13. Bagaimana Bersikap Asal-asalan Merugikanku

Oleh Kristen, Italia

Pada Oktober 2021, aku mulai berlatih menyirami para orang percaya baru. Setelah seminggu melakukannya, aku sadar masih sangat banyak yang harus kupelajari. Aku harus membiasakan diri dengan berbagai macam prinsip kebenaran, dan aku juga harus berlatih mempersekutukan kebenaran untuk menyelesaikan berbagai masalah dan kesulitan mereka, tetapi pemahamanku tentang kebenaran masih dangkal dan mengobrol bukanlah keahlianku. Aku mendapati bahwa tugas ini sangat sulit, khususnya ketika pemimpin tim ingin aku menyelesaikan masalah dan kesulitan pada orang percaya baru dengan cepat. Semua orang percaya baru punya banyak masalah, jadi untuk menyelesaikannya, aku harus mencari banyak kebenaran yang relevan, dan memikirkan cara untuk mempersekutukannya dengan jelas. Berapa harga yang harus kubayar untuk melakukan hal ini? Aku mendapati bahwa semua ini sangat sulit untuk dicapai, jadi kukatakan kepada pemimpin tim bahwa kualitasku kurang dan aku tak mampu melakukannya dengan baik. Pemimpin tim menyampaikan persekutuannya, berkata bahwa aku harus terbeban dalam melaksanakan tugasku dan tidak boleh takut menderita. Dengan enggan aku setuju setelah mendengar persekutuannya, tetapi di dalam hatiku, aku tidak mau membayar harga. Dalam pertemuan, aku terus bersekutu dengan para orang percaya baru seperti biasa, dan karena tidak mengerti kesulitan mereka, aku hanya berbicara tanpa arah dalam persekutuanku dan tidak memperoleh hasil, yang menyebabkan jumlah orang percaya baru yang rutin ikut pertemuan mulai menurun. Ketika pemimpin tim menemukan masalah ini, dia memintaku untuk segera membantu dan mendukung mereka, tetapi kupikir, "Para pekerja penginjilan sudah memberikan mereka banyak persekutuan tentang kebenaran visi pekerjaan Tuhan, tetapi mereka tetap tidak datang ke pertemuan. Lalu, apakah persekutuan yang kusampaikan akan membuahkan hasil? Selain itu, semua orang percaya baru itu tidak ikut pertemuan belakangan ini, jadi menyampaikan persekutuan kepada mereka pasti akan makan banyak waktu, dan itu akan melelahkan." Dengan pemikiran ini, aku hanya mengirimi mereka pesan singkat untuk menyapa, dan mengesampingkan mereka yang tidak menanggapi, tidak memedulikan mereka. Mengenai mereka yang punya lebih banyak masalah, kutempatkan mereka di bagian akhir dari daftar orang yang akan kuberi persekutuan, atau menyerahkannya saja kepada pekerja penginjilan untuk didukung. Tak lama kemudian, beberapa orang percaya baru tidak lagi ikut pertemuan karena masalah mereka terlalu lama tidak terselesaikan. Aku merasa bersalah dan sedih setiap kali kulihat para orang percaya baru tidak hadir di pertemuan, dan merasa bahwa aku seharusnya lebih membayar harga untuk menyelesaikan masalah mereka. Namun, saat memikirkan betapa merepotkan hal itu, aku membiarkannya begitu saja.

Aku ingat seorang percaya baru, yang sebelumnya beragama Katolik, yang memiliki gagasan tentang Tuhan yang berinkarnasi yang menampakkan diri dan bekerja pada akhir zaman, dan tidak lagi menghadiri pertemuan. Bagaimanapun aku mengiriminya pesan atau meneleponnya, dia mengabaikanku. Dua hari kemudian, dia mengirimiku pesan ini, "Aku lahir dalam keluarga Katolik. Aku menganut Katolik sejak kecil, dan kini sudah 64 tahun aku menganutnya. Aku hanya percaya kepada Tuhan Yesus—aku tidak akan percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa." Tanggapanku adalah: "Tuhan Yang Mahakuasa adalah Tuhan Yesus yang datang kembali. Satu-satunya cara untuk diselamatkan dan masuk ke dalam kerajaan surga adalah dengan menerima penampakan dan pekerjaan Tuhan pada akhir zaman." Sesudah itu, dia tidak menanggapi. Aku mencari dia beberapa kali lagi, tetapi dia tetap mengabaikanku. Jadi, kualihkan masalah ini kepada pemimpin tim. Di luar dugaan, dia mengirimiku beberapa bagian firman Tuhan yang relevan, memintaku mencari kebenaran untuk menyelesaikan hal ini. Ketika menyadari bahwa aku perlu melengkapi diri dengan banyak kebenaran dan memikirkan cara untuk menyampaikan persekutuanku agar bisa memperoleh hasil, semuanya terasa sangat melelahkan. Orang percaya baru itu tidak menanggapiku, dan meskipun aku menghabiskan waktu untuk memperlengkapi diri, dia mungkin tetap tidak akan mendengarkan persekutuanku, jadi aku hanya mengesampingkan dan mengabaikannya. Ada seorang percaya baru yang sangat sibuk dengan pekerjaannya setiap hari dan tidak pernah punya waktu untuk menghadiri undangan pertemuan dariku. Awalnya, aku terus mengiriminya firman Tuhan dan lagu pujian setiap hari, tetapi dia hanya menjawab dengan "Amin", lalu tidak muncul di pertemuan. Akhirnya, aku tidak lagi mengiriminya firman Tuhan. Aku merasa dia terlalu sibuk dengan pekerjaan, dan ini adalah situasinya yang sebenarnya, serta sebanyak apa pun waktu yang kuhabiskan, aku tidak dapat menyelesaikan masalah tersebut. Sebenarnya, aku tahu aku seharusnya merencanakan waktu pertemuan yang disesuaikan dengan kesulitannya, lalu mencari bagian firman Tuhan yang relevan untuk kupersekutukan kepadanya tentang gagasannya, dan bahwa inilah satu-satunya cara untuk memperoleh hasil. Namun, aku merasa melakukan hal ini terlalu rumit dan merepotkan, jadi aku tidak mau membayar harga. Namun, jika aku tidak menyampaikan persekutuanku kepadanya dan pemimpin tahu, dia akan memangkasku karena tidak melakukan pekerjaan nyata. Jadi, aku harus memaksa diriku untuk menyampaikan persekutuan kepada orang percaya baru itu beberapa kali, dan ketika kulihat dia tetap tidak menghadiri pertemuan, aku merasa dia tidak haus akan kebenaran, dan itu bukan karena kurangnya usahaku. Jadi, akhirnya aku hanya mengabaikannya. Aku selalu asal-asalan dalam tugasku, menghindari semua kesukaran. Saat bertemu orang percaya baru yang memiliki gagasan atau kesulitan nyata, aku tidak mau berusaha memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah mereka, dan aku akan menyerahkan masalah-masalah ini kepada pemimpin tim. Setelah beberapa bulan, sangat sedikit orang percaya baru yang rutin ikut pertemuan. Pemimpin gereja memangkas dan menyingkapkanku setelah mengetahui masalah ini. Dia berkata bahwa aku bersikap sangat asal-asalan dalam tugasku dan menyuruhku segera berubah. Jadi, aku bertekad akan memberontak terhadap dagingku dan menyirami para orang percaya baru dengan baik. Namun, saat menghadapi orang percaya baru yang memiliki banyak masalah, aku masih tidak mau membayar harga untuk menyelesaikan masalah mereka. Sebaliknya, aku hanya mencari alasan dan berkata bahwa kualitasku kurang dan aku tidak cocok untuk tugas itu. Ketika melihatku tetap bersikap asal-asalan, tidak berubah, dan tidak membuahkan hasil dalam tugasku, pemimpin memangkasku dengan keras, berkata, "Kau sangat asal-asalan dalam tugasmu! Kau tidak pernah bertanya tentang masalah para orang percaya baru, dan bahkan saat tahu sedikit tentang itu, kau tidak berusaha untuk menyelesaikannya. Seperti itukah melaksanakan tugas? Kau benar-benar merugikan para orang percaya baru! Jika kau tidak berubah, kau akan diberhentikan." Setelah dipangkas dan diperingatkan seperti itu, aku merasa bersalah sekaligus takut. Aku mulai merenungkan diriku: Mengapa aku tak bisa melaksanakan tugas ini dengan baik, dan selalu merasa bahwa ini terlalu berat?

Suatu hari dalam saat teduhku, aku membaca bagian firman Tuhan ini: "Ada orang-orang yang sama sekali tidak berprinsip ketika melaksanakan tugas. Mereka terus-menerus mengikuti kehendak mereka sendiri dan bertindak sembarangan. Bukankah ini bersikap asal-asalan? Bukankah mereka sedang menipu Tuhan? Pernahkah engkau semua memikirkan akibat dari perilaku semacam itu? Dalam pelaksanaan tugasmu, engkau semua benar-benar tidak memikirkan maksud Tuhan sama sekali, dan tidak punya perasaan. Engkau semua tidak efisien dalam segala sesuatu yang engkau lakukan, tidak memiliki sedikit pun dedikasi dan upaya yang sepenuh hati. Dapatkah engkau semua memperoleh perkenanan Tuhan dengan cara ini? Banyak orang melaksanakan tugas mereka dengan enggan, dan mereka tidak dapat bertahan. Mereka tidak dapat menanggung penderitaan sekecil apa pun dan selalu merasa bahwa mereka telah menderita kerugian besar, mereka juga tidak mencari kebenaran untuk menyelesaikan kesulitan. Dapatkah mereka mengikut Tuhan sampai akhir dengan melaksanakan tugas mereka dengan cara seperti ini? Bolehkah bersikap asal-asalan dalam apa pun yang mereka lakukan? Dapatkah hal ini diterima oleh hati nurani? Sekalipun diukur dengan tolok ukur manusia, perilaku seperti itu tidak memenuhi standar—jadi, apakah itu dapat dianggap sebagai pelaksanaan tugas yang memenuhi standar? Jika engkau melaksanakan tugasmu dengan cara ini, engkau tidak akan pernah memperoleh kebenaran. Bahkan jerih payahmu tidak akan memenuhi standar. Lalu, bagaimana engkau bisa memperoleh perkenanan Tuhan? Dalam pelaksanaan tugasnya, banyak orang takut akan kesukaran, terlalu malas, dan mendambakan kenyamanan daging. Mereka tidak pernah membayar harga untuk mempelajari keterampilan profesional, dan mereka tidak bersungguh-sungguh dalam merenungkan kebenaran firman Tuhan. Mereka percaya bahwa bersikap asal-asalan dengan cara ini menghindarkan mereka dari kerepotan—mereka tidak perlu melakukan riset apa pun atau meminta nasihat dari orang lain, mereka tidak perlu menggunakan pikiran mereka atau memeras otak, dan mereka menghemat banyak tenaga, mereka tidak perlu menanggung kesukaran fisik apa pun, dan tetap berhasil menyelesaikan tugas tersebut. Namun pada akhirnya hasilnya tidak memenuhi standar. Jika engkau memangkas mereka, mereka tidak bersedia menerimanya, dan terus berdebat, berkata: 'Aku tidak malas atau menganggur, tugasnya sudah selesai—mengapa engkau mencari-cari kesalahanku? Bukankah engkau hanya mencari-cari kesalahan kecil? Aku sudah melakukannya cukup baik dengan melaksanakan tugasku seperti ini. Bagaimana mungkin engkau tidak puas?' Menurutmu, apakah orang-orang seperti ini dapat membuat kemajuan lebih lanjut? Mereka terus-menerus melaksanakan tugas mereka dengan sikap asal-asalan dan selalu mencari-cari alasan. Ketika masalah muncul, mereka tidak mau dikritik oleh siapa pun. Watak macam apa ini? Bukankah ini watak Iblis? Dapatkah orang memenuhi standar dalam melaksanakan tugas mereka dengan watak semacam itu? Mampukah mereka memuaskan Tuhan?" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Hanya Orang yang Melaksanakan Tugasnya dengan Baik, dengan Segenap Hati, Pikiran, dan Jiwalah Orang yang Mengasihi Tuhan"). Tuhan menyingkapkan banyak orang yang sangat malas dalam tugas mereka, selalu menikmati kenyamanan jasmani, tidak memiliki ketekunan, dan puas hanya dengan terlihat sibuk. Mereka tak pernah mampu melaksanakan tugas dengan baik dengan cara seperti itu. Aku sadar alasanku tidak memperoleh hasil dalam tugasku bukanlah karena aku kurang berkualitas, melainkan karena aku benar-benar malas dan takut menderita. Aku merasa menyirami orang percaya baru berarti harus mengetahui banyak kebenaran, harus belajar untuk menyelesaikan berbagai masalah dan kesulitan mereka, sehingga itu menjadi tugas yang sangat melelahkan, jadi aku hanya melakukannya dengan sikap yang asal-asalan. Pemimpin tim ingin agar aku sesegera mungkin menyelesaikan masalah orang percaya baru, dan aku sebenarnya bisa melakukannya jika mau bekerja keras. Namun, saat kulihat bahwa ini butuh lebih banyak waktu dan usaha, aku menyerahkannya kepada pemimpin tim atau para pekerja penginjilan. Aku melihat ada orang percaya baru yang tidak menghadiri pertemuan karena memiliki gagasan atau sedang menghadapi kesulitan dan masalah, tetapi aku bersikap acuh tak acuh. Aku tidak menanggapi ketika orang lain memberitahuku tentang cara penyelesaian. Terkadang aku mengirimkan firman Tuhan dan lagu pujian kepada orang percaya baru, tetapi setelah beberapa hari aku tidak terus melakukannya, dan melupakan mereka begitu saja. Kulihat aku benar-benar malas, rakus akan kesenangan daging, dan sama sekali tidak bersungguh-sungguh dalam tugasku. Aku benar-benar licik, hanya menjalani hari-hari tanpa tujuan di gereja. Bagi Tuhan, aku sangat menjijikkan dan patut dibenci!

Setelah itu, aku membaca ini dalam firman Tuhan: "Sekarang ini, kesempatanmu untuk melaksanakan tugas tidak banyak, jadi engkau harus memanfaatkannya selagi bisa. Justru ketika dihadapkan pada suatu tugas, engkau harus mengerahkan upaya nyata; itulah saatnya engkau harus mempersembahkan dirimu dan mengorbankan dirimu untuk Tuhan, dan itulah saatnya engkau membayar harga. Jangan menahan apa pun, menyimpan siasat apa pun, menyisakan ruang bagi dirimu sendiri, ataupun mencadangkan jalan keluar untuk dirimu sendiri. Jika engkau menyisakan ruang bagi dirimu sendiri, melakukan tipu daya, atau bersikap licin dan malas, engkau pasti akan melakukan pekerjaan dengan buruk. Bayangkan engkau berkata, 'Tak seorang pun melihatku bersikap licin dan malas. Keren sekali!' Cara berpikir macam apa ini? Apakah menurutmu engkau telah menipu dan mengelabui orang, dan juga Tuhan? Namun, pada kenyataannya, apakah Tuhan tahu apa yang telah kaulakukan? Dia tahu. Sebenarnya, siapa pun yang berinteraksi denganmu untuk waktu yang lama akan mengetahui kerusakan dan keburukanmu; hanya saja mereka mungkin tidak mengatakannya secara langsung: Di dalam hatinya, mereka akan memiliki penilaian tentangmu. Ada banyak orang yang disingkapkan dan disingkirkan karena sebagian besar orang mampu mengetahui yang sebenarnya tentang esensi mereka dan dengan demikian menyingkapkan siapa mereka sebenarnya dan membuat mereka dikeluarkan dari gereja. Jadi, entah mereka mengejar kebenaran atau tidak, orang harus melaksanakan tugas mereka dengan baik dengan kemampuan terbaik mereka; mereka harus dipimpin oleh hati nurani mereka dan melakukan beberapa hal nyata. Engkau mungkin memiliki kekurangan, tetapi jika engkau mampu efektif dalam melaksanakan tugasmu, engkau tidak akan disingkirkan. Jika engkau selalu berpikir bahwa engkau baik-baik saja, bahwa engkau pasti tidak akan disingkirkan, jika engkau tidak pernah merenungkan atau berusaha mengenal dirimu sendiri, dan engkau tetap mengabaikan tugasmu yang semestinya dan selalu bersikap asal-asalan, maka ketika umat pilihan Tuhan benar-benar kehilangan toleransi mereka terhadapmu, mereka akan menyingkapkan siapa dirimu sebenarnya, dan engkau akan disingkirkan. Pada saat itu, sudah terlambat untuk menyesal, karena semua orang telah mengetahui yang sebenarnya tentangmu, dan engkau akan kehilangan semua martabat dan integritasmu. Jika tidak ada orang yang memercayaimu, akankah Tuhan memercayaimu? Tuhan memeriksa lubuk hati manusia: Dia sama sekali tidak akan memercayai orang semacam itu. ... Orang yang dapat dipercaya adalah mereka yang memiliki kemanusiaan, dan orang yang memiliki kemanusiaan memiliki hati nurani dan nalar, dan seharusnya sangat mudah bagi mereka untuk melaksanakan tugas mereka dengan baik, karena mereka memperlakukan tugas mereka sebagai sesuatu yang menjadi tanggung jawab mereka dan melaksanakannya dengan sepenuh hati. Orang yang tidak memiliki hati nurani atau nalar pasti akan melaksanakan tugas mereka dengan buruk. Mereka tidak bertindak secara bertanggung jawab dalam tugas apa pun yang mereka laksanakan. Orang lain selalu harus mengkhawatirkan mereka, mengawasi mereka, dan menanyakan pekerjaan mereka; jika tidak, mereka bisa menyebabkan masalah saat melaksanakan tugas mereka, dan melakukan sesuatu yang buruk saat mengerjakan suatu tugas, yang akan mendatangkan lebih banyak masalah daripada manfaatnya. Singkatnya, orang harus selalu memeriksa diri mereka sendiri saat melaksanakan tugas mereka: 'Sudahkah aku melaksanakan tugas ini dengan memenuhi standar? Sudahkah aku bersungguh-sungguh di dalamnya? Apakah aku dalam keadaan yang bersikap asal-asalan?' Jika engkau selalu bersikap asal-asalan, engkau berada dalam bahaya. Setidaknya, itu berarti engkau tidak memiliki kredibilitas, dan orang tidak dapat memercayaimu. Lebih serius lagi, jika engkau selalu bersikap asal-asalan saat melaksanakan tugasmu, dan jika engkau selalu menipu Tuhan, engkau berada dalam bahaya besar! Apa akibatnya jika engkau secara terang-terangan melakukan penipuan? Semua orang dapat melihat bahwa engkau dengan sadar melakukan kesalahan. Engkau hidup sepenuhnya berdasarkan watak rusakmu sendiri, dan dalam tugasmu engkau hanya bersikap asal-asalan, dan tidak menerapkan kebenaran sama sekali—ini berarti engkau tidak memiliki kemanusiaan! Jika ini terus-menerus terwujud di dalam dirimu—engkau tidak membuat kesalahan besar apa pun tetapi terus-menerus melakukan kesalahan kecil, dan tidak bertobat dari awal hingga akhir, maka engkau adalah orang jahat, pengikut yang bukan orang percaya, dan harus dikeluarkan—ini adalah akibat yang sangat serius. Engkau sepenuhnya disingkapkan dan disingkirkan sebagai pengikut yang bukan orang percaya dan orang jahat" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Jalan Masuk Kehidupan Dimulai dengan Pelaksanaan Tugas"). "Caramu memperlakukan amanat Tuhan sangatlah penting, dan ini adalah hal yang sangat serius. Jika engkau tidak mampu memenuhi apa yang telah Tuhan percayakan kepadamu, engkau tidak layak untuk hidup di hadapan-Nya dan engkau harus menerima hukuman. Memenuhi amanat yang Tuhan percayakan kepada manusia adalah hal yang sepenuhnya wajar dan dapat dibenarkan. Ini adalah tanggung jawab tertinggi manusia, dan itu sama pentingnya dengan nyawanya sendiri. Jika engkau memperlakukan amanat Tuhan dengan remeh, ini adalah pengkhianatan yang paling serius terhadap Tuhan. Dengan melakukannya, engkau lebih menyedihkan daripada Yudas dan harus dikutuk" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Cara Mengenal Natur Manusia"). Dihadapkan dengan penyingkapan firman Tuhan, aku bisa merasakan kemuakan dan murka-Nya terhadap mereka yang bersikap asal-asalan dalam tugas mereka. Mereka tidak memiliki hati nurani, nalar, integritas, dan martabat, sepenuhnya tidak bisa dipercaya. Jika mereka tetap tidak bertobat, mereka adalah orang-orang jahat, pengikut yang bukan orang percaya, dan harus disingkirkan. Pekerjaan menyirami para orang percaya baru adalah hal yang penting. Mereka baru saja menerima pekerjaan baru Tuhan, dan mereka butuh lebih banyak penyiraman untuk membangun dasar yang kuat di jalan yang benar agar Iblis tidak akan menangkap mereka. Selain itu, tak seorang pun yang menerima pekerjaan Tuhan melakukannya dengan sangat mudah atau mulus: semua itu harus melalui pencerahan dan bimbingan Tuhan dan sejumlah saudara-saudari yang membayar harga untuk menyirami, memelihara, membekali, dan membantu mereka. Hanya dengan cara itulah mereka dapat dibawa ke hadapan Tuhan. Sebagai penyiram, menyirami para orang percaya baru adalah tanggung jawabku. Terutama ketika kulihat ada orang percaya baru yang menghadapi kesulitan, aku seharusnya merasa betapa mendesaknya masalah ini dan mencari cara untuk menyelesaikannya. Namun, aku justru menghindari pekerjaan yang berat itu dan bersikap licik. Saat melihat orang percaya baru menghadapi kesulitan, aku selalu memilih masalah yang mudah diselesaikan, mengesampingkan masalah sulit, dan mengabaikannya. Yang lebih buruk, aku jelas-jelas bersikap licin dan tidak bertanggung jawab dalam tugasku, menyebabkan beberapa orang percaya baru tidak menghadiri pertemuan dan bahkan keluar, tetapi aku mengabaikan tanggung jawab dengan menganggap mereka tidak haus akan kebenaran, atau menganggap aku sendiri kurang berkualitas dan tidak mampu menyelesaikan masalah mereka untuk menipu orang lain dan membenarkan diriku agar tidak disalahkan karena bersikap asal-asalan. Bukankah aku melakukan tugasku persis seperti orang tidak percaya yang bekerja untuk bos mereka? Aku bermuslihat, menjalani hari-hariku begitu saja tanpa arah, tidak memiliki kesadaran hati nurani. Setelah bertahun-tahun percaya, aku masih berusaha mengelabui dan menipu Tuhan tanpa ragu sedikit pun. Aku sangat curang dan licik! Aku sama sekali tidak memiliki kemanusiaan. Saat pertama aku menerima Injil Tuhan pada akhir zaman, aku sibuk dengan pekerjaanku setiap hari, dan orang tuaku menghalangi imanku. Aku merasa sangat stres dan bahkan berpikir untuk tidak lagi ikut pertemuan. Namun, saudara-saudari dengan sabar berulang kali mempersekutukan kebenaran kepadaku dan mengatur pertemuan yang disesuaikan dengan jadwalku. Terkadang aku tidak bisa hadir karena terlalu sibuk dengan pekerjaan, jadi saudara-saudari bersepeda sangat jauh untuk mempersekutukan firman Tuhan kepadaku, untuk membantu dan mendukungku. Perlahan, aku pun belajar tentang pekerjaan Tuhan dan mengerti bahwa satu-satunya cara untuk diselamatkan adalah dengan mengejar kebenaran. Aku kemudian bersedia menghadiri pertemuan dan mengemban tugas. Gereja selalu menekankan bahwa menyirami para orang percaya baru butuh kesabaran dan perhatian besar terhadap kesulitan mereka, bahwa kami harus membantu mereka dengan kasih dan mendorong mereka untuk menghadiri pertemuan agar dapat membangun dasar yang kuat di jalan yang benar sesegera mungkin. Aku melihat bahwa Tuhan itu penuh kasih dan berbelas kasihan terhadap kita, dan Dia menyelamatkan kita dengan berupaya semaksimal mungkin. Dia sangat bersungguh-sungguh terhadap setiap orang yang menyelidiki jalan yang benar. Dia tidak akan menyerah jika masih ada harapan sesedikit apa pun. Namun aku begitu dingin dan tidak punya rasa tanggung jawab terhadap para orang percaya baru. Aku sama sekali tidak memedulikan jalan masuk kehidupan mereka, yang berarti masalah mereka tidak segera diselesaikan, dan beberapa dari mereka tidak mau lagi menghadiri pertemuan. Berdasarkan perilakuku, dapatkah aku dianggap melaksanakan tugasku? Aku hanya melakukan kejahatan, mencoba mengelabui dan menipu Tuhan! Aku merasa sangat bersalah saat menyadari hal ini dan membenci diriku karena begitu tidak memiliki kemanusiaan.

Kemudian, aku membaca bagian firman Tuhan ini: "Apakah engkau puas hidup di bawah pengaruh Iblis, dengan kedamaian dan sukacita, dan sedikit kenyamanan daging? Bukankah engkau yang paling hina dari semua orang? Tidak ada yang lebih bodoh daripada mereka yang telah melihat keselamatan tetapi tidak berupaya untuk mendapatkannya; inilah orang-orang yang menikmati daging dan menikmati Iblis. Engkau berharap imanmu kepada Tuhan tidak akan mendatangkan kesulitan atau kesengsaraan apa pun, atau penderitaan sedikit pun. Engkau selalu mengejar hal-hal yang tidak berharga, dan tidak menghargai hidup, melainkan menempatkan pikiranmu sendiri yang terlalu berlebihan di atas kebenaran. Engkau sungguh tidak berharga! Engkau hidup seperti babi—apa bedanya antara engkau, babi, dan anjing? Bukankah mereka yang tidak mengejar kebenaran, melainkan mengasihi daging, adalah binatang buas? Bukankah mereka yang mati, tanpa roh, adalah mayat berjalan? Berapa banyak firman yang telah disampaikan di antara engkau sekalian? Apakah hanya sedikit pekerjaan yang dilakukan di antaramu? Berapa banyak yang telah Kuberikan di antaramu? Lalu mengapa engkau tidak mendapatkannya? Apa yang bisa kaukeluhkan? Bukankah engkau tidak mendapatkan apa-apa karena engkau terlalu mencintai daging? Dan bukankah ini karena pikiranmu yang terlalu muluk-muluk? Bukankah karena engkau terlalu bodoh? Jika engkau gagal memperoleh berkat-berkat ini, dapatkah engkau menyalahkan Tuhan karena tidak menyelamatkanmu? ... Aku menganugerahkan jalan yang benar kepadamu tanpa meminta imbalan apa pun, tetapi engkau tidak mengejarnya. Apakah engkau masih salah satu dari mereka yang percaya kepada Tuhan? Aku menganugerahkan kehidupan manusia sejati kepadamu, tetapi engkau tidak mengejarnya. Bukankah engkau adalah sejenis babi dan anjing? Babi tidak mengejar kehidupan manusia, mereka tidak berupaya supaya dibersihkan, dan mereka tidak mengerti makna hidup. Setiap hari, setelah makan sampai kenyang, mereka hanya tidur. Aku telah menganugerahkan jalan yang benar kepadamu, tetapi engkau tidak mendapatkannya, engkau tetap bertangan kosong. Apakah engkau bersedia melanjutkan kehidupan ini, kehidupan seekor babi? Apa makna kehidupan orang-orang semacam itu? Hidupmu hina dan tercela, engkau hidup di tengah kecemaran dan kecabulan, dan engkau tidak mengejar tujuan apa pun, jadi, bukankah hidupmu adalah yang paling tercela? Apakah engkau masih berani menghadap Tuhan? Jika engkau terus mengalami dengan cara demikian, bukankah engkau tidak akan memperoleh apa-apa? Jalan yang benar telah dianugerahkan kepadamu, tetapi apakah pada akhirnya engkau dapat memperolehnya atau tidak, itu tergantung pada pengejaranmu sendiri" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Pengalaman Petrus: Pengetahuannya tentang Hajaran dan Penghakiman"). Ketika membaca firman Tuhan yang menegur ini, aku merasa sangat bersalah dan mencela diriku sendiri. Demi mentahirkan dan mengubah watak rusak kita, demi memberi kita kesempatan untuk diselamatkan, Tuhan telah dengan sungguh-sungguh membekali kita dengan begitu banyak kebenaran, dan Dia telah mempersekutukan setiap aspek kebenaran dengan sangat terperinci, khawatir kita tidak akan memahaminya. Tuhan telah mengorbankan begitu banyak hati dan usaha-Nya untuk kita. Siapa pun yang memiliki kemanusiaan seharusnya berusaha untuk mengejar kebenaran dan sepenuh hati dalam melaksanakan tugas mereka. Namun, aku sama sekali tidak berhati nurani. Aku sama sekali tidak mengejar kebenaran, aku hanya menikmati kenyamanan jasmani, dan masih hidup berdasarkan falsafah Iblis, seperti "Jalani hidup hanya sebagai rutinitas", dan "Hidup ini singkat, jadi nikmatilah selagi bisa". Aku menjadikan falsafah Iblis ini sebagai moto hidupku, berpikir bahwa kita harus memperlakukan diri kita dengan baik selama waktu hidup kita yang singkat di bumi, dan tidak terlalu memaksakan diri, dan bahwa kita harus membuat hidup kita riang dan bahagia. Aku melaksanakan tugas dengan syarat aku tidak akan menderita ketidaknyamanan jasmani atau kelelahan. Aku melakukan pekerjaan yang paling mudah. Setiap kali harus memutar otak tentang sesuatu, aku bersikap menentang dan melarikan diri, entah dengan mengalihkan masalah kepada orang lain atau mengesampingkan dan mengabaikannya. Aku sama sekali tidak menjalankan tugasku dengan serius, sehingga beberapa masalah orang percaya baru tidak dapat diselesaikan dan mereka tidak lagi ikut pertemuan. Baru saat itulah aku sadar bahwa falsafah Iblis tersebut telah membuatku menjadi makin bejat. Aku menikmati kenyamanan sepanjang hari dan sama sekali tidak mengejar kebenaran, mengacaukan tugasku, dan bahkan sama sekali tidak memedulikannya. Aku tidak mau belajar dan tidak kompeten, aku tidak memperoleh kebenaran yang seharusnya kuperoleh, dan tidak memenuhi tanggung jawabku. Bukankah aku sepenuhnya tidak berguna? Aku benar-benar mengalami bahwa menikmati kenyamanan jasmani merugikan diriku dan menghancurkan kesempatanku untuk diselamatkan. Saat menghadapi kesulitan dalam suatu tugas, itu sebenarnya adalah kesempatan yang bagus untuk bersandar kepada Tuhan dan mencari kebenaran. Kesulitan yang memaksaku untuk mencari kebenaran dan belajar mengikuti prinsip dalam tugasku adalah saluran yang baik bagiku untuk mengejar kebenaran dan jalan masuk kehidupan. Namun, aku memperlakukan hal-hal ini seperti gangguan, beban yang harus dilepaskan. Setelah menyadarinya, aku sangat menyesal bahwa aku telah memanjakan dagingku dan kehilangan begitu banyak kesempatan bagus untuk memahami kebenaran. Aku tidak mau terus menjalani hari-hariku begitu saja tanpa arah. Aku harus memberontak terhadap dagingku dan melaksanakan tugas dengan segenap hatiku.

Suatu hari aku membaca satu bagian firman Tuhan yang menyingkapkan pemimpin palsu, yang membuatku lebih memahami apa akibatnya jika aku bersikap asal-asalan dalam tugasku. Firman Tuhan berkata: "Ada pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam waktu satu bulan oleh satu orang. Jika dibutuhkan waktu enam bulan untuk melakukan pekerjaan ini, bukankah lima bulan selebihnya yang telah dihabiskan itu menjadi suatu kerugian? Biar Kuberikan contoh dalam hal mengabarkan Injil. Misalkan ada seseorang yang bersedia menyelidiki jalan yang benar dan mungkin dapat dimenangkan hanya dalam waktu satu bulan, yang mana setelahnya dia akan masuk ke gereja dan terus menerima penyiraman dan perbekalan, dan dalam waktu enam bulan dia mampu membangun landasan. Namun, jika sikap orang yang mengabarkan Injil terhadap hal ini adalah sikap yang mengabaikan dan asal-asalan, dan para pemimpin serta pekerja juga mengabaikan tanggung jawab mereka, dan akhirnya membutuhkan waktu setengah tahun untuk memenangkan orang tersebut, bukankah setengah tahun ini merupakan kerugian dalam kehidupan orang itu? Jika dia menghadapi bencana besar dan belum membangun landasan di jalan yang benar, dia akan berada dalam bahaya, dan bukankah itu berarti orang-orang itu telah tak bertanggung jawab kepada mereka? Kerugian semacam itu tidak dapat diukur dengan uang atau hal-hal materi. Jika pemahaman orang itu akan kebenaran tertunda selama setengah tahun, dan dia telah tertunda dalam membangun landasan dan dalam memulai pelaksanaan tugasnya selama setengah tahun, siapa yang akan bertanggung jawab atas hal ini? Mampukah para pemimpin dan pekerja bertanggung jawab akan hal ini? Tak seorang pun mampu memikul tanggung jawab atas tertundanya hidup seseorang" (Firman, Jilid 5, Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja, "Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja (4)"). Firman Tuhan membuatku merasa malu dan menyesal. Aku persis seperti pemimpin palsu yang tidak melakukan pekerjaan nyata, lalai dalam tugasku dan tidak bertanggung jawab, sehingga menyebabkan para orang percaya baru tidak ikut pertemuan, dan beberapa dari mereka bahkan meninggalkan iman karena masalah mereka tidak terselesaikan. Bukankah menyirami para orang percaya baru dengan cara seperti itu hanya merugikan mereka? Meskipun beberapa dari mereka tidak meninggalkan iman, hidup mereka dirugikan karena berpaut pada gagasan dan karena lama tidak ikut pertemuan. Semua itu adalah kerugian yang tak mungkin dapat kugantikan. Seandainya aku tidak terlalu memikirkan dagingku, mampu membayar harga, dan menganggap serius masalah setiap orang percaya baru, mungkin beberapa dari mereka telah mampu memahami kebenaran dan membangun dasar yang kuat pada jalan yang benar, menjalani kehidupan bergereja, melaksanakan tugas, mempersiapkan perbuatan baik lebih cepat, dan situasinya tidak akan menjadi seperti ini. Namun, pada saat itu, semuanya sudah terlambat. Aku merasa sangat sedih dan bersalah, dan sangat berutang kepada Tuhan. Itu adalah pelanggaran, noda dalam tugasku! Aku juga dipenuhi dengan penyesalan dan rasa takut. Aku merasa telah menyebabkan masalah besar. Dengan berlinang air mata, aku berdoa, "Tuhan, aku selalu menikmati kenyamanan dan bersikap asal-asalan dalam tugasku, dan ini menjijikkan bagi-Mu. Aku ingin bertobat kepada-Mu. Kumohon periksalah hatiku. Jika aku terus bersikap asal-asalan, didiklah dan disiplinkanlah aku."

Aku kemudian membuat daftar para orang percaya baru yang negatif, lemah, dan tidak menghadiri pertemuan, lalu mencari firman Tuhan yang relevan untuk menyelesaikan masalah mereka. Aku juga bertanya tentang prinsip dan berbagai pendekatan kepada para saudari yang pandai menyiram. Kemudian, aku menghubungi seorang percaya baru yang memiliki gagasan agama, yang tidak menghadiri pertemuan. Aku mengiriminya beberapa pesan, yang tak satu pun dibalasnya. Aku merasa agak pesimis dan kupikir aku harus melupakannya. Bagaimanapun juga dialah yang tidak lagi menanggapi—setidaknya, inilah faktanya. Aku kemudian mengirim pesan kepada orang percaya baru yang sibuk dengan pekerjaannya, dan ketika kulihat dia menolak undangan pertemuanku, aku tak ingin berusaha lebih keras untuk mendukungnya. Pada saat itu, aku teringat doaku kepada Tuhan, serta firman-Nya ini: "Ketika engkau melaksanakan tugasmu, engkau sebenarnya sedang melakukan apa yang seharusnya kaulakukan. Jika engkau melakukannya di hadapan Tuhan, jika engkau melaksanakan tugasmu dan tunduk kepada Tuhan dengan sikap yang jujur dan sepenuh hati, bukankah sikap ini jauh lebih tepat? Jadi, bagaimana engkau dapat menerapkan sikap ini dalam kehidupan nyata? Engkau harus membuat 'menyembah Tuhan dengan sepenuh hati dan kejujuran' menjadi kenyataanmu. Setiap kali engkau ingin bersikap asal-asalan, setiap kali engkau ingin bertindak dengan cara yang licik dan malas, dan setiap kali engkau teralihkan atau ingin bersenang-senang, engkau harus berpikir: 'Dengan berperilaku seperti ini, apakah aku tidak dapat dipercaya? Apakah aku sedang sungguh-sungguh dalam melakukan tugasku? Dengan melakukan hal ini, apakah aku gagal sepenuh hati? Apakah aku gagal memenuhi amanat yang telah Tuhan percayakan kepadaku?' Beginilah caranya engkau harus merenungkan dirimu sendiri. Jika engkau tahu bahwa engkau selalu bersikap asal-asalan dalam tugasmu, bahwa engkau tidak sepenuh hati, dan bahwa engkau telah menyakiti hati Tuhan, apa yang harus kaulakukan? Engkau harus berkata, 'Pada saat itu, aku merasa ada sesuatu yang salah di sini, tetapi aku tidak menganggapnya masalah; aku mengabaikannya saja dengan ceroboh. Baru sekarang kusadari bahwa aku sebenarnya telah bersikap asal-asalan, bahwa aku belum memenuhi tanggung jawabku. Aku benar-benar tidak memiliki hati nurani dan nalar!' Engkau telah menemukan masalahnya dan mulai sedikit mengenal dirimu sendiri—jadi sekarang, engkau harus berbalik! Sikapmu dalam melakukan tugasmu salah. Engkau memperlakukan tugasmu seperti pekerjaan tambahan dan hanya berupaya sepintas lalu, dan engkau tidak mengerahkan segenap hatimu ke dalamnya. Jika engkau kembali bersikap asal-asalan seperti ini, engkau harus berdoa kepada Tuhan dan membiarkan Dia mendisiplinkan dan mendidik dirimu. Hanya jika engkau memiliki tekad seperti itu dalam melaksanakan tugasmu, barulah engkau dapat sungguh-sungguh bertobat. Engkau hanya akan berbalik ketika hati nuranimu jernih dan sikapmu terhadap pelaksanaan tugasmu berubah" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Hanya dengan Sering Membaca Firman Tuhan dan Merenungkan Kebenaran, Barulah Ada Jalan untuk Diikuti"). Firman Tuhan membantuku melihat bahwa melaksanakan tugas dengan baik itu tidak sulit, bahwa kita harus jujur, menerima pemeriksaan Tuhan, dan berusaha sebaik mungkin untuk melakukan yang kita ketahui, yang kita bisa, tidak menggunakan tipu daya atau tidak bersikap asal-asalan, dan bahwa kita perlu bersikap seperti ini agar dapat melaksanakan tugas kita dengan baik. Jadi, aku bertekad bahwa kali ini aku tidak akan lagi mengecewakan Tuhan. Sekalipun para orang percaya baru itu tidak menghadiri pertemuan setelah bantuan dan dukunganku, aku tetap akan memenuhi tanggung jawabku, dan tidak memiliki penyesalan.

Aku pergi berbicara dengan saudari lainnya untuk mencari jalan penerapan, dan aku juga menghubungi seorang percaya baru yang memiliki gagasan agama untuk menyampaikan persekutuanku. Aku membuka diri tentang pengalaman imanku sendiri. Di luar dugaan, dia membalas pesanku. Dia sebenarnya sangat menikmati pertemuan, tetapi memiliki beberapa gagasan dan kebingungan yang belum terselesaikan. Aku sangat tergugah oleh perkataan tulus orang percaya baru ini, dan membagikan persekutuanku yang diarahkan pada gagasannya. Pada akhirnya, dia setuju untuk ikut pertemuan dan tak lama kemudian, dia melaksanakan suatu tugas. Aku mengalami perasaan yang tak terlukiskan saat melihat hasil itu. Aku merasakan sukacita sekaligus penyesalan. Tanpa pencerahan dan penerangan firman Tuhan yang memungkinkanku untuk mengenal diriku sendiri dan mengubah sikapku terhadap tugasku, aku pasti telah melakukan pelanggaran lain. Setelah itu, aku kembali menghubungi orang percaya baru yang sibuk dengan pekerjaannya. Sebelumnya, aku selalu mendorongnya untuk menghadiri pertemuan tanpa mempertimbangkan kesulitannya. Kali ini, aku mempersekutukan firman Tuhan kepadanya untuk membantunya berdasarkan situasinya yang sebenarnya, serta mengatur waktu pertemuan yang disesuaikan. Ketika dia tidak punya waktu untuk pertemuan, aku akan membaca firman Tuhan bersamanya saat dia punya waktu luang, dan dengan sabar membagikan persekutuanku kepadanya. Lalu, dia bersedia membuka hatinya kepadaku dan membicarakan firman Tuhan yang telah dibacanya. Dia juga memberitahuku dengan gembira bahwa apa pun yang terjadi, dia tidak akan berhenti ikut pertemuan, atau makan dan minum firman Tuhan. Setelah itu, dia tidak pernah melewatkan pertemuan, dan sesibuk apa pun pekerjaannya, dia mencurahkan waktu untuk merenungkan firman Tuhan. Dengan mendukung dan membantu para orang percaya baru dengan cara ini, beberapa dari mereka menjadi bersedia untuk kembali ikut pertemuan. Setelah memperbaiki sikapku, bersandar kepada Tuhan, dan berusaha dengan sungguh-sungguh dalam tugasku, aku mendapat hasil yang lebih baik dalam tugasku.

Sebelumnya, aku selalu bersikap licik dan asal-asalan dalam tugasku. Meskipun aku tidak menderita secara fisik, aku selalu hidup dalam kesulitan. Aku tidak mampu menerima bimbingan Tuhan, pencapaian dalam tugasku terus berkurang, dan aku selalu khawatir Tuhan akan meninggalkan dan menyingkirkanku. Aku sangat tertekan dan menderita. Setelah aku melaksanakan tugasku dengan segenap hatiku, aku mampu merasakan kehadiran dan bimbingan Tuhan. Aku juga mengalami kemajuan dalam tugasku, serta merasakan damai sejahtera dan keteguhan. Aku benar-benar mengalami betapa pentingnya sikap kita terhadap tugas. Saat menghadapi kesulitan, hanya dengan benar-benar membayar harga dan mengindahkan maksud Tuhan, barulah kita dapat memperoleh pencerahan dan bimbingan Roh Kudus serta melaksanakan tugas kita dengan efektif.

Sebelumnya: 12. Jalanku yang Sulit Menuju Kerja Sama yang Harmonis

Selanjutnya: 14. Hari yang Tidak Akan Pernah Terlupakan

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

54. Peperangan Rohani

Oleh Saudara Yang Zhi, AmerikaTuhan Yang Mahakuasa berkata: "Sejak manusia percaya kepada Tuhan, mereka telah menyimpan banyak niat yang...

Pengaturan

  • Teks
  • Tema

Warna Solid

Tema

Jenis Huruf

Ukuran Huruf

Spasi Baris

Spasi Baris

Lebar laman

Isi

Cari

  • Cari Teks Ini
  • Cari Buku Ini

Hubungi kami via WhatsApp