Cara Mengejar Kebenaran (33)
Hari ini, mari kita terlebih dahulu renungkan sebuah pertanyaan. Tuhan memeriksa lubuk hati manusia—apakah ini fakta? (Ya.) Karena Tuhan memeriksa lubuk hati manusia, mengapa Dia masih menguji manusia? Pernahkah engkau semua merenungkan pertanyaan ini? (Belum.) Engkau semua belum pernah merenungkannya, jadi sekarang setelah pertanyaan ini diajukan, bagaimana menurutmu? Apakah engkau semua memiliki pemahaman tentang hal ini? (Meskipun Tuhan memeriksa lubuk hati manusia, kita tetap harus bersaksi bagi Tuhan di hadapan Iblis, agar Iblis dapat melihat hati kita yang sesungguhnya terhadap Tuhan dan kesetiaan kita kepada-Nya. Dengan demikian, ujian ini juga memberi kita kesempatan untuk bersaksi di hadapan Iblis.) Ini adalah salah satu aspek dari apa yang kita persekutukan terakhir kali. Selain ini, apa lagi yang dapat engkau semua pikirkan? (Aku juga memikirkan satu poin: Meskipun Tuhan memeriksa lubuk hati manusia, Tuhan juga mengatur lingkungan untuk menguji manusia, memungkinkannya untuk benar-benar mengalami berbagai hal, dan memungkinkannya, di dalam lingkungan tersebut, untuk terus-menerus berjuang melawan watak rusaknya sendiri dan terus-menerus memberontak terhadap dagingnya, agar ia dapat menerapkan kebenaran dan menerapkan firman Tuhan. Ini adalah proses nyata bagi makhluk ciptaan untuk memperoleh kebenaran.) Siapa lagi yang memiliki pemahaman? Bukankah engkau semua biasanya sangat pandai berbicara? Lalu, mengapa engkau semua tidak memiliki pemahaman saat dihadapkan pada persoalan nyata? Tahukah engkau semua pertanyaan yang baru saja Kusebutkan berkaitan dengan apa? Itu berkaitan dengan cara Tuhan bekerja, dan itu juga berkaitan dengan mengenal maksud Tuhan. Jadi, pemahaman apa yang bisa engkau semua peroleh dari hal ini? Jika engkau semua tidak memiliki pemahaman tentang hal sebesar itu, ini membuktikan bahwa engkau semua tidak merenungkan persoalan nyata ini, apalagi memahami kebenaran dan masuk ke dalam kenyataan. Oleh karena itu, ketika menghadapi persoalan seperti itu, engkau semua tidak memiliki pengalaman langsung tentangnya sehingga tidak dapat membicarakan pemahaman apa pun. Siapa lagi yang ingin membicarakan pemahaman tentang pertanyaan ini? Karena Tuhan memeriksa lubuk hati manusia dan mengetahui bahwa orang bersedia menerapkan kebenaran, bersedia melaksanakan tugas mereka dengan sepenuh hati, dan bersedia tunduk kepada Tuhan, bukankah itu cukup? Mengapa Tuhan masih menguji manusia? Efek apa yang pada akhirnya hendak Tuhan capai dengan melakukan hal ini? (Menurutku, Tuhan mengatur lingkungan untuk menempatkan manusia dalam ujian dan pemurnian agar kebenaran meresap serta bekerja dalam dirinya, dan menjadikan kebenaran sebagai hidupnya; ini adalah proses yang relatif nyata.) Apakah ini benar? (Ya. Aku akan menambahkan satu poin lagi: Menurutku, di satu sisi, pengujian Tuhan atas pekerjaan manusia berfungsi untuk memungkinkan kebenaran meresap dan bekerja dalam diri manusia melalui ujian dan pemurnian yang dialaminya, serta di sisi lain, untuk memenuhi kehendak Tuhan dalam diri manusia.) Engkau semua mengatakan bahwa Tuhan menguji manusia untuk memungkinkannya memenuhi kehendak Tuhan, tetapi dapatkah manusia memenuhi kehendak Tuhan? (Tidak.) Engkau semua telah mendengarkan khotbah selama bertahun-tahun, tetapi tidak memiliki pemahaman tentang sebagian besar hal, terutama tentang persoalan-persoalan nyata dalam kehidupanmu sehari-hari. Apa pun yang terjadi, sebagian besar orang hanya tahu cara melontarkan retorika yang muluk-muluk dan berbicara tentang doktrin serta teori yang hampa. Ada orang-orang yang bahkan mengatakan hal-hal yang sepenuhnya melenceng dari pokok pembicaraan, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kebenaran, dengan kenyataan; bahkan tidak ada kaitannya sama sekali. Meskipun sebagian orang juga belum merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini, mereka tetap memiliki pemahaman tentang persoalan nyata tertentu, bukan? Dinilai dari jawabanmu, dalam kehidupan nyata sehari-hari, engkau semua belum masuk ke dalam sebagian besar kebenaran mengenai penerapan, sehingga engkau semua tidak memiliki pengalaman tentangnya. Apa pun persoalan nyata yang kauhadapi, engkau sama sekali tidak memiliki pemahaman yang dapat disampaikan dan hanya tahu cara membicarakan doktrin; setiap kali sesuatu terjadi, engkau menanggapinya dengan doktrin. Oleh karena itu, dalam pekerjaan apa pun atau bidang tugas apa pun, apa yang mampu kaulakukan sangatlah terbatas, dan bahkan hal-hal terbatas yang mampu kaulakukan tidak sejalan dengan prinsip-prinsip kebenaran. Prinsip-prinsip kebenaran berada di luar jangkauan sebagian besar orang, sebagian besar orang juga tidak dapat memahaminya, dan terlebih lagi, mereka tidak mampu melaksanakan tugas mereka sesuai dengan prinsip-prinsip tersebut. Mengenai pertanyaan barusan, "Tuhan memeriksa lubuk hati manusia, jadi mengapa Dia masih menguji manusia?" sebagian besar darimu tidak memiliki pemahaman, tetapi setelah beberapa orang menyuarakan pemahaman mereka, sebagian besar darimu masih bisa memperoleh kepastian di dalam hatimu dan menentukan siapa yang berbicara dengan lebih akurat dan relatif sejalan dengan fakta. Jadi, bagaimana tepatnya pertanyaan ini harus dipahami? Kita perlu mempersekutukannya.
Memeriksa lubuk hati manusia adalah kemampuan yang dimiliki oleh Tuhan itu sendiri. Tuhan memiliki pemahaman yang mendalam tentang umat manusia, tentang makhluk ciptaan. Hal ini sepenuhnya akurat, dan fakta ini tidak dapat disangkal. Entah engkau telah mengalami hal ini atau belum, entah engkau telah memperoleh pemahaman tentangnya atau belum, dan entah engkau pernah merasakannya atau belum, bagaimanapun juga, merupakan fakta bahwa Tuhan memeriksa lubuk hati manusia. Karena Tuhan memeriksa lubuk hati manusia, Dia tentu saja memiliki pemahaman yang sangat mendalam tentang manusia. Seperti apa kualitas dan naluri setiap orang, seberapa besar tingkat pertumbuhan mereka, apa yang mampu dan tidak mampu mereka lakukan, dan watak rusak apa yang mereka miliki, Tuhan tahu betul tentang semua hal ini. Tuhan memahami hal-hal tersebut dengan sangat jelas! Lalu, mengapa Tuhan masih terus-menerus menguji manusia? Apa tujuan pengujian ini? Tuhan membutuhkan manusia untuk memberi-Nya jawaban melalui perilaku dan perwujudannya sendiri. Tuhan ingin melihat tekad manusia, keinginannya, doa-doanya, atau sumpah yang diucapkannya di hadapan Tuhan, terbukti kebenarannya. Di mata Tuhan, ini adalah proses yang mutlak diperlukan; ini berkaitan dengan bagaimana Tuhan menyelamatkan manusia dan bagaimana Dia membuat firman-Nya meresap dan bekerja dalam diri manusia. Terakhir kali, kita juga mempersekutukan sebagian alasan Tuhan menguji manusia, dengan menyebutkan bahwa Dia menguji manusia karena Dia membutuhkan manusia untuk bersaksi bagi-Nya. Namun, ini adalah bagian yang sangat kecil dari alasannya. Alasan utamanya adalah bahwa dengan menguji manusia, Tuhan bermaksud agar manusia menerima firman-Nya, menerima kebenaran, dan menerapkannya serta menjadikannya kenyataannya sendiri. Tujuannya bukan agar manusia sekadar selesai membaca firman Tuhan dan hanya memperoleh suatu kesan atau beberapa ide, niat, atau tekad. Sebaliknya, tujuannya adalah agar setelah membaca firman Tuhan, manusia merenungkan dan mempersekutukannya, dan dengan demikian memahami kebenaran, serta mampu menerapkan kebenaran agar itu menjadi kenyataan hidupnya. Jadi, mengapa Tuhan menginginkan penerapan manusia? Penerapan ini sangat penting bagi manusia untuk memperoleh keselamatan. Ini adalah proses yang diperlukan; melalui proses ini, Tuhan membuat kebenaran itu meresap dan bekerja dalam diri manusia. Dengan menerapkan kebenaran, di satu sisi, manusia mampu membuang watak rusaknya; di sisi lain, ia benar-benar mengalami hal-hal yang dibicarakan oleh firman Tuhan, benar-benar mengalami standar yang dituntut oleh Tuhan dan apa maksud-maksud-Nya, dan juga benar-benar mengalami proses membuang watak rusaknya dan tunduk kepada Tuhan. Melalui proses ini, firman Tuhan dan kebenaran meresap dan bekerja dalam diri manusia. Tentu saja, ini bukanlah hasil yang dapat dicapai dengan menerapkan kebenaran satu atau dua kali; sebaliknya, manusia harus menerapkan dan memasuki setiap aspek kebenaran dalam jangka panjang. Selama proses jangka panjang ini, seiring manusia terus mengalami dan terus melewati berbagai hal, watak rusaknya berangsur-angsur dibereskan hingga berbagai tingkat. Dibereskannya watak rusak manusia tetap bukanlah hasil akhir yang hendak Tuhan capai dengan menguji dirinya. Apa hasil akhirnya? Yang hendak Tuhan capai dalam diri manusia adalah—melalui kebenaran yang bekerja di dalam dirinya—menyingkirkan watak rusaknya kemudian mengambil kebenaran dan menjadikan itu sebagai hidupnya; inilah hasil akhirnya. Ketika kebenaran menjadi hidup manusia, watak rusaknya dibereskan sampai ke akarnya. Dibereskannya watak rusak manusia sampai ke akarnya adalah hasil akhir yang dicapai manusia dengan menempuh jalan keselamatan. Ini adalah alasan utama Tuhan menguji manusia. Oleh karena itu, dua poin yang dibicarakan beberapa orang ketika mereka berkata, "Tuhan menguji manusia, di satu sisi, karena Dia membutuhkan manusia untuk bersaksi, dan di sisi lain, agar manusia mengikuti kehendak Tuhan" sebenarnya tidak terlalu penting dibandingkan dengan rencana pengelolaan Tuhan dan tujuan-Nya untuk melengkapi manusia serta memungkinkan manusia untuk memperoleh keselamatan. Yang penting adalah bahwa selama proses menguji manusia, Tuhan hendak membuat firman-Nya dan membuat kebenaran meresap dan bekerja dalam diri manusia. Hasil akhirnya adalah memungkinkan firman Tuhan dan memungkinkan kebenaran untuk menjadi hidup manusia, untuk menggantikan hidup lamanya, yaitu watak rusaknya. Bukankah dengan demikian manusia akan didapatkan oleh Tuhan? (Ya.) Agar manusia pada akhirnya didapatkan oleh Tuhan, inilah hasil yang hendak Tuhan capai dengan menguji dirinya. Pengujian ini memiliki banyak bentuk. Terkadang Tuhan menggunakan suatu lingkungan untuk menempatkanmu dalam ujian dan pemurnian; terkadang Dia menggunakan suatu lingkungan untuk menghajar dan menghakimimu; dan terkadang Dia menggunakan suatu lingkungan untuk mengingatkan dan memperingatkanmu. Terkadang Dia menggunakan orang lain untuk mengingatkanmu, memperingatkanmu, dan memangkasmu; dan terkadang Dia menggunakan firman-Nya untuk secara eksplisit menegurmu, mendidikmu, dan mendisiplinkanmu, atau bahkan menggunakan firman-Nya untuk secara eksplisit menghakimimu dan menyingkapkan pemberontakanmu. Semua ini adalah cara-cara Tuhan menguji manusia; cara-cara Tuhan menguji manusia ada banyak dan beragam. Lalu, dalam kondisi seperti apa Tuhan menguji manusia? Kondisi apa yang harus kaupenuhi agar Tuhan mengujimu? Engkau harus memiliki jalan masuk kehidupan. Tuhan memeriksamu; Dia tahu apa yang kaupikirkan dalam hati, dan Dia tahu esensi natur seperti apa yang kaumiliki. Namun, jika engkau tidak memiliki jalan masuk kehidupan—dengan kata lain, jika engkau biasanya tidak mengejar kebenaran dan tidak mencari prinsip-prinsip kebenaran dalam hal apa pun—sekalipun Tuhan mencerahkanmu dan membimbingmu demi membantumu memahami suatu aspek kebenaran, engkau tetap acuh tak acuh, engkau tidak tergerak di dalam hati, dan baik di dalam hatimu maupun dalam kesadaran subjektifmu, engkau tidak memiliki niat apa pun untuk menerapkan sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Jika demikianlah dirimu, berbagai cara Tuhan menguji manusia akan jarang datang atasmu. Menunjukkan apakah hal ini? Ini menunjukkan bahwa engkau masih berada pada tahap berjerih payah dan belum menempuh jalan keselamatan. Ini pertanda apa? Bahwa engkau masih berjerih payah! Apa arti berjerih payah? Itu berarti bahwa ketika engkau melaksanakan sedikit tugasmu itu dan melakukan pekerjaan-pekerjaan itu, ini hanyalah mengerahkan upaya, dan tidak ada hubungannya dengan prinsip-prinsip kebenaran. Karena engkau hanya mengerahkan upaya, tidak ada pembicaraan tentang prinsip-prinsip penerapan, juga tidak ada pembicaraan tentang mencari prinsip-prinsip kebenaran. Sudah cukup jika engkau mampu mengerahkan upaya, tidak menyebabkan kekacauan, tidak menyebabkan gangguan, tidak dengan sengaja mengacaukan ketertiban, tidak dengan sengaja menyabotase apa pun, dan tidak dengan sengaja merusak peralatan apa pun. Tuntutan yang diajukan terhadapmu tidaklah tinggi; sudah cukup jika engkau mampu mengerahkan upaya, tidak menyebabkan gangguan, dan di luarnya, terlihat berperilaku cukup baik. Itulah standar yang dituntut darimu. Mengapa standar seperti itu yang dituntut darimu? Karena engkau tidak mengejar kebenaran, engkau biasanya tidak memiliki jalan masuk kehidupan, dan engkau tidak mencari kebenaran dalam hal apa pun. Ada orang-orang yang berkata, "Meskipun kami tidak mencari kebenaran ketika sesuatu terjadi, kami tidak melanggar prinsip apa pun. Kami melakukan apa pun yang diminta oleh rumah Tuhan, kami telah taat, dan kami telah menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan kami. Kami juga tidak dengan sengaja menyebabkan kekacauan atau gangguan, jadi bagaimana Engkau bisa mengatakan bahwa kami sedang berjerih payah?" Apakah mengatakan bahwa orang-orang ini sedang berjerih payah berarti berbuat tidak adil kepada mereka? (Tidak.) Secara doktrin, orang-orang tahu bahwa itu bukanlah perbuatan tidak adil, tetapi beberapa orang masih tetap tidak terima di dalam hati mereka. Mengapa dikatakan bahwa orang-orang ini sedang berjerih payah? (Tujuan utama Tuhan menjadi daging dan mengungkapkan kebenaran pada akhir zaman adalah untuk memungkinkan kami menerima kebenaran, menerapkan kebenaran, dan memperoleh kebenaran sebagai hidup kami. Jika kami melaksanakan tugas kami tanpa prinsip, pelaksanaannya tidak ada hubungannya dengan kebenaran dan hanya bisa disebut berjerih payah.) Setelah mendengar perkataan ini, ada orang-orang yang tidak dapat menerimanya, dan berkata, "Kami telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun dan telah membayar harga yang begitu besar dalam melaksanakan tugas kami, jadi bagaimana mungkin kami masih berjerih payah? Kami tidak terima akan hal ini! Bukankah Tuhan memeriksa lubuk hati manusia? Namun, Tuhan tidak tahu seperti apa hati kami terhadap-Nya, dan Dia tidak memahami kami! Jika Tuhan tidak memahami kami, bagaimana bisa dikatakan bahwa Tuhan memeriksa lubuk hati manusia? Jika Tuhan tidak memahami manusia, Dia bisa dengan mudah berbuat tidak adil kepada manusia." Orang semacam itu percaya bahwa Tuhan telah berbuat tidak adil kepada mereka; benarkah bagi mereka berpikir seperti ini? (Tidak.) Mereka mengakui bahwa Tuhan memeriksa lubuk hati manusia, tetapi juga mengatakan bahwa Tuhan telah berbuat tidak adil kepada mereka. Apakah mereka benar-benar mengakui bahwa Tuhan memeriksa lubuk hati manusia? (Tidak. Jika mereka percaya bahwa Tuhan telah berbuat tidak adil kepada mereka, sekalipun mereka berkata, "Tuhan memeriksa lubuk hati manusia," ini bukanlah pemahaman yang sejati.) Tuhan memeriksa lubuk hati manusia, jadi apakah Dia memahami berbagai keadaan dan esensi orang-orang? (Ya.) Karena Tuhan memang memahaminya, apakah penggolongan-Nya terhadap banyak orang yang telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun sebagai orang yang masih berjerih payah—bukan sebagai orang yang mengejar kebenaran dan yang belum menempuh jalan keselamatan—akurat? (Akurat.) Berdasarkan apa hal ini? (Berdasarkan keadaan nyata kami. Di lingkungan yang Tuhan atur, kami tidak mencari kebenaran untuk membereskan watak rusak kami, dan kami melaksanakan tugas kami tanpa prinsip-prinsip kebenaran, jadi menurutku penggolongan Tuhan terhadap kami adalah tepat.) Engkau semua masih belum dapat memahami hal ini dengan jelas.
Selama bertahun-tahun, Aku telah menyampaikan begitu banyak kebenaran dan mempersekutukan begitu banyak prinsip kebenaran. Apakah engkau semua bersedia menerapkannya? (Ya.) Engkau semua bersedia menerapkan kebenaran, jadi pernahkah engkau semua berdoa dan bertekad atau bersumpah kepada Tuhan mengenai hal ini? (Terkadang aku bersumpah dan bertekad.) Sebagian besar orang bersedia menerapkan kebenaran di dalam hati, dan mereka sering berdoa serta bertekad, dan mereka juga bersumpah kepada Tuhan; bahkan ada yang meminta Tuhan untuk mendisiplinkan mereka. Namun, apakah kesediaan ini dapat berarti orang memiliki kenyataan kebenaran? Dapatkah itu menggantikan penerapan kebenaran? (Tidak.) Itu tidak dapat menggantikan penerapan kebenaran. Lihat, bukankah sebagian besar orang berada dalam keadaan seperti ini? Dalam hal menerapkan kebenaran atau mempersekutukan aspek kebenaran tertentu, sejauh menyangkut niat subjektif orang, tak seorang pun ingin menyimpan penentangan terhadapnya; mereka semua bersedia menerapkan kebenaran. Sebagai contoh, menjadi orang jujur, melaksanakan tugas dengan sepenuh hati, tidak bersikap asal-asalan, bekerja sama secara harmonis, tidak menyebabkan kekacauan atau gangguan saat melakukan berbagai hal, dan mampu melindungi kepentingan rumah Tuhan serta menjunjung tinggi kesaksian Tuhan, dan sebagainya—semua orang bersedia menerapkan dan memasuki kebenaran-kebenaran ini. Jika engkau bertanya, "Siapa yang tidak bersedia menerapkan kebenaran?" tak seorang pun akan angkat tangan; semua orang bersedia menerapkannya. Jika engkau kemudian bertanya, "Kapan engkau berencana mulai menerapkannya?" mereka akan berkata, "Aku akan mulai menerapkannya dari sekarang." Namun setelah itu, mereka tidak melakukan tindakan nyata apa pun; di dalam hati, mereka masih terus berpikir, "Tuhan, aku bersedia menerapkan kebenaran." Mereka tidak hanya berdoa seperti ini di hadapan Tuhan, tetapi juga mengungkapkan tekad mereka dan mengungkapkan keinginan mereka di hadapan semua orang, dan terkadang mereka bahkan sampai begitu terharu hingga air mata bercucuran di wajah mereka dan mereka terisak-isak sampai tak mampu berkata-kata. Terharu adalah satu hal, tetapi apakah mereka benar-benar mampu menerapkan kebenaran, itu sulit untuk dikatakan. Ada orang-orang yang selalu berada pada tahap bersedia menerapkan kebenaran; setiap kali ditanya, mereka berkata bahwa mereka bersedia menerapkan, sama seperti seorang anak yang mengucapkan perkataan orang dewasa. Sebagai contoh, ada orang tua yang bertanya kepada anak mereka apakah ia akan bersedia mencari uang untuk menafkahi Ayah dan Ibu ketika ia besar nanti, dan anak itu berkata, "Ya!" Namun, apakah ia benar-benar akan menafkahi orang tuanya ketika ia besar nanti, itu soal lain. Setelah mendengar seorang anak berkata bahwa ia bersedia menafkahi orang tuanya, ada orang tua yang menganggap serius perkataan itu dan menaruh semua harapan mereka pada anak itu, bahkan bersedia bekerja keras membanting tulang demi anak itu. Sebenarnya, anak itu hanya membual; dia sendiri bahkan tidak memahami apa arti "kesediaan" ini. Ia hanya berpikir bahwa asalkan orang tuanya senang dan puas setelah mendengarnya, "kesediaannya" telah terpenuhi. Ia tidak tahu kesukaran apa yang harus ditanggungnya, harga apa yang harus dibayarnya, atau tanggung jawab dan kewajiban apa yang harus dipenuhinya demi "kesediaan" ini ketika ia besar nanti. Ia tidak tahu bagaimana "kesediaan" ini seharusnya diterapkan, bagaimana itu seharusnya dipenuhi, atau bagaimana itu seharusnya diwujudkan menjadi kenyataan. Anak itu hanya membual, dan hanya sampai di situ saja; setelah beranjak dewasa, ia sepenuhnya melupakan perkataan yang diucapkannya ketika masih kecil dan mengabaikannya sama sekali. Mencari uang di kehidupan nyata tidaklah mudah; kenyataan begitu keras, dan pekerjaan apa pun yang dilakukannya, tidak ada yang berjalan lancar. Jadi, dapatkah perkataan yang diucapkannya ketika masih kecil, "Aku bersedia menafkahi orang tuaku," tercapai? (Itu tidak mudah dicapai.) Sebagian besar dari engkau semua juga berada dalam keadaan ini; engkau tidak bersedia sekadar berjerih payah bagi Tuhan, dan bersedia mengorbankan dirimu dengan sepenuh hati bagi Tuhan, bersedia tunduk kepada Tuhan, bersedia masuk ke dalam kenyataan kebenaran, dan bersedia melakukan segala sesuatu sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Namun, sekadar berhenti pada tahap memiliki kesediaan tidak merepresentasikan kenyataanmu dan bukan merupakan kenyataanmu; engkau tidak memiliki kenyataan dalam hal-hal ini. Orang-orang hanya berhenti pada tahap memiliki kesediaan dan kemudian berpikir, "Aku bersedia, jadi aku terhitung setia; aku bersedia, jadi aku terhitung telah menerapkan kebenaran. Karena aku memiliki tekad ini, aku dapat membuang watak rusakku dan memenuhi maksud Tuhan." Mereka percaya bahwa bersedia berarti mereka telah memiliki kebenaran sebagai hidup mereka dan bahwa mereka telah memiliki kenyataan kebenaran. Mereka tidak tahu bahwa "kesediaan" mereka ini hanya sebatas keinginan dan pemikiran mereka; itu tidak ada hubungannya dengan kenyataan, dan masih ada jarak antara hal itu dan penerapan kebenaran, serta antara hal itu dan jalan masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Meskipun engkau bersedia menerapkan kebenaran, engkau belum menerapkannya dan tidak memiliki perwujudan nyata, jadi engkau masih berada dalam imajinasi dari niat subjektifmu, dan engkau masih hidup pada tahap di mana watak rusakmu mendikte pemikiran dan perilakumu. Selama engkau tetap berada pada tahap ini, dapatkah kesediaanmu mengatasi watak rusakmu? (Tidak.) Apa pun yang kauhadapi, engkau masih hidup berdasarkan watak rusakmu. Sebagai contoh, ketika engkau bekerja sama dengan seseorang dalam melaksanakan tugasmu, engkau berpikir jika engkau bekerja sama dan mendiskusikan berbagai hal dengannya, itu akan membuatmu tampak lebih rendah darinya, dan dengan demikian, engkau akan kehilangan status dan prestisemu. Jadi, engkau tidak bekerja sama dengannya, dan engkau mengambil semua keputusan sendiri. Ketika engkau melihat seseorang bersikap asal-asalan dalam melaksanakan tugasnya, engkau juga tidak menyingkapkan atau memangkasnya, berpikir, "Aku biasanya memiliki hubungan yang baik dengan orang ini. Jika dia bersikap asal-asalan, biarlah; lagi pula, kepentingan pribadiku tidak mengalami kerugian apa pun. Aku hanya akan memberikan beberapa isyarat dan memberinya sedikit nasihat; itu sudah cukup. Jika dia tidak bertobat, aku akan mengamatinya sedikit lebih lama dan memberinya sedikit kelonggaran." Engkau tidak menerapkan kebenaran apa pun yang kauhadapi. "Kesediaanmu" itu hanyalah pemikiran yang relatif positif; itu sama sekali bukan kenyataanmu. Engkau sama sekali belum menerapkan kebenaran, dan engkau juga belum masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Setiap kali engkau menghadapi sesuatu yang mengharuskanmu untuk menerapkan kebenaran, engkau selalu menyikapi dan menanganinya berdasarkan watak rusakmu; engkau tidak mencari prinsip-prinsip kebenaran, engkau juga tidak masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Di dalam hatimu, engkau terus-menerus berpikir, "Aku bersedia menerapkan kebenaran, aku bersedia mengasihi Tuhan, dan aku bersedia tunduk kepada Tuhan," dan dengan demikian mengira bahwa engkau sendiri telah menerapkan kebenaran, engkau sendiri telah mengasihi Tuhan, dan engkau sendiri telah tunduk kepada Tuhan. Engkau bahkan mendefinisikan dirimu sendiri, menyematkan gelar yang terdengar bagus, yaitu "orang yang menerapkan kebenaran dan mengejar kebenaran". Engkau sedang menipu dirimu sendiri, dan engkau juga sedang menipu Tuhan. Apa pun yang kauhadapi, engkau tidak masuk ke dalam kenyataan kebenaran, dan engkau tidak menggunakan kebenaran untuk membereskan berbagai hal, tetapi engkau masih bertekad di hadapan Tuhan: "Tuhan, aku bersedia setia kepada-Mu, aku bersedia tunduk kepada-Mu, aku bersedia mengasihi-Mu, dan aku bersedia melepaskan semua yang kumiliki untuk-Mu." Setelah berdoa, ketika Tuhan mengatur suatu lingkungan bagimu, engkau tidak bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran dan tidak menerapkan kebenaran; kesediaanmu sudah lama dikesampingkan. Setelah hal itu berlalu, engkau segera mulai mengungkapkan tekadmu lagi: "Aku bersedia menerapkan kebenaran, aku bersedia tunduk kepada Tuhan, aku bersedia mengasihi Tuhan." Ada suara yang terus-menerus memberitahumu di dalam hatimu: "Karena aku bersedia melakukan semua hal ini, aku bukanlah orang yang berjerih payah; aku adalah orang yang mengasihi Tuhan, orang yang menerapkan kebenaran." Engkau mengelabui dirimu sendiri dengan cukup baik, tetapi apakah Tuhan membiarkanmu menipu-Nya seperti ini? (Tidak.) Engkau bisa menipu dirimu sendiri, tetapi Tuhan tidak akan mengizinkanmu menipu-Nya seperti ini. Engkau mungkin bisa menipu dirimu sendiri dan menipu orang-orang di sekitarmu, tetapi engkau tidak bisa menipu Tuhan. Engkau berulang kali bertekad di hadapan Tuhan: "Tuhan, aku bersedia tunduk kepada-Mu, aku bersedia memuaskan-Mu!" "Tuhan, aku bersedia mengorbankan diriku untuk-Mu, aku bersedia mempersembahkan seluruh diriku kepada-Mu!" Sumpah mana yang kauucapkan di hadapan Tuhan yang telah kauterapkan? Mana yang telah kaupenuhi? Tidak ada satu pun yang telah dipenuhi; pada akhirnya, engkau masih berada pada tahap kesediaan. Oleh karena itu, sebanyak apa pun upaya yang telah kaukerahkan, selama engkau masih berada pada tahap kesediaan, belum mulai mencari prinsip-prinsip kebenaran, dan belum mulai menerapkan kebenaran, engkau tidak memiliki jalan masuk kehidupan. Apakah orang yang tidak memiliki jalan masuk kehidupan memiliki hidup? (Tidak.) Makhluk macam apakah orang yang tidak memiliki hidup? Apakah mereka orang yang berjerih payah atau salah satu dari umat pilihan Tuhan? Apakah mereka termasuk orang-orang yang Tuhan selamatkan? Apakah mereka orang yang ingin Tuhan selamatkan? Apakah mereka orang yang tunduk di bawah kekuasaan Tuhan? (Tidak.) Engkau tidak memiliki jalan masuk kehidupan, tetapi mengeklaim bahwa engkau adalah orang yang menerapkan kebenaran dan mengeklaim bahwa engkau bukanlah orang yang berjerih payah. Jika engkau bukanlah orang yang berjerih payah, lalu siapakah engkau? Apakah engkau salah satu dari umat Tuhan, atau orang yang diselamatkan dan disempurnakan oleh Tuhan? (Bukan keduanya.) Di mata-Ku, menyebutmu orang yang berjerih payah sudah memberimu penghargaan yang lebih dari yang pantas kauterima. Ada orang-orang yang bahkan bukanlah orang yang berjerih payah; mereka tidak bersedia dan bahkan enggan untuk mengerahkan sedikit upaya dalam melaksanakan tugas mereka. Jangan mengira hanya karena engkau semua mengerahkan sedikit upaya dan memiliki kesediaan untuk menerapkan kebenaran, engkau semua memenuhi syarat untuk menerima berkat dan upah serta memiliki modal untuk mencoba tawar-menawar dengan Tuhan. Engkau semua masih jauh dari memperoleh keselamatan. Di antara engkau semua, hampir belum ada yang memiliki jalan masuk kehidupan yang nyata. Engkau semua mengira bahwa, setelah percaya kepada Tuhan, meninggalkan keluarga dan kariermu untuk melaksanakan tugasmu dan bersedia melakukan apa pun yang diatur oleh rumah Tuhan untukmu berarti engkau memiliki kenyataan kebenaran. Namun sebenarnya, apa yang ada di balik kesediaanmu itu? Kesediaanmu sangat tidak murni dan tidak tahan diuji, jadi menggolongkanmu sebagai orang-orang yang berjerih payah sama sekali bukan berbuat tidak adil kepadamu. Engkau tidak memiliki jalan masuk kehidupan, jadi bukankah engkau adalah orang yang berjerih payah? Sudah cukup bagus Aku tidak menyebutmu setan. Orang yang tidak memiliki jalan masuk kehidupan adalah orang yang tidak memiliki hidup. Ada orang yang telah percaya kepada Tuhan selama sepuluh tahun tetapi tidak memiliki hidup; ada yang telah percaya selama dua puluh tahun tetapi tidak memiliki hidup; ada yang bahkan telah percaya selama lebih dari tiga puluh tahun, tetapi masih tidak memiliki hidup. Mereka tidak mampu melakukan pekerjaan nyata apa pun dan tidak dapat menerangkan dengan jelas atau menguraikan dengan gamblang kebenaran yang paling sederhana dan paling dangkal sekalipun. Bukankah ini berarti mereka tidak memiliki hidup? Selama bertahun-tahun percaya kepada Tuhan, mereka selalu berpikir bahwa mereka berbuat cukup baik dalam iman mereka, sering kali berkata, "Aku bersedia sibuk ke sana kemari dan mengorbankan diriku untuk Tuhan, aku bersedia membayar harga untuk Tuhan, dan aku bersedia setia kepada Tuhan. Lihatlah betapa banyak yang telah kupersembahkan dan betapa banyak yang telah kukorbankan untuk Tuhan. Aku telah mencurahkan waktu dan tenagaku serta melepaskan keluargaku, studiku, pekerjaanku, dan uangku. Aku bersedia melakukan apa pun yang diminta untuk kulakukan. Aku bersedia tunduk kepada Tuhan, aku bersedia memuaskan Tuhan, aku bersedia menerima pemangkasan, dan aku bersedia menerima hajaran serta penghakiman." Dapatkah "kesediaan" itu berarti bahwa engkau telah masuk ke dalam kenyataan kebenaran? Bagaimana "kesediaanmu" itu bisa terucap dari lidahmu dengan begitu mudahnya? Engkau "bersedia" melakukan begitu banyak hal, tetapi seberapa banyak kebenaran yang telah kauterapkan? Di manakah kenyataan kebenaranmu? Engkau "bersedia" melakukan begitu banyak hal, tetapi apakah engkau memiliki kesaksian berdasarkan pengalaman? Mengapa, bahkan sampai sekarang, kemungkinan engkau mengkhianati Tuhan tetap seratus persen? Mengapa itu tidak berkurang sedikit pun? Sekalipun itu berkurang dua puluh atau tiga puluh persen, berkurang secara bertahap, ini masih terhitung baru sedikit menerapkan dan masuk ke dalam kebenaran. Namun, engkau bahkan tidak dapat mencapai sebanyak itu. "Kesediaanmu" itu adalah tipu daya; itu adalah tipu daya terbesar terhadap Tuhan. Itu bukanlah kesetiaan kepada Tuhan, bukan pula hati yang tulus terhadap Tuhan. Apakah engkau mengira jika sebuah kebohongan diucapkan seribu atau sepuluh ribu kali, itu akan benar-benar menjadi kebenaran, menjadi sebuah fakta? Di hadapan Tuhan, klaim ini tidak berlaku; itu adalah penalaran yang menyimpang dan kesesatan. Tuhan memeriksa lubuk hati manusia. Sebanyak apa pun kaukatakan bahwa engkau bersedia mengorbankan dirimu untuk Tuhan, dan terdengar sebagus apa pun perkataanmu, Tuhan mengamati dengan sangat jelas makhluk macam apa engkau ini. Engkau terus mengeklaim bahwa engkau bersedia menerapkan kebenaran, dan kaukatakan bahwa engkau memiliki kenyataan dalam mengejar kebenaran, dan bahwa engkau memiliki bukti bahwa engkau menerapkannya. Lalu, apa balasanmu kepada Tuhan ketika Dia mengujimu? Engkau melihat orang-orang jahat menyebabkan kekacauan dan gangguan di rumah Tuhan, tetapi engkau tidak mengindahkannya dan tidak melibatkan diri. Sekalipun seseorang melaporkan suatu masalah, engkau tidak menyelesaikan atau menanganinya, dan engkau membiarkan saja orang-orang jahat melakukan kejahatan dan merajalela. Inikah ketundukanmu kepada Tuhan? Inikah kesetiaanmu kepada Tuhan? Karena kaupikir engkau setia kepada Tuhan, berapa kali engkau melindungi kepentingan rumah Tuhan saat engkau menjadi pemimpin atau pekerja? Dalam hal apa engkau berinisiatif untuk mengidentifikasi dan membereskan masalah, demi memastikan pekerjaan gereja berjalan normal? Ketika orang-orang jahat menyebabkan kekacauan dan gangguan pada pekerjaan gereja, berapa kali engkau bangkit untuk menyingkapkan mereka dan membereskan gangguan yang mereka sebabkan? Kapan engkau pernah menjunjung tinggi prinsip dalam penggunaan dan pengeluaran persembahan serta melindungi persembahan Tuhan dari kerugian dengan semestinya? Dalam hal-hal ini, engkau tidak pernah memikirkan maksud Tuhan, melakukan pemeriksaan yang ketat demi membatasi orang-orang jahat dalam melakukan kejahatan. Sebaliknya, engkau sama sekali tidak bertanggung jawab, menyaksikan pekerjaan gereja dan kepentingan rumah Tuhan mengalami kerugian, tetapi tetap acuh tak acuh. Terutama mengenai pengeluaran persembahan, engkau tidak melakukan pemeriksaan sama sekali, memberi persetujuan dan menandatanganinya begitu saja. Dengan sepatah kata yang keluar begitu saja dari mulutmu dan satu goresan penamu, puluhan ribu atau ratusan ribu uang persembahan dihambur-hamburkan, dan engkau bahkan tidak berkedip. Kemudian, ketika rumah Tuhan meminta pertanggungjawabanmu, engkau takut harus mengganti kerugian tersebut, sehingga engkau bahkan mampu memalsukan bukti, mencari seseorang untuk memanipulasi bukti dan mengubah tanda tangan. Inilah "kesetiaanmu" kepada Tuhan. Ketika orang-orang jahat merajalela melakukan hal-hal buruk dan menyebabkan kekacauan serta gangguan pada pekerjaan gereja, dan ketika engkau melihat orang-orang bersikap asal-asalan dalam melaksanakan tugas mereka dan menumpang hidup di rumah Tuhan, engkau berpura-pura tuli dan bisu, berpura-pura tidak melihat dan berpura-pura tidak tahu, sambil berpikir di dalam hatimu, "Aku bersedia setia kepada Tuhan, aku bersedia berjaga di posku bagi rumah Tuhan, menjaga gerbangnya dengan baik, dan mengawasi kawanan domba dengan baik." Engkau bersedia, tetapi sudahkah engkau melakukannya? Kaukatakan engkau bersedia berjaga di posmu dan melakukan pemeriksaan ketat bagi rumah Tuhan serta menjaga gerbangnya dengan baik, tetapi apakah engkau memiliki kesetiaan kepada Tuhan? Apakah engkau memenuhi syarat untuk mengucapkan perkataan ini? Apakah engkau memiliki kesadaran diri? Engkau menganggap dirimu terlalu tinggi! Jika engkau tidak bisa melakukannya, jangan berbicara sembarangan. Kaukatakan engkau bersedia, dan engkau bertekad serta bersumpah di hadapan Tuhan. Setelah engkau bersumpah, Tuhan menunggu; Tuhan akan mengamati dan akan menyaksikan, untuk melihat apa yang kaulakukan selanjutnya, apakah engkau menerapkan kebenaran, dan apakah perkataan yang kauucapkan telah dipenuhi. Jika engkau tidak memenuhinya, maka di mata Tuhan engkau adalah seorang penipu, dan tekad yang kaunyatakan serta sumpah yang kauucapkan di hadapan Tuhan adalah serangkaian kebohongan. Engkau dengan terang-terangan menipu Tuhan dan dengan terang-terangan mencoba mengelabui Tuhan; makhluk macam apa engkau ini? Apakah kaukira sekadar mengungkapkan tekadmu kepada Tuhan, mengerahkan sedikit upaya, dan bersikap asal-asalan terhitung sebagai menerapkan kebenaran? Engkau mengkhianati kepentingan rumah Tuhan, tetapi masih ingin Tuhan menerimamu, dan masih ingin umat pilihan Tuhan menyetujuimu; engkau bahkan ingin tawar-menawar dengan Tuhan, dan bahkan ingin menerima upah. Mungkinkah segala sesuatunya berjalan begitu mulus bagimu? Engkau menipu Tuhan dan memperlakukan-Nya dengan sikap asal-asalan, dan engkau mempermainkan-Nya, tetapi masih ingin Tuhan memberimu upah; makhluk macam apa engkau ini? Jika engkau bisa-bisanya melakukan hal ini, apakah engkau memiliki hidup? Jika umat manusia yang rusak memiliki hati nurani dan nalar manusia, mereka tidak akan memperlakukan Tuhan seperti ini setelah mendengarkan khotbah selama bertahun-tahun. Namun, engkau telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun dan mendengarkan khotbah selama bertahun-tahun, dan masih bisa memperlakukan Tuhan seperti ini, menggunakan kesediaanmu sendiri untuk menggantikan penerapan kebenaran, untuk mencoba mengelabui Tuhan dan memperlakukan-Nya dengan sikap asal-asalan, serta untuk menipu-Nya dan mempermainkan-Nya. Katakan kepada-Ku, makhluk macam apa engkau ini? Engkau adalah Iblis, setan, bukan manusia. Di mata Tuhan, engkau bahkan bukan makhluk ciptaan; engkau hanyalah setan, hanyalah orang celaka yang pantas mati! Katakan kepada-Ku, bukankah orang semacam itu pantas mati? (Ya.)
Ada orang yang berpikir bahwa mereka telah mengerahkan banyak upaya dalam melaksanakan tugas mereka di rumah Tuhan, dan bahwa mereka bersedia mengorbankan diri untuk Tuhan, bersedia mengindahkan firman Tuhan, dan bersedia menerapkan kebenaran. Ketika mengatakan bahwa mereka bersedia, mereka merasa sedikit tergerak dan memiliki sedikit ketulusan, lalu meninggikan diri mereka sendiri sebagai orang-orang seperti Petrus yang mengejar kebenaran dan menerapkan kebenaran, menempatkan diri mereka sendiri di atas takhta. Inikah sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh makhluk ciptaan? Apakah makhluk ciptaan seharusnya memiliki perwujudan seperti itu? (Tidak.) Orang yang memiliki jalan masuk kehidupan tidak sekadar memiliki kesediaan, tetapi atas dasar kesediaan tersebut, mereka memiliki penerapan dan memiliki jalan masuk. Dengan demikian, perwujudan apa yang akan dimiliki orang seperti ini? Memiliki jalan masuk kehidupan berarti orang berangsur-angsur membuang watak rusak mereka dan berangsur-angsur menjadikan firman Tuhan sebagai hidup mereka. Apa yang biasanya diperlihatkan dan dihidupi oleh orang yang memiliki firman Tuhan sebagai hidup mereka? Bagaimana sikap mereka terhadap Tuhan? Apa perwujudan mereka dalam melaksanakan tugas mereka? (Orang yang memiliki jalan masuk kehidupan memiliki beberapa perwujudan utama. Di satu sisi, mereka memiliki pengenalan sejati akan diri mereka sendiri. Mereka menyadari bahwa mereka masih jauh dari memenuhi tuntutan Tuhan dan bahwa tingkat pertumbuhan mereka masih terlalu kecil. Mereka merasa pedih dan tertekan karena beberapa pelanggaran dan perwujudan kerusakan mereka, dan mereka juga berharap dapat mengalami lebih banyak lingkungan yang diatur oleh Tuhan serta memikul lebih banyak beban, melatih diri dalam menerapkan kebenaran selama prosesnya, karena hanya dengan cara inilah mereka dapat memperoleh kebenaran. Di sisi lain, mereka setidaknya mampu untuk tidak bersikap asal-asalan dalam pelaksanaan tugas mereka dan dapat sering merenungkan diri sendiri. Jika mendapati bahwa mereka telah melanggar prinsip atau belum memenuhi standar dalam beberapa aspek, mereka mampu segera berbalik arah. Selain itu, mengenai hal-hal yang berkaitan dengan ketetapan administratif Tuhan atau berkaitan dengan persembahan milik Tuhan, mereka memiliki hati yang takut akan Tuhan dan tidak berani menyinggung watak Tuhan.) (Aku ingin menambahkan satu poin. Orang yang memiliki jalan masuk kehidupan akan berhati-hati dan cermat dalam melaksanakan tugas, mengerahkan upaya dalam firman Tuhan dan mencari prinsip-prinsip kebenaran, serta menahan diri untuk tidak bertindak sembarangan sekehendak mereka sendiri. Mereka juga akan mendiskusikan berbagai hal dan berkomunikasi dengan orang-orang yang memahami kebenaran, dan mereka akan menerapkan sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran.) Dalam kehidupan nyata mereka, orang yang memiliki jalan masuk kehidupan memiliki apa yang dihidupi dan perwujudan yang sesuai. Mereka tidak berhenti pada taraf niat; mereka tidak sekadar bersedia untuk setia dan bersedia untuk tunduk. Sebaliknya, mereka memiliki apa yang dihidupi dan perwujudan yang nyata. Poin paling sederhananya adalah bahwa, apa pun yang terjadi dalam kehidupan mereka sehari-hari, mereka mampu secara proaktif dan sadar mencari prinsip-prinsip kebenaran. Sebelum bertindak, mereka terlebih dahulu memahami prinsip tentang cara melakukannya dan memperoleh pemahaman yang jelas tentangnya, dan mereka tidak sembarangan berbuat buruk. Jika tidak memahaminya, mereka mencari prinsip-prinsip tersebut di dalam firman Tuhan. Jika, setelah menemukannya, mereka masih belum sepenuhnya jelas, mereka mencari seseorang yang memahami kebenaran untuk bersekutu dan mendiskusikannya lebih lanjut. Setelah memahami prinsip-prinsip tersebut, mereka dapat menerapkannya. Dari sisi positif, mereka sangat proaktif dan sangat teliti dalam menerapkan kebenaran. Apa pun yang mereka hadapi, baik hal besar maupun hal kecil—dan terutama ketika itu adalah hal besar yang berkaitan dengan pekerjaan rumah Tuhan—mereka sangat berhati-hati. Mereka tidak membuat keputusan sendiri begitu saja, tetapi lebih banyak berkonsultasi dengan orang lain, lebih banyak bertanya, dan lebih banyak mencari. Dari sisi negatif, ketika melakukan kesalahan, mereka mampu merenungkannya dan mengenali watak rusak mereka, serta mengenali kekurangan dan kelemahan mereka, aspek-aspek yang tidak mereka sadari, dan aspek-aspek di mana mereka cenderung menjadi negatif dan lemah serta gagal memenuhi standar. Mereka sering merenungkan diri sendiri. Selama proses ini, di satu sisi, mereka berdoa kepada Tuhan dan mencari kebenaran, merenungkan dan mengenal diri mereka sendiri melalui firman penghakiman dan penyingkapan dari Tuhan; di sisi lain, mereka meminta saudara-saudari mereka untuk memberi masukan. Setelah menyelesaikan suatu pekerjaan, mereka berulang kali merenungkan apakah mereka melanggar prinsip dalam aspek apa pun, apakah mereka melewatkan sesuatu, apakah ada penyimpangan, atau apakah ada ketidaksesuaian dengan pengaturan kerja dari Yang di Atas. Mereka terus-menerus merenungkan diri sendiri. Baik dari sisi positif maupun sisi negatif, tujuan dan arah penerapan mereka adalah berusaha keras untuk bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran dan sejalan dengan prinsip-prinsip kebenaran, alih-alih bertindak sekehendak mereka sendiri. Jika mereka tidak memahami prinsip-prinsip kebenaran atau tidak jelas tentangnya, mereka tidak memendam hal itu sendiri di dalam hati. Sebaliknya, mereka mencari orang-orang yang memahami kebenaran dan bersekutu dengan orang-orang itu sampai prinsip-prinsip tersebut menjadi jelas, dan baru setelah itulah mereka menerapkan prinsip-prinsip tersebut dan melaksanakannya. Singkatnya, dalam hal penerapan, mereka tidak bertindak sesuai dengan preferensi mereka atau sesuai dengan suasana hati mereka, apalagi sembarangan berbuat buruk sekehendak mereka sendiri; sebaliknya, mereka mampu mencari kebenaran dan melaksanakan tugas mereka sesuai dengan prinsip. Inilah perwujudan mereka dalam penerapan. Selain itu, dalam hal sikap mereka terhadap Tuhan, dalam cara mereka menyikapi tuntutan Tuhan dan menyikapi setiap aspek dari hal-hal yang berkaitan dengan Tuhan, mereka mampu memiliki hati yang takut akan Tuhan, dan memiliki hati yang gentar akan Tuhan, serta hati yang gemetar karena rasa takut. Mereka sangat takut kalau-kalau mereka melukai hati Tuhan dengan menempuh jalan yang salah atau melakukan hal yang salah, dan sangat takut kalau-kalau mereka menyinggung Tuhan, melanggar ketetapan administratif Tuhan, atau menyinggung watak Tuhan. Mereka memiliki pola pikir ini terhadap Tuhan, dan mereka memiliki tindakan dan perwujudan nyata ini dalam cara mereka menyikapi kebenaran dan dalam cara mereka menyikapi prinsip-prinsip kebenaran. Hanya inilah yang merupakan jalan masuk kehidupan, bukan? (Ya.) Apakah engkau semua memiliki perwujudan ini? Mereka yang memiliki perwujudan ini memiliki jalan masuk kehidupan; mereka yang tidak memiliki perwujudan ini semuanya berjerih payah. Jika engkau ditanya apa yang sibuk kaulakukan saat engkau sibuk ke sana kemari dan mengorbankan dirimu setiap hari, dan kaukatakan bahwa engkau sedang melaksanakan tugasmu dan engkau sedang mempersembahkan pengabdian kepada Tuhan, lalu apakah perkataan dan tindakanmu itu berprinsip? Apakah itu didasarkan pada firman Tuhan? Jika setiap perkataan yang kauucapkan, setiap hal yang kaulakukan, dan setiap pandangan yang kaupegang tidak didasarkan pada firman Tuhan dan pada kebenaran, jika engkau tidak mencari kebenaran ketika berbagai hal terjadi dan tidak memiliki jalan masuk kehidupan, maka bukankah engkau hanya sedang berjerih payah? Dalam bahasa yang lebih halus, engkau sedang berjerih payah; terus terang saja, engkau hanya sedang mengerahkan upaya; dan lebih terus terang lagi, engkau hanya sedang menjual tenagamu! Menjual tenagamu sama dengan berjerih payah. Apa yang bisa kaudapatkan dari menjual tenagamu? Engkau sekadar memperoleh sedikit kasih karunia: makan makanan yang enak, mengenakan pakaian yang bagus, menikmati sedikit kenyamanan dalam hidup, tinggal di tempat yang cukup luas, dan merasa relatif hangat di musim dingin serta relatif sejuk di musim panas. Itu sudah cukup bagus. Engkau hanya sedang mengerahkan upaya; apa lagi yang kauharap untuk kauperoleh? Engkau sekadar bersedia melaksanakan tugasmu tetapi tidak menerapkan kebenaran. Ini bukanlah mengikuti jalan Tuhan. Dalam hal ini, yang sedang kaulakukan hanyalah berjerih payah. Mereka yang berjerih payah tidak menerapkan kebenaran dan tidak memiliki prinsip dalam apa pun yang mereka lakukan. Berjerih payah seperti ini, mereka tidak dapat memperoleh hidup; bisa menikmati sedikit kasih karunia sudah cukup bagus. Engkau bersedia mengerahkan upaya, dan dengan mempertimbangkan kerja kerasmu, rumah Tuhan menyediakan beberapa kebutuhan sehari-hari untukmu agar engkau dapat hidup sedikit lebih baik, memiliki sayuran segar sepanjang tahun, dan makan makanan organik. Ini sudah merupakan kasih karunia Tuhan. Apa lagi yang kauharapkan untuk kaunikmati? Jika engkau bekerja dan mengerahkan upaya untuk mencari uang di dunia, apa yang dapat engkau makan atau kenakan? Makanan maupun pakaian tidak akan begitu saja disediakan bagimu; engkau harus mencari uang untuk membelinya sendiri, dan engkau juga harus menanggung perlakuan buruk dan ditindas oleh orang lain. Dengan mengerahkan upaya di rumah Tuhan, engkau dapat menikmati kasih karunia Tuhan dan setidaknya tidak ditindas; engkau dapat makan enak, berpakaian bagus, tinggal di tempat yang bagus, dan menjalani kehidupan yang menyenangkan. Tidak ada yang menindasmu, tidak ada yang menyerang dan membalas dendam kepadamu, dan ketika engkau jatuh sakit, saudara-saudari merawat dan menjagamu. Bukankah ini kasih karunia? Bukankah inilah hal-hal yang kaucari? Jika hanya inilah yang kaucari, engkau semua telah mencapainya; engkau semua telah memperoleh apa yang kaucari. Bukankah inilah hal-hal yang dicari oleh orang-orang yang tidak memiliki hidup? Bukankah semua keinginan mereka telah menjadi kenyataan dalam mencari hal-hal ini? "Kesediaanmu" hanya dapat ditukar dengan kasih karunia dan kenikmatan dari Tuhan ini. Itu sudah cukup bagus; Tuhan tidak merugikanmu. Sebenarnya, "kesediaanmu" itu tidak berharga. Tanpa jalan masuk kehidupan, engkau tidak dapat menukarnya dengan hidup; engkau hanya dapat menukarnya dengan sedikit kasih karunia. Bukankah kasih karunia yang telah kauperoleh sebagai gantinya sudah melebihi apa yang engkau semua minta atau bayangkan? (Ya.) Lalu, inikah yang engkau semua inginkan? Inikah yang engkau semua kejar? Ketika engkau semua pertama kali percaya kepada Tuhan, apakah engkau semua sekadar berharap untuk memperoleh kasih karunia ini dan itu saja? (Tidak.) Lalu, apakah engkau semua memiliki aspirasi lain? (Ya. Kami juga ingin mengejar untuk memperoleh keselamatan.) Jika engkau hanya memiliki niat untuk menerapkan kebenaran tetapi tidak pernah menerapkannya, dapatkah aspirasimu ini—mengejar untuk memperoleh keselamatan—tetap terwujud? (Tidak.) Mengapa itu tidak dapat terwujud? Karena engkau hanya berhenti pada tingkat kesediaan dan belum menerapkan kebenaran. Engkau hidup di lingkungan yang nyaman dan tenang secara fisik, menikmati kasih karunia Tuhan, dan merasa sangat puas di dalam hatimu. Apakah baik untuk terus seperti ini? (Tidak.) Apa yang salah dengan hal ini? Bukankah justru hal-hal inilah yang engkau semua kejar? (Hanya berhenti pada tingkat niat tanpa menerapkan kebenaran, dan tanpa menghidupi keserupaan dengan manusia. Menurutku, hidup seperti ini tidak berarti dan tidak ada nilainya.) Bukankah menurut engkau semua makan dan berpakaian dengan baik merupakan nilai dari kehidupan? Makan enak, berpakaian bagus, tinggal di tempat yang bagus, dan menikmati kehidupan yang baik; seumur hidup tanpa kekhawatiran akan makanan atau pakaian dan menikmati kekayaan, kehormatan, dan kedamaian. Bukankah inilah hal-hal yang dikejar oleh para kaisar di masa lalu? Bahkan para kaisar mengejar hal-hal ini, jadi apa lagi yang diharapkan untuk dikejar oleh orang-orang kecil sepertimu? Lihatlah dirimu masing-masing: Engkau tidak mengejar hidup dan engkau tidak mengejar untuk memperoleh keselamatan; engkau hanya mengejar makan enak, berpakaian bagus, dan menikmati kehidupan yang baik. Bukankah hanya sejauh itulah pengejaranmu? Pengejaran akan hal yang begitu kecil terlalu mudah untuk dicapai. Tidak perlu mempersekutukan kebenaran; bahkan satu kata tambahan dalam persekutuan pun tidaklah pantas. Engkau semua tidak membutuhkan kebenaran. Apa yang engkau semua butuhkan? Engkau semua berusaha untuk makan roti hingga kenyang. Asalkan dagingmu menikmati kedamaian dan sukacita, engkau memiliki makanan dan pakaian, dan engkau hidup bahagia sepanjang hidup ini, itu sudah cukup bagimu, dan engkau semua tidak mengejar untuk memperoleh keselamatan. Oleh karena itu, sebagian besar orang memiliki sedikit kesadaran atau tekad tentang pengejaran akan kebenaran. Aku mengulang sebuah pernyataan mengenai prinsip-prinsip kebenaran seratus kali, dan berapa banyak di antaramu yang dapat mencernanya? Berapa banyak di antaramu yang mampu benar-benar meresapinya? Sangat sedikit, sejauh yang Kulihat. Aku telah berinteraksi dengan engkau semua selama bertahun-tahun. Hal apa pun yang sedang ditangani—baik urusan umum, hal yang berkaitan dengan pekerjaan gereja, maupun hal yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas—jika Aku sekadar berbicara dengan tenang tanpa memberikan penekanan khusus pada apa yang Kukatakan, dan tanpa menggunakan nada yang keras, Aku mendapati bahwa setelah itu sangat sedikit orang yang mampu menaati prinsip-prinsip kebenaran, dan mampu dengan ketat menerapkan serta melaksanakannya sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Aku telah mempersekutukan prinsip-prinsip kebenaran selama bertahun-tahun, tetapi engkau semua tetap tidak dapat memahaminya dan tidak memiliki kesadaran tentangnya di dalam hatimu. Harus ada seseorang yang memangkasmu dan mendisiplinkanmu, barulah engkau semua dapat mengingat dan menaatinya. Jika Aku sekadar berbicara kepadamu dengan tenang, engkau semua tetap tidak menyadarinya dan sama sekali tidak menganggap serius penerapan kebenaran. Orang-orang yang memiliki sedikit kualitas hanya memahami sedikit doktrin, kemudian berpikir bahwa mereka telah masuk ke dalam kenyataan kebenaran dan bahkan merasa cukup puas dengan diri mereka sendiri. Bahkan ada orang-orang yang makin menjadi-jadi dengan memamerkan diri mereka sendiri. Bukankah ini tidak tahu malu?
Baru-baru ini, Aku sedang membereskan masalah di gereja tertentu, dan Aku mempersekutukan beberapa prinsip dengan mereka. Aku telah mempersekutukan prinsip-prinsip ini beberapa kali selama beberapa tahun terakhir, tetapi sampai hari ini orang-orang yang bertanggung jawab masih belum memahaminya. Aku sekadar berbicara dengan tenang, tetapi ada orang-orang yang tidak dapat memahami bahasa manusia. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan, dan mereka tidak tahu bagaimana melaksanakan berbagai hal. Aku telah mengatakan hal-hal ini berkali-kali, tetapi itu hanya masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan; telinga mereka nyaris sudah kapalan karena mendengarnya, tetapi mereka masih tidak mengerti. Katakan kepada-Ku, makhluk macam apa mereka ini? Apakah mereka manusia? Aku berbicara dengan sangat jelas, memberi tahu mereka prinsip-prinsip yang seharusnya ditaati dalam menangani suatu hal dan bagaimana cara melakukannya. Aku juga secara teratur mempersekutukan kebenaran, dan ketika situasi khusus muncul, Aku mempersekutukan beberapa prinsip khusus. Namun bahkan sekarang, mereka masih tidak tahu apa prinsip-prinsip itu. Katakan kepada-Ku, dapatkah mereka menaati prinsip-prinsip tersebut? Dapatkah mereka menerapkan sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran? Mereka tidak dapat menaati prinsip-prinsip tersebut, mereka juga tidak dapat menerapkan sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran, jadi apa yang mereka lakukan tidak dapat dianggap sebagai pelaksanaan tugas. Lalu, apa yang sedang mereka lakukan? Bukankah mereka hanya sedang mengerahkan upaya? Jika engkau tidak dapat menaati prinsip-prinsip kebenaran yang telah Kuberitahukan kepadamu, apakah mengerahkan sedikit upaya itu berarti menerapkan kebenaran? Apakah itu berarti engkau memiliki jalan masuk kehidupan? Itu bukanlah jalan masuk kehidupan; itu adalah berjerih payah. Jika jerih payahmu dapat menghasilkan uang untuk biaya makanmu, itu sudah cukup bagus; engkau tidak dapat memperoleh hidup. Engkau tidak dapat memahami prinsip-prinsip kebenaran yang Kubicarakan, jadi bagaimana Aku menggolongkanmu? Jika engkau mampu memahami prinsip-prinsip kebenaran, maka engkau memiliki kemanusiaan, engkau adalah manusia. Jika engkau tidak mampu memahami prinsip-prinsip kebenaran, maka engkau tidak memiliki kemanusiaan, engkau adalah binatang. Jika engkau muak akan kebenaran dan membenci kebenaran, serta dengan sengaja menentang rumah Tuhan, maka engkau adalah Iblis, dan engkau adalah setan. Jika engkau memahami apa yang Kukatakan dan bertindak sesuai dengan itu—jika engkau memahami tanpa Aku harus menekankannya untuk kedua kalinya dan tanpa Aku harus mengingatkanmu lagi, mampu menerapkan sesuai dengan firman-Ku, dan terus berpegang padanya—maka Aku dapat melihat bahwa engkau memiliki hati nurani dan nalar. Di dalam hati-Ku, Aku menghormatimu dan menghargaimu, serta memperlakukanmu sebagai manusia. Jika Aku telah mengatakan sesuatu seribu atau sepuluh ribu kali dan engkau masih belum memahaminya, maka Aku tidak memperlakukanmu sebagai manusia; di dalam hati-Ku, engkau bukanlah manusia, engkau adalah binatang. Mengapa? Jika engkau bahkan tidak mampu memahami firman yang telah Kuucapkan dengan begitu sederhana dan jelas, dan dengan begitu eksplisit, lalu apa lagi engkau ini jika bukan binatang? Engkau lebih buruk dari binatang. Anjing-Ku mampu memahami hal-hal yang biasa dikatakan orang. Ia mungkin tidak tahu apa yang Aku ingin ia lakukan, tetapi setelah tinggal bersama-Ku selama bertahun-tahun, ia tahu apa yang Aku tidak ingin ia lakukan. Biasanya, ia menahan diri untuk tidak melakukan apa pun yang ia tahu tidak Kusukai. Bagaimana hal ini dapat terlihat? Sebagai contoh, ketika Aku mendisiplinkan anak-anaknya, ia bekerja sama semampunya, sangat takut bahwa kedua anjing kecil itu tidak mengerti dan membuat marah tuan mereka. Ia tahu bahwa ia tidak diizinkan untuk menggigit barang-barang atau pakaian yang dijemur di halaman, ia juga tahu bahwa tuannya akan marah jika ia melakukannya. Setiap kali ia masuk ke halaman, ia terlebih dahulu mengendalikan kedua anaknya dan mencegah mereka menggigit barang-barang yang dijemur. Jika ia melakukan sesuatu yang membuat-Ku marah, ia terus berusaha membujuk-Ku dan membuat-Ku senang. Hanya ketika Aku bersedia mengelusnya dan kembali berbicara kepadanya, barulah ia merasa senang. Pikiran anjing sangatlah sederhana, tetapi anjing memiliki satu hal paling berharga yang tidak dimiliki oleh umat manusia yang rusak: Ketulusan anjing adalah sesuatu yang tidak dimiliki umat manusia. Jika umat manusia tidak memiliki ketulusan, bagaimana mereka bisa disebut umat manusia? Meskipun umat manusia mengenakan kulit manusia dan secara lahiriah berwujud manusia, pada esensinya mereka bukanlah manusia. Mereka bahkan tidak memiliki hati nurani dan nalar yang paling dasar, jadi bagaimana mereka bisa menyatakan ketulusan? Ada orang-orang yang mampu memahami prinsip-prinsip dan mampu menerapkannya; orang-orang semacam itu dapat disebut manusia. Mengapa demikian? (Di satu sisi, kemampuan mereka untuk memahami prinsip menunjukkan bahwa mereka memiliki pemahaman rohani dan mengetahui makna firman Tuhan serta maksud Tuhan. Di sisi lain, orang-orang semacam itu memiliki hati nurani dan nalar, memiliki batasan dalam cara mereka berperilaku, dan mampu menjunjung tinggi prinsip; oleh karena itu, hanya orang-orang semacam itu yang dapat disebut manusia.) Itu benar. Di satu sisi, mereka memiliki kemampuan memahami. Mereka mampu memahami bahasa manusia dan mampu berpikir serta memahami dengan cara yang lazim bagi orang lain. Di sisi lain, mereka memiliki hati nurani dan nalar, memiliki batasan hati nurani, bersedia menerapkan kebenaran, dan mampu menerapkannya. Orang semacam itu dapat disebut manusia; mereka yang tidak memiliki kedua hal ini bukanlah manusia. Jika seseorang bukanlah manusia, bagaimana mereka bisa memiliki hati nurani dan memiliki nalar? Tanpa hati nurani dan nalar, bagaimana mereka bisa berhasil memahami bahasa manusia? Orang yang tidak memiliki hati nurani dan nalar bahkan tidak dapat mematuhi peraturan meskipun memahami sedikit doktrin dan ingin mematuhinya. Namun, mereka masih berpikir bahwa kesediaan mereka untuk menerapkan kebenaran berarti mereka adalah orang yang setia kepada Tuhan dan orang yang Tuhan terima dan kasihi. Bukankah ini logika seorang bajingan? (Ya.) Orang yang memiliki logika seorang bajingan pada akhirnya tidak dapat memperoleh kebenaran. Orang macam apa yang memiliki logika seorang bajingan? Orang-orang yang bingung. Orang-orang yang bingung selalu memunculkan logika seorang bajingan. Apa maksud-Ku memberitahu engkau semua hal-hal ini? Apakah Aku sedang mencoba memacumu untuk menerapkan kebenaran, ataukah Aku sedang mengungkapkan esensi masalahmu? (Engkau sedang membuat kami melihat dengan jelas bahwa kami belum menempuh jalan mengejar kebenaran dan membuat kami mulai menempuh jalan itu.) Ada orang-orang yang berkata, "Bukankah Engkau mengatakan hal-hal ini sekadar untuk mendesak kami agar menerapkan kebenaran?" Aku benar-benar tidak bermaksud demikian. Apakah engkau dapat menerapkan kebenaran atau tidak, itu urusanmu sendiri dan tidak ada hubungannya dengan-Ku. Setelah mempersekutukan dengan jelas kebenaran-kebenaran yang sudah seharusnya Kupersekutukan, Aku telah memenuhi tanggung jawab dan kewajiban-Ku. Mengenai jalan mana yang kaupilih dan jalan apa yang kautempuh, Aku tidak ikut campur. Apakah engkau pada akhirnya dapat memperoleh keselamatan, itu sepenuhnya bergantung pada pilihanmu sendiri dan sepenuhnya ditentukan oleh jalan yang kautempuh; tanggung jawab-Ku terhadap engkau semua berakhir di sini. Artinya, Aku membawa seluruh kebenaran yang seharusnya kaupahami dan memberitahukannya kepadamu, dan jika engkau semua bersedia menerapkannya, itu tentu saja lebih baik, tetapi jika engkau semua tidak bersedia, Aku tidak akan ikut campur. Aku tentu saja tidak akan mengikutimu ke mana-mana setiap hari dan mengawasimu, apalagi memaksamu untuk menerapkan kebenaran. Aku tidak melakukan hal-hal semacam itu; itu bukanlah pekerjaan-Ku, juga tidak termasuk dalam lingkup pekerjaan-Ku. Jika engkau semua mengharuskan-Ku untuk memperlakukanmu seperti budak, memangkas dan mendisiplinkanmu setiap hari, baru engkau semua dapat mengikuti beberapa aturan, menunjukkan sedikit ketaatan, dan menerapkan sedikit kebenaran, maka di mata-Ku, orang-orang semacam itu adalah mereka yang tidak dapat diselamatkan. Jika Aku telah mengucapkan prinsip-prinsip kebenaran seribu atau sepuluh ribu kali dan engkau semua masih belum memahaminya serta tidak mencari, apa lagi yang bisa Kukatakan? Bagaimana sikap-Ku terhadap hal ini? Berbuatlah sesukamu. Jika engkau semua tidak bersedia mendengarkan, maka jangan dengarkan. Engkau semua boleh percaya sesukamu; Aku tidak akan ikut campur, Aku juga tidak ingin mengerahkan upaya tersebut. Kebenaran telah dianugerahkan kepadamu secara cuma-cuma, tetapi engkau semua tidak tahu bagaimana menghargainya. Apakah pada akhirnya engkau semua dapat memperoleh keselamatan atau tidak, itu urusanmu sendiri dan tidak ada hubungannya dengan-Ku. Jika engkau selalu harus mengandalkan orang lain untuk mengawasi, memangkas, dan mendisiplinkanmu, baru engkau dengan susah payah berhasil menerapkan sedikit kebenaran atau melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi pekerjaan rumah Tuhan dan bagi tugasmu, maka ini bukanlah yang Kuinginkan. Jika engkau semua seperti ini, maka tidak ada maknanya Aku mempersekutukan kebenaran; mempersekutukan aspek kebenaran apa pun akan menjadi berlebihan, dan sama sekali tidak diperlukan. Jika engkau semua bahkan tidak memiliki hati nurani dan nalar yang seharusnya dimiliki oleh kemanusiaan yang normal, dan setelah mendengar begitu banyak kebenaran yang dipersekutukan, engkau semua masih tidak memiliki niat atau rencana subjektif tentang bagaimana menerapkan kebenaran dan bagaimana masuk ke dalam kenyataan kebenaran, maka engkau semua tidak memiliki harapan untuk memperoleh keselamatan. Benarkah demikian? (Ya.)
Ada orang-orang yang selalu mencoba memanipulasi dan menipu-Ku. Setiap kali melakukan sesuatu, mereka menunggu-Ku mengeluarkan perintah sebelum bertindak. Berapa kali pun Aku mempersekutukan prinsip-prinsip, itu tidak berpengaruh pada mereka; mereka sama sekali tidak menerapkan sesuai dengan prinsip-prinsip tersebut. Mereka terus berpikir, "Aku harus mendapatkan perintah dari-Mu mengenai hal ini. Jika Kaukatakan kami bisa melakukannya, kami akan melakukannya; jika Kaukatakan tidak, kami tidak akan melakukannya. Bagaimana jika aku bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip yang telah Engkau jelaskan dan, setelah aku selesai, Engkau merasa tidak puas? Bagaimana jika Engkau mempersulit aku? Bagaimana jika Engkau menyuruhku mengganti kerugian?" Mereka memanipulasi-Ku, tidak bertindak sesuai dengan prinsip, dan tidak memenuhi tanggung jawab seorang manusia. Mereka tidak melakukan satu pun dari hal-hal yang termasuk dalam tanggung jawab mereka sendiri: bekerja sama dengan orang lain, mendiskusikan dan mempersekutukan berbagai hal dengan orang lain, atau merujuk pada materi referensi. Sebaliknya, mereka terus-menerus mengejar dan mengganggu-Ku, menanyakan ini dan itu dan selalu berkata, "Apakah menurut-Mu tidak apa-apa jika aku melakukannya seperti ini?" Sebenarnya, Aku telah membawakan prinsip-prinsip tersebut dan menerangkannya dengan sangat jelas, tetapi orang-orang ini sama sekali tidak menganggapnya serius. Mereka berpikir, "Prinsip-prinsip yang Engkau persekutukan hanyalah kerangka umum, perkataan yang dimaksudkan untuk menipu orang. Engkau harus memberitahuku cara menangani hal ini, dan Engkau harus menjelaskan setiap detailnya kepadaku." Engkau tidak dapat memahami prinsip-prinsip yang telah Kujelaskan dan tidak menganggapnya serius, dan engkau meminta-Ku memberitahumu secara langsung cara melakukan segala sesuatu. Bukankah itu membuatmu tidak berguna? Apakah engkau tidak punya otak? Apakah engkau tidak punya pikiran? Apa tugasmu? Engkau tidak ingin memikul satu pun dari tugas-tugas yang seharusnya dilaksanakan oleh manusia atau tanggung jawab yang seharusnya mereka emban; engkau hanya ingin Aku memberitahumu secara langsung apa yang harus dilakukan. Lalu, apa gunanya hati dan otakmu? Engkau tidak mau mencurahkan hatimu ke dalamnya, engkau tidak mau menggunakan otakmu, engkau juga tidak mau mengerahkan upaya, dan engkau juga takut memikul tanggung jawab. Orang macam apa engkau ini? Bukankah engkau orang yang penuh akal bulus? Kualitasmu cukup buruk, tetapi engkau penuh dengan siasat! Mencoba tipuan ini kepada-Ku tidak akan berhasil. Sudah cukup menjijikkan bahwa engkau tidak dapat memahami prinsip, tetapi engkau masih mencoba menggunakan tipu muslihat terhadap-Ku dan takut memikul tanggung jawab. Bagaimana mungkin engkau bisa menerapkan kebenaran? Apa natur dari takut memikul tanggung jawab saat orang melaksanakan tugasnya? Apakah ada hati yang tulus dalam melaksanakan tugas dengan cara seperti ini? Apakah ada pengabdian? (Tidak.) Jika tidak ada hati yang tulus maupun pengabdian, apakah ada jalan masuk kehidupan? Seperti inikah pelaksanaan tugas? (Tidak.) Lalu apa natur dari melaksanakan tugas dengan cara seperti ini? Ini adalah berjerih payah; itulah naturnya. Siapa pun yang memanipulasi-Ku membuat-Ku jijik. Jika engkau bekerja dengan sungguh-sungguh, dengan cara yang membumi, segera mencari ketika engkau tidak mengerti, dan menerapkan prinsip setelah engkau bertanya tentang hal itu dan memperoleh kejelasan, maka sekalipun engkau terkadang bertanya sekali lagi dalam situasi khusus, Aku tidak akan merasa terganggu oleh kualitasmu yang buruk. Namun, jika orang selalu melawan-Ku di dalam batinnya, memanipulasi dan mencoba mengakali-Ku, menolak untuk memikul tanggung jawab apa pun, bertanya kepada-Ku tentang segala sesuatu yang mereka hadapi, dan baru bertindak setelah Kuberi instruksi, masalah apa ini? Di luarnya, mereka terlihat tunduk kepada Tuhan dalam segala hal, tetapi sebenarnya, mereka licik. Mereka berpikir jika ada yang tidak beres ketika mereka bertindak seperti ini, mereka tidak akan memikul tanggung jawab; pada saat yang sama, mereka dapat membuat orang lain melihat bahwa mereka tunduk kepada Tuhan dalam segala sesuatu. Oleh karena itu, apa pun yang mereka lakukan, mereka selalu ingin mendengar instruksi yang dikeluarkan secara pribadi oleh Tuhan, seolah-olah hubungan mereka dengan Tuhan sangat dekat. Mereka tidak menyadari bahwa ini mengganggu pikiran Tuhan, mengganggu pekerjaan-Nya, dan membuat-Nya muak serta jijik terhadap mereka. Mereka bahkan berpikir bahwa mereka sedang melaksanakan tugas mereka dan mengorbankan diri untuk Tuhan, bahwa Tuhan seharusnya membimbing mereka seperti ini, bahwa rumah Tuhan harus mengizinkan mereka bertindak seperti ini, dan bahwa rumah Tuhan seharusnya memanjakan mereka seperti bayi kecil. Hanya dengan begitu, mereka merasa senang di dalam hati dan merasa menikmatinya. Pemikiran macam apa ini? Seperti inikah orang yang mengejar kebenaran? Seperti inikah orang yang memiliki nalar? (Tidak.) Orang-orang yang memahami kebenaran bertindak dengan nalar. Setidaknya, mereka membereskan masalah yang mampu mereka bereskan sendiri dan tidak mengganggu Tuhan dengan pertanyaan demi pertanyaan. Sekalipun mereka tidak dapat membereskan suatu masalah sendiri, mereka seharusnya mencari dan bersekutu dengan saudara-saudari yang bekerja sama dengan mereka atau dengan orang-orang yang memahami kebenaran. Dengan cara ini, mereka dapat membereskan masalah tersebut dan menemukan jalan penerapan. Orang yang memiliki nalar dapat melakukan hal ini; orang yang tidak memiliki nalar cenderung sembarangan berbuat buruk. Jika orang yang memiliki jalan masuk kehidupan memahami kebenaran, mampu menerapkannya dan masuk ke dalam kenyataan kebenaran, serta memiliki firman Tuhan sebagai hidup mereka, akankah mereka memiliki sikap seperti ini terhadap Tuhan atau berperilaku seperti ini? Akankah mereka berinteraksi dengan Tuhan seperti ini? (Tidak.) Mereka tidak akan melakukannya; itu pasti. Lalu, apa yang terjadi dengan orang-orang yang bertindak seperti ini? Jelas, mereka tidak pernah memiliki jalan masuk kehidupan. Mereka melakukan segala sesuatu sepenuhnya sesuai dengan kepentingan dan niat mereka, tetapi mereka terus-menerus mengeklaim, "Aku bersedia setia kepada Tuhan, aku bersedia melakukan pelayanan bagi Tuhan, dan aku bersedia mati bagi Tuhan! Asalkan aku bersedia, aku adalah orang yang mengasihi Tuhan, dan aku adalah orang yang setia serta tunduk kepada Tuhan!" Dengan berdalih demikian, mereka berpikir bahwa mereka memiliki hidup. Mereka benar-benar tidak tahu diri! Bukankah ini perwujudan tidak memiliki nalar? (Ya.) Jika orang memiliki nalar, akankah mereka menganggap "kesediaan" ini sebagai hidup? (Tidak.) Mengapa tidak? (Karena mereka menyadari bahwa mereka masih memiliki banyak watak rusak yang belum dibereskan dan banyak kebenaran yang tidak mampu mereka terapkan, dan merasa bahwa mereka belum mampu memenuhi tuntutan Tuhan, mereka tidak menganggap diri mereka memiliki hidup.) Ciri paling menonjol dari orang yang memiliki nalar adalah bahwa mereka dapat sering merenungkan diri sendiri. Ketika menemukan masalah pada diri mereka, mereka menyikapinya secara rasional dan memahaminya, dan mereka mencari kebenaran untuk membereskannya. Hanya orang semacam itulah yang memiliki jalan masuk kehidupan yang sejati. Semua orang yang memahami kebenaran memiliki pengenalan sejati akan diri mereka sendiri; mereka semua memiliki evaluasi dan penilaian yang akurat akan diri mereka sendiri. Mereka tahu persis seperti apa kualitas mereka, seperti apa kemanusiaan mereka, sebanyak apa firman Tuhan dan prinsip-prinsip kebenaran yang telah mereka terapkan, dan sebanyak apa yang belum mereka terapkan. Mereka akan mempertimbangkan semua ini, dan setelah merenungkannya, mereka akan memperoleh hasil tersebut. Setelah memperoleh hasil tersebut, mereka berpikir, "Kesediaan manusia dalam hal niat subjektifnya bukanlah hidup. Sekadar bersedia tidak ada gunanya; aku belum menerapkan kebenaran. Aku masih memiliki kerusakan dan pemberontakan di dalam diriku, dan kemanusiaanku tidak terlalu baik. Aku selalu ingin membandingkan diriku dengan orang lain, dan apa pun yang kulakukan, aku selalu ingin bertindak secara sepihak dan sewenang-wenang. Aku tidak pernah mau mendiskusikan berbagai hal atau bekerja sama dengan siapa pun; aku hanya ingin menjadi penentu keputusan. Aku memandang rendah semua orang dan tidak menghargai siapa pun. Ini bukanlah perwujudan memiliki kemanusiaan, dan ini bukanlah perwujudan menerapkan kebenaran!" Dengan merenungkan dan mengenal diri mereka sendiri dibandingkan dengan firman Tuhan dan dengan kesaksian berdasarkan pengalaman saudara-saudari mereka, mereka bisa memperoleh hasil-hasil ini dan meraih pencapaian ini. Setelah meraih pencapaian ini, apakah mereka mencapai kesimpulan tentang pengejaran mereka dan tentang berbagai perwujudan mereka? (Ya.) Kesimpulan apa yang mereka capai? (Bahwa mereka belum menjadi orang yang mengejar kebenaran.) Mereka menyadari bahwa mereka bukanlah orang yang mengejar kebenaran, bahwa mereka tidak memahami kebenaran, dan bahwa mereka masih jauh dari memenuhi tuntutan Tuhan. Mereka menyadari bahwa dalam pelaksanaan tugas mereka, mereka sekadar mengerahkan sedikit upaya dan belum menerapkan kebenaran. Inilah kesimpulan yang mereka capai. Bukankah dengan demikian niat mereka untuk menerapkan kebenaran menjadi makin kuat? (Ya.) Setelah orang-orang yang memiliki hati nurani dan nalar mencapai hasil-hasil ini melalui perenungan, niat mereka untuk menerapkan kebenaran menjadi makin kuat. Ketika sesuatu terjadi, mereka merenungkan pemikiran memberontak apa yang mereka miliki, pemikiran dan pandangan keliru apa yang mereka miliki, keadaan rusak dan perwujudan watak rusak apa yang mereka miliki, dan bagaimana mereka seharusnya memberontak terhadapnya serta bagaimana mereka seharusnya membereskannya. Setelah merenungkan hal-hal ini, mereka kemudian akan mencari apa yang dikatakan firman Tuhan dan bagaimana Tuhan menuntut manusia untuk menerapkannya, dan mereka akan mencari prinsip-prinsip kebenaran. Ketika mereka menemukan prinsip-prinsip kebenaran, niat mereka untuk menerapkan kebenaran menjadi lebih kuat lagi. Mereka tahu apa standar yang dituntut oleh Tuhan dan bagaimana mereka seharusnya menerapkannya secara spesifik. Jalannya jelas bagi mereka, dan langkah mereka selanjutnya adalah menerapkannya.
Katakan kepada-Ku, dapatkah orang yang tidak memiliki rasionalitas merenungkan diri mereka sendiri? (Tidak.) Mereka tidak akan pernah merenungkan diri sendiri; mereka selalu mengira bahwa meskipun memiliki watak yang rusak, mereka tidak pernah memperlihatkannya, bahwa mereka selalu benar dan lebih baik daripada orang lain dalam segala hal, dan bahwa mereka tidak pernah salah dan tidak pernah melakukan kesalahan apa pun. Mengapa mereka bisa berpikir seperti ini? Inilah yang dimaksud dengan tidak memiliki rasionalitas. Orang yang tidak memiliki rasionalitas tidak akan merenungkan diri mereka sendiri dan tidak akan membandingkan diri sendiri dengan firman Tuhan. Mereka tidak akan membandingkan diri sendiri dengan firman Tuhan dan tidak memiliki evaluasi, penilaian, atau pengenalan yang relatif akurat akan diri sendiri, jadi apakah mereka memiliki niat untuk menerapkan kebenaran? Niat ini tidak dapat muncul di dalam diri mereka. Lalu, akankah mereka mencintai kebenaran? Akankah mereka datang ke hadapan Tuhan untuk mencari kebenaran? Tidak. Mereka yakin bahwa mereka telah melakukan semua yang seharusnya mereka lakukan, sama seperti kata Paulus, "Aku telah memelihara iman, aku telah mengakhiri pertandingan yang baik." Setelah sekadar mengerahkan sedikit upaya, mereka menarik kesimpulan ini tentang diri mereka sendiri, dan dengan demikian mereka tidak mencari kebenaran. Orang yang tidak memiliki rasionalitas menggolongkan diri mereka sendiri seperti ini dan tidak mencari kebenaran, jadi dapatkah mereka menerapkan kebenaran? (Tidak.) Sekalipun mereka sesekali mengikuti beberapa peraturan dan bersikap asal-asalan, dan di luarnya terlihat seolah-olah mereka sedang menerapkan kebenaran, pada kenyataannya mereka sedang mengikuti peraturan, tetapi mereka masih yakin bahwa mereka sedang menerapkan kebenaran. Bukankah ini menipu diri sendiri? Mengapa orang-orang begitu cenderung mengikuti peraturan? Itu karena mereka tidak pandai mencari kebenaran. Jika mereka tidak mencari kebenaran, mereka tidak mungkin dapat memahami prinsip-prinsip kebenaran, dan mereka tidak mungkin dapat memahami apa jalan penerapan kebenaran itu. Oleh karena itu, apa pun yang mereka lakukan, mereka sekadar mengikuti beberapa peraturan dan bersikap asal-asalan. Mereka jelas-jelas mengikuti peraturan, tetapi mengatakan bahwa mereka sedang menerapkan kebenaran; ini adalah kepura-puraan, ini adalah penipuan, dan ini adalah tindakan main-main. Engkau hanya sedang mengikuti peraturan. Sama seperti Paulus: Dia sangat menderita dan membayar harga yang mahal dalam pekerjaan dan khotbahnya, tetapi dia sekadar bersikap asal-asalan dan tidak pernah mengikuti jalan Tuhan. Artinya, dalam segala sesuatu yang dilakukannya, dia tidak pernah mencari maksud Tuhan, tidak pernah menganggap serius firman Tuhan, tidak pernah menerapkan sesuai dengan firman Tuhan, dan sekadar bertindak sesuai dengan kehendaknya sendiri. Kemudian dia menggunakan penderitaan dan pengorbanannya sebagai modal untuk menuntut upah dari Tuhan: "Aku telah menyelesaikan pertandingan yang seharusnya kujalani. Beri aku mahkota; beri aku upah!" Seseorang bertanya kepadanya, "Tahukah engkau siapa Tuhan Yesus itu?" Dia berkata, "Dia adalah Kristus." Orang itu bertanya lagi kepadanya, "Lalu siapakah engkau?" Dia berkata, "Aku juga kristus." Bukankah sifat aslinya tersingkap? Apakah dia memiliki perwujudan nyata dalam menerapkan kebenaran? (Tidak.) Orang yang tidak pernah merenungkan diri mereka sendiri tidak akan pernah tahu bagaimana menerapkan kebenaran. Mereka tidak memiliki kesadaran untuk menerapkan kebenaran dan tidak akan pernah mencari kebenaran. Mereka tidak dapat menemukan jalan untuk menerapkan kebenaran, apalagi memahami detail tentang penerapan kebenaran. Oleh karena itu, ketika mereka mencoba menulis artikel kesaksian tentang pengalaman hidup, bahkan setelah berusaha sekuat tenaga, mereka tetap tidak mampu menulis apa pun. Mereka sangat ingin pamer, dan sangat ingin menunjukkan apa yang dapat mereka lakukan, tetapi mereka tidak bisa; mereka sangat cemas hingga berkeringat, tetapi tetap tidak dapat menulis apa pun. Mengapa demikian? Mereka tidak pernah menerapkan kebenaran dan tidak pernah menjalani proses mencari kebenaran dan menerapkannya. Apakah orang-orang ini memiliki jalan masuk kehidupan? (Tidak.) Apakah orang yang tidak memiliki jalan masuk kehidupan memiliki hidup? Mereka tidak memiliki hidup. Lalu, apa yang mereka andalkan saat melaksanakan tugas mereka? (Mereka mengandalkan kehendak mereka sendiri dan mengandalkan preferensi mereka sendiri.) Memang benar mengatakan bahwa mereka mengandalkan kehendak dan preferensi mereka sendiri, tetapi mereka masih merasa diperlakukan tidak adil dan tidak menerima hal ini. Dengan demikian, kita bisa mengatakannya seperti ini: Apa yang mereka andalkan saat melaksanakan tugas mereka? Mereka sekadar mengandalkan: "Aku bersedia menerapkan kebenaran dan memuaskan Tuhan; aku bersedia setia kepada Tuhan; aku bersedia tunduk pada kebenaran; aku bersedia menempuh jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan; aku bersedia bertobat dan mengakui kesalahanku; aku bersedia mengejar kebenaran dan menempuh jalan keselamatan." Mereka sekadar mengandalkan keinginan "aku bersedia" seperti itu saat melaksanakan tugas mereka; ini adalah dasar bagi mereka untuk melaksanakan tugas mereka sekehendak mereka sendiri. Bagi mereka, "kesediaan" ini dapat menggantikan segalanya dan dapat mencapai segalanya, tetapi bagi Tuhan, kesediaan mereka sama sekali tidak berharga. Mengapa? Tuhan mengamati hatimu dan tahu bahwa engkau bersedia menerapkan kebenaran dan bersedia mengejar kebenaran. Tuhan menunggu penerapanmu dan jalan masukmu, tetapi Dia tidak pernah melihat tindakan nyata darimu ataupun melihat jalan masuk kehidupan darimu. Oleh karena itu, orang-orang semacam itu tidak memiliki hidup; ini pasti. Orang yang tidak memiliki hidup memiliki satu ciri yang sangat jelas: Mereka selalu memperlakukan Tuhan dengan sikap yang sama seperti mereka memperlakukan manusia. Mereka selalu memikirkan bagaimana melawan Tuhan dan bersiasat terhadap-Nya, selalu berspekulasi tentang bagaimana Tuhan memandang mereka, dan selalu memperlakukan Tuhan seolah-olah mereka sedang berinteraksi dengan orang lain atau dengan atasan. Mereka tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan, dan mereka tidak memiliki sikap yang tunduk kepada Tuhan. Ini adalah ciri paling jelas dari orang yang tidak memiliki hidup. Di dalam hatinya, mereka selalu berspekulasi tentang Tuhan: "Apa yang sedang Engkau pikirkan? Apa arti tatapan mata-Mu? Apa makna di balik nada dan suara-Mu? Apakah Engkau sedang menyuruhku melakukan hal ini seperti ini atau seperti itu?" Mereka tidak mencari prinsip-prinsip kebenaran; mereka tidak memiliki rasa takut akan Tuhan, hanya kecurigaan, sikap waspada, dan perlawanan. Orang yang tidak memiliki hidup tidak akan pernah bisa memiliki rasa takut akan Tuhan, sehingga mereka bahkan tidak memiliki rasa hormat yang paling dasar terhadap Tuhan yang berinkarnasi. Engkau mungkin selalu berkata "Tuhan, Tuhan" saat berdoa, dan itu mungkin terdengar sangat menyenangkan. Di luarnya, engkau mungkin terlihat seolah-olah sangat menghormati Tuhan yang berinkarnasi, tetapi sebenarnya, karena engkau tidak memiliki jalan masuk kehidupan dan engkau tidak memiliki firman Tuhan sebagai hidupmu, ketika engkau berseru, "Tuhan," engkau sekadar mengucapkan sepatah kata. Itu tidak berarti bahwa engkau mengenal esensi Tuhan dan identitas-Nya atau benar-benar memperlakukan-Nya sebagai Tuhan. Itu sekadar bentuk sapaan, sama seperti istilah yang kaugunakan untuk menyapa orang tuamu, kakek-nenekmu, atau orang yang lebih tua. Bagimu, "Tuhan" hanyalah bentuk sapaan yang penuh hormat karena menurutmu, Tuhan bukanlah objek penyembahanmu, dan engkau tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan. Apakah engkau mengerti? (Ya.) Hanya setelah firman Tuhan menjadi hidup seseorang, barulah hati yang takut akan Tuhan akan berangsur-angsur muncul di dalam dirinya. Apa yang ditunjukkan oleh pernyataan ini kepada engkau semua? Hati yang takut akan Tuhan muncul karena firman Tuhan telah menjadi hidup dalam diri seseorang; itu tidak muncul dari hati nurani dan nalar seseorang. Memiliki hati nurani dan memiliki nalar tidak dapat menghasilkan hati yang takut akan Tuhan. Sekalipun engkau adalah orang yang baik, orang yang taat aturan, dan orang yang polos serta selalu menempatkan diri di posisi yang semestinya, jika engkau sama sekali tidak memiliki pengenalan akan Tuhan atau tidak pernah memiliki jalan masuk kehidupan, maka paling-paling engkau hanya memiliki sedikit rasa hormat, kesopanan, dan tata krama terhadap Tuhan; ini tidak bisa disebut rasa takut. Rasa takut seseorang akan Tuhan muncul karena firman Tuhan telah menjadi hidupnya. Oleh karena itu, jangan mengira bahwa sekadar "kesediaan" dapat mencakup segalanya atau dapat menggantikan segalanya. Bagi Tuhan, kesediaanmu tidak berharga dan kecil nilainya. Ada orang-orang yang berkata, "Bukankah Engkau bersekutu bahwa manusia seharusnya memiliki sikap yang tunduk terhadap Tuhan?" Sikapmu terhadap Tuhan dan niat subjektifmu—apa yang bersedia kaulakukan—adalah dua hal yang berbeda. Memiliki sikap yang tunduk terhadap Tuhan adalah rasionalitas yang seharusnya kaumiliki, sedangkan niat subjektifmu dan kesediaanmu hanyalah keinginan atau tekadmu. Kuncinya adalah engkau harus menyadari hal ini dengan jelas: Kesediaanmu mungkin dapat menuntunmu ke jalan keselamatan, dan tentu saja, itu juga merupakan prasyarat untuk memungkinkanmu menempuh jalan keselamatan, tetapi bersedia menerapkan kebenaran tidak berarti bahwa engkau telah menerapkannya, juga tidak berarti bahwa engkau telah masuk ke dalam kenyataan kebenaran, apalagi berarti bahwa engkau memiliki kenyataan kebenaran atau memiliki jalan masuk kehidupan. Artinya, jika engkau sekadar tetap pada tahap bersedia menerapkan kebenaran, tidak dapat dikatakan bahwa engkau telah memiliki hidup. Jadi, kapan engkau benar-benar memiliki jalan masuk kehidupan? Ketika engkau mampu menerapkan kebenaran, dan engkau mengenal dirimu sendiri, serta mampu menerapkan sesuai dengan tuntutan Tuhan; hanya inilah yang berarti benar-benar memiliki jalan masuk kehidupan. Engkau memiliki jalan masuk kehidupan karena—melalui pemahamanmu tentang kebenaran—pemikiran dan pandanganmu, sikapmu terhadap Tuhan, dan watak rusakmu, semuanya telah berubah dalam berbagai tingkat; sikapmu terhadap Tuhan dan sikapmu terhadap pelaksanaan tugasmu telah diluruskan, dan engkau tidak lagi hidup menurut watak rusakmu atau menurut pemikiran dan pandangan yang keliru; dalam pandanganmu tentang orang dan hal-hal, dan dalam caramu berperilaku dan bertindak, engkau mampu menjadikan firman Tuhan sebagai dasarmu dan menjadikan kebenaran sebagai kriteriamu. Hanya inilah yang dimaksud dengan memiliki hidup. Apakah engkau semua memiliki hidup? Hanya ketika engkau memiliki kenyataan-kenyataan ini, barulah engkau memiliki hidup; tanpa kenyataan-kenyataan ini, engkau tidak memiliki hidup. Jika engkau tidak memiliki hidup, lalu orang macam apakah dirimu? Engkau adalah binatang, engkau adalah setan, dan engkau adalah seseorang yang berasal dari Iblis. Apa yang diandalkan oleh orang-orang yang berasal dari Iblis saat melaksanakan tugas mereka? Mereka mengandalkan watak rusak mereka dan mengandalkan hasrat mereka akan berkat. Apa hasil akhirnya? Mereka merajalela dan berbuat salah; mereka sama sekali tidak mampu menerapkan kebenaran, tidak mampu mengikuti jalan Tuhan, dan terlebih lagi tidak mampu memperoleh keselamatan. Inilah hasilnya.
Kita baru saja mempersekutukan beberapa perwujudan dari orang-orang yang tidak memiliki jalan masuk kehidupan. Setelah mendengar ini, ada orang-orang yang berkata, "Jadi, ternyata bahkan setelah percaya kepada Tuhan selama ini, kami masih tidak memiliki jalan masuk kehidupan dan belum memperoleh kebenaran dan hidup. Kalau begitu, di dalam hati-Mu, apakah Engkau tidak menyukai kami dan merasa sangat muak dengan kami?" Orang-orang semacam ini selalu memikirkan bagaimana Aku menilai mereka. Apakah ini benar? (Tidak.) Mengapa ini tidak benar? (Tuhan mempersekutukan begitu banyak hal dengan kami hari ini agar kami dapat mengenali dengan jelas keadaan kami yang sebenarnya dan melihat dengan jelas bahwa, hingga saat ini, kami belum menempuh jalan mengejar kebenaran dan, dalam melaksanakan tugas, kami masih berada pada tahap berjerih payah. Ini memungkinkan kami untuk sadar dan bertobat sebelum terlambat, dan memungkinkan kami menemukan jalan yang benar untuk menerapkan kebenaran. Jika kami sekadar menebak bagaimana Tuhan menilai dan memandang kami tanpa mencari untuk memahami maksud Tuhan yang penuh kesungguhan, ini adalah perwujudan tidak mengejar kebenaran, dan pada akhirnya kami tetap tidak akan memperoleh kebenaran.) Seperti apa pun Aku menilaimu atau kesan apa pun yang Aku miliki tentangmu, ini bukanlah hal yang seharusnya kaupedulikan, dan ini bukanlah fokus perhatianmu. Bukankah begitu? (Ya.) Engkau bahkan ingin Aku menyukaimu dan memiliki kesan yang baik tentangmu? Mengingat pelaksanaan tugasmu, sudah cukup bagus jika engkau semua dapat membuat-Ku tidak merasa muak terhadapmu. Mengenai apakah Aku menyukaimu, siapa yang memiliki kesan baik di mata-Ku, dan siapa yang Kupandang tinggi, Aku memiliki prinsip-prinsip-Ku. Ini bukanlah hal yang seharusnya engkau semua pedulikan, bukan pula sesuatu yang seharusnya engkau semua ketahui. Lebih jauh lagi, seperti apa pun sikap-Ku terhadapmu ketika Aku berbicara atau apa pun pandangan-Ku tentang individu mana pun, Aku tidak akan bertindak karena sikap yang gampang marah atau karena perasaan, apalagi karena emosi; Aku akan memperlakukan engkau semua dengan adil. Sekalipun pelaksanaan tugasmu sangat buruk, jangan bersikap negatif dan jangan menjadi terkekang. Fokus saja untuk melaksanakan dengan baik tugas yang seharusnya kaulaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip yang dituntut oleh rumah Tuhan. Mengenai jalan apa yang dapat ditempuh oleh setiap orang di antaramu, itu bergantung pada pengejaran dan pilihanmu. Tentu saja, dari sudut pandang-Ku, Aku berharap setiap orang di antaramu dapat mengejar kebenaran dan menerima kebenaran serta menempuh jalan keselamatan. Terutama, Kuharap engkau semua yang bekerja keras dan memikul beban berat serta yang melaksanakan tugas-tugas penting, mereka yang memiliki pemahaman rohani yang memiliki kualitas relatif baik, dan mereka yang memiliki kemanusiaan yang baik, semuanya menjadi orang-orang yang mengejar kebenaran, mampu menempuh jalan keselamatan sesegera mungkin, dan mampu menerapkan kebenaran serta memperoleh jalan masuk kehidupan dalam segala hal. Namun, jika engkau semua tidak bersedia mengejar kebenaran dan menempuh jalan keselamatan, Aku tidak akan memaksamu; Aku tidak akan menekanmu. Inilah sikap-Ku. Mengenai setiap orang di antaramu, Aku tahu dan memahami seperti apa kualitasmu, dan seperti apa pengejaranmu, dan Aku memiliki pandangan-Ku mengenainya. Namun, Aku tidak akan menarik kesimpulan tentang engkau semua sekarang. Jalan apa yang engkau semua tempuh dan seberapa jauh engkau semua mampu melangkah, itu bergantung pada pilihanmu sendiri. Rumah Tuhan memiliki prinsip dalam memperlakukan orang. Jika engkau melanggar ketetapan administratif, gereja akan menanganimu sebagaimana mestinya sesuai dengan prinsip. Aku tidak akan melindungimu; sekalipun Aku memandang tinggi dirimu, Aku tidak akan melindungimu. Sekalipun engkau telah mengerahkan banyak upaya di masa lalu dan merupakan orang yang telah bekerja keras, memikul beban berat, dan sebelumnya telah berkontribusi pada area tertentu dalam pekerjaan rumah Tuhan, jika engkau melanggar ketetapan administratif, gereja akan menanganimu sebagaimana mestinya. Lecet di kakimu berasal dari langkahmu sendiri; jalan yang kautempuh adalah jalan yang kaupilih sendiri. Inilah akibat dari menempuh jalan yang salah. Menangani hal-hal ini mudah bagi-Ku. Aku berinteraksi dengan beberapa individu mengenai urusan-urusan umum. Cara mereka melakukan berbagai hal cukup menjengkelkan dan cukup memuakkan, tetapi Aku masih bisa memperlakukan mereka dengan benar. Berhentilah terus-menerus menebak pemikiran-Ku. Aku paling muak pada orang yang terus-menerus mencari makna tersirat dan memperhatikan ekspresi-Ku, terus-menerus menanyakan apa yang sedang Kupikirkan, dan terus-menerus berspekulasi tentang apakah Aku menyukai mereka atau bagaimana kesan-Ku tentang mereka. Aku paling jijik dengan hal-hal ini. Jangan pernah berspekulasi tentang pemikiran-Ku, jangan pernah merenungkan bagaimana Aku memandangmu dan bagaimana Aku menilaimu, atau apa rencana-Ku untukmu, dan bagaimana Aku akan menanganimu. Jangan mengkhawatirkan hal-hal ini, dan jangan pula mengerahkan upaya untuk merenungkannya. Makin engkau merenungkannya, makin Aku menjadi jijik terhadapmu. Masalahmu yang mana pun yang Kutunjukkan saat mempersekutukan kebenaran, itu bukanlah untuk menyingkirkanmu sepenuhnya, bukan untuk menyerangmu, bukan pula untuk mengutukmu. Sebaliknya, itu untuk membantumu menyelesaikan masalah-masalahmu agar engkau dapat memahami kebenaran, memiliki jalan penerapan, dan pada akhirnya mampu menempuh jalan keselamatan. Oleh karena itu, engkau tidak seharusnya memusatkan pikiranmu pada kata-kata yang Kugunakan atau pada nada suara-Ku. Engkau seharusnya berfokus pada isi perkataan-Ku, membandingkan dirimu dengannya, dan melihat apakah yang Kukatakan membahas masalahmu, dan apakah itu dapat menyelesaikan masalahmu. Jika Aku mengucapkan beberapa patah kata tambahan kepadamu, jika Aku memandang tinggi dirimu, atau Aku menempatkanmu pada posisi yang penting, jangan menjadi sombong. Terkadang perkataan yang Kuucapkan kepadamu sangat keras dan sangat menusuk, dan sekalipun engkau merasa bahwa Aku sangat marah, engkau tidak boleh menjadi negatif. Aku tidak melakukan hal ini untuk menyerangmu; Aku sekadar menangani hal ini secara tidak memihak dan menilai persoalan berdasarkan fakta yang ada. Aku melakukannya untuk membawakan kebenaran dan mempersekutukannya dengan jelas serta menyeluruh, bukan untuk mempersulitmu secara pribadi. Aku mempersekutukan masalahmu karena itu berkaitan dengan suatu aspek kebenaran atau berkaitan dengan suatu aspek dari keadaan umat manusia. Kita perlu bersekutu tentang hal itu sehingga semua orang dapat memperoleh wawasan dan memetik pelajaran melalui hal tersebut. Jangan menebak pemikiran-Ku; jika engkau melakukannya, engkau sedang mengerahkan upayamu di tempat yang salah. Apakah engkau mengerti? (Ya.) Jika setiap hari engkau merenungkan apa yang sedang Kupikirkan, bagaimana Aku memandangmu dan menilaimu, apa rencana-Ku untukmu, dan apakah Aku akan menanganimu atau membuatmu menderita—jika engkau selalu memikirkan hal-hal ini, engkau salah dan engkau sedang mengerahkan upayamu di tempat yang salah. Jika Aku ingin menanganimu, Aku tidak perlu melakukannya secara pribadi; para pemimpin dan pekerja akan menanganimu secara langsung sesuai dengan prinsip. Rumah Tuhan memiliki aturan administratif, dan gereja akan mengikuti prosedur sesuai dengan prinsip dan menangani hal tersebut secara tidak memihak. Jika Aku ingin menanganimu, Aku akan menyuruh pemimpin dan pekerja gereja untuk mempersekutukan kebenaran dan menyelesaikan masalah tersebut berdasarkan perwujudanmu, dan kemudian menyuruh mereka menanganimu sesuai dengan prinsip; ini akan sangat mudah. Oleh karena itu, engkau tidak perlu mencari makna tersirat dan memperhatikan ekspresi-Ku, dan engkau juga tidak perlu mencari isyarat dalam apa yang Kukatakan, apalagi memperhatikan nada suara-Ku. Jika engkau memiliki kepercayaan yang sejati kepada Tuhan, jika engkau percaya bahwa Tuhan memeriksa lubuk hati manusia, dan jika engkau percaya bahwa Tuhan adalah sumber kebenaran, jalan, dan hidup, engkau tidak seharusnya memiliki spekulasi-spekulasi ini tentang Aku atau memperlakukan-Ku seperti ini. Apakah engkau mengerti? (Ya.) Aku tidak suka engkau memperlakukan-Ku dengan cara dan pola pikir seperti ini. Sepenuhnya wajar dan dapat dibenarkan bagi-Ku untuk memahami esensimu, memahami kemanusiaanmu, dan memahami watak rusakmu. Namun, jika engkau ingin memahami apa yang sedang Kupikirkan di dalam hati-Ku, bagaimana Aku memandangmu, dan apa yang Kurencanakan untuk Kulakukan terhadapmu, engkau salah. Tahukah engkau di mana letak kesalahanmu? (Kami telah menempatkan diri di posisi yang salah.) Ini berarti menempatkan diri di posisi yang salah. Jika engkau menempatkan diri di posisi yang salah saat berinteraksi dengan-Ku, engkau berada dalam bahaya besar. Jangan sekali-kali engkau menempuh jalan ini; jika engkau melakukannya, engkau akan berada dalam bahaya.
Dalam percaya kepada Tuhan, tidak perlu mencari makna tersirat dan memperhatikan ekspresi Tuhan, engkau juga tidak seharusnya bersikap waspada atau curiga terhadap-Nya. Apakah engkau semua tahu dengan jelas di dalam hatimu apa yang seharusnya kaulakukan dan bagaimana seharusnya engkau bertindak? (Sekarang sedikit lebih jelas. Kami seharusnya bersikap terbuka dan jujur kepada Tuhan serta mengerahkan upaya ke dalam firman yang Tuhan ungkapkan dan kebenaran yang Dia persekutukan.) Perkataan ini mudah diucapkan, tetapi apakah mudah untuk diterapkan? (Tidak.) Ketika Aku menyingkapkan dan menelaah keadaan serta masalah beberapa orang, jika Aku berbicara dengan lembut, ada orang-orang yang membiarkannya masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan; jika Aku berbicara dengan lebih keras atau lebih tegas, ada yang merasa kesal dan menjadi negatif, dengan berkata, "Tuhan sangat marah ketika berbicara kepadaku. Dia pasti tidak lagi menyukaiku dan tidak puas denganku, jadi bukankah aku telah kehilangan semua harapan untuk diselamatkan? Tuhan bahkan tidak lagi menginginkan aku, jadi apa gunanya hidup? Lebih baik aku mati saja!" Apakah ini cara yang benar untuk memahami hal ini? (Tidak.) Akankah engkau semua berpikir seperti ini? (Tidak.) Ada orang-orang yang bermuka tebal. Dengan cara apa pun mereka disingkapkan atau dipangkas, mereka tidak peduli. Apa pun yang kaukatakan kepada mereka, mereka tidak merasa kesal di dalam hatinya, berpikir, "Kau bisa mengatakan apa pun yang kauinginkan. Jika aku tidak menerimanya di dalam hatiku, tidak ada yang bisa kaulakukan. Kau bisa memangkasku, tetapi selama engkau tidak mengeluarkanku atau mengusirku, aku tidak akan menjadi negatif, dan aku juga tidak akan menjadi lemah. Aku akan terus melakukan berbagai hal seperti yang kulakukan sebelumnya. Aku hanya tidak akan menerapkan kebenaran. Selama aku tidak berbuat jahat, apa yang bisa kaulakukan kepadaku?" Ini merepotkan. Jika mereka tidak menerima kebenaran maupun menerapkan kebenaran, apakah mereka masih dapat memperoleh keselamatan? (Tidak.) Engkau lihat, orang adalah makhluk yang sangat sulit untuk ditangani. Apa yang membuat mereka sulit untuk ditangani? Di satu sisi, mereka memiliki segala macam pemikiran dan pandangan yang keliru; di sisi lain, mereka memiliki sesuatu yang fatal: watak rusak mereka. Pemikiran dan pandangan yang keliru menyebabkanmu memiliki pemahaman dan pengertian yang keliru, serta memiliki sikap yang keliru jika menyangkut hal-hal tertentu. Atas dasar ini, engkau juga mengungkapkan pemikiran dan pandanganmu yang keliru melalui watak rusakmu, sehingga kesalahanmu makin bertambah. Bukankah ini sulit untuk ditangani? (Ya.) Pandangan dan sikapmu pada dasarnya keliru, tetapi engkau tetap berpaut pada semua itu, masih mencoba menjelaskan dan membenarkan dirimu sendiri, serta menolak untuk menerima kebenaran. Engkau bahkan menggunakan taktik tertentu dan memberikan segala macam alasan dan dalih untuk membebaskan dirimu dari kesalahan dan mengelak dari tanggung jawab. Bukankah ini memperlihatkan watak rusak sambil tetap berpaut pada pandanganmu yang keliru? (Ya.) Memiliki watak yang rusak sudah sangat merepotkan, tetapi engkau masih berpaut pada pemikiran dan pandangan yang keliru. Bukankah ini membuat masalahnya menjadi serius? Ini menyingkapkan bahwa engkau keras kepala di dalam hatimu, muak akan kebenaran, congkak, dan licik, dan bahwa engkau tidak meninggalkan celah dalam apa pun yang kaukatakan. Bukankah ini Iblis yang hidup? (Ya.) Jika engkau berperilaku seperti ini, engkau tidak akan pernah mendapatkan kebenaran dan hidup. Jika, setelah menyadari hal ini, engkau mampu melepaskan pemikiran dan pandanganmu yang keliru, berhenti menggunakannya untuk menyikapi berbagai hal, membalikkan sikapmu yang salah, dan, sesuai dengan firman Tuhan dan dengan cara yang Tuhan ajarkan kepada manusia, dengan jujur dan tulus menyelesaikan masalah yang kauhadapi dengan hati yang takut akan Tuhan, maka engkau memiliki jalan masuk kehidupan. Setelah engkau memiliki jalan masuk kehidupan, setelah engkau memberontak terhadap pemikiran dan pandanganmu yang keliru, membereskannya, serta melepaskannya, dan setelah engkau memberontak terhadap watak Iblismu, membereskannya, dan melepaskannya selama proses menerapkan kebenaran dan memperoleh jalan masuk kehidupan, apa yang kauhidupi dan perlihatkan? Hal-hal yang sejalan dengan prinsip-prinsip kebenaran dan sejalan dengan tuntutan Tuhan. Oleh karena itu, apa yang kauhidupi adalah kehidupan kebenaran yang Tuhan tuntut. Bukankah begitu? (Ya.) Apa kunci untuk mendapatkan jalan masuk kehidupan? (Tidak cukup hanya memiliki keinginan dan niat subjektif untuk menerapkan kebenaran; orang haruslah memiliki perwujudan penerapan kebenaran yang nyata.) Semua orang mengetahui dan memahami hal ini sebagai doktrin, tetapi menerapkannya tidaklah begitu mudah; itu sulit. Sampai batas tertentu, hal ini berkaitan dengan apakah kemanusiaan seseorang itu baik atau buruk. Orang yang memiliki hati nurani dan nalar mampu menerima kebenaran, sehingga tidak terlalu sulit bagi mereka untuk menerapkannya; jika mereka mengerahkan upaya, mereka mampu menerapkannya. Orang yang tidak memiliki hati nurani dan nalar tidak mencintai kebenaran, sehingga sangat sulit bagi mereka untuk menerapkannya; mereka sama sekali tidak dapat melakukannya. Hanya mereka yang mampu menerapkan kebenaran yang memiliki jalan masuk kehidupan. Dengan menerapkan kebenaran secara teratur, mereka berangsur-angsur memperoleh hidup. Mereka yang tidak mampu menerapkan kebenaran makin jauh dari jalan masuk kehidupan dan tidak dapat memperoleh hidup, bukan? (Ya.) Aspek ini adalah persoalan yang sangat sederhana; ini adalah persoalan yang sering dibahas dalam kehidupan orang sehari-hari. Beberapa individu mungkin memiliki sedikit pemahaman perseptual di benak mereka, tetapi masih kurang memiliki pengalaman pribadi dan penghayatan tentang persoalan ini. Jika diminta untuk berbicara tentang pemahaman mereka, mereka tidak dapat menerangkannya dengan jelas dan mereka tidak dapat menjelaskannya dengan gamblang. Melalui persekutuan dengan cara ini, apakah engkau semua sudah jelas sekarang? (Ya.) Kalau begitu, rangkumlah: Tuhan memeriksa lubuk hati manusia, jadi mengapa Dia masih menguji manusia? (Karena manusia perlu secara nyata mengalami pekerjaan Tuhan, mengenal watak rusaknya sendiri, dan memperoleh kebenaran sebagai hidupnya melalui lingkungan yang Tuhan atur. Ini juga merupakan proses di mana Tuhan membuat kebenaran dan firman-Nya meresap serta bekerja dalam diri manusia. Selama proses ini, manusia berulang kali berjuang melawan watak rusaknya, berulang kali menyangkal pemikiran dan pandangannya yang keliru, dan berangsur-angsur menjadi mampu memberontak terhadap daging serta menerapkan firman Tuhan; pada akhirnya, ia mampu menerapkan kebenaran dan memperolehnya.) Proses ini telah diterangkan dengan jelas. Apakah engkau semua mengerti? (Ya.) Disampaikan dengan cara seperti ini, pertanyaan itu tampak sangat sederhana. Penjelasan dalam kata-kata mungkin tampak sederhana, tetapi ada banyak detail yang terlibat dalam menerapkannya. Begitulah cara kerjanya secara teori, sebagaimana dijabarkan dalam kata-kata. Pada dasarnya, sekarang pertanyaan ini telah dipersekutukan dengan jelas: Pengujian Tuhan terhadap manusia adalah proses di mana Tuhan membuat firman-Nya meresap dan bekerja dalam diri manusia sehingga firman tersebut menjadi hidupnya; itu adalah salah satu cara Tuhan bekerja, dan itu juga merupakan proses yang harus dialami manusia untuk memperoleh keselamatan. Hal ini mengakhiri persekutuan kita mengenai topik ini.
Biar Kuceritakan kepadamu bagaimana seseorang berperilaku, dan engkau semua bisa mendengarkannya dan melihat apa masalahnya. Pada musim dingin itu, salju turun, dan Aku menyuruh orang-orang untuk menyekop salju itu. Seseorang bertanya apakah salju itu harus disekop oleh orang atau dengan menggunakan mesin. Aku berkata, "Jika saljunya terlalu tebal, gunakan mesin; jika orang masih sanggup menyekopnya, jangan gunakan mesin." Meskipun Aku tidak memberitahunya seberapa tebal salju hingga harus menggunakan mesin, atau dalam kondisi seperti apa oranglah yangseharusnya menyekopnya, Aku sudah memberitahunya prinsip tersebut. Namun, dia tidak bisa memahaminya dan sama sekali tidak tahu bagaimana menyekop salju itu. Katakan kepada-Ku, bukankah perkataan-Ku mudah dipahami? Jika engkau semua diminta untuk melaksanakannya, bagaimana engkau semua akan melaksanakannya? (Pertama, aku akan melihat seberapa tebal tumpukan salju itu dan memutuskan berdasarkan situasi yang sebenarnya.) Di beberapa tempat, ada tumpukan salju setebal satu meter, sementara di tempat lain hanya setebal lima inci. Apa yang akan kaulakukan? (Jika di sebagian besar tempat ketebalan saljunya di bawah lima inci, oranglah yang seharusnya menyekopnya, dan mesin dapat digunakan untuk membersihkan beberapa titik yang terisolasi.) Bagaimana prinsip ini menurutmu? (Itu tepat.) Ada orang yang bahkan tidak tahu cara melaksanakan sesuatu yang sesederhana ini. Apa artinya tidak tahu cara melaksanakannya? Itu berarti bahkan tidak tahu cara menangani situasi biasa. Ketika saljunya setebal satu inci, dia bertanya, "Haruskah kita keluar dan menyekop saljunya? Haruskah orang yang menyekopnya, atau haruskah kita menggunakan mesin?" Aku berkata, "Engkau hanya bisa menyekopnya setelah salju berhenti turun. Jika saljunya terlalu tebal untuk disekop oleh orang, gunakan mesin untuk menanganinya. Inilah prinsipnya." Dia berkata dia mengerti. Ketika ketebalan salju mencapai dua inci, dia datang lagi untuk bertanya apakah salju itu seharusnya disekop, dan Aku mengulangi prinsip itu sekali lagi. Ketika ketebalan salju mencapai tujuh inci, dia datang untuk bertanya lagi. Katakan kepada-Ku, apakah orang ini memiliki kualitas? (Tidak.) Aku menyatakan prinsip itu beberapa kali, tetapi dia tidak bisa memahaminya dan berulang kali menanyakan apa yang harus dilakukan. Dia tidak bisa menentukan kapan salju harus disekop, dalam kondisi seperti apa orang-orang harus menyekopnya, atau dalam kondisi seperti apa mesin harus digunakan. Seberapa burukkah kualitas orang itu? Berapa banyak lagi yang harus dikatakan saat mengatur pekerjaan untuk orang semacam itu sebelum dia bisa memahaminya? Orang semacam itu tidak bisa melihat apa pun dengan jelas. Jadi, apa masalah pada perilakunya ini? Apakah dia memahami apa yang Kukatakan? (Dia tidak memahaminya; dia sedang mengikuti peraturan.) Jika dia sedang mengikuti peraturan, dia seharusnya bergegas menyekop salju. Entah dia mengatur agar orang menyekopnya atau menyekopnya dengan mesin, dia setidaknya harus berpegang pada salah satunya. Namun, apakah dia berpegang pada salah satunya? Dia tidak pergi menyekop salju; dia hanya berulang kali bertanya apakah salju itu seharusnya disekop, dan apakah oranglah yang seharusnya menyekopnya ataukah mesin harus digunakan. Mengapa dia terus bertanya alih-alih melakukan sesuatu? (Dia sebenarnya ingin menggunakan mesin untuk menyekopnya, tetapi dia tidak mau mengambil keputusan sendiri. Dia hanya menunggu Tuhan untuk memberi perintah.) Dia menunggu-Ku untuk memberikan perintah. Apakah sikapnya ini menunjukkan niat untuk tunduk? (Tidak.) Pertama, mari kita lihat apakah dia mampu memahami prinsip yang Kunyatakan. Apakah dia memahami apa yang Kukatakan? (Tidak.) Dia tidak memahaminya. Dia hanya ingin Aku memberitahukan secara langsung apa yang harus dilakukan, apa yang tidak boleh dilakukan, dan bagaimana melakukannya. Hanya perkataan semacam itulah yang bisa dipahaminya; dia sama sekali tidak bisa memahami prinsip. Setelah mendengar prinsip itu, dia benar-benar kebingungan, seolah-olah dia sedang membaca buku surgawi tanpa kata-kata dan merasa bahwa semua itu adalah misteri. Dia tidak bisa memahami prinsip itu dan tidak tahu apa yang harus dilakukan, jadi ketika harus menangani tumpukan salju, yang dia tahu hanyalah terus bertanya apakah oranglah yang seharusnya menyekopnya atau mesin seharusnya digunakan. Katakan kepada-Ku, bukankah berurusan dengan orang semacam ini membuatmu merasa tidak nyaman dan kesal? (Ya, itu membuatku kesal dan sangat lelah.) Seperti apa rasanya berurusan dengan orang semacam itu? Gambarkanlah. (Kurang lebih seperti berbicara kepada tembok. Apa pun yang kita katakan, mereka tidak mengerti.) Bukankah berbicara dengan orang semacam ini seperti berurusan dengan anak berusia tiga hingga lima tahun? Bukankah ini seperti berbicara kepada binatang? (Ya.) Kalau begitu, katakan kepada-Ku, apakah berurusan dengan orang semacam ini sangat melelahkan? Apakah itu membuatmu marah? (Ya, itu membuatku marah.) Berurusan dengan orang semacam ini begitu menjengkelkan sekaligus melelahkan. Jadi, bagaimana seharusnya orang semacam ini ditangani? Suruh saja mereka segera pergi dan bereskan urusan ini. Pakailah siapa saja yang mampu memahami prinsip ini dan, setelah mendengarnya, mampu menerapkan dan melaksanakan pekerjaan sesuai dengan prinsip ini, serta mampu membereskan hal ini. Mengatakan apa pun kepada seseorang yang tidak bisa memahami prinsip itu sia-sia. Dengan cara apa pun engkau menjelaskannya, mereka tetap tidak akan memahaminya dan mereka akan mengganggumu dengan pertanyaan yang tak ada habisnya, persis seperti orang bodoh. Mereka bahkan mengira bahwa mengajukan pertanyaan dengan cara seperti ini sangatlah masuk akal, berpikir, "Lihat, bukankah aku melakukan pekerjaan ini dengan sangat spesifik dan sangat teliti? Ketika salju setebal satu inci, aku bergegas bertanya apakah salju itu harus disekop, dan ketika ketebalannya mencapai dua inci, aku tidak berani menunda dan bergegas bertanya lagi. Lihat, aku tidak bertindak sembarangan. Bukankah aku memiliki ketundukan dan kesetiaan? Bukankah aku bertanggung jawab? Aku mengajukan pertanyaan dengan segera dan memberikan umpan balik tepat waktu, tanpa menunda apa pun sedikit pun!" Bukankah mereka cukup terkesan akan diri mereka sendiri? (Ya.) Jika engkau menyuruh mereka pergi, apa yang akan mereka pikirkan? Mereka bahkan akan merasa dirugikan, berpikir, "Aku sangat mengkhawatirkan hal ini dan sibuk ke sana kemari! Apakah ini mudah bagiku? Bagaimana mungkin aku disuruh pergi pada akhirnya?" Apakah di dalam hatinya, mereka akan menerima hal ini? (Tidak.) Kualitas orang semacam ini terlalu buruk. Jangankan prinsip-prinsip kebenaran yang berada di luar kemampuan pemahaman mereka; bahkan prinsip-prinsip untuk melakukan pekerjaan biasa pun tidak dapat mereka pahami dan berada di luar kemampuan pemahaman mereka. Mereka tidak memiliki IQ orang normal, jadi bagaimana mungkin kebenaran berada dalam jangkauan mereka? Menyuruh mereka pergi sebenarnya sesuai dengan prinsip, tetapi mereka tidak memahami hal ini dan bahkan merasa diperlakukan tidak adil serta dirugikan. Orang semacam ini tidak bisa memahami prinsip bahkan dalam hal-hal kecil, jadi apakah hal-hal besar, hal-hal yang berkaitan dengan kebenaran, berada dalam jangkauan mereka? (Tidak.) Hal-hal itu terlebih lagi berada di luar jangkauan mereka. Jadi, bagi beberapa orang yang tidak mampu memahami kebenaran, prinsip-prinsip kebenaran berada di luar kemampuan pemahaman mereka. Bisakah orang semacam itu menerapkan kebenaran? (Tidak.) Ada orang-orang yang berkata, "Menurut apa yang Engkau katakan, karena orang semacam ini tidak mampu menerapkan kebenaran, bukankah itu berarti mereka tidak bisa memperoleh keselamatan?" Apakah memang demikian? Apa yang seharusnya kaulakukan jika prinsip-prinsip kebenaran berada di luar kemampuan pemahamanmu? Ada cara sederhana yang akan memungkinkanmu untuk melaksanakan tugasmu sampai akhir. Jika prinsip-prinsip kebenaran berada di luar kemampuan pemahamanmu, patuhilah satu peraturan: Dalam melaksanakan tugasmu, engkau harus memiliki hati yang murni dan tulus, mengandalkan hati nurani dan nalarmu untuk melakukan apa yang bisa kaulakukan dengan sebaik mungkin, dan sama sekali tidak boleh bersiasat. Mengingat bahwa kualitasmu sudah sangat buruk dan engkau tidak memiliki kemampuan untuk memahami kebenaran, jika, dalam melaksanakan tugasmu, engkau tetap tidak memiliki hati yang murni sama sekali dan tetap bersiasat, bukankah itu natur setan? Tamatlah sudah orang semacam itu. Jadi, apa artinya memiliki hati yang murni dalam melaksanakan tugasmu? Itu berarti melakukan sebanyak yang engkau mampu. Contohnya adalah menyekop salju. Menurut prinsip yang diberikan, oranglah yang seharusnya menyekopnya jika mereka sanggup, dan menggunakan mesin jika mereka tidak sanggup. Jika engkau melihat salju telah turun setebal satu inci dan tidak tahu apakah itu seharusnya disekop dengan tangan atau dengan mesin, engkau bisa mulai menyekopnya terlebih dahulu dan menggunakan mesin hanya jika engkau benar-benar tidak mampu menyekopnya dengan tangan. Meskipun engkau tidak tahu apakah melakukan hal ini benar, engkau melakukannya dengan segenap kekuatanmu, tanpa bersikap licik atau bermalas-malasan. Sekalipun upaya yang kaukerahkan terbukti sia-sia, setidaknya, hatimu tulus di hadapan Tuhan. Ketika Tuhan melihat bahwa engkau memiliki hati yang tulus, dan bahwa engkau tidak bersikap licik atau bermalas-malasan serta tidak bersiasat terhadap-Nya, Tuhan akan menerima perilaku baikmu. Namun, jika engkau bersikap licik dan bermalas-malasan serta bersiasat terhadap Tuhan, Dia akan membencimu, dan jika engkau tidak bertobat, Dia akan mengutukmu dan menyingkirkanmu. Apa saja perwujudan dari bersiasat terhadap Tuhan? Engkau berpikir dalam hatimu, "Aku tidak memahami prinsip yang baru saja diberikan. Salju telah turun setebal satu inci, jadi haruskah itu disekop dengan tangan, atau haruskah menggunakan mesin? Jika salju itu tidak seharusnya disekop dengan tangan, dan aku melakukannya, bukankah itu berarti mengerahkan upaya ekstra? Jika aku menggunakan mesin, lalu bagaimana jika saljunya tidak tebal dan seharusnya disekop dengan tangan, tetapi aku menggunakan mesin; bukankah aku akan disalahkan karena menggunakan mesin sembarangan dan membuang-buang bahan bakar? Aku tentu saja tidak boleh bertindak sembarangan. Jika aku melakukannya, bukan saja semua upayaku bisa menjadi sia-sia, tetapi aku juga akan disalahkan. Aku bahkan mungkin dipangkas dan disuruh mengganti kerugian. Aku harus mendapatkan jawaban yang jelas sebelum aku bertindak." Engkau memiliki siasat semacam ini di benakmu. Disebut apakah ini? (Kelicikan.) Ini adalah bersiasat. Ketika orang itu bersiasat seperti ini, di luarnya, dia mungkin terlihat tunduk, dan dia berpura-pura sedang mencari dan tidak bertindak sembarangan, tetapi dia sebenarnya memiliki motif tersembunyi. Orang-orang tidak bisa membedakannya, tetapi Tuhan telah lama melihat bahwa orang ini tidaklah polos. Dia tidak mau bekerja, jadi dia selalu mencari-cari alasan untuk mengajukan pertanyaan. Dia menggunakan bentuk perilaku baik sebagai kedok untuk menyembunyikan niatnya sendiri. Ketika seseorang bersiasat dan melakukan kelicikan seperti ini, itu merupakan pelanggaran di mata Tuhan. Apakah engkau mengerti? (Ya, kami mengerti.) Kalau begitu, apakah engkau sekarang memahami bagaimana engkau seharusnya menerapkannya? Meskipun engkau tidak memahami prinsip-prinsip kebenaran, engkau tidak seharusnya bersiasat terhadap Tuhan. Engkau seharusnya berkata, "Pikiranku bingung, kualitasku buruk, dan prinsip-prinsip kebenaran berada di luar kemampuan pemahamanku. Jadi, aku akan melakukan sesuatu yang nyata: Aku akan mengerahkan sedikit lebih banyak upaya dan melakukan sedikit lebih banyak hal sendiri. Ketika aku lelah, aku akan beristirahat sejenak, kemudian melanjutkan pekerjaan." Sekalipun seseorang pada akhirnya mengkritik bahwa upaya yang kaukerahkan tidak perlu dan sia-sia, Tuhan akan melihat bahwa hatimu murni dan jujur. Tuhan akan mengakuimu, dan engkau tidak akan melakukan pelanggaran. Apakah ini mudah dicapai? (Ya) Ini adalah prinsip penerapan yang paling sederhana. Meskipun sederhana, hal yang dikhawatirkan adalah engkau mungkin gagal melakukannya. Mereka yang memahami kebenaran memiliki cara untuk menyelesaikan apa pun yang mereka temui, dan mereka memiliki prinsip tentang cara memperlakukan setiap jenis orang: Dalam memperlakukan orang bodoh, mereka memiliki prinsip tentang cara memperlakukan orang semacam itu, dan dalam memperlakukan orang jahat, mereka memiliki prinsip tentang cara memperlakukan orang semacam itu. Jika engkau memahami kebenaran tetapi tidak menerapkannya dan malah bersiasat, ini merupakan pelanggaran. Jika engkau memiliki hati yang murni, dan begitu engkau memahami suatu prinsip, engkau mampu menerapkannya tanpa melakukan pelanggaran di hadapan Tuhan, maka apa yang kaulakukan akan diterima oleh Tuhan. Apa poin kuncinya di sini? (Tidak bersiasat, dan terlebih dahulu menerapkan sesuai dengan apa yang bisa kami pahami.) Jangan bersiasat; miliki hati yang murni terhadap Tuhan. Miliki hati yang murni terhadap pekerjaan, tugas, dan misi yang Tuhan berikan kepadamu. Terapkan sebanyak yang kaupahami. Sekalipun engkau tidak memahaminya, engkau masih bisa berpegang pada makna dasar firman Tuhan; sekalipun engkau mengikuti peraturan, engkau tetap harus berpegang padanya. Benar, bukan? (Ya.) Apa prinsipnya di sini? Apa standar yang dituntut Tuhan terhadap manusia? Tuntutan Tuhan terhadap manusia tidaklah tinggi; yaitu, engkau harus memiliki hati yang murni. Meskipun Tuhan merasa muak dan tidak menyukai orang-orang yang tidak memahami prinsip dan yang kualitasnya buruk, jika engkau memiliki hati yang murni, Tuhan akan tetap menerimamu, dan Dia akan memperlakukanmu dengan adil. Jika engkau tidak memiliki hati yang murni dan selalu bersiasat terhadap Tuhan, maka sebaik apa pun kualitasmu atau setinggi apa pun pemahamanmu, Tuhan akan tetap membencimu, dan Dia akan mencatat pelanggaran yang kaulakukan. Apakah engkau memahaminya? (Ya.) Semua ini adalah hal-hal yang biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Sekarang, engkau semua seharusnya memiliki jalan tentang cara memandang hal-hal semacam itu, bukan? (Ya.) Kita akan mengakhiri persekutuan kita mengenai aspek ini di sini.
Sebelumnya, kita telah cukup banyak mempersekutukan gagasan dan imajinasi tentang Tuhan yang berinkarnasi. Kita juga mempersekutukan secara luas cara melepaskan dan cara membereskan gagasan serta imajinasi tentang Tuhan yang berinkarnasi. Berdasarkan pembahasan ini, kita akan mengakhirinya dengan mempersekutukan cara mencapai pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan. Tentu saja, pada tahap saat ini, hal ini mengacu pada memiliki pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan yang berinkarnasi. Mudahkah mencapai pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan? (Tidak mudah.) Dalam lingkup yang mampu engkau semua pahami, apa yang setidaknya harus orang miliki untuk mencapai pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan? Apa yang harus mereka miliki dalam hal kualitas, kemanusiaan, pengejaran, jalan yang mereka tempuh, dan sebagainya, untuk mencapai pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan? (Dalam hal kualitas, orang harus memiliki kemampuan memahami; dalam hal kemanusiaan, orang setidaknya harus memiliki hati nurani dan nalar; dan orang juga harus mampu memahami beberapa kebenaran. Hanya dengan demikian, barulah orang dapat mencapai pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan.) (Untuk mencapai pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan, orang harus terlebih dahulu memiliki hati yang murni dan tulus terhadap Tuhan. Di sisi lain, orang harus memiliki kualitas dan harus memahami maksud Tuhan serta tuntutan-Nya terhadap manusia. Aspek lainnya adalah bahwa pandangan orang tentang berbagai hal dan perspektif di balik pengejarannya haruslah menjadi selaras dengan Tuhan. Hanya dengan demikian, barulah akan mudah untuk mencapai pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan.) Ada yang lain? (Aku bisa memikirkan satu aspek: Karena Tuhan sangat tulus ketika Dia berbicara kepada manusia, jika manusia ingin memiliki pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan, mereka juga harus memiliki sikap yang tulus.) Ini juga merupakan satu aspek; setidaknya, ini adalah satu sudut pandang. Cara mencapai pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan adalah topik yang sangat luas. Ini juga merupakan topik yang sangat dalam. Mempersekutukan pembahasan ini dengan engkau semua ibarat mengajarkan mata kuliah universitas kepada murid taman kanak-kanak. Dilihat dari pemahaman yang baru saja engkau semua bagikan, banyak di antaramu yang tidak mengerti apa pun tentang aspek ini. Ini makin menegaskan bahwa engkau semua jauh dari memenuhi standar: Engkau tidak memahami aspek kebenaran ini, engkau tidak pernah memikirkan topik ini, dan topik ini berada di luar kemampuan pemahamanmu. Cara mencapai pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan adalah topik terakhir mengenai melepaskan gagasan dan imajinasi tentang Tuhan yang berinkarnasi. Ini adalah topik yang sangat penting. Ini adalah tujuan yang pada akhirnya dapat dicapai seseorang dalam mengikuti Tuhan yang berinkarnasi, dan ini juga merupakan suatu pengungkapan esensi hidup yang dapat orang hidupi ketika mereka percaya kepada Tuhan dan memperoleh kebenaran sebagai hidup mereka. Melepaskan gagasan dan imajinasi orang tentang Tuhan yang berinkarnasi bukan sekadar soal tidak memiliki gagasan tentang Tuhan. Aspek kebenaran ini berkaitan dengan banyak gagasan dan imajinasi tentang Tuhan yang berinkarnasi, dan ini juga berkaitan dengan berbagai sikap orang terhadap Tuhan yang berinkarnasi, berbagai pemahaman mereka tentang-Nya, dan berbagai cara penerapan mereka dalam memperlakukan-Nya. Hasil terbaik yang pada akhirnya dapat dicapai dengan menerapkan aspek melepaskan gagasan dan imajinasi tentang Tuhan yang berinkarnasi adalah bahwa orang memiliki pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan yang berinkarnasi. "Memiliki pemahaman yang sehati sepikir" ini adalah cara manusia berbicara; dalam kata-kata yang sering kita gunakan, itu berarti sesuai dengan Tuhan dan selaras dengan Tuhan. Namun, mengingat tingkat pertumbuhan manusia, mengingat sifat bawaan manusia, dan mengingat esensi manusia, serta dilihat dari setiap aspek latar belakang dan kondisi manusia, sebenarnya sama sekali mustahil bagi manusia untuk mencapai titik sesuai dengan Tuhan atau mencapai titik selaras dengan Tuhan. Oleh karena itu, menggunakan ungkapan "selaras dengan Tuhan" agak tidak realistis, dan agak hampa serta tidak objektif. Jadi, Aku mempertimbangkannya dengan saksama dan mendapati bahwa istilah "pemahaman yang sehati sepikir" lebih objektif dan lebih tepat, serta dapat dianggap relatif cocok. Bukankah begitu? (Ya.) Melepaskan gagasan dan imajinasi tentang Tuhan yang berinkarnasi pada akhirnya tidak mengharuskanmu untuk menjadi selaras dengan Tuhan. Karena kehidupan manusia dan kehidupan Tuhan berbeda secara esensi, dan karena masalah manusia dalam segala hal, manusia tidak mungkin bisa menjadi selaras dengan Tuhan. Hanya satu hal yang dituntut: Orang haruslah mencapai pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan. Apa arti pemahaman yang sehati sepikir ini? Artinya, kapan pun sesuatu muncul, engkau dapat berdiri di pihak yang sama dengan Tuhan, mengambil perspektif yang sama, memiliki pemikiran dan pandangan yang sama, serta menggunakan standar yang sama yang sejalan dengan prinsip-prinsip kebenaran dalam memandang, memahami, dan menangani orang, peristiwa, dan hal-hal apa pun. Inilah yang disebut pemahaman yang sehati sepikir. Sederhananya, pemahaman yang sehati sepikir berarti mengetahui apa yang dipikirkan pihak lain tanpa salah satu di antaramu berbicara, dan memiliki pandangan yang sama tentang hal yang sama, tanpa perlu mengomunikasikannya dengan kata-kata. Apa cara lain untuk menggambarkan pemahaman yang sehati sepikir? (Sefrekuensi.) Benar, sefrekuensi. Meskipun kedua pihak tidak tinggal di wilayah yang sama atau ruang yang sama, karena mereka memiliki pemikiran dan pandangan yang sama, dan mereka memiliki pendirian yang sama serta perspektif yang sama, dan mereka juga memiliki sikap yang sama terhadap segala sesuatu, tanpa perlu berkomunikasi dan tanpa perlu bertukar kata-kata apa pun, mereka dapat sampai pada metode dan jalan yang sama untuk menangani masalah apa pun, dan mereka juga dapat memiliki sasaran dan tujuan yang sama dalam menanganinya. Inilah yang disebut pemahaman yang sehati sepikir; ini seperti apa yang orang sebut sefrekuensi. Jika orang bisa sefrekuensi dengan Tuhan, ini disebut pemahaman yang sehati sepikir. Apa yang harus orang miliki untuk mencapai pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan, atau setidaknya, dengan Tuhan yang berinkarnasi? Engkau semua baru saja mengatakan beberapa hal. Beberapa darimu berbicara dengan lebih akurat, sementara yang lain tidak terlalu tepat sasaran. Mereka yang berbicara dengan akurat memiliki harapan untuk mencapai pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan.
Syarat-syarat apa yang harus orang miliki untuk mencapai pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan? Pertama, orang harus memiliki kepercayaan sejati. Apakah ini penting? (Ya.) Secara khusus, kepercayaan sejati berarti memiliki iman yang sejati kepada Tuhan. Artinya, engkau mengakui bahwa Dia adalah Sang Pencipta, engkau percaya Dia mampu memegang kedaulatan atas segala sesuatu, dan engkau memahami bagaimana sikap-Nya terhadap umat manusia, dan bagaimana sikap-Nya terhadap segala peristiwa dan hal. Engkau memiliki suatu kepekaan dan pengenalan di dalam hatimu akan apa yang Dia katakan dan lakukan, esensi-Nya, identitas-Nya, kemahakuasaan-Nya, kuasa-Nya, otoritas-Nya, dan sebagainya. Inilah kepercayaan yang sejati. Kepercayaan sejati ini mengacu pada iman. Namun, iman ini bukan sekadar soal mengakui secara lisan bahwa Tuhan yang berinkarnasi adalah Sang Pencipta dan bahwa Dia adalah Tuhan; ini bukanlah sekadar mengakui dan mengenali identitas, status, dan esensi-Nya. Sebaliknya, itu berarti memiliki pemahaman dan pengenalan dasar atau mendalam tentang identitas, status, dan esensi-Nya. Inilah kepercayaan sejati itu. Hanya setelah engkau memiliki pemahaman, pengenalan, dan pengalaman yang sejati dan mendasar, barulah engkau dapat memiliki iman yang sejati kepada Sang Pencipta. Ini adalah satu syarat yang harus orang miliki untuk mencapai pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan. Di sisi lain, orang haruslah memiliki hati yang murni. Memiliki hati yang murni berarti hatimu terhadap Tuhan itu tulus. Engkau tidak percaya kepada Tuhan dan mengikuti Tuhan dengan cara yang bingung, dan engkau juga tidak sekadar bermain-main. Kepercayaanmu kepada Tuhan dan caramu mengikuti Tuhan tidak seperti caramu memperlakukan orang biasa; itu juga bukan kepercayaan agamawi, itu bukan ritual, itu bukan tindakan memberi penghormatan, apalagi tindakan pemujaan. Sebaliknya, engkau memiliki hati yang murni. Memiliki hati yang murni berarti engkau setidaknya harus mampu mempersembahkan segala sesuatu yang kaumiliki kepada Tuhan; engkau setidaknya harus siap untuk melakukannya. Jika Tuhan menyuruhmu untuk mati, engkau merenungkannya: "Tuhan telah menyuruhku untuk mati, jadi aku akan pergi dan mati. Meskipun aku tidak bersedia di dalam hatiku, aku tetap harus mempersembahkan diriku kepada Tuhan." Engkau harus memiliki hati yang murni seperti ini. Terlebih lagi, apa pun yang Tuhan minta darimu, apa pun yang Dia minta untuk kaupersembahkan, atau apa pun yang Dia suruh untuk kaulakukan, engkau mampu tunduk kepada-Nya dan tidak tawar-menawar dengan-Nya; sikapmu terhadap Tuhan sungguh-sungguh dan tulus. Sekalipun engkau memiliki watak-watak yang rusak, dan sekalipun engkau masih memiliki banyak gagasan dan imajinasi tentang Tuhan, setidaknya, hatimu ini murni, dan engkau tulus terhadap Tuhan. Memiliki hati yang murni terhadap Tuhan adalah syarat kedua yang harus orang miliki untuk mencapai pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan.
Jika orang ingin mencapai pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan yang berinkarnasi, setelah memiliki kedua syaratnya, yaitu kepercayaan sejati dan hati yang murni, syarat ketiga yang harus mereka miliki adalah kepedulian. Kata "kepedulian" agak abstrak; apa arti menunjukkan kepedulian? Itu berarti bahwa apa yang ingin Tuhan katakan dan apa yang ingin Tuhan lakukan, apa yang membuat Tuhan cemas dan khawatir, dan apa yang membuat Tuhan senang, semuanya dapat menggerakkan hatimu, dan semuanya dapat memengaruhi suasana hatimu dan emosimu. Engkau mampu memikirkan apa yang Tuhan pikirkan dan mencemaskan apa yang Tuhan cemaskan; inilah yang disebut menunjukkan kepedulian. Menunjukkan kepedulian berarti ketika engkau melihat makna dari apa yang Tuhan katakan dan melihat setiap gerakan Tuhan, engkau mampu memahami hati Tuhan, dan mampu secara positif dan proaktif bekerja sama dengan Tuhan, melakukan semua yang engkau bisa, dan melaksanakan dengan baik tugas yang seharusnya kaulaksanakan, memuaskan dan menghibur hati Tuhan. Inilah yang disebut menunjukkan kepedulian. Selain itu, mengenai tuntutan Tuhan, engkau mampu menerima dan tunduk padanya, dan dengan demikian memuaskan Tuhan; engkau memiliki keinginan untuk mengikuti kehendak Tuhan dan mampu bekerja sama secara proaktif. Inilah yang disebut menunjukkan kepedulian. Misalnya, ketika engkau membaca firman Tuhan, "Siapa yang dapat menggembalakan domba-domba-Ku? Siapakah Petrus-Ku? Siapakah orang yang mengikuti kehendak-Ku?" firman Tuhan ini akan menyentuhmu. Setelah mendengar firman Tuhan ini, engkau dapat merasakan kecemasan-Nya dan kesedihan-Nya; hatimu akan tergerak, dan engkau akan memasukkan firman Tuhan ke dalam hati dan merenungkannya. Setiap kali melihat firman Tuhan ini, engkau akan tergerak; firman Tuhan ini akan menempati ruang di hatimu, dan engkau akan memiliki keinginan untuk memuaskan Tuhan, memenuhi maksud-Nya dan memberi-Nya penghiburan. Apakah ini menunjukkan kepedulian? (Ya.) Misalnya, Tuhan berfirman, "Aku ingin mendapatkan sekelompok orang di bumi yang selaras dengan maksud-Ku." Engkau merenungkannya di dalam hatimu, "Tuhan ingin mendapatkan sekelompok orang di bumi yang selaras dengan maksud-Nya. Bagaimana Tuhan melakukan ini? Melalui cara apa hal itu akan terlaksana? Bagaimana seharusnya aku bekerja sama agar dapat memuaskan Tuhan?" Ini disebut menunjukkan kepedulian. Di dalam hatimu, engkau harus memahami bagaimana engkau seharusnya mengalami pekerjaan Tuhan untuk menjadi orang yang selaras dengan maksud Tuhan, dan bagaimana engkau seharusnya mengejar kebenaran serta bagaimana engkau seharusnya menerapkan kebenaran agar disempurnakan oleh Tuhan dan menjadi selaras dengan maksud-Nya. Jika engkau memiliki pemikiran semacam itu, engkau akan bersedia untuk secara proaktif bekerja sama dengan Tuhan. Ini disebut menunjukkan kepedulian. Ini adalah sebuah sikap, dan ini juga merupakan sebuah pilihan dalam cara orang berperilaku. Inilah kepedulian itu. Sama seperti orang menghormati orang tua mereka, ketika orang tua mereka mengalami kesulitan, mereka bersedia membantu; ketika mereka melihat bahwa kondisi kesehatan orang tua mereka sedang buruk, di dalam hatinya, mereka menjadi cemas dan mencoba segala cara yang memungkinkan untuk mendapatkan perawatan medis dan perawatan kesehatan bagi orang tua mereka, sehingga orang tua mereka dapat segera pulih dan penyakit serta rasa sakitnya dapat berkurang. Ini adalah perwujudan menghormati orang tua. Artinya, jika engkau tidak mengetahui kesulitan, penyakit, dan rasa sakit orang tuamu, itu adalah satu hal; begitu engkau mengetahuinya, engkau akan sangat peduli dan sangat penuh perhatian, dan engkau akan melakukan yang terbaik untuk mengurangi penderitaan orang tuamu. Ini disebut menunjukkan kepedulian. Lalu bagaimana dengan caramu memperlakukan Tuhan? Tuntutan Tuhan terhadap manusia tidaklah tinggi. Anak-anak dapat menunjukkan kepedulian kepada orang tua mereka, jadi manusia juga dapat menunjukkan kepedulian kepada Tuhan. Apakah sekarang engkau memahami aspek menunjukkan kepedulian kepada Tuhan? (Kami mengerti.)
Jika orang ingin mencapai pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan yang berinkarnasi, syarat keempat yang harus mereka miliki adalah mereka harus memahami maksud Tuhan. Jika engkau ingin menunjukkan kepedulian terhadap hati Tuhan, ingin memuaskan-Nya, ingin keinginan-Nya terpenuhi, dan ingin Dia menerima penghiburan, engkau harus merenungkan: "Apa maksud Tuhan? Apa yang ingin Tuhan lakukan? Apa yang Tuhan inginkan? Apa yang Tuhan cemaskan? Apa yang Dia khawatirkan? Apa yang membuat-Nya sedih? Apa yang membuat-Nya pedih? Untuk apa Tuhan membayar harga? Apa standar yang dituntut Tuhan? Apa tuntutan Tuhan? Apa yang telah Tuhan ungkapkan? Apa yang telah Tuhan katakan kepada umat manusia?" Jika engkau ingin menunjukkan kepedulian terhadap maksud Tuhan, engkau harus memahami apa maksud-Nya. Untuk memahami maksud Tuhan, engkau harus sering mencari dan merenungkan dalam berbagai hal yang kautemui. Entah engkau adalah pemimpin atau pekerja, pengawas suatu pekerjaan, atau orang percaya biasa, engkau harus mencari apa maksud Tuhan dan apa standar yang dituntut-Nya dalam berbagai orang, peristiwa, dan hal yang kautemui. Engkau harus merenungkannya tanpa kenal lelah, serta mencari dan merenungkannya tanpa dibatasi oleh bentuk apa pun. Pada akhirnya, begitu engkau memahami maksud Tuhan dan standar yang dituntut-Nya, akan mudah bagimu untuk mencapai pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan, dan engkau akan memiliki syarat-syarat dasarnya. Jadi katakan kepada-Ku, syarat-syarat dasar apa yang harus orang miliki untuk mencapai pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan? (Orang haruslah memiliki syarat-syarat dalam empat area: pertama, kepercayaan sejati kepada Tuhan; kedua, hati yang murni terhadap Tuhan; ketiga, kepedulian terhadap Tuhan; dan keempat, pemahaman tentang maksud Tuhan.) Apakah engkau semua mengingatnya? Inikah keempat syaratnya? (Ya.) Tidak boleh kurang satu pun; begitu engkau memenuhi keempat syarat ini, engkau dapat memiliki pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan. Masing-masing syarat tersebut terlihat sangat sederhana, tetapi sebenarnya mencapainya tidaklah mudah. Jadi, mana dari keempat syarat ini yang engkau semua miliki? (Jika dinilai secara ketat, kami belum mencapai satu pun darinya.) Jika dinilai secara ketat, engkau tidak memiliki satu pun darinya. Jika tidak dinilai secara ketat, sebagian besar orang memiliki sedikit hati yang murni terhadap Tuhan. Tepatkah mengatakannya demikian? (Tepat.) Adapun ketiga syarat lainnya—iman sejati, kepedulian terhadap Tuhan, dan pemahaman tentang maksud Tuhan—orang sama sekali tidak memilikinya, bukan? (Ya.) Entah engkau memilikinya atau tidak, engkau harus berjuang memenuhi aspek-aspek ini dan mencapai sejauh yang engkau bisa. Jika engkau telah melakukan yang terbaik, maka tingkat apa pun yang pada akhirnya dapat kaucapai, setidaknya engkau akan memiliki hati nurani yang bersih dan telah melakukan yang benar bagi dirimu sendiri. Namun, jika engkau tidak berjuang untuk maju dan pada akhirnya diliputi penyesalan, maka engkau hanya bisa memukuli dada dan menyalahkan dirimu sendiri. Entah engkau dapat memenuhi keempat syarat ini, dan tingkat apa pun yang dapat kaucapai, setidaknya engkau harus berjuang untuk maju. Ini karena sekarang standar tersebut telah diturunkan, dan tuntutannya telah dilonggarkan. Engkau tidak dituntut untuk menjadi selaras dengan Tuhan. Standar untuk menjadi selaras dengan Tuhan sangatlah tinggi, dan engkau tidak dapat memenuhinya. Sekarang engkau hanya dituntut untuk mencapai pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan. Engkau seharusnya berjuang sebaik mungkin untuk mencapai hal ini—tidak menyerah—dan pada akhirnya memiliki iman yang sejati kepada Tuhan, memiliki hati yang murni terhadap Tuhan, memiliki kepedulian terhadap Tuhan, dan mampu memahami maksud Tuhan. Proses untuk mencapai keempat syarat ini juga merupakan proses untuk mencapai pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan. Tentu saja, begitu engkau sepenuhnya mencapai keempat syarat ini, engkau akan memiliki pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan sepenuhnya.
Kita telah selesai bersekutu tentang keempat syarat yang harus orang miliki untuk mencapai pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan. Seperti biasanya, bukankah kita seharusnya memberikan beberapa contoh? Inilah yang paling suka engkau semua dengar, dan ini juga merupakan jalan dan metode yang diperlukan bagi engkau semua untuk memahami berbagai kebenaran. Memberikan beberapa contoh positif dan negatif akan memungkinkan engkau semua untuk memahami kebenaran tentang memiliki pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan dan prinsip-prinsip penerapan dalam hal ini. Menurut pandanganmu, di antara orang-orang di sekitarmu atau orang-orang yang engkau semua kenal, adakah orang yang telah mencapai keempat syarat ini, yaitu yang telah mencapai pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan? Setidaknya, di matamu, orang ini memiliki pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan, mampu memikul beban yang berat, dan mampu menyelesaikan misi yang diberikan oleh Tuhan. Berikan beberapa contoh. Siapakah orang semacam itu? (Orang yang dipakai oleh Roh Kudus.) Selain orang yang dipakai oleh Roh Kudus, dapatkah engkau semua memberikan beberapa contoh lain orang-orang yang memiliki pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan? Mari kita lihat apa kesamaan yang dimiliki oleh orang-orang semacam ini. Melalui beberapa contoh dari mereka, biarlah semua orang melihat apa ciri-ciri yang dimiliki orang-orang semacam ini: perkataan, tindakan, dan perilaku mereka, pemikiran serta pandangan mereka dalam berperilaku dan menangani berbagai hal, sikap mereka terhadap Tuhan dan terhadap kebenaran, sikap mereka terhadap misi dan tugas mereka sendiri—perwujudan yang mereka miliki dan ciri umum yang mereka miliki dalam hal-hal ini. Selain orang yang dipakai oleh Roh Kudus, adakah orang semacam itu? (Tidak ada.) Kalau begitu, mari kita mempersekutukan bagaimana orang yang dipakai oleh Roh Kudus mencapai pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan, atau, dengan kata lain, hal-hal apa yang telah dilakukan oleh orang yang dipakai oleh Roh Kudus yang merupakan perwujudan pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan. Ada orang-orang yang mungkin mengetahui tentang hal ini, dan ada yang tidak. Entah engkau semua mengetahuinya atau tidak, bagaimanapun juga, engkau semua seharusnya berusaha untuk memperoleh pemahaman dan berusaha membandingkan diri berdasarkan topik yang dipersekutukan hari ini.
Untuk mempersekutukan perwujudan pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan yang dimiliki oleh orang yang dipakai Roh Kudus, kita seharusnya mulai dengan perkataan dan firman Roh Kudus kepada gereja-gereja. Perkataan pertama Roh Kudus kepada gereja-gereja menandai titik di mana Tuhan secara resmi mulai mengucapkan firman dan menyampaikan perkataan kepada umat manusia dalam identitas Tuhan itu sendiri, menyingkapkan tahap ketiga pekerjaan-Nya: pekerjaan Zaman Kerajaan, yakni pekerjaan berfirman kepada seluruh umat manusia untuk melaksanakan hajaran dan penghakiman. Mulai dari perkataan pertama Roh Kudus, orang yang dipakai oleh Roh Kudus membacanya, tetapi dia tidak sekadar membacanya sendiri dan kemudian mengedarkannya di gereja. Dia berpikir, "Perkataan ini tidak biasa ataupun lumrah; perkataan ini tampaknya berasal dari Roh Kudus. Karena perkataan ini berasal dari Roh Kudus, semua saudara-saudari di gereja berhak untuk melihatnya. Ini adalah perkataan Tuhan, dan kabar baik ini harus diberitahukan kepada semua orang." Jadi, untuk membuat semua orang di gereja mengetahui kabar ini dan melihat firman serta perkataan Roh Kudus, apa yang seharusnya dilakukan? Orang biasa benar-benar tidak memiliki beban ini, dan mereka juga tidak tahu bagaimana melakukannya. Orang yang dipakai oleh Roh Kudus kemudian mulai melakukan hal ini, yaitu membawakan firman Roh Kudus dan menyebarkannya di dalam gereja, sehingga lebih banyak umat pilihan Tuhan bisa membaca firman Tuhan. Pada saat itu, karena adanya keterbatasan—tidak dapat secara terbuka mencetak buku-buku tentang kepercayaan kepada Tuhan di lingkungan di Tiongkok daratan di mana kepercayaan dianiaya—orang yang dipakai oleh Roh Kudus mengorganisasi kaum muda di gereja yang tulisan tangannya rapi dan yang teliti dalam melakukan segala sesuatu untuk menyalin perkataan Roh Kudus dan membuat salinan karbonnya. Setelah disalin, salinan-salinan itu dikirim ke setiap wilayah dan distrik; distrik-distrik kemudian mengirimkannya ke gereja-gereja di berbagai tempat, dan gereja-gereja kemudian mengirimkannya kepada individu-individu. Setidaknya, setiap gereja harus memiliki satu atau beberapa salinan tulisan tangan perkataan Roh Kudus kepada gereja-gereja. Setiap kali salah satu perkataan terbaru Tuhan diungkapkan, orang yang dipakai oleh Roh Kudus mengatur agar orang-orang membuat salinan karbonnya. Ketika firman yang telah diungkapkan mencapai jumlah tertentu, dia mengorganisasi orang-orang untuk mencetaknya menjadi buku. Di tempat seperti Tiongkok yang begitu gila-gilaan menentang Tuhan, bahkan percaya kepada Tuhan pun berisiko, apalagi mencetak buku-buku tentang kepercayaan kepada Tuhan. Begitu ditangkap, konsekuensinya adalah hukuman mati. Oleh karena itu, membeli mesin dan peralatan cetak pada saat itu juga berisiko. Bahkan dalam kondisi seperti itu, orang yang dipakai oleh Roh Kudus tetap mengorganisasi orang-orang untuk melakukan pekerjaan ini dengan baik, menyuruh orang-orang membeli beberapa mesin dan peralatan, serta mengorganisasi orang-orang untuk mengetik dan belajar penataan huruf, serta mengatur agar saudara-saudari bertanggung jawab atas pencetakan dan menjilid firman Tuhan menjadi buku. Dari mengetik, menata huruf, mengoreksi, dan mencetak hingga menjilid kemudian mendistribusikan buku-buku tersebut ke gereja-gereja di berbagai tempat, orang yang dipakai oleh Roh Kudus mengorganisasi orang-orang untuk melakukan semua pekerjaan ini. Katakan kepada-Ku, jika orang yang dipakai oleh Roh Kudus tidak mengorganisasi semua ini, siapa yang akan memimpin pelaksanaan pekerjaan ini? (Tak seorang pun akan melakukannya.) Dalam melakukan pekerjaan ini, di satu sisi, keamanan harus dipastikan; di sisi lain, orang-orang yang dipilih untuk setiap langkah pekerjaan haruslah sesuai. Melalui proses ini, buku-buku ini pada akhirnya dikirim satu demi satu ke gereja-gereja di berbagai tempat. Meskipun kualitas cetakan buku-buku pada saat itu jauh lebih buruk daripada sekarang, dinilai dari lingkungannya pada saat itu, kondisi keuangan gereja, dan kondisi orang-orang dalam segala aspek, dapat menyediakan satu salinan "Firman yang Dikatakan Roh kepada Jemaat-Jemaat" dan "Ikuti Anak Domba dan Nyanyikan Lagu Baru" untuk setiap orang saja sudah sangat bagus dan sangat sulit. Jika tidak ada orang yang mengorganisasi semua itu dan tidak ada orang yang tepat untuk melaksanakan pekerjaan ini, maka sebanyak apa pun firman dari Roh Kudus kepada gereja-gereja, firman itu tidak akan dapat dikirim ke gereja-gereja tepat pada waktunya, dan bahkan mungkin tidak akan sampai kepada saudara-saudari sama sekali, apalagi sampai setiap orang memiliki satu salinan. Sejak Tuhan mulai mengungkapkan perkataan pertama-Nya hingga sekarang, orang yang dipakai oleh Roh Kudus telah bertekun melaksanakan pekerjaan ini. Pekerjaan mencetak buku memiliki sejarah yang panjang, dan setelah setiap orang mendapat satu salinan, pekerjaan pencetakan dapat dianggap telah mencapai hasil.
Selain mengatur agar orang-orang mencetak "Firman yang Dikatakan Roh kepada Jemaat-Jemaat" dan mendistribusikannya tepat pada waktunya, pekerjaan lain yang dilakukan oleh orang yang dipakai oleh Roh Kudus adalah mendirikan gereja-gereja di berbagai tempat. Pada saat itu, semua gereja di berbagai tempat terdiri dari orang-orang yang baru saja menerima tahap pekerjaan ini. Banyak gereja tidak memiliki pemimpin dan pekerja yang sesuai. Gereja-gereja kacau secara internal, struktur administratifnya kacau, dan urusan personel juga kacau; dengan kata lain, setiap aspeknya kacau. Orang yang dipakai oleh Roh Kudus kemudian mulai membenahi berbagai hal, membentuk struktur administratif, dan membina para pemimpin dan pekerja. Kemudian, selangkah demi selangkah, dia menemukan semua orang yang memiliki semangat, mampu mengorbankan diri, bisa dibina, dan juga mampu meninggalkan keluarga mereka, lalu menugaskan mereka untuk melaksanakan pekerjaan gereja. Pada masa itu, orang-orang di beberapa tempat menikah di usia muda. Di usia enam belas atau tujuh belas, atau delapan belas atau sembilan belas tahun, mereka berpikir untuk menikah, memiliki anak, dan menghasilkan keturunan. Saudara-saudari di gereja pun tidak terkecuali, dan mereka juga dipengaruhi oleh kebiasaan setempat ini. Banyak saudara-saudari yang bersemangat dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan juga telah mencapai usia ini. Jika gereja tidak mempromosikan dan membina mereka, sering menyirami mereka, menaruh beban pada mereka, dan menugaskan mereka untuk melaksanakan pekerjaan di berbagai tempat, maka orang-orang ini mungkin sudah menikah dan mungkin sudah menjadi nenek atau kakek sekarang. Pada waktu itu, beberapa dari kaum muda ini dapat dianggap telah mendapatkan perkenanan khusus. Beberapa gereja tidak dapat menemukan orang-orang dengan kualitas yang baik di antara orang-orang yang lebih tua untuk melayani sebagai pemimpin dan pekerja. Beberapa orang dengan kualitas yang lebih baik tetap tidak bisa meninggalkan keluarga mereka, sementara beberapa orang lainnya memiliki kualitas yang buruk dan sama sekali tidak mampu melakukan pekerjaan nyata, dan hanya memiliki semangat serta bersedia berlari ke sana kemari dan mengorbankan diri mereka. Lalu, apa yang harus dilakukan? Orang yang dipakai oleh Roh Kudus membina beberapa kaum muda yang berkualitas baik dan mempromosikan mereka untuk pergi ke gereja-gereja di berbagai tempat dan melaksanakan pekerjaan, karena mereka bisa meninggalkan keluarga mereka dan relatif bebas. Setelah orang-orang ini dibina, setidaknya, kehidupan bergereja di gereja-gereja di berbagai tempat dapat terjamin. Ditambah dengan firman Roh Kudus kepada gereja-gereja, kehidupan bergereja dan pekerjaan gereja di gereja-gereja di berbagai tempat menjadi agak lebih normal. Beberapa dari kaum muda ini sekarang berusia sekitar lima puluh tahun. Setelah mengikuti Tuhan hingga saat ini, mereka dapat dikatakan telah mengalami banyak hal. Mungkin hal yang paling membuat mereka merasa beruntung adalah bahwa mereka tidak melewatkan kesempatan untuk dipromosikan dan dibina oleh rumah Tuhan pada saat itu, dan mereka juga tidak seperti orang tidak percaya, yang mulai membicarakan pernikahan ketika mereka mencapai usia tersebut dan melangkah ke pelaminan. Meskipun mereka tetap melajang hari ini, mereka telah memperoleh banyak hal dan memahami cukup banyak kebenaran. Mendirikan gereja-gereja di berbagai tempat dan membina para pemimpin dan pekerja adalah satu aspek pekerjaan. Aspek lainnya adalah bahwa kehidupan bergereja bukan sekadar soal bisa membaca firman Tuhan dan memiliki pekerjaan Roh Kudus. Kehidupan bergereja membutuhkan banyak hal. Dalam percaya kepada Tuhan, selain membaca firman Tuhan, orang-orang juga perlu mempersekutukan kebenaran dan menceritakan pengalaman mereka. Mereka juga memiliki beberapa kebutuhan akan berbagai bentuk hiburan, seperti menyanyikan lagu pujian dan menari. Oleh karena itu, orang yang dipakai oleh Roh Kudus membentuk tim lagu pujian, mengorganisasi beberapa orang untuk menulis lagu pujian berdasarkan pengalaman, dan juga menulis lagu pujian sendiri. Tujuannya adalah untuk memberi saudara-saudari lagu untuk dinyanyikan dan memperkaya kehidupan bergereja. Setelah ditulis, bagaimana lagu-lagu pujian itu bisa didistribusikan secara seragam ke gereja-gereja sehingga semua saudara-saudari bisa belajar menyanyikannya? Orang yang dipakai oleh Roh Kudus mengorganisasi orang-orang untuk menyanyikan lagu-lagu pujian itu dan mencari orang-orang untuk merekamnya. Pada saat itu, para penyanyi dan pemusik semuanya amatir. Mereka belum menjalani pelatihan profesional dan mulai berlatih tanpa memiliki banyak pengetahuan musik. Ketika lagu-lagu direkam, tidak ada peralatan rekaman yang bagus, juga tidak ada instrumen berkualitas tinggi untuk iringan musik. Erhu dianggap sebagai instrumen yang relatif praktis, dan dengan satu erhu saja, sudah bisa dianggap ada iringan musik. Beberapa individu juga bisa sedikit memainkan akordeon atau kibor elektronik. Singkatnya, mereka semua amatir, tetapi mencapai tingkat tersebut pada saat itu saja sudah bukan hal yang mudah. Tentu saja, entah karya yang pada akhirnya dihasilkan itu bagus atau tidak, perlu ada seseorang untuk mengorganisasikannya. Apa pun yang gereja-gereja butuhkan, apa pun yang saudara-saudari butuhkan, dan kerja sama apa pun yang dituntut oleh pekerjaan Tuhan dari manusia, orang yang dipakai oleh Roh Kudus dapat memikirkan semuanya dan terus menindaklanjuti hal-hal ini. Artinya, dalam batas kemampuannya, dia mewujudkan segala sesuatu yang dapat dipikirkan manusia, dan juga berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan segala sesuatu yang dapat dilakukan manusia. Dengan cara ini, orang yang dipakai oleh Roh Kudus mengorganisasi dan menindaklanjuti pekerjaan ini, mengirimkan buku-buku cetak firman Tuhan, buku lagu pujian, serta kaset dan CD rekaman ke semua gereja, sehingga semua saudara-saudari dapat membaca firman Tuhan, dapat mempelajari lagu pujian, dan memiliki kehidupan bergereja yang baik. Meskipun kehidupan bergereja pada saat itu relatif sederhana dibandingkan dengan sekarang, dan kondisinya relatif sulit, tanpa peralatan modern ataupun mesin berkualitas tinggi, dan tanpa pemimpin dan pekerja atau personel teknis yang layak dipakai, karena orang yang dipakai oleh Roh Kudus mengorganisasi dan menindaklanjuti pekerjaan ini serta terus-menerus meningkatkan setiap pekerjaan, orang-orang tetap dapat menikmati kehidupan bergereja yang baik dalam kondisi saat itu. Kehidupan bergereja yang baik ini berarti bahwa orang-orang dapat membaca firman terbaru Tuhan, merasakan kenikmatan, dan memperoleh kebebasan. Semua orang dapat membaca perkataan terbaru Tuhan kepada umat manusia dan mengetahui maksud Tuhan pada saat itu juga, pemikiran Tuhan tentang manusia, dan tuntutan-Nya terhadap manusia. Yang lebih baik lagi, ada orang-orang yang dapat memahami kebenaran dalam firman Tuhan dan memiliki sedikit jalan masuk. Melalui pengorganisasian dan pengaturan berbagai hal oleh orang yang dipakai Roh Kudus dengan cara ini, di satu sisi, gereja-gereja didirikan, dan di sisi lain, semua orang mulai menjalani kehidupan bergereja yang normal dan tertib. Rumah Tuhan bukanlah kelompok agama. Kehidupan bergereja tidak mempraktikkan ritual keagamaan, apalagi mempraktikkan khotbah monolog. Kehidupan bergereja di rumah Tuhan harus mencakup makan dan minum firman Tuhan, serta pekerjaan Roh Kudus; itu harus mencakup mempersekutukan kebenaran dan membicarakan kesaksian berdasarkan pengalaman, dan juga harus mencakup menyanyikan lagu pujian dalam memuji Tuhan. Kehidupan bergereja semacam ini adalah kehidupan bergereja di bawah pimpinan dan arahan, penyiraman dan pembekalan, serta bimbingan dan bantuan Tuhan; ini adalah kehidupan bergereja yang sejati. Meskipun jika dibandingkan dengan kehidupan bergereja sekarang, kehidupan bergereja pada saat itu sangat dangkal, sangat sepihak, dan sangat sederhana, itulah yang dibutuhkan manusia pada saat itu, dan itu juga agar manusia dapat menikmati pencerahan dan penerangan Roh Kudus, yaitu agar semua umat pilihan Tuhan dapat menikmati firman Tuhan dalam kehidupan bergereja dan mendengar suara Tuhan dengan telinga mereka sendiri. Ini adalah awal yang baik bagi kehidupan bergereja. Tanpa kehidupan bergereja semacam itu, engkau semua tidak mungkin bisa bertahan hingga hari ini. Justru karena ada kehidupan bergereja yang teratur dan stabil dengan hasil yang nyata seperti ini, orang-orang dapat selangkah demi selangkah sampai pada keadaan mereka sekarang ini dan dibawa ke keadaan mereka sekarang ini, serta memiliki tingkat pertumbuhan yang mereka miliki sekarang ini dan hasil yang mereka peroleh sekarang ini dalam segala aspek. Inilah pekerjaan yang dilakukan orang yang dipakai oleh Roh Kudus dalam hal administrasi gereja, personel, dan pekerjaan spesifik gereja. Orang yang dipakai oleh Roh Kudus juga melakukan pekerjaan penting di bidang lain, yaitu menyampaikan khotbah kepada gereja-gereja segera setelah firman Roh Kudus disampaikan. Dia secara berkala maupun tidak berkala memanggil para pemimpin dan pekerja untuk berkumpul dan mempersekutukan maksud Tuhan, mempersekutukan prinsip-prinsip kebenaran yang seharusnya dipegang teguh oleh orang-orang dalam kehidupan mereka sehari-hari dan dalam pelaksanaan tugas mereka, dan juga mempersekutukan cara mendirikan gereja-gereja dan menyirami gereja-gereja, serta mempersekutukan cara melayani Tuhan. Orang yang dipakai oleh Roh Kudus berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan pekerjaan ini dengan baik, mempersekutukan topik-topik tentang jalan masuk kehidupan dan juga mempersekutukan kebenaran mengenai melayani Tuhan. Inilah yang meninggalkan kesan terdalam bagi-Ku.
Pekerjaan yang dilakukan orang yang dipakai oleh Roh Kudus berkaitan erat dengan maksud Tuhan dan tujuan Tuhan dalam mendirikan gereja-gereja di bumi, dan memiliki keterkaitan yang tak terpisahkan dengan pekerjaan yang akan segera Tuhan lakukan atas umat pilihan-Nya. Tepatnya, apa yang dikatakan orang yang dipakai oleh Roh Kudus, apa yang menjadi fokusnya, apa yang dia tindak lanjuti, apa yang diawasinya, dan apa yang dilakukannya di gereja selama setiap periode, semua itu dilakukan dalam kerja sama yang erat dengan pekerjaan Roh Kudus; dia berjuang untuk bekerja sama semaksimal mungkin dalam menerapkan kepemimpinan apa pun yang diberikan Roh Kudus, penyingkapan apa pun yang Tuhan berikan, dan makna serta tuntutan apa pun yang ada dalam firman Tuhan, agar firman Tuhan tidak sia-sia, agar maksud Tuhan tidak sia-sia, dan agar semua orang pada saat itu dapat mengetahui dan memahami maksud Tuhan dan firman Tuhan. Meskipun tidak sampai pada titik di mana setiap rumah tangga mengetahuinya, setidaknya, di bawah kepemimpinan orang yang dipakai oleh Roh Kudus, semua orang pada saat itu dapat mengikuti aliran ini dengan saksama dan merasakan bahwa aliran ini memiliki pekerjaan Roh Kudus, memiliki pekerjaan Tuhan, memiliki firman Tuhan, dan memiliki maksud Tuhan. Mereka yakin bahwa aliran ini berasal dari Tuhan, yakin bahwa aliran ini benar, dan setidaknya, yakin bahwa orang yang dipakai oleh Roh Kudus adalah orang yang tepat. Apa pun perbedaan di antara semua yang dia lakukan pada saat itu dan apa yang sedang dilakukan pada saat ini, singkatnya, semua yang dia lakukan adalah untuk menjunjung tinggi dan bekerja sama dengan pekerjaan yang dilakukan oleh Roh Kudus. Dalam hal tingkat pemahaman orang-orang di gereja akan kebenaran pada saat itu, orang yang dipakai oleh Roh Kudus mampu melakukan hal-hal ini dan mampu membawa gereja ke tingkat yang telah dicapainya saat itu. Menurutmu, manakah dari keempat perwujudan memiliki pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan yang dia miliki? (Kurasa dia memiliki keempatnya.) Agak kurang objektif jika mengatakan bahwa dia juga memiliki yang keempat, "memahami maksud Tuhan", tetapi dalam pandangan-Ku, dia memiliki setidaknya tiga perwujudan lainnya: kepercayaan sejati, hati yang murni, dan kepedulian. "Kepedulian" ini adalah perwujudan yang paling jelas. Dia adalah seseorang yang memikirkan beban Tuhan, dan dalam melakukan begitu banyak pekerjaan, dia tidak pernah bersiasat untuk memperoleh apa pun yang berkaitan dengan uang atau keuntungan pribadi bagi dirinya sendiri. Engkau semua mungkin tidak mengerti apa yang Kumaksud dengan hal ini, jadi Aku akan memberimu sebuah contoh. Sejak orang yang dipakai oleh Roh Kudus mulai mengorganisasi pencetakan buku dan hingga saat ini, saudara-saudari tidak pernah dikenakan biaya satu sen pun untuk buku apa pun yang telah didistribusikan oleh gereja kita. Bukan berarti kami baru berhenti memungut biaya untuk buku-buku itu setelah gereja memiliki sarananya; bahkan pada awalnya, ketika kondisi keuangan sangat sulit, kami tidak memungut biaya satu sen pun. Mengapa demikian? Meskipun gereja tidak terlalu berkecukupan secara finansial pada saat itu, mengingat sumber daya keuangan yang terbatas yang tersedia saat itu, gereja pada dasarnya mampu menutupi pengeluaran seperti biaya pencetakan buku, sehingga saudara-saudari tidak dikenakan biaya untuk buku-buku yang didistribusikan kepada mereka dan dapat membacanya secara gratis. Seiring dengan terus dicetaknya buku-buku, jumlah total dana gereja menjadi makin sedikit. Pada saat itu, sebagian besar saudara-saudari yang telah bertahun-tahun percaya kepada Tuhan tidak memiliki sumber pendapatan karena selama ini melaksanakan tugas mereka, dan mereka tidak memiliki banyak uang. Akibatnya, uang yang dipersembahkan terkadang tidak dapat menutupi pengeluaran gereja dan berbagai biaya. Aku ingat dengan sangat jelas bahwa, pada satu kesempatan, ada sejumlah buku yang perlu dicetak, tetapi sisa uang gereja hanya beberapa ribu yuan. Setelah biaya pencetakan buku dibayarkan, tidak akan ada uang yang tersisa untuk pekerjaan gereja. Jika para pemimpin dan pekerja memerlukan biaya perjalanan untuk pergi ke suatu tempat, atau jika ada biaya hidup yang perlu ditanggung saat menjadi tuan rumah bagi saudara-saudari pada pertemuan besar, mungkin tidak ada uang untuk membayarnya. Apa yang harus dilakukan? Dalam kondisi seperti ini, haruskah buku-buku itu tetap dicetak? (Ya, harus.) Buku-buku itu tetap harus dicetak, dan uangnya tetap harus dibayarkan. Orang yang dipakai oleh Roh Kudus memikirkan sebuah solusi. Dia mengatakan bahwa beberapa yuan harus dikumpulkan terlebih dahulu untuk setiap buku dalam lot ini, sekadar cukup untuk menutupi biaya pencetakan lot ini. Dalam situasi ini, uang dikumpulkan terlebih dahulu pada satu kesempatan itu. Namun, setelah beberapa waktu, saudara-saudari di gereja memberikan persembahan lagi, dan ada cukup uang untuk menutupi biaya pencetakan lot berikutnya. Sejak saat itu, keuangan gereja membaik, dan kami tidak pernah lagi memungut uang untuk mencetak buku. Kejadian itu hanyalah selingan singkat. Apa gunanya menyebutkan hal ini? Poinnya adalah bahwa, bahkan ketika kondisi keuangan sedang sangat sulit, kami tidak berhenti mencetak buku-buku kami. Orang yang dipakai oleh Roh Kudus mencoba segala cara yang memungkinkan dan, seperti kepala rumah tangga, menjadi cemas tentang hal ini, merenungkannya, dan membuat rencana untuk mengatasinya. Sebagian besar orang tidak tahu tentang hal-hal ini. Ketika buku-buku firman Tuhan ini didistribusikan ke gereja-gereja, hal yang paling banyak dikatakan orang saat menerimanya adalah, "Buku ini sangat bagus! Kita mencetaknya sendiri; pasti itu sangat sulit!" Ada orang-orang yang bahkan tidak menghargai buku ini atau membacanya dengan sebagaimana mestinya. Namun, orang-orang tidak tahu berapa banyak kesulitan yang dihadapi Yang di Atas di balik layar saat melakukan pekerjaan ini dan mencetak buku ini. Di gereja kita, ada cukup banyak orang yang berasal dari Gereja Lokal atau denominasi lain. Sebelumnya, para pemimpin dan rasul di daratan dari denominasi-denominasi tersebut tidak melakukan pekerjaan mencetak buku. Mereka mengambil sebagian besar uang yang dipersembahkan oleh saudara-saudari di berbagai gereja, tetapi mereka tidak mencetak buku atau membuat lagu pujian tersedia secara luas. Rekaman khotbah apa pun dari tingkat yang lebih tinggi tidak pernah didistribusikan kepada orang-orang di tingkat bawah. Mereka tidak melakukan satu pun dari pekerjaan ini. Umat pilihan Tuhan tidak memiliki apa pun selain Alkitab. Jika engkau ingin membaca kumpulan khotbah atau kesaksian berdasarkan pengalaman, engkau tidak bisa mendapatkannya; jika engkau ingin mendengarkan beberapa lagu pujian yang bagus, itu bahkan lebih sulit. Tidak ada yang melakukan pekerjaan ini. Jika engkau ingin membaca buku-buku rohani, engkau harus memiliki hubungan pribadi dengan mereka, lalu barulah mereka meminjamkan satu buku untuk kaubaca. Umat pilihan Tuhan sama sekali tidak bisa mendapatkan pembekalan hidup, dan tidak ada orang baik yang memimpin dan mengelola kehidupan bergereja. Para rasul dan pemimpin itu sama sekali tidak melakukan pekerjaan nyata. Satu hal yang rutin mereka lakukan adalah sesekali mengadakan pertemuan rekan kerja di mana mereka makan dan minum dengan mewah. Mungkin inilah "pekerjaan" yang mereka lakukan. Pada saat itu Aku masih muda, baru berusia tujuh belas atau delapan belas tahun, dan ketika mendengar tentang hal-hal ini, Aku merasa, "Kacau sekali! Apakah ini orang-orang yang percaya kepada Tuhan? Bagaimana mungkin ini tindakan orang-orang yang percaya kepada Tuhan?" Aku menjadi sangat marah ketika mendengar tentang hal ini. Kami tidak peduli dengan apa yang mereka makan atau apa yang mereka nikmati. Singkatnya, setidaknya mereka tidak mengatur kehidupan bergereja dengan semestinya, mereka tidak mendistribusikan makanan rohani yang dibutuhkan orang-orang—buku dan lagu pujian—dan mereka tidak membina para pemimpin dan pekerja. Mereka tidak melakukan satu pun dari pekerjaan ini. Gereja menerima persembahan dalam jumlah yang tidak sedikit, tetapi ketika mereka pergi ke gereja-gereja di berbagai tempat, yang mereka pedulikan hanya makan, minum, dan bersenang-senang. Mereka tidak melakukan pekerjaan nyata dan tidak pernah menggunakan persembahan untuk pekerjaan gereja. Dalam pertemuan, mereka hanya membicarakan beberapa doktrin dan meneriakkan beberapa slogan, itu saja; mereka tidak pernah menyelesaikan masalah nyata. Setelah orang yang dipakai oleh Roh Kudus mulai bekerja, dia menghentikan fenomena ini. Dia mulai menyelesaikan setiap masalah dan mulai melakukan pekerjaan nyata sedikit demi sedikit, sehingga kehidupan bergereja dan pekerjaan pengaturan personel gereja berangsur-angsur berubah dan berada di jalur yang benar, dan ini terus berlanjut hingga saat ini. Persembahan Tuhan adalah apa yang orang persembahkan kepada Tuhan. Jika dilihat dari pengelolaan dan penggunaan persembahan, biaya hidup Tuhan yang berinkarnasi hanya merupakan porsi yang sangat kecil. Sebagian besar persembahan yang tersisa digunakan untuk pekerjaan pemberitaan Injil, biaya hidup para pemimpin dan pekerja serta orang-orang yang melaksanakan tugas mereka secara penuh waktu, dan pembelian mesin serta peralatan yang dibutuhkan untuk pekerjaan gereja, dan sebagainya. Singkatnya, semua pengeluaran ini masuk akal dan digunakan untuk pekerjaan rumah Tuhan, alih-alih untuk menghidupi orang-orang tidak berguna yang tidak dapat melaksanakan tugas mereka. Berbicara tentang pekerjaan rumah Tuhan, cakupannya luas. Orang yang dipakai oleh Roh Kudus menggunakan persembahan ini dengan semestinya, membangun kehidupan bergereja sedikit demi sedikit, dan menata pekerjaan administratif sedikit demi sedikit. Berbagai jenis orang di gereja juga dikategorikan: Orang yang melaksanakan tugas dibedakan dari orang yang tidak melaksanakannya, dan orang yang mencintai kebenaran dibedakan dari orang yang muak akan kebenaran. Mereka yang harus dikeluarkan telah dikeluarkan, dan orang-orang yang sesuai untuk dibina pada periode yang berbeda juga dipromosikan. Inilah hal-hal yang telah engkau semua lihat dan alami. Sepanjang perjalanan ini, tentu saja, orang yang dipakai oleh Roh Kudus berangsur-angsur memahami kebenaran dan menghayati prinsip-prinsip untuk melaksanakan pekerjaan selama proses mengalami hal-hal ini. Di satu sisi, dia menerima pencerahan Roh Kudus melalui pelaksanaan pekerjaan. Di sisi lain, melalui pekerjaan dan firman Tuhan, dia berangsur-angsur makin memahami maksud Tuhan. Pemahamannya tidak sekadar berhenti pada tingkat doktrin, juga tidak terbatas pada peraturan dan penerapan. Sebaliknya, pemahamannya menjadi makin nyata, dan dia menjadi makin mampu melaksanakan pekerjaan gereja dengan baik sesuai dengan tuntutan Tuhan, membuat kehidupan bergereja lebih stabil dan lebih normal, serta lebih bermanfaat bagi jalan masuk kehidupan orang-orang. Oleh karena itu, dalam proses terus-menerus mencari dan terus-menerus menyelidiki, orang yang dipakai oleh Roh Kudus memahami maksud Tuhan, bekerja sama secara erat dengan Tuhan, menunjukkan kepedulian terhadap maksud Tuhan, dan berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakan pekerjaan gereja dengan baik, berusaha memastikan dengan lebih tepat bahwa maksud Tuhan tidak akan sia-sia dan kehendak Tuhan dapat terlaksana. Dalam setiap hal yang dia lakukan, baik hal yang berkaitan dengan personel maupun dengan jalan masuk kehidupan, dan baik itu berkaitan dengan urusan eksternal maupun hal-hal internal, dia berjuang agar sesuai dengan prinsip dan sesuai dengan maksud Tuhan, tanpa menyimpang ke kiri atau ke kanan. Orang yang dipakai oleh Roh Kudus melakukan pekerjaannya dengan keempat syarat ini: kepercayaan sejati, hati yang murni, kepedulian, dan pemahaman akan maksud Tuhan. Bagi engkau semua, ini tidak hanya sangat bermanfaat dan sangat membantu; ini adalah berkatmu! Jika orang ini bukanlah orang yang tepat, melainkan orang yang mengejar ketenaran dan keuntungan serta mendambakan manfaat dari status, orang yang licik, orang yang hanya berorientasi pada keuntungan dan matanya berbinar saat melihat uang, atau pengikut yang bukan orang percaya, katakan kepada-Ku, mungkinkah dia melakukan pekerjaan ini? Mungkinkah dia bekerja sama dengan semua cara ini? Mungkinkah dia mencapai pemahaman yang sehati sepikir seperti itu dengan Tuhan yang berinkarnasi? (Tidak.) Jadi, orang ini sangat penting! Terutama karena orang yang dipakai oleh Roh Kudus memiliki keempat syarat yang baru saja kita bicarakan, dia mampu melaksanakan pekerjaan gereja ini dengan baik. Mengenai hal yang sama, orang-orang memiliki hak untuk memilih sekaligus ruang untuk menentukan pilihan. Mereka dapat memilih untuk menangani hal ini dengan buruk, dan tentu saja mereka juga dapat memilih untuk menanganinya dengan baik. Jika mereka menanganinya dengan baik, orang-orang yang tak terhitung banyaknya akan mendapat manfaat, dan firman yang Tuhan ucapkan serta pekerjaan yang Tuhan lakukan akan berangsur-angsur membuahkan hasil dalam diri orang-orang. Namun, jika orang tidak menempuh jalan yang baik dan malah dengan sembarangan berbuat buruk, hal-hal seperti apa yang akan mereka lakukan? Mereka akan menggunakan semua persembahan Tuhan untuk kenikmatan pribadi, membeli mobil mewah dan rumah mewah, dan bahkan membeli pesawat pribadi serta kapal pesiar untuk bepergian ke negara-negara di seluruh dunia, menikmati makan, minum, dan bersenang-senang. Paling-paling, mereka sesekali akan menyampaikan beberapa khotbah, dan itu saja. Mereka tidak akan melakukan pekerjaan gereja sama sekali dan akan mengabaikan gereja sekalipun gereja dalam keadaan kacau balau; mereka hanya memedulikan kenikmatan mereka sendiri. Jika orang semacam itu memimpin gereja, apakah akan mudah bagimu untuk memiliki kehidupan bergereja yang baik dan lingkungan yang baik untuk melaksanakan tugasmu? (Tidak.) Jadi, memang perlu ada orang baik seperti orang yang dipakai oleh Roh Kudus untuk memimpin engkau semua. Ada orang-orang yang melihat pekerjaan yang dilakukan orang yang dipakai oleh Roh Kudus dan tetap menganggapnya bukan apa-apa, berpikir, "Ini mudah. Siapa yang tidak bisa melakukannya? Asalkan orang memahami maksud Tuhan, dan merupakan orang yang dipakai oleh Tuhan, orang yang ditunjuk oleh Tuhan, melakukan pekerjaan ini adalah hal yang mudah." Katakan kepada-Ku, apakah itu mudah? (Tidak.) Tidaklah mudah untuk melakukan pekerjaan ini dengan baik, apalagi di lingkungan penganiayaan agama seperti di Tiongkok daratan. Orang yang dipakai oleh Roh Kudus diburu pihak berwenang; ke mana pun dia pergi untuk menghadiri pertemuan atau pekerjaan apa pun yang dia lakukan, dia mempertaruhkan nyawanya, dan jika ditangkap, dia akan mati. Lalu, apakah dia melepaskan tugasnya? Apakah dia mundur? Apakah dia mencoba bersikap licik dan bermalas-malasan? (Tidak.) Betapa pun takut atau betapa pun lemah hatinya, dia tidak pernah melepaskan tugasnya. Ada orang-orang yang—ke mana pun mereka pergi—tidak memikul pekerjaan penting ataupun menghadapi bahaya besar. Ketika mereka berkata, "Aku tidak pernah melepaskan pelaksanaan tugasku," ini mudah dikatakan dan mudah dilakukan. Namun, mengingat kondisi yang dialami orang yang dipakai oleh Roh Kudus, dia mampu untuk tidak menyerah di lingkungan yang begitu berbahaya dan juga mengurus setiap aspek pekerjaan gereja—dia harus memikirkan setiap area pekerjaan dan setiap masalah, dan harus memikirkan semua itu sebelum orang lain melakukannya—apakah menurutmu ini mudah untuk dilakukan? (Tidak.) Tenaga manusia dan apa yang mampu ditanggung oleh kapasitas alami manusia sama-sama terbatas. Ketika engkau melihat dia melakukannya, tampaknya mudah, tetapi jika engkau diminta untuk melakukannya, engkau akan tahu betapa sulitnya dan betapa tidak mudahnya hal itu. Di antara engkau semua yang telah mendengarkan khotbah selama bertahun-tahun, Aku belum menemukan orang lain seperti ini, dan Aku juga belum menemukan siapa pun yang dapat memikul pekerjaan ini. Cukup banyak orang mulai mengikuti ketika Roh Kudus mulai berfirman kepada gereja-gereja dan terus mengikuti hingga saat ini. Mereka seharusnya tahu dan memahami dengan jelas apa yang telah dialami gereja selama berkembang menjadi seperti saat ini dan bagaimana gereja telah sampai sejauh ini selangkah demi selangkah. Jika bukan karena kepedulian dan pemahaman yang ditunjukkan orang yang dipakai oleh Roh Kudus terhadap beban Tuhan, maka dari perspektif manusia, gereja tidak mungkin berkembang hingga keadaannya menjadi seperti saat ini. Tentu saja, ada orang-orang yang akan berkata, "Bukankah pekerjaan dan pimpinan Roh Kuduslah yang memungkinkannya mencapai hasil seperti itu dalam pekerjaannya?" Roh Kudus juga ingin bekerja atasmu, tetapi apakah engkau memiliki hati yang murni dan kepedulian itu? Bisakah engkau melakukannya? Kurasa engkau belum tentu bisa melakukannya. Bukannya meremehkanmu, tetapi pada dasarnya engkau tidak bisa melakukannya. Orang yang dipakai oleh Roh Kudus dan engkau sama-sama manusia, tetapi dia bisa melakukannya dan engkau tidak bisa. Ini membuktikan bahwa ada perbedaan di antara orang-orang. Tuhan memilihnya untuk melaksanakan pekerjaan ini, dan Tuhan tidak salah dalam memilih orang. Setidaknya, orang ini memenuhi syarat ini dan memiliki kualifikasi ini, sedangkan engkau tidak. Engkau tidak memiliki syarat-syarat yang Tuhan tuntut, jadi Tuhan memilihnya dan tidak memilihmu. Engkau tidak punya pilihan selain yakin. Ini adalah fakta, dan tidak ada yang bisa menyangkalnya, bukan? (Ya.)
Sekarang setelah kita selesai membicarakan kehidupan bergereja, pencetakan buku, dan setiap aspek gereja, selanjutnya mari kita membicarakan pemberitaan Injil yang dimulai pada tahun 1995. Pada saat itu, orang yang dipakai oleh Roh Kudus bertanya kepada-Ku, "Bolehkah memberitakan Injil sekarang? Ada orang-orang yang berkata mereka ingin pergi keluar dan memberitakan Injil," dan Aku setuju. Setelah itu, orang yang dipakai oleh Roh Kudus mulai membuat pengaturan untuk pekerjaan ini. Dia tidak sekadar mengorganisasi tim penginjilan kemudian mengutus orang-orang tertentu ke tempat-tempat tertentu untuk memberitakan Injil, membuat satu pengaturan sederhana tersebut, dan menganggap semuanya sudah beres. Sembari mengorganisasi tim penginjilan, dia merenungkan bagaimana cara memberitakan Injil kepada berbagai agama dan denominasi, kebenaran Injil apa yang dibutuhkan oleh orang-orang di berbagai agama dan denominasi, dan bagian serta isi mana dari firman Tuhan yang harus dipilih untuk dimasukkan ke dalam buku-buku penginjilan. Dia kemudian memilih dan menyusun beberapa firman Tuhan yang esensial mengenai berbagai aspek kebenaran Injil dan mencetaknya sebagai buku-buku khusus untuk memberitakan Injil. Setelah buku-buku itu dicetak, orang yang dipakai oleh Roh Kudus juga mengorganisasi pelatihan bagi para pekerja penginjilan dan secara pribadi menyusun prinsip-prinsip untuk memberitakan Injil. Inilah pekerjaan konkret yang dia lakukan. Artinya, ketika Aku memberitahunya tentang suatu hal, dia pergi dan melaksanakannya tanpa banyak bicara dan tanpa kompromi. Dia tidak merepotkan-Ku atau terus-menerus mengganggu-Ku dengan pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana cara melakukannya. Aku tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Jika suatu hal dipercayakan kepada engkau semua, Aku masih harus mengkhawatirkannya dan memeriksanya. Namun, jika menyangkut orang yang dipakai oleh Roh Kudus, Aku cukup memberitahunya dalam satu kalimat tentang apa yang harus dilakukan, dan dia langsung mengerjakan serta melaksanakannya. Hal yang meninggalkan kesan paling mendalam bagi-Ku adalah bahwa orang yang dipakai oleh Roh Kudus menyusun banyak prinsip pemberitaan Injil, seperti cara memberitakan Injil, siapa yang bisa diinjili dan siapa yang tidak bisa diinjili, serta metode mana yang digunakan untuk memberitakan Injil dan metode mana yang tidak boleh digunakan untuk memberitakannya. Dia menyusun cara dan metode yang spesifik, poin demi poin, dengan sangat terperinci. Kemudian dia sering mengadakan pertemuan untuk tim penginjilan, meminta mereka mengajukan pertanyaan, dan bersekutu dengan mereka untuk memberikan jawabannya. Dia juga mengidentifikasi apa saja gagasan dan pertanyaan yang dimiliki orang-orang beragama tentang pekerjaan Tuhan pada akhir zaman, bagaimana hal-hal ini harus dihadapi, kebenaran mana yang seharusnya dipersekutukan, dan metode mana yang seharusnya digunakan untuk menjawab pertanyaan mereka. Dia mengurus setiap hal, baik besar maupun kecil, menanganinya sedikit demi sedikit seperti semut yang menggerogoti tulang. Engkau lihat, Aku mengucapkan satu kalimat lalu dia langsung melaksanakannya, dan Aku tak perlu turun tangan untuk mengurusnya. Mengapa Kukatakan demikian? Dengan adanya orang yang dipakai oleh Roh Kudus yang melakukan pekerjaan itu di sana, Aku tak perlu khawatir, karena dia sepenuhnya mampu memikul pekerjaan ini. Dia menunjukkan kepedulian dan juga mencari. Tentu saja, dia juga tunduk dan benar-benar membayar harga. Artinya, dia mampu membawakan firman yang Kuucapkan dan tuntutan-Ku, lalu melaksanakannya. Dengan cara ini, Injil disebarkan sedikit demi sedikit. Berapa banyak pun orang yang memberitakan Injil, bagaimanapun juga, berkat orang yang dipakai oleh Roh Kudus, pekerjaan ini diluncurkan dan mulai mengalami kemajuan. Dialah yang mengorganisasi, menindaklanjuti, melaksanakan, dan mengawasinya, membawa pekerjaan itu sedikit demi sedikit hingga menjadi seperti sekarang ini. Dapat dikatakan bahwa pencapaian saat ini dalam pekerjaan tersebut diraih berdasarkan pengaturan pekerjaan awal, ketentuan mengenai rincian pekerjaan, dan pengaturan urusan umum tersebut. Semua hal ini adalah pekerjaan yang dilakukan orang yang dipakai oleh Roh Kudus. Dia memiliki hati yang murni dan telah membayar harga yang nyata. Bukankah ini fakta? (Ya.)
Seiring makin luasnya penyebaran Injil Kerajaan dan makin banyaknya orang yang menerima tahap pekerjaan ini, persoalan apa yang tercakup di dalamnya? Itu mencakup persoalan mendirikan gereja-gereja. Mampukah engkau semua melakukan pekerjaan mendirikan gereja-gereja dengan baik? Engkau semua tetap tidak mampu melakukannya dengan baik. Orang yang dipakai oleh Roh Kudus tetap harus secara pribadi membuat pengaturan kerja, mengatur pelaksanaan pekerjaan ini, dan melaksanakan pekerjaan ini, serta secara pribadi mengawasi, menindaklanjuti, dan mendorong kemajuan pekerjaan ini. Oleh karena itu, dia sering mengadakan pertemuan bagi para pemimpin dan pekerja serta orang-orang yang bertanggung jawab atas pekerjaan penginjilan, memberi tahu mereka cara mendirikan gereja-gereja, berapa banyak orang yang seharusnya membentuk satu gereja, berapa banyak gereja yang seharusnya membentuk satu distrik, berapa banyak distrik yang seharusnya membentuk satu wilayah, berapa banyak pemimpin gereja dan berapa banyak diaken yang seharusnya diangkat di setiap gereja, dan sebagainya. Dia membuat ketentuan spesifik mengenai setiap rincian yang tercakup dalam pekerjaan gereja, termasuk pengaturan spesifik untuk pengelolaan dan penggunaan persembahan. Semua ini adalah pekerjaan yang dilakukan orang yang dipakai oleh Roh Kudus. Katakan kepada-Ku, apakah dia memiliki pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan yang berinkarnasi? (Ya.) Jika dia tidak memiliki kepedulian akan maksud Tuhan di dalam hatinya, atau hanya memiliki sedikit kepedulian, atau jika kepedulian yang dia tunjukkan sudah berkurang hingga taraf tertentu, dapatkah pekerjaan ini dilaksanakan? (Tidak.) Jika pekerjaan ini tidak dilaksanakan, situasi apa yang akan muncul di gereja? (Kehidupan bergereja akan menjadi kacau.) Bukan hanya kehidupan bergereja yang akan kacau, tetapi semua aspek pekerjaan gereja juga akan kacau. Orang-orang jahat juga akan mampu menyebabkan kekacauan dan gangguan, dan bahkan memegang kekuasaan serta menjadi penentu keputusan di gereja. Pekerjaan mendirikan gereja-gereja di mana-mana akan kacau, dan berbagai pekerjaan seperti pengaturan personel dan pengelolaan persembahan akan kacau. Jika orang yang melayani sebagai pemimpin tidak memiliki hati yang benar-benar memikirkan Tuhan dan, saat melihat bahwa gereja sedang berkembang dengan baik, makin besar skalanya, dan makin banyak jumlahnya, mereka mulai menikmati manfaat dari status, hidup dengan mengandalkan pencapaian masa lalu, dan menghabiskan sisa hidup mereka dalam kenyamanan, jika orang semacam inilah yang menjadi pemimpin, pekerjaan gereja tidak akan terlaksana dengan baik. Namun, orang yang dipakai oleh Roh Kudus selalu melakukan yang terbaik dalam pekerjaan gereja hingga saat ini. Ungkapan yang sering digunakan oleh orang-orang yang memiliki tekad adalah, "Selama hidup terus berjalan, perjuangan akan terus berlanjut." Bagi orang yang dipakai oleh Roh Kudus, selama hidup terus berjalan, pekerjaan akan terus berlanjut. Dia selama ini terus bekerja. Bahkan ketika engkau memintanya untuk beristirahat, dia tidak beristirahat; dia bekerja seperti ini setiap hari dan bertekun dalam bekerja betapa pun lelah dirinya. Apakah ini sesuatu yang dapat dicapai hanya dengan memahami maksud Tuhan? Apakah dia bekerja hanya karena ada seseorang yang mengawasi dan mendorongnya? Tidak. Hati orang-orang tidaklah sama. Orang ini memiliki hati yang takut akan Tuhan dan memikirkan hati Tuhan. Ini sangatlah penting! Betapa pun lelah dirinya, dia tidak menjadi negatif, dan kesulitan apa pun yang ditemuinya, dia tidak mundur; dia selama ini bertekun dalam bekerja. Oleh karena itu, semua pekerjaan gereja kini telah berada di jalur yang benar selangkah demi selangkah, berjalan makin lancar, dan mencapai hasil yang makin baik. Bagaimana rasanya dipimpin oleh orang semacam ini dalam melaksanakan setiap pekerjaan konkret? Jika tidak dipimpin oleh orang ini, apa yang akan terjadi padamu? Bukankah engkau semua akan sangat banyak kekurangan? (Ya.) Keberadaan orang ini sangat penting bagi engkau semua. Dia telah membawa setiap pekerjaan gereja ke jalur yang benar. Masalah yang muncul di setiap langkah pekerjaan telah menjadi makin sedikit, masalah yang perlu diselesaikan telah menjadi makin sedikit, dan prinsip-prinsip kebenaran yang orang pahami menjadi makin jelas. Hasil-hasil ini telah tercapai bukan semata-mata karena orang ini hadir, melainkan, yang lebih penting, karena dia memiliki pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan. Bagaimana jika dia menempuh jalan yang berbeda? Bagaimana jika dia mengurus urusannya sendiri dan mengelola statusnya sendiri? Maka hasil yang didapat tidak akan seperti ini. Justru karena natur dari semua pekerjaan yang dia lakukan adalah bekerja sama secara erat dengan pekerjaan Tuhan, memikirkan maksud Tuhan, dan memiliki pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan, engkau semualah yang pada akhirnya mendapat manfaat. Berapa banyak manfaat yang telah engkau semua terima? Tanpa perlu membahas hal-hal yang lebih jauh, setidaknya, engkau semua telah cukup banyak memahami berbagai bidang keahlian, telah mengalami kemajuan dalam keahlianmu, dan telah berangsur-angsur beralih dari amatir menjadi profesional. Terlebih lagi, makin terperinci dan spesifik dia dalam membicarakan prinsip-prinsip kebenaran, dan makin ketat tuntutannya terhadapmu, dan terutama, makin keras perkataannya dalam memangkasmu, makin mampu engkau semua mengukirnya di dalam hatimu, mengingatnya dalam-dalam, memahami dengan jelas apa prinsip-prinsip kebenarannya, dan memahami apa maksud Tuhan. Engkau semua benar-benar sehina itu. Berapa kali pun prinsip-prinsip kebenaran dipersekutukan kepadamu, engkau semua tidak dapat mengingatnya. Hanya ketika orang yang dipakai oleh Roh Kudus sering menyingkapkan dan memangkasmu sekeras ini, dan bahkan memarahimu, barulah engkau semua memahami beberapa prinsip kebenaran, menjadi jauh lebih taat aturan dan berkelakuan baik dalam caramu berperilaku dan bertindak, serta meluruskan sikapmu. Tentu saja, selama proses dipangkas, engkau semua juga gemetar ketakutan, selalu takut bahwa orang yang dipakai oleh Roh Kudus akan melihat siapa engkau semua sebenarnya dan mengeluarkanmu. Menurutku ini adalah hal yang baik, bukan hal yang buruk. Setidaknya, sekarang beberapa orang memiliki sikap yang jauh lebih baik terhadap pelaksanaan tugas mereka dan berperilaku jauh lebih baik daripada sebelumnya. Ini telah memberikan efek yang positif. Meskipun memarahi orang mungkin tampak salah, dan dilihat dari luar, caranya tidak begitu santun dan perkataannya tidak begitu enak didengar, hasil yang dicapainya baik. Untuk mencapai hasil ini, berapa besar harga yang telah dibayar orang yang dipakai oleh Roh Kudus? Berapa kali dia harus marah kepadamu? Katakan kepada-Ku, ketika dia memangkasmu, bukankah dia marah? Bukankah dia gusar? Bukankah ini juga akan membahayakan kesehatannya? Dia tidak ingin memangkasmu. Terkadang dia menjadi sangat marah sehingga dia memarahimu, dan perkataan yang dia ucapkan mungkin tidak terdengar begitu santun. Namun, dilihat dari perwujudanmu dalam interaksi-Ku denganmu, apa yang dia katakan itu benar dan sesuai dengan situasimu yang sebenarnya; itu sama sekali tidak berlebihan. Apa yang telah engkau semua lakukan sehingga membuat orang ini sangat marah? Itu karena hal-hal yang engkau semua lakukan terlalu menjengkelkan. Prinsip-prinsip kebenaran telah dipersekutukan kepadamu selama bertahun-tahun, tetapi engkau semua tetap tidak memahaminya dan masih dengan sembarangan berbuat buruk sekehendak hatimu sendiri. Hanya karena itu, dia terpaksa berbicara seperti ini. Setelah berkata demikian, dia sendiri bahkan menyesalinya, dengan berkata, "Kita semua adalah saudara-saudari; mengapa aku begitu marah?" Aku menghibur dan mendorongnya: "Memang begitulah seharusnya mereka dipangkas. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Lain kali jika engkau menemui situasi semacam ini, engkau tetap harus memangkas mereka." Katakan kepada-Ku, apakah benar mendorongnya seperti ini? (Ya.) Justru karena orang-orang telah dirusak terlalu dalam, terlalu mati rasa, dan tingkat pertumbuhannya sangat kecil, masalah yang sangat sederhana pun membutuhkan teguran dan bentakan untuk mencapai hasil. Jika tidak, pekerjaan itu tidak dapat diselesaikan. Semua orang berpikir bahwa mereka mampu, dan semua orang ingin bertindak semaunya dan sembarangan sekehendak hati mereka sendiri. Katakan kepada-Ku, apakah bisa jika tidak ada orang semacam itu yang mengendalikan keadaan? (Tidak.) Semua orang berkata bahwa mereka percaya kepada Tuhan, tetapi tak seorang pun dari mereka memiliki hati yang takut akan Tuhan; mereka semua adalah orang-orang yang dipenuhi dengan watak yang rusak. Jika tidak ada yang mengendalikan keadaan, situasi yang terjadi selanjutnya adalah semua orang ingin menjadi penentu keputusan dan semua orang ingin menjalankan kekuasaan seperti raja, tetapi tak mau membiarkan kebenaran berkuasa, dan tak mau membiarkan Tuhan berkuasa. Jika kebenaran harus berkuasa dan kebenaran harus memegang kekuasaan, maka harus ada seseorang yang mengawasi engkau semua, dan orang ini harus dipakai untuk mengendalikan engkau semua. Apakah mudah untuk mencapai efek ini? (Tidak.) Saat orang yang dipakai oleh Roh Kudus bekerja, makin banyak dia bekerja, makin marah dia; makin banyak dia bekerja, makin cemas dia; makin banyak dia bekerja, makin keras perkataannya; makin banyak dia bekerja, makin sering dia memangkasmu; dan makin banyak dia bekerja, makin buruk sikapnya terhadapmu. Ini saja mencerminkan betapa buruknya kualitasmu, betapa keras kepalanya dirimu, betapa mati rasanya dirimu, dan betapa kecilnya tingkat pertumbuhanmu. Katakan kepada-Ku, dengan pekerjaan yang sesulit ini, apakah orang yang dipakai oleh Roh Kudus menyerah? Dia tidak menyerah. Berapa kali pun engkau semua membuat kesalahan mendasar yang sama, apakah dia telah menyerah terhadapmu? (Tidak.) Setiap kali ada tim yang mencari mengenai suatu masalah, saudara tersebut, tanpa banyak bicara dan tanpa berkompromi, segera bersekutu tentang masalah itu dan menyelesaikannya. Terkadang, saat dia sedang makan atau hendak beristirahat, dia meletakkan mangkuknya atau menunda istirahatnya dan segera membalas. Dia berkata, "Setelah kubalas, mereka dapat segera bekerja. Pekerjaan tidak boleh ditunda; pekerjaan ini mendesak. Setelah membalas, aku akan merasa tenang, dan aku juga akan dapat beristirahat dengan tenang." Lihat, apakah pola pikirnya dalam menyelesaikan masalah sudah benar? (Ya.) Dia selalu mengawasimu dan mendorongmu, dan dia juga sering memangkasmu. Dia juga selalu memeriksa pekerjaanmu, memastikan beban kerjamu tetap penuh sehingga engkau semua tidak menganggur, dan dia mengawasimu setiap hari. Katakan kepada-Ku, apakah baik jika engkau semua dipimpin orang semacam itu? (Ya, itu baik.) Menurut-Ku adanya orang ini sangatlah baik. Dia sangat membantumu dalam mengejar kebenaran dan melaksanakan tugasmu dengan baik. Janganlah merasa tidak suka kepadanya, dan janganlah bersungut-sungut. Aku bertanggung jawab untuk mempersekutukan kebenaran, dan Aku benar-benar tidak memiliki kekuatan fisik atau energi untuk melakukan pekerjaan urusan umum dan pekerjaan administratif ini. Terlebih lagi, karena saudara tersebut melakukannya, Aku sama sekali tidak perlu melakukannya. Jika Akulah yang harus melakukan pekerjaan atas engkau semua, Aku akan jauh lebih lembut. Ini akan memberimu kesempatan untuk mengambil keuntungan, dan engkau semua tidak mungkin berperilaku sebaik sekarang. Aku mengetahui situasi ini. Sikap-Ku yang begitu lunak terhadapmu tidak sepenuhnya tepat bagimu. Ketika Aku tidak memperlakukan beberapa orang dengan ketat, mereka menjadi tidak bermoral dan tidak terkendali, dan bahkan makin menjadi-jadi, melaksanakan pekerjaan mereka dengan sembarangan dan asal-asalan. Bukankah orang-orang semacam ini perlu dipangkas? (Ya.) Yang paling engkau semua butuhkan adalah cara kerja saudara tersebut yang keras; makin keras, makin baik. Ketika tiba saatnya engkau semua memahami kebenaran, dan engkau semua tahu bagaimana memikirkan maksud Tuhan, mampu menerapkan secara akurat sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran, melaksanakan tugasmu dengan makin baik, melaksanakan tugasmu dengan cara yang makin patut, menjadi makin efektif dalam pelaksanaan tugasmu, tahu bagaimana datang ke hadapan Tuhan, tahu bagaimana menerapkan kebenaran, dan tahu bagaimana bertindak sesuai dengan maksud Tuhan, katakan kepada-Ku, bukankah ini hal yang baik? (Ya.) Ini adalah hal yang baik. Adanya orang semacam itu sangat bermanfaat bagimu. Orang ini melakukan semua hal ini justru karena dia memiliki pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan. Pemahaman yang sehati sepikir ini berarti memikirkan Tuhan dan mampu melaksanakan serta menerapkan firman Tuhan tanpa kompromi, dan kemudian membawamu sedikit demi sedikit ke jalur yang benar dalam percaya kepada Tuhan, agar dalam pelaksanaan tugasmu, engkau semua berangsur-angsur memenuhi standar dan berada di jalur yang benar, dan agar engkau semua dapat berhasil menyelesaikan misi yang telah Tuhan berikan kepadamu dan memberikan pertanggungjawaban kepada Tuhan. Ini adalah hal yang baik. Jadi katakan kepada-Ku, selama proses ini, peran apa yang dimainkan orang yang dipakai oleh Roh Kudus? Menurutmu, peran apa yang sedang dia mainkan? (Kepala rumah tangga.) Seperti kepala rumah tangga ini, bukan? Sepanjang jalan, dia memimpin engkau semua untuk terus maju. Kesulitan apa pun yang muncul dalam pekerjaan, dia tidak pernah mengeluh tentang kesulitan tersebut, tidak pernah mengeluh tentang kesukaran tersebut; jika ada yang mundur, dia menarik dan memukul mereka agar terus maju.
Masih ada cukup banyak hal mengenai topik tentang memiliki pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan, dan beberapa rinciannya belum dibahas. Jika engkau semua ingin mendengarnya, pada pertemuan berikutnya, kita akan membahas rincian spesifik ini agar engkau semua bisa memperoleh beberapa pemahaman tentang apa artinya memiliki pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan dan, mengenai orang-orang yang mampu mencapai pemahaman yang sehati sepikir dengan Tuhan, bagaimana Tuhan memandang mereka serta bagaimana Tuhan menggolongkan dan mendefinisikan mereka. Kita akan mempersekutukan semua hal ini. Mari kita akhiri persekutuan kita di sini untuk hari ini. Sampai jumpa!
21 Desember 2024