1499 Jangan Sampai Tiba Hari Ketika Tuhan Membenci dan Menolakmu
I
Tuhan dengan adil memberi kesempatan pada s'tiap orang, dan Dia berfirman kepada setiap orang, s'cara terbuka dan tanpa menuntut imbalan. Dia bermurah hati kepada setiap orang, dan mengangkat setiap orang; Dia menuntun, memelihara, dan menjaga setiap orang. Jika pada akhirnya, engkau selamat dengan mengejar kebenaran, dan engkau memenuhi standar tuntutan Tuhan, engkau sudah berhasil. Sebaliknya, jika kau s'lalu habiskan hari-harimu dengan bingung, cenderung s'lalu lampaui batas, tak tahu apa yang harus kaulakukan, s'lalu hidup menuruti p'rasaanmu, tanpa mengejar keb'naran atau tanpa menempuh jalan yang benar, pada akhirnya kau takkan p'roleh apa pun.
II
Tuhan harap tak seorang pun di antaramu sampai pada hari ketika pekerjaan Tuhan berakhir, dan kau dengan bertobat kepada-Nya, berkata, "S'karang aku mengenal diriku sendiri!", "S'karang aku tahu bagaimana mengejar kebenaran!" Itu sudah terlambat! Tuhan takkan memedulikanmu; Dia takkan peduli lagi apakah engkau orang yang mengejar kebenaran, atau bagaimana sikapmu terhadap-Nya, Dia juga takkan peduli tentang seb'rapa dalamnya engkau telah dirusak oleh Iblis. Itu berarti takkan pernah ada lagi kesempatan bagimu. Kau takkan pernah lagi mendengarkan firman Tuhan, dan engkau tak akan pernah lagi menjadi orang yang Dia pedulikan, atau makhluk ciptaan-Nya. Engkau sama sekali tidak akan memiliki hubungan dengan-Nya. Itu berarti engkau telah mencapai akhir dari jalan kepercayaanmu kepada Tuhan.
III
Itulah sebabnya, jika kau mampu membayangkan bahwa mungkin 'kan tiba saatnya ketika Tuhan membenci dan menolakmu, engkau harus menghargai masa sekarang ini. Tuhan mungkin menghajarmu, menghakimi atau memangkasmu; bahkan Dia mungkin mengutukmu dan menegurmu habis-habisan. Semua ini patut dihargai: Tuhan s'tidaknya masih mengakuimu s'bagai makhluk ciptaan-Nya, dan Dia setidaknya masih miliki harapan bagimu, dan kau s'tidaknya masih ada dalam hati-Nya, dan Dia masih bersedia menegur dan mengutukmu, itu berarti di dalam hati-Nya, Dia masih mengkhawatirkanmu. Kekhawatiran ini bukanlah sesuatu yang dapat orang tukarkan dengan nyawanya.
Dikutip dari Firman, Vol. 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Mengapa Manusia Harus Mengejar Kebenaran"