Tanggung Jawab Para Pemimpin dan Pekerja (14)

Sudah berapa lama kita bersekutu tentang tanggung jawab para pemimpin dan pekerja? (Empat setengah bulan.) Setelah mempersekutukan hal ini dalam jangka waktu selama ini, apakah kini engkau semua memiliki pemahaman yang agak lebih jelas tentang pekerjaan spesifik yang harus dilakukan oleh para pemimpin dan pekerja? (Ya, pemahaman kami mengenai hal ini agak lebih jelas.) Seharusnya lebih jelas dari sebelumnya. Persekutuan yang Kusampaikan sangat spesifik dan jelas, jadi jika ada orang yang masih belum memahaminya, itu berarti mereka kurang cerdas, bukan? (Ya.) Setelah melihat hal ini sekarang, menurutmu, mudahkah menjadi pemimpin atau pekerja yang baik? (Tidak mudah.) Kualitas apa yang dibutuhkan? (Orang harus memiliki kualitas dan kemanusiaan yang semestinya dimiliki oleh pemimpin dan pekerja, serta kenyataan kebenaran, dan rasa tanggung jawab.) Setidaknya, orang harus memiliki hati nurani, nalar, serta kesetiaan, dan selain itu, memiliki kualitas serta kemampuan kerja. Jika orang memiliki semua kualitas ini, mereka akan dapat menjadi pemimpin atau pekerja yang baik dan memenuhi tanggung jawab mereka.

Bab Dua Belas: Dengan Segera dan Akurat Mengidentifikasi Berbagai Orang, Peristiwa, dan Hal-hal yang Mengacaukan dan Mengganggu Pekerjaan Tuhan serta Tatanan Normal Gereja; Menghentikan dan Membatasi Hal-hal tersebut, serta Membalikkan Keadaan; Selain Itu, Mempersekutukan Kebenaran agar Umat Pilihan Tuhan Memiliki Kemampuan untuk Mengidentifikasi Melalui Hal-hal Semacam itu dan Belajar darinya (Bagian Dua)

Dalam persekutuan terakhir, kita mempersekutukan bab kedua belas tentang tanggung jawab para pemimpin dan pekerja: "Dengan segera dan akurat mengidentifikasi berbagai orang, peristiwa, dan hal-hal yang mengacaukan dan mengganggu pekerjaan Tuhan serta tatanan normal gereja; menghentikan dan membatasi hal-hal tersebut, serta membalikkan keadaan; selain itu, mempersekutukan kebenaran agar umat pilihan Tuhan memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi melalui hal-hal semacam itu dan belajar darinya." Di dalam bab ini, kita terutama bersekutu terlebih dahulu tentang orang, peristiwa, dan hal-hal apa saja yang mengacaukan serta mengganggu pekerjaan Tuhan dan tatanan normal gereja. Jika pemimpin dan pekerja ingin menghentikan dan membatasi berbagai orang, peristiwa, dan hal-hal yang menyebabkan kekacauan serta gangguan di dalam gereja, dan ingin melaksanakan tugas ini dengan baik, mereka harus terlebih dahulu mengerti dan mencari tahu orang, peristiwa, dan hal-hal mana yang mengacaukan serta mengganggu pekerjaan Tuhan dan tatanan normal gereja. Setelah itu, mereka harus mencocokkan hal-hal ini dengan orang, peristiwa, dan hal-hal dalam pekerjaan gereja serta kehidupan bergereja yang sebenarnya, dan kemudian melaksanakan berbagai tugas seperti menghentikan dan membatasi mereka. Inilah yang dituntut untuk dilakukan para pemimpin dan pekerja. Pada pertemuan terakhir, kita bersekutu tentang berbagai orang, peristiwa dan hal-hal yang mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja serta kehidupan bergereja, dimulai dari hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan bergereja. Kita juga menggolongkan orang, peristiwa, dan hal-hal dalam kehidupan bergereja yang naturnya menyebabkan kekacauan dan gangguan terhadapnya. Totalnya ada berapa masalah? (Sebelas. Pertama, sering keluar dari topik ketika mempersekutukan kebenaran; kedua, mengucapkan kata-kata dan doktrin untuk menyesatkan orang dan memperoleh penghargaan mereka; ketiga, mengoceh tentang masalah rumah tangga, membangun hubungan pribadi, dan menangani urusan pribadi; keempat, membentuk kelompok tertutup; kelima, bersaing untuk mendapatkan status; keenam, menabur perselisihan; ketujuh, menyerang dan menyiksa orang; kedelapan, menyebarkan gagasan; kesembilan, melampiaskan kenegatifan; kesepuluh, menyebarkan rumor yang tidak berdasar; dan kesebelas, melanggar prinsip-prinsip pemilihan.) Masalah keenam adalah menabur perselisihan, yang naturnya menyebabkan kekacauan dan gangguan terhadapnya, tetapi dibandingkan dengan perbuatan jahat lainnya, ini adalah masalah kecil. Ubah itu menjadi "terlibat dalam hubungan yang tidak pantas", dan natur hal ini menjadi lebih serius daripada menabur perselisihan. Masalah ketujuh adalah menyerang dan menyiksa orang. Ubah itu menjadi "saling menyerang dan bertengkar"; bukankah natur hal ini lebih serius, dan lebih spesifik serta sesuai? (Ya.) Saling menyerang dan bertengkar adalah jenis masalah yang biasa terjadi dalam kehidupan bergereja yang berkaitan dengan kekacauan dan gangguan. Memodifikasi kedua masalah tersebut dengan cara seperti ini membuatnya menjadi lebih sesuai dan lebih dekat dengan masalah-masalah yang muncul dalam kehidupan bergereja. Masalah kesebelas adalah melanggar prinsip-prinsip pemilihan. Ubah itu menjadi "memanipulasi dan mengacaukan pemilihan". Ini hanyalah perubahan dalam hal kata-kata; natur dari hal-hal ini tetaplah sama, hanya saja tarafnya lebih intensif; sekarang ini lebih berkaitan dengan natur yang menyebabkan kekacauan dan gangguan.

Berbagai Orang, Peristiwa, dan Hal-hal yang Mengacaukan dan Mengganggu Kehidupan Bergereja

V. Bersaing untuk Mendapatkan Status

Terakhir kali, kita mempersekutukan masalah keempat, membentuk kelompok tertutup. Kali ini, kita akan lanjutkan dengan mempersekutukan masalah kelima, bersaing untuk mendapatkan status. Masalah bersaing untuk mendapatkan status adalah masalah yang sering muncul dalam kehidupan bergereja dan ini adalah sesuatu yang biasa terjadi. Keadaan, perilaku, dan perwujudan seperti apa yang termasuk tindakan bersaing untuk mendapatkan status? Perwujudan bersaing untuk mendapatkan status seperti apa yang termasuk masalah mengacaukan dan mengganggu pekerjaan Tuhan dan tatanan normal gereja? Apa pun masalah atau kategori yang kita persekutukan, itu harus ada kaitannya dengan apa yang dikatakan dalam bab kedua belas, yaitu tentang "berbagai orang, peristiwa, dan hal-hal yang mengacaukan dan mengganggu pekerjaan Tuhan serta tatanan normal gereja". Ini harus mencapai taraf kekacauan dan gangguan, dan harus ada kaitannya dengan natur ini—hanya jika demikian, barulah ini layak untuk dipersekutukan dan ditelaah. Perwujudan bersaing untuk mendapatkan status seperti apa yang berkaitan dengan natur mengacaukan dan mengganggu pekerjaan rumah Tuhan? Yang paling umum adalah orang bersaing dengan para pemimpin gereja untuk mendapatkan status, yang terutama diwujudkan dengan memanfaatkan hal-hal tertentu tentang pemimpin dan kesalahan mereka untuk merendahkan dan mengutuk mereka, dan secara sengaja menyingkapkan kerusakan yang mereka perlihatkan dan kelemahan serta kekurangan dalam kemanusiaan dan kualitas mereka, khususnya dalam hal penyimpangan dan kesalahan yang pernah mereka lakukan dalam pekerjaan mereka atau ketika mereka menangani orang-orang. Ini adalah perwujudan bersaing dengan pemimpin gereja untuk mendapatkan status yang paling sering terlihat dan paling mencolok. Selain itu, orang-orang ini tidak peduli tentang seberapa baik pemimpin gereja melaksanakan pekerjaan mereka, apakah mereka bertindak berdasarkan prinsip atau tidak, apakah ada masalah dengan kemanusiaan mereka atau tidak, dan hanya bersikap menentang terhadap para pemimpin ini. Mengapa mereka bersikap menentang? Karena mereka juga ingin menjadi pemimpin gereja—ini adalah ambisi mereka, keinginan mereka, dan karenanya mereka bersikap menentang. Sebaik apa pun pemimpin gereja bekerja atau menangani masalah, orang-orang ini selalu memanfaatkan hal-hal tentang mereka, mengkritik dan mengutuk mereka, dan bahkan sampai membesar-besarkan masalah, memutarbalikkan fakta, dan meributkan hal-hal sepele semaksimal mungkin. Mereka tidak menggunakan standar yang rumah Tuhan tuntut terhadap pemimpin dan pekerja untuk menilai apakah para pemimpin ini bertindak berdasarkan prinsip atau tidak, apakah mereka adalah orang yang tepat, apakah mereka adalah orang yang mengejar kebenaran, dan apakah mereka berhati nurani dan bernalar atau tidak. Mereka tidak menilai para pemimpin berdasarkan prinsip-prinsip ini. Sebaliknya, berdasarkan niat dan tujuan mereka sendiri, mereka terus-menerus mencari-cari kesalahan dan mengeluhkan hal-hal kecil, mencari sesuatu yang dapat mereka manfaatkan untuk melawan pemimpin atau pekerja, menyebarkan kabar bohong di belakang mereka bahwa mereka melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan kebenaran, atau menyingkapkan kekurangan mereka. Sebagai contoh, mereka mungkin berkata, "Pemimpin Anu pernah melakukan suatu kesalahan dan dipangkas oleh Yang di Atas, dan tak seorang pun di antaramu yang mengetahui hal ini. Lihatlah betapa pandainya dia berpura-pura!" Mereka tidak mempertimbangkan dan tidak peduli apakah pemimpin atau pekerja ini adalah target yang akan dibina oleh rumah Tuhan, atau apakah mereka memenuhi standar sebagai pemimpin atau pekerja, mereka hanya terus saja menghakimi mereka, memutarbalikkan fakta, dan melakukan gerakan-gerakan picik di belakang mereka. Dan untuk apa mereka melakukan hal-hal ini? Untuk bersaing demi mendapatkan status, bukan? Terdapat tujuan tertentu dalam semua yang mereka katakan dan lakukan. Mereka tidak mempertimbangkan pekerjaan gereja, dan penilaian mereka terhadap para pemimpin dan pekerja tidak didasarkan pada firman Tuhan atau kebenaran, apalagi pengaturan kerja rumah Tuhan atau prinsip yang Tuhan tuntut terhadap manusia, melainkan berdasarkan niat dan tujuan mereka sendiri. Mereka menyanggah semua yang pemimpin atau pekerja katakan, dan kemudian menawarkan "wawasan" mereka sendiri. Sebanyak apa pun pernyataan yang pemimpin dan pekerja katakan yang sesuai dengan kebenaran, mereka tidak menerimanya sedikit pun. Mereka menolak apa pun yang pemimpin dan pekerja katakan, dan mengemukakan pendapat mereka sendiri yang berbeda. Terutama, ketika seorang pemimpin atau pekerja membuka diri dan menceritakan tentang dirinya yang sebenarnya, berbicara tentang pengenalannya akan dirinya sendiri: mereka merasa jauh lebih senang, dan menganggap telah menemukan kesempatan mereka. Kesempatan apa? Kesempatan untuk merendahkan pemimpin atau pekerja tersebut, untuk membuat semua orang tahu bahwa pemimpin atau pekerja ini memiliki kualitas yang buruk, bahwa dia bisa saja lemah, bahwa dia juga adalah manusia yang rusak, bahwa dia juga sering melakukan kesalahan dalam hal-hal yang dia lakukan, dan bahwa dia tidak lebih baik daripada orang lain. Inilah kesempatan mereka untuk menemukan sesuatu yang dapat digunakan terhadap pemimpin atau pekerja tersebut, kesempatan mereka untuk menghasut semua orang agar mengutuk, menggulingkan, dan menjatuhkan pemimpin atau pekerja tersebut. Dan motivasi untuk semua perilaku dan tindakan ini tidak lain adalah bersaing untuk mendapatkan status. Jika prinsip pemilihan dan prinsip pembinaan serta penggunaan orang-orang di rumah Tuhan diikuti, dalam keadaan normal, orang-orang semacam itu tidak akan pernah terpilih sebagai pemimpin atau pekerja. Ini adalah sesuatu yang telah mereka sadari dan pahami dengan jelas, sehingga mereka menggunakan segala cara untuk menyerang serta mengutuk pemimpin dan pekerja. Siapa pun yang menjadi pemimpin atau pekerja, mereka sepenuhnya bersikap menentang terhadapnya, dan selalu mencari-cari kesalahan serta melontarkan komentar yang mengkritik dan tidak bertanggung jawab tentangnya. Sekalipun tidak ada yang salah dengan tindakan serta perkataan para pemimpin dan pekerja ini, mereka selalu berhasil menemukan kesalahan dalam tindakan dan perkataan tersebut; sebenarnya, masalah yang mereka pilih bukanlah masalah prinsip melainkan masalah yang benar-benar sepele. Lalu, mengapa mereka berkutat pada masalah-masalah sepele ini? Mengapa mereka mampu menghakimi dan mengutuk pemimpin dan pekerja dengan begitu terbuka mengenai hal-hal semacam itu? Mereka hanya memiliki satu tujuan, yaitu bersaing untuk mendapatkan kekuasaan dan status. Tak peduli bagaimana rumah Tuhan bersekutu tentang berbagai perwujudan pemimpin palsu dan antikristus, mereka tidak pernah mengaitkan perwujudan ini dengan diri mereka sendiri melainkan secara eksklusif mengaitkannya dengan para pemimpin dan pekerja di semua tingkatan. Begitu menemukan kecocokan, mereka berpikir, "Kini aku punya bukti; akhirnya aku telah menemukan sesuatu yang dapat kugunakan sebagai pegangan untuk melawan mereka dan telah mendapatkan kesempatan yang bagus." Kemudian mereka menjadi jauh lebih tidak terkendali dalam menyingkapkan, menghakimi, membuat penilaian yang mengkritik, serta mengutuk semua yang dilakukan pemimpin dan pekerja. Dari luarnya, beberapa masalah yang mereka angkat mungkin tampak sedikit bermasalah, tetapi ketika diukur berdasarkan prinsip, masalah itu tidak signifikan. Lalu mengapa mereka mengungkitnya? Satu-satunya alasannya adalah untuk menyingkapkan pemimpin dan pekerja tersebut, dengan tujuan untuk mengutuk dan mengalahkan mereka. Jika pemimpin dan pekerja itu terpukul hingga bersikap negatif, memohon belas kasihan, dan tunduk kepada mereka, jika saudara-saudari melihat bahwa para pemimpin ini selalu bersikap negatif dan lemah, sering melakukan kesalahan ketika bertindak, dan tidak lagi memilih mereka sebagai pemimpin, jika saudara-saudari tidak lagi mendengarkan dengan penuh perhatian ketika para pemimpin ini mempersekutukan kebenaran, dan jika orang-orang tidak lagi bekerja sama dengan aktif dan bersungguh-sungguh ketika para pemimpin ini melaksanakan pekerjaan, orang-orang yang bersaing untuk mendapatkan status itu akan merasa senang, dan mereka akan memiliki kesempatan untuk dimanfaatkan. Inilah skenario yang paling ingin mereka lihat dan yang paling mereka harapkan untuk terjadi. Apa tujuan mereka melakukan semua ini? Tujuannya bukan untuk membantu orang-orang agar memahami kebenaran dan mengidentifikasi pemimpin palsu serta antikristus, juga bukan untuk menuntun orang ke hadapan Tuhan. Sebaliknya, tujuan mereka adalah untuk mengalahkan dan menjatuhkan pemimpin dan pekerja agar semua orang menganggap merekalah calon yang paling sesuai untuk melayani sebagai pemimpin. Pada saat ini, tujuan mereka telah tercapai, dan mereka hanya tinggal menunggu saudara-saudari mencalonkan mereka sebagai pemimpin. Adakah orang-orang semacam ini di gereja? Seperti apa watak mereka? Orang-orang ini memiliki watak yang kejam, mereka sama sekali tidak mencintai kebenaran, dan mereka juga tidak menerapkannya; mereka hanya ingin menjadi pemegang kekuasaan. Bagaimana dengan mereka yang memahami beberapa kebenaran dan memiliki sedikit kemampuan untuk mengidentifikasi; akankah mereka bersedia membiarkan orang-orang semacam ini menjadi pemegang kekuasaan? Akankah mereka bersedia tunduk pada kekuasaan orang-orang semacam ini? (Tidak.) Mengapa tidak? Jika sebagian besar orang mampu melihat dengan jelas esensi natur orang-orang semacam ini, akankah mereka tetap memilih orang-orang ini sebagai pemimpin? (Tidak.) Mereka tidak akan melakukannya, kecuali semua orang baru bertemu dan belum terlalu mengenal satu sama lain. Namun, setelah mereka saling mengenal dan melihat dengan jelas siapa yang memiliki kualitas yang buruk dan bingung, siapa yang merupakan orang-orang jahat yang berwatak kejam dan licik, siapa yang sangat ingin bersaing untuk mendapatkan status dan menempuh jalan antikristus, siapa yang mampu mengejar kebenaran dan melaksanakan tugas mereka dengan setia, dan sebagainya, setelah mereka memahami esensi natur dan kategori berbagai macam orang, pemilihan para pemimpin akan menjadi relatif akurat dan sesuai dengan prinsip.

Apakah sebagian besar orang lebih suka memilih orang yang selalu bersaing untuk mendapatkan status untuk dijadikan pemimpin, atau memilih orang yang kualitas dan kemampuan kerjanya relatif rata-rata, tetapi tekun dan teguh? Ketika tidak jelas seperti apa karakter dari kedua orang ini, seperti apa esensi natur mereka, atau jalan apa yang mereka tempuh, yang manakah yang akan lebih dipilih sebagian besar orang untuk dijadikan pemimpin? (Yang kedua, orang yang teguh.) Sebagian besar orang akan memilih yang kedua. Perwujudan orang yang selalu bersaing untuk mendapatkan status adalah bukti kemanusiaan dan esensi dirinya. Tidak dapatkah kebanyakan orang mengetahui yang sebenarnya dan mengidentifikasi perwujudan yang diperlihatkannya? Orang-orang akan berkata, "Orang ini selalu mempersulit pemimpin gereja; ambisinya difokuskan untuk memperoleh status sebagai pemimpin gereja, orang ini ingin menggantikannya sebagai pemimpin gereja. Sejak pemimpin gereja terpilih, dia selalu menargetkan orang itu dan merasa tidak senang terhadapnya. Dia selalu membantah perkataan pemimpin, dan mencari-cari kesalahan dalam apa pun yang dilakukan pemimpin, memanfaatkan apa yang bisa dia gunakan terhadap pemimpin, dan dia juga menghakimi serta menyingkapkan kekurangan pemimpin di belakangnya. Terutama selama pertemuan atau ketika bersekutu tentang pekerjaan, jika ucapan yang pemimpin ungkapkan tidak jelas untuk sejenak saja, dia menyela, terlihat sangat tidak sabar. Dia bahkan mencemooh, mengejek, mengolok-olok dan menertawakan pemimpin; setiap ada kesempatan, dia membuat segalanya menjadi sulit bagi pemimpin dan menjebaknya dalam situasi yang memalukan." Ketika perilaku seperti ini dapat terlihat oleh semua orang, bukankah kebanyakan orang akan mampu mengidentifikasi orang ini? (Ya.) Lalu, apakah ini akan membuatnya lebih mudah untuk merebut kedudukan sebagai pemimpin? Tentu saja tidak. Apakah orang-orang yang bersaing untuk mendapatkan status ini pintar atau bodoh? Jelas, mereka adalah orang-orang idiot, orang-orang bodoh. Ada masalah serius lainnya: Orang-orang ini adalah para setan, dan natur mereka tidak dapat berubah! Keinginan mereka untuk mendapatkan kuasa dan status tidak dapat dikendalikan, bahkan sampai mencapai titik di mana mereka telah kehilangan akal sehatnya, dan ini bukanlah sesuatu yang dimiliki oleh kemanusiaan yang normal. Keinginan ini melebihi batas-batas rasionalitas dan hati nurani kemanusiaan yang normal, mencapai tingkat yang menghalalkan segala cara. Orang-orang ini akan bertindak seperti ini tanpa memedulikan waktu, tempat, atau konteks, tanpa memikirkan akibatnya, apalagi dampak dari tindakan mereka. Seperti inilah perwujudan dan pendekatan yang paling khas dari orang-orang yang bersaing untuk mendapatkan status. Setiap kali ada pertemuan atau persekutuan tentang pekerjaan, begitu semua orang berkumpul, orang-orang ini menyebabkan gangguan bagaikan lalat yang mengganggu, merusak kehidupan bergereja dan tatanan normal dalam mempersekutukan kebenaran. Perilaku dan pendekatan seperti ini memiliki natur menyebabkan kekacauan dan gangguan. Bukankah orang-orang semacam ini harus dibatasi? Dalam kasus-kasus yang serius, bukankah mereka harus dikeluarkan atau diusir? (Ya.) Terkadang, hanya mengandalkan kekuatan para pemimpin gereja untuk membatasi orang-orang jahat dapat menjadi upaya yang agak lemah dan terisolasi; jika, setelah melihat dengan jelas betapa parahnya kekacauan dan gangguan yang disebabkan oleh orang-orang jahat dan mampu secara menyeluruh mengidentifikasi esensi mereka, saudara-saudari dapat bersatu dengan pemimpin gereja untuk menghentikan dan membatasi orang-orang jahat tersebut, bukankah ini akan lebih efektif? (Ya.) Jika seseorang berkata, "Membatasi orang-orang jahat adalah tanggung jawab pemimpin dan pekerja, itu tidak ada hubungannya dengan kami, orang-orang percaya biasa. Kami tidak peduli akan hal ini! Orang-orang jahat bersaing dengan para pemimpin gereja untuk mendapatkan status; mereka bersaing untuk mendapatkan status dengan orang-orang yang memilikinya. Kami tidak memiliki status; mereka tidak mencoba mengambil apa pun dari kami. Bagaimanapun juga, itu tidak memengaruhi kami. Biarkan saja mereka bersaing seperti yang mereka mau. Jika pemimpin gereja memiliki kemampuan, mereka harus membatasi orang-orang itu; jika tidak, biarkan saja mereka. Apa hubungannya dengan kami?" Apakah sudut pandang ini baik? (Tidak.) Mengapa tidak baik? (Mereka tidak menjunjung tinggi tatanan normal gereja.) Dalam istilah yang lebih tepat, apa yang dimaksud dengan tatanan normal gereja? Bukankah maksudnya adalah kehidupan bergereja yang normal? (Ya.) Ini berkaitan dengan kehidupan bergereja yang normal dan teratur; ini berkaitan dengan makan dan minum firman Tuhan secara teratur, yang berarti bahwa orang-orang dapat mendoa-bacakan dan mempersekutukan firman Tuhan, serta membagikan pengalaman pribadi mereka dalam kehidupan bergereja di mana Roh Kudus bekerja, Tuhan hadir, dan Tuhan membimbing, dan pada saat yang sama, juga menerima pencerahan serta bimbingan dari Roh Kudus dan memperoleh terang. Inilah yang seharusnya dinikmati oleh umat pilihan Tuhan dalam kehidupan bergereja. Jika ada orang-orang yang menghancurkan tatanan normal ini, mereka harus dihentikan dan dibatasi berdasarkan prinsip, dan tidak boleh ditoleransi. Ini bukan hanya tanggung jawab serta kewajiban pemimpin dan pekerja, melainkan juga tanggung jawab dan kewajiban semua orang yang memahami kebenaran dan memiliki kemampuan mengidentifikasi. Tentu saja, yang terbaik adalah jika pemimpin gereja mampu memelopori pekerjaan ini, menyampaikan persekutuan kepada saudara-saudari tentang natur dari tindakan orang-orang ini, jenis orang-orang ini berdasarkan perwujudan mereka, dan bagaimana saudara-saudari harus mengidentifikasi dan mengetahui yang sebenarnya tentang orang-orang semacam ini. Jika orang-orang jahat ini tidak dibatasi dan semua saudara-saudari diganggu, disesatkan, serta diperdaya oleh mereka, dan pemimpin gerejalah yang pada akhirnya diisolasi, bukannya orang-orang jahat itu, maka gereja ini akan menjadi lumpuh dan pasti menjadi kacau balau. Dapatkah kehidupan bergereja yang normal berlanjut dalam keadaan seperti ini? Jika tidak dapat berlanjut, apakah pertemuan-pertemuan gereja akan tetap membuahkan hasil? Apakah umat pilihan Tuhan akan tetap memperoleh sesuatu dari pertemuan semacam itu? Jika umat pilihan Tuhan tidak memperoleh apa pun darinya, apakah pertemuan-pertemuan semacam itu diberkati oleh Tuhan atau dibenci oleh-Nya? Tentu saja, pertemuan semacam itu dibenci oleh Tuhan. Pertemuan tanpa pekerjaan Roh Kudus dan tanpa berkat Tuhan tidak dapat lagi dianggap sebagai kehidupan bergereja tetapi telah menjadi pertemuan kelompok sosial. Adakah orang yang menyukai kehidupan bergereja yang tidak teratur? Apakah itu mendidik kerohanian orang atau bermanfaat bagi siapa pun? (Tidak.) Jika selama periode ini, engkau tidak memperoleh apa pun dalam hal jalan masuk kehidupanmu dari pertemuan mana pun, berarti waktu ini tidak ada nilainya atau tidak bermakna bagimu; engkau telah menyia-nyiakan waktu ini. Bukankah ini berarti jalan masuk kehidupanmu telah mengalami kerugian? (Ya.) Jika, selama suatu pertemuan, ada orang-orang jahat yang bersaing untuk mendapatkan status, dan berselisih serta berdebat dengan pemimpin gereja sehingga orang-orang merasa cemas, seluruh pertemuan menjadi dipenuhi dengan suasana yang busuk, dan dipenuhi dengan energi Iblis yang jahat, dan jika, selain mendebatkan topik-topik seperti siapa yang benar dan siapa yang salah, tak seorang pun datang ke hadapan Tuhan untuk berdoa serta mencari kebenaran, dan tak seorang pun bertindak berdasarkan prinsip, maka setelah pertemuan semacam ini, apakah imanmu kepada Tuhan akan meningkat ataukah menurun? Akankah engkau memahami dan memperoleh lebih banyak dalam hal kebenaran, atau akankah pikiranmu menjadi kacau karena perselisihan itu, tanpa engkau memperoleh apa pun? Terkadang engkau mungkin berpikir, "Aku tidak paham mengapa orang percaya kepada Tuhan. Apa gunanya percaya kepada Tuhan? Mengapa orang-orang ini bisa berperilaku seperti ini? Apakah mereka masih orang-orang yang percaya kepada Tuhan?" Karena satu gangguan oleh para Iblis dan setan, hati orang-orang menjadi kacau dan bingung; mereka merasa bahwa percaya kepada Tuhan itu tidak ada gunanya, serta tidak tahu nilai percaya kepada Tuhan, dan pikiran mereka menjadi bingung. Jika semua orang mampu bersikap waspada, dan terutama peka serta tajam mengenai hal-hal semacam ini, tidak mati rasa dan lamban, maka ketika orang-orang jahat sering mengatakan atau melakukan hal-hal dalam kehidupan bergereja demi bersaing untuk mendapatkan status, kebanyakan orang akan segera menyadari bahwa ada masalah yang perlu diselesaikan. Mereka akan mampu segera mengidentifikasi siapa yang memanipulasi situasi ini, dan seperti apa esensi wataknya, mereka akan segera menyadari keseriusan masalah ini, dan mampu menghentikan serta membatasi orang-orang jahat itu dalam waktu singkat, mengeluarkan mereka dari gereja, dan menghalangi mereka agar tidak terus mengganggu serta mengekang orang-orang di dalam gereja. Bukankah ini akan bermanfaat dan mendidik kerohanian sebagian besar orang? (Ya.)

Jika engkau semua menghadapi situasi di mana orang-orang jahat bersaing untuk mendapatkan status, bagaimana engkau akan menangani mereka? Bagaimana pandangan mayoritas? (Kami akan menghentikan perilaku ini.) Hanya menghentikannya? Bagaimana caramu menghentikannya? Apakah engkau akan melarang mereka untuk berbicara, atau berkata, "Kami tidak suka dengan apa yang kaukatakan, jadi berbicaralah lebih sedikit di pertemuan mendatang!" Apakah itu akan berhasil? Apakah mereka akan mendengarkanmu? (Tidak.) Jadi, apa yang harus kaulakukan? Engkau harus secara menyeluruh menyingkapkan dan menelaah niat, motivasi dan esensi natur mereka berdasarkan firman Tuhan, agar saudara-saudari mampu mengidentifikasi dan berwaspada terhadap orang-orang semacam itu serta natur dari tindakan mereka, bukannya menjadi penyenang orang, dan hanya menunggu para pemimpin dan pekerja gereja untuk menyingkapkan orang-orang jahat ini barulah engkau menyatakan pendirianmu dan berkata, "Mereka tidak boleh lagi diizinkan untuk menghadiri pertemuan." Apakah menjadi penyenang orang adalah hal yang baik? (Tidak.) Ketika menghadapi situasi seperti itu, bukankah mayoritas orang lebih suka menghindar dan menjauh dari masalah seperti ini, daripada berselisih dengan orang-orang jahat tersebut, agar mereka tidak menyinggung perasaan orang-orang itu dan agar tidak merasa canggung ketika di kemudian hari mereka berinteraksi? Dengan menjadi penyenang orang, bukankah kebanyakan orang sedang mematuhi prinsip duniawi tentang cara berinteraksi dengan orang lain? (Ya.) Maka ini adalah masalah. Misalkan delapan puluh persen orang di gereja adalah para penyenang orang, dan ketika mereka melihat orang-orang jahat bersaing untuk mendapatkan status, keunggulan, dan kedudukan sebagai pemimpin dalam kehidupan bergereja, tak seorang pun bangkit untuk menghentikan atau membatasi mereka, di mana mayoritas orang mematuhi pandangan: "Semakin sedikit masalah, semakin baik. Aku tidak sanggup menanggung akibat jika memicu kemarahan mereka, jadi tidak dapatkah aku menghindari mereka saja? Aku akan menjauhi mereka dan cukup itu saja yang kulakukan. Biarkan saja mereka bersaing; ketika saatnya tiba, Tuhan akan menghukum mereka. Apa hubungannya itu denganku!" Dalam keadaan seperti ini, apakah kehidupan bergereja tetap dapat membuahkan hasil? Kebanyakan orang malas dan suka bergantung; setelah para pemimpin gereja terpilih, mereka menganggap pekerjaan mereka sudah selesai, dan hanya menunggu para pemimpin gereja melakukan segala sesuatunya. Jika mereka ditanya apakah buku-buku firman Tuhan telah didistribusikan di gereja mereka, apakah telah terjadi kekacauan atau gangguan dalam kehidupan bergereja, atau apakah ada orang yang selalu melontarkan kata-kata dan doktrin atau bersaing dengan para pemimpin untuk mendapatkan status, mereka akan berkata, "Para pemimpin gereja tahu betul tentang semua hal ini. Aku tidak tahu tentang hal-hal ini dan tidak perlu repot-repot mengurusnya. Para pemimpin akan mengurus semua ini ketika saatnya tiba." Mereka tidak peduli atau bertanya tentang apa pun, mereka tidak mengetahui informasi apa pun, dan mereka tidak mengetahui juga tidak peduli tentang orang-orang, peristiwa, atau hal-hal yang ada kaitannya dengan kehidupan bergereja, yang seharusnya mereka ketahui. Mengenai apa yang dikatakan dan dilakukan oleh orang-orang jahat yang muncul di gereja ketika mereka bersaing untuk mendapatkan status, serta gangguan dan dampak yang mereka sebabkan terhadap kehidupan bergereja, mereka sama sekali tidak peduli akan hal ini, dan mereka tidak menyelidiki ataupun bertanya tentang hal-hal ini. Setelah semuanya berakhir, jika mereka ditanya apakah mereka telah memperoleh kemampuan untuk mengidentifikasi, apakah mereka mampu mengidentifikasi orang jahat dan apa saja perwujudan orang jahat, mereka tidak dapat mengatakan apa pun selain, "Tanyakan kepada para pemimpin gereja; mereka mengetahui semuanya." Bukankah orang-orang semacam itu adalah budak? Mereka adalah budak, mereka pengecut dan tidak berguna, serta menjalani kehidupan yang hina. Situasi di mana terdapat orang-orang jahat yang bersaing untuk mendapatkan status menuntut orang untuk memiliki kemampuan mengidentifikasi, untuk menangani dan membereskannya. Ini bukan hanya tanggung jawab para pemimpin gereja; semua umat pilihan Tuhan sama-sama memiliki tanggung jawab ini. Kebanyakan pemimpin memahami sedikit lebih banyak kebenaran daripada orang-orang pada umumnya, bersikap waspada terhadap masalah seperti ini, dan mampu melihat tujuan serta esensi dari tindakan orang-orang ini. Pada saat yang sama, kebanyakan orang juga harus memetik pelajaran secara nyata dan bertumbuh dalam kemampuan mereka untuk mengidentifikasi, dan bersatu dengan orang-orang di dalam gereja yang memiliki rasa keadilan, dan memahami serta mengejar kebenaran, untuk mengambil tindakan yang tepat terhadap orang-orang jahat yang mengganggu dan mengacaukan kehidupan bergereja. Mereka harus mengisolasi atau mengeluarkan orang-orang itu, bukannya berdiam diri tanpa melakukan apa pun, dan sekadar mendengarkan sedikit persekutuan, sedikit memperluas wawasan mereka, dan di dalam hatinya memiliki sedikit kesadaran akan hal ini ketika menghadapi masalah seperti ini, kemudian menganggap pekerjaan mereka sudah selesai. Ini karena kehidupan bergereja bukanlah sesuatu yang hanya menjadi urusan pemimpin gereja, dan menjalani kehidupan bergereja yang baik serta mempertahankan tatanan normal gereja bukan hanya tanggung jawab pemimpin gereja; ini membutuhkan upaya bersama dari semua orang agar bangkit untuk mempertahankannya.

Orang-orang yang bersaing untuk mendapatkan status—jenis orang yang disebutkan dalam masalah kelima—sering kali muncul dalam kehidupan bergereja. Perwujudan mereka yang paling jelas terlihat adalah bersaing dengan pemimpin gereja untuk mendapatkan status, diikuti dengan bersaing untuk mendapatkan status dengan orang-orang yang memiliki kualitas yang baik dan memiliki pemahaman yang relatif murni akan kebenaran, orang-orang yang memiliki pemahaman rohani, dan orang-orang yang memahami prinsip-prinsip kebenaran di antara saudara-saudari, sering kali menantang orang-orang ini. Orang-orang ini sering mempersekutukan pemahaman dan terang yang murni dalam kehidupan bergereja, membagikan beberapa pengalaman pribadi mereka yang berharga dan menyampaikan pemahaman nyata mereka; ini sangat membantu dan mendidik kerohanian saudara-saudari. Setelah mendengar persekutuan mereka, saudara-saudari memiliki jalan, tahu bagaimana cara menerapkan serta mengalami firman Tuhan dan cara untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri. Mereka merasa sangat bersyukur atas bimbingan Tuhan sekaligus mengagumi dan menghargai orang-orang yang memiliki pemahaman yang murni akan kebenaran dan pengalaman nyata. Dengan demikian, mereka cenderung menghormati dan mendekati orang-orang ini. Kemunculan hal-hal positif yang menyenangkan hati Tuhan dalam kehidupan bergereja adalah hal yang paling tidak ingin dilihat oleh mereka yang bersaing untuk mendapatkan status. Setiap kali melihat seseorang mempersekutukan pengalaman nyata, mereka merasa gelisah dan iri, menjadi sangat canggung. Di tengah rasa canggungnya, mereka memperlihatkan sikap yang menentang, merendahkan, dan tidak puas, sering memperhitungkan dalam hati mereka bagaimana cara membuat orang-orang yang memiliki pengalaman nyata dan memahami kebenaran itu terlihat bodoh, serta bagaimana cara membuat saudara-saudari melihat kelemahan dan kekurangan orang-orang itu, tidak lagi menghormati orang-orang itu atau tidak ingin lebih dekat dengan orang-orang itu. Oleh karena itu, mereka yang bersaing untuk mendapatkan status pasti akan mengatakan hal-hal tertentu dan melakukan tindakan-tindakan tertentu. Mereka menyerang dan mengucilkan orang-orang yang membagikan kesaksian pengalaman dan orang-orang yang sering mempersekutukan kebenaran yang membekali dan membantu jalan masuk kehidupan saudara-saudari. Mereka sering mencari pegangan yang dapat digunakan untuk melawan orang-orang yang berkarakter positif dan menyingkapkan kekurangan orang-orang itu dengan tujuan menjauhkan umat pilihan Tuhan dari semua orang yang sering mempersekutukan kebenaran dan membagikan kesaksian pengalaman. Singkatnya, mereka yang bersaing untuk mendapatkan status adalah orang-orang berkarakter negatif yang menyusup ke dalam gereja dan memainkan peran sebagai hamba-hamba Iblis.

Seorang saudari, yang pernah melakukan kesalahan dalam hubungan intimnya sebelum percaya kepada Tuhan, bertobat setelah menjadi orang percaya dan tidak pernah lagi melakukan kesalahan semacam itu. Dia merasa sangat menyesal tentang pelanggarannya di masa lalu, dan karena itu, dia membuka diri dan mempersekutukannya kepada saudara-saudari. Apa tujuan serta prinsip membuka diri dan bersekutu? Tujuannya adalah untuk menumbuhkan rasa saling pengertian dan menyingkirkan hambatan internal di antara saudara-saudari. Setelah memahami kebenaran, sebagian besar saudara-saudari mampu membuka diri dan mempersekutukan kerusakan yang mereka perlihatkan dan pelanggaran mereka di masa lalu, sembari juga mengungkapkan rasa syukur dan pujian mereka atas keselamatan dari Tuhan. Apakah keterbukaan dan persekutuan dengan cara seperti itu pantas? (Ya.) Setelah memahami kebenaran, sebagian besar saudara-saudari mampu membuka diri dan bersekutu dengan cara seperti ini; apakah ini merupakan masalah? (Tidak.) Sangatlah normal jika orang melakukan beberapa kesalahan dalam hal hubungan intim mereka atau dalam hal-hal lainnya sebelum mereka percaya kepada Tuhan. Ada orang-orang yang mampu membicarakan kesalahan-kesalahan ini, ada yang menyembunyikan dan menyamarkan diri mereka, dan tak peduli bagaimana orang lain membuka diri dan menceritakan yang sebenarnya tentang dirinya, mereka sendiri tidak mengatakan apa pun. Mereka yakin bahwa kesalahan-kesalahan ini adalah rahasia mereka yang memalukan, yang tak seorang pun boleh mengetahuinya, karena jika ada yang mengetahuinya, mereka akan kehilangan reputasi, harga diri, dan kedudukan mereka. Namun, ada orang-orang yang memahami hal-hal secara berbeda; mereka yakin bahwa karena mereka telah percaya kepada Tuhan dan telah menerima keselamatan dari Tuhan, mereka seharusnya membuka diri dan sekarang mempersekutukan kesalahan mereka di masa lalu serta jalan salah yang telah mereka tempuh, serta mengutarakan hal-hal ini untuk ditelaah, dan bahwa semua ini hanyalah hal-hal yang telah mereka lalui sebagai manusia yang dirusak Iblis. Sekarang mereka mampu membuka diri, menceritakan yang sebenarnya tentang diri mereka, dan mempersekutukannya. Apakah itu untuk merangkum masa lalu atau untuk mengakhirinya, fakta bahwa orang-orang ini mampu melakukannya membuktikan bahwa sikap mereka terhadap penerapan kebenaran adalah: Mereka bersedia menerapkan kebenaran, dan mereka bertekad untuk menerapkannya. Bagaimana tepatnya cara orang menerapkannya, itu tergantung pada pemahaman dan tekad mereka. Namun, membuka diri dan menceritakan yang sebenarnya tentang diri sendiri tentu saja bukan merupakan kesalahan, apalagi dosa. Hal ini tidak boleh dijadikan pegangan untuk melawan seseorang, dan terlebih lagi tidak boleh menjadi bukti yang orang gunakan untuk menyerang seseorang. Mayoritas orang dapat memperlakukan hal ini dengan benar, yang berarti pemahaman mereka tentang hal ini murni dan sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Namun, orang-orang jahat memendam niat yang salah; mereka bersikeras menggunakan hal-hal tentang orang-orang sebagai alat untuk mengejek, mempermainkan, dan menghakimi mereka. Perbuatan jahat semacam itu cukup jelas terlihat. Mereka yang mampu menceritakan yang sebenarnya tentang diri mereka, membuka diri, dan mempersekutukan kerusakan mereka serta jalan salah yang telah mereka tempuh, memiliki hati yang lapar dan haus akan kebenaran dalam perlakuan mereka terhadap kebenaran dan firman Tuhan. Akibatnya, saat membaca firman Tuhan, mereka tanpa sadar memperoleh beberapa pemahaman dan wawasan yang nyata. Pemahaman dan wawasan yang nyata ini membantu mereka untuk menemukan jalan penerapan saat menghadapi kesulitan dan begitu banyak situasi yang terjadi dalam hidup mereka, sehingga mereka memiliki pemahaman sejati tentang kebenaran dari pengalaman mereka. Mempersekutukan pemahaman sejati dari pengalaman ini mendidik kerohanian orang lain dan membantu mereka; saudara-saudari akan memandang orang-orang ini dengan kagum dan hormat, lalu berkata, "Pengalaman nyatamu benar-benar luar biasa. Setelah mendengarnya, aku dapat berempati secara mendalam. Kulihat cara penerapanmu benar dan diberkati oleh Tuhan. Aku juga bersedia melepaskan gagasan dan prasangkaku sendiri serta melepaskan bebanku; aku ingin menerapkan kebenaran dengan cara yang sederhana serta menerima pencerahan dan bimbingan Tuhan sepertimu. Jalan ini adalah jalan yang benar." Bukankah perwujudan seperti ini sangat normal? Bukankah sangat wajar jika hubungan semacam ini muncul di antara saudara-saudari? Ini adalah jenis hubungan antarpribadi yang berbeda dari jenis hubungan yang ditemukan di antara mereka yang tidak percaya kepada Tuhan; ini adalah jenis hubungan yang diperkenan oleh Tuhan dan yang ingin dilihat-Nya. Hanya jika hubungan seperti ini ada di antara saudara-saudari, barulah kehidupan bergereja dapat menjadi normal. Namun, akan selalu ada orang-orang jahat atau orang-orang yang memiliki niat yang kejam, yang bangkit untuk menyerang, merendahkan, dan mengucilkan mereka yang memiliki pengalaman nyata, mereka yang lapar dan haus akan kebenaran, dan mereka yang mengagumi serta menghormati orang-orang yang memiliki pengalaman. Mengapa mereka menyerang orang-orang ini? Tujuan mereka tidak lain adalah bersaing untuk mendapatkan status tertentu di dalam gereja. Karena mereka tidak mencintai kebenaran, juga tidak mengejarnya, mereka menyamar sebagai pengejar kebenaran dengan mengarang pengalaman palsu untuk menyesatkan semua orang dan memperoleh penghargaan yang tinggi dari orang-orang. Ini berarti menggunakan cara-cara Iblis dalam menyesatkan dan mengendalikan orang untuk memperoleh status dan kuasa yang mereka inginkan. Insiden seperti ini sering terjadi di gereja-gereja di mana pun dan semua orang dapat melihatnya. Jika engkau semua mendapati ada saudara-saudari yang memiliki beberapa kenyataan kebenaran, dapat mempersekutukan pemahaman sejati akan firman Tuhan dari pengalaman mereka selama pertemuan, dan telah memperoleh pujian dari banyak orang, tetapi entah mengapa, mereka diserang, dibalas, dan dijerumuskan ke dalam penderitaan oleh orang-orang tertentu, engkau semua harus waspada, dan mengidentifikasi orang-orang macam apa yang berperilaku seperti ini. Mengapa mereka yang mengejar kebenaran sering diserang dan dikucilkan? Apa sebenarnya yang terjadi di sini? Ini jelas menunjukkan adanya masalah.

Dalam kehidupan bergereja, orang-orang yang sering mencari-cari kesalahan para pemimpin dan pekerja harus diperhatikan dengan saksama. Selain itu, ada orang-orang yang sering mencemooh, mengolok-olok, atau menyerang mereka yang relatif mengejar kebenaran dan merindukan firman Tuhan. Orang-orang negatif ini juga harus diawasi dengan ketat dan diamati untuk melihat tindakan apa yang selanjutnya akan mereka lakukan. Jika seseorang dapat menyingkapkan kekurangan para pemimpin gereja atau menyerang orang-orang yang memiliki kenyataan kebenaran tanpa alasan yang dapat dibenarkan sembari ambil bagian dalam kehidupan bergereja, pasti ada masalah dan alasan di baliknya; itu tidak mungkin dilakukannya tanpa alasan. Saudara-saudari harus memberi perhatian serius terhadap orang-orang semacam itu karena ini bukanlah masalah kecil. Terkadang, setelah baru saja mendengarkan kesaksian tentang pengalaman nyata dan orang merasa dipenuhi kenikmatan di dalam hatinya, atau setelah baru saja memperoleh sedikit terang dan pemahaman, orang bisa saja dibuat bingung oleh beberapa perkataan menyesatkan yang diucapkan oleh orang-orang jahat, sehingga kehilangan semua yang baru saja dia peroleh. Ketika orang baru saja mulai membangun sedikit iman, mereka diganggu oleh orang-orang jahat dan kembali ke status mereka yang sebelumnya; ketika mereka baru saja mulai merasakan sedikit haus akan kebenaran dan firman Tuhan, disertai sedikit tekad untuk menerapkan kebenaran, mereka diganggu oleh orang-orang jahat, sehingga menjadi berkecil hati dan kehilangan motivasi, kemudian ingin segera meninggalkan tempat perselisihan ini. Apakah akibat seperti ini serius? Ini sangat serius. Oleh karena itu, di gereja, jika ada orang-orang yang selalu memulai perselisihan tentang sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya, berdebat tentang siapa yang benar, berdebat tentang apa yang benar dan apa yang salah, dan bahkan memperdebatkan siapa yang lebih baik atau siapa yang lebih buruk, berarti orang-orang semacam itu harus diwaspadai. Lihatlah peran apa yang mereka mainkan di gereja, akibat seperti apa yang mereka timbulkan, dan melalui hal ini, engkau akan dapat mengetahui yang sebenarnya tentang esensi natur mereka.

Dalam kehidupan bergereja, ada jenis lain dari perwujudan bersaing untuk mendapatkan status yang berkaitan dengan mengacaukan dan mengganggu kehidupan bergereja serta pekerjaan gereja. Sebagai contoh, terkadang ketika saudara-saudari sedang mempersekutukan suatu masalah bersama-sama, persekutuan semua orang cukup mencerahkan; makin sering mereka bersekutu, makin prinsip-prinsip kebenaran menjadi jelas dan terang, dan jalan penerapan dapat dipahami dengan cepat. Namun, seseorang mungkin tiba-tiba memperkenalkan sebuah "ide cemerlang", saran darinya, yang memutus alur persekutuan dan mengalihkan pembicaraan ke topik lainnya, sehingga persekutuan tentang subjek utama menjadi tidak selesai. Dari luarnya, orang itu sepertinya tidak sedang menyebabkan gangguan, apalagi membatasi orang lain untuk mempersekutukan kebenaran, tetapi dia tidak memilih waktu yang tepat untuk memperkenalkan topik ini. Dengan menyelipkan hal baru untuk dipersekutukan dan dibahas pada saat kritis ketika kebenaran sedang dipersekutukan untuk menyelesaikan suatu masalah, hal yang sebelumnya dibahas menjadi terputus sebelum dapat diselesaikan sepenuhnya. Bukankah ini berarti meninggalkan tugas di tengah jalan? Bukankah ini menunda penyelesaian masalahnya? Masalah tersebut tidak hanya belum terselesaikan, tetapi pemahaman orang-orang akan kebenaran pun menjadi tertunda. Apakah orang-orang yang bernalar cenderung melakukan hal ini? Apakah berlebihan jika menganggap hal-hal semacam ini mengacaukan dan mengganggu kehidupan bergereja? Menurut-Ku itu sama sekali tidak berlebihan. Mengganggu pertemuan seperti ini saat sedang mempersekutukan kebenaran untuk menyelesaikan suatu masalah; bukankah ini berarti sengaja mengacaukan dan mengganggu kehidupan bergereja? Jika orang selalu menyela pada saat-saat kritis ketika kebenaran sedang dipersekutukan untuk menyelesaikan masalah, jika mereka selalu berusaha memutus pembicaraan, ini bukanlah masalah tidak memiliki nalar; ini berarti dengan sengaja mengganggu pertemuan saat kebenaran sedang dipersekutukan untuk menyelesaikan suatu masalah, ini adalah perbuatan jahat yang mengacaukan dan mengganggu kehidupan bergereja, tidak ada selain itu; hanya antikristus dan orang jahatlah yang melakukan hal ini, hanya orang yang membenci kebenaranlah yang melakukan hal ini. Apa pun latar belakang atau keadaannya, orang-orang seperti ini selalu harus mengemukakan "ide-ide cemerlang", mereka selalu ingin diperhatikan, menjadi pusat perhatian. Betapa pun krusial dan pentingnya topik yang sedang orang persekutukan, mereka selalu harus menyela untuk mengalihkan perhatian orang dan melontarkan ide yang muluk-muluk, ingin terlihat unik. Aksi seperti apa yang sebenarnya ingin mereka tunjukkan? Bukankah mereka sedang bersaing untuk mendapatkan status? Mereka ingin mengendalikan keadaan. Mereka tidak ingin orang-orang memiliki pemahaman dan kejelasan yang lebih baik tentang kebenaran; yang paling mereka pedulikan adalah membuat semua orang memperhatikan, mendengarkan, serta menaati mereka, dan semua orang melakukan apa yang mereka katakan. Ini jelas bersaing untuk mendapatkan status. Ada orang-orang yang, pekerjaan apa pun yang mereka lakukan, ketika diminta untuk mempersekutukan ide-ide dan rencana spesifik dalam melaksanakan sesuatu, serta langkah-langkah spesifik untuk melaksanakannya secara terperinci, mereka tidak dapat mengatakan apa pun. Namun, mereka suka melontarkan ide yang muluk-muluk, yang terdengar tidak lazim, dan melakukan sesuatu yang baru serta memukau. Tidak peduli bagaimana situasinya saat itu, begitu muncul ide baru di benaknya, mereka menyampaikannya seolah-olah terinspirasi, dengan gegabah mengusulkannya agar diterima dan disetujui orang lain, tanpa mempertimbangkannya dengan saksama. Namun ketika mereka akhirnya diminta untuk membahas jalan penerapan yang spesifik mengenainya, mereka menjadi terdiam. Mereka tidak memiliki kecakapan tersebut, tetapi masih ingin pamer, selalu bertujuan untuk terlihat. Mereka tidak mau tertinggal dari orang lain; mereka tidak mau menjadi sekadar pengikut biasa. Mereka selalu takut akan dipandang rendah orang lain, dan selalu ingin menegaskan kehadiran mereka. Jadi, mereka selalu melontarkan ide yang muluk-muluk agar terlihat. Apa masalahnya jika selalu melakukan hal ini? Ketika sebuah ide muncul di benaknya, mereka secara membabi buta menganggapnya baik dan layak untuk diterapkan tanpa mempertimbangkannya atau sebelum ide tersebut dipikirkan matang-matang. Ketika mereka dengan gegabah menyampaikan ide ini, orang lain tidak memahaminya dan tentu saja mengajukan beberapa pertanyaan. Meskipun tak mampu menjawabnya, mereka tetap bersikeras bahwa pendapat mereka benar dan semua orang harus menerimanya. Watak macam apa ini? Apa akibat yang akan ditimbulkan oleh kegigihan mereka yang tak berdasar pada pandangan mereka sendiri? Apakah itu bermanfaat ataukah mengganggu pekerjaan gereja? Apakah itu bermanfaat atau merugikan umat pilihan Tuhan? Mereka mampu mengatakan hal seperti ini tanpa rasa tanggung jawab; apa tujuan mereka? Hanya untuk menegaskan kehadiran mereka. Mereka takut orang lain tidak akan tahu bahwa mereka memiliki "ide-ide cemerlang" seperti itu, tidak akan tahu bahwa mereka memiliki kualitas, kecerdasan, dan kemampuan; mereka berusaha untuk mendapatkan pengakuan ini, agar mayoritas orang menghormati mereka. Apa yang terjadi pada akhirnya? Mereka dengan gegabah memberikan saran, dan orang lain pada awalnya mengira bahwa mereka benar-benar memiliki beberapa kemampuan, sesuatu yang murni. Namun seiring berjalannya waktu, menjadi jelas bahwa mereka hanyalah orang-orang bodoh, tidak memiliki pengetahuan atau keterampilan nyata tetapi selalu ingin menjadi penentu keputusan. Ini berarti bersaing untuk mendapatkan status. Tanpa kemampuan nyata, mereka tetap ingin menjadi penentu keputusan; mereka selalu melontarkan ide yang muluk-muluk tanpa memberikan rencana yang konkret, tanpa memiliki jalan penerapan yang spesifik. Apa akibatnya jika tugas benar-benar dipercayakan kepada orang-orang semacam itu? Tentu saja akan terjadi penundaan. Mengapa mereka selalu berusaha bersaing untuk mendapatkan status, untuk berkuasa, padahal mereka tidak mampu menyelesaikan apa pun? Mereka hanyalah orang-orang bodoh yang kemampuan intelektualnya kurang; dengan kata yang lebih halus, mereka tidak bernalar sama sekali. Di antara orang-orang tidak percaya, ada terlalu banyak orang semacam itu, yang hanya pintar bicara tetapi tak mampu melakukan apa pun. Kebanyakan orang sedikit mampu mengidentifikasi orang-orang semacam ini. Jika seseorang selalu melontarkan ide yang muluk-muluk dan ingin terlihat inovatif, orang harus berhati-hati agar tidak tertipu olehnya. Jika ada seseorang yang benar-benar memiliki ide cemerlang yang juga mampu menyampaikan rencana yang konkret, itu hanya bisa diterima jika itu bisa dilakukan; jika dia hanya melontarkan ide yang muluk-muluk tanpa menyampaikan rencana yang konkret, orang harus berhati-hati dalam memperlakukan ide-ide tersebut. Persekutuan harus dilakukan untuk menentukan apakah ada jalan penerapan yang layak bagi ide mereka atau tidak. Jika mayoritas orang merasa bahwa ide mereka dapat dilakukan dan ada jalan penerapannya, berarti ide tersebut harus dicoba selama jangka waktu tertentu untuk melihat seperti apa hasilnya sebelum mengambil keputusan.

Apa pun aspek kebenaran yang gereja persekutukan atau masalah apa pun yang diselesaikannya, semua jenis orang akan memperlihatkan diri mereka yang sebenarnya. Setelah berinteraksi untuk waktu yang lama, orang akan dapat melihat siapa yang benar-benar mencintai serta mampu menerima kebenaran, dan siapa yang mengacaukan serta mengganggu, yang tidak melaksanakan tugas mereka dengan semestinya. Menurutmu, apakah orang-orang yang suka melontarkan ide yang muluk-muluk dan menyampaikan ide-ide inovatif mampu menerima kebenaran serta menempuh jalur yang benar dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan? Menurut-Ku tidak mudah bagi mereka untuk melakukan hal ini. Apa peran orang-orang ini dalam kehidupan bergereja? Apa akibatnya jika mereka sering melontarkan ide yang muluk-muluk dan tidak melaksanakan tugas mereka dengan semestinya? Itu akan mengacaukan dan mengganggu kehidupan bergereja, seperti yang dapat dilihat kebanyakan orang, dan jika ini berlanjut, ini akan menunda umat pilihan Tuhan dalam mengejar kebenaran dan masuk ke dalam kenyataan. Meskipun orang yang suka melontarkan ide yang muluk-muluk belum tentu merupakan orang jahat, akibat dari tindakan mereka sangat merugikan jalan masuk kehidupan umat pilihan Tuhan, dan di saat yang sama, tindakan mereka juga menunda serta memengaruhi pekerjaan gereja. Lalu, bagaimana cara mengatasi masalah ini? Bagaimana cara agar orang yang suka melontarkan ide yang muluk-muluk dan menyampaikan ide-ide baru dapat ditangani dengan tepat? Cara pertama adalah ini: Jika mereka suka melontarkan ide yang muluk-muluk dan selalu memiliki pendapat, biarkan mereka berbicara terlebih dahulu, baru kemudian lakukan identifikasi. Siapa pun itu, semua orang bebas berbicara dan mengungkapkan pendapat; tak seorang pun boleh membatasi hal ini. Siapa pun yang benar-benar memiliki ide dan wawasan yang bijak harus diizinkan untuk berbicara dan menjelaskannya, agar semua orang dapat melihatnya, dan kemudian bersekutu serta berdiskusi untuk melihat apakah itu benar, apakah itu sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran, dan apakah ada bagian darinya yang dapat diadopsi. Jika itu layak untuk dipelajari dan ada manfaat yang dapat diperoleh darinya, itu bagus; jika setelah dipersekutukan dan didiskusikan, diputuskan bahwa apa yang mereka katakan tidak ada nilainya dan tidak disarankan, berarti itu harus dilepaskan. Dengan menerapkan seperti ini, semua orang akan bertumbuh dalam kemampuan mereka mengidentifikasi; setiap kali sesuatu muncul, mereka semua akan tahu bagaimana cara merenungkan hal ini, dan mereka akan memahami berbagai orang dengan lebih baik. Penerapan seperti ini bermanfaat bagi umat pilihan Tuhan dan tidak akan menimbulkan gangguan terhadap pekerjaan gereja; cara penerapan ini benar. Berikut adalah cara kedua: Jika apa yang dikatakan tidak ada nilainya, dan tidak ada manfaat yang akan diperoleh darinya sekalipun itu dipersekutukan dan didiskusikan, saran-saran seperti itu harus langsung ditolak, dan sama sekali tidak perlu dipersekutukan atau didiskusikan. Jika seseorang terus saja mengangkat hal-hal tidak berharga dan "ide-ide cemerlang" seperti itu, membuat umat pilihan Tuhan merasa muak dan tidak mau mendengarkannya, bukankah orang semacam itu harus dibatasi? Yang terbaik adalah mereka dinasihati agar memperlihatkan nalar yang lebih besar, agar mereka menahan diri untuk tidak mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya dikatakan agar tidak memengaruhi orang lain. Jika orang ini tidak bernalar dan bersikeras untuk terus melanjutkan dengan cara ini, menyebabkan gangguan terhadap kehidupan bergereja dan membuat semua orang merasa sangat kesal, bahkan sampai menjadi marah, berarti mereka adalah orang jahat yang mengganggu kehidupan bergereja. Mereka harus ditangani berdasarkan prinsip-prinsip rumah Tuhan dalam membersihkan gereja, yakni dengan mengeluarkan mereka dari gereja; ini adalah hal yang tepat. Katakan kepada-Ku, jenis orang-orang apakah yang kebanyakan darinya suka melontarkan ide yang muluk-muluk? Apakah mereka jenis orang yang mengejar kebenaran? Apakah mereka sungguh-sungguh mengorbankan diri mereka bagi Tuhan? Tentu saja tidak. Lalu, apa tujuan dan niat mereka menyebabkan gangguan seperti itu terhadap kehidupan bergereja? Ini membutuhkan kemampuan untuk mengidentifikasi. Jika semua orang telah memiliki pemahaman yang cukup tentang orang-orang semacam itu, tahu bahwa mereka memiliki kecerdasan, kualitas, dan nalar yang buruk—bahwa mereka hanya orang-orang bodoh—cara paling tepat untuk menangani mereka ketika mereka mengungkapkan "ide-ide cemerlang" adalah dengan menghentikan dan membatasi mereka, menyuruh mereka untuk tetap diam. Jika mereka bersikeras untuk terus berbicara, terus menyebabkan gangguan terhadap kehidupan bergereja, mereka harus dikeluarkan dari gereja untuk mencegah terjadinya masalah lebih lanjut. Ada orang yang berkata, "Bukankah ini menghancurkan kesempatan mereka untuk diselamatkan?" Perkataan seperti ini keliru. Mungkinkah Tuhan menyelamatkan orang-orang semacam ini? Dapatkah orang yang memiliki watak seperti ini menerima kebenaran? Dapatkah mereka memperoleh keselamatan tanpa menerima kebenaran sama sekali? Bukankah sangat bodoh dan tidak mengerti jika orang bahkan tidak mampu memahami yang sebenarnya mengenai hal semacam ini? Bagaimanapun juga, mereka yang sering menimbulkan gangguan dalam kehidupan bergereja adalah orang-orang jahat, dan Tuhan tidak menyelamatkan mereka. Mempertahankan seseorang yang tidak Tuhan selamatkan di dalam gereja, bukankah itu berarti dengan sengaja merugikan umat pilihan Tuhan? Apakah orang yang kasihan kepada orang-orang jahat semacam itu benar-benar penuh kasih? Menurut-Ku tidak; kasih mereka adalah kasih yang palsu. Sebenarnya mereka berniat untuk merugikan umat pilihan Tuhan. Oleh karena itu, umat pilihan Tuhan harus waspada terhadap siapa pun yang membela orang-orang jahat, jangan sampai disesatkan oleh perkataan setan yang diucapkan orang-orang itu. Sebagian orang yang suka melontarkan ide yang muluk-muluk, meskipun mereka tidak terlihat seperti orang jahat dan tidak melakukan tindakan jahat yang terlihat jelas, mereka dapat menyebabkan gangguan terhadap kehidupan bergereja dengan selalu melontarkan ide yang muluk-muluk; paling tidak, orang-orang ini adalah orang yang bingung. Menurutmu, dapatkah orang bingung diselamatkan? Tentu saja tidak. Jika orang bingung terus-menerus mengganggu kehidupan bergereja, mereka juga harus dikeluarkan dari gereja. Orang-orang bingung tidak menerima kebenaran, benar-benar tidak mau bertobat, dan kesudahan mereka sama seperti kesudahan orang jahat. Entah orang jahat ataupun orang bingung, jika mereka sering mengacaukan dan mengganggu kehidupan bergereja, tidak mengindahkan nasihat, dan berbicara tanpa terkendali bagaikan mobil rusak yang tidak dapat dihentikan, bukankah ini pertanda nalar yang tidak normal? Apa akibatnya jika orang bingung seperti itu terus mengganggu gereja dengan cara ini dalam jangka panjang? Terlebih dari itu, dapatkah mereka sungguh-sungguh bertobat? Apakah Tuhan menyelamatkan orang-orang bingung yang memiliki nalar tidak normal seperti itu? Setelah pertanyaan-pertanyaan ini dipahami secara menyeluruh, cara menangani orang-orang semacam itu dengan semestinya akan menjadi jelas. Orang-orang bingung pasti tidak mencintai kebenaran, dan kebenaran berada di luar jangkauan mereka. Orang-orang bingung tidak dapat memahami bahasa manusia; dapat dikatakan bahwa orang-orang bingung tidak memiliki kemanusiaan yang normal dan setengah gila; sebenarnya, mereka tidak berguna sama sekali. Dapatkah orang-orang bingung melakukan pelayanan dengan baik? Dapat dikatakan dengan pasti bahwa mereka bahkan tidak mampu melakukan pelayanan dengan cara yang sesuai standar karena nalar mereka tidak sehat; mereka adalah orang-orang yang tidak memahami apa pun. Jika orang ingin memperlihatkan kasih kepada orang-orang bingung, silakan saja mereka mendukung orang-orang bingung itu. Sikap rumah Tuhan terhadap orang-orang bingung adalah mereka harus dikeluarkan. Siapa pun yang tidak menerima kebenaran sama sekali, siapa pun yang tidak sungguh-sungguh melaksanakan tugas mereka, selalu melaksanakannya dengan sikap yang asal-asalan, harus dibatasi jika mereka sering menyebabkan gangguan terhadap kehidupan bergereja. Jika ada dari mereka yang merasa menyesal dan bersedia untuk bertobat, mereka harus diberi kesempatan. Orang-orang yang esensi dirinya tidak dapat dipahami boleh dipertahankan di dalam gereja untuk sementara waktu, sehingga umat pilihan Tuhan dapat mengawasi serta mengamati orang-orang itu, dan bertumbuh dalam kemampuan mereka untuk mengidentifikasi. Jika ada orang yang terus-menerus mengacaukan serta mengganggu, dan sekalipun telah dipangkas, tetap tidak mau bertobat sama sekali, terus bersaing untuk mendapatkan ketenaran dan keuntungan, menyerang serta mengucilkan orang-orang berkarakter positif—terutama menyerang mereka yang mengejar kebenaran dan mampu membagikan kesaksian pengalaman mereka, dan mereka yang sungguh-sungguh mengorbankan diri bagi Tuhan dan melaksanakan tugas mereka—berarti orang-orang ini adalah orang jahat dan antikristus, mereka adalah pengikut yang bukan orang percaya. Mengenai orang-orang semacam ini, mereka bukan sekadar harus dihentikan dan dibatasi; mereka harus segera dikeluarkan dari gereja untuk mencegah timbulnya masalah di masa mendatang. Cara penerapan ini benar-benar sesuai dengan maksud Tuhan.

Kurang lebih inilah berbagai perwujudan bersaing untuk mendapatkan status, dari yang ringan hingga yang berat. Perwujudan yang ringan terutama mengacu pada mencemooh pemimpin dan pekerja dengan kata-kata kasar, mencari-cari kesalahan, serta menyerang sikap proaktif pemimpin dan pekerja, dengan tujuan untuk menghancurkan dan mendiskreditkan mereka. Perwujudan yang paling berat adalah secara langsung menentang pemimpin dan pekerja secara terbuka, mencari hal-hal yang dapat digunakan untuk melawan mereka serta menghakimi, mengutuk, menyerang, dan mengucilkan mereka, kemudian mengisolasi mereka, serta memaksa mereka untuk mengakui kesalahan dan mengundurkan diri agar dapat merebut status mereka. Ini adalah masalah kekacauan dan gangguan paling berat yang terjadi dalam kehidupan bergereja. Orang-orang yang secara terbuka berteriak menentang pemimpin atau pekerja serta bersaing dengan mereka untuk mendapatkan status adalah orang-orang yang mengganggu pekerjaan gereja dan menentang Tuhan, mereka adalah orang jahat dan antikristus, dan mereka tidak hanya harus dihentikan dan dibatasi; jika situasinya serius dan mereka perlu dikeluarkan atau diusir, mereka harus ditangani berdasarkan prinsip. Ada juga perwujudan lain dari bersaing untuk mendapatkan status, yakni mengucilkan dan menyerang orang-orang yang lebih banyak mengejar kebenaran di gereja. Karena orang-orang yang mengejar kebenaran memiliki pemahaman yang murni, dan mereka memiliki pengalaman serta pengetahuan yang benar tentang firman Tuhan, dan mereka sering mempersekutukan kebenaran untuk menyelesaikan masalah di antara saudara-saudari, dan dengan demikian mendidik kerohanian umat pilihan Tuhan, serta berangsur-angsur memperoleh prestise di gereja, orang-orang jahat dan antikristus ini iri dan bersikap menentang terhadap mereka, serta mengucilkan dan menyerang mereka. Perilaku apa pun yang terdiri dari menyerang atau mengucilkan orang-orang yang mengejar kebenaran secara langsung merupakan kekacauan dan gangguan terhadap kehidupan bergereja. Sebagian orang mungkin tidak secara langsung menargetkan para pemimpin gereja, tetapi mereka sangat tidak suka dan merendahkan orang-orang di dalam gereja yang memahami kebenaran dan memiliki pengalaman nyata. Mereka juga mengucilkan dan menindas orang-orang tersebut, sering mengejek serta mengolok-olok mereka, bahkan memerangkap mereka dan berencana licik terhadap mereka, dan sebagainya. Meskipun dalam hal natur dan keadaannya masalah-masalah seperti ini tidak seserius bersaing dengan pemimpin gereja untuk mendapatkan status, masalah ini juga merupakan kekacauan dan gangguan terhadap kehidupan bergereja, dan harus dihentikan serta dibatasi. Jika mayoritas saudara-saudari di gereja terpengaruh, dan sering kali terjerumus dalam kenegatifan dan kelemahan; jika masalah ini menimbulkan konsekuensi semacam ini, itu sama saja dengan kekacauan dan gangguan. Orang-orang jahat yang menciptakan kekacauan dan gangguan semacam itu tidak hanya harus dibatasi, mereka juga harus ditempatkan di kelompok B untuk diisolasi dan merenungkan diri mereka, atau mereka harus dikeluarkan. Orang-orang yang melakukan tindakan yang naturnya menyebabkan kekacauan dan gangguan terhadapnya adalah orang-orang yang biasa melakukan kejahatan. Harus ada perbedaan dalam cara memperlakukan orang-orang jahat yang sering melakukan kejahatan dan mereka yang sesekali melakukan kejahatan. Orang yang melakukan berbagai kejahatan adalah antikristus; orang yang sesekali melakukan kejahatan adalah orang yang memiliki kemanusiaan yang buruk. Jika dua orang sesekali berdebat atau berselisih karena kepribadian mereka yang tidak cocok, atau karena mereka memiliki pandangan yang berbeda ketika melakukan sesuatu, atau karena mereka memiliki cara bicara yang berbeda, tetapi kehidupan bergereja tidak terpengaruh, berarti tidak ada natur yang menyebabkan kekacauan dan gangguan dalam hal ini; berbeda halnya dengan orang-orang jahat yang mengacaukan dan mengganggu kehidupan bergereja. Semua hal yang naturnya menyebabkan kekacauan dan gangguan terhadap kehidupan bergereja, yang sedang kita bahas ini, adalah perwujudan dari perbuatan jahat yang dilakukan oleh orang-orang jahat. Ketika orang jahat melakukan kejahatan, itu adalah suatu kebiasaan. Yang paling dibenci orang jahat adalah orang-orang yang mengejar kebenaran. Ketika mereka melihat seseorang yang mengejar kebenaran mampu membagikan kesaksian pengalamannya, sehingga orang lain sangat mengaguminya, mereka menjadi iri, penuh kebencian, dan mata mereka membara karena amarah. Siapa pun yang merenungkan diri dan mengenal dirinya sendiri, siapa pun yang membagikan pengalamannya yang nyata, dan siapa pun yang memberi kesaksian bagi Tuhan, akan menghadapi ejekan, penghinaan, penindasan, pengucilan, penghakiman, dan bahkan penganiayaan dari orang-orang jahat ini. Mereka biasa bertindak dengan cara seperti ini. Mereka tidak membiarkan siapa pun menjadi lebih baik daripada mereka, mereka tidak tahan melihat orang-orang yang lebih baik daripada mereka. Ketika melihat seseorang yang lebih baik daripada mereka, mereka menjadi iri, marah, murka, dan berpikir untuk menyakiti serta menyiksanya. Orang-orang semacam ini telah menyebabkan kekacauan dan gangguan yang parah terhadap kehidupan bergereja serta tatanan gereja, dan pemimpin serta pekerja harus bergandengan tangan dengan saudara-saudari untuk menyingkapkan, menghentikan, dan membatasi orang-orang semacam itu. Jika tidak mungkin untuk membatasi mereka, dan mereka tidak bertobat atau berubah haluan setelah kebenaran dipersekutukan kepada mereka, berarti mereka adalah orang jahat, dan orang jahat harus dinilai serta diperlakukan berdasarkan prinsip rumah Tuhan tentang pembersihan gereja. Jika, melalui persekutuan, para pemimpin dan pekerja mencapai kesepakatan, dan menentukan bahwa ini sama dengan seseorang yang jahat sedang mengganggu gereja, berarti masalah ini harus ditangani berdasarkan prinsip kebenaran, yaitu orang tersebut harus dikeluarkan dari gereja. Tidak boleh ada toleransi lebih lanjut terhadap orang-orang jahat yang mengganggu kehidupan bergereja. Jika jelas bagi para pemimpin dan pekerja bahwa ini sama saja dengan seseorang yang jahat sedang menyebabkan gangguan, tetapi mereka tetap berpura-pura tidak tahu dan menoleransi orang jahat yang melakukan kejahatan serta menyebabkan gangguan, itu berarti mereka gagal dalam tanggung jawab mereka terhadap saudara-saudari, dan mereka tidak setia kepada Tuhan serta amanat-Nya.

Ada orang-orang yang penampilannya mungkin terlihat baik-baik saja, padahal sebenarnya, IQ mereka seperti IQ orang bodoh. Mereka berbicara dan bertindak tanpa memahami apa yang pantas, tidak memiliki rasionalitas kemanusiaan yang normal. Orang-orang seperti itu juga suka bersaing untuk mendapatkan status dan reputasi, berjuang untuk menjadi penentu keputusan, dan bersaing untuk memperoleh penghormatan dari orang lain. Dalam kehidupan bergereja, mereka sering mengajukan pandangan dan argumen yang terdengar valid padahal sebenarnya keliru untuk menarik perhatian dan penghargaan dari mayoritas orang, mengganggu pemikiran orang, mengganggu pemahaman serta pengetahuan mereka yang benar akan firman Tuhan, dan mengganggu pemahaman positif mereka tentang segala sesuatu. Ketika orang lain sedang mempersekutukan firman Tuhan dan pemahaman murni mereka, orang-orang ini sering tiba-tiba muncul bagaikan badut untuk menegaskan kehadiran mereka sendiri, untuk memonopoli perhatian semua orang, selalu ingin menunjukkan kepada saudara-saudari bahwa mereka tahu cara terbaik untuk melakukan sesuatu, bahwa mereka terpelajar, berpengetahuan dan arif, dan sebagainya. Meskipun mereka belum memiliki tujuan yang jelas tentang pemimpin mana yang akan mereka targetkan, atau kedudukan pemimpin mana yang akan mereka perebutkan, keinginan dan ambisi mereka sangat besar sampai-sampai perkataan serta tindakan mereka telah menyebabkan gangguan terhadap kehidupan bergereja, sehingga mereka juga harus dibatasi berdasarkan keparahan situasi dan naturnya. Yang terbaik adalah terlebih dahulu mempersekutukan kebenaran kepada mereka untuk membimbing mereka dengan benar, dan memberi mereka arahan tentang cara berperilaku, memungkinkan mereka untuk berbalik, serta memahami cara untuk menjalani kehidupan bergereja secara normal, cara untuk berinteraksi dengan orang lain, cara untuk berada di tempat mereka yang semestinya, dan cara untuk bersikap rasional. Jika hal ini disebabkan karena usia mereka yang masih muda, kurangnya wawasan, serta kesombongan mereka di masa muda, dan jika mereka bertobat setelah berulang kali bersekutu, menyadari bahwa tindakan mereka yang sebelumnya itu salah, memalukan, menjijikkan bagi semua orang, serta menimbulkan masalah bagi semua orang, dan mereka telah mengungkapkan permintaan maaf serta penyesalan mereka akan hal ini, maka tidak perlu mempermasalahkan mereka lagi; mereka bisa cukup dibantu dengan penuh kasih. Namun, jika tindakan mereka yang salah dan mengganggu semua orang itu bukan karena kesombongan di masa muda atau kurangnya pemahaman akan kebenaran, melainkan didorong oleh motif tersembunyi, dan mereka terus berperilaku seperti itu sekalipun sudah berulang kali dicegah; dan jika, lebih jauh lagi, mereka telah dipangkas, dan saudara-saudari telah menyampaikan persekutuan kepada mereka tentang keseriusan masalah ini—mereka telah diberi persekutuan dan bantuan dari aspek negatif dan positif—tetapi mereka tetap tak dapat mengenali esensi natur mereka sendiri, tak dapat melihat gangguan yang disebabkan oleh tindakan-tindakan ini terhadap orang lain serta akibatnya yang parah, dan terus menciptakan gangguan serta kekacauan dengan melakukan tindakan yang sama setiap kali ada kesempatan, itu berarti dalam hal ini, tindakan yang lebih tegas harus dilakukan. Jika setelah diberi cukup banyak kesempatan untuk bertobat, mereka tidak merenung atau berusaha untuk mengenal diri mereka sendiri sama sekali, dan tidak peduli bagaimana kebenaran dipersekutukan kepada mereka, mereka tidak memahaminya, dan mereka juga tidak tahu bagaimana bertindak secara rasional dan berdasarkan prinsip, tetapi mereka malah dengan keras kepala berpaut pada cara-cara mereka sendiri dalam melakukan segala sesuatu, berarti ada masalah dengan orang-orang ini. Setidaknya, dari sudut pandang rasional, mereka tidak memiliki nalar manusia normal. Ini jika dilihat dari apa yang tampak dari luarnya. Jika dilihat dari esensinya, tidak peduli bagaimana persekutuan disampaikan kepada mereka, mereka tidak dapat menyadari keseriusan masalah ini, mereka juga tidak dapat menemukan tempat mereka yang semestinya, dan mereka tidak dapat menerima persekutuan serta pertolongan, atau tidak berusaha menerapkan berdasarkan jalan yang dipersekutukan oleh saudara-saudari; jika mereka bahkan tidak mampu mencapai hal-hal ini, berarti masalah mereka bukan sekadar kurang bernalar, melainkan ada masalah dengan kemanusiaan mereka. Meskipun dari luar tampaknya mereka tidak dengan sengaja menyebabkan kekacauan dan gangguan, perbuatan ini pasti bukan dilakukan tanpa niat, melainkan dilakukan dengan tujuan dan motif tertentu. Terlepas dari apa motif atau tujuan orang-orang ini, jika apa yang mereka katakan dan lakukan sangat mengacaukan dan mengganggu jalan masuk kehidupan saudara-saudari dan kehidupan bergereja, sehingga banyak orang tidak memperoleh apa pun dari menjalani kehidupan bergereja, sampai-sampai orang menjadi tidak mau berkumpul hanya karena mereka hadir, atau setiap kali mereka berbicara, orang-orang menjadi bosan dan ingin pergi, maka natur dari masalah ini menjadi serius. Bagaimana cara menangani orang-orang semacam ini? Jika mereka tetap bersikeras melakukan hal-hal ini sekalipun sudah diberi persekutuan serta bantuan dalam banyak kesempatan, dan telah diberi kesempatan untuk bertobat, berarti esensi natur merekalah yang bermasalah. Mereka bukan orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan dan bukan orang yang mampu menerima kebenaran, melainkan orang yang memiliki agenda lain. Jika dilihat dari esensi natur mereka, kekacauan dan gangguan yang mereka sebabkan terhadap kehidupan bergereja tentu saja bukan tanpa sengaja; sebaliknya, orang-orang ini memiliki tujuan dan motif tertentu. Jika orang-orang semacam ini diberi kesempatan lebih lanjut, apakah itu adil bagi umat pilihan Tuhan yang sedang menjalani kehidupan bergereja dengan normal? (Tidak.) Masalah orang-orang tersebut telah tersingkap hingga sejauh ini; jika mereka masih diberi kesempatan dengan menunggu mereka bertobat, yang mengakibatkan mereka akhirnya melakukan jauh lebih banyak kejahatan, membuat lebih banyak orang terjerumus ke dalam kenegatifan, kelemahan, dan tidak memiliki jalan keluar, lalu siapa yang akan mengganti kerugian ini? Oleh karena itu, jika orang-orang ini telah diberi persekutuan dan bantuan yang penuh kasih, atau telah diambil tindakan untuk menghentikan dan membatasi mereka, tetapi mereka tetap tidak mengubah cara-cara lama mereka, dan bersikeras berperilaku sama seperti sebelumnya, mereka harus ditangani berdasarkan prinsip: Dalam kasus-kasus ringan, mereka harus diisolasi; dalam kasus-kasus berat, mereka harus dikeluarkan dari gereja. Bagaimana menurutmu prinsip ini? Apakah ini tentang memukul seseorang tanpa ampun, tanpa memberi mereka kesempatan untuk bertobat? Atau mengambil keputusan secara sewenang-wenang tanpa terlebih dahulu mengidentifikasi dan tanpa memahami dengan jelas seperti apa esensi natur mereka yang sebenarnya? (Tidak.) Jika, sekalipun telah diberi persekutuan dan bantuan, serta telah diberi kesempatan untuk bertobat, cara-cara dan watak orang-orang ini sama sekali tidak berubah, dan mereka juga tidak bertobat, tetap sama seperti sebelumnya—satu-satunya perbedaannya adalah, mereka sebelumnya melakukannya secara terbuka dan terlihat jelas, sedangkan sekarang mereka melakukannya secara diam-diam dan tersembunyi, tetapi gangguan dan kekacauannya tetap sama—gereja tidak dapat lagi mempertahankan mereka. Orang-orang semacam itu bukanlah anggota rumah Tuhan; mereka bukan domba-domba Tuhan. Kehadiran mereka di rumah Tuhan hanyalah untuk menyebabkan gangguan dan kekacauan, dan mereka adalah hamba-hamba Iblis, bukan saudara-saudari. Jika engkau selalu memperlakukan mereka sebagai saudara-saudari, terus-menerus mendukung dan menolong mereka, serta mempersekutukan kebenaran kepada mereka, dan pada akhirnya menyia-nyiakan banyak upaya tanpa menghasilkan apa pun, bukankah itu bodoh? Itu lebih dari bodoh; itu benar-benar bodoh, sangat bodoh!

Jika dilihat dari natur masalahnya, berbagai perwujudan dan jenis orang, peristiwa dan hal-hal yang berkaitan dengan bersaing untuk mendapatkan status pada dasarnya dapat dikategorikan menjadi tiga jenis. Bersaing untuk mendapatkan status adalah masalah umum dalam kehidupan bergereja, yang muncul di antara berbagai kelompok orang dan dalam berbagai aspek kehidupan bergereja. Terhadap mereka yang bersaing untuk mendapatkan status, dalam kasus-kasus ringan, mereka harus diberi cukup persekutuan tentang kebenaran untuk mendukung serta membantu mereka agar dapat memahami kebenaran, dan diberi kesempatan untuk bertobat. Jika kasusnya serius, mereka harus diawasi secara ketat, dan segera setelah diketahui bahwa mereka berbicara atau bertindak dengan tujuan untuk mencapai motif atau tujuan tertentu, mereka harus segera dihentikan dan dibatasi. Jika kasusnya jauh lebih serius, mereka harus ditindak dan ditangani berdasarkan prinsip-prinsip gereja tentang mengusir dan mengeluarkan orang. Ini adalah tanggung jawab yang harus dipenuhi para pemimpin dan pekerja ketika orang-orang, peristiwa dan hal-hal yang berkaitan dengan bersaing untuk mendapatkan status muncul dalam kehidupan bergereja. Tentu saja, semua saudara-saudari juga diharuskan untuk bertindak dan bekerja sama dengan para pemimpin dan pekerja dalam pekerjaan ini, bersama-sama membatasi berbagai perilaku dan tindakan orang-orang jahat yang menyebabkan kekacauan dan gangguan, memastikan bahwa tidak ada lagi kekacauan atau gangguan yang dilakukan oleh orang-orang jahat dalam kehidupan bergereja, berusaha memastikan bahwa setiap kesempatan dalam kehidupan bergereja selalu dicerahkan oleh Roh Kudus, dipenuhi dengan damai, sukacita, serta kehadiran Tuhan, dan terdapat berkat serta bimbingan Tuhan, dan memastikan bahwa setiap pertemuan adalah waktu yang menyenangkan dan bermanfaat. Seperti inilah kehidupan bergereja yang terbaik, yang ingin Tuhan lihat. Melaksanakan pekerjaan ini relatif rumit bagi para pemimpin dan pekerja, karena berkaitan dengan hubungan antarpribadi, berkaitan dengan reputasi dan kepentingan orang, juga berkaitan dengan tingkat pemahaman orang akan kebenaran, sehingga pekerjaan ini agak lebih menantang. Namun, ketika muncul masalah, jangan menghindarinya, dan jangan menganggap masalah besar sebagai masalah kecil dan pada akhirnya membiarkannya tidak terselesaikan; dan masalah-masalah tersebut juga tidak boleh ditangani dengan menggunakan falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain, dengan berpura-pura tidak melihatnya. Terlebih dari itu, jangan menjadi penyenang orang, tetapi perlakukan berbagai jenis orang yang bersaing untuk mendapatkan status berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran. Apakah persekutuan ini jelas? (Ya.) Dengan demikian, kita telah mengakhiri persekutuan kita tentang masalah yang kelima.

VI. Terlibat dalam Hubungan yang Tidak Pantas

Masalah keenam yang mengacaukan dan mengganggu pekerjaan Tuhan serta tatanan normal gereja adalah terlibat dalam hubungan yang tidak pantas. Selama orang saling berhubungan dan dapat berkumpul bersama, akan ada kehidupan bersama, dan berbagai jenis hubungan akan muncul darinya. Lalu, manakah dari hubungan-hubungan ini yang pantas, dan manakah yang tidak pantas? Mari kita terlebih dahulu membahas hubungan yang pantas, dan setelah itu mempersekutukan hubungan yang tidak pantas. Ketika saudara-saudari bertemu dan saling menyapa, mereka mungkin mengatakan hal-hal seperti, "Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini? Apakah kesehatanmu baik? Apakah anakmu mulai masuk sekolah menengah tahun depan? Bagaimana bisnis pasanganmu?" Apakah saling menyapa seperti ini termasuk hubungan yang pantas? (Ya.) Mengapa menurutmu demikian? Karena ketika dua orang yang sudah lama tidak berjumpa kebetulan bertemu, mengucapkan beberapa kata sapaan adalah etiket paling dasar, serta cara menunjukkan perhatian dan cara menyapa yang paling mendasar. Semua ini adalah perkataan, tindakan, dan topik pembicaraan yang relevan yang orang utarakan dalam batas-batas kemanusiaan yang normal. Dinilai dari percakapan mereka sampai sekarang, jelaslah bahwa hubungan mereka cukup pantas. Dialog di antara mereka didasarkan pada etiket serta kemanusiaan yang normal, dan dari kedua poin ini, dapat dipastikan bahwa hubungan di antara kedua orang yang berbincang ini adalah pantas, merepresentasikan hubungan antarpribadi yang normal. Jika dua orang sudah sangat akrab satu sama lain, tetapi ketika bertemu, keduanya cemberut dan tidak saling bicara, dan ketika saling memandang, mata mereka menyala penuh kebencian, apakah hubungan ini normal? (Tidak.) Mengapa tidak normal? Bagaimana tepatnya hubungan seperti ini didefinisikan? Ketika dua orang bertemu tetapi keduanya tidak saling menyapa atau bahkan tidak berkata "hai", apalagi terlibat dalam percakapan dan dialog yang normal, jelaslah bahwa perwujudan mereka tidak mencerminkan apa yang diharapkan dari kemanusiaan yang normal. Hubungan mereka bukanlah hubungan antarpribadi yang normal; itu agak menyimpang, tetapi masih belum merupakan hubungan yang tidak pantas, masih ada jarak dari hubungan tersebut. Secara umum, jika hubungan di antara orang-orang dibangun di atas dasar kemanusiaan yang normal, di mana orang-orang dapat berinteraksi dan berhubungan secara normal dan sesuai dengan prinsip, serta saling menolong, mendukung, dan memenuhi kebutuhan satu sama lain, semua ini menandakan hubungan yang pantas di antara orang-orang. Ini berarti menangani urusan sebagaimana mestinya, tidak bertransaksi, tanpa adanya konflik kepentingan, dan terlebih lagi tanpa adanya kebencian, dan tindakan-tindakan yang dilakukan tidak didorong oleh keinginan daging. Semua ini termasuk dalam lingkup hubungan yang pantas. Bukankah jangkauan ini cukup luas? Hubungan antarpribadi yang normal melibatkan berdialog dan berkomunikasi dalam alam kemanusiaan yang normal, berinteraksi dan berhubungan dengan orang lain, serta bekerja sama berdasarkan hati nurani dan nalar kemanusiaan yang normal. Interaksi dan hubungan yang lebih tinggi tingkatnya adalah yang sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Ini adalah definisi umum dari hubungan antarpribadi yang pantas di antara orang-orang. Saling menyapa saat bertemu adalah bentuk interaksi yang paling normal. Mampu menyapa dan berbincang dengan normal, tanpa berpura-pura penting, tanpa bertindak seolah unggul daripada orang lain, berbicara tanpa menindas orang lain atau tanpa meninggikan diri sendiri, berbicara dan berkomunikasi secara normal—dengan cara inilah orang yang memiliki kemanusiaan yang normal seharusnya berbicara dan berkomunikasi, dan inilah cara berinteraksi yang dasar dalam hubungan antarpribadi yang normal. Umat pilihan Tuhan setidaknya harus memiliki hati nurani dan nalar, serta berinteraksi, berhubungan, dan bekerja sama dengan orang lain berdasarkan prinsip dan standar yang Tuhan tuntut terhadap manusia. Ini adalah pendekatan yang terbaik. Ini mampu memuaskan Tuhan. Jadi, prinsip-prinsip kebenaran apa yang dituntut oleh Tuhan? Bahwa orang haruslah memahami orang lain ketika mereka sedang lemah dan negatif, peduli terhadap penderitaan dan kesulitan mereka, lalu bertanya tentang hal-hal ini, menawarkan bantuan dan dukungan, serta membacakan firman Tuhan untuk menolong mereka menyelesaikan masalah mereka, memungkinkan mereka agar memahami maksud Tuhan dan tidak lagi lemah, serta membawa mereka ke hadapan Tuhan. Bukankah cara penerapan ini sesuai dengan prinsip? Menerapkan dengan cara ini sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Tentu saja, hubungan semacam ini terlebih lagi sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Ketika orang dengan sengaja menyebabkan gangguan dan kekacauan, atau dengan sengaja melaksanakan tugas mereka dengan cara yang asal-asalan, jika engkau melihatnya dan mampu menunjukkan hal-hal ini kepada mereka, menegur mereka, dan menolong mereka berdasarkan prinsip, berarti ini sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Jika engkau berpura-pura tidak melihat, atau memaklumi perilaku mereka serta menutupinya, dan bahkan sampai mengucapkan hal-hal baik untuk memuji dan menyanjung mereka, berarti cara-cara berinteraksi dengan orang lain, cara menindak dan menangani masalah yang seperti ini, jelas tidak sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran, dan tidak ada dasarnya di dalam firman Tuhan. Jadi, cara berinteraksi dengan orang lain dan cara menangani masalah yang seperti ini jelas tidak pantas, dan hal ini benar-benar tidak mudah untuk ditemukan jika tidak ditelaah dan diidentifikasi berdasarkan firman Tuhan. Orang yang tidak memahami kebenaran kemungkinan besar tidak akan mengenali masalah-masalah ini, dan sekalipun mereka mengakui bahwa ini adalah masalah, tidaklah mudah bagi mereka untuk menyelesaikannya. Kita sering berkata bahwa semua manusia yang rusak hidup berdasarkan watak Iblis, dan perwujudan-perwujudan ini adalah buktinya. Sekarang, apakah engkau memahami hal ini dengan jelas?

Fokus utama persekutuan kita hari ini adalah untuk menyingkapkan perwujudan empat jenis hubungan yang tidak pantas yang menyebabkan kekacauan dan gangguan terhadap kehidupan bergereja. Siapakah yang terlibat dalam hubungan yang tidak pantas di dalam gereja? Apa tepatnya yang merupakan hubungan yang tidak pantas? Masalah apa saja yang berkaitan dengan terlibat dalam hubungan yang tidak pantas? Karena topik utama persekutuan kita berkaitan dengan berbagai orang, peristiwa serta hal-hal yang mengacaukan dan mengganggu pekerjaan Tuhan serta tatanan normal gereja, pembahasan tentang hubungan yang tidak pantas ini terbatas pada hubungan yang menyebabkan kekacauan dan gangguan terhadap kehidupan bergereja. Kita tidak akan menggeneralisasi semua jenis hubungan yang tidak pantas, dan masalah-masalah di luar kehidupan bergereja bukanlah hal yang menjadi perhatian kita. Engkau harus memahami hal ini dengan murni, tanpa penyimpangan. Jadi, dalam hal terlibat dalam hubungan yang tidak pantas, masalah dan hubungan manakah yang tidak pantas di antara orang-orang? Hubungan yang tidak pantas seperti apa yang menyebabkan kekacauan serta gangguan terhadap kehidupan bergereja dan terhadap mayoritas orang? Apakah masalah-masalah ini layak untuk dipersekutukan? (Ya.) Ini adalah hal-hal yang harus dibahas dengan jelas dalam persekutuan kita.

A. Hubungan yang Tidak Pantas di antara Lawan Jenis

Dalam kehidupan bergereja, jenis hubungan yang tidak pantas manakah yang paling umum, mudah dipahami, dan mudah digolongkan? (Hubungan di antara lawan jenis.) Inilah aspek pertama yang terlintas di benak orang ketika berpikir tentang hubungan yang tidak pantas. Ada orang-orang yang setiap kali berada dalam sebuah kelompok selalu menggoda lawan jenis; mereka memperlihatkan gerakan tubuh dan ekspresi wajah yang menyiratkan hal itu, berbicara dengan sangat ekspresif, dan suka pamer. Istilah yang tidak pantasnya adalah memamerkan seksualitas mereka. Mereka suka terlihat jenaka, humoris, romantis, sopan, heroik, karismatik, terpelajar, dan kualitas lainnya di depan lawan jenis mereka; mereka terutama suka pamer. Mengapa mereka pamer? Bukan demi bersaing untuk mendapatkan status, melainkan untuk menarik lawan jenis. Makin banyak orang dari lawan jenis yang memperhatikan mereka, melemparkan pandangan penuh rasa kagum, hormat, dan memuja ke arah mereka, makin mereka menjadi bersemangat dan energik. Seiring makin banyak waktu yang mereka habiskan untuk ikut serta dalam kehidupan bergereja dan berhubungan dengan lebih banyak orang, mereka menargetkan beberapa orang tertentu, menggoda dan bertukar pandang dengan beberapa orang dari lawan jenis mereka, sering berbicara dengan cara yang provokatif, bahkan dengan sedikit pelecehan seksual. Apakah hubungan seperti ini di antara orang-orang itu pantas? (Tidak.) Ini berarti terlibat dalam hubungan yang tidak pantas. Orang-orang seperti itu bahkan menggunakan waktu pertemuan untuk pamer, berbicara dengan cara tertentu agar terlihat sangat jenaka dan menawan di depan orang yang mereka sukai atau minati, melakukan gerakan tubuh dan pandangan yang menggoda, memperlihatkan ekspresi wajah yang penuh kemenangan dan bersemangat, bahkan sampai berjingkrak-jingkrak; semua ini untuk tujuan apa? Tujuannya adalah untuk menggoda lawan jenis agar terlibat dalam hubungan yang tidak pantas. Meskipun banyak saudara-saudari merasa jijik akan hal ini, dan meskipun orang-orang di sekitar mereka telah memberi banyak peringatan, mereka tetap tidak berhenti dan dengan gegabah terus bersikap menggoda seperti itu. Jika hubungan yang tidak pantas itu hanya melibatkan dua orang yang saling menggoda di luar kehidupan bergereja dan tidak memengaruhi kehidupan bergereja atau pekerjaan gereja, masalah ini dapat dikesampingkan untuk saat ini. Namun, jika mereka yang terlibat dalam hubungan yang tidak pantas ini biasa berperilaku seperti itu dalam kehidupan bergereja dan menyebabkan gangguan terhadap orang lain, mereka harus diperingatkan dan dibatasi. Jika mereka tetap tidak dapat diperbaiki meskipun sudah berulang kali dinasihati dan telah secara serius mengganggu kehidupan bergereja, mereka harus dikeluarkan dari gereja melalui pemungutan suara oleh umat pilihan Tuhan. Apakah pendekatan ini tepat? (Ya.) Jika itu hanyalah orang-orang muda yang berpacaran secara normal, mereka juga harus menahan diri selama pertemuan agar tidak memengaruhi orang lain. Gereja adalah tempat untuk menyembah Tuhan, mendoa-bacakan firman Tuhan, dan menjalani kehidupan bergereja; kasih sayang pribadi tidak boleh dibawa ke dalam kehidupan bergereja untuk mengganggu orang lain. Jika hubungan itu mengganggu orang lain, memengaruhi suasana hati orang lain selama pertemuan, memengaruhi orang lain dalam membaca firman Tuhan serta pemahaman dan pengetahuan mereka akan firman Tuhan, membuat lebih banyak orang menjadi teralihkan dan terganggu, berarti hubungan itu dapat digolongkan sebagai hubungan yang tidak pantas. Bahkan kencan yang sah pun, jika itu menyebabkan gangguan terhadap orang lain, akan digolongkan sebagai hubungan yang tidak pantas, apalagi menggoda lawan jenis di luar hubungan kencan. Oleh karena itu, jika seseorang terlibat dalam hubungan yang tidak pantas dalam kehidupan bergereja, mereka tidak boleh dibiarkan begitu saja atau dimaklumi, tetapi harus ditindak dengan diberi peringatan, pembatasan, dan bahkan dikeluarkan berdasarkan prinsip. Inilah pekerjaan yang harus dilakukan pemimpin dan pekerja. Jika seseorang didapati terlibat dalam hubungan yang tidak pantas dan telah menyebabkan gangguan terhadap kebanyakan orang di gereja, lalu kehadirannya membuat orang lain teralihkan dan terjerat oleh pemikiran yang penuh hawa nafsu, bahkan menyebabkan terjadinya keretakan rumah tangga dan menyebabkan beberapa orang yang baru percaya kehilangan minat dalam pertemuan, dalam membaca firman Tuhan, atau bahkan dalam iman itu sendiri, sebaliknya mereka malah makin tergila-gila pada orang yang mereka kagumi, ingin kawin lari dengannya, menjalani hari-hari bersama, dan meninggalkan iman mereka—jika tingkat keparahan situasinya telah mencapai taraf ini, tetapi para pemimpin dan pekerja tidak menganggapnya serius, menganggapnya sekadar ungkapan hawa nafsu manusia, bahwa itu bukan masalah besar dan itu adalah sesuatu yang dilakukan oleh semua orang normal, tidak menyadari keseriusan masalahnya atau terlebih lagi tidak menyadari sampai seberapa jauh masalah itu dapat berkembang, melainkan mengabaikannya, sangat mati rasa dan tidak peka dalam menanggapi masalah seperti ini, hingga akhirnya menyebabkan dampak buruk terhadap mayoritas orang di gereja—berarti natur dari insiden-insiden ini merupakan kekacauan dan gangguan yang serius. Mengapa Kukatakan bahwa ini adalah kekacauan dan gangguan yang serius? Karena insiden-insiden ini mengganggu dan merusak tatanan normal kehidupan bergereja. Oleh karena itu, begitu orang-orang seperti ini muncul di gereja, mereka harus dibatasi, entah mereka hanya terdiri dari sedikit orang atau banyak orang, dengan memastikan bahwa setiap kasus ditangani, dan jika situasinya parah, mereka harus diisolasi. Jika isolasi tidak membuahkan hasil, dan mereka terus menggoda lawan jenis, mengganggu kehidupan bergereja, dan merusak tatanan normal gereja, mereka harus dikeluarkan dari gereja berdasarkan prinsip. Apakah pendekatan ini tepat? (Ya.) Dampak dari masalah seperti ini terhadap kehidupan bergereja dan terhadap pekerjaan gereja sangatlah merugikan; semua itu bagaikan wabah penyakit, dan harus diberantas.

Semua orang yang cenderung menggoda lawan jenis melakukannya di mana pun mereka berada, tanpa lelah berperilaku seperti itu. Orang yang menjadi sasaran godaan dan pelecehan mereka sering kali adalah orang-orang yang masih muda dan berpenampilan menarik, tetapi terkadang juga melibatkan orang-orang setengah baya; siapa pun yang mereka anggap menarik, mereka secara proaktif mencari kesempatan untuk menggoda. Jika mereka berniat untuk menggoda orang lain, ada orang-orang yang tidak dapat menahan godaan tersebut dan akan tertipu, yang akan dengan mudahnya mengarah pada hubungan yang tidak pantas. Karena tingkat pertumbuhan orang-orang terlalu kecil dan mereka tidak memiliki iman yang murni kepada Tuhan, serta tidak memahami kebenaran, bagaimana mereka dapat mengatasi pencobaan dan menahan godaan semacam itu? Tingkat pertumbuhan orang-orang terlalu kecil; mereka sangat lemah dan tidak berdaya ketika dihadapkan dengan pencobaan dan godaan seperti ini. Sulit bagi mereka untuk tetap tidak terpengaruh. Ada seorang pemimpin pria yang berusaha menggoda setiap wanita cantik yang dilihatnya; terkadang, menggoda satu orang saja tidak cukup; dia mungkin menggoda tiga atau empat orang wanita, membuat mereka semua terpikat olehnya hingga kehilangan nafsu makan serta tidak bisa tidur, dan bahkan kehilangan hasrat untuk melaksanakan tugas mereka. Seperti itulah "pesona" pria ini. Jika dia hanya berinteraksi dengan orang-orang secara normal, tanpa dengan sengaja berusaha menggoda mereka, pengaruhnya tidak akan sedemikian luasnya. Hanya setelah dia dengan sengaja bersandiwara dan menggoda orang lain, barulah ada makin banyak orang yang tertipu, makin banyak orang yang tergoda untuk terlibat dalam hubungan yang tidak pantas dengannya. Orang-orang menjadi tidak berdaya untuk menentang dan mereka pun terjerumus ke dalam pencobaan ini. Seperti inilah "pesona" hawa nafsu itu; apa yang dia lakukan telah menciptakan pencobaan, godaan, dan gangguan bagi kedua belah pihak. Seorang pria menggoda beberapa wanita sekaligus; apakah hatinya menjadi kacau atau bagaimana? Wanita mana yang harus dilayani terlebih dahulu, wanita mana yang harus dipuaskan terlebih dahulu; bukankah dia akan kelelahan secara mental? (Ya.) Jika itu sangat melelahkan, mengapa dia terus berperilaku seperti ini? Ini adalah kejahatan; dia memang makhluk semacam ini, ini adalah natur dirinya. Begitu korban-korbannya tergoda dan terjerumus ke dalam pencobaan, apakah mudah bagi mereka untuk melepaskan diri dari pencobaan tersebut? Begitu terjerumus dalam pencobaan, akan sulit untuk melepaskan diri. Makan, tidur, berjalan, melaksanakan tugas, apa pun yang mereka lakukan, benak mereka dipenuhi dengan pemikiran tentang orang ini, hati mereka dipenuhi oleh orang ini. Gangguan semacam ini sangatlah parah! Selanjutnya, mereka akan terus-menerus memikirkan cara untuk menyenangkan orang ini, cara untuk melemparkan diri mereka ke dalam pelukannya, cara memenangkan hatinya, cara memonopoli dirinya, cara bersaing dan berjuang melawan rival mereka untuk mendapatkannya. Bukankah inilah akibat dari gangguan yang mereka alami? Mudahkah melepaskan diri dari keadaan seperti ini? (Tidak mudah.) Akibatnya menjadi parah. Pada saat ini, mampukah hati orang tetap tenang di hadapan Tuhan? Ketika mereka membaca firman Tuhan, masih mampukah mereka menyerapnya? Masih mampukah mereka memperoleh terang? Selama pertemuan, masih mampukah mereka berada dalam suasana hati yang merenungkan dan mempersekutukan firman Tuhan, dan mendengarkan orang lain membagikan firman Tuhan? Mereka tidak akan mampu; hati mereka akan dipenuhi dengan hawa nafsu, dengan objek pemujaan mereka, tanpa hal-hal serius apa pun; bahkan Tuhan akan lenyap dari hati mereka. Yang selanjutnya mereka pikirkan adalah bagaimana caranya mengalami cinta, bagaimana caranya menjadi romantis, dan sebagainya, dan keinginan mereka untuk percaya kepada Tuhan sepenuhnya hilang. Apakah akibat-akibat ini baik? Inikah yang ingin orang lihat? (Tidak.) Apakah akibat dari tergoda dan terjerumus ke dalam pencobaan adalah sesuatu yang mampu orang hindari? Mampukah orang mengendalikan akibat-akibat ini? Dapatkah mereka memutuskannya sendiri? Dapatkah di dalam hatinya, mereka mencapai taraf di mana mereka mampu menghentikannya kapan pun mereka mau? Tak seorang pun mampu mencapai taraf ini. Inilah akibat dari gangguan yang disebabkan oleh hubungan yang tidak pantas terhadap orang-orang. Ketika tidak ada Tuhan dalam hati seseorang, dan dia tidak mau lagi membaca firman Tuhan, apa akibatnya? Apakah masih ada harapan untuk diselamatkan? Harapan untuk diselamatkan menjadi tidak ada. Semuanya telah hilang; sedikit doktrin yang sebelumnya mereka pahami, tekad dan ketetapan hati untuk mengorbankan diri bagi Tuhan, serta keinginan untuk memperoleh keselamatan dari Tuhan, semuanya lenyap—inilah akibat-akibatnya. Orang-orang menjauhkan diri dari Tuhan dan menolak-Nya di dalam hati mereka, dan mereka juga ditolak oleh Tuhan. Akibat ini bukanlah sesuatu yang diinginkan oleh siapa pun yang percaya dan mengikuti Tuhan, juga bukan kenyataan yang dapat diterima oleh semua pengikut Tuhan. Namun, begitu orang terjerumus ke dalam pencobaan seperti ini dan terperangkap dalam pusaran hubungan yang tidak pantas, mereka akan merasa kesulitan untuk melepaskan diri dan bahkan tidak mampu mengendalikan diri mereka sendiri. Oleh karena itu, hubungan yang tidak pantas semacam itu harus dibatasi. Dalam kasus-kasus serius, bagi mereka yang terus-menerus mengganggu dan melecehkan lawan jenis, mereka harus dengan cepat dan dengan segera dikeluarkan dari gereja, agar mereka tidak mengganggu kehidupan bergereja, dan terlebih lagi, agar tidak ada lebih banyak orang yang terjerat dalam pencobaan. Apakah pendekatan ini masuk akal? (Ya.)

Dalam bab kedua belas tentang tanggung jawab pemimpin dan pekerja, pemimpin dan pekerja harus mengerahkan upaya terbaik mereka dalam setiap tugas demi memastikan bahwa umat pilihan Tuhan mampu menjalani kehidupan bergereja yang normal, melindungi saudara-saudari dari campur tangan atau gangguan apa pun dalam kehidupan bergereja. Ini berarti melindungi semua saudara-saudari yang mampu menjalani kehidupan bergereja yang normal. Apa tepatnya yang harus dilindungi? Saudara-saudari harus dilindungi agar mereka dapat datang ke hadapan Tuhan dengan sikap yang tenang selama pertemuan dan dengan damai mendoa-bacakan serta membagikan firman Tuhan; pada saat yang sama, saudara-saudari juga harus mampu berdoa kepada Tuhan dengan sehati dan sepikir, mencari maksud Tuhan, mencari pencerahan dan penerangan dari Tuhan, memperoleh hadirat Tuhan, dan menerima berkat serta bimbingan Tuhan. Inilah kepentingan semua saudara-saudari yang terbesar dan terpenting, dan ini sangat penting bagi semua orang; ini berkaitan dengan apakah mereka dapat diselamatkan atau tidak dan apakah mereka dapat memiliki tempat tujuan yang baik atau tidak. Oleh karena itu, orang-orang yang terlibat dalam hubungan yang tidak pantas di dalam gereja harus secara ketat dibatasi, diisolasi, atau dikeluarkan; terutama, mereka yang terlibat dalam hubungan yang tidak pantas dengan lawan jenis haruslah diawasi dengan ketat. Apa yang dimaksud dengan diawasi? Jika kasusnya ringan, mereka harus disingkapkan dan dipangkas, lalu segera dihentikan dan dibatasi, serta dicegah agar tidak memengaruhi orang lain. Jika kasusnya berat, perlu untuk bertindak tegas dan tanpa keraguan; mereka harus dikeluarkan dari gereja sesegera mungkin agar mereka tidak mengganggu lebih banyak orang. Jika mereka ingin menyebabkan gangguan, biarkan mereka melakukannya di dunia luar, mengganggu siapa pun yang mereka inginkan; yang jelas, semua saudara-saudari dalam kehidupan bergereja yang sedang mengejar kebenaran tidak boleh diganggu oleh mereka. Inilah prinsip dan tujuan utama bagi pekerjaan para pemimpin dan pekerja dalam hal tanggung jawab yang kedua belas ini.

B. Hubungan Homoseksual

Mengenai masalah hubungan yang tidak pantas, yang terutama kita persekutukan barusan adalah tentang terlibat dalam hubungan yang tidak pantas di antara lawan jenis. Ketika ini berkaitan dengan menggoda, memikat, pamer, dan merayu lawan jenis; secara aktif mendekati dan berusaha agar dekat dengan mereka; dan sering secara sengaja atau tidak sengaja berusaha duduk di dekat mereka di pertemuan; selain itu, tidak hanya menggoda satu orang, tetapi beralih ke orang lainnya jika percobaan yang pertama gagal, sehingga banyak orang dari antara lawan jenis mereka di gereja yang dilecehkan, maka masalah ini telah menjadi serius. Ini termasuk hubungan yang tidak pantas di antara lawan jenis. Selain hubungan dengan lawan jenis, ada juga hubungan yang tidak pantas di antara sesama jenis. Jika dua orang sesama jenis bersahabat karib, telah mengenal satu sama lain untuk waktu yang lama dan sangat dekat, wajar jika mereka sering kali berinteraksi. Namun, begitu hubungan itu meningkat menjadi hubungan hawa nafsu daging, hubungan tersebut juga harus digolongkan sebagai hubungan yang tidak pantas. Jika sering terjadi kontak fisik di antara dua orang sesama jenis, bahkan sampai mereka biasa menggunakan bahasa yang naturnya provokatif terhadap satu sama lain, dan keduanya mungkin sering terlihat saling merangkul atau memperlihatkan perilaku dan perwujudan yang lebih jelas dari itu, seiring berjalannya waktu, akan menjadi jelas bagi semua orang bahwa: "Kedua orang ini bukan sedang saling membantu atau memiliki kepribadian yang cocok satu sama lain; mereka bukan sedang berinteraksi dalam alam kemanusiaan yang normal. Ini adalah homoseksualitas!" Sekarang ini, kebanyakan orang memahami bahwa homoseksualitas adalah hubungan yang tidak pantas, yang naturnya jauh lebih serius dan tidak pantas dibandingkan dengan hubungan di antara lawan jenis. Jika hubungan semacam ini ada di dalam gereja, hubungan ini dapat menyebar bagaikan wabah, yang akan menyebabkan beberapa orang terjerumus ke dalam pencobaan dan godaan semacam ini. Ada orang-orang yang berkata bahwa mereka pernah terlibat dalam hubungan homoseksual di masa lalu tetapi tidak melakukannya dengan sukarela. Dengan mengesampingkan apakah mereka benar-benar homoseksual atau apa orientasi seksual mereka, jika mereka terjerumus ke dalam pencobaan semacam itu karena mereka tergoda—dengan mengesampingkan untuk saat ini apakah mereka melakukannya dengan sangat sukarela atau secara pasif—yang pertama dan terutama adalah mereka telah diganggu oleh godaan tersebut. Dinilai dari pernyataan mereka bahwa mereka tidak melakukannya secara sukarela, mereka adalah korban. Oleh karena itu, jika orang-orang homoseksual menggoda dan memikat orang lain sesama jenis, meskipun orang-orang yang digoda itu belum tentu homoseksual, orang-orang tersebut dapat menjadi homoseksual setelah digoda oleh seorang homoseksual. Bukankah ini adalah situasi yang berbahaya? Mengapa dikatakan bahwa orang-orang semacam itu adalah homoseksual? Orang-orang heteroseksual yang menggoda banyak orang termasuk dalam kategori seks bebas, yang merupakan hubungan yang tidak pantas. Jadi, ketika dua orang sesama jenis yang memiliki hubungan dekat dan bergaul akrab bergandengan tangan dan saling merangkul, yang semuanya adalah hal yang normal, bagaimana hubungan itu dapat meningkat hingga mereka didefinisikan sebagai orang-orang homoseksual? Ketika terjadi hubungan seksual di antara mereka; begitu tingkat hubungan ini terjadi, hubungan ini menjadi homoseksual. Ketika mereka saling merangkul bahu, merangkul leher, atau merangkul pinggang, ini bukanlah kontak tubuh yang normal di antara orang-orang sesama jenis; sebaliknya, ini adalah kontak tubuh yang didorong oleh hawa nafsu, yang berbeda dalam naturnya, sehingga ini termasuk dalam kategori hubungan yang tidak pantas. Bagi kebanyakan orang di gereja, apakah melihat orang-orang homoseksual seperti itu membangun kerohanian atau tidak? (Tidak, itu tidak membangun kerohanian.) Apakah kebanyakan orang merasa terganggu setelah melihatnya? Seandainya engkau tidak mengetahui situasinya, dan mereka merangkul leher atau pinggangmu, atau bahkan mencium wajahmu, apakah engkau akan merasa terganggu? (Ya.) Setelah merasa terganggu, apakah hatimu akan merasa tenang, atau gelisah? (Aku akan merasa jijik.) Lalu, apakah akan muncul perasaan telah berdosa? Jika engkau tidak memahami apa tepatnya esensi dari jenis masalah ini, dan engkau hanya disentuh atau mendapat kontak fisik dari sesama jenis tanpa banyak memikirkannya setelahnya, berarti tidak ada masalah besar dalam hal ini. Namun, jika engkau memikirkannya, dan terus-menerus memikirkannya, lalu engkau tidak mampu melepaskan orang ini, sama seperti seseorang yang sedang mendambakan lawan jenisnya, entah engkau menentangnya dalam kesadaran subjektifmu atau tidak, berarti kemunculan pemikiran seperti ini di dalam dirimu menunjukkan bahwa engkau sudah diganggu, bukan? Oleh karena itu, natur dari hubungan homoseksual, jenis hubungan yang tidak pantas ini, jauh lebih serius. Ada orang-orang yang tidak mampu melihat perbedaan antara seks bebas di antara orang-orang heteroseksual dan homoseksual, dan memperlakukan kedua masalah ini secara setara. Sebenarnya, masalah homoseksual itu jauh lebih serius daripada masalah seks bebas di antara orang-orang heteroseksual.

Jika orang-orang yang terlibat dalam hubungan homoseksual muncul di dalam gereja dan tidak dibatasi, mereka akan menjadi ancaman dan menyebabkan gangguan bagi semua orang. Gangguan macam apa? Dari luarnya, kebanyakan orang tidak dapat mendeteksi adanya masalah dengan kemanusiaan mereka saat berinteraksi dengan mereka, tetapi interaksi untuk waktu yang lama akan mengacaukan pemikiran mereka dan menggelapkan hati mereka. Mereka akan kehilangan semangat untuk percaya kepada Tuhan, dan tanpa mengalami masalah khusus, mereka menjadi tidak mau percaya kepada Tuhan, kehilangan minat untuk membaca firman Tuhan, di dalam hatinya, merasa makin jauh dari Tuhan, dan di benaknya, terdapat pikiran jahat untuk melepaskan iman mereka. Oleh karena itu, hubungan homoseksual yang tidak pantas semacam itu di dalam gereja bukan hanya harus dihentikan dan dibatasi; mereka yang terlibat di dalamnya juga harus segera dikeluarkan dari gereja. Ini mutlak. Begitu orang-orang semacam itu ditemukan, apa pun tugas yang mereka laksanakan atau apa pun status mereka, mereka harus segera dikeluarkan dari gereja, tanpa toleransi! Ini adalah peraturan gereja. Mengapa peraturan ini diberlakukan? Ini didasarkan pada alasan yang kuat. Tuhan menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan; setelah menciptakan Adam, pasangannya adalah Hawa, bukan Adam lainnya. Mengambil tindakan semacam ini terhadap mereka yang terlibat dalam hubungan homoseksual itu didasarkan pada firman Tuhan, dan ini sepenuhnya akurat. Ada orang-orang yang mungkin berkata, "Mengapa tidak memberi orang-orang ini kesempatan untuk bertobat? Mereka masih muda; bukankah mereka seharusnya dibiarkan melakukan beberapa tindakan konyol?" Tidak! Tindakan konyol yang lain mungkin dapat diperlakukan berbeda tergantung pada keadaan dan naturnya, tetapi tindakan konyol yang spesifik ini sama sekali bukan tindakan konyol biasa; ini sama sekali tidak dapat ditoleransi, dan siapa pun yang melakukan tindakan semacam ini di dalam gereja harus segera dikeluarkan! Jika seluruh gereja terdiri dari orang-orang homoseksual, semua orang itu harus dikeluarkan. Gereja semacam itu tidak diinginkan, bahkan tak satu pun darinya! Ini adalah prinsipnya. Ada orang yang berkata, "Ada orang-orang yang terlibat dalam hubungan homoseksual hanya dengan satu orang, tetapi mereka belum pernah menggoda atau belum mulai mengganggu orang lain. Haruskah orang-orang semacam itu ditangani dan dikeluarkan?" Jika mereka benar-benar homoseksual, membiarkan mereka tinggal di gereja sama saja dengan menaruh bom waktu di antara umat pilihan Tuhan—cepat atau lambat, itu pasti akan meledak. Sekalipun mereka belum mengganggu, menggoda, atau melecehkan orang-orang sesama jenis sama sekali, bukan berarti mereka tidak akan melakukannya kelak. Mungkin saja mereka belum menemukan seseorang yang mereka dambakan, seseorang yang mereka sukai, atau waktunya belum tepat, dan semua orang masih belum saling mengenal dan memahami. Namun, begitu waktunya tepat dan sesuai bagi orang-orang semacam itu, mereka akan bergerak. Oleh karena itu, orang-orang semacam itu sama sekali tidak pernah boleh ditoleransi atau dibiarkan tetap berada di dalam gereja, karena mereka tidak wajar dan bukan manusia. Gereja tidak menginginkan orang-orang semacam itu. Menangani mereka yang terlibat dalam hubungan yang tidak pantas semacam itu dengan cara ini tidaklah salah ataupun berlebihan. Namun, ada orang-orang yang berkata, "Beberapa orang homoseksual terlihat cukup baik; mereka belum pernah melakukan hal buruk apa pun, mereka menaati hukum dan peraturan, menghormati orang tua dan mengasihi orang muda, selalu berbuat baik, beberapa dari mereka bahkan memiliki karunia serta keterampilan, dan beberapa sangat dermawan serta suka menolong di gereja. Kita seharusnya membiarkan mereka tinggal di gereja." Apakah pemikiran ini benar? (Tidak.) Entah pemikiranmu benar atau salah, engkau harus mampu mengetahui yang sebenarnya tentang natur orang-orang homoseksual. Prinsip penerapan gereja bagi orang-orang yang terlibat dalam hubungan homoseksual adalah mengeluarkan mereka. Ini adalah ketetapan Administratif yang tidak boleh dilanggar oleh siapa pun; semua orang harus menerapkan berdasarkan prinsip ini.

Perwujudan kedua jenis hubungan yang tidak pantas yang baru saja kita persekutukan ini adalah yang termudah untuk diidentifikasi, dipahami, dan digolongkan oleh orang-orang. Terhadap orang-orang yang terlibat dalam hubungan yang tidak pantas seperti ini, di satu sisi, para pemimpin dan pekerja harus memenuhi tanggung jawab mereka dengan menggunakan cara-cara seperti menghentikan, membatasi, mengisolasi, dan mengeluarkan untuk menangani mereka. Di sisi lain, saudara-saudari juga harus mampu mengidentifikasi dan menjauhi orang-orang yang terlibat dalam kedua jenis hubungan yang tidak pantas ini, agar mereka tidak tergoda dan terjerumus ke dalam pencobaan, yang dapat memengaruhi iman mereka kepada Tuhan dan pengejaran mereka akan kebenaran untuk memperoleh keselamatan. Setelah terjerat dalam pencobaan, sulit bagi orang untuk melepaskan diri. Kebanyakan orang seharusnya mampu mengidentifikasi kedua jenis orang ini. Jangan bertindak seperti cara orang-orang berperilaku di tengah masyarakat, berpura-pura tidak melihat siapa yang menggoda siapa, tidak memiliki sudut pandang atau pendirian yang benar terhadap mereka yang melakukan seks bebas, mampu berinteraksi secara normal dengan orang-orang semacam itu selama kepentingan mereka sendiri tidak terlibat, berbicara seperti orang pada umumnya, seolah-olah tidak ada yang salah. Apakah orang-orang semacam itu memiliki prinsip dalam cara mereka memperlakukan orang lain? Sama sekali tidak. Semua orang tidak percaya hidup berdasarkan falsafah cara berinteraksi dengan orang lain, berusaha untuk tidak menyinggung siapa pun demi melindungi diri mereka sendiri, tetapi rumah Tuhan sepenuhnya berbeda dari masyarakat orang tidak percaya. Di rumah Tuhan, kebenaranlah yang berkuasa. Tuhan menuntut orang untuk memperlakukan orang lain berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran. Seluruh umat pilihan Tuhan menerima dan memperlengkapi diri mereka dengan kebenaran, serta menggunakannya untuk mengidentifikasi dan memperlakukan orang lain, tidak hanya untuk mempertahankan kehidupan bergereja dan melindungi saudara-saudari, tetapi yang lebih penting, untuk melindungi diri agar tidak menderita pencobaan dan agar tidak terjerumus ke dalam pencobaan. Makin dini engkau mampu mengidentifikasi dan menjauhkan dirimu dari orang-orang semacam itu, makin engkau akan mampu menjauhkan diri dari pencobaan dan membuat dirimu terlindungi. Dengan cara inilah engkau harus memperlakukan orang-orang yang terlibat dalam hubungan yang tidak pantas; ini sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran dan selaras dengan maksud Tuhan.

C. Hubungan yang Tidak Pantas Berupa Hubungan yang Dilandasi Kepentingan Pribadi

Jenis hubungan yang tidak pantas lainnya adalah hubungan yang dilandasi kepentingan pribadi. Orang-orang melakukan berbagai hal seperti menyanjung, meninggikan, memuji, dan menjilat satu sama lain demi kepentingan tertentu. Membawa perilaku bengkok dan suasana jahat seperti itu ke dalam kehidupan bergereja akan sangat merugikan orang lain yang dengan tenang membaca firman Tuhan atau mendengarkan pengalaman yang dibagikan. Setelah hubungan yang dilandasi kepentingan pribadi terbentuk, orang-orang yang terlibat akan sering mengatakan atau melakukan hal-hal yang bertentangan dengan keinginan mereka, demi keuntungan mereka sendiri. Sebagai contoh, jika orang melihat ada seseorang yang mungkin dapat menguntungkan urusan atau kepentingan mereka dengan cara tertentu, mereka mungkin akan memilih orang itu sebagai pemimpin, mencalonkannya untuk tugas tertentu, atau setuju dengan apa pun yang orang itu katakan, menyatakan bahwa perkataan itu benar, entah itu sesuai dengan kebenaran atau tidak, untuk menjilatnya. Untuk menjilat orang itu, mereka melakukan banyak hal yang tidak sesuai dengan prinsip serta bertentangan dengan kebenaran, dan ini mengganggu umat pilihan Tuhan dalam mengidentifikasi orang, peristiwa, serta hal-hal dan dalam memasuki kebenaran. Mereka menggambarkan hal yang salah dan menyimpang sebagai hal yang benar, menggambarkan gagasan dan imajinasi manusia sebagai hal yang sesuai dengan maksud Tuhan, dan sebagainya, sehingga mengganggu pemikiran orang serta arah dan tujuan yang benar dalam pengejaran mereka. Semua perilaku ini berasal dari upaya mereka untuk mempertahankan suatu hubungan yang dilandasi kepentingan pribadi. Untuk melindungi dan mempertahankan kepentingan mereka sendiri, mereka mampu mengatakan hal-hal yang tidak berhati nurani dan melakukan tindakan yang bertentangan dengan prinsip. Apa yang mereka katakan dan lakukan mengganggu serta menghancurkan kehidupan bergereja, dan pada akhirnya menyebabkan makin banyak orang menjadi tak mampu untuk mempersekutukan firman Tuhan, mendoa-bacakan firman Tuhan, atau membagikan pengalaman pribadinya dengan cara yang normal dan teratur, yang mengakibatkan orang-orang dirugikan dalam jalan masuk kehidupannya. Ketika orang mempersekutukan pemahaman dari pengalaman pribadinya, mereka sering menghadapi gangguan dari hubungan berlandaskan kepentingan pribadi yang orang miliki; ada gangguan secara lisan, ada gangguan dari perilaku, dan ada gangguan yang berkaitan dengan tujuan serta arah. Orang-orang sering disela ketika mempersekutukan kebenaran dan mendoa-bacakan firman Tuhan, sering diarahkan untuk keluar dari topik, dan sering terpengaruh hingga taraf yang berbeda-beda. Oleh karena itu, mereka yang terlibat dalam hubungan yang tidak pantas berupa hubungan yang dilandasi kepentingan pribadi dan perilaku yang berkaitan dengannya haruslah dibatasi. Pemimpin gereja yang menghadapi masalah-masalah ini tidak boleh menutup mata, dan mereka tentunya tidak boleh menoleransi kejahatan seperti ini, tidak boleh membiarkan masalah ini terus terjadi dalam kehidupan bergereja. Sebaliknya mereka harus waspada dan tanggap, juga segera menghentikan dan membatasi mereka.

Terlibat dalam hubungan yang tidak pantas berupa hubungan yang dilandasi kepentingan pribadi adalah kejadian yang umum terjadi di gereja. Sebagai contoh, jika seseorang berencana untuk mencalonkan diri menjadi pemimpin gereja selanjutnya, dia mungkin berusaha memenangkan hati sekelompok orang dan mengungkapkan ide-idenya kepada orang-orang ini. Orang-orang ini tidak bodoh; mereka mengisyaratkan: "Jika kami memilihmu, keuntungan apa yang akan kauberikan kepada kami?" Dengan demikian, hubungan yang dilandasi kepentingan pribadi pun terbentuk di antara mereka. Untuk melindungi kepentingan pribadi di antara mereka, mereka sering memiliki pendirian yang sama tentang berbagai masalah selama pertemuan. Tanpa orang lain menyadari atau mengetahui latar belakang ini, mereka selalu membicarakan betapa baiknya orang itu, bahwa hal-hal yang orang itu lakukan diizinkan dan diberkati oleh Tuhan, bahwa dia telah memberikan persembahan, dan seberapa banyak yang dia persembahkan, dan bahwa dia adalah orang yang telah berkontribusi bagi rumah Tuhan, sering saling memuji dan menyanjung. Dalam kehidupan bergereja, mereka sering mengutarakan hal-hal ini untuk mendukung kesepakatan yang telah mereka capai sebelumnya dan untuk menjunjung tinggi kepentingan semua pihak. Sebagai contoh, seseorang mungkin berkata, "Jika engkau memilihku sebagai pemimpin, begitu aku mendapatkan kedudukanku, aku akan menjadikanmu pemimpin kelompok." Bukankah mereka semua mencari keuntungan pribadi? Untuk mewujudkan kepentingan mereka, bukankah mereka harus mengatakan hal-hal tertentu, atau melakukan tindakan tertentu? Dengan demikian, mereka memperlihatkan berbagai perwujudan selama pertemuan, yang semuanya bertujuan untuk menjunjung tinggi kesepakatan yang mereka capai sebelumnya dan kepentingan terkait. Sebelum mencapai tujuan mereka, kebanyakan dari apa yang mereka lakukan didorong oleh kepentingan. Jadi, bukankah niat dan tujuan di balik apa yang mereka katakan dan lakukan sangatlah tidak pantas? Bukankah hubungan yang terbentuk di antara mereka adalah hubungan yang tidak pantas? Bukankah hubungan yang tidak pantas semacam itu di dalam gereja harus dibatasi? Ada orang-orang yang berkata, "Bagaimana kami dapat membatasinya jika itu tidak ditemukan?" Begitu dilakukan, masalah semacam ini akan dapat ditemukan dan akan tersingkap, kecuali jika masalah ini sama sekali tidak dilakukan. Jika orang mempersekutukan kebenaran dan pemahaman serta pengalaman pribadi mereka dengan benar, tanpa mencampurkannya dengan apa pun yang tidak ada kaitannya dengan kebenaran, semua orang akan dapat merasakannya. Jika ada pencemaran, orang-orang juga dapat mengidentifikasi hal ini. Oleh karena itu, di gereja, berbagai hubungan transaksional yang muncul untuk melindungi kepentingan kedua pihak juga harus dibatasi; setidaknya, orang-orang yang terlibat harus diperingatkan, dan persekutuan harus disampaikan kepada mereka, agar mereka mengenali masalah mereka sendiri dan memahami akibat yang serius jika mereka melakukan aktivitas seperti itu, sembari juga memungkinkan saudara-saudari untuk memahami natur dari masalah ini. Apa dampak aktivitas semacam ini pada kebanyakan orang? Orang-orang akan mengira bahwa tidak ada terlalu banyak perbedaan antara gereja dan masyarakat, keduanya adalah tempat di mana semua orang saling memanfaatkan dan tempat di mana orang-orang bertransaksi demi keuntungan mereka sendiri. Perilaku ini bukan gangguan yang sedang, melainkan menyebabkan gangguan yang serius terhadap kehidupan bergereja. Katakan kepada-Ku, apakah seseorang yang terus-menerus membujuk orang agar memilih mereka dalam pemilihan, menggunakan cara-cara tidak biasa untuk memanipulasi pemilihan dan mendapatkan kedudukan sebagai pemimpin, adalah orang yang baik? Jelas, pemimpin yang dipilih dengan cara ini bukanlah orang yang baik. Dapatkah saudara-saudari yang telah jatuh ke tangan mereka mengharapkan sesuatu yang baik? Jika seseorang menjadi pemimpin dengan cara-cara yang tidak biasa, bukannya dipilih berdasarkan prinsip, pemimpin semacam itu pasti bukanlah orang yang baik. Jika mereka dibiarkan memimpin, ini sama saja dengan jelas-jelas menyerahkan saudara-saudari kepada orang jahat, kepada antikristus, yang berarti kebanyakan orang secara efektif diserahkan ke tangan Iblis; jika itu yang terjadi, sudah jelas akan seperti apa hasil dari kehidupan bergereja mereka. Ini adalah jenis hubungan yang tidak pantas yang terkait dengan kepentingan. Baik di antara kelompok, maupun individu, begitu hubungan di antara orang-orang melibatkan kepentingan, mereka akan cenderung mementingkan keuntungan pribadi dalam tindakan mereka, bukannya bertindak berdasarkan prinsip untuk menjunjung tinggi kepentingan rumah Tuhan. Hubungan semacam ini tidak didasarkan pada hati nurani dan nalar kemanusiaan yang normal tetapi bertentangan dengan hati nurani dan nalar, dan terlebih lagi bertentangan dengan prinsip-prinsip kebenaran. Apa yang mereka katakan, lakukan dan tunjukkan, serta niat, tujuan, motivasi, asal mula mereka, dan sebagainya, semuanya didorong oleh kepentingan; dengan demikian, hubungan ini dapat didefinisikan sebagai hubungan yang tidak pantas. Karena pembentukan hubungan semacam ini mengganggu umat pilihan Tuhan dalam menjalani kehidupan bergereja, menyulitkan kebanyakan orang dalam membaca firman Tuhan dan mempersekutukan kebenaran dengan tenang di hadapan Tuhan, hubungan yang tidak pantas semacam ini harus dibatasi di dalam gereja. Untuk kasus-kasus yang berat dan merupakan perilaku orang jahat, mereka harus diberi peringatan, dan jika mereka yang terlibat tidak bertobat apa pun yang terjadi, mereka harus dikeluarkan dari gereja.

D. Kebencian di antara Orang-orang

Hubungan antarpribadi yang tidak pantas memiliki berbagai perwujudan. Salah satunya adalah kebencian pribadi. Sebagai contoh, percekcokan atau perselisihan bisa muncul dalam keluarga antara ibu mertua dan menantu perempuan, antara saudari ipar, atau antara saudara, atau bisa muncul antara tetangga. Terkadang, ini bahkan berkembang menjadi kebencian, dan bagaikan musuh, orang-orang ini menjadi tidak mampu berkolaborasi atau bekerja sama, hingga mereka bahkan tidak dapat saling berhadapan muka, serta berdebat dan bertengkar setiap kali mereka berhadapan muka. Ketika mereka berjumpa di pertemuan, hati mereka juga dipenuhi dengan kebencian, dan mereka tidak mampu menenangkan diri di hadapan Tuhan untuk menikmati firman Tuhan serta merenungkan dan mengenal diri mereka sendiri, dan mereka tentu saja tidak mampu melepaskan prasangka serta kebencian mereka untuk menghadiri pertemuan dengan normal. Sebaliknya, setiap kali bertemu, mereka bertengkar dan bertikai, mereka menyingkapkan kekurangan masing-masing serta saling menyerang, dan bahkan saling mengumpat, yang berdampak sangat negatif terhadap umat pilihan Tuhan. Orang-orang semacam itu adalah pengikut yang bukan orang percaya, mereka adalah orang tidak percaya. Adapun mereka yang benar-benar percaya kepada Tuhan dan mencintai kebenaran, apa pun yang terjadi, atau dengan siapa pun mereka berselisih, atau terhadap siapa pun mereka berprasangka, mereka mampu mencari kebenaran, merenungkan dan mengenal diri mereka sendiri, serta menyelesaikan masalah berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran. Jika mereka telah melakukan kesalahan dan berutang kepada seseorang, mereka mampu secara proaktif meminta maaf dan mengakui kesalahannya; mereka pasti tidak akan melakukan sesuatu yang menyebabkan pertengkaran atau masalah di pertemuan. Sama sekali tidak patut bagi orang-orang kudus untuk terlibat dalam perselisihan dan menyebabkan keributan di gereja; perilaku semacam itu sangat mempermalukan Tuhan. Orang-orang yang bertindak seperti ini benar-benar tidak memiliki kemanusiaan, hati nurani, dan nalar; mereka sama sekali bukan orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan. Masalah ini relatif lebih umum terjadi di antara orang-orang yang baru percaya. Karena orang-orang yang baru percaya tidak memahami kebenaran, dan watak rusak mereka belum dibersihkan, mudah bagi mereka untuk terlibat dalam perselisihan mengenai banyak hal, dan bahkan membiarkan sikap mereka yang gampang marah meledak dan membuat mereka bertengkar. Jika watak-watak rusak ini tidak dibereskan, orang-orang akan menyimpan kebencian di dalam hati mereka, dan bahkan saat menjalani kehidupan bergereja, mereka akan tetap berselisih tanpa henti dengan sikap yang gampang marah dan penuh kebencian ini. Ini memengaruhi kehidupan bergereja, memengaruhi umat pilihan Tuhan dalam makan dan minum firman Tuhan, dalam memuji Tuhan, serta membagikan pemahaman berdasarkan pengalaman mereka tentang firman Tuhan. Ini juga secara langsung memengaruhi jalan masuk kehidupan umat pilihan Tuhan. Sebagian orang yang baru percaya mudah terjerumus ke dalam perselisihan karena perbedaan pendapat tentang masalah kecil. Sebagai contoh, sebelum pertemuan dimulai, seseorang mungkin ingin menyanyikan satu lagu pujian sementara yang lain ingin menyanyikan lagu yang berbeda; bahkan masalah sepele seperti ini pun dapat dengan mudah menimbulkan perselisihan. Demikian juga perbedaan pendapat mengenai suatu hal, terkadang itu dapat dengan cepat menjadi perdebatan, dan bahkan menyinggung seseorang karena kurangnya pertimbangan dalam berkata-kata dapat memicu pertengkaran. Kejadian seperti ini biasa terjadi di antara orang-orang yang baru percaya. Ketika timbul perselisihan selama pertemuan, itu tentu saja mengganggu kehidupan bergereja. Bukankah ini juga mengganggu umat pilihan Tuhan? Mereka yang cenderung bertengkar dan berdebat tentang yang benar dan yang salah adalah orang-orang yang paling mudah mengganggu kehidupan bergereja. Yang mereka pedulikan hanyalah memuaskan kesombongan dan reputasi mereka sendiri tanpa mempertimbangkan kepentingan umat pilihan Tuhan. Dengan bertindak seperti ini, bukankah mereka menyebabkan gangguan terhadap kehidupan bergereja? (Ya.) Gereja adalah tempat saudara-saudari berkumpul untuk makan, minum, dan menikmati firman Tuhan; gereja adalah tempat untuk tunduk kepada Tuhan dan menyembah-Nya. Gereja sama sekali bukan tempat untuk melampiaskan keluhan pribadi, dan tentu saja bukan tempat untuk bertengkar atau berdebat tentang yang benar dan yang salah. Ketika orang-orang semacam itu menyebabkan gangguan dengan cara seperti ini, apa akibatnya? Itu berakibat langsung pada kurangnya kenikmatan selama pertemuan; itu menyebabkan umat pilihan Tuhan tidak mampu memperoleh didikan rohani dalam hidup, dan bahkan membuat kebanyakan orang menjadi tak mampu menemukan kedamaian, merasa sangat menderita. Seiring berjalannya waktu, beberapa orang menjadi pasif dan lemah, bahkan enggan untuk menghadiri pertemuan. Situasi ini biasa terjadi di sebagian besar gereja dan merupakan sesuatu yang pernah dialami semua umat pilihan Tuhan. Jadi, bagaimana cara menyelesaikan masalah seringnya terjadi percekcokan dan pertengkaran di pertemuan? Beberapa bagian firman Tuhan yang relevan dengan masalahnya harus dipilih dan dibaca bersama-sama beberapa kali selama pertemuan; kemudian semua orang harus mempersekutukan kebenaran, membagikan pemahaman mereka. Pendekatan ini dapat membuahkan beberapa hasil. Mereka yang cenderung suka berdebat bukan hanya akan menyadari pelanggaran mereka dan merasa menyesal, melainkan bahkan para pengamat pun dapat merenungkan apakah mereka telah memperlihatkan watak rusak mereka dalam situasi serupa dan apakah mereka bisa berdebat dengan orang lain; dengan demikian, para pengamat juga dapat mengenal diri mereka sendiri. Entah orang terlibat dalam perselisihan atau tidak, setelah membaca beberapa bagian firman Tuhan beberapa kali, mereka dapat mengenali watak rusak mereka sendiri dan melihat bahwa hidup berdasarkan watak yang rusak benar-benar berarti tidak memiliki hati nurani dan nalar, serta tidak memiliki sedikit pun kemanusiaan. Hasil menjalani kehidupan bergereja dengan cara seperti ini tidaklah buruk, bukan? Meskipun di awal pertemuan mungkin terjadi perselisihan, jika setelah itu semua orang mampu membaca firman Tuhan, menenangkan diri mereka di hadapan Tuhan untuk merenungkan diri mereka sendiri, menyelesaikan masalah dengan menggunakan kebenaran, dan benar-benar bertobat—jika hasil-hasil seperti ini dapat diperoleh—ini adalah kehidupan bergereja yang normal. Oleh karena itu, apa pun yang terjadi selama pertemuan belum tentu buruk; selama semua orang berkumpul dengan sehati dan sepikir untuk mencari kebenaran, serta membaca beberapa bagian firman Tuhan yang relevan bersama-sama beberapa kali, sekalipun masalah tidak dapat sepenuhnya diselesaikan, orang-orang akan dapat mengetahui yang sebenarnya tentang masalah itu hingga batas tertentu dan memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi; semua orang akan memperoleh manfaat dari hal ini. Menurutmu, apakah kehidupan bergereja yang seperti itu sulit untuk dicapai? Ini berarti mengubah hal buruk menjadi hal baik, ini adalah semacam berkat terselubung. Namun, hal ini tidak boleh membuat orang menganjurkan ide bahwa perselisihan dan perdebatan adalah hal yang diinginkan dalam kehidupan bergereja; ide semacam ini sama sekali tidak boleh dianjurkan. Perselisihan dan perdebatan dapat dengan mudahnya menimbulkan ledakan sikap yang gampang marah serta pertentangan, dan ini buruk bagi semua orang serta membuat diri sendiri merasa menderita. Oleh karena itu, mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah adalah pendekatan yang terbaik, dan memahami kebenaran dapat secara efektif mencegah agar kejadian serupa tidak terjadi di masa depan. Orang-orang bijak harus bersikap sabar dan toleran ketika percekcokan dan bentrokan terjadi. Karena mereka juga memiliki watak yang rusak dan dapat dengan mudah menyakiti orang lain, ketika mereka memperlihatkan watak rusaknya, mereka harus segera berdoa kepada Tuhan dan mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah. Dengan cara ini, pada saat pertemuan, seluruh perasaan sakit hati dan kebencian pribadi telah sirna, sehingga muncullah perasaan bebas di hati mereka, dan itu memudahkan mereka untuk bergaul rukun dengan saudara-saudari, dan dengan demikian terbentuklah kerja sama yang harmonis. Setiap kali orang melihat saudara atau saudari memperlihatkan watak rusaknya, mereka harus menawarkan bantuan dengan penuh kasih, tidak menghakimi, mengutuk, atau menolaknya. Mungkin saja masalah itu tidak dapat diselesaikan setelah berupaya membantu mereka satu atau dua kali, tetapi kesabaran dan toleransi tetaplah diperlukan. Asalkan mereka tidak mengganggu kehidupan bergereja atau dengan sengaja melakukan kejahatan, mereka harus diperlakukan dengan penuh kesabaran dan toleransi sampai akhir; akan tiba saatnya mereka sadar. Jika seseorang memiliki kemanusiaan yang jahat dan menolak bantuan apa pun, tidak menerima kebenaran, bagaimanapun kebenaran itu dipersekutukan, berarti mereka bukanlah orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan, dan orang-orang semacam itu harus dijauhi. Jika mereka berulang kali mengganggu kehidupan bergereja, mereka harus diperlakukan dan ditangani berdasarkan prinsip. Jika mereka bukan orang jahat tetapi sekadar sering memperlihatkan watak rusak mereka, membenci diri mereka sendiri tetapi merasa tidak berdaya untuk berbuat yang sebaliknya pada saat itu, maka orang-orang seperti itu harus dibantu dengan penuh kasih; bantulah mereka untuk memahami kebenaran dan mengidentifikasi serta mengenali perwujudan kerusakan mereka; dengan cara ini, perwujudan kerusakan mereka akan berangsur-angsur berkurang. Jika saudara-saudari hanya sesekali terpengaruh oleh orang-orang ini, mereka mungkin masih bisa dimaafkan; selama tidak ada masalah besar dengan kemanusiaan mereka, dan mereka bukanlah orang yang licik atau jahat, maka mereka harus didukung dan dibantu dengan mempersekutukan kebenaran kepada mereka. Jika mereka mampu menerima kebenaran, mereka harus diperlakukan dengan kasih. Namun, jika mereka tak mau bertobat dan secara negatif memengaruhi kehidupan bergereja selama jangka waktu yang panjang, para pemimpin gereja harus mengeluarkan peringatan dan memberlakukan pembatasan. Jika mereka terus-menerus menolak untuk menerima kebenaran, orang-orang semacam itu adalah orang jahat. Orang jahat tidak dapat bergaul dengan siapa pun, mereka berdampak negatif terhadap orang lain dan merupakan para setan. Mempertahankan mereka di gereja hanya akan menyebabkan kekacauan dan gangguan. Oleh karena itu, mereka yang tak mau berubah sekalipun telah ditegur berulang kali harus ditangani sebagai orang jahat dan dikeluarkan dari gereja. Siapa pun yang sering mengganggu kehidupan bergereja dan jalan masuk kehidupan umat pilihan Tuhan adalah pengikut yang bukan orang percaya serta orang jahat, dan mereka harus dikeluarkan dari gereja. Siapa pun orang itu atau bagaimana dia telah bertindak di masa lalu, jika dia sering mengganggu pekerjaan gereja dan kehidupan bergereja, menolak untuk dipangkas, dan selalu membela dirinya sendiri dengan penalaran yang salah, dia harus dikeluarkan dari gereja. Pendekatan ini dilakukan sepenuhnya demi menjaga perkembangan normal pekerjaan gereja dan melindungi kepentingan umat pilihan Tuhan, sepenuhnya sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran dan maksud-maksud Tuhan. Jalan masuk kehidupan umat pilihan Tuhan dan pekerjaan gereja tidak boleh dipengaruhi oleh perselisihan dan masalah-masalah yang tidak masuk akal dari beberapa orang jahat; itu tidak sepadan dan juga tidak adil bagi umat pilihan Tuhan.

Jika orang jahat sering menyebabkan kekacauan di gereja, yang mengakibatkan kehidupan bergereja menjadi tidak efektif, solusi terbaiknya adalah mengategorikan orang dan membagi pertemuan ke dalam kelompok yang berbeda: Mereka yang mencintai kebenaran dan melaksanakan tugas mereka dengan sungguh-sungguh berkumpul bersama; mereka yang ingin mengejar kebenaran tetapi tidak melaksanakan tugas mereka berkumpul bersama; dan mereka yang suka menyebabkan kekacauan dan gangguan, bergosip tentang orang lain, dan menghakimi serta mengutuk orang lain berkumpul bersama. Dengan demikian, gereja pada dasarnya dapat dibagi menjadi tiga kelompok orang—dapat dikatakan bahwa kita membagi semua orang berdasarkan jenisnya—sehingga memastikan bahwa kelompok-kelompok ini tidak saling mengganggu selama pertemuan. Orang-orang dengan kemanusiaan yang buruk, betapa pun cerobohnya mereka melakukan kesalahan, tidak akan memengaruhi orang lain, tetapi hanya akan merugikan diri mereka sendiri. Ada orang-orang yang memiliki watak yang kejam. Jika seseorang mengatakan sesuatu yang menyakiti atau menyinggung mereka, mereka akan membenci orang itu, dan memikirkan cara untuk menyerang serta membalas dendam terhadapnya. Seperti apa pun kebenaran dipersekutukan kepada mereka, atau seperti apa pun cara mereka dipangkas, mereka tidak menerimanya. Mereka lebih suka mati daripada bertobat, dan terus mengganggu kehidupan bergereja. Ini membuktikan bahwa mereka adalah orang jahat. Kita tidak boleh terus menoleransi orang jahat semacam ini. Mereka harus dikeluarkan dari gereja berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran. Ini adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah ini secara menyeluruh. Kesalahan apa pun yang telah mereka lakukan atau hal buruk apa pun yang telah mereka lakukan, orang-orang berwatak kejam itu tidak akan membiarkan siapa pun menyingkapkan atau memangkas mereka. Jika ada orang yang menyingkapkan dan menyinggung mereka, mereka akan menjadi sangat marah, membalas dendam, dan tidak pernah berhenti mempersoalkan masalah tersebut. Mereka tidak memiliki kesabaran serta toleransi terhadap orang lain, dan tidak bersikap sabar terhadap mereka. Prinsip apakah yang mendasari perilaku diri mereka? "Lebih baik aku mengkhianati daripada dikhianati." Dengan kata lain, mereka tidak menoleransi disinggung oleh siapa pun. Bukankah ini logika orang jahat? Inilah tepatnya logika orang jahat. Tak seorang pun diizinkan untuk menyinggung mereka. Bagi mereka, mereka tidak dapat menerima jika ada orang yang menyinggung mereka bahkan dengan cara yang paling kecil sekalipun, dan mereka membenci siapa pun yang melakukannya. Mereka akan terus mengejar orang tersebut dan tidak pernah berhenti mempersoalkan masalah tersebut; memang begitulah orang jahat. Engkau harus mengisolasi atau mengeluarkan orang jahat segera setelah engkau mengetahui bahwa mereka memiliki esensi orang jahat, sebelum mereka dapat melakukan kejahatan besar. Ini akan meminimalkan kerusakan yang mereka lakukan; itu adalah pilihan yang bijaksana. Jika para pemimpin dan pekerja menunggu sampai orang jahat menyebabkan berbagai macam bencana baru menangani mereka, itu artinya mereka sedang bersikap pasif. Itu akan membuktikan bahwa para pemimpin dan pekerja tersebut sangat bodoh, dan tidak memiliki prinsip dalam tindakan mereka. Ada beberapa pemimpin dan pekerja yang bodoh dan tidak tahu apa-apa seperti ini. Mereka bersikeras menunggu sampai mereka memiliki bukti yang meyakinkan sebelum menangani orang jahat karena mereka pikir itulah satu-satunya cara agar pikiran mereka tenang. Padahal sebenarnya, engkau tidak memerlukan bukti yang meyakinkan untuk memastikan apakah seseorang itu jahat atau tidak. Engkau dapat mengetahuinya dari perkataan dan tindakan mereka sehari-hari. Setelah engkau yakin bahwa mereka jahat, engkau dapat memulai dengan membatasi atau mengisolasi mereka. Ini akan memastikan bahwa baik pekerjaan gereja maupun jalan masuk kehidupan umat pilihan Tuhan tidak dirugikan. Ada pemimpin dan pekerja yang tidak dapat mengenali siapa yang jahat, mereka juga tidak mampu menangani orang jahat tepat pada waktunya. Akibatnya, pekerjaan gereja dan kehidupan bergereja terkena dampaknya, dan jalan masuk kehidupan umat pilihan Tuhan pun terhalang. Ini sangat bodoh. Seperti inilah cara para pemimpin palsu melakukan pekerjaan. Di satu sisi, mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengenali, dan di sisi lain, mereka adalah penyenang orang yang takut menyinggung orang lain. Ketika melayani sebagai pemimpin, orang-orang semacam itu, pertama-tama, tidak mampu melakukan pekerjaan nyata; dan kedua, mereka merugikan umat pilihan Tuhan. Mereka bahkan tidak dapat dengan segera menyelesaikan masalah gangguan yang disebabkan oleh orang-orang jahat, mereka juga tidak mampu melindungi saudara-saudari; orang-orang semacam itu tidak layak menjadi pemimpin dan pekerja. Katakan kepada-Ku, jika seseorang digolongkan sebagai orang jahat, apakah masih perlu mempersekutukan kebenaran untuk membantu mereka? (Tidak.) Tidak perlu memberi mereka kesempatan. Ada orang-orang yang memiliki terlalu banyak "kasih", selalu memberi orang-orang jahat kesempatan untuk bertobat, tetapi apakah ini dapat berpengaruh? Apakah ini sesuai dengan prinsip-prinsip firman Tuhan? Pernahkah engkau melihat orang jahat yang bisa sungguh-sungguh bertobat? Tak seorang pun pernah melihatnya. Mengharapkan orang jahat untuk bertobat itu bagaikan mengasihani ular berbisa, itu sama saja dengan mengasihani binatang buas. Itu karena berdasarkan esensi orang jahat, dapat dipastikan bahwa orang jahat tidak akan pernah mencintai hal-hal yang positif, tidak akan pernah menerima kebenaran, dan tidak akan pernah bertobat. Engkau tidak akan menemukan kata "pertobatan" dalam kamus mereka. Seperti apa pun engkau mempersekutukan kebenaran kepada mereka, mereka tidak akan mengesampingkan motif dan kepentingan mereka sendiri, serta akan mencari berbagai alasan dan dalih untuk membenarkan diri mereka sendiri, dan tak seorang pun dapat membujuk mereka. Jika mereka menderita kerugian, mereka tidak bisa menanggungnya dan akan terus-menerus mengganggu orang lain tentang hal itu. Bagaimana mungkin orang-orang semacam itu, yang tidak mau menderita kerugian apa pun, sungguh-sungguh bertobat? Orang yang sangat egois adalah mereka yang mengutamakan kepentingan mereka sendiri di atas segalanya; mereka adalah orang-orang jahat, dan mereka tidak akan pernah bertobat. Jika engkau telah benar-benar merasa bahwa orang semacam itu jahat dan engkau tetap memberi mereka kesempatan untuk bertobat, bukankah itu bodoh? Ini sama saja dengan menghangatkan ular beku di dadamu, hanya untuk digigit olehnya nanti. Hanya orang bodoh yang akan melakukan hal sebodoh itu. Di gereja, umat pilihan Tuhan yang membenci orang jahat adalah fenomena yang normal, karena orang jahat tidak memiliki kemanusiaan dan selalu melakukan hal-hal yang tidak bermoral. Membenci orang jahat adalah pola pikir yang benar. Itu adalah bagian dari apa yang seharusnya dimiliki orang dalam kemanusiaan mereka yang normal.

Katakan kepada-Ku, orang macam apakah yang sama sekali tidak memiliki kasih kepada saudara-saudari? Mengapa mereka bahkan tidak memiliki sedikit pun hubungan antarpribadi yang normal dengan saudara-saudari? Dengan siapa pun orang semacam ini berinteraksi, mereka hanya menghubungkan interaksi ini dengan kepentingan dan transaksi; jika tidak ada kepentingan atau transaksi yang terlibat, mereka tidak akan memedulikan orang-orang. Bukankah orang semacam ini jahat? Ada orang-orang yang tidak mengejar kebenaran dan hidup hanya berdasarkan perasaan; siapa pun yang memperlakukan mereka dengan baik, mereka akan mendekat, dan siapa pun yang membantu mereka, mereka menganggapnya sebagai orang yang baik. Orang-orang semacam itu juga tidak memiliki hubungan antarpribadi yang normal. Mereka hidup hanya berdasarkan perasaan, jadi dapatkah mereka memperlakukan saudara-saudari dengan adil dan benar? Ini sama sekali tidak dapat dicapai. Oleh karena itu, siapa pun yang tidak memiliki hubungan antarpribadi yang normal dengan saudara-saudari, atau dengan mereka yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, adalah seseorang yang tidak memiliki hati nurani dan nalar, adalah seseorang yang tidak memiliki kemanusiaan yang normal, dan pasti bukanlah seseorang yang mencintai kebenaran. Orang-orang ini tidak ada bedanya dengan orang-orang bereputasi buruk di antara orang-orang tidak percaya; mereka berinteraksi dengan siapa pun yang bermanfaat bagi mereka dan mengabaikan orang-orang yang tidak bermanfaat bagi mereka. Selain itu, ketika mereka melihat seseorang mengejar kebenaran atau seseorang yang dapat membagikan kesaksian pengalaman—seseorang yang dikagumi serta disukai semua orang—mereka menjadi iri dan benci serta mencoba segala cara untuk mengumpulkan alasan yang mereka gunakan untuk menghakimi dan mengutuk orang yang mengejar kebenaran ini. Bukankah ini yang dilakukan orang jahat? Orang-orang semacam itu tidak memiliki hati nurani dan nalar; mereka lebih buruk daripada binatang buas. Mereka tidak dapat memperlakukan orang dengan benar, tidak dapat bergaul dengan orang lain secara normal, tidak dapat membangun hubungan antarpribadi yang normal dengan umat pilihan Tuhan, dan bahkan dapat membenci mereka yang mengejar kebenaran. Orang-orang semacam itu pasti merasa sangat sendiri dan kesepian di dalam hati mereka, selalu mengeluh tentang Surga dan orang lain. Sukacita atau makna apa yang mereka miliki dalam hidup? Orang-orang ini memiliki watak yang kejam, dan dengan siapa pun mereka berinteraksi, mereka dapat mengembangkan kebencian karena hal-hal sepele, mengutuk dan membalas dendam terhadap orang-orang, mendatangkan bencana bagi orang-orang tersebut. Orang-orang jahat semacam itu adalah setan-setan sejati, membawa bencana bagi gereja setiap hari mereka berada di sana. Jika mereka tinggal untuk waktu yang lama, bencana tidak akan pernah berakhir. Hanya dengan mengeluarkan mereka dari gereja, barulah bencana dapat dihindari. Selain itu, ada orang-orang yang dari luarnya terlihat beradab tetapi sangat menyukai keuntungan. Dengan demikian, kepercayaan mereka kepada Tuhan juga merupakan pengejaran mereka akan keuntungan. Jika mereka tidak mendapatkan keuntungan yang tidak semestinya itu selama beberapa waktu, wajah mereka akan menjadi suram, seolah-olah ada seseorang yang berutang banyak uang kepada mereka. Siapa pun yang melihat wajah mereka yang penuh kebencian dan keputusasaan itu akan langsung terpengaruh secara emosional. Menurutmu, apa dampaknya jika wajah seperti itu muncul dalam kehidupan bergereja? Kebanyakan umat pilihan Tuhan pasti akan merasa tidak nyaman melihatnya, dan pembacaan firman Tuhan oleh mereka serta persekutuan mereka tentang kebenaran akan terganggu dan terpengaruh hingga taraf berbeda. Terutama orang-orang yang belum berakar di jalan yang benar, jika mereka sering melihat wajah yang selalu suram ini dalam kehidupan bergereja, mereka akan terpengaruh dengan begitu mudahnya! Di gereja seharusnya ada lebih banyak orang yang berkepribadian ceria, yang berbicara dengan sederhana dan terbuka, dan seharusnya ada lebih banyak orang yang hatinya dipenuhi dengan kedamaian serta sukacita, dan yang rohnya bebas dan lepas. Ini akan membuat kehidupan bergereja menyenangkan. Orang-orang bermuka masam yang selalu murung itu harus berdoa kepada Tuhan di rumah dan menyesuaikan pola pikir mereka sebelum datang ke pertemuan. Dengan cara ini, suasana hati mereka akan baik, dan mereka akan memperoleh sesuatu dari pertemuan itu. Selain itu, ini juga akan bermanfaat bagi orang lain; setidaknya, mereka tidak akan terganggu. Untuk memastikan bahwa umat pilihan Tuhan dapat menjalani kehidupan bergereja yang normal, pemimpin dan pekerja harus belajar mempersekutukan kebenaran untuk menyelesaikan masalah. Jika seseorang datang ke pertemuan dengan wajah murung, pemimpin dan pekerja harus bertindak dan bertanya, "Apakah kau perlu bantuan?" Inilah yang disebut secara proaktif menolong orang karena kasih. Jika pemimpin dan pekerja melihat seseorang yang memiliki masalah dan mengabaikannya, menghindari serta menjauhi "orang-orang bermuka masam" tersebut tanpa mempersekutukan kebenaran untuk mencerahkan hari mereka, berarti mereka tidak sedang melakukan pekerjaan nyata. Untuk melakukan pekerjaan gereja secara efektif, pemimpin dan pekerja pertama-tama harus belajar untuk menjadi orang kepercayaan dari umat pilihan Tuhan, yang oleh orang tidak percaya sering disebut sebagai pejabat pemerintahan yang peduli. Ada orang-orang yang tidak mau berperan seperti ini, selalu lebih suka menjadi pengamat; bagaimana mereka dapat memimpin umat pilihan Tuhan untuk menjalani kehidupan bergereja yang baik dengan cara seperti ini? Sebenarnya, apakah seseorang memiliki masalah di dalam hatinya atau tidak, itu dapat terlihat hingga taraf tertentu dari ekspresi wajah mereka. Jika wajah seseorang selalu murung, hatinya pasti gelap tanpa secercah cahaya pun. Jika mereka tenggelam dalam perselisihan tentang apa yang benar dan apa yang salah sepanjang hari, mungkinkah wajah mereka masih bisa tersenyum? Wajah orang-orang ini selalu tertutup awan gelap, tanpa sinar mentari sama sekali, dan ini juga memengaruhi pelaksanaan tugas mereka. Jika pemimpin dan pekerja lamban dalam menangani dan menyelesaikan masalah ini, menyebabkan saudara-saudari terus-menerus mengalami gangguan dan kesengsaraan yang tak terungkapkan, itu membuktikan bahwa pemimpin dan pekerja tersebut tidak mampu melaksanakan pekerjaan nyata, tidak mampu menyelesaikan masalah dengan menggunakan kebenaran, dan sepenuhnya tidak berharga. Jika pemimpin dan pekerja memahami kebenaran serta mampu mengidentifikasi masalah saudara-saudari, dan mampu memberi dukungan serta bantuan tepat pada waktunya, bukan hanya mampu menyelesaikan masalah orang-orang, melainkan juga mampu membantu orang untuk memahami prinsip-prinsip kebenaran dan melaksanakan tugasnya dengan baik, berarti mereka akan mampu melaksanakan tugas serta menangani masalah dengan efisien, dan pekerjaan gereja tidak akan terpengaruh. Jika pemimpin dan pekerja tidak mampu untuk segera mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah, ini akan memengaruhi pekerjaan gereja. Jika pemimpin dan pekerja tidak mampu mengidentifikasi dan menangani masalah, menyebabkan kerusakan pada pekerjaan gereja serta menghambat jalan masuk kehidupan umat pilihan Tuhan, bukankah itu berarti mereka telah berutang kepada Tuhan dan umat pilihan-Nya? Bukankah mereka tidak berprinsip dalam menangani masalah? Menangani masalah dengan segera dan tanpa keraguan setelah mengetahui yang sebenarnya tentang esensi masalah itu; inilah yang disebut memenuhi tanggung jawab dan setia, dan ini berarti melaksanakan tugas dengan cara yang sesuai standar.

Topik persekutuan hari ini adalah masalah keenam: terlibat dalam hubungan yang tidak pantas. Masalah-masalah semacam ini yang muncul dalam kehidupan bergereja pada dasarnya adalah: hubungan yang tidak pantas di antara lawan jenis, hubungan sesama jenis, hubungan yang dilandasi kepentingan pribadi, dan kebencian di antara orang-orang. Baik itu adalah hubungan yang didasarkan pada hawa nafsu daging, kepentingan daging, atau ikatan sentimental daging, semua itu termasuk dalam kategori hubungan yang tidak pantas karena itu melampaui lingkup hati nurani dan nalar kemanusiaan yang normal. Keberadaan hubungan yang tidak pantas ini dapat mengganggu orang-orang hingga taraf tertentu. Yang lebih serius lagi, hubungan itu dapat mengganggu jalan masuk kehidupan orang-orang, pengejaran mereka akan kebenaran, serta pengejaran mereka untuk mengenal Tuhan. Berbagai macam hubungan yang tidak pantas ini tidak berasal dari hati nurani ataupun nalar, dan bertentangan dengan kemanusiaan yang normal. Sulit bagi orang untuk menerima dan menerapkan kebenaran ketika mereka hidup dalam hubungan yang tidak normal seperti ini, dan ini juga mengganggu mereka dalam menjalani kehidupan bergereja dan dalam mengejar pertumbuhan hidup, serta tatanan kehidupan bergereja. Ini merugikan jalan masuk kehidupan umat pilihan Tuhan dan juga dapat merugikan pekerjaan gereja. Karena semua ini, pemimpin dan pekerja harus segera mengidentifikasi dan menangani masalah-masalah ini.

Mengenai hubungan yang tidak pantas, kita telah menyebutkan berbagai situasi dan mengategorikannya. Dapatkah engkau semua memberi beberapa contoh untuk melatih kemampuanmu dalam mengidentifikasi? Apa tujuan belajar mengidentifikasi? Ini bertujuan untuk memungkinkanmu mengidentifikasi dan mendefinisikan esensi orang, peristiwa, dan hal-hal, agar engkau mampu membuat penilaian yang akurat, dan kemudian memperlakukannya berdasarkan prinsip. Inilah hasil akhirnya. Pernahkah seseorang berkata, "Engkau berbicara sepanjang hari tentang masalah benar dan salah, masalah sehari-hari; kami tidak mau lagi mendengarkannya; kami bahkan tidak mau lagi datang ke pertemuan. Bukankah engkau seharusnya mempersekutukan kebenaran? Mengapa selalu membicarakan situasi-situasi ini?" Pernahkah engkau semua memperhatikan orang-orang semacam ini? Orang-orang macam apa mereka? (Orang-orang yang tidak memiliki pemahaman rohani.) Kami menyampaikan persekutuan dengan cara ini, tetapi mereka tetap tidak mampu memahami kebenaran; kecerdasan mereka tidak setara dengan kecerdasan manusia normal; orang-orang seperti itu benar-benar tidak berguna. Haruskah orang yang kecerdasannya tidak setara dengan kecerdasan manusia normal tetap diminta untuk mendengarkan khotbah? Mungkin mereka akan mengusulkan: "Pertemuan selalu tentang mempersekutukan kebenaran, selalu membicarakan hal-hal seperti menerapkan kebenaran; aku bosan mendengarkannya. Aku tidak mau lagi datang ke pertemuan." Jika mereka benar-benar berpandangan seperti itu, berarti mereka adalah orang-orang yang muak akan kebenaran. Mengenai orang-orang semacam itu, rumah Tuhan tidak memaksa mereka untuk hadir; dengan cepat mengeluarkan mereka. Jika mereka sendiri tidak mau datang ke pertemuan, dan tidak mau menerima apa yang dibahas, kami tidak memaksa; kami tidak akan merepotkan mereka. Orang-orang semacam ini, sekalipun mereka percaya kepada Tuhan seumur hidup, tidak akan memahami kebenaran dan tidak akan masuk ke dalam kenyataan; itu adalah upaya yang sia-sia. Jika mereka suka mendengarkan pengetahuan teologis, biarkan saja mereka pergi dan mempelajari pengetahuan teologis; suatu hari, ketika mereka tidak memperoleh kebenaran sebagai hidup, mereka akan menyesalinya.

29 Mei 2021

Sebelumnya: Tanggung Jawab Para Pemimpin dan Pekerja (13)

Selanjutnya: Tanggung Jawab Para Pemimpin dan Pekerja (15)

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Pengaturan

  • Teks
  • Tema

Warna Solid

Tema

Jenis Huruf

Ukuran Huruf

Spasi Baris

Spasi Baris

Lebar laman

Isi

Cari

  • Cari Teks Ini
  • Cari Buku Ini