59. Pahitnya Menjadi Penyenang Orang

Oleh Saudara Frankie, Yunani

Pada 2021, Saudara Gabriel, rekan yang memberitakan Injil bersamaku, diberhentikan. Saat kutanyakan kepadanya tentang hal itu, dia berkata dia belum bekerja dengan baik dalam tugasnya selama beberapa tahun terakhir ini; dia bekerja dengan caranya sendiri dan keras kepala, yang sangat mengganggu pekerjaan gereja, dan karena itu, dia diberhentikan. Aku merasa tidak enak melihat dia sampai pada titik ini, dan melihatnya begitu menyesal dan merasa sangat buruk. Mengingat kembali saat kami bekerja bersama, kulihat dia bersikap asal-asalan dalam pekerjaannya dan bekerja dengan caranya sendiri. Aku ingin menunjukkan hal itu kepadanya, membantunya merenung dan memperoleh kesadaran akan dirinya sendiri, tapi saat hendak membuka mulutku, aku ragu. Kupikir, "Ketika memberhentikannya, pemimpin pasti telah menyingkapkan dan banyak memangkas dirinya, jadi dia pasti sudah cukup menderita. Jika aku juga mengatakan sesuatu, bukankah aku hanya akan memperparah penderitaannya? Akankah dia pikir aku tak punya rasa empati? Di samping itu, pemimpin pasti telah menyebutkan masalah yang kulihat, jadi aku hanya akan menghiburnya." Jadi kukatakan kepadanya, "Aku yakin kau telah mendapatkan banyak pengalaman selama bertahun-tahun memberitakan Injil, atau setidaknya kau berwawasan luas. Banyak saudara-saudari di gereja ini adalah orang yang baru percaya, yang baru bergabung dalam beberapa tahun terakhir ini; mereka tidak punya banyak pengalaman memberitakan Injil. Kau akan bisa membantu semua orang saat pulang ke rumah." Di luar dugaanku, tanggapannya adalah, "Saudara, mendengarmu mengatakan ini membuatku sedih. Kupikir kau akan menunjukkan apa masalahku dan membantuku agar aku bisa merenungkan diriku sendiri dan menjadi lebih mengenal diriku sendiri; ini akan bermanfaat bagi hidupku. Namun, kau justru memujiku sekalipun aku sudah terpuruk sampai ke taraf ini, membuatku berpikir pemberhentianku ini bukan masalah besar dan aku lebih cakap daripada yang lain. Kau sedang menjadi penyenang orang, bertindak sebagai antek Iblis, mendorongku lebih dekat ke neraka! Perkataan muluk-muluk ini tidak mendidik kerohanian orang, jadi jangan mengatakannya lagi. Ini bukanlah kasih, ini sebenarnya berbahaya dan merusak." Aku merasa sangat malu mendengar saudaraku mengatakan ini, dan rasanya ingin menemukan lubang untuk bersembunyi. Aku tahu betul bahwa watak rusak Gabriel belum banyak berubah meskipun telah percaya selama bertahun-tahun, dan dia tidak pernah mendapatkan hasil yang jelas dalam tugasnya, dan bahwa ini adalah keadaan yang berbahaya. Aku bukan saja tidak menunjukkan masalah itu kepadanya dan membantunya, aku malah mengucapkan hal-hal yang baik. Aku sedang bersikap tidak jujur, sopan, dan memuji dengan cara duniawi. Bukankah itu berarti aku mempermainkan dirinya dan bersikap licik? Pemberhentian Gabriel saat ini adalah kesempatan baik baginya untuk merenung dan lebih mengenal dirinya sendiri. Jika dia mampu mencari kebenaran, merenungkan dirinya sendiri dan mengalami pertobatan sejati, maka kegagalan ini bisa menjadi titik balik dalam imannya. Namun, aku menjadi batu sandungan, mengucapkan perkataan omong kosong yang tidak tulus untuk mempermainkan perasaannya, menghambat, dan menyesatkan dirinya. Aku menjadi antek Iblis. Tuhan berusaha keras menyelamatkan manusia, sedangkan Iblis berencana licik untuk menganggu dan menghalangi orang, dan menarik orang ke dalam neraka. Perkataan setan yang kuucapkan itu hanya merugikan saudaraku. Dengan pemikiran ini, aku merasakan ketakutan yang luar biasa, jadi aku mencari dan membaca beberapa bagian firman Tuhan, dan di dalam firman Tuhan, aku mulai merenungkan dan mengetahui masalahku ini.

Aku membaca apa yang firman Tuhan katakan: "Jika engkau memiliki hubungan yang baik dengan seorang saudara atau saudari, dan mereka memintamu untuk menunjukkan apa yang salah dengan diri mereka, bagaimana seharusnya engkau harus melakukannya? Hal ini berkaitan dengan pendekatan apa yang engkau gunakan terhadap masalah tersebut. Apakah pendekatanmu didasarkan pada prinsip-prinsip kebenaran, atau apakah engkau menggunakan falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain? Jika engkau mampu melihat dengan jelas bahwa mereka memiliki masalah, tetapi tidak memberi tahu mereka secara langsung agar tidak merusak hubunganmu, dan bahkan engkau berdalih, dengan berkata, 'Tingkat pertumbuhanku masih rendah dan aku tidak memahami masalahmu sepenuhnya. Jika aku sudah memahaminya, aku akan memberitahukan masalahmu,' jadi apa masalahnya? Ini melibatkan falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain. Bukankah ini berusaha mengelabui orang lain? Engkau seharusnya berbicara sebanyak yang mampu engkau lihat dengan jelas; dan jika ada sesuatu yang tidak jelas bagimu, katakan saja. Ini berarti mengatakan apa yang ada di hatimu. Jika engkau memiliki pemikiran tertentu dan hal-hal tertentu jelas bagimu, tetapi engkau takut menyinggung mereka, takut menyakiti perasaan mereka, dan memilih untuk diam saja, maka ini berarti engkau sedang hidup berdasarkan falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain. Jika engkau mendapati ada orang yang memiliki masalah atau telah tersesat, sekalipun engkau tidak dapat membantu mereka dengan kasih, setidaknya engkau harus menunjukkan masalahnya agar mereka dapat merenungkannya. Jika engkau mengabaikannya, bukankah ini merugikan mereka?" (Firman, Vol. 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Hanya dengan Mengejar Kebenaran Orang Bisa Meluruskan Gagasan dan Kesalahpahaman Mereka tentang Tuhan"). Dan ada bagian firman Tuhan ini tentang orang yang licik: "Mereka tidak menyukai hal-hal yang positif, mereka tidak merindukan terang, dan mereka tidak mencintai jalan Tuhan atau kebenaran. Mereka suka mengikuti tren-tren duniawi, mereka terpikat oleh ketenaran, keuntungan, dan status, mereka senang menjadi lebih unggul dari orang lain, mereka memuja ketenaran, keuntungan, dan status, dan mereka memuja tokoh-tokoh besar dan ternama, tetapi mereka sebenarnya memuja setan-setan dan Iblis-Iblis. Yang mereka kejar di dalam hatinya bukanlah kebenaran atau hal-hal positif; sebaliknya, mereka mengejar pengetahuan. ... Mereka menggunakan falsafah Iblis, logika Iblis, mereka menggunakan setiap taktiknya, setiap tipu muslihatnya, setiap siasatnya untuk menipu orang melalui kepercayaan pribadi orang terhadap mereka, untuk membuat orang memuja dan mengikuti mereka. Ini bukanlah jalan yang boleh ditempuh oleh orang yang percaya kepada Tuhan; orang semacam itu bukan saja tidak akan diselamatkan, tetapi mereka juga akan menghadapi hukuman Tuhan—tidak ada keraguan sedikit pun mengenai hal ini" (Firman, Vol. 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Orang Tidak Dapat Diselamatkan karena Menganut Agama atau karena Melakukan Upacara Keagamaan"). Firman Tuhan sepenuhnya menyingkapkan niat dan kerusakanku yang sebenarnya. Aku tahu dengan jelas masalah Gabriel, dia telah lalai dalam tugasnya dan tidak melaksanakan tugasnya dengan segenap hati. Dia tidak gigih atau berprinsip dalam pekerjaannya. Dia bertindak sesuka hatinya dan telah menghambat pekerjaan gereja. Aku telah menjadi penyenang orang dan takut menyinggung perasaannya, jadi aku tak pernah menunjukkan hal-hal ini kepadanya. Sekarang setelah dia diberhentikan dan membuka dirinya kepadaku dalam persekutuan tentang kegagalannya, aku seharusnya membicarakan masalahnya dan mempersekutukan kehendak Tuhan untuk membantunya mengenal dirinya sendiri dan bertobat kepada Tuhan. Itulah yang akan menjadi tindakan yang benar-benar penuh kasih, bermanfaat, dan mendidik kerohaniannya. Namun, aku adalah penyenang orang, aku malah mengatakan setumpuk omong kosong palsu. Bukankah aku hanya mencoba membodohinya agar dia menyukaiku? Aku ingin dia merasa saat mengalami kegagalan, pemimpinlah yang memangkas dan menyingkapkan dirinya, tetapi akulah yang membesarkan hatinya dan menghiburnya. Lalu, dia pasti akan berterima kasih dan memiliki kesan yang baik tentangku. Aku menggunakan falsafah duniawi orang tidak percaya ketika berinteraksi dengan saudaraku, seperti "Jika engkau memukul orang lain, jangan pukul wajah mereka; jika engkau menyingkapkan orang lain, jangan singkapkan kekurangan mereka", "Ucapkan kata-kata baik yang sesuai dengan perasaan dan nalar orang lain karena berkata jujur mengganggu sesama", "Lindungi pertemananmu dengan tak pernah menunjukkan kesalahan orang lain," dan sebagainya. Semua ini adalah perkataan duniawi yang jahat dan semua ini adalah falsafah Iblis. Interaksi orang tidak percaya selalu menjunjung tinggi cara duniawi Iblis, dan perkataan mereka selalu terdengar menyenangkan dan munafik. Mereka berpura-pura, berbicara tersirat, semua ucapan mereka mengandung tipu muslihat, dan tidak mengucapkan sepatah kata pun yang benar dan jujur. Sebagai orang yang sudah lama percaya kepada Tuhan, yang telah makan dan minum begitu banyak firman Tuhan, aku masih tak mampu mengatakan satu hal pun yang benar. Sebaliknya, aku memakai falsafah Iblis sama seperti orang tidak percaya, dan menjadi sarana bagi Iblis, menjadi makin licin dan licik. Aku benar-benar menyedihkan! Itu mengingatkanku pada firman Tuhan: "Apabila orang-orang percaya hanya asal-asalan dan tidak menjaga perkataan dan tingkah laku mereka, sama seperti orang fasik yang tidak percaya, maka mereka bahkan lebih jahat daripada orang tidak percaya; mereka tipikal setan" (Firman, Vol. 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Peringatan Bagi Orang yang Tidak Melakukan Kebenaran"). "Semakin engkau berada dalam hadirat Tuhan, semakin banyak pengalaman yang kauperoleh. Jika engkau tetap tinggal di dalam dunia seperti hewan liar—mulutmu mengaku percaya kepada Tuhan, tetapi hatimu berada di tempat lain—dan jika engkau tetap mempelajari falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain, maka bukankah semua upayamu sebelumnya menjadi sia sia?" (Firman, Vol. 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Tentang Pengalaman"). Mengingat kembali selama bertahun-tahun aku beriman, aku belum memperoleh kebenaran atau menjadi orang yang sederhana dan jujur, sebaliknya aku berpegang teguh pada cara-cara hidup yang duniawi. Aku bukan orang yang mengasihi atau menerima kebenaran. Aku datang ke hadapan Tuhan dan berdoa, "Tuhan, aku sangat berbelit-belit! Aku mau bertobat dan berhenti hidup berdasarkan falsafah duniawi Iblis."

Setelah pengalaman dan pelajaran itu, aku mampu lebih waspada ketika berinteraksi dengan orang lain, dan berlatih berbicara dengan cara yang akan bermanfaat bagi orang, tidak lagi menghindari masalah dengan cara menjadi penyenang orang. Namun, karena aku telah dirusak sedemikian dalam oleh Iblis, ketika ada sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan pribadiku, aku tak mampu menahan diri untuk kembali menjadi penyenang orang.

Aku sedang bekerja dengan Saudara Hudson untuk pembuatan video pada waktu itu. Dia orang yang cukup keras mempertahankan pendapatnya dan jauh lebih baik dalam pekerjaan itu dibandingkan diriku. Aku merasa harus rendah hati agar dia tidak berpikir aku orang congkak yang tak tahu apa-apa. Jadi, selama kami bertugas, setiap kali kami berbeda pendapat, aku berusaha berpegang teguh pada "Keharmonisan adalah harta karun; kesabaran adalah kecerdikan" untuk menghindarkan rusaknya hubungan kami dan agar aku rukun dengannya. Terkadang, aku melihat beberapa kesalahan dalam video yang dia kerjakan, dan menyarankan untuk memperbaikinya, tetapi menurutnya hal-hal yang kusebutkan itu bukan masalah. Dia hanya berdalih dan memberiku pendapat pribadinya. Meskipun aku tak sepenuhnya setuju dengannya, aku takut diskusi lebih lanjut akan membuat kami menemui jalan buntu atau mulai berdebat, lalu semua orang akan menyebutku congkak, merasa diri benar, dan keras kepala, jadi aku membiarkan saja hal itu. Kami bekerja sama dengan cara ini selama beberapa bulan, tetapi ketika video kami keluar, selalu ada masalah di sana-sini, dan kebanyakan masalah tersebut adalah masalah yang awalnya kutunjukkan. Akibatnya, kami harus mengerjakan ulang video-video itu. Hudson akhirnya diberhentikan karena congkak, merasa diri benar dan keras kepala. Meskipun video-video itu akhirnya selesai, hatiku tidak merasa tenang atau damai tentang hal itu. Sebaliknya, aku merasa gelisah dan bersalah. Aku selalu menjadi penyenang orang dalam tugasku, menjaga keharmonisan yang dangkal, takut menyinggung perasaan orang, dan tidak menjunjung tinggi prinsip. Aku belum benar-benar memenuhi fungsiku sebagai rekan sekerja dan menghambat pekerjaan video. Aku merasa sangat tidak enak. Kemudian pemimpin datang untuk bicara denganku dan menyingkapkanku dengan berkata, "Kau tidak menjunjung tinggi prinsip kebenaran dalam bekerja dengan saudara-saudarimu. Kau tahu betul pendapat Hudson selama produksi salah, tetapi tetap dengan membabi buta mengikutinya untuk mencegah konflik dan melindungi citramu. Itu berarti video-video harus dikerjakan ulang dan itu menunda kemajuan kita." Lalu, dia berkata, "Kau cenderung mengalah. Kau harus segera mencari kebenaran dan segera menyelesaikan hal ini." Sulit bagiku mendengar ini. Aku berdoa dan merenungkan hal ini selama beberapa hari selanjutnya, dan membaca firman Tuhan.

Aku membaca apa yang firman Tuhan katakan: "Di luarnya, perkataan antikristus terdengar sangat baik, beradab, dan terhormat. Tak peduli siapa yang melanggar prinsip atau mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja, antikristus tidak menyingkapkan atau mengkritik orang-orang itu, mereka berpura-pura tidak melihat, membiarkan orang berpikir bahwa mereka murah hati dalam segala hal. Tidak soal kerusakan apa yang disingkapkan orang dan perbuatan jahat apa yang orang lakukan, antikristus memaklumi dan bersikap toleran. Mereka tidak menjadi marah, atau meledak dalam kemarahan, mereka tidak akan gusar dan menyalahkan orang ketika mereka melakukan sesuatu yang salah dan merugikan kepentingan rumah Tuhan. Siapa pun yang melakukan kejahatan dan mengganggu pekerjaan gereja, mereka tidak mengindahkannya, seolah-olah ini tidak ada kaitannya dengan mereka, dan mereka tidak akan pernah menyinggung orang karena hal itu. Apa yang paling antikristus pedulikan? Mereka paling memedulikan berapa banyak orang yang menganggap mereka luhur, dan berapa banyak orang yang melihat mereka ketika mereka menderita, dan memuji mereka karenanya. Antikristus yakin bahwa penderitaan tidak boleh sia-sia; seberat apa pun kesukaran yang mereka tanggung, berapa pun harga yang harus mereka bayar, perbuatan baik apa pun yang mereka lakukan, betapa pun peduli, perhatian, dan penuh kasihnya mereka terhadap orang lain, semua ini harus dilakukan di depan orang lain, agar ada lebih banyak orang yang melihatnya. Dan apa tujuan mereka bertindak demikian? Agar disukaiorang-orang, agar lebih banyak orang menyetujui tindakan mereka, perilaku mereka, dan karakter mereka dari dalam hati orang-orang, serta mendapat acungan jempol. Bahkan ada antikristus yang berusaha membangun citra diri mereka sebagai 'orang yang baik' melalui perilaku baik mereka secara lahiriah, sehingga akan ada lebih banyak orang yang datang kepada mereka untuk mencari pertolongan. ... Tindakan para antikristus telah membuat orang tidak hanya memuja para antikristus di dalam hati mereka, tetapi juga memberikan tempat bagi para antikristus di hati mereka. Para antikristus ingin menggantikan posisi Tuhan. Inilah tujuan mereka ketika melakukan hal-hal ini. Jelaslah bahwa, dengan melakukan hal-hal ini, antikristus telah memperoleh hasil awal; sudah ada tempat bagi antikristus di dalam hati orang-orang yang tidak mengetahui yang sebenarnya ini, dan ada orang-orang yang sudah memuja dan menghormati mereka. Inilah tujuan yang ingin dicapai oleh antikristus" (Firman, Vol. 4, Menyingkapkan Antikristus, Bab Sembilan (Bagian Sepuluh)). Tuhan menunjukkan bahwa antikristus sangat jahat dan tercela. Mereka pandai berpura-pura baik dan mengatakan hal-hal menyenangkan untuk menyamarkan diri dan memenangkan hati orang lain, membuat orang berpikir hanya merekalah yang toleran dan pengertian, sehingga orang lain akan mencari mereka untuk mendapatkan penghiburan. Itu membuat orang makin jauh dari Tuhan, dan antikristus mengambil tempat Tuhan di hati mereka. Aku benar-benar seperti itu. Saudara-saudari perlu saling menunjukkan satu sama lain dan saling membantu dalam tugas mereka, tetapi aku menghindar untuk melakukan apa pun yang menyinggung hanya demi melindungi reputasiku sendiri. Aku melihat adanya masalah dalam produksi video Hudson, tetapi aku tidak menjunjung tinggi prinsip kebenaran; aku hanya mengikuti arus. Aku adalah penyenang orang dan tidak menerapkan kebenaran. Aku tidak ingin semua orang menganggapku congkak, melainkan menganggapku toleran, pengertian, dan peduli pada perasaan orang lain. Aku ingin membuat semua orang yang berinteraksi denganku merasa senang agar mereka menyukaiku dan punya kesan yang baik tentangku. Untuk mencapai tujuan kejiku ini, aku bahkan merugikan pekerjaan gereja dalam upayaku mempertahankan citra positif. Aku sangat egois! Dari penghakiman dan penyingkapan Tuhan, aku sadar bahwa dengan menjadi penyenang orang, aku berada di jalan antikristus. Aku merasa sangat bersalah saat menyadari ini. Aku terus merenungkan diriku setelah itu. Selama ini, sebagai orang percaya, aku selalu memasang wajah baik di depan orang lain. Setiap kali melihat seseorang yang tampak baik hati, terlatih, dan halus dalam ucapan dan tindakan mereka, aku mencoba meniru mereka. Aku ingin terlihat lebih supel dan mudah didekati untuk menjaga citraku di mata saudara-saudariku. Aku hampir tak pernah angkat bicara saat melihat masalah orang lain atau saat mereka menyingkapkan watak rusak mereka, takut mempermalukan mereka dengan menyingkapkan mereka. Aku ingat saat dahulu aku menjadi diaken penginjilan, aku selalu berusaha keras untuk tidak menonjol dan selalu berbicara dengan rendah hati. Saat kulihat orang lain lalai dalam tugas mereka dan tidak berprinsip, aku takut semua orang akan menganggapku tidak bersimpati jika mengungkitnya, dan itu akan merusak citraku sebagai "orang baik". Jadi dengan dalih kasih, ketika aku berusaha membantu orang lain, aku berhati-hati dengan kata-kataku, serta lembut dan tidak blak-blakan. Aku tak pernah menyingkapkan siapa pun secara langsung atau membantu mereka menyadari parahnya perbuatan mereka. Aku hanya memberi petunjuk secara tak langsung. Saat harus memberhentikan orang, aku merasa hal ini akan menyinggung perasaan orang itu, dan aku tidak tahu harus berkata apa. Aku berusaha keras membuat orang lain yang menyampaikan persekutuan dan bukannya aku sendiri yang melakukannya, menghindarinya sebaik mungkin. Dengan cara inilah, aku berusaha keras mengelola dan melindungi status dan citraku, dan saudara-saudari pun berkata aku tak pernah sombong, bahwa aku mudah bergaul. Mereka bahkan merekomendasikanku untuk posisi kepemimpinan karena aku "memiliki kemanusiaan yang baik" dan tak akan menindas orang lain. Aku merasa sangat puas akan diriku sendiri. Antikristus memakai perilaku baik yang dangkal untuk membujuk dan memikat orang. Bukankah aku pun memiliki niat dan tujuan yang sama dalam hatiku? Aku tak pernah merenungkan niatku yang tercela atau naturku yang rusak, dan merasa tak ada salahnya menjadi penyenang orang. Aku bisa mendapatkan persetujuan dan dukungan orang lain, dan membuat orang berpikir baik tentangku: rasanya itulah cara hidup yang bagus. Namun, sekarang aku sadar bahwa dengan menjadi penyenang orang, aku memantapkan diri dengan cara yang paling rahasia dan samar untuk menyesatkan dan membujuk orang. Aku sedang menempuh jalan antikristus!

Suatu hari, aku membaca satu bagian firman Tuhan dalam waktu teduhku yang benar-benar menegurku: "Apa akibatnya jika orang selalu memikirkan kepentingan dirinya sendiri, jika mereka selalu berusaha untuk melindungi harga diri dan kesombongan mereka, jika mereka memperlihatkan watak yang rusak, tetapi tidak mencari kebenaran untuk memperbaikinya? Akibatnya, mereka tidak memiliki jalan masuk kehidupan, akibatnya, mereka tidak memiliki kesaksian dari pengalaman nyata. Dan ini berbahaya, bukan? Jika engkau tidak pernah menerapkan kebenaran, jika engkau tidak memiliki kesaksian dari pengalamanmu, maka pada waktunya, engkau akan disingkapkan dan disingkirkan. Apakah orang yang tidak memiliki kesaksian dari pengalamannya berguna di rumah Tuhan? Mereka pasti akan melakukan tugas apa pun dengan buruk, dan tak mampu melakukan apa pun dengan benar. Bukankah mereka hanya sampah? Jika orang tidak pernah menerapkan kebenaran setelah bertahun-tahun percaya kepada Tuhan, mereka adalah pengikut yang bukan orang percaya; mereka orang-orang jahat. Jika engkau tidak pernah menerapkan kebenaran, dan jika pelanggaranmu makin banyak, maka kesudahanmu telah ditentukan. Jelaslah bahwa semua pelanggaranmu, jalan salah yang kautempuh, dan penolakanmu untuk bertobat—semua ini menambah sekumpulan besar perbuatan jahatmu; dengan demikian, kesudahanmu adalah engkau akan masuk neraka—engkau akan dihukum. Apakah menurutmu ini masalah sepele? Jika engkau belum dihukum, engkau tidak akan merasakan betapa mengerikannya hal ini. Ketika hari itu tiba, saat engkau benar-benar menghadapi bencana, dan engkau dihadapkan dengan kematian, akan terlambat bagimu untuk menyesal. Jika, dalam imanmu kepada Tuhan, engkau tidak menerima kebenaran, dan jika engkau telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, tetapi tidak ada perubahan dalam dirimu, konsekuensi akhirnya adalah engkau akan disingkirkan dan ditinggalkan" (Firman, Vol. 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Aku selalu menjadi orang baik dan tidak menerapkan kebenaran. Ketika aku bekerja sama dengan orang lain, selalu dengan mengorbankan kepentingan gereja-lah aku mencapai tujuanku yang jahat yaitu memikat dan memenangkan hati orang lain. Semua yang kulakukan sangat jahat. Jika aku terus seperti ini, pada akhirnya aku akan disingkirkan dan dihukum oleh Tuhan! Dari firman Tuhan, aku bisa merasakan watak benar-Nya dan betapa Dia jijik terhadap orang yang tidak menerapkan kebenaran. Aku ingin segera bertobat, mencari jalan penerapan, dan memperbaiki watakku yang sukanya menyenangkan semua orang.

Aku membaca apa yang firman Tuhan katakan: "Apabila hubunganmu dengan Tuhan telah menjadi normal, engkau juga akan memiliki hubungan yang normal dengan orang-orang. Untuk membangun hubungan yang normal dengan Tuhan, semuanya harus dibangun di atas dasar firman Tuhan, engkau harus mampu melaksanakan tugasmu sesuai dengan firman Tuhan dan apa yang Tuhan tuntut, engkau harus memperbaiki sudut pandangmu, dan harus mencari kebenaran dalam segala sesuatu. Engkau harus menerapkan kebenaran setelah engkau memahaminya, dan apa pun yang terjadi pada dirimu, engkau harus berdoa kepada Tuhan dan mencari dengan hati yang tunduk kepada Tuhan. Dengan melakukan penerapan seperti itu, engkau akan mampu memelihara hubungan yang normal dengan Tuhan. Sementara melaksanakan tugasmu dengan benar, engkau juga harus memastikan bahwa engkau tidak melakukan apa pun yang tidak bermanfaat bagi jalan masuk kehidupan umat pilihan Tuhan, dan tidak mengatakan apa pun yang tidak membantu saudara-saudari. Setidaknya, engkau tidak boleh melakukan apa pun yang bertentangan dengan hati nuranimu dan sama sekali tidak boleh melakukan apa pun yang memalukan. Khususnya, hal-hal yang memberontak atau menentang Tuhan, tidak boleh kaulakukan, dan engkau tidak boleh melakukan apa pun yang mengganggu pekerjaan atau kehidupan bergereja. Bersikaplah adil dan terhormat dalam segala hal yang kaulakukan, dan pastikan bahwa setiap tindakanmu layak di hadapan Tuhan. Meskipun daging terkadang lemah, engkau harus mampu mengutamakan kepentingan keluarga Tuhan, tanpa keserakahan untuk keuntungan pribadi, tanpa melakukan apa pun yang egois atau hina, sering merenungkan dirimu sendiri. Dengan cara ini, engkau akan mampu untuk sering hidup di hadapan Tuhan, dan hubunganmu dengan Tuhan akan menjadi normal sepenuhnya" (Firman, Vol. 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Bagaimana Hubunganmu dengan Tuhan?"). "Bagi semua orang yang melaksanakan tugas, sedalam atau sedangkal apa pun pemahaman mereka akan kebenaran, cara paling sederhana untuk masuk ke dalam kenyataan kebenaran adalah dengan memikirkan kepentingan rumah Tuhan dalam segala sesuatu, dan melepaskan keinginan mereka yang egois, niat pribadi, motif, kesombongan, dan status mereka. Prioritaskan kepentingan rumah Tuhan—inilah setidaknya yang harus orang lakukan. Jika seseorang yang melaksanakan tugas bahkan tak mampu berbuat sebanyak ini, lalu bagaimana mungkin dia bisa disebut melaksanakan tugasnya? Itu bukanlah melaksanakan tugas. Engkau harus terlebih dahulu memikirkan kepentingan rumah Tuhan, mempertimbangkan maksud-maksud Tuhan, dan mempertimbangkan pekerjaan gereja. Menempatkan hal-hal ini sebagai yang pertama dan terutama; baru setelah itulah engkau dapat memikirkan tentang stabilitas statusmu atau tentang bagaimana orang lain memandangmu. Bukankah engkau semua akan merasa bahwa akan menjadi sedikit lebih mudah apabila engkau membaginya menjadi kedua langkah ini dan melakukan beberapa kompromi? Jika engkau menerapkan hal ini selama beberapa waktu, engkau akan mulai merasa bahwa memuaskan Tuhan bukan hal yang sesulit itu. Selain itu, engkau harus mampu memenuhi tanggung jawabmu, melaksanakan kewajiban dan tugasmu, dan mengesampingkan keinginanmu yang egois, niat dan motifmu; engkau harus terlebih dahulu memikirkan maksud-maksud Tuhan, dan kepentingan rumah Tuhan, pekerjaan gereja, dan tugas yang harus kaulaksanakan. Setelah mengalami hal ini selama beberapa waktu, engkau akan merasa bahwa ini adalah cara yang baik dalam bertindak. Ini berarti menjalani hidup dengan jujur dan tulus, dan tidak menjadi orang yang hina dan jahat; ini berarti hidup secara adil dan terhormat, bukan hidup dengan tercela, hina dan tidak berguna. Engkau akan merasa bahwa inilah cara orang seharusnya bertindak dan citra diri yang seharusnya mereka jalani" (Firman, Vol. 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Kebebasan dan Kemerdekaan Hanya Dapat Diperoleh dengan Menyingkirkan Watak yang Rusak"). Setelah membaca firman Tuhan, aku mengerti bahwa orang yang mencari kebenaran dalam segala sesuatu dan berdiri di sisi Tuhan, yang melepaskan hasrat pribadi mereka dan menjunjung tinggi kepentingan gereja, hanya merekalah yang hidup dalam kerupaan dengan manusia dan yang mampu memiliki hubungan yang normal dengan orang lain. Setelah itu, dalam keadaan apa pun, aku mulai berlatih untuk terlebih dahulu memikirkan cara melindungi kepentingan gereja, dan berusaha memuaskan kehendak Tuhan melalui perkataan dan tindakanku. Setelah melakukan ini selama beberapa waktu, kusadari ada banyak kesempatan bagiku untuk menerapkan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari dan dalam tugasku. Misalnya, dalam pertemuan, kulihat beberapa orang membahas kata-kata dan doktrin atau keluar dari topik. Atau ada orang yang mengoceh selama pertemuan, memperpanjang waktu pertemuan kami. Ini merugikan kehidupan bergereja, tetapi pemimpin tim tidak menunjukkan hal ini ataupun memperbaikinya. Awalnya, aku tak ingin mengatakan apa pun, tetapi aku merasa agak bersalah—mengapa aku kembali ingin menjadi penyenang orang? Aku langsung berdoa kepada Tuhan, meninggalkan niatku yang salah. Menjelang akhir pertemuan, aku mengemukakan masalah yang kulihat dan menyarankan solusinya. Aku merasa menyangkal diri dan menjunjung tinggi pekerjaan gereja seperti ini membuatkan merasa sangat damai. Selain itu, ada seorang saudara yang kukenal baik diberhentikan. Dia mengatakan itu karena dia mendambakan kenyamanan, licin dan licik, serta tidak efektif dalam tugasnya. Awalnya, aku ingin menghibur dan membuatnya berpikir baik tentangku, tetapi aku lalu sadar bahwa aku harus menerapkan kebenaran kali ini. Jadi, kutenangkan hatiku dan berpikir apa yang harus kukatakan untuk membantu mendidik kerohanian saudara ini. Aku teringat interaksi kami sebelumnya. Hasratnya akan kenyamanan terlihat cukup jelas selama melakukan tugasnya. Tidak mempermanis kata, aku menunjukkan masalah sikap yang diperlihatkannya selama melakukan tugasnya, dan mengiriminya beberapa firman Tuhan yang relevan. Dia berterima kasih dan berkata apa yang kukatakan kepadanya telah membantunya. Setelah melakukan itu, aku merasa sangat tenang dan sangat damai.

Melalui penghakiman dan penyingkapan firman Tuhan, aku mengerti jika aku terus hidup berdasarkan falsafah duniawi Iblis, aku hanya akan menjadi makin licin dan licik; aku pasti tidak memenuhi syarat terendah menjadi manusia, dan pada akhirnya aku akan melukai orang lain dan diriku sendiri. Aku juga belajar bahwa hidup berdasarkan firman Tuhan dan menjalani hidupku berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran adalah satu-satunya cara untuk memiliki kemanusiaan dan menjadi orang yang benar-benar baik.

Sebelumnya: 58. Pilihan seorang Pejabat Pemerintah

Selanjutnya: 60. Melaporkan Pemimpin Palsu: Perjuangan Pribadi

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

2. Jalan menuju Penyucian

Oleh Saudara Allie, AmerikaAku dibaptis dalam nama Tuhan Yesus pada tahun 1990, dan pada tahun 1998, aku telah menjadi rekan kerja sebuah...

Pengaturan

  • Teks
  • Tema

Warna Solid

Tema

Jenis Huruf

Ukuran Huruf

Spasi Baris

Spasi Baris

Lebar laman

Isi

Cari

  • Cari Teks Ini
  • Cari Buku Ini