Tanggung Jawab Para Pemimpin dan Pekerja (12)

Pada pertemuan terakhir, kita telah mempersekutukan bab kesepuluh dari tanggung jawab para pemimpin dan pekerja: "Menjaga dengan baik dan mendistribusikan secara bijaksana berbagai barang milik rumah Tuhan (buku, berbagai peralatan, bahan pangan, dan sebagainya), serta melakukan pemeriksaan, pemeliharaan, dan perbaikan secara berkala untuk meminimalkan kerusakan dan pemborosan; serta menghalangi orang-orang jahat agar tidak menguasainya." Persekutuan bab kesepuluh adalah tentang pekerjaan yang harus dilakukan para pemimpin dan pekerja serta tanggung jawab yang harus mereka penuhi berkenaan dengan berbagai barang milik rumah Tuhan, dan sekaligus menyingkapkan berbagai perwujudan pemimpin palsu melalui perbandingan. Jika para pemimpin dan pekerja memenuhi tanggung jawab mereka yang seharusnya dan dapat mereka lakukan dalam setiap bagian dari pekerjaan rumah Tuhan, itu berarti mereka memenuhi standar sebagai pemimpin dan pekerja; jika mereka tidak memenuhi tanggung jawab mereka dan tidak melakukan pekerjaan nyata apa pun, itu berarti cukup jelas bahwa mereka adalah pemimpin palsu. Mengenai bab kesepuluh, para pemimpin palsu tentu saja tidak melakukan pekerjaan yang baik dalam tugas menjaga dan mendistribusikan secara bijaksana berbagai barang milik rumah Tuhan—barang-barang itu tidak dijaga dengan baik, atau bahkan mungkin sama sekali tidak dijaga, dan para pemimpin palsu mendistribusikannya secara berantakan. Mereka bahkan mungkin sama sekali tidak menganggap serius pekerjaan ini. Meskipun itu adalah pekerjaan bagian umum, itu tetap merupakan tanggung jawab yang harus dipenuhi oleh para pemimpin dan pekerja serta pekerjaan yang harus mereka lakukan. Entah pekerjaan itu mereka lakukan sendiri atau mereka tugaskan kepada orang yang sesuai, serta melakukan pengawasan, pemeriksaan, penindaklanjutan, dan sebagainya, bagaimanapun juga, pekerjaan itu tidak bisa dipisahkan dari tanggung jawab para pemimpin dan pekerja, semuanya berkaitan secara langsung. Oleh karena itu, dalam hal pekerjaan ini, jika para pemimpin dan pekerja tidak menjaga dengan baik dan mendistribusikan berbagai barang milik rumah Tuhan secara bijaksana, mereka tidak memenuhi tanggung jawab mereka, dan mereka tidak melakukan pekerjaan mereka dengan baik. Inilah salah satu perwujudan pemimpin palsu. Pada pertemuan terakhir, kita melakukan penyingkapan dan penelaahan sederhana tentang perwujudan yang diperlihatkan oleh pemimpin palsu saat menangani pekerjaan bagian umum ini, dan kita telah memberikan beberapa contoh. Jika seseorang adalah pemimpin palsu, maka dia pasti tidak memenuhi tanggung jawabnya dalam pekerjaan ini, dan pekerjaan yang dia lakukan tidak sesuai standar. Hal ini karena para pemimpin palsu tidak pernah mengerahkan upaya untuk melakukan pekerjaan nyata—begitu pekerjaan itu diatur, mereka menganggapnya sudah selesai, dan mereka tidak pernah menindaklanjuti atau berpartisipasi dalam pekerjaan tersebut. Alasan utama lainnya adalah bahwa para pemimpin palsu tidak memahami prinsip-prinsip dari pekerjaan apa pun yang mereka lakukan. Sekalipun mereka tidak bermalas-malasan dalam pekerjaan mereka, apa yang mereka lakukan tidak konsisten dengan prinsip-prinsip dan aturan-aturan yang dituntut oleh rumah Tuhan, atau bahkan sama sekali tidak sesuai dengan prinsip-prinsip tersebut. Apa artinya tidak sesuai dengan prinsip? Maksudnya, mereka bertindak secara serampangan, bertindak secara liar berdasarkan imajinasi, kehendak, perasaan mereka, dan sebagainya. Jadi, apa pun yang terjadi, ada dua perwujudan utama pemimpin palsu dalam hal tanggung jawab para pemimpin dan pekerja ini: Yang pertama, mereka tidak melakukan pekerjaan nyata, dan yang kedua, mereka tidak mampu memahami prinsip, jadi mereka tidak dapat melakukan pekerjaan nyata. Inilah perwujudan dasarnya. Pada pertemuan terakhir, kita telah bersekutu dan menyingkapkan bagaimana kemanusiaan para pemimpin palsu diwujudkan dalam cara mereka menangani pekerjaan bagian umum semacam ini. Bahkan dengan satu pekerjaan yang sederhana ini, para pemimpin palsu tidak mampu memenuhi tanggung jawab mereka. Mereka memiliki kemampuan untuk melakukan pekerjaan ini, tetapi mereka tidak melakukannya. Ini ada kaitannya dengan karakter dan kemanusiaan orang-orang semacam ini. Apa masalahnya dengan kemanusiaan mereka? Hati mereka tidak baik dan berkarakter rendah. Pada dasarnya kita telah menyelesaikan persekutuan kita tentang tanggung jawab para pemimpin dan pekerja, prinsip-prinsip umum, serta berbagai perwujudan pemimpin palsu dalam bab kesepuluh. Hari ini, kita akan lanjutkan dengan bersekutu tentang bab kesebelas dari tanggung jawab para pemimpin dan pekerja.

Bab Sebelas: Memilih Orang-orang yang Dapat Diandalkan dan Kemanusiaannya Memenuhi Standar, Khususnya untuk Tugas Pencatatan, Perhitungan, dan Penjagaan Persembahan secara Sistematis; secara Berkala Meninjau serta Memeriksa Pemasukan dan Pengeluaran agar Kasus Pemborosan atau Penghamburan, serta Pengeluaran yang Tidak Masuk Akal Dapat Segera Diidentifikasi—Menghentikan Hal-hal Semacam itu dan Meminta Penggantian yang Wajar; Selain Itu, dengan Cara Apa Pun, Menghalangi Uang Persembahan agar Tidak Jatuh ke Tangan Orang Jahat dan Dikuasai oleh Mereka

Yang Dimaksud dengan Persembahan

Isi bab kesebelas dari tanggung jawab para pemimpin dan pekerja adalah: "Memilih orang-orang yang dapat diandalkan dan kemanusiaannya memenuhi standar, khususnya untuk tugas pencatatan, perhitungan, dan penjagaan persembahan secara sistematis; secara berkala meninjau serta memeriksa pemasukan dan pengeluaran agar kasus pemborosan atau penghamburan, serta pengeluaran yang tidak masuk akal dapat segera diidentifikasi—menghentikan hal-hal semacam itu dan meminta penggantian yang wajar; selain itu, dengan cara apa pun, menghalangi uang persembahan agar tidak jatuh ke tangan orang jahat dan dikuasai oleh mereka." Apa tanggung jawab para pemimpin dan pekerja dalam pekerjaan ini? Apa pekerjaan utama yang harus mereka lakukan? (Menjaga persembahan dengan benar.) Bab kesepuluh adalah tentang menjaga dan mendistribusikan secara bijaksana berbagai barang milik rumah Tuhan; bab ini adalah tentang menjaga persembahan dengan benar. Berbagai barang milik rumah Tuhan dan persembahannya agak mirip—tetapi apakah keduanya sama? (Tidak.) Apa bedanya? (Persembahan terutama mengacu pada uang.) Uang adalah salah satu aspeknya. Apa perbedaan natur antara berbagai barang milik rumah Tuhan dan persembahan? Apakah buku-buku firman Tuhan merupakan persembahan? Apakah berbagai mesin yang digunakan untuk pekerjaan merupakan persembahan? Apakah berbagai kebutuhan sehari-hari yang dibeli oleh rumah Tuhan merupakan persembahan? (Bukan.) Jadi, ini semua apa? Di dalam rumah Tuhan, semua buku firman Tuhan, dan semua jenis perangkat yang dibutuhkan untuk pekerjaan rumah Tuhan yang dibeli dengan uang yang dipersembahkan oleh umat pilihan Tuhan, termasuk berbagai barang seperti kamera, perekam audio, komputer, dan ponsel—semuanya adalah barang-barang milik rumah Tuhan. Selain itu, meja, kursi, bangku, makanan, dan kebutuhan sehari-hari lainnya juga merupakan barang-barang milik rumah Tuhan. Beberapa dari barang-barang ini dibeli oleh saudara-saudari, dan yang lainnya, rumah Tuhan membeli dengan menggunakan uang persembahan; semuanya digolongkan sebagai barang-barang milik rumah Tuhan. Kita telah mempersekutukan topik ini pada pertemuan terakhir kita. Sekarang kita akan lanjutkan untuk melihat sesuatu yang penting yang akan kita persekutukan dalam bab kesebelas: persembahan. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan persembahan? Bagaimana cakupannya ditentukan? Sebelum kita mempersekutukan tanggung jawab para pemimpin dan pekerja, penting untuk memahami pertanyaan tentang apa yang dimaksud dengan persembahan. Meskipun sebagian besar orang percaya kepada Yesus di masa lalu dan telah menerima tahap pekerjaan ini selama beberapa tahun, konsep mereka tentang persembahan masih samar. Mereka tidak jelas tentang apa sebenarnya yang dimaksud dengan persembahan. Ada yang mengatakan bahwa persembahan adalah uang dan barang-barang yang dipersembahkan kepada Tuhan, sedangkan orang-orang lain mengatakan bahwa persembahan terutama mengacu pada uang. Manakah dari kedua pernyataan ini yang akurat? (Selama sesuatu dipersembahkan kepada Tuhan, baik itu uang maupun barang apa pun, besar atau kecil, itu adalah persembahan.) Itu adalah rangkuman yang relatif akurat. Sekarang setelah cakupan dan batasan persembahan sudah jelas, mari kita definisikan secara akurat apa sebenarnya yang dimaksud dengan persembahan, sehingga semua orang dapat memahami konsepnya dengan jelas.

Tentang persembahan, Alkitab mencatat bahwa pada awalnya, Tuhan meminta manusia untuk mempersembahkan persepuluhan kepada Tuhan—ini adalah persembahan. Berapa pun jumlah yang dipersembahkan, besar atau kecil, dan apa pun yang dipersembahkan—baik itu uang maupun barang-barang—asalkan itu sepersepuluh dari penghasilan seseorang yang harus dipersembahkan, itu sudah pasti sebuah persembahan. Inilah yang Tuhan minta dari manusia, inilah yang seharusnya orang percaya persembahkan kepada Tuhan. Persepuluhan ini adalah suatu aspek persembahan. Ada orang-orang yang bertanya, "Apakah sepersepuluh itu hanya berupa uang?" Belum tentu. Sebagai contoh, jika seseorang memanen sepuluh hektar bahan pangan, maka berapa pun jumlah bahan pangannya, satu hektar bahan pangan ini pada akhirnya harus dipersembahkan kepada Tuhan—sepersepuluh ini adalah jumlah yang harus dipersembahkan orang. Oleh karena itu, konsep "sepersepuluh" ini tidak hanya mengacu pada uang—ini bukan hanya berarti bahwa ketika seseorang menghasilkan seribu dolar, mereka harus mempersembahkan seratus dolar kepada Tuhan—sebaliknya, ini mengacu pada segala sesuatu yang diperoleh orang, yang mencakup lebih banyak lagi—termasuk barang materi dan uang. Inilah yang dibahas dalam Alkitab. Tentu saja, sekarang ini rumah Tuhan tidak mengikuti Alkitab dengan begitu ketat yang menuntut orang memberikan sepersepuluh dari segala sesuatu yang mereka peroleh. Di sini Aku hanya mempersekutukan dan membagikan konsep dan definisi dari "sepersepuluh" agar orang tahu bahwa persepuluhan itu adalah suatu aspek persembahan. Aku bukan meminta orang untuk mempersembahkan sepersepuluh; berapa banyak persembahan orang tergantung pada pemahaman dan kesediaan mereka sendiri dan rumah Tuhan tidak memiliki tuntutan tambahan mengenai hal ini.

Aspek persembahan lainnya adalah sesuatu yang orang persembahkan kepada Tuhan. Secara umum, ini tentunya juga termasuk persepuluhan; secara khusus, selain dari persepuluhan, apa pun yang orang persembahkan kepada Tuhan termasuk dalam kategori persembahan. Persembahan kepada Tuhan mencakup berbagai barang, contohnya makanan, peralatan, kebutuhan sehari-hari, suplemen kesehatan, serta sapi, domba, dan sebagainya yang dipersembahkan di atas mezbah pada zaman Perjanjian Lama. Semua ini adalah persembahan. Sesuatu merupakan persembahan atau bukan tergantung pada niat si pemberi; jika si pemberi berkata bahwa barang ini dipersembahkan kepada Tuhan, maka entah itu diberikan secara langsung kepada Tuhan atau disimpan di rumah Tuhan untuk dijaga, itu termasuk dalam kategori persembahan dan tidak boleh sembarangan disentuh oleh manusia. Sebagai contoh: Ketika seseorang membeli sebuah komputer yang canggih dan mempersembahkannya kepada Tuhan, itu menjadi persembahan; ketika seseorang membeli sebuah mobil untuk Tuhan, itu menjadi persembahan; ketika seseorang membeli dua botol suplemen kesehatan dan mempersembahkannya kepada Tuhan, suplemen kesehatan itu kemudian menjadi persembahan. Tidak ada definisi yang spesifik dan pasti tentang barang-barang apa saja yang dipersembahkan kepada Tuhan. Singkatnya, persembahan memiliki cakupan yang sangat luas—itu adalah barang-barang yang dipersembahkan kepada Tuhan oleh mereka yang mengikuti-Nya. Ada orang-orang yang mungkin berkata, "Tuhan sekarang berinkarnasi di bumi, dan barang-barang yang dipersembahkan kepada-Nya adalah milik-Nya—tetapi bagaimana jika Dia tidak berada di bumi? Ketika Tuhan berada di surga, bukankah kalau begitu barang-barang yang dipersembahkan kepada-Nya bukan persembahan?" Benarkah demikian? (Tidak.) Ini bukan didasarkan pada apakah Tuhan berada dalam periode inkarnasi atau tidak. Bagaimanapun juga, selama sesuatu dipersembahkan kepada Tuhan, itu adalah persembahan. Orang-orang lain mungkin berkata, "Ada begitu banyak barang yang dipersembahkan kepada Tuhan. Bisakah Dia memanfaatkan semuanya? Bisakah Dia menggunakan semuanya?" (Itu tidak ada kaitannya dengan manusia.) Itu adalah cara yang tepat dan jelas untuk mengatakannya. Barang-barang ini dipersembahkan kepada Tuhan oleh manusia; bagaimana cara Dia menggunakannya dan apakah Dia bisa menggunakan semuanya atau tidak, serta bagaimana Dia mendistribusikan dan menanganinya, tidak ada kaitannya dengan manusia. Tidak perlu engkau cemas atau khawatir tentang hal itu. Singkatnya, begitu seseorang mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan, barang itu termasuk dalam cakupan persembahan. Itu adalah milik Tuhan, dan tidak ada kaitannya dengan siapa pun. Ada orang-orang yang mungkin berkata, "Dari cara Engkau mengatakannya, itu terdengar seolah-olah Tuhan secara paksa menegaskan kepemilikan atas barang tersebut." Benarkah demikian? (Tidak.) Barang itu adalah milik Tuhan, jadi itu disebut persembahan. Orang-orang tidak boleh menyentuhnya atau mendistribusikannya sekehendak hati mereka. Ada orang-orang yang mungkin bertanya, "Bukankah itu mubazir?" Sekalipun memang mubazir, itu bukan urusanmu. Orang lain mungkin berkata, "Ketika Tuhan berada di surga dan tidak berinkarnasi, Dia tidak bisa menikmati atau memanfaatkan barang-barang yang dipersembahkan manusia kepada-Nya. Jadi, apa yang harus dilakukan?" Itu mudah untuk diatasi: rumah Tuhan dan gereja ada untuk menangani hal-hal ini berdasarkan prinsip-prinsip; engkau tidak perlu mencemaskan atau mengkhawatirkan tentang hal itu. Singkatnya, seperti apa pun cara sebuah barang ditangani, segera setelah barang itu masuk ke dalam kategori persembahan, segera setelah itu digolongkan sebagai persembahan, barang tersebut tidak ada kaitannya dengan manusia. Karena barang tersebut adalah milik Tuhan, manusia tidak boleh menggunakannya sekehendak hati mereka—ada konsekuensi jika melakukannya. Pada zaman Perjanjian Lama, pada waktu panen di musim gugur, orang-orang mempersembahkan segala macam barang di atas mezbah. Ada yang mempersembahkan bahan pangan, buah-buahan, dan berbagai hasil bumi lainnya, sedangkan orang-orang lain mempersembahkan sapi dan domba. Apakah Tuhan menikmati semua itu? Apakah Dia memakan barang-barang itu? (Tidak.) Bagaimana engkau tahu Dia tidak memakannya? Apakah engkau melihatnya? Itu adalah gagasanmu. Engkau berkata Tuhan tidak memakannya—kalau begitu, jika Dia memakannya sedikit, bagaimana perasaanmu? Akankah itu tidak sesuai dengan gagasan dan imajinasimu? Bukankah ada orang-orang yang beranggapan bahwa karena Tuhan tidak memakan atau menikmati barang-barang itu, maka tidak perlu mempersembahkannya? Bagaimana engkau semua bisa begitu yakin? Apakah engkau semua berkata bahwa "Tuhan tidak memakannya" karena engkau menganggap bahwa Dia berwujud roh dan tidak bisa makan, atau karena engkau menganggap bahwa Tuhan memiliki identitas-Nya sebagai Tuhan, Dia bukan berwujud daging dan fana, dan Dia seharusnya tidak menikmati barang-barang ini? Apakah memalukan bagi Tuhan untuk menikmati persembahan yang orang-orang berikan kepada-Nya? (Tidak.) Apakah itu tidak sesuai dengan gagasan manusia, atau apakah itu tidak sesuai dengan identitas Tuhan? Yang mana tepatnya? (Orang-orang seharusnya tidak membahas hal ini.) Benar—itu bukanlah sesuatu yang harus orang khawatirkan. Engkau tidak perlu memutuskan bahwa Tuhan harus menikmatinya, juga tidak perlu memutuskan bahwa Tuhan tidak boleh menikmatinya. Lakukanlah apa yang seharusnya kaulakukan, penuhilah tugas dan tanggung jawabmu, dan penuhilah kewajibanmu—itu sudah cukup dan itu berarti engkau telah menyelesaikan pekerjaanmu. Mengenai bagaimana Tuhan akan menangani hal-hal tersebut, itu adalah urusan-Nya. Entah Tuhan membagikannya kepada manusia, atau membiarkannya sampai rusak, atau entah Dia menikmati sedikit darinya, atau melihatnya, ini tidak boleh dikritik, dan itu sah-sah saja. Tuhan memiliki kebebasan-Nya dalam menentukan bagaimana Dia menangani hal-hal ini. Itu bukanlah sesuatu yang seharusnya dikhawatirkan manusia, juga bukan sesuatu yang harus mereka kritik. Manusia seharusnya tidak dengan semaunya membayangkan tentang hal-hal ini, apalagi dengan semaunya menghakimi atau memutuskan tentang hal-hal ini. Apakah engkau mengerti sekarang? Bagaimana seharusnya Tuhan menangani persembahan yang manusia berikan kepada-Nya? (Dia akan menanganinya dengan cara apa pun yang Dia inginkan.) Benar. Orang-orang yang memahami hal ini dengan cara seperti itu memiliki nalar. Tuhan akan menangani semua ini sesuai yang Dia inginkan. Dia mungkin melihatnya secara sekilas, atau sama sekali tidak melihat atau memperhatikannya. Engkau hanya cukup peduli tentang memberikan persembahan ketika saatnya tiba, dan memberikan persembahan ketika engkau ingin melakukannya, berdasarkan tuntutan Tuhan, dan dengan memenuhi tanggung jawab manusia. Jangan memedulikan bagaimana Tuhan akan menangani dan memperlakukan hal-hal semacam itu. Singkatnya, sudah cukup jika apa yang kaulakukan berada dalam lingkup tuntutan Tuhan, sesuai dengan standar hati nurani, dan sesuai dengan tugas, kewajiban, dan tanggung jawab umat manusia. Mengenai bagaimana Tuhan menangani dan memperlakukan barang-barang ini, itu adalah urusan-Nya sendiri, dan manusia sama sekali tidak boleh menghakimi atau memutuskan tentang hal ini. Engkau semua telah melakukan kesalahan besar hanya dalam waktu beberapa detik. Aku bertanya kepada engkau semua apakah Tuhan menikmati barang-barang atau memakan makanan ini, dan engkau semua berkata bahwa Dia tidak memakan atau menikmatinya. Apa kesalahanmu? (Menghakimi Tuhan.) Kesalahanmu adalah terburu-buru membatasi dan menghakimi, dan ini membuktikan bahwa di dalam hatinya, manusia masih memiliki tuntutan terhadap Tuhan. Bagi mereka, adalah salah jika Tuhan menikmati barang-barang ini, dan salah jika Dia tidak menikmatinya. Jika Dia menikmatinya, mereka akan berkata, "Engkau berwujud roh, bukan berwujud daging yang fana. Mengapa Engkau menikmati barang-barang ini? Itu sangat tidak terbayangkan!" Jika Tuhan tidak memedulikan hal-hal ini, orang-orang kemudian akan berkata, "Kami telah berjerih payah untuk mempersembahkan hati kami kepada-Mu, sementara Engkau bahkan tidak melirik sedikit pun barang-barang yang kami persembahkan. Apakah Engkau benar-benar tidak menghargai kami sedikit pun?" Dalam hal ini, orang-orang juga memiliki pendapat. Ini artinya tidak bernalar. Singkatnya, sikap apa yang seharusnya dimiliki orang-orang terhadap hal ini? (Orang-orang harus mempersembahkan apa yang seharusnya kepada Tuhan, dan mengenai bagaimana Tuhan akan menangani hal-hal ini, orang-orang seharusnya sama sekali tidak boleh memiliki gagasan atau imajinasi tentang hal ini, dan mereka juga tidak boleh menghakiminya.) Ya—itulah nalar yang seharusnya orang-orang miliki. Ini ada kaitannya dengan barang-barang yang dipersembahkan kepada Tuhan, yang juga merupakan salah satu aspek persembahan. Barang-barang yang dipersembahkan kepada Tuhan mencakup berbagai macam barang yang luas. Ini karena orang-orang hidup di dunia materi, dan selain uang, emas, perak, dan permata, ada banyak lagi hal-hal yang mereka anggap cukup baik dan berharga, dan ketika beberapa orang berpikir tentang Tuhan atau mereka berpikir tentang kasih Tuhan, mereka bersedia untuk mempersembahkan apa yang mereka anggap berharga dan bernilai kepada Tuhan. Ketika barang-barang ini dipersembahkan kepada Tuhan, semua itu termasuk dalam cakupan persembahan; semua itu menjadi persembahan. Pada saat yang sama ketika semua itu menjadi persembahan, terserah kepada Tuhan untuk menanganinya—orang-orang kemudian tidak boleh menyentuhnya, semua itu tidak berada di bawah kendali manusia, dan bukan milik manusia. Begitu engkau mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan, itu adalah milik Tuhan, bukan terserah kepadamu untuk menanganinya, dan engkau tidak boleh lagi ikut campur dalam hal ini. Seperti apa pun cara Tuhan menangani atau memperlakukan barang tersebut, itu tidak ada kaitannya dengan manusia. Barang-barang yang dipersembahkan kepada Tuhan juga merupakan satu aspek persembahan. Ada orang-orang yang bertanya, "Apakah hanya uang dan emas, perak, dan permata yang berharga yang bisa menjadi persembahan? Katakanlah seseorang mempersembahkan sepasang sepatu, sepasang kaus kaki, atau sepasang sol sepatu kepada Tuhan—apakah itu termasuk persembahan?" Jika kita mengikuti definisi persembahan, sebesar atau sekecil apa pun, atau seberapa berharga atau murahnya pun sesuatu—sekalipun itu adalah sebuah pena atau selembar kertas—selama itu dipersembahkan kepada Tuhan, itu adalah persembahan.

Ada aspek persembahan lainnya: barang-barang yang dipersembahkan ke rumah Tuhan dan gereja. Barang-barang ini juga termasuk dalam kategori persembahan. Apa saja yang termasuk barang-barang tersebut? Sebagai contoh, katakanlah seseorang membeli sebuah mobil, dan setelah mengendarainya selama beberapa waktu, orang itu merasa mobil tersebut sudah agak usang, lalu dia membeli sebuah mobil baru dan mempersembahkan mobil yang lama ke rumah Tuhan agar rumah Tuhan dapat menggunakannya dalam pekerjaannya. Mobil itu kemudian menjadi milik rumah Tuhan. Barang-barang milik rumah Tuhan harus digolongkan sebagai persembahan—ini benar. Tentu saja, bukan hanya perangkat dan peralatan yang dipersembahkan kepada gereja dan rumah Tuhan, ada juga barang-barang lainnya; cakupan ini cukup besar. Ada orang-orang yang berkata, "Sepersepuluh yang orang persembahkan dari segala sesuatu yang mereka peroleh adalah persembahan, seperti halnya uang dan barang-barang yang dipersembahkan kepada Tuhan; kami tidak keberatan jika semua ini digolongkan sebagai persembahan, tidak ada yang perlu dipertanyakan tentang hal ini. Namun, mengapa barang-barang yang dipersembahkan kepada gereja dan rumah Tuhan juga termasuk dalam kategori persembahan? Itu tidak masuk akal." Katakan kepada-Ku, apakah masuk akal jika barang-barang tersebut digolongkan sebagai persembahan? (Ya.) Mengapa engkau semua mengatakan ya? (Gereja hanya ada karena Tuhan ada, jadi apa pun yang dipersembahkan kepada gereja juga merupakan persembahan.) Benar sekali. Gereja dan rumah Tuhan adalah milik Tuhan, hanya ada karena Tuhan ada; saudara-saudari memiliki tempat untuk berkumpul dan tinggal karena gereja ada, dan saudara-saudari memiliki tempat untuk menyelesaikan semua masalah mereka, serta saudara-saudari memiliki rumah yang sejati karena ada rumah Tuhan. Semua ini hanya ada atas dasar keberadaan Tuhan. Orang tidak mempersembahkan berbagai barang ke gereja dan ke rumah Tuhan karena orang-orang di gereja percaya kepada Tuhan dan adalah anggota rumah Tuhan—itu bukan alasan yang tepat. Karena Tuhan-lah orang-orang mempersembahkan berbagai barang ke gereja dan ke rumah Tuhan. Ini menandakan apa? Siapa yang akan dengan begitu saja mempersembahkan berbagai barang kepada gereja jika bukan karena Tuhan? Tanpa Tuhan, gereja tidak akan ada. Ketika orang memiliki barang-barang yang tidak mereka perlukan atau yang melebihi kebutuhan, mereka dapat membuangnya atau membiarkannya tidak terpakai; beberapa barang juga bisa dijual. Semua metode ini dapat digunakan untuk menangani barang-barang tersebut, bukan? Jadi, mengapa orang tidak menanganinya dengan cara tersebut—mengapa mereka malah mempersembahkannya kepada gereja? Bukankah itu karena Tuhan? (Ya.) Memang karena Tuhan itu ada maka orang mempersembahkan berbagai barang kepada gereja. Oleh karena itu, apa pun yang dipersembahkan kepada gereja atau rumah Tuhan harus digolongkan sebagai persembahan. Ada orang-orang yang berkata, "Aku mempersembahkan barang milikku ini kepada gereja." Mempersembahkan barang itu kepada gereja sama dengan mempersembahkannya kepada Tuhan, dan gereja serta rumah Tuhan memiliki otoritas penuh untuk menangani barang-barang semacam itu. Ketika engkau mempersembahkan sesuatu kepada gereja, barang itu tidak ada hubungan apa pun denganmu. Rumah Tuhan dan gereja akan mendistribusikan, menggunakan, dan menangani barang-barang ini secara bijaksana berdasarkan prinsip-prinsip yang ditetapkan oleh rumah Tuhan. Jadi, dari manakah prinsip-prinsip ini berasal? Dari Tuhan. Pada dasarnya, prinsip penggunaan barang-barang ini adalah bahwa barang-barang ini harus digunakan untuk rencana pengelolaan Tuhan dan untuk menyebarkan pekerjaan penginjilan Tuhan. Barang-barang ini bukan untuk digunakan secara eksklusif oleh individu mana pun, apalagi oleh kelompok orang mana pun, melainkan harus digunakan untuk pekerjaan menyebarkan Injil dan berbagai bidang pekerjaan rumah Tuhan. Oleh karena itu, tak seorang pun memiliki hak istimewa untuk menggunakan barang-barang ini; satu-satunya prinsip dan dasar untuk penggunaan dan pendistribusiannya adalah dengan melakukannya berdasarkan prinsip-prinsip yang dituntut oleh rumah Tuhan. Ini adalah hal yang wajar dan tepat.

Inilah ketiga bagian dari definisi persembahan, yang masing-masing merupakan definisi dari satu aspek persembahan, dan satu aspek cakupannya. Sekarang engkau sudah jelas tentang apa yang dimaksud dengan persembahan, bukan? (Ya.) Sebelumnya, ada orang-orang yang berkata, "Barang ini bukan uang, dan orang yang mempersembahkannya tidak mengatakan bahwa barang tersebut adalah untuk Tuhan. Mereka hanya mengatakan bahwa mereka mempersembahkannya. Jadi, barang ini bukan untuk digunakan rumah Tuhan, apalagi diberikan kepada Tuhan." Jadi, mereka tidak mencatatnya, dan mereka menggunakan barang tersebut secara diam-diam sekehendak hati mereka. Apakah itu masuk akal? (Tidak.) Yang mereka katakan itu sendiri tidak masuk akal; mereka juga berkata, "Persembahan kepada gereja dan rumah Tuhan adalah milik bersama—siapa pun boleh menggunakannya," yang jelas tidak masuk akal. Justru karena kebanyakan orang keliru dan tidak jelas tentang definisi dan konsep persembahan, beberapa penjahat hina dan beberapa orang yang berhati tamak serta memiliki keinginan yang tidak sepatutnya memanfaatkan situasi dan berpikir untuk merampas barang-barang tersebut. Sekarang setelah engkau jelas memahami definisi dan konsep yang akurat tentang persembahan, engkau semua akan memiliki kemampuan untuk membedakan saat menghadapi peristiwa dan orang-orang semacam itu di kemudian hari.

Tanggung Jawab Para Pemimpin dan Pekerja dalam Hal Menjaga Persembahan

I. Menjaga Persembahan dengan Benar

Selanjutnya, kita akan melihat apa tepatnya tanggung jawab yang para pemimpin dan pekerja harus penuhi dalam hal menjaga persembahan. Mengenai persembahan, para pemimpin dan pekerja harus terlebih dahulu memahami apa yang dimaksud dengan persembahan. Ketika orang-orang mempersembahkan sepersepuluh dari apa yang mereka peroleh, itu adalah persembahan; ketika mereka dengan jelas menyatakan bahwa mereka mempersembahkan uang atau barang kepada Tuhan, itu adalah persembahan; ketika mereka dengan jelas menyatakan bahwa mereka mempersembahkan sebuah barang kepada gereja dan rumah Tuhan, itu adalah persembahan. Begitu mereka memahami definisi dan konsep persembahan, para pemimpin dan pekerja harus memiliki pemahaman yang pasti tentang persembahan dan mengelola persembahan yang orang-orang berikan, dan melakukan pemeriksaan yang semestinya dalam hal ini. Pertama, mereka harus menemukan orang-orang yang dapat diandalkan yang kemanusiaannya memenuhi standar untuk bertindak sebagai pengurus untuk secara sistematis mencatat persembahan dan menjaga persembahan. Ini adalah tugas pertama dalam pekerjaan yang para pemimpin dan pekerja harus lakukan. Para pengurus persembahan ini mungkin memiliki kualitas yang biasa-biasa saja dan tidak mampu menjadi pemimpin atau pekerja, tetapi mereka akan dapat diandalkan, dan mereka tidak akan menggelapkan apa pun, selama dalam penjagaan mereka, persembahan tidak akan hilang atau tercampur, dan semuanya akan dijaga dengan baik. Ada aturan-aturan dalam pengaturan kerja untuk hal ini. Ini haruslah seseorang yang dapat diandalkan yang kemanusiaannya memenuhi standar. Ketika orang-orang yang kemanusiaannya buruk melihat sesuatu yang bagus, mereka menginginkannya, dan mereka selalu mencari kesempatan untuk mengambilnya bagi diri mereka sendiri. Apa pun yang terjadi, mereka selalu berusaha untuk mengambil keuntungan. Orang-orang semacam itu tidak boleh digunakan. Seseorang yang kemanusiaannya memenuhi standar setidaknya harus orang yang jujur dan dipercaya orang-orang. Jika ditugaskan untuk menjaga persembahan atau mengelola harta milik gereja, mereka akan melakukannya dengan baik, teliti, tekun, dan dengan sangat hati-hati. Mereka memiliki hati yang takut akan Tuhan dan tidak akan menyalahgunakan barang-barang ini, meminjamkannya kepada orang lain, dan sebagainya. Singkatnya, engkau dapat yakin bahwa ketika engkau telah menyerahkan persembahan tersebut ke tangan mereka, tidak ada satu sen pun yang akan hilang dan tidak ada satu barang pun yang akan hilang. Orang seperti ini harus ditemukan. Selain itu, rumah Tuhan memiliki sebuah aturan bahwa tidak hanya satu orang semacam itu yang harus ditemukan; paling bagus dua atau tiga orang—ada yang mencatat dan ada yang menjaga. Begitu orang-orang ini ditemukan, persembahan harus dikategorikan, dan catatan yang sistematis harus dibuat tentang siapa yang menjaga kategori barang apa, dan berapa banyak yang akan mereka jaga. Begitu orang yang sesuai ditemukan dan barang-barang telah dijaga dan dicatat dalam kategori, apakah itu sudah selesai? (Belum.) Lalu, apa yang harus dilakukan selanjutnya? Catatan pemasukan dan pengeluaran harus diperiksa setiap tiga hingga lima bulan untuk melihat apakah semuanya sudah benar—dengan kata lain, apakah pencatatnya telah akurat dengan pencatatannya, apakah ada yang terlewatkan ketika itu dicatatkan, apakah jumlah totalnya sesuai dengan catatan pemasukan dan pengeluaran, dan sebagainya. Pekerjaan akuntansi semacam itu harus dilakukan dengan teliti. Para pemimpin dan pekerja yang tidak begitu ahli dalam pekerjaan semacam itu harus mengatur seseorang yang cukup ahli untuk melaksanakannya, kemudian melakukan pemeriksaan berkala dan mendengarkan laporan orang itu. Singkatnya, entah mereka sendiri memahami pekerjaan akuntansi dan perencanaan keseluruhan atau tidak, mereka tidak boleh meninggalkan pekerjaan menjaga persembahan tanpa pengawasan, dan mereka juga tidak boleh mengabaikannya serta sama sekali tidak menanyakannya. Sebaliknya, mereka harus melakukan pemeriksaan berkala, menanyakan bagaimana catatan yang telah diperiksa dan apakah semuanya sesuai, serta kemudian memeriksa secara acak beberapa catatan pengeluaran untuk melihat seperti apa keadaan pengeluaran baru-baru ini, apakah ada pemborosan atau tidak, bagaimana kondisi pembukuan, dan apakah pemasukan sesuai dengan pengeluaran atau tidak. Para pemimpin dan pekerja harus memiliki pemahaman yang kuat tentang semua keadaan ini. Ini adalah salah satu tugas yang termasuk dalam menjaga persembahan. Menurut engkau semua, apakah tugas ini mudah? Apakah ada tingkat tantangannya? Beberapa pemimpin dan pekerja berkata, "Aku tidak suka angka; aku sakit kepala jika melihatnya." Jika demikian, carilah orang yang sesuai untuk membantumu dengan pemeriksaan dan pengawasan; mintalah mereka membantumu memeriksa hal-hal ini. Engkau mungkin tidak suka atau tidak mahir dalam pekerjaan ini, tetapi jika engkau tahu cara menggunakan orang dan menggunakan orang yang benar untuk melakukannya, engkau akan tetap dapat melakukan pekerjaan ini dengan baik. Gunakan orang yang sesuai untuk melakukannya dan engkau hanya cukup mendengarkan laporan mereka. Cara itu pun bisa digunakan. Peganglah prinsip ini: Periksa dan hitunglah secara berkala semua harta milik yang dijaga dengan orang yang bertanggung jawab atas pekerjaan itu, lalu ajukan beberapa pertanyaan tentang pengeluaran-pengeluaran penting—dapatkah engkau melakukannya? (Ya.) Mengapa para pemimpin dan pekerja harus melakukan pekerjaan ini? Karena inilah artinya melindungi persembahan—itu adalah tanggung jawabmu.

Persembahan yang manusia berikan kepada Tuhan dimaksudkan untuk dinikmati Tuhan, tetapi apakah Dia menggunakannya? Apakah uang dan barang-barang ini berguna bagi Tuhan? Bukankah persembahan bagi Tuhan ini dimaksudkan untuk digunakan bagi pekerjaan menyebarkan Injil? Bukankah persembahan ini dimaksudkan untuk membiayai semua pekerjaan rumah Tuhan? Karena persembahan ini ada kaitannya dengan pekerjaan rumah Tuhan, baik pengelolaan maupun pengeluaran persembahan sama-sama melibatkan tanggung jawab para pemimpin dan pekerja. Siapa pun yang mempersembahkan uang ini atau dari mana pun barang-barang ini berasal, selama semuanya itu adalah milik rumah Tuhan, engkau harus mengelolanya dengan baik, dan engkau harus menindaklanjuti pekerjaan ini, memeriksanya, dan memperhatikannya. Jika persembahan yang diberikan kepada Tuhan tidak dapat digunakan dengan benar untuk pekerjaan menyebarkan Injil Tuhan, tetapi malah dengan sengaja diboroskan dan dihambur-hamburkan, atau bahkan dirampas atau diambil alih oleh orang-orang jahat, apakah itu pantas? Bukankah itu adalah kelalaian para pemimpin dan pekerja terhadap tanggung jawab? (Benar.) Itu adalah kelalaian mereka terhadap tanggung jawab. Jadi, para pemimpin dan pekerja harus melakukan pekerjaan ini. Itu adalah kewajiban mereka. Mengelola persembahan dengan baik agar dapat digunakan dengan benar untuk pekerjaan menyebarkan Injil dan pekerjaan apa pun yang berhubungan dengan pengelolaan Tuhan, merupakan tanggung jawab para pemimpin dan pekerja, dan itu tidak boleh diabaikan. Saudara-saudari dengan bersusah payah berhasil menyimpan sedikit uang untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Seandainya, karena para pemimpin dan pekerja lalai dan lengah dalam tugas mereka, uang ini jatuh ke tangan orang-orang jahat—semuanya diboroskan dan dihambur-hamburkan dengan sembrono oleh orang-orang jahat, atau bahkan dirampas oleh mereka. Akibatnya, para pemimpin dan pekerja tidak memiliki cukup uang untuk biaya perjalanan atau untuk biaya hidup, dan bahkan tidak ada cukup uang ketika tiba waktunya untuk mencetak buku-buku firman Tuhan atau membeli perangkat dan peralatan yang diperlukan. Bukankah ini menunda pekerjaan? Ketika uang yang dipersembahkan oleh saudara-saudari diambil alih oleh orang-orang jahat dan bukan digunakan dengan semestinya, dan uang perlu digunakan untuk pekerjaan rumah Tuhan, tetapi tidak cukup, bukankah pekerjaan itu kemudian telah terhambat? Bukankah para pemimpin dan pekerja telah gagal memenuhi tanggung jawab mereka? (Ya.) Karena para pemimpin dan pekerja telah gagal memenuhi tanggung jawab mereka dan tidak mengelola persembahan dengan baik, serta belum menjadi pengurus yang baik atau berusaha dengan segenap hati memenuhi tanggung jawab mereka dalam hal pekerjaan ini, kerugian telah terjadi pada persembahan, dan beberapa pekerjaan gereja telah menjadi lumpuh atau terhenti untuk sementara waktu. Bukankah para pemimpin dan pekerja memikul tanggung jawab yang besar untuk hal ini? Ini adalah kejahatan. Engkau mungkin tidak merampas, memboroskan, atau menghambur-hamburkan persembahan ini, dan engkau mungkin tidak memasukkannya ke dalam kantongmu sendiri, tetapi situasi ini terjadi karena engkau melalaikan dan mengabaikan tanggung jawabmu. Bukankah engkau seharusnya memikul tanggung jawab untuk hal ini? (Ya.) Ini adalah tanggung jawab yang sangat besar untuk dipikul!

II. Memeriksa Catatan Keuangan

Dalam pekerjaan mereka, selain melaksanakan berbagai pengaturan kerja dengan baik dan mampu mempersekutukan kebenaran untuk menyelesaikan masalah, para pemimpin dan pekerja harus menjaga persembahan dengan baik. Mereka harus menemukan orang-orang yang sesuai, berdasarkan tuntutan rumah Tuhan, untuk melakukan pengelolaan persembahan secara sistematis, dan secara berkala, mereka harus memeriksa catatan keuangan. Ada orang-orang yang bertanya, "Bagaimana aku bisa memeriksanya jika keadaan tidak memungkinkan?" "Keadaan tidak memungkinkan"—apakah itu alasan untuk tidak memeriksa catatan keuangan? Engkau dapat memeriksanya sekalipun keadaan tidak memungkinkan; jika engkau tidak dapat pergi sendiri, engkau harus mengirim orang yang dapat diandalkan dan sesuai untuk melakukan pengawasan, serta melihat apakah pengurusnya sedang menjaga persembahan secara benar, apakah ada perbedaan dalam catatan-catatan itu atau tidak, apakah pengurus tersebut dapat diandalkan atau tidak, bagaimana keadaan mereka baru-baru ini dan apakah mereka telah bersikap negatif, apakah mereka merasa takut ketika menghadapi situasi tertentu, dan apakah ada kemungkinan pengkhianatan atau tidak. Misalkan engkau mendengar bahwa keluarga mereka sedang kekurangan uang—adakah kemungkinan mereka akan menyalahgunakan persembahan? Melalui persekutuan dan menyelidiki situasi, engkau mungkin melihat bahwa pengurusnya cukup dapat diandalkan, bahwa dia tahu persembahan tidak boleh disentuh, dan bahwa meskipun keluarganya sedang berkekurangan, dia tidak pernah menyentuh persembahan, dan melalui pengamatan yang cukup lama, dapat dibuktikan bahwa pengurus tersebut sepenuhnya dapat diandalkan. Selain itu, harus diperiksa apakah lingkungan sekitar rumah tempat persembahan disimpan berbahaya atau tidak, adakah saudara-saudari yang ditangkap oleh si naga merah yang sangat besar di sana, apakah pengurus persembahannya pernah menghadapi bahaya apa pun, apakah persembahan disimpan di tempat yang sesuai, dan apakah harus dipindahkan atau tidak. Lingkungan dan keadaan rumah pengurusnya harus sering diperiksa, agar tindakan dan rencana yang tepat dapat dibuat kapan saja. Saat engkau melakukan hal ini, engkau juga harus menanyakan secara berkala tentang tim mana saja yang belum lama ini memperoleh perangkat baru, dan bagaimana perangkat tersebut diperoleh. Jika perangkat itu dibeli, engkau harus bertanya apakah ada yang meninjau pengajuannya dan menyetujuinya sebelum barang itu dibeli, apakah barang itu dibeli dengan harga yang tinggi atau harga pasar yang wajar, apakah telah ada penggunaan uang yang tidak perlu, dan sebagainya. Katakanlah tidak ditemukan adanya masalah dengan pembukuan melalui pemeriksaan dan peninjauan catatan, tetapi ditemukan bahwa beberapa pembeli telah sering menghambur-hamburkan persembahan secara berlebihan. Semahal apa pun sesuatu, mereka akan membelinya; selain itu, ketika mereka tahu betul bahwa suatu produk akan didiskon, bahwa harganya akan turun, mereka tidak menunggu, dan malah akan segera membelinya, dan mereka akan membeli barang-barang bagus, barang-barang yang mewah dan mahal, model-model terbaru. Para pembeli ini menggunakan uang tanpa prinsip dan secara berlebihan, dan mereka menggunakan persembahan untuk membeli barang-barang bagi rumah Tuhan seolah-olah mereka sedang melakukan sesuatu untuk musuh mereka. Mereka tidak pernah membeli barang-barang berguna yang sesuai dengan prinsip-prinsip, tetapi hanya menemukan toko mana saja dan langsung membeli barang-barang tanpa melihat harga dan kualitasnya. Begitu dibawa pulang, barang-barang itu rusak dalam beberapa hari setelah digunakan, dan para pembeli ini tidak memperbaikinya saat barang-barang tersebut rusak—mereka membeli barang yang baru. Jika saat memeriksa catatan keuangan dan meninjau pengeluaran, ditemukan bahwa ada orang-orang yang telah sangat memboroskan dan menghambur-hamburkan persembahan, bagaimana ini akan ditangani? Haruskah orang-orang itu diberi peringatan disiplin, atau haruskah mereka diminta untuk menggantinya? Keduanya tentu saja perlu. Jika ditemukan bahwa hati mereka tidak baik, bahwa mereka hanyalah orang-orang yang tidak percaya, pengikut yang bukan orang percaya, bahwa mereka adalah setan-setan, maka masalahnya tidak dapat diselesaikan hanya dengan memberi mereka peringatan disiplin atau memangkas mereka. Seperti apa pun kebenaran dipersekutukan, mereka tidak akan menerimanya; seperti apa pun mereka dipangkas, mereka tidak akan menganggapnya serius. Jika mereka diminta untuk menggantinya, mereka akan menggantinya, tetapi mereka akan terus bertindak dengan cara yang sama di kemudian hari, dan mereka tidak akan berubah. Mereka pasti tidak akan bertindak sesuai dengan tuntutan rumah Tuhan; sebaliknya, mereka akan bertindak dengan semena-mena, ceroboh, dan tidak berprinsip. Bagaimana orang seperti ini harus ditangani? Dapatkah mereka digunakan di kemudian hari? Mereka seharusnya tidak digunakan; jika mereka digunakan, itu berarti para pemimpin dan pekerja adalah orang-orang bodoh—mereka benar-benar sangat bodoh! Ketika pengikut yang bukan orang percaya semacam itu ditemukan, mereka harus segera diberhentikan, disingkirkan, dan dikeluarkan dari gereja. Mereka bahkan tidak memenuhi syarat untuk melakukan pelayanan—mereka tidak layak untuk melakukannya!

Ketika para pemimpin dan pekerja memeriksa catatan keuangan dan pengeluaran, mereka mungkin bukan hanya menemukan kasus-kasus pemborosan dan penghamburan atau beberapa pengeluaran yang tidak masuk akal—melainkan mereka mungkin juga mendapati bahwa beberapa orang yang melakukan pekerjaan ini berkarakter rendah, bahwa mereka hina dan egois, bahwa mereka telah menyebabkan kerugian pada pekerjaan gereja. Jika engkau menemukan situasi seperti ini, bagaimana engkau harus mengatasinya? Mudah untuk mengatasinya: Engkau harus menangani dan menyelesaikannya pada saat itu juga—berhentikan orang-orang itu, lalu pilihlah orang yang sesuai untuk melakukan pekerjaan itu. Orang yang sesuai berarti mereka yang kemanusiaannya memenuhi standar, yang berhati nurani dan bernalar, serta yang mampu menangani segala sesuatunya berdasarkan prinsip-prinsip rumah Tuhan. Ketika mereka membeli barang untuk rumah Tuhan, mereka akan membeli barang-barang murah yang juga relatif berguna dan tahan lama, barang-barang yang penting untuk dibeli. Mereka tidak selalu bertekad untuk membeli barang-barang murah, tetapi mereka juga tidak merasa perlu untuk membeli barang-barang yang paling mahal; dalam kelompok produk yang serupa, mereka akan memilih produk yang memiliki ulasan dan reputasi yang cukup baik, serta harga yang sesuai, dan tentu saja, jika garansinya lebih lama, itu jauh lebih baik. Orang seperti inilah yang harus kautemukan untuk membeli barang bagi rumah Tuhan. Hati mereka harus baik, dan mereka harus memikirkan rumah Tuhan dalam tindakan mereka, dan memikirkan semuanya dengan matang; mereka juga harus menangani segala sesuatu berdasarkan tuntutan rumah Tuhan, bertindak dan berperilaku dengan baik, tanpa dalih dan dengan kejelasan. Begitu engkau menemukan orang semacam itu, mintalah mereka untuk menangani beberapa hal untuk rumah Tuhan dan amatilah mereka. Jika mereka tampaknya relatif sesuai, mereka dapat digunakan. Namun, setelah semuanya diatur, itu belum selesai—nantinya, engkau harus bertemu dengan mereka, bersekutu dengan mereka, dan memeriksa pekerjaan mereka. Ada orang-orang yang bertanya, "Apakah itu karena mereka tidak dapat dipercaya?" Hal itu tidak sepenuhnya karena tidak adanya kepercayaan—terkadang, sekalipun mereka dapat dipercaya, pemeriksaan tetap harus dilakukan. Apa yang harus diperiksa? Lihatlah apakah ada penyimpangan dalam penerapan mereka dalam situasi ketika mereka belum memahami prinsip-prinsip atau apakah mereka memiliki pemahaman yang menyimpang. Penting untuk membantu mereka dengan melakukan pemeriksaan. Sebagai contoh, misalnya mereka berkata ada barang yang sangat populer di pasaran, tetapi mereka tidak tahu apakah rumah Tuhan membutuhkannya atau tidak, dan mereka khawatir jika tidak membelinya sekarang, barang itu mungkin tidak dijual lagi di kemudian hari. Mereka bertanya kepadamu bagaimana cara menangani hal ini. Jika engkau tidak tahu, engkau harus meminta mereka untuk bertanya kepada seseorang yang terlibat dalam pekerjaan profesional itu. Orang itu kemudian mengatakan bahwa barang tersebut adalah barang baru yang sering kali tidak akan berguna, dan bahwa tidak perlu mengeluarkan uang untuk membelinya. Dengan pendapat profesional sebagai acuan, diputuskan bahwa barang tersebut tidak perlu dibeli, bahwa membelinya hanya akan menjadi pemborosan, dan tidak membelinya sekarang tidak akan rugi. Para pemimpin dan pekerja harus melakukan pekerjaan mereka sampai sejauh ini. Sepenting atau sesepele apa pun sesuatu, jika mereka dapat melihatnya, memikirkannya, atau mengetahuinya, mereka harus menindaklanjutinya dan memeriksanya secara merata, dan melakukannya dengan cara yang telah ditentukan berdasarkan tuntutan rumah Tuhan. Inilah yang dimaksud dengan memenuhi tanggung jawab.

Ada orang-orang yang sering mengajukan permohonan untuk membeli beberapa barang, meminta rumah Tuhan untuk membeli produk-produk ini, dan melalui peninjauan dan pemeriksaan yang saksama, biasanya didapati bahwa hanya satu dari lima barang yang diminta yang perlu dibeli, dan tidak perlu membeli empat barang lainnya. Apa yang harus dilakukan dalam kasus-kasus seperti itu? Barang-barang yang mereka ajukan harus ditinjau dan dipertimbangkan secara ketat, tidak boleh dibeli dengan tergesa-gesa. Barang-barang tersebut tidak boleh dibeli hanya karena orang-orang itu berkata bahwa pekerjaan mereka membutuhkannya—orang-orang itu tidak boleh dibiarkan mengajukan permohonan barang-barang sekehendak hati mereka dengan dalih untuk pekerjaan mereka. Apa pun dalih yang digunakan orang-orang ini, dan betapa pun mendesaknya, para pemimpin dan pekerja atau orang-orang yang bertanggung jawab untuk mengelola persembahan benar-benar harus tetap tenang. Mereka harus dengan teliti memeriksa dan mengecek barang-barang tersebut; tidak boleh ada kesalahan sedikit pun. Barang-barang yang benar-benar harus dibeli harus diteliti dan disetujui oleh para pemimpin, dan jika membelinya bukan keharusan, barang-barang itu harus ditolak, tidak boleh disetujui. Jika para pemimpin dan pekerja melakukan pekerjaan ini dengan cermat, spesifik, dan mendalam, itu akan mengurangi terjadinya persembahan yang diboroskan dan dihamburkan, dan lebih dari itu, tentu saja, itu akan mengurangi pengeluaran yang tidak masuk akal. Melakukan pekerjaan ini bukan hanya sekadar melihat dengan saksama apa saja pemasukan dan pengeluaran yang tercatat dalam pembukuan, melihat angka-angka yang tercantum di sana. Itu bukan yang utama. Yang terpenting adalah hatimu harus baik, dan engkau memperlakukan setiap pengeluaran dan setiap catatan seolah-olah itu adalah catatan dalam rekening bankmu sendiri. Dengan demikian, engkau akan melihatnya secara terperinci, dan engkau akan mampu mengingatnya, serta mampu memahaminya—dan jika ada kesalahan atau masalah, engkau akan dapat mengetahuinya. Jika engkau memandang catatan keuangan itu sebagai milik orang lain atau milik umum, engkau pasti akan memeriksa dengan mata dan hati yang buta, tidak mampu menemukan masalah apa pun. Ada orang-orang yang menabung sedikit uang di bank, dan setiap bulan, mereka membaca laporan transaksinya dan melihat bunganya, lalu mereka memeriksa catatan keuangan tersebut—mereka memeriksa berapa banyak pengeluaran mereka setiap bulan, berapa banyak penarikan yang mereka lakukan, dan berapa banyak yang mereka setorkan. Setiap catatan tercatat dalam pikiran mereka, mereka hafal luar kepala setiap angka, dan mereka mengingatnya dengan jelas dalam pikiran mereka. Jika ada suatu masalah, mereka dapat melihatnya dalam sekilas pandang, dan mereka tidak melewatkan kesalahan sekecil apa pun. Orang-orang dapat sangat berhati-hati dengan uang mereka sendiri, tetapi apakah mereka menunjukkan perhatian yang sama terhadap persembahan milik Tuhan? Menurut pendapat-Ku, 99,9% orang tidak melakukannya, jadi ketika persembahan milik Tuhan diserahkan kepada orang-orang untuk dijaga, sering kali terjadi kasus pemborosan dan penghamburan serta berbagai jenis pengeluaran yang tidak masuk akal, tetapi tak seorang pun merasa itu adalah masalah, dan orang-orang yang bertanggung jawab atas pekerjaan ini juga tidak pernah merasa bersalah. Jangankan kehilangan seratus dolar—sekalipun mereka kehilangan seribu, sepuluh ribu, mereka tidak merasakan teguran, rasa bersalah, atau tuduhan dalam hati. Mengapa orang begitu bingung jika menyangkut hal ini? Bukankah ini menunjukkan bahwa hati kebanyakan orang tidak baik? Mengapa engkau begitu jelas tentang berapa banyak uang yang kausimpan di bank? Ketika uang milik rumah Tuhan disimpan sementara di rekeningmu, untuk kaujaga, engkau tidak menganggapnya serius atau peduli tentang hal itu. Mentalitas apakah ini? Engkau bahkan tidak setia dalam hal menjaga persembahan milik Tuhan, jadi apakah engkau masih orang yang percaya kepada Tuhan? Sikap orang terhadap persembahan adalah bukti dari sikap mereka terhadap Tuhan—sikap mereka terhadap persembahan sangat menunjukkan yang sebenarnya. Orang-orang bersikap acuh tak acuh terhadap persembahan dan mereka tidak memedulikannya. Mereka tidak bersedih jika kehilangan persembahan; mereka tidak bertanggung jawab, dan mereka tidak peduli. Jadi, bukankah mereka memiliki sikap yang sama terhadap Tuhan? (Ya.) Adakah orang yang berkata, "Persembahan milik Tuhan adalah milik-Nya. Selama aku tidak mengingini atau merampasnya, semuanya baik-baik saja. Siapa pun yang merampasnya akan dihukum—itu adalah urusan mereka, dan mereka pantas dihukum. Itu tidak ada hubungannya denganku. Aku tidak punya kewajiban untuk memedulikannya"? Apakah pernyataan ini benar? Jelas tidak. Lalu, di mana salahnya? (Hati mereka tidak benar; mereka tidak membela pekerjaan rumah Tuhan, dan mereka tidak melindungi persembahan.) Seperti apakah kemanusiaan orang semacam ini? (Egois dan hina. Mereka sangat peduli dengan barang-barang milik mereka sendiri dan melindunginya dengan sangat baik, tetapi mereka tidak peduli atau bertanya tentang persembahan milik Tuhan. Kemanusiaan orang-orang semacam itu sangat rendah kualitasnya.) Terutama, egois dan hina. Bukankah orang-orang semacam ini tidak berperasaan? Mereka egois dan hina, tidak berperasaan, serta tidak berperikemanusiaan. Dapatkah orang-orang semacam itu mengasihi Tuhan? Dapatkah mereka tunduk kepada-Nya? Dapatkah mereka memiliki hati yang takut akan Tuhan? (Tidak.) Lalu, untuk apa orang-orang semacam itu mengikuti Tuhan? (Untuk memperoleh berkat.) Bukankah ini berarti tidak tahu malu? Cara orang memperlakukan persembahan milik Tuhan adalah yang paling menyingkapkan natur mereka. Orang-orang sebenarnya tidak mampu melakukan apa pun untuk Tuhan. Sekalipun mereka mampu melakukan sedikit tugas, itu sangat terbatas. Jika engkau bahkan tidak dapat memperlakukan persembahan—yang adalah milik Tuhan—dengan benar, atau menjaganya dengan baik, jika engkau memiliki pandangan dan sikap seperti itu, bukankah engkau adalah seseorang yang paling tidak memiliki kemanusiaan? Bukankah mengatakan bahwa engkau mengasihi Tuhan adalah bohong? Bukankah itu menipu? Itu sangat menipu! Orang semacam ini sama sekali tidak memiliki kemanusiaan—apakah Tuhan akan menyelamatkan orang hina semacam itu?

III. Menindaklanjuti, Menyelidiki, dan Memeriksa Segala Jenis Pengeluaran, Melakukan Pemeriksaan yang Ketat

Agar para pemimpin dan pekerja dapat menjadi pengurus rumah Tuhan yang baik, pekerjaan pertama yang harus mereka lakukan dengan baik adalah mengelola persembahan dengan benar. Selain menjaga persembahan dengan benar, mereka harus melakukan pemeriksaan yang ketat dalam hal pengeluaran persembahan. Apa yang dimaksud dengan melakukan pemeriksaan yang ketat? Terutama, itu berarti sama sekali menyingkirkan pengeluaran yang tidak masuk akal, dan berusaha membuat setiap pengeluaran persembahan menjadi masuk akal dan efektif, daripada persembahan itu diboroskan dan dihambur-hamburkan. Jika didapati kasus penghamburan atau pemborosan, para pemimpin dan pekerja bukan hanya harus segera menghentikannya, melainkan juga meminta pertanggungjawaban mereka, dan juga menemukan orang yang sesuai untuk melakukan pekerjaan itu. Para pemimpin dan pekerja harus tahu ke mana saja tepatnya setiap pengeluaran digunakan dan untuk apa saja dalam lingkup pengelolaan mereka—mereka harus meninjau hal-hal ini secara ketat. Contohnya, jika sebuah ruangan kekurangan kipas angin, mereka harus memberikan batasan tentang siapa yang akan membelinya, berapa banyak uang yang akan dikeluarkan untuk itu, dan fungsi apa yang paling cocok untuk kipas angin tersebut. Beberapa pemimpin dan pekerja berkata, "Kami sedang sibuk; kami tidak punya waktu untuk pergi bersama mereka untuk membelinya." Engkau tidak diminta untuk pergi dan membelinya sendiri. Engkau harus mencari orang yang baik, orang yang berkualitas untuk menangani tugas ini. Jangan menyuruh orang bodoh atau orang jahat yang hatinya tidak baik untuk membelinya. Orang-orang yang berkemanusiaan normal tahu bahwa mereka harus membeli barang dengan fungsi yang tepat dan harga yang sesuai—fungsi yang berlebihan tidak berguna, dan harganya jauh lebih mahal. Sebaliknya, para pencari kesenangan yang hatinya tidak baik, membeli barang-barang yang tidak berguna yang memiliki berbagai macam fungsi, yang harganya lebih mahal. Para pembeli harus bernalar; mereka harus memahami prinsip-prinsipnya. Barang-barang yang dibeli harus berguna tanpa menghabiskan banyak biaya, dan dianggap cocok oleh semua orang. Jika engkau menyuruh orang yang tidak bertanggung jawab yang suka menghabiskan dan menghamburkan uang secara serampangan untuk melakukan pembelian ini, mereka hanya akan membayar harga yang mahal untuk AC model terbaru, sepuluh kali lipat dari biaya membeli kipas angin. Mereka menganggap bahwa meskipun harganya sedikit lebih mahal, orang-orang harus menjadi prioritas utama kita—bahwa AC tidak hanya menyaring udara, tetapi juga dapat menyesuaikan kelembaban dan suhu, serta memiliki berbagai pengatur waktu dan pengaturan. Bukankah itu pemborosan? Ini adalah penghamburan dan pemborosan. Orang itu hanya ingin bersenang-senang, dan dia menghabiskan uang untuk kesenangan, untuk pamer, bukan untuk membeli barang-barang yang berguna. Orang-orang semacam itu memiliki hati yang tidak baik. Jika mereka membeli barang untuk diri mereka sendiri, mereka menemukan cara untuk menghemat uang, mencari barang-barang diskon, dan berusaha menawar. Mereka menghemat uang sebisa mungkin—makin murah makin baik. Namun, ketika mereka membeli barang untuk rumah Tuhan, berapa banyak pun uang yang mereka keluarkan, mereka tidak peduli. Mereka bahkan tidak mau repot untuk melihat barang-barang murah; mereka hanya ingin membeli barang-barang yang mahal, berkualitas tinggi, dan canggih. Ini berarti hati mereka tidak baik. Dapatkah orang-orang yang hatinya tidak baik digunakan? (Tidak.) Ketika menangani tugas-tugas untuk rumah Tuhan, orang-orang yang hatinya tidak baik hanya melakukan hal-hal yang tidak masuk akal dan tidak berguna. Mereka tidak menggunakan uang untuk hal-hal yang benar; mereka hanya menghamburkan dan memboroskan persembahan, serta setiap pengeluaran mereka tidak masuk akal.

Ada orang-orang lain yang memiliki pola pikir kemiskinan dan mereka menganggap bahwa mereka harus membeli barang-barang termurah saat membeli barang untuk rumah Tuhan, makin murah makin baik. Mereka menganggap bahwa ini artinya menghemat uang milik rumah Tuhan, jadi mereka hanya membeli barang-barang yang sudah ketinggalan zaman dan didiskon. Akibatnya, mereka membeli mesin-mesin termurah yang jelek. Mesin-mesin ini rusak segera setelah digunakan, dan tidak dapat diperbaiki lagi serta tidak dapat digunakan. Jadi, perlu membeli mesin lain yang kualitasnya memadai, dan yang dapat digunakan secara normal, sehingga lebih banyak uang yang dikeluarkan. Bukankah ini bodoh? Orang-orang semacam itu disebut pelit, dan memiliki pola pikir kemiskinan. Mereka selalu ingin menghemat uang milik rumah Tuhan, dan apa hasil dari semua penghematan mereka? Itu berubah menjadi pemborosan, menjadi penghamburan uang. Mereka bahkan berdalih: "Aku tidak sengaja melakukannya. Aku berniat baik—aku hanya berusaha menghemat uang milik rumah Tuhan—aku tidak ingin menggunakan uang dengan serampangan." Apakah niat mereka itu ada gunanya? Sebenarnya, mereka sedang menggunakan uang dengan serampangan, mereka menyebabkan pemborosan, dan ini memang menghabiskan uang dan tenaga. Orang-orang semacam itu juga tidak boleh digunakan—mereka bodoh, mereka tidak cukup cerdas. Singkatnya, orang-orang yang hatinya tidak baik tidak boleh digunakan untuk membeli barang bagi rumah Tuhan, dan orang bodoh pun tidak boleh. Mereka yang harus digunakan adalah orang-orang cerdas yang memiliki sejumlah pengalaman berbelanja dan kualitas tertentu, serta yang memandang segala sesuatu dengan cara yang tidak menyimpang. Apa pun yang dibeli, itu harus berguna, dan harganya harus masuk akal, dan sekalipun rusak, itu harus mudah diperbaiki, serta harus mudah untuk membeli suku cadangnya. Itulah artinya masuk akal. Setelah beberapa orang membeli sesuatu, mereka melihat bahwa barang itu memiliki waktu pengembalian satu bulan dan bergegas untuk mencobanya, dan mereka mendapatkan hasilnya dalam waktu satu bulan. Jika barang itu sedikit cacat dan tidak berfungsi dengan baik, mereka segera mengembalikannya, dan memilih barang lainnya agar mengurangi kerugian. Orang-orang ini memiliki kemanusiaan yang relatif baik. Orang-orang yang tidak memiliki kemanusiaan membeli sesuatu, lalu menaruhnya begitu saja. Mereka tidak mencobanya untuk melihat apakah ada masalah dengannya atau apakah barang itu tahan lama atau tidak, mereka juga tidak melihat berapa lama garansinya atau berapa lama mereka boleh mengembalikannya—mereka tidak peduli dengan semua ini. Ketika suatu hari mereka tiba-tiba tertarik pada barang tersebut, mereka mengambilnya dan mencobanya, baru setelah itulah mendapati bahwa barang itu rusak. Mereka memeriksa notanya dan melihat bahwa waktu pengembaliannya telah lewat, dan barang itu tidak dapat dikembalikan lagi. Mereka kemudian berkata, "Kalau begitu, ayo kita beli lagi." Bukankah itu pemborosan? "Ayo kita beli lagi"—dengan frasa itu, rumah Tuhan harus mengeluarkan sejumlah uang lagi. Dari luar, mengajukan permohonan untuk membeli lagi tampaknya demi pekerjaan gereja, dan merupakan pengeluaran yang wajar, padahal sebenarnya, di balik semua itu, adalah karena mereka lalai dalam tugas mereka dengan tidak segera memeriksa barang tersebut setelah mereka membelinya. Sejumlah persembahan terbuang sia-sia, dan sejumlah lainnya dibayarkan, dan barang baru itu tetap tidak dijaga oleh orang yang baik, jadi barang itu pun hanya digunakan untuk waktu yang singkat sebelum rusak. Sungguh mengherankan bahwa tak ada seorang pun yang mengawasi hal-hal ini, tak ada seorang pun yang menangani masalah-masalah yang muncul—apa yang dilakukan para pemimpin dan pekerja? Mereka sepenuhnya mengabaikan tanggung jawab mereka dalam hal pekerjaan ini—mereka tidak menjalankan fungsi mereka untuk mengawasi, meneliti, dan melakukan pemeriksaan, sehingga persembahan diboroskan dan dihambur-hamburkan seperti ini. Jika para pembelinya adalah orang-orang yang bertanggung jawab, mereka akan segera mengembalikan barang yang telah mereka beli ketika mereka melihat bahwa barang tersebut tidak berguna. Ini mengurangi kerugian dan pemborosan. Jika mereka adalah orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan hati yang tidak baik, mereka akan membeli barang-barang yang jelek, sehingga memboroskan persembahan. Jadi, siapa tepatnya yang harus bertanggung jawab atas kerugian uang ini? Bukankah pembeli, para pemimpin dan pekerja semuanya bertanggung jawab atas hal ini? Jika para pemimpin dan pekerja menangani masalah ini dengan hati-hati, spesifik, dan teliti, bukankah masalah-masalah ini telah ditemukan? Bukankah kekurangan-kekurangan ini telah diperbaiki? (Pasti.) Jika para pemimpin dan pekerja sering pergi ke gereja-gereja di berbagai tempat untuk memeriksa status pengeluaran persembahan, mereka akan dapat menemukan masalah, serta menyingkirkan pemborosan dan penghamburan semacam ini. Jika para pemimpin dan pekerja malas dan tidak bertanggung jawab, kasus-kasus pengeluaran yang tidak masuk akal ini, serta pemborosan dan penghamburan akan terjadi berulang kali—akan terus bertambah. Apa yang menyebabkan pertambahan ini? Bukankah itu ada hubungannya dengan para pemimpin dan pekerja yang tidak melakukan pekerjaan nyata, dan malah menempatkan diri mereka di atas orang lain dan bertindak seperti para pejabat yang tidak efektif? (Ya.) Para pemimpin dan pekerja semacam itu tidak berhati nurani atau bernalar, dan mereka tidak memiliki kemanusiaan. Karena semua uang yang gereja gunakan adalah milik rumah Tuhan, serta semua itu adalah persembahan milik Tuhan, dan mereka menganggap itu tidak ada hubungannya dengan mereka, mereka tidak peduli atau bertanya tentang hal itu, dan mereka mengabaikannya. Kebanyakan orang menganggap bahwa uang milik rumah Tuhan seharusnya digunakan, bahwa tidak apa-apa untuk menggunakannya dengan cara apa pun, bahwa selama mereka tidak mengantongi atau menggelapkannya, tidak menjadi masalah jika itu diboroskan, dan menganggap bahwa itu seperti menggunakan uang untuk membeli pengalaman dan memperluas wawasan mereka. Para pemimpin dan pekerja hanya berpura-pura tidak melihatnya: "Siapa pun boleh menggunakan uang itu sekehendak hati mereka, dan membeli apa pun yang mereka inginkan. Seberapa banyaknya pun yang diboroskan—siapa pun yang memboroskan uang bertanggung jawab atasnya, dan mereka akan menghadapi pembalasan dan hukuman yang setimpal di kemudian hari—ini tidak ada hubungannya denganku. Lagi pula, bukan aku yang menggunakannya, dan bukan uangku yang digunakan." Bukankah ini pandangan dan sikap yang sama yang dimiliki orang-orang tidak percaya terhadap pengeluaran uang publik? Itu seperti seolah-olah mereka menggunakan uang musuh mereka. Ketika orang-orang tidak percaya bekerja di sebuah pabrik, jika manajemennya tidak ketat, barang-barang milik bersama akan selalu dicuri dan dibawa pulang ke rumah-rumah orang atau dirusak begitu saja, dan jika ada sesuatu yang rusak, mereka akan meminta pabrik tersebut untuk membeli yang baru. Ketika mereka membeli barang untuk pabrik, mereka hanya akan membeli barang-barang yang bagus dan mahal. Bagaimanapun juga, uang tersebut akan digunakan dengan semaunya, dan tanpa batas. Jika orang-orang yang percaya kepada Tuhan juga memiliki mentalitas seperti itu terhadap persembahan, dapatkah mereka diselamatkan? Akankah Tuhan bekerja atas sekelompok orang semacam itu? (Tidak.) Jika orang-orang memiliki sikap seperti ini terhadap persembahan milik Tuhan, engkau seharusnya tahu tanpa Aku memberitahumu, sikap seperti apa yang Tuhan miliki terhadap orang-orang itu.

Cara paling langsung di mana sikap seseorang terhadap Tuhan diwujudkan ada dalam sikapnya terhadap persembahan. Apa pun sikapmu terhadap persembahan, itulah sikapmu terhadap Tuhan. Jika engkau memperlakukan persembahan seperti engkau memperlakukan catatan di rekening bankmu sendiri—dengan teliti, hati-hati, cermat, ketat, bertanggung jawab, dan penuh perhatian—maka sikapmu terhadap Tuhan kurang lebih sama seperti ini. Jika sikapmu terhadap persembahan sama seperti sikapmu terhadap properti milik umum, terhadap sayuran di pasar—dengan seenaknya membeli beberapa jenis apa pun yang kaubutuhkan dan bahkan tidak melihat sayuran yang tidak kausukai, mengabaikan di mana pun sayuran itu diletakkan, tidak peduli jika ada orang yang mengambil dan menggunakannya, berpura-pura tidak melihat ketika sayuran itu jatuh ke tanah dan seseorang menginjaknya, menganggap bahwa semua ini tidak ada hubungannya denganmu—itu berarti masalah bagimu. Jika seperti itulah sikap yang kaumiliki terhadap persembahan, apakah engkau adalah orang yang bertanggung jawab? Mampukah orang sepertimu melaksanakan tugas dengan baik? Jelaslah seperti apa kemanusiaan yang kaumiliki. Singkatnya, dalam pekerjaan mengelola persembahan, tanggung jawab utama para pemimpin dan pekerja, selain menjaganya dengan baik, adalah mereka harus menindaklanjuti pekerjaan selanjutnya—yang terpenting, mereka harus memeriksa catatan keuangan secara berkala, serta menindaklanjuti, menyelidiki, dan memeriksa segala jenis pengeluaran, serta melakukan pemeriksaan yang ketat. Mereka harus benar-benar menyingkirkan pengeluaran yang tidak masuk akal sebelum mengakibatkan pemborosan dan penghamburan; dan jika pengeluaran yang tidak masuk akal itu telah menyebabkan hal-hal tersebut, mereka harus meminta para penanggung jawab itu untuk memberi pertanggungjawaban, memberi mereka peringatan, dan meminta mereka untuk menggantinya. Jika engkau bahkan tidak mampu melakukan pekerjaan ini dengan baik, cepatlah mengundurkan diri—jangan memegang jabatan seorang pemimpin atau pekerja, karena engkau tidak mampu melakukan satu pekerjaan pun. Jika engkau bahkan tidak dapat bertanggung jawab atas pekerjaan ini dan tidak mampu melakukannya dengan baik, pekerjaan apa yang mampu kaulakukan? Katakan kepada-Ku secara sistematis: Secara keseluruhan, ada berapa banyak tugas yang harus para pemimpin dan pekerja lakukan dalam hal persembahan? (Yang pertama adalah menjaganya. Yang kedua adalah memeriksa catatan keuangan. Yang ketiga adalah menindaklanjuti, menyelidiki, dan memeriksa segala jenis pengeluaran, serta melakukan pemeriksaan yang ketat; pengeluaran yang tidak masuk akal harus disingkirkan, dan siapa pun yang menyebabkan pemborosan atau penghamburan, mereka harus dimintai pertanggungjawaban dan diminta untuk menggantinya.) Apakah mudah untuk bekerja berdasarkan langkah-langkah ini? (Ya.) Ini adalah cara kerja yang dijelaskan dengan gamblang batasan dan pembagiannya. Jika engkau bahkan tidak mampu melakukan pekerjaan sederhana seperti itu, lalu apa yang dapat kaulakukan sebagai pemimpin atau pekerja—sebagai pengurus rumah Tuhan? Ada situasi di mana persembahan yang dihamburkan dan diboroskan di mana-mana, dan jika, sebagai pemimpin atau pekerja, engkau tidak menyadarinya dan sama sekali tidak merasa buruk tentang hal itu, lalu apakah Tuhan benar-benar ada di hatimu—apakah benar-benar ada tempat bagi-Nya di sana? Ini dipertanyakan. Engkau berkata bahwa hatimu sangat mengasihi Tuhan dan bahwa engkau benar-benar memiliki hati yang takut akan Tuhan, tetapi ketika persembahan-Nya diboroskan dan dihamburkan seperti ini, engkau entah bagaimana tidak menyadarinya dan sama sekali tidak merasa buruk tentang hal itu—bukankah kasih dan rasa takutmu akan Tuhan dipertanyakan? (Ya.) Imanmu saja dipertanyakan, apalagi kasih dan rasa takutmu akan Tuhan. Kasih dan rasa takutmu akan Tuhan tidak masuk akal—itu tidak dapat dipertahankan! Menjaga persembahan dengan baik adalah kewajiban yang harus dipenuhi oleh para pemimpin dan pekerja, dan itu juga adalah tanggung jawab mereka yang tidak dapat dielakkan. Jika persembahan tidak dijaga dengan baik, itu adalah pengabaian tanggung jawab di pihak mereka—dapat dikatakan bahwa semua orang yang menjaga persembahan dengan buruk adalah pemimpin palsu dan pekerja palsu.

IV. Segera Mencari Tahu tentang Keberadaan Persembahan serta Berbagai Keadaan Para Pengurusnya

Selain memeriksa keadaan pengeluaran persembahan dan menyelesaikan pengeluaran yang tidak masuk akal, para pemimpin dan pekerja memiliki tugas terpenting lainnya: Mereka harus segera mencari tahu tentang keberadaan persembahan, serta berbagai keadaan para pengurusnya. Tujuannya adalah untuk mencegah agar orang jahat, orang yang memiliki rencana mencurigakan, dan orang yang berhati tamak tidak memanfaatkan kelalaian untuk merampas persembahan. Beberapa orang melihat bahwa rumah Tuhan memiliki begitu banyak barang, dan sebagian darinya tidak memiliki siapa pun yang mengawasi atau melakukan pencatatan, sehingga mereka selalu berpikir tentang kapan mereka akan menjadikan barang-barang itu sebagai milik pribadi mereka, dan menggunakannya untuk keperluan mereka sendiri. Ada orang-orang seperti ini di mana-mana. Ada orang-orang yang dari luar tampaknya tidak memanfaatkan orang lain dan tidak memiliki keinginan yang besar terhadap barang-barang materi atau uang, tetapi itu karena situasi dan kondisinya tidak tepat—jika persembahan benar-benar diserahkan ke tangan mereka untuk dijaga, mereka mungkin akan merampasnya. Ada orang-orang yang bertanya, "Namun, mereka dulunya adalah orang yang baik: Mereka tidak tamak, dan mereka memiliki karakter yang cukup baik—jadi mengapa hanya menaruh sedikit persembahan di tangan mereka bisa menyingkapkan mereka?" Ini karena engkau belum menghabiskan banyak waktu dengan orang-orang ini, belum memahami mereka secara mendalam, tidak mengetahui esensi natur mereka yang sebenarnya. Jika engkau telah menyadari lebih awal bahwa mereka adalah orang semacam itu, persembahan-persembahan itu akan terhindar dari nasib buruk karena dikuasai oleh orang-orang jahat. Jadi, untuk mencegah agar persembahan tersebut tidak jatuh ke tangan orang-orang jahat, para pemimpin dan pekerja memiliki tugas lain yang lebih penting: segera mencari tahu dan mengikuti perkembangan tentang keberadaan persembahan tersebut dan berbagai keadaan para pengurusnya. Katakanlah seseorang memiliki beberapa ratus atau beberapa ribu dolar di tangan mereka untuk dikelola, jika mereka memiliki sedikit hati nurani, mereka tidak akan menggelapkannya—tetapi jika jumlahnya puluhan atau ratusan ribu, kebanyakan orang tidak dapat diandalkan, ini akan berbahaya, dan hati mereka mungkin akan berubah. Bagaimana hati mereka bisa berubah? Beberapa ratus atau beberapa ribu tidak akan mampu menggoyahkan hati seseorang, tetapi dengan puluhan atau ratusan ribu, hati orang dapat dengan mudah tergoyahkan. "Aku tidak mampu menghasilkan uang sebanyak ini dalam beberapa kehidupan, dan sekarang itu berada di tanganku—alangkah lebih baiknya keadaanku seandainya uang itu adalah milikku!" Mereka merenungkannya: "Aku tidak merasa bersalah tentang pemikiran-pemikiran ini—jadi sebenarnya tuhan itu ada atau tidak? Di manakah tuhan? Apakah tak ada seorang pun yang tahu aku memiliki pemikiran-pemikiran ini? Tak ada seorang pun yang tahu, dan aku tidak merasa bersalah atau tidak enak—apakah ini berarti tuhan itu tidak ada? Jadi, jika aku mengambil uang ini untuk diriku sendiri, akankah aku menghadapi hukuman atau pembalasan? Apakah tidak akan ada konsekuensinya?" Bukankah hati orang ini sedang dalam proses perubahan? Bukankah persembahan di tangan mereka sedang berada dalam bahaya? (Ya.) Selain itu, beberapa orang yang mengelola persembahan adalah orang yang cukup baik, mereka memiliki dasar dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan dan mereka setia dalam tindakan mereka, dan sekalipun engkau meminta mereka untuk menjaga beberapa puluh ribu atau ratusan ribu dolar, mereka akan dapat melakukannya dengan baik, dan mereka dijamin tidak akan menggelapkannya. Namun, ada beberapa orang tidak percaya dalam keluarga mereka, dan ketika orang-orang itu melihat uang, mata mereka menjadi melotot, seperti ketika seekor serigala mengintai mangsanya. Jangankan puluhan atau ratusan ribu—jika melihat seribu dolar, mereka akan memasukkannya ke dalam saku mereka. Mereka tidak peduli milik siapa uang tersebut; mereka menganggap bahwa uang itu adalah milik siapa pun yang berhasil mengantonginya, siapa pun yang pertama mengambilnya. Jika ada serigala-serigala jahat seperti ini di sekitar orang yang menjaga persembahan, bukankah persembahan itu dalam bahaya dikuasai di mana saja dan kapan saja? Mungkinkah situasi semacam itu terjadi? (Mungkin saja.) Bukankah berbahaya jika para pemimpin dan pekerja bersikap ceroboh serta tidak memiliki rasa tanggung jawab, dan bahkan tidak menyadarinya atau pergi mencari tahu serta menyelidikinya ketika persembahan berada dalam situasi yang berbahaya seperti itu? Sesuatu bisa menjadi masalah di mana saja dan kapan saja. Ada situasi lainnya: Beberapa pengurus menjaga uang dan berbagai barang di rumah mereka, dan mereka juga menampung saudara-saudari serta para pemimpin dan pekerja di rumahnya. Ini mungkin relatif aman untuk sementara waktu, tetapi apakah tepat untuk menyimpan persembahan di sana dalam jangka panjang? (Tidak.) Sekalipun orang yang menjaganya sesuai, lingkungan dan kondisinya sama sekali tidak sesuai. Entah orang-orang yang mereka tampung di rumahnya harus dipindahkan, atau persembahan tersebut dikeluarkan dari sana. Jika para pemimpin dan pekerja tidak menyelidiki pekerjaan ini atau memenuhi tanggung jawab mereka dalam hal itu, masalah dapat terjadi di mana saja dan kapan saja; persembahan bisa mengalami kerugian dan jatuh ke tangan setan-setan di mana saja dan kapan saja. Ada situasi lainnya: Beberapa gereja berada di lingkungan yang tidak bersahabat, di mana orang-orang sering ditangkap, dan karena itu, sangatlah mudah bagi rumah-rumah tempat persembahan dijaga untuk dikhianati, dan diserbu serta digeledah oleh si naga merah yang sangat besar—persembahan dapat dijarah oleh setan-setan kapan saja. Apakah tempat-tempat seperti itu cocok untuk menyimpan persembahan? (Tidak.) Jadi, jika persembahan telah disimpan di sana, apa yang harus dilakukan? Pindahkanlah segera. Beberapa pemimpin dan pekerja tidak memenuhi tanggung jawab mereka dan tidak melakukan pekerjaan nyata. Mereka tidak mampu mengantisipasi atau memikirkan hal-hal ini, mereka tidak menyadarinya, dan hanya ketika terjadi masalah dan persembahan dirampas oleh setan-setan, barulah mereka berpikir, "Kami seharusnya memindahkannya pada saat itu," dan baru merasa sedikit menyesal seperti ini. Namun, jika tidak ada masalah, sepuluh tahun lagi berlalu, dan mereka tetap tidak akan memindahkan persembahan tersebut. Mereka tidak dapat melihat konsekuensi serius apa yang mungkin timbul karena masalah ini, dan mereka tidak mampu memprioritaskan segala sesuatu berdasarkan kepentingan dan urgensi. Para pemimpin dan pekerja harus memiliki pemahaman yang jelas tentang situasi ini saat mereka menghadapinya: "Salah satu tempat penyimpanan persembahan tidak sesuai. Lingkungannya terlalu berbahaya, dan cukup banyak saudara-saudari yang ditangkap, dibuntuti, atau diawasi di daerah sekitarnya. Kita perlu memikirkan cara untuk mengeluarkan persembahan tersebut dari sana. Membawanya ke tempat yang relatif aman akan menjadi langkah yang lebih baik daripada membiarkannya di tempat itu dan menunggu persembahan tersebut dirampas." Ketika suatu situasi baru saja muncul dan mereka memperkirakan bahwa persembahan itu dalam bahaya, mereka harus segera memindahkannya, untuk mencegah agar persembahan tersebut tidak dikuasai dan dimangsa oleh si setan naga merah yang sangat besar. Inilah satu-satunya cara untuk memastikan keamanan persembahan, dan untuk menghindari adanya bahaya tersembunyi atau terjadinya kesalahan. Inilah pekerjaan yang harus dilakukan oleh para pemimpin dan pekerja. Begitu ada tanda bahaya sekecil apa pun, begitu seseorang ditangkap, begitu ada situasi yang muncul, pemikiran pertama para pemimpin dan pekerja seharusnya adalah apakah persembahan itu aman, apakah persembahan itu bisa jatuh ke tangan orang-orang jahat, atau dikuasai oleh mereka, ataukah dirampas oleh setan-setan, dan apakah persembahan itu ada yang mengalami kerugian atau tidak. Mereka harus segera mengambil tindakan untuk melindungi persembahan tersebut. Ini adalah tanggung jawab para pemimpin dan pekerja. Beberapa pemimpin dan pekerja mungkin berkata, "Untuk melakukan hal-hal ini, kami harus mengambil risiko. Bisakah kami tidak melakukannya? Bukankah orang-orang adalah prioritas utama kami, dan itu berarti tidak perlu mengutamakan persembahan dan orang-oranglah yang harus didahulukan?" Apa pendapatmu tentang pertanyaan mereka? Apakah orang-orang ini memiliki kemanusiaan? (Tidak.) Menjaga persembahan dengan baik, mengelolanya dengan baik, dan mengawasinya dengan baik—ini adalah tanggung jawab yang harus dipenuhi oleh seorang pengurus yang baik. Secara lebih serius, sekalipun engkau harus mengorbankan nyawamu, itu sepadan dan itulah yang seharusnya kaulakukan. Itu adalah tanggung jawabmu. Orang-orang selalu berseru, "Mati untuk Tuhan adalah kematian yang layak." Apakah orang benar-benar bersedia mati untuk Tuhan? Sekarang engkau tidak sedang diminta mati untuk Tuhan; engkau hanya dituntut untuk mengambil sedikit risiko demi menjaga persembahan dengan aman. Bersediakah engkau melakukannya? Engkau seharusnya dengan senang hati berkata, "Aku bersedia!" Mengapa? Karena ini adalah amanat dan tuntutan Tuhan terhadap manusia, ini adalah tanggung jawabmu yang tidak dapat dielakkan, dan engkau seharusnya tidak berusaha menghindarinya. Mengingat bahwa engkau menyatakan bersedia mati untuk Tuhan, mengapa engkau tidak mampu membayar sedikit harga, dan mengambil sedikit risiko untuk menjaga persembahan? Bukankah itu yang seharusnya kaulakukan? Jika engkau tidak melakukan sesuatu yang nyata, tetapi engkau selalu berseru tentang mati untuk Tuhan, bukankah ini omong kosong? Para pemimpin dan pekerja seharusnya memiliki pemahaman yang murni tentang pekerjaan menjaga persembahan, dan mereka harus memikul tanggung jawab ini. Mereka tidak boleh mengelak atau menghindarinya, dan mereka tidak boleh menghindar dari tanggung jawab mereka. Karena engkau adalah seorang pemimpin atau pekerja, pekerjaan ini adalah tanggung jawab yang wajib kaupikul. Ini adalah pekerjaan yang penting—bersediakah engkau melakukannya, sekalipun engkau mengambil risiko, sekalipun nyawamu dipertaruhkan? Haruskah engkau melakukannya? (Ya.) Engkau harus bersedia melakukannya; engkau tidak boleh mengingkari tanggung jawab ini. Ini adalah tuntutan Tuhan terhadap manusia dan amanat yang Dia berikan kepada manusia. Tuhan telah memberitahumu tuntutan dan amanat-Nya yang paling minimal—jika engkau bahkan tidak bersedia untuk melaksanakannya, lalu apa yang mampu kaulakukan?

Para pemimpin dan pekerja harus melakukan pekerjaan menjaga dan menggunakan persembahan secara mendetail dan sespesifik mungkin. Mereka tidak boleh ceroboh dengannya, apalagi memperlakukannya seperti urusan orang lain dan mengingkari tanggung jawab. Para pemimpin dan pekerja harus secara pribadi melakukan pemeriksaan, terlibat, dan mencari tahu tentang hal-hal ini, serta bahkan menanganinya secara pribadi, untuk mencegah agar orang-orang jahat dan orang-orang yang kemanusiaannya buruk tidak memanfaatkan kelalaian dan menyebabkan kehancuran. Makin teliti engkau melakukan pekerjaan ini, makin sedikit kesempatan orang-orang jahat untuk memanfaatkan kelalaian; makin rinci pertanyaanmu dan makin ketat pengelolaanmu, akan makin sedikit kejadian pengeluaran yang tidak masuk akal, pemborosan, dan penghamburan. Ada orang-orang yang berkata, "Apakah ini dilakukan untuk menghemat uang bagi rumah Tuhan? Apakah rumah Tuhan kekurangan uang? Jika benar, aku akan mempersembahkan lebih banyak lagi." Apakah itu yang sedang terjadi? (Tidak.) Ini adalah tanggung jawab para pemimpin dan pekerja, ini adalah tuntutan Tuhan terhadap manusia, dan ini adalah prinsip yang harus dipatuhi oleh para pemimpin dan pekerja dalam melakukan pekerjaan ini. Sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, sebagai orang yang telah mengambil peran seorang pengurus di rumah Tuhan, sikapmu terhadap persembahan seharusnya adalah sikap yang bertanggung jawab dan melakukan pemeriksaan yang ketat; jika tidak, engkau tidak memenuhi syarat untuk melakukan pekerjaan ini. Jika engkau adalah orang percaya biasa yang tidak memiliki rasa tanggung jawab dan tidak mengejar kebenaran, engkau tidak akan dituntut untuk melakukan hal-hal ini. Engkau adalah seorang pemimpin atau pekerja; jika engkau tidak memiliki rasa tanggung jawab ini, engkau tidak layak menjadi pemimpin atau pekerja, dan sekalipun engkau melayani sebagai pemimpin atau pekerja, engkau adalah seorang pemimpin palsu atau pekerja palsu yang tidak bertanggung jawab, dan cepat atau lambat engkau akan disingkirkan. Semua orang yang sama sekali tidak memiliki rasa tanggung jawab adalah orang-orang yang sama sekali tidak membela pekerjaan rumah Tuhan—mereka semua tidak memiliki sedikit pun hati nurani dan nalar. Bagaimana mungkin orang-orang semacam itu mampu melaksanakan tugas? Mereka semua adalah sampah-sampah yang tak berhati nurani—mereka seharusnya segera meninggalkan rumah Tuhan, dan kembali ke dunia tempat mereka seharusnya berada!

Jika kita tidak mempersekutukan pengetahuan umum tentang persembahan, serta kebenaran yang berkaitan dengan menjaga persembahan, dan prinsip-prinsip yang harus orang terapkan dengan cara seperti ini, bukankah engkau semua akan menjadi tidak jelas tentang hal-hal ini? (Ya.) Jika orang tidak jelas tentang prinsip-prinsip yang tepat, dapatkah mereka memenuhi sebagian tanggung jawab mereka? Sudahkah mereka memenuhi tanggung jawab mereka? Bukankah kebanyakan orang telah mengikuti teori dan prinsip yang paling dangkal: "Bagaimanapun juga, aku tidak mengingini persembahan milik Tuhan, aku tidak menggelapkan atau menyalahgunakannya, dan aku menjaganya dengan baik serta tidak membiarkan orang-orang menggunakannya dengan semaunya—itu cukup"? Apakah ini yang disebut menerapkan kebenaran? Apakah ini yang disebut memenuhi tanggung jawab? (Bukan.) Jika pengetahuan kebanyakan orang tidak lebih dari standar ini, itu berarti topik ini benar-benar layak untuk dipersekutukan. Melalui persekutuan ini, sudahkah engkau sekarang memahami dan mengerti sedikit lebih banyak tentang cara menjaga persembahan dan sikap serta pengetahuan yang harus kaumiliki ketika menjaganya? (Ya.) Kita akan mengakhiri persekutuan kita di sini tentang kebenaran yang berhubungan dengan persembahan dan prinsip-prinsip yang berkaitan dengan cara memperlakukan dan mengelola persembahan.

Sikap dan Perwujudan Para Pemimpin Palsu terhadap Persembahan

I. Memperlakukan Persembahan sebagai Harta Milik Bersama

Selanjutnya, kita akan melakukan penyingkapan dan penelaahan sederhana terhadap para pemimpin palsu berkenaan dengan bab kesebelas dari tanggung jawab para pemimpin dan pekerja. Kita akan melihat perwujudan apa yang dimiliki para pemimpin palsu dalam sikap mereka terhadap persembahan dan dalam menjaga serta mengelola persembahan. Perwujudan pertama adalah bahwa para pemimpin palsu tidak memiliki pengetahuan yang akurat tentang persembahan. Mereka percaya, "Secara teori, persembahan diberikan kepada tuhan, tetapi sebenarnya, persembahan diberikan kepada gereja. Kita tidak tahu di mana tuhan berada, dan lagi pula, dia tidak bisa menggunakan begitu banyak barang. Persembahan ini hanya diberikan kepada tuhan sekadar sebutan; sebenarnya, persembahan diberikan kepada gereja dan kepada rumah tuhan, dan itu tidak secara eksplisit dipersembahkan kepada orang tertentu. Gereja dan rumah tuhan adalah perwakilan bagi semua umatnya dan itu menyiratkan bahwa persembahan adalah milik semua orang, dan apa yang menjadi milik semua orang adalah harta milik bersama. Jadi, persembahan adalah harta milik bersama yang menjadi milik semua saudara-saudari." Apakah pemahaman ini akurat? Jelas sekali tidak. Bukankah orang-orang dengan pemahaman seperti itu memiliki masalah dengan kemanusiaannya? Bukankah mereka adalah orang-orang yang mengingini persembahan? Orang-orang yang memiliki hati yang tamak dan keinginan untuk mengambil persembahan menggunakan cara dan pandangan seperti ini jika menyangkut persembahan. Jelaslah bahwa mereka mengincar persembahan dan ingin mengambilnya untuk kenikmatan mereka sendiri. Makhluk macam apakah mereka ini? Bukankah mereka sejenis dengan Yudas? Jadi, pemimpin atau pekerja semacam ini menganggap persembahan milik Tuhan sebagai harta bersama milik gereja. Dalam hatinya, mereka memiliki sikap seperti ini—mereka tidak menjaga persembahan dengan sungguh-sungguh, atau mengelolanya dengan sewajarnya dan bertanggung jawab, sebaliknya, mereka menggunakan persembahan sekehendak hati, dengan lancang, dan dengan cara yang sama sekali tidak terkendali, tanpa prinsip. Mereka membiarkan siapa saja menggunakannya, dan siapa pun yang "jabatan resminya" lebih penting, yang statusnya lebih tinggi, yang bermartabat di antara saudara-saudari, mendapat prioritas untuk memiliki dan menggunakan persembahan. Itu sama seperti dalam perusahaan dan pabrik di tengah masyarakat, di mana mobil perusahaan dan barang-barang mewah diperuntukkan bagi para manajer, direktur pabrik, dan pimpinan. Mereka menganggap bahwa persembahan milik Tuhan juga seharusnya seperti ini, bahwa siapa pun yang menjadi pemimpin atau pekerja memiliki prioritas untuk menikmati barang-barang mewah milik rumah Tuhan, dan menikmati persembahan yang diberikan kepada Tuhan. Jadi, semua orang yang menggunakan status pemimpin dan pekerja sebagai dalih untuk membeli komputer dan ponsel canggih, serta semua pemimpin dan pekerja yang mengambil persembahan untuk diri mereka sendiri, menganggap bahwa persembahan adalah harta milik bersama, dan bahwa persembahan seharusnya digunakan dan dihamburkan sekehendak hati mereka. Ketika beberapa saudara-saudari mempersembahkan perhiasan emas dan perak, tas, pakaian, dan sepatu, mereka tidak secara spesifik mengatakan bahwa mereka mempersembahkannya kepada Tuhan, jadi beberapa pemimpin palsu menganggap, "Karena mereka tidak secara spesifik mengatakan bahwa barang-barang ini dipersembahkan kepada tuhan, barang-barang ini seharusnya untuk digunakan gereja. Apa pun yang diberikan kepada gereja adalah harta milik bersama, dan para pemimpin dan pekerja seharusnya memiliki prioritas untuk menikmati harta milik bersama." Jadi, mereka mengambil barang-barang ini untuk diri mereka sendiri sebagai hal yang wajar. Barang-barang yang tersisa setelah mereka memilah-milahnya boleh digunakan oleh siapa pun yang menginginkannya dan diambil oleh siapa pun yang menginginkannya—semua orang membagi-baginya di antara mereka. Para pemimpin dan pekerja ini menyebutnya berbagi kekayaan; dengan mengikuti mereka, orang-orang dapat makan dan minum dengan baik, serta benar-benar menikmatinya. Semua orang merasa senang, dan mereka berkata, "Syukur kepada tuhan—akankah kami dapat menikmati barang-barang ini jika kami tidak percaya kepadanya? Ini adalah persembahan, dan kami tidak layak untuk menikmatinya!" Mereka berkata bahwa mereka tidak layak, tetapi mereka menggenggam barang-barang tersebut dan tidak mau melepaskannya. Pemimpin dan pekerja semacam itu tidak hanya mengambil persembahan dan membagi-baginya di antara mereka, serta menikmatinya secara pribadi tanpa meminta persetujuan siapa pun—pada saat yang sama, mereka sama sekali tidak memedulikan pengelolaan, pengeluaran, dan penggunaan persembahan, serta mereka juga tidak memilih orang yang sesuai untuk mengelola dan mencatatnya, dan terlebih lagi, mereka juga tidak memeriksa catatan keuangan, atau meninjau dengan ketat keadaan pengeluarannya. Ketidakpedulian pemimpin palsu terhadap pengelolaan persembahan menyebabkan kekacauan, dan sebagian persembahan mengalami kerugian serta dihamburkan. Ciri paling menonjol dalam pekerjaan pemimpin palsu adalah bahwa semua orang bertindak sekehendak hati mereka. Pengawas dari tim mana pun dapat menjadi penentu keputusan, dan ketika ada tim yang perlu membeli sesuatu, mereka dapat memutuskan untuk melakukannya sendiri, tanpa perlu mengajukan permohonan untuk mendapatkan persetujuan. Asalkan sesuatu dibutuhkan untuk pekerjaan tersebut, mereka boleh membelinya, tanpa khawatir tentang berapa harganya, apakah mereka dapat menggunakannya, atau apakah itu perlu atau tidak—bagaimanapun juga, mereka menggunakan uang persembahan, bukan uang siapa pun. Para pemimpin palsu tidak mengawasi atau melakukan pemeriksaan, apalagi mempersekutukan prinsip-prinsip. Ketika sesuatu telah dibeli, para pemimpin palsu sama sekali tidak peduli apakah ada orang yang menjaganya, apakah akan ada masalah dengan barang itu, atau apakah barang tersebut sepadan dengan uang yang dikeluarkan. Mengapa mereka tidak memedulikan hal-hal ini? Itu karena uang tersebut bukan milik mereka—mereka menganggap bahwa siapa pun boleh menggunakannya, karena bagaimanapun juga, bukan uang mereka yang digunakan. Ada kekacauan dalam setiap aspek pengelolaan persembahan. Seberapa kacaukah itu? Itu sama seperti di pabrik-pabrik besar milik negara di negara sosialis, di mana semua orang mendapatkan bagian yang sama sebanyak apa pun pekerjaan yang mereka lakukan. Semua orang membawa pulang barang-barang, memakan makanan pabrik, dan mendapatkan uang pabrik, serta menggelapkan barang-barang pabrik. Itu benar-benar kacau. Para pemimpin palsu tidak membuat aturan untuk pengeluaran ketika membeli perangkat atau peralatan apa pun. Rumah Tuhan membuat aturan, tetapi mereka tidak meninjau, memverifikasi, menindaklanjuti, atau memeriksa pengeluaran dengan ketat. Mereka tidak melakukan semua pekerjaan ini. Pekerjaan para pemimpin palsu benar-benar kacau, tidak ada keteraturan dalam segala hal, dan ada kekurangan di mana-mana. Selalu ada orang-orang jahat dan mereka yang hatinya tidak baik yang dibiarkan memanfaatkan kelalaian dan mengambil keuntungan. Persembahan milik Tuhan diboroskan dan dihamburkan dengan sembarangan oleh orang-orang itu, tetapi mereka tidak dihukum atau diberi sanksi dengan cara apa pun—mereka bahkan tidak diberi peringatan. Pemimpin dan pekerja macam apa mereka ini? Bukankah mereka tidak tahu berterima kasih? Apakah mereka pengurus rumah Tuhan? Mereka adalah para pengkhianat yang mencuri dari rumah Tuhan!

Bagaimana seharusnya kita memandang para pemimpin dan pekerja yang tidak bertanggung jawab dalam hal menjaga persembahan? Bukankah mereka adalah orang yang berkarakter rendah dan tidak memiliki hati nurani serta tidak bernalar? Para pemimpin palsu ini menganggap barang-barang yang dipersembahkan oleh saudara-saudari kepada Tuhan dan gereja sebagai harta milik rumah Tuhan, dan mengatakan bahwa barang-barang itu seharusnya dikelola oleh saudara-saudari bersama-sama. Jadi, ketika masalah telah tersingkap, dan Yang di Atas meminta pertanggungjawaban orang-orang, mereka berusaha sekuat tenaga untuk membela diri, dan tidak mengakui betapa seriusnya natur tindakan mereka yang mencuri dan mengambil persembahan milik Tuhan setelah menjadi pemimpin dan memperoleh status. Bukankah mereka adalah orang-orang yang berkarakter rendah? Mereka benar-benar tidak tahu malu! Mereka tidak tahu mengapa saudara-saudari mempersembahkan uang dan barang, atau kepada siapa mereka mempersembahkannya. Jika tidak ada Tuhan, siapa yang akan mempersembahkan barang-barang yang mereka sukai dengan begitu saja? Ini adalah logika yang sangat sederhana, tetapi yang disebut "para pemimpin" ini tidak tahu ataupun memahaminya. Para pemimpin palsu ini memiliki slogan: "persembahan milik rumah Tuhan". Bukankah ungkapan ini perlu dikoreksi? Bagaimana seharusnya ungkapan yang benar? "Persembahan" atau "persembahan milik Tuhan". Jika engkau akan menambahkan sebuah kata keterangan, engkau harus menambahkan kata "Tuhan"—persembahan hanya milik Tuhan. Jika engkau tidak menambahkan sebuah kata keterangan, itu hanyalah "persembahan"—orang-orang seharusnya tetap tahu bahwa pemilik persembahan adalah Sang Pencipta, Tuhan, dan bukan manusia. Manusia tidak layak memiliki persembahan, dan bahkan para imam tidak boleh berkata bahwa persembahan adalah milik mereka—mereka boleh menikmati persembahan dengan seizin Tuhan, tetapi itu bukan milik mereka. Kata keterangan untuk "persembahan" tidak akan pernah berupa manusia—hanya Tuhan, dan tidak ada yang lain. Jadi, cukup jelas bahwa ungkapan "persembahan milik rumah Tuhan" yang sering diucapkan oleh para pemimpin palsu itu keliru, dan harus dikoreksi. Tidak boleh ada ungkapan apa pun seperti "persembahan milik rumah Tuhan" atau "persembahan milik gereja". Ada orang-orang yang bahkan mengatakan "persembahan kami" dan "persembahan milik rumah Tuhan kami". Semua ungkapan ini salah. Persembahan diberikan kepada Tuhan oleh manusia yang diciptakan, oleh mereka yang mengikuti Tuhan. Hanya Tuhan yang memiliki hak eksklusif untuk menjadi pemilik, pengguna, dan penikmatnya. Persembahan bukanlah harta milik bersama; persembahan bukanlah milik manusia, apalagi milik gereja dan rumah Tuhan, melainkan persembahan adalah milik Tuhan. Tuhan mengizinkan gereja dan rumah Tuhan untuk menggunakannya—ini adalah amanat-Nya. Oleh karena itu, semua ungkapan seperti "persembahan milik rumah Tuhan", "persembahan milik gereja", dan "persembahan kami" tidaklah tepat, dan terlebih lagi, itu adalah ungkapan orang-orang dengan motif tersembunyi, dimaksudkan untuk menyesatkan orang dan membuat mereka mati rasa, dan bahkan terlebih lagi, untuk menyimpangkan orang. Orang-orang ini menggolongkan persembahan ke dalam harta bersama milik gereja, atau milik rumah Tuhan, atau milik semua saudara-saudari. Semua ini bermasalah dan keliru serta harus dikoreksi. Ini adalah perwujudan dari salah satu jenis pemimpin palsu. Orang-orang semacam itu menganggap persembahan sebagai harta milik bersama dan menggunakannya sekehendak hati mereka; atau, mereka menganggap bahwa sebagai pemimpin, mereka berhak untuk mendistribusikannya, jadi mereka mendistribusikannya kepada orang-orang yang mereka sukai atau kepada semua orang secara setara. Skenario macam apa yang berusaha mereka buat? Skenario di mana semua orang setara, di mana semua orang dapat menikmati kasih karunia Tuhan, di mana semua orang berbagi. Mereka ingin mengambil hati orang-orang dengan bersikap murah hati dengan sumber daya milik rumah Tuhan. Bukankah itu menjijikkan? Itu adalah perilaku hina yang tidak tahu malu! Bagaimana kita harus menggolongkan orang-orang semacam itu? Para pemimpin palsu semacam itu mengingini persembahan, dan untuk mencegah agar orang-orang tidak mengawasi, menyingkapkan, dan membedakannya, mereka mendistribusikan barang-barang sisa yang tidak mereka gunakan kepada saudara-saudari, mengambil hati mereka dan mencapai skenario di mana semua orang setara, dan membuat semua orang mendapatkan keuntungan dari berhubungan dengan mereka, sehingga tak seorang pun akan menyingkapkan mereka. Jika engkau semua secara kebetulan menemukan pemimpin semacam ini, yang dapat membuatmu memperoleh beberapa keuntungan dan yang dengannya engkau dapat menikmati beberapa "harta milik bersama"—jika engkau memiliki hak ini dan mengambil keuntungan semacam ini, akankah engkau semua senang dengan hal itu? Akankah engkau semua mampu menolaknya? (Ya, kami mampu.) Jika engkau semua tamak, tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan, dan tidak takut akan Tuhan, engkau tidak akan mampu menolaknya. Siapa pun dengan sedikit integritas, sedikit nalar, dan sedikit hati yang takut akan Tuhan akan menolaknya, dan mereka juga akan bangkit untuk menegur pemimpin tersebut, memangkasnya, menghentikannya, dengan berkata: "Hal pertama yang seharusnya kaulakukan sebagai seorang pemimpin adalah mengelola persembahan dengan baik, bukan menggelapkannya, apalagi memutuskan tanpa izin untuk mendistribusikannya kepada semua orang berdasarkan keinginanmu sendiri. Kau tidak memiliki hak itu; itu bukan amanat Tuhan kepadamu. Persembahan adalah milik Tuhan untuk digunakan, dan ada prinsip-prinsip penggunaan persembahan oleh gereja—tak seorang pun boleh menjadi penentu keputusan atas persembahan. Kau mungkin adalah seorang pemimpin, tetapi kau tidak memiliki hak istimewa itu. Tuhan tidak menganugerahkannya kepadamu. Kau tidak berhak menggunakan barang-barang milik Tuhan—Tuhan tidak memberimu amanat untuk melakukan pekerjaan itu. Jadi, cepat tanggalkan perhiasan emas dan perak yang dipersembahkan saudara-saudari kepada Tuhan, dan tanggalkan pakaian yang mereka persembahkan kepada-Nya. Cepatlah membayar ganti rugi atas makanan yang telah kaumakan yang seharusnya tidak kaumakan. Jika kau masih manusia dan memiliki sedikit rasa malu, lakukanlah ini segera. Selain itu, kepada siapa pun kau telah mengirim persembahan ini agar dapat mengambil hati mereka, atau siapa pun yang telah kaubiarkan mengambil dan menikmatinya, segera ambil kembali persembahan itu. Jika kau tidak melakukannya, kami akan memberi tahu semua saudara-saudari dan menanganimu sebagai Yudas!" Beranikah engkau semua melakukannya? (Ya.) Jika menyangkut persembahan, semua orang memiliki tanggung jawab ini, dan mereka harus memperlakukannya dengan hati nurani dan sikap seperti ini. Tentu saja, mereka juga memiliki kewajiban untuk mengawasi bagaimana orang lain memperlakukan persembahan, apakah mereka menjaganya dengan baik atau tidak, dan apakah mereka mengelolanya berdasarkan prinsip atau tidak. Jangan menganggap bahwa ini tidak ada kaitannya denganmu, dan kemudian tidak bertanggung jawab, dengan berkata, "Bagaimanapun juga, aku bukan seorang pemimpin atau pekerja, ini bukan tanggung jawabku. Sekalipun aku menemukannya, aku tidak perlu direpotkan dengan itu atau mengatakan sesuatu tentang hal itu—itu adalah masalah para pemimpin dan pekerja. Siapa pun yang menggunakan uang secara serampangan dan menggelapkan persembahan, mereka adalah Yudas, dan Tuhan akan menghukum mereka ketika waktunya tiba. Siapa pun yang menyebabkan suatu akibat, merekalah yang bertanggung jawab atasnya. Tidak perlu bagiku untuk direpotkan dengan hal ini. Apa gunanya aku membicarakan sesuatu yang bukan urusanku?" Apa pendapatmu tentang orang semacam ini? (Mereka tidak memiliki hati nurani.) Jika engkau mendapati bahwa, di beberapa area yang tidak diselidiki oleh para pemimpin dan pekerja, ada orang-orang yang menghamburkan dan mengambil persembahan, engkau sendiri harus memberi peringatan kepada orang yang terlibat, dan juga segera melaporkannya kepada para pemimpin dan pekerja. Engkau harus mengatakan, "Kepala tim dan pemimpin kita sering mengambil persembahan untuk diri mereka sendiri. Mereka juga menggunakan persembahan secara serampangan, dan mereka tidak berdiskusi dengan yang lain dan hanya memutuskan sendiri untuk membeli ini dan itu. Sebagian besar pengeluaran mereka tidak sesuai dengan prinsip-prinsip. Mampukah rumah Tuhan menangani hal ini?" Adalah tanggung jawab umat pilihan Tuhan untuk melaporkan dan memberitahukan tentang masalah yang mereka temukan. Persekutuan kita yang sebelumnya adalah tentang perwujudan dari salah satu jenis pemimpin palsu—sikap mereka terhadap persembahan adalah memperlakukannya sebagai harta milik bersama.

II. Tidak Peduli ataupun Bertanya mengenai Pengeluaran Persembahan

Perwujudan lain dari pemimpin palsu dalam hal menjaga persembahan adalah mereka tidak tahu bagaimana cara mengelola persembahan. Mereka hanya tahu bahwa persembahan tidak boleh disentuh, tidak boleh disalahgunakan semaunya ataupun digelapkan, bahwa persembahan itu suci, dipisahkan sebagai sesuatu yang kudus, dan bahwa orang tidak boleh memiliki pemikiran yang tidak sepatutnya terhadap persembahan. Namun, mengenai bagaimana tepatnya cara mengelola persembahan dengan baik, bagaimana menjadi pengurus yang baik dalam menjaganya, mereka tidak memiliki jalan, prinsip, rencana atau langkah-langkah spesifik untuk pekerjaan ini. Jadi, dalam hal-hal seperti mencatat, menghitung, dan menjaga persembahan, serta memeriksa catatan dalam hal jumlah yang masuk atau keluar serta memeriksa pengeluaran, para pemimpin palsu ini sangat pasif. Ketika seseorang mengajukan sesuatu untuk disetujui, mereka menyetujuinya. Ketika seseorang mengajukan permohonan penggantian untuk pengeluaran uang, mereka memberikannya. Ketika seseorang mengajukan permohonan uang untuk tujuan tertentu, mereka memberikannya. Mereka tidak tahu di mana berbagai mesin dan peralatan dijaga. Mereka juga tidak tahu apakah pengurusnya sesuai, atau bagaimana cara mengetahui apakah pengurusnya sesuai atau tidak; mereka tidak dapat mengetahui hati orang-orang yang sebenarnya, dan mereka tidak dapat mengetahui esensi orang-orang yang sebenarnya. Jadi, meskipun ada catatan tentang semua persembahan yang keluar di bawah lingkup pengelolaan orang-orang ini, melihat rincian pengeluaran dalam catatan keuangan tersebut, ada banyak pengeluaran yang tidak masuk akal dan tidak perlu—banyak di antaranya yang berlebihan dan boros. Persembahan hilang atas persetujuan para pemimpin dan pekerja ini. Dari luar, mereka tampaknya sedang melakukan pekerjaan spesifik, tetapi sebenarnya, sama sekali tidak ada prinsip dalam apa yang sedang mereka lakukan. Mereka tidak melakukan pemeriksaan—mereka hanya bersikap asal-asalan, mematuhi aturan dan ketentuan, tidak lebih. Ini sama sekali tidak memenuhi standar untuk mengelola persembahan, apalagi memenuhi prinsip-prinsipnya. Jadi, selama periode ketika para pemimpin palsu bekerja, ada terlalu banyak pengeluaran yang tidak masuk akal. Jika ada seseorang di sana untuk mengawasi dan mengelola berbagai hal, bagaimana pengeluaran yang tidak masuk akal ini bisa terjadi? Itu terjadi karena para pemimpin dan pekerja ini tidak bertanggung jawab dalam pekerjaan mereka. Mereka hanya melakukannya untuk formalitas dan menangani berbagai hal dengan sikap asal-asalan, dan mereka tidak bertindak berdasarkan prinsip-prinsip. Mereka tidak menyinggung orang lain, mereka bertindak seperti penyenang orang, dan mereka tidak melakukan pemeriksaan yang benar. Bahkan mungkin tak ada seorang pun yang benar-benar bertanggung jawab di antara mereka yang mengelola persembahan, tak ada seorang pun yang benar-benar dapat melakukan pemeriksaan. Para pemimpin palsu tidak peduli apakah orang-orang yang menjaga persembahan itu sesuai atau tidak, atau apakah ada situasi yang berbahaya di gereja orang-orang tersebut. Bagi mereka, selama mereka sendiri aman, maka semuanya baik-baik saja. Ketika bahaya muncul, hal pertama yang mereka pikirkan adalah ke mana mereka dapat melarikan diri dan apakah uang mereka sendiri akan dirampas atau tidak, sedangkan mereka tidak menyelidiki ataupun menanyakan tentang keberadaan persembahan atau apakah persembahan itu dalam bahaya atau tidak. Beberapa bulan atau bahkan enam bulan setelah kejadian tersebut, mereka mungkin bertanya karena hati nurani, dan ketika mereka mengetahui bahwa sebagian persembahan telah dikuasai oleh si naga merah yang sangat besar, sebagian telah dihamburkan oleh orang-orang jahat, dan sebagian lagi tidak diketahui keberadaannya, mereka akan merasa tidak enak selama beberapa waktu—mereka akan berdoa sebentar, mengakui kesalahan mereka, dan itu saja. Makhluk macam apakah orang-orang ini? Bukankah ada masalah dengan bekerja seperti ini? Bagaimana Tuhan akan memperlakukan seseorang yang memiliki sikap seperti itu terhadap persembahan? Akankah Dia menganggap mereka sebagai orang percaya yang sejati? (Tidak.) Lalu, sebagai apakah Dia akan menganggap mereka? (Sebagai orang tidak percaya.) Ketika Tuhan menganggap seseorang sebagai orang tidak percaya, apakah orang tersebut merasakan sesuatu? Orang itu menjadi mati rasa dan jiwanya menjadi bodoh, dan ketika dia bertindak, dia tidak memiliki pencerahan atau bimbingan Tuhan, atau terang apa pun. Dia tidak memiliki Tuhan yang melindunginya ketika sesuatu terjadi padanya, dan dia sering kali menjadi negatif dan lemah, hidup dalam kegelapan. Meskipun dia sering mendengarkan khotbah, dan mampu menderita serta membayar harga dalam pekerjaannya, dia tidak membuat kemajuan apa pun, dan dia terlihat menyedihkan. Itulah "hasil"-nya. Bukankah ini lebih sulit ditanggung daripada hukuman? Katakan kepada-Ku, jika inilah hasil dari kepercayaan seseorang kepada Tuhan, apakah itu patut dirayakan dengan sukacita atau patut disesali dengan kesedihan? Menurut-Ku, itu bukanlah pertanda yang baik.

Para pemimpin palsu tidak pernah menganggap serius pekerjaan mengelola persembahan. Meskipun mereka berkata, "Orang-orang tidak boleh menyentuh persembahan milik Tuhan; persembahan milik Tuhan tidak boleh digelapkan oleh siapa pun, dan tidak boleh jatuh ke tangan orang-orang jahat," dan mereka meneriakkan slogan-slogan ini dengan sangat baik, dan perkataan mereka terdengar sangat bermoral dan sopan, tetapi mereka tidak bertindak seperti manusia. Meskipun mereka tidak menggelapkan persembahan, dan mereka tidak memiliki pemikiran yang tidak sepatutnya terhadap persembahan, atau tidak ada niat apa pun untuk mengambilnya, dan beberapa dari mereka bahkan tidak pernah menggunakan uang milik rumah Tuhan atau menyentuh persembahan milik Tuhan untuk pengeluaran apa pun yang mungkin mereka miliki, dan malah menggunakan uang mereka sendiri, sebagai pemimpin dan pekerja, mereka sama sekali tidak melakukan pekerjaan nyata dalam hal pengelolaan persembahan. Mereka bahkan tidak melakukan hal-hal sederhana seperti menanyakan keadaan pengeluaran persembahan atau memeriksa pengeluaran persembahan. Jelaslah bahwa ini adalah para pemimpin palsu. Sikap mereka terhadap persembahan adalah ini: "Aku tidak menggunakannya dan aku tidak menggelapkannya, dan aku juga tidak peduli bagaimana orang lain menggunakannya atau apakah orang lain menggelapkannya." Kukatakan kepada para pemimpin palsu ini bahwa sikap suam-suam kukumu ini sangat menyusahkan. Tidak menggunakannya dan tidak menggelapkan persembahan adalah hal yang seharusnya orang-orang lakukan, tetapi sebagai seorang pemimpin atau pekerja, yang seharusnya kaulakukan lebih lagi adalah mengelola persembahan dengan baik, tetapi engkau telah gagal melakukannya. Itu disebut pengabaian tanggung jawab. Inilah perwujudan dari seorang pemimpin palsu. Engkau mungkin tidak menggunakan satu sen pun atau menggelapkan persembahan sedikit pun, tetapi karena engkau tidak melakukan pekerjaan nyata, dan engkau tidak melakukan pekerjaan pengelolaan spesifik apa pun terhadap persembahan, engkau digolongkan sebagai pemimpin palsu, dan melakukannya dibenarkan dan masuk akal. Beberapa pemimpin tidak pernah mengambil atau menggunakan persembahan apa pun—sekalipun semua pemimpin dan pekerja lain menggunakannya, mereka tidak melakukannya, dan ketika rumah Tuhan mengatur untuk memberi mereka sesuatu, mereka menolaknya. Mereka tampak cukup bersih dan bebas dari ketamakan, tetapi ketika mereka diatur untuk mengelola persembahan, mereka sama sekali tidak melakukan pekerjaan spesifik apa pun. Siapa pun yang menggunakan persembahan, mereka akan menyetujuinya—mereka bahkan tidak menanyakan apa pun, dan mereka tidak mengatakan sepatah kata pun tentang hal itu. Meskipun orang-orang ini tidak menggelapkan satu sen pun dari persembahan, di bawah lingkup pengelolaan mereka, persembahan dikuasai oleh orang-orang jahat, dan karena sikap mereka yang tidak bertanggung jawab dan mengabaikan tanggung jawab, persembahan dapat diboroskan dan dihamburkan oleh siapa pun. Bukankah pemborosan dan penghamburan ini ada kaitannya dengan kesalahan pengelolaan mereka? Bukankah itu disebabkan karena mereka mengabaikan tanggung jawab? (Ya.) Bukankah mereka memiliki andil dalam perbuatan jahat orang-orang ini? Bukankah mereka memikul tanggung jawab atas perbuatan itu? Ini adalah tanggung jawab besar yang harus dipikul, dan mereka tidak dapat menghindarinya! Mereka hanya berpegang pada pernyataan mereka: "Bagaimanapun juga, aku tidak menggelapkan persembahan milik Tuhan, dan aku tidak ingin atau berencana untuk melakukannya. Siapa pun yang menggunakan persembahan milik Tuhan, aku tidak menggunakannya; siapa pun yang mengambil dan menggunakannya, aku tidak melakukannya; siapa pun yang menikmatinya, aku tidak menikmatinya. Inilah sikapku terhadap persembahan—kau dapat melakukan apa pun yang kauinginkan!" Adakah orang-orang semacam itu? (Ada.) Antikristus menggunakan persembahan untuk membeli pakaian bermerek, barang-barang mewah, dan bahkan mobil. Katakan kepada-Ku, dapatkah pemimpin palsu semacam ini melihat masalah itu? Mereka sendiri tidak menggelapkan persembahan, mereka memiliki sikap seperti ini, jadi bukankah mereka menganggap bahwa menggelapkannya adalah hal yang buruk? (Ya.) Jadi, ketika antikristus melakukan kejahatan yang begitu besar, mengapa mereka mengabaikannya dan tidak menghentikannya? Mengapa mereka tidak menganggapnya serius? (Mereka tidak ingin menyinggung orang.) Bukankah itu perbuatan jahat? (Ya.) Itu berarti tidak memenuhi tanggung jawab yang seharusnya dilakukan oleh seorang pengurus. Jika, dalam pengelolaanmu, persembahan dikuasai oleh orang-orang jahat, diboroskan, dihamburkan, dan digunakan secara tidak masuk akal, jika persembahan hilang seperti ini, tetapi engkau tidak melakukan pekerjaan apa pun atau bahkan mengucapkan sepatah kata pun, bukankah itu adalah pengabaian tanggung jawab? Bukankah itu perwujudan dari pemimpin palsu? Jika engkau tidak mengatakan apa yang seharusnya kaukatakan, tidak melakukan pekerjaan yang seharusnya kaulakukan, tidak memenuhi tanggung jawab yang seharusnya kaupenuhi, dan meskipun engkau memahami semua doktrin, engkau tidak melakukan pekerjaan nyata, engkau pasti adalah seorang pemimpin palsu. Engkau percaya, "Bagaimanapun juga, aku tidak menggelapkan persembahan; jika orang lain menggelapkannya, itu adalah urusan mereka." Jadi, bukankah engkau seorang pemimpin palsu? Tidak menggelapkan persembahan adalah urusan pribadimu, tetapi sudahkah engkau menjaga persembahan dengan baik? Sudahkah engkau memenuhi tanggung jawabmu berkenaan dengan persembahan? Jika belum, engkau adalah pemimpin palsu. Jangan mencari-cari alasan bagi dirimu sendiri, dengan berkata: "Bagaimanapun juga, aku tidak menggelapkan persembahan, jadi aku bukan pemimpin palsu!" Tidak menggelapkan persembahan tidak memenuhi syarat sebagai kriteria untuk mengukur apakah seorang pemimpin atau pekerja memenuhi standar atau tidak; kriteria yang benar untuk mengukur apakah mereka memenuhi standar atau tidak adalah jika mereka memenuhi tanggung jawab mereka, melakukan apa yang seharusnya orang lakukan, dan memenuhi kewajiban yang seharusnya orang penuhi, dalam hal-hal yang dipercayakan kepada mereka oleh Tuhan—itulah yang terpenting. Jadi, dalam pengelolaan persembahan, apa kewajiban dan tanggung jawabmu? Sudahkah engkau melakukan semuanya? Sangat jelas bahwa engkau belum melakukannya. Engkau hanya bersikap asal-asalan; engkau takut menyinggung orang lain, tetapi engkau tidak takut menyinggung Tuhan. Engkau mengabaikan persembahan karena engkau takut menyinggung orang lain, takut merusak citramu yang baik di mata mereka—jika engkau memiliki perwujudan ini, engkau pasti adalah seorang pemimpin palsu. Ini bukan memberi label terhadap dirimu. Fakta-faktanya sudah dipaparkan untuk dilihat semua orang: Engkau bahkan tidak mampu memenuhi kewajiban dan tanggung jawabmu—engkau sangat egois! Engkau mengelola barang-barangmu sendiri, harta pribadimu, dengan cukup baik, teliti, dan hati-hati. Engkau tidak membiarkan barang-barang itu terpapar unsur-unsur alam; engkau tidak membiarkan siapa pun membawanya pergi, dan engkau tidak membiarkan siapa pun mengambil keuntungan darimu. Namun, terhadap persembahan, engkau sama sekali tidak memiliki rasa tanggung jawab—engkau bahkan tidak memenuhi sepersepuluh dari tanggung jawab yang kaulakukan dalam hal mengelola barang-barangmu sendiri. Bagaimana engkau bisa dianggap sebagai pengurus yang baik? Bagaimana engkau bisa dianggap sebagai seorang pemimpin atau pekerja? Engkau tak pelak lagi adalah seorang pemimpin palsu. Ini adalah perwujudan dari salah satu jenis pemimpin palsu.

III. Membatasi Pengeluaran yang Masuk Akal

Ada jenis pemimpin palsu lainnya, dan mereka juga cukup menjijikkan. Setelah orang-orang seperti ini menjadi pemimpin, mereka melihat bahwa orang yang menjaga persembahan telah menggunakan uang secara berlebihan dan sangat boros, jadi mereka memberhentikannya. Mereka kemudian ingin mencari seseorang yang mampu merencanakan dengan cermat dan membuat anggaran dengan saksama, yang benar-benar berhemat, dan yang tahu cara mengelola rumah tangga secara ekonomis. Mereka mengira orang seperti itulah yang akan menjadi pengurus yang baik, dan ternyata mereka merasa tidak ada orang yang sesuai, dan akhirnya mereka menjaga persembahan itu sendiri. Ketika saudara-saudari berkata bahwa beberapa buku firman Tuhan perlu dicetak untuk pemberitaan Injil, para pemimpin ini tidak mengizinkannya, menganggap bahwa biaya untuk mencetak buku cukup mahal; mereka tidak peduli apakah buku-buku tersebut sangat dibutuhkan untuk pekerjaan itu—bagi mereka, itu tidak menjadi masalah asalkan mereka menghemat uang. Mereka sama sekali tidak tahu bagaimana cara menggunakan persembahan milik Tuhan yang paling sesuai dengan maksud-Nya; yang mereka tahu hanyalah bagaimana melindungi persembahan milik Tuhan dan tidak membiarkannya disentuh sama sekali. Mereka tidak menggunakan apa yang seharusnya digunakan—mereka benar-benar melakukan pemeriksaan dengan sangat "baik"! Bagaimana pekerjaan bisa berjalan seperti ini? Apakah para pemimpin ini memiliki prinsip dalam tindakan mereka? (Tidak.) Mereka melarang melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan, atau melarang pencetakan buku yang seharusnya dicetak, atau melarang pengeluaran uang yang seharusnya dikeluarkan—mereka tidak mengizinkan pengeluaran apa pun yang masuk akal. Apakah itu yang disebut dengan pengelolaan? (Bukan.) Disebut apakah itu? Itu disebut tidak memahami prinsip. Orang-orang yang tidak memahami prinsip tidak tahu bagaimana cara mengelola persembahan saat mereka bekerja. Mereka menganggap bahwa mereka harus menjaga uang persembahan dan tidak membiarkannya berkurang sesen pun, dan bahwa, apa pun pengeluarannya, uang tersebut tidak boleh disentuh. Apakah ini sesuai dengan maksud Tuhan? (Tidak.) Mengatur berbagai hal dan melakukan pemeriksaan tanpa prinsip bukanlah pengelolaan. Pengeluaran yang tidak perlu, penghamburan, dan pemborosan bukanlah pengelolaan, tetapi tidak membiarkan sesen pun digunakan dan membatasi pengeluaran yang masuk akal karena pemeriksaan juga bukan pengelolaan. Keduanya tidak sesuai dengan prinsip-prinsip. Karena ada orang-orang yang tidak memahami prinsip-prinsip dalam hal menggunakan, mendistribusikan, dan mengelola persembahan, segala macam hal yang menggelikan dan segala macam kekacauan terjadi. Dari luar, para pemimpin ini tampaknya cukup bertanggung jawab dan berdedikasi, tetapi bagaimana cara mereka bekerja? (Tidak berprinsip.) Karena cara mereka bekerja tidak berprinsip, pekerjaan penginjilan di daerah mereka mengalami hambatan dan pembatasan, serta beberapa pekerjaan profesional turut dibatasi, akibat pemeriksaan mereka yang terlalu ketat terhadap penggunaan persembahan. Dari luar, mereka tampak sangat teliti dan bertanggung jawab dalam menjaga persembahan. Namun sebenarnya, karena mereka tidak memiliki pemahaman rohani, dan hanya bertindak berdasarkan gagasan dan imajinasi mereka, serta bahkan melakukan pemeriksaan untuk rumah Tuhan dengan dalih berhemat demi gereja, mereka sangat memengaruhi kemajuan berbagai bagian dari pekerjaan gereja bahkan tanpa menyadarinya. Dapatkah orang-orang semacam itu digolongkan sebagai pemimpin palsu? (Ya.) Ini membuat mereka layak disebut pemimpin palsu. Hingga taraf tertentu, mereka telah menyebabkan gangguan dan kekacauan pada pekerjaan penginjilan dan pekerjaan gereja. Gangguan dan kekacauan ini disebabkan karena mereka tidak memahami prinsip-prinsip, serta mereka bekerja secara ceroboh berdasarkan preferensi dan gagasan mereka sendiri, dan tidak mencari prinsip-prinsip kebenaran, atau mendiskusikan berbagai hal, atau bekerja sama dengan orang lain. Persembahan tidak akan dihamburkan atau diboroskan saat berada di tangan mereka, tetapi mereka tidak dapat menggunakan persembahan secara wajar berdasarkan prinsip-prinsip, dan tidak mengizinkannya untuk digunakan hanya demi melindungi mereka, dan akibatnya pekerjaan menyebarkan Injil tertunda, dan memengaruhi operasi normal pekerjaan rumah Tuhan. Jadi, berdasarkan perwujudan ini, sama sekali tidak berlebihan untuk menggolongkan mereka sebagai pemimpin palsu. Mengapa orang-orang semacam itu juga digolongkan sebagai pemimpin palsu? Mereka tidak tahu bagaimana melakukan pekerjaan, dan pemahaman mereka tentang cara memperlakukan persembahan dan cara memperlakukannya sangat menyimpang, jadi dapatkah mereka melakukan pekerjaan lain dengan baik? Tentu saja tidak. Bukankah ada masalah dengan pemahaman orang-orang ini? (Ya.) Pemahaman mereka menyimpang, mereka mematuhi aturan, mereka berpura-pura, dan mereka memiliki kerohanian yang palsu. Mereka tidak mempertimbangkan pekerjaan rumah Tuhan, dan mereka tidak bertindak berdasarkan prinsip-prinsip—mereka tidak dapat menemukan prinsip-prinsip untuk bertindak, dan mereka hanya mengandalkan kecerdasan mereka yang picik dan kehendak mereka sendiri serta mematuhi aturan. Itulah sebabnya pekerjaan mereka mengakibatkan gangguan dan kekacauan. Cara kerja mereka bodoh dan kikuk—itu menjijikkan. Orang-orang semacam itu jelas adalah pemimpin palsu. Adakah orang yang berkata, "Aku menjaga persembahan dengan sangat baik, aku melakukan pekerjaan ini dengan penuh perhatian, dan tetap saja, aku digolongkan sebagai pemimpin palsu. Kalau begitu, aku tidak mau lagi mengelolanya! Siapa pun yang ingin menghabiskannya silakan; siapa pun yang ingin menggunakannya silakan; siapa pun yang ingin mengambilnya silakan!"? Adakah orang yang memiliki pemikiran seperti itu? Lalu, apa tujuan kita dalam menyingkapkan berbagai keadaan dan perwujudan dari berbagai jenis pemimpin palsu? (Untuk membuat orang-orang memahami prinsip-prinsip dan menghindarkan diri mereka dari menempuh jalan pemimpin palsu.) Benar. Tujuannya adalah agar orang-orang memahami prinsip-prinsip, agar mereka dapat melakukan pekerjaan mereka dengan baik dan memenuhi tanggung jawab mereka sesuai dengan prinsip, agar mereka tidak menggunakan imajinasi dan gagasan, tidak memiliki kehendak manusia atau bertindak dengan sikap yang gampang marah, tidak membiarkan teori yang mereka bayangkan menggantikan prinsip-prinsip kebenaran, tidak berpura-pura menjadi rohani, dan tidak menggunakan apa yang mereka anggap rohani sebagai tiruan atau pengganti prinsip-prinsip. Orang-orang semacam itu memang ada di antara para pemimpin dan pekerja, dan layak untuk menjadikan mereka sebagai peringatan.

IV. Mengambil dan Menikmati Persembahan

Ada jenis pemimpin palsu lainnya, dan pekerjaan yang mereka lakukan dalam hal mengelola persembahan bahkan lebih berantakan. Mereka menganggap bahwa sebagai pemimpin atau pekerja, mereka tidak bisa selalu berfokus pada persembahan, atau bersikap penuh perhatian jika menyangkut persembahan. Mereka berpikir bahwa mereka hanya perlu melakukan pekerjaan administrasi gereja dengan baik, dan melakukan pekerjaan kehidupan bergereja dan jalan masuk kehidupan umat pilihan Tuhan dengan baik, dan selain itu, memastikan bahwa berbagai jenis pekerjaan profesional dilakukan dengan baik. Mereka beranggapan bahwa persembahan adalah uang dan barang-barang yang Tuhan sediakan bagi gereja, dan bahwa uang serta barang-barang ini ada untuk memenuhi kebutuhan para pemimpin dan pekerja dalam kehidupan dan pekerjaan mereka. Yang tersirat di sini adalah bahwa persembahan dipersiapkan untuk para pemimpin dan pekerja, dan bahwa setelah seseorang dipilih sebagai pemimpin atau pekerja, Tuhan mengizinkan mereka untuk menikmati persembahan ini, dan bahwa para pemimpin dan pekerja mendapat prioritas untuk mendistribusikannya, menikmatinya, dan menggunakannya—jadi, begitu orang menjadi pemimpin atau pekerja, mereka menjadi penguasa persembahan, pengelola dan pemilik persembahan. Ketika orang-orang semacam ini terlibat dengan persembahan dalam pekerjaannya, mereka tidak mencatatnya, menghitungnya, atau menjaganya, dan mereka juga tidak memeriksa catatan keuangan dalam hal persembahan yang masuk dan keluar, apalagi memeriksa status pengeluaran dan distribusinya. Sebaliknya, mereka menyelidiki dan memahami apa saja persembahan yang tersedia dan apakah ada yang dapat dinikmati oleh para pemimpin dan pekerja. Sikap seperti inilah yang dimiliki para pemimpin dan pekerja ini terhadap persembahan. Dalam pandangan mereka, persembahan tidak perlu dicatat, dihitung, dijaga, atau diperiksa jumlah yang masuk atau keluar atau keadaan pengeluarannya—hal-hal semacam itu tidak ada kaitannya dengan mereka—mereka hanya perlu mendistribusikan persembahan kepada para pemimpin dan pekerja, memberi mereka prioritas dalam hal menikmati persembahan. Dalam pandangan mereka, apa yang dikatakan para pemimpin dan pekerja adalah prinsip—bagaimana menggunakan dan mendistribusikan persembahan adalah keputusan mereka. Mereka menganggap bahwa dipilih sebagai pemimpin atau pekerja berarti seseorang telah disempurnakan, dan bahwa, seperti seorang imam, mereka memiliki hak istimewa untuk menikmati persembahan, serta menjadi penentu keputusan, memiliki hak untuk menggunakan dan hak untuk mendistribusikan dalam hal persembahan. Di beberapa gereja, sebelum barang-barang yang dipersembahkan oleh saudara-saudari dapat dicatat, dihitung, dan disimpan oleh personel yang benar, para pemimpin dan pekerja telah memeriksa, menyaring, dan memilah-milahnya, menyimpan apa pun yang dapat mereka gunakan, memakan apa pun yang dapat mereka makan, mengenakan apa pun yang dapat mereka kenakan, dan langsung mendistribusikan apa pun yang tidak mereka butuhkan kepada siapa pun yang membutuhkannya, dengan demikian mengambil keputusan menggantikan Tuhan. Inilah prinsip mereka. Apa yang sedang terjadi di sini? Apakah mereka benar-benar menganggap bahwa mereka adalah imam? Bukankah ini sangat tidak bernalar? (Ya.) Ada pemimpin dan pekerja lain yang melihat bahwa satu keluarga kekurangan dua kursi, bahwa keluarga lain tidak memiliki kompor, dan bahwa seseorang dalam kondisi kesehatan yang buruk dan perlu mengonsumsi suplemen kesehatan, lalu menggunakan uang milik rumah Tuhan untuk membeli semua barang ini. Pendistribusian, pemakaian, pengeluaran, dan hak penggunaan semua persembahan adalah milik para pemimpin dan pekerja ini—apakah ini masuk akal? Bukankah pendekatan ini disebabkan oleh adanya masalah dengan penalaran mereka? Atas dasar apa mereka mengambil keputusan itu? Apakah para pemimpin dan pekerja memiliki hak untuk mengendalikan persembahan? (Tidak.) Persembahan adalah untuk mereka kelola, bukan untuk mereka kendalikan dan gunakan. Mereka tidak memiliki hak istimewa untuk menikmatinya. Apakah para pemimpin dan pekerja setara dengan para imam? Apakah mereka setara dengan orang-orang yang telah disempurnakan? Apakah mereka adalah pemilik persembahan? (Tidak.) Lalu mengapa mereka memutuskan untuk menggunakan persembahan guna membeli barang-barang untuk para keluarga ini tanpa izin—mengapa mereka memiliki hak itu? Siapa yang memberikan hak itu kepada mereka? Apakah pengaturan kerja menetapkan: "Hal pertama yang harus dilakukan para pemimpin dan pekerja setelah memangku jabatan mereka adalah mengambil kendali penuh atas keuangan rumah Tuhan"? (Tidak.) Lalu mengapa ada sebagian pemimpin dan pekerja yang menganggapnya demikian? Apa masalahnya di sana? Ketika seorang saudara atau saudari mempersembahkan pakaian mahal dan ada seorang pemimpin atau pekerja yang mengenakannya pada keesokan harinya, apa yang sedang terjadi? Mengapa persembahan yang diberikan oleh saudara-saudari jatuh ke tangan seseorang? "Seseorang" di sini tidak lain adalah seorang pemimpin atau pekerja. Dia bukan hanya gagal mengelola persembahan dengan baik, melainkan dia juga memimpin dalam mengambil dan menikmatinya secara pribadi. Apa masalahnya di sini? Jika kita melihat pemimpin atau pekerja tersebut berdasarkan dia tidak melakukan pekerjaan nyata dalam hal pengelolaan persembahan, dia dapat digolongkan sebagai pemimpin palsu—tetapi jika kita melihat dia dalam hal dia mengambil dan menikmati persembahan secara pribadi, dia dapat seratus persen digolongkan sebagai antikristus. Jadi, digolongkan sebagai apakah tepatnya orang tersebut? (Sebagai antikristus.) Dia adalah pemimpin palsu dan antikristus. Dalam mengelola persembahan, para pemimpin palsu memeriksa semua persembahan, dan mereka menugaskan orang-orang untuk mengelolanya. Namun, sebelum mereka menugaskan orang-orang, mereka mengambil sebagian persembahan tersebut untuk diri mereka sendiri dan memutuskan tanpa izin untuk mendistribusikan sebagian lainnya. Sedangkan barang-barang yang tersisa—yang tidak mereka inginkan, atau yang tidak mereka kenali, tetapi tidak ingin mereka berikan—mereka mengesampingkan barang-barang ini untuk sementara waktu. Mengenai di mana persembahan tersebut berada, apakah ada orang yang sesuai untuk menjaganya, apakah harus diperiksa secara berkala, apakah ada yang mencurinya, atau apakah ada yang mengambilnya, para pemimpin palsu semuanya tidak memedulikan hal-hal ini. Prinsip mereka adalah: "Aku telah mendapatkan barang-barang yang seharusnya kunikmati dan barang-barang yang kubutuhkan. Siapa pun yang ingin mengambil barang-barang sisa yang tidak kubutuhkan boleh mengambilnya; siapa pun yang ingin mengelolanya boleh mengelolanya. Itu adalah milik siapa pun yang mengambilnya terlebih dahulu—siapa pun yang mendapatkannya akan menerima keuntungan." Prinsip dan logika macam apa ini? Orang-orang semacam itu jelas-jelas setan dan binatang buas!

Seorang pemimpin palsu pernah mengatakan bahwa ada banyak sekali barang di dalam gudang, dan Aku bertanya apakah dia telah mencatatnya atau belum. Dia menjawab, "Aku bahkan tidak tahu apa saja barang-barang tersebut, jadi tidak ada cara untuk mencatatnya." Aku berkata, "Omong kosong. Bagaimana mungkin engkau tidak punya cara untuk mencatatnya? Seharusnya ada catatan tentang barang-barang itu sejak pertama kali dibawa ke sini!" "Itu sudah lama sekali, tidak ada cara untuk mengetahuinya." Perkataan macam apa ini? Apakah dia bertanggung jawab? (Tidak.) Aku berkata, "Ada beberapa pakaian—lihatlah saudara-saudari mana yang membutuhkannya, dan berikan pakaian-pakaian tersebut kepada mereka." "Beberapa di antaranya sudah ketinggalan zaman. Tak ada yang berminat." Aku berkata, "Berikan pakaian mana yang dibutuhkan saudara-saudari, dan tangani apa yang tidak mereka butuhkan dengan sepatutnya." Dia tidak menindaklanjutinya. Apakah dia bersikap teliti dan rajin? Ketika dia diminta untuk melakukan suatu pekerjaan, dia terus mengeluh, mengatakan hal-hal negatif, dan menunjukkan adanya kesulitan. Yang tidak dia katakan adalah bahwa dia akan menangani hal-hal ini dengan baik, berdasarkan prinsip. Dia sama sekali tidak berniat untuk tunduk. Apa pun tuntutan yang diajukan seseorang terhadapnya, dia terus berbicara tentang kesulitan, seolah-olah jika dia membuat orang itu terdiam dengan terus seperti ini, dia akan menang dan memegang kendali, lalu pekerjaannya dianggap sudah selesai. Makhluk macam apakah orang ini? Engkau tidak dijadikan pemimpin atau pekerja agar engkau dapat menyebabkan masalah, atau agar engkau dapat menunjukkan adanya kesulitan dan masalah, tetapi agar engkau dapat menyelesaikan masalah dan menangani kesulitan. Jika engkau benar-benar cakap dalam pekerjaanmu, maka setelah mengemukakan masalah dan kesulitan, engkau akan terus berbicara tentang bagaimana engkau akan menangani dan menyelesaikannya berdasarkan prinsip-prinsip. Para pemimpin palsu hanya dapat meneriakkan slogan-slogan, mengkhotbahkan doktrin, membual, serta berbicara tentang pembenaran dan alasan yang objektif—mereka sama sekali tidak memiliki kemampuan kerja yang nyata, dan dengan pengelolaan persembahan, mereka juga tidak dapat bertindak berdasarkan prinsip atau memenuhi tanggung jawab mereka. Pikiran mereka begitu terbelakang dan mereka tidak mampu, tetapi mereka tetap merasa bahwa karena sekarang mereka adalah pemimpin atau pekerja, mereka memiliki hak istimewa dan status, memiliki identitas yang terhormat, serta merupakan pemilik dan pengguna persembahan. Pemimpin palsu semacam ini hanya tahu bagaimana menikmati hak istimewa untuk menggunakan persembahan—mereka tidak dapat melihat atau menemukan kasus pengeluaran persembahan yang tidak masuk akal dan sembarangan, dan mereka bahkan mungkin melihatnya, tetapi tidak melakukan apa pun untuk menanganinya. Mengapa demikian? Itu karena mereka hanya tahu cara menikmati rasa keunggulan yang berasal dari menjadi pemimpin atau pekerja—mereka sama sekali tidak memahami tuntutan Tuhan terhadap para pemimpin dan pekerja atau prinsip-prinsip untuk melakukan pekerjaan rumah Tuhan. Mereka hanyalah orang-orang yang tidak berguna, mereka hanyalah sampah, dan orang-orang yang pikirannya terbelakang. Bukankah memuakkan bahwa orang-orang bingung semacam itu tetap ingin menikmati manfaat dari status? Apa yang telah engkau semua pahami dari penyingkapan kita tentang pemimpin palsu semacam ini? Begitu orang semacam ini menjadi pemimpin atau pekerja, mereka ingin membuat rencana kotor mengenai persembahan, dan mata mereka tertuju pada persembahan. Dengan melihatnya secara sekilas, orang dapat mengetahui bahwa mereka telah lama berhasrat untuk menggunakan uang secara berlebihan dan menghamburkan persembahan. Sekarang, akhirnya mereka mendapat kesempatan; mereka dapat menggunakan uang secara serampangan dengan cara seperti itu, dan menggunakan persembahan milik Tuhan sekehendak hati mereka, menikmati segala sesuatu yang mereka peroleh tanpa bekerja. Dengan demikian, keserakahan mereka yang sebenarnya sepenuhnya tersingkap. Apakah engkau semua melihat orang-orang semacam itu di antara para pemimpin dan pekerja, dahulu dan sekarang? Mereka selalu menyalahartikan tanggung jawab dan definisi dari pemimpin dan pekerja, dan segera setelah mereka menjadi pemimpin atau pekerja, mereka menganggap diri mereka sebagai penguasa atas rumah Tuhan, mereka menempatkan diri mereka di antara jajaran para imam, dan mereka menganggap diri mereka sebagai orang yang terhormat. Bukankah pikiran ini agak terbelakang? Apakah benar bahwa begitu seseorang menjadi pemimpin atau pekerja, dia bukan lagi manusia yang rusak? Apakah benar bahwa dia segera berubah menjadi orang yang telah dikuduskan? Begitu dia menjadi pemimpin, dia tidak tahu lagi siapa dirinya, dan dia menganggap bahwa dia seharusnya menikmati persembahan—bukankah orang semacam itu pikirannya terbelakang? Orang-orang semacam itu pasti berpikiran terbelakang, mereka tidak memiliki nalar kemanusiaan yang normal. Bahkan setelah kita bersekutu seperti ini, mereka tetap tidak tahu apa tugas dan tanggung jawab para pemimpin dan pekerja. Pemimpin dan pekerja semacam itu sudah pasti ada, dan perwujudan orang-orang semacam itu sangat jelas dan menonjol.

Inilah pada dasarnya perwujudan dari berbagai macam pemimpin palsu dalam hal menjaga persembahan. Mereka yang memiliki masalah yang lebih serius tidak termasuk dalam kategori pemimpin palsu—mereka adalah antikristus. Jadi, engkau semua perlu memahami cakupan ini dengan baik. Jika orang adalah pemimpin palsu, itulah diri mereka—mereka tidak bisa digolongkan sebagai antikristus. Antikristus jauh lebih jahat daripada pemimpin palsu dalam hal kemanusiaan, tindakan, perwujudan, dan esensi. Kebanyakan pemimpin palsu memiliki kualitas yang buruk, pikiran mereka terbelakang, mereka tidak memiliki kemampuan kerja, pemahaman mereka menyimpang, dan tidak memiliki pemahaman rohani, karakter mereka rendah, mereka egois dan hina, serta hati mereka tidak baik. Hal ini menyebabkan mereka tidak mampu dan tidak melakukan pekerjaan nyata dalam hal menjaga persembahan, dan itu memengaruhi pengelolaan yang wajar dan penjagaan persembahan yang sepatutnya. Sebagian dari persembahan bahkan jatuh ke tangan orang-orang jahat karena para pemimpin palsu lalai dalam tanggung jawab mereka, tidak melakukan pekerjaan nyata, serta tidak bertindak berdasarkan prinsip-prinsip dan tuntutan rumah Tuhan—masalah semacam ini juga cukup sering muncul. Berbagai perwujudan pemimpin palsu ketika menjaga persembahan pada dasarnya menyingkapkan antara lain: karakter mereka rendah, mereka egois dan hina, pemahaman mereka menyimpang, mereka tidak memiliki kemampuan kerja, kualitas mereka buruk, mereka sama sekali tidak mencari prinsip-prinsip kebenaran, dan mereka seperti orang-orang bodoh dan berpikiran terbelakang. Ada orang-orang yang mungkin berkata, "Kami membenarkan semua perwujudan lain yang Engkau singkapkan, tetapi jika mereka bodoh dan berpikiran terbelakang, bagaimana mungkin mereka menjadi pemimpin?" Apakah engkau semua mengakui bahwa beberapa pemimpin dan pekerja bodoh dan berpikiran terbelakang? Adakah orang-orang semacam itu? Ada orang-orang yang mungkin berkata, "Engkau terlalu meremehkan kami. Kami semua adalah orang-orang modern, lulusan perguruan tinggi atau sekolah menengah atas—kami memiliki kemampuan yang sangat baik untuk membuat penilaian terhadap masyarakat dan umat manusia ini. Bagaimana mungkin kami memilih orang yang berpikiran terbelakang untuk menjadi pemimpin kami? Itu tidak mungkin terjadi!" Apanya yang tidak mungkin? Sebagian besar dari engkau semua juga memiliki pikiran terbelakang, dan kecerdasan yang tidak memadai, jadi sangat mudah bagimu untuk memilih orang yang berpikiran terbelakang untuk menjadi pemimpin. Mengapa Kukatakan sebagian besar darimu berpikiran terbelakang? Karena sebagian besar darimu, sebanyak apa pun hal-hal yang telah kaualami, tidak dapat memahami yang sebenarnya tentang esensi segala sesuatu dan tidak dapat memahami prinsip-prinsip. Engkau dapat bertahan hanya dengan mematuhi aturan selama bertahun-tahun, berulang kali mengambil pendekatan yang sama tanpa perubahan, tetap tidak mampu memahami prinsip dengan cara apa pun kebenaran itu dipersekutukan kepadamu. Apa masalahnya di sini? Kualitasmu terlalu buruk. Engkau tidak dapat memahami yang sebenarnya tentang esensi atau sumber masalah, dan tidak mampu menemukan pola perkembangan berbagai hal, apalagi mengikuti prinsip-prinsip yang seharusnya dimiliki dalam melakukan segala sesuatu—inilah yang disebut berpikiran terbelakang. Berapa lama waktu yang engkau semua butuhkan guna memahami prinsip-prinsip untuk hal-hal yang ada kaitannya dengan tugasmu? Ada orang-orang yang telah melakukan pekerjaan tulis-menulis selama beberapa tahun, tetapi bahkan sekarang, artikel dan naskah yang mereka tulis masih berupa kata-kata yang kosong, mereka tetap tidak mampu memahami prinsip-prinsip, dan tidak tahu arti kenyataan, atau bagaimana cara mengatakan sesuatu yang nyata. Ini artinya memiliki kualitas yang sangat buruk dan kecerdasan yang sangat rendah. Dengan kecerdasan yang engkau semua miliki, bukankah akan sangat mudah bagimu untuk memilih orang yang berpikiran terbelakang sebagai pemimpin? Engkau bukan hanya akan memilih mereka, melainkan engkau juga akan menetapkan hatimu pada mereka. Ketika mereka harus diberhentikan, engkau pasti tidak menginginkan itu terjadi. Dua tahun kemudian, ketika engkau telah mengetahui diri mereka yang sebenarnya dan memperoleh pemahaman, saat itulah engkau akan dapat menilai bahwa mereka adalah pemimpin palsu, tetapi sebelumnya, apa pun yang dikatakan kepadamu, engkau tidak akan membiarkan mereka diberhentikan. Bukankah pikiranmu jauh lebih terbelakang daripada mereka? Mengapa Kukatakan bahwa beberapa pemimpin dan pekerja memiliki kecerdasan yang tidak memadai? Itu karena mereka hanya tahu bagaimana melakukan pekerjaan yang paling sederhana. Mengenai pekerjaan yang sedikit lebih rumit, mereka tidak tahu bagaimana cara melakukannya, jika mereka menghadapi sedikit kesulitan, mereka tidak tahu bagaimana cara mengatasinya, dan jika diberi pekerjaan tambahan, mereka tidak tahu harus berbuat apa. Bukankah ini masalah dengan kecerdasan mereka? Bukankah para pemimpin seperti ini dipilih oleh engkau semua? Engkau semua bersujud mengagumi mereka, "Mereka percaya kepada Tuhan tanpa mencari kekasih, dan mereka telah berkorban bagi Tuhan selama lebih dari dua puluh tahun. Mereka bersedia untuk menderita, dan mereka benar-benar serius dengan pekerjaan mereka." "Namun, apakah mereka memahami prinsip-prinsip dalam pekerjaan mereka?" "Jika mereka tidak memahaminya, lalu siapa yang memahaminya?" Ternyata pekerjaan mereka benar-benar berantakan saat diperiksa—mereka tidak mampu melakukan pekerjaan apa pun. Mereka diberi tahu prinsip-prinsip untuk pekerjaan mereka, tetapi mereka tidak pernah tahu bagaimana cara melakukannya. Mereka hanya terus bertanya, dan mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan kecuali diberi tahu secara langsung. Memberi tahu mereka prinsip-prinsip sama seperti tidak mengatakan apa pun; sekalipun prinsip-prinsip itu dituliskan satu per satu, mereka tetap tidak akan tahu bagaimana cara melakukan pekerjaan itu. Adakah pemimpin yang seperti ini? Seperti apa pun caranya prinsip-prinsip itu diberitahukan kepada mereka, mereka tidak memahaminya, dan mereka tidak mampu melakukan pekerjaan itu. Mereka tetap tidak akan mengerti sekalipun engkau mempersekutukan atau menginstruksikan kata-kata atau hal yang sama kepada mereka beberapa kali, dan masalahnya akan sama sekali tidak terselesaikan sesudahnya—mereka akan tetap bertanya apa yang harus dilakukan, dan itu tidak akan berhasil jika ada satu instruksi pun yang terlewatkan. Bukankah pikiran mereka terbelakang? Bukankah para pemimpin dengan pikiran terbelakang ini dipilih oleh engkau semua? (Ya.) Engkau tidak dapat menyangkalnya, bukan? Memang ada pemimpin yang semacam itu.

Berbagai perwujudan pemimpin palsu yang telah kita persekutukan hari ini terutama ada kaitannya dengan pekerjaan mengelola persembahan. Melalui penyingkapan kita tentang berbagai perwujudan pemimpin palsu, orang-orang seharusnya tahu bahwa mengelola persembahan adalah bagian penting dari pekerjaan para pemimpin dan pekerja, serta mereka tidak boleh mengabaikannya. Meskipun pekerjaan bagian umum ini berbeda dari pekerjaan lainnya, pekerjaan ini ada kaitannya dengan operasi normal pekerjaan lainnya di rumah Tuhan. Jadi, mengelola persembahan adalah bagian pekerjaan yang sangat penting dan krusial. Mengapa itu penting? Segala sesuatu yang dijaga dalam pekerjaan pengelolaan persembahan adalah milik Tuhan—dengan kata lain, semua itu adalah harta milik Tuhan sendiri, jadi para pemimpin dan pekerja seharusnya lebih sepenuh hati, teliti, dan tekun dalam melakukan pekerjaan ini. Jika kita melihat pekerjaan ini dari segi naturnya, Aku rasa tidak berlebihan untuk memasukkannya ke dalam pekerjaan administrasi. Alasan mengapa kita memasukkannya ke dalam kategori pekerjaan administrasi adalah karena melakukan pekerjaan ini ada kaitannya dengan sikap orang terhadap Tuhan dan terhadap aset-Nya. Jadi, orang-orang perlu memiliki sikap yang benar dan memahami prinsip-prinsip yang benar ketika melakukan pekerjaan ini. Alasan kita memasukkannya ke dalam kategori pekerjaan administrasi adalah agar para pemimpin dan pekerja memahami bahwa sangatlah penting untuk melakukan bagian pekerjaan ini, dan bahwa pekerjaan ini adalah tugas yang sangat berbobot dan beban yang sangat berat. Tujuannya adalah agar mereka memahami bahwa mereka tidak boleh memperlakukannya seolah-olah itu adalah pekerjaan bagian umum biasa—bahwa mereka harus memiliki pengetahuan yang akurat dan mendalam tentang pentingnya pekerjaan ini, dan kemudian mulai menjadi sepenuh hati, teliti, dan tekun dalam melakukannya. Orang-orang bisa saja kurang memperhatikan orang lain—sekalipun kesalahan terjadi, itu bukan masalah besar. Namun, Aku menasihati agar orang-orang tidak bingung, tidak bersikap asal-asalan, dan bukan cuma bicara tanpa tindakan dalam cara mereka memperlakukan Tuhan. Melakukan pekerjaan mengelola persembahan dengan baik adalah amanat penting dari Tuhan bagi para pemimpin dan pekerja.

8 Mei 2021

Sebelumnya: Tanggung Jawab Para Pemimpin dan Pekerja (11)

Selanjutnya: Tanggung Jawab Para Pemimpin dan Pekerja (13)

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Pengaturan

  • Teks
  • Tema

Warna Solid

Tema

Jenis Huruf

Ukuran Huruf

Spasi Baris

Spasi Baris

Lebar laman

Isi

Cari

  • Cari Teks Ini
  • Cari Buku Ini