54. Bersikap Rendah Hati Membawa Kedamaian

Oleh Hailey, Jepang

Ketika aku mulai bekerja menyirami anggota baru di gereja pada tahun 2017, aku bergegas belajar dan memperoleh pengetahuan tentang semua prinsip kebenaran yang relevan agar aku dapat segera menjadi kompeten dalam pekerjaanku. Aku bekerja keras dan membayar harga yang tinggi dalam tugasku dan hasilnya menjadi makin baik. Setelah sekitar satu tahun, aku terpilih untuk melayani sebagai pemimpin kelompok. Semua saudara-saudari berkata bahwa terjadi kemajuan yang cepat setelah aku menjadi pemimpin kelompok dan mereka semua datang padaku untuk bersekutu ketika mereka memiliki masalah. Aku berpikir, "Sepertinya semua orang benar-benar mengakuiku. Selama aku terus mengejar kebenaran, aku pasti akan memiliki kesempatan untuk dipromosikan ke posisi yang lebih tinggi nanti. Semua orang nanti pasti akan menghormatiku."

Tak lama setelah itu, penanggung jawab kelompok kami diberhentikan karena tidak melakukan pekerjaan nyata. Aku berpikir, "Aku sudah selalu sangat proaktif dalam melaksanakan tugasku, aku mampu menyelesaikan beberapa masalah dan kesulitan saudara-saudari, dan aku telah bekerja dengan efektif. Sekarang aku menjadi pemimpin kelompok dan kami akan segera memilih penanggung jawab baru, aku pasti akan menjadi pilihan utama. Ini adalah kesempatan yang sangat bagus untuk menonjolkan diriku!" Namun, hanya beberapa hari kemudian, pemimpin kami memindahkan seorang saudari dari gereja lain untuk menjadi penanggung jawab kami, mengatakan bahwa dia memiliki kualitas yang baik, mengejar kebenaran, dan layak untuk dibina. Aku sangat kecewa ketika mendengar berita ini. Aku berpikir, "Jadi saudari ini adalah kandidat yang baik untuk dibina sedangkan aku bukan?" Namun, kemudian terlintas dalam pikiranku bahwa jika saudari itu benar-benar bisa melakukan pekerjaan nyata, itu adalah hasil yang positif. Setelah menyadari hal itu, aku lebih mampu untuk tunduk. Kemudian, ketika saudari itu dialihkan ke tugas lain karena kebutuhan tertentu pada pekerjaan gereja, aku menjadi sangat bersemangat dan berpikir, "Kali ini mereka pasti akan mempertimbangkanku untuk posisi penanggung jawab." Namun hanya beberapa hari kemudian, pemimpin kami mempromosikan Saudari Adele ke posisi penanggung jawab. Kali ini, aku tidak lagi menerima berita tersebut dengan setenang itu. Aku berpikir, "Aku bekerja sangat keras melaksanakan tugasku dan aku mampu menyelesaikan beberapa masalah nyata. Mengapa pemimpin tidak mempromosikanku? Apakah dia pikir aku tidak layak untuk dibina? Apakah dia meremehkanku? Setelah dua kali aku tidak dipromosikan, sekarang apa yang dipikirkan saudara-saudari tentangku? Adele baru saja dipindahkan ke sini dan sering datang padaku untuk meminta saran karena dia belum menguasai pekerjaan ini, tetapi pemimpin kami menghargai dan membinanya." Aku merasa sangat frustrasi dan merasa diperlakukan tidak adil ketika memikirkan semua ini. Kemudian, ketika Adele mencariku untuk mengejar ketertinggalan dalam pekerjaan dan terlalu banyak bertanya, aku menjadi tidak sabar. Aku berpikir, "Bukankah kau adalah penanggung jawabnya? Jika kau terus bertanya tentang hal-hal yang sudah kujawab, berarti kualitasmu tidak sebaik itu!" Kadang ketika saudara-saudari datang kepada Adele dengan pertanyaan dan kesulitan mengenai penyiraman anggota baru yang belum pernah dia tangani sebelumnya, dia tidak tahu bagaimana caranya bersekutu dan menyelesaikannya, lalu meminta bantuanku. Aku dengan sengaja menjawab, "Ini adalah masalah sederhana. Kau hanya perlu mengenali inti masalahnya dan mempersekutukan kebenaran tentang hal itu dengan jelas." Aku kemudian memberikan contoh bagaimana dahulu aku menyelesaikan masalah serupa. Aku berpikir, "Aku harus menunjukkan kepada semua orang bahwa aku memiliki bakat. Bukannya aku tidak memiliki keterampilan, tetapi aku belum diberikan kesempatan untuk menjadi penanggung jawab." Kemudian, Adele menyarankan agar kami tinggal bersama sehingga dia bisa berkonsultasi denganku setiap kali muncul masalah. Aku berpikir, "Berkonsultasi denganku setiap kali muncul masalah? Namun kemudian, kaulah yang mendapatkan semua pujian ketika masalah itu terselesaikan, bukan aku. Mengapa aku harus menjadi pembantumu di balik layar?" Setelah memikirkan ini, aku menolaknya dengan alasan bahwa aku tidak memiliki waktu luang karena sibuk menyirami anggota baru. Adele beberapa kali memintanya lagi kepadaku, tetapi aku tidak pernah setuju. Lambat laun, aku menyadari bahwa Adele tampak agak terkekang olehku dan telah menjadi sedikit pasif dalam mendiskusikan pekerjaan. Namun, aku tidak merenungkan dan mengenal diriku sendiri, tetapi hanya berpikir bahwa Adele kesulitan menjalankan tugas sebagai penanggung jawab. Terlebih lagi, aku berpikir, jika aku secara aktif bekerja sama dengannya lalu keadaannya membaik dan dia dapat melakukan pekerjaannya dengan baik, aku tidak akan punya kesempatan untuk dipromosikan. Sebaliknya, ketika dia terpuruk ke dalam kenegatifan, hal itu jadi makin menonjolkan antusiasme dan inisiatifku. Jadi, ketika kami membahas pekerjaan, aku sangat proaktif dan antusias serta berperan sebagai pemimpin untuk menonjolkan diriku.

Kemudian, karena makin banyak orang menerima pekerjaan Tuhan di akhir zaman dan beberapa penyiram baru lainnya ditugaskan ke kelompok kami, Adele memintaku untuk menghabiskan lebih banyak waktu untuk membantu saudara-saudari yang baru datang. Aku menggunakan kesempatan ini untuk memberi tahu orang-orang tentang bagaimana aku mencari kebenaran untuk membereskan gagasan dan kebingungan para anggota baru, menjelaskan kepada mereka secara sistematis pengalaman pribadiku dan jalan penerapanku. Setelah itu, kapan pun saudara-saudari memiliki masalah, mereka akan mencariku untuk berdiskusi. Dalam beberapa kasus, orang-orang bahkan datang kepadaku dengan masalah yang bahkan tidak bisa diselesaikan oleh Adele sendiri. Aku merasa sangat gembira dengan diriku sendiri, dan berpikir, "Sepertinya semua kerjaku akhir-akhir ini membuahkan hasil dan semua orang menyetujuiku. Aku mungkin bukan seorang penanggung jawab, tetapi aku bisa menangani banyak pekerjaan seorang penanggung jawab. Lain kali, ketika ada pemilihan pekerja dan pemimpin, saudara-saudari pasti akan memilihku."

Tak lama setelah itu, tiba waktunya pemilihan tahunan dan aku merasa sangat bersemangat. Aku berpikir, "Jika aku terpilih sebagai pemimpin, aku akan punya kuasa untuk mengambil keputusan tentang proyek-proyek gereja. Jika pekerjaan ini berkembang di bawah pengawasanku, saudara-saudari pasti akan menganggapku layak menempati posisiku dan akan lebih menghormatiku." Namun, tak kusangka, ketika hasilnya diumumkan, namaku tidak disebutkan. Wajahku memerah dan aku merasa sangat malu. Lebih parah lagi, saudara-saudari berkata bahwa aku memiliki watak yang congkak, sering mengekang orang, tidak memprioritaskan jalan masuk kehidupan, jarang merenungkan diriku sendiri, tidak mengenal diri sendiri atau memetik pelajaran dari berbagai hal; singkatnya, aku tidak mengejar kebenaran. Ketika aku mendengar semua itu, aku merasa sangat tidak nyaman; sekarang semua saudara-saudari tahu bahwa aku tidak mengejar kebenaran. Aku tidak hanya gagal menonjolkan diriku, tetapi aku juga benar-benar mempermalukan diriku sendiri. Selama hari-hari itu, aku takut saudara-saudari akan bertanya padaku bagaimana aku mengalami situasi tersebut, tetapi aku juga khawatir bahwa tidak akan ada orang yang mau berbicara denganku, bahwa mereka akan memahami yang sebenarnya tentang diriku dan menghindariku. Emosiku sangat kacau dan yang bisa kupikirkan hanyalah apa yang telah terjadi. Aku tidak bisa sungguh-sungguh melaksanakan tugasku dan aku merasa sangat menderita serta tersiksa. Aku terus bertanya-tanya mengapa aku harus menghadapi cobaan seperti ini. Kemudian, beberapa saudara-saudari bersekutu denganku dan mendorongku untuk lebih banyak merenungkan pelaksanaan tugasku. Mereka juga menunjukkan bahwa meskipun aku memiliki beberapa kemampuan dalam pekerjaanku, aku tidak memprioritaskan mengejar kebenaran, hanya mencari reputasi serta status dan sedang menempuh jalan yang salah. Aku tahu bahwa nasihat dan bantuan saudara-saudari berasal dari Tuhan, jadi aku datang ke hadirat-Nya dalam doa, "Ya Tuhan, disingkapkan seperti ini sangatlah berat bagiku. Ya Tuhan, mohon berikan aku pencerahan dan izinkan aku mengenal diriku sendiri serta memahami maksud-Mu."

Suatu hari, ketika membaca firman Tuhan, aku menemukan beberapa bagian di mana Tuhan mengungkapkan bagaimana antikristus mencari reputasi dan status. Firman Tuhan berkata: "Tugas apa pun yang antikristus lakukan, mereka akan mencoba menempatkan diri mereka pada posisi yang tinggi, pada posisi yang unggul. Mereka tidak pernah merasa puas dengan posisi mereka sebagai pengikut biasa. Dan apa yang paling mereka gemari? Berdiri di depan orang-orang untuk memberi perintah dan menggurui orang-orang, membuat orang menuruti apa yang mereka katakan. Mereka tidak pernah berpikir tentang bagaimana melaksanakan tugas mereka dengan semestinya—terlebih dari itu, saat melaksanakan tugas, mereka tidak mencari prinsip-prinsip kebenaran agar dapat menerapkan kebenaran dan memuaskan Tuhan. Sebaliknya, mereka memeras otak mencari cara untuk menonjolkan diri, membuat para pemimpin menghormati mereka dan mempromosikan mereka, sehingga mereka sendiri dapat menjadi seorang pemimpin atau pekerja, serta dapat memimpin orang lain. Inilah yang mereka pikirkan dan harapkan sepanjang hari. Antikristus tidak mau dipimpin oleh orang lain, dan mereka juga tidak mau menjadi pengikut biasa, apalagi melaksanakan tugas mereka secara diam-diam. Apa pun tugas mereka, jika mereka tidak bisa menjadi yang terdepan atau pusat perhatian, jika mereka tidak bisa mengungguli orang lain dan memimpin orang lain, mereka akan merasa melaksanakan tugas itu sangatlah membosankan, lalu menjadi negatif dan mulai bermalas-malasan. Tanpa orang lain memuji dan memuja mereka, tugas itu menjadi makin tidak menarik bagi mereka, dan bahkan hasrat mereka untuk melaksanakan tugas pun menjadi makin berkurang. Namun, jika mereka bisa menjadi yang terdepan dan pusat perhatian sementara melaksanakan tugas serta dapat menjadi penentu keputusan, mereka akan merasa dikuatkan, dan akan menderita kesulitan apa pun. Mereka selalu memiliki niat pribadi dalam pelaksanaan tugas mereka, dan mereka selalu ingin menonjolkan diri sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan mereka untuk mengungguli orang lain, dan memuaskan hasrat dan ambisi mereka" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, Bab Sembilan (Bagian Tujuh)). "Bagi antikristus, reputasi dan status bukanlah tuntutan tambahan, apalagi hal-hal lahiriah bagi mereka yang dapat mereka abaikan. Reputasi dan status adalah bagian dari natur para antikristus, kedua hal tersebut ada di dalam tulang mereka, dalam darah mereka, yang sudah menjadi bawaan lahiriah mereka. Para antikristus tidak acuh tak acuh apakah mereka memiliki reputasi dan status atau tidak; ini bukanlah sikap mereka. Lantas, apa sikap mereka terhadap kedua hal ini? Reputasi dan status berkaitan erat dengan kehidupan mereka sehari-hari, dengan keadaan mereka sehari-hari, dengan apa yang mereka kejar setiap hari. Bagi antikristus, status dan reputasi adalah hidup mereka. Bagaimanapun cara mereka hidup, di lingkungan mana pun mereka tinggal, pekerjaan apa pun yang mereka lakukan, apa pun yang mereka kejar, apa pun tujuan mereka, apa pun arah hidup mereka, semuanya berpusat pada memiliki reputasi yang baik dan status yang tinggi. Dan tujuan ini tidak berubah; mereka tak pernah mampu melepaskan hal-hal semacam ini. Inilah wajah para antikristus yang sebenarnya dan esensi mereka. Seandainya engkau menempatkan mereka di hutan primer jauh di pedalaman pegunungan, mereka tetap tidak akan melepaskan pengejaran mereka akan reputasi dan status. Engkau dapat menempatkan mereka di antara kelompok orang mana pun, dan satu-satunya yang mereka pikirkan tetaplah reputasi dan status. Meskipun para antikristus percaya kepada Tuhan, mereka menyetarakan pengejaran akan reputasi dan status dengan iman kepada Tuhan dan menempatkan kedua hal ini pada kedudukan yang sama. Itu berarti, pada saat mereka menempuh jalan iman kepada Tuhan, mereka juga mengejar reputasi dan status mereka sendiri. Dapat dikatakan bahwa di dalam hati para antikristus, pengejaran akan kebenaran dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan adalah pengejaran akan reputasi dan status, dan pengejaran akan reputasi dan status juga adalah pengejaran akan kebenaran—memperoleh reputasi dan status berarti memperoleh kebenaran dan hidup. Jika mereka merasa bahwa mereka belum memperoleh ketenaran, keuntungan, atau status, bahwa tak seorang pun mengagumi dan menghormati mereka, atau mengikuti mereka, mereka akan merasa sangat kecewa, mereka menganggap tidak ada gunanya percaya kepada Tuhan, itu tidak bernilai, dan di dalam hatinya, mereka bertanya-tanya, 'Apakah aku telah gagal karena percaya kepada Tuhan dengan cara seperti ini? Apakah tidak ada harapan bagiku?' Mereka sering kali memperhitungkan hal-hal semacam itu di dalam hatinya. Mereka memperhitungkan bagaimana mereka dapat memiliki kedudukan di rumah Tuhan, bagaimana mereka dapat memiliki reputasi yang tinggi di gereja, bagaimana mereka dapat membuat orang mendengarkan ketika mereka berbicara, dan memuji mereka ketika mereka bertindak, bagaimana mereka dapat membuat orang mengikuti mereka di mana pun mereka berada, dan bagaimana mereka dapat memiliki suara yang berpengaruh di gereja, serta memiliki ketenaran, keuntungan, dan status—mereka sangat berfokus pada hal-hal semacam itu di dalam hati mereka. Semua ini adalah hal-hal yang dikejar oleh orang-orang semacam itu" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, Bab Sembilan (Bagian Tiga)). Firman Tuhan mengungkapkan bagaimana antikristus menempatkan reputasi dan status sebagai hal yang paling penting. Di manapun dan kapan pun, tujuan utama mereka adalah untuk mendapatkan reputasi yang bagus dan status yang tinggi. Mereka hanya percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugasnya untuk menonjolkan diri serta mendapatkan penghormatan dari orang lain. Mereka selalu berusaha mendapatkan posisi yang memiliki status, untuk memegang keputusan akhir dan kuasa sebagai pengambil keputusan, serta memperoleh otoritas atas orang lain. Jika mereka tidak mampu memperoleh status dan reputasi, mereka mulai berpikir bahwa percaya kepada Tuhan tidak ada artinya dan tidak ada alasan untuk melaksanakan tugas mereka. Setelah membandingkan diriku dengan firman Tuhan, aku menyadari bahwa watak yang kuperlihatkan dan pandangan di balik pengejaranku tidak ada bedanya dengan yang dimiliki antikristus. Aku selalu berjuang untuk menjadi seorang penanggung jawab atau pemimpin karena aku berpikir bahwa para pemimpin dan pekerja memiliki keputusan akhir, dapat membuat keputusan penting, serta sangat dihormati, didukung, dan dihargai. Sebagai pemimpin kelompok, ruang lingkup kewenanganku terbatas dan aku jarang bisa menonjolkan diriku, jadi setiap kali pekerjaanku membuahkan hasil, aku tiba-tiba merasa terdorong untuk mendapatkan lebih banyak kekuasaan dan otoritas agar lebih banyak orang menghormatiku dan berkumpul di sekelilingku. Ketika aku mendengar bahwa gereja akan memilih penanggung jawab baru, aku sangat menantikan pemilihan itu karena aku berpikir bahwa kesempatanku untuk menonjolkan diri akhirnya tiba. Namun kemudian, ketika pemimpin justru memindahkan seorang penanggung jawab dari gereja lain, aku sangat kecewa dan tak mau menerima hasil ini, percaya bahwa pemimpin tidak mau memberiku kesempatan untuk berlatih dan tidak menyukaiku. Untuk membuktikan bahwa aku lebih baik daripada penanggung jawab yang sedang menjabat, aku sengaja mempersulit dan mengucilkannya sehingga membuatnya merasa terkekang. Agar bisa terpilih sebagai penanggung jawab, aku menggunakan setiap kesempatan untuk membantu saudara-saudari supaya dapat memamerkan diri dan membangun citra diriku, agar lebih banyak orang menyetujuiku dan memilihku di pemilihan berikutnya. Semua yang kukejar hanyalah status dan ketenaran, dan segala yang kulakukan hanya demi memperoleh status. Aku sedang menempuh jalan antikristus. Ketika menyadari hal ini, aku merasa sangat menyesal, jadi aku berdoa kepada Tuhan, "Ya Tuhan, aku belum mengejar kebenaran dalam melaksanakan tugasku, aku bersaing untuk status serta reputasi dan telah menentang serta memberontak terhadap-Mu. Ya Tuhan, aku tidak ingin terus seperti ini lagi dan aku siap untuk bertobat. Tolong berilah pencerahan agar aku bisa mengenal diriku sendiri."

Suatu kali ketika waktu teduh, aku menemukan bagian dari firman Tuhan ini: "Ketika watak Iblis telah berakar dalam diri orang dan menjadi natur mereka, ini cukup untuk menyebabkan hati mereka menjadi gelap dan jahat, dan membuat semua yang mereka kejar dan setiap jalan yang mereka pilih adalah salah. Dengan didorong oleh watak rusak Iblis, apa yang akan menjadi aspirasi, harapan, ambisi, serta tujuan dan arah hidup manusia? Bukankah semua itu bertentangan dengan hal-hal positif? Sebagai contoh, orang selalu ingin menjadi selebritas atau bintang; mereka ingin memperoleh ketenaran dan popularitas yang besar, dan ingin membawa kehormatan bagi leluhur mereka. Apakah ini hal-hal positif? Ini sama sekali tidak sejalan dengan hal-hal positif; selain itu, semua ini bertentangan dengan hukum kedaulatan Tuhan atas nasib manusia. ... Apakah engkau semua selalu ingin lebih unggul dari orang lain, mengepakkan sayapmu dan terbang, dan menjadi elang daripada menjadi burung kecil? Watak apakah ini? Inikah prinsip tentang cara berperilaku? Cara berperilakumu haruslah didasarkan pada firman Tuhan; hanya firman Tuhan yang adalah kebenaran. Engkau semua telah dirusak sedemikian dalamnya oleh Iblis, dan selalu menganggap budaya tradisional—perkataan Iblis—sebagai kebenaran, sebagai objek pengejaranmu, yang membuatmu dengan mudahnya mengambil jalan yang salah, menempuh jalan yang melawan Tuhan. Pemikiran dan pandangan umat manusia yang rusak, dan hal-hal yang mereka kejar semuanya bertentangan dengan keinginan Tuhan, kebenaran, dan hukum bahwa Tuhan berdaulat atas segala sesuatu, mengatur segala sesuatu, dan mengendalikan nasib umat manusia. Jadi, seberapa tepat dan masuk akalnya pun pengejaranmu menurut pemikiran dan gagasan manusia, dari sudut pandang Tuhan, itu bukanlah hal yang positif dan tidak sesuai dengan maksud-Nya. Karena engkau menentang fakta kedaulatan Tuhan atas nasib umat manusia, dan engkau ingin menempuh jalanmu sendiri, menentukan nasibmu sendiri, engkau selalu membentur tembok, membuat dirimu babak belur, dan tidak ada yang berhasil bagimu. Mengapa tidak ada yang berhasil bagimu? Karena hukum yang Tuhan tetapkan ini tidak dapat diubah oleh makhluk ciptaan mana pun, dan otoritas serta kuasa Tuhan berada di atas segalanya, dan tidak dapat dilanggar oleh makhluk ciptaan mana pun. Orang terlalu menganggap hebat kemampuan mereka. Apa yang selalu membuat orang ingin lepas dari kedaulatan Tuhan, dan selalu ingin mengendalikan nasib mereka sendiri serta merencanakan masa depan mereka sendiri, dan ingin mengendalikan prospek, arah, dan tujuan hidup mereka sendiri? Dari mana motivasi ini berasal? (Watak rusak Iblis.) Lalu, apa yang ditimbulkan oleh watak rusak Iblis terhadap manusia? (Melawan Tuhan.) Apa akibatnya jika orang melawan Tuhan? (Penderitaan.) Penderitaan hanyalah sebagian kecil; itu adalah kehancuran! Yang kaulihat tepat di depan matamu adalah penderitaan, kenegatifan, dan kelemahan, dan itu merupakan penentangan dan keluhan—apa akibat yang akan ditimbulkan dari melawan Tuhan? Kebinasaan! Ini bukan masalah kecil dan ini bukan lelucon" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Watak yang Rusak Hanya Dapat Dibereskan dengan Menerima Kebenaran"). Melalui pengungkapan firman Tuhan, aku menyadari bahwa setelah manusia dirusak oleh Iblis, hidupnya diatur oleh watak rusak Iblis yang ditandai oleh kecongkakan dan kesombongan, serta kejahatan dan kelicikan. Dia tidak lagi bisa tunduk pada kedaulatan dan pengaturan Tuhan, serta selalu dipenuhi ambisi dan keinginan, berusaha untuk menjadi orang yang hebat dan terkenal, serta berusaha untuk memperoleh status yang tinggi dan menjadi manusia terhebat. Filsafat Iblis seperti "Manusia bergelut ke atas; air mengalir ke bawah" dan "Prajurit yang tidak ingin menjadi jenderal bukanlah prajurit yang baik" telah lama mengakar di dalam hatiku, membuatku memandang pengejaran akan ketenaran dan status sebagai tujuan yang dapat dibenarkan. Di sekolah, aku berusaha untuk menjadi siswa terbaik dan jika aku tidak mendapat nilai yang bagus dalam ujian, aku merasa tertekan selama beberapa hari setelahnya. Setelah lulus dan masuk ke dunia kerja, aku bekerja dengan rajin untuk menjadi salah satu karyawan terbaik; aku bersedia bekerja lembur dengan sukarela dan memilih pekerjaan yang paling sulit untuk memenangkan hati bosku dan mendapatkan kesempatan untuk dipromosikan. Setelah beriman kepada Tuhan, aku percaya bahwa aku bisa mendapatkan penghormatan dan dukungan dari orang lain dengan menjadi seorang penanggung jawab atau pemimpin di gereja sehingga aku berusaha untuk memperoleh status yang tinggi. Terutama ketika aku menjadi pemimpin kelompok dan mendapatkan penerimaan dari saudara-saudari, ambisi dan keinginanku makin tinggi. Aku menjadi makin congkak, berpikir bahwa aku memiliki modal dan kualifikasi untuk dipromosikan sebagai penanggung jawab, atau bahkan pemimpin. Ketika pemimpinku mempromosikan Adele ketimbang diriku, aku merasa menentang, marah, serta tidak mau mendukung dan bekerja sama dengannya dalam pekerjaan kami. Aku juga selalu berusaha menyainginya. Aku sering memanfaatkan kesempatan untuk menunjukkan bagaimana aku mampu menyelesaikan masalah; di satu sisi, aku ingin membuat Adele berpikir bahwa dia tidak selevel denganku, di sisi lain, aku berusaha menunjukkan kepada saudara-saudari bahwa aku lebih berbakat darinya. Dengan begitu, aku berharap semua orang akan datang kepadaku ketika mereka memiliki masalah dan akan memikirkanku terlebih dahulu jika diadakan pemilihan lagi. Aku menganggap status lebih penting dari yang lainnya dan aku tidak pernah merenungkan diriku sendiri meski berulang kali mengalami kemunduran. Terlebih lagi, aku merasa kesal dan marah, berpikir bahwa aku memiliki modal karena aku mampu melakukan beberapa pekerjaan dengan baik sehingga harus diangkat sebagai pemimpin bagi orang lain. Aku benar-benar congkak dan tidak tahu malu! Setelah merenungkan ini, aku menyadari bahwa aku hanya percaya kepada Tuhan untuk mencari status. Aku tidak mengutamakan mengejar kebenaran dan memiliki sangat sedikit kenyataan kebenaran; dengan demikian, aku tidak akan mampu melakukan pekerjaan substansial yang harus dilakukan pemimpin dan pekerja. Aku juga memiliki kemanusiaan yang buruk, yang membuatku makin tidak memenuhi syarat untuk menjadi pemimpin. Jika saja aku terpilih sebagai pemimpin, pasti itu akan merugikan saudara-saudari serta gereja!

Setelah itu, aku membaca dua bagian lagi dari firman Tuhan yang membantuku lebih memahami sifat dan konsekuensi dari mengejar ketenaran dan status. Firman Tuhan berkata: "Jika ada orang yang berkata bahwa mereka mencintai kebenaran dan bahwa mereka mengejar kebenaran, padahal pada dasarnya, tujuan yang mereka kejar adalah untuk membedakan diri mereka sendiri, pamer, membuat orang mengagumi mereka, mencapai kepentingan mereka sendiri, dan pelaksanaan tugas mereka bukanlah untuk tunduk kepada Tuhan atau memuaskan-Nya, melainkan untuk memperoleh ketenaran, keuntungan, dan status, maka pengejaran mereka itu tidak dapat dibenarkan. Dengan demikian, dalam hal pekerjaan gereja, apakah tindakan mereka adalah penghambat, atau apakah membantu memajukannya? Tindakan mereka jelas merupakan penghambat; semua itu tidak memajukan pekerjaan gereja. Ada orang yang di luarnya terlihat sedang melakukan pekerjaan gereja, tetapi mereka sebenarnya mengejar ketenaran, keuntungan, dan status pribadi mereka, mengurus urusan mereka sendiri, membentuk kelompok tertutup mereka sendiri, kerajaan kecil mereka sendiri—apakah orang semacam ini sedang melaksanakan tugas mereka? Semua pekerjaan yang mereka lakukan pada dasarnya mengacaukan, mengganggu, dan merusak pekerjaan gereja. Apa akibat pengejaran mereka akan ketenaran, keuntungan, dan status? Pertama, ini memengaruhi bagaimana umat pilihan Tuhan makan dan minum firman Tuhan secara normal dan memahami kebenaran, ini menghalangi jalan masuk kehidupan mereka, menghentikan mereka memasuki jalur yang benar dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan, dan membawa mereka ke jalan yang salah—yang merugikan umat pilihan Tuhan, dan membawa mereka menuju kehancuran. Pada akhirnya, apa akibatnya terhadap pekerjaan gereja? Itu mengakibatkan gangguan, kerusakan, dan kehancuran. Inilah akibatnya jika orang mengejar ketenaran, keuntungan, dan status. Ketika mereka melaksanakan tugas mereka dengan cara ini, bukankah ini dapat didefinisikan bahwa mereka sedang menempuh jalan antikristus? Ketika Tuhan meminta orang untuk melepaskan ketenaran, keuntungan, dan status, bukan berarti Dia sedang menghilangkan hak orang untuk memilih dengan bebas; sebaliknya, itu karena ketika mengejar ketenaran, keuntungan, dan status, orang mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja dan jalan masuk kehidupan umat pilihan Tuhan, dan bahkan dapat memengaruhi lebih banyak orang dalam makan dan minum firman Tuhan, memahami kebenaran, dan memperoleh keselamatan dari Tuhan. Ini adalah fakta yang tak dapat disangkal. Ketika orang mengejar ketenaran, keuntungan, dan status mereka sendiri, mereka pasti tidak akan mengejar kebenaran dan mereka pasti tidak akan melaksanakan tugas mereka dengan baik dan penuh pengabdian. Mereka hanya akan berbicara dan bertindak demi ketenaran, keuntungan, dan status, dan semua pekerjaan yang mereka lakukan, tanpa terkecuali, adalah demi hal-hal tersebut. Berperilaku dan bertindak dengan cara seperti ini tentu saja berarti menempuh jalan antikristus; itu adalah pengacauan dan gangguan terhadap pekerjaan Tuhan, dan semua dari berbagai akibatnya menghalangi penyebaran Injil Kerajaan dan pelaksanaan kehendak Tuhan di dalam gereja. Jadi, dapat dikatakan dengan pasti bahwa mereka yang mengejar ketenaran, keuntungan, dan status sedang menempuh jalan penentangan terhadap Tuhan; mereka dengan sengaja menentang-Nya dan berlawanan dengan-Nya, serta bekerja sama dengan Iblis dalam menentang Tuhan dan melawan Dia. Inilah natur dari pengejaran orang akan ketenaran, keuntungan, dan status" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, Bab Sembilan (Bagian Satu)). "Tuhan paling benci ketika orang mengejar status, karena mengejar status adalah watak Iblis, itu adalah jalan yang salah, itu lahir dari perusakan Iblis, itu adalah sesuatu yang dikutuk oleh Tuhan, dan itulah tepatnya hal yang akan Tuhan hakimi dan tahirkan. Tuhan paling benci ketika orang mengejar status, tetapi engkau tetap dengan keras kepala bersaing untuk mendapatkan status, engkau tak henti-hentinya menghargai dan melindunginya, selalu berusaha mengambilnya untuk dirimu sendiri. Bukankah terdapat sedikit sifat yang menentang Tuhan dalam semua ini? Status tidak ditetapkan untuk manusia oleh Tuhan; Tuhan membekali manusia dengan kebenaran, jalan, dan hidup sehingga pada akhirnya mereka menjadi makhluk ciptaan yang memenuhi standar, makhluk ciptaan kecil dan tidak begitu berarti—bukan seseorang yang memiliki status dan gengsi serta dihormati oleh ribuan orang. Oleh karena itu, dari sudut pandang mana pun, pengejaran akan status adalah jalan menuju kehancuran. Betapa pun masuk akalnya alasanmu untuk mengejar status, jalan ini tetaplah jalan yang salah dan tidak diperkenan oleh Tuhan. Sekeras apa pun engkau berusaha atau sebesar apa pun harga yang kaubayar, jika engkau menginginkan status, Tuhan tidak akan memberikannya kepadamu; jika Tuhan tidak memberikannya kepadamu, engkau akan gagal dalam perjuangan untuk mendapatkannya, dan jika engkau terus berjuang, hanya akan ada satu hasil: Engkau akan disingkapkan dan disingkirkan—engkau akan berada di jalan menuju kehancuran. Engkau mengerti hal ini, bukan?" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, Bab Sembilan (Bagian Tiga)). Ketika aku membaca firman Tuhan dan melihat analisis serta penggolongan-Nya tentang mereka yang mengejar status dan ketenaran, hatiku benar-benar tertusuk. Aku benar-benar tidak menyadari betapa seriusnya natur dan konsekuensi dari mengejar status dan ketenaran. Ketika orang-orang mencari hal-hal ini, mereka secara langsung merusak dan menghancurkan pekerjaan gereja serta menjadi hamba Iblis. Tuhan mengutuk tindakan semacam itu. Mencari status bertentangan dengan tuntutan Tuhan dan merupakan tindakan melawan-Nya secara langsung; bersikap demikian adalah jalan menuju kehancuran! Penanggung jawab kami yang sebelumnya diberhentikan karena tidak melakukan pekerjaan nyata sehingga kedatangan Adele sangat bermanfaat bagi pekerjaan gereja, karena dia adalah seorang pencari kebenaran, benar-benar mengutamakan pencarian prinsip-prinsip kebenaran ketika hal-hal datang atasnya, dan dia bisa melakukan beberapa pekerjaan nyata. Aku seharusnya mendukung dan bekerja sama dengannya, tetapi karena aku sangat terobsesi dengan ketenaran, aku tidak bisa menerima bahwa Adele yang diangkat sebagai penanggung jawab. Ketika dia mengusulkan agar kami mendiskusikan pekerjaan bersama, aku berulang kali menolak untuk bekerja sama dengannya. Ini membuat Adele merasa terkekang dan menjadi negatif, dan pekerjaan gereja pun terkena dampak negatifnya. Aku bukan hanya tidak merenungkan diriku sendiri, melainkan juga tidak bertanggung jawab atas apa yang telah kulakukan padanya, berpikir bahwa dia menjadi negatif hanya karena dia tidak layak untuk posisi penanggung jawab. Aku bahkan menantikan saat dia akhirnya menyadari bahwa ini terlalu berat baginya lalu mengundurkan diri karena saat itu aku akan bisa mengambil posisinya. Bukankah aku sedang menghalangi dan mengganggu pekerjaan gereja? Aku bahkan memanfaatkan kesempatan saat berdiskusi tentang pekerjaan dan membantu saudara-saudari untuk menonjolkan diri agar mereka datang kepadaku ketika memiliki masalah, membuat Adele menjadi pemimpin pajangan saja. Aku bertindak sebagai hamba Iblis dan mengganggu serta merusak pekerjaan gereja. Aku melakukan kejahatan dan menentang Tuhan! Firman Tuhan berkata: "Sekeras apa pun engkau berusaha atau sebesar apa pun harga yang kaubayar, jika engkau menginginkan status, Tuhan tidak akan memberikannya kepadamu; jika Tuhan tidak memberikannya kepadamu, engkau akan gagal dalam perjuangan untuk mendapatkannya, dan jika engkau terus berjuang, hanya akan ada satu hasil: Engkau akan disingkapkan dan disingkirkan—engkau akan berada di jalan menuju kehancuran." Aku menyadari bahwa dalam mencari status, aku sedang menempuh jalan menentang Tuhan, dan satu-satunya hasilnya adalah kematian. Ini membuatku sangat takut. Pencarianku akan status dan ketenaran telah menjadi masalah serius dan jika aku terus seperti ini, ambisi dan keinginanku akan terus membesar. Siapa yang tahu hal jahat apa yang akan kulakukan jika aku benar-benar memperoleh status? Jika aku tidak segera bertobat dan terus menempuh jalan pengejaran yang salah ini, pada akhirnya, aku akan melakukan kejahatan besar dan disingkirkan serta dihukum oleh Tuhan.

Kemudian, saat pertemuan, aku melihat bagian firman Tuhan ini: "Sebagai seorang dari umat manusia yang diciptakan, engkau harus tetap berada pada posisi yang semestinya, dan berperilaku dengan cara yang jujur dan tulus. Dengan patuh berpegang teguh pada apa yang dipercayakan kepadamu oleh Sang Pencipta. Jangan bertindak di luar batas, atau melakukan hal-hal di luar jangkauan kemampuanmu atau yang menjijikkan bagi Tuhan. Jangan mengejar untuk menjadi orang hebat, manusia super, atau individu yang agung, dan jangan mengejar untuk menjadi Tuhan. Semua ini adalah keinginan yang tidak seharusnya orang miliki. Mengejar untuk menjadi orang hebat atau manusia super adalah hal yang tidak masuk akal. Mengejar untuk menjadi Tuhan jauh lebih memalukan; itu hal yang menjijikkan dan tercela. Apa yang benar-benar berharga, dan apa yang harus dipegang teguh oleh makhluk ciptaan lebih daripada apa pun, adalah menjadi makhluk ciptaan sejati; ini adalah satu-satunya tujuan yang harus dikejar oleh semua orang" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik I"). Melalui firman Tuhan, aku menyadari bahwa manusia hanyalah makhluk ciptaan dan kita seharusnya tetap berada di posisi yang telah ditetapkan serta fokus pada tugas kita saat ini. Karena ambisi, keinginan, dan watak Iblis dalam diri manusia, mereka selalu berhasrat untuk menjadi orang yang unggul dan berstatus tinggi. Ditetapkan sebagai pemimpin gereja bukanlah tentang memperoleh status, tetapi lebih kepada melaksanakan tugas dengan baik berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran. Entah aku memiliki status atau tidak, aku tetap harus bersikap jujur dalam cara berperilaku dan terus melaksanakan tugasku. Diam-diam aku bertekad bahwa siapa pun yang terpilih sebagai pemimpin, aku akan tetap teguh pada posisiku saat ini dan melaksanakan tanggung jawabku dengan jujur. Terlepas dari apakah aku terpilih atau memperoleh status yang tinggi, aku akan mendukung pekerjaan pemimpin dan melaksanakan tugas dengan baik bersama yang lainnya, sehati dan sepikiran. Beberapa hari kemudian, ketika pemimpin yang baru terpilih datang untuk menanyaiku mengenai pekerjaan kami, aku menjelaskan segalanya dengan sespesifik mungkin agar pemimpin dapat memahami pekerjaan dengan baik dan dapat melanjutkannya dengan efisien. Saat mendiskusikan pekerjaan, aku mempertimbangkan cara mana yang paling bermanfaat bagi pekerjaan kami dan langsung mengemukakan saran-saran baik yang kumiliki. Tidak peduli siapa pun yang menjabat sebagai pemimpin, yang penting adalah bekerja sama dalam melaksanakan pekerjaan kami dan menyelesaikan masalah apa pun yang muncul. Begitu aku mulai fokus pada pekerjaan yang ada dan memikirkan bagaimana bekerja sama dengan semua orang untuk melaksanakan tugas kami dengan cara yang paling efisien, aku merasa jauh lebih tenang.

Dua bulan kemudian pemimpin tersebut dipindahkan ke tugas lain, dan dalam pemilihan yang baru, aku akhirnya terpilih menjadi pemimpin. Seorang saudari berkata kepadaku, "Sebenarnya, kau memiliki kemampuan kerja yang luar biasa dan selalu bertanggung jawab dalam tugasmu, tetapi sebelum ini kau tidak mengejar kebenaran sehingga kami tidak berani memilihmu. Sekarang kami telah melihat bagaimana setelah mengalami penghakiman dan penyingkapan firman Tuhan, kau telah menyadari watak rusakmu, mengalami beberapa perubahan, menjadi lebih mantap dan tenang dalam ucapan dan tindakanmu, serta lebih banyak membagikan pemikiran yang terdalam dan nyata ketika kau bersekutu dalam pertemuan. Bahkan, meski kau baru mengalami sedikit perubahan ini, semua orang bisa melihat perbedaannya sehingga kami pun memilihmu." Setelah mendengar ucapan baik dari saudari itu, aku merasa sangat bersyukur kepada Tuhan. Penghakiman dan penyingkapan firman Tuhan-lah yang telah membantuku menyadari tingkat pertumbuhan, status, dan identitasku yang sebenarnya. Aku hanyalah makhluk ciptaan yang telah dirusak sedemikian dalamnya oleh Iblis dan tidak memiliki kenyataan kebenaran. Sekalipun aku memiliki bakat dan kualitas, aku tidak lebih baik daripada saudara-saudari lainnya. Secara bertahap, ambisi dan keinginanku akan status mulai melemah dan aku mulai memiliki prinsip cara berperilaku yang lebih rendah hati. Setelah terpilih menjadi pemimpin, aku tidak terlalu berpuas diri; sebaliknya, aku justru merasakan tanggung jawab dan beban dari tugasku. Karena keselamatan dari Tuhan-lah aku mampu membuat perubahan kecil ini. Puji syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa!

Sebelumnya: 53. Tugasku Menyingkapkan Keegoisanku

Selanjutnya: 55. Kesadaran dari Penjara

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

9. Kasih yang Berbeda

Oleh Chengxin, BrasiliaSebuah kesempatan yang tak terduga pada tahun 2011 memungkinkan aku untuk datang ke Brasilia dari Tiongkok. Ketika...

84. Iman yang Tak Terhancurkan

Oleh Saudara Meng Yong, TiongkokPada Desember 2012, beberapa saudara-saudari dan aku naik mobil menuju suatu tempat untuk mengabarkan...

26. Cara Memandang Tugasmu

Oleh Saudara Zhong Cheng, TiongkokTuhan Yang Mahakuasa berkata: "Hal paling mendasar yang dituntut dari manusia dalam kepercayaan mereka...

Pengaturan

  • Teks
  • Tema

Warna Solid

Tema

Jenis Huruf

Ukuran Huruf

Spasi Baris

Spasi Baris

Lebar laman

Isi

Cari

  • Cari Teks Ini
  • Cari Buku Ini

Hubungi kami via WhatsApp