Hanya Mengetahui Keenam Jenis Watak Rusak yang Berarti Benar-Benar Mengenal Diri Sendiri

Apa tujuan manusia percaya kepada Tuhan? (Agar diselamatkan.) Keselamatan adalah topik abadi dalam kepercayaan kepada Tuhan. Jadi, bagaimana agar orang dapat diselamatkan? (Dengan mengejar kebenaran dan selalu hidup di hadapan Tuhan.) Itu adalah semacam penerapannya. Apa yang akan diperoleh dengan selalu hidup di hadapan Tuhan? Apa tujuannya? (Untuk membangun hubungan yang normal dengan Tuhan.) (Agar takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, agar memahami kebenaran dan benar-benar mengenal Tuhan.) Apa lagi? (Untuk mencari kebenaran, untuk menjadikan kebenaran sebagai hidup kami.) Hal-hal ini sering dikatakan selama khotbah, semua ini adalah kalimat-kalimat rohani. Apa lagi? (Agar kami mengalami diri kami dipangkas oleh Tuhan, juga mengalami penghakiman dan hajaran-Nya, serta ujian dan pemurnian-Nya agar kami mulai merenungkan dan mengenal diri kami sendiri dan mencari kebenaran untuk membereskan watak rusak kami selama proses ini, juga agar kami benar-benar mengenal Tuhan, sehingga kami akhirnya menjadi orang yang memiliki kebenaran dan kemanusiaan.) Tampaknya engkau semua telah memahami banyak hal dari khotbah selama beberapa tahun terakhir ini. Jadi, dapatkah hal-hal yang engkau semua pahami ini digunakan dalam pengalamanmu menyelesaikan masalah dan kesulitan nyata tertentu? Misalnya, pemikiran dan gagasan yang salah, kenegatifan dan kelemahan yang sesekali, serta masalah-masalah tertentu yang berkaitan dengan gagasan dan imajinasi: dapatkah hal-hal ini dibereskan dengan cepat? Ada orang yang mungkin mampu menyelesaikan beberapa masalah kecil, tetapi mungkin masih mengalami kesulitan untuk menyelesaikan masalah-masalah besar yang mendasar. Berdasarkan tingkat pemahaman akan kebenaran yang sekarang ini kaumiliki, akankah engkau semua mampu tetap teguh jika dihadapkan dengan ujian yang sama seperti yang Ayub hadapi? (Kami bertekad untuk tetap teguh, tetapi kami tidak tahu akan seperti apa tingkat pertumbuhan kami yang sebenarnya jika sesuatu benar-benar terjadi pada kami.) Namun, bukankah engkau seharusnya tahu tingkat pertumbuhanmu yang sebenarnya, sekalipun tidak terjadi sesuatu pada dirimu? Tidak mengetahui hal ini sangat berbahaya! Tahukah engkau apa sajakah aspek praktis dari perkataan rohani dan kalimat rohani yang sering kali diulang ini? Mengertikah engkau apa maksud sebenarnya dari masing-masing kalimat ini? Mengertikah engkau apa sebenarnya kebenaran yang ada dalam kalimat-kalimat tersebut? Jika engkau mengetahuinya, dan telah mengalami hal-hal ini, itu membuktikan bahwa engkau memahami kebenaran. Jika engkau hanya mampu mengulang beberapa perkataan dan kalimat rohani, tetapi semua itu tidak berguna bagimu ketika engkau benar-benar mengalami sesuatu, dan semua itu tak mampu menyelesaikan masalahmu, maka ini membuktikan bahwa setelah bertahun-tahun percaya kepada Tuhan, engkau masih tidak memahami kebenaran, dan engkau belum memiliki pengalaman nyata apa pun. Apa maksud-Ku mengatakan hal ini? Setelah orang percaya kepada Tuhan sampai sejauh ini, mereka memahami kebenaran hanya sedikit lebih banyak daripada para agamawan atau orang-orang tidak percaya, mereka memahami sedikit tentang visi pekerjaan Tuhan, dan mampu menaati beberapa peraturan, dan dapat dikatakan memiliki pengertian serta penghayatan tertentu, dan memiliki beberapa pemahaman sejati tentang kedaulatan Tuhan—tetapi sudahkah hal-hal ini membuat watak hidup mereka berubah? Masing-masing darimu mampu, secara keseluruhan, berbicara sedikit tentang kebenaran yang sudah sering kaudengar, yang berkaitan dengan visi: visi pekerjaan Tuhan, tujuan pekerjaan Tuhan, dan maksud Tuhan bagi manusia; dan pemahaman yang kaubicarakan itu jauh lebih tinggi daripada pemahaman para agamawan—tetapi dapatkah semua ini membuat watakmu berubah, atau membuat sebagian dari watakmu berubah? Mampukah engkau mengukurnya? Ini sangat penting.

Belakangan ini, persekutuan yang disampaikan adalah tentang bagaimana tepatnya mengenal Tuhan yang di bumi, bagaimana berinteraksi dengan Tuhan yang di bumi, dan bagaimana membangun hubungan yang normal dengan Tuhan. Bukankah semua ini adalah pertanyaan yang paling nyata? Semua ini adalah kebenaran yang berkaitan dengan aspek penerapan, dan tujuan mempersekutukan hal-hal ini adalah memberi tahu orang bagaimana cara percaya kepada Tuhan, dan bagaimana cara berinteraksi dengan Tuhan serta membangun hubungan yang normal dengan Tuhan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dalam hal kebenaran yang berkaitan dengan penerapan, dari semua kebenaran yang telah kaudengar, kaupahami, dan yang mampu kauterapkan, apakah semua itu mampu mengubah watakmu? Dapatkah dikatakan jika orang menerapkan kebenaran dengan cara seperti ini, dan benar-benar berusaha mencapai hal ini, itu berarti mereka sedang menerapkan kebenaran; dan jika mereka telah membuat kebenaran-kebenaran ini menjadi kenyataan mereka, itu berarti mereka mampu mencapai beberapa perubahan dalam watak mereka? (Ya.) Banyak orang sama sekali tidak tahu apa yang dimaksud dengan perubahan watak. Mereka mengira mampu mengulang banyak doktrin rohani, dan memahami banyak kebenaran, merepresentasikan perubahan dalam watak mereka. Ini keliru. Dari saat orang memahami suatu kebenaran, hingga dia menerapkan kebenaran ini, lalu kemudian mengalami perubahan watak, adalah sebuah proses pengalaman hidup yang panjang. Bagaimana engkau memahami apa yang dimaksud dengan perubahan watak? Dalam semua yang telah kaualami hingga saat ini, apakah telah terjadi perubahan dalam watak hidupmu? Engkau semua mungkin tidak mampu memahami hal-hal ini dengan jelas, dan semua ini terasa bermasalah bagimu. Kata "perubahan" dalam "perubahan watak" sebenarnya tidak terlalu sulit untuk dipahami, jadi apa yang dimaksud dengan "watak"? (Hukum keberadaan manusia, racun Iblis.) Apa lagi? (Apa yang secara alami ada dalam diri manusia, apa yang ada dalam esensi hidupnya.) Engkau semua terus menyebutkan istilah-istilah rohani ini, tetapi semua itu adalah doktrin dan garis besarnya, dan semua itu tidak mengandung rincian apa pun. Ini berarti tidak memahami esensi kebenaran. Kita sering membahas tentang perubahan watak, dan topik-topik semacam itu selalu dibahas sejak orang mulai percaya kepada Tuhan, entah saat mereka menghadiri pertemuan atau mendengarkan khotbah; hal-hal inilah yang harus berusaha orang pahami ketika mereka percaya kepada Tuhan. Namun, mengenai apa sebenarnya yang dimaksud dengan perubahan watak, apakah watak mereka sendiri telah berubah atau belum, dan apakah mungkin bagi watak mereka untuk berubah atau tidak—banyak orang tidak tahu tentang hal-hal ini, mereka tak pernah memikirkannya, dan mereka juga tidak tahu dari mana mereka harus mulai memikirkannya. Apa yang dimaksud dengan watak? Ini adalah topik yang utama. Setelah engkau memahaminya, engkau akan sedikit banyak memahami berbagai pertanyaan seperti, apakah watakmu telah berubah atau belum, sejauh mana watakmu telah berubah, berapa banyak perubahan yang telah terjadi, dan apakah ada perubahan atau tidak dalam watakmu setelah engkau mengalami hal-hal tertentu. Untuk membahas tentang perubahan watak, engkau harus terlebih dahulu mengetahui apa yang dimaksud dengan watak. Semua orang tahu kata "watak", semua orang terbiasa dengan kata tersebut. Namun, mereka tidak tahu apa yang dimaksud dengan watak. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan watak tidak dapat diterangkan dengan jelas hanya dalam beberapa kata, dan tidak dapat dijelaskan sebagai sebuah kata benda, karena ini terlalu abstrak dan tidak dapat dipahami dengan mudah. Aku akan memberimu contoh yang akan membuatmu memahaminya. Domba dan serigala sama-sama binatang. Domba makan rumput, dan serigala makan daging. Ini ditentukan oleh natur mereka. Jika suatu hari, domba makan daging dan serigala makan rumput, apakah natur mereka telah berubah? (Tidak.) Ketika seekor domba tidak memiliki rumput untuk dimakan dan dia kelaparan, jika diberi daging, dia akan memakannya. Namun, domba tersebut tetap akan sangat jinak terhadapmu. Ini adalah watak, ini adalah esensi natur dari domba. Dalam hal apa domba memperlihatkan kejinakannya? (Dia tidak menyerang orang.) Benar—ini adalah watak jinak. Watak yang domba perlihatkan adalah watak yang jinak dan penurut. Watak domba tidak ganas, melainkan jinak dan lembut. Serigala berbeda. Watak serigala ganas dan dia memakan semua jenis binatang kecil. Bertemu dengan serigala yang lapar sangatlah berbahaya, dia bisa saja berusaha memakanmu sekalipun engkau tidak mengganggunya. Watak serigala tidak penurut ataupun lembut, melainkan ganas dan buas, tanpa sedikit pun rasa simpati ataupun belas kasihan. Seperti itulah watak serigala. Watak domba dan watak serigala merepresentasikan esensi natur mereka. Mengapa Kukatakan demikian? Karena hal-hal yang terungkap dalam diri mereka muncul secara alami, apa pun konteksnya, tanpa campur tangan atau hasutan manusia; semua itu terungkap secara alami, tanpa perlu tambahan campur tangan manusia. Keganasan dan kebuasan serigala tidak dipaksa muncul oleh manusia, kelembutan dan kejinakan domba juga tidak ditanamkan dalam diri mereka oleh manusia; mereka dilahirkan dengan hal-hal ini, ini adalah hal-hal yang mereka perlihatkan secara alami, ini adalah esensi mereka. Ini adalah watak. Apakah contoh ini memberimu pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan watak? (Ya.) Ini bukan hal konseptual, kita bukan sedang membahas kata benda tertentu. Ada kebenaran dalam hal ini. Jadi, apa kebenarannya di sini? Watak manusia berkaitan dengan natur manusia. Watak manusia dan natur manusia keduanya berasal dari Iblis, keduanya bertentangan dan bermusuhan dengan Tuhan. Jika orang tidak menerima keselamatan dari Tuhan dan tidak berubah, maka kehidupan yang orang jalani dan apa yang mereka perlihatkan secara alami tak lain adalah kejahatan, hal-hal negatif, dan pelanggaran terhadap kebenaran—hal ini tidak diragukan lagi.

Kita baru saja membahas tentang watak domba dan watak serigala. Keduanya adalah binatang yang sama sekali berbeda: Masing-masing memiliki watak mereka sendiri dan hal-hal yang mereka perlihatkan. Namun, apa hubungannya dengan watak manusia? Melihat kembali apa sebenarnya yang dimaksud watak manusia melalui contoh ini, watak rusak macam apakah yang ada di dalamnya? (Secara umum, kami akan mampu mengetahui watak seperti apa yang orang miliki ketika kami berinteraksi dengan mereka. Sebagai contoh, ketika berbincang dengan seseorang, kami mungkin merasa orang itu berbicara berbelit-belit, selalu mengelak, sehingga orang lain tidak tahu apa sebenarnya yang dimaksudkannya, dan ini berarti orang itu memiliki watak yang licik di dalam dirinya. Kami bisa mendapatkan gambaran umum dari apa yang biasanya dia katakan dan lakukan, dari tindakan dan perilakunya.) Engkau bisa mengetahui masalah watak tertentu dari berinteraksi dengan orang lain. Tampaknya, setelah mendengar contoh ini, engkau semua memiliki gambaran umum tentang apa yang dimaksud dengan watak. Jadi, watak rusak apakah yang semua orang miliki? Watak rusak apa yang tidak orang sadari, dan yang tak mampu orang rasakan, tetapi tidak diragukan lagi, merupakan watak yang rusak? Misalnya, katakanlah ada orang-orang yang sangat sentimental, dan Tuhan berkata, "Engkau sangat sentimental. Dalam hal seseorang yang kausukai atau sesuatu yang ada hubungannya dengan keluargamu, siapa pun yang berusaha memahami keadaan mereka atau apa yang sebenarnya terjadi, engkau tidak akan memberi tahu mereka apa pun, dan terus melindungi mereka. Ini adalah sikap sentimental." Mereka mendengar perkataan ini, dan mereka memahaminya, mengakuinya, dan menerimanya sebagai fakta. Mereka mengakui bahwa firman Tuhan benar, bahwa firman Tuhan adalah kebenaran, dan mereka bersyukur kepada Tuhan karena menyingkapkan hal ini kepada mereka. Dapatkah watak mereka terlihat dari hal ini? Apakah terbukti bahwa mereka menerima kebenaran, menerima fakta, tidak menentang, dan tunduk? (Tidak, itu tergantung pada bagaimana mereka bertindak ketika menghadapi masalah, dan apakah yang mereka katakan sejalan dengan yang mereka lakukan.) Jawabanmu hampir benar. Pada saat itu, mereka menerimanya—tetapi kemudian, ketika hal seperti itu terjadi pada diri mereka, tidak ada perubahan dalam cara mereka bertindak. Ini merepresentasikan sejenis watak. Watak apakah itu? Mereka mendengarkan pada saat itu, lalu mereka memikirkannya dan berkata dalam hati, "Bagaimana mungkin aku tidak tahu bahwa aku ini sentimental setelah mendengar begitu banyak khotbah? Aku memang sentimental, tetapi siapa yang tidak? Jika aku tidak melindungi keluargaku dan orang-orang yang dekat denganku, siapa yang akan melakukannya? Bahkan orang yang cakap pun membutuhkan dukungan dari teman-temannya." Inilah yang sebenarnya mereka pikirkan. Ketika tiba waktunya untuk bertindak, yang mereka pikirkan dan rencanakan dalam hati mereka, dan sikap mereka terhadap firman Tuhan, semuanya ditentukan oleh watak mereka. Bagaimana sikap mereka? "Silakan saja Tuhan mengatakan dan menyingkapkan apa pun yang Dia inginkan, dan aku akan menerima apa pun yang harus kuterima ketika aku berada di hadapan-Nya, tetapi pikiranku sudah bulat, dan aku tidak berniat menyingkirkan perasaanku." Seperti inikah watak mereka? Watak mereka terlihat dengan sendirinya dan diri mereka yang sebenarnya pun tersingkap, bukan? Apakah mereka orang yang menerima kebenaran? (Tidak.) Jadi, apakah ini? Ini adalah pembangkangan. Di hadapan Tuhan, mereka berkata Amin dan berpura-pura menerima. Namun, hati mereka tidak tergerak. Mereka tidak menganggap serius firman Tuhan, mereka tidak menganggapnya sebagai kebenaran, dan terlebih lagi, mereka tidak menerapkannya sebagai kebenaran. Ini adalah sejenis watak, bukan? Dan, bukankah watak seperti ini adalah penyingkapan sejenis natur tertentu? (Ya.) Jadi, apa esensi dari watak semacam itu? Bukankah sikap keras kepala? (Ya.) Sikap keras kepala: ini adalah sejenis watak manusia, dan watak ini terdapat dalam diri semua orang. Mengapa Kukatakan bahwa ini adalah watak? Ini adalah sesuatu yang berasal dari esensi natur manusia. Engkau tidak harus memikirkannya, orang lain tidak harus mengajarimu atau membentuk pemikiranmu, Iblis juga tidak perlu menyesatkanmu; itu kauperlihatkan secara alami, dan itu berasal dari naturmu. Ada orang-orang yang, hal buruk apa pun yang mereka lakukan, selalu menyalahkan Iblis. Mereka selalu berkata, "Iblislah yang menaruh ide ini di pikiranku, Iblislah yang membuatku melakukannya." Mereka menyalahkan Iblis untuk semua hal yang buruk, dan tidak pernah mengakui masalah yang ada dalam natur mereka sendiri. Benarkah demikian? Bukankah engkau telah dirusak sedemikian dalamnya oleh Iblis? Jika engkau tidak mengakuinya, lalu mengapa watak Iblis terungkap dalam dirimu? Tentu saja, ada juga saat-saat ketika Iblis mengganggu, termasuk ketika orang disesatkan dan dihasut oleh seseorang yang jahat atau oleh antikristus, atau ketika roh jahat bekerja dan mengirimkan pemikiran tertentu kepada mereka—tetapi semua ini adalah pengecualian; sering kali orang diarahkan oleh natur Iblis dalam diri mereka dan mereka memperlihatkan segala macam watak yang rusak. Ketika orang bertindak sesuai dengan kesukaan dan kecenderungan mereka sendiri, ketika mereka melakukan segala sesuatu dengan cara mereka sendiri, berdasarkan gagasan dan imajinasi mereka sendiri, berarti mereka sedang hidup berdasarkan watak rusak mereka sendiri, dan ketika mereka hidup berdasarkan hal-hal ini, mereka sedang hidup berdasarkan natur mereka sendiri. Ini adalah fakta yang tak terbantahkan. Ketika orang dikendalikan oleh natur Iblis dalam diri mereka, ketika mereka hidup berdasarkan natur Iblis dalam diri mereka, semua yang mereka perlihatkan adalah watak rusak mereka sendiri; engkau tidak bisa menyalahkan Iblis untuk hal ini, engkau tidak bisa mengatakan bahwa semua ini adalah pemikiran yang dikirimkan oleh Iblis. Karena orang telah dirusak sedemikian dalamnya, mereka berasal dari Iblis, dan karena orang tidak ada bedanya dengan Iblis, dan mereka adalah setan hidup, Iblis hidup, engkau tidak dapat menyalahkan Iblis atas semua hal Iblis yang terungkap dalam dirimu. Engkau tidak lebih baik daripada Iblis, dan itu adalah watak rusakmu sendiri.

Keadaan seperti apakah yang ada dalam diri orang saat mereka memiliki watak keras kepala? Mereka terutama tegar tengkuk dan merasa diri benar. Mereka selalu berpegang teguh pada pemikiran mereka sendiri, mereka selalu menganggap bahwa apa yang mereka katakan itu benar, mereka selalu berpegang teguh pada pendapat mereka sendiri, dan mereka selalu menganggap diri mereka benar. Ini adalah sikap keras kepala. Mereka terpaku pada satu tindakan, dan tidak mau mendengarkan siapa pun—bahkan sepuluh ekor kuda liar pun tidak akan bisa menarik mereka dari jalan mereka—apakah itu benar atau salah, mereka bersikeras untuk melakukannya. Ada sikap tidak mau bertobat dalam hal ini. Sebagaimana pepatah mengatakan, "Babi yang sudah mati tidak takut pada air mendidih". Orang tahu betul apa yang benar yang harus mereka lakukan, tetapi mereka tidak melakukannya, mereka bersiteguh tidak mau menerima kebenaran. Ini adalah sejenis watak: watak keras kepala. Dalam situasi seperti apa engkau semua memperlihatkan watak yang keras kepala? Apakah engkau sering keras kepala? (Ya.) Sangat sering! Karena keras kepala adalah watakmu, watak ini menyertaimu di setiap detik keberadaanmu setiap harinya. Sikap keras kepala menghalangi orang sehingga mereka tidak mampu datang ke hadapan Tuhan, tidak mampu menerima kebenaran, dan tidak mampu masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Dan jika engkau tidak mampu masuk ke dalam kenyataan kebenaran, dapatkah perubahan terjadi dalam aspek watakmu ini? Hanya dengan sangat bersusah payah. Sekarang ini, sudahkah terjadi perubahan dalam aspek watakmu yang keras kepala ini? Seberapa banyakkah perubahan yang telah terjadi? Misalnya, katakanlah engkau dahulu keras kepala sampai-sampai bahkan sepuluh ekor kuda liar pun tidak akan bisa menarikmu dari jalanmu, tetapi sekarang telah terjadi sedikit perubahan dalam dirimu: Ketika menghadapi suatu masalah, ada sedikit kepekaan hati nurani di dalam hatimu, dan engkau berkata dalam hati, "Aku harus menerapkan kebenaran dalam hal ini. Tuhan telah menyingkapkan watak keras kepala ini—aku telah mendengar firman-Nya, dan sekarang memiliki pengetahuan tentang hal itu, jadi aku harus berubah. Dahulu, ketika beberapa kali aku menghadapi hal semacam ini, aku menuruti dagingku dan gagal, dan aku tidak merasa puas akan hal ini. Kali ini, aku harus menerapkan kebenaran." Dengan tekad seperti itu, engkau mampu menerapkan kebenaran, dan ini adalah perubahan. Ketika engkau telah mengalaminya dengan cara seperti ini selama beberapa waktu, dan engkau mampu menerapkan lebih banyak kebenaran, dan ini menghasilkan perubahan yang lebih besar, serta engkau makin jarang memperlihatkan watakmu yang memberontak dan keras kepala, bukankah sudah terjadi perubahan dalam watak hidupmu? Jika watakmu yang memberontak terlihat jauh lebih berkurang, dan ketundukanmu kepada Tuhan telah menjadi jauh lebih besar, itu berarti telah terjadi perubahan nyata. Jadi, sampai sejauh mana engkau harus berubah untuk mencapai ketundukan sejati? Engkau telah berhasil ketika tidak ada lagi sedikit pun sikap keras kepala, melainkan hanya ada ketundukan. Ini adalah proses yang berjalan lambat. Perubahan watak tidak terjadi dalam semalam, itu perlu dialami dalam jangka panjang, bahkan mungkin perlu dialami seumur hidup. Terkadang orang perlu mengalami banyak kesukaran besar, kesukaran yang sakitnya bagaikan disadarkan kembali dari keadaan sekarat, kesukaran yang lebih sulit dan menyakitkan daripada mengikis racun dari tulang-tulangmu. Jadi, sudah sejauh mana watak keras kepalamu berubah? Mampukah engkau mengukur hal ini? (Dahulu, aku yakin bahwa hal-hal tertentu harus dikerjakan dengan cara tertentu. Ketika orang menyampaikan sudut pandang yang berbeda, aku tak mau mendengarnya, dan hanya setelah aku menghadapi rintangan, barulah aku mau mengubah pikiranku. Kini, aku sedikit lebih baik. Aku merasa menentang ketika orang menyampaikan sudut pandang yang berbeda, tetapi setelah itu aku mampu menerima beberapa hal yang mereka katakan.) Perubahan sikap adalah jenis perubahan lainnya; ini berarti telah terjadi sedikit perubahan. Tidak seperti sebelumnya, di mana engkau itu tahu bahwa orang lain itu benar, tetapi menolaknya dan tidak mau menerimanya, tetap berpaut pada kecenderunganmu sendiri; tidak demikian sekarang. Sudah ada pembalikan dalam sikapmu. Seberapa banyak engkau telah berubah setelah mengalami perubahan sebanyak ini? Bahkan sepuluh persen pun tidak. Sepuluh persen perubahan berarti setidaknya, setelah orang lain menyampaikan sudut pandang yang berbeda, engkau tidak memiliki sikap yang menolak atau pemikiran yang menentang sedikit pun; engkau memiliki sikap yang normal. Meskipun di dalam hatimu, engkau masih merasakan adanya ketidaknyamanan, engkau tidak bersikap keras kepala, engkau mampu mendiskusikan hal ini dengan orang tersebut, ada sedikit ketundukan dalam penerapanmu, dan engkau tidak hanya melakukan sesuatu sesuai dengan gagasanmu sendiri. Setelah itu, ada kalanya engkau berpaut pada gagasanmu sendiri, dan ada kalanya engkau mampu menerima apa yang orang lain katakan. Perubahan watak selalu bolak-balik. Engkau harus mengalami kemunduran yang tak terhitung banyaknya untuk mencapai perubahan kecil, dan kegagalan yang tak terhitung banyaknya untuk menjadi berhasil, jadi tidak mudah untuk watakmu berubah tanpa mengalami ujian dan pemurnian selama beberapa tahun. Terkadang, ketika orang sedang berada dalam suasana hati yang baik, mereka mampu menerima hal-hal benar yang orang lain katakan, tetapi ketika mereka sedang dalam keadaan yang buruk, mereka tidak mencari kebenaran. Bukankah ini menunda segala sesuatunya? Terkadang, ketika engkau tidak akur dengan rekan sekerjamu, engkau tidak mencari prinsip-prinsip kebenaran, dan engkau hidup berdasarkan falsafah Iblis. Terkadang, ketika engkau sedang bekerja sama dengan orang lain dan kualitas mereka lebih baik daripada kualitasmu dan mereka lebih baik daripadamu, engkau merasa terkekang oleh mereka, dan engkau tak punya keberanian untuk menjunjung tinggi prinsip ketika engkau menghadapi masalah. Terkadang engkau lebih baik daripada rekan sekerjamu, dan dia bertindak bodoh, dan engkau memandang rendah dirinya dan tak mau mempersekutukan kebenaran kepadanya. Terkadang engkau ingin menerapkan kebenaran tetapi dikekang oleh perasaan dagingmu. Terkadang engkau mendambakan kesenangan daging, dan meskipun engkau ingin memberontak terhadap dagingmu, engkau tak mampu melakukannya. Terkadang engkau mendengarkan khotbah dan memahami kebenaran, tetapi tak mampu menerapkannya. Apakah masalah-masalah ini mudah diselesaikan? Dengan mengandalkan dirimu sendiri, semua itu tidak akan mudah diselesaikan. Tuhan hanya dapat membuat orang mengalami ujian dan pemurnian, membiarkan mereka mengalami banyak penderitaan dan pada akhirnya merasakan betapa hampanya diri mereka tanpa kebenaran, dan seolah-olah mereka tak mampu hidup tanpa kebenaran. Ini memurnikan orang agar iman mereka bertumbuh dan membuat mereka merasa seakan-akan mereka harus berjuang untuk mengejar kebenaran, merasa hati mereka tidak akan tenang sampai mereka menerapkan kebenaran, dan merasa mereka akan sangat tersiksa jika mereka tidak mampu tunduk kepada Tuhan. Seperti itulah hasil yang dicapai oleh ujian dan pemurnian. Sesulit inilah mengalami perubahan watak itu. Mengapa Kukatakan kepadamu bahwa ini tidak mudah? Apakah Kukatakan ini karena Aku tidak takut engkau semua akan menjadi negatif? Kukatakan demikian agar engkau semua tahu betapa pentingnya perubahan watak itu. Kuharap engkau semua memperhatikan hal ini, tidak lagi mengejar gambaran rohani yang palsu, munafik, dan tidak realistis itu, tidak lagi selalu mengikuti peraturan, penerapan, dan doktrin rohani yang tidak realistis itu; melakukan seperti itu akan merugikanmu dan sama sekali tidak bermanfaat bagimu.

Kita baru saja membahas tentang salah satu aspek watak: sikap keras kepala. Sikap keras kepala sering kali merupakan sikap yang tersembunyi di lubuk hati orang. Umumnya, sikap itu tidak terlihat jelas di luarnya, tetapi saat itu terlihat, akan mudah mendeteksinya, dan orang akan berkata, "Dia benar-benar kepala batu! Dia sama sekali tidak menerima kebenaran—dia sangat keras kepala!" Orang-orang berwatak keras kepala berpaku pada satu pendekatan, dan hanya berpaut pada satu hal, tidak pernah melepaskannya. Jadi, apakah ini adalah satu-satunya sisi watak manusia? Tentu saja tidak—masih banyak yang lainnya. Lihat apakah engkau bisa mengetahui watak apa lagi yang akan Kuuraikan selanjutnya. Ada orang-orang yang berkata, "Di rumah Tuhan, aku tidak tunduk kepada siapa pun kecuali kepada Tuhan, karena Tuhanlah satu-satunya yang memiliki kebenaran; manusia tidak memiliki kebenaran, mereka memiliki watak yang rusak, apa pun yang mereka katakan tidak bisa diandalkan, jadi aku hanya tunduk kepada Tuhan." Apakah benar berkata seperti ini? (Tidak.) Mengapa tidak? Watak macam apakah ini? (Watak yang congkak dan sombong.) (Watak Iblis dan watak penghulu malaikat.) Ini adalah watak yang congkak. Jangan selalu berkata bahwa ini adalah watak Iblis atau watak penghulu malaikat, cara bicara seperti ini terlalu luas dan tidak jelas serta sulit dipahami orang. Katakan saja ini merupakan watak yang congkak; ini lebih spesifik. Tentu saja, ini bukan satu-satunya jenis watak yang mereka perlihatkan, hanya saja, watak congkak itu tersingkap sangat jelas dengan sendirinya. Dengan mengatakan bahwa ini adalah watak yang congkak, orang akan mampu memahaminya dengan mudah. Cara bicara seperti ini adalah yang paling sesuai. Ada orang-orang yang memiliki beberapa kelebihan, beberapa karunia, sedikit kepintaran, dan telah melakukan beberapa pekerjaan bagi gereja, sehingga mereka berpikir, "Iman kalian kepada Tuhan hanyalah menghabiskan sepanjang hari dengan membaca, menyalin, menulis, serta menghafal firman Tuhan, dan kalian bersikap seperti orang yang sangat rohani. Apa gunanya? Dapatkah kalian melakukan sesuatu yang nyata? Bagaimana mungkin kalian menjadi rohani jika tidak mampu melakukan apa pun? Kalian tidak memiliki hidup. Akulah yang memiliki hidup, semua yang kulakukan adalah nyata." Watak apakah ini? Mereka memiliki beberapa kelebihan, beberapa karunia, mereka dapat melakukan sedikit kebaikan, dan mereka menganggap hal-hal ini sebagai hidup. Akibatnya, mereka tidak tunduk kepada siapa pun, mereka memandang rendah semua orang lainnya, mereka tidak takut menceramahi siapa pun—bukankah ini kecongkakan? (Ya.) Ini adalah kecongkakan. Dalam keadaan seperti apa orang biasanya memperlihatkan kecongkakan? (Ketika orang berpikir bahwa mereka memiliki modal hanya karena mereka memiliki beberapa karunia atau kelebihan, dan karena mereka dapat melakukan beberapa hal yang nyata; maka mereka akan memperlihatkan watak yang congkak.) Itu adalah salah satu jenis situasinya. Jadi, apakah orang yang tidak berkarunia atau tidak memiliki kelebihan apa pun tidak congkak? (Mereka juga congkak.) Orang yang baru saja kita bicarakan sering kali berkata, "Aku tidak tunduk kepada siapa pun kecuali kepada Tuhan," dan mendengar perkataannya, orang akan berpikir, "Betapa tunduknya orang ini pada kebenaran, dia tidak tunduk kepada siapa pun kecuali pada kebenaran, yang dia katakan itu benar!" Sebenarnya, di dalam perkataan yang terdengar benar ini terdapat semacam watak yang congkak: "Aku tidak tunduk kepada siapa pun kecuali kepada Tuhan" jelas berarti bahwa mereka tidak tunduk kepada siapa pun. Menurutmu, apakah orang-orang yang mengucapkan perkataan seperti itu benar-benar mampu tunduk kepada Tuhan? Mereka tidak pernah mampu tunduk kepada Tuhan. Mereka yang mengucapkan perkataan seperti itu tidak diragukan lagi merupakan orang-orang yang paling congkak. Di luarnya, yang mereka katakan kedengarannya benar—padahal sebenarnya, ini adalah cara paling licik dalam mewujudkan watak congkak mereka. Mereka menggunakan "kecuali kepada Tuhan" ini untuk berusaha membuktikan bahwa mereka bernalar, padahal sebenarnya, mereka seperti sedang mengubur emas lalu menancapkan di atasnya papan penanda bertuliskan "Tidak ada emas yang dikuburkan di sini". Bukankah ini bodoh? Menurut engkau semua, orang seperti apakah yang paling congkak? Apa saja hal-hal biasanya dikatakan orang yang paling congkak? Mungkin engkau semua pernah mendengar beberapa hal congkak sebelumnya. Tahukah engkau apa hal yang paling congkak untuk dikatakan? Adakah yang berani berkata, "Aku tidak tunduk kepada siapa pun—bahkan tidak kepada Surga atau bumi, bahkan tidak kepada firman Tuhan"? Hanya si naga merah yang sangat besar, setan si jahat ini, yang berani mengatakannya. Tak seorang pun yang percaya kepada Tuhan akan mengatakannya. Namun, jika mereka yang percaya kepada Tuhan berkata, "Aku tidak tunduk kepada siapa pun kecuali kepada Tuhan," maka mereka tidak jauh berbeda dengan si naga merah yang sangat besar, kecongkakan mereka berada di peringkat satu dunia, dan mereka adalah orang-orang yang paling congkak. Menurut engkau semua, semua orang itu congkak, tetapi adakah perbedaan dalam kecongkakan mereka? Di manakah perbedaannya? Manusia yang rusak semuanya memiliki watak yang congkak, tetapi ada perbedaan dalam kecongkakan mereka. Ketika kecongkakan seseorang telah mencapai taraf tertentu, dia telah kehilangan seluruh nalarnya. Perbedaannya adalah apakah masih terdapat nalar dalam apa yang orang itu katakan. Ada orang-orang yang congkak tetapi masih memiliki sedikit nalar. Jika mereka mampu menerima kebenaran, masih ada harapan bagi mereka untuk diselamatkan. Ada orang-orang yang sangat congkak sehingga mereka tidak memiliki nalar—dalam bahasa sehari-hari, mereka luar biasa congkaknya—dan orang-orang semacam itu tidak pernah mampu menerima kebenaran. Jika orang sangat congkak sampai mereka tidak bernalar, itu berarti mereka telah kehilangan semua rasa malu dan hanya dengan bodohnya bersikap congkak. Semua ini adalah penyingkapan dan perwujudan watak yang congkak. Bagaimana mungkin mereka mengatakan sesuatu seperti "Aku tidak tunduk kepada siapa pun kecuali kepada Tuhan" jika mereka tidak memiliki watak yang congkak? Mereka tentu tidak akan mengatakannya. Tidak diragukan lagi, jika seseorang memiliki watak yang congkak, maka yang akan diwujudkannya adalah kecongkakan, dan orang itu, tidak diragukan lagi, akan mengatakan dan melakukan hal-hal yang congkak, sama sekali tidak bernalar. Ada orang-orang yang berkata, "Aku tidak memiliki watak yang congkak, tetapi hal-hal seperti itulah yang terlihat dalam diriku." Apakah perkataan seperti itu dapat dibenarkan? (Tidak.) Yang lain berkata, "Aku tak mampu menahan diri. Begitu aku kurang berhati-hati, aku langsung mengatakan sesuatu yang congkak." Apakah perkataan ini benar? (Tidak.) Mengapa tidak? Apa sumber penyebab perkataan-perkataan ini? (Karena orang tidak mengenal dirinya sendiri.) Bukan—mereka tahu bahwa mereka congkak, tetapi mendengar orang lain mengejek mereka dengan berkata, "Mengapa kau begitu congkak? Apa yang membuatmu secongkak itu?" mereka merasa malu, dan itulah sebabnya mereka mengatakan hal-hal seperti itu. Harga diri mereka membuat mereka tak tahan mendengarnya, mereka mencari alasan untuk menutupinya, menyamarkannya, memolesnya, dan meloloskan diri darinya. Jadi, perkataan mereka tidak dapat dibenarkan. Jika watak congkakmu belum dibereskan, engkau akan congkak sekalipun engkau tidak berbicara. Kecongkakan ada dalam natur manusia, tersembunyi di dalam hati mereka, dan dapat terlihat kapan pun. Jadi, selama tidak terjadi perubahan watak, orang akan tetap congkak dan merasa diri benar. Aku akan memberikan sebuah contoh. Seorang pemimpin yang baru terpilih tiba di sebuah gereja dan mendapati cara orang-orang memandangnya dan ekspresi wajah mereka tampak kurang antusias. Di benaknya, dia berpikir, "Apakah aku tidak diterima di sini? Aku adalah pemimpin yang baru terpilih; bagaimana kalian bisa memperlakukanku dengan sikap seperti itu? Mengapa kalian tidak terkesan melihatku? Aku dipilih oleh saudara-saudari, jadi tingkat pertumbuhan rohaniku lebih baik daripada tingkat pertumbuhan rohani kalian, bukan?" Jadi, sebagai akibatnya, dia berkata, "Aku pemimpin yang baru terpilih. Beberapa orang mungkin tidak menerimaku, tetapi tidak masalah. Mari kita bertanding untuk melihat siapa yang telah menghafal lebih banyak bagian firman Tuhan, siapa yang mampu mempersekutukan kebenaran tentang visi. Aku akan memberikan kedudukan sebagai pemimpin kepada siapa pun yang mampu mempersekutukan kebenaran lebih jelas daripadaku. Bagaimana menurut kalian?" Taktik macam apa ini? Ketika orang tidak memedulikannya, dia merasa tidak puas dan ingin membalas serta membuat mereka menderita; karena sekarang dia adalah pemimpin, dia ingin menguasai orang—dia ingin menjadi yang teratas. Watak apakah ini? (Kecongkakan.) Dan apakah watak yang congkak mudah untuk dibereskan? (Tidak.) Watak congkak orang sangat sering terlihat dengan sendirinya. Bagi sebagian orang, mendengar orang lain mempersekutukan pencerahan dan pemahaman baru menimbulkan perasaan tidak suka: "Mengapa aku tidak memiliki apa pun untuk kukatakan tentang hal ini? Tidak bisa begini, aku harus berpikir dan mengatakan sesuatu yang lebih baik." Maka, dia pun mengucapkan banyak doktrin, berusaha mengalahkan orang lain. Watak apakah ini? Watak bersaing demi ketenaran dan keuntungan; ini juga adalah kecongkakan. Dalam hal watak, engkau bisa saja duduk diam, tidak mengatakan atau melakukan apa pun, tetapi watak itu akan tetap ada di dalam hatimu dan dapat tetap muncul dengan sendirinya dalam pemikiranmu dan bahkan terlihat dari ekspresi wajahmu. Sekalipun orang berusaha mencari cara untuk menekannya, atau mengendalikannya, dan sangat berhati-hati untuk menghalanginya agar tidak terlihat, apakah ini ada gunanya? (Tidak.) Beberapa orang segera menyadari begitu mereka telah mengatakan sesuatu yang congkak: "Aku telah kembali memperlihatkan watak congkakku—betapa memalukan! Aku tidak boleh lagi mengatakan sesuatu yang congkak." Namun, bersumpah akan tutup mulut tidak ada gunanya, ini bukan ditentukan olehmu, ini ditentukan oleh watakmu. Oleh karena itu, jika engkau tidak ingin watak congkakmu terlihat dengan sendirinya, engkau harus membereskannya. Ini bukan tentang memperbaiki beberapa perkataanmu, ataupun memperbaiki salah satu caramu dalam melakukan sesuatu, terlebih lagi, ini bukan tentang menaati peraturan tertentu. Ini adalah tentang membereskan masalah watakmu. Sekarang setelah Aku membahas topik tentang apa sebenarnya yang dimaksud dengan watak, bukankah engkau mampu mengenal dirimu sendiri secara lebih mendalam dan lebih menyeluruh? (Ya.) Mengenal diri sendiri bukanlah tentang mengetahui kepribadian lahiriah, temperamen, kebiasaan buruk, hal-hal bodoh dan tidak bijaksana yang pernah orang lakukan di masa lalu—bukan satu pun dari hal-hal ini. Sebaliknya, mengenal diri sendiri adalah tentang orang mengetahui watak rusaknya dan kejahatan dalam menentang Tuhan yang mampu dilakukannya. Inilah kuncinya. Ada orang-orang yang berkata, "Aku memiliki temperamen yang meledak-ledak, dan tidak ada yang bisa kulakukan untuk mengubahnya. Kapan aku dapat mengubah watak ini?" Yang lain berkata, "Aku sangat buruk dalam mengungkapkan diriku, aku bukan pembicara yang baik. Semua yang kukatakan pada akhirnya menyinggung orang lain atau melukai perasaan mereka. Kapan ini akan berubah?" Apakah mereka benar mengatakan hal ini? (Tidak.) Di mana letak kesalahan mereka? (Ini bukan tentang mengenali hal-hal dalam natur seseorang.) Benar. Kepribadian tidak menentukan natur. Sebaik apa pun kepribadian seseorang, dia tetap bisa memiliki watak yang rusak.

Aku baru saja membahas tentang dua aspek dari watak. Aspek pertama adalah sikap keras kepala, aspek kedua adalah kecongkakan. Kita tak perlu terlalu banyak membahas tentang kecongkakan. Setiap orang memperlihatkan banyak perilaku yang congkak, dan engkau semua hanya perlu mengetahui bahwa kecongkakan adalah salah satu aspek dari watak. Ada juga watak jenis lainnya. Ada orang-orang yang tidak pernah mengatakan yang sebenarnya kepada siapa pun. Mereka mempertimbangkan dan memoles segala sesuatu dalam pikiran mereka sebelum mengatakannya kepada orang-orang. Engkau tidak bisa membedakan mana dari hal-hal yang mereka katakan benar, dan mana yang salah. Mereka mengatakan satu hal pada hari ini dan besok mengatakan hal yang lain, mereka mengatakan satu hal kepada satu orang, dan mengatakan hal lain kepada orang lain. Semua yang mereka katakan saling bertentangan. Bagaimana orang semacam itu bisa dipercaya? Sangat sulit untuk mengetahui fakta-faktanya secara akurat, dan engkau tidak bisa mendapatkan satu pun perkataan yang dapat dipercaya dari mereka. Watak apakah ini? Ini adalah watak yang licik. Apakah watak yang licik mudah untuk diubah? Ini adalah watak yang paling sulit untuk diubah. Apa pun yang berkaitan dengan watak ada kaitannya dengan natur manusia, dan tidak ada yang lebih sulit untuk diubah selain daripada hal-hal yang berkaitan dengan natur manusia. Pepatah yang mengatakan, "Macan tutul tidak pernah mengubah bintik-bintiknya," benar sekali! Apa pun yang mereka ucapkan atau lakukan, orang yang licik selalu memiliki tujuan dan niat mereka sendiri. Jika mereka tidak memiliki tujuan atau niat, mereka tak akan mengatakan apa pun. Jika engkau berusaha untuk memahami apa tujuan dan niat mereka, mereka akan tutup mulut. Jika mereka secara tidak sengaja mengatakan yang sebenarnya, mereka akan berusaha keras memikirkan cara untuk menutupinya, membingungkanmu dan menghalangimu agar tidak mengetahui yang sebenarnya. Apa pun yang dilakukan orang yang licik, mereka tidak membiarkan siapa pun mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi. Seberapa lamanya pun orang menghabiskan waktu bersama mereka, tak seorang pun bisa mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka. Seperti itulah natur orang yang licik. Sebanyak apa pun orang yang licik berbicara, orang lain tak akan pernah tahu apa niat mereka, apa yang sebenarnya mereka pikirkan, atau apa tepatnya yang berusaha mereka capai. Bahkan orang tua mereka pun mengalami kesulitan untuk mengetahui hal ini. Berusaha memahami orang yang licik sangatlah sulit, tak seorang pun bisa mengetahui apa yang mereka pikirkan. Seperti inilah cara orang yang licik berbicara dan bertindak: Mereka tak pernah mengungkapkan pikiran mereka ataupun menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi. Ini adalah sejenis watak, bukan? Jika engkau memiliki watak yang licik, apa pun yang kaukatakan atau kaulakukan—watak ini selalu ada di dalam dirimu, mengendalikanmu, membuatmu melakukan tipu muslihat dan menipu, mempermainkan orang, menyembunyikan yang sebenarnya, dan berpura-pura. Inilah watak yang licik. Perilaku spesifik apa lagi yang biasanya dilakukan oleh orang yang licik? Aku akan memberimu sebuah contoh. Ada dua orang sedang berbincang, dan salah seorang dari mereka bercerita tentang bagaimana dia mengenal dirinya sendiri; orang ini terus berbicara tentang bagaimana dia telah menjadi lebih baik, dan berusaha membuat lawan bicaranya memercayai perkataannya, tetapi dia tidak memberitahukan fakta yang sebenarnya mengenai hal itu. Dalam hal ini, ada sesuatu yang dia sembunyikan, dan ini menunjukkan watak tertentu—watak yang licik. Mari kita lihat apakah engkau semua mampu mengenalinya. Orang ini berkata, "Aku telah mengalami beberapa hal belakangan ini, dan aku merasa kepercayaanku kepada Tuhan selama bertahun-tahun ini sia-sia. Aku belum memperoleh apa pun. Aku begitu miskin dan menyedihkan! Perilakuku tidak begitu baik belakangan ini, tetapi aku siap untuk bertobat." Namun, setelah mengatakannya, dia sama sekali tidak memperlihatkan sikap yang bertobat. Apa masalahnya di sini? Masalahnya adalah, dia membohongi dan menipu lawan bicaranya. Setelah mendengar perkataannya, lawan bicaranya berpikir, "Sebelumnya, orang ini tidak mengejar kebenaran, tetapi fakta bahwa sekarang dia mampu mengatakan hal-hal seperti ini memperlihatkan bahwa dia telah sungguh-sungguh bertobat. Kita tidak boleh meragukan dirinya, dan kita tidak boleh memandang dirinya seperti sebelumnya, tetapi dari sudut pandang baru yang lebih positif." Seperti itulah cara lawan bicaranya merenungkan dan memikirkan perkataan orang tersebut. Namun, apakah keadaan orang tersebut pada saat itu sama dengan apa yang dia katakan? Kenyataannya tidaklah demikian. Dia belum benar-benar bertobat, tetapi perkataannya memberi orang ilusi bahwa dia sudah bertobat, bahwa dia telah berubah menjadi lebih baik, dan bahwa dia berbeda dari sebelumnya. Inilah yang ingin dicapainya melalui perkataannya. Dengan berbicara seperti ini untuk mengelabui orang, watak apakah yang dia perlihatkan? Watak yang licik—dan ini sangat berbahaya! Sebenarnya, dia sama sekali tidak sadar bahwa dirinya telah gagal dalam kepercayaannya kepada Tuhan, bahwa dia miskin dan menyedihkan. Dia meminjam istilah-istilah dan bahasa rohani untuk mengelabui orang, untuk mencapai tujuannya, yakni membuat orang berpikir dan berpendapat baik tentang dirinya. Bukankah ini sikap yang licik? Ya, dan jika seseorang sangat licik, tidak mudah baginya untuk berubah.

Ada orang jenis lainnya yang tidak pernah bersikap sederhana atau terbuka dalam cara mereka berbicara. Mereka selalu menyamarkan dan menyembunyikan diri mereka sendiri, mengumpulkan informasi dari orang-orang di setiap kesempatan dan mengorek-ngorek isi hati mereka. Mereka selalu ingin tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi pada orang lain, tetapi mereka tidak mau mengatakan apa yang ada di dalam hati mereka sendiri. Tak seorang pun yang berinteraksi dengan mereka dapat berharap untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi pada mereka. Orang-orang semacam itu tidak ingin orang lain mengetahui rencana mereka, dan mereka tidak mengatakannya kepada siapa pun. Watak apakah ini? Ini adalah watak yang licik. Orang-orang semacam itu sangat lihai, mereka sulit diselami oleh siapa pun. Jika orang berwatak licik, mereka tidak diragukan lagi adalah orang yang licik, dan esensi natur mereka licik. Apakah orang semacam ini mengejar kebenaran dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan? Jika mereka tidak mengatakan yang sebenarnya di depan orang lain, apakah mereka mampu mengatakan yang sebenarnya di hadapan Tuhan? Tentu saja tidak. Orang yang licik tidak pernah mengatakan yang sebenarnya. Mereka mungkin percaya kepada Tuhan, tetapi apakah kepercayaan mereka adalah kepercayaan yang sejati? Pola pikir seperti apakah yang mereka miliki terhadap Tuhan? Di dalam hatinya, mereka pasti memiliki banyak keraguan: "Di manakah Tuhan? Aku tak bisa melihat Dia. Apa buktinya bahwa Dia nyata?" "Tuhan berdaulat atas segala sesuatu? Benarkah? Rezim Iblis dengan gila-gilaan menganiaya dan menangkap orang-orang yang percaya kepada Tuhan. Mengapa Tuhan tidak memusnahkannya?" "Bagaimana tepatnya cara Tuhan menyelamatkan manusia? Apakah keselamatan-Nya nyata? Itu tidak terlalu jelas." "Apakah orang yang percaya kepada Tuhan dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga atau tidak? Kami tidak dapat memastikannya, sulit untuk dikatakan." Dengan sedemikian banyaknya keraguan tentang Tuhan dalam hati mereka, dapatkah mereka dengan tulus mengorbankan diri mereka untuk-Nya? Tidak mungkin. Melihat semua orang yang telah meninggalkan segala sesuatu yang mereka miliki untuk mengikut Tuhan, yang mengorbankan diri mereka untuk Tuhan dan melaksanakan tugas mereka, mereka berpikir, "Aku harus menahan sesuatu. Aku tidak boleh sebodoh mereka. Jika kupersembahkan semuanya kepada Tuhan, bagaimana aku akan hidup kelak? Siapa yang akan menjagaku? Aku harus punya rencana cadangan." Engkau bisa melihat betapa "cerdiknya" orang-orang yang licik, betapa jauhnya pemikiran mereka. Ketika melihat orang lain di pertemuan membuka diri tentang pengetahuan mereka akan kerusakan dalam diri mereka, menyampaikan dalam persekutuan tentang hal-hal yang tersembunyi dalam hati mereka, dan dengan jujur mengatakan berapa kali mereka telah terlibat dalam pergaulan bebas, ada orang-orang yang berpikir, "Dasar bodoh! Semua itu adalah hal-hal pribadi; mengapa kau memberitahukannya kepada orang lain? Dipaksa dengan cara apa pun, aku tak mungkin memberitahukan hal-hal semacam itu!" Seperti inilah orang yang licik—mereka lebih baik mati daripada mengatakan sesuatu yang jujur, dan mereka tidak akan mengatakan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ada orang-orang yang berkata, "Aku telah melakukan pelanggaran dan melakukan beberapa hal buruk, dan aku merasa sedikit malu untuk memberi tahu orang secara langsung tentang hal-hal itu. Bagaimanapun juga, itu adalah hal-hal pribadi, dan itu memalukan. Namun, aku tidak boleh menyembunyikannya dari Tuhan. Aku harus membuka diriku kepada Tuhan. Aku tidak berani memberitahukan pemikiran atau hal-hal pribadiku kepada orang lain, tetapi aku harus memberi tahu Tuhan. Sekalipun aku merahasiakannya dari semua orang, aku tak boleh merahasiakannya dari Tuhan." Seperti inilah sikap orang yang jujur terhadap Tuhan. Sedangkan orang yang licik, mereka bersikap waspada terhadap semua orang, mereka tidak memercayai siapa pun, dan mereka tidak berbicara jujur kepada siapa pun. Mereka tidak menceritakan kepada siapa pun apa yang sebenarnya sedang terjadi pada mereka, dan tak seorang pun dapat memahami mereka. Mereka adalah orang-orang yang paling licik. Semua orang memiliki watak yang licik; satu-satunya perbedaan adalah seberapa parah watak tersebut. Meskipun di pertemuan, engkau mungkin membuka hatimu dan mempersekutukan masalahmu, apakah itu berarti engkau tidak memiliki watak yang licik? Engkau juga memiliki watak tersebut. Mengapa Kukatakan demikian? Seperti ini contohnya: Engkau mungkin mampu membuka diri tentang hal-hal yang tidak menyentuh harga diri atau kesombonganmu, hal-hal yang tidak memalukan, dan hal-hal yang tidak akan membuatmu dipangkas jika engkau memberitahukan tentangnya kepada orang lain—tetapi jika engkau telah melakukan sesuatu yang melanggar prinsip kebenaran, sesuatu yang pasti akan membuat semua orang benci dan jijik, akan mampukah engkau mempersekutukannya secara terbuka di pertemuan? Dan jika engkau telah melakukan sesuatu yang sulit untuk dikatakan, akan jauh lebih sulit bagimu untuk terbuka dan mengungkapkan yang sebenarnya tentang dirimu. Jika ada seseorang yang akan menyelidikinya atau berusaha mencari siapa yang harus bertanggung jawab, engkau akan menggunakan segala cara untuk menyembunyikannya, dan engkau pasti ketakutan menghadapi kemungkinan terungkapnya masalah ini. Engkau akan selalu berusaha menutupinya dan meloloskan dirimu darinya. Bukankah ini watak yang licik? Engkau mungkin percaya bahwa selama engkau tidak mengatakannya, tak seorang pun akan mengetahuinya, bahkan Tuhan pun tidak mungkin mengetahuinya. Itu keliru! Tuhan memeriksa lubuk hati manusia. Jika engkau tak mampu memahami hal ini, engkau sama sekali tidak mengenal Tuhan. Orang yang licik tidak sekadar mengelabui orang lain—mereka bahkan berani mencoba mengelabui Tuhan dan menggunakan cara-cara licik untuk melawan Dia. Dapatkah orang-orang semacam itu memperoleh keselamatan dari Tuhan? Watak Tuhan benar dan kudus, dan orang yang licik adalah orang yang paling Dia benci. Jadi, orang yang licik adalah orang yang paling sulit memperoleh keselamatan. Orang yang memiliki natur yang licik adalah orang yang paling banyak berbohong. Mereka bahkan akan membohongi Tuhan dan berusaha mengelabui-Nya, dan mereka dengan keras kepala tidak mau bertobat. Ini berarti mereka tidak dapat memperoleh keselamatan dari Tuhan. Jika orang hanya sesekali saja memperlihatkan watak rusaknya, jika dia berbohong dan mengelabui orang tetapi bersikap sederhana dan terbuka kepada Tuhan dan bertobat kepada-Nya, masih ada harapan bagi orang seperti ini untuk diselamatkan. Jika engkau benar-benar orang yang bernalar, engkau seharusnya membuka dirimu kepada Tuhan, berbicara kepada-Nya dari hatimu, merenungkan dirimu dan mengenal dirimu sendiri. Engkau tidak boleh lagi membohongi Tuhan, engkau tidak boleh sekali pun mengelabui Dia, apalagi berusaha menyembunyikan apa pun dari-Nya. Sebenarnya, ada hal-hal yang tidak perlu diketahui orang. Asalkan engkau terbuka kepada Tuhan tentang hal itu, itu tidak masalah. Mereka yang tidak pernah melakukan hal-hal di belakang Tuhan, dan yang mengatakan kepada Tuhan semua hal yang tidak pantas dikatakan kepada orang lain, adalah orang-orang yang pintar. Ada hal-hal yang tidak perlu engkau ceritakan kepada orang lain; sekalipun engkau tidak membicarakan hal-hal semacam itu, itu bukanlah bersikap licik. Orang yang licik itu berbeda: Mereka meyakini bahwa mereka harus menyembunyikan segalanya, bahwa mereka tidak boleh menceritakan apa pun kepada orang lain, terutama jika itu menyangkut hal-hal pribadi, dan bahwa jika mengatakan sesuatu tidak akan menguntungkan mereka, maka mereka tidak perlu mengatakannya, bahkan kepada Tuhan. Bukankah ini watak yang licik? Orang semacam itu sangatlah licik! Jika seseorang sangat licik sehingga dia tidak mengatakan yang sebenarnya kepada Tuhan, dan merahasiakan semuanya dari Tuhan, apakah dia bahkan seseorang yang percaya kepada Tuhan? Apakah dia benar-benar percaya kepada Tuhan? Dia adalah orang yang meragukan Tuhan, dan di dalam hatinya, dia tidak percaya kepada-Nya. Jadi, bukankah imannya palsu? Dia adalah pengikut yang bukan orang percaya, dia adalah orang percaya palsu. Pernahkah engkau mengalami saat-saat ketika engkau meragukan Tuhan atau bersikap waspada terhadap-Nya? (Ya.) Meragukan Tuhan dan bersikap waspada terhadap-Nya, watak macam apa ini? Ini adalah watak yang licik. Setiap orang memiliki watak yang licik, perbedaannya adalah tingkat keparahannya. Asalkan engkau mampu menerima kebenaran, engkau akan mampu untuk bertobat dan berubah.

Ada orang-orang, ketika sesuatu terjadi pada mereka, mereka memperlihatkan watak yang rusak, mereka memiliki gagasan dan ide tertentu, mereka berprasangka terhadap orang lain, mereka mengkritik dan secara diam-diam merusak reputasi mereka. Mereka mampu merenungkan diri mereka dan sepenuhnya terbuka tentang hal-hal ini, tetapi ketika mereka melakukan hal-hal tertentu yang memalukan, mereka ingin merahasiakannya, dan menyembunyikan hal-hal itu dalam hati mereka untuk selamanya. Mereka bukan saja tidak memberi tahu orang lain tentang hal-hal ini, mereka juga tidak mengatakannya kepada Tuhan ketika mereka berdoa. Mereka bahkan berusaha sebisa mungkin mengarang kebohongan untuk menutupi dan menyamarkan hal-hal tersebut. Ini adalah watak yang licik. Jika engkau memiliki pemikiran seperti ini, jika engkau hidup dalam keadaan semacam ini, engkau harus merenungkan dirimu dan mengetahui dengan jelas bahwa engkau bukanlah orang yang jujur, bahwa semua yang Tuhan gambarkan tentang orang yang jujur sama sekali tidak terlihat dalam dirimu, bahwa engkau benar-benar orang yang licik, dan meskipun engkau bodoh, berkualitas buruk, dan dungu, engkau tetap saja seseorang yang licik. Inilah yang dimaksud dengan mengenal dirimu sendiri. Yang setidaknya harus kaucapai dalam mengenal dirimu sendiri adalah engkau harus mampu mengetahui dengan jelas dan mengenali kerusakan yang kauperlihatkan, dan engkau harus mampu mencari kebenaran untuk membereskan watak rusakmu ini. Jika engkau sudah benar-benar mengenal watakmu sendiri yang licik, engkau harus sering berdoa kepada Tuhan, merenungkan dirimu, mengenali dan menganalisis watakmu yang licik ini berdasarkan firman Tuhan, dan memahami esensi dari watakmu; dengan cara demikian, akan ada harapan bagimu untuk menyingkirkan watak rusakmu yang licik. Ada orang-orang yang tak mampu membedakan antara orang yang licik dengan orang jujur—yang berarti kualitas mereka sangat buruk. Ada orang-orang yang sering menggunakan kualitas buruk, kebodohan, ketidaktahuan, kurangnya wawasan, kecanggungan dengan kata-kata, kurangnya keterampilan sosial, dan mudahnya mereka tertipu sebagai bukti kejujuran. Mereka selalu mengatakan kepada orang lain, "Aku ini terlalu jujur, akibatnya aku sering dirugikan, aku tidak tahu bagaimana memanfaatkan orang lain—tetapi Tuhan menyukaiku karena aku orang yang jujur." Apakah perkataan mereka benar? Perkataan semacam itu tak masuk akal, dirancang untuk menyesatkan orang, tidak tahu malu dan tak punya urat malu. Bagaimana orang yang bodoh dan dungu bisa dianggap sebagai orang yang jujur? Ini dua hal yang berbeda. Menganggap hal-hal bodoh yang telah kaulakukan sebagai kejujuran adalah salah besar. Semua orang bisa melihat bahwa bahkan orang bodoh pun cenderung bersikap congkak dan sombong, menganggap tinggi diri mereka sendiri. Sebodoh dan seburuk apa pun kualitas orang, mereka tetap mampu berbohong dan menipu orang lain. Bukankah seperti ini kenyataannya? Apakah orang bodoh dan berkualitas buruk benar-benar tak pernah melakukan hal yang buruk? Apakah mereka benar-benar tidak memiliki watak yang rusak? Tentu saja mereka melakukannya dan memilikinya. Ada juga orang-orang yang mengatakan bahwa mereka jujur dan mereka mengakui kebohongan mereka kepada orang lain, tetapi mereka tidak berani mengakui hal-hal memalukan yang mereka lakukan. Ketika gereja menangani mereka untuk masalah-masalah mereka, mereka tak mampu menerimanya dan sama sekali tak mau tunduk, memilih untuk menyelidiki di balik layar dan diam-diam mengorek kebenaran. Orang licik seperti ini sama sekali tidak menerima kebenaran, dan mereka sama sekali tidak tunduk, tetapi mereka tetap menganggap diri mereka jujur. Bukankah mereka benar-benar tak tahu malu? Ini kebodohan yang luar biasa! Orang seperti ini sama sekali tidak jujur, dan mereka juga bukan orang yang polos. Orang bodoh tetaplah orang bodoh; orang dungu tetaplah orang dungu. Hanya orang polos yang tidak licik yang adalah jujur.

Bagaimana orang yang licik dapat dikenali? Seperti apa perilaku orang yang licik? Dengan siapa pun mereka berhubungan dan bergaul, mereka tak pernah membiarkan seorang pun mengetahui keadaan mereka yang sebenarnya; mereka selalu bersikap waspada terhadap orang lain, mereka selalu melakukan segala sesuatu di belakang orang lain, dan mereka tak pernah mengatakan apa yang sebenarnya mereka pikirkan. Terkadang, mereka mungkin mengatakan sedikit tentang bagaimana mereka mengenal diri mereka sendiri, tetapi mereka tak pernah menyebutkan poin-poin pentingnya atau kata-kata kuncinya, dan mereka takut tidak sengaja mengatakannya. Mereka sangat sensitif tentang hal-hal ini, takut orang lain akan melihat kekurangan mereka. Ini pun adalah sejenis watak yang licik. Selain itu, ada orang-orang yang dengan sengaja berpura-pura agar orang lain menganggap mereka polos, mampu menanggung penderitaan dan tidak suka mengeluh, atau menganggap diri mereka rohani dan mencintai serta mengejar kebenaran. Mereka jelas bukan orang semacam ini, tetapi mereka bersikeras berpura-pura di depan orang lain. Ini juga merupakan watak yang licik. Ada niat tertentu di balik semua yang dikatakan dan dilakukan oleh orang yang licik. Jika mereka tidak memiliki niat apa pun, mereka tidak akan bertindak atau mengatakan sesuatu. Ada watak dalam diri mereka yang mengendalikan mereka untuk melakukannya, dan itu adalah watak yang licik. Jika orang berwatak licik, akan mudahkah mereka mengubahnya? Seberapa banyak engkau telah berubah? Sudahkah engkau masuk ke jalan mengejar kejujuran? (Ya, inilah arah yang sedang kami upayakan.) Berapa banyak langkah yang telah kauambil? Ataukah engkau tertahan di tahap ingin melakukannya? (Ini masih sesuatu yang ingin kami lakukan. Terkadang, hanya setelah kami melakukan sesuatu, barulah kami sadar bahwa itu melibatkan penipuan, bahwa kami sedang berusaha membuat orang memiliki kesan yang salah tentang diri kami; baru setelah itulah kami sadar bahwa kami telah bersikap licik.) Engkau sadar bahwa ini berarti bersikap licik—tetapi mampukah engkau menyadari bahwa ini adalah sejenis watak yang rusak? Dan dari manakah asalnya hal-hal yang licik ini? (Dari natur kami.) Benar, dari naturmu. Dan apakah hal-hal rusak ini mengganggumu? Hal-hal rusak ini sulit disingkirkan, sulit untuk ditangani, sulit untuk dilepaskan—dan juga sangat menyusahkan. Apa yang membuatnya menyusahkan? Apa yang membuatmu menderita? (Kami ingin berubah, tetapi kami merasa sangat menderita ketika kami tidak berhasil melakukannya.) Itu salah satu aspeknya, tetapi itu belum terhitung menyusahkan. Ketika seseorang dikendalikan oleh watak yang licik, dia bisa berbohong dan menipu orang lain kapan pun dan di mana pun, dan apa pun yang terjadi dengannya, dia akan selalu memikirkan cara berbohong untuk menipu dan menyesatkan orang. Meskipun dia ingin mengendalikan dirinya, dia tak mampu melakukannya, itu terjadi di luar kendalinya. Di sinilah letak masalahnya. Ini adalah masalah watak. Dalam cara-cara seperti apakah orang memperlihatkan wataknya yang licik? Dalam cara-caranya mencobai, menipu, bersikap waspada, dan dalam kecurigaan, kepura-puraan dan kemunafikannya. Watak yang disingkapkan dan diwujudkan oleh perilaku seperti itu adalah watak yang licik. Setelah mempersekutukan topik-topik ini, apakah engkau semua lebih mengerti tentang watak yang licik? Masih adakah di antaramu yang berkata, "Aku tidak memiliki watak yang licik, aku bukan orang yang licik, aku kurang lebih merupakan orang yang jujur"? (Tidak.) Ada banyak orang yang kurang mengerti apa tepatnya yang dimaksud dengan orang yang jujur. Ada orang-orang yang menganggap bahwa orang yang jujur adalah orang yang sederhana dan lugu, yang ditindas dan dikucilkan di mana pun mereka berada, atau orang yang lamban dan selalu tertinggal dari orang lain dalam berbicara dan bertindak. Ada orang-orang dungu dan bodoh, yang hanya melakukan hal-hal bodoh dan dipandang rendah oleh orang lain, juga menggambarkan diri mereka sebagai orang yang jujur. Semua orang tak berpendidikan dari kalangan masyarakat yang lebih rendah, yang merasa diri mereka lebih rendah, juga mengatakan bahwa mereka adalah orang jujur. Di manakah letak kesalahan mereka? Mereka tidak tahu apa yang dimaksud dengan orang yang jujur. Apa sumber kesalahpahaman mereka? Alasan utamanya adalah karena mereka tidak memahami kebenaran. Mereka yakin bahwa "orang jujur" yang Tuhan bicarakan adalah orang-orang yang bodoh dan idiot, yang tidak berpendidikan, canggung dalam berbicara, yang ditindas dan ditekan, dan yang mudah ditipu dan diperdaya. Maksud mereka sebenarnya adalah bahwa objek penyelamatan Tuhan adalah orang-orang bodoh di kalangan masyarakat bawah yang sering kali ditindas oleh orang lain. Siapa lagi yang akan Tuhan selamatkan jika bukan orang-orang yang rendah dan kekurangan ini? Bukankah ini yang mereka yakini? Orang-orang seperti inikah yang benar-benar Tuhan selamatkan? Ini adalah penafsiran yang keliru tentang maksud Tuhan. Orang-orang yang Tuhan selamatkan adalah mereka yang mencintai kebenaran, yang memiliki kualitas dan kemampuan untuk memahami, mereka semua adalah orang yang memiliki hati nurani dan nalar, yang mampu memenuhi amanat Tuhan dan melaksanakan tugas mereka dengan baik. Mereka adalah orang-orang yang mampu menerima kebenaran dan menyingkirkan watak rusak dalam diri mereka, dan mereka adalah orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, tunduk kepada Tuhan, dan menyembah Tuhan. Meskipun sebagian besar dari orang-orang ini berasal dari kalangan masyarakat bawah, dari keluarga buruh dan petani, mereka sama sekali bukan orang-orang yang bingung, bodoh, ataupun tidak berguna. Sebaliknya, mereka adalah orang-orang cerdas yang mampu menerima, menerapkan, dan tunduk pada kebenaran. Mereka semua adalah orang-orang yang mencintai keadilan, yang meninggalkan kemuliaan dan kekayaan duniawi untuk mengikuti Tuhan dan memperoleh kebenaran dan hidup—mereka adalah orang-orang yang paling bijaksana. Mereka semua adalah orang jujur yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan dan yang sungguh-sungguh mengorbankan diri bagi Dia. Mereka dapat memperoleh perkenan serta berkat-berkat Tuhan, dan mereka dapat disempurnakan untuk menjadi umat-Nya, menjadi sokoguru bait suci-Nya. Mereka adalah emas, perak dan permata yang berharga. Justru orang-orang yang bingung, bodoh, jenis orang yang tidak masuk akal, dan yang tidak bergunalah yang akan disingkirkan. Bagaimana pengikut yang bukan orang percaya dan orang tak masuk akal memandang pekerjaan dan rencana pengelolaan Tuhan? Mereka memandangnya sebagai tempat barang rongsokan, bukan? Orang-orang ini bukan saja berkualitas buruk, mereka juga tak masuk akal. Seberapa pun banyaknya firman Tuhan yang mereka baca, mereka tak mampu memahami kebenaran, dan sebanyak apa pun khotbah yang mereka dengarkan, mereka tak mampu masuk ke dalam kenyataan—jika mereka sebodoh ini, masih dapatkah mereka diselamatkan? Mungkinkah Tuhan menginginkan orang-orang seperti itu? Sekalipun mereka sudah menjadi orang percaya selama bertahun-tahun, mereka masih belum memahami kebenaran apa pun, mereka masih berbicara omong kosong, tetapi mereka masih menganggap diri mereka jujur—bukankah mereka tak tahu malu? Orang-orang semacam itu tidak memahami kebenaran. Mereka selalu salah memahami maksud Tuhan, tetapi di mana pun mereka berada, mereka menyebarkan kesalahpahaman mereka, mengkhotbahkannya sebagai kebenaran, mengatakan kepada orang-orang, "Bagus jika orang sedikit ditindas, orang harus sedikit dirugikan, orang sudah seharusnya sedikit bodoh—orang-orang seperti ini adalah objek penyelamatan Tuhan, dan mereka adalah orang-orang yang akan Tuhan selamatkan." Orang-orang yang mengatakan hal-hal semacam ini sangat menjijikkan; ini sangat membawa penghinaan terhadap Tuhan! Perkataan mereka sangat menjijikkan! Sokoguru kerajaan Tuhan dan para pemenang yang diselamatkan oleh Tuhan semuanya adalah orang-orang yang memahami kebenaran, dan yang bijaksana. Mereka mendapat bagian dalam kerajaan surga. Mereka yang bodoh dan bebal, mereka yang tidak tahu malu dan tidak bernalar, mereka yang sama sekali tidak memahami kebenaran, dan mereka yang dungu dan tolol—bukankah mereka semua tidak berguna? Bagaimana mungkin orang-orang semacam itu mendapat bagian dalam kerajaan surga? Orang jujur yang Tuhan bicarakan adalah mereka yang mampu menerapkan kebenaran begitu mereka memahaminya, mereka yang polos dan terbuka kepada Tuhan, mereka yang bertindak berdasarkan prinsip, mereka yang bijaksana dan pintar, mereka yang melaksanakan tugasnya dengan baik dengan penuh pengabdian, dan mereka yang tunduk kepada Tuhan sepenuhnya. Orang-orang ini semuanya memiliki hati yang takut akan Tuhan, mereka berfokus melakukan segala sesuatu berdasarkan prinsip, dan mereka mengejar ketundukan mutlak kepada Tuhan, dan mengasihi Tuhan dengan segenap hati. Hanya merekalah orang yang benar-benar jujur. Jika orang bahkan tidak tahu apa yang dimaksud dengan orang jujur, jika mereka tidak mampu memahami bahwa esensi orang jujur adalah ketundukan mutlak kepada Tuhan, takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, atau bahwa orang jujur bersikap jujur karena mereka mencintai kebenaran, karena mereka mengasihi Tuhan, dan karena mereka menerapkan kebenaran—maka orang semacam ini sangatlah bodoh, dan benar-benar tidak memiliki kemampuan untuk membedakan. Orang jujur sama sekali bukan orang yang lugu, bingung, bodoh, dan dungu seperti yang orang bayangkan; mereka adalah orang-orang yang memiliki kemanusiaan yang normal, yang memiliki hati nurani dan nalar. Kepintaran orang jujur terletak pada mampunya mereka mendengar firman Tuhan dan bersikap jujur, sehingga mereka diberkati oleh Tuhan.

Tidak ada yang memiliki makna yang lebih besar daripada tuntutan Tuhan agar orang menjadi jujur—Dia meminta hal ini agar orang dapat hidup di hadapan-Nya, dan menerima pemeriksaan-Nya serta hidup dalam terang. Hanya orang jujurlah yang merupakan manusia sejati. Orang yang tidak jujur adalah binatang buas, mereka adalah binatang buas berwujud manusia, dan mereka bukan manusia. Dalam berusaha menjadi orang yang jujur, cara berperilakumu harus sesuai dengan tuntutan Tuhan; engkau harus mengalami penghakiman, hajaran, dan pemangkasan. Hanya setelah watak rusakmu ditahirkan dan engkau mampu menerapkan kebenaran dan hidup menurut firman Tuhan, barulah engkau akan menjadi orang yang jujur. Orang yang bebal, orang bodoh, dan orang yang lugu sama sekali bukanlah orang yang jujur. Dengan menuntut agar orang menjadi jujur, Tuhan meminta mereka untuk memiliki kemanusiaan yang normal, untuk membuang kelicikan dan penyamaran mereka, untuk bebas dari kebohongan dan penipuan, untuk melaksanakan tugas mereka dengan penuh pengabdian, dan untuk mampu sungguh-sungguh mengasihi dan tunduk kepada-Nya. Hanya orang-orang inilah umat kerajaan Tuhan. Tuhan menuntut orang untuk menjadi prajurit Kristus yang baik. Apa yang dimaksud dengan prajurit Kristus yang baik? Mereka harus diperlengkapi dengan kenyataan kebenaran dan sehati sepikir dengan Kristus. Kapan pun dan di mana pun, mereka harus mampu meninggikan Tuhan dan bersaksi tentang Tuhan, serta mampu menggunakan kebenaran untuk berperang melawan Iblis. Dalam segala hal, mereka harus berada di pihak Tuhan, dan memiliki kesaksian tentang hidup dalam kenyataan kebenaran. Mereka harus mampu mempermalukan Iblis dan memperoleh kemenangan yang luar biasa bagi Tuhan. Itulah yang dimaksud dengan prajurit Kristus yang baik. Prajurit Kristus yang baik adalah para pemenang, mereka adalah orang-orang yang mengalahkan Iblis. Dengan menuntut orang agar bersikap jujur dan tidak licik, Tuhan bukan meminta mereka untuk menjadi orang bodoh, melainkan untuk menyingkirkan watak mereka yang licik, untuk mencapai ketundukan kepada-Nya dan untuk memuliakan Dia. Inilah yang dapat dicapai dengan menerapkan kebenaran. Ini bukanlah perubahan dalam perilaku seseorang, ini bukan tentang berbicara lebih banyak atau lebih sedikit, juga bukan tentang cara orang bertindak. Melainkan, ini adalah perubahan dalam niat di balik ucapan dan tindakan orang, tentang pemikiran dan gagasan orang, tentang ambisi dan keinginan orang. Segala sesuatu yang termasuk perwujudan watak yang rusak dan hal-hal negatif yang salah harus diubah dari akarnya, sehingga itu menjadi selaras dengan kebenaran. Jika orang ingin mengubah wataknya, mereka harus mampu memahami yang sebenarnya tentang esensi watak Iblis. Jika engkau mampu memahami yang sebenarnya tentang esensi watak yang licik, bahwa itu adalah watak Iblis dan wajah setan-setan, jika engkau mampu membenci Iblis dan meninggalkan setan-setan, maka akan mudah bagimu untuk membuang watak rusak dalam dirimu. Jika engkau tidak tahu bahwa terdapat keadaan yang licik di dalam dirimu, jika engkau tidak mengenali perwujudan dari watak yang licik tersebut, maka engkau tidak akan tahu bagaimana cara mencari kebenaran untuk membereskannya, dan akan sulit bagimu untuk mengubah watakmu yang licik. Engkau harus terlebih dahulu mengenali apa yang dirimu perlihatkan, dan jenis watak rusak seperti apa yang diperlihatkannya. Jika yang kauperlihatkan adalah watak yang licik, akankah engkau membencinya di dalam hatimu? Lalu jika engkau membencinya, bagaimana seharusnya engkau berubah? Engkau harus memangkas niatmu yang licik dan membalikkan pandanganmu yang keliru. Engkau harus terlebih dahulu mencari kebenaran mengenai hal ini untuk menyelesaikan masalahmu, secara berangsur masuk ke dalam kenyataan kebenaran sebagai orang yang jujur, berusaha memenuhi tuntutan Tuhan dan memuaskan Dia, dan menjadi orang yang tidak berusaha mengelabui Tuhan dan orang lain, bahkan mereka yang sedikit bodoh atau kurang mengerti. Berusaha mengelabui orang yang bodoh atau dungu sangatlah tidak bermoral—itu membuatmu menjadi setan. Untuk menjadi orang yang jujur, engkau tidak boleh menipu atau membohongi siapa pun. Namun, terhadap para setan dan Iblis, engkau harus menggunakan hikmat; jika tidak, engkau akan cenderung dipermainkan oleh mereka dan engkau akan membawa penghinaan terhadap Tuhan. Hanya dengan menggunakan hikmat dan menerapkan kebenaran, barulah engkau akan mampu mengalahkan dan mempermalukan Iblis. Orang-orang yang dungu, bebal, bodoh, dan keras kepala tidak akan pernah mampu memahami kebenaran; mereka hanya bisa disesatkan, dipermainkan, dan diinjak-injak oleh Iblis, dan pada akhirnya, ditelan olehnya.

Selanjutnya, mari kita membahas jenis watak yang keempat. Selama pertemuan, ada orang-orang yang mampu mempersekutukan sedikit tentang keadaan mereka sendiri, tetapi ketika sampai pada esensi masalahnya, pada motif dan gagasan pribadi mereka, mereka pun mengelak. Ketika orang-orang menyingkapkan bahwa mereka memiliki motif dan tujuan tertentu, mereka tampak mengangguk dan mengakuinya. Namun, begitu orang berusaha menyingkapkan atau menelaah sesuatu secara lebih mendalam, mereka tak tahan lagi, mereka langsung berdiri lalu pergi. Mengapa, pada saat yang penting, mereka malah menyelinap pergi? (Karena mereka tidak menerima kebenaran dan tidak mau menghadapi masalah mereka sendiri.) Ini adalah masalah dengan watak mereka. Mereka tidak mau menerima kebenaran untuk menyelesaikan masalah dalam diri mereka—bukankah ini berarti mereka muak akan kebenaran? Khotbah macam apa yang paling tidak ingin didengar oleh beberapa pemimpin dan pekerja tertentu? (Khotbah tentang mengenali antikristus dan pemimpin palsu.) Benar. Mereka berpikir, "Semua pembahasan tentang mengenali antikristus dan pemimpin palsu dan tentang orang Farisi ini—mengapa kalian begitu banyak membahas tentang hal ini? Kalian membuatku stres." Mendengar bahwa akan ada pembahasan tentang mengenali pemimpin dan pekerja palsu, mereka mencari alasan untuk pergi. Apa yang dimaksud dengan "pergi" di sini? Maksudnya mereka pergi menyelinap, untuk bersembunyi. Mengapa mereka berusaha bersembunyi? Orang lain sedang membicarakan fakta, jadi mereka seharusnya mendengarkan. Mereka akan mendapat manfaat dengan melakukannya. Jika mereka menganggap beberapa perkataan itu keras dan mereka tidak bisa menerimanya, mereka bisa mencatatnya terlebih dahulu; kemudian, mereka harus sering memikirkannya, menerimanya perlahan-lahan, dan secara bertahap berubah. Bukankah melakukan penerapan dengan cara seperti ini sangat baik? Lalu mengapa ketika mereka mendengar bahwa akan ada pembahasan tentang mengenali pemimpin palsu dan antikristus, mereka bersembunyi? Mereka merasa bahwa perkataan penghakiman ini terlalu keras dan tidak menyenangkan, sehingga penentangan dan antipati berkembang di dalam diri mereka. Mereka berpikir, "Aku ini bukan antikristus ataupun pemimpin palsu—mengapa terus membahas tentang aku? Mengapa tidak membahas tentang orang lain? Katakan sesuatu tentang mengenali orang jahat, jangan membahas tentang aku!" Sikap mereka menjadi mengelak dan antipati. Watak apakah ini? Jika mereka tidak mau menerima kebenaran, dan selalu berdebat dan berusaha membela diri mereka sendiri, bukankah ada masalah watak yang rusak di sini? Ini adalah watak yang muak akan kebenaran. Di dalam diri pemimpin dan pekerja terdapat keadaan semacam ini, lalu bagaimana dengan saudara-saudari biasa? (Mereka juga.) Ketika semua orang pertama kali bertemu, mereka semua penuh kasih dan sangat senang mengatakan beberapa kata-kata dan doktrin. Mereka semua tampak mencintai kebenaran. Namun, ketika membahas tentang masalah pribadi dan kesulitan nyata, khususnya ketika membahas prinsip-prinsip kebenaran, banyak orang langsung bungkam. Sebagai contoh, ada seseorang yang selalu terkekang oleh pernikahannya. Dia menjadi tidak ingin melaksanakan tugasnya ataupun mengejar kebenaran, dan pernikahan menjadi rintangan serta kendala terbesarnya. Selama pertemuan, ketika semua orang bersekutu tentang keadaan ini, dia membandingkan perkataan yang orang lain sampaikan terhadap dirinya sendiri dan merasa mereka sedang membicarakan dirinya. Dia berkata, "Tidak masalah bagiku jika kalian mempersekutukan kebenaran, tetapi mengapa selalu mengungkit masalah-masalahku? Bukankah ada masalah juga dalam diri kalian?" Watak apakah ini? Saat engkau berkumpul untuk mempersekutukan kebenaran, engkau harus menganalisis masalah-masalah nyata, dan mengizinkan semua orang untuk menyampaikan pemahaman mereka tentang masalah-masalah ini; hanya dengan cara demikianlah, engkau akan mampu mengenal dirimu sendiri dan menyelesaikan masalahmu. Mengapa orang tidak mampu menerima hal ini? Watak apakah yang dimiliki orang yang tidak mampu menerima dirinya dipangkas, dan yang tidak mampu menerima kebenaran? Bukankah engkau harus memahami hal ini dengan jelas? Semua ini adalah perwujudan dari watak yang muak akan kebenaran—inilah esensi masalahnya. Jika orang muak akan kebenaran, akan sangat sulit bagi mereka untuk menerima kebenaran—dan jika mereka tidak mampu menerima kebenaran, dapatkah masalah watak rusak mereka dibereskan? (Tidak.) Jadi, orang yang seperti ini, orang yang tidak mampu menerima kebenaran—dapatkah mereka memperoleh kebenaran? Dapatkah mereka diselamatkan oleh Tuhan? Sama sekali tidak. Apakah orang yang tidak menerima kebenaran sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan? Sama sekali tidak. Aspek terpenting dari orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan adalah mampu menerima kebenaran. Orang yang tak mampu menerima kebenaran pasti tidak sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan. Apakah orang-orang semacam itu mampu duduk diam selama khotbah? Apakah mereka mampu memperoleh sesuatu? Tidak. Ini karena khotbah menyingkapkan berbagai keadaan rusak manusia. Melalui penelaahan yang dilakukan oleh firman Tuhan, orang memperoleh pengetahuan, dan kemudian, dengan mempersekutukan prinsip-prinsip penerapan, mereka memperoleh jalan penerapannya, dan dengan cara inilah efek dapat tercapai. Ketika orang-orang semacam itu mendengar bahwa keadaan yang sedang disingkapkan ada kaitannya dengan masalah pribadi mereka, rasa malu membuat mereka menjadi marah, dan mereka bahkan mungkin langsung berdiri dan meninggalkan pertemuan itu. Sekalipun mereka tidak pergi, dalam hatinya, mereka mungkin mulai menjadi marah. Dengan mereka bertindak seperti ini, tidak ada gunanya mereka menghadiri pertemuan atau mendengarkan khotbah. Bukankah tujuan mendengarkan khotbah adalah untuk memahami kebenaran dan menyelesaikan masalah nyata diri sendiri? Jika engkau selalu takut masalahmu sendiri tersingkap, jika engkau selalu takut dirimu disebutkan, untuk apa engkau percaya kepada Tuhan? Jika dalam imanmu, engkau tak mampu menerima kebenaran, itu berarti engkau tidak benar-benar percaya kepada Tuhan. Jika engkau selalu takut dirimu tersingkap, bagaimana engkau akan mampu menyelesaikan masalah kerusakanmu? Jika engkau tak mampu menyelesaikan masalah kerusakanmu, apa gunanya percaya kepada Tuhan? Tujuan percaya kepada Tuhan adalah untuk menerima keselamatan dari Tuhan, untuk membuang watak rusakmu, dan hidup dalam keserupaan dengan manusia sejati, yang semuanya dapat dicapai dengan menerima kebenaran. Jika engkau sama sekali tak mampu menerima kebenaran, ataupun menerima dirimu dipangkas atau disingkapkan, engkau tak akan mungkin diselamatkan oleh Tuhan. Jadi, katakan kepada-Ku: Di setiap gereja, ada berapa banyak yang mampu menerima kebenaran? Apakah mereka yang tak mampu menerima kebenaran banyak atau sedikit? (Banyak.) Bukankah ini situasi dan masalah nyata yang ada di antara umat pilihan Tuhan di gereja? Semua orang yang tidak mampu menerima kebenaran dan tidak mampu menerima dirinya dipangkas, adalah orang yang muak akan kebenaran. Muak akan kebenaran adalah sejenis watak yang rusak, dan jika watak ini tidak dapat diubah, dapatkah mereka diselamatkan? Tentu saja tidak. Sekarang ini, banyak orang merasa kesulitan untuk menerima kebenaran. Ini memang sama sekali tidak mudah. Hanya dengan mengalami beberapa penghakiman, hajaran, ujian dan pemurnian Tuhan, barulah orang memahami watak rusak mereka dan membereskannya. Jadi, menurutmu: Watak apa yang orang miliki jika mereka tidak mampu menerima diri mereka dipangkas, jika mereka tidak membandingkan diri mereka dengan firman Tuhan atau dengan keadaan yang disingkapkan selama khotbah? (Watak yang muak akan kebenaran.) Ini adalah watak rusak yang keempat: muak akan kebenaran. Seberapa muak mereka? (Mereka tak ingin membaca firman Tuhan, atau mendengarkan khotbah, dan mereka tak ingin mempersekutukan kebenaran.) Ini adalah perwujudan yang paling jelas terlihat. Misalnya, ketika seseorang berkata, "Kau sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan. Kau telah mengesampingkan keluarga dan kariermu untuk melaksanakan tugas, dan telah banyak menderita dan membayar harga yang mahal selama beberapa tahun terakhir ini. Tuhan memberkati orang-orang semacam ini. Firman Tuhan berkata bahwa orang yang sungguh-sungguh mengorbankan dirinya untuk Tuhan akan sangat diberkati," engkau berkata amin dan menerima kebenaran semacam itu. Namun, begitu orang itu melanjutkan dengan berkata, "Namun, kau harus terus berusaha keras mengejar kebenaran! Jika orang selalu memiliki motif tertentu dalam apa yang dilakukannya, dan selalu bertindak sembarangan, cepat atau lambat dia akan menyinggung Tuhan dan menimbulkan kebencian-Nya," saat orang itu mengatakan hal-hal ini, engkau tak bisa menerimanya. Mendengar kebenaran dipersekutukan, engkau bukan saja tak mampu menerimanya, engkau juga menjadi marah, dan di benakmu, engkau membalas: "Kalian menghabiskan sepanjang hari mempersekutukan kebenaran, tetapi aku belum melihat seorang pun dari kalian yang masuk ke surga." Watak apakah ini? (Watak yang muak akan kebenaran.) Ketika pembahasan beralih ke penerapan, ketika orang mulai menganggap serius dirimu, engkau memperlihatkan sikap yang sangat jijik, tidak sabar, dan menentang. Ini adalah watak yang muak akan kebenaran. Bagaimanakah watak yang muak akan kebenaran semacam ini terutama diwujudkan? Dengan menolak dirinya dipangkas. Tidak menerima dirinya dipangkas adalah semacam keadaan yang diperlihatkan oleh watak yang muak akan kebenaran. Di dalam hatinya, orang-orang semacam ini sangat menentang ketika mereka dipangkas. Mereka berpikir, "Aku tidak mau mendengarnya! Aku tidak mau mendengarnya!" atau, "Mengapa tidak memangkas orang lain saja? Mengapa malah memangkasku?" Apa yang dimaksud dengan muak akan kebenaran? Muak akan kebenaran berarti orang tidak tertarik akan apa pun yang ada kaitannya dengan hal-hal positif, dengan kebenaran, dengan tuntutan Tuhan, atau dengan maksud Tuhan. Terkadang mereka merasa jijik dengan hal-hal ini; terkadang mereka mengabaikannya; terkadang mereka bersikap tidak hormat dan acuh tak acuh, tidak menganggapnya serius, memperlakukannya dengan sikap asal-asalan dan tanpa perhatian; atau mereka menanganinya dengan sikap yang sama sekali tanpa tanggung jawab. Perwujudan utama watak yang muak akan kebenaran bukan hanya orang merasa jijik ketika mendengarkan kebenaran. Orang-orang semacam itu juga merasa jijik dengan hal-hal positif. Sekalipun mereka memahami sedikit kebenaran, mereka tidak mau menerapkannya, memilih untuk melarikan diri atau mundur ketika mereka seharusnya menerapkannya. Dengan demikian, semua yang mereka lakukan tidak ada kaitannya dengan kebenaran. Ada orang-orang yang terlihat sangat bersemangat saat menyampaikan persekutuan selama pertemuan, mereka senang mengucapkan kata-kata dan doktrin, dan membuat pernyataan yang muluk-muluk untuk menyesatkan dan memenangkan hati orang lain. Wajah mereka tampak berseri-seri penuh energi, sangat bersemangat saat melakukannya, dan mereka terus berbicara tanpa henti. Sementara itu, yang lainnya menghabiskan sepanjang hari dari pagi hingga malam sibuk dengan hal-hal yang berkaitan dengan iman, berdoa, membaca firman Tuhan, mendengarkan lagu pujian, membuat catatan, tampak sangat sibuk setiap hari, dan mereka juga disibukkan dengan tugas-tugas dari fajar hingga senja hari. Apakah orang-orang ini benar-benar mencintai kebenaran? Bukankah mereka memiliki watak yang muak akan kebenaran? Kapan keadaan mereka yang sebenarnya dapat terlihat? (Begitu tiba saatnya untuk menerapkan kebenaran, mereka pun melarikan diri, dan tidak mau menerima diri mereka dipangkas.) Mungkinkah ini karena mereka tidak memahami apa yang mereka dengar atau karena mereka tidak mengerti kebenaran sehingga mereka tak mau menerimanya? Jawabannya bukan keduanya. Ini dikendalikan oleh natur mereka. Ini adalah masalah watak. Di dalam hatinya, orang-orang ini tahu betul bahwa firman Tuhan adalah kebenaran, bahwa semua itu positif, dan bahwa menerapkan kebenaran akan memampukan orang untuk mengubah wataknya dan membuat mereka mampu memenuhi maksud Tuhan—tetapi mereka tidak mau menerimanya ataupun menerapkannya. Ini adalah watak yang muak akan kebenaran. Dalam diri siapakah engkau melihat watak yang muak akan kebenaran? (Dalam diri pengikut yang bukan orang percaya.) Pengikut yang bukan orang percaya muak akan kebenaran, itu sangat jelas. Tuhan tidak memiliki cara untuk menyelamatkan orang-orang semacam itu. Lalu, di antara orang-orang yang percaya kepada Tuhan, dalam hal apa engkau melihat orang memperlihatkan watak yang muak akan kebenaran? Mungkin saja ketika engkau mempersekutukan kebenaran kepada mereka, mereka tidak berdiri dan pergi, dan ketika persekutuanmu menyinggung kesulitan dan masalah mereka sendiri, mereka menghadapinya dengan benar—tetapi mereka masih memiliki watak yang muak akan kebenaran. Di manakah terlihatnya watak tersebut? (Mereka sering mendengar khotbah, tetapi mereka tidak menerapkan kebenaran.) Orang yang tidak menerapkan kebenaran pasti memiliki watak yang muak akan kebenaran. Ada orang-orang yang terkadang mampu menerapkan sedikit kebenaran, lalu apakah mereka memiliki watak yang muak akan kebenaran? Watak semacam ini dapat dijumpai dalam diri mereka yang menerapkan kebenaran, tetapi pada taraf yang berbeda. Jika engkau mampu menerapkan kebenaran, itu bukan berarti engkau tidak memiliki watak yang muak akan kebenaran. Menerapkan kebenaran bukan berarti watak hidupmu langsung berubah—tidak seperti itu. Engkau harus membereskan masalah watak rusak dalam dirimu, ini adalah satu-satunya cara untuk mencapai perubahan dalam watak hidupmu. Menerapkan kebenaran pada satu kesempatan bukan berarti watak rusakmu telah dibereskan. Engkau mampu menerapkan kebenaran dalam satu area, tetapi engkau belum tentu mampu menerapkan kebenaran dalam area lainnya. Latar belakang dan alasan yang terlibat berbeda, tetapi yang terpenting adalah watak rusakmu memang ada, yang merupakan akar masalahnya. Oleh karena itu, begitu watak orang telah berubah, semua kesulitan mereka dalam menerapkan kebenaran, serta dalih dan alasan mereka untuk tidak menerapkannya—semua masalah ini diselesaikan, dan semua pemberontakan, cacat, dan kekurangan mereka juga dibereskan. Jika watak orang tidak berubah, mereka akan selalu mengalami kesulitan untuk menerapkan kebenaran, dan akan selalu ada alasan dan dalih. Jika engkau ingin mampu menerapkan kebenaran dan tunduk kepada Tuhan dalam segala hal, harus terlebih dahulu ada perubahan dalam watakmu. Baru setelah itulah, engkau akan mampu menyelesaikan masalahmu sampai ke sumbernya.

Watak yang muak akan kebenaran terutama mengacu pada apa? Mari kita terlebih dahulu membahas satu jenis keadaan. Ada orang-orang yang sangat berminat untuk mendengar khotbah, dan makin banyak mereka mendengarkan persekutuan tentang kebenaran, hati mereka menjadi makin dicerahkan dan mereka menjadi makin gembira. Mereka memiliki sikap yang positif dan proaktif. Apakah ini membuktikan bahwa mereka tidak memiliki watak yang muak akan kebenaran? (Tidak.) Sebagai contoh, ada anak-anak berusia tujuh atau delapan tahun yang sangat tertarik mendengar tentang iman kepada Tuhan, dan mereka selalu membaca firman Tuhan dan menghadiri pertemuan bersama orang tuanya, dan beberapa orang berkata, "Anak ini tidak memiliki watak yang muak akan kebenaran, dia sangat pintar, dia dilahirkan untuk percaya kepada Tuhan, dia telah dipilih oleh Tuhan." Anak-anak itu mungkin memang telah dipilih oleh Tuhan, tetapi perkataan mereka hanya separuh benar. Ini karena anak-anak itu masih muda, dan arah pengejaran serta tujuan hidup mereka belum terbentuk. Ketika pandangan mereka tentang kehidupan dan masyarakat belum terbentuk, dapat dikatakan bahwa jiwa mereka yang masih muda itu mencintai hal-hal positif, tetapi engkau tidak bisa menganggap mereka tidak memiliki watak yang muak akan kebenaran. Mengapa Kukatakan demikian? Mereka masih berusia muda. Kemanusiaan mereka masih belum dewasa, mereka tak punya pengalaman apa pun, wawasan mereka masih terbatas, dan mereka sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud dengan kebenaran. Mereka hanya sedikit menyukai hal-hal positif. Engkau tidak dapat menganggap mereka mencintai kebenaran, apalagi menganggap mereka memiliki kenyataan kebenaran. Selain itu, anak-anak tidak memiliki pengalaman dan tak seorang pun mampu mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati mereka, esensi natur seperti apa yang mereka miliki. Hanya karena mereka tertarik akan iman kepada Tuhan dan mendengarkan khotbah, orang-orang menetapkan bahwa mereka mencintai kebenaran. Ini merupakan perwujudan ketidaktahuan dan kebodohan, karena anak-anak tidak memiliki pengetahuan tentang apa yang dimaksud kebenaran, jadi, orang bahkan tidak dapat mengatakan apakah mereka mencintai kebenaran ataukah muak akan kebenaran. Muak akan kebenaran terutama mengacu pada kurangnya minat dan sikap yang antipati terhadap kebenaran dan hal-hal positif. Muak akan kebenaran berarti ketika orang mampu memahami kebenaran dan tahu apa yang dimaksud dengan hal-hal positif, tetapi mereka tetap memperlakukan kebenaran dan hal-hal positif itu dengan sikap dan keadaan yang menentang, asal-asalan, antipati, mengelak, dan acuh tak acuh. Inilah watak yang muak akan kebenaran. Apakah watak semacam ini ada dalam diri setiap orang? Ada orang yang berkata, "Meskipun aku tahu firman Tuhan adalah kebenaran, aku tetap tidak menyukainya. Aku tidak merasa tertarik pada kebenaran. Memintaku untuk menerima kebenaran benar-benar akan menempatkanku dalam posisi yang sulit." Watak apakah ini? Ini adalah watak yang muak akan kebenaran. Ada watak Iblis di dalam diri mereka yang tidak membiarkan mereka untuk menerima kebenaran. Perwujudan spesifik apa yang diperlihatkan oleh orang yang tidak menerima kebenaran? Ada orang yang berkata, "Aku memahami semua kebenaran, aku hanya tidak mampu menerapkannya." Ini memperlihatkannya sebagai orang yang muak akan kebenaran. Dia tidak mencintai kebenaran, sehingga dia tidak mampu menerapkan kebenaran apa pun. Ada orang yang berkata, "Bahwa selama ini aku mampu menghasilkan begitu banyak uang adalah karena kedaulatan Tuhan. Itu adalah berkat-Nya. Selama ini Tuhan sangat baik terhadapku, Tuhan telah memberiku kekayaan yang melimpah. Seluruh keluargaku memiliki cukup sandang dan pangan, dan aku tidak kekurangan pakaian ataupun makanan." Menyadari bahwa dia telah diberkati oleh Tuhan, orang ini bersyukur kepada Tuhan di dalam hatinya, mengetahui bahwa Tuhan berdaulat atas semua ini, dan bahwa jika dia tidak diberkati oleh Tuhan—jika dia hanya mengandalkan kemampuannya sendiri—dia pasti tidak akan menghasilkan semua uang ini. Itulah yang sebenarnya dia pikirkan di dalam hatinya, yang benar-benar diketahuinya, dan dia pun sungguh-sungguh bersyukur kepada Tuhan. Namun, suatu hari bisnisnya gagal, dia mengalami masa-masa sulit, dan jatuh miskin. Mengapa ini terjadi? Karena dia menikmati kenyamanan, dia tidak memikirkan tentang bagaimana melaksanakan tugasnya dengan baik, dan menghabiskan seluruh waktunya berpikir tentang mengejar kekayaan, menjadi hamba uang, yang berdampak pada pelaksanaan tugasnya, sehingga Tuhan mengambil semua ini darinya. Di dalam hatinya, dia tahu bahwa selama ini Tuhan telah sangat memberkatinya, dan memberinya begitu banyak, tetapi dia tidak berhasrat untuk membalas kasih Tuhan, dia tak mau pergi ke luar dan melaksanakan tugasnya, dan dia penakut, selalu takut dirinya akan ditangkap, dan dia takut kehilangan semua kekayaan dan kesenangan ini, dan akibatnya, Tuhan mengambil hal-hal ini darinya. Hatinya sejelas cermin dalam memahami hal ini, dia tahu Tuhan telah mengambil hal-hal ini darinya, dan bahwa dirinya sedang didisiplinkan oleh Tuhan, sehingga dalam doanya, dia berkata kepada Tuhan, "Tuhan! Engkau pernah memberkatiku, jadi Engkau mampu memberkatiku untuk kedua kalinya. Engkau ada dari kekal sampai kekal, demikian juga berkat-berkat-Mu telah menyertai umat manusia. Aku bersyukur kepada-Mu! Apa pun yang terjadi, berkat dan janji-Mu tak akan berubah. Jika Engkau mengambil dariku, aku akan tetap tunduk." Namun, kata "tunduk" yang dia ucapkan tidak meyakinkan. Dia mengaku bahwa dia mampu tunduk, tetapi setelah itu, dia merenungkannya, dan terus merasakan perasaan tidak nyaman di dalam hatinya: "Tadinya, segala sesuatu berjalan begitu baik. Mengapa Tuhan mengambil semua itu? Bukankah tinggal di rumah dan melaksanakan tugasku sama saja dengan pergi keluar untuk melaksanakan tugasku? Apa yang kutunda?" Dia selalu mengenang masa lalunya. Ada semacam keluhan dan ketidakpuasan terhadap Tuhan di dalam hatinya, dan dia terus-menerus merasa depresi. Apakah Tuhan masih ada di dalam hatinya? Yang ada di dalam hatinya adalah uang, kenyamanan dan kesenangan, serta masa-masa indah itu. Tuhan sama sekali tidak memiliki tempat di hatinya, Dia bukan lagi Tuhannya. Sekalipun dia tahu bahwa "Tuhan yang memberi dan Tuhan yang mengambil" adalah kebenaran, dia menyukai perkataan "Tuhan yang memberi", dan muak akan perkataan "Tuhan yang mengambil". Jelas, penerimaan orang ini terhadap kebenaran bersifat selektif. Ketika Tuhan memberkatinya, dia menerimanya sebagai kebenaran—tetapi begitu Tuhan mengambil darinya, dia tidak bisa menerimanya. Dia tidak mampu menerima kedaulatan Tuhan yang seperti itu, dan sebaliknya dia melawan Tuhan, dan menjadi tidak puas. Ketika diminta untuk melaksanakan tugasnya, dia berkata, "Aku mau jika Tuhan memberiku berkat dan anugerah-Nya. Tanpa berkat Tuhan dan dengan keadaan keluargaku yang hidup dalam kemiskinan seperti ini, bagaimana aku bisa melaksanakan tugasku? Aku tidak mau!" Watak apakah ini? Meskipun di dalam hatinya, dia sendiri telah mengalami berkat Tuhan, dan betapa Dia telah memberinya begitu banyak, dia tidak mau menerima ketika Tuhan mengambil hal-hal itu dari dirinya. Mengapa demikian? Karena dia tidak mampu melepaskan kekayaan dan kehidupannya yang nyaman. Meskipun dia mungkin tidak meributkan hal tersebut, dia mungkin tidak menodongkan tangannya menuntut kepada Tuhan, dan dia mungkin tidak berusaha merebut kembali harta yang sebelumnya dia miliki dengan mengandalkan usahanya sendiri, dia telah menjadi berkecil hati terhadap tindakan Tuhan, dia sama sekali tidak mampu menerimanya, dan berkata, "Tuhan benar-benar tidak pengertian dengan bertindak seperti ini. Aku benar-benar tidak mengerti. Bagaimana aku bisa terus percaya kepada Tuhan? Aku tak mau lagi mengakui bahwa Dia adalah Tuhan. Jika aku tidak mengakui bahwa Dia adalah Tuhan, berarti Dia bukan Tuhan." Apakah ini adalah sejenis watak? (Ya.) Iblis memiliki watak semacam ini, Iblis menyangkal Tuhan dengan cara seperti ini. Watak semacam ini adalah watak yang muak akan kebenaran dan membenci kebenaran. Jika orang muak akan kebenaran hingga mencapai taraf seperti ini, apa yang kemudian akan mereka lakukan? Itu membuat mereka melawan Tuhan, melakukannya dengan keras kepala hingga akhir—yang berarti semuanya sudah berakhir bagi mereka.

Apa sebenarnya natur dari watak yang muak akan kebenaran? Orang yang muak akan kebenaran tidak mencintai hal-hal positif atau apa pun yang Tuhan lakukan. Sebagai contoh, lihatlah pekerjaan penghakiman Tuhan selama akhir zaman: Tak seorang pun ingin menerima pekerjaan ini. Hanya segelintir orang yang mau mendengar khotbah tentang Tuhan yang menyingkapkan, menghakimi, menghajar, menguji, memurnikan, mendidik, dan mendisiplinkan manusia, tetapi mereka senang mendengar khotbah tentang Tuhan yang memberkati manusia, menasihati manusia, dan tentang janji-janji-Nya kepada manusia—tak seorang pun menolak hal-hal ini. Seperti halnya selama Zaman Kasih Karunia, ketika Tuhan melakukan pekerjaan mengampuni, memaafkan, memberkati, dan mengaruniakan anugerah-Nya kepada manusia, ketika Dia menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan, dan memberikan janji-janji-Nya kepada manusia—orang mau menerima semua itu, mereka semua memuji Yesus atas kasih-Nya yang besar kepada manusia. Namun sekarang, karena Zaman Kerajaan telah tiba dan Tuhan melakukan pekerjaan penghakiman, dan mengungkapkan banyak kebenaran, tak seorang pun peduli. Bagaimanapun cara Tuhan menyingkapkan dan menghakimi manusia, mereka tidak menerimanya, dan bahkan berkata dalam hati, "Mungkinkah Tuhan melakukan hal semacam itu? Bukankah Tuhan mengasihi manusia?" Jika mereka dipangkas, dididik, atau didisiplinkan, gagasan mereka menjadi jauh lebih banyak, dan berkata dalam hati, "Bagaimana ini bisa disebut kasih Tuhan? Firman penghakiman dan penghukuman ini sama sekali bukan kasih, aku tak mau menerimanya. Aku tidak sebodoh itu!" Ini adalah watak yang muak akan kebenaran. Setelah mendengar kebenaran, ada orang-orang yang berkata, "Kebenaran apa? Ini hanyalah teori. Ini terdengar sangat mulia, sangat hebat, sangat kudus—tetapi semua ini hanya perkataan yang terdengar muluk." Bukankah ini adalah watak yang muak akan kebenaran? Ini adalah watak yang muak akan kebenaran. Apakah watak semacam ini ada dalam dirimu? (Ya.) Keadaan apa yang baru saja Kusebutkan yang paling sering akan menjebakmu, yang paling sering kaulihat, dan yang paling kaualami secara mendalam? (Tidak ingin menghadapi kesulitan saat melaksanakan tugas kami, tidak ingin dihakimi dan dihajar oleh Tuhan, ingin semuanya berjalan lancar.) Menolak kedaulatan Tuhan, menolak pendisiplinan dan didikan Tuhan, jelas tahu bahwa Tuhan berbuat baik dengan melakukan hal ini tetapi engkau tetap menentangnya di dalam hatimu: ini adalah sejenis perwujudan. Apa lagi? (Merasa senang saat kami efektif dalam melaksanakan tugas kami, dan menjadi negatif, lemah, dan tak mampu bekerja sama dengan aktif saat kami tidak efektif.) Perwujudan macam apa ini? (Sikap yang keras kepala.) Engkau harus akurat mengenai hal ini. Jangan bingung dan menerapkan aturan tanpa dipikir dahulu. Terkadang, keadaan orang sangat kompleks; bukan hanya ada satu macam keadaan, tetapi dua atau tiga macam keadaan yang bercampur dalam diri mereka. Lalu, bagaimana engkau menggolongkannya? Terkadang, satu jenis watak akan tersingkap dengan sendirinya dalam dua macam keadaan, terkadang dalam tiga macam keadaan, tetapi sekalipun keadaan-keadaan ini berbeda, pada akhirnya, ini semua berakar dari satu watak yang sama. Engkau harus memahami watak yang muak akan kebenaran ini, dan engkau semua harus menyelidiki apa saja yang akan orang wujudkan ketika mereka muak akan kebenaran. Dengan cara seperti ini, engkau akan mampu sungguh-sungguh memahami watak yang muak akan kebenaran ini. Engkau muak akan kebenaran, engkau tahu betul bahwa sesuatu adalah hal yang benar—sesuatu itu belum tentu firman Tuhan atau prinsip kebenaran, dan terkadang itu adalah hal yang positif, hal yang tepat, perkataan yang tepat, saran yang tepat—tetapi engkau tetap berkata, "Ini bukan kebenaran, ini hanyalah perkataan yang tepat. Aku tak mau mendengarnya—aku tidak mendengarkan perkataan manusia!" Watak apakah ini? Terdapat watak yang congkak, keras kepala, dan muak akan kebenaran di sini—semua jenis watak ini ada. Setiap jenis watak dapat menghasilkan banyak jenis keadaan. Satu keadaan dapat berkaitan dengan beberapa watak yang berbeda. Engkau harus memahami dengan jelas watak jenis apakah yang menghasilkan keadaan-keadaan ini. Dengan cara demikian, engkau akan mampu membedakan berbagai jenis watak yang rusak.

Dari keempat jenis watak rusak yang baru saja kita persekutukan, masing-masing dari watak tersebut sudah cukup untuk membuat orang dihukum mati—apakah keterlaluan mengatakan seperti itu? (Tidak.) Bagaimana watak rusak manusia muncul? Semuanya itu berasal dari Iblis. Ke dalam diri manusia telah ditanamkan semua kesesatan dan kekeliruan yang dikeluarkan oleh Iblis, para setan, dan orang-orang terkenal dan terkemuka, dan dengan cara demikianlah berbagai watak yang rusak ini muncul. Apakah watak-watak ini positif atau negatif? (Negatif.) Atas dasar apa kaukatakan ini negatif? (Atas dasar kebenaran.) Karena watak-watak ini melanggar kebenaran dan menentang Tuhan, dan sepenuhnya bertentangan dengan watak Tuhan dan semua yang Tuhan miliki dan siapa Dia, maka jika salah satu dari watak rusak ini ditemukan dalam diri seseorang, dia menjadi orang yang menentang Tuhan. Jika masing-masing dari keempat watak ini ditemukan dalam diri seseorang, ini sangat menyusahkan dan orang itu telah menjadi musuh Tuhan, dan kesudahannya adalah kematian yang pasti. Watak apa pun itu, jika engkau mengukurnya dengan menggunakan kebenaran, engkau akan melihat bahwa esensi dari setiap perwujudan itu semuanya ditujukan untuk melawan, menentang, dan memusuhi Tuhan. Oleh karena itu, jika watakmu tidak berubah, engkau tidak akan sesuai dengan Tuhan, engkau akan membenci kebenaran, dan engkau akan menjadi musuh Tuhan.

Selanjutnya, mari kita membahas jenis watak yang kelima. Aku akan memberimu sebuah contoh, dan engkau semua bisa mencoba merenungkan jenis watak apakah ini. Bayangkan dua orang sedang berbincang, dan salah seorang dari mereka sangat blak-blakan dalam perkataannya, sehingga lawan bicaranya merasa tersinggung. Dia berpikir, "Mengapa kau begitu melukai harga diriku? Apa kau kira aku akan membiarkan orang menggangguku?" dan kebencian pun muncul dalam hatinya. Sebenarnya, masalah ini mudah untuk diselesaikan. Jika seseorang mengatakan sesuatu yang melukai orang lainnya, asalkan si pembicara meminta maaf kepada pendengarnya, masalahnya akan berlalu. Namun, jika pihak yang tersinggung tidak mau memaafkan dan baginya, "tidak pernah terlambat bagi pria bermartabat untuk membalas dendam," watak apakah ini? (Watak dengan niat jahat.) Benar—ini adalah watak dengan niat jahat, dan orang ini memiliki watak yang kejam. Di gereja, ada orang-orang yang dipangkas karena mereka tidak melaksanakan tugas mereka dengan baik. Hal-hal yang dikatakan ketika memangkas seseorang sering kali membuat orang itu ditegur dan bahkan mungkin dimarahi. Ini tentu saja akan membuat mereka kesal, dan mereka akan ingin mencari alasan dan membantahnya. Mereka mengatakan hal-hal seperti, "Meskipun apa yang kaukatakan ketika engkau memangkasku benar, beberapa darinya benar-benar menyinggungku, dan kau membuatku kehilangan muka serta melukai perasaanku. Aku telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun. Sekalipun aku belum mencapai apa pun, aku telah menanggung kesukaran. Bagaimana bisa aku diperlakukan seperti ini? Mengapa kau tidak memangkas orang lain saja? Aku tak bisa menerimanya dan aku tak tahan mendengarnya!" Ini adalah sejenis watak yang rusak, bukan? (Ya.) Watak rusak ini hanya terwujud dalam bentuk keluhan, ketidaktaatan, dan perlawanan; meskipun ini belum mencapai puncaknya, itu sudah menunjukkan beberapa tanda, dan itu sudah mulai mencapai titik di mana itu akan meledak. Bagaimana sikapnya segera setelah ini? Dia tidak tunduk, dia merasa tidak bahagia dan membangkang, serta mulai bertindak karena dendam. Dia mulai membantah dan berusaha membenarkan dirinya sendiri: "Para pemimpin dan pekerja tidak selalu benar ketika mereka memangkas orang. Kalian semua mungkin bisa menerimanya, tetapi aku tidak bisa. Jika kalian bisa menerimanya, itu karena kalian bodoh dan lemah. Aku tidak mau menerimanya! Mari kita bahas dan lihat siapa yang benar dan siapa yang salah." Lalu orang-orang menyampaikan persekutuan mereka kepadanya, "Entah itu benar atau salah, hal pertama yang harus kaulakukan adalah tunduk. Mungkinkah pelaksanaan tugasmu tidak tercemar sedikit pun? Apakah kau melakukan segala sesuatu dengan benar? Sekalipun kau melakukan segalanya dengan benar, dipangkas tetap akan bermanfaat bagimu! Kami telah berulang kali mempersekutukan prinsip kepadamu, tetapi kau tidak pernah mendengarnya dan memilih untuk berbuat sekehendak hatimu, menyebabkan gangguan terhadap pekerjaan gereja dan mengakibatkan kerugian yang sangat besar, jadi, bagaimana bisa kau tidak menghadapi dirimu dipangkas? Perkataan yang diucapkan kepadamu mungkin keras dan mungkin sulit bagimu untuk mendengarnya, tetapi itu hal yang normal, bukan? Jadi, apa yang kauperdebatkan? Engkau sedang melakukan hal-hal buruk, tetapi engkau tidak membiarkan orang lain memangkasmu?" Namun setelah mendengar ini, mampukah dia menerima perkataan ini? Dia tidak mampu. Dia hanya terus membantah dan bersikap membangkang. Watak apa yang diperlihatkannya? Watak setan; ini adalah watak yang kejam. Apa maksud dia sebenarnya? "Aku tidak menoleransi orang menyinggungku sedikit pun. Siapa pun jangan coba-coba menyentuh sehelai rambut pun di kepalaku! Jika kutunjukkan kepadamu bahwa aku bukan orang yang bisa diremehkan, kelak kau tidak akan berani lagi memangkasku. Bukankah itu berarti aku menang?" Bagaimana menurutmu? Wataknya telah tersingkap, bukan? Ini adalah watak yang kejam. Orang yang wataknya kejam bukan saja muak akan kebenaran—dia juga membenci kebenaran. Ketika dia dipangkas, dia entah berusaha melarikan diri, atau mengabaikannya, merasakan kebencian yang sangat besar di dalam hatinya. Ini bukan sekadar masalah dia menyampaikan argumennya sendiri. Sikapnya sama sekali tidak seperti itu. Dia membangkang dan melawan, dan dia bahkan berusaha memulai konflik seperti wanita cerewet yang sangat tidak menyenangkan. Di dalam hatinya, dia berpikir, "Aku tahu kau sebenarnya sedang berusaha mempermalukanku dan dengan sengaja membuatku malu, dan meskipun aku tidak berani menyanggahmu secara langsung, aku akan mencari kesempatan untuk membalasmu! Bukankah kau ingin memangkasku dan menindasku? Aku akan membuat semua orang berpihak kepadaku agar kau tinggal seorang diri, lalu membiarkanmu merasakan rasanya diperlakukan dengan buruk!" Dalam hatinya, inilah yang mereka pikirkan; watak kejam mereka akhirnya tersingkap dengan sendirinya. Demi mencapai tujuan dan melampiaskan dendam mereka, mereka membantah dengan sekuat tenaga untuk membenarkan diri mereka sendiri dan membuat semua orang berpihak kepada mereka. Setelah itu, barulah mereka merasa senang dan merasa bahwa mereka sudah membalas dendam. Ini adalah watak yang berniat jahat, bukan? Ini adalah watak yang kejam. Ketika belum dipangkas, orang-orang semacam ini bagaikan domba-domba kecil. Ketika mereka dipangkas, atau ketika diri mereka yang sebenarnya tersingkap, mereka segera berubah dari domba menjadi serigala, dan sifat serigala mereka pun muncul. Ini adalah watak yang kejam, bukan? (Ya.) Jadi, mengapa watak itu sering kali tidak terlihat? (Kepentingan mereka belum terancam.) Benar, mereka belum terprovokasi dan kepentingan mereka belum terancam. Ini seperti serigala yang tidak akan memakanmu saat dia tidak lapar. Dapatkah engkau lalu menganggapnya bukan serigala? Jika engkau menunggu sampai dia berusaha memakanmu barulah engkau menyebutnya serigala, itu sudah terlambat, bukan? Sekalipun dia belum berusaha memakanmu, engkau harus selalu waspada. Serigala tidak memakanmu bukan berarti dia tidak mau memakanmu, hanya saja waktunya belum tiba. Dan jika waktunya telah tiba, natur serigalanya akan menyerang. Dipangkas akan membuat setiap jenis orang tersingkap. Ada orang yang berpikir, "Mengapa hanya aku yang dipangkas? Mengapa selalu aku yang dipangkas? Apakah mereka menganggapku sasaran yang mudah? Aku bukan jenis orang yang bisa kautindas!" Watak apakah ini? Bagaimana mungkin hanya dia yang dipangkas? Bukan seperti ini yang terjadi. Siapakah di antaramu yang belum pernah dipangkas? Engkau semua pernah dipangkas. Terkadang pemimpin dan pekerja bertindak semaunya dan ceroboh dalam pekerjaan mereka, atau mereka tidak melaksanakannya sesuai dengan pengaturan kerja—kebanyakan dari mereka dipangkas. Ini dilakukan untuk melindungi pekerjaan gereja dan untuk mencegah agar orang tidak tersesat mengikuti jalan mereka sendiri. Ini tidak dilakukan untuk menargetkan orang tertentu. Yang orang itu katakan jelas merupakan pemutarbalikan fakta, dan ini pun sebuah perwujudan dari watak yang kejam.

Dengan cara apa lagi watak yang kejam diwujudkan? Apa hubungan watak yang kejam dan sikap yang muak akan kebenaran? Sebenarnya, ketika watak muak akan kebenaran terwujud dengan cara yang serius, membawa sifat-sifat penentangan dan penghakiman, ini menyingkapkan watak yang kejam. Muak akan kebenaran mencakup sejumlah keadaan, dari kurangnya minat pada kebenaran hingga rasa muak terhadap kebenaran, yang menunjukkan bahwa seseorang telah meningkat menjadi cenderung menghakimi Tuhan dan mengutuk Tuhan. Ketika watak muak akan kebenaran telah mencapai titik tertentu, orang cenderung menyangkal Tuhan, membenci Tuhan, dan menempatkan diri mereka melawan Tuhan. Beberapa keadaan ini adalah perwujudan dari watak yang kejam, bukan? (Ya.) Oleh karena itu, mereka yang muak akan kebenaran memiliki keadaan yang bahkan lebih serius, dan di dalam hal ini terdapat sejenis watak: watak yang kejam. Sebagai contoh, ada orang-orang yang mengakui bahwa Tuhan berdaulat atas segala sesuatu, tetapi ketika Tuhan mengambil dari mereka, dan kepentingan mereka mengalami kerugian, mereka tidak mengeluh atau bersikap membangkang di luarnya, tetapi di dalam hati, mereka tidak ada penerimaan atau ketundukan. Ini adalah sikap penentangan dalam kenegatifan, duduk diam dan menunggu kematian, dan ini jelas merupakan keadaan yang muak akan kebenaran. Ada juga keadaan lain yang bahkan lebih serius: Mereka tidak duduk pasif dan menunggu kehancuran, melainkan menentang pengaturan dan penataan Tuhan, dan melawan Tuhan yang mengambil hal-hal dari mereka. Bagaimana mereka melakukannya? (Dengan mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja, atau dengan menyabotase segala sesuatu, berusaha mendirikan kerajaan mereka sendiri.) Itu adalah salah satu bentuknya. Setelah beberapa pemimpin palsu diberhentikan, mereka bukan saja tidak merenungkan diri mereka sendiri, melainkan mereka juga memiliki penentangan di dalam hati mereka. Mereka bahkan selalu menimbulkan kekacauan dan gangguan saat menjalani kehidupan bergereja, mereka menentang dan tidak menaati semua yang dikatakan oleh pemimpin yang baru terpilih, dan mereka berusaha merendahkan pemimpin itu di belakangnya. Watak apakah ini? Ini adalah watak yang kejam. Yang sebenarnya mereka pikirkan adalah, "Jika aku tak dapat menjadi pemimpin, maka tak seorang pun boleh memegang kedudukan ini, aku akan mengusir mereka semua! Setelah aku mengusirmu, aku akan kembali memimpin seperti sebelumnya!" Ini bukan sekadar muak akan kebenaran, ini adalah kekejaman! Mereka memperebutkan status, wilayah, dan semua itu untuk kepentingan serta reputasi mereka sendiri; mereka menghalalkan segala cara dan melakukan segala yang mereka bisa untuk membalas dendam. Dengan kata lain, mereka menggunakan semua keterampilan yang mereka miliki, dan melakukan segala cara yang memungkinkan untuk mencapai tujuan mereka, untuk menyelamatkan reputasi, harga diri, dan status mereka, serta mewujudkan niat mereka untuk membalas dendam. Semua ini adalah perwujudan dari kekejaman. Beberapa perilaku dari watak yang kejam melibatkan mengatakan banyak hal untuk menimbulkan gangguan dan kekacauan; beberapa melibatkan melakukan banyak hal buruk untuk mencapai tujuan. Baik dalam perkataan maupun tindakan, semua yang dilakukan oleh orang-orang semacam itu bertentangan dengan kebenaran, dan melanggar kebenaran, dan semua itu adalah penyingkapan watak yang kejam. Ada orang-orang yang tak mampu mengenali hal-hal ini. Jika perkataan atau perilaku yang salah itu tidak mencolok, mereka tak mampu mengenalinya. Namun, bagi orang-orang yang memahami kebenaran, semua yang dikatakan dan dilakukan orang jahat adalah jahat, dan tidak akan pernah mengandung apa pun yang benar, atau sesuai dengan kebenaran; hal-hal yang dikatakan dan dilakukan orang-orang ini dapat dikatakan 100 persen jahat dan sepenuhnya merupakan penyingkapan watak yang kejam. Apa motivasi orang jahat sebelum mereka memperlihatkan watak yang kejam ini? Tujuan seperti apa yang berusaha mereka capai? Bagaimana mereka bisa melakukan hal-hal seperti itu? Dapatkah engkau semua mengenali hal ini? Aku akan memberimu sebuah contoh. Sesuatu terjadi di rumah beberapa orang. Rumah-rumah tersebut berada di bawah pengawasan si naga merah yang sangat besar dan orang-orang itu tidak bisa pulang ke rumahnya, dan ini sangat menyakitkan bagi mereka. Ada saudara-saudari yang mau menampungnya di rumah mereka, dan saat melihat betapa baiknya keadaan di rumah tuan rumahnya, mereka berpikir, "Mengapa tidak terjadi apa pun di rumahmu? Mengapa hal itu terjadi di rumahku? Ini tidak adil. Tidak bisa begitu, aku harus memikirkan cara agar terjadi sesuatu di rumahmu, jadi kau juga tidak akan bisa pulang ke rumahmu. Biar kau merasakan kesukaran yang sama seperti yang kurasakan." Apakah mereka melakukan sesuatu atau tidak, atau apakah ini menjadi kenyataan atau tidak, atau apakah mereka mencapai tujuan mereka atau tidak, jika mereka memiliki niat semacam ini, itu adalah sejenis watak, bukan? (Ya.) Jika mereka tidak bisa menjalani kehidupan yang baik, mereka juga tidak akan membiarkan orang lain mengalaminya. Watak apakah ini? (Watak yang kejam.) Ini adalah watak yang kejam—orang-orang ini sangat jahat! Dalam bahasa sehari-hari, mereka busuk sampai ke akar-akarnya. Ini menggambarkan betapa kejamnya mereka. Apa natur dari watak semacam itu? Lakukan sedikit penelaahan: Ketika watak ini tersingkap dalam diri mereka, apa niat dan motivasi mereka? Ketika mereka memperlihatkan watak ini, apa titik awalnya? Apa yang ingin dicapainya? Sesuatu terjadi di rumahnya, dan mereka diurus dengan baik di kediaman keluarga tuan rumahnya, jadi mengapa mereka ingin mengacaukannya? Apakah mereka hanya akan merasa senang jika mereka telah mengacaukan kehidupan tuan rumahnya, agar sesuatu terjadi di kediaman keluarga tuan rumahnya dan tuan rumahnya juga tidak bisa pulang? Demi dirinya sendiri, mereka seharusnya melindungi tempat-tempat ini, berusaha agar tidak terjadi apa pun terhadap mereka, dan agar tidak membahayakan tuan rumahnya, karena membahayakannya sama dengan membahayakan diri mereka sendiri. Jadi, apa sebenarnya tujuannya ingin melakukan hal ini? (Jika semua tidak berjalan baik untuk mereka, mereka tak ingin semua berjalan baik untuk orang lain.) Ini disebut watak yang kejam. Yang mereka pikirkan adalah, "Rumahku telah dihancurkan oleh si naga merah yang sangat besar dan sekarang aku tidak punya rumah. Sedangkan kau masih bisa pulang ke rumahmu yang hangat. Ini tidak adil. Aku merasa terganggu melihatmu bisa pulang ke rumahmu. Aku akan membuatmu menderita. Aku akan membuatmu tidak bisa pulang dan kau akan menjadi sama sepertiku. Ini akan membuat semuanya terasa adil." Bukankah melakukan hal ini berarti menyimpan pemikiran yang jahat dan berniat buruk? Jadi, apa natur dari bertindak seperti ini? (Natur yang kejam.) Orang-orang dengan watak yang kejam mengatakan dan melakukan sesuatu hanya dengan tujuan untuk memuaskan keinginan mereka. Hal-hal seperti apa yang biasanya mereka lakukan? (Mereka mengganggu, mengacaukan, dan menghancurkan pekerjaan gereja.) (Mereka berusaha menjilat orang di depannya, tetapi berusaha merendahkan orang itu di belakangnya.) (Mereka menyerang orang, membalas dendam, dan dengan jahat mengincar orang.) (Mereka menyebarkan rumor yang tak berdasar dan fitnah.) (Mereka memfitnah, menghakimi, dan mengutuk orang lain.) Natur dari tindakan-tindakan ini adalah mengganggu dan menghancurkan pekerjaan gereja, dan semua itu adalah perwujudan dari sikap yang melawan dan menyerang Tuhan, semuanya adalah penyingkapan watak yang kejam. Mereka yang mampu melakukan hal-hal ini tidak diragukan lagi adalah orang yang jahat, dan semua orang yang memiliki perwujudan watak kejam tertentu dapat digolongkan sebagai orang yang jahat. Apa esensi orang yang jahat? Esensi orang yang jahat adalah esensi setan dan esensi Iblis. Ini tidak berlebihan. Apakah engkau semua mampu melakukan tindakan-tindakan seperti ini? Yang mana dari tindakan ini yang mampu kaulakukan? (Mengkritik orang.) Jadi, apakah engkau berani menyerang atau membalas dendam kepada orang lain? (Terkadang, aku memang memiliki pemikiran seperti ini, tetapi aku tidak berani melakukannya.) Engkau semua hanya memiliki pemikiran ini, tetapi engkau tidak berani melakukannya. Jika seseorang yang statusnya lebih rendah daripadamu menyakitimu, beranikah engkau membalasnya? (Terkadang aku melakukannya, aku mampu melakukan hal-hal seperti itu.) Jika seseorang sangat tangguh, jika dia sangat fasih berbicara, dan orang itu menyakitimu, beranikah engkau membalas? Mungkin hanya segelintir orang yang tidak takut melakukan hal ini. Orang-orang seperti ini, yang berani kepada orang yang lemah tetapi takut kepada orang yang kuat, apakah mereka memiliki watak yang kejam? (Ya.) Perilaku macam apa pun, dan siapa pun yang dituju, jika engkau mampu melakukan perbuatan jahat membalas dendam kepada saudara-saudari lainnya, ini membuktikan bahwa ada watak yang kejam di dalam dirimu. Watak yang kejam ini sepertinya tidak terlihat berbeda dari luar, tetapi engkau harus mampu membedakannya dan engkau harus mampu membedakan siapa yang menjadi sasaranmu. Jika engkau bersikap keras terhadap Iblis dan engkau mampu menaklukkan serta mempermalukan Iblis, apakah ini dianggap sebagai watak yang kejam? Tidak. Ini artinya membela apa yang benar dan tidak takut menghadapi musuh. Ini artinya memiliki rasa keadilan. Dalam keadaan apa tindakanmu dianggap watak yang kejam? Jika engkau menindas, menginjak-injak dan mempermalukan orang yang baik atau saudara-saudari, maka ini adalah watak yang kejam. Oleh karena itu, engkau harus memiliki hati nurani dan nalar, memperlakukan orang dan hal-hal berdasarkan prinsip, mampu mengenali orang jahat, setan-setan, memiliki rasa keadilan, engkau harus toleran dan sabar terhadap umat pilihan Tuhan dan saudara-saudari, dan engkau harus melakukan penerapan sesuai dengan kebenaran. Ini sepenuhnya benar dan sesuai dengan maksud Tuhan. Orang-orang yang wataknya kejam tidak memperlakukan orang berdasarkan prinsip seperti ini. Jika ada orang, siapa pun itu, yang melakukan sesuatu yang menyakiti mereka, mereka akan berusaha membalas. Ini adalah watak yang kejam. Orang yang jahat tidak bertindak berdasarkan prinsip. Mereka tidak mencari kebenaran. Entah mereka bertindak karena dendam pribadi, atau mereka menyerang orang yang lemah dan takut kepada orang yang kuat, atau berani membalas dendam kepada siapa pun, semua ini merupakan watak yang kejam, dan semua ini merupakan watak yang rusak. Ini tidak diragukan lagi.

Perwujudan apa yang paling jelas diperlihatkan oleh orang yang berwatak kejam? Yaitu ketika mereka bertemu dengan seseorang yang lugu atau seseorang yang mudah ditindas dan mereka mulai menindas dan mempermainkan orang tersebut. Ini adalah fenomena yang umum. Ketika seseorang yang relatif baik hati melihat seseorang yang lugu atau seorang pengecut, dia akan merasa iba terhadap orang itu, dan sekalipun dia tidak mampu menolong orang itu, dia tidak akan menindas orang tersebut. Jika engkau melihat ada salah seorang saudara atau saudarimu yang lugu, bagaimana caramu memperlakukannya? Apakah engkau akan menindas atau mempermainkannya? (Aku mungkin akan memandang rendah dirinya.) Memandang rendah orang adalah cara melihat mereka, cara memandang mereka, semacam mentalitas, tetapi apa yang kaukatakan dan lakukan kepada mereka berkaitan dengan watakmu. Katakan kepada-Ku, bagaimana cara engkau semua bertindak terhadap orang yang penakut dan pengecut? (Aku akan main perintah terhadap mereka dan menindas mereka.) (Ketika aku melihat mereka melaksanakan tugasnya dengan buruk, aku akan mendiskriminasi dan mengucilkan mereka.) Hal-hal yang kausebutkan ini adalah perwujudan dari watak yang kejam dan berkaitan dengan watak orang. Masih banyak perwujudan lainnya, jadi tidak perlu membahasnya secara mendetail. Pernahkah engkau semua menjumpai seseorang seperti itu, seseorang yang ingin menyiksa sampai mati siapa pun yang menyinggungnya, dan bahkan berdoa kepada Tuhan, memohon agar Dia mengutuk mereka, menghapuskan mereka dari muka bumi? Meskipun tidak ada orang yang memiliki kuasa seperti itu, dalam hatinya mereka berpikir betapa baiknya jika mereka memilikinya, atau mereka berdoa kepada Tuhan dan memohon agar Tuhan melakukan hal ini. Apakah engkau semua memiliki pemikiran seperti ini di dalam hatimu? (Ketika kami sedang memberitakan Injil dan bertemu dengan orang-orang jahat yang menyerang dan menelepon polisi untuk menangkap kami, aku merasa benci terhadap mereka, dan berpikir seperti "harinya akan tiba saat kau dihukum oleh Tuhan".) Itu kasus yang sifatnya cukup objektif. Engkau diserang, engkau menderita, engkau merasa disakiti, integritas pribadimu dan harga dirimu sepenuhnya diinjak-injak. Dalam keadaan seperti itu, kebanyakan orang akan mengalami kesulitan untuk mengatasinya. (Ada orang-orang yang menyebarkan rumor yang tak berdasar tentang gereja kami secara daring, mereka membuat banyak kutukan, dan ketika membacanya, itu membuatku merasa sangat marah, dan ada banyak kebencian di dalam hatiku.) Apakah ini watak yang kejam, atau sikap yang gampang marah, atau kemanusiaan yang normal? (Ini adalah kemanusiaan yang normal. Tidak membenci para setan dan musuh-musuh Tuhan bukanlah kemanusiaan yang normal.) Benar. Ini adalah penyingkapan, perwujudan, dan respons kemanusiaan yang normal. Jika orang tidak membenci hal-hal negatif atau tidak mencintai hal-hal positif, jika orang tidak memiliki standar hati nurani, berarti mereka bukan manusia. Dalam keadaan seperti ini, apa saja hal-hal yang orang lakukan yang telah berkembang menjadi penyingkapan watak yang kejam? Jika kebencian dan perasaan muak ini berubah menjadi semacam perilaku tertentu, jika engkau kehilangan semua nalar dan melakukan hal-hal yang melanggar batasan hati nurani, jika engkau bahkan cenderung membunuh mereka dan melanggar hukum, maka ini adalah watak yang kejam, ini berarti bertindak dengan sikap yang gampang marah. Ketika orang memahami kebenaran, dan mampu mengenali orang jahat, dan mereka membenci kejahatan, maka ini adalah kemanusiaan yang normal. Namun, jika orang menangani hal-hal dengan sikap yang gampang marah, mereka sedang bertindak dengan tidak berprinsip. Apakah ada bedanya dengan melakukan kejahatan? (Ya.) Ada perbedaannya. Jika seseorang sangat buruk, sangat tidak bermoral, sangat kejam, dan engkau merasa sangat antipati terhadapnya, dan rasa antipati ini mencapai titik di mana engkau memohon agar Tuhan mengutuknya, maka ini diperbolehkan. Namun, jika Tuhan tidak bertindak setelah engkau berdoa dua atau tiga kali, bolehkah engkau mengambil tindakan sendiri? (Tidak.) Engkau dapat berdoa kepada Tuhan dan mengungkapkan pandangan dan pendapatmu, lalu mencari prinsip-prinsip kebenaran, dengan demikian engkau akan mampu menangani segala sesuatunya dengan benar. Namun, engkau tidak boleh menuntut atau berusaha memaksa Tuhan untuk membalas dendam demi kepentinganmu, apalagi membiarkan sikapmu yang gampang marah membuatmu melakukan hal-hal bodoh. Engkau harus menyikapi hal ini secara rasional dan bersabar. Tunggulah waktu Tuhan, berdoalah lebih banyak kepada Tuhan, dan perhatikan bagaimana Tuhan memperlakukan setan-setan dan Iblis. Dengan demikian, engkau bisa bersabar. Bersikap rasional berarti memercayakan semua ini kepada Tuhan dan membiarkan Tuhan yang bertindak. Inilah pola pikir yang seharusnya dimiliki oleh makhluk ciptaan. Jangan bertindak berdasarkan sikap yang gampang marah. Bertindak berdasarkan sikap yang gampang marah tidak dapat diterima oleh Tuhan, itu dikutuk oleh Tuhan. Pada saat-saat seperti itu, watak yang orang perlihatkan bukanlah kelemahan manusia ataupun kemarahan yang sepintas lalu, melainkan watak yang kejam. Begitu itu telah digolongkan sebagai watak yang kejam, engkau berada dalam masalah, dan kemungkinan besar tidak akan diselamatkan. Itu karena ketika orang memiliki watak yang kejam, mereka sangat cenderung akan bertindak dengan melanggar hati nurani dan nalar, dan mereka sangat cenderung akan melanggar hukum, dan melanggar ketetapan administratif Tuhan. Jadi, bagaimana menghindari hal ini? Paling sedikit, ada tiga batas yang tidak boleh dilanggar: pertama, jangan melakukan hal-hal yang melanggar hati nurani dan nalar; kedua, jangan melanggar hukum; ketiga, jangan melanggar ketetapan administratif Tuhan. Ini mencakup tidak melakukan apa pun yang ekstrem atau apa pun yang akan mengganggu pekerjaan gereja. Jika engkau mematuhi prinsip-prinsip ini, setidaknya keamananmu akan terjamin, dan engkau tidak akan disingkirkan. Jika engkau dengan sangat kejamnya melawan ketika dirimu dipangkas karena engkau telah melakukan segala macam kejahatan, maka itu jauh lebih berbahaya. Kemungkinan besar engkau akan secara langsung menyinggung watak Tuhan dan diusir atau dikeluarkan dari gereja. Hukuman karena menyinggung watak Tuhan jauh lebih berat daripada karena melanggar hukum, itu jauh lebih buruk daripada kematian. Melanggar hukum paling-paling hanya membuatmu dihukum penjara; mengalami beberapa tahun yang berat dan setelah itu engkau akan dibebaskan, itu saja. Namun, jika engkau menyinggung watak Tuhan, engkau akan mengalami hukuman kekal. Oleh karena itu, jika orang yang berwatak kejam tidak memiliki rasionalitas, mereka berada dalam bahaya ekstrem, mereka akan sangat cenderung melakukan kejahatan, dan mereka pasti akan dihukum dan menerima pembalasan. Jika orang memiliki sedikit rasionalitas dan sedikit hati yang takut akan Tuhan, serta mampu mencari dan tunduk pada kebenaran ketika dihadapkan pada berbagai situasi, mereka akan mampu menahan diri dari melakukan banyak kejahatan. Jika orang yang memiliki rasionalitas mampu mencari kebenaran, ada harapan bagi mereka untuk diselamatkan. Sangatlah penting bagi orang untuk memiliki rasionalitas dan nalar. Orang yang bernalar akan merasa mudah untuk menerima kebenaran dan menyikapi dirinya dipangkas dengan cara yang benar. Orang yang tidak bernalar akan berada dalam bahaya ketika mereka dipangkas. Sebagai contoh, katakanlah seseorang merasakan kemarahan yang besar di dalam hatinya setelah dia dipangkas. Dia akan ingin membela dirinya sendiri, dan bahkan akan ingin menyerang serta mengutuk para pemimpin dan pekerja, tetapi pada saat yang sama dia akan takut bahwa melakukan hal itu akan menimbulkan masalah. Namun, di dalam dirinya, sudah ada watak yang kejam semacam itu, dan tidak ada yang tahu kapan dia akan bertindak berdasarkan watak itu. Selama seseorang memiliki watak yang kejam di dalam dirinya, selama dia memiliki pemikiran yang berniat jahat, maka meskipun dia mungkin tidak bertindak berdasarkan pemikiran tersebut, dia sudah berada dalam bahaya. Ketika keadaan mengizinkan, ketika ada kesempatan, dia mungkin akan bertindak. Selama watak yang kejam masih ada di dalam dirinya, jika itu belum dibereskan, cepat atau lambat orang ini akan melakukan kejahatan. Jadi, dalam situasi apa lagi orang memperlihatkan wataknya yang kejam? Katakan kepada-Ku. (Aku asal-asalan dalam tugasku dan tidak memperoleh hasil apa pun, lalu aku diberhentikan oleh pemimpin sesuai dengan prinsip, dan aku merasa agak bersikap membangkang. Kemudian, ketika kulihat pemimpin itu memperlihatkan watak yang rusak, aku berpikir untuk menulis surat untuk melaporkan dirinya.) Apakah ide seperti ini muncul begitu saja? Sama sekali tidak. Ini dihasilkan oleh naturmu. Unsur-unsur natur orang semuanya akan tersingkap cepat atau lambat. Tidak ada yang pernah tahu dalam situasi apa atau dalam konteks apa unsur-unsur itu akan tersingkap dan diwujudkan dalam tindakan. Terkadang orang tidak melakukan apa pun, tetapi itu karena situasinya tidak memungkinkan. Namun, jika mereka adalah orang yang mengejar kebenaran, mereka akan mampu mencari kebenaran untuk membereskan watak rusak mereka, dan mereka tidak akan bertindak berdasarkan watak tersebut. Jika mereka bukan orang yang mengejar kebenaran, mereka akan berbuat sekehendak hatinya, dan begitu situasinya mengizinkan, mereka akan melakukan kejahatan. Oleh karena itu, jika watak yang rusak tidak dibereskan, kemungkinan besar orang akan membuat dirinya sendiri berada dalam masalah, dan dengan begitu, mereka akan menuai apa yang telah mereka tabur. Ada orang-orang yang tidak mengejar kebenaran dan selalu asal-asalan dalam melaksanakan tugas mereka. Mereka tidak terima ketika diri mereka dipangkas, mereka tidak pernah bertobat, dan pada akhirnya mereka diasingkan untuk tujuan perenungan. Ada orang-orang yang dikeluarkan dari gereja karena terus-menerus mengganggu kehidupan bergereja dan mereka telah menjadi sumber masalah; dan ada orang-orang yang diusir karena mereka telah melakukan segala macam kejahatan. Jadi, orang macam apa pun seseorang itu, jika mereka sering memperlihatkan watak yang rusak dan tidak mencari kebenaran untuk membereskannya, mereka akan sangat cenderung melakukan kejahatan. Watak rusak manusia tidak hanya terdiri dari kecongkakan, tetapi juga kejahatan dan kekejaman. Kecongkakan adalah sesuatu yang dimiliki setiap orang, begitu pula kekejaman.

Jadi, bagaimana cara menyelesaikan masalah memperlihatkan watak yang kejam ini? Orang harus mengenali watak rusak apa yang ada di dalam dirinya. Ada orang-orang yang wataknya sangat kejam, berniat jahat, dan congkak, dan mereka benar-benar bertindak seenaknya. Ini adalah natur orang yang jahat, dan orang-orang ini adalah orang yang paling berbahaya. Ketika orang semacam ini berkuasa, setanlah yang berkuasa, Iblislah yang berkuasa. Di rumah Tuhan, semua orang jahat disingkapkan dan disingkirkan karena mereka melakukan segala macam perbuatan jahat. Ketika engkau berusaha mempersekutukan kebenaran kepada orang jahat, atau memangkas mereka, kemungkinan besar mereka akan menyerangmu, mengkritikmu, atau bahkan membalas dendam terhadapmu. Dan semua itu adalah akibat dari watak mereka yang sangat berniat jahat. Sebenarnya, ini adalah hal yang sangat lazim terjadi. Sebagai contoh, ada dua orang yang rukun, yang sangat perhatian dan pengertian satu sama lain, tetapi pada akhirnya mereka memiliki perbedaan pendapat karena satu hal yang berkaitan dengan kepentingan mereka, dan mereka pun memutuskan hubungan satu sama lain. Ada orang-orang yang bahkan menjadi musuh dan berusaha saling membalas dendam. Mereka semua sangat kejam. Dalam hal pelaksanaan tugas, sudahkah engkau semua melihat perwujudan dan penyingkapan mana yang termasuk dalam watak yang kejam? Hal-hal ini pasti ada, dan engkau harus menggalinya. Ini akan membantumu untuk mampu membedakan dan mengenali hal-hal ini. Jika engkau tidak tahu bagaimana cara menggali dan mengenalinya, engkau semua tidak akan pernah mampu mengenali orang jahat. Setelah disesatkan oleh antikristus dan berada di bawah kendali mereka, ada orang-orang yang hidupnya sangat dirugikan, dan baru setelah itulah mereka tahu apa yang dimaksud dengan antikristus, dan apa yang dimaksud dengan watak yang kejam. Pemahamanmu tentang kebenaran terlalu dangkal. Pemahamanmu tentang sebagian besar kebenaran pada dasarnya hanyalah sekadar perkataan dan penafsiran harfiah, atau engkau semua hanya memahami kata-kata dan doktrin, sama sekali tidak mampu mencocokkan kebenaran dengan kenyataan. Setelah mendengar banyak khotbah, tampaknya ada pemahaman dan pencerahan di dalam hatimu; tetapi ketika dihadapkan pada kenyataan, engkau tetap tidak mampu mengetahui yang sebenarnya mengenali berbagai hal. Engkau semua tahu, dalam hal doktrin, apa saja perwujudan dari antikristus, tetapi ketika engkau melihat antikristus yang sebenarnya, engkau tidak mampu mengenali mereka. Ini karena pengalamanmu terlalu dangkal, atau karena engkau tidak memiliki daya pengamatan—yang bisa kaulakukan hanyalah menunggu sampai antikristus itu telah menyesatkan dan merugikanmu pada tingkat yang mengerikan, dan baru setelah itulah engkau akan mampu mengetahui yang sebenarnya tentang esensi antikristus mereka, dan barulah mengenali mereka sepenuhnya. Sekarang ini, meskipun sebagian besar orang mendengarkan khotbah dengan saksama selama pertemuan, dan ingin berjuang mengejar kebenaran, tetapi setelah mendengar khotbah, mereka hanya memahami makna harfiahnya, pemahaman mereka tidak lebih daripada pemahaman secara teori, dan mereka tak mampu mengalami sisi yang merupakan kenyataan kebenaran. Oleh karena itu, jalan masuk mereka ke dalam kenyataan kebenaran sangat dangkal, yang mengakibatkan kemampuan mereka untuk mengenali orang jahat dan antikristus sangatlah buruk. Antikristus memiliki esensi orang jahat, tetapi selain antikristus dan orang jahat, bukankah orang-orang lainnya juga memiliki watak yang kejam? Sebenarnya, tidak ada orang yang boleh dianggap enteng. Ketika tidak ada masalah, mereka semua tersenyum, tetapi begitu mereka dihadapkan pada sesuatu yang merugikan kepentingan mereka sendiri, mereka tiba-tiba menjadi penuh kebencian. Ini adalah watak yang kejam. Terkadang watak yang kejam terlihat dengan sendirinya tanpa disadari—apa sebenarnya yang sedang terjadi dalam kasus-kasus semacam itu? Apakah masalahnya adalah orang telah dirasuk oleh roh jahat? Apakah masalahnya karena mereka adalah reinkarnasi dari setan yang jahat? Jika yang terjadi adalah salah satu dari kedua hal ini, maka orang seperti itu memiliki esensi orang jahat dan dia sudah tidak dapat ditolong lagi. Jika esensi seseorang bukanlah esensi orang jahat, dan dia hanya memiliki watak rusak yang kejam ini, kondisi mereka belumlah fatal, dan jika dia mampu menerima kebenaran, masih ada harapan baginya untuk diselamatkan. Jadi bagaimana cara membereskan watak rusak yang kejam? Pertama-tama engkau harus sering berdoa ketika engkau menghadapi masalah dan merenungkan motivasi dan keinginan yang kaumiliki. Engkau harus menerima pemeriksaan Tuhan, mengendalikan perilakumu, dan terlebih dari itu, tidak memperlihatkan perkataan atau perilaku jahat apa pun. Jika seseorang mendapati dirinya memiliki niat yang tidak benar dan keinginan untuk berbuat jahat, ingin melakukan hal-hal buruk, dia harus mencari kebenaran untuk membereskan hal ini; dia harus menemukan firman Tuhan yang relevan untuk memahami serta membereskan masalah ini, dan dia harus memohon perlindungan Tuhan dalam doa, bersumpah kepada Tuhan, dan mengutuk dirinya sendiri setiap kali dia tidak menerima kebenaran dan berbuat jahat. Bersekutu dengan Tuhan dengan cara ini memberikan perlindungan dan mencegah seseorang agar tidak berbuat jahat. Jika, ketika dihadapkan pada suatu situasi, seseorang merasakan keinginan untuk berbuat jahat, tetapi dia sama sekali tidak merasa terganggu oleh hal ini, dan dia hanya bertindak sesuka hatinya, maka dia adalah orang jahat, dan dia bukanlah seseorang yang benar-benar percaya kepada Tuhan dan mencintai kebenaran. Orang semacam itu masih ingin percaya kepada Tuhan dan mengikuti Tuhan, ingin diberkati dan masuk ke dalam Kerajaan Surga, apakah itu mungkin? Dia sedang bermimpi. Jenis watak yang kelima adalah watak yang kejam. Ini pun merupakan masalah yang berkaitan dengan watak yang rusak, dan inilah kurang lebihnya pembahasan mengenai topik ini.

Engkau juga harus mengenal jenis watak rusak yang keenam ini: watak yang jahat. Mari kita mulai dengan ketika orang memberitakan Injil. Ada orang-orang yang memperlihatkan watak yang jahat ketika mereka memberitakan Injil. Mereka tidak memberitakan berdasarkan prinsip, dan mereka juga tidak tahu orang seperti apa yang mencintai kebenaran dan memiliki kemanusiaan; mereka hanya mencari lawan jenis yang cocok dengan mereka, yang mereka sukai dan yang dengannya mereka bisa bergaul. Mereka tidak memberitakan kepada orang-orang yang tidak mereka sukai atau yang dengannya mereka tak bisa bergaul. Tanpa peduli apakah seseorang itu sesuai dengan prinsip untuk Injil diberitakan kepadanya atau tidak, jika orang tersebut adalah orang yang kepadanya mereka merasa tertarik, mereka tidak akan menyerah terhadapnya. Orang lain mungkin telah memberi tahu mereka bahwa orang itu tidak sesuai dengan prinsip untuk Injil diberitakan kepadanya, tetapi mereka tetap bersikeras memberitakannya kepada orang tersebut. Ada sebuah watak dalam diri mereka yang mengendalikan tindakan mereka, yang membuat mereka memuaskan hasrat cabul mereka dan mencapai tujuan mereka sendiri dengan mengatasnamakan pemberitaan Injil. Ini tak lain adalah watak yang jahat. Bahkan ada orang-orang yang tahu betul bahwa melakukannya adalah salah, dan bahwa melakukannya menyinggung Tuhan dan melanggar ketetapan administratif-Nya, tetapi mereka tidak berhenti melakukannya. Ini sejenis watak, bukan? (Ya.) Ini adalah salah satu perwujudan dari watak yang jahat, tetapi bukan hanya perwujudan hasrat cabul yang harus digambarkan sebagai kejahatan; cakupan kejahatan lebih luas daripada sekadar nafsu daging. Coba pikirkan: apa sajakah perwujudan lain dari watak yang jahat? Karena ini adalah watak, ini lebih daripada sekadar cara bertindak, ini melibatkan banyak keadaan, perwujudan, dan penyingkapan berbeda untuk sesuatu itu digolongkan sebagai watak. (Mengikuti tren-tren duniawi, tidak melepaskan hal-hal yang berkaitan dengan tren-tren dunia.) Tidak melepaskan tren-tren jahat adalah salah satunya. Terikat dengan tren-tren jahat dunia, mengejar semua itu, disibukkan oleh semua itu, mengejar semua itu dengan semangat yang besar. Ada orang-orang yang tak pernah melepaskan hal-hal ini seperti apa pun kebenaran dipersekutukan kepada mereka, seperti apa pun diri mereka dipangkas; ini bahkan mencapai titik di mana mereka menjadi terobsesi. Ini adalah kejahatan. Jadi, ketika orang mengikuti tren-tren jahat, perwujudan apa yang menunjukkan bahwa mereka memiliki watak yang jahat? Mengapa mereka menyukai hal-hal ini? Apa yang ada dalam tren-tren duniawi yang jahat ini yang memberi mereka kepuasan psikologis, yang memuaskan kebutuhan mereka, serta memuaskan kegemaran dan keinginan mereka? Sebagai contoh, misalkan mereka menyukai bintang film: hal-hal apa dari para bintang film ini yang membuat mereka menjadi terobsesi dan membuat mereka mengikuti orang-orang ini? Gaya khas, keanggunan, penampilan, dan ketenaran, serta kehidupan mewah orang-orang inilah yang mereka dambakan. Semua hal yang mereka ikuti ini, apakah semua ini jahat? (Ya.) Mengapa dikatakan bahwa semua ini jahat? (Karena semua itu bertentangan dengan kebenaran dan hal-hal positif, dan semua itu tidak sesuai dengan tuntutan Tuhan.) Ini adalah doktrin. Silakan menelaah para selebriti dan bintang film ini: gaya hidup mereka, sikap mereka, bahkan kepribadian dan pakaian mereka yang sangat dipuja oleh semua orang. Mengapa mereka menjalani kehidupan yang seperti itu? Dan mengapa mereka menginspirasi orang lain untuk mengikuti mereka? Mereka mengerahkan banyak upaya untuk semua ini. Mereka memiliki penata rias dan penata gaya pribadi untuk menciptakan citra diri mereka ini. Jadi, apa tujuan mereka menciptakan citra diri seperti ini? Untuk menarik orang, menyesatkan orang, membuat orang mengikuti mereka, dan untuk mendapatkan keuntungan dari hal ini. Jadi, entah orang memuja ketenaran para bintang film ini, atau penampilan mereka, atau kehidupan mereka, semua ini adalah tindakan yang benar-benar bodoh dan tidak masuk akal. Jika orang memiliki rasionalitas, bagaimana mungkin mereka memuja para setan? Setan adalah hal-hal yang menyesatkan, mengelabui, dan merugikan manusia. Setan-setan tidak percaya kepada Tuhan dan mereka sama sekali tidak menerima kebenaran. Semua setan mengikuti Iblis. Apa tujuan orang-orang yang mengikuti dan memuja setan dan Iblis? Mereka ingin meniru setan-setan ini, mencontoh setan-setan ini, dengan harapan bahwa suatu hari nanti, mereka pun akan menjadi setan, yang sama elok dan sama seksinya dengan para setan dan selebriti ini. Mereka senang menikmati perasaan ini. Siapa pun selebriti atau tokoh terkemuka yang orang puja, tujuan akhir mereka sama, yaitu untuk menyesatkan orang, menarik orang, dan membuat orang memuja dan mengikuti mereka. Bukankah ini adalah watak yang jahat? Ini adalah watak yang jahat, dan ini terlihat dengan sangat jelas.

Watak yang jahat juga terwujud dengan cara lainnya. Ada orang-orang yang melihat bahwa pertemuan di rumah Tuhan selalu melibatkan pembacaan firman Tuhan, mempersekutukan kebenaran, dan diskusi tentang pengenalan diri sendiri, pelaksanaan tugas yang benar, bertindak berdasarkan prinsip, cara takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, cara memahami dan menerapkan kebenaran, dan berbagai aspek kebenaran lainnya. Setelah mendengarkan selama bertahun-tahun, makin mereka mendengarkan, makin mereka merasa muak, dan mereka mulai mengeluh dengan berkata, "Bukankah tujuan beriman kepada tuhan adalah untuk memperoleh berkat? Mengapa kita selalu membahas tentang kebenaran dan mempersekutukan firman tuhan? Kapan ini akan berakhir? Aku sudah muak!" Namun, mereka merasa enggan untuk kembali ke dunia sekuler, karena mereka takut mereka tidak akan bisa memperoleh berkat setelah mereka melakukannya. Mereka berpikir, "Percaya kepada tuhan sangat membosankan, itu tidak menarik. Bagaimana aku bisa menemukan sesuatu yang menarik untuk dilakukan?" Jadi mereka berkeliling bertanya, "Ada berapa banyak orang yang percaya kepada tuhan di gereja? Ada berapa banyak pemimpin dan pekerja? Berapa banyak yang telah diberhentikan? Berapa banyak yang memiliki pendidikan universitas?" Mereka terus mengumpulkan informasi ini untuk mencapai tujuan mereka. Watak apakah ini? Ini adalah watak yang jahat. Orang-orang seperti ini sama sekali tidak mencintai kebenaran. Mereka percaya kepada Tuhan dan menjalani kehidupan bergereja semata-mata untuk memperoleh berkat. Sebanyak apa pun khotbah tentang kebenaran yang telah mereka dengar, tak ada satu kebenaran pun yang dapat menarik minat mereka, dan hati mereka tetap tidak tergerak siapa pun yang mempersekutukan kebenaran. Namun, ketika mereka mendengar seseorang bergosip atau membicarakan kejadian-kejadian di dalam gereja, telinga mereka langsung mendengarkannya dengan saksama, khawatir mereka mungkin melewatkan sesuatu. Ini adalah kekejian, bukan? (Ya.) Apa ciri orang yang keji? Mereka sama sekali tidak memiliki minat pada kebenaran. Mereka hanya tertarik pada hal-hal eksternal, dan tanpa lelah serta tanpa segan memasang telinga mereka lebar-lebar untuk mencari gosip dan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan jalan masuk kehidupan mereka atau dengan kebenaran. Mereka berpikir bahwa mencari tahu dan memahami hal-hal ini, semua informasi ini, berarti bahwa mereka adalah anggota keluarga sejati rumah Tuhan, bahwa mereka telah bergaul baik dengan umat pilihan Tuhan, dan mereka pasti akan diperkenan oleh Tuhan dan masuk ke dalam kerajaan Tuhan. Apakah menurut engkau semua memang begitu kenyataannya? (Tidak.) Engkau semua bisa mengetahui yang sebenarnya tentang hal ini, tetapi banyak orang-orang yang baru percaya tidak bisa. Mereka berfokus untuk mempelajari gosip ini, berpikir bahwa mereka akan menjadi anggota keluarga rumah Tuhan jika mereka lebih banyak memahami dan meneruskan gosip ini—tetapi sebenarnya, Tuhan paling membenci orang-orang semacam itu, mereka adalah orang-orang yang paling sombong dan bebal dari semua orang. Tuhan telah menjadi daging pada akhir zaman untuk melakukan pekerjaan menghakimi dan menyucikan manusia, yang efeknya adalah untuk menganugerahkan kebenaran kepada manusia sebagai hidup mereka. Namun, jika orang tidak berfokus untuk makan dan minum firman Tuhan serta selalu berusaha mencari gosip dan berusaha mencari tahu lebih banyak tentang urusan internal gereja, apakah mereka sedang mengejar kebenaran? Apakah mereka adalah orang-orang yang melakukan pekerjaan yang semestinya? Bagi-Ku, mereka adalah orang-orang jahat. Mereka adalah pengikut yang bukan orang percaya. Orang-orang seperti ini juga dapat disebut keji. Mereka hanya selalu berfokus pada desas-desus. Ini memuaskan keingintahuan mereka, tetapi mereka dibenci oleh Tuhan. Mereka bukanlah orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan, apalagi orang yang mengejar kebenaran. Mereka hanyalah hamba Iblis, yang datang untuk mengganggu pekerjaan gereja. Khususnya, orang-orang yang selalu memeriksa dan menyelidiki Tuhan adalah hamba dan antek si naga merah yang sangat besar. Tuhan paling membenci dan jijik dengan orang-orang ini. Jika engkau percaya kepada Tuhan, mengapa engkau tidak memercayai Tuhan? Ketika engkau memeriksa dan menyelidiki Tuhan, apakah engkau sedang mencari kebenaran? Apakah mengetahui tentang keluarga tempat Kristus dilahirkan atau lingkungan tempat Dia dibesarkan ada hubungannya dengan fakta bahwa Kristus adalah kebenaran, jalan, dan hidup? Orang-orang yang selalu memeriksa Tuhan—bukankah mereka menjijikkan? Jika engkau selalu memiliki gagasan tentang hal-hal yang ada hubungannya dengan kemanusiaan Kristus, engkau harus meluangkan lebih banyak waktu untuk mengejar pengetahuan tentang firman Tuhan; hanya jika engkau memahami kebenaran, barulah engkau akan mampu meluruskan masalah gagasanmu tersebut. Akankah berusaha mencari tahu latar belakang keluarga Kristus atau keadaan kelahiran-Nya memungkinkanmu untuk mengenal Tuhan? Akankah ini memungkinkanmu untuk mengetahui esensi ilahi Kristus? Sama sekali tidak. Orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan berusaha keras dalam firman Tuhan dan kebenaran, hanya inilah cara yang kondusif untuk memahami esensi ilahi Kristus. Namun, mengapa mereka yang selalu memeriksa Tuhan terus-menerus melakukan hal yang keji seperti itu? Orang-orang sampah yang tidak memiliki pemahaman rohani ini harus segera keluar dari rumah Tuhan! Setelah begitu banyak kebenaran diungkapkan, begitu banyak persekutuan disampaikan selama pertemuan dan khotbah—mengapa engkau tidak mengenal Tuhan dari hal ini, tetapi justru memeriksa Dia? Apa artinya jika engkau selalu memeriksa Tuhan? Artinya engkau sangat jahat! Selain itu, bahkan ada orang-orang yang mengira bahwa mempelajari semua informasi sepele ini memberi mereka modal, dan mereka pergi berkeliling memamerkannya kepada orang-orang. Lalu, apa yang akhirnya terjadi? Mereka memuakkan dan menjijikkan bagi Tuhan. Apakah mereka masih manusia? Bukankah mereka adalah setan-setan yang hidup? Bagaimana mungkin mereka adalah orang-orang yang percaya kepada Tuhan? Mereka mencurahkan segenap pikiran mereka untuk cara-cara yang jahat dan bengkok ini. Seolah-olah makin banyak desas-desus yang mereka ketahui, makin mereka adalah anggota rumah Tuhan, dan makin mereka memahami kebenaran. Orang-orang seperti ini benar-benar tidak masuk akal. Di rumah Tuhan, tak seorang pun yang lebih menjijikkan daripada mereka.

Ada orang-orang yang selalu berfokus pada hal-hal yang tidak realistis dalam iman mereka. Sebagai contoh, ada orang-orang yang selalu menyelidiki seperti apa Kerajaan itu, di manakah tingkat yang ketiga dari surga itu, seperti apakah dunia orang mati itu, dan berada di manakah neraka itu. Mereka selalu menyelidiki misteri, bukannya berfokus pada jalan masuk kehidupan. Ini adalah kekejian, ini adalah kejahatan. Sebanyak apa pun khotbah dan persekutuan yang mereka dengar, masih ada orang-orang yang tidak memahami apa sebenarnya yang dimaksud dengan kebenaran, mereka juga tidak tahu bagaimana mereka harus menerapkannya. Setiap kali ada waktu, mereka menyelidiki firman Tuhan, meneliti susunan kata-katanya, mencari semacam sensasi tertentu, dan mereka juga selalu memeriksa apakah firman Tuhan telah digenapi atau belum. Jika sudah, mereka yakin bahwa ini adalah pekerjaan Tuhan, dan jika belum digenapi, mereka menyangkal bahwa ini adalah pekerjaan Tuhan. Bukankah mereka tidak masuk akal? Bukankah ini kekejian? Apakah manusia selalu dapat melihat kapan firman Tuhan telah digenapi? Manusia belum tentu dapat melihat kapan beberapa firman Tuhan telah digenapi. Bagi manusia, beberapa dari firman-Nya tampaknya belum digenapi, tetapi bagi Tuhan, itu telah digenapi. Manusia sama sekali tak mampu memahami hal-hal ini dengan jelas; mereka beruntung jika mampu memahami 20 persennya saja. Ada orang-orang yang menghabiskan seluruh waktunya untuk mempelajari firman Tuhan tanpa menaruh perhatian untuk menerapkan kebenaran atau masuk ke dalam kenyataannya. Bukankah ini berarti mereka sedang melalaikan tugas mereka yang semestinya? Mereka telah mendengar begitu banyak kebenaran tetapi tetap tidak memahaminya, dan mereka selalu mencari bukti apakah nubuat tertentu telah digenapi, memperlakukan hal ini sebagai hidup dan motivasi mereka. Sebagai contoh, ada orang-orang, ketika berdoa, mengatakan hal-hal seperti, "Tuhan, jika engkau ingin aku melakukan ini, bangunkan aku pada pukul enam pagi besok; jika engkau tidak ingin aku melakukannya, biarkan aku tidur sampai pukul tujuh." Ini sering kali merupakan cara mereka bertindak, mereka menggunakan ini sebagai prinsip mereka, menerapkannya seakan-akan itu adalah kebenaran. Ini disebut kekejian. Dalam tindakan mereka, mereka selalu mengandalkan perasaan, berfokus pada hal-hal supernatural, mengandalkan desas-desus, dan hal-hal tidak realistis lainnya; mereka selalu memfokuskan upaya mereka untuk hal-hal keji ini. Ini adalah kejahatan. Seperti apa pun caramu mempersekutukan kebenaran kepada mereka, mereka menganggap kebenaran tidak ada gunanya, dan tidak seakurat mengandalkan perasaan atau validasi melalui perbandingan. Ini adalah kekejian. Mereka tidak percaya bahwa Tuhan berdaulat dan mengatur nasib manusia, dan meskipun mereka berkata mereka mengakui bahwa firman Tuhan adalah kebenaran, di dalam hatinya, mereka tetap tidak menerima kebenaran, mereka tak pernah memahami segala sesuatu melalui firman Tuhan. Jika seseorang yang terkenal mengatakan sesuatu, mereka yakin bahwa itu adalah kebenaran, dan mengikutinya. Jika seorang peramal atau ahli pembaca wajah mengatakan bahwa mereka akan dipromosikan menjadi manajer tahun depan, mereka memercayainya. Bukankah ini adalah kekejian? Mereka memercayai ramalan, nujum, dan hal-hal supernatural, dan hanya memercayai hal-hal keji ini. Itu sama seperti ketika orang berkata, "Aku memahami semua kebenaran, aku hanya tidak mampu menerapkannya. Aku tidak tahu apa masalahnya." Sekarang kita memiliki jawaban atas pertanyaan ini: karena mereka keji. Seperti apa pun caramu mempersekutukan kebenaran kepada orang-orang semacam itu, mereka tidak akan menerimanya, dan engkau juga tidak akan melihat efek apa pun dalam diri mereka. Orang-orang ini bukan saja muak akan kebenaran, tetapi mereka juga memiliki watak yang jahat. Apa perwujudan terpenting yang diperlihatkan orang yang muak akan kebenaran? Orang-orang tersebut memahami kebenaran tetapi mereka tidak menerapkannya. Mereka tidak ingin mendengarnya, mereka menentang dan membencinya. Mereka tahu bahwa kebenaran itu benar dan baik, tetapi mereka tidak menerapkannya, mereka tak mau menempuh jalan ini, mereka juga tak ingin menderita atau membayar harga, apalagi menderita kerugian. Orang-orang jahat tidak seperti ini. Mereka menganggap hal-hal yang jahat adalah kebenaran, bahwa itu adalah jalan yang benar, dan mereka mengejar hal-hal ini, serta berusaha menirunya, dan mereka selalu memfokuskan tenaga mereka pada hal-hal ini. Rumah Tuhan sering kali mempersekutukan prinsip-prinsip doa: orang dapat berdoa kapan pun atau di mana pun yang mereka inginkan, tanpa dibatasi oleh waktu, mereka hanya perlu datang ke hadapan Tuhan, mengatakan isi hati mereka, dan mencari kebenaran. Firman ini seharusnya sudah sering mereka dengar dan seharusnya mudah untuk dipahami, tetapi bagaimanakah cara orang jahat menerapkannya? Setiap pagi saat ayam jantan berkokok, mereka pasti menghadap ke selatan, berlutut, dan meletakkan kedua tangan mereka di lantai, bersujud serendah mungkin dalam doa di hadapan Tuhan. Mereka mengira bahwa hanya pada saat-saat seperti inilah Tuhan dapat mendengar doa mereka, karena ini adalah saat Tuhan tidak sibuk, Dia ada waktu, jadi Dia akan mendengarkan doa mereka. Bukankah ini tidak masuk akal? Bukankah ini jahat? Ada juga orang yang mengatakan bahwa waktu paling efektif untuk berdoa adalah pada pukul satu atau pukul dua malam, saat semuanya hening. Mengapa mereka mengatakan demikian? Mereka juga punya alasan tersendiri. Mereka berkata bahwa pada saat seperti itu semua orang sedang tidur; Tuhan baru ada waktu untuk menangani urusan mereka ketika Dia sedang tidak sibuk. Bukankah ini tidak masuk akal? Bukankah ini jahat? Seperti apa pun caramu mempersekutukan kebenaran kepada mereka, mereka tidak mau menerimanya. Mereka adalah orang-orang yang paling tidak masuk akal dan mereka tidak mampu memahami kebenaran. Ada orang lainnya yang berkata, "Jika orang percaya kepada tuhan, mereka harus melakukan hal-hal yang baik dan menjadi orang yang baik, dan mereka tidak boleh membunuh atau makan daging. Makan daging berarti membunuh, berbuat dosa, dan tuhan tidak menginginkan orang yang melakukan hal ini." Apakah perkataan mereka ada dasarnya? Pernahkah Tuhan mengatakan hal-hal seperti itu? (Tidak.) Jadi, siapa yang mengatakan ini? Ini dikatakan oleh orang tidak percaya, oleh jenis orang yang tidak masuk akal. Sebenarnya, orang-orang yang mengatakan ini belum tentu tidak makan daging, atau mungkin mereka tidak makan daging di depan orang lain, tetapi makan banyak daging saat tidak ada orang yang melihat. Orang-orang ini sangat pandai berpura-pura, dan menyebarkan kekeliruan di mana pun mereka berada. Ini adalah kejahatan. Orang-orang semacam itu sangat keji. Mereka memperlakukan kesesatan dan kekeliruan sebagai perintah dan aturan, dan bahkan menerapkan serta mematuhinya seakan-akan semua itu adalah kebenaran atau tuntutan Tuhan, dengan penuh semangat dan tanpa rasa malu mengajar orang lain untuk melakukan hal yang sama. Mengapa Kukatakan bahwa cara orang-orang ini melakukan segala sesuatu, cara mereka mengutarakan sesuatu, dan cara mereka mengejar adalah jahat? (Karena hal-hal ini tidak ada hubungannya dengan kebenaran.) Jadi, apakah semua yang tidak ada hubungannya dengan kebenaran adalah jahat? Pemahaman seperti itu sangat bermasalah. Ada hal-hal dalam kehidupan orang sehari-hari yang tidak ada hubungannya dengan kebenaran. Bukankah memutarbalikkan fakta jika mengatakan bahwa semua itu jahat? Hal yang tidak dikutuk oleh Tuhan tidak bisa dikatakan sebagai hal yang jahat, hanya hal yang dikutuk oleh Tuhan yang bisa dianggap sebagai hal yang jahat. Menggolongkan semua yang tidak ada hubungannya dengan kebenaran sebagai hal yang jahat adalah salah besar. Sebagai contoh, hal-hal mendetail dari kebutuhan hidup sehari-hari, yaitu makan, tidur, minum, beristirahat, apakah semua ini ada hubungannya dengan kebenaran? Apakah hal-hal ini jahat? Semua ini adalah kebutuhan normal, semua ini adalah bagian dari rutinitas orang sehari-hari, semua ini tidak jahat. Jadi, mengapa tindakan-tindakan yang baru saja Kusebutkan digolongkan sebagai jahat? Karena cara bertindak seperti itu membawa orang ke jalan yang salah dan tidak masuk akal—itu membawa mereka ke jalan agama. Penerapan mereka dengan cara seperti itu dan mengajar orang lain untuk bertindak dengan cara seperti ini menuntun orang untuk menempuh jalan kejahatan. Ini adalah hasil yang tak terhindarkan. Jika orang memuja tren-tren duniawi yang jahat dan menempuh jalan kejahatan, bagaimanakah kesudahan mereka? Mereka akan menjadi bejat, mereka akan kehilangan nalar, mereka menjadi tak tahu malu, dan pada akhirnya, mereka akan sepenuhnya terbawa oleh tren-tren dunia, dan mereka akan menempuh jalan menuju kehancuran, tidak ada bedanya dengan orang tidak percaya. Ada orang-orang yang bukan saja menganggap kesesatan dan kekeliruan ini sebagai aturan yang harus mereka ikuti atau perintah yang harus mereka taati, tetapi mereka juga memegangnya sebagai kebenaran. Mereka adalah orang-orang tidak masuk akal yang sama sekali tidak memiliki pemahaman rohani. Pada akhirnya, mereka hanya bisa disingkirkan. Mungkinkah Roh Kudus bekerja dalam diri orang yang pemahamannya akan kebenaran sedemikian menyimpangnya? (Tidak.) Roh Kudus tidak bekerja dalam diri orang-orang ini, sebaliknya, roh-roh jahatlah yang bekerja, karena jalan yang ditempuh orang-orang ini adalah jalan kejahatan, mereka sedang bergegas menempuh jalan roh jahat, tepat seperti yang dibutuhkan oleh roh-roh jahat ini. Dan akibatnya? Orang-orang ini pun dirasuki roh jahat. Dahulu Aku berfirman, "Setan-setan dan Iblis, seperti singa yang mengaum-aum, berkeliaran ke mana-mana, mencari orang untuk ditelan." Jika orang menempuh jalan yang bengkok dan jahat, mereka pasti akan direnggut oleh roh-roh jahat. Tuhan tidak perlu menyerahkanmu kepada roh-roh jahat. Jika engkau tidak mengejar kebenaran, engkau tidak akan dilindungi, dan Tuhan tidak akan menyertaimu. Tuhan tidak peduli akan dirimu jika Dia tidak bisa mendapatkanmu, dan roh-roh jahat akan mengambil kesempatan ini untuk masuk dan merasukimu. Ini adalah akibatnya, bukan? Semua orang yang muak akan kebenaran dan yang selalu mengutuk pekerjaan inkarnasi Tuhan, dan yang mengikuti tren-tren duniawi, yang terang-terangan menafsirkan firman Tuhan dan Alkitab secara keliru, yang menyebarkan kesesatan dan kekeliruan, semua hal yang mereka lakukan ini lahir dari watak yang jahat. Ada orang-orang yang mengejar hal-hal rohani, dan karena pemahaman mereka menyimpang, mereka mengarang banyak kekeliruan untuk menyesatkan orang, dan mereka menjadi kaum utopia dan ahli teori, yang juga melakukan kekejian. Mereka adalah orang-orang jahat. Seperti halnya orang-orang Farisi, semua yang mereka lakukan munafik, mereka tidak menerapkan kebenaran dan menyesatkan orang agar mereka mengagumi dan memuja mereka. Saat Tuhan Yesus menampakkan diri untuk bekerja, mereka bahkan menyalibkan Dia. Ini adalah kejahatan dan pada akhirnya, mereka dikutuk oleh Tuhan. Pada zaman sekarang, dunia keagamaan bukan saja menghakimi dan mengutuk penampakan dan pekerjaan Tuhan, tetapi yang paling menjijikkan adalah, mereka juga berpihak pada si naga merah yang sangat besar, bergabung dengan kekuatan jahat untuk menganiaya umat pilihan Tuhan dan secara bersama-sama berdiri sebagai musuh Tuhan. Ini jahat. Dunia keagamaan tidak pernah membenci kekuatan jahat Iblis, mereka tidak membenci kejahatan negeri si naga merah yang sangat besar, sebaliknya mereka justru mendoakan dan memberkati mereka. Ini jahat. Perilaku apa pun yang berkaitan atau bekerja sama dengan Iblis dan roh-roh jahat semuanya dapat disebut jahat. Cara-cara penerapan yang benar-benar menyimpang, jahat, ekstrem, dan tidak wajar, semua ini juga jahat. Ada orang-orang yang selalu salah paham terhadap Tuhan, dan kesalahpahaman ini tidak dapat diluruskan seperti apa pun caranya kebenaran dipersekutukan kepada mereka. Mereka selalu mengkhotbahkan penalaran mereka sendiri, bersikeras berpaut pada kekeliruan mereka sendiri. Dan, bukankah ada sedikit kejahatan dalam hal ini juga? Ada orang-orang yang memiliki gagasan tertentu tentang Tuhan; setelah kebenaran dipersekutukan kepada mereka berulang kali, mereka berkata bahwa mereka mengerti, dan bahwa gagasan mereka telah diluruskan, tetapi setelah itu, mereka tetap berpaut pada gagasan mereka, selalu negatif, dan dengan erat berpaut pada alasan mereka sendiri. Ini jahat, bukan? Ini juga adalah sejenis kejahatan. Singkatnya, siapa pun yang telah melakukan sesuatu yang tak masuk akal, dan yang tak mau menerima kebenaran, dengan cara apa pun kebenaran dipersekutukan kepada mereka, adalah orang-orang yang keji, dan mereka agak jahat. Tidak mudah bagi orang-orang yang berwatak jahat ini untuk diselamatkan Tuhan, karena mereka tidak mampu menerima kebenaran dan tidak mau melepaskan kekeliruan jahat mereka; benar-benar tidak ada lagi yang bisa dilakukan untuk mereka.

Kita baru saja mempersekutukan keenam jenis watak: watak keras kepala, watak congkak, watak licik, watak yang muak akan kebenaran, watak kejam, dan watak jahat. Apakah menganalisis keenam watak ini telah memberimu pengetahuan dan pemahaman yang baru tentang perubahan watak? Apa sebenarnya yang dimaksud dengan perubahan watak? Apakah ini berarti menyingkirkan kekurangan tertentu, memperbaiki perilaku tertentu, ataukah mengubah ciri kepribadian tertentu? Sama sekali bukan. Jadi, apakah sekarang engkau semua sedikit lebih memahami apa sebenarnya yang dimaksud dengan watak? Dapatkah keenam watak ini digambarkan sebagai watak rusak manusia, sebagai esensi natur manusia? (Ya.) Apakah keenam watak ini adalah hal yang positif ataukah hal yang negatif? (Hal yang negatif.) Keenamnya adalah watak yang benar-benar rusak, keenamnya adalah segi utama dari watak rusak manusia. Semua watak rusak ini memusuhi Tuhan dan kebenaran, dan tak satu pun darinya yang positif. Jadi, keenam watak ini adalah enam aspek, yang secara keseluruhan disebut watak yang rusak. Watak rusak adalah esensi natur manusia. Apa yang dimaksud dengan "esensi"? Esensi mengacu pada natur manusia. Natur manusia adalah hal-hal yang manusia andalkan untuk keberadaannya, hal-hal yang mengatur cara hidupnya. Orang hidup berdasarkan natur mereka. Kehidupan apa pun yang kaujalani, apa pun tujuan dan arah hidupmu, berdasarkan aturan apa pun engkau hidup, esensi naturmu tidak berubah—hal ini tak terbantahkan. Jadi, jika engkau tidak memiliki kebenaran, dan engkau hidup dengan mengandalkan watak-watak yang rusak ini, semua yang kaujalani akan bertentangan dengan Tuhan, bertentangan dengan kebenaran, dan bertentangan dengan maksud Tuhan. Engkau harus memahami hal ini sekarang: dapatkah orang memperoleh keselamatan jika watak mereka tidak berubah? (Tidak.) Tidak mungkin. Jadi, jika watak orang tidak berubah, dapatkah mereka sesuai dengan Tuhan? (Tidak.) Itu akan sangat sulit. Dalam hal keenam watak rusak ini, yang mana pun itu, dan sampai sejauh mana pun watak rusak itu kauwujudkan atau kauperlihatkan, jika engkau tak mampu membebaskan dirimu dari kekangan watak-watak rusak ini, maka apa pun motif dan tujuan tindakanmu dan entah engkau sengaja melakukannya atau tidak, natur dari semua yang kaulakukan pasti akan menentang Tuhan, dan pasti akan dikutuk oleh Tuhan—dan ini adalah akibat yang sangat serius. Apakah dikutuk oleh Tuhan adalah hal yang pada akhirnya diinginkan oleh semua orang yang percaya kepada Tuhan? (Tidak.) Dan, karena ini bukanlah kesudahan yang orang inginkan, hal terpenting apa yang harus mereka lakukan? Mereka harus mengetahui watak rusak dan esensi rusak mereka sendiri, memahami kebenaran, dan kemudian mereka harus menerima kebenaran—secara bertahap, sedikit demi sedikit, menyingkirkan watak-watak rusak ini di situasi yang Tuhan atur bagi mereka, dan mencapai kesesuaian dengan Tuhan dan kebenaran. Inilah jalan untuk orang berubah dalam wataknya.

Sebelumnya, ada orang-orang yang mengira mengubah watak mereka sangatlah mudah dan tidak rumit. Mereka yakin, "Asalkan aku memaksa diri untuk tidak mengatakan hal-hal yang bertentangan dengan Tuhan atau melakukan apa pun yang akan mengacaukan atau mengganggu pekerjaan gereja, dan asalkan aku memiliki sudut pandang yang benar, hatiku lurus, dan aku memahami lebih banyak kebenaran, berupaya lebih keras, menderita dan membayar harga lebih banyak, maka setelah beberapa tahun, aku pasti akan mencapai perubahan dalam watakku." Benarkah perkataan seperti ini? (Tidak.) Di mana letak kesalahan mereka? (Mereka tidak mengetahui watak rusak mereka.) Apa tujuan mengetahui watak rusakmu? (Agar berubah.) Dan apa hasil perubahan ini? Engkau memperoleh kebenaran. Untuk mengukur apakah watakmu telah berubah atau belum, engkau perlu melihat apakah tindakanmu sesuai dengan kebenaran ataukah melanggar kebenaran, apakah tindakanmu lahir dari kehendak manusia ataukah bertujuan untuk memenuhi tuntutan Tuhan. Untuk melihat sampai sejauh mana watakmu telah berubah adalah dengan melihat apakah engkau mampu merenungkan dirimu, dan memberontak terhadap daging, motif, ambisi dan keinginanmu saat engkau memperlihatkan watak rusakmu, dan melihat apakah engkau mampu melakukan penerapan berdasarkan kebenaran saat engkau melakukan hal ini. Tingkat kemampuanmu untuk melakukan penerapan berdasarkan kebenaran dan firman Tuhan dan apakah penerapanmu itu sepenuhnya sesuai dengan standar kebenaran atau tidak membuktikan seberapa besar watakmu telah berubah. Ini berlaku proporsional. Misalnya, watak keras kepala: pada awalnya, saat watakmu belum berubah, engkau tidak memahami kebenaran, juga tidak menyadari bahwa engkau memiliki watak keras kepala, dan ketika engkau mendengar kebenaran, engkau berpikir, "Mengapa kebenaran selalu mampu menyingkapkan bekas luka manusia?" Setelah mendengarnya, engkau merasa bahwa firman Tuhan itu benar, tetapi satu atau dua tahun kemudian, engkau tidak menyimpan satu pun dari firman itu ke dalam hati, dan engkau tidak menerima satu pun darinya. Ini adalah sikap keras kepala, bukan? Setelah dua atau tiga tahun, engkau masih belum menerimanya sama sekali, belum ada perubahan dalam keadaan di dalam dirimu, dan meskipun engkau tidak tertinggal dalam pelaksanaan tugasmu, dan engkau telah banyak menderita serta membayar harga yang mahal, keadaan keras kepalamu sama sekali belum dibereskan atau berkurang sedikit pun. Jadi, apakah telah terjadi perubahan dalam aspek watakmu ini? (Belum.) Lalu, mengapa engkau sering bepergian dan bekerja? Apa pun alasanmu melakukannya, engkau hanya bepergian dan bekerja dengan membabi buta, karena engkau telah sering bepergian sebanyak itu dan bekerja sebanyak itu, tetapi belum terjadi sedikit pun perubahan dalam watakmu. Suatu hari, engkau tiba-tiba berpikir, "Mengapa, meskipun telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, aku tak mampu memberikan kesaksian sedikit pun? Watak hidupku sama sekali belum berubah." Pada saat inilah engkau merasakan betapa seriusnya masalah ini, dan engkau berpikir, "Aku benar-benar pemberontak dan keras kepala! Aku bukan orang yang mengejar kebenaran! Aku belum menerima firman Tuhan ke dalam hatiku! Bagaimana ini bisa disebut percaya kepada Tuhan? Aku telah percaya kepada Tuhan selama beberapa tahun, tetapi aku masih belum hidup dalam keserupaan dengan manusia, hatiku juga tidak dekat dengan Tuhan! Aku juga tidak menganggap serius firman Tuhan; aku tidak merasa bersalah atau memiliki keinginan untuk bertobat saat aku melakukan sesuatu yang salah—bukankah ini berarti keras kepala? Bukankah aku anak pemberontak?" Engkau merasa gelisah. Dan apa artinya jika engkau merasa gelisah? Itu berarti engkau ingin bertobat. Engkau sadar akan watakmu yang keras kepala dan suka memberontak. Pada saat inilah, watakmu mulai berubah. Tanpa disadari, engkau memiliki pemikiran dan keinginan di dalam kesadaranmu untuk berubah, dan engkau tidak ingin tetap berada dalam kebuntuan dengan Tuhan. Engkau mendapati dirimu ingin meningkatkan hubunganmu dengan Tuhan, tidak lagi begitu keras kepala, mampu menerapkan firman Tuhan dalam kehidupanmu sehari-hari, menerapkannya sebagai prinsip-prinsip kebenaran—engkau memiliki kesadaran ini. Menyadari hal-hal ini adalah baik, tetapi dengan menyadarinya, dapatkah engkau segera berubah? (Tidak.) Engkau harus menjalani beberapa tahun pengalaman, dan selama waktu tersebut engkau akan memiliki kesadaran yang jauh lebih jelas di dalam hatimu, dan engkau akan memiliki keinginan yang kuat, dan di dalam hatimu engkau akan berpikir, "Ini tidak benar—aku tak boleh lagi membuang-buang waktuku. Aku harus mengejar kebenaran, aku harus melakukan sesuatu yang benar! Dahulu, aku telah melalaikan tugasku yang semestinya, hanya memikirkan hal-hal materi seperti makanan dan pakaian, dan aku hanya mengejar ketenaran dan keuntungan. Akibatnya, aku sama sekali belum memperoleh kebenaran. Aku menyesalinya dan aku harus bertobat!" Pada saat ini, engkau telah memulai jalan yang benar dalam kepercayaanmu kepada Tuhan. Asalkan orang mulai berfokus untuk menerapkan kebenaran, bukankah ini akan membawa mereka selangkah lebih dekat menuju perubahan watak mereka? Seberapa lamanya pun engkau telah percaya kepada Tuhan, jika engkau mampu merasakan kebingunganmu sendiri—bahwa engkau selalu hidup tanpa arah dan tujuan, dan engkau tidak memperoleh apa pun setelah hidup tanpa arah dan tujuan selama bertahun-tahun, dan engkau tetap merasa hampa—dan jika ini membuatmu merasa tak nyaman, dan engkau mulai merenungkan dirimu, dan merasa bahwa tidak mengejar kebenaran berarti membuang-buang waktu, maka pada saat seperti itu, engkau akan sadar bahwa nasihat firman Tuhan adalah kasih-Nya bagi manusia, dan engkau akan membenci dirimu sendiri karena tidak mendengarkan firman Tuhan dan karena begitu tidak berhati nurani dan tidak bernalar. Engkau akan merasa menyesal, dan kemudian ingin berubah dalam caramu berperilaku, ingin sungguh-sungguh hidup di hadapan Tuhan, dan engkau akan berkata pada dirimu sendiri, "Aku tidak boleh lagi menyakiti hati Tuhan. Tuhan telah begitu banyak berfirman, dan setiap firman-Nya bermanfaat bagi manusia, dan mengarahkan manusia ke jalan yang benar. Tuhan itu begitu indah, dan begitu layak untuk dikasihi manusia! Aku harus mengejar dan menerapkan kebenaran untuk membalas kasih Tuhan." Ini adalah awal dari perubahan yang orang alami. Memiliki pengalaman seperti ini adalah hal yang sangat baik! Jika engkau begitu mati rasa sehingga engkau bahkan tidak menyadari hal-hal ini, berarti engkau berada dalam masalah, bukan? Sekarang ini, orang menyadari bahwa kunci dalam beriman kepada Tuhan adalah membaca lebih banyak firman Tuhan, bahwa memahami kebenaran dan mengenal diri sendiri melalui firman Tuhan adalah hal yang terpenting, dan bahwa hanya dengan mampu menerapkan kebenaran dan menjadikan kebenaran sebagai kenyataan mereka, barulah orang masuk ke jalur yang benar dalam beriman kepada Tuhan. Jadi menurutmu, berapa tahun pengalaman yang harus kaualami hingga engkau memiliki pemahaman dan perasaan seperti ini di dalam hatimu? Orang-orang yang cerdik, berwawasan luas, dan memiliki kerinduan yang sangat besar akan Tuhan mungkin mampu mengubah diri mereka sendiri setelah mengalami selama satu atau dua tahun, dan kemudian mulai masuk ke jalur yang benar dalam kepercayaan kepada Tuhan. Namun, orang-orang yang bingung, mati rasa dan bodoh, serta kurang wawasan akan melewati tiga atau lima tahun dalam keadaan linglung, tidak memperoleh apa pun, dan sama sekali tidak menyadari pentingnya mengejar kebenaran. Mereka kemudian melewati lebih dari sepuluh tahun dalam keadaan linglung dengan mengandalkan antusiasme untuk melaksanakan tugas mereka, tetap gagal memperoleh hasil yang nyata dan tidak mampu menyampaikan kesaksian berdasarkan pengalaman apa pun. Hanya setelah mereka dikeluarkan atau disingkirkan, barulah akhirnya mereka sadar dan berpikir, "Aku benar-benar tidak memiliki kenyataan kebenaran apa pun. Selama ini sebenarnya aku belum menjadi orang yang mengejar kebenaran!" Bukankah kesadaran mereka pada saat ini sudah sedikit terlambat? Ada orang-orang yang hidup dalam keadaan linglung tanpa arah dan tujuan, selalu mengharapkan datangnya hari Tuhan tetapi sama sekali tidak mengejar kebenaran. Akibatnya, lebih dari sepuluh tahun berlalu tanpa mereka memperoleh apa pun atau tanpa mereka mampu menyampaikan kesaksian apa pun. Hanya setelah mereka dipangkas dan diperingatkan dengan keras, barulah mereka akhirnya merasa bahwa firman Tuhan menghunjam hati mereka. Betapa kerasnya hati mereka! Apakah tidak mengapa jika mereka tidak dipangkas dan dihukum? Apakah tidak mengapa jika mereka tidak didisiplinkan dengan keras? Apa yang harus dilakukan untuk menyadarkan mereka, agar mereka bereaksi? Mereka yang tidak mengejar kebenaran tidak akan meneteskan air mata sampai mereka melihat kuburan mereka sendiri. Hanya setelah mereka melakukan banyak hal yang sangat jahat dan berbagai kejahatan, barulah kesadaran muncul dalam diri mereka, dan mereka berpikir, "Apakah hidupku sebagai orang percaya telah berakhir? Apakah Tuhan tidak lagi menginginkanku? Apakah aku telah dihukum?" Mereka mulai merenung. Ketika mereka dalam keadaan negatif, mereka merasa kepercayaan mereka kepada Tuhan selama bertahun-tahun ini sia-sia, dan mereka dipenuhi dengan keluhan dan cenderung menganggap diri mereka sudah tidak ada harapan. Namun, ketika mereka menjadi sadar, mereka menyadari bahwa, "Bukankah aku hanya menghancurkan diriku sendiri? Aku harus bangkit kembali. Aku diberi tahu bahwa aku tidak mencintai kebenaran. Mengapa aku diberi tahu hal ini? Astaga! Mereka benar sekali—aku bukan saja tidak mencintai kebenaran, aku bahkan tak mampu menerapkan kebenaran yang benar-benar kupahami! Ini adalah perwujudan watak yang muak akan kebenaran!" Setelah berpikir seperti ini, mereka merasa agak menyesal, dan juga agak takut: "Jika aku terus seperti ini, aku pasti akan dihukum. Tidak, aku harus segera bertobat—watak Tuhan tidak boleh disinggung." Pada saat ini, apakah tingkat sikap keras kepala mereka berkurang? Ini bagaikan sebuah jarum yang menghunjam hati mereka; mereka merasakan sesuatu. Dan ketika engkau memiliki perasaan seperti ini, hatimu akan tergerak, dan engkau mulai merasa tertarik akan kebenaran. Mengapa engkau memiliki ketertarikan ini? Karena engkau membutuhkan kebenaran. Tanpa kebenaran, jika engkau dipangkas, engkau tidak akan mampu tunduk padanya atau menerima kebenaran, dan engkau tidak akan mampu tetap teguh ketika engkau menghadapi ujian. Jika engkau menjadi seorang pemimpin, dan engkau ingin menahan diri agar tidak menjadi pemimpin palsu dan tidak menempuh jalan antikristus, akan mampukah engkau melakukannya? Engkau tidak akan mampu. Jika engkau memiliki status dan orang lain memujimu karenanya, apakah ini sesuatu yang mampu kauatasi? Ketika situasi atau pencobaan diatur untukmu, mampukah engkau mengatasinya? Engkau tahu dan memahami dirimu sendiri dengan sangat baik, dan engkau akan berkata, "Jika aku tidak memahami kebenaran, aku tidak mampu mengatasi semua ini—aku ini sampah, aku tidak mampu melakukan apa pun." Mentalitas seperti apakah ini? Ini artinya membutuhkan kebenaran. Saat engkau sedang membutuhkan kebenaran, saat engkau paling tidak berdaya, engkau hanya ingin mengandalkan kebenaran. Engkau akan merasa tidak ada orang lain yang dapat kauandalkan, dan hanya dengan mengandalkan kebenaran, barulah engkau mampu menyelesaikan masalahmu, dan memampukan dirimu untuk melewati pemangkasan, ujian dan pencobaan, serta menolongmu untuk melewati situasi apa pun. Dan semakin engkau mengandalkan kebenaran, makin engkau akan merasakan bahwa kebenaran itu baik, bermanfaat, dan sangat membantumu, dan bahwa kebenaran mampu mengatasi semua kesulitanmu. Pada saat-saat seperti itu, engkau akan mulai merindukan kebenaran. Ketika orang mencapai titik ini, bukankah watak rusak mereka mulai berkurang atau berubah sedikit demi sedikit? Sejak orang mulai memahami dan menerima kebenaran, sudut pandang mereka tentang segala sesuatu mulai berubah, dan setelah itu watak rusak mereka juga mulai berubah. Ini adalah sebuah proses yang lambat. Pada tahap awal, orang tidak mampu merasakan perubahan kecil ini dalam diri mereka sendiri; tetapi setelah mereka benar-benar memahami kebenaran dan mampu menerapkannya, mulailah terjadi perubahan yang mendasar, dan mereka mampu merasakan perubahan tersebut. Sejak saat orang mulai memiliki kerinduan akan kebenaran dan kelaparan untuk memperoleh kebenaran, dan ingin mencari kebenaran, hingga saat sesuatu terjadi pada diri mereka, dan, berdasarkan pemahaman mereka akan kebenaran, mereka mampu menerapkan kebenaran dan memenuhi maksud Tuhan, serta tidak bertindak sekehendak mereka sendiri, dan mampu mengatasi motif mereka, mengatasi hati mereka yang congkak, memberontak, keras kepala, dan suka berkhianat, maka bukankah itu berarti kebenaran sedikit demi sedikit menjadi hidup mereka? Ketika kebenaran menjadi hidupmu, watak yang congkak, suka memberontak, keras kepala, dan berkhianat dalam dirimu tidak akan lagi menjadi hidupmu, dan tidak dapat lagi mengendalikan dirimu. Dan apa yang menuntunmu dalam caramu berperilaku pada saat seperti ini? Firman Tuhan. Ketika firman Tuhan telah menjadi hidupmu, bukankah telah terjadi perubahan? (Ya.) Lalu setelahnya, engkau hanya dapat terus berubah menjadi makin baik. Seperti inilah proses yang melaluinya orang mengalami perubahan watak, dan mencapai efek ini membutuhkan waktu yang lama.

Mengenai berapa lama perubahan watak terjadi, itu tergantung orangnya; tidak ada kerangka waktu yang ditetapkan untuk hal ini. Jika seseorang adalah orang yang mencintai dan mengejar kebenaran, perubahan wataknya akan terlihat dalam tujuh, delapan, atau sepuluh tahun. Jika dia orang yang berkualitas rata-rata, dan juga mau mengejar kebenaran, mungkin diperlukan waktu sekitar lima belas atau dua puluh tahun, barulah terlihat ada perubahan dalam wataknya. Kuncinya adalah tekad orang tersebut untuk mengejar kebenaran dan tingkat pemahaman dalam dirinya, inilah faktor-faktor penentunya. Setiap watak rusak ada dalam diri setiap orang pada taraf berbeda, semua itu adalah natur manusia, dan semua itu telah berakar begitu dalam. Namun, dengan mengejar dan menerapkan kebenaran, dan dengan menerima penghakiman, hajaran, pemangkasan, ujian dan pemurnian dari Tuhan, berbagai tingkat perubahan dapat dicapai dalam setiap watak tersebut. Ada orang-orang yang berkata, "Jika demikian, bukankah perubahan watak hanyalah masalah waktu? Saat waktunya tiba, aku akan tahu apa yang dimaksud dengan perubahan watak, dan aku akan mampu memiliki jalan masuk." Benarkah demikian? (Tidak.) Sama sekali tidak. Jika hanya waktu yang diperlukan untuk mencapai perubahan watak, maka semua orang yang telah percaya kepada Tuhan seumur hidup mereka seharusnya telah mencapai perubahan watak sebagai hal yang sewajarnya terjadi. Namun seperti itukah yang sebenarnya terjadi? Apakah orang-orang ini telah memperoleh kebenaran? Apakah mereka telah mencapai perubahan dalam watak mereka? Belum. Orang yang percaya kepada Tuhan jumlahnya sebanyak bulu lembu, tetapi orang yang wataknya telah berubah jumlahnya sejarang unicorn. Agar watak orang benar-benar berubah, mereka harus mengandalkan pengejaran mereka akan kebenaran untuk mencapainya; mereka disempurnakan dengan mengandalkan pekerjaan Roh Kudus. Perubahan watak dicapai dengan mengejar kebenaran. Di satu sisi, orang harus membayar harga, mereka harus membayar harga dalam hal mengejar kebenaran, dan mereka harus bersedia menanggung penderitaan sebanyak apa pun untuk memperoleh kebenaran. Selain itu, mereka harus diakui oleh Tuhan sebagai orang yang tepat, orang yang baik hatinya, dan benar-benar mengasihi Tuhan, agar Roh Kudus bekerja dalam diri mereka dan menyempurnakan mereka. Kerja sama orang sangat diperlukan tetapi mendapatkan pekerjaan Roh Kudus jauh lebih penting. Jika orang tidak mengejar atau mencintai kebenaran, jika mereka tidak pernah tahu untuk memperhatikan maksud Tuhan, apalagi mengasihi Tuhan, jika mereka tidak memiliki rasa terbeban terhadap pekerjaan gereja, dan tidak mengasihi orang lain—dan terutama, jika mereka tidak sepenuh hati saat melaksanakan tugas mereka—maka mereka bukanlah orang-orang yang dikasihi Tuhan, dan mereka tidak akan pernah disempurnakan oleh Tuhan. Jadi, orang tidak boleh menerapkan aturan tanpa dipikir dahulu, melainkan harus memahami maksud Tuhan. Apa pun yang Tuhan katakan dan lakukan, mereka harus mampu tunduk, dan melindungi pekerjaan gereja, hati mereka harus lurus, dan hanya dengan cara demikianlah Roh Kudus dapat bekerja. Jika orang ingin berusaha disempurnakan oleh Tuhan, mereka harus memiliki hati yang mengasihi Tuhan, hati yang tunduk kepada Tuhan, hati yang takut akan Tuhan, dan saat melaksanakan tugas, mereka harus setia kepada Tuhan, dan memuaskan Tuhan. Baru setelah itulah, mereka akan mampu mendapatkan pekerjaan Roh Kudus. Ketika orang memiliki pekerjaan Roh Kudus, mereka akan dicerahkan saat membaca firman Tuhan, mereka memiliki jalan untuk menerapkan kebenaran dan memiliki prinsip dalam pelaksanaan tugas mereka, Tuhan membimbing mereka ketika mereka berada dalam kesulitan, dan hati mereka terasa damai dan penuh sukacita sebanyak apa pun mereka menderita. Saat mengalami bimbingan Roh Kudus dengan cara seperti ini selama sepuluh atau dua puluh tahun, tanpa disadari, mereka akan berubah. Makin cepat perubahan terjadi, makin cepat mereka merasa damai; makin cepat perubahan terjadi, makin cepat mereka menjadi bahagia. Hanya jika orang berubah dalam wataknya, barulah mereka dapat memiliki damai dan sukacita sejati, barulah mereka dapat menjalani kehidupan yang benar-benar bahagia. Mereka yang tidak mengejar kebenaran tidak memiliki damai dan sukacita rohani, hari-hari mereka menjadi jauh lebih hampa dan jauh lebih berat untuk dijalani. Bagi mereka yang percaya kepada Tuhan tetapi tidak mengejar kebenaran, hari-hari mereka akan dipenuhi rasa sakit dan penderitaan. Jadi, jika orang percaya kepada Tuhan, tidak ada yang lebih penting bagi mereka selain memperoleh kebenaran. Memperoleh kebenaran berarti memperoleh hidup, dan makin cepat kebenaran diperoleh, makin baik. Tanpa kebenaran, kehidupan orang hampa. Memperoleh kebenaran berarti menemukan damai dan sukacita, mampu hidup di hadapan Tuhan, dicerahkan, dibimbing, dan dipimpin oleh pekerjaan Roh Kudus, akan semakin ada terang di dalam hatinya, dan imannya kepada Tuhan akan jauh lebih kuat. Jadi sekarang, apakah kebenaran yang berkaitan dengan perubahan watak menjadi lebih jelas bagimu? (Ya, kami memahaminya sekarang.) Jika hal ini benar-benar jelas bagimu, artinya engkau memiliki jalan untuk kautempuh, dan engkau tahu bagaimana cara mengejar kebenaran secara efektif.

28 April 2017

Sebelumnya: Hanya dengan Ketundukan Sejati Orang Dapat Memiliki Iman yang Sejati

Selanjutnya: Apa yang Dimaksud dengan Kenyataan Kebenaran?

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Pengaturan

  • Teks
  • Tema

Warna Solid

Tema

Jenis Huruf

Ukuran Huruf

Spasi Baris

Spasi Baris

Lebar laman

Isi

Cari

  • Cari Teks Ini
  • Cari Buku Ini

Hubungi kami via WhatsApp