K. Tentang Bagaimana Memperoleh Pengenalan akan Tuhan
453. Ketiga tahap pekerjaan adalah keseluruhan pekerjaan Tuhan dalam menyelamatkan manusia. Manusia harus mengetahui pekerjaan dan watak Tuhan dalam pekerjaan penyelamatan; tanpa fakta ini, pengetahuanmu tentang Tuhan hanya terdiri dari kata-kata kosong, tidak lebih dari teori muluk-muluk yang engkau sendiri tidak dapat melakukannya. Pengetahuan seperti itu tidak bisa meyakinkan ataupun menaklukkan manusia; pengetahuan seperti itu bertentangan dengan kenyataan, dan bukan merupakan kebenaran. Pengetahuan seperti itu mungkin sangat banyak dan enak didengar, tetapi jika itu bertentangan dengan watak yang melekat pada diri Tuhan, Tuhan tidak akan mengampunimu. Dia bukan saja tidak akan memuji pengetahuanmu itu, tetapi Dia juga akan menghukummu karena menjadi orang berdosa yang menghujat diri-Nya. Perkataan tentang mengenal Tuhan tidak boleh diucapkan dengan enteng. Walau engkau mungkin bermulut manis dan pandai bersilat lidah, dan walau kata-katamu sedemikian pintarnya sampai-sampai engkau dapat berdebat bahwa hitam adalah putih dan putih adalah hitam, engkau tetap tidak memiliki kedalaman pada saat membicarakan pengetahuan tentang Tuhan. Tuhan bukanlah seseorang yang bisa kaukritik dengan sembrono, atau kaupuji dengan santai, atau kaurendahkan dengan enteng. Engkau memuji setiap orang dan semua orang, tetapi engkau sulit menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan kasih karunia Tuhan yang tertinggi—inilah yang akhirnya disadari oleh setiap pecundang. Meski banyak ahli bahasa yang mampu menggambarkan Tuhan, keakuratan dari penggambaran mereka hanyalah seperseratus dari kebenaran yang diucapkan oleh orang-orang yang menjadi milik Tuhan, orang-orang yang sekalipun hanya memiliki perbendaharaan kata yang terbatas, tetapi memiliki pengalaman yang kaya. Jadi, bisa dilihat bahwa pengetahuan tentang Tuhan terletak pada keakuratan dan kenyataan, bukan pada penggunaan kata-kata yang cerdas atau perbendaharaan kata yang kaya, dan bahwa pengetahuan manusia dan pengetahuan tentang Tuhan sama sekali tidak berkaitan. Pelajaran tentang mengenal Tuhan lebih luhur daripada semua ilmu pengetahuan alam umat manusia. Pelajaran ini hanya dapat berhasil dipelajari oleh segelintir orang yang mengejar pengetahuan tentang Tuhan, bukan oleh sembarang orang yang berbakat. Jadi, engkau semua tidak boleh menganggap mengenal Tuhan dan mengejar kebenaran seakan-akan sesuatu yang bisa dicapai oleh seorang anak belaka. Mungkin engkau telah sangat sukses dalam kehidupan berkeluargamu, atau kariermu, atau dalam pernikahanmu, tetapi dalam soal kebenaran dan pelajaran tentang mengenal Tuhan, engkau tidak punya apa pun untuk kautunjukkan dan engkau belum mencapai apa pun. Bisa dikatakan bahwa menerapkan kebenaran sangatlah sulit bagimu, dan mengenal Tuhan adalah masalah yang bahkan lebih sulit lagi bagimu. Inilah kesulitanmu, dan inilah juga kesulitan yang dihadapi oleh semua manusia. Di antara mereka yang telah memiliki beberapa pencapaian dalam hal mengenal Tuhan, nyaris tak seorang pun yang memenuhi standar. Manusia tidak tahu apa artinya mengenal Tuhan, atau mengapa perlu untuk mengenal Tuhan, atau taraf apa yang harus orang capai supaya mengenal Tuhan. Ini hal yang sangat membingungkan bagi manusia, dan ini merupakan teka-teki terbesar yang dihadapi umat manusia—tak seorang pun mampu menjawab pertanyaan ini, juga tak seorang pun bersedia menjawab pertanyaan ini, karena, sampai saat ini, tak seorang pun di antara manusia yang telah berhasil dalam mempelajari tentang pekerjaan ini. Mungkin, pada saat teka-teki mengenai ketiga tahap pekerjaan ini diberitahukan kepada manusia, akan muncul secara berturut-turut sekelompok orang berbakat yang mengenal Tuhan. Tentu saja, Aku berharap begitu, dan, terlebih lagi, Aku sedang berada di dalam proses melaksanakan pekerjaan ini, dan berharap bisa melihat kemunculan lebih banyak orang berbakat seperti itu dalam waktu dekat ini. Mereka akan menjadi orang-orang yang memberi kesaksian tentang fakta ketiga tahap pekerjaan ini, dan, tentu saja, mereka juga akan menjadi orang-orang pertama yang memberi kesaksian tentang ketiga tahap pekerjaan ini. Namun, tak ada yang lebih menyedihkan dan disesalkan daripada jika orang-orang berbakat semacam itu tidak muncul pada hari ketika pekerjaan Tuhan berakhir, atau jika hanya ada satu atau dua orang semacam itu yang secara pribadi telah menerima dirinya disempurnakan oleh Tuhan yang berinkarnasi. Namun, ini hanyalah kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Apa pun keadaannya, Aku masih berharap bahwa orang yang sungguh-sungguh mengejar bisa mendapatkan berkat ini. Sejak permulaan zaman, belum pernah ada pekerjaan seperti ini; upaya seperti ini belum pernah ada dalam sejarah perkembangan manusia. Jika engkau bisa benar-benar menjadi salah satu dari orang-orang pertama yang mengenal Tuhan, bukankah ini kehormatan yang tertinggi di antara semua makhluk ciptaan? Akankah makhluk ciptaan di antara umat manusia lebih dipuji oleh Tuhan? Pekerjaan seperti ini tidak mudah untuk dicapai, tetapi pada akhirnya tetap akan membuahkan hasil. Apa pun jenis kelamin atau kebangsaan mereka, pada akhirnya, semua orang yang mampu mencapai pengetahuan tentang Tuhan akan menerima kehormatan terbesar dari Tuhan, dan akan menjadi satu-satunya yang memiliki otoritas dari Tuhan. Inilah pekerjaan pada zaman sekarang sekaligus pekerjaan di masa mendatang; inilah pekerjaan yang terakhir dan terluhur yang harus dituntaskan dalam pekerjaan 6.000 tahun, dan ini merupakan cara kerja yang menyingkap setiap golongan manusia. Melalui pekerjaan yang menyebabkan manusia mengenal Tuhan ini, peringkat segala jenis manusia pun disingkapkan: orang yang mengenal Tuhan memenuhi syarat untuk menerima berkat Tuhan dan menerima janji-janji-Nya, sedangkan orang yang tidak mengenal Tuhan tidak memenuhi syarat untuk menerima berkat Tuhan dan menerima janji-janji-Nya. Mereka yang mengenal Tuhan adalah sahaabat karib Tuhan, dan orang yang tidak mengenal Tuhan tidak bisa disebut sahabat karib Tuhan; sahabat karib Tuhan bisa menerima semua berkat Tuhan, tetapi mereka yang bukan sahabat karib-Nya tidak cakap untuk pekerjaan apa pun. Entah itu kesengsaraan, pemurnian, atau penghakiman, semuanya bertujuan agar manusia pada akhirnya mengenal Tuhan dan tunduk kepada-Nya. Inilah satu-satunya efek yang pada akhirnya akan tercapai.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Mengenal Tiga Tahap Pekerjaan Tuhan adalah Jalan untuk Mengenal Tuhan"
454. Kepunyaan dan wujud Tuhan, esensi Tuhan, watak Tuhan—semua itu telah diberitahukan kepada manusia di dalam firman-Nya. Pada saat manusia mengalami firman Tuhan, selama proses menerapkannya, manusia akan mulai memahami tujuan di balik firman yang Tuhan ucapkan, dan memahami sumber dan latar belakang firman Tuhan, serta memahami dan menghargai dampak yang dikehendaki dari firman Tuhan. Bagi manusia, inilah semua hal yang harus manusia alami, pahami, dan capai agar memperoleh kebenaran dan hidup, agar memahami maksud Tuhan, wataknya diubahkan, dan menjadi mampu untuk tunduk pada kedaulatan dan pengaturan Tuhan. Pada saat yang sama manusia mengalami, memahami, dan mencapai hal-hal ini, ia akan secara berangsur-angsur mendapatkan pemahaman tentang Tuhan, dan pada saat ini, ia juga akan mendapatkan pengenalan akan Dia dalam tingkat yang berbeda. Pemahaman dan pengenalan ini tidak berasal dari sesuatu yang telah manusia bayangkan atau ciptakan, melainkan dari apa yang ia hargai, alami, rasakan, dan pertegas dalam dirinya sendiri. Hanya setelah menghargai, mengalami, merasakan, dan mengonfirmasi hal-hal inilah, pengetahuan manusia tentang Tuhan memiliki isi; hanya pengenalan yang manusia dapatkan pada saat inilah yang aktual, nyata, dan akurat, dan proses ini—yakni menncapai pemahaman dan pengenalan sejati tentang Tuhan melalui menghargai, mengalami, merasakan, dan mengonfirmasi firman-Nya—tidak lain merupakan persekutuan yang benar antara manusia dengan Tuhan. Di tengah persekutuan seperti ini, manusia menjadi sungguh-sungguh mengerti dan memahami maksud Tuhan, menjadi sungguh-sungguh mengerti dan mengetahui kepunyaan dan wujud Tuhan, menjadi sungguh-sungguh mengerti dan mengetahui esensi Tuhan, secara berangsur-angsur mengerti dan mengetahui watak Tuhan, mencapai kepastian yang nyata, dan definisi yang benar tentang fakta mengenai kekuasaan Tuhan atas segala ciptaan, dan mendapatkan pemahaman substansial dan pengenalan akan identitas dan kedudukan Tuhan. Di tengah persekutuan seperti ini, manusia berangsur-angsur mengubah gagasannya tentang Tuhan, tidak lagi membayangkan-Nya begitu saja, atau berprasangka terhadap-Nya, atau salah paham terhadap-Nya, atau mengutuki-Nya, atau menghakimi-Nya, atau meragukan-Nya. Dengan demikian, manusia akan lebih sedikit berdebat dengan Tuhan, akan lebih sedikit berkonflik dengan Tuhan, dan akan ada lebih sedikit kejadian di mana manusia memberontak terhadap Tuhan. Sebaliknya, kepedulian dan ketundukan manusia kepada Tuhan akan bertumbuh makin kuat, dan rasa takutnya akan Tuhan akan menjadi makin nyata dan makin mendalam. Di tengah persekutuan yang seperti ini, manusia tidak hanya akan memperoleh perbekalan kebenaran dan baptisan hidup, tetapi pada saat yang sama, juga akan mendapatkan pengenalan yang benar tentang Tuhan. Di tengah persekutuan yang seperti ini, manusia tidak hanya akan diubahkan wataknya dan menerima keselamatan, tetapi ia juga sekaligus akan makin memiliki rasa takut dan penyembahan yang sejati sebagai makhluk ciptaan terhadap Tuhan. Setelah memiliki persekutuan yang seperti ini, iman manusia kepada Tuhan tidak lagi serupa kertas kosong, atau janji manis belaka, atau berupa pengejaran dan pemberhalaan tanpa pengertian; hanya dengan persekutuan yang seperti inilah hidup manusia akan bertumbuh hari demi hari menuju kedewasaan, dan hanya pada saat itulah wataknya akan berangsur-angsur diubahkan, dan imannya kepada Tuhan selangkah demi selangkah akan berubah dari kepercayaan yang samar dan tidak pasti menjadi ketundukan dan kepedulian sejati, menjadi rasa takut yang nyata, dan selama proses mengikut Tuhan, manusia juga akan berangsur-angsur berubah dari pasif menjadi aktif, dari negatif menjadi positif; hanya dengan persekutuan yang seperti inilah manusia bisa mencapai pengertian dan pemahaman yang benar tentang Tuhan, pengenalan yang benar akan Tuhan.
—Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Kata Pengantar"
455. Pengetahuan tentang otoritas Tuhan, kuasa Tuhan, identitas Tuhan sendiri, dan hakikat Tuhan tidak dapat diperoleh dengan mengandalkan imajinasimu. Karena engkau tidak dapat mengandalkan imajinasi untuk mengetahui otoritas Tuhan, maka dengan cara apakah engkau dapat memperoleh pengetahuan yang benar tentang otoritas Tuhan? Cara melakukannya adalah melalui makan dan minum firman Tuhan, melalui persekutuan, dan mengalami firman Tuhan. Dengan cara demikian, engkau akan memiliki pengalaman yang bertahap dan verifikasi mengenai otoritas Tuhan dan engkau akan memperoleh pemahaman yang bertahap dan pengetahuan yang semakin bertambah tentang hal itu. Inilah satu-satunya cara untuk memperoleh pengetahuan tentang otoritas Tuhan; tidak ada jalan pintas. Memintamu untuk tidak berimajinasi tidak sama dengan memintamu untuk duduk pasif menunggu kehancuran, atau menghentikanmu untuk melakukan apa pun. Tidak menggunakan otakmu untuk berpikir dan berimajinasi berarti tidak menggunakan logika untuk menyimpulkan, tidak menggunakan pengetahuan untuk menganalisis, tidak menggunakan ilmu pengetahuan sebagai dasar, tetapi sebaliknya menghargai, memverifikasi, dan mengonfirmasikan bahwa Tuhan yang engkau percayai memiliki otoritas, menyatakan dengan tegas bahwa Dia berdaulat atas nasibmu, dan bahwa kuasa-Nya setiap saat membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan itu sendiri, melalui firman Tuhan, melalui kebenaran, melalui segala sesuatu yang engkau temui dalam kehidupan. Inilah satu-satunya cara agar setiap orang dapat memperoleh pemahaman tentang Tuhan. Ada orang-orang yang mengatakan bahwa mereka ingin menemukan cara sederhana untuk mencapai tujuan ini, tetapi bisakah engkau semua memikirkan cara seperti itu? Kuberitahukan kepadamu, tidak perlu berpikir: tidak ada cara lain! Satu-satunya cara adalah dengan sungguh-sungguh dan terus-menerus mengetahui dan memverifikasi apa yang Tuhan miliki dan siapa Tuhan itu melalui setiap firman yang Dia ungkapkan dan segala sesuatu yang Dia lakukan. Inilah satu-satunya cara untuk mengenal Tuhan. Karena apa yang Tuhan miliki dan siapa Tuhan itu, dan segala sesuatu yang berasal dari Tuhan tidak hampa dan kosong, tetapi nyata.
—Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik I"
456. Tuhan melakukan pekerjaan penghakiman dan hajaran sehingga manusia dapat memperoleh pengetahuan tentang Dia, dan demi kesaksian-Nya. Tanpa penghakiman-Nya atas watak manusia yang rusak, manusia tidak mungkin mengetahui watak-Nya yang benar, yang tidak menoleransi pelanggaran, dan manusia juga tidak akan mampu mengubah pengetahuan lamanya tentang Tuhan menjadi pengetahuan yang baru. Demi kesaksian-Nya, dan demi pengelolaan-Nya, Dia memperlihatkan keseluruhan diri-Nya secara terbuka, sehingga melalui penampakan-Nya yang secara terbuka itu, Dia memampukan manusia untuk sampai pada pengetahuan tentang Tuhan, untuk diubahkan dalam wataknya, dan untuk menjadi kesaksian yang meyakinkan bagi Tuhan. Perubahan watak manusia dicapai melalui berbagai jenis pekerjaan Tuhan; tanpa perubahan seperti itu dalam wataknya, manusia tidak akan dapat menjadi kesaksian bagi Tuhan dan sesuai dengan maksud-maksud Tuhan. Perubahan watak manusia menandakan bahwa manusia telah membebaskan dirinya dari perbudakan Iblis dan dari pengaruh kegelapan, dan telah benar-benar menjadi teladan dan contoh pekerjaan Tuhan, seorang saksi Tuhan, dan orang yang sesuai dengan maksud-maksud Tuhan. Pada zaman sekarang, Tuhan yang berinkarnasi telah datang untuk melakukan pekerjaan-Nya di bumi, dan Dia menuntut agar manusia mencapai pengetahuan tentang Dia, ketundukan kepada-Nya, dan kesaksian bagi-Nya. Mereka harus mengenal pekerjaan-Nya yang normal dan nyata, mereka harus tunduk pada semua firman dan pekerjaan-Nya yang tidak sesuai dengan pemahaman manusia, dan mereka harus memberi kesaksian tentang semua pekerjaan yang Dia lakukan untuk menyelamatkan manusia serta semua perbuatan yang Dia capai untuk menaklukkan manusia. Orang-orang yang menjadi kesaksian bagi Tuhan harus memiliki pengetahuan tentang Tuhan; hanya kesaksian semacam inilah yang akurat dan nyata, dan hanya kesaksian semacam inilah yang dapat mempermalukan Iblis. Tuhan memakai orang-orang yang telah mengenal Dia melalui penghakiman, hajaran, dan pemangkasan-Nya, untuk menjadi kesaksian bagi-Nya. Dia memakai orang-orang yang telah dirusak oleh Iblis untuk menjadi kesaksian bagi-Nya, dan demikian pula Dia memakai orang-orang yang wataknya telah berubah, dan yang dengan demikian telah mendapatkan berkat-Nya, untuk menjadi kesaksian bagi-Nya. Tuhan tidak membutuhkan manusia untuk memuji Dia dengan mulutnya. Dia juga tidak membutuhkan pujian dan kesaksian dari sekutu Iblis, yang belum diselamatkan oleh-Nya. Hanya orang-orang yang mengenal Tuhan yang memenuhi syarat untuk menjadi kesaksian bagi-Nya, dan hanya mereka yang telah mengalami perubahan watak yang memenuhi syarat untuk menjadi kesaksian bagi-Nya. Tuhan tidak akan membiarkan manusia dengan sengaja mencemarkan nama-Nya.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Hanya Mereka yang Mengenal Tuhan yang Bisa Menjadi Kesaksian bagi Tuhan"
457. Mengenal hakikat Tuhan bukanlah masalah sepele. Engkau harus memahami watak-Nya. Dengan cara ini, engkau akan, secara berangsur-angsur dan tanpa sadar, mulai mengenal hakikat Tuhan. Ketika engkau telah masuk ke dalam pengenalan ini, engkau akan mendapati dirimu melangkah ke dalam keadaan yang lebih tinggi dan lebih indah. Pada akhirnya, engkau akan mulai merasa malu akan jiwamu yang amat buruk, dan terlebih lagi, akan merasa tidak ada tempat lagi untuk bersembunyi dari rasa malumu. Pada saat itu, akan semakin sedikit perilakumu yang menyinggung watak Tuhan, hatimu akan makin mendekat kepada hati Tuhan, dan secara berangsur-angsur kasih kepada Dia akan bertumbuh di dalam hatimu. Ini adalah tanda umat manusia sedang memasuki keadaan yang indah. Namun sampai saat ini, engkau semua belum mencapai hal ini. Sementara engkau semua sibuk hilir mudik demi kepentingan nasibmu, siapa yang masih memiliki keinginan untuk berusaha mengenal hakikat Tuhan? Jika hal ini terus berlanjut, engkau semua tanpa sadar akan melakukan pelanggaran terhadap ketetapan administratif, karena engkau semua terlalu sedikit memahami watak Tuhan. Jadi, bukankah apa yang engkau semua lakukan sekarang sebenarnya sedang meletakkan dasar bagi pelanggaran-pelanggaranmu terhadap watak Tuhan? Permintaan-Ku agar engkau semua memahami watak Tuhan tidaklah terlepas dari pekerjaan-Ku. Karena jika engkau semua sering kali melanggar ketetapan administratif, siapa di antaramu yang bisa lolos dari hukuman? Bukankah itu berarti pekerjaan-Ku akan menjadi sia-sia belaka? Karena itu, Aku tetap meminta bahwa, selain mencermati setiap detail perilakumu sendiri, engkau harus waspada dengan langkah-langkah yang kauambil. Ini akan menjadi tuntutan yang lebih tinggi yang Kuminta darimu, dan Aku berharap bahwa engkau semua akan mempertimbangkannya dengan saksama serta sungguh-sungguh memperhatikannya. Apabila tiba saatnya ketika tindakan-tindakanmu membangkitkan murka-Ku dengan hebat, maka engkau semua sendirilah yang harus memperhitungkan akibatnya, dan tidak akan ada orang lain yang akan menanggung hukuman itu untuk menggantikanmu.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Sangatlah Penting untuk Memahami Watak Tuhan"
458. Apa arti mengenal Tuhan? Itu berarti mampu mengetahui sukacita, kemarahan, kesedihan, dan kebahagiaan-Nya, dan dengan demikian mengenal watak-Nya—inilah artinya benar-benar mengenal Tuhan. Engkau berkata bahwa engkau telah melihat Dia, tetapi engkau tidak memahami sukacita, kemarahan, kesedihan, serta kebahagiaan-Nya, dan engkau tidak memahami watak-Nya. Engkau juga tidak memahami kebenaran-Nya ataupun belas kasihan-Nya, dan engkau tidak tahu apa yang disukai atau dibenci-Nya. Ini bukanlah mengenal Tuhan. Ada orang-orang yang mampu mengikuti Tuhan, tetapi belum tentu sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan. Sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan artinya tunduk kepada Tuhan. Orang yang tidak sungguh-sungguh tunduk kepada Tuhan artinya tidak sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan—di sinilah letak perbedaannya. Ketika engkau telah mengikut Tuhan selama beberapa tahun, dan memiliki pengenalan dan pemahaman akan Tuhan, ketika engkau memiliki pengertian dan pemahaman tentang maksud Tuhan, ketika engkau menyadari niat Tuhan yang tekun dalam menyelamatkan manusia, itulah saat engkau sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, sungguh-sungguh tunduk kepada Tuhan, sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, dan sungguh-sungguh menyembah Tuhan. Jika engkau percaya kepada Tuhan tetapi tidak mengejar pengenalan akan Tuhan, dan tidak memiliki pemahaman tentang maksud Tuhan, watak Tuhan, dan pekerjaan Tuhan, itu berarti engkau hanyalah seorang pengikut yang berlari ke sana kemari untuk Tuhan dan mengikuti apa pun yang mayoritas orang lakukan. Itu tidak dapat disebut ketundukan yang sejati, apalagi penyembahan yang sejati. Bagaimana penyembahan yang sejati terjadi? Tanpa terkecuali, semua orang yang melihat Tuhan dan benar-benar mengenal Tuhan menyembah dan takut akan Dia; mereka semua terdorong untuk bersujud dan menyembah Dia. Sekarang ini, sementara Tuhan yang berinkarnasi sedang bekerja, semakin besar pemahaman yang manusia miliki tentang watak-Nya dan tentang apa yang dimiliki-Nya dan siapa Dia, semakin mereka akan menghargai hal-hal ini dan semakin mereka akan takut akan Dia. Biasanya, semakin kurang pengenalan akan Tuhan yang manusia miliki, semakin ceroboh mereka, sehingga mereka memperlakukan Tuhan sebagai manusia. Jika manusia benar-benar mengenal dan melihat Tuhan, mereka akan gemetar ketakutan dan bersujud merebahkan dirinya. "Dia yang datang sesudah aku lebih berkuasa daripada aku, aku pun tidak layak membukakan kasut-Nya" (Matius 3:11)—mengapa Yohanes mengatakan ini? Meskipun jauh di lubuk hatinya dia tidak memiliki pengenalan akan Tuhan yang sangat mendalam, dia tahu bahwa Tuhan itu menakjubkan. Berapa banyak orang sekarang ini yang dapat takut akan Tuhan? Jika mereka tidak mengenal watak-Nya, lalu bagaimana mungkin mereka takut akan Tuhan? Jika manusia tidak mengetahui esensi Kristus ataupun memahami watak Tuhan, mereka akan semakin tidak dapat sungguh-sungguh menyembah Tuhan yang nyata. Jika mereka hanya melihat penampilan lahiriah Kristus yang biasa dan normal, tetapi tidak mengetahui esensi-Nya, maka mudah bagi mereka untuk memperlakukan Kristus hanya sebagai orang biasa. Mereka mungkin bersikap tidak hormat kepada-Nya dan dapat menipu-Nya, menentang-Nya, memberontak terhadap-Nya, dan menghakimi-Nya. Mereka dapat bersikap merasa diri benar dan tidak memperlakukan firman-Nya secara serius; mereka bahkan dapat memunculkan gagasan, kutukan, dan hujatan terhadap Tuhan. Untuk menyelesaikan masalah-masalah ini, manusia harus mengetahui esensi dan keilahian Kristus. Inilah aspek utama dari mengenal Tuhan; inilah hal yang harus dimasuki dan dicapai oleh semua orang yang percaya kepada Tuhan yang nyata.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"
459. Percaya kepada Tuhan dan mengenal Tuhan adalah sepenuhnya wajar dan dapat dibenarkan, dan sekarang ini—selama zaman ketika Tuhan yang berinkarnasi sedang melakukan pekerjaan-Nya secara pribadi—adalah waktu yang sangat baik untuk mengenal Tuhan. Memuaskan Tuhan adalah sesuatu yang dicapai dengan membangun dasar pemahaman akan maksud-maksud Tuhan, dan untuk memahami maksud-maksud-Nya, penting sekali untuk memiliki pengetahuan tentang Dia. Pengetahuan tentang Tuhan ini adalah impian yang harus dimiliki orang yang percaya kepada-Nya; inilah dasar kepercayaan manusia kepada Tuhan. Tanpa pengetahuan ini, kepercayaan manusia kepada Tuhan akan berada dalam keadaan samar-samar, di tengah-tengah teori kosong. Bahkan jika orang semacam itu memiliki tekad untuk mengikut Tuhan, mereka tidak akan mendapatkan apa pun. Semua orang yang tidak mendapatkan apa pun dalam aliran ini adalah mereka yang akan disingkirkan—mereka semua adalah benalu. ... Jika manusia tidak dapat memahami penglihatan, dia tidak dapat memahami pekerjaan Tuhan yang baru. Jika manusia tidak dapat tunduk pada pekerjaan Tuhan yang baru, manusia tidak akan dapat memahami maksud-maksud Tuhan, dan dengan demikian pengetahuannya tentang Tuhan tidak akan berarti apa-apa. Sebelum manusia melaksanakan firman Tuhan, dia harus mengenal firman-Nya, artinya, dia harus memahami maksud-maksud Tuhan. Hanya dengan cara inilah firman Tuhan dapat dilaksanakan secara akurat dan sesuai dengan maksud-maksud Tuhan. Inilah hal yang harus dimiliki setiap orang yang mencari kebenaran, dan ini juga merupakan proses yang harus dijalani oleh setiap orang yang berusaha mengenal Tuhan. Proses mengenal firman Tuhan adalah proses mengenal Tuhan dan pekerjaan-Nya. Jadi, mengetahui visi tidak hanya mengacu pada mengenal kemanusiaan Tuhan yang berinkarnasi, tetapi juga termasuk mengenal firman dan pekerjaan Tuhan. Dari firman Tuhan-lah manusia memahami maksud-maksud Tuhan, dan dari pekerjaan Tuhan-lah mereka mengenal watak Tuhan dan siapa Dia. Percaya kepada Tuhan adalah langkah awal untuk mengenal Tuhan. Proses maju dari kepercayaan awal kepada Tuhan ini kepada kepercayaan yang paling mendalam kepada-Nya adalah proses untuk mengenal Tuhan, proses mengalami pekerjaan Tuhan. Jika engkau hanya percaya kepada Tuhan demi memercayai Tuhan, dan bukan demi mengenal-Nya, artinya tidak ada kenyataan pada imanmu, dan imanmu tidak bisa menjadi murni—dalam hal ini tidak ada keraguan. Jika, selama proses mengalami pekerjaan Tuhan, manusia secara berangsur-angsur mulai mengenal Tuhan, wataknya akan sedikit demi sedikit berubah, dan kepercayaannya akan menjadi semakin benar. Dengan cara ini, ketika manusia mencapai keberhasilan dalam kepercayaannya kepada Tuhan, dia akan sepenuhnya mendapatkan Tuhan. Alasan mengapa Tuhan mengerahkan upaya-Nya yang sedemikian besar untuk menjadi manusia kedua kalinya untuk melakukan pekerjaan-Nya secara pribadi adalah agar manusia dapat mengenal Dia dan melihat-Nya. Mengenal Tuhan[a] adalah hasil akhir yang harus dicapai pada akhir dari pekerjaan Tuhan; inilah persyaratan terakhir yang Tuhan tuntut dari umat manusia. Alasan mengapa Dia melakukan ini adalah demi kesaksian terakhir-Nya; Dia melakukan pekerjaan ini agar manusia akhirnya dapat sepenuhnya berbalik kepada-Nya. Manusia hanya bisa mengasihi Tuhan dengan mengenal Dia, dan untuk mengasihi Tuhan, dia harus mengenal Tuhan. Bagaimanapun dia mengejar, atau apa yang ingin dia dapatkan, dia harus mampu mencapai pengetahuan tentang Tuhan. Hanya dengan cara inilah manusia dapat memuaskan hati Tuhan. Dengan mengenal Tuhan barulah manusia dapat memiliki iman yang sejati kepada Tuhan, dan dengan mengenal Tuhan barulah manusia dapat benar-benar takut akan Tuhan dan tunduk kepada-Nya. Mereka yang tidak mengenal Tuhan tidak akan pernah benar-benar tunduk dan takut akan Tuhan. Mengenal Tuhan mencakup mengenal watak-Nya, memahami maksud-maksud-Nya, dan mengetahui siapa Dia. Namun, aspek mana pun yang mulai diketahui orang, setiap aspek mengharuskan manusia untuk membayar harga dan menuntut tekad untuk tunduk, sebab tanpanya tak seorang pun akan mampu terus mengikuti sampai akhir.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Hanya Mereka yang Mengenal Tuhan yang Bisa Menjadi Kesaksian bagi Tuhan"
Catatan kaki:
a. Dalam naskah aslinya tertulis "Pekerjaan mengenal Tuhan".
460. Dampak dari pelajaran mengenal Tuhan tidak dapat dicapai dalam satu atau dua hari: manusia harus mengumpulkan pengalaman, menjalani penderitaan, dan mencapai ketundukan yang sejati. Pertama-tama, dimulai dari pekerjaan dan firman Tuhan. Sangat penting bahwa engkau memahami apa yang termasuk dalam pengetahuan tentang Tuhan, bagaimana mencapai pengetahuan ini, dan bagaimana melihat Tuhan dalam pengalamanmu. Inilah yang harus dilakukan setiap orang saat mereka belum mengenal Tuhan. Tak seorang pun mampu memahami pekerjaan dan firman Tuhan dalam satu langkah, dan tak seorang pun mampu mencapai pengetahuan tentang keseluruhan Tuhan dalam waktu singkat. Ada proses pengalaman yang diperlukan, yang tanpanya tak seorang pun akan mampu mengenal Tuhan atau mengikuti-Nya dengan sungguh-sungguh. Semakin banyak pekerjaan yang Tuhan lakukan, semakin manusia mengenal-Nya. Semakin pekerjaan Tuhan bertentangan dengan pemahaman manusia, semakin banyak pengetahuan manusia tentang Dia yang diperbarui dan diperdalam. Jika pekerjaan Tuhan selama-lamanya tetap dan tidak berubah, maka tidak banyak yang bisa diketahui manusia tentang Dia. Di antara penciptaan dan masa sekarang, apa yang Tuhan lakukan selama Zaman Hukum Taurat, apa yang Dia lakukan selama Zaman Kasih Karunia, dan apa yang Dia lakukan selama Zaman Kerajaan—engkau semua harus jelas tentang penglihatan-penglihatan ini. Engkau semua harus tahu pekerjaan Tuhan.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Hanya Mereka yang Mengenal Tuhan yang Bisa Menjadi Kesaksian bagi Tuhan"
461. Selama mengikuti Yesus, Petrus membentuk banyak pendapat mengenai Yesus dan selalu menilai-Nya dari sudut pandangnya sendiri. Walaupun Petrus memiliki tingkat pemahaman tertentu mengenai Roh, pemahamannya belum begitu jelas, itulah sebabnya dia, berkata: "Aku harus mengikuti Dia yang diutus Bapa di surga. Aku harus mengakui Dia yang dipilih oleh Roh Kudus." Petrus tidak memahami hal-hal yang dilakukan Yesus dan tidak memiliki kejelasan tentang itu. Setelah mengikuti-Nya selama beberapa waktu, Petrus mulai tertarik pada apa yang dilakukan dan dikatakan-Nya, dan kepada Yesus itu sendiri. Petrus mulai merasa bahwa Yesus membangkitkan kasih sayang dan rasa hormat; dia senang bergaul dengan-Nya dan tinggal di dekat-Nya, dan mendengarkan perkataan Yesus yang membekali dan menolongnya. Selama mengikut Yesus, Petrus mengamati dan memperhatikan segala sesuatu mengenai kehidupan-Nya: tindakan, perkataan, gerakan, dan ekspresi-Nya. Petrus mendapatkan pemahaman yang mendalam bahwa Yesus tidak seperti manusia biasa. Walaupun penampilan-Nya sebagai manusia sangat biasa, Dia penuh kasih, belas kasihan, dan toleransi terhadap manusia. Segala sesuatu yang dilakukan atau dikatakan-Nya sangat membantu orang lain, dan Petrus melihat dan memperoleh hal-hal yang belum pernah dia lihat atau miliki sebelumnya dari Yesus. Petrus melihat bahwa walaupun Yesus tidak memiliki perawakan yang tinggi besar atau kemanusiaan yang tidak biasa, Dia memiliki aura yang sangat luar biasa dan istimewa. Walaupun tidak mampu menjelaskan sepenuhnya, Petrus dapat melihat bahwa tindakan Yesus berbeda dengan orang lain, karena Dia melakukan hal-hal yang sangat berbeda dengan yang dilakukan manusia biasa. Sejak bergaul dengan Yesus, Petrus juga menyadari bahwa karakter-Nya berbeda dengan manusia biasa. Dia selalu bertindak dengan mantap dan tidak pernah tergesa-gesa, tidak pernah melebih-lebihkan atau meremehkan suatu perkara, dan Dia menjalani hidup-Nya dengan cara yang mengungkapkan karakter yang normal sekaligus mengagumkan. Dalam bertutur kata, Yesus berbicara dengan jelas dan elegan, selalu berkomunikasi dengan cara yang ceria tetapi tenang—tetapi tidak pernah kehilangan martabat-Nya saat melaksanakan pekerjaan-Nya. Petrus melihat bahwa Yesus terkadang pendiam, tetapi pada waktu lain berbicara tanpa henti. Terkadang Dia begitu bahagia sehingga Dia tampak seperti seekor burung merpati, lincah dan melompat-lompat dengan ceria, tetapi di lain waktu Dia begitu sedih sehingga sama sekali tidak berbicara, tampak diliputi kesedihan seolah-olah Dia adalah seorang ibu yang telah menanggung begitu banyak kesukaran. Adakalanya Dia dipenuhi kemarahan seperti seorang prajurit pemberani yang menerjang maju untuk membunuh musuhnya atau, pada beberapa kesempatan, Dia bahkan menyerupai seekor singa yang mengaum. Terkadang Dia tertawa; di lain waktu Dia berdoa dan menangis. Bagaimanapun Yesus bertindak, Petrus semakin memiliki kasih dan rasa hormat yang tak terbatas kepada-Nya. Tawa Yesus memenuhinya dengan kebahagiaan, kesedihan-Nya menjerumuskannya ke dalam duka, dan amarah-Nya membuatnya takut, sementara belas kasihan, pengampunan, dan tuntutan-Nya yang tegas terhadap orang-orang membuat Petrus menjadi sungguh-sungguh mengasihi Yesus, dan membuatnya makin sungguh-sungguh takut akan Dia dan merindukan-Nya. Tentu saja, Petrus secara berangsur-angsur menyadari semua ini setelah tinggal bersama Yesus selama beberapa tahun.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Cara Petrus Mengenal Yesus"
462. Jika engkau ingin mengenal Tuhan, benar-benar mengenal-Nya, sungguh-sungguh memahami-Nya, jangan membatasi dirimu hanya pada tiga tahap pekerjaan Tuhan, atau pada cerita-cerita pekerjaan yang dilakukan Tuhan di masa lalu. Jika engkau mencoba untuk mengenal-Nya dengan cara itu, engkau membatasi Tuhan, membendung Dia. Engkau melihat Tuhan sebagai sesuatu yang sangat kecil. Bagaimana tindakan semacam ini memengaruhi manusia? Engkau tidak akan pernah mampu untuk mengenal keajaiban dan keagungan Tuhan, atau kuasa dan kemahakuasaan-Nya serta cakupan otoritas-Nya. Pemahaman seperti itu akan berdampak pada kemampuanmu untuk menerima kebenaran bahwa Tuhan adalah Yang Berdaulat atas segala sesuatu, juga pengetahuanmu tentang identitas dan status Tuhan. Dengan kata lain, jika pemahamanmu akan Tuhan terbatas cakupannya, apa yang dapat engkau terima juga terbatas. Karena itulah engkau harus memperluas cakupanmu dan memperluas wawasanmu. Engkau harus berusaha untuk memahami semuanya—cakupan pekerjaan Tuhan, pengelolaan-Nya, pengaturan-Nya, dan segala sesuatu yang Dia kelola dan di mana Dia memerintah. Melalui hal-hal inilah engkau harus memahami tindakan Tuhan. Dengan pemahaman seperti itu, engkau akan merasa, tanpa menyadarinya, bahwa Tuhan mengatur, mengelola, dan menyediakan untuk segala sesuatu di antaranya, dan engkau juga akan sungguh-sungguh merasakan bahwa engkau adalah bagian dan anggota dari segala sesuatu. Seperti Tuhan menyediakan segala sesuatu, engkau juga menerima pengaturan dan penyediaan Tuhan. Ini merupakan fakta yang tidak dapat disangkal oleh siapa pun.
—Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik VIII"
463. Seberapa banyak pengenalan akan Tuhan yang ada dalam hati orang, sebesar itu pula posisi yang Dia miliki dalam hati mereka. Seberapa besar pengenalan akan Tuhan dalam hati mereka, sebesar itulah Tuhan dalam hati mereka. Jika Tuhan yang kaukenal itu kosong dan samar, maka Tuhan yang kaupercayai juga kosong dan samar. Tuhan yang kaukenal terbatas pada ruang lingkup pemahamanmu sendiri, dan tidak ada kaitannya dengan Tuhan yang sejati itu sendiri. Dengan demikian, mengenal perbuatan nyata Tuhan, mengenal kenyataan Tuhan dan kemahakuasaan-Nya, mengenal identitas sejati Tuhan itu sendiri, mengenal apa yang Dia miliki dan siapa Dia, mengenal perbuatan-perbuatan yang telah Dia wujudkan di antara segala sesuatu—ini sangat penting bagi setiap orang yang mengejar pengenalan akan Tuhan. Semua itu berkaitan langsung pada apakah orang dapat memasuki kenyataan kebenaran. Jika engkau membatasi pengenalanmu akan Tuhan hanya pada kata-kata, jika engkau membatasinya pada pengalaman kecilmu sendiri, pada kasih karunia Tuhan yang engkau hitung, atau pada sedikit kesaksianmu tentang Tuhan, maka Aku mengatakan bahwa Tuhan yang engkau percayai sama sekali bukanlah Tuhan yang sejati itu sendiri. Bukan hanya itu, tetapi bisa juga dikatakan bahwa Tuhan yang engkau percayai adalah Tuhan yang imajiner, bukan Tuhan yang sejati. Ini karena Tuhan yang sejati adalah Dia yang berdaulat atas segala sesuatu, yang berjalan di antara segala sesuatu, yang mengelola segala sesuatu. Dialah Pribadi yang memegang nasib seluruh umat manusia dan segala sesuatu di tangan-Nya. Pekerjaan dan tindakan Tuhan yang Aku bicarakan tidak hanya terbatas pada sebagian kecil orang. Yang berarti, pekerjaan dan tindakan-Nya tidak terbatas hanya pada orang-orang yang saat ini mengikuti-Nya. Tindakan-Nya ditunjukkan di antara segala sesuatu, dalam kelangsungan hidup segala sesuatu, dan dalam hukum perubahan segala sesuatu. Jika engkau tidak dapat melihat atau mengenali perbuatan-perbuatan Tuhan di antara segala sesuatu yang Dia ciptakan, engkau tidak dapat memberi kesaksian atas perbuatan-perbuatan-Nya. Jika engkau tidak dapat memberi kesaksian tentang Tuhan, jika engkau terus berbicara tentang hal kecil yang disebut "Tuhan" yang engkau kenal, yaitu Tuhan yang terbatas pada gagasanmu sendiri, dan hanya ada dalam pikiran sempitmu, jika engkau terus berbicara tentang Tuhan yang semacam itu, Tuhan tidak akan pernah memuji imanmu. Ketika engkau menjadi kesaksian bagi Tuhan, jika dalam kesaksianmu, engkau hanya bersaksi tentang bagaimana engkau menikmati kasih karunia Tuhan, menerima pendisiplinan dari Tuhan dan didikan-Nya, dan bagaimana engkau menikmati berkat-Nya, hal tersebut sangat tidak memadai dan jauh dari memuaskan-Nya. Jika engkau ingin menjadi saksi bagi Tuhan dengan cara yang sejalan dengan maksud-Nya, menjadi saksi bagi Tuhan yang sejati itu sendiri, engkau harus memahami apa yang dimiliki Tuhan dan siapa Tuhan itu dari tindakan-Nya. Engkau harus melihat otoritas Tuhan dari kendali-Nya atas segala hal, dan melihat kebenaran tentang cara Dia membekali seluruh umat manusia. Jika engkau hanya mengakui bahwa makanan dan minumanmu sehari-hari dan kebutuhan hidupmu berasal dari Tuhan, tetapi engkau tidak melihat kebenaran bahwa Tuhan telah mengambil segala sesuatu yang Dia ciptakan untuk membekali seluruh umat manusia, dan bahwa Dia memimpin seluruh umat manusia dengan berkuasa atas segala sesuatu, engkau tidak akan pernah bisa menjadi saksi bagi Tuhan. Apa tujuan-Ku mengatakan semua ini? Itu supaya engkau semua tidak menganggap enteng hal ini, supaya engkau tidak menganggap topik-topik yang Kubahas ini tidak relevan dengan jalan masukmu sendiri ke dalam kehidupan, dan supaya engkau tidak menerima topik-topik ini hanya sebagai jenis pengetahuan atau doktrin. Jika engkau semua mendengarkan apa yang Aku katakan dengan sikap yang demikian, engkau semua tidak akan mendapatkan apa pun. Engkau semua akan kehilangan kesempatan besar ini untuk mengenal Tuhan.
—Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik IX"
464. Meskipun manusia mungkin mendalami penelitiannya atas ilmu pengetahuan dan hukum yang mengatur segala sesuatu, penelitian itu lingkupnya terbatas, sedangkan Tuhan mengendalikan segala sesuatu, dan itu bagi manusia, adalah pengendalian yang tanpa batas. Manusia dapat menghabiskan seluruh hidupnya meneliti perbuatan terkecil Tuhan tanpa mencapai hasil yang nyata. Inilah sebabnya, jika engkau hanya menggunakan pengetahuan dan apa yang telah engkau pelajari untuk mempelajari Tuhan, engkau tidak akan pernah mampu mengenal Tuhan atau memahami Dia. Namun, jika engkau memilih cara untuk mencari kebenaran dan mencari Tuhan, serta memandang Tuhan dari sudut pandang untuk mengenal Tuhan, maka, suatu hari, engkau akan mengakui bahwa perbuatan-perbuatan dan hikmat Tuhan ada di mana-mana, dan engkau akan mengetahui mengapa Tuhan disebut Yang Berdaulat atas segala sesuatu dan sumber kehidupan bagi segala sesuatu. Semakin engkau memperoleh pemahaman seperti itu, semakin engkau akan memahami mengapa Tuhan disebut Yang Berdaulat atas segala sesuatu. Segala sesuatu dan semuanya, termasuk dirimu, secara terus-menerus menerima aliran penyediaan Tuhan yang stabil. Engkau juga akan mampu dengan jelas merasakan bahwa di dunia ini, dan di antara umat manusia ini, tidak ada seorang pun selain Tuhan yang memiliki kemampuan dan esensi untuk memerintah, mengelola, dan memelihara keberadaan segala sesuatu. Ketika engkau mencapai pemahaman ini, engkau akan sungguh-sungguh mengakui bahwa Tuhan itu adalah Tuhanmu. Ketika engkau mencapai titik ini, engkau akan menerima Tuhan dengan sungguh-sungguh dan mengizinkan Dia menjadi Tuhanmu dan Yang Berdaulat atas dirimu. Ketika engkau telah memperoleh pemahaman seperti itu dan hidupmu telah mencapai titik seperti itu, Tuhan tidak akan mengujimu dan menghakimimu lagi, Dia juga tidak akan memberimu tuntutan apa pun, karena engkau akan memahami Tuhan, akan mengenal hati-Nya, dan telah menerima Dia dengan sungguh-sungguh di dalam hatimu.
—Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik VIII"
465. Manusia sering mengatakan bahwa tidak mudah mengenal Tuhan. Namun, Aku katakan bahwa mengenal Tuhan sama sekali bukanlah hal yang sulit, karena Tuhan sering menunjukkan perbuatan-perbuatan-Nya agar manusia melihatnya. Tuhan tidak pernah berhenti berdialog dengan umat manusia, dan Dia tidak pernah menyembunyikan diri-Nya dari manusia, dan juga tidak menyembunyikan diri-Nya sendiri. Pikiran-Nya, gagasan-Nya, firman-Nya, dan perbuatan-Nya, semua disingkapkan kepada umat manusia. Oleh karena itu, selama manusia ingin mengenal Tuhan, ia bisa memahami dan mengenal Dia lewat segala macam cara dan metode. Alasan mengapa manusia tanpa pengertian berpikir bahwa Tuhan dengan sengaja menghindarinya, bahwa Tuhan dengan sengaja menyembunyikan diri-Nya dari umat manusia, bahwa Tuhan tidak berniat membiarkan manusia memahami dan mengenal-Nya, adalah karena ia tidak tahu siapa Tuhan itu dan ia juga tidak ingin memahami Tuhan. Bahkan lebih daripada itu, ia tidak tertarik dengan pikiran, firman, atau perbuatan Sang Pencipta .... Sejujurnya, jika seseorang hanya menggunakan waktu luangnya untuk berfokus dan memahami firman atau perbuatan Sang Pencipta, dan jika mereka mencurahkan sedikit perhatian pada pikiran Sang Pencipta dan suara hati-Nya, tidak akan sulit bagi orang itu untuk menyadari bahwa pikiran, firman, dan perbuatan Sang Pencipta terbuka dan transparan. Begitu juga, hanya dibutuhkan sedikit usaha untuk menyadari bahwa Sang Pencipta ada di antara manusia selama ini, bahwa Dia selalu berbicara dengan manusia dan segala sesuatu, dan bahwa Dia melakukan perbuatan-perbuatan yang baru setiap hari. Esensi dan watak-Nya diungkapkan dalam dialog-Nya dengan manusia; pikiran dan gagasan-Nya disingkapkan sepenuhnya dalam perbuatan-Nya; Dia menyertai dan mengamati umat manusia sepanjang waktu. Dia menggunakan perkataan-Nya yang sunyi dengan tenang memberi tahu segala sesuatu dan umat manusia: "Aku berada di langit, dan Aku berada di antara segala sesuatu. Aku berjaga-jaga; Aku menunggu; Aku ada di sisimu ...." Tangan-Nya hangat dan kuat; langkah kaki-Nya ringan; suara-Nya lembut dan anggun; figur-Nya berulang kali lewat dan berbalik, merengkuh seluruh umat manusia; wajah-Nya indah dan lembut. Dia tidak pernah pergi, tidak pernah menghilang. Siang dan malam, Dia adalah pendamping umat manusia yang selalu ada, tidak pernah pergi dari sisi mereka.
—Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik II"
466. Jika orang tidak memahami Tuhan dan tidak mengenal watak-Nya, hati mereka tidak pernah bisa benar-benar terbuka kepada-Nya. Setelah mereka memahami Tuhan, mereka akan memiliki minat dan iman untuk berempati dan merasakan hati-Nya. Ketika engkau berempati dan merasakan hati Tuhan, hatimu akan secara bertahap, sedikit demi sedikit, terbuka bagi-Nya. Ketika hatimu terbuka bagi-Nya, engkau akan merasakan betapa memalukan dan hinanya upayamu untuk bertransaksi dengan Tuhan, tuntutanmu kepada Tuhan, dan hasratmu yang berlebihan. Ketika hatimu sungguh-sungguh terbuka bagi Tuhan, engkau akan melihat bahwa hati-Nya adalah dunia yang demikian tak terbatas, dan pada saat yang sama, engkau akan memasuki alam yang tidak pernah engkau alami sebelumnya. Di alam ini tidak ada kecurangan, tidak ada kelicikan, tidak ada kegelapan, dan tidak ada kejahatan. Yang ada hanyalah ketulusan dan kesetiaan; hanyalah terang dan kejujuran; hanyalah kebenaran dan kebaikan. Alam ini dipenuhi cinta dan perhatian, dipenuhi belas kasihan dan toleransi, dan melaluinya engkau merasakan kebahagiaan dan sukacita hidup. Hal-hal inilah yang akan Tuhan ungkapkan kepadamu saat engkau membuka hatimu kepada-Nya. Dunia tanpa batas ini dipenuhi hikmat dan kemahakuasaan Tuhan; juga dipenuhi kasih-Nya dan otoritas-Nya. Di sini engkau dapat melihat setiap aspek dari apa yang Tuhan miliki dan siapa diri-Nya, apa yang membuat-Nya bersukacita, mengapa Dia khawatir dan mengapa Dia menjadi sedih, mengapa Dia menjadi marah .... Inilah yang dapat dilihat oleh setiap orang yang membuka hati mereka dan mempersilakan Tuhan untuk masuk. Tuhan hanya dapat masuk ke dalam hatimu jika engkau membukakan hatimu bagi-Nya. Engkau hanya dapat melihat apa yang Tuhan miliki dan siapa diri-Nya, dan engkau hanya dapat melihat maksud-maksud-Nya bagimu, jika Dia telah masuk ke dalam hatimu. Pada saat itu, engkau akan mendapati bahwa segala sesuatu mengenai Tuhan begitu berharga, bahwa apa yang Dia miliki dan siapa diri-Nya sangatlah pantas untuk dihargai. Dibandingkan dengan itu, orang, peristiwa, dan hal-hal di sekitarmu, dan bahkan orang-orang terkasihmu, pasanganmu, dan hal-hal yang engkau kasihi, begitu tidak layak untuk disebutkan, begitu kecil, begitu hina bagimu. Engkau akan merasa bahwa tidak ada benda materiel yang pernah akan dapat menarikmu lagi, atau memikatmu untuk membayar harga apa pun demi mendapatkannya. Dalam kerendahhatian Tuhan, engkau akan melihat kebesaran-Nya dan keunggulan-Nya. Terlebih dari itu, dalam beberapa perbuatan Tuhan yang sebelumnya kauanggap kecil, engkau akan melihat hikmat-Nya yang tak terhingga dan toleransi-Nya, serta dalam kesabaran, toleransi, dan pemahaman yang Dia tunjukkan kepadamu. Ini akan menimbulkan kekaguman yang mendalam dalam dirimu terhadap-Nya. Pada hari itu, engkau akan merasa bahwa umat manusia sedang hidup di dunia yang begitu kotor, dan bahwa, baik orang-orang di sampingmu ataupun hal-hal yang terjadi di sekitarmu, atau bahkan mereka yang kaukasihi, serta kasih mereka kepadamu, dan apa yang mereka sebut perlindungan atau kepedulian mereka terhadapmu, semuanya itu tidak pantas bahkan untuk disebutkan—hanya Tuhanlah yang paling kaukasihi, dan hartamu yang paling berharga. Ketika hari itu tiba, Aku percaya akan ada orang-orang yang berkata: kasih Tuhan sungguh luar biasa, dan esensi-Nya begitu kudus—di dalam Tuhan tidak ada tipu muslihat, tidak ada kejahatan, tidak ada iri hati, dan tidak ada perselisihan, tetapi hanya ada kebenaran dan autentisitas; semua yang Tuhan miliki dan siapa diri-Nya sudah seharusnya didambakan oleh manusia, dan manusia juga sudah seharusnya mengejar dan mencita-citakan hal itu. Atas dasar apakah kemampuan manusia untuk mencapai hal itu dibangun? Itu dibangun di atas dasar pemahaman mereka akan watak Tuhan, dan pemahaman mereka akan esensi Tuhan. Jadi, memahami watak Tuhan dan apa yang Dia miliki dan siapa diri-Nya, adalah pelajaran seumur hidup bagi setiap orang; ini adalah tujuan seumur hidup yang harus dikejar oleh setiap orang yang berusaha untuk mengubah watak mereka, dan berusaha mengenal Tuhan.
—Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Pekerjaan Tuhan, Watak Tuhan, dan Tuhan itu Sendiri III"
467. Tuhan sendiri adalah Tuhan sendiri. Dia tidak akan pernah menjadi bagian dari makhluk ciptaan, dan bahkan jika Dia menjadi anggota makhluk ciptaan, watak dan esensi dasar-Nya tidak akan berubah. Karena itu, mengenal Tuhan tidak sama dengan mengenal sebuah objek; mengenal Tuhan bukanlah membedah sesuatu, juga tidak sama dengan memahami seseorang. Jika manusia menggunakan konsep atau metodenya sendiri untuk mengenal sebuah objek atau memahami seseorang untuk mengenal Tuhan, maka dia tidak akan pernah bisa mendapatkan pengenalan akan Tuhan. Mengenal Tuhan tidak bergantung pada pengalaman atau imajinasi, dan karena itulah, engkau tidak boleh memaksakan pengalaman atau imajinasimu pada Tuhan; sekaya apa pun pengalaman atau imajinasimu, semua itu tetaplah terbatas. Terlebih lagi, imajinasimu tidak sesuai dengan fakta, apalagi dengan kebenaran, dan imaginasimu tidak sesuai dengan watak dan esensi benar Tuhan. Engkau tidak akan pernah berhasil jika bergantung pada imajinasimu untuk memahami esensi Tuhan. Satu-satunya jalan adalah ini: menerima semua yang datang dari Tuhan, lalu secara bertahap mengalami dan memahaminya. Akan ada hari di mana Tuhan akan mencerahkanmu supaya engkau benar-benar memahami dan mengenal Dia karena kerja samamu dan karena lapar dan hausmu akan kebenaran.
—Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik II"
468. "Takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan" serta mengenal Tuhan terhubung oleh benang-benang yang tak terhitung banyaknya yang tak dapat dipisahkan, dan hubungan di antara dua hal ini terbukti dengan sendirinya. Jika engkau ingin mencapai dirimu menjauhi kejahatan, engkau harus terlebih dahulu benar-benar takut akan Tuhan; jika engkau ingin benar-benar takut akan Tuhan, engkau harus terlebih dahulu memiliki pengenalan yang nyata akan Tuhan; jika engkau ingin memiliki pengenalan akan Tuhan, engkau harus terlebih dahulu mengalami firman Tuhan, masuk ke dalam kenyataan firman Tuhan, mengalami didikan dan pendisiplinan Tuhan, hajaran dan penghakiman-Nya; jika engkau ingin mengalami firman Tuhan, engkau harus terlebih dahulu berhadapan muka dengan firman Tuhan, berhadapan muka dengan Tuhan, dan memohon agar Tuhan mengatur orang, peristiwa, dan hal-hal serta segala macam lingkungan, agar engkau bisa berkesempatan untuk mengalami firman-Nya; jika engkau ingin berhadapan muka dengan Tuhan dan dengan firman Tuhan, engkau harus terlebih dahulu memiliki hati yang sederhana dan jujur, sikap yang menerima kebenaran, tekad untuk menanggung penderitaan, ketetapan hati dan keberanian untuk menjauhi kejahatan, serta aspirasi untuk menjadi makhluk ciptaan yang sejati .... Dengan cara ini, dengan bergerak maju selangkah demi selangkah, engkau akan semakin mendekat kepada Tuhan, hatimu akan menjadi semakin murni, dan setelah engkau semakin mengenal Tuhan, hidupmu dan nilai hidupmu akan menjadi semakin bermakna dan semakin bersinar. Sampai, suatu hari, engkau akan merasakan bahwa Sang Pencipta bukan lagi suatu teka-teki, bahwa Sang Pencipta tidak pernah bersembunyi darimu, bahwa Sang Pencipta tidak pernah menyembunyikan wajah-Nya darimu, bahwa Sang Pencipta tidak jauh darimu, bahwa Sang Pencipta bukan lagi Dia yang hanya dapat kaurindukan siang dan malam, tetapi tak dapat kaurasakan dengan perasaanmu, bahwa Dia benar-benar dan sungguh-sungguh berjaga di sampingmu, dan bahwa Dia sedang membekali hidupmu, serta mengendalikan takdirmu. Engkau akan merasa Dia tidak berada jauh di cakrawala, Dia juga tidak menyembunyikan diri-Nya jauh tinggi di balik awan, bahwa Dia berada tepat di sampingmu, berdaulat atas segala milikmu, dan bahwa Dia adalah segalanya, dan satu-satunya yang kaumiliki. Tuhan seperti ini memungkinkanmu untuk mengasihi dan memuja-Nya dari hatimu, melekat pada-Nya, dekat dengan-Nya, mengagumi-Nya, takut kehilangan Dia, dan tak mau lagi menyangkal-Nya, atau tidak lagi memberontak terhadap-Nya, tidak mau lagi menghindari-Nya atau menjaga jarak dari-Nya. Yang kauinginkan hanyalah memikirkan diri-Nya, engkau hanya ingin tunduk kepada-Nya, membalas semua yang telah Dia berikan kepadamu, dan menyerahkan diri pada kekuasaan-Nya. Engkau tidak lagi menolak untuk dibimbing, dibekali, diawasi, dan dilindungi oleh-Nya, tidak lagi menentang kedaulatan dan pengaturan-Nya mengenai dirimu. Engkau hanya ingin mengikut-Nya, menemani-Nya; engkau hanya ingin menerima-Nya sebagai satu-satunya hidupmu, menerima-Nya sebagai satu-satunya Tuanmu, sebagai satu-satunya Tuhanmu.
—Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Kata Pengantar"