35. Apa yang Ada di Balik Sikap Lunakku terhadap Orang Lain

Oleh Toby, Korea Selatan

Beberapa bulan yang lalu, seorang pemimpin menugaskanku dan Saudara Connor untuk memimpin pekerjaan penyiraman. Setelah beberapa waktu, kulihat dia tidak terlalu terbeban dalam pekerjaannya. Dia tidak segera menyampaikan persekutuannya dan tidak membantu saudara-saudari menyelesaikan masalah mereka, serta tidak aktif dalam diskusi pekerjaan. Setelah mengetahui keadaan ini, pemimpin memberitahuku bahwa Connor bersikap asal-asalan serta tidak bertanggung jawab, dan bahwa aku harus bersekutu dengannya. Kupikir, mungkin dia hanya sibuk dan beberapa pekerjaan tertunda. Lupakan, itu bukannya dia tidak melakukan apa-apa. Aku tak seharusnya meminta terlalu banyak darinya, dan aku akan menangani masalah yang belum dia selesaikan melalui persekutuan. Jadi, aku tidak menanyakan situasi dalam pekerjaannya. Beberapa waktu kemudian, sebelum pertemuan untuk beberapa saudara-saudari, aku mengingatkan Connor agar terlebih dahulu mencari tahu tentang masalah dan kesulitan mereka sehingga dia dapat menemukan firman Tuhan yang tepat bagi persekutuan untuk menyelesaikannya dan membuat pertemuan menjadi lebih efektif. Belakangan, aku bertanya kepada beberapa saudara-saudari apakah Connor menanyakan keadaan dan kesulitan mereka, dan mereka semua menjawab tidak. Aku merasa bahwa dia sangat tidak bertanggung jawab. Saudara-saudari punya banyak kesulitan dan kekurangan dalam tugas mereka. Mereka butuh lebih banyak pertemuan untuk bantuan dan persekutuan, tetapi dia tidak menganggap serius hal itu. Dia bersikap sangat asal-asalan! Kupikir kali ini aku harus membahas masalah dalam dirinya tersebut. Namun, lalu aku berpikir, jika dia tidak terima, jika dia menganggap bahwa aku terlalu keras padanya dan dia menjadi berprasangka terhadapku, bukankah itu akan membuatku tampak terlalu keras, terlalu tak berperasaan terhadap orang lain? Selain itu, Connor masih muda, jadi dia tak terhindarkan akan memikirkan dagingnya. Terkadang aku juga bersikap asal-asalan dan memikirkan dagingku, jadi aku tak boleh terlalu menuntut. Aku bisa mengatasinya sendiri. Bukankah ada pepatah yang mengatakan, "Bersikaplah tegas terhadap diri sendiri dan toleran terhadap orang lain"? Tidak masalah jika aku jadi lebih sibuk; yang perlu kulakukan hanyalah mengurangi waktu istirahatku. Jadi, aku tidak bersekutu dengan Connor dan tidak menunjukkan masalah dalam dirinya. Aku juga bersikap seperti itu dalam pekerjaan lainnya. Saat melihat ada seseorang yang tidak melaksanakan pekerjaannya dengan baik, aku tidak memeriksa untuk melihat apa yang menyebabkan hal itu atau memikirkan cara mengatasinya, tetapi hanya selalu bersikap toleran dan sabar. Terkadang aku merasa sangat jijik atau marah karena perilaku seseorang, tetapi aku hanya memendamnya. Aku berpikir, "Lupakan, biar mereka kerjakan sebanyak yang mereka mampu, dan aku akan menangani sisanya." Seiring berjalannya waktu, saudara-saudari ingin mencariku untuk membantu mengatasi masalah mereka. Aku tidak lagi merasa diperlakukan tidak adil atau kesal saat melihat mereka semua menghormatiku. Jadi, selama ini aku merasa bahwa bersikap tegas terhadap diriku sendiri dan bersikap toleran terhadap orang lain dalam kerja sama dan interaksi kami berarti bahwa aku adalah orang yang memiliki kemanusiaan yang baik, tidak seperti orang yang selalu cerewet dan tak bisa bekerja dengan siapa pun.

Kemudian, suatu hari aku membaca sesuatu dalam firman Tuhan tentang "keras terhadap diri sendiri dan toleran terhadap orang lain", lalu pandanganku terhadap diriku berubah. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Sekarang, mari kita persekutukan pepatah tentang perilaku moral berikutnya—'Bersikaplah tegas terhadap diri sendiri dan toleran terhadap orang lain'—apa arti pepatah ini? Itu berarti engkau harus membuat tuntutan yang tegas terhadap dirimu sendiri dan bersikap lunak terhadap orang lain, sehingga mereka dapat melihat betapa berlapang dada dan murah hatinya dirimu. Lalu mengapa orang mau melakukan hal ini? Apa yang ingin dicapai? Dapatkah orang melakukannya? (Tidak.) Apakah ini benar-benar ungkapan alami dari kemanusiaan yang normal? (Tidak.) Engkau harus sangat berkompromi pada dirimu sendiri untuk dapat melakukan hal ini! Engkau harus membebaskan dirimu dari keinginan dan tuntutan, mengharuskan dirimu merasakan lebih sedikit kenikmatan, menderita lebih banyak, membayar harga lebih besar, dan bekerja lebih banyak agar orang lain tidak perlu kelelahan. Dan jika orang lain menggerutu, mengeluh, atau berkinerja buruk, engkau tidak boleh menuntut terlalu banyak dari mereka—rata-rata saja sudah cukup. Orang-orang yakin bahwa ini menandakan moral yang luhur—tetapi mengapa menurut-Ku itu palsu? Bukankah itu memang palsu? (Ya.) Dalam keadaan normal, ungkapan alami dari kemanusiaan orang biasa adalah bersikap toleran terhadap dirinya sendiri dan tegas terhadap orang lain. Itulah yang sebenarnya. Orang dapat memahami masalah orang lain—'Orang ini congkak! Orang itu jahat! Orang ini egois! Orang itu asal-asalan dalam melaksanakan tugasnya! Orang ini sangat malas!'—sedangkan mengenai dirinya sendiri, dia berpikir: 'Meskipun aku sedikit malas, itu tidak masalah karena aku memiliki kualitas yang baik, dan aku melakukan pekerjaan yang lebih baik daripada orang lain!' Mereka suka mencari-cari kesalahan orang lain dan suka mempersoalkan hal-hal sepele, tetapi terhadap dirinya sendiri, mereka sangat toleran dan memberi kelonggaran pada diri sendiri sebisa mungkin. Bukankah seperti inilah ungkapan alami dari kemanusiaan mereka? (Ya.) Jika orang diharapkan untuk hidup sesuai dengan ide 'tegas terhadap diri sendiri dan toleran terhadap orang lain', penderitaan apa yang harus mereka tanggung? Mampukah mereka benar-benar menanggungnya? Berapa banyak orang yang akan berhasil menanggungnya? (Tidak ada.) Dan mengapa tidak ada? (Manusia egois menurut naturnya. Mereka bertindak berdasarkan prinsip bahwa 'Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya'.) Benar, manusia terlahir egois, manusia adalah makhluk yang egois, dan sangat berkomitmen pada falsafah Iblis: 'Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya.' Manusia beranggapan jika mereka tidak bersikap egois dan memikirkan diri mereka sendiri ketika sesuatu menimpa mereka, itu akan menjadi malapetaka bagi mereka, dan itu tidak wajar. Inilah yang orang yakini dan dengan cara seperti itulah mereka bertindak. Jika orang diharapkan untuk tidak bersikap egois, dan membuat tuntutan yang tegas terhadap diri mereka sendiri, dan rela mengalami kerugian daripada mengambil keuntungan dari orang lain, dan jika mereka diharapkan untuk dengan gembira berkata, ketika seseorang memanfaatkan mereka, 'Kau mengambil keuntungan dariku, tetapi aku tidak mempermasalahkannya. Aku adalah orang yang toleran, aku tidak akan menjelek-jelekkanmu atau berusaha membalasmu, dan jika kau belum cukup mengambil keuntungan dariku, jangan ragu untuk melanjutkannya'—apakah itu harapan yang realistis? Berapa banyak orang yang mampu melakukan hal ini? Inikah cara manusia yang rusak biasanya berperilaku? Jelas sekali, jika hal seperti ini yang terjadi, itu adalah ketidakwajaran. Mengapa demikian? Karena orang-orang dengan watak yang rusak, terutama orang-orang yang egois dan hina, berjuang untuk kepentingan mereka sendiri, dan sama sekali tidak akan merasa puas karena memikirkan orang lain. Jadi, fenomena ini, jika itu memang terjadi, adalah sebuah ketidakwajaran. 'Bersikaplah tegas terhadap diri sendiri dan toleran terhadap orang lain'—pepatah tentang perilaku moral ini jelas merupakan tuntutan yang tidak sesuai dengan fakta, atau dengan kemanusiaan, yang diajukan atas dasar gagasan dan imajinasi manusia oleh para moralis sosial yang kurang memahami kemanusiaan. Ini sama seperti menuntut tikus untuk tidak membuat lubang atau menuntut kucing untuk tidak menangkap tikus. Apakah benar mengajukan tuntutan seperti itu? (Tidak. Itu menentang hukum kemanusiaan.) Tuntutan ini jelas tidak sesuai dengan kenyataan, dan sangat kosong" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Apa yang Dimaksud dengan Mengejar Kebenaran (6)"). Aku tidak sepenuhnya memahami firman dari Tuhan ini saat pertama membacanya, karena aku selalu berpikir "Bersikap keras terhadap diri sendiri dan toleran terhadap orang lain" adalah hal yang positif. Aku selalu mengagumi orang-orang seperti itu dan bercita-cita menjadi seperti itu. Namun, setelah merenungkan firman Tuhan dengan saksama, aku merasa bahwa firman itu sungguh benar. Aku benar-benar diyakinkan. Dan aku sangat terkejut saat membaca ini, "Orang-orang dengan watak yang rusak, terutama orang-orang yang egois dan hina, berjuang untuk kepentingan mereka sendiri, dan sama sekali tidak akan merasa puas karena memikirkan orang lain. Jadi, fenomena ini, jika itu memang terjadi, adalah sebuah ketidakwajaran. 'Bersikaplah tegas terhadap diri sendiri dan toleran terhadap orang lain'—pepatah tentang perilaku moral ini jelas merupakan tuntutan yang tidak sesuai dengan fakta, atau dengan kemanusiaan, yang diajukan atas dasar gagasan dan imajinasi manusia oleh para moralis sosial yang kurang memahami kemanusiaan. Ini sama seperti menuntut tikus untuk tidak membuat lubang atau menuntut kucing untuk tidak menangkap tikus." Ternyata ide tentang "Bersikaplah tegas terhadap diri sendiri dan toleran terhadap orang lain" yang selama ini kujunjung tinggi tidaklah nyata, bertentangan dengan kemanusiaan, dan merupakan sesuatu yang tak mungkin dapat dicapai manusia. Itu tidak boleh menjadi kriteria yang digunakan orang dalam cara mereka berperilaku dan bertindak. Jika dilihat kembali perilakuku, itu persis seperti yang Tuhan ungkapkan. Saat aku bersikap keras terhadap diriku sendiri dan bersikap lunak terhadap orang lain, aku merasa diperlakukan tidak adil dan kesal, bahkan saat aku mencapai itu, aku sama sekali tidak menginginkannya; aku tak senang melakukannya. Seperti dengan Connor, aku tahu benar bahwa dia bersikap asal-asalan dalam tugasnya, malas, licin, dan tidak bertanggung jawab. Aku marah dan ingin menyingkapkan masalah dalam dirinya agar dia bisa cepat mengubah keadaan. Namun, kemudian aku ingat bahwa tak boleh terlalu keras, aku harus keras kepada diriku sendiri dan lunak kepada orang lain, jadi aku akan melupakan niatku bicara dengannya tentang masalah dirinya. Aku merasa sanggup sedikit lebih menderita, membayar harga sedikit lebih mahal, dan tidak menuntut terlalu banyak darinya agar aku tidak terlihat terlalu tak pengertian dan terlalu cerewet. Aku bertanggung jawab atas pekerjaan beberapa kelompok, jadi beban kerjaku sudah berat. Karena aku juga harus membantu dia mengatasi masalah dalam pekerjaannya, aku merasa diperlakukan tidak adil dan memiliki banyak keluhan, tetapi demi bersikap keras terhadap diriku sendiri dan toleran terhadap orang lain, dan agar orang menganggapku baik, aku hanya diam dan menerimanya. Itulah keadaanku yang sebenarnya dan yang sesungguhnya kupikirkan. Sebagaimana Tuhan katakan: "Manusia terlahir egois, manusia adalah makhluk yang egois, dan sangat berkomitmen pada falsafah Iblis: 'Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya.' Manusia beranggapan jika mereka tidak bersikap egois dan memikirkan diri mereka sendiri ketika sesuatu menimpa mereka, itu akan menjadi malapetaka bagi mereka, dan itu tidak wajar. Inilah yang orang yakini dan dengan cara seperti itulah mereka bertindak." Manusia pada dasarnya egois, dan aku tak terkecuali. Saat aku bekerja lebih banyak, aku benci kerja keras serta kelelahan tersebut, dan aku merasa diperlakukan tidak adil, kesal, dan tak senang karenanya. Namun, mengapa aku tetap saja menentang hatiku, bersikap keras terhadap diriku sendiri dan bersikap lunak terhadap orang lain? Watak rusak apa yang sebenarnya tersembunyi di balik ide "keras terhadap diri sendiri dan toleran terhadap orang lain" ini? Apa akibatnya jika bersikap seperti itu? Dengan membawa pertanyaan ini, aku datang ke hadapan Tuhan untuk berdoa dan mencari.

Suatu hari, aku membaca satu bagian firman Tuhan: "'Bersikaplah tegas terhadap diri sendiri dan toleran terhadap orang lain', dan juga ungkapan seperti 'Jangan mengantongi uang yang kautemukan' dan 'Dapatkan kesenangan dari membantu orang lain', adalah salah satu tuntutan budaya tradisional mengenai perilaku moral manusia. Demikian pula, entah seseorang dapat mencapai atau menerapkan perilaku moral ini atau tidak, itu bukanlah standar atau kriteria untuk mengukur apakah mereka memiliki kemanusiaan. Mungkin engkau benar-benar mampu bersikap tegas terhadap dirimu sendiri dan toleran terhadap orang lain, dan bahwa engkau menuntut dirimu dengan sangat ketat berdasarkan standar-standar tertentu, dan khususnya menjaga dirimu agar tak ternoda secara moral. Engkau mungkin selalu memikirkan orang lain dan memperhatikan mereka apa pun yang sedang kaulakukan, tidak mencari keuntungan bagi dirimu sendiri, dan tampak sangat tidak memihak dan tidak egois. Mungkin juga engkau memiliki rasa tanggung jawab sosial dan moralitas sosial, serta menunjukkan integritas dan karaktermu yang mulia kepada orang-orang di sekitarmu dan bahkan kepada keluargamu. Perkataan dan tindakanmu mungkin tidak pernah mendapat kritik atau celaan apa pun, dan hal-hal itu mungkin juga mendatangkan banyak pujian dan bahkan kekaguman. Orang mungkin menganggapmu sebagai seseorang yang benar-benar tegas terhadap diri sendiri dan toleran terhadap orang lain. Namun, ini hanyalah beberapa penampilan lahiriah, dan meskipun ini adalah penampilan lahiriah, tak ada seorang pun yang dapat benar-benar mencapainya. Selain itu, apakah pemikiran di lubuk hati manusia selaras dengan penampilan lahiriah ini, dengan tindakan-tindakan yang dilakukan secara lahiriah ini? Sama sekali tidak. Para cendekiawan, pakar, atau penguasa yang menganjurkan doktrin-doktrin ini semuanya memiliki motif. Jadi, apa sebenarnya motif itu? Itu adalah untuk menipu dan menyesatkan orang agar memuja mereka, agar menghormati mereka sebagai orang suci. Bisakah niat dan motif semacam itu diperlihatkan secara terbuka? Tentu saja tidak. Ini membuktikan bahwa motif ini adalah sesuatu yang tidak pantas diucapkan, sesuatu yang gelap dan jahat. ... Dapat dikatakan dengan pasti bahwa sebagian besar orang yang menuntut diri mereka untuk melaksanakan moral 'tegas terhadap diri sendiri dan toleran terhadap orang lain', sangat memedulikan status. Didorong oleh watak rusak mereka, mereka mau tak mau mengejar prestise di antara orang-orang, keunggulan sosial, dan status di mata orang lain. Semua hal ini berkaitan dengan keinginan mereka akan status, dan semua ini dikejar dengan memakai kedok perilaku moral baik mereka. Dan berasal dari manakah pengejaran mereka ini? Semua itu sepenuhnya berasal dari dan didorong oleh watak rusak mereka. Jadi, apa pun yang terjadi, entah seseorang mematuhi moral untuk 'tegas terhadap diri sendiri dan toleran terhadap orang lain' atau tidak, dan entah dia mematuhinya dengan sempurna atau tidak, ini sama sekali tak dapat mengubah esensi kemanusiaan mereka. Implikasinya adalah melakukan hal itu sama sekali tidak dapat mengubah pandangan hidup ataupun sistem nilai dirinya, ataupun menuntun sikap dan sudut pandangnya terhadap segala macam orang, peristiwa, dan berbagai hal. Bukankah itu yang terjadi? (Ya.) Makin orang mampu bersikap tegas terhadap dirinya sendiri dan toleran terhadap orang lain, makin baik mereka dalam berpura-pura dan menyamarkan diri mereka. Makin baik orang dalam menyesatkan orang lain dengan menggunakan perilaku yang baik dan perkataan yang sedap didengar, makin licik dan jahat natur mereka. Makin mereka adalah orang semacam ini, makin dalam kecintaan dan pengejaran mereka akan status dan kekuasaan. Betapa pun tampak hebat, mulia, dan benar perilaku moral mereka secara lahiriah, dan betapa pun menyenangkan bagi orang untuk melihatnya, pengejaran tak terkatakan yang tersembunyi di lubuk hati mereka, serta esensi natur mereka, dan bahkan ambisi mereka, dapat tersingkap oleh mereka setiap saat. Oleh karena itu, sebaik apa pun perilaku moral mereka, itu tidak bisa menyembunyikan esensi kemanusiaan hakiki mereka, atau ambisi dan keinginan mereka. Itu tidak bisa menyembunyikan esensi natur mereka yang buruk, yang tidak mencintai hal-hal positif dan yang muak akan kebenaran serta membencinya. Sebagaimana diperlihatkan oleh fakta-fakta ini, pepatah 'Bersikaplah tegas terhadap diri sendiri dan toleran terhadap orang lain' bukan saja tidak masuk akal—pepatah ini juga menyingkapkan tipe orang ambisius yang berusaha menggunakan pepatah dan perilaku seperti itu untuk menutupi ambisi dan keinginan mereka yang tersembunyi" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Apa yang Dimaksud dengan Mengejar Kebenaran (6)"). Dari apa yang firman Tuhan singkapkan, aku mengerti bahwa bersikap "keras terhadap diri sendiri dan toleran terhadap orang lain" membuat kita terlihat penuh pengertian dan toleran terhadap orang lain, membuat kita terlihat berpikiran terbuka dan mulia, padahal jauh di lubuk hati kita, terdapat motif gelap dan jahat yang tak diungkapkan. Bersikap seperti itu berarti memamerkan diri melalui perilaku baik yang dangkal, hanya untuk mendapatkan kekaguman dan disembah oleh orang lain, serta memiliki status dan reputasi yang lebih tinggi dibandingkan orang lain. Dari luarnya, orang seperti itu tampak terpuji, tetapi sebenarnya, dia adalah orang yang munafik, yang berpura-pura menjadi orang baik. Aku teringat akan tindakanku dan apa yang kusingkapkan saat bekerja sama dengan Connor. Sekalipun dia bersikap begitu asal-asalan dan tidak bertanggung jawab dalam pekerjaannya, aku bukan hanya tidak menunjukkan hal itu ataupun bersekutu dan memangkas dirinya, melainkan justru tetap bersikap pengertian, akomodatif, dan memanjakan. Sesibuk apa pun aku, betapa pun sedikitnya waktuku, aku akan mengerjakan apa pun yang tidak dikerjakan Connor. Meskipun itu sulit atau melelahkan, aku akan mengerjakannya. Sesungguhnya, aku tidak melakukan itu karena aku murah hati. Aku memiliki motif tersembunyi. Aku takut melukai harga dirinya dan menyinggung perasaannya jika menunjukkan itu secara langsung, karena aku mengkhawatirkan apa yang akan dia pikirkan tentangku. Meskipun aku tak ingin membantunya mengerjakan apa yang belum dia kerjakan, setiap kali aku hanya memaksakan diri untuk melakukannya, agar aku memberikan kesan yang baik, untuk menunjukkan kepada semua orang betapa murah hatinya aku, dan demi dikagumi oleh mereka. Akibatnya, aku menjadi makin licin dan licik. Aku tampak seperti orang yang penuh pengertian, tetapi motifku yang keliru ada di balik itu. Caraku bertindak membuat orang memiliki kesan yang salah tentang diriku, menipu, dan membodohi mereka. Saat itulah, aku mendapatkan pemahaman tentang esensi dari "keras terhadap diri sendiri dan toleran terhadap orang lain". Aku merasa bahwa motif tercela yang tersembunyi di hatiku begitu memuakkan. Aku juga sangat berterima kasih kepada Tuhan. Jika Dia tidak menyingkapkan esensi tentang bagian dari budaya tradisional itu, aku akan tetap tertipu, menganggap sikap "keras terhadap diri sendiri dan toleran terhadap orang lain" sebagai sikap orang yang memiliki kemanusiaan yang baik. Aku akhirnya sadar bahwa ini adalah kekeliruan yang Iblis gunakan untuk menyesatkan dan merusak manusia. Itu sama sekali bukan kebenaran, dan juga bukan kriteria untuk menilai kemanusiaan seseorang.

Kemudian, aku membaca dua bagian firman Tuhan: "Seberapa terstandarisasinya pun tuntutan dan pepatah yang disebut-sebut berasal dari manusia mengenai karakter moral orang, atau betapa pun sesuainya semua itu dengan selera, pandangan, keinginan, dan bahkan kepentingan orang banyak, semua itu bukanlah kebenaran. Ini adalah sesuatu yang harus kaupahami. Karena semua itu bukan kebenaran, engkau harus segera menyangkal dan meninggalkannya. Engkau juga harus menelaah esensi dari hal-hal itu, serta akibatnya jika orang hidup berdasarkan hal-hal itu. Apakah hal-hal itu bisa benar-benar membantumu untuk mengenal dirimu sendiri? Dapatkah semua itu menghasilkan pertobatan sejati dalam dirimu? Dapatkah semua itu benar-benar membuatmu hidup dalam keserupaan dengan manusia sejati? Semua itu tidak dapat membuatmu mengalami hal-hal ini. Semua itu hanya akan membuatmu menjadi munafik dan merasa diri benar. Semua itu akan membuatmu makin licik dan jahat. Ada orang-orang yang berkata, 'Dahulu, ketika kami menjunjung tinggi bagian dari budaya tradisional ini, kami merasa kami adalah orang baik. Ketika orang lain melihat cara kami berperilaku, mereka juga mengira kami orang yang baik. Padahal sebenarnya, kami tahu di dalam hati kami kejahatan macam apa yang mampu kami lakukan. Melakukan sedikit hal-hal yang baik hanya menyamarkannya. Namun, jika kami melepaskan perilaku baik yang budaya tradisional tuntut terhadap kami, apa yang harus kami lakukan sebagai gantinya? Perilaku dan perwujudan apa sajakah yang akan memuliakan Tuhan?' Apa pendapatmu mengenai pertanyaan ini? Apakah mereka masih belum tahu kebenaran apa yang harus diterapkan oleh orang yang percaya kepada Tuhan? Tuhan telah mengucapkan begitu banyak kebenaran, dan ada begitu banyak kebenaran yang harus diterapkan manusia. Jadi, mengapa engkau tidak mau menerapkan kebenaran, dan bersikeras menjadi orang baik yang palsu dan munafik? Mengapa engkau semua berpura-pura?" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Apa yang Dimaksud dengan Mengejar Kebenaran (5)"). "Singkatnya, meskipun kita telah menyebutkan pepatah-pepatah tentang perilaku moral dari budaya tradisional ini, tujuannya bukan semata-mata untuk memberitahu engkau semua bahwa semua itu hanya gagasan dan imajinasi manusia, berasal dari Iblis, dan tidak lebih. Hal ini untuk membuat engkau semua memahami dengan jelas bahwa esensi dari semua itu adalah kepalsuan, penyamaran, dan penipuan. Meskipun orang memiliki perilaku-perilaku tersebut, hal itu sama sekali bukan berarti bahwa mereka hidup dalam kemanusiaan yang normal, melainkan menggunakan perilaku-perilaku palsu ini untuk menutupi maksud dan tujuan mereka, menyembunyikan watak rusak, dan esensi natur mereka. Akibatnya, orang menjadi makin ahli dalam berpura-pura dan menipu orang lain, yang kemudian menyebabkan mereka menjadi makin rusak dan jahat. Standar moral dari budaya tradisional yang dipegang manusia yang rusak tidak sesuai dengan kebenaran yang Tuhan ungkapkan, tidak sesuai dengan firman apa pun yang Tuhan ajarkan kepada manusia, dan sama sekali tidak ada kaitannya. Jika engkau tetap berpaut pada aspek budaya tradisional, itu berarti engkau telah sepenuhnya disesatkan dan diracuni. Jika ada hal apa pun di mana engkau berpaut pada budaya tradisional dan mematuhi prinsip dan pandangannya, itu berarti engkau sedang memberontak terhadap Tuhan dan melanggar kebenaran, serta bertolak belakang dengan Tuhan dalam hal itu. Jika engkau berkomitmen dan berpaut pada salah satu dari pepatah tentang perilaku moral ini, dan memperlakukannya sebagai kriteria atau dasar untuk caramu memandang orang atau hal-hal, di situlah letak kesalahanmu, dan jika engkau menghakimi atau merugikan orang sampai taraf tertentu, engkau telah melakukan dosa. Jika engkau selalu bersikeras untuk menilai semua orang dengan standar moral budaya tradisional, itu artinya jumlah orang yang telah kaukecam dan perlakukan tidak adil akan terus bertambah banyak dan engkau pasti akan mengutuk dan menentang Tuhan, kemudian engkau akan menjadi orang yang sangat berdosa" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Apa yang Dimaksud dengan Mengejar Kebenaran (5)"). Merenungkan firman Tuhan membuatku lebih mengerti. Saat kita melihat seseorang bersikap asal-asalan, licik, atau tidak bertanggung jawab dalam bekerja, kita harus menunjukkannya kepada mereka atau memangkas mereka agar mereka bisa memahami natur dan akibatnya jika mereka bersikap asal-asalan, lalu segera mengubahnya. Itulah yang harus dilakukan oleh orang yang memiliki kemanusiaan yang baik. Namun, untuk menjaga citra dan status, aku bersikap memanjakan dan akomodatif, juga bungkam tentang masalah yang telah kulihat. Akibatnya, Connor tidak menyadari watak rusaknya, dan dia terus saja bersikap asal-asalan dan tidak bertanggung jawab dalam tugasnya. Itu merusak jalan masuk kehidupan saudara-saudari; itu adalah pelanggaran. Aku bukan sedang memikirkan atau memahaminya, melainkan sedang mencelakakannya. Aku sadar bahwa aku sama sekali bukan orang baik. Aku bukan hanya menyakiti saudara-saudari, melainkan aku juga menunda dan menghambat pekerjaan gereja. Saat itu, aku benar-benar menyadari bahwa "Bersikap keras terhadap diri sendiri dan toleran terhadap orang lain" bukanlah kebenaran, bahwa itu bukanlah kriteria yang seharusnya digunakan orang dalam cara mereka berperilaku, melainkan kesesatan dan kekeliruan yang digunakan Iblis untuk menyesatkan, salah mengarahkan, dan merusak manusia. Aku tak boleh terus membiarkan Iblis membodohiku; aku harus melakukan yang Tuhan minta, menggunakan firman Tuhan sebagai pedomanku dan kebenaran sebagai kriteriaku dalam memandang orang dan segala sesuatu, serta dalam caraku berperilaku dan bertindak. Setelah itu, saat melihat ada masalah dengan Connor, aku tidak lagi toleran atau memanjakan dia. Aku menunjukkan hal itu kepadanya agar dia bisa menyadarinya dan berubah.

Tak lama kemudian, aku diberi tanggung jawab untuk pekerjaan lain, yaitu menangani urusan umum. Ketika sedang memeriksanya, aku melihat seorang saudara tidak serius dalam tugasnya dan ceroboh dalam semua yang dia lakukan. Aku hanya ingin membereskan sendiri kesalahannya dan menyelesaikannya, menghindarkan diriku agar tidak menunjukkan hal itu dan mempermalukan dia. Lalu, terpikir olehku bahwa menyingkapkan pemikiran seperti ini berarti aku sedang melindungi kepentinganku sendiri dan membangun citra yang baik di mata orang lain. Aku tak ingin menunjukkan masalah dirinya, takut menyinggung perasaannya. Itu adalah motif yang tercela! Aku ingat firman Tuhan: "Sementara melaksanakan tugasmu dengan benar, engkau juga harus memastikan bahwa engkau tidak melakukan apa pun yang tidak bermanfaat bagi jalan masuk kehidupan umat pilihan Tuhan, dan tidak mengatakan apa pun yang tidak membangun bagi saudara-saudari. Setidaknya, engkau tidak boleh melakukan apa pun yang bertentangan dengan hati nuranimu dan sama sekali tidak boleh melakukan apa pun yang memalukan. Khususnya, kau sama sekali tidak boleh melakukan hal-hal yang memberontak terhadap Tuhan atau menentang-Nya, engkau juga tidak boleh melakukan apa pun yang mengganggu pekerjaan gereja atau kehidupan bergereja. Bersikaplah dengan berintegritas dan terhormat dalam segala hal yang kaulakukan, dan pastikan bahwa setiap tindakanmu pantas di hadapan Tuhan" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Bagaimana Hubunganmu dengan Tuhan?"). Firman Tuhan menunjukkan kepadaku dengan jelas prinsip dalam melakukan sesuatu. Apa pun yang kulakukan, itu harus bermanfaat bagi jalan masuk kehidupan saudara-saudari dan mendidik kerohanian mereka. Aku juga harus menerima pemeriksaan Tuhan. Saat melihat saudara itu bersikap asal-asalan dalam tugasnya, aku harus menunjukkannya agar dia bisa melihat masalahnya dan cepat berubah. Itu akan bermanfaat untuk jalan masuk kehidupannya dan pekerjaan gereja. Jika aku bungkam, tetapi diam-diam membantunya dalam pekerjaan, dia tak akan melihat masalahnya dan tak akan mengalami kemajuan dalam tugasnya. Dengan pemikiran ini, aku memberi tahu masalah yang kulihat dalam pekerjaannya. Dia ingin berubah setelah mendengar perkataanku. Aku merasa sangat tenang dan damai setelah menerapkan hal itu. Syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa!

Sebelumnya: 34. Di Balik Keruntuhan Sebuah Keluarga

Selanjutnya: 36. Perenungan tentang Menentang Pengawasan

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

4. Ujian bagi Keturunan Moab

Oleh Saudari Zhuan Yi, TiongkokTuhan Yang Mahakuasa berkata: "Semua pekerjaan yang dilakukan sekarang ini bertujuan agar manusia dapat...

83. Mengalahkan Pencobaan Iblis

Oleh Saudari Chen Lu, TiongkokIni terjadi pada bulan Desember 2012, saat aku berada di luar kota untuk menyebarkan Injil. Suatu pagi, saat...

Pengaturan

  • Teks
  • Tema

Warna Solid

Tema

Jenis Huruf

Ukuran Huruf

Spasi Baris

Spasi Baris

Lebar laman

Isi

Cari

  • Cari Teks Ini
  • Cari Buku Ini

Hubungi kami via WhatsApp