak iparku membuka toko dan menjadi manajer, dan aku melihat penghasilannya naik bertahap dari puluhan yuan per hari menjadi seribu hingga dua ribu. Beberapa orang yang mengikutinya punya kemampuan di bawahku, tapi mereka tetap membuka toko dan menjadi manajer, menghasilkan ribuan yuan per hari. Semua ini membuatku makin tergoda. Aku berpikir, "Ini sepertinya uang gampang. Jika aku juga bisa menghasilkan ribuan per hari, dalam tiga bulan aku bisa mendapatkan 500.000—maka keinginanku untuk mobil baru akan segera terwujud." Bayangan bagaimana orang lain kagum dan ingin menjadi sepertiku saat aku membeli mobil baru pun memotivasiku, dan tanpa ragu lagi, aku menginvestasikan beberapa ribu yuan. Kemudian, untuk menghasilkan lebih banyak uang, aku memperkenalkan bisnis itu kepada teman dan kerabat agar mereka bergabung, berjanji bahwa mereka pasti akan menghasilkan uang, dan jika mereka rugi, aku akan menanggung kerugian mereka. Aku terus memperluas timku, dan pencapaianku terus meningkat. Pada bulan Juni, aku sudah menjadi manajer toko juga, dan penghasilan harianku hampir 2.000 yuan. Pada bulan Juli, aku membuka cabang lain. Bisnis menjadi lebih sibuk dari sebelumnya, dan aku juga menghasilkan lebih banyak uang.

Pada Agustus 2023, saudara-saudari memilihku sebagai diaken penyiraman. Agar tidak memengaruhi tugasku, aku selalu melaksanakan tugasku di siang hari dan mengurus toko online di malam hari setelah sampai di rumah. Sering kali, aku masih melakukan rapat jarak jauh pada jam 1 atau 2 pagi. Aku sering begitu sibuk sampai tidak sempat makan. Hanya dalam tiga bulan, aku sudah membuka delapan toko, dan aku mencapai penjualan lebih dari 2 juta. Namun, karena terus begadang, siang harinya aku sering sakit kepala dan kelelahan, merasa pening dan kurang bertenaga. Ini berdampak serius pada keadaanku dalam melaksanakan tugasku. Aku juga bersikap asal-asalan dalam pertemuan, dan aku tidak bisa menemukan masalah atau menyelesaikan kesulitan saudara-saudariku. Begitu sampai di rumah, ada masalah toko online yang menantiku, dan aku merasa sangat kelelahan. Namun demi mendapatkan uang, aku merasa tidak berdaya untuk membebaskan diri, seolah-olah aku sedang dikendalikan. Aku bertanya kepada kakak iparku, "Kapan aku bisa mendapatkan 500.000 dan tidak perlu lagi mengurus toko online?" Dia menjawab, "Ketika pencapaian timmu mencapai 5 juta, kau bisa melepaskan diri dari industri ini dan berhenti mengurus toko. Saat itu, kau sudah akan mendapatkan cukup uang hingga 500.000." Saat mendengar ini, kepalaku pening, dan tiba-tiba aku sadar aku telah ditipu. Kupikir menghasilkan 500.000 hanya butuh tiga bulan, dan pada saat itu, aku sudah akan mendapatkan uangnya dan tidak menunda tugasku. Aku tidak pernah menyangka ada syarat pencapaian tim sebesar 5 juta yuan. Kapan aku bisa mencapai syarat itu dan membebaskan diri? Angka ini terasa begitu jauh. Aku begitu khawatir sampai tidak bisa makan atau tidur. Waktu itu, aku menghasilkan lebih dari 8.000 yuan per hari, tetapi sama sekali tidak bahagia. Aku sadar aku telah menempuh jalan yang salah, dan aku sangat menderita, jadi aku berdoa, "Tuhan, sekarang aku tahu aku telah jatuh ke dalam pusaran uang. Kupikir ini hanya bisnis kecil bermodal beberapa ribu yuan, dan aku tidak pernah menyangka ini akan menjadi belenggu yang mengikatku. Bagaimana aku bisa menyingkirkan ini? Tuhan, tolong bantu dan bimbing aku." Setelah berdoa, aku memutuskan untuk tidak mengejar 500.000 itu. Aku menelepon kakak iparku dan memberitahukan keputusanku. Kakak iparku melihat aku sudah bertekad, jadi dia setuju. Tak lama setelah aku mundur, suatu hari, tiba-tiba aku menerima kabar bahwa bisnis toko online ini sebenarnya adalah jenis penipuan baru yang sedang marak di internet. Modusnya adalah membiarkan orang mendapatkan uang dulu, lalu saat mereka lengah, para penipu itu kabur membawa semua uang yang diinvestasikan. Akhirnya aku sadar aku telah ditipu. Aku tertegun, dan merasa lemas tak berdaya. Aku telah memperkenalkan banyak orang ke bisnis ini untuk mengembangkan tim, dan menjamin kepada setiap orang bahwa aku akan bertanggung jawab atas kerugian apa pun. Sekarang setelah toko online itu runtuh, semua orang yang kureferensikan mulai mendatangiku untuk meminta uang. Begitulah, aku pun terseret ke dalam penipuan karena keserakahanku akan uang. Dihadapkan pada keharusan membayar ganti rugi ratusan ribu, aku tidak tahu harus berbuat apa. Selama seminggu penuh, aku dikepung oleh ancaman, caci maki, dan interogasi, dan aku dibombardir dengan panggilan telepon serta pesan yang menagih uang. Aku begitu takut sampai tidak berani melihat ponselku, dan aku tidak tahu bagaimana menghadapi semua ini. Rasa sakitnya sampai pada titik di mana aku bahkan berpikir untuk melompat dari gedung untuk mengakhiri semuanya. Aku berpikir meskipun aku juga ditipu, aku tidak bisa menghindar dari menanggung konsekuensinya, jadi pada akhirnya, aku membayar ganti rugi hampir 200.000 yuan. Berat badanku turun lebih dari lima kilo dalam seminggu. Dalam kepedihan dan keputusasaanku, aku berdoa sambil menangis, "Tuhan, aku salah. Aku tahu ambisi dan keinginanku telah menghancurkanku. Aku sangat menderita, tapi aku tahu hal-hal ini menimpaku atas izin-Mu. Mohon bimbing aku untuk memahami maksud-Mu." Setelah berdoa, hatiku perlahan menjadi tenang, dan aku bersedia mencari kebenaran.

Dalam pencarianku, aku membaca firman Tuhan dan jadi mengerti bagaimana Iblis merusak manusia melalui ketenaran dan keuntungan. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Iblis menggunakan ketenaran dan keuntungan untuk mengendalikan pemikiran orang-orang, membuat mereka hanya memikirkan kedua hal ini, dan membuat mereka berjuang demi ketenaran dan keuntungan, menderita kesukaran demi ketenaran dan keuntungan, menanggung penghinaan serta memikul beban berat demi ketenaran dan keuntungan, mengorbankan segala yang mereka miliki demi ketenaran dan keuntungan, dan membuat setiap penilaian atau keputusan adalah demi ketenaran dan keuntungan. Dengan cara inilah, Iblis mengenakan belenggu tak kasatmata pada orang-orang, dan dengan belenggu-belenggu ini, mereka tidak punya kemampuan ataupun keberanian untuk melepaskan diri. Tanpa sadar, mereka memikul belenggu berjalan selangkah demi selangkah, dengan begitu susah payah. Demi ketenaran dan keuntungan ini, umat manusia menjauhi serta mengkhianati Tuhan dan menjadi makin jahat. Dengan cara inilah, generasi demi generasi dihancurkan di tengah ketenaran dan keuntungan Iblis" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik VI"). "'Uang membuat dunia berputar' adalah falsafah Iblis. Falsafah ini sangat lazim di antara orang-orang, di semua masyarakat; dapat dikatakan bahwa ini adalah sebuah tren. Ini karena pepatah itu telah tertanam di dalam hati setiap orang, yang awalnya tidak menerima pepatah ini, tetapi kemudian diam-diam menerimanya ketika mereka mulai berhubungan dengan kehidupan nyata, dan mulai merasa bahwa kata-kata ini sebetulnya benar. Bukankah ini merupakan proses Iblis merusak manusia? ... Sedalam apa pun pengalaman seseorang dengan pepatah ini, dampak negatif apa yang ditimbulkannya dalam hati mereka? Dampaknya adalah orang-orang di dunia ini—dan bisa dikatakan termasuk setiap orang di antaramu—memperlihatkan sesuatu dari watak mereka. Apa itu? Itu adalah pemujaan terhadap uang. Mudahkah membuang hal ini dari hati orang? Itu tidak mudah! Ini menunjukkan bahwa kerusakan manusia oleh Iblis memang sedemikian dalamnya! Iblis menggunakan uang untuk memikat orang, dan merusak mereka semua sehingga mereka memuja uang dan hal-hal materi. Bagaimana pemujaan terhadap uang ini terwujud dalam diri orang? Bukankah engkau semua berpikir bahwa di dunia ini engkau tidak bisa bertahan hidup tanpa uang, dan bahwa engkau tidak bisa menjalani satu hari pun tanpanya? Berapa banyak uang yang orang miliki menentukan seberapa tinggi status mereka, dan seberapa terhormatnya mereka. Orang miskin merasa mereka tidak mampu bangga dan percaya diri, sementara orang kaya yang memiliki status tinggi, bangga dan percaya diri, serta mampu berbicara dengan lantang dan hidup dengan cara yang congkak dan sewenang-wenang. Apa yang didatangkan pepatah dan tren ini kepada manusia? Bukankah benar bahwa banyak orang bersedia mengorbankan apa pun demi memperoleh uang? Bukankah banyak orang kehilangan martabat dan integritas mereka dalam mengejar lebih banyak uang? Bukankah banyak orang kehilangan kesempatan untuk melaksanakan tugas mereka dan mengikut Tuhan demi uang? Bukankah kehilangan kesempatan untuk memperoleh kebenaran dan diselamatkan merupakan kerugian terbesar bagi manusia? Hanya dengan menggunakan cara ini dan pepatah ini, Iblis merusak manusia sampai sedemikian rupa. Bukankah niat Iblis itu berbahaya? Bukankah ini tipu muslihat yang berniat jahat? Pepatah seperti ini menjadi populer, dan dengan begitu saja, engkau berubah dari tidak setuju mengenainya hingga akhirnya percaya bahwa itu adalah kebenaran, dan pada saat itu hatimu telah jatuh sepenuhnya dalam cengkeraman Iblis, dan karena itu engkau tanpa bisa menahan diri mulai hidup berdasarkan pepatah tersebut. Sampai sejauh mana pepatah ini telah memengaruhimu? Engkau mungkin tahu jalan yang benar, dan engkau mungkin mengetahui kebenaran, tetapi engkau tidak berdaya untuk mengejarnya. Engkau mungkin tahu dengan jelas bahwa firman Tuhan adalah kebenaran, tetapi engkau tidak mau membayar harga atau menderita demi memperoleh kebenaran. Sebaliknya, engkau lebih suka mengorbankan masa depanmu sendiri untuk menentang Tuhan sampai akhir. Apa pun yang Tuhan firmankan, apa pun yang Tuhan lakukan, sedalam dan sebesar apa pun kasih yang Tuhan miliki untukmu, sejauh engkau mampu memahaminya, engkau dengan keras kepala terus berusaha demi pepatah ini" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik V"). Saat merenungkan firman Tuhan, aku mengerti bahwa Iblislah yang telah menanamkan banyak pemikiran dan gagasan yang salah dalam diri manusia, menyebabkan manusia menyembah uang, ketenaran, keuntungan, dan keinginan materi, hanya berfokus pada mengejar uang, ketenaran, dan keuntungan, serta menjadi tidak mampu datang ke hadapan Tuhan untuk mengejar kebenaran dan menerima keselamatan-Nya. Aku hidup berdasarkan racun yang ditanamkan oleh Iblis, seperti "Uang membuat dunia berputar," "Uang bukan segalanya, tetapi tanpa uang, engkau tidak bisa melakukan apa pun," "Menonjol di antara orang lain," dan "Berada di atas orang lain." Aku berpikir uang adalah jawaban atas segalanya, bahwa seseorang tidak bisa bertahan hidup tanpanya, dan jika seseorang punya uang, statusnya menjadi terhormat, dan orang lain tidak akan berani lagi memandang rendah atau mengejeknya. Waktu kecil, aku diejek karena keluargaku miskin, jadi aku ingin menjadi kaya dan menjalani kehidupan yang makmur, sehingga membuat orang lain mengagumiku. Untuk mendapatkan uang, aku mencoba segala macam cara, dan aku berhenti berkumpul serta membaca firman Tuhan. Bahkan ketika ibuku datang kepadaku membawa buku firman Tuhan, aku menepisnya dengan tidak sabar. Setelah membuka sekolah seni, aku selalu memikirkan cara melakukan pemasaran dan merekrut lebih banyak murid untuk menghasilkan lebih banyak uang. Setiap hari, pikiranku tegang, dan aku kelelahan sampai tidak bisa tidur dan sakit kepala. Akhirnya, karena pandemi, semuanya ditutup, dan baru saat itulah aku kembali ke hadapan Tuhan. Kemudian, dengan membaca firman Tuhan, aku sadar bahwa nasib hidupku dan seberapa banyak kekayaan yang kumiliki semuanya telah ditakdirkan oleh Tuhan dan tidak bergantung pada usaha serta rencanaku. Namun, karena begitu kuatnya hasratku akan uang, ketenaran, dan keuntungan, aku tidak mengenali cara-cara jahat yang Iblis gunakan untuk mencelakai manusia. Jadi ketika aku sekali lagi terpancing oleh uang, demi mendapatkan tambahan 500.000 yuan untuk membeli mobil mewah supaya orang-orang kagum dan ingin menjadi sepertiku, aku akhirnya tersesat dan terjerat dalam penipuan online, berubah dari seorang kepala sekolah yang dihormati menjadi penipu yang mengelabui orang demi uang. Dihadapkan pada biaya ganti rugi yang sangat besar serta kritik dan caci maki tanpa henti dari teman dan kerabatku, aku merasa bagaikan tikus yang diburu di jalanan. Aku menderita pukulan dan siksaan luar biasa secara fisik dan mental, dan aku bahkan berpikir untuk mengakhiri hidupku untuk melarikan diri dari semua itu. Aku melihat bahwa uang, ketenaran, dan keuntungan itu seperti tali tak kasat mata yang mengikatku dengan erat, dan bahwa aku telah hidup berdasarkan racun Iblis ini, menjadikan memperoleh uang, ketenaran, dan keuntungan sebagai tujuan hidupku, dan akibatnya, aku telah ditipu Iblis, mengalami penderitaan yang tak terkatakan. Aku menyadari bahwa mengejar kekayaan, ketenaran, dan keuntungan hanya akan membuat hidupku makin pedih, membuatku menyimpang dari Tuhan, dan kehilangan kesempatan untuk memperoleh keselamatan Tuhan. Lalu aku teringat berapa banyak orang yang setelah kehilangan uang dalam usaha bisnis, mengalami depresi, dan beberapa, karena tidak sanggup menanggungnya, bahkan mati dengan terjun dari atas. Aku melihat bahwa pengejaran uang adalah jalan menuju kebinasaan. Aku sangat bersyukur bahwa aku telah mengikuti Tuhan, sehingga ketika hal-hal ini menimpaku, aku memiliki pencerahan dan pimpinan firman Tuhan, memampukanku untuk memahami kebenaran dan cukup mampu membedakan bagaimana Iblis menggunakan uang, ketenaran, dan keuntungan untuk merusak manusia. Jika tidak, aku juga akan menjadi salah satu dari mereka yang bunuh diri. Meskipun aku kehilangan uang dalam masalah ini, aku jadi melihat niat Tuhan yang tekun untuk menyelamatkanku. Dari lubuk hatiku, aku bersyukur kepada Tuhan!

Suatu hari saat saat teduh, aku membaca firman Tuhan dan jadi mengerti apa yang Tuhan tuntut dari manusia dan apa yang benar-benar bermakna untuk dikejar. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Tuhan tidak menuntutmu untuk mengerahkan seluruh kekuatanmu hanya untuk bertahan hidup dan tetap hidup. Dia tidak menginginkanmu menjalani kehidupan glamor dan mempermuliakan Dia melalui kehidupan seperti itu, Dia juga tidak menuntutmu untuk mencapai prestasi besar apa pun di dunia ini, melakukan mukjizat apa pun, berkontribusi apa pun kepada manusia, menolong banyak orang, ataupun menyelesaikan masalah pekerjaan orang. Engkau tidak perlu memiliki karier yang cemerlang, menjadi terkenal di seluruh dunia, dan kemudian menggunakan hal-hal ini untuk mempermuliakan nama Tuhan, sambil menyatakan kepada dunia, 'Aku adalah orang Kristen, aku percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa.' Tuhan hanya berharap agar engkau bisa menjadi manusia biasa dan orang kebanyakan di dunia ini. Engkau tidak perlu mengadakan mukjizat apa pun; engkau tidak perlu unggul dalam berbagai profesi atau bidang, atau menjadi orang terkenal atau tokoh besar. Engkau tidak perlu menjadi seseorang yang dikagumi atau dihormati orang lain, engkau juga tidak perlu memiliki kesuksesan apa pun atau mendapatkan penghargaan di berbagai bidang. Tentu saja, engkau tidak perlu memberikan kontribusi apa pun dalam berbagai profesi demi mempermuliakan Tuhan. Tuntutan Tuhan terhadapmu hanyalah menjalani hidupmu dengan baik, memiliki kebutuhan sehari-hari, tidak kelaparan, berpakaian hangat di musim dingin dan berpakaian pantas di musim panas. Selama hidupmu normal dan engkau berkemampuan untuk bertahan hidup, itu sudah cukup—itulah tuntutan Tuhan terhadapmu. Karunia, bakat, atau kemampuan khusus apa pun yang kaumiliki, Tuhan tidak ingin engkau menggunakannya untuk meraih kesuksesan duniawi. Sebaliknya, Dia ingin agar engkau menerapkan karunia atau kualitas apa pun yang kaumiliki untuk melaksanakan tugasmu, pada apa yang Dia percayakan kepadamu, dan mengejar kebenaran, dan pada akhirnya memperoleh keselamatan. Inilah hal yang terpenting, dan Tuhan tidak menuntut lebih dari itu" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (21)"). "Akhir zaman juga merupakan waktu yang istimewa. Di satu sisi, pekerjaan gereja sangat sibuk dan rumit; di sisi lain, menghadapi saat ketika Injil Kerajaan Tuhan sedang tersebarluas, lebih banyak orang dibutuhkan untuk mencurahkan waktu dan tenaga mereka, untuk menyumbangkan upaya mereka dan melaksanakan tugas mereka agar dapat memenuhi kebutuhan berbagai proyek di dalam rumah Tuhan. Oleh karena itu, apa pun pekerjaanmu, selain memenuhi kebutuhan dasar hidupmu, jika engkau mampu mencurahkan waktu dan tenagamu untuk melaksanakan tugasmu di rumah Tuhan, melakukan bagianmu dalam berbagai bidang pekerjaan, maka di mata Tuhan, hal ini bukan saja sangat diinginkan, tetapi juga sangat berharga. Hal ini layak untuk diingat oleh Tuhan, dan tentu saja orang layak menginvestasikan dan menggunakan waktu dan tenaga sebanyak itu untuk melakukannya. Orang layak melakukannya karena meskipun engkau mengorbankan kenikmatan daging, yang kauperoleh adalah firman Tuhan yang tak ternilai harganya sebagai hidupmu, hidup yang kekal, harta yang tak ternilai harganya yang tidak bisa ditukar dengan apa pun di dunia, dengan uang, atau apa pun. Dan harta yang tak ternilai ini, hal yang kauperoleh dengan menginvestasikan waktu dan tenagamu, melalui upaya dan pengejaranmu sendiri: ini adalah anugerah istimewa dan sesuatu yang beruntung telah kauterima, bukan? Firman Tuhan dan kebenaran menjadi hidup seseorang: Ini adalah harta yang tak ternilai harganya dan layak untuk diperjuangkan dengan mempersembahkan segalanya. ... jika setelah memiliki makanan dan pakaian, engkau mengerahkan waktu dan tenaga ekstra, memperoleh lebih banyak uang, memperoleh lebih banyak kenikmatan materi, dan dagingmu dipuaskan, tetapi dengan melakukannya, engkau telah menghancurkan harapanmu sendiri untuk diselamatkan, maka tentu saja ini bukan hal yang baik bagimu. Engkau seharusnya merasa kesal dan cemas karenanya; engkau harus menyesuaikan pekerjaan atau sikapmu terhadap kehidupan dan tuntutan yang berkaitan dengan kualitas dari kehidupan jasmanimu; engkau harus melepaskan keinginan, rencana, dan agenda tertentu yang tidak realistis untuk hidup dalam daging. Engkau harus berdoa kepada Tuhan, datang ke hadirat-Nya, dan bertekad untuk melaksanakan tugasmu, mengerahkan pikiran dan tubuhmu untuk melaksanakan berbagai tugas di rumah Tuhan, berusaha agar kelak, pada hari ketika pekerjaan Tuhan berakhir, ketika Tuhan memeriksa pekerjaan segala macam orang, dan mengukur tingkat pertumbuhan segala macam orang ini, engkau akan menjadi bagian dari mereka. Ketika pekerjaan besar Tuhan berakhir, ketika Injil Kerajaan Tuhan telah tersebar luas ke seluruh alam semesta, ketika suasana yang menggembirakan ini terlihat, akan ada jerih payahmu, investasimu, dan pengorbananmu di dalamnya. Saat Tuhan mendapatkan kemuliaan, ketika pekerjaan-Nya telah tersebar luas di seluruh alam semesta, ketika semua orang merayakan keberhasilan pencapaian pekerjaan besar Tuhan, saat kegembiraan itu terlihat, engkau akan menjadi orang yang ada kaitannya dengan kegembiraan ini. Engkau akan menjadi orang yang mengambil bagian dalam kegembiraan ini, bukan orang yang akan meratap dan menggertakkan gigi, yang akan menepuk dada dan punggung mereka sementara semua orang bersorak dan melompat kegirangan, bukan orang yang menerima hukuman, yang akan benar-benar dibenci, ditolak, dan disingkirkan oleh Tuhan" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (20)"). Dari firman Tuhan, aku sadar bahwa Tuhan tidak membutuhkan orang menjadi terkenal atau hebat untuk memuliakan-Nya atau bersaksi bagi-Nya. Tuhan hanya berharap selama orang memiliki makanan dan pakaian, mereka akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengejar kebenaran dan melaksanakan tugas mereka dengan baik. Aku merenungkan bahwa aku memiliki bakat musik sejak kecil. Setelah lulus, aku mencari nafkah dengan bakatku, dan dalam hidupku, aku bukan hanya punya makanan dan pakaian, tetapi bahkan ada kelebihan. Namun, aku tidak puas dengan itu, tetapi ingin menghasilkan lebih banyak uang dan dikagumi oleh lebih banyak orang. Aku berpikir bahwa menjadi menonjol itu lebih penting daripada apa pun. Ketika mengingat lagi, sebelum aku menemukan Tuhan, aku menghasilkan sejumlah uang dan menikmati kekaguman orang, tetapi di dalam hati, aku tidak merasa tenang, apalagi merasakan kebahagiaan sejati. Setiap hari, selain bekerja, aku hanya makan, minum, dan bersenang-senang dengan teman-teman untuk mengusir kebosanan, dan aku sama sekali tidak mengerti tujuan hidup atau makna maupun nilainya. Meskipun uang memberiku kenikmatan materi sementara, itu tidak bisa mengubah kekosongan yang ada jauh di lubuk hatiku. Melalui membaca firman Tuhan, aku mengerti bahwa mengejar uang, ketenaran, dan keuntungan tetap berujung pada kehampaan, yang tak bermakna. Hanya dengan mengejar kebenaran serta melaksanakan tugas sebagai makhluk ciptaan dengan baik, barulah hidup menjadi bermakna dan berharga. Aku teringat apa yang dikatakan Tuhan Yesus: "Apa untungnya jika seseorang mendapatkan seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Atau apa yang bisa diberikan seseorang sebagai ganti nyawanya?" (Matius 16:26). Dahulu, saat belum punya uang, aku selalu berpikir bahwa begitu aku punya uang, aku akan puas, tetapi bahkan setelah aku punya uang, aku tetap merasa hampa dan mendapati hidup ini tidak bermakna. Uang bukanlah yang benar-benar dibutuhkan manusia. Contohnya, ada seseorang dari kampung halamanku yang menderita penyakit mematikan. Dia pergi ke jembatan, melemparkan semua uangnya ke bawah, lalu dia melompat ke sungai untuk mengakhiri semuanya. Saat dihadapkan pada penyakit dan kematian, tidak peduli seberapa banyak uang, ketenaran, dan keuntungan yang kau miliki, atau seberapa banyak orang yang mengagumimu, semuanya sama sekali tidak berguna. Hal-hal ini tidak bisa membeli kehidupan, dan tidak mengikuti Tuhan, mengejar kebenaran, atau melaksanakn tugas dengan baik pada akhirnya akan berujung pada kehampaan. Pekerjaan Tuhan sekarang telah mencapai tahap akhir, dan kesempatan serta waktu untuk mengejar kebenaran makin sempit. Aku harus memanfaatkan waktuku sebaik-baiknya, makan dan minum lebih banyak firman Tuhan, dan melaksanakan tugasku sebagai makhluk ciptaan dengan baik. Inilah yang paling bermakna. Aku teringat istri Lot. Dia diselamatkan oleh malaikat dan sudah melarikan diri dari kota Sodom, tetapi karena tidak bisa merelakan harta benda dan kekayaannya, dia menoleh ke belakang dan berubah menjadi tiang garam, menjadi lambang aib. Kita sekarang berada di bagian akhir jalan ini, dan aku harus belajar dari apa yang terjadi pada istri Lot. Aku harus melepaskan pengejaran akan kekayaan, ketenaran, dan keuntungan, juga melaksanakan tugasku dengan baik serta mengejar kebenaran. Ini adalah hidup paling bermakna yang diperkenan Tuhan.

Aku sekarang menjalankan tugas sebagai pemimpin di gereja. Agar punya lebih banyak waktu dan tenaga untuk memperlengkapi diri dengan kebenaran dan melaksanakan tugasku dengan baik, aku hanya mempertahankan belasan murid, dan aku bekerja 6 jam seminggu untuk menutupi pengeluaran sehari-hari, menggunakan sebagian besar waktuku untuk melaksanakan tugasku. Dengan melaksanakan tugasku, aku belajar cara berinteraksi dengan orang lain, bagaimana melaksanakan tugasku agar memenuhi standar, juga cara mengenali watak rusakku, dan lain-lain. Sekarang, setiap hari aku membaca firman Tuhan dan melaksanakan tugasku. Aku tidak lagi terikat dan dicelakai oleh uang, ketenaran, dan keuntungan, dan hatiku terasa ringan dan tenang. Syukur kepada Tuhan karena telah menyelamatkanku!

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Tinggalkan Balasan

Hubungi kami via WhatsApp