64. Kesadaran Seorang Pemimpin Palsu
Pada tahun 2019, aku terpilih sebagai pemimpin gereja, dan aku bersumpah pada diriku bahwa aku akan melaksanakan tugasku dengan baik. Setelah memulai posisi baruku, setiap hari aku disibukkan dengan pertemuan, mengatasi kesulitan dan masalah dalam tugas saudara-saudariku dan menindaklanjuti kemajuan pekerjaan kami. Semua ini membuatku sangat terpenuhi. Setelah beberapa waktu, karena aku harus menangani beberapa pekerjaan urusan umum, beban kerjaku pun bertambah sangat banyak. Aku kerja lembur setiap hari dan merasa hampir tidak bisa mengimbanginya. Kupikir, "Bertanggung jawab atas seluruh pekerjaan itu membuatku mengkhawatirkan banyak hal dan ini jauh lebih melelahkan. Setiap hari pikiranku seperti pegas jarum jam yang terus diputar. Ini tidak semudah hanya menjalankan satu tugas saja." Lalu, aku menghadiri pertemuan kelompok yang diawasi oleh Saudari Zhao Jing. Kupikir, "Dahulu, saat aku bekerja sama dengan Zhao Jing, dia sangat bertanggung jawab dalam tugasnya dan dengan aktif mencari kebenaran untuk mengatasi kesulitan apa pun yang dia hadapi. Dia mengawasi pekerjaan di kelompok ini, jadi aku tidak perlu begitu khawatir." Setelah itu, aku jarang menghadiri pertemuan dengan kelompok mereka. Suatu malam, beberapa saudara-saudari menulis surat untuk menunjukkan bahwa pekerjaan kelompok Zhao Jing memiliki beberapa penyimpangan serta masalah dan mereka memintaku untuk segera menyelesaikannya. Aku bermaksud untuk mencari firman Tuhan terlebih dahulu dan mencari solusi, tetapi menyadari bahwa permasalahan ini tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat, kupikir, "Ini sangat larut dan aku sangat lelah. Aku tidak bisa melakukannya sekarang. Selain itu, aku sudah menulis surat kepada Zhao Jing tentang penyimpangan dan masalah ini. Dia adalah orang yang bertanggung jawab, jadi aku yakin dia akan berinisiatif untuk bersekutu serta mengatasinya, dan aku tidak perlu repot-repot melakukannya sendiri. Jika aku melakukan semuanya sendiri, bagaimana aku bisa menyelesaikan semuanya? Aku akan bersekutu dengan kelompok tentang hal itu saat pertemuan saja." Belakangan, begitu aku memeriksanya, aku melihat bahwa Zhao Jing telah bersekutu dengan kelompok itu, dan semuanya dapat menemukan jalan penerapan terkait permasalahan ini, yang membuatku bahkan makin yakin bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan adanya Zhao Jing sebagai penanggung jawab. Setelah itu, aku tidak lagi bertanya tentang pekerjaan kelompok.
Setelah beberapa waktu, aku menghadiri pertemuan lainnya dengan kelompok Zhao Jing. Aku menemukan bahwa dia terlalu bertele-tele dalam persekutuannya mengenai keadaannya, berbicara panjang lebar tanpa pernah berbicara dengan jelas. Kupikir, "Apa keadaannya buruk? Mengapa dia jadi begitu kacau?" Namun kemudian kupikir, "Dia mungkin hanya gugup karena aku di sini. Dia akan baik-baik saja begitu dia sedikit menenangkan dirinya. Ada beberapa hal lain yang harus kulakukan, jadi mungkin sebaiknya aku pergi saja dan membiarkannya melanjutkan pertemuan." Jadi aku pergi tanpa bersekutu dengannya. Lalu, aku mendapati bahwa pekerjaan kelompok itu tidak berjalan efektif. Kupikir, "Apa ada masalah dalam kelompok itu?" Namun kemudian aku memikirkan kembali, "Mereka baru mempersekutukan masalah dan penyimpangan dalam tugas mereka. Aku yakin semuanya baru saja memperbaiki diri, jadi wajar jika pekerjaan mereka saat ini kurang membuahkan hasil." Dengan pertimbangan ini, aku tidak memikirkannya lagi. Lalu, Saudari Wang Xinrui melapor kepadaku bahwa Zhao Jing terobsesi dengan status, tidak bisa bekerja sama secara harmonis dengan orang lain, dan dia tidak cocok untuk menjadi pemimpin kelompok. Kupikir, "Zhao Jing sedikit terlalu fokus pada status, tetapi dia memiliki rasa beban terhadap tugasnya. Jika dia tidak bisa bekerja sama secara harmonis dengan orang lain, itu pasti karena keadaannya yang buruk saat ini dan dikendalikan oleh watak rusaknya. Dia hanya membutuhkan waktu untuk memperbaiki dirinya." Saat memikirkan ini, aku berkata kepada Xinrui, "Zhao Jing bertanggung jawab dengan tugasnya dan dia masih sanggup melaksanakan tugas sebagai pemimpin kelompok. Jika dia memperlihatkan kerusakan, kita bisa lebih sering berusaha membantunya dan mengungkapkan serta menganalisis masalahnya. Aku sibuk hari ini, jadi aku tidak punya waktu, tetapi aku akan bersekutu dengannya nanti." Saat Xinrui mendengarku mengatakan itu, dia tidak berkata apa-apa lagi. Lalu, karena aku sibuk dengan tugas lainnya, aku lupa tentang persekutuan dengan Zhao Jing. Suatu malam, tiba-tiba aku teringat, "Oh tidak, aku lupa dengan keadaan Zhao Jing. Apa sebaiknya aku memeriksa keadaannya?" Namun kemudian kupikir, "Dia punya kualitas yang bagus, dan dahulu saat keadaannya buruk, dia bisa mencari kebenaran dan dengan cepat menyelesaikannya sendiri. Dia seharusnya juga bisa menyelesaikannya kali ini. Selain itu, dia tinggal sangat jauh. Seandainya aku pergi jauh-jauh ke sana, yang mana itu melelahkan, dan dia tidak ada di rumah, bukankah perjalanan yang kulakukan akan sia-sia? Lupakan saja, aku akan menanganinya di akhir bulan." Pada akhir bulan saat aku memeriksa pekerjaan mereka, aku sangat tercengang. Ada banyak sekali masalah serta penyimpangan dalam pekerjaan Zhao Jing, dan hasil pekerjaannya merosot ke titik terendah. Semua saudara-saudari yang diawasi olehnya pun berada dalam keadaan negatif, dan pekerjaan mereka sangat terpengaruh. Saat itulah aku baru menyadari betapa seriusnya hal ini. Aku segera menemui Zhao Jing untuk bersekutu dan menunjukkan masalahnya, tetapi dia menolak untuk menerimanya, membantah, berusaha membenarkan diri, dan tidak menunjukkan bahwa dia mengenal dirinya sendiri. Setelah berbicara dengan rekan kerjaku tentang Zhao Jing, kami memutuskan bahwa Zhao Jing tidak lagi cocok untuk menjadi pemimpin kelompok, dan dia akhirnya diberhentikan. Setelah itu, saudara-saudari juga melaporkan bahwa Zhao Jing sangat cemburu, mengabaikan tugasnya, dan terlibat dalam perselisihan. Hal ini menyebabkan seorang saudari merasa terkekang olehnya, menjadi tertekan, dan ingin meninggalkan tugasnya. Wang Xinrui telah melaporkan situasi Zhao Jing, tetapi dia ditindas dan dikucilkan oleh Zhao Jing. Para saudari lainnya juga merasa terkekang oleh Zhao Jing, dan tugas-tugas mereka pun terpengaruh, yang menyebabkan pekerjaan jadi terhambat selama beberapa bulan. Setelah Zhao Jing diberhentikan, bukan hanya tidak bertobat, dia bahkan membalas dendam pada orang lain. Terungkapnya hal ini tidak membuatnya memahami atau menyesali perbuatan jahatnya sama sekali. Lalu, karena aku gagal melakukan pekerjaan nyata, mengabaikan tugasku, dan tidak memberhentikan Zhao Jing tepat waktu, yang menyebabkan kerugian serius bagi pekerjaan gereja, aku juga diberhentikan. Ini membuatku sangat menderita. Saat itulah aku baru mulai bertanya pada diriku sendiri mengapa aku begitu buta dalam mengenali kecemburuan dan perselisihan terus-menerus yang dilakukan Zhao Jing, serta kekacauan dan gangguannya yang serius terhadap pekerjaan gereja. Saat itu, aku hanya memiliki pengetahuan dangkal bahwa aku tidak melakukan pekerjaan nyata dan tidak fokus dalam mengenali orang lain, tetapi aku tidak pernah secara serius berfokus untuk memahami atau menganalisis watak rusakku sendiri.
Saat pertemuan, aku baru memperoleh beberapa pemahaman akan diriku sendiri setelah membaca firman Tuhan yang menyingkapkan perilaku dari pemimpin palsu yang tidak melakukan pekerjaan nyata. Firman Tuhan berkata: "Pemimpin palsu tidak pernah bertanya atau menindaklanjuti situasi pekerjaan berbagai pengawas tim. Mereka juga tidak bertanya, menindaklanjuti, atau memahami jalan masuk kehidupan para pengawas dari berbagai tim dan personel yang bertanggung jawab atas berbagai pekerjaan penting, serta bagaimana sikap mereka terhadap pekerjaan gereja dan tugas mereka, terhadap iman kepada Tuhan, kebenaran, dan Tuhan itu sendiri. Mereka tidak tahu apakah orang-orang ini telah mengalami perubahan atau pertumbuhan, dan mereka juga tidak tahu tentang berbagai masalah yang mungkin ada dalam pekerjaan orang-orang ini; khususnya, mereka tidak tahu tentang dampak dari kesalahan dan penyimpangan yang terjadi di berbagai tahap pekerjaan terhadap pekerjaan gereja dan jalan masuk kehidupan umat pilihan Tuhan, serta tidak tahu apakah kesalahan dan penyimpangan ini pernah diperbaiki atau tidak. Mereka sama sekali tidak tahu tentang semua hal ini. Jika mereka tidak tahu apa pun tentang kondisi-kondisi terperinci ini, mereka menjadi pasif setiap kali masalah muncul. Namun, para pemimpin palsu sama sekali tidak peduli dengan masalah terperinci ini saat melakukan pekerjaan mereka. Mereka yakin bahwa setelah mengatur berbagai pengawas tim dan memberikan tugas, pekerjaan mereka sudah selesai—itu dapat dianggap telah melakukan tugas dengan baik, dan jika masalah-masalah lain muncul, itu bukan urusan mereka. Karena para pemimpin palsu gagal mengawasi, mengarahkan, dan menindaklanjuti berbagai pengawas tim, dan mereka tidak memenuhi tanggung jawab mereka di area-area ini, hal ini mengakibatkan kekacauan dalam pekerjaan gereja. Ini artinya para pemimpin dan pekerja mengabaikan tanggung jawab mereka" (Firman, Jilid 5, Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja, "Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja (3)"). "Apakah menurut engkau semua para pemimpin palsu itu bodoh? Mereka bodoh dan bebal. Apa yang membuat mereka bodoh? Mereka bodoh karena mereka dengan begitu saja menaruh kepercayaan mereka kepada seseorang, meyakini bahwa karena ketika orang ini dipilih, mereka bersumpah dan bertekad, serta berdoa dengan air mata yang mengalir di wajahnya, itu berarti mereka dapat diandalkan, dan tidak akan pernah ada masalah jika mereka yang bertanggung jawab atas pekerjaan. Para pemimpin palsu tidak memiliki pemahaman tentang natur orang; mereka tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya tentang umat manusia yang rusak. Mereka berkata, 'Bagaimana mungkin seseorang bisa berubah menjadi lebih buruk ketika dirinya terpilih sebagai pengawas? Bagaimana mungkin seseorang yang tampak begitu serius dan dapat diandalkan mengabaikan pekerjaannya? Mereka tidak mungkin seperti itu, bukan? Mereka sangat berintegritas.' Karena para pemimpin palsu telah menaruh keyakinan yang sangat besar pada imajinasi dan perasaan mereka, hal ini pada akhirnya membuat mereka tidak mampu menyelesaikan banyak masalah yang muncul dalam pekerjaan gereja tepat pada waktunya, dan menghalangi mereka untuk segera memberhentikan pengawas yang terlibat serta menyesuaikan penugasan mereka. Mereka adalah pemimpin palsu tulen. Apa sebenarnya masalahnya di sini? Apakah pendekatan pemimpin palsu terhadap pekerjaan mereka ada kaitannya dengan sikap asal-asalan? Di satu sisi, mereka melihat si naga merah yang sangat besar secara gila-gilaan melakukan penangkapan terhadap umat pilihan Tuhan, jadi untuk menjaga diri mereka tetap aman, mereka mengatur seseorang secara acak untuk bertanggung jawab atas pekerjaan, meyakini bahwa ini akan menyelesaikan masalah, dan bahwa mereka tidak perlu memperhatikannya lagi. Apa yang mereka pikirkan di dalam hati mereka? 'Ini adalah keadaan yang tidak bersahabat, aku harus bersembunyi untuk sementara waktu.' Ini artinya mendambakan kenyamanan daging, bukan? Di sisi lain, para pemimpin palsu memiliki kekurangan yang fatal: Mereka cepat memercayai orang berdasarkan imajinasi mereka sendiri. Ini disebabkan karena tidak memahami kebenaran, bukan? Bagaimana firman Tuhan menyingkapkan esensi umat manusia yang rusak? Mengapa mereka memercayai orang-orang yang bahkan Tuhan tidak percayai? Para pemimpin palsu sangat congkak dan merasa dirinya benar, bukan? Yang mereka pikirkan adalah, 'Aku tidak mungkin salah menilai orang ini, seharusnya tidak ada masalah dengan orang yang telah kunilai cocok ini; dia pasti bukan orang yang suka makan, minum, dan bersenang-senang, atau yang menyukai kenyamanan dan membenci kerja keras. Dia benar-benar dapat diandalkan dan dapat dipercaya. Dia tidak akan berubah; jika dia berubah, itu berarti aku keliru tentang dia, bukan?' Logika macam apa ini? Memangnya engkau ahli? Apakah engkau memiliki penglihatan sinar-x? Apakah engkau memiliki keahlian khusus itu? Engkau bisa saja hidup bersama seseorang selama satu atau dua tahun, tetapi akankah engkau mampu melihat siapa diri mereka yang sebenarnya tanpa lingkungan yang sesuai untuk menyingkapkan esensi natur mereka sepenuhnya? Jika mereka tidak disingkapkan oleh Tuhan, engkau bisa saja hidup berdampingan dengan mereka selama tiga atau bahkan lima tahun, dan tetap bergumul untuk melihat esensi natur seperti apa yang mereka miliki. Betapa lebih sulit lagi jika engkau jarang bertemu dengannya, jarang bersama dengannya? Para pemimpin palsu dengan begitu saja memercayai seseorang berdasarkan kesan yang sesaat atau penilaian positif orang lain tentang mereka, dan berani memercayakan pekerjaan gereja kepada orang semacam itu. Dalam hal ini, bukankah mereka terlalu buta? Bukankah mereka bertindak sewenang-wenang? Dan bukankah para pemimpin palsu bersikap sangat tidak bertanggung jawab ketika mereka bekerja seperti ini?" (Firman, Jilid 5, Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja, "Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja (3)").
Tuhan menyingkapkan bahwa pemimpin palsu itu malas, menikmati kenyamanan, dan sangat tidak bertanggung jawab dalam tugas mereka. Begitu mereka menempatkan seseorang sebagai pemimpin, para pemimpin palsu dengan mudah memercayai mereka berdasarkan imajinasi dan gagasan mereka. Mereka tidak menindaklanjuti atau mengawasi pekerjaan karena tidak ingin membayar harga untuk memeriksanya. Mereka sebisa mungkin berusaha mengambil jalan pintas, yang mengakibatkan kerugian serius bagi pekerjaan gereja. Ketika melihat Tuhan menyingkapkan berbagai perilaku dari pemimpin palsu yang tidak melakukan pekerjaan nyata, aku merasa seolah-olah Tuhan sedang menyingkapkanku secara langsung. Itu sangat tidak nyaman dan aku merasa bersalah. Sebagai pemimpin, aku sama sekali tidak memiliki beban terhadap tugasku. Untuk menyelamatkan diriku dari rasa khawatir dan penderitaan daging, aku bersikap licin dan tidak menindaklanjuti pekerjaan. Aku hanya mengandalkan kesan pertamaku tentang Zhao Jing, berpikir bahwa dia bertanggung jawab dalam tugasnya dan cocok menjadi pemimpin kelompok, jadi aku mulai bersikap lepas tangan dan tidak mengawasi pekerjaannya. Saat aku melihat pekerjaannya tidak mendapatkan hasil bagus dan bahwa aku harus menderita serta membayar harga untuk menyelesaikan masalah ini, aku tidak melakukan pekerjaan nyata dan justru berdalih demi membenarkan diri sendiri dengan mengatakan bahwa semua orang masih beradaptasi dan mereka akan segera kembali ke jalur yang benar. Saat yang lain melaporkan bahwa Zhao Jing memiliki masalah dan tidak cocok menjadi pemimpin kelompok, aku masih menganggap itu hanya perwujudan kerusakan sementara berdasarkan gagasan dan imajinasiku, dan bahwa itu tidak akan memengaruhi tugasnya. Aku berkali-kali menunda menyelesaikan masalah Zhao Jing, hingga akhirnya pekerjaan kelompok menjadi tersendat dan jalan masuk kehidupan saudara-saudariku mengalami kerugian besar. Aku sangat bebal, bodoh, dan tidak bertanggung jawab. Aku adalah pemimpin palsu yang menikmati kenyamanan dan tidak melakukan pekerjaan nyata! Kenyataannya adalah, pemimpin dan pekerja yang dipilih oleh gereja, termasuk aku, belum disempurnakan; kami memiliki banyak watak rusak, dan kami bisa menyebabkan kekacauan serta gangguan dalam tugas kami kapan saja. Bahkan jika kami terlihat berperilaku baik, itu tidak berarti kami memenuhi syarat untuk dipakai. Kami tidak memahami kebenaran dan hanya melihat penampilan orang tanpa melihat esensi mereka yang sebenarnya, jadi kami harus sering menindaklanjuti dan mengawasi pekerjaan untuk bertanggung jawab terhadap pekerjaan. Aku tidak memahami kebenaran dan tidak bisa melihat hakikat orang, tetapi aku memiliki kepercayaan diri yang buta, sehingga sebagai akibatnya aku menyebabkan kerugian besar bagi pekerjaan gereja, dan meninggalkan pelanggaran dan pencemaran di belakangku. Begitu aku menyadari ini, aku merasa sangat menyesal. Andai saja aku tidak begitu merasa diri benar, sangat malas, dan terlalu menikmati kenyamanan saat Xinrui mengingatkanku tentang Zhao Jing, melainkan benar-benar menyelidiki, menemukan, dan menyelesaikan masalah itu tepat waktu, dan memberhentikan Zhao Jing, aku tidak akan menyebabkan penundaan seperti ini pada pekerjaan gereja. Aku bukan hanya gagal memberi manfaat bagi pekerjaan gereja dalam tugasku, melainkan juga bertindak sebagai hamba Iblis dan melindungi para pemimpin serta pekerja palsu. Makin aku memikirkannya, makin aku tertekan dan menderita. Aku berpikir tentang bagaimana saat Tuhan yang berinkarnasi bekerja, Dia benar-benar menderita dan membayar harga. Dalam menanggapi segala kerusakan dan kekurangan kita, Tuhan tanpa lelah mempersekutukan kebenaran, mendukung dan membantu kita, serta mencurahkan seluruh hati dan usaha-Nya untuk sepenuhnya menyelamatkan kita dari kuasa Iblis. Namun, aku adalah makhluk ciptaan yang tidak memahami kebenaran, aku menjadi buta serta tidak bisa melihat segala sesuatu dengan jelas, dan aku tidak ingin sangat menderita atau membayar harga dalam tugasku. Aku tidak ingin menyelesaikan masalah tepat waktu saat aku menemukannya dan menyebabkan kerugian besar pada pekerjaan. Ketika aku melaksanakan tugasku seperti ini sungguh menjijikkan dan dibenci Tuhan! Begitu aku menyadari hal-hal ini, aku berdoa di dalam hati kepada Tuhan, "Tuhan, aku salah. Aku ingin merenungkan diriku sendiri dan bertobat kepada-Mu."
Aku membaca beberapa bagian lain di mana Tuhan menyingkapkan para pemimpin palsu: "Pekerjaan gereja terhambat hanya karena pemimpin palsu secara serius mengabaikan tanggung jawab mereka, tidak melakukan pekerjaan nyata, tidak menindaklanjuti dan mengawasi pekerjaan, serta tidak mampu mempersekutukan kebenaran untuk menyelesaikan masalah. Tentu saja, ini juga karena pemimpin palsu hanya menikmati keuntungan dari status, sama sekali tidak mengejar kebenaran, dan tidak mau menindaklanjuti, mengawasi, atau mengarahkan pekerjaan penyebaran Injil—akibatnya, pekerjaan berjalan lambat dan banyak penyimpangan, absurditas, serta tindakan sembrono yang dilakukan manusia tidak segera diperbaiki atau diselesaikan, yang berdampak serius pada efektivitas penyebaran Injil. Masalah-masalah ini baru dapat diselesaikan setelah ditemukan oleh Yang di Atas dan pemimpin serta pekerja diberi tahu bahwa mereka harus menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Pemimpin palsu ini bagaikan orang buta, tidak mampu menemukan masalah apa pun dan sama sekali tidak memiliki prinsip dalam melakukan sesuatu, tetapi mereka juga tidak menyadari kesalahannya sendiri. Setelah dipangkas oleh Yang di Atas, barulah pemimpin palsu ini mengakui kesalahannya. Lalu, siapa yang mampu bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh pemimpin palsu tersebut? Bahkan sekalipun mereka diberhentikan dari jabatannya, bagaimana mengganti kerugian yang ditimbulkannya? Oleh karena itu, ketika ditemukan bahwa ada pemimpin palsu yang sama sekali tidak mampu melakukan pekerjaan nyata, mereka harus segera diberhentikan. Di sejumlah gereja, pekerjaan penginjilan berkembang sangat lambat, dan ini terjadi karena pemimpin palsu tidak melakukan pekerjaan nyata, serta terlalu banyak kelalaian dan kesalahan yang mereka buat" (Firman, Jilid 5, Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja, "Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja (4)"). "Dalam semua bagian pekerjaan yang dilakukan oleh pemimpin palsu, sebenarnya ada banyak persoalan, penyimpangan, dan celah yang perlu mereka selesaikan, perbaiki, dan benahi. Akan tetapi, karena pemimpin palsu tersebut tidak memiliki rasa terbebani, hanya menikmati keuntungan dari statusnya tanpa melakukan pekerjaan nyata, mereka akhirnya mengacaukan pekerjaan. Di sejumlah gereja, orang-orang tidak sehati, masing-masing saling curiga, bersikap waspada, dan saling menjatuhkan, sementara itu mereka takut disingkirkan oleh rumah Tuhan. Menghadapi situasi seperti ini, pemimpin palsu tidak bertindak untuk menyelesaikannya, tidak melakukan pekerjaan nyata dan spesifik" (Firman, Jilid 5, Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja, "Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja (4)"). "Di luarnya, para pemimpin palsu terlihat tidak dengan sengaja melakukan berbagai kejahatan, atau melakukan hal-hal dengan cara mereka sendiri dan mendirikan kerajaan mereka sendiri, seperti yang dilakukan para antikristus. Namun, para pemimpin palsu tidak mampu dengan segera menyelesaikan berbagai masalah yang muncul dalam pekerjaan gereja, dan ketika masalah terjadi dengan para pengawas dari berbagai tim, dan ketika para pengawas tersebut tidak mampu melakukan pekerjaan mereka, para pemimpin palsu tidak mampu dengan segera menyesuaikan penugasan mereka atau memberhentikan mereka, sehingga pekerjaan gereja menjadi sangat dirugikan. Semua ini disebabkan oleh kelalaian para pemimpin palsu dari tanggung jawab" (Firman, Jilid 5, Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja, "Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja (3)"). Tuhan menyingkapkan kelalaian para pemimpin palsu: bagaimana mereka tidak benar-benar menindaklanjuti atau memeriksa pekerjaan, bagaimana mereka tidak mengawasi dan memeriksa orang-orang yang bertanggung jawab, dan bagaimana itu mengakibatkan banyak masalah pekerjaan tidak bisa diatasi, menyebabkan kerugian serius bagi pekerjaan gereja. Setelah merenungkan tindakanku, aku menyadari bahwa karena aku menikmati kenyamanan, aku pun mengabaikan tugasku, tidak bertanggung jawab, dan memercayai Zhao Jing berdasarkan gagasan dan imajinasiku sendiri tanpa mengawasi atau menindaklanjuti pekerjaannya. Saat orang lain melaporkan masalahnya, aku tidak menghiraukannya, tidak mengatasi masalah nyata atau memberhentikannya tepat waktu, yang membuatnya terus-menerus cemburu dan berselisih, mengacaukan dan mengganggu kelompok, dan tidak berperan positif dalam tugasnya. Ini menyebabkan pekerjaan kelompok menjadi tidak efektif selama berbulan-bulan dan sangat menghambat perkembangan. Saat saudara-saudarinya memberikan nasihat, dia menindas dan mengucilkan mereka, membebani hati mereka dalam waktu yang lama, menyebabkan kelompok itu merasa terkekang dan tidak termotivasi dalam tugasnya. Namun, aku tidak tahu apa-apa tentang hal ini, bahkan selalu berpikir bahwa dia melakukan tugasnya dengan baik. Sebagai pemimpin, aku bukan hanya gagal untuk memenuhi tanggung jawabku, tetapi juga tidak dapat mengenali dan mengatasi sejumlah masalah dalam pekerjaan gereja secara tepat waktu saat masalah itu berada tepat di depan mataku. Ini menyebabkan kerugian besar bagi pekerjaan gereja dan jalan masuk kehidupan saudara-saudariku. Aku benar-benar lalai dalam tanggung jawabku! Meskipun aku tidak seperti antikristus yang dengan sengaja berbuat jahat untuk mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja, kelalaianku terhadap tanggung jawab masih menyebabkan kerugian serius bagi pekerjaan gereja. Aku membenci diriku sendiri karena sangat buta, tidak bernalar, dan tidak bertanggung jawab sampai-sampai aku melakukan pelanggaran di hadapan Tuhan. Aku merasakan kesedihan yang mendalam dan rasa bersalah, serta merasa berutang kepada Tuhan dan saudara-saudariku.
Lalu, aku merenungkan diri. Mengapa aku selalu mempertimbangkan dagingku, berkelit, dan tidak bertanggung jawab dalam tugasku? Lalu, aku melihat bagian firman Tuhan yang sangat membantuku. Firman Tuhan berkata: "Apa itu racun Iblis? Bagaimana itu bisa diungkapkan? Misalnya, jika engkau bertanya, 'Bagaimana seharusnya orang hidup? Untuk apa seharusnya orang hidup?' Semua orang akan menjawab: 'Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya.' Hanya satu frasa ini mengungkapkan sumber penyebab masalahnya. Falsafah dan logika Iblis telah menjadi hidup orang. Apa pun yang orang kejar, mereka sebenarnya melakukannya untuk diri mereka sendiri—oleh karena itu, mereka semua hidup bagi diri mereka sendiri. 'Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya'—ini adalah falsafah hidup manusia dan ini juga mewakili natur manusia. Perkataan ini telah menjadi natur manusia yang rusak dan perkataan ini adalah gambaran sebenarnya dari natur Iblis manusia yang rusak. Natur Iblis ini telah sepenuhnya menjadi dasar bagi keberadaan manusia yang rusak. Selama ribuan tahun, umat manusia yang rusak telah hidup berdasarkan racun Iblis ini, hingga hari ini. Segala sesuatu yang Iblis lakukan adalah demi keinginan, ambisi dan tujuannya sendiri. Dia ingin melampaui Tuhan, membebaskan diri dari Tuhan, dan merebut kendali atas segala sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan. Hari ini, manusia telah dirusak oleh Iblis hingga mencapai taraf seperti ini. Mereka semua memiliki natur Iblis, mereka semua cenderung menyangkal dan melawan Tuhan, dan mereka ingin mengendalikan nasib mereka sendiri dan berusaha melawan pengaturan dan penataan Tuhan. Ambisi dan keinginan mereka sudah persis sama dengan ambisi dan keinginan Iblis. Oleh karena itu, natur manusia adalah natur Iblis" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Cara Menempuh Jalan Petrus"). Aku merenungkan firman Tuhan dan akhirnya menyadari bahwa aku itu malas, tidak bertanggung jawab dalam tugasku, dan tidak memiliki hati nurani serta nalar, terutama karena aturan Iblis tentang keberadaan "Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya" mengakar begitu kuat di dalam diriku hingga menjadi naturku. Aku selalu hidup dengan natur ini, hanya memikirkan kepentingan dagingku dalam segala hal, menjadi makin egois dan hina. Saat ada sesuatu membuatku khawatir dan lebih menderita atau mengharuskanku untuk membayar lebih mahal, aku menggunakan tipuan dan kelicikan untuk menghindarinya, melakukan apa saja yang kubisa agar tidak terlalu menderita. Saat kusadari bahwa mengelola keseluruhan pekerjaan mengharuskanku untuk lebih khawatir dan menderita, aku ingin melaksanakan satu tugas saja. Saat beban kerjaku bertambah, aku ingin mengurangi kekhawatiran dan membayar lebih sedikit, yang membuatku bersikap lepas tangan terhadap pekerjaan Zhao Jing. Lalu, saat kulihat keadaannya buruk, aku menjadi malas dan tidak ingin mengatasinya. Meskipun Xinrui mengingatkanku bahwa Zhao Jing tidak layak untuk dipakai, aku menggunakan alasan sibuk bekerja untuk menunda penyelidikan dan mengonfirmasi masalah Zhao Jing sampai menjadi sangat serius sehingga dia harus diberhentikan. Gereja memilihku sebagai pemimpin dan memberiku kesempatan untuk berlatih, dengan harapan bahwa aku akan bertanggung jawab dan mengemban tugasku. Namun apa yang telah kulakukan? Bukannya memikirkan bagaimana melaksanakan tugasku dengan baik, aku malah tidak melakukan apa-apa selain menikmati kenyamanan, melakukan apa pun yang membuatku tidak perlu terlalu khawatir dan menderita. Aku telah memercayai Tuhan selama bertahun-tahun dan menikmati penyiraman serta pembekalan begitu banyak dari firman Tuhan, tetapi saat ada sesuatu yang terjadi padaku, aku selalu menikmati kenyamanan, bukannya melakukan pekerjaan nyata. Aku egois, hina, dan membuat Tuhan jijik kepadaku! Aku membenci diriku yang tidak memiliki kemanusiaan dan nalar, serta karena aku gagal memenuhi maksud Tuhan yang tekun. Aku berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, aku memedulikan dagingku dan tidak melakukan pekerjaan nyata, yang menyebabkan kerugian besar bagi pekerjaan gereja. Aku ingin bertobat kepada-Mu. Ke depannya, apa pun tugasku, aku tidak ingin memikirkan dagingku dan menikmati kenyamanan lagi. Aku ingin bertanggung jawab dan melaksanakan tugasku dengan baik dengan cara yang praktis dan realistis."
Lalu, aku membaca dua bagian dari firman Tuhan. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Orang yang memiliki hati mampu memperhatikan hati Tuhan; mereka yang tidak memiliki hati bagaikan cangkang kosong, orang bodoh, mereka tidak peduli untuk memperhatikan hati Tuhan. Mentalitas mereka adalah: 'Aku tidak peduli betapa mendesaknya hal ini bagi Tuhan, aku akan melakukannya sesuka hatiku—setidaknya, aku tidak sedang menganggur atau bermalas-malasan.' Sikap seperti ini, kenegatifan seperti ini, sikap yang sama sekali tidak proaktif ini—ini bukanlah orang yang memperhatikan hati Tuhan, mereka juga tidak memahami bagaimana memperhatikan hati Tuhan. Jadi, apakah mereka memiliki iman yang sejati? Tentu saja tidak. Nuh memikirkan maksud Tuhan, dia memiliki iman yang sejati, dan dengan demikian dia mampu menyelesaikan amanat Tuhan. Jadi, tidak cukup hanya menerima amanat Tuhan dan bersedia melakukan beberapa upaya. Engkau juga harus memperhatikan maksud Tuhan, mengerahkan segenap kemampuanmu, dan setia—dan ini mengharuskanmu untuk memiliki hati nurani dan nalar; itulah yang seharusnya manusia miliki, dan yang ditemukan dalam diri Nuh. Bagaimana menurutmu, untuk membangun bahtera yang begitu besar pada zaman itu, berapa tahun yang dibutuhkan jika Nuh berlambat-lambat dan tidak memiliki perasaan mendesak, tidak ada kecemasan, tidak ada efisiensi? Dapatkah bahtera itu diselesaikan dalam waktu 100 tahun? (Tidak.) Akan dibutuhkan beberapa generasi untuk membangun secara terus-menerus. Di satu sisi, membangun sebuah benda padat seperti bahtera akan memakan waktu bertahun-tahun; di sisi lain, mengumpulkan dan memelihara semua makhluk hidup juga akan memakan waktu bertahun-tahun. Apakah mudah untuk mengumpulkan makhluk-makhluk hidup ini? (Tidak.) Tidak mudah. Oleh karena itu, setelah mendengar perintah Tuhan dan memahami maksud Tuhan yang mendesak, Nuh merasa bahwa hal ini tidak mudah ataupun sederhana. Dia menyadari bahwa dia harus mengerjakan dan menyelesaikan amanat ini sesuai dengan keinginan Tuhan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Tuhan, agar Tuhan akan dipuaskan dan ditenangkan sehingga langkah pekerjaan Tuhan selanjutnya dapat berjalan dengan lancar. Begitulah hati Nuh. Dan hati macam apakah itu? Hati yang memikirkan maksud Tuhan" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, Lampiran Tiga (Bagian Dua)). "Apa pun pekerjaan penting yang dilakukan seorang pemimpin atau pekerja, dan apa pun natur pekerjaan ini, prioritas nomor satu mereka adalah memahami dan mengerti bagaimana pekerjaan tersebut berlangsung. Mereka harus berada di sana secara langsung untuk menindaklanjuti segala sesuatu dan mengajukan pertanyaan, mendapatkan informasi secara langsung. Mereka tidak boleh hanya mengandalkan kabar angin atau mendengarkan laporan orang lain. Sebaliknya, mereka harus mengamati dengan mata kepala sendiri kondisi personel dan bagaimana kemajuan pekerjaan, dan memahami kesulitan apa yang sedang dihadapi, apakah ada area yang bertentangan dengan tuntutan Yang di Atas, apakah terdapat pelanggaran terhadap prinsip, apakah ada gangguan atau kekacauan, apakah ada kekurangan peralatan yang diperlukan atau materi pengajaran yang berkaitan dengan pekerjaan profesional; mereka harus terus-menerus mengetahui dan memberikan perhatian pada semua hal ini. Sebanyak apa pun laporan yang mereka dengar, atau sebanyak apa pun informasi yang mereka kumpulkan dari kabar angin, tak satu pun dari hal-hal ini yang lebih baik dari kunjungan pribadi; itu lebih akurat dan dapat diandalkan bagi mereka untuk melihat berbagai hal dengan mata kepala mereka sendiri. Begitu mereka familier dengan semua aspek situasinya, mereka akan mengetahui dengan jelas tentang apa yang sedang terjadi. Mereka terutama harus memiliki pemahaman yang jelas dan akurat tentang siapa yang berkualitas baik dan layak untuk dibina, karena hanya inilah yang akan memungkinkan mereka untuk membina dan menggunakan orang dengan tepat, yang sangat penting jika para pemimpin dan pekerja ingin melakukan pekerjaan mereka dengan baik. Para pemimpin dan pekerja harus memiliki jalan dan prinsip untuk membina dan melatih orang-orang yang berkualitas baik. Selain itu, mereka harus memiliki pengertian dan pemahaman tentang berbagai macam masalah dan kesulitan yang ada dalam pekerjaan gereja, serta tahu bagaimana menyelesaikannya, dan mereka juga harus memiliki ide dan saran mereka sendiri tentang bagaimana pekerjaan bisa mengalami kemajuan, atau prospek masa depannya. Jika mereka mampu berbicara dengan kejelasan tentang hal-hal semacam itu dengan mata terpejam, tanpa keraguan atau kekhawatiran, maka pekerjaan itu akan jauh lebih mudah untuk dilaksanakan. Dengan bekerja seperti ini, seorang pemimpin akan memenuhi tanggung jawabnya, bukan? Mereka harus benar-benar menyadari bagaimana menyelesaikan berbagai persoalan dalam pekerjaan yang disebutkan di atas, dan mereka harus sering merenungkan hal ini. Ketika menghadapi kesulitan, pemimpin harus bersekutu dan mendiskusikannya dengan semua orang, mencari kebenaran untuk menyelesaikannya. Dengan melakukan pekerjaan nyata secara membumi seperti ini, tidak akan ada kesulitan yang tidak dapat diselesaikan" (Firman, Jilid 5, Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja, "Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja (4)"). Firman Tuhan menunjukkan kepadaku jalan untuk melaksanakan tugas dengan baik, yaitu memperhatikan maksud Tuhan, memedulikan kekhawatiran Tuhan, memenuhi tanggung jawab yang harus kupikul, dan jangan membiarkan pekerjaan gereja dirugikan. Seperti halnya Nuh, yang sungguh-sungguh memperhatikan maksud Tuhan. Saat Tuhan memintanya untuk membangun bahtera, dia tidak memikirkan keuntungan atau kerugiannya sendiri, dan hanya memikirkan cara untuk membangun bahtera dengan cepat berdasarkan tuntutan Tuhan. Meskipun aku tidak bisa dibandingkan dengan Nuh, aku ingin menirunya, belajar memperhatikan maksud Tuhan, dan berusaha yang terbaik untuk memenuhi tuntutan Tuhan. Aku juga memahami bahwa agar para pemimpin dan pekerja dapat melakukan pekerjaan nyata dengan baik, kita harus terus mengikuti perkembangan pekerjaan, dan saat kita melihat hambatan atau kekacauan dan gangguan dalam pekerjaan, kita harus bersekutu dan menanganinya tepat waktu untuk memastikan pekerjaan berjalan dengan normal.
Setelah beberapa waktu, pemimpinku memercayakan pekerjaan penginjilan dan penyiraman beberapa gereja padaku. Kupikir, "Aku tidak bisa membiarkan ini terulang seperti sebelumnya. Aku tidak boleh hanya menikmati kenyamanan daging dan tidak bertanggung jawab atas tugasku. Aku harus tetap membumi dan mengerahkan segenap upaya untuk tugasku." Setelah itu, aku berfokus pada memperlengkapi diriku dengan visi kebenaran setiap hari. Jika ada calon penerima Injil, aku dengan aktif bersaksi tentang pekerjaan Tuhan pada akhir zaman kepada mereka, dan mencari serta memperlengkapi diriku dengan firman Tuhan berdasarkan gagasan keagamaan mereka. Suatu hari, saat aku akan memeriksa pekerjaan gereja Cheng Nan, kupikir, "Para pemimpin dan diaken penginjilan gereja ini telah memercayai Tuhan begitu lama. Mereka memiliki kualitas yang baik dan kemampuan kerja, dan bertanggung jawab dalam tugas mereka. Mereka bisa menangani pekerjaan mereka dengan baik, jadi aku tidak perlu menindaklanjutinya, yang bisa membuatku menghemat tenaga." Begitu aku memikirkan ini, aku menyadari bahwa aku kembali berkelit untuk mencari alasan agar tidak perlu mengawasi atau menindaklanjuti pekerjaan. Sekarang karena aku bertanggung jawab terhadap beberapa gereja ini, menjalankan tugas dan mengawasi pekerjaan gereja adalah tanggung jawab dan tugasku. Aku tidak bisa lagi beralasan untuk memikirkan dagingku dan menunda tugasku. Dengan pemikiran ini, aku memeriksa pekerjaan gereja dengan saksama. Aku menemukan bahwa segelintir anggota baru tidak rutin menghadiri pertemuan dan bahwa penyiram tidak melaksanakan tugas mereka dengan baik. Keesokan harinya, aku segera mengumpulkan para penyiram untuk bersekutu tentang kebenaran dan menyelesaikan masalah mereka. Setelah beberapa waktu, aku mendengar para anggota baru ini telah kembali ke pertemuan rutin, yang membuatku merasa tenang dan aman.
Melalui pengalaman ini, aku menyadari bahwa melaksanakan tugas memang harus benar-benar membayar harga, terlebih lagi menindaklanjuti serta mengawasi pekerjaan. Inilah satu-satunya jalan untuk menemukan dan menyelesaikan masalah tepat waktu serta melaksanakan tugas dengan baik. Inilah hasil yang dicapai oleh firman Tuhan yang menyebabkanku memiliki kesadaran dan perubahan hari ini. Syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa!