33. Pengalihan Tugas Menyingkapkanku

Oleh Briana, Amerika Serikat

Aku membuat video di gereja, tetapi karena selama beberapa waktu pekerjaannya sedikit, pemimpin mengalihkan tugasku untuk menyirami anggota baru. Lalu, karena kebutuhan pekerjaan video, aku dikirim kembali untuk membuat video, dan saat pekerjaan tidak sibuk, aku dikirim kembali untuk menyirami anggota baru. Aku dialihtugaskan ke sana kemari seperti ini dua kali. Lalu, seorang saudari berkata kepadaku, "Kau pergi ke mana pun mereka membutuhkanmu!" Saat itu, aku tak terlalu memikirkannya. Namun, belum sampai sebulan, pekerjaan video berkurang lagi, dan aku mulai khawatir bahwa sebentar lagi kami tak akan butuh orang sebanyak ini, lalu aku akan dikirim kembali untuk menyirami anggota baru. Tenggorokanku tercekat saat aku memikirkan itu. Mengapa aku begitu tak berguna? Segera setelah pekerjaan berkurang dan orang yang dibutuhkan menjadi lebih sedikit, penugasankulah yang disesuaikan. Aku tidak dibutuhkan oleh tim. Jika penugasanku disesuaikan, akan seperti apa pendapat orang lain tentangku? Akankah mereka bertanya-tanya mengapa penugasanku selalu disesuaikan, sedangkan orang lain tidak? Mereka akan mengira bahwa itu karena aku payah dan tak punya peran penting dalam tim. Pikiran ini membuatku sangat sedih, dan aku tak ingin menghadapi situasi itu.

Suatu kali, kami sedang mendiskusikan beberapa masalah dalam sebuah video, dan semua orang memberikan pandangan mereka serta berdiskusi dengan aktif. Namun, bahkan setelah berpikir begitu lama, aku tetap belum punya ide yang bagus, atau pendapat apa pun. Aku yang kebingungan hanya bisa terdiam. Semua orang berdiskusi dengan semangat, tetapi aku tak berkontribusi sama sekali. Aku bahkan merasa bahwa aku ini tidak ada. Kupikir, "Tidak bisa begini terus. Aku harus mengatakan sesuatu. Aku harus berbagi sesuatu yang berwawasan agar mereka tak akan mengabaikanku." Aku benar-benar memeras otak dan akhirnya berhasil mengutarakan beberapa pendapatku, tetapi tak ada yang setuju denganku. Aku sangat malu. Kupikir, "Itu sangat memalukan; apa yang akan mereka pikirkan tentangku?" Terakhir kali aku mengerjakan video adalah delapan bulan lalu, jadi keterampilan profesional dan pemahamanku akan prinsip lebih buruk daripada saat aku meninggalkan tim. Aku tertinggal jauh di belakang orang lain. Keterampilan membuat video hanya bisa ditingkatkan melalui proses belajar yang tekun. Orang lain sudah melakukan pekerjaan video sepanjang waktu, dan pemahaman mereka tentang keterampilan serta prinsip terus meningkat, sedangkan aku menghabiskan sedikit waktu di sana dan di sini. Aku tidak berlatih lama di satu tempat pun, jadi aku tak terlalu terampil dalam bidang apa pun. Segera setelah pekerjaan berkurang, penugasankulah yang pertama disesuaikan. Mereka baik-baik saja dengan adanya aku atau tanpa aku. Melihat beban kerja, kupikir pengawas akan mengirimku untuk kembali menyirami anggota baru kapan saja. Pikiran itu sangat membuatku sedih, dan aku tak bisa menahan air mataku. Aku bertanya-tanya, "Mengapa ini selalu terjadi kepadaku?" Beberapa orang dalam tim memiliki keterampilan profesional, ada yang memiliki kemampuan kerja, ada yang berpengalaman dan telah lama melaksanakan tugas ini, dan beberapa orang sangat efisien .... Mereka semua menonjol dalam beberapa hal, tetapi untukku, kualitasku tak sebagus mereka, aku tak terampil, dan selalu selangkah di belakang mereka. Jadi, saat pekerjaan berkurang dan lebih sedikit orang yang dibutuhkan, tentu saja, akulah yang pertama dialihtugaskan. Andai aku punya kualitas yang bagus dan keterampilan profesional seperti mereka, aku tak akan selalu dialihtugaskan. Namun sayangnya, aku tidak punya. Mengapa aku tak seterampil orang lain? Makin berpikir seperti ini, makin aku merasa murung, dan aku mulai salah memahami Tuhan.

Setelah itu, meskipun aku melaksanakan tugasku, aku tak merasa termotivasi. Aku hanya mengikuti rutinitas dalam segala hal dan puas dengan apa pun yang kuselesaikan. Aku tak memikirkan bagaimana caranya bekerja lebih efisien untuk mencapai hasil yang lebih baik. Aku tak berusaha keras untuk menyelesaikan masalah yang kutemui. Aku tak tahu berapa lama akan bertahan di tim, jadi kubiarkan saja. Selama masa itu, aku sangat cemas setiap kali pemimpin tim datang untuk bicara denganku, kupikir dia mungkin akan membicarakan tentang pengalihan tugasku. Jantungku berdebar kencang sampai aku tahu bahwa itu hanya percakapan kerja biasa. Ini terjadi berulang kali, yang membuat setiap hari terasa melelahkan. Aku sudah cukup tidur, tetapi terus terkantuk-kantuk di saat teduhku, dan aku tak mendapatkan pencerahan dari firman Tuhan. Aku sadar bahwa keadaanku keliru, jadi aku bergegas berdoa di hadapan Tuhan dan mencari, lalu merenungkan masalahku. Kemudian, aku membaca suatu bagian firman Tuhan yang membantuku memahami diriku sendiri. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Apa prinsip-prinsip dalam caramu berperilaku? Engkau haruslah berperilaku dengan cara yang sesuai dengan posisimu, menemukan tempatmu yang semestinya, dan melaksanakan tugas yang seharusnya kaulaksanakan dengan baik; hanya dengan demikian, engkau adalah orang yang bernalar. Sebagai contoh, jika engkau mahir dalam keterampilan profesional tertentu dan memahami prinsip-prinsipnya, engkau haruslah memikul tanggung jawabmu dan melakukan pemeriksaan yang semestinya di area tersebut; jika engkau mampu memberikan ide dan pencerahan, menginspirasi orang lain agar mereka mampu melaksanakan tugas mereka dengan lebih baik, engkau haruslah menyampaikan ide. Jika engkau mampu menemukan tempatmu yang tepat dan bekerja sama secara harmonis dengan saudara-saudarimu, engkau akan melaksanakan tugasmu dengan baik—inilah yang dimaksud dengan cara engkau berperilaku sesuai dengan posisimu. Awalnya, engkau mungkin hanya mampu menawarkan beberapa ide, tetapi masih ingin menawarkan hal lain dan mendapati dirimu tidak mampu meskipun telah berusaha sangat keras. Ketika orang lain menawarkan hal-hal tersebut, engkau mungkin merasa kesal dan tidak ingin mendengarnya, merasa tertekan dan merasa terkekang di dalam hatimu, serta mengeluh tentang Tuhan dan mengatakan bahwa Tuhan itu tidak adil. Ini adalah ambisi. Watak apa yang melahirkan ambisi dalam diri seseorang? Watak congkaklah yang melahirkan ambisi. Semua keadaan ini tentu saja dapat muncul dalam dirimu setiap saat, dan jika engkau semua tidak mampu mencari kebenaran untuk menyelesaikannya dan tidak memiliki jalan masuk kehidupan, serta tidak dapat berubah dalam hal ini, standar yang dapat kaucapai dalam tugasmu dan kemurnianmu dalam melaksanakannya akan menjadi rendah, dan hasilnya pun tidak akan terlalu bagus. Ini berarti engkau tidak melaksanakan tugasmu dengan memenuhi standar dan berarti Tuhan belum mendapatkan kemuliaan darimu. Tuhan telah mengaruniakan kepada setiap orang kelebihan dan karunia yang berbeda. Ada yang memiliki kelebihan dalam dua atau tiga bidang, ada yang dalam satu bidang, dan ada yang sama sekali tidak memiliki kelebihan—jika engkau semua dapat memperlakukan hal-hal ini dengan benar, berarti engkau memiliki nalar. Orang yang bernalar akan mampu menemukan tempat mereka, berperilaku menurut posisi mereka dan melaksanakan tugas mereka dengan baik. Orang yang tidak pernah dapat menemukan tempatnya adalah orang yang selalu memiliki ambisi. Di dalam hatinya, mereka selalu mengejar status dan keuntungan. Mereka tidak pernah puas dengan apa yang mereka miliki. Untuk mendapatkan lebih banyak keuntungan, mereka dengan rakus bertindak berlebihan; mereka selalu ingin memuaskan keinginan mereka yang berlebihan. Menurut mereka jika orang memiliki karunia dan berkualitas baik, mereka seharusnya menikmati lebih banyak kasih karunia Tuhan, dan memiliki beberapa keinginan yang berlebihan bukanlah suatu kesalahan. Apakah orang seperti ini memiliki nalar? Bukankah selalu memiliki keinginan yang berlebihan itu tidak tahu malu? Orang yang memiliki hati nurani dan nalar dapat merasakan bahwa itu tidak tahu malu, dan mereka mampu mencari kebenaran untuk melepaskan keinginan mereka yang berlebihan. Jika orang memahami kebenaran, mereka tidak akan melakukan hal-hal bodoh ini. Jika engkau berharap untuk melaksanakan tugasmu dengan penuh pengabdian agar dapat membalas kasih Tuhan, ini bukanlah keinginan yang berlebihan. Ini sesuai dengan hati nurani dan nalar kemanusiaan yang normal. Ini menyenangkan Tuhan. Jika engkau benar-benar ingin melaksanakan tugasmu dengan baik, engkau harus terlebih dahulu berdiri di tempatmu yang semestinya, dan kemudian melakukan apa yang mampu kaulakukan dengan segenap hatimu, dengan segenap akal budimu, dengan segenap kekuatanmu, dan melakukan yang terbaik—ini memenuhi standar, dan ada pengabdian dalam melaksanakan tugas dengan cara seperti ini. Inilah yang seharusnya dilakukan oleh makhluk ciptaan sejati" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Prinsip-Prinsip yang Seharusnya Menuntun Cara Berperilaku Orang"). Firman Tuhan menunjukkan kepadaku bahwa aku merasa putus asa akhir-akhir ini karena ambisi dan keinginanku belum terpuaskan. Orang lain tak mengagumi atau menghargaiku, aku juga tak bisa mengubah keadaanku, jadi aku salah paham dan mengeluh tentang Tuhan, merasa bahwa yang Dia berikan kepadaku tak cukup baik. Tugasku telah dialihkan dua kali karena pekerjaan berkurang, dan mungkin aku akan menghadapi pengalihan tugas ketiga dalam waktu kurang dari sebulan setelah kembali. Dalam situasi ini, aku merasa bahwa akulah yang terburuk di tim, yang tak dibutuhkan, dan keberadaanku tak ada nilainya. Aku tak bisa menerima kenyataan ini, dan aku merasa sengsara. Dalam diskusi kerja, aku tak ingin terlihat terlalu payah, jadi aku memutar otak dan mencoba memberikan pendapat yang berarti dan berwawasan, tetapi saranku ditolak, dan aku merasa sangat malu. Melihat bahwa keterampilanku jauh tertinggal dari yang lain membuatku merasa kesal dan jengkel. Kupikir aku tak terlalu terampil dalam hal apa pun karena tugasku terus dialihkan, dan ke mana pun aku pergi, aku selalu menjadi yang terbawah dan bisa dialihtugaskan kapan saja. Aku diam-diam membandingkan diriku dengan yang lain. Aku merasa bahwa mereka semua punya kekuatan dan unggul dalam bidang tertentu, dan dalam segala hal, aku berada di bawah standar serta memiliki kekurangan yang fatal, yaitu lambat dalam segalanya. Karena tidak bersedia menghadapi kenyataan, aku mengeluh bahwa Tuhan tidak memberiku kualitas yang baik. Aku merasa putus asa dan merasa diperlakukan tidak adil, tak bersemangat dalam tugasku. Namun sebenarnya, Tuhan memberi setiap orang karunia, kekuatan, dan kualitas yang berbeda. Kita ditetapkan untuk melaksanakan tugas yang berbeda-beda; semuanya berada di bawah kedaulatan dan pengaturan Tuhan. Orang yang bernalar punya hati yang tunduk. Mereka mengambil posisi mereka dan memanfaatkan diri dengan baik. Namun, aku tak tunduk sama sekali; aku tak rela menjadi yang paling tidak penting. Aku mengejar tempat di hati orang lain, juga rasa hormat dan kekaguman mereka, serta menjadi negatif dan bermalas-malasan dalam tugas saat tak mendapatkannya. Aku benar-benar tidak bernalar! Tuhan tak memberiku kualitas yang hebat, tetapi Dia juga tak menuntut banyak dariku. Dia hanya ingin aku menemukan posisi yang tepat, dan mengerahkan seluruh kemampuanku untuk tugasku serta cukup bagiku melakukan apa yang bisa kulakukan. Namun, aku sangat congkak dan tak punya nalar. Aku tak pandai dalam hal apa pun, dan tak ingin menghadapi kenyataan. Aku memendam ambisi dan keinginan untuk menjadi sukses dalam semalam dan dikagumi orang-orang. Akibatnya, aku menggunakan banyak energi, tetapi tak pernah mencapainya dan merasa negatif. Aku menyiksa diriku sendiri.

Kemudian, aku bertanya-tanya, "Mengapa aku selalu iri pada karunia dan kekuatan orang lain? Mengapa aku selalu berusaha mendapatkan tempat di hati orang-orang dan tak ingin tertinggal? Apa akar penyebab dari semua ini?" Dalam pencarianku, aku menemukan ini dalam firman Tuhan: "Bagi antikristus, reputasi dan status adalah hidup mereka, dan tujuan yang mereka kejar sepanjang hidup mereka. Dalam segala hal yang mereka lakukan, pertimbangan pertama mereka adalah: 'Apa yang akan terjadi dengan statusku? Lalu apa yang akan terjadi dengan reputasiku? Apakah melakukan hal ini akan memberiku reputasi yang baik? Apakah melakukan hal ini akan meningkatkan statusku di benak orang?' Itulah hal pertama yang mereka pikirkan, yang merupakan bukti yang cukup bahwa mereka memiliki watak dan esensi antikristus—dan karena hal inilah mereka memikirkan berbagai hal dengan cara ini. Dapat dikatakan bahwa bagi antikristus, reputasi dan status bukanlah tuntutan tambahan, apalagi hal-hal lahiriah bagi mereka yang dapat mereka abaikan. Reputasi dan status adalah bagian dari natur para antikristus, kedua hal tersebut ada di dalam tulang mereka, dalam darah mereka, yang sudah menjadi bawaan lahiriah mereka. Para antikristus tidak acuh tak acuh apakah mereka memiliki reputasi dan status atau tidak; ini bukanlah sikap mereka. Lantas, apa sikap mereka terhadap kedua hal ini? Reputasi dan status berkaitan erat dengan kehidupan mereka sehari-hari, dengan keadaan mereka sehari-hari, dengan apa yang mereka kejar setiap hari. Bagi antikristus, status dan reputasi adalah hidup mereka. Bagaimanapun cara mereka hidup, di lingkungan mana pun mereka tinggal, pekerjaan apa pun yang mereka lakukan, apa pun yang mereka kejar, apa pun tujuan mereka, apa pun arah hidup mereka, semuanya berpusat pada memiliki reputasi yang baik dan status yang tinggi. Dan tujuan ini tidak berubah; mereka tak pernah mampu melepaskan hal-hal semacam ini. Inilah wajah para antikristus yang sebenarnya dan esensi mereka. ... Jika mereka merasa bahwa mereka belum memperoleh ketenaran, keuntungan, atau status, bahwa tak seorang pun mengagumi dan menghormati mereka, atau mengikuti mereka, mereka akan merasa sangat kecewa, mereka menganggap tidak ada gunanya percaya kepada Tuhan, itu tidak bernilai, dan di dalam hatinya, mereka bertanya-tanya, 'Apakah aku telah gagal karena percaya kepada Tuhan dengan cara seperti ini? Apakah tidak ada harapan bagiku?' Mereka sering kali memperhitungkan hal-hal semacam itu di dalam hatinya. Mereka memperhitungkan bagaimana mereka dapat memiliki kedudukan di rumah Tuhan, bagaimana mereka dapat memiliki reputasi yang tinggi di gereja, bagaimana mereka dapat membuat orang mendengarkan ketika mereka berbicara, dan memuji mereka ketika mereka bertindak, bagaimana mereka dapat membuat orang mengikuti mereka di mana pun mereka berada, dan bagaimana mereka dapat memiliki suara yang berpengaruh di gereja, serta memiliki ketenaran, keuntungan, dan status—mereka sangat berfokus pada hal-hal semacam itu di dalam hati mereka. Semua ini adalah hal-hal yang dikejar oleh orang-orang semacam itu" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, Bab Sembilan (Bagian Tiga)). Tuhan menyingkapkan bahwa antikristus sangat menghargai reputasi dan status. Dalam segala hal, mereka memikirkan tempat mereka di antara orang-orang. Mereka menjadikan reputasi dan status sebagai hidup serta tujuan pengejaran mereka. Jika tak punya reputasi dan status atau tak dikagumi orang, mereka merasa putus asa, sampai kehilangan minat dalam segala hal. Bukankah aku bertindak seperti itu? Saat tugasku bolak-balik dialihkan, aku merasa aku dapat dibuang dan tak berarti, tak punya status apa pun dan tak penting, jadi aku merasa sangat kesal. Saat mendiskusikan masalah, aku tak punya ide berharga untuk dikontribusikan, dan tak seorang pun menerima pandangan yang kuungkapkan. Aku merasa bahwa akulah yang terburuk dalam tim, tak ada yang menghargai atau menghormatiku, dan keberadaanku tampak tak berarti. Aku menjadi lemah, negatif, salah paham, dan mengeluh tentang Tuhan. Aku menjadikan reputasi dan status sebagai hidupku, lalu menjadi negatif, bermalas-malasan, dan tak punya motivasi saat tak mendapatkannya. Aku terlalu memedulikan semua itu. Aku selalu mengejar hal-hal itu karena aku terpengaruh oleh racun Iblis seperti, "Kejarlah agar menonjol dan unggul," "Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang," dan "Hiduplah sebagai pahlawan di antara manusia, dan matilah sebagai roh yang gagah berani di antara hantu." Kupikir itu adalah tujuan yang paling benar dalam hidup, dan mengejar hal-hal itu berarti punya aspirasi. Aku belajar sangat keras di sekolah. Aku sering menjadi juara kelas dalam ujian saat SMP dan SMA. Aku sangat populer dan sering dipuji oleh teman-teman sekelas dan guruku. Aku merasa sangat puas. Setelah bergabung dengan gereja dan menjalankan tugas, aku tetap hidup berpedoman kepada racun Iblis itu, dan sangat peduli tentang tempatku di hati orang lain, selalu berusaha membuat orang-orang mengagumiku. Meskipun aku bukan pemimpin tim atau pengawas, aku harus menjadi orang penting, yang diakui orang lain. Ketika aku tidak memperoleh ketenaran, keuntungan serta status dan ambisiku tidak terpenuhi, aku mengeluh dan merasa tak puas dengan kedaulatan dan pengaturan Tuhan. Aku tak berani mengatakan apa pun, tetapi menentang Tuhan dalam hati, serta menjadi negatif dan bermalas-malasan dalam tugasku. Aku hanya mendatangkan kesengsaraan dan siksaan bagi diriku karena hidup berpedoman pada racun Iblis itu, dan aku berlawanan dengan Tuhan, mencoba berdebat dan tawar-menawar dengan-Nya, bahkan tanpa sadar meragukan kebenaran-Nya dan menentang-Nya. Jika terus begini, aku akan menyinggung watak Tuhan dan disingkirkan oleh-Nya! Aku teringat pada firman Tuhan: "Orang sama sekali tidak boleh memendam ambisi atau berangan-angan kosong, mereka tidak boleh mengejar ketenaran, keuntungan, dan status, atau berusaha menjadi lebih menonjol dari yang lain. Terlebih lagi, mereka tidak boleh berusaha menjadi manusia super atau tokoh besar, menjadi lebih unggul dari yang lain, dan membuat orang lain mengidolakan mereka. Inilah yang didambakan oleh manusia yang rusak, dan inilah jalan Iblis; Tuhan tidak menyelamatkan orang-orang seperti itu. Jika orang tanpa henti mengejar ketenaran, keuntungan, dan status serta dengan keras kepala menolak untuk bertobat, mereka tidak dapat diselamatkan, dan hanya ada satu kesudahan bagi mereka: disingkirkan" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Pelaksanaan Tugas dengan Baik Membutuhkan Kerja Sama yang Harmonis"). Sebelumnya, aku tak pernah menyadari seberapa serius konsekuensi dari mengejar reputasi dan status. Kupikir aku tak akan melakukan kejahatan besar seperti antikristus atau mengganggu pekerjaan gereja. Paling-paling, aku hanya merasa negatif, lemah, dan kesal saat tak dikagumi orang lain. Namun, aku menyadari bahwa itu sama sekali bukan begitu. Dari luar, aku tampak tak melakukan kejahatan besar sama sekali, tetapi aku tak puas dengan situasi yang Tuhan tetapkan, dan selalu mengeluh. Aku melawan Tuhan dalam hati. Aku sedang menentang Tuhan! Aku teringat pada seorang saudari yang pernah bekerja denganku. Awalnya dia antusias dalam tugasnya, lalu terpilih sebagai pemimpin, tetapi kemudian dipecat dan dialihtugaskan serta kehilangan statusnya. Dia selalu negatif karena tak bisa dikagumi orang, lalu akhirnya dia mengkhianati Tuhan dan pergi. Sudah jelas bahwa sangat berbahaya bagi orang untuk selalu mengejar reputasi dan status, serta begitu ambisi dan keinginannya tak terpenuhi, mereka menjadi negatif, salah paham, dan mengeluh tentang Tuhan. Mereka menentang Tuhan dan bahkan mengkhianati Dia. Pada titik ini, aku sadar bahwa keadaanku berbahaya. Aku tak ingin terus memberontak terhadap Tuhan dan menentang Tuhan, aku ingin melepaskan diri dari kekangan reputasi dan status.

Suatu hari, dalam saat teduhku, aku membaca beberapa bagian dari firman Tuhan: "Ketika Tuhan meminta orang untuk melaksanakan tugasnya dengan baik, Dia tidak sedang meminta mereka untuk menyelesaikan sejumlah tugas atau melakukan usaha besar apa pun, juga bukan untuk memperoleh pencapaian luar biasa apa pun. Yang Tuhan inginkan hanyalah agar orang dapat melakukan semua yang mampu mereka lakukan dengan cara yang membumi, dan hidup berdasarkan firman-Nya. Tuhan tidak membutuhkanmu menjadi orang yang hebat atau mulia, atau melakukan keajaiban apa pun, dan Dia juga tidak ingin melihat kejutan menyenangkan apa pun dalam dirimu. Dia tidak membutuhkan hal-hal seperti itu. Yang Tuhan butuhkan hanyalah agar engkau menerapkan berdasarkan firman-Nya dengan cara yang membumi. Setelah engkau memahami firman Tuhan, bertindaklah berdasarkannya dan laksanakanlah itu, atau setelah engkau mendengar firman Tuhan, ingatlah itu dengan baik, dan ketika tiba waktunya untuk menerapkannya, terapkanlah sesuai dengan firman Tuhan. Biarkan firman Tuhan menjadi hidupmu, menjadi kenyataanmu, dan menjadi apa yang kaujalani. Dengan demikian, Tuhan akan dipuaskan" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Pelaksanaan Tugas dengan Baik Membutuhkan Kerja Sama yang Harmonis"). "Jika Tuhan menciptakanmu bodoh, maka ada makna dalam kebodohanmu; jika Dia menciptakanmu cerdas, maka ada makna dalam kecerdasanmu. Apa pun kelebihan yang Tuhan berikan kepadamu, apa pun keahlianmu, setinggi apa pun IQ-mu, Tuhan memiliki tujuan-Nya dalam menciptakannya demikian. Semua hal ini telah ditakdirkan sejak semula oleh Tuhan. Peran yang kaumainkan dalam hidupmu dan tugas yang mampu kaulaksanakan juga telah lama ditakdirkan oleh Tuhan. Ada orang-orang yang melihat bahwa orang lain memiliki kelebihan yang tidak mereka miliki dan merasa geram. Mereka ingin mengubah keadaan dengan belajar lebih banyak, melihat lebih banyak, dan menjadi lebih rajin. Namun, ada batasan pada apa yang mampu mereka capai serajin apa pun mereka, dan mereka tidak dapat melampaui orang-orang yang memiliki karunia dan kelebihan. Sebesar apa pun upaya yang kaukerahkan, itu sia-sia. Apa pun yang Tuhan takdirkan untukmu, seperti itulah dirimu. Dia memberi kepada setiap orang karunia dan kelebihan yang berbeda, dan tidak ada yang dapat dilakukan siapa pun untuk mengubah hal ini. Apa pun keahlianmu, di situlah engkau harus mengerahkan lebih banyak upaya. Tugas apa pun yang cocok untukmu adalah tugas yang seharusnya kaulaksanakan. Jangan mencoba memaksakan dirimu dalam hal-hal yang tidak engkau kuasai dan jangan iri kepada orang lain. Setiap orang memiliki fungsinya masing-masing. Jangan berpikir bahwa engkau mampu melakukan segala sesuatu dengan baik, atau bahwa engkau sempurna dan lebih baik daripada orang lain. Jangan selalu berhasrat untuk menggantikan orang lain dan memamerkan dirimu. Ini adalah watak yang rusak. Ada orang-orang yang berpikir bahwa mereka tidak dapat melakukan apa pun dengan baik, dan bahwa mereka sama sekali tidak memiliki kelebihan. Jika demikian halnya, engkau seharusnya menjadi orang yang mendengarkan dan tunduk dengan cara yang jujur dan tulus. Laksanakan dengan baik hal-hal yang mampu kaulakukan, dan kerahkan segenap kemampuanmu. Itu sudah cukup. Tuhan akan merasa puas" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Prinsip-Prinsip yang Seharusnya Menuntun Cara Berperilaku Orang"). Dari firman Tuhan, aku menyadari bahwa Dia tak bermaksud agar kita menjadi orang hebat. Dia berharap kita bisa berperilaku dan melaksanakan tugas kita sesuai dengan posisi kita dan dengan cara yang rendah hati, berfokus menerapkan firman-Nya, dan menjadi makhluk ciptaan yang taat. Kualitas dan kemampuan kerja kita semuanya berada di bawah kedaulatan dan pengaturan Tuhan. Aku harus belajar menerima dan tunduk, memanfaatkan karunia Tuhan untukku dengan baik sesuai kekuatanku, serta melakukan yang terbaik. Keterampilanku tak sebaik yang lain, tetapi bukannya aku tak mampu melakukan pekerjaan itu. Karena gereja telah mengaturku untuk melaksanakan tugas itu, aku harus dengan teguh mencurahkan segenap kemampuanku dan berusaha sekeras mungkin. Saat mendiskusikan pekerjaan, aku hanya perlu membicarakan hal-hal yang kupahami. Jika aku tidak memahami sesuatu dengan jelas atau tak mengetahui prinsip, aku harus mencari dan bersekutu dengan yang lain, mendengarkan pemikiran mereka, dan belajar dari kelebihan mereka untuk menutupi kelemahanku. Setelah memikirkan ini, hatiku tercerahkan, aku juga punya jalan dan arah untuk menerapkannya. Dahulu, kupikir bahwa dialihtugaskan adalah hal yang memalukan. Saat itu terjadi, aku merasa itu membuktikan bahwa akulah yang terburuk, jadi aku tak bisa menyikapinya dengan benar. Sekarang saat dipikirkan, masalahnya ada pada perspektifku. Tuhan memberi setiap orang karunia, kekuatan, dan kualitas yang berbeda-beda. Setiap orang diberi tuntutan yang berbeda-beda. Memang benar, keterampilanku tak terlalu bagus, jadi saat tim sedang tak punya banyak pekerjaan, gereja mengalihkan tugasku sesuai dengan kekuatanku. Itu sejalan dengan prinsip dan bermanfaat bagi pekerjaan gereja. Aku harus menyikapinya dengan benar. Selain itu, Tuhan mengukur seseorang, bukan hanya berdasarkan pada apakah dia bisa bekerja dengan baik, tetapi apakah dia mengejar kebenaran, benar-benar tunduk kepada-Nya, dan setia dalam tugasnya. Pikiran ini mencerahkan hatiku, dan aku tak lagi merasa terkekang. Aku juga tahu persis apa yang harus kukejar. Aku berdoa kepada Tuhan, "Ya Tuhan, terima kasih telah mencerahkanku dan membantuku memahami maksud-Mu. Aku tak tahu kapan aku akan dialihtugaskan, tetapi aku siap tunduk pada kedaulatan dan pengaturan-Mu. Di mana pun aku melaksanakan tugasku, aku hanya ingin memberikan segalanya dan memuaskan-Mu!"

Setelah aku mengubah pola pikirku, keadaanku saat melaksanakan tugasku juga berubah. Dahulu, aku selalu berpikir bahwa aku tak seperti yang lain, aku hanya anggota tim sementara yang bisa pergi kapan pun. Aku merasa akulah yang terbawah dan aku tak punya rasa memiliki. Aku salah paham dan merasa jauh dari Tuhan, serta tak mencurahkan segalanya demi tugasku. Namun mulai hari ini, aku tak merasa seperti itu lagi. Di mana pun aku melakukan tugas atau untuk berapa lama, ada maksud baik Tuhan di baliknya, jadi aku harus belajar untuk tunduk. Meskipun nanti aku harus pergi, saat ini tugasku adalah membuat video, dan aku harus melakukan yang terbaik setiap hari, serta mencurahkan hati pada tugasku dan pada setiap situasi yang kualami. Setelah itu, saat melaksanakan tugasku, aku akan sering berdoa kepada Tuhan, meminta Dia membimbingku agar bisa lebih efisien. Aku juga akan memikirkan masalah yang ada dalam pekerjaanku, jadi aku bisa menyimpulkan dan memperbaiki penyimpangan dengan cepat. Ketika aku tidak memahami prinsip, aku akan mencari dan bersekutu dengan yang lain. Aku merasa nyaman melaksanakan tugasku dengan cara ini, juga merasa lebih dekat dengan Tuhan.

Lalu, dalam sebuah pertemuan, aku membaca sebuah bagian dari firman Tuhan yang sangat menyentuhku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Apa yang seharusnya orang lakukan dalam hal kedaulatan dan pengaturan Tuhan atas nasib mereka? (Tunduk pada pengaturan dan penataan Tuhan.) Engkau harus terlebih dahulu mencari mengapa Sang Pencipta telah mengatur nasib dan lingkungan hidup semacam ini untukmu, mengapa Dia membuatmu menghadapi dan mengalami hal-hal tertentu, dan mengapa nasibmu seperti itu. Dari sini, engkau seharusnya memahami apa yang hatimu dambakan dan butuhkan, dan mengetahui kedaulatan dan pengaturan Tuhan. Setelah engkau memahami dan mengetahui hal-hal ini, yang seharusnya kaulakukan bukanlah membuat pilihanmu sendiri, bersikap menantang, menolak, menentang, atau berusaha melepaskan diri—tentu saja, ini juga bukan untuk berusaha tawar-menawar dengan Tuhan. Sebaliknya, engkau harus tunduk. Mengapa engkau harus tunduk? Karena engkau adalah makhluk ciptaan, engkau tidak dapat mengatur nasibmu dan engkau tidak berdaulat atas nasibmu. Tuhan adalah penentu keputusan atas nasibmu. Dalam menghadapi nasibmu, engkau pasif dan tak punya pilihan apa pun. Satu-satunya hal yang harus kaulakukan adalah tunduk. Engkau tidak boleh membuat pilihanmu sendiri tentang nasibmu atau menghindarinya, engkau tidak boleh tawar-menawar dengan Tuhan, dan engkau tidak boleh bersikap menentang atau mengeluh. Tentu saja yang terutama, engkau tidak boleh mengatakan sesuatu seperti, 'Nasib yang telah Tuhan atur bagiku sungguh buruk. Nasibku menyedihkan dan lebih buruk daripada nasib orang lain,' atau 'Nasibku buruk dan aku tidak bisa menikmati kebahagiaan atau kemakmuran apa pun. Tuhan telah mengatur segala sesuatunya dengan buruk bagiku.' Perkataan ini adalah kritikan dan dengan mengucapkannya, engkau sedang bersikap lancang. Itu bukanlah perkataan yang boleh diucapkan oleh makhluk ciptaan dan bukan sudut pandang atau sikap yang seharusnya dimiliki oleh makhluk ciptaan. Sebaliknya, engkau harus melepaskan berbagai pemahaman, definisi, pandangan, dan pemahamanmu yang salah tentang nasib. Pada saat yang sama, engkau harus mampu memiliki sikap dan pendirian yang benar untuk tunduk pada semua hal yang akan terjadi dengan menganggapnya bagian dari nasib yang telah Tuhan atur untukmu. Engkau tidak boleh menentangnya, dan tentu saja engkau tidak boleh berputus asa dan mengeluh bahwa Surga tidak adil, bahwa Tuhan telah mengatur hal-hal yang buruk bagimu, dan tidak memberimu hal-hal yang terbaik. Mengenai masalah nasib, makhluk ciptaan tidak berhak untuk memilih; Tuhan tidak memberimu kewajiban semacam ini dan Dia tidak memberikan hak semacam ini kepadamu. Jadi, engkau tidak boleh berusaha membuat pilihan, berdebat dengan Tuhan, atau mengajukan tuntutan tambahan terhadap-Nya. Apa pun pengaturan Tuhan, engkau harus menyesuaikan diri dan menghadapinya sebagaimana mestinya. Engkau harus menghadapi dan berusaha mengalami dan menghayati apa pun yang telah Tuhan atur. Engkau harus tunduk sepenuhnya pada semua yang harus kaualami yang telah Tuhan atur bagimu. Engkau seharusnya mengikuti nasib yang telah Tuhan atur bagimu. Sekalipun engkau tidak menyukai sesuatu, atau jika engkau menderita karenanya, atau jika itu menantang dan menekan martabat dan harga dirimu, selama itu adalah sesuatu yang harus kaualami, sesuatu yang telah Tuhan atur dan tata untukmu, engkau harus tunduk pada hal itu, dan engkau tidak dapat membuat pilihan apa pun. Karena nasib manusia telah diatur oleh Tuhan dan Dia berdaulat atas nasib mereka, bagi-Nya, itu tidak dapat dinegosiasikan. Jadi, jika orang bijaksana dan memiliki nalar kemanusiaan yang normal, mereka tidak boleh selalu mengeluh bahwa nasib mereka buruk; terlebih lagi, mereka tidak boleh memperlakukan tugas mereka, hidup mereka, jalan yang mereka tempuh dalam iman mereka, semua keadaan yang telah Tuhan atur, atau tuntutan-Nya terhadap manusia dengan sikap yang berputus asa karena merasa nasib mereka buruk" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (2)"). Merenungkan firman Tuhan membantuku melihat dengan lebih jelas cara menghadapi kedaulatan dan pengaturan Tuhan. Semua nasib kita ada di tangan Tuhan. Di keluarga seperti apa seseorang dilahirkan, pendidikan apa yang dia tempuh, karunia dan kelebihannya, kapan dia datang ke gereja dan mengemban tugas, serta tugas apa yang dia laksanakan, semuanya dikendalikan dan diatur oleh Tuhan, dan maksud baik Tuhan ada di baliknya. Sebelumnya, aku tak pernah mengerti alasan aku selalu dipindahkan, tetapi setelah memikirkannya baik-baik, aku menyadari bahwa itulah yang kubutuhkan. Tanpa pengalaman-pengalaman ini, aku tak akan melihat betapa buruknya hasratku terhadap reputasi dan status. Aku masih berpikir bahwa aku telah berubah sedikit, dan tak menyadari betapa berakarnya falsafah Iblis dalam diriku, juga bahwa itu telah membuatku kehilangan nalar kemanusiaan yang normal dan berdebat dengan Tuhan serta melawan-Nya, serta tak akan sadar bahwa aku akan disingkirkan jika terus mengejarnya. Dengan mengalami hal ini, aku menyadari pandanganku yang keliru tentang mengejar reputasi dan status, aku juga paham bahwa itu bukanlah jalan yang benar, itu adalah cara Iblis untuk merusak dan mencelakakan manusia. Aku juga belajar bahwa aku harus menyikapi kualitasku dengan benar, menerima dan tunduk pada kedaulatan dan pengaturan Tuhan, bisa berdiri di tempatku, dan menjadi makhluk ciptaan yang bernalar. Tidak masalah jika aku dialihtugaskan di masa depan, tak soal tugas apa pun yang kulaksanakan, aku harus tunduk pada kedaulatan dan pengaturan Tuhan, mencari maksud-Nya, beradaptasi, mengalaminya, dan sungguh-sungguh menghayati setiap situasi yang Dia atur untukku, serta berusaha memetik pelajaran dan mengenal diriku melaluinya.

Sebelumnya: 32. Belajar dari Kegagalan Orang Lain

Selanjutnya: 34. Di Balik Keruntuhan Sebuah Keluarga

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

83. Mengalahkan Pencobaan Iblis

Oleh Saudari Chen Lu, TiongkokIni terjadi pada bulan Desember 2012, saat aku berada di luar kota untuk menyebarkan Injil. Suatu pagi, saat...

Pengaturan

  • Teks
  • Tema

Warna Solid

Tema

Jenis Huruf

Ukuran Huruf

Spasi Baris

Spasi Baris

Lebar laman

Isi

Cari

  • Cari Teks Ini
  • Cari Buku Ini

Hubungi kami via WhatsApp