8. Pengalaman Istimewa Saat Menyirami Pendatang Baru
Pada bulan Agustus 2021, aku menyirami para pendatang baru di gereja. Selama beberapa waktu, aku menyiram tiga pendatang baru secara daring. Ketiga orang baru ini sangat bersemangat untuk menghadiri pertemuan, tetapi desa mereka tidak memiliki internet, jadi mereka harus pergi jauh ke atas gunung untuk mendapatkan koneksi, tetapi mereka tetap menghadiri setiap pertemuan. Saat mengobrol dengan mereka, aku mengetahui bahwa di dua desa tetangga mereka, masing-masing ada lebih dari seratus orang yang belum mendengar Injil Tuhan di akhir zaman. Aku merasa bertanggung jawab untuk memberi kesaksian tentang pekerjaan Tuhan kepada mereka dan membawa mereka ke hadapan Tuhan.
Selama pertemuan, aku mempersekutukan maksud Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia kepada ketiga pendatang baru itu, dan aku membacakan kepada mereka satu bagian dari firman Tuhan: "Segala bencana akan terjadi susul-menyusul; semua negara dan tempat akan mengalami bencana: wabah, kelaparan, banjir, kekeringan, dan gempa bumi di mana-mana. Bencana-bencana ini terjadi bukan di satu atau dua tempat saja, juga tidak akan berakhir dalam satu atau dua hari; sebaliknya, bencana-bencana ini akan meluas ke wilayah yang makin besar, dan akan bertambah parah. Selama waktu ini, segala macam wabah serangga akan muncul berturut-turut, dan fenomena kanibalisme akan terjadi di mana-mana. Inilah penghakiman-Ku atas berlaksa-laksa bangsa dan suku" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Perkataan Kristus pada Mulanya, Bab 65"). Setelah membaca firman Tuhan, aku bersekutu, "Firman Tuhan perlahan-lahan sedang digenapi, dan bencana makin membesar dari hari ke hari. Bukan hanya negara-negara lain yang mengalami bencana, tetapi Negara Wa kami (di Myanmar) juga dilanda pandemi yang parah. Sekarang kota-kota dan desa-desa sedang diberlakukan penutupan wilayah, dan banyak orang dikarantina. Karena tidak memiliki makanan atau air selama karantina, beberapa orang melompat hingga tewas, dan karena tidak mampu membayar biaya karantina setelah tertular penyakit, ada juga orang-orang yang gantung diri. Beberapa orang yang pergi bekerja tidak dapat pulang ke rumah karena pembatasan wilayah, dan mereka bahkan tidak bisa melihat anggota keluarganya yang meninggal untuk terakhir kalinya. Setiap hari, tak terhitung banyaknya orang yang terinfeksi penyakit, dan jumlah kematiannya tak terhitung. Kita mungkin baik-baik saja hari ini, tetapi tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi besok. Kita beruntung telah menerima pekerjaan Tuhan dan telah mendengar firman-Nya, dan kita memiliki perlindungan Tuhan di tengah-tengah bencana. Kita harus segera memberitakan Injil Tuhan kepada keluarga, tetangga, dan teman-teman kita, agar mereka juga dapat mendengar suara Tuhan, datang ke hadapan-Nya, mendapatkan kebenaran, dan menerima keselamatan-Nya. Jika kita tidak membagikan Injil kepada mereka sekarang, dan suatu hari mereka terinfeksi dan meninggal, tidakkah kita akan menyesal? Pada saat itu, bahkan jika kita menangis sejadi-jadinya, tidak akan ada gunanya. Apakah kalian bersedia memberitakan Injil ke desa kalian?" Setelah mendengar ini, mereka semua setuju untuk melakukannya. Malam berikutnya, mereka membawa beberapa calon penerima Injil. Di antara mereka ada anak kepala desa dan seorang akuntan yang cukup disegani di desa. Pekerja penginjilan mempersekutukan kebenaran mengenai cara membedakan antara Tuhan yang benar dan tuhan-tuhan palsu kepada mereka, dan tentang bagaimana orang dapat dilindungi saat menghadapi bencana hanya dengan percaya kepada Tuhan yang benar, dan tentang bagaimana percaya pada tuhan-tuhan palsu hanya akan membawa pada bencana dan akhirnya ke lautan api dan belerang. Beberapa dari mereka, setelah mendengar firman Tuhan, mengerti bahwa hanya Tuhan Yang Mahakuasa-lah satu-satunya Tuhan yang benar yang dapat menyelamatkan seluruh umat manusia. Mereka teringat akan penderitaan yang mereka alami ketika ditipu oleh Iblis saat menyembah tuhan-tuhan palsu, dan mereka senang mendengar firman Tuhan, mereka terharu hingga menangis. Kemudian, mereka membawa kerabat dan teman-teman mereka yang kemanusiaannya baik untuk mendengar firman Tuhan. Dengan cara ini, hanya dalam waktu dua puluh hari, lebih dari seratus orang dari dua desa datang untuk mendengar Injil dan menyelidiki pekerjaan Tuhan, dan aku bertanggung jawab menyirami lebih dari enam puluh orang. Aku tidak pernah membayangkan bahwa begitu banyak orang akan menerima pekerjaan Tuhan di akhir zaman dalam waktu yang bersamaan.
Kemudian, makin banyak orang dari kedua desa itu datang untuk menyelidiki jalan yang benar. Seorang pejabat distrik dari desa tetangga mengetahui bahwa penduduk desa sedang mendengarkan khotbah kami, dan dia mengerahkan milisi desa untuk melakukan inspeksi dan patroli. Enam belas pendatang baru yang baru saja mulai menyelidiki jalan yang benar ditangkap, dan mereka juga didenda. Saat milisi berpatroli siang dan malam, penduduk desa lainnya tidak berani datang untuk mendengarkan khotbah di desa, dan beberapa bahkan berhenti datang ke gunung untuk pertemuan. Karena desa itu tidak memiliki akses internet, jika para pendatang baru itu tidak mencari cara untuk mengakses internet dan menghubungiku, sangat sulit untuk menghubungi mereka. Pada saat itu, aku merasa semuanya sudah berakhir. Jangankan memberitakan Injil kepada orang lain, bahkan orang-orang baru yang baru saja menerima pekerjaan Tuhan dalam dua hari terakhir ini mungkin tidak dapat tetap teguh. Saat itu, seorang pemimpin kelompok pertemuan naik ke gunung untuk mencari akses internet dan berhasil menghubungiku. Dia berkata, "Situasinya sangat buruk sekarang, polisi dan milisi berpatroli di mana-mana setiap hari. Bisakah kita berkumpul sebulan sekali saja?" Aku berpikir dalam hati, "Itu tidak bisa. Tingkat pertumbuhan rohani para pendatang baru ini masih rendah; mereka tidak mengerti banyak kebenaran dan perlu terus-menerus disiram. Apa pun yang terjadi, kita harus memastikan para pendatang baru itu bisa menghadiri pertemuan." Aku dan pemimpin kelompok itu menonton film dokumenter Dia yang Berdaulat Atas Segalanya. Aku bersekutu, kataku, "Ketika Musa memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir, di depan mereka ada Laut Merah, dan di belakang mereka ada pasukan yang mengejar. Tidak ada jalan ke depan, tetapi mereka menenangkan diri, berdoa kepada Tuhan, mengandalkan-Nya, dan Tuhan membukakan jalan bagi mereka. Mereka menyaksikan otoritas Tuhan. Tuhan membelah Laut Merah, dan tanah kering pun tersingkap di tengahnya. Bangsa Israel menyeberangi Laut Merah, sementara pasukan yang mengejar mereka tenggelam di laut. Ini menunjukkan bahwa Tuhan pasti akan menuntun orang-orang yang telah Dia tetapkan untuk diselamatkan." Aku kemudian membacakan kepadanya satu bagian dari firman Tuhan Yang Mahakuasa: "Dalam setiap langkah pekerjaan yang Tuhan lakukan pada manusia, di luarnya tampak sebagai interaksi antara manusia, seolah-olah timbul dari pengaturan manusia atau dari gangguan manusia. Namun di balik layar, setiap langkah pekerjaan, dan semua yang terjadi, adalah pertaruhan yang Iblis buat di hadapan Tuhan, dan menuntut orang-orang untuk tetap teguh dalam kesaksian mereka bagi Tuhan. Misalnya, ketika Ayub diuji: Di balik layar, Iblis bertaruh dengan Tuhan, dan yang terjadi kepada Ayub adalah perbuatan manusia, dan gangguan manusia. Di balik setiap langkah pekerjaan yang Tuhan lakukan di dalam diri engkau semua adalah taruhan Iblis dengan Tuhan—di balik semua itu ada peperangan" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Hanya Mengasihi Tuhan yang Berarti Sungguh-Sungguh Percaya kepada Tuhan"). Aku bersekutu, kataku, "Dari luar, tampaknya para pejabat itu yang menentang dan menghalangi kepercayaan kita kepada Tuhan, tetapi sebenarnya ini adalah gangguan dari Iblis. Iblis tidak ingin kita mendengar firman Tuhan, jadi dia menggunakan pejabat itu untuk menganiaya dan menangkap kita agar kita melepaskan iman kepada Tuhan. Sama seperti ketika Ayub diuji dan kehilangan seluruh kekayaannya, dari luar, tampak seperti perbuatan para perampok, tetapi pada kenyataannya, Iblislah yang mencobai dan menyerang Ayub. Ketika Ayub menghadapi semua ujian ini, dia tidak mengeluh kepada Tuhan, tetapi dia justru memuji nama Tuhan Yahweh. Saat melihat bahwa Ayub tidak mau meninggalkan Tuhan tidak soal bagaimana dia diganggu, Iblis akhirnya dipermalukan dan mundur. Sekarang jika kita sampai terkekang sehingga hanya bisa mendengar firman Tuhan sebulan sekali dalam menghadapi gangguan dan penganiayaan dari pejabat itu, bukankah itu berarti siasat Iblis telah berhasil? Jika kita tetap setia berkumpul dalam keadaan seperti ini, Iblis akan dipermalukan." Setelah mendengar persekutuanku, pemimpin kelompok itu berkata bahwa dia bersedia kembali dan mengundang para pendatang baru ini ke pertemuan. Melalui persekutuan pemimpin kelompok itu, para pendatang baru itu berkata satu per satu, "Mendengarkan firman Tuhan tidak melanggar hukum," "Tidak ada yang bisa terjadi kecuali Tuhan mengizinkannya," "Entah kami akan ditangkap atau tidak, itu ada di tangan Tuhan," "Iblis ingin menggunakan gangguan pemerintah untuk membuat kami meninggalkan iman kami dan menyeret kami ke neraka. Tidak peduli apa yang mereka lakukan pada kami, kami pasti akan mengikuti Tuhan dan tidak akan pernah meninggalkan iman kami." Meskipun situasinya sangat tegang, beberapa orang baru yang lebih bersemangat masih menemukan cara untuk mendapatkan sinyal internet untuk menghadiri pertemuan. Namun, karena tempat pertemuan mereka telah terbongkar, mereka tidak bisa lagi berkumpul dalam kelompok yang berisi enam puluh atau tujuh puluh orang seperti sebelumnya, dan kini setiap lokasi pertemuan hanya bisa menampung paling banyak sekitar dua puluh orang. Tepat saat kami bersiap untuk mengatur pertemuan yang lebih kecil, kami menghadapi kesulitan lain. Karena para pendatang baru itu hanya memiliki dua kartu SIM yang bisa mengakses internet, jika mereka harus mengadakan pertemuan secara terpisah, kartu SIM itu tidak akan cukup, sehingga beberapa penduduk desa tetap tidak bisa mendengar firman Tuhan. Selain itu, ada dua puluh orang yang menggunakan satu ponsel untuk pertemuan, ketika koneksinya buruk, beberapa orang pasti tidak bisa mendengar isi persekutuan dengan jelas. Ini tidak akan membuahkan hasil yang baik. Aku mulai berkecil hati. Segalanya terasa sangat sulit. Pada saat itu, aku berpikir, "Andai saja aku bisa pergi ke sana sendiri, maka aku bisa menyiram mereka secara langsung, dan mereka tidak akan terkekang karena kartu SIMnya kurang." Jadi aku berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, karena para pendatang baru yang kusirami sedang menghadapi situasi berbahaya dan tidak memiliki kartu SIM, banyak dari mereka tidak dapat mendengar firman-Mu. Tuhan, aku ingin pergi ke sana untuk menyiram mereka—mohon persiapkan kesempatan ini untukku."
Kemudian, aku menyampaikan pikiranku kepada penanggung jawab. Penanggung jawab setuju untuk mengizinkanku pergi ke daerah setempat. Malam itu, aku tiba di kediaman keluarga tuan rumah. Tepat pada saat itu, para pemimpin kelompok pendatang baru mengirimiku pesan, jadi aku meminta mereka untuk mengundang saudara-saudari ke pertemuan keesokan harinya pada siang hari, aku memberi tahu mereka untuk mengundang sebanyak mungkin orang dan mencari tempat tersembunyi. Keesokan harinya, kami tiba di tempat yang telah disepakati, dan aku tertegun. Yang membuatku takjub, kelompok yang terdiri atas lebih dari enam puluh pendatang baru itu muncul, dan satu per satu, mereka datang untuk menjabat tanganku dan memelukku, masing-masing dengan penuh semangat memperkenalkan diri. Mereka seperti sekawanan burung yang bersukacita, dan itu adalah sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya. Setelah pertemuan hari itu, mereka membantu kami mengundang para pendatang baru dari desa lain ke sebuah pertemuan. Pada hari ketiga, pemimpin kelompok setempat membawa kami menyusuri jalan setapak di gunung yang panjang, dan kami menemukan tempat yang sunyi dan tersembunyi. Sekitar lima puluh pendatang baru berdatangan. Namun, saat kami sedang berkumpul, seorang yang tidak percaya yang sedang menggembalakan sapi melihat kami. Aku berpikir, "Bagaimana jika dia melihatku? Apakah dia akan melaporkanku? Apakah pejabat atau polisi akan menangkapku?" Demi keselamatanku, aku berpikir untuk melarikan diri. Namun pada saat itu, aku teringat satu bagian dari firman Tuhan yang pernah kubaca sebelumnya: "Antikristus berusaha sekuat tenaga untuk melindungi keselamatan mereka sendiri. Yang mereka pikirkan adalah: 'Aku benar-benar harus menjamin keselamatanku. Siapa pun yang tertangkap, kupastikan itu bukan aku.' ... Jika suatu tempat dianggap aman, antikristus akan memilih untuk bekerja di tempat itu, dan mereka akan benar-benar tampak sangat proaktif dan positif, memamerkan 'rasa tanggung jawab' dan 'kesetiaan' mereka yang besar. Jika pekerjaan tertentu mengandung risiko dan ada kecenderungan insiden akan terjadi, membuat pelakunya ditemukan oleh si naga merah yang sangat besar, mereka mencari-cari alasan dan menolaknya, serta mencari kesempatan untuk melarikan diri darinya. Begitu ada bahaya, atau begitu ada tanda bahaya, mereka memikirkan cara untuk melepaskan diri dan meninggalkan tugas mereka, tanpa memedulikan saudara-saudari. Mereka hanya memikirkan cara menyelamatkan diri mereka sendiri dari bahaya. Pada dasarnya, mereka mungkin sudah bersiap-siap: begitu bahaya muncul, mereka segera menghentikan pekerjaan yang sedang mereka lakukan, tanpa peduli bagaimana pekerjaan gereja akan berjalan, atau kerugian apa yang mungkin ditimbulkan hal itu terhadap kepentingan rumah Tuhan, atau keselamatan saudara-saudari. Yang penting bagi mereka adalah melarikan diri. Mereka bahkan memiliki 'kartu as tersembunyi,' sebuah rencana untuk melindungi diri mereka sendiri: begitu bahaya menimpa mereka atau mereka ditangkap, mereka mengatakan semua yang mereka ketahui, membersihkan diri dan membebaskan diri dari semua tanggung jawab demi melindungi keselamatan mereka sendiri. Inilah rencana yang mereka persiapkan" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, Bab Sembilan (Bagian Dua)). Aku berpikir tentang bagaimana para antikristus dapat melaksanakan tugas dan pekerjaan mereka secara normal ketika tidak ada bahaya dan secara lahiriah tampak melindungi kepentingan gereja, tetapi ketika bahaya muncul, hal pertama yang mereka pikirkan adalah keselamatan mereka sendiri, dan mereka tidak mempertimbangkan kepentingan rumah Tuhan. Sebaliknya, mereka memandang keselamatan mereka sendiri sebagai hal yang paling penting. Para antikristus sama sekali tidak punya hati nurani atau nalar. Setelah merenung, aku melihat bahwa perilakuku sendiri sama seperti perilaku seorang antikristus. Pada awalnya, aku bisa membawa para pendatang baru ke gunung untuk berkumpul, dari luar, aku tampaknya mengerjakan beberapa hal dan menderita kesulitan, tetapi ketika menyangkut keselamatanku sendiri, aku ingin meninggalkan tugasku dan melarikan diri. Aku menempatkan keselamatanku di atas segalanya. Aku tidak pernah mempertimbangkan perlunya mengatur para pendatang baru ini terlebih dahulu. Aku hanya peduli tentang menyelamatkan diriku dari bahaya. Aku benar-benar egois! Ada begitu banyak pendatang baru, jika mereka ditangkap, kemungkinan besar mereka akan menjadi lemah dan mundur karena tingkat pertumbuhan mereka masih rendah. Aku hanya sendirian, jadi lebih baik aku sendiri yang ditangkap daripada banyak orang lain yang ditangkap. Selama saudara-saudari aman, hanya itu yang penting. Saat memikirkan hal ini, aku langsung membawa para pendatang baru itu ke tempat yang aman. Ada beberapa yang bersembunyi di parit, yang lain di semak belukar, ada juga yang di hutan. Setelah penggembala itu pergi, kami melanjutkan pertemuan, dan mengatur beberapa saudara untuk berjaga-jaga. Seusai pertemuan, kami menetapkan waktu untuk pertemuan berikutnya.
Belakangan, lebih dari seratus orang menerima pekerjaan Tuhan di akhir zaman. Pada waktu itu, jumlah pendatang baru dari kedua desa itu hampir mencapai dua ratus orang. Banyaknya orang yang datang untuk mendengar firman Tuhan menarik perhatian pejabat itu lagi, dan dia memerintahkan orang-orang tidak percaya di desa dan bahkan murid-murid sekolah dasar untuk berpatroli di gunung. Pejabat itu juga mengatakan bahwa jika mereka menemukan tempat pertemuan kami, mereka akan diberi hadiah masing-masing seratus yuan. Pada waktu itu, patroli tidak hanya ada di desa, tetapi juga dalam jumlah banyak di gunung. Jadi situasinya terus memburuk, tetapi setiap hari, para pendatang baru terus membawa kerabat dan teman-teman mereka untuk mendengar firman Tuhan, dan bahkan kepala desa dan wakil kepala desa dari kedua desa datang untuk mendengar firman Tuhan. Karena penganiayaan dari pejabat itu, kami harus mengubah tempat pertemuan kami setiap hari. Terkadang kami berkumpul di ladang, terkadang di daerah berpasir, terkadang di hutan, dan terkadang kami harus melakukan perjalanan jauh ke pegunungan untuk berkumpul. Pada waktu itu, ketika aku pergi untuk menyirami para pendatang baru, aku melewati rumah pejabat itu setiap hari. Rumahnya ada di ruteku, aku tidak bisa menghindarinya, dan aku khawatir pejabat dan polisi akan melihatku lalu tiba-tiba mencegat dan menangkapku tepat di depan gerbang rumah pejabat itu. Apa yang akan kulakukan jika aku ditangkap, dan mereka memberi tahu keluargaku? Mereka sudah tidak mendukung imanku; tidakkah mereka akan makin menganiayaku jika mereka tahu bahwa aku sudah ditangkap? Bayangan tentang hal ini terus muncul di benakku setiap hari, dan hanya memikirkannya saja sudah membuatku sangat takut. Setiap hari ketika aku pergi untuk menyirami para pendatang baru, aku sangat tegang. Ketika melewati rumah pejabat itu, aku bahkan hampir tidak berani bernapas, dan aku akan melaju kencang dengan sepeda motorku, bahkan tidak berani menoleh ke belakang. Aku hidup dalam keadaan ketakutan, diam-diam berseru kepada Tuhan dari hatiku. Aku teringat sebuah lagu pujian dari firman Tuhan, "Yang Tuhan Sempurnakan adalah Iman.": "Dalam pekerjaan pada akhir zaman, iman dan kasih yang terbesar dituntut dari kita, dan kita mungkin tersandung akibat kecerobohan yang paling kecil, karena tahap pekerjaan ini berbeda dari semua pekerjaan sebelumnya: yang sedang Tuhan sempurnakan adalah iman orang-orang, yang tidak dapat dilihat dan diraba. Yang Tuhan lakukan adalah mengubah firman menjadi iman, menjadi kasih, dan menjadi hidup. Orang-orang harus mencapai titik di mana mereka telah menanggung ratusan pemurnian dan memiliki iman yang lebih besar dari iman Ayub, yang mengharuskan mereka untuk menanggung penderitaan luar biasa dan segala macam siksaan tanpa pernah meninggalkan Tuhan. Ketika mereka tunduk sampai mati dan memiliki iman yang besar kepada Tuhan, tahap pekerjaan Tuhan ini selesai" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Jalan ... (8)"). Ketika aku menyanyikan lagu pujian ini, hatiku rasanya dikuatkan. Aku mengerti bahwa Tuhan mengizinkan situasi ini terjadi agar aku dapat mengalami firman-Nya dan untuk menguatkan imanku kepada-Nya. Sebelum datang ke desa ini, kurasa diriku memiliki iman yang besar kepada Tuhan, tetapi sekarang tingkat pertumbuhanku yang sebenarnya telah tersingkap. Aku bertanya pada diriku sendiri, "Mengapa aku begitu takut?" Sebenarnya itu karena aku takut, jika keluargaku tahu aku ditangkap karena percaya kepada Tuhan, mereka akan makin menganiayaku. Aku tidak percaya bahwa semua orang, peristiwa, dan hal-hal ada di tangan Tuhan. Imanku kepada Tuhan terlalu kecil. Tuhan menggunakan penganiayaan oleh pejabat itu untuk menyempurnakan imanku. Setelah memahami maksud Tuhan, aku pun bersedia untuk mengalami situasi ini. Kemudian, ketika aku pergi untuk menyiram para pendatang baru, aku masih melewati gerbang pejabat itu, dan aku masih merasakan sedikit ketakutan di dalam hatiku, tetapi diam-diam aku berdoa kepada Tuhan, meminta agar tidak terpengaruh dan dapat terus melaksanakan tugasku. Namun, penganiayaan dari pejabat itu menjadi lebih parah. Dia berkata bahwa siapa pun yang ketahuan berkumpul harus dilaporkan—500 yuan untuk melaporkan satu orang percaya, dan 1.000 yuan untuk dua orang. Aku pikir mereka sungguh-sungguh jahat, sama seperti PKT yang menganiaya orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Kami tidak melakukan kejahatan apa pun dengan percaya kepada Tuhan, tetapi mereka menggunakan segala cara untuk menangkap kami. Aku benar-benar membenci mereka di dalam hatiku. Agar tidak ditemukan oleh mereka, kami memindahkan pertemuan dari jam 10 pagi ke jam 6 pagi. Saat itu bulan Desember, dan musim dinginnya sangat dingin, dan kakiku bahkan terkena radang dingin, tetapi para pendatang baru itu tetap bersemangat datang ke pertemuan. Ada beberapa yang usianya di atas 60 tahun, beberapa datang bersama seluruh keluarga mereka, dan beberapa datang membawa bayi yang baru berusia satu bulan ke gunung untuk menghadiri pertemuan. Saat melihat bahwa mereka tidak terpengaruh dan bahwa mereka secara aktif berpartisipasi dalam pertemuan, aku sangat terharu dan juga merasa malu, memikirkan bagaimana imanku tidak sekuat iman mereka. Aku juga membenci rezim Iblis ini, yang, demi menghentikan orang-orang mendengar firman Tuhan, mengerahkan semua orang di desa untuk berpatroli dan melaporkan orang-orang percaya. Meskipun demikian, pekerjaan penginjilan sama sekali tidak terpengaruh, dan Injil terus menyebar di daerah ini. Selain itu, patroli itu bahkan tidak pernah menemukan kami satu kali pun. Kami benar-benar bersyukur kepada Tuhan atas perlindungan-Nya!
Pada saat ini, situasi lain menimpaku. Suamiku yang tidak percaya tiba-tiba pulang dari militer. Dia seharusnya pulang untuk merayakan Tahun Baru, tetapi tanpa diduga, dia pulang lebih awal. Dia melihat aku sedang tidak di rumah dan menelepon untuk menanyakan ke mana aku pergi, menyuruhku untuk segera pulang keesokan paginya. Keesokan harinya, ketika dia melihat aku belum kembali, dia mengirimiku pesan, tetapi aku tidak membalas karena aku sedang berada di pertemuan dan tidak memiliki akses internet. Dia kemudian menelepon pamanku. Pamanku memakiku, mengatakan aku adalah seorang wanita yang tidak peduli pada keluarga, dan suamiku terus menelepon, mendesakku untuk pulang, bahkan mengancam akan menceraikanku jika aku tidak segera kembali. Aku merasa lemah. Keluargaku sudah tidak mendukung kepercayaanku kepada Tuhan, dan ibu mertuaku sering mendesak suamiku untuk menceraikanku. Jika aku tidak pulang, apakah suamiku akan benar-benar menceraikanku? Aku dianiaya oleh pejabat itu dan juga diancam cerai oleh suamiku. Hatiku sangat menderita, dan aku bertanya-tanya apakah aku sebaiknya pulang saja untuk beberapa hari. Tetapi aku tahu bahwa begitu aku kembali, akan sulit bagiku untuk pergi lagi. Tidak akan ada orang yang menyirami para pendatang baru ini. Aku tidak tahu apakah harus kembali atau tidak. Batinku terasa sangat sakit dan tersiksa, dan pada saat itu, aku mulai menyimpan keluhan. Mengapa Tuhan mengizinkan situasi ini menimpaku? Sekarang setelah suamiku kembali, bagaimana aku masih bisa melaksanakan tugasku? Mengapa Tuhan tidak melindungiku? Di dalam hatiku, aku terus merenungkan pertanyaan ini, "Apa maksud Tuhan dalam hal ini?" Saat aku merenung, tiba-tiba aku teringat akan firman Tuhan: "Dalam mengukur apakah orang mampu tunduk kepada Tuhan atau tidak, yang terpenting lihatlah apakah mereka memiliki keinginan yang berlebihan atau motif tersembunyi terhadap-Nya atau tidak. Jika orang selalu mengajukan tuntutan terhadap Tuhan, itu membuktikan bahwa mereka tidak tunduk kepada-Nya. Apa pun yang terjadi padamu, jika engkau tidak menerima bahwa hal itu adalah dari Tuhan, dan engkau tidak mencari kebenaran, dan engkau selalu membantah untuk membela dirimu dan selalu merasa bahwa hanya engkaulah yang benar, dan jika engkau bahkan mampu meragukan bahwa Tuhan adalah kebenaran dan keadilan, maka engkau akan berada dalam masalah. Orang-orang semacam itu adalah yang paling congkak dan memberontak terhadap Tuhan. Orang yang selalu mengajukan tuntutan terhadap Tuhan tidak mampu benar-benar tunduk kepada-Nya. Jika engkau mengajukan tuntutan terhadap Tuhan, ini membuktikan bahwa engkau sedang mencoba bertransaksi dengan Tuhan, bahwa engkau sedang memilih kehendakmu sendiri, dan bertindak berdasarkan kehendakmu sendiri. Dalam hal ini, engkau sedang mengkhianati Tuhan, dan tidak memiliki ketundukan. Mengajukan tuntutan terhadap Tuhan itu saja adalah hal yang tidak bernalar; jika engkau sungguh-sungguh percaya bahwa Dia adalah Tuhan, engkau tidak akan berani mengajukan tuntutan terhadap-Nya, engkau juga akan merasa tidak memenuhi syarat untuk mengajukan tuntutan terhadap-Nya, entah engkau menganggap tuntutanmu itu masuk akal atau tidak. Jika engkau sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, dan percaya bahwa Dia adalah Tuhan, maka engkau hanya akan menyembah dan tunduk kepada-Nya, tidak ada pilihan lain" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Manusia Mengajukan Terlalu Banyak Tuntutan Terhadap Tuhan"). Aku menyadari bahwa aku persis seperti yang Tuhan ungkapkan. Ketika Tuhan mengatur situasi yang sesuai dengan keinginanku, aku bersedia untuk tunduk, tetapi ketika situasi itu tidak sesuai dengan keinginanku, aku tidak mau tunduk dan terus membuat tuntutan yang tidak masuk akal kepada Tuhan. Aku berpikir bahwa karena aku sedang melaksanakan tugasku, Tuhan seharusnya membuat segalanya berjalan lancar bagiku, dan bahwa karena aku sedang melaksanakan tugasku dan memberitakan Injil, Tuhan seharusnya menjaga dan melindungiku dari penganiayaan dan gangguan suamiku dan tidak membiarkan dia pulang lebih awal, karena aku tidak akan bisa lagi memberitakan Injil jika dia pulang ke rumah. Aku berdebat dengan Tuhan di dalam hatiku, ingin Dia mengikuti tuntutanku, dan ketika Dia tidak melakukannya, aku merasa bahwa pengaturan-Nya tidak sesuai. Sebelum aku meninggalkan rumah untuk memberitakan Injil, meskipun suamiku menghalangiku untuk percaya kepada Tuhan, aku tidak benar-benar dikekang olehnya, dan aku masih bisa menghadiri pertemuan dan melaksanakan tugasku secara normal. Ketika aku melihat orang lain diganggu oleh anggota keluarga mereka, tidak dapat melaksanakan tugas mereka atau takut untuk menghadiri pertemuan, aku merasa tingkat pertumbuhanku sudah bertambah dan aku sudah bisa tunduk kepada Tuhan. Sekarang, akhirnya aku melihat dengan jelas tingkat pertumbuhanku yang sebenarnya. Meskipun situasi ini tidak sejalan dengan gagasanku, ini adalah kesempatan yang baik bagiku untuk memahami diriku sendiri. Biasanya, ketika aku berada dalam situasi yang baik, aku tidak pernah menghampiri hadirat Tuhan untuk mencari kebenaran, aku juga tidak merenungkan atau mengenali kerusakanku. Melalui penyingkapan dari situasi ini, aku menyadari bahwa aku masih bisa berdebat dengan Tuhan dan bertindak sesuka hati. Aku benar-benar tidak masuk akal!
Aku memikirkan tentang para pendatang baru yang sangat mendambakan firman Tuhan. Tidak peduli seberapa dingin cuacanya, seberapa jauh perjalanannya, atau seberapa buruk situasinya, mereka tetap bertekun menghadiri pertemuan. Jika aku pulang, siapa yang akan menyiram mereka? Namun jika aku tidak kembali, aku terancam akan diceraikan. Tepat ketika aku kesulitan untuk memutuskan, aku teringat satu bagian dari firman Tuhan yang pernah dibagikan oleh penanggung jawab: "Sadarkah engkau akan beban yang engkau pikul, akan amanatmu, dan tanggung jawabmu? Di manakah rasa bermisimu yang bersejarah itu? Bagaimana engkau akan melayani dengan baik sebagai seorang tuan di masa yang akan datang? Apakah engkau memiliki perasaan yang kuat untuk menjadi tuan? Bagaimana engkau akan menjelaskan tentang tuan atas segala sesuatu? Apakah itu berarti benar-benar tuan atas semua makhluk hidup dan atas semua hal jasmani di dunia? Rencana apa yang engkau miliki bagi kemajuan tahap pekerjaan berikutnya? Berapa banyak orang yang menantikanmu untuk menggembalakan mereka? Apakah tugasmu berat? Mereka miskin, menyedihkan, buta, dan bingung, meratap dalam kegelapan—di manakah jalan itu? Betapa mereka merindukan terang, seperti bintang jatuh, untuk tiba-tiba turun dan melenyapkan kekuatan kegelapan yang telah menindas manusia bertahun-tahun lamanya. Mereka berharap dengan cemas dan merindukan hal ini siang dan malam, untuk itu—siapa yang dapat mengetahui sepenuhnya? Bahkan di hari ketika cahaya melintas, orang-orang yang sangat menderita ini tetap terkurung di penjara bawah tanah yang gelap, tanpa harapan kebebasan; kapankah mereka akan berhenti menangis? Yang mengerikan adalah kemalangan dari roh-roh yang rapuh ini, yang tidak pernah diberi istirahat, dan yang sudah lama diikat dalam keadaan seperti ini oleh ikatan tanpa ampun dan sejarah yang membeku. Dan, siapa yang pernah mendengar suara ratapan mereka? Siapa yang pernah melihat keadaan mereka yang menyedihkan? Pernahkah terlintas dalam benakmu betapa sedih dan cemasnya hati Tuhan? Bagaimana Dia sanggup menyaksikan manusia lugu yang telah Dia ciptakan dengan tangan-Nya sendiri, menderita siksaan seperti itu? Manusia, bagaimanapun juga, adalah korban yang telah diracuni. Dan walaupun manusia telah bertahan hingga sekarang, siapa yang pernah mengetahui bahwa umat manusia sudah lama diracuni oleh si jahat? Sudah lupakah engkau bahwa engkau adalah salah satu dari korban-korban itu? Bersediakah engkau berjuang, demi kasihmu kepada Tuhan, untuk menyelamatkan semua orang-orang yang bertahan ini? Tidak bersediakah engkau mencurahkan segenap tenagamu untuk membalas kebaikan Tuhan, yang mengasihi manusia seperti darah dan daging-Nya sendiri? Kesimpulannya, bagaimana engkau menafsirkan tentang dipakai oleh Tuhan untuk menjalani hidup yang luar biasa? Apakah engkau sungguh-sungguh memiliki ketetapan hati dan keyakinan untuk menjalani hidup yang penuh makna sebagai orang saleh yang melayani Tuhan?" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Bagaimana Seharusnya Engkau Mengelola Misimu yang akan Datang?"). Tuhan telah menampakkan diri dan telah bekerja selama bertahun-tahun, tetapi banyak orang masih tidak tahu dan menyembah tuhan-tuhan palsu, hidup dalam tipu daya Iblis. Kami, yang telah menerima Injil Tuhan terlebih dahulu, memiliki tanggung jawab untuk memberi kesaksian tentang pekerjaan Tuhan kepada mereka agar mereka dapat mendengar suara Tuhan dan menghampiri hadirat Tuhan sesegera mungkin. Saat mengingat kembali pertemuan-pertemuan dengan para pendatang baru ini, ketika kami membacakan firman Tuhan kepada mereka, tanpa memandang usia atau jenis kelamin, mereka semua memiliki kerinduan di mata mereka, seolah mereka baru saja melihat cahaya menyinari dunia yang gelap, seolah-olah mereka telah lama menantikan cahaya itu datang dan akhirnya menemukan harapan. Bahkan jika pejabat itu menganiaya atau mendenda mereka, bahkan jika anak mereka baru berusia satu bulan, dan tidak peduli seberapa jauh perjalanannya, mereka tidak mau melewatkan satu pertemuan pun untuk mendengar firman Tuhan, dan mereka berharap dapat berkumpul sepanjang hari untuk mendengar firman Tuhan. Mereka tidak takut pada penganiayaan pemerintah, melainkan mereka takut tidak bisa mendengar firman Tuhan dan berkumpul. Beberapa pendatang baru berkata, "Saudari, jangan takut. Kita bisa melakukan perang gerilya dengan Iblis. Ketika mereka naik ke gunung, kita bisa turun, dan kita akan selalu bisa menemukan cara untuk berkumpul." Mendengar ini sungguh mengharukan. Jika aku meninggalkan mereka begitu saja, sehingga mereka tidak dapat mendengar firman Tuhan, hati nuraniku akan mengecamku. Aku berpikir tentang bagaimana Tuhan telah mengungkapkan semua kebenaran untuk menyucikan dan menyelamatkan umat manusia, dan bagaimana aku telah menikmati penyiraman dan perbekalan firman Tuhan, memahami banyak misteri kebenaran, dan menerima jalan untuk membuang watakku yang rusak. Tuhan sudah memberiku begitu banyak, dan Dia sudah sangat mengasihiku! Aku terus berkata bahwa aku akan melaksanakan tugasku dengan baik untuk membalas kasih Tuhan, dan bahwa aku tidak akan mengecewakan Tuhan atau menyia-nyiakan kasih-Nya kepadaku, tetapi karena aku takut suamiku akan menceraikanku, aku ingin meninggalkan tugasku dan meninggalkan para pendatang baru itu. Yang tidak kupikirkan adalah ini: Jika aku benar-benar pulang, dan pejabat itu terus menganiaya mereka, mengatakan bahwa jika mereka tertangkap, mereka akan didenda atau dipenjara, mereka akan menjadi lemah dan takut, dan tidak berani menghadiri pertemuan. Jika tidak ada yang menyiram mereka, apakah mereka akan menjadi lemah dan menarik diri? Kerinduan mereka begitu besar sehingga demi mendengar firman Tuhan, mereka sudah tiba dan menungguku di tempat pertemuan sebelum fajar. Jika mereka tidak bisa mendengar firman Tuhan, apakah mereka akan tersiksa dan merasa pedih? Jika aku pergi begitu saja, bisakah aku hidup tenang dengan hati nuraniku dan berbuat benar terhadap mereka? Jika aku meninggalkan para pendatang baru ini karena takut bercerai, sehingga mereka menjadi lemah dan mundur, aku tidak akan bisa menunjukkan wajahku di hadapan Tuhan! Makin aku memikirkannya, makin aku merasa berutang kepada Tuhan.
Kemudian, aku teringat satu bagian dari firman Tuhan Yang Mahakuasa: "Ketika Tuhan bekerja, memedulikan seseorang, dan memeriksa orang ini, dan ketika Dia menyukai dan berkenan atas orang ini, Iblis juga akan menguntit orang ini, berusaha menyesatkan orang ini dan sangat melukai dirinya. Jika Tuhan ingin mendapatkan orang ini, Iblis akan berusaha sekuat tenaga untuk menghalangi Tuhan, menggunakan berbagai cara jahat untuk mencobai, mengganggu, dan merusak pekerjaan yang Tuhan lakukan demi mencapai tujuan tersembunyinya. Apa tujuan ini? Iblis tidak ingin Tuhan mendapatkan siapa pun; Iblis ingin merebut orang-orang yang ingin Tuhan dapatkan, dia ingin mengendalikan mereka, menguasai mereka sehingga mereka menyembahnya, sehingga mereka bergabung dengannya untuk melakukan perbuatan-perbuatan jahat, dan menentang Tuhan. Bukankah ini motif Iblis yang jahat dan keji? ... Dalam peperangan melawan Tuhan dan mengikuti di belakang-Nya, tujuan Iblis adalah untuk menghancurkan semua pekerjaan yang Tuhan ingin lakukan, untuk merasuki dan mengendalikan orang-orang yang Tuhan ingin dapatkan, untuk sepenuhnya memusnahkan orang-orang yang Tuhan ingin dapatkan. Jika mereka tidak dimusnahkan, mereka menjadi milik Iblis, untuk dipakai olehnya—inilah tujuannya" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik IV"). Saat merenungkan firman Tuhan, aku menyadari bahwa sampai ke mana pun jangkauan pekerjaan Tuhan, Iblis akan menimbulkan gangguan. Tuhan ingin mendapatkan mereka yang benar-benar percaya kepada-Nya, tetapi Iblis menggunakan pemerintah dan pejabat itu untuk menganiaya mereka. Iblis mengerahkan segala upaya, menggunakan sumber daya manusia dan keuangan agar orang-orang berhenti percaya kepada Tuhan. Ketika Iblis melihat bahwa penganiayaan semacam itu tidak dapat mencapai tujuannya, dia mengubah taktiknya, membuat suamiku mengancamku dengan perceraian, mencoba memaksaku meninggalkan desa, karena dengan begitu, tidak akan ada yang menyiram para pendatang baru ini, sehingga mereka tidak akan bisa mendengar firman Tuhan dan perlahan-lahan menjadi lemah dan mundur. Iblis benar-benar hina dan tidak tahu malu! Jika aku pulang, bukankah aku akan jatuh ke dalam tipu muslihat Iblis? Setelah melihat dengan jelas niat licik Iblis, aku pun bertekad untuk sungguh-sungguh menyirami para pendatang baru ini dengan baik. Aku kemudian berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, aku tidak akan kembali. Aku akan bekerja sama dengan-Mu untuk menyiram para pendatang baru di kedua desa ini dengan baik. Bahkan jika suamiku menceraikanku, aku tidak akan pulang." Setelah mempersiapkan diri untuk bercerai, yang tidak pernah kuduga adalah keesokan harinya, suamiku mengirimiku pesan yang menyuruhku untuk menjaga diri baik-baik, mengatakan bahwa karena cuaca dingin, aku harus memakai lebih banyak pakaian dan lebih berhati-hati saat memberitakan Injil. Dia juga berkata aku bisa kembali kapan pun aku mau dan dia bahkan mengirimiku 4.000 yuan untuk membeli pakaian musim dingin. Aku benar-benar bersyukur kepada Tuhan!
Pada hari-hari berikutnya, meskipun aku tidak lagi dikekang oleh suamiku, penganiayaan dari pejabat itu bukan hanya tidak berhenti, tetapi bahkan makin parah. Kemudian, aku mendengar lagu pujian pengalaman "Dalam Mengikuti Kristus, Aku Takkan Berpaling, Meskipun sampai Mati," dan itu benar-benar menginspirasiku. Aku mendapatkan iman yang kubutuhkan untuk mengalami situasi ini.
1 Iblis, naga merah yang sangat besar, menindas dan menangkap umat pilihan Tuhan dengan gila-gilaan. Mereka yang mengikuti Kristus mempertaruhkan nyawa demi melaksanakan tugas mereka. Suatu hari nanti, aku mungkin akan ditangkap dan dianiaya karena bersaksi tentang Tuhan. Dalam hatiku, aku memahami dengan jelas bahwa ini adalah penganiayaan demi kebenaran. Mungkin hidupku akan lenyap seperti kembang api yang sekejap. Dalam hidup ini, mengikuti dan bersaksi tentang Kristus memenuhi hatiku dengan kebanggaan. Sekalipun aku tak bisa menyaksikan agungnya perluasan Kerajaan yang belum pernah terjadi, aku tidak akan menyesal ataupun mengeluh, dan aku akan mempersembahkan harapan terbaikku. Sekalipun aku tidak bisa menyaksikan hari ketika Kerajaan terwujud, hari ini, dapat memberi kesaksian untuk mempermalukan Iblis saja sudah cukup bagiku.
2 Anak manusia pada akhir zaman mengungkapkan kebenaran, yang menggugah hati yang tak terhitung banyaknya. Aku menyadari bahwa semua firman Tuhan adalah kebenaran, jadi aku mengikuti-Nya. Suatu hari nanti, aku mungkin akan ditangkap dan menjadi martir karena memberitakan Injil, tetapi orang kudus yang tak terhitung banyaknya akan meneruskan nyala api Injil Kerajaan. Entah berapa jauh lagi aku dapat menempuh jalan memberitakan Injil, tetapi selama masih hidup, aku akan menyebarluaskan firman Tuhan dan bersaksi bagi Kristus. Aku berlari hanya untuk mengikuti kehendak Tuhan dan menyelesaikan amanat-Nya. Mempersembahkan raga dan hatiku untuk bersaksi bagi Kristus adalah kehormatan bagiku. Penganiayaan dan kesengsaraan tak akan bisa menghancurkanku; kobaran api tungku justru memurnikan emas murni. Di Tiongkok, tanah naga merah yang sangat besar, muncul sekelompok pemenang.
Firman Tuhan tersebar ke seluruh dunia; terangnya telah muncul di antara umat manusia. Kerajaan Kristus dibentuk dan didirikan melalui firman Tuhan. Kegelapan memudar, dan fajar kebenaran telah menyingsing. Sekelompok pemenang telah memberi kesaksian yang berkumandang bagi Tuhan.
—Ikuti Anak Domba dan Nyanyikan Lagu Baru
Setelah mendengar lagu pujian ini, hatiku sangat terharu dan sangat terinspirasi. Meskipun aku mungkin ditangkap dan dianiaya karena menyiram para pendatang baru dari kedua desa ini, dan aku akan ditangkap dan dianiaya sampai mati sebelum melihat hari ketika Tuhan dimuliakan, aku tidak akan menyesalinya. Hari ini, aku benar-benar merasa terhormat karena dapat menerima pekerjaan Tuhan di akhir zaman dan menyebarluaskan Injil Kerajaan-Nya. Saat menyadari hal ini, aku mendapatkan lebih banyak iman untuk mengalami situasi ini.
Pejabat itu mengetahui bahwa kami berkumpul setiap jam 6 pagi, dan karena itu dia menyalakan api di halamannya pada jam 5 dan menunggu kami. Ketika aku mengendarai sepeda motorku melewati rumahnya, aku mematikan lampu motor, atau mematikan mesin dan mendorongnya, karena takut terlihat olehnya. Kami tidak berani menyalakan senter ketika kami naik gunung, dan terkadang, ketika hujan, kami berkumpul di rumah-rumah terpencil milik saudara-saudari di desa. Agar tidak ketahuan, ketika pertemuan berakhir, beberapa saudara-saudari membawa pulang kayu bakar, sementara yang lain menggiring ternaknya pulang, dan beberapa memetik sayuran liar untuk dibawa pulang. Meskipun pejabat itu menyalakan api di halamannya dan menunggu kami, bahkan satu kali pun dia tidak pernah menemukanku. Aku tahu bahwa semua ini ada di tangan Tuhan, dan bahwa Dia telah membutakan mata pejabat itu. Jika Tuhan tidak mengizinkan bahaya menimpa kami, dia tidak akan menemukan kami. Mengalami situasi seperti itu membantuku mendapatkan pemahaman tentang kemahakuasaan dan kedaulatan Tuhan. Kemudian, orang-orang di kedua desa ini, kecuali pejabat itu, istrinya, dan beberapa orang yang kemanusiaannya buruk, semuanya menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa di akhir zaman. Bahkan saudara laki-laki, saudara perempuan, ipar perempuan, dan ayah mertua pejabat itu semuanya menerimanya. Pada akhirnya, kami terus memberitakan Injil kepada orang-orang di desa lain melalui mereka, dan pada waktu itu, sekitar tujuh puluh hingga delapan puluh orang menerima pekerjaan Tuhan. Tidak peduli bagaimana pejabat itu menganiaya kami, para pendatang baru ini tetap aktif datang ke pertemuan, dan jumlah pendatang baru terus meningkat. Ini benar-benar hasil dari pekerjaan Roh Kudus. Aku melihat bahwa tidak peduli metode apa yang digunakan Iblis, dia tidak dapat menghalangi penyebaran pekerjaan penginjilan.
Selama periode ini, meskipun aku mengalami kesulitan fisik, dan aku juga mengalami penganiayaan dari pemerintah dan gangguan dari suamiku, yang cukup menyakitkan pada saat itu, aku menuai banyak hasil. Syukur kepada Tuhan!