Cara Mengejar Kebenaran (31)
Terakhir kali, kita bersekutu tentang melepaskan gagasan dan imajinasi orang tentang Tuhan yang berinkarnasi, yang berkaitan dengan subjek "Cara Mengejar Kebenaran", bukan? (Ya.) Berkaitan dengan hal ini, kita bersekutu tentang topik "tidak menyamakan Tuhan yang berinkarnasi dengan umat manusia yang rusak", dan dalam topik ini, kita bersekutu tentang bagaimana Tuhan yang berinkarnasi memandang penderitaan, yang mencakup beberapa pemikiran, pandangan, dan pendapat tentang penderitaan. Bersekutu tentang bagaimana orang seharusnya memandang penderitaan memungkinkan orang untuk memiliki pemikiran dan pandangan yang benar tentang penderitaan, memungkinkan mereka untuk memahami penderitaan dengan benar dan menyikapi penderitaan dengan benar. Artinya, engkau harus menanggung penderitaan yang sudah seharusnya kautanggung; jika engkau menanggung penderitaan yang tidak seharusnya kautanggung, atau yang sia-sia, Tuhan tidak akan mengingatnya. Jika itu adalah penderitaan yang sudah seharusnya kautanggung, dan menanggungnya adalah sesuatu yang sudah seharusnya kaulakukan, maka engkau harus menyikapinya dengan benar, menerima bahwa hal itu adalah dari Tuhan, dan memiliki pola pikir yang tunduk; engkau tidak seharusnya mengeluh, dan engkau tidak seharusnya menolak atau menghindarinya, melainkan memahaminya dengan benar. Memahaminya dengan benar berarti memandang dengan benar makna penderitaan, nilai penderitaan, serta apa yang seharusnya dicapai dan diperoleh orang setelah menanggung penderitaan. Singkatnya, penderitaan adalah sesuatu yang harus dialami semua orang; semua orang yang hidup dalam daging harus menderita. Entah engkau sedang mengejar kehidupan yang baik, mengejar aspirasi, atau mengejar kebenaran untuk memperoleh keselamatan dalam kepercayaanmu kepada Tuhan, penderitaan adalah sesuatu yang harus dialami orang dan sesuatu yang seharusnya disikapi orang dengan benar. Orang harus memandang dan memahami persoalan penderitaan dengan benar. Jika itu adalah penderitaan yang sudah seharusnya ditanggung, orang harus menerimanya dan tunduk, tidak mengeluh, menolak, maupun menghindarinya. Pada saat yang sama, mereka harus mencari kebenaran dan mencari maksud Tuhan di tengah penderitaan tersebut. Tentu saja, jauh lebih baik jika, selama proses penderitaan, engkau dapat mengenal kerusakan dan pemberontakanmu sendiri, dan mengenal kekurangan serta kelemahanmu sendiri, dan mengetahui apa saja kebenaran serta prinsip tentang cara berperilaku yang Tuhan mungkinkan untuk engkau alami, hayati, dan peroleh di lingkungan atau peristiwa sukar ini. Singkatnya, penderitaan adalah sesuatu yang sudah seharusnya dialami dan sudah seharusnya diterima oleh semua orang. Tentu saja, kita juga mempersekutukan bahwa, jika penderitaan yang ditanggung seseorang itu perlu dan berharga, diperkenan oleh Tuhan, dan merupakan penderitaan yang sudah seharusnya ditanggung orang, maka ini adalah penderitaan yang berkaitan dengan penerapan kebenaran. Jika penderitaan yang ditanggung seseorang tidak ada hubungannya dengan penerapan kebenaran, jika itu adalah penderitaan yang dibuat-buat manusia atau penderitaan yang dikejar karena kehendak manusia, maka ini bukanlah penderitaan yang kita anjurkan. Sengaja menciptakan beberapa kesulitan dan kesusahan, sengaja menciptakan beberapa masalah, dan kemudian bersusah payah untuk mengalaminya, semua ini tidak perlu, dan ini berlebihan. Selain itu, penderitaan yang ditanggung orang untuk memuaskan ambisi dan hasrat mereka sendiri, untuk memuaskan dahaga akan status, atau untuk memuaskan hasrat egois mereka, juga tidak perlu. Natur menanggung penderitaan semacam ini berbeda dengan natur penderitaan sejati, penderitaan yang ditanggung untuk memperoleh kebenaran dan memperoleh hasil yang sejati. Kita mempersekutukan aspek ini, bukan? (Ya.) Bagaimana engkau semua memandang masalah penderitaan sekarang? (Sebelumnya, di dalam hatiku, aku memiliki banyak pandangan dan pemahaman yang menyimpang mengenai penderitaan, percaya bahwa dalam hal pelaksanaan tugasku, dengan cara apa pun aku menderita dan penderitaan macam apa pun yang kutanggung, Tuhan akan menerimanya dan akan memperkenan hal itu. Setelah Tuhan mempersekutukan penderitaan seperti apa yang diperkenan oleh Tuhan dan penderitaan seperti apa yang ditanggung demi menerapkan kebenaran, barulah aku mulai mengenali pandanganku sendiri yang keliru tentang berbagai hal. Pada saat itu, barulah aku mulai merenungkan bagaimana aku menyikapi penderitaan, dan penderitaan mana yang sekarang kutanggung yang merupakan penderitaan yang dibuat-buat dan berlebihan, penderitaan mana yang kutanggung demi hasrat egoisku, ketenaran, keuntungan, dan status pribadi, atau demi ambisi dan hasrat, serta penderitaan mana yang sudah seharusnya kutanggung dan tidak seharusnya kutolak. Sebagai contoh, penderitaan yang ditanggung demi memahami kebenaran dan menerapkan kebenaran, penderitaan yang ditanggung untuk memberi kesaksian bagi Tuhan, penderitaan yang ditanggung untuk melaksanakan tugasku dengan baik dan memuaskan Tuhan, serta penderitaan yang ditanggung demi perubahan watak—penderitaan semacam inilah yang harus ditanggung, dan yang diperoleh setelah menanggung penderitaan ini adalah kebenaran. Setelah Tuhan mempersekutukan hal ini, barulah aku tahu bahwa aku harus memahami soal penderitaan dengan benar, dan bahwa aku tidak seharusnya bersikap menentang terhadap penderitaan yang sudah seharusnya kutanggung, melainkan menerimanya dan tunduk, berusaha keras untuk maju sedikit demi sedikit. Kuharap suatu hari nanti aku dapat mencapai titik berdoa kepada Tuhan seperti Petrus, berharap agar hajaran dan penghakiman Tuhan tidak meninggalkanku, dan berharap agar aku mampu menerima penderitaan dari penghakiman dan hajaran, serta ujian dan pemurnian, supaya aku dapat memiliki jalan masuk kehidupan yang sejati.) Engkau harus menyikapi hal penderitaan dengan benar, dan engkau harus memiliki pemahaman yang murni tentang hal itu. Singkatnya, mengenai penderitaan yang tidak seharusnya kautanggung, jangan menciptakan kesukaran atau menciptakan berbagai macam rintangan untuk mempersulit dirimu sendiri. Mempersulit dirimu sendiri adalah tindakan yang tidak manusiawi, dan itu juga tidak rasional. Yang terpenting, dengan cara apa pun engkau mempersulit dirimu sendiri—baik dengan mengatasi beberapa masalahmu sendiri maupun dengan menciptakan beberapa kesulitan untuk mempersulit dirimu sendiri—yang pada akhirnya kauperoleh paling-paling hanyalah pemuasan ambisi dan hasrat pribadimu, atau kepuasan emosionalmu sendiri, tetapi engkau tidak akan benar-benar memperoleh kenyataan kebenaran. Jika penderitaan yang kautanggung adalah demi melindungi keberadaan hal-hal positif, melindungi keberadaan keadilan, dan melindungi kepentingan rumah Tuhan, dan itu adalah penderitaan yang kautanggung demi memiliki sikap yang penuh pengabdian, demi memenuhi tanggung jawabmu, dan mencapai titik tunduk kepada Tuhan serta memuaskan Tuhan, maka menanggung penderitaan semacam itu berharga dan bermakna; itu adalah penderitaan yang sudah seharusnya ditanggung. Jika penderitaan yang kautanggung adalah demi melindungi harga diri, status, dan reputasimu sendiri, demi memuaskan hasrat egoismu dan ambisimu sendiri, dan demi memperoleh status serta memperoleh prestise yang besar di antara orang-orang, tetapi dalam menanggungnya engkau gagal melindungi kepentingan rumah Tuhan dan gagal melindungi hal-hal positif, dan penderitaan itu bukan ditanggung demi memenuhi tanggung jawabmu, apalagi demi mencapai titik memiliki sikap penuh pengabdian dan memuaskan Tuhan, maka semua penderitaan semacam itu adalah penderitaan yang tidak perlu dan penderitaan yang tidak berharga. Sekalipun engkau menanggungnya, engkau melakukannya dengan sia-sia. Engkau harus menghindari penderitaan semacam itu sebisa mungkin. Bagaimana engkau bisa menghindarinya? Mudahkah menghindarinya? (Kami harus terlebih dahulu menerima pandangan yang benar tentang penderitaan, yang berasal dari Tuhan, dan kemudian mencocokkannya dengan diri kami sendiri sedikit demi sedikit dalam pengalaman kami. Ketika kami menyadari bahwa penderitaan semacam itu tidak ada nilainya, kami tidak akan lagi menanggung penderitaan yang sia-sia semacam itu.)
Beberapa gereja berada di daerah yang kondisi kehidupannya keras. Lingkungan tempat makan dan penginapannya buruk, dan bahkan mendapatkan segelas air bersih pun sulit, tetapi engkau diharuskan untuk melaksanakan tugasmu di sana. Apa yang seharusnya dilakukan dalam situasi seperti ini? Misalkan engkau berpikir, "Penderitaan yang menyertai kondisi eksternal ini bukanlah sesuatu yang seharusnya kutanggung. Aku dilahirkan untuk melaksanakan pekerjaan gereja; aku adalah seorang pemimpin, dan perlakuan yang kunikmati seharusnya lebih baik daripada yang diterima orang biasa. Kondisi kehidupan di sini terlalu keras, yang memengaruhi suasana hatiku dan menghalangiku untuk melakukan pekerjaanku dengan baik. Ini tidak bisa dibiarkan. Lingkungan yang keras ini tidak cocok bagiku untuk melaksanakan tugasku. Aku harus pindah ke tempat dengan pemandangan yang indah dan lingkungan yang menyenangkan untuk melaksanakan tugasku. Aku juga harus memiliki kediaman keluarga tuan rumah yang baik, di mana makanannya enak dan aku bisa tidur dengan nyaman, di mana ada AC di dalam ruangan serta pemandangan yang bagus dan tempat untuk berjalan-jalan santai di luar. Tempat semacam itulah yang cocok bagiku untuk melaksanakan tugasku." Akibatnya, engkau memilih untuk meninggalkan tempat yang keras tersebut dan mencari tempat dengan lingkungan yang bagus untuk melaksanakan tugasmu. Bagaimana penerapan seperti ini? (Tidak baik.) Ada orang-orang yang berkata, "Bukankah Kau berkata agar kami tidak membuat masalah bagi diri sendiri? Datang ke lingkungan yang miskin dan keras ini, di mana makanan dan penginapannya buruk, bukankah ini mendatangkan masalah dan penderitaan bagi diriku sendiri? Karena ini berarti mencari penderitaan dan mencari masalah, serta menciptakan rintangan bagi pekerjaan, maka aku harus mencari tempat yang bebas dari masalah." Apakah dapat diterima untuk bertindak seperti ini? (Tidak.) Katakan kepada-Ku, adakah orang yang memahami berbagai hal dengan cara seperti ini? (Ya.) Apakah benar memahami berbagai hal dengan cara seperti ini? (Tidak, pemahaman semacam ini sedikit menyimpang.) Jadi, ketika engkau menghadapi lingkungan yang sukar seperti ini, di mana tempat makan dan penginapannya buruk, makanan dan minumannya tidak higienis, selalu ada lalat, nyamuk, dan segala macam serangga beterbangan, engkau tidur di ranjang kayu yang keras, selimutnya lembap dan kotor, engkau tidak bisa tidur nyenyak, tidak ada tempat yang tenang untuk mengadakan pertemuan, lingkungannya tidak aman, dan terlebih lagi, rezim Iblis melakukan penganiayaan dan perburuan di sana, maka bukankah akan kaukatakan bahwa engkau semua pasti akan menanggung banyak penderitaan di lingkungan semacam itu? (Ya.) Namun, ada gereja di tempat ini, dan ada pekerjaan yang harus dilakukan, jadi apa yang seharusnya kaulakukan? Akankah engkau menanggung penderitaan ini atau tidak? (Kami harus menanggungnya.) Secara doktrin, orang dapat menerima hal ini dan tahu bahwa mereka harus menanggung penderitaan ini, tetapi mengapa mereka harus menanggungnya? (Karena pekerjaan gereja menghendakinya demikian—begitu pula tugas kami—penderitaan ini harus ditanggung.) Ini adalah pekerjaan yang sudah seharusnya kaulakukan, dan ini adalah tanggung jawab yang sudah seharusnya kaupenuhi. Dalam kondisi demikian, ini menyangkut persoalan apakah engkau sepenuh hati dalam melaksanakan tugasmu. Engkau tidak boleh mempertimbangkan apakah lingkungannya nyaman, dan engkau juga tidak boleh bertindak berdasarkan apakah dagingmu merasa nyaman atau menderita; engkau tidak boleh berpatokan pada perasaan-perasaan ini. Engkau harus mencoba segala cara yang mungkin untuk mengatasi berbagai kesulitan agar dapat memenuhi tanggung jawab dan melaksanakan tugasmu dengan baik. Ada orang-orang yang berkata, "Aku sendiri tidak akan pergi. Aku akan mencari seseorang yang cocok untuk pergi dan melakukan pekerjaan ini serta menanggung penderitaan ini. Aku akan menyimpan tenagaku untuk melakukan pekerjaan penting lainnya, dan aku tidak perlu menanggung penderitaan yang sia-sia itu." Apakah memahaminya dengan cara seperti ini benar? (Tidak. Jika sudah pasti bahwa ini adalah tempat yang seharusnya kutuju, dan bahwa ada pekerjaan yang sudah seharusnya kulakukan, tetapi aku mengatur agar orang lain yang melakukannya karena takut menderita, ini berarti bersikap licin dan bermalas-malasan.) Jika sudah pasti bahwa inilah tempat yang seharusnya kautuju, dan bahwa ada pekerjaan yang seharusnya kaulakukan, tugas yang seharusnya kaulaksanakan, dan masalah yang seharusnya kautangani di sana, tetapi engkau tidak pergi dan malah mencari-cari segala macam alasan dan dalih untuk menyuruh orang lain pergi, ini bukanlah bersikap penuh pengabdian, dan ini berarti menghindari dan menolak kesukaran. Alasan paling mendasar engkau menyuruh orang lain pergi bukanlah karena tidak nyaman bagimu untuk pergi, bukan pula karena engkau bisa memilih untuk tidak pergi, melainkan karena lingkungannya buruk dan kondisi kehidupan di sana buruk, dan engkau takut menanggung penderitaan. Itulah sebabnya engkau tidak bersedia pergi. Jika engkau memiliki mentalitas ini dan niat semacam ini, ini berarti tidak bersikap penuh pengabdian, dan ini berarti menghindari penderitaan dan menolak untuk menanggung penderitaan. Engkau harus menerima penderitaan yang sudah seharusnya kautanggung. Sebanyak apa pun kesulitan yang ada, engkau tidak boleh mengelaknya; sebanyak apa pun bahayanya, engkau harus menghadapinya; dan sekalipun ada semacam bencana yang terjadi di sana, engkau harus pergi, engkau tidak boleh menghindarinya, dan engkau harus menghadapi kesulitan tersebut secara langsung. Inilah yang disebut sikap penuh pengabdian. Misalkan, meskipun engkau tahu bahwa pergi ke sana akan membuat dagingmu menderita dan akan ada bahaya, engkau tidak menolak atau mengelaknya, dan bahkan berani menerjang bahaya dan mengatasi kesulitan untuk berada di garis depan, demi pekerjaan gereja dan demi melaksanakan tugasmu dengan baik. Inilah yang disebut penuh pengabdian, inilah yang disebut memenuhi tanggung jawabmu, dan inilah yang disebut memikirkan maksud Tuhan. Mampu tetap teguh dalam kesaksian di lingkungan yang sukar adalah sesuatu yang harus orang capai, dan itu juga yang seharusnya orang terapkan, bukan? (Ya.) Ketika menghadapi situasi semacam ini, engkau harus memahaminya dengan cara seperti ini dan menerapkannya dengan cara seperti ini.
Jika engkau pergi ke suatu tempat untuk melaksanakan tugasmu, dan kondisi kehidupan di sana baik, lingkungannya bagus, makanannya cukup enak—hampir setiap kali makan, engkau bisa makan daging—dan akomodasimu juga cukup nyaman, dengan pemanas di musim dingin dan AC di musim panas, serta semua kondisinya cukup baik, bagaimana seharusnya engkau menyikapi lingkungan kerja semacam ini ketika engkau menghadapinya? Ada orang-orang yang berkata, "Bekerja di lingkungan seperti ini sungguh menyenangkan. Jika aku melakukan pekerjaanku di tempat ini, apakah aku sedang menikmati kenyamanan? Apakah aku tidak penuh pengabdian terhadap tugasku? Bukankah ini salah?" Jika engkau menghadapi lingkungan dengan kondisi kehidupan yang baik seperti ini, bagaimana engkau memahaminya? (Aku perlu terlebih dahulu menentukan apakah ini dibutuhkan untuk pekerjaan gereja. Jika pekerjaan mengharuskanku untuk melaksanakan tugasku di tempat ini, maka aku harus menyikapi lingkungan ini dengan benar, tidak menikmati kenyamanan, dan tidak berfokus untuk makan enak atau berpakaian bagus, melainkan berfokus untuk melaksanakan tugasku dengan baik; hanya inilah yang disebut menjadi orang yang memiliki hati nurani dan nalar. Namun, jika pekerjaan tidak mengharuskanku untuk melaksanakan tugasku di sana, dan aku sengaja memilih tempat dengan kondisi kehidupan yang baik demi kenikmatan daging yang lebih besar, itu berarti menikmati kenyamanan.) Sekalipun engkau berada di lingkungan dengan kondisi kehidupan yang baik, engkau tidak seharusnya membiarkan hal itu menghalangimu untuk melaksanakan tugasmu dengan baik. Engkau tidak seharusnya menikmati lingkungan hidup semacam itu; lakukan saja apa yang seharusnya kaulakukan, dan laksanakan tugasmu sebagaimana mestinya. Jika keluarga yang menjadi tuan rumah memberimu perhatian khusus karena engkau adalah seorang pemimpin atau pekerja, memberimu makanan enak dan barang-barang bagus untuk digunakan, serta memberimu perhatian khusus dan perlakuan istimewa, dan engkau berpikir, "Aku harus menerima bahwa ini adalah dari Tuhan. Ini adalah kasih karunia Tuhan kepadaku, dan inilah yang seharusnya kunikmati, jadi aku akan menikmatinya saja. Aku tidak boleh menolaknya," maka keliru bagimu berpikir demikian. Faktanya, cara keluarga yang menjadi tuan rumah memperlakukan dan mengurusmu jauh lebih baik daripada cara mereka bertindak ketika menjadi tuan rumah bagi saudara-saudari biasa; itu telah jauh melampaui standar dan prinsip-prinsip menjadi tuan rumah. Jadi, bagaimana seharusnya engkau menyikapi situasi ini? (Aku harus belajar untuk menolak.) Bagaimana seharusnya engkau menolak? (Pertama, aku seharusnya bersekutu dengan jelas dengan keluarga yang menjadi tuan rumah tentang prinsip-prinsip menjadi tuan rumah, memberi tahu mereka bahwa mereka tidak seharusnya memberikan perhatian khusus kepada pemimpin dan pekerja hanya karena memiliki status, karena ini mudah membuat pemimpin dan pekerja menikmati kenyamanan. Selain itu, aku sendiri harus belajar untuk menolak semua itu, tidak menikmati perlakuan khusus ini. Aku harus menunjukkan penolakanku melalui perilaku nyata dan tindakanku.) Kalau begitu, apakah engkau perlu menerima bahwa hal ini adalah dari Tuhan? (Tidak.) Engkau sendiri harus tahu bagaimana membedakan situasi-situasi tersebut, dan tahu bagaimana menyikapinya dengan semestinya. Ada orang-orang yang berkata, "Beginilah cara hidup keluarga yang menjadi tuan rumah. Jika aku menolak, bukankah itu berarti menolak kasih karunia Tuhan? Bukankah itu mencari masalah? Pemimpin dan pekerja seharusnya menikmati kondisi pelayanan yang baik dari tuan rumah saat melakukan pekerjaan mereka." Apakah pemahaman ini benar? (Tidak.) Pemahaman ini sudah pasti salah. Jika engkau tiba di suatu tempat di mana kondisi kehidupan di daerah tersebut sangat baik, dan apa yang disediakan keluarga yang menjadi tuan rumah untukmu juga merupakan bagian dari pengeluaran dan kebutuhan normal dalam kehidupan mereka sehari-hari, dan ini hanyalah kebiasaan dalam kehidupan mereka, maka engkau seharusnya menghormati kebiasaan hidup mereka. Memang begitulah kondisi hidup setempat. Jika engkau menolak, itu akan tampak sedikit dibuat-buat; engkau harus menerima bahwa itu adalah dari Tuhan dan menyikapinya dengan benar, engkau seharusnya bersyukur kepada Tuhan atas kasih karunia-Nya kepadamu, dan engkau seharusnya tidak mencoba menciptakan penderitaan bagi dirimu sendiri. Namun, jika perlakuan yang diberikan keluarga yang menjadi tuan rumah untukmu melebihi standar kehidupan mereka sehari-hari, yang berarti mereka mengurusmu dengan cara-cara khusus, maka ini tidak sesuai dengan prinsip. Engkau seharusnya menolak, dan engkau seharusnya mempersekutukan prinsip-prinsip tersebut dengan mereka; engkau seharusnya tidak merepotkan mereka. Bukankah beginilah seharusnya engkau menerapkannya? (Ya.) Jika engkau berdalih dengan berkata, "Ini hanyalah standar kehidupan normal mereka; mereka makan mewah setiap hari dan selalu menyediakan segala macam buah segar, jadi aku seharusnya juga menikmati hal-hal ini," benarkah bagimu untuk berdalih seperti itu? (Tidak.) Ini berarti menikmati kenyamanan. Ada orang-orang yang begitu tiba di tempat dengan kondisi kehidupan yang baik, mereka tidak ingin pergi, dan mereka tinggal di tempat semacam itu untuk waktu yang sangat lama. Mereka takut bahwa mereka akan menanggung penderitaan jika pergi ke tempat lain, jadi mereka mencari-cari segala macam dalih untuk tidak pergi. Sekalipun ada pekerjaan di tempat lain, dengan masalah yang perlu mereka tangani, mereka hanya pergi untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut selama beberapa hari dan kemudian bergegas kembali ke tempat yang bagus ini. Bukankah ini berarti takut menanggung penderitaan? (Ya.) Ini berarti takut menanggung penderitaan, dan ini berarti menikmati kenyamanan. Mereka memanjakan daging mereka sampai mereka menjadi gemuk dan berkulit putih, dan mereka masih mencari-cari alasan serta dalih, dengan berkata, "Jika aku tidak makan dengan baik atau tinggal di tempat yang bagus, dan aku jatuh sakit, bukankah ini akan memengaruhi pelaksanaan tugasku sebagai pemimpin? Untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik, aku harus memanjakan dagingku, menjaga dagingku tetap sehat, dan penuh energi; hanya dengan begitu, aku bisa melaksanakan tugasku dengan efisien." Bukankah semua ini hanyalah dalih? (Ya.) Ini berarti mencari-cari alasan untuk menikmati kenyamanan. Singkatnya, baik di lingkungan yang sukar maupun di lingkungan yang nyaman, engkau seharusnya mampu menghindar agar tidak terpengaruh atau terkekang oleh hal itu. Jika tidak ada kesukaran, jangan menciptakannya untuk dirimu sendiri; jika ada kesukaran, jangan menolaknya. Jika lingkungan yang kauhadapi menuntut penderitaan, engkau harus menanggungnya. Sebesar apa pun kesukaran tersebut, engkau harus mengatasinya. Tujuan mengatasinya adalah untuk melaksanakan tugasmu dengan lebih baik, bukan untuk dengan sengaja menyusahkan dagingmu sendiri. Sebesar apa pun kesulitannya, engkau seharusnya tidak menolak atau menghindarinya; sebaliknya, engkau seharusnya memikirkan segala macam cara untuk melakukan pekerjaan dengan baik, melaksanakan dengan baik tugas yang sudah seharusnya kaulaksanakan, mengatakan apa yang seharusnya dikatakan, serta menangani dan menyelesaikan masalah-masalah tersebut, kemudian engkau bisa pergi. Itulah yang semestinya. Ketika engkau pergi ke suatu tempat dengan kondisi kehidupan yang baik, engkau juga harus mampu melaksanakan tugas dan pekerjaanmu secara normal, tanpa menjadi terikat pada kenyamanan dan kenikmatan daging, melainkan berfokus di dalam hatimu untuk melakukan pekerjaan dengan baik. Tentu saja, di lingkungan semacam itu, engkau tidak perlu menciptakan kesukaran tambahan untuk mempersulit dirimu sendiri atau mempersembahkan kesetiaan atau mengungkapkan tekadmu kepada Tuhan. Sebaliknya, engkau tidak seharusnya terpengaruh oleh lingkungan ini, engkau tidak seharusnya menikmati kenyamanan daging, dan engkau tidak seharusnya mengalami kemerosotan. Engkau tidak seharusnya membiarkan kondisi kehidupan yang baik dan lingkungan yang nyaman memengaruhi kemajuan pekerjaan, atau memengaruhi tekadmu untuk menderita dan pengabdianmu pada tugasmu. Di lingkungan yang nyaman, engkau tetap harus memenuhi tanggung jawabmu dan melaksanakan tugasmu dengan baik. Jika ada pekerjaan di tempat lain dan engkau seharusnya pergi, maka engkau harus pergi. Engkau tidak boleh menjadi begitu tenggelam dalam kenikmatanmu hingga melupakan tugas-tugasmu dan tidak ingin pergi ke tempat lain hanya karena dagingmu merasa nyaman dan tenteram serta kehidupanmu menyenangkan di sini. Ini salah. Ini berarti menolak untuk menanggung penderitaan, menikmati kenyamanan, dan tidak penuh pengabdian terhadap tugasmu. Bukankah benar demikian? (Ya.)
Entah ada kesukaran atau tidak di lingkungan tempatmu melaksanakan tugasmu, lingkungan kerjamu, atau lingkungan tempat tinggalmu, singkatnya, engkau seharusnya memahami soal penderitaan dengan benar, dan engkau juga seharusnya menyikapinya secara rasional, dengan sikap yang benar. Jika penderitaan yang kautanggung adalah demi melaksanakan tugasmu dengan baik, demi mampu menerapkan sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran, demi mempersembahkan pengabdianmu, dan demi mampu tunduk pada pengaturan serta penataan Tuhan, maka engkau seharusnya menerimanya. Sebesar apa pun kesulitannya, engkau harus mengatasinya, dan engkau harus menanggungnya; engkau tidak seharusnya menolak atau menghindarinya. Namun, jika tidak ada kesukaran, dan juga tidak ada kesulitan, engkau makan dengan baik dan hidup dengan nyaman, dan untuk waktu yang lama engkau tidak dihadapkan pada kondisi buruk—jika semuanya baik dalam segala hal—maka engkau tidak seharusnya merasa gelisah di dalam hatimu. Di lingkungan yang nyaman semacam itu, engkau seharusnya terlebih lagi menenangkan hatimu di hadapan Tuhan, melakukan saat teduh dengan semestinya, memperlengkapi dirimu dengan kebenaran, dan memperkaya pemahamanmu. Engkau seharusnya merenungkan apa saja kekuranganmu selama periode ini, atau watak rusak mana yang telah kauperlihatkan dan perlu kaukenali serta perlu kaubereskan dengan mencari kebenaran. Kemudian lihatlah masalah apa yang masih kaumiliki, masalah mana yang tidak kauketahui cara menyelesaikannya, aspek kebenaran apa yang masih kurang pada dirimu, dan aspek apa yang perlu kaumasuki dan perlu kautingkatkan. Inilah cara menerapkan untuk menyikapi soal penderitaan dengan benar, dan untuk menyikapi dengan benar lingkungan yang Tuhan atur untukmu. Jika inilah caramu menerapkan, pada dasarnya engkau tidak akan pernah terpengaruh oleh lingkungan eksternal. Sebesar apa pun kesukaran di lingkungan eksternal, asalkan orang dapat memiliki tujuan yang benar dan arah pengejaran yang benar di dalam hatinya, mampu tetap tenang di hadapan Tuhan, mampu memikirkan apa itu prinsip-prinsip kebenaran dan bagaimana menerapkannya ketika menghadapi berbagai hal, dan kemudian membuat penilaian yang benar serta menerapkannya dengan benar, dengan memandang penderitaan dengan cara seperti ini, mereka pada akhirnya akan memperoleh beberapa hal positif yang seharusnya mereka peroleh. Misalnya, terkadang engkau mungkin menghadapi masalah besar yang perlu segera ditangani saat melaksanakan tugasmu, yang mengharuskanmu bangun pagi dan tidur larut malam, atau mengharuskanmu melewatkan waktu makan, atau mengharuskanmu menempuh perjalanan jauh dan melintasi gunung serta punggung bukit. Terutama, ada tempat-tempat terpencil yang tidak dapat dicapai dengan kendaraan dan bahkan tidak memiliki jalur sepeda, sehingga engkau hanya bisa sampai di sana dengan berjalan. Lalu, bagaimana engkau seharusnya bertindak ketika dihadapkan pada lingkungan yang sukar seperti ini? Ini adalah beberapa jenis kesukaran tertentu. Ketika engkau menghadapi lingkungan-lingkungan ini, engkau tidak boleh menolak ataupun menghindarinya. Ini adalah penderitaan yang sudah seharusnya kautanggung; untuk melaksanakan tugasmu dengan baik, engkau harus menanggung penderitaan semacam itu. Namun, beberapa situasi khusus perlu disikapi secara berbeda. Misalnya, di beberapa daerah di mana terdapat gereja, kondisinya cukup buruk, dengan PKT yang sedang gila-gilaan melakukan penangkapan. Beberapa pemimpin dan pekerja telah ditangkap, dan beberapa saudara-saudari berada di bawah pengawasan ketat oleh PKT. Pekerjaan gereja telah sangat terdampak dan perlu ditangani. Jika engkau pergi ke sana, engkau akan berisiko ditangkap, dan nyawamu bahkan mungkin akan terancam. Dalam situasi semacam itu, engkau harus menggunakan sedikit hikmat. Engkau bisa berkomunikasi melalui surat, atau meminta para pengawas setempat berkumpul di daerah lain untuk bersekutu, dan membantu mereka menangani pekerjaan tindak lanjut agar pekerjaan gereja dapat kembali ke jalur yang benar sesegera mungkin. Singkatnya, di lingkungan berbahaya semacam itu, engkau harus sangat berhati-hati dan tidak boleh mengambil risiko. Dalam beberapa situasi, engkau bisa mencoba mengambil risiko, tetapi dalam situasi lain, melakukan hal tersebut tidaklah tepat. Bagaimanapun juga, setelah engkau memahami soal penderitaan dengan benar, engkau seharusnya merenungkan dirimu sendiri berdasarkan pemikiran dan pandangan yang benar ini. Lihatlah penderitaan yang kauhadapi dalam hidupmu dan selama proses pelaksanaan tugasmu. Lihatlah penderitaan mana yang sudah seharusnya kautanggung, dan penderitaan mana yang selaras dengan prinsip-prinsip kebenaran—penderitaan seperti inilah yang harus kautanggung; engkau harus menerima bahwa itu adalah dari Tuhan. Lihatlah penderitaan mana yang tidak perlu, dan hanya merupakan masalah yang telah kaubuat-buat untuk dirimu sendiri—sebanyak apa pun engkau menanggung penderitaan semacam ini, Tuhan tidak akan mengingatnya. Jika seseorang menciptakan masalah yang memengaruhi pekerjaan gereja, dan engkau harus membereskan kekacauan ini serta memenuhi tanggung jawabmu, maka engkau tidak boleh mengeluh; engkau harus mengurus apa pun yang seharusnya kautangani. Misalnya, ada orang-orang yang merusak perlengkapan, perangkat, dan barang-barang gereja lainnya, atau secara sembrono melakukan perbuatan buruk yang menyebabkan situasi yang merugikan, atau ada orang yang bingung atau orang yang kualitasnya buruk mengacaukan sesuatu—hal ini perlu kautangani. Pada saat-saat seperti itu, engkau tidak boleh berkata, "Mereka yang berbuat, mereka yang harus menanggung akibatnya. Ini tidak ada hubungannya denganku. Ini bukanlah penderitaan yang seharusnya kutanggung; aku menolak untuk menerima tugas ini!" Benarkah berbicara seperti ini? (Tidak, ini berarti tidak penuh pengabdian dan tidak memiliki rasa tanggung jawab.) Ini sekali lagi berkaitan dengan pengabdian seseorang. Jika itu adalah sesuatu yang menjadi tanggung jawabmu, engkau harus pergi mengurus dan menanganinya. Sekalipun menanganinya berarti harus memperbaiki kekacauan total, engkau tetap harus pergi. Engkau tidak boleh berdebat, dan engkau tidak boleh mengeluh, dengan berkata, "Orang-orang yang bingung ini, orang-orang bodoh yang berkualitas buruk ini meninggalkan kekacauan ini, jadi mengapa aku yang harus membereskannya? Bukankah aku menanggung penderitaan lebih dari yang seharusnya? Situasi ini disebabkan oleh manusia; ini bukan berasal dari Tuhan." Salah jika engkau berbicara seperti ini. Mungkin saja membereskan kekacauan dan memulihkan situasi bukanlah tugasmu dan tidak berada dalam lingkup pekerjaanmu sendiri, tetapi hal ini berkaitan dengan kepentingan rumah Tuhan, jadi bagaimana seharusnya engkau menyikapinya? Jika engkau tidak pergi membereskan kekacauan ini, pekerjaan gereja akan tertunda, dan kepentingan rumah Tuhan akan mengalami kerugian. Namun, untuk membereskan kekacauan ini, engkau harus menyampaikan banyak persekutuan tentang kebenaran dan menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Dalam situasi ini, dapatkah engkau bertekun dalam menyelesaikan semua masalah dan melaksanakan pekerjaan dengan baik secara menyeluruh? Orang lain gagal menyelesaikan masalah dan tidak melaksanakan pekerjaan dengan baik, jadi engkau harus mengerahkan lebih banyak upaya untuk menyelesaikan masalah dan melaksanakan pekerjaan dengan baik secara menyeluruh; hanya ini yang membuatmu layak dipakai oleh Tuhan. Ketika engkau diharuskan untuk menderita, engkau harus menanggungnya; sebanyak apa pun masalah yang ada, engkau harus menyelesaikannya. Ketika kesulitan-kesulitan ini muncul dalam pekerjaan, apakah engkau tetap melaksanakan pekerjaan tersebut atau tidak? (Kami tetap harus melaksanakannya.) Entah lingkungan tempat tinggalmu baik atau buruk, dan bagaimana pun suasana hatimu, engkau harus melaksanakan dengan baik pekerjaan yang telah Tuhan percayakan kepadamu, dan engkau harus melaksanakan tugas ini dengan baik. Jika engkau tidak ingin menerima tugas ini, engkau bisa meninggalkannya; rumah Tuhan tidak akan memaksamu. Namun, karena engkau telah menerimanya, engkau harus melaksanakan tugas ini dengan baik. Terutama ketika itu berkaitan dengan pekerjaan menyebarkan Injil, seluruh umat pilihan Tuhan memiliki tanggung jawab. Sekalipun engkau menghadapi kesulitan atau harus menanggung penderitaan yang besar, engkau harus bertekun dalam melakukannya. Mengapa Kukatakan demikian? (Karena ini berkaitan dengan tugas kita, dan orang seharusnya melindungi kepentingan rumah Tuhan.) Hal-hal yang berkaitan dengan tugas seseorang bukanlah hal sederhana. Dalam satu aspek, hal tersebut berkaitan dengan jalan masuk kehidupan orang, dan pada saat yang sama, hal itu berkaitan dengan pelaksanaan kehendak Tuhan. Oleh karena itu, dalam menyikapi masalah-masalah ini, orang seharusnya mencari kebenaran untuk menyelesaikannya, dan seharusnya melaksanakan tugas mereka dengan baik untuk melindungi kepentingan rumah Tuhan. Ini adalah tanggung jawab yang tak dapat dielakkan! Memiliki tanggung jawab yang tak dapat dielakkan berarti penuh pengabdian dan memenuhi tanggung jawabmu. Apa pun masalah atau kesulitan yang kauhadapi, jangan mengeluh, dan ketika engkau marah, jangan melampiaskannya pada pekerjaan gereja. Laksanakan pekerjaan tepat sebagaimana mestinya; adakan pertemuan dan bersekutulah dengan orang-orang tentang prinsip, kemudian bereskan kekacauan ini, sehingga pekerjaan gereja kembali ke jalur yang benar dan pekerjaan yang tertunda kembali normal. Sebagai contoh, dahulu, ada orang yang bingung dan orang jahat yang memegang kekuasaan dan melayani sebagai pemimpin. Mereka membuat efisiensi pekerjaan gereja menurun atau lumpuh, menyebabkan pekerjaan rumah Tuhan mengalami kerugian. Sekarang, engkau harus bergegas untuk memperbaiki hal ini, melakukan penyesuaian personel yang tepat, melakukan penyesuaian yang tepat pada rencana dan metode kerja, serta merancang segala macam cara untuk mempercepat berbagai hal. Sebelumnya, engkau mungkin bekerja delapan jam sehari; sekarang, engkau bekerja dua jam lebih lama setiap hari untuk memulihkan kecepatan pekerjaan dan menebus kerugian sebelumnya dalam pekerjaan tersebut. Inilah yang disebut penuh pengabdian. Penderitaan ini harus ditanggung. Menanggung penderitaan ini bermakna dan berharga; ini adalah perbuatan baik, dan Tuhan akan mengingatnya. Dalam melakukannya, engkau sedang menerapkan kebenaran. Apa yang dimaksud dengan menerapkan kebenaran di sini? Itu berarti mempersembahkan pengabdianmu, melindungi kepentingan rumah Tuhan, dan menebus kerugian yang dialami dalam pekerjaan. Ini berarti menerapkan kebenaran, dan inilah yang disebut melakukan perbuatan baik. Mungkin saja selama melaksanakan pekerjaan ini, engkau sangat sibuk; engkau baru bisa beristirahat setelah jam dua belas malam, dan engkau bangun sebelum fajar. Engkau makan dengan terburu-buru dan kemudian bergegas kembali untuk menyibukkan dirimu dengan pekerjaan. Ini karena pekerjaan itu ada tepat di depanmu. Ada begitu banyak personel yang perlu disesuaikan, dan ada begitu banyak hal yang perlu ditangani. Engkau tidak bisa tidur lebih awal karena beberapa pekerjaan belum selesai. Engkau juga tidak bisa bangun terlambat karena semua orang menunggumu untuk mengatur pekerjaan; engkau harus merencanakan pekerjaan yang harus dilakukan hari ini sebelum semua orang bangun, dan kemudian mengatur serta menugaskannya. Engkau cukup menderita selama bulan ini. Dagingmu sedikit kelelahan dan sedikit letih, waktu istirahatmu lebih sedikit daripada sebelumnya, dan berat badanmu turun cukup banyak, tetapi setelah sibuk selama sebulan, kemajuan pekerjaan gereja menjadi normal dalam segala hal, dan semuanya akhirnya beres. Apa artinya semuanya beres? Itu berarti orang-orang yang ditugaskan di setiap posisi semuanya sudah cocok; tidak ada yang menyebabkan kekacauan dan gangguan atau menyebabkan masalah, tidak ada yang meneriakkan slogan atau melontarkan ide yang muluk-muluk, dan tidak ada yang selalu bersikap negatif. Semua orang mampu melaksanakan tugas mereka secara normal, dan orang-orang di setiap posisi kompeten dalam pekerjaan mereka. Tidak ada orang yang menganggur dan tidak ada orang yang mendompleng. Semua pekerjaan berjalan normal sesuai dengan persyaratan pengaturan kerja, membuahkan hasil, dan telah kembali ke jalur yang benar. Hanya dengan demikian, barulah engkau menjadi orang yang hidup di hadapan Tuhan. Jika engkau mampu mencari kebenaran untuk mengatasi kesulitan apa pun yang kautemui, dan engkau melakukan apa yang berada dalam lingkup pekerjaanmu sendiri dengan baik, lalu apakah semua penderitaan yang kautanggung ini sepadan? (Ya.) Sangat sepadan! Ada orang-orang yang menanggung sejumlah penderitaan demi melaksanakan tugas mereka dengan baik, dan pada saat mereka mencapai usia empat puluhan atau lima puluhan, mereka mengidap beberapa penyakit ringan. Ada yang mengalami telinga berdenging atau tinitus, sementara yang lain menderita radang sendi leher, atau nyeri di punggung bawah dan kaki mereka. Meskipun mereka telah menanggung sejumlah penderitaan, mereka telah memenuhi tanggung jawab mereka dan melindungi pekerjaan gereja. Sebagai imbalan atas penyakit dan rasa sakit ini, mereka telah memperoleh pengabdian kepada Tuhan, dan mereka telah memperoleh penerimaan dan perkenanan Tuhan, serta diingat oleh Tuhan. Apakah menurut engkau semua itu sepadan? (Ya.) Setiap pengalaman penderitaan, setiap pengalaman melindungi pekerjaan rumah Tuhan, dan setiap pengalaman mempersembahkan pengabdianmu adalah kenangan yang indah bagimu; semua itu adalah kenangan paling indah yang terbentuk selama melaksanakan tugas makhluk ciptaan. Terkadang, ketika engkau merasakan sakit dan nyeri di tubuhmu ini, dan kemudian merenungkan penderitaan yang telah kautanggung selama bertahun-tahun ini dalam proses pelaksanaan tugasmu, serta hasil yang telah kauperoleh, baik dalam hidup maupun pekerjaan, engkau akan merasa itu sepadan, engkau tidak akan menyesal, dan engkau akan merasa terhibur dalam hatimu. Katakan kepada-Ku, apakah menanggung penderitaan ini sepadan? (Ya.) Sangat sepadan! Bagaimana rasa terhibur dalam hatimu ini bisa muncul? (Dengan menderita dan membayar harga demi melindungi pekerjaan rumah Tuhan.) Engkau memperoleh rasa terhibur dari penderitaan karena hal-hal yang kaulakukan dan pekerjaan yang kaulaksanakan ini semuanya adalah hal-hal positif, semuanya menjaga penegakan keadilan, semuanya melindungi kepentingan Tuhan dan kepentingan rumah Tuhan, dan semuanya adalah menerapkan kebenaran serta mengikuti jalan Tuhan. Hati nuranimu tidak menuduhmu, jadi engkau memperoleh rasa terhibur di dalam hatimu. Semua penderitaan yang kautanggung ini adalah demi melindungi keberadaan hal-hal positif. Hal-hal positif apa? (Misalnya, kemajuan normal pekerjaan gereja, kemajuan normal pekerjaan penginjilan, kepentingan rumah Tuhan, dan sebagainya. Semua ini adalah hal-hal positif.) Itu benar. Engkau melindungi keberadaan hal-hal positif, memastikan setiap pekerjaan gereja berjalan secara normal dan efisien, semua orang sedang melaksanakan tugas yang cocok bagi mereka, dan semua orang mampu tunduk pada pengaturan rumah Tuhan. Tak seorang pun menyebabkan kekacauan dan gangguan, dan tak seorang pun mengabaikan tugas yang semestinya serta mendompleng. Pengaturan personel dan pekerjaan semuanya cocok dan tepat. Jika ada yang menyebabkan kekacauan dan gangguan, engkau dapat segera menemukan dan menghentikan mereka, dan engkau dapat mempersekutukan kebenaran untuk menyelesaikan masalah ini. Jika orang yang menyebabkan kekacauan dan gangguan dapat menerima kebenaran, dan setelah engkau berulang kali bersekutu dengannya dan membantunya serta memberinya kesempatan untuk bertobat, dia pada akhirnya berubah, maka ini adalah hasil dari pekerjaanmu, dan ini adalah hal yang positif. Jika dia tidak menerima kebenaran, dan setelah beberapa kali persekutuan, bantuan, dan pemangkasan, dia tetap tidak dapat berubah, terus menyebabkan kekacauan dan gangguan, dan selalu melampiaskan kenegatifan, dia seharusnya segera dikeluarkan dan ditangani. Bukankah semua ini melindungi keberadaan hal-hal positif? (Ya.) Terlebih lagi, jika engkau dapat menemukan di bagian pekerjaan mana kesalahan telah muncul, atau celah telah muncul, yang menyebabkan pekerjaan mengalami kerugian, kemudian segera menghentikan, menangani, dan menyelesaikannya, bukankah ini melindungi pekerjaan gereja? Bukankah ini melindungi hal-hal positif? (Ya.) Semua ini merupakan perlindungan atas keberadaan hal-hal positif. Jika penderitaan yang kautanggung semuanya adalah demi melindungi keberadaan hal-hal positif yang spesifik ini, maka ketika engkau pada akhirnya mengingat kembali hal-hal yang telah kaulakukan ini, bukankah engkau akan merasa terhibur di dalam hatimu? Engkau pasti akan merasa sangat terhibur di dalam hatimu. Namun, misalkan engkau mengingat kembali berbagai hal sedikit demi sedikit dan engkau mendapati bahwa di balik setiap penderitaanmu, ada hasrat untuk memuaskan kenikmatan dagingmu, atau bahwa engkau menderita demi melindungi harga dirimu sendiri, demi mempertahankan statusmu sendiri dan memperkokoh kekuasaanmu sendiri, atau memperjuangkan semacam keuntungan pribadi—keuntungan materi, keuntungan finansial, atau keuntungan psikologis—dan engkau tidak melakukan satu pun hal positif. Selain itu, meskipun engkau telah menanggung banyak penderitaan, setiap perkataan yang kauucapkan, setiap tindakan yang kauambil, dan setiap pekerjaan yang kaulakukan—baik di depan maupun di belakang orang—sepenuhnya adalah demi dirimu sendiri, demi harga diri dan statusmu sendiri, serta demi reputasimu sendiri, dan apa yang kaulindungi semuanya adalah hal-hal negatif. Jika demikian, ketika engkau kemudian mencocokkan dirimu dengan firman Tuhan dan dengan kebenaran, apa yang akan kaurasakan di dalam dirimu? Apakah engkau akan merasa tenang? (Tidak.) Sekarang pertimbangkan hasil pekerjaanmu: Engkau tidak segera menangani, apalagi menyelesaikan, masalah-masalah yang muncul di bagian pekerjaan mana pun. Siapa pun yang menyebabkan kekacauan dan gangguan, asalkan itu tidak berkaitan dengan status dan kepentinganmu, sebesar apa pun kerugian yang ditimbulkan pada kepentingan rumah Tuhan, engkau tidak menghentikan atau membatasi mereka, melainkan membiarkan segala sesuatunya berlalu, menutup mata, tetap acuh tak acuh, dan tidak mengindahkannya. Setelah itu, ketika Yang di Atas menyelidiki dan menuntut agar pihak-pihak yang bertanggung jawab ditangani dan diminta untuk mengganti kerugian, engkau hanya menerapkan dan melaksanakannya, bersikap asal-asalan dan membiarkannya begitu saja. Engkau tidak pernah secara proaktif menyelesaikan masalah-masalah yang muncul dalam pekerjaanmu sendiri; engkau sepenuhnya pasif. Pekerjaan apa yang bersedia kaulaksanakan, dan yang kaulaksanakan atas inisiatifmu sendiri? Semua itu adalah hal-hal yang kaulakukan untuk melindungi ketenaran, keuntungan, dan statusmu sendiri, dan untuk melindungi kepentinganmu sendiri; semua yang kaulindungi adalah hal-hal negatif. Engkau melakukan hal-hal ini dengan semangat yang tak kenal lelah, tetapi engkau tidak pernah berinisiatif untuk melakukan hal-hal seperti melindungi kepentingan rumah Tuhan atau melindungi hal-hal positif. Ketika suatu hari engkau mengingat hal ini dan memeriksa tindakan serta perbuatanmu sendiri, tidakkah engkau akan merasa bersalah di dalam hatimu? Ketika engkau mencocokkan dirimu dengan firman Tuhan, engkau akan penuh dengan rasa bersalah di dalam hatimu! Jika engkau merasa bersalah, dapatkah engkau memiliki kedamaian dalam hatimu? Dapatkah engkau memiliki penghiburan? Engkau tidak akan memiliki penghiburan maupun kedamaian. Engkau tidak akan merasa terhibur sama sekali setelah menanggung penderitaan ini. Dengan demikian, bukankah menanggungnya tidaklah bermakna? (Ya.) Engkau telah menanggung begitu banyak penderitaan, tetapi engkau tidak tahu apakah yang telah kaulakukan benar-benar perbuatan baik, apakah engkau telah mempersembahkan pengabdianmu, apakah yang telah kaulakukan diterima oleh Tuhan, atau apakah engkau benar-benar orang yang memperoleh keselamatan, di mata Tuhan. Engkau sama sekali tidak tahu tentang semua ini, dan engkau merasa sangat ketakutan di dalam hatimu. Masih bisakah engkau merasa terhibur? (Tidak.) Merasa terhibur di dalam hatimu hingga akhir setelah percaya kepada Tuhan adalah sesuatu yang hanya bisa kauperoleh dengan menempuh jalan yang benar, menjadi orang yang Tuhan sukai, dan mempersiapkan banyak perbuatan baik selama proses pelaksanaan tugasmu; itu bukanlah sesuatu yang kauperoleh dengan menanggung sejumlah penderitaan. Jika natur penderitaanmu adalah demi melindungi kepentingan rumah Tuhan dan demi melindungi hal-hal positif, pada akhirnya engkau akan memperoleh rasa terhibur dari penderitaan tersebut. Namun, jika natur penderitaanmu adalah demi melindungi kepentingan pribadimu dan demi melindungi hal-hal negatif, pada akhirnya, engkau tidak hanya akan gagal memperoleh rasa terhibur darinya, tetapi engkau juga akan merasa tertuduh oleh dirimu sendiri dan gelisah dalam hatimu. Mereka yang merasakan kegelisahan dalam hati mereka selalu merenung, "Apa yang telah kuperoleh dari percaya kepada Tuhan? Lihatlah berapa banyak persembahan yang telah dicuri oleh antikristus, dan berapa banyak pakaian bagus, peralatan yang bagus, dan barang-barang bagus lainnya yang telah mereka ambil untuk diri mereka sendiri. Lihatlah apa yang bisa mereka nikmati, dan lihatlah apa yang kunikmati! Apa yang telah kuperoleh dari menanggung begitu banyak penderitaan?" Engkau lihat, mereka mampu mengatakan hal-hal semacam itu. Fakta bahwa mereka bisa bertanya, "Apa yang telah kuperoleh dari percaya kepada Tuhan?" membuktikan bahwa mereka tidak memiliki rasa terhibur dalam hati mereka; di dalam dirinya, mereka tidak merasa terpenuhi, melainkan merasa hampa. Mereka yang tidak memiliki rasa terhibur merasa tidak tenang di dalam hatinya. Bagi mereka yang benar-benar memiliki rasa terhibur, mengapa mereka memiliki perasaan ini? Itu bukan hanya karena mereka menanggung penderitaan, tetapi terutama karena mereka telah memahami beberapa kebenaran dan telah memperoleh hasil positif selama proses penderitaan. Sementara itu, mereka yang tidak menuai apa pun dari proses penderitaan berpikir bahwa pada akhirnya mereka tidak memperoleh apa pun, bahwa mereka menderita secara tidak adil dan bahwa itu tidak sepadan, dan mereka merasa rugi. Dalam situasi ini, mereka merasa bahwa Tuhan tidak benar dan bahwa Tuhan tidak adil kepada mereka, bahwa orang lain dipromosikan oleh rumah Tuhan untuk menjadi pemimpin dan pekerja serta memiliki status yang lebih tinggi daripada mereka, sementara mereka sekarang lebih rendah dan tidak bisa menikmati apa pun. Setelah menderita dan mengorbankan diri mereka selama bertahun-tahun, mereka pada akhirnya tidak mendapatkan apa-apa, sehingga mereka merasa menentang di dalam hatinya. Jika mereka bisa merasa menentang dan juga merasa diperlakukan tidak adil, maka katakan kepada-Ku, apakah mereka telah memperoleh kebenaran? (Tidak.) Mereka tentu saja tidak memperoleh kebenaran. Jika yang orang peroleh adalah kebenaran, maka mengenai bagaimana mereka menyikapi segala macam hal materi, bagaimana mereka menyikapi status dan reputasi, bagaimana mereka menyikapi penderitaan, bagaimana mereka menyikapi tugas mereka, dan hal-hal lain semacam itu, mereka akan memiliki pemahaman yang benar serta pemikiran dan pandangan yang benar. Pandangan hidup mereka dan jalan hidup yang mereka pilih akan berubah; artinya, hidup di dalam diri mereka akan berubah, dan berbagai perspektif di balik pengejaran mereka juga akan berubah. Ketika orang mengalami perubahan-perubahan ini, dan ketika mereka memperoleh hal-hal ini, mereka merasa terpenuhi. Mereka merasa, "Selama bertahun-tahun mengikuti Tuhan, aku telah memahami banyak kebenaran dan memperoleh banyak hal. Hasil yang kuperoleh berlimpah, dan cawanku penuh melimpah." Meskipun daging mereka sedikit lelah, di dalam hatinya, mereka merasa sangat damai, tenteram, bahagia, dan terhibur. Sebaliknya, mereka yang menderita demi mengejar status dan reputasi pada akhirnya tidak hanya gagal memperoleh banyak manfaat, mereka juga tersingkap dan disingkirkan. Melihat bahwa tidak ada harapan bagi mereka untuk memperoleh berkat, mereka merasa rugi, di dalam hatinya, mereka menjadi makin muak akan kebenaran, dan mereka kehilangan iman kepada Tuhan; ada orang-orang yang bahkan menjadi tidak tertarik untuk percaya kepada Tuhan. Sama halnya dengan orang-orang agamawi yang telah percaya kepada Tuhan seumur hidup mereka; ketika pada akhirnya mereka merasa bahwa mereka tidak memperoleh apa pun, apa yang mereka katakan? Mereka berkata, "Tuhan Yesus itu seperti tembok yang menghalangi jalanku, mencegahku untuk maju dan membuatku tidak bisa melihat terang sama sekali." Inilah yang pada akhirnya diperoleh oleh orang-orang percaya yang percaya seumur hidup mereka. Mereka mengucapkan perkataan memberontak yang keterlaluan seperti itu; bukankah menurutmu mengerikan mendengar hal seperti ini? (Ya.)
Orang-orang yang percaya kepada Tuhan tetapi tidak menerima kebenaran selalu bersiasat demi kepentingan daging mereka sendiri, dan mereka semua bersedia menderita demi ketenaran, keuntungan, dan status mereka sendiri; asalkan bisa menikmati manfaat dari status, mereka merasa puas di dalam hatinya. Setiap tindakan dan perbuatan mereka adalah demi kenikmatan daging mereka sendiri; mereka tidak pernah menerima kebenaran, mereka tidak melindungi pekerjaan gereja, dan mereka tidak melindungi kepentingan rumah Tuhan. Pekerjaan yang mereka lakukan bukanlah demi menjaga penegakan keadilan, melainkan demi melindungi ketenaran, keuntungan, dan status mereka sendiri, serta demi melindungi kepentingan mereka sendiri. Apa yang bisa mereka peroleh dengan menderita hanya demi kepentingan mereka sendiri? Mereka tidak memperoleh apa pun; itu hanyalah upaya yang sia-sia dan sepenuhnya percuma. Ada orang-orang yang menjalani hari-hari mereka dengan sangat getir, seperti orang yang hidup asketis, tidak makan dengan baik, juga tidak menikmati hal-hal yang baik, hanya berfokus untuk lebih banyak sibuk ke sana kemari dan lebih banyak mengorbankan diri. Mereka menetapkan banyak aturan dan peraturan bagi diri mereka sendiri, membuat diri mereka sendiri sangat menderita. Ada orang-orang yang bahkan bekerja sampai jatuh sakit. Namun pada akhirnya, mereka tidak memperoleh kebenaran atau mempersiapkan banyak perbuatan baik. Ini adalah hal yang tragis. Apa yang membuatnya tragis? Di mana akar masalahnya? Mereka menderita hanya demi ketenaran, keuntungan, dan status mereka sendiri, dan mereka hanya mengejar kepentingan pribadi mereka sendiri. Mereka menempatkan "keuntungan" di atas segalanya, dan memprioritaskan kepentingan mereka sendiri di atas apa pun. Mereka tidak pernah mencintai kebenaran di dalam hatinya. Oleh karena itu, mereka hanya menyibukkan diri dan menderita demi kepentingan daging mereka sendiri, tidak pernah menderita sedikit pun untuk melindungi keberadaan hal-hal positif. Di mana mereka ketika orang-orang jahat menyebabkan kekacauan dan gangguan dalam pekerjaan gereja? Di mana mereka ketika si naga merah yang sangat besar menangkap umat pilihan Tuhan, atau ketika seorang Yudas mengkhianati gereja? Mereka melihat hal-hal ini tetapi berpura-pura tidak melihatnya. Mereka tahu tentang hal-hal ini tetapi berpura-pura tidak mengetahuinya. Setelah hal tersebut ditangani, barulah mereka muncul dan berkata, "Aku tidak tahu tentang hal ini. Jika aku tahu, aku pasti sudah menanganinya. Aku tidak memenuhi tanggung jawabku; aku harus bertobat kepada Tuhan, dan aku harus meminta maaf kepada saudara-saudari." Setelah hal tersebut ditangani, mereka tiba-tiba muncul seperti badut. Namun saat suatu masalah muncul, mereka terbirit-birit masuk ke dalam lubang seperti tikus dan menghilang tanpa jejak. Ketika mereka benar-benar dibutuhkan untuk maju guna melindungi keadilan, melindungi kepentingan rumah Tuhan, dan melindungi hal-hal positif, mereka tidak pernah melangkah maju. Mereka tidak menyinggung siapa pun; mereka hanya memilih untuk menjadi penyenang orang, berpura-pura tuli dan bisu, serta berpura-pura tidak melihat atau mendengar apa pun. Ketika orang-orang jahat menyebabkan kekacauan dan gangguan dalam pekerjaan gereja, mereka tahu betul siapa yang menyebabkan gangguan tersebut, tetapi mereka benar-benar tidak mau mengungkapkannya, menolak untuk mengatakan siapa tepatnya yang melakukannya. Seseorang menasihati mereka dengan berkata, "Jangan menjadi penyenang orang. Jika engkau menyingkapkan orang-orang jahat itu dan mengeluarkan mereka dari gereja, sekalipun engkau menyinggung orang dan mendapat tatapan dingin, pada akhirnya engkau telah melindungi kepentingan rumah Tuhan dan mempersembahkan pengabdianmu." Mereka tetap mencari-cari alasan dan berkelit dengan berkata, "Aku tidak tahu rinciannya; aku perlu memeriksanya," kemudian bergegas pergi. Namun, jika ada orang yang memiliki pandangan negatif atau memiliki pendapat tentang mereka, atau jika masalah muncul dalam pekerjaan mereka yang memengaruhi status dan prestise mereka di hati orang-orang, mereka menganggapnya sebagai bencana. Mereka tidak bisa makan maupun tidur; pada jam satu pagi, mereka masih merenungkan bagaimana cara memulihkan citra mereka. Di pagi hari, bahkan tanpa sarapan, mereka mulai memanggil dan mengumpulkan semua orang untuk membenarkan dan membela diri mereka sendiri, menjelaskan mengapa mereka bertindak seperti itu dan di mana letak kesalahannya. Mereka juga meminta maaf kepada semua orang, berharap tidak ada yang akan salah paham terhadap mereka; mereka mengeklaim bahwa itu bukan karena mereka tidak bersedia melaksanakan pekerjaan dengan baik, melainkan karena mereka sibuk dengan hal-hal lain dan tidak punya waktu untuk mengurus hal tersebut—selain tidak memahami situasi yang sebenarnya—yang menjadi alasan mengapa kesalahan itu terjadi dalam pekerjaan. Setelah memenangkan hati semua orang dan menipu semua orang hingga memberi mereka simpati dan pengakuan, mereka pun merasa aman di dalam hatinya: "Pekerjaan telah dilakukan dengan semestinya. Sekarang aku bisa tidur dengan damai dan nyaman serta menikmati makanan. Akhir-akhir ini, selalu ada masalah pada penyesuaian personel, selalu ada pekerjaan yang tak ada habisnya untuk dilakukan, dan selalu ada masalah yang tak ada habisnya untuk diselesaikan dalam pekerjaan. Lihatlah betapa lelahnya aku!" Ketika masalah muncul dalam pekerjaan gereja, dan saudara-saudari bertanya kepada mereka bagaimana menanganinya, mereka berkata, "Tidak perlu terburu-buru. Tidak masalah asalkan ada orang yang melaksanakan pekerjaan itu, asalkan ada orang di setiap posisi dan semua orang sibuk. Pekerjaan rumah Tuhan tidak akan selesai dalam satu atau dua hari. Untuk melaksanakan pekerjaan, kita harus menyikapinya dengan pola pikir jangka panjang, bekerja setelah matahari terbit dan beristirahat setelah matahari terbenam, tanpa terburu-buru atau merasa terdesak. Melakukan lebih sedikit tidak akan membuat situasi menjadi jauh lebih buruk, dan melakukan lebih banyak tidak akan membuat situasi menjadi jauh lebih baik; kita tidak perlu terlalu melelahkan diri sendiri. Jika kita jatuh sakit karena kelelahan, siapa yang akan melaksanakan pekerjaan rumah Tuhan nanti? Bukankah itu tetap menjadi tanggung jawab kita? Jika kita tumbang karena kelelahan, bukankah rumah Tuhan tetap harus membayar biaya pengobatan kita? Kita tidak boleh terlalu melelahkan diri sendiri; kita harus sedikit menahan diri." Bagaimana menurutmu sudut pandang mereka? (Itu salah.) Ketika masalah muncul dalam pekerjaan gereja dan seseorang menyebabkan kekacauan dan gangguan, engkau harus melangkah maju untuk menyelesaikan masalah tersebut dan menangani mereka yang bertanggung jawab. Beberapa dari orang-orang ini harus diberhentikan, dan beberapa harus dikirim ke gereja biasa atau bahkan kelompok B. Mustahil bagimu untuk tidak menyinggung orang lain, dan engkau akan dibenci oleh orang lain, dicaci oleh orang lain, serta dihakimi dan dikucilkan oleh orang lain, dan bahkan menjadi sasaran siasat orang-orang picik. Namun, orang-orang itu merenung di dalam hatinya, "Engkau ingin aku menangani orang-orang jahat? Itu berarti menyinggung orang lain. Aku tidak sebodoh itu! Aku tidak akan menangani mereka! Entah pekerjaan rumah Tuhan terganggu, entah kepentingan rumah Tuhan dirugikan atau tidak, apa hubungannya denganku? Sekalipun beberapa individu membuat masalah serta menyebabkan kekacauan dan gangguan, itu tidak memengaruhi situasi secara keseluruhan, dan pekerjaan tetap dilaksanakan, jadi mengapa mereka harus ditangani? Selain itu, jika aku menangani mereka, bukankah mereka akan membenciku? Sekalipun pekerjaan ini dilaksanakan dengan baik, tak seorang pun akan mengatakan hal baik tentangku, dan Yang di Atas juga tidak akan tahu. Aku akan menyinggung orang dan kemudian harus menderita karena dikucilkan oleh mereka dan mendapat tatapan dingin dari mereka. Aku sama sekali tidak akan menanggung penderitaan itu!" Ketika dihadapkan pada masalah orang-orang jahat yang menyebabkan kekacauan dan gangguan, mereka tidak pernah melangkah maju, mereka tidak pernah melindungi kepentingan rumah Tuhan, dan mereka tidak melakukan pekerjaan mempertahankan keadilan. Mereka bahkan tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk mengungkapkan atau menghentikan orang-orang itu, sangat takut menyinggung orang dan dihakimi atau menjadi sasaran balas dendam. Agar orang tidak salah paham terhadap mereka, dan demi melindungi status serta citra mereka di antara orang-orang, mereka terus-menerus mengadakan pertemuan, dengan penuh kesungguhan membenarkan dan membela diri mereka sendiri, dan berbicara terus-menerus tanpa henti. Namun, ketika menyangkut hal melindungi pekerjaan gereja, mereka tidak mengucapkan sepatah kata pun dan tidak mengerahkan sedikit pun upaya. Apakah orang-orang semacam itu memiliki perbuatan baik? Di mana perbuatan baik mereka? Pada akhirnya, ketika mendapati diri mereka berada di hadirat Tuhan, akankah mereka mampu memberi pertanggungjawaban kepada-Nya? (Tidak.) Mereka tetap merasa bahwa mereka telah menanggung banyak penderitaan dalam melakukan pekerjaan gereja, tetapi untuk apa sebenarnya mereka menderita? Apakah mereka menderita demi penegakan keadilan dan demi pekerjaan rumah Tuhan? (Tidak, mereka menderita demi kepentingan mereka sendiri.) Mereka dapat menanggung penderitaan apa pun demi melindungi kepentingan mereka sendiri, tetapi tidak akan menanggung sedikit pun penderitaan demi melindungi kepentingan rumah Tuhan. Orang-orang semacam itu terlalu egois, dan mereka tidak menempuh jalan yang benar, bukan? (Ya.) Mereka sama sekali tidak melakukan apa pun yang bermanfaat bagi pekerjaan gereja, tetapi mereka melakukan segala sesuatu yang menguntungkan prestise dan status mereka sendiri, tanpa melewatkan satu hal pun; mereka hanya peduli untuk melindungi kepentingan mereka sendiri. Orang-orang seperti ini sangat memalukan! Mereka menderita hanya demi melindungi kepentingan mereka sendiri, tetapi mereka masih mengeklaim penghargaan dari Tuhan dan menuntut upah dari-Nya. Bukankah ini tercela? (Ya.) Orang-orang semacam itu terlalu egois dan tercela; mereka tidak memiliki hati nurani dan nalar. Singkatnya, mereka tidak memiliki kemanusiaan. Orang semacam ini tidak menempuh jalan yang benar. Jika seseorang tidak puas dengan mereka dan mengenali esensi mereka di belakang mereka, atau bahkan melaporkan mereka kepada orang-orang yang di atas dan mengungkapkan bahwa mereka tidak melakukan pekerjaan nyata melainkan telah melakukan beberapa hal yang menyebabkan kekacauan dan gangguan, maka setelah mendengar hal ini, mereka memendam kebencian terhadap orang yang mengungkapkan mereka dan menyerangnya. Mereka tidak memeriksa diri mereka sendiri, juga tidak memperlakukan orang lain dengan benar. Sebaliknya, mereka menentang orang lain dengan membalas setimpal, memanfaatkan hal-hal yang dapat mereka gunakan untuk melawan orang lain itu dan mencari-cari kesalahannya. Mereka bahkan menggunakan firman Tuhan untuk menyerang orang lain. Bukankah ini menghujat firman Tuhan dan menghujat kebenaran? Ini berarti menggunakan kebenaran untuk menyerang dan membalas orang lain demi melindungi statusnya sendiri. Secara pribadi, ada orang-orang jahat yang menghakimi Tuhan dan menghujat Tuhan, menghakimi pengaturan kerja rumah Tuhan, dan mengungkapkan ketidakpuasan mengenai aspek tertentu dari pengaturan kerja rumah Tuhan atau ketidakpuasan terhadap pemimpin dan pekerja pada tingkat tertentu di rumah Tuhan. Setelah mendengar hal ini, orang-orang yang egois dan tercela tersebut mengabaikannya begitu saja dan bertindak seolah-olah tidak mendengarnya; mereka tidak pernah melangkah maju untuk melindungi nama Tuhan atau untuk melindungi pekerjaan rumah Tuhan, mereka juga tidak mengungkapkan orang-orang jahat tersebut. Jika engkau ingin menjadi penyenang orang dan tidak berani mengungkapkan orang-orang jahat, engkau masih bisa melaporkan mereka kepada orang-orang yang di atas; ini akan dianggap memenuhi sebagian dari tanggung jawabmu. Namun, orang-orang seperti ini bahkan tidak dapat memenuhi tanggung jawab sekecil ini. Demi melindungi kepentingan daging serta prestise dan status mereka, mereka akan membayar harga berapa pun, mengarungi lautan api, dan menanggung penderitaan apa pun. Namun, mereka tidak pernah membayar harga atau menanggung penderitaan apa pun untuk melindungi keberadaan hal-hal positif atau untuk memastikan bahwa kebenaran dapat berjalan tanpa hambatan. Setiap kali hal-hal yang mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja ini muncul dan mengharuskan seseorang untuk melangkah maju guna melindungi keberadaan hal-hal positif, engkau tidak pernah melihat orang-orang ini di mana pun, ataupun mendengar pendapat atau sudut pandang mereka. Mereka tidak memiliki sudut pandang; mereka hanya berdiri di sana berpura-pura tuli dan bisu, tidak angkat bicara atau menyatakan posisi mereka, tidak menyinggung siapa pun. Mereka sangat takut menyinggung orang, tetapi tidak takut menyinggung Tuhan. Inilah cara mereka menyikapi kebenaran, menyikapi amanat yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan, menyikapi tugas mereka, dan menyikapi hal-hal positif. Bagi orang semacam ini, melindungi keberadaan hal-hal positif dan menjaga penegakan keadilan tidak ada hubungannya dengan mereka; siapa pun yang melakukannya adalah orang bodoh, dan bagaimanapun juga, mereka tidak akan melakukannya. Mereka tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun untuk melindungi hal-hal positif, mereka juga tidak melakukan satu hal pun untuk melindungi pekerjaan Tuhan. Begitu masalah muncul, mereka mundur ke dalam cangkang mereka seperti kura-kura, tetapi pada akhirnya, mereka tetap menuntut upah dari Tuhan. Tuhan berkata, "Engkau sama sekali tidak menderita demi kebenaran." Mereka bahkan mengeluh, dengan berkata, "Aku telah menanggung begitu banyak penderitaan, aku telah begitu banyak sibuk ke sana kemari, dan aku telah begitu banyak meninggalkan berbagai hal dan mengorbankan diriku. Apa yang telah kunikmati? Apa yang telah kuperoleh?" Satu pernyataan ini menyingkapkan niat mereka dalam percaya kepada Tuhan, dan membuktikan bahwa mereka hanya menanggung penderitaan dan mengorbankan diri mereka demi memperoleh berkat, bukan demi memperoleh kebenaran. Mereka tidak menerima kebenaran dan tidak menempuh jalan yang benar, jadi pada akhirnya, mereka tidak memperoleh kebenaran apa pun. Ini tidak terelakkan; apa yang kautabur, itulah yang kautuai. Oleh karena itu, dalam memandang soal penderitaan, dalam satu aspek, engkau harus memiliki pemikiran dan pandangan yang benar; dalam aspek lain, dan yang terpenting, engkau harus memeriksa apa natur penderitaanmu, apakah penderitaan yang kautanggung bernilai dan apakah ini bermakna, dan apakah ini adalah penderitaan yang sudah seharusnya kautanggung. Jika ini adalah penderitaan yang sudah seharusnya kautanggung, penderitaan yang ditanggung demi melindungi hal-hal positif, dan penderitaan yang ditanggung demi memberi kesaksian bagi Tuhan, maka engkau berkewajiban menanggung penderitaan ini; engkau seharusnya menerima bahwa ini adalah dari Tuhan dan tidak seharusnya menghindarinya.
Ada orang-orang yang selalu berkata, "Aku telah menderita penganiayaan dan kesengsaraan sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, dan apa yang telah kuperoleh?" Benarkah berkata demikian? (Tidak.) Apa yang salah? (Fakta bahwa mereka bisa berkata demikian membuktikan bahwa mereka tidak memperoleh kebenaran apa pun, dan bahwa mereka tidak sedang menempuh jalan mengejar kebenaran.) Ada banyak penderitaan yang sudah seharusnya ditanggung manusia, jadi haruskah mereka memperoleh sesuatu dari penderitaan? Ini berkaitan dengan pemahaman dan sudut pandang orang mengenai penderitaan. Jika penderitaan ini adalah apa yang sudah seharusnya kautanggung, apa yang harus kautanggung, dan apa yang telah Tuhan tetapkan dari semula, lalu apa tepatnya yang dapat kauperoleh dengan menanggung penderitaan ini? Sebagai contoh, orang belum tentu memperoleh apa pun dari menanggung penderitaan membesarkan anak atau penderitaan dianiaya karena percaya kepada Tuhan. Lalu, akankah engkau menanggung penderitaan ini atau tidak? Ini bergantung pada apakah jalan yang ditempuh seseorang itu benar atau tidak dan apakah ia adalah orang yang mengejar kebenaran. Jika orang mencari kebenaran dalam segala sesuatu saat mengalami pekerjaan Tuhan, dan memiliki ketundukan sejati kepada Tuhan, mereka akan memperoleh sesuatu dari menanggung penderitaan ini. Ini mengharuskan orang memiliki tekad untuk tunduk, dan untuk tunduk pada pengaturan Tuhan; mereka tidak boleh menyikapi penderitaan dengan pola pikir transaksional. Ada orang-orang yang berkata, "Jika aku mengerahkan upaya, aku seharusnya mendapatkan sesuatu sebagai balasannya; jika aku menanggung sedikit penderitaan, aku seharusnya menuai sedikit hal yang manis. Hanya dengan begitu, barulah penderitaan ini sepadan, dan hanya di sinilah letak nilai penderitaanku." Benarkah sudut pandang ini? (Tidak.) Lalu, mengenai hal penderitaan, pemahaman macam apa dan pengertian macam apa yang benar? (Jika penderitaan yang kami tanggung ditetapkan dari semula oleh Tuhan dan merupakan apa yang sudah seharusnya kami tanggung, kami wajib menerimanya. Sekalipun pada akhirnya kami tidak memperoleh apa pun, kami tidak seharusnya mengeluh. Kami seharusnya memiliki sikap yang tunduk, tunduk pada pengaturan dan penataan Sang Pencipta. Pada saat yang sama, ketika kami menanggung penderitaan, kami seharusnya berfokus mencari kebenaran dan memperoleh kebenaran. Dengan cara ini, penderitaan yang kami tanggung menjadi bernilai dan bermakna.) Sering kali, tujuan positif dari penderitaan adalah untuk melindungi keberadaan hal-hal positif, dan pada akhirnya mampu memperoleh sesuatu, serta mampu memperoleh kebenaran dan mengenal kebenaran. Ini adalah tujuan yang sangat baik. Namun, faktanya, penderitaan sering kali dialami dan ditanggung dalam suatu proses yang berjalan biasa saja. Ketika engkau menyimpulkannya dalam jangka pendek, engkau mendapati bahwa engkau tidak memperoleh apa pun, bahwa fisikmu cukup lelah, bahwa engkau bahkan mungkin harus menanggung suatu penyakit, dan bahwa engkau tidak membuat kemajuan apa pun dalam kebenaran, tidak memiliki jalan masuk kehidupan yang lebih dalam, dan tidak memperoleh pemahaman yang lebih jauh tentang maksud Tuhan. Kalau begitu, apakah menanggung penderitaan ini sia-sia? Ada orang-orang yang berpikir, "Dalam situasi ini, bolehkah aku berdoa kepada Tuhan untuk mengeluarkanku dari lingkungan yang sukar semacam itu? Apakah aku punya alasan untuk menghindari dan menolak lingkungan yang sukar semacam itu?" Benarkah berpikir demikian? (Tidak.) Engkau perlu memahami hal ini dengan cara ini: Mampu memperoleh beberapa hal yang positif dan baik dari penderitaan adalah sesuatu yang sangat didambakan, dan itulah hasil terbaik yang pada akhirnya dapat didatangkan oleh penderitaan. Namun, jika penderitaan yang kautanggung dalam kehidupanmu sehari-hari diatur oleh Tuhan dan ditetapkan sejak semula oleh Tuhan, dan merupakan apa yang harus kaualami untuk memperoleh keselamatan, maka engkau harus menerima bahwa itu adalah dari Tuhan dan menyikapinya dengan benar. Bagaimana engkau bisa menyikapinya dengan benar? Engkau harus memiliki pemikiran dan pandangan yang benar, yaitu engkau harus memahami bahwa penderitaan adalah bagian dari hidup manusia, dan merupakan tahap yang harus orang alami selama mereka hidup, yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun. Tentu saja, itu juga merupakan tahap yang harus dialami semua orang untuk memperoleh keselamatan. Mungkin saja pada akhirnya engkau tidak memperoleh penghiburan, tetapi setiap kali menanggung penderitaan, engkau rela dan mampu menerima bahwa hal itu adalah dari Tuhan dan memiliki sikap yang tunduk, serta tidak pernah mencoba tawar-menawar dengan Tuhan. Menempuh jalan semacam itu dan membuat pilihan ini adalah tanggung jawab yang seharusnya dipenuhi oleh makhluk ciptaan, dan itu adalah sikap yang seharusnya kaumiliki terhadap perjalanan hidup yang diatur oleh Sang Pencipta; itu adalah sikap yang seharusnya dimiliki seseorang terhadap kesukaran hidup. Menerima kesukaran dan mampu menanggung penderitaan adalah bagian dari memenuhi tanggung jawabmu, jadi engkau seharusnya tidak menghindarinya, dan engkau juga seharusnya tidak memilih apakah akan menanggungnya atau tidak. Semua orang harus menanggung sejumlah penderitaan dalam hidup dan selama proses percaya kepada Tuhan untuk memperoleh keselamatan. Tentu saja, penderitaan yang sedang kita bicarakan bukanlah jenis penderitaan yang ditanggung orang untuk mengejar ketenaran, keuntungan, dan status, atau untuk mengejar kepentingan daging mereka sendiri, melainkan suatu penderitaan yang harus ditanggung semua orang selama proses menempuh jalan yang benar dalam hidup manusia dan mengejar keselamatan. Penderitaan semacam ini adalah bagian dari kehidupan, bagian dari proses bertahan hidup, dan terlebih lagi, tahap yang harus dialami orang untuk pada akhirnya memperoleh keselamatan. Engkau seharusnya menyikapinya dengan benar. Inilah sikap yang seharusnya kaumiliki terhadap lingkungan yang sukar, dan ini juga merupakan tanggung jawab yang seharusnya kaupenuhi. Artinya, penderitaan juga merupakan bagian dari melaksanakan tugasmu dan memenuhi tanggung jawabmu sebagai makhluk ciptaan; itu bukanlah tambahan. Itu adalah sesuatu yang diatur oleh Sang Pencipta bagi setiap makhluk ciptaan. Tingkat, waktu, dan durasi penderitaan berbeda-beda bagi setiap orang, tetapi semua orang harus mengalaminya; semua orang harus melewati rintangan ini. Ini adalah tanggung jawab yang seharusnya orang penuhi. Jika engkau ingin menjadi makhluk ciptaan yang baik, engkau seharusnya menyikapi penderitaan dengan benar; engkau seharusnya menerima bahwa itu adalah dari Tuhan, engkau tidak seharusnya menolaknya, dan engkau tidak seharusnya bersikap menentang terhadapnya. Tentu saja, terlebih lagi, engkau tidak seharusnya menggunakan penderitaan untuk mengeklaim jasa atau mencoba tawar-menawar dengan Tuhan, melainkan menerima penderitaan sebagai tanggung jawab yang seharusnya kaupenuhi. Menurut engkau semua, apakah memahaminya seperti ini murni? Apakah ini selaras dengan kebenaran? (Ya.) Dengan memahaminya seperti ini, bukankah engkau akan memiliki pemahaman yang lebih dalam dan lebih nyata tentang penderitaan, serta pola pikir yang benar? (Ya, dengan cara ini, aku tidak akan bersikap menentang terhadap penderitaan, dan akan mudah untuk tunduk ketika aku mendapati diriku berada di lingkungan tertentu.) Mampu tunduk dan tidak bersikap menentang adalah sikap yang seharusnya dimiliki oleh makhluk ciptaan terhadap penderitaan. Sekalipun engkau menanggung banyak penderitaan dan membayar banyak harga selama proses mengejar kebenaran dan melaksanakan tugas dengan baik sebagai makhluk ciptaan, dan sekalipun engkau menderita penganiayaan serta kesengsaraan karena kepercayaanmu kepada Tuhan, begitu engkau memiliki pemahaman yang benar tentang menanggung penderitaan ini dan membayar harga ini, engkau tidak akan merasa bahwa menanggung penderitaan ini adalah semacam modal bagi dirimu sendiri. Engkau tidak akan memandang dirimu sebagai seseorang yang berjasa karena penderitaanmu, engkau juga tidak akan memamerkan seberapa banyak penderitaan yang telah kautanggung untuk memberi kesaksian tentang kerja keras dan kontribusimu sendiri agar orang lain sangat menghormatimu. Engkau tidak akan menyombongkan senioritasmu, berpuas diri dengan prestasimu di masa lalu, atau mencoba tawar-menawar dengan Tuhan, apalagi menuntut perlakuan khusus di rumah Tuhan atau mengeklaim jasa dari siapa pun karena engkau telah menanggung banyak penderitaan. Jika engkau percaya bahwa penderitaan adalah tanggung jawab yang seharusnya kaulaksanakan dan penuhi sebagai makhluk ciptaan di hadapan Sang Pencipta, engkau tidak seharusnya menggunakan penderitaan sebagai modal untuk menuntut upah dari Tuhan atau membuat Tuhan menyelamatkanmu, bukan? (Benar.) Jika engkau bertindak seperti ini, dapatkah itu membangkitkan tekadmu untuk mengejar kebenaran? (Tidak.) Bertindak seperti ini jelas merupakan upaya untuk bertransaksi dengan Tuhan, yang merupakan sesuatu yang Dia benci.
Di masa lalu, banyak pemimpin dan pekerja menanggung sejumlah penderitaan, dan tentu saja hari-hari itu cukup sulit untuk dilalui. Karena penangkapan dan penganiayaan yang dilakukan oleh si naga merah yang sangat besar, lingkungannya sangatlah buruk. Semua pemimpin dan pekerja berisiko ditangkap dan dipenjarakan karena melaksanakan pekerjaan gereja; ada orang-orang yang menjadi buronan dan hanya bisa melarikan diri serta hidup dalam pengasingan, tidak dapat pulang ke rumah, dan—karena merasa kesepian dan tidak berdaya seorang diri—mereka sering menangis getir dan berdoa di hadapan Tuhan. Baik dalam hal kondisi hidup mereka maupun dalam hal berada di lingkungan di mana mereka diburu, mereka menanggung sejumlah penderitaan. Setelah itu, orang-orang ini akan selalu merasa bahwa mereka telah memberikan kontribusi yang sangat besar kepada rumah Tuhan dan pekerjaan rumah Tuhan, bahwa mereka telah memberikan pelayanan yang berjasa kepada rumah Tuhan, dan bahwa ketika Tuhan memperoleh kemuliaan yang besar, mereka seharusnya mendapat bagian dalam kemuliaan-Nya. Dengan pendapat dan sikap semacam ini, mereka sering bersaksi di berbagai kesempatan tentang betapa banyak penderitaan yang telah mereka tanggung, tahun dan bulan mana yang paling menyakitkan bagi mereka, dan betapa tersiksanya mereka pada saat itu hingga tak bisa makan di siang hari dan sering terbangun karena mimpi buruk di malam hari, dan betapa tersiksanya mereka hingga wajah mereka menjadi pucat kekuningan dan berat badan mereka turun drastis. Semua orang yang mendengarnya merasa kagum dan iri; tentu saja, beberapa individu juga merasa cemburu. Ada juga beberapa orang yang terharu hingga meneteskan air mata mendengar pengalaman kesukaran yang diceritakan orang-orang itu, dengan berkata, "Sungguh mengagumkan bahwa engkau begitu menderita! Engkau telah membuat kami terharu hingga meneteskan air mata seperti ini. Tuhan juga pasti sangat terharu. Penderitaanmu sangat sepadan. Engkau luar biasa!" Mereka bersaksi tentang penderitaan mereka sendiri tidak hanya pada satu kesempatan; sebaliknya, di banyak kesempatan berbeda, mereka sering bersaksi tentang betapa banyak penderitaan yang telah mereka tanggung, betapa banyak pencapaian mereka, dan betapa banyak kontribusi mereka pada rumah Tuhan melalui penderitaan ini. Namun, mereka sama sekali tidak mau berbicara tentang seberapa banyak kebenaran yang mereka pahami, watak rusak apa yang mereka buang, seberapa besar pertumbuhan hidup mereka, kesaksian apa yang mereka berikan bagi Tuhan, hasil apa yang mereka capai dalam melaksanakan pekerjaan gereja, atau tujuan benar apa yang mereka pertahankan, melalui penderitaan mereka. Mereka tidak memiliki kesaksian semacam itu untuk diberikan. Yang mereka bicarakan hanyalah bagaimana mereka menderita dan betapa banyak penderitaan mereka. Tujuan akhir mereka adalah memberi tahu orang-orang bahwa mereka telah bekerja keras dan banyak berkontribusi, bahwa kontribusi ini tidak terhapuskan, bahwa mereka adalah sokoguru dan andalan di rumah Tuhan, dan bahwa mereka seharusnya menikmati perlakuan istimewa, serta seharusnya menikmati penghormatan yang mendalam dari orang lain. Orang-orang seharusnya tidak hanya iri dan mengagumi mereka, tetapi juga meninggikan mereka dan bersaksi tentang penderitaan mereka. Lihatlah betapa "luar biasa" dan betapa "sepadan" penderitaan mereka! Mereka menerima pujian semua orang, dengan suara pujian yang muncul silih berganti dan terus-menerus terngiang di telinga mereka. Katakan kepada-Ku, apakah penderitaan mereka sepadan? Apakah orang-orang ini luar biasa? Dapatkah mereka mendapat bagian dalam kemuliaan Tuhan bersama-Nya? (Tidak.) Lalu apa tujuan mereka bersaksi tentang diri mereka sendiri dengan cara seperti ini? (Untuk membuat orang-orang melihat bahwa mereka telah banyak menderita, sehingga orang-orang akan mengagumi mereka dan sangat menghormati mereka.) Mereka ingin memperoleh kemuliaan, bukan? (Ya.) Mereka mencoba menukar penderitaan mereka dengan kemuliaan; tujuan mereka bukan semata-mata untuk memperoleh mahkota dan upah. Yang terpenting, mereka ingin memperoleh kemuliaan di antara orang-orang, mereka ingin orang-orang memuja mereka, dan mereka ingin orang-orang mengagumi mereka serta mengingat mereka. Apakah mereka meminta terlalu banyak? Apakah ambisi mereka sangat besar? (Ya, sangat besar.) Bahkan Aku tidak pernah berani berbicara tentang memperoleh kemuliaan di antara engkau semua. Apa yang selalu Kubicarakan? Membawa engkau semua ke hadapan Tuhan, membawa engkau semua ke dalam kenyataan kebenaran, membantu engkau semua untuk memahami kebenaran, memiliki jalan untuk diikuti, dan tahu cara menerapkan sesuai dengan prinsip, serta membawa engkau semua ke jalan keselamatan, agar engkau semua dapat diselamatkan; tetapi Aku tidak pernah berbicara tentang memperoleh kemuliaan. Namun, orang-orang semacam itu secara khusus bersaksi tentang bagaimana mereka menderita dan bagaimana mereka membayar harga, berbicara tentang bagaimana mereka ditangkap dan dianiaya oleh pemerintah serta difitnah dan dihakimi oleh orang-orang duniawi, betapa banyak pengucilan yang mereka derita, betapa banyak perlakuan tidak adil yang mereka derita, betapa banyak rasa sakit fisik yang mereka tanggung, dan bagaimana mereka mengatasinya, demi percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugas mereka. Mereka tidak hanya ingin bersaksi tentang penderitaan mereka, tetapi juga ingin bersaksi tentang betapa hebatnya mereka, betapa tinggi tingkatan mereka, dan betapa uniknya mereka, saat menanggung penderitaan mereka, serta betapa mereka melampaui daging selama proses ini. Mereka ingin memperoleh kemuliaan, bukan? (Ya.) Jika orang selalu bersaksi tentang bagaimana mereka telah menderita, apakah menurut engkau semua mereka bertujuan untuk menyebarkan cara yang benar dalam memandang penderitaan, atau untuk bersaksi tentang kisah penderitaan mereka sendiri dan menyebarluaskannya? (Mereka ingin bersaksi tentang kisah penderitaan mereka sendiri dan menyebarluaskannya.) Mereka menganjurkan penggunaan penderitaan untuk tawar-menawar dengan Tuhan dan mendapatkan bagian dalam kemuliaan-Nya bersama-Nya. Inilah yang mereka anjurkan. Ke mana pun mereka pergi, saat memberitakan Injil, mereka bersaksi tentang berapa kali mereka dipukuli, dikutuk, diusir, dan dianiaya oleh orang-orang agamawi, dan betapa banyak penderitaan mereka; betapa banyak penderitaan mereka karena ditolak, difitnah, dan dicaci maki oleh kerabat, teman, dan orang-orang duniawi; dan betapa banyak penderitaan mereka karena diburu oleh pemerintah, harus bersembunyi di mana-mana, tidak memiliki rumah untuk pulang, dan bahkan tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala mereka sama seperti Anak manusia. Ada juga orang yang bersaksi tentang betapa banyak kesulitan yang mereka atasi dan betapa banyak penderitaan mereka saat mengatasi penyakit daging ketika melaksanakan tugas mereka. Mereka sering menyerukan hal-hal ini di hadapan orang lain, tetapi mereka tidak pernah membagikan apa pun tentang pengalaman hidup mereka; mereka hanya berkhotbah dan bersaksi tentang kisah penderitaan mereka sendiri. Tujuan mereka hanyalah untuk membuat orang-orang sangat menghormati mereka. Katakan kepada-Ku, mereka ingin orang-orang sangat menghormati mereka, tetapi apa yang mereka inginkan dari Tuhan? Apakah mereka hanya ingin Tuhan juga sangat menghormati mereka? Bukan hanya itu yang mereka inginkan, bukan? Kalau begitu, mereka memiliki pandangan yang sama dengan Paulus: "Aku sudah melakukan pertandingan yang baik, aku sudah menyelesaikan perlombaanku, aku sudah menjaga imanku: Mulai dari sekarang sudah tersedia bagiku mahkota kebenaran" (2 Timotius 4:7-8). Mereka bahkan pada akhirnya tawar-menawar dengan Tuhan, dengan berkata, "Tuhan telah memperoleh kemuliaan, jadi aku juga seharusnya memperoleh kemuliaan bersama-Nya! Karena aku menderita bersama Tuhan, aku juga mendapat bagian dalam kemuliaan Tuhan! Tuhan telah mengenakan mahkota emas. Dia juga seharusnya memberiku sebuah permata. Bukankah aku seharusnya menikmati penyembahan dan penghormatan yang mendalam dari umat manusia, sama seperti Tuhan?" Bukankah ini maksud mereka? (Ya.) Dengan demikian, apakah hal yang baik bagi mereka untuk bersaksi tentang penderitaan mereka dengan cara seperti ini? (Tidak.) Mengapa itu tidak baik? (Mereka ingin menempatkan diri mereka pada kedudukan yang setara dengan Tuhan, yang merupakan sesuatu yang Dia benci. Mereka juga bersaing dengan Tuhan untuk memperebutkan orang-orang.) Mari kita kesampingkan apa sudut pandang dan motif pribadi mereka. Hanya dalam hal apa yang mereka persekutukan, berapa banyak orang yang tidak memahami kebenaran yang akan mereka sesatkan? Orang-orang sudah tidak memiliki pemahaman yang murni tentang penderitaan dan tidak memahami aspek kebenaran ini. Terlebih lagi, dilihat dari esensi watak rusak daging manusia, semua orang suka menerima berkat dan menerima upah. Namun, orang-orang seperti ini selalu bersaksi tentang penderitaan mereka sendiri; niat mereka, serta pernyataan dan tindakan mereka, pada hakikatnya, memuaskan hasrat dan tuntutan umat manusia yang rusak. Dengan berbicara seperti ini dan bertindak seperti ini, mereka mengobarkan ambisi dan hasrat orang, mereka mengobarkan hasrat orang untuk menukar penderitaan dengan berkat, dan mereka juga mengobarkan ide serta praktik menukar penderitaan dengan upah dari Tuhan dan tawar-menawar dengan-Nya. Akibat dari hal ini, apakah orang-orang memiliki lebih banyak ketundukan kepada Tuhan atau lebih sedikit ketundukan? (Lebih sedikit ketundukan.) Mengapa mereka memiliki lebih sedikit ketundukan? (Itu karena orang-orang sudah memiliki watak yang rusak. Ketika mereka menanggung sedikit penderitaan, mereka cenderung menganggapnya sebagai modal yang dapat mereka gunakan untuk bertransaksi dengan Tuhan, dan ketika mereka kemudian disesatkan oleh pernyataan dan penerapan orang-orang semacam itu, mereka merasa makin yakin bahwa menukar penderitaan dengan berkat dapat dibenarkan, dan mereka makin tak mampu mengenali niat tercela mereka sendiri untuk bertransaksi dengan Tuhan. Dengan demikian, mereka makin tak mampu untuk tunduk kepada Tuhan.) Mereka merasa memiliki dasar untuk berbuat demikian, dan merasa bahwa mereka memiliki dukungan. Ketika mereka bersatu, mereka merasa lebih kuat: "Ada kekuatan dalam jumlah. Hukum tidak dapat ditegakkan jika semua orang adalah pelakunya. Semua orang berpikir seperti ini, memahaminya seperti ini, dan mengejarnya seperti ini. Jika kami semua tawar-menawar dengan Tuhan dan memaksa-Nya, tidak ada yang dapat Dia lakukan terhadap kami." Mereka jelas-jelas sedang mengumpulkan massa untuk menimbulkan masalah, dan bersatu menggunakan kesesatan dan kekeliruan untuk melawan Tuhan. Dengan terus-menerus bersaksi tentang penderitaan mereka sendiri, bukankah orang-orang itu sedang menyesatkan orang lain? Bukankah mereka merusak orang-orang lebih jauh lagi? (Ya.) Oleh karena itu, kesaksian mereka yang terus-menerus tentang penderitaan mereka sendiri tidak hanya gagal membangun orang lain atau membuahkan hasil yang positif. Sebaliknya, itu justru menyesatkan dan merusak orang lain. Kalau begitu, peran apa yang sedang dimainkan oleh orang-orang semacam itu? (Peran Iblis.) Mereka sedang memainkan peran Iblis. Ini sama persis dengan Iblis yang menyesatkan orang-orang. Iblis berkata, "Manusia tidak diciptakan oleh Tuhan. Sama sekali tidak ada Tuhan di dunia ini. Manusia berevolusi dari kera. Selangkah demi selangkah, kera mulai berjalan tegak dan secara bertahap berevolusi menjadi manusia modern!" Setelah mendengar hal ini, orang-orang menerimanya: "Manusia tidak diciptakan oleh Tuhan. Tidak ada Tuhan di dunia ini. Kami tidak bisa melihat di mana Tuhan berada, tetapi kami bisa melihat bahwa kera agak mirip dengan manusia, jadi kami yakin bahwa manusia berevolusi dari kera." Ketika orang menerima kesesatan dan kekeliruan dari Iblis, apakah itu penerimaan yang sederhana? Itu tidak seperti memakan sesuatu yang masuk ke dalam perut tanpa menghasilkan reaksi apa pun. Sebaliknya, yang terjadi adalah bahwa pemikiran dan pandangan tertentu dari Iblis masuk ke dalam hati manusia, meresap ke dalam darah dan sumsum mereka. Pemikiran dan pandangan orang-orang kemudian diubahkan, dan natur Iblis mereka kemudian terbentuk. Setelah ini, orang-orang mengembangkan keraguan dan bersikap menentang terhadap firman yang Tuhan ucapkan, dan menolak untuk menerimanya. Mereka menyangkal bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatu dan memegang kedaulatan atas segala sesuatu, dengan berpikir, "Manusia berevolusi dari kera. Ia tidak diciptakan oleh Tuhan." Mengenai fakta bahwa Tuhan memegang kedaulatan atas segala sesuatu serta mengatur segala sesuatu, dan bahwa nasib manusia berada di tangan Tuhan, orang tidak lagi memercayai fakta-fakta ini. Kemudian, Iblis merusakmu lebih jauh lagi, dengan memberitahumu, "Manusia akan menang atas alam," dan "Bertempur melawan Tuhan itu menyenangkan! Bertempur melawan bumi itu menyenangkan! Bertempur melawan orang itu menyenangkan!" Setelah mendengar hal ini, engkau menerima klaim Iblis dan melawan hukum alam untuk melakukan ini dan itu. Pemikiran dan pandangan Iblis ini tanpa disadari memengaruhimu, melebur ke dalam dirimu sedikit demi sedikit. Ketika engkau sekali lagi mendengar perkataan "Tuhan memegang kedaulatan atas segala sesuatu dan memegang kedaulatan atas nasibmu", engkau merasa, "Aku tidak bisa melihat bagaimana Tuhan memegang kedaulatan atas segalanya. Tidak ada Tuhan!" Nah? Bukankah orang-orang telah sepenuhnya ditawan oleh Iblis? (Ya.) Ditawan oleh Iblis dimulai dengan menerima pemikiran dan pandangan yang keliru.
Ada orang-orang yang selalu bersaksi tentang penderitaan mereka sendiri dan menyebarkan sudut pandang yang keliru tentang penderitaan. Begitu orang menerima pemikiran dan pandangan ini—ditambah dengan fakta bahwa mereka memiliki ambisi dan hasrat, serta memiliki watak yang rusak—mereka memandangnya sebagai suatu kepastian bahwa mereka dapat menukar penderitaan mereka dengan berkat dan menggunakan penderitaan mereka sebagai sarana untuk mendapat bagian dalam kemuliaan Tuhan bersama-Nya. Kemudian, mereka semua pergi dan menderita, dan mereka semua berfokus untuk menanggung penderitaan. Tak seorang pun dari mereka menerapkan kebenaran, tak seorang pun dari mereka berfokus untuk mendengarkan firman Tuhan, dan tak seorang pun dari mereka mengerahkan upaya demi kebenaran. Sebaliknya, mereka bersaing untuk melihat siapa yang bisa lebih banyak menanggung penderitaan, mereka bersaing untuk melihat siapa yang menanggung lebih banyak penderitaan, mereka bersaing untuk melihat siapa yang makan makanan yang lebih buruk dan memakai pakaian yang lebih lusuh, dan mereka bersaing untuk melihat siapa yang bangun lebih awal dan tidur lebih larut. Inilah yang mereka persaingkan. Ada orang-orang yang tidak pergi makan saat waktunya makan. Mereka berkata bahwa mereka terlalu sibuk melaksanakan tugas mereka sehingga tidak sempat makan, jadi mereka melewatkan waktu makan. Setelah mendengar hal ini, beberapa orang lain berkata, "Apa hebatnya sesekali melewatkan waktu makan? Aku memiliki penyakit lambung, tetapi itu tidak menunda pelaksanaan tugasku." Kemudian orang lain menambahkan, "Engkau memiliki penyakit lambung. Aku sendiri menderita tukak lambung." Dengarkan apa yang dikatakan orang-orang ini. Apakah mereka memiliki kenyataan kebenaran? Mereka hanya bersaing mengenai siapa yang lebih menderita dan penyakit siapa yang lebih parah, meyakini bahwa Tuhan paling berkenan kepada orang yang paling menderita. Apakah mereka memiliki nalar ketika mengatakan hal-hal semacam itu? Bukankah mereka tidak waras? Dari mana datangnya perwujudan ketidakwarasan ini? Itu disebabkan karena orang menerima segala macam kesesatan dan kekeliruan. Mereka tidak memahami kebenaran. Dalam firman Tuhan, semua aspek kebenaran telah dipersekutukan dengan jelas, tetapi mereka tidak makan dan minum firman Tuhan, juga tidak mencari kebenaran. Ketika sesuatu terjadi pada mereka, mereka bertindak berdasarkan gagasan dan imajinasi mereka, dan bertindak berdasarkan berbagai pemikiran dan pandangan keliru yang ditanamkan Iblis ke dalam diri mereka. Mereka menyimpang makin jauh dari Tuhan, dan pada akhirnya kondisi mental mereka menjadi tidak normal. Jadi, menurut pandangan-Ku, terus-menerus bersaksi tentang penderitaan diri sendiri tidaklah pantas. Bagaimana menurut engkau semua? (Itu tidak pantas. Natur hal ini sangatlah serius.) Natur hal ini serius, dan membawa konsekuensi yang serius. Jika engkau percaya bahwa penderitaan dapat ditukar dengan upah dan berkat, engkau seharusnya mencari kebenaran mengenai hal ini. Jika engkau terus-menerus mencoba berdebat dengan Tuhan dan berdoa, dengan berkata, "Tuhan, lihatlah bagaimana, selama bertahun-tahun aku percaya kepada-Mu, aku telah meninggalkan keluarga dan karierku untuk melaksanakan tugasku. Aku juga telah menderita penganiayaan oleh PKT dan menanggung begitu banyak penderitaan. Aku jatuh sakit karena kelelahan, dan sekarang aku berusia paruh baya serta kesehatanku buruk. Demi semua penderitaan yang telah kutanggung, dapatkah Engkau memberiku beberapa upah atau mahkota pada akhirnya? Aku bahkan rela menjadi seorang perwira di kerajaan di masa depan," maka lihatlah bagaimana perasaanmu di dalam hati setelah berdoa seperti ini. Jika engkau tidak dapat menyadari bahwa doamu mengandung ketidakmurnian dan mengandung motif, itu berarti engkau berada dalam masalah; Aku khawatir watak rusakmu tidak dapat dibereskan. Oleh karena itu, jika engkau memiliki nalar, engkau seharusnya menyampaikan sudut pandang dan niatmu kepada Tuhan dalam doa, meminta pencerahan dan penerangan Roh Kudus, dan membiarkan Tuhan memeriksa segala sesuatu untukmu. Sebelum engkau mencapai keyakinan tentang benar atau tidaknya sudut pandangmu, engkau sama sekali tidak boleh menyebarkan atau bersaksi tentang pemikiran dan pandanganmu di antara saudara-saudari, apalagi bersaksi tentang bagaimana engkau telah menderita dan bagaimana engkau telah membayar harga. Jika engkau berbuat demikian, engkau tidak memiliki nalar. Ini sama dengan pengejaran Paulus. Di satu sisi, menyebarluaskan kisah penderitaanmu sendiri seperti ini dan bersaksi tentang hal itu akan memengaruhi orang lain. Selain itu, begitu engkau menyesatkan orang-orang, dan semua orang memujamu dan mengikutimu, natur hal ini menjadi serius. Tidak hanya penderitaan yang telah kautanggung itu menjadi sia-sia, tetapi engkau juga akan dihukum oleh Tuhan. Jadi, apa natur dari bersaksi tentang bagaimana engkau menderita dan membayar harga? Bersaksi tentang penderitaanmu sendiri dengan cara seperti ini menyesatkan orang-orang; inilah cara Paulus bertindak. Engkau sedang menyebarkan kesesatan dan pandangan yang keliru untuk memberi kesaksian tentang dirimu sendiri. Sebanyak apa pun engkau menderita, tidak perlu menyombongkannya. Jika engkau rela menderita, teruskanlah. Jika engkau merasa bahwa engkau telah cukup menderita dan memenuhi syarat untuk tawar-menawar dengan Tuhan, maka pergilah ke hadapan Tuhan dan berdoalah kepada-Nya. Jika Tuhan tidak berkenan akan dirimu, engkau harus merenungkan apakah pendekatan mencoba menukar penderitaan dengan upah ini bisa berhasil. Jika tidak, engkau harus memilih jalan yang benar agar memperoleh perkenanan Tuhan. Misalkan engkau dengan keras kepala berpaut pada jalanmu sendiri, dengan berpikir, "Penderitaanku adalah hal yang positif. Dapat dibenarkan jika aku menerima upah karena begitu banyak menderita. Aku harus menanggung penderitaan yang tidak ditanggung orang lain, dan menanggung kesukaran yang tidak dapat ditanggung orang lain, karena seperti kata pepatah, 'Kau harus menanggung penderitaan yang sangat besar agar bisa unggul dari yang lain.' Bukankah sudut pandang ini sangat bagus? Ini sangat hebat, dan sangat benar! Aku harus berpegang teguh padanya, dan tidak pernah melepaskannya. Ini adalah senjata rahasia untuk memperoleh upah dan memperoleh berkat!" Apakah itu senjata rahasia? Bukankah ini mencoba bertransaksi dengan Tuhan? Melihat bahwa engkau telah menderita selama bertahun-tahun, bekerja keras, dan berkontribusi besar, mungkin Tuhan akan menganugerahkan kasih karunia kepadamu, membuatmu kuat dan menyembuhkanmu dari setiap penyakit; atau Dia mungkin memberimu kecerdasan dan hikmat, sehingga engkau tidak lagi begitu bodoh. Semua ini adalah hal-hal yang dapat dengan mudah dilakukan. Bukankah ini yang kaukejar? Akan terlalu mudah bagi Tuhan untuk menganugerahkan hal-hal ini kepada orang-orang. Namun, bernilaikah menukar penderitaanmu dengan hal-hal ini? (Tidak.)
Apa hasil yang engkau semua harapkan dari percaya kepada Tuhan? Apakah engkau memiliki tujuan? (Ya.) Apakah tujuanmu dalam percaya kepada Tuhan sudah jelas sekarang? (Sudah jelas sekarang.) Dalam percaya kepada Tuhan, mengenai apa yang seharusnya dan tidak seharusnya kaulakukan; jalan apa yang seharusnya kautempuh dan jalan yang seharusnya kautolak; bagaimana engkau seharusnya memahami dan mengerti persoalan tertentu serta aspek-aspek tertentu dari berbagai hal; pemikiran dan pandangan mana yang benar, positif, dan seharusnya dimiliki oleh orang-orang, dan pemikiran serta pandangan mana yang menyimpang, menyeleweng dari jalan yang benar, merupakan hal-hal negatif, dan seharusnya dibedakan serta ditolak oleh orang-orang—apakah engkau semua mengetahui hal-hal ini? (Sedikit.) Penderitaan macam apa pun yang mampu ditanggung seseorang dikendalikan oleh pemikiran dan pandangan orang tersebut. Tentu saja, melangkah lebih jauh, karena ini berkaitan dengan pemikiran dan pandangan orang, ini berkaitan dengan pilihan mereka. Lebih tepatnya, karena ini berkaitan dengan pilihan orang, ini berkaitan dengan jalan yang mereka tempuh. Selain itu, karena ini berkaitan dengan jalan yang orang tempuh, ini berkaitan dengan keselamatan mereka. Oleh karena itu, meskipun penderitaan tampaknya merupakan persoalan yang lazim, jika engkau menyimpan pemikiran dan pandangan yang tidak benar tentangnya, dan pengejaran yang tidak benar terhadapnya, kemungkinan besar, ini menyebabkanmu menuju ke arah yang berlawanan dari jalan yang telah Tuhan tunjukkan bagimu. Hasil akhirnya adalah, ketika pekerjaan Tuhan berakhir, engkau tidak hanya akan gagal menerima upah, dan tidak hanya gagal diselamatkan, tetapi bahkan akan disingkirkan. Ini adalah hal yang sangat mengerikan. Untuk mencegah agar konsekuensi yang mengerikan ini tidak terjadi pada akhirnya, engkau harus memiliki pemikiran dan pandangan yang benar, serta pemahaman yang benar, mengenai soal penderitaan, dan kemudian menentukan prinsip-prinsip penerapan yang benar. Jika pemikiran, pandangan, dan prinsip-prinsip penerapanmu membawamu ke jalan keselamatan, maka pemikiran dan pandangan yang kaumiliki serta jalan penerapan yang telah kaupilih itu benar, positif, dan sejalan dengan kebenaran. Jika pemikiran dan pandangan yang kaumiliki, serta prinsip-prinsip penerapan yang telah kaupilih, tidak membawamu ke jalan keselamatan dan tidak dapat memungkinkanmu untuk memperoleh keselamatan, maka pemikiran dan pandangan yang kaumiliki, serta prinsip-prinsip penerapan yang telah kaupilih itu salah. Hal ini sudah pasti. Artinya, jika pemikiran dan pandangan yang telah kaupilih, dan jalan penerapan yang telah kautentukan, menyesatkanmu, dan bertentangan dengan jalan keselamatan yang telah Tuhan ajarkan kepadamu, maka jalan yang telah kaupilih itu salah. Engkau seharusnya menolaknya; engkau seharusnya mengubah pemikiran dan pandanganmu, serta mengubah prinsip-prinsip penerapan dan metode penerapanmu. Ini akan bermanfaat bagimu dalam memperoleh keselamatan. Apakah engkau mengerti? (Ya.) Tidak ada satu hal pun yang berkaitan dengan memperoleh keselamatan yang sepele. Bahkan terhadap persoalan-persoalan yang tampaknya sangat tidak mencolok dan mudah terabaikan, engkau harus menyikapinya dengan hati-hati dan merenungkannya dengan sungguh-sungguh, kemudian membangun pemikiran, pandangan, dan jalan penerapan yang benar. Hanya inilah penerapan yang seharusnya orang miliki untuk memperoleh keselamatan. Engkau tidak boleh bingung mengenai hal ini.
Kita baru saja mempersekutukan beberapa sudut pandang keliru dan perwujudan menyimpang yang orang miliki mengenai penderitaan, serta pemikiran dan pandangan yang benar yang seharusnya orang miliki serta prinsip-prinsip yang seharusnya mereka terapkan. Karena kita telah membahas bagaimana Tuhan yang berinkarnasi memandang penderitaan, apa yang baru saja kita persekutukan, di satu sisi, merepresentasikan beberapa pendapat dan penilaian-Ku mengenai penderitaan, dan di sisi lain, merepresentasikan beberapa pemikiran, pandangan, dan prinsip-prinsip penerapan-Ku mengenai penderitaan. Baik pemikiran dan pandangan maupun prinsip-prinsip penerapan, apa yang baru saja kita persekutukan berkaitan dengan apa yang engkau semua perlihatkan dan wujudkan dalam kehidupanmu sehari-hari atau selama proses pelaksanaan tugasmu. Jadi, mari kita lihat bagaimana Tuhan yang berinkarnasi menyikapi soal penderitaan. Aku baru saja bersekutu dengan engkau semua tentang bagaimana menyikapi hal penderitaan. Penderitaan adalah bagian dari kehidupan dan kelangsungan hidup manusia. Dilihat dari perspektif kemanusiaan yang normal, penderitaan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Hidup di dunia manusia ini, hidup di dunia materi ini, semua orang harus menanggung banyak penderitaan dari saat mereka lahir hingga saat mereka mati, termasuk ketidaknyamanan daging, hal-hal yang tidak menyenangkan, dan ketidakbahagiaan. Demikian pula, Aku juga telah merasakan penderitaan semacam itu saat hidup di lingkungan dunia nyata. Aku telah mengalami dan menanggung banyak rasa sakit, dan sekarang Aku juga sedang mengalami penderitaan. Ini adalah proses yang tidak terelakkan, jadi, dari perspektif kemanusiaan yang normal, Aku secara alami menerima penderitaan semacam itu, atau secara alami mengalaminya. Daging-Ku merasakan penderitaan tersebut, tetapi tidak ada penentangan dan tidak ada penolakan di dalam hati-Ku. Aku merasa kehadiran penderitaan ini sama alaminya dengan udara yang orang hirup atau sinar matahari yang mereka rasakan. Aku tidak merasa itu adalah tambahan, dan Aku tidak merasa itu berlebihan, apalagi merasa bahwa itu adalah sesuatu yang Kudatangkan pada diri-Ku sendiri. Beginilah perasaan-Ku. Artinya, apa pun yang menyebabkan penderitaan tersebut, atau pada tahap apa pun Aku menjalani penderitaan, atau apakah itu jenis penderitaan yang Kuhadapi dalam kehidupan-Ku sehari-hari atau jenis penderitaan yang seharusnya Kutanggung dalam melakukan pekerjaan-Ku, Aku hanya merasa bahwa ada suatu peristiwa yang sedang terjadi. Orang haruslah menerapkan prinsip tertentu dan memikirkan cara untuk menangani dan mengatasi peristiwa ini. Menangani dan mengatasi hal-hal ini terkadang mengharuskan-Ku untuk menanggung suatu penderitaan, tetapi entah Aku menanggung penderitaan yang cukup berat atau hanya menanggung sedikit penderitaan yang ringan, semua itu hanya terasa seperti sebuah proses bagi-Ku. Itu tidak terasa seperti beban tambahan; sesederhana inilah perasaannya. Dalam hal penderitaan, selain perasaan yang sederhana ini, Aku tidak pernah menyerukan penderitaan apa yang telah Kutanggung. Sebagai contoh, ketika Aku pergi ke beberapa tempat di mana kondisinya relatif buruk untuk berinteraksi dan bersekutu dengan orang-orang, Aku tidak merasa bahwa Aku sedang menanggung penderitaan yang sebesar itu, dan Aku tidak pernah merasa bahwa penderitaan-Ku adalah semacam kontribusi yang Kuberikan kepada orang-orang. Sebaliknya, Aku merasa hal itu sangat normal dan tidak layak untuk dibahas. Aku tidak pernah menyikapi penderitaan sebagai suatu peristiwa besar untuk disombongkan, dipublikasikan, atau dibesar-besarkan agar orang sangat menghormati-Ku; Aku tidak pernah melakukan hal-hal semacam itu. Engkau semualah yang menyerukan penderitaan apa yang telah Kutanggung. Engkau semua telah cukup sering melakukan hal ini, tetapi Aku tidak pernah melakukannya.
Aku pernah pergi ke suatu tempat untuk mengobrol dan berbicara dengan orang-orang di sana, serta bersekutu tentang beberapa hal dengan mereka. Pada saat Aku selesai bersekutu, waktu makan sudah lewat, dan Aku pergi tanpa makan. Kemudian, beberapa orang menyebarkan kabar: "Tuhan bersekutu dengan kami sepanjang pagi. Dia bahkan tidak minum seteguk air pun, dan Dia pergi tanpa makan." Setelah satu orang mengatakan ini, kabar itu menyebar dari satu ke sepuluh orang, dan dari sepuluh ke seratus orang, dan banyak orang menjadi tahu tentang hal itu. Apa hasilnya setelah mereka mengetahuinya? Orang-orang ini memperlakukan hal sepele ini sebagai topik untuk persekutuan formal dalam pertemuan-pertemuan, dan mempersekutukan hal itu seolah-olah itu adalah kebenaran. Aku heran: Apa yang perlu dibicarakan mengenai hal ini? Bernilaikah membicarakan hal ini? Apa gunanya mempersekutukan hal ini? Terkadang Aku mengobrol dengan engkau semua, membicarakan berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari atau urusan pekerjaan. Ini adalah hal yang sangat normal, sama normalnya dengan percakapan yang engkau semua lakukan satu sama lain. Ini bukanlah sesuatu untuk disombongkan dan bukan sesuatu untuk dipublikasikan. Mengapa mereka memublikasikan ini di belakang-Ku? Aku cukup heran. Kemudian, makin banyak mereka menyebarkannya, Aku memahami hal ini: Mereka percaya bahwa ini berarti bersaksi tentang pengalaman penderitaan Tuhan yang berinkarnasi, dan bahwa mereka sedang menyebarkan kebenaran, bukan sekadar menyebarkan kabar tentang suatu peristiwa. Kukatakan bahwa jika engkau ingin bersaksi tentang pengalaman penderitaan Tuhan yang berinkarnasi, itu sama sekali tidak perlu. Bertemu, mengobrol, dan berbicara dengan engkau semua adalah sesuatu yang Kulakukan dengan sukarela. Aku tidak melakukannya agar dilihat oleh siapa pun, Aku tidak melakukannya untuk memenangkan hatimu, dan Aku tidak sedang berpura-pura. Mengenai fakta bahwa terkadang ketika bersekutu untuk waktu yang lama Aku tidak makan atau minum apa pun, itu bukan hal yang sengaja Kulakukan; itu karena Aku tidak haus, dan tidak terlalu lapar. Jika Aku merasa lapar yang tak tertahankan, Aku akan menyuruhmu mengambilkan makanan untuk-Ku atau menyuruhmu membuatkan makanan sederhana untuk-Ku. Aku sama sekali tidak akan menahan rasa lapar; Aku tidak akan sungkan denganmu. Apakah pergi tanpa makan saat waktu makan tiba terhitung sebagai penderitaan? Dinilai dari apa yang engkau semua publikasikan, seolah-olah Aku sedang melakukan sesuatu untuk pamer. Mengapa Aku merasa sangat tidak nyaman mendengar hal ini? Seolah-olah Aku melakukan ini agar engkau semua melihat betapa banyak Aku menderita, betapa banyak yang mampu Kutanggung, betapa besar kasih-Ku kepadamu, dan betapa banyak kontribusi yang telah Kuberikan kepadamu, agar setelah Aku pergi, engkau semua akan menyiarkan hal ini bagi-Ku, memublikasikan betapa banyak Aku telah menderita dan betapa banyak hal yang telah Kulakukan bagimu, seolah-olah Aku sedang menggunakan cara ini untuk memenangkan hatimu. Apakah ini tujuan-Ku? (Bukan.) Ini bukanlah tujuan-Ku. Aku mengunjungimu untuk mengobrol dan berbicara denganmu, dan terkadang Aku pulang tanpa makan saat waktu makan tiba. Ini sangat normal. Namun, engkau semua memperlakukan hal ini sebagai suatu peristiwa besar, berpikir bahwa Aku telah menderita, bahwa ada kebenaran yang harus dicari dalam hal ini, bahwa engkau semua seharusnya meniru dan mengikutinya, dan engkau bahkan menyebarluaskan hal ini seolah-olah itu adalah kebenaran. Menyebarluaskan hal ini sama dengan menyebarkan obrolan kosong. Aku tidak suka engkau semua menyebarkan obrolan kosong. Aku merasa muak dan jijik ketika mendengar tentang hal ini. Aku merasa jijik terhadap siapa pun yang menyebarkan obrolan kosong. Jika Aku bersekutu denganmu tentang beberapa pembahasan yang berkaitan dengan kebenaran atau berkaitan dengan pekerjaan gereja, pembahasan inilah yang engkau semua butuhkan. Engkau semua dapat menuliskannya serta membagikan dan mempersekutukannya dengan semua orang. Namun, ketika engkau semua menyebarkan kabar tentang bagaimana Aku menderita lapar atau kedinginan di suatu tempat, ketika engkau semua menyebarkan hal-hal ini, Aku merasa jijik. Aku benar-benar muak dengan penyebaran obrolan kosong. Mengapa engkau semua begitu aktif melakukan hal semacam ini? Apakah menurutmu itu membuat-Ku merasa senang? Aku tidak sepertimu; itu sama sekali tidak membuat-Ku senang. Aku juga telah menoleransi hal ini selama bertahun-tahun. Jika Aku tahu siapa yang pertama kali menyebarkan kabar ini, Aku harus bertanya kepadanya, "Mengapa engkau menyebarkan kabar ini? Apa tujuanmu? Apa niatmu? Engkau menyimpan niat buruk! Ini sama dengan menimbulkan gangguan! Tahukah engkau bahwa engkau telah memengaruhi suasana hati-Ku? Menyebarkan obrolan kosong seperti ini adalah cara terselubung untuk membatasi kebebasan-Ku; itulah natur hal ini." Aku muak dengan orang-orang yang menyebarkan obrolan kosong, terutama beberapa orang yang tidak pernah mempersekutukan kebenaran dan tidak pernah bersekutu tentang apa pun yang berkaitan dengan penerapan kebenaran atau berkaitan dengan pekerjaan gereja, tetapi hanya membicarakan hal yang tidak berarti semacam ini dan menyebarkan obrolan kosong semacam ini, bahkan menyebarkannya dengan sangat terperinci. Sebagai contoh, Aku sedang mengobrol dengan engkau semua dan Aku batuk beberapa kali, dan ada orang-orang yang menyebarkan hal ini di belakang-Ku. Inikah yang seharusnya kausebarkan? Inikah tugasmu? Sudah bertahun-tahun Aku merasa jijik dengan penyebaran obrolan kosong. Ada orang-orang yang menyebarkan obrolan kosong persis dengan cara ini. Seiring tersebarnya obrolan itu, cukup banyak orang mendengarkannya, dan beberapa orang yang bingung bahkan meniru batuk-Ku. Apa gunanya meniru hal ini? Jika engkau meniru bagaimana Aku mempersekutukan kebenaran untuk menyelesaikan masalah, itu akan bermanfaat bagi pekerjaan rumah Tuhan. Jika engkau meniru bagaimana Aku melindungi kepentingan rumah Tuhan dan memikirkan segala cara yang memungkinkan untuk mendatangkan manfaat bagimu, dan meniru bagaimana, ketika mempersekutukan kebenaran, Aku dapat tanpa lelah memberikan contoh dan menyatakan fakta agar engkau semua mendapatkan sesuatu dan semua orang mengalami kemajuan, jika engkau melakukan hal-hal positif ini, Aku akan senang melihatnya. Mengapa engkau tidak meniru hal-hal positif ini? Mengapa engkau harus meniru hal-hal yang tidak berarti itu? Ini membuktikan bahwa ada masalah dengan pola pikirmu. Jika engkau benar-benar tidak memiliki hal yang lebih baik untuk dilakukan, engkau seharusnya mencari pekerjaan yang semestinya dilakukan; ini akan bermanfaat bagi semua orang. Mengapa tidak melakukan pekerjaan yang semestinya? Orang-orang semacam itu melalaikan pekerjaan mereka yang semestinya; mereka sangat menyebalkan!
Aku telah mempersekutukan kebenaran selama bertahun-tahun, tetapi Aku belum pernah melihat engkau semua mencurahkan banyak upaya dalam kebenaran, dan Aku juga belum pernah melihatmu mencurahkan banyak upaya dalam kebenaran sebesar upaya yang kaucurahkan untuk menyebarkan obrolan kosong. Mengapa orang-orang ini sangat suka menyebarkan obrolan kosong? Apa gunanya menyebarkan hal-hal itu? Orang-orang yang tidak memiliki pemahaman rohani ini benar-benar melalaikan pekerjaan mereka yang semestinya! Jika engkau benar-benar mampu mempersekutukan suatu aspek kebenaran dengan jelas, dan itu sedikit bermanfaat serta membangun saudara-saudari, ini adalah hal yang baik, dan bahkan Aku seharusnya berterima kasih kepadamu. Namun, engkau selalu menyebarkan kabar tentang apa yang Kulakukan pada hari tertentu, berapa lama Aku tinggal di suatu tempat, seberapa jauh Aku berjalan, dan seberapa larut Aku pulang. Ketika engkau semua selalu menyebarkan hal-hal semacam itu, Aku merasa sangat jijik. Ada orang-orang yang berkata, "Mengapa Engkau merasa jijik? Kami bermaksud baik. Bukankah kami sedang bersaksi tentang penderitaan Tuhan yang berinkarnasi?" Apakah sudut pandang ini benar? (Tidak.) Dalam hal apa sudut pandang ini salah? (Tuhan telah mengucapkan begitu banyak firman dan mengungkapkan begitu banyak kebenaran, tetapi mereka tidak mempersekutukannya. Mereka juga tidak berbicara tentang pengalaman apa yang mereka miliki dalam menerapkan kebenaran. Ketika bersaksi tentang Tuhan, mereka tidak membicarakan hal-hal ini, melainkan membesar-besarkan beberapa hal dalam kehidupan Kristus. Aku merasa bahwa hati mereka tidak benar.) Engkau semua merasa bahwa Aku menderita dalam melakukan hal-hal ini, tetapi apakah engkau semua memahami penderitaan yang benar-benar Kutanggung? Apakah engkau semua mengetahuinya? (Tidak.) Engkau semua tidak tahu, dan engkau semua juga tidak mengerti atau memahaminya. Engkau semua hanya membesar-besarkan hal-hal sepele ini dalam kehidupan-Ku sehari-hari dan menyiarkannya ke mana-mana. Misalnya, Aku pernah bertemu seseorang dan dengan santai berkata, "Lengan-Ku terasa sedikit sakit hari ini." Aku tidak bermaksud apa-apa mengatakan itu, tetapi orang tersebut mengartikannya secara berlebihan. Setelah mendengarnya, dia berpikir lengan-Ku terasa sakit karena Aku terlalu banyak menulis. Tiga hari kemudian, cerita itu menyebar, dengan orang-orang mengatakan bahwa Aku sedang menanggung penderitaan. Apakah lengan-Ku yang terasa sedikit sakit dianggap sebagai penderitaan? Inikah yang terhitung sebagai penderitaan di mata engkau semua? Apakah Aku mengatakan ini di depanmu untuk memamerkan bahwa Aku sedang menderita? Aku sama sekali tidak bermaksud demikian. Selain itu, apa hubungannya penderitaan-Ku denganmu? Apakah Aku memintamu untuk menyebarkan hal ini? Jika ada sesuatu yang Kuhendaki untuk kaulakukan, Aku akan memberitahumu secara langsung. Aku telah memberi instruksi kepada engkau semua dalam semua khotbah dan persekutuan-Ku tentang pekerjaan apa yang seharusnya engkau lakukan dan perkataan apa yang seharusnya engkau ucapkan. Aku telah menjelaskan semua hal ini kepada engkau semua. Aku telah mempersekutukan prinsip-prinsip kebenaran dan jalan penerapan dengan jelas. Inilah hal-hal yang seharusnya engkau semua fokuskan dan lakukan. Engkau tidak berfokus pada apa yang Kukatakan kepadamu, tetapi engkau sangat memperhatikan apa yang tidak Kukatakan kepadamu, dan telah banyak melakukan hal-hal tersebut. Aku merasa muak saat melihatnya. Aku sama sekali tidak akan memujimu, mengatakan bahwa engkau telah melakukan hal ini dengan baik, dan memberimu pengakuan untuk itu. Aku tidak pernah melakukan hal-hal semacam itu, dan Aku tidak pernah mengucapkan perkataan semacam itu. Apa pun yang Kutuntut untuk engkau semua lakukan, Aku akan memberitahukannya kepadamu dengan gamblang. Aku tidak menuntutmu untuk melakukan hal ini, tetapi engkau semua melakukannya. Aku merasa sangat muak dan sangat jijik di dalam hati, dan bukan sekadar sedikit muak. Namun, engkau semua merasa cukup puas dengan dirimu sendiri, mengira bahwa engkau memiliki banyak rasa simpati dan banyak kasih kepada-Ku, bahwa engkau sangat pengertian, penuh perhatian, dan peduli. Kukatakan bahwa engkau masih sangat jauh dari itu. Sekalipun engkau melakukan hal-hal tertentu dengan semestinya, masih ada jarak di antara kita; terlebih lagi, menyebarkan obrolan kosong tidaklah pantas, dan Aku tidak menyukainya. Fakta bahwa Aku tidak pernah menyebutkan hal ini kepada engkau semua sebelumnya tidak berarti Aku diam-diam menyetujuinya. Sekarang Kuberitahukan kepadamu kabar yang tepat: Aku sangat membenci orang-orang yang menyebarkan obrolan kosong. Terutama, ada orang-orang yang melihat-Ku menanggung sedikit penderitaan dan kemudian dengan sengaja menyebarkan obrolan kosong dengan dalih bersaksi tentang penderitaan Tuhan yang berinkarnasi. Kepada engkau semua, Kukatakan dengan tegas: Aku menentang hal semacam ini, Aku merasa sangat muak dengan hal itu di dalam hati-Ku, dan Aku sama sekali tidak menyukainya. Ini bukanlah bersaksi tentang Tuhan; ini adalah menyebarkan obrolan kosong. Jadi, pantaskah bagimu untuk berbuat demikian? (Tidak.) Karena itu tidak pantas, apa yang seharusnya kaulakukan? (Kami tidak seharusnya menyebarkan obrolan kosong. Kami tidak seharusnya melakukan hal semacam ini.)
Adakah ketidaksepakatan di antara kita dalam hal cara kita menyikapi hal penderitaan? Apakah sudut pandang kita berbeda? (Ya.) Lalu, berasal dari manakah sudut pandang engkau semua tentang penderitaan? (Sudut pandang kami tentang penderitaan berasal dari watak rusak kami setelah kami dirusak oleh Iblis.) Di satu sisi, sudut pandang orang tentang segala macam hal berasal dari Iblis, begitu pula gagasan dan imajinasi manusia. Di sisi lain, secara lebih praktis, semua itu dipengaruhi oleh tren masyarakat dan iklim sosial. Dampak paling langsung jika orang menerima pemikiran yang salah ini adalah mereka mengembangkan beberapa pemikiran dan pandangan yang keliru. Ketika orang datang ke rumah Tuhan dengan pemikiran dan pandangan ini, mereka mengembangkan segala macam pendekatan yang tidak benar. Oleh karena itu, beberapa pendekatan orang dalam cara mereka menyikapi penderitaan Tuhan yang berinkarnasi juga merupakan hasil dari dorongan beberapa pemikiran dan pandangan yang keliru. Di dunia orang tidak percaya, ketika orang-orang yang memiliki status dan prestise tampil di depan umum, mereka sering kali melakukan berbagai hal demi penampilan, yang sederhananya disebut berpura-pura. Setelah berpura-pura, mereka menggunakan media untuk memublikasikannya, guna mencapai tujuan mempertahankan citra mereka dan memperkokoh status mereka di antara orang-orang, agar mereka memiliki citra yang lebih baik di mata publik, membangkitkan pemujaan yang lebih besar dari orang-orang, dan memantapkan diri mereka dengan lebih kuat di hati orang-orang. Sebagian besar, pendekatan yang orang ambil dalam menyebarkan informasi tentang penderitaan Tuhan yang berinkarnasi dipengaruhi oleh tren dunia orang tidak percaya ini. Pemikiran dan pandangan orang mengenai kebutuhan dasar Tuhan yang berinkarnasi, atau pergerakan dan tindakan-Nya sehari-hari, juga seperti ini. Meskipun orang tidak secara langsung mengatakan apa tujuan Tuhan yang berinkarnasi dalam melakukan hal tertentu ini, cara menyebarkan hal itu menyebabkan konsekuensi berikut: Itu membuat orang-orang tidak berfokus mengejar kebenaran, melainkan hanya berfokus pada praktik-praktik formalitas lahiriah; ini membuat mereka tidak berfokus pada penerapan kebenaran, melainkan hanya berfokus pada penderitaan, sekadar mengucapkan beberapa doktrin yang terdengar indah dan berhenti di situ. Orang mengira melakukan hal ini berarti bersaksi tentang Tuhan, dan melakukan hal ini berarti menerapkan kebenaran dan juga menjunjung tinggi gambar Tuhan. Sebenarnya, apakah gambar Tuhan membutuhkanmu untuk menjunjungnya? Dalam menyuruhmu bersaksi tentang-Nya, apakah Tuhan bermaksud agar engkau bersaksi tentang hal-hal ini? (Tidak.) Gambar Tuhan yang berinkarnasi tidak membutuhkanmu untuk menjunjungnya, apalagi membutuhkanmu untuk menjunjungnya dengan cara seperti itu. Engkau mungkin memiliki niat baik, tetapi tindakanmu telah menyebabkan konsekuensi yang merugikan, dan dalam kasus yang parah, itu bahkan merupakan kekacauan dan gangguan. Orang-orang selalu percaya bahwa melakukan hal ini adalah pantas dan masuk akal, bahwa itu adalah perbuatan baik, dan bahwa itulah yang seharusnya dilakukan oleh makhluk ciptaan. Kukatakan, "Salah! Bukan ini yang seharusnya kaulakukan. Engkau seharusnya tidak melakukannya." Karena engkau adalah makhluk ciptaan, engkau seharusnya menempati posisimu yang semestinya sebagai makhluk ciptaan dan melaksanakan tugasmu dengan baik; engkau tidak seharusnya bertindak dengan berperan sebagai media masyarakat di dalam rumah Tuhan dan melakukan hal-hal yang dilakukan media. Perkataan apa yang Kuucapkan, penderitaan apa yang Kutanggung, ke mana Aku pergi, apa yang Kulakukan, apa rencana perjalanan-Ku sehari-hari—Aku tidak membutuhkanmu untuk memublikasikan hal-hal ini, Aku tidak suka engkau memublikasikannya, dan Aku merasa muak saat engkau memublikasikannya. Jadi, tolong hentikan publikasi semacam ini, karena publikasi semacam ini adalah menyebarkan obrolan kosong, dan itu tidak selaras dengan kebenaran. Apakah engkau mengerti? (Ya.) Sebaiknya engkau tidak memublikasikan hal-hal ini; menyebarkan obrolan kosong ini tidak ada gunanya. Jika engkau benar-benar ingin bersaksi tentang Tuhan, engkau seharusnya lebih banyak menyebarluaskan firman Tuhan, dan membagikan pemahaman berdasarkan pengalamanmu tentang kebenaran serta pengalamanmu akan kebenaran. Jika engkau benar-benar berniat baik dan ingin melakukan beberapa hal baik serta mempersiapkan perbuatan baik, maka lihatlah bidang atau bagian mana dari pekerjaan rumah Tuhan yang perlu ditingkatkan, dan kerahkan upaya serta bayarlah harga untuk melakukannya dengan baik, dan dengan demikian meningkatkan efisiensi kerja, mempercepat kemajuan pekerjaan, dan juga menghemat sumber daya manusia serta keuangan. Jika engkau melakukan pekerjaan semacam ini, ini adalah perbuatan baik, dan inilah yang seharusnya dilakukan oleh makhluk ciptaan. Mengenai apa yang Kumakan atau Kupakai, atau penderitaan apa yang Kutanggung, engkau tidak perlu menyebarkan kabar tentang hal itu. Aku sudah lama memberitahumu bagaimana sikap yang seharusnya kaumiliki terhadap-Ku, yang hanya terdiri dari tiga prinsip: terbuka dan jujur, penuh hormat, dan taat. Sesederhana itu; Aku tidak membutuhkanmu untuk melakukan hal tambahan apa pun. Jika engkau melakukan hal tambahan dengan cara yang semestinya, Aku akan memperlakukanmu sebagai saudara atau saudari, dan Aku akan mengingat kebaikan yang telah kaulakukan ini. Namun, dalam hal hubungan di antara kita, Aku sudah lama memberitahumu prinsip-prinsip tentang bagaimana seharusnya engkau memperlakukan-Ku. Apa ketiga prinsip itu? (Terbuka dan jujur, penuh hormat, dan taat.) Tepat ketiga prinsip ini. Jika engkau memenuhi ketiga prinsip ini, itu sudah tepat, dan engkau telah berpegang teguh pada posisi yang semestinya ditempati oleh makhluk ciptaan, serta memenuhi tanggung jawabmu. Tindakanmu menyebarkan obrolan kosong itu tidak ada nilainya sama sekali, dan pada akhirnya Aku akan merasa muak terhadapmu. Namun, jika Aku menginstruksikan sebuah prinsip kepadamu, menugaskan suatu pekerjaan kepadamu, atau mempersekutukan suatu aspek kebenaran, dan engkau melaksanakan serta menerapkannya seperti yang Kukatakan kepadamu, itu jauh lebih baik daripada menyebarkan obrolan kosong. Hanya menerapkan kebenaranlah yang bernilai dan diingat. Engkau menyebarkan obrolan kosong tentang-Ku, mengatakan bahwa Aku sangat lelah berjalan untuk menghadiri pertemuan di suatu tempat. Dengan menyebarkan obrolan kosong ini, engkau menarik simpati dan rasa kasihan orang-orang kepada-Ku. Aku sama sekali tidak senang akan hal ini, dan Aku tidak suka engkau melakukan hal ini. Aku harus bertanya kepadamu, "Apa gunanya menyebarkan hal ini? Mengapa engkau menyebarkan kabar ini? Apakah engkau benar-benar memahami apa artinya memberi kesaksian tentang Tuhan?" Jika engkau tidak dapat memberikan alasan yang selaras dengan kebenaran, dan tujuan mendasar dari apa yang kaukatakan dan kaulakukan itu sama sekali tidak selaras dengan kebenaran, melainkan sekadar untuk memuaskan ambisi dan hasrat pribadimu serta mencoba mengambil hati-Ku, maka Kuberitahukan kepadamu bahwa Aku tidak suka engkau melakukan hal ini. Engkau sama sekali tidak boleh melakukan hal ini. Biarlah ini menjadi yang pertama dan terakhir kalinya; jangan pernah melakukannya lagi! Dalam pergaulan dan interaksimu dengan-Ku, engkau harus berulang kali merenungkan prinsip-prinsip yang Kukatakan kepadamu. Engkau harus berpegang teguh pada posisi yang seharusnya kautempati, memenuhi tanggung jawab yang seharusnya kaupenuhi, dan menaati prinsip-prinsip yang seharusnya kautaati; ini adalah hal-hal yang sudah seharusnya kaucapai. Jangan selalu mencoba mencari cara untuk mengambil hati-Ku atau menyanjung-Ku; jangan selalu ingin bersimpati kepada-Ku atau mengasihani-Ku, atau ingin membuat-Ku senang. Jangan lakukan hal-hal ini. Sekalipun engkau melakukannya, itu akan sia-sia. Aku tidak suka engkau melakukan hal-hal ini, dan Aku merasa muak saat engkau melakukannya. Jika engkau tidak melakukan hal-hal ini, Aku akan memperlakukanmu sesuai dengan aturan, dan Aku akan dapat berinteraksi denganmu secara normal. Jika engkau melakukan hal-hal ini, selalu berpikir untuk melebih-lebihkan apa yang telah Kulakukan dan membesar-besarkan hal-hal ini di belakang-Ku untuk mengambil hati-Ku dan membuat-Ku merasa senang kepadamu, Kukatakan bahwa engkau salah. Melakukan hal ini hanya akan membuat-Ku merasa muak terhadapmu. Apa pun yang kaulakukan, Aku akan memperlakukanmu dan menilaimu berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran; beginilah cara-Ku memandangmu. Jika engkau bergaul dan berinteraksi dengan-Ku secara wajar dan pantas, kita dapat berinteraksi secara normal. Jika engkau selalu menyebarkan obrolan kosong di belakang-Ku, maka di mata-Ku kemanusiaanmu tidak baik. Setidaknya, Aku akan mengatakan bahwa engkau tidak memiliki integritas atau martabat, dan bahwa engkau terlalu hina. Ada orang-orang yang berkata, "Aku sedang mengatakan hal yang baik tentang-Mu. Apakah itu tidak boleh?" Aku berkata, "Itu tidak perlu." Orang-orang melihat dan mengetahui orang seperti apa Aku ini melalui firman yang Kupersekutukan dan melalui kebenaran yang Kuajarkan kepada mereka; mereka tidak melihat dan mengetahui hal ini melalui obrolan kosong yang kausebarkan. Oleh karena itu, tindakanmu menyebarkan obrolan kosong sama sekali tidak perlu dan berlebihan. Mungkin orang lain tidak merasa muak akan hal itu, atau mungkin semua orang menyukainya, tetapi setidaknya, Aku tidak menyukainya, dan Aku merasa muak akan hal itu. Ketika engkau menyebarkan obrolan kosong tentang-Ku, sekalipun itu benar-benar sesuai dengan selera semua orang dan benar-benar selaras dengan pandangan semua orang, membuat semua orang merasa senang, setidaknya engkau harus bertanya kepada-Ku. Akulah orang yang bersangkutan; engkau harus bertanya apakah Aku menyetujuinya dan apakah Aku menyukainya. Apakah Aku telah memberimu wewenang untuk menyebarkan hal-hal semacam itu? Jika Aku tidak memberimu wewenang, tetapi engkau menyebarkan obrolan kosong tentang-Ku, berbicara dengan begitu sembarangan dan bahkan menyebarkannya seolah-olah itu adalah kebenaran, bukankah itu berarti engkau memiliki motif terselubung? Lalu, bagaimana Aku akan menggolongkanmu? Aku akan mengatakan bahwa engkau sedang menimbulkan kekacauan dan gangguan. Ke mana pun Aku pergi, perkataan apa pun yang Kuucapkan, atau hal apa pun yang Kulakukan, ada orang-orang yang terutama berfokus untuk menyebarkan hal-hal ini, seolah-olah setelah melakukan hal itu semua orang akan sangat menghormati-Ku dan akan sangat menghargai-Ku. Apakah ini meninggikan Tuhan dan memberi kesaksian tentang Tuhan? (Tidak.) Dengan demikian, setiap kali Aku pergi ke suatu tempat untuk melakukan beberapa hal, entah itu hal-hal dalam kehidupan-Ku sehari-hari atau hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan—terutama hal-hal yang tampak seperti penderitaan di mata orang-orang—apakah Aku sedang berpura-pura saat melakukan hal-hal ini? (Tidak.) Karena engkau tahu Aku tidak sedang berpura-pura, jangan menyebarluaskan hal-hal ini. Jangan bertindak sebagai pengeras suara, dan jangan bertindak sebagai media; rumah Tuhan tidak memiliki institusi semacam itu. Jangan mendirikan saluran media sendiri dan bertindak sebagai pengeras suara untuk menyebarluaskan hal-hal ini, karena Aku benar-benar merasa jijik saat engkau menyebarluaskannya; hal tersebut berdampak negatif. Jadi, engkau sama sekali tidak boleh menyebarkan obrolan kosong dan tidak boleh menyebarkan kabar tentang hal-hal semacam ini. Ini adalah salah satu tuntutan-Ku terhadapmu.
Tuhan menjadi daging untuk melakukan pekerjaan-Nya adalah sebuah langkah dalam rencana pengelolaan Tuhan, itu adalah satu bagian di dalamnya, dan bentuknya agak istimewa. Itu mengharuskan Tuhan untuk datang ke tengah-tengah manusia untuk berfirman dan bekerja. Artinya, Tuhan mengambil gambar tubuh daging, menjadi orang biasa, dan datang untuk melakukan pekerjaan di tengah-tengah manusia. Selain pekerjaan-Nya mengucapkan firman, hal terpenting adalah penderitaan yang ditanggung oleh daging-Nya. Ini juga merupakan satu bagian dari pekerjaan tersebut, dan itu adalah sesuatu yang harus Dia alami dan tanggung. Selama periode di mana Tuhan berfirman dan melaksanakan pekerjaan-Nya, selain berfirman dan bekerja, daging-Nya juga harus menanggung suatu penderitaan. Tidak terelakkan bahwa Tuhan menderita ketika hidup di tengah-tengah manusia. Tuhan datang dalam daging dan hidup di tengah-tengah manusia, untuk menyelamatkan manusia, untuk menyediakan kebenaran bagi manusia, untuk menunjukkan jalan kepada manusia, dan untuk menganugerahkan hidup kepada manusia. Namun, yang Dia hadapi adalah umat manusia yang telah dirusak secara mendalam oleh Iblis. Jadi, apa yang harus Tuhan tanggung? Dia harus menanggung penghakiman, hujatan, pemberontakan, dan pengkhianatan orang-orang, serta kesalahpahaman, sikap waspada, sungut-sungut, dan juga berbagai cara mereka bertindak asal-asalan terhadap Tuhan. Dia harus menanggung hal-hal ini. Ada orang-orang yang berkata, "Kami tidak melihat-Mu menanggung hal-hal ini." Ketika Tuhan datang dalam daging, Dia tidak hidup di tengah-tengah orang tidak percaya; sebaliknya, Dia hidup di tengah-tengah umat pilihan Tuhan dan hidup di tengah-tengah manusia yang hendak Dia selamatkan. Ketika hidup bersama manusia-manusia ini, daging-Nya pasti akan berhubungan, bergaul, dan berkomunikasi dengan orang-orang ini, berinteraksi dengan mereka, dan pasti akan menangani banyak hal. Ketika Dia menangani hal-hal ini, orang-orang secara sangat alami akan memperlihatkan watak rusak Iblis. Apakah menurutmu Tuhan yang berinkarnasi merasa senang atau tidak nyaman ketika Dia melihat orang-orang memperlihatkan watak yang rusak? (Tidak nyaman.) Apakah merasa tidak nyaman terhitung sebagai penderitaan? (Ya.) Lalu, apakah Dia berhenti menyelamatkan manusia karena Dia merasa tidak nyaman? Apakah Dia menyerah dalam melakukan pekerjaan-Nya karena Dia merasa tidak nyaman? Ataukah Dia langsung menghancurkan manusia? Dia tidak bisa. Mereka yang Dia selamatkan justru adalah manusia yang sangat rusak. Ketidaknyamanan-Nya adalah persoalan nyata. Bagi Tuhan yang berinkarnasi, Dia harus menghadapi dan menanggung semua ini untuk menyelamatkan umat manusia. Sambil menghadapi dan menanggung semua ini, Dia juga harus terus melakukan pekerjaan-Nya, terus mengungkapkan firman untuk menyediakan kebenaran, dengan sabar dan sungguh-sungguh berbicara kepada orang-orang, dan bekerja di tengah-tengah manusia. Dia tidak bisa menyerah dalam menyelamatkan manusia hanya karena Dia melihat bahwa orang-orang telah dirusak terlalu dalam, bahwa pemberontakan mereka terlalu besar, atau bahwa hal-hal yang mereka lakukan itu konyol dan menjijikkan. Karena ini adalah pekerjaan-Nya, menanggung penderitaan dan bersabar adalah bagian dari pekerjaan-Nya, dan juga merupakan bagian dari pelaksanaan pelayanan dan pemenuhan tanggung jawab Tuhan yang berinkarnasi. Artinya, dalam hal umat manusia, Tuhan memiliki tanggung jawab, Dia memiliki kepedulian, Dia memiliki pekerjaan, dan Dia juga memiliki pengharapan. Tuhan ingin menyelamatkan umat manusia, melengkapi sekelompok orang sehingga mereka memasuki zaman berikutnya, dan melengkapi sekelompok orang sehingga mereka memperoleh keselamatan dan menjadi umat manusia baru, menyelesaikan pekerjaan besar Tuhan, dan mendapatkan sebagian orang. Ini adalah pekerjaan Tuhan, dan Tuhan yang berinkarnasi telah datang justru untuk melaksanakan pelayanan ini. Oleh karena itu, sebelum Tuhan menjadi daging untuk melakukan pekerjaan-Nya, bukannya Dia tidak tahu bahwa Dia akan menghadapi sekelompok manusia yang sangat rusak; sebaliknya, Dia tahu betul bahwa Dia akan menyelamatkan sekelompok manusia yang telah dirusak sedemikian dalam oleh Iblis. Oleh karena itu, bagi esensi watak Tuhan, segala sesuatu yang akan Dia hadapi dan temui adalah kesukaran. Kesukaran ini mencakup beberapa kesukaran yang ditimbulkan oleh lingkungan eksternal, tetapi kesukaran yang disebabkan oleh berbagai situasi bukanlah apa-apa. Apa kesukaran yang sejati? Aku baru saja bertanya kepadamu, dan engkau semua mengatakan engkau tidak tahu, jadi Aku harus memberitahukannya kepadamu, dan kemudian engkau semua akan mengetahuinya. Begitu engkau semua mengetahuinya, engkau semua akan dapat memahaminya.
Setelah Tuhan menjadi daging, watak dan esensi-Nya tetap tidak berubah. Dia memiliki kehidupan ilahi, dan Dia juga memiliki watak Tuhan sendiri, jadi dalam hal esensi dan kehidupan-Nya, umat manusia yang rusak tidak mampu menjadi selaras dengan-Nya. Ketidakmampuan untuk selaras dengan Tuhan ini bukanlah berarti orang tidak mampu sepaham dengan Tuhan dalam hal kebiasaan hidup atau kepribadian, sebaliknya, ini berarti orang tidak mampu selaras dengan Tuhan dalam hal berbagai pemikiran dan pandangan, serta prinsip dan metode memperlakukan berbagai orang, peristiwa, dan hal. Bukankah ini sebuah fakta? (Ya.) Penyebab ketidakmampuan untuk selaras dengan Tuhan ini adalah karena umat manusia yang rusak telah dipengaruhi dan diindoktrinasi oleh Iblis sedemikian dalam, telah menerima bujukan Iblis, dan melakukan segala sesuatu berdasarkan pemikiran serta pandangan Iblis. Pemikiran dan pandangan Iblis ini semuanya keliru, dan semuanya adalah hal negatif; karena itu, semua orang memandang pekerjaan Tuhan dan memandang Tuhan itu sendiri dengan pandangan dan metode yang keliru tersebut. Bagi umat manusia, esensi Tuhan, watak Tuhan, dan bahkan maksud Tuhan yang penuh kesungguhan dalam menyelamatkan umat manusia tidak dapat dipahami oleh siapa pun, dan tidak dapat dihayati oleh siapa pun. Tentu saja, juga tak seorang pun mampu menyikapi dan menerima semua itu dengan benar, apalagi mampu benar-benar memikirkan-Nya. Namun, Tuhan yang berinkarnasi tetap harus menyelesaikan pekerjaan menyelamatkan umat manusia, dan Dia harus menganugerahkan kebenaran, jalan, dan hidup kepada manusia. Selama proses menganugerahkan kebenaran, jalan, dan hidup kepada manusia, Dia juga harus menanggung kesalahpahaman, sungut-sungut, dan penghakiman manusia, dan bahkan penolakan serta penghindaran mereka; artinya, Dia harus menghadapi berbagai bentuk pemberontakan manusia. Betapa pun sabar dan sungguh-sungguhnya Tuhan dalam mempersekutukan kebenaran, atau sebanyak apa pun Dia menyelamatkan umat manusia dengan maksud yang penuh kesungguhan, demi membawa manusia ke jalur yang benar dan membawa manusia ke jalan keselamatan, sangatlah sulit untuk membuat manusia memahami Dia sepenuhnya. Dalam hal ini, Tuhan yang berinkarnasi harus terus-menerus bersabar dan terus-menerus bersikap toleran, tidak pernah lelah berbicara dan bekerja, dan—melalui berbagai metode, dan dari berbagai sudut pandang—menuntun orang melepaskan sudut pandang mereka yang keliru, sehingga mereka dapat menjadi tertarik akan hal-hal positif dan prinsip-prinsip kebenaran yang Tuhan ajarkan kepada manusia, dan menempuh jalan mengejar kebenaran. Menanggung hal ini sangatlah menyakitkan. Sebanyak apa pun kebenaran yang dipersekutukan oleh Tuhan yang berinkarnasi, Dia tetap harus menghadapi kesalahpahaman, sungut-sungut, dan bahkan pembenaran serta pembelaan diri mereka. Sebanyak apa pun pemikiran-Nya yang penuh kesungguhan bagi manusia dan betapa pun tanpa pamrih Dia mengabdikan diri-Nya, Dia tetap harus menanggung pemberontakan orang-orang dan tatapan dingin mereka, dan Dia bahkan harus menghadapi pemerasan oleh individu-individu tertentu. Namun, sepanjang proses ini, pekerjaan Tuhan tidak pernah berhenti, dan kemajuan pekerjaan-Nya juga tidak pernah melambat, begitu pula laju-Nya dalam memimpin umat manusia. Pekerjaan rumah Tuhan berlanjut seperti biasa, dan perkataan serta firman-Nya diungkapkan seperti biasa. Selama proses ini, di satu sisi, karena Dia adalah Tuhan yang berinkarnasi, Dia memiliki hati nurani manusia dan kesadaran akan perasaan. Artinya, dari perspektif kemanusiaan, Dia juga memiliki kepekaan; Dia memiliki emosi, Dia memiliki perasaan, dan Dia memiliki kesadaran. Dia bukannya tidak memiliki kesadaran. Dalam hal kemanusiaan, kemanusiaan-Nya tidak melampaui perasaan-perasaan daging ataupun melampaui hati nurani daging, seperti halnya Roh Tuhan. Oleh karena itu, bagi Tuhan yang berinkarnasi, saat bersabar terhadap pemberontakan umat manusia, Dia menanggung penderitaan yang lebih besar, dan harus menanggung lebih banyak rasa sakit. Ini adalah salah satu jenis penderitaan terbesar yang Tuhan tanggung. Selain menanggung dan bersabar menghadapi berbagai bentuk pemberontakan manusia dalam jangka panjang, ada jenis penderitaan lain yang harus ditanggung oleh Tuhan yang berinkarnasi dalam melakukan pekerjaan-Nya dan melaksanakan pelayanan-Nya, yaitu Dia hidup di tengah umat manusia, padahal Dia bukan bagian darinya. Apa artinya? Tuhan memiliki esensi kehidupan yang berbeda dari esensi kehidupan umat manusia, serta memiliki pemikiran dan pandangan tentang cara menyikapi segala hal dan peristiwa yang berbeda dari yang dimiliki umat manusia. Tentu saja, mengingat kedua perbedaan ini, sebelum pekerjaan Tuhan mendapatkan sekelompok orang yang memperoleh keselamatan, apa fakta objektif yang dihadapi Tuhan yang berinkarnasi saat hidup di tengah-tengah manusia? Faktanya adalah tidak ada seorang pun yang benar-benar memiliki kehidupan kebenaran yang Dia miliki, dan tidak ada seorang pun yang benar-benar memiliki pemahaman tentang rencana pengelolaan Tuhan yang Dia miliki. Oleh karena itu, saat menghadapi manusia yang rusak atau saat hidup di tengah-tengah mereka, Tuhan yang berinkarnasi sendiri merasa kesepian, meskipun ada cukup banyak orang di gereja yang mengikuti Tuhan. Bukankah ini sebuah fakta? (Ya.) Aku tidak bisa mengatakan bahwa semua kebenaran yang telah Kupersekutukan ini melampaui kemampuan semua orang, tetapi setidaknya, hingga saat ini, belum ada satu orang pun yang mampu sepenuhnya memahami semua aspek kebenaran. Mungkin setelah sepuluh atau dua puluh tahun lagi mengalami berbagai hal, dan sepuluh atau dua puluh tahun lagi melaksanakan tugasmu, engkau akan memiliki pemahaman serta pengalaman tentang beberapa prinsip kebenaran, dan engkau akan memperoleh beberapa hal. Engkau akan tahu cara melaksanakan pekerjaan, dan engkau akan tahu pemikiran dan pandangan yang benar yang seharusnya mendasarimu dalam menyikapi berbagai hal yang kauhadapi. Namun, kebenaran yang engkau semua pahami sebenarnya masih sangat terbatas. Oleh karena itu, ketika menangani beberapa persoalan atau ketika menyikapi berbagai hal, sudut pandang kita tidak pernah bisa sepenuhnya selaras. Akar penyebab dari hal ini adalah tingkat pemahaman akan kebenaran yang berbeda-beda. Di satu sisi, Tuhan yang berinkarnasi harus menanggung berbagai macam perlakuan tidak adil oleh umat manusia, dan Dia juga harus menanggung berbagai gagasan, imajinasi, dan tuntutan mereka yang tidak masuk akal yang tidak sejalan dengan kebenaran. Di sisi lain, Tuhan yang berinkarnasi juga harus menanggung hal yang paling menyakitkan, yang juga merupakan jenis penderitaan yang tak terelakkan harus ditanggung-Nya: Karena ada perbedaan antara esensi manusia dan esensi Tuhan yang berinkarnasi, berapa tahun pun Tuhan yang berinkarnasi bekerja di tengah-tengah manusia, Dia tetap merasa kesepian. Katakan kepada-Ku, apakah merasa kesepian adalah suatu bentuk penderitaan? (Ya.) Merasa kesepian adalah suatu bentuk penderitaan. Betapa pun jelas dan menyeluruh kebenaran dipersekutukan, jalan masuk umat manusia tetap lambat. Kesalahan yang sama dan kerusakan yang sama terus terjadi dan terus muncul kembali. Dengan kesabaran dan kesungguhan, Tuhan yang berinkarnasi terus-menerus mempersekutukan kebenaran untuk menyediakan bagi orang-orang, dan terus-menerus memperlihatkan kesabaran dan toleransi terhadap mereka. Hanya ketika tiba hari berakhirnya pekerjaan Tuhan, barulah Dia tidak perlu lagi menanggung penderitaan ini. Ini sepenuhnya karena pekerjaan tersebut. Selain itu, Aku, Tuhan yang berinkarnasi, memiliki banyak area dalam kehidupan pribadi-Ku sehari-hari yang sebenarnya sangat wajar, tetapi hal-hal itu juga menjadi sasaran kritik dan penghakiman orang-orang, serta menjadi sasaran kesalahpahaman orang-orang, dan individu-individu tertentu bahkan meributkannya. Manusia tidak mampu selaras dengan Tuhan. Di satu sisi, ini karena manusia memiliki esensi watak rusak. Di sisi lain, dalam hal tingkat pertumbuhan manusia, dalam hal seberapa besar dia mencintai kebenaran, dan dalam hal sikapnya terhadap hal-hal positif, pada tingkatnya saat ini, mustahil bagi manusia untuk selaras dengan Tuhan. Sekalipun manusia mampu mengejar kebenaran semaksimal mungkin, atau Aku dapat bersikap toleran terhadap engkau semua semaksimal mungkin, tetap mustahil bagi manusia dan Tuhan untuk selaras. Dalam kondisi seperti ini, jika tuntutan-Ku terhadapmu terlalu ketat atau terlalu terburu-buru, engkau semua tidak akan mampu memenuhinya atau mencapainya, dan beberapa orang dengan tingkat pertumbuhan yang kecil akan mudah menjadi negatif dan lemah. Karena alasan ini, dalam kondisi seperti ini, Aku hanya bisa memberi kelonggaran, dan Aku hanya bisa bersabar dan menunggu. Apa arti menunggu bagi-Ku? Itu berarti memiliki pengharapan yang baik, dan memandangmu dengan penuh penantian dan harapan yang indah, memandangmu dengan cara seperti ini dan dengan pola pikir semacam ini. Aku berharap suatu hari nanti sebagian darimu dapat menempuh jalan mengejar kebenaran, atau sebagian darimu—seperti halnya Petrus, seperti halnya Ayub, dan seperti halnya Abraham—mampu menjadi orang-orang yang tunduk kepada Tuhan dan menyembah Tuhan. Aku menantikan hari ini. Selama bertahun-tahun, dalam berbicara dan berkhotbah kepada engkau semua, dalam mempersekutukan pekerjaan dengan engkau semua, dan dalam membicarakan masalah sehari-hari, Aku selalu memiliki pola pikir semacam ini. Entah Aku sendirian atau hidup di tengah-tengahmu, keadaan pikiran-Ku ini tidak berubah, dan pola pikir-Ku ini tidak berubah; perasaan ini selalu melekat. Oleh karena itu, Kukatakan bahwa dibandingkan dengan penderitaan yang ditanggung oleh Tuhan yang berinkarnasi dalam melaksanakan pelayanan-Nya, penderitaan yang Dia tanggung dalam hal lingkungan-Nya, dan penderitaan yang Dia tanggung dalam hal kebutuhan hidup sehari-hari akibat pekerjaan-Nya bukanlah apa-apa dan tidak layak disebut. Penderitaan sejati yang Kutanggung adalah sesuatu yang tidak dapat dilihat dan dihayati oleh engkau semua. Beginilah cara-Ku melewati bertahun-tahun ini. Tidak ada yang peduli tentang hal-hal ini, dan penderitaan yang Kutanggung di dalam hati-Ku tidak dapat disampaikan kepada manusia. Manusia juga tidak dapat melihatnya dari luar. Suasana hati-Ku tidak berubah, kepribadian-Ku tidak berubah, rutinitas-Ku sehari-hari tidak terpengaruh, dan pekerjaan pun tidak terpengaruh, tetapi di lubuk hati-Ku, Aku harus menanggung kesepian, dan kesepian ini adalah sesuatu yang terus melekat. Katakan kepada-Ku, apakah penderitaan ini besar? Apakah ini penderitaan sejati? (Ya.) Jadi, Kuberitahukan kepadamu untuk tidak menyebarkan hal-hal yang tidak berguna itu; engkau semua tidak mengetahui dan tidak mampu menghayati penderitaan sejati yang Kutanggung. Mengapa Aku tidak pernah mengatakan kepadamu tentang penderitaan yang Kutanggung ini? Engkau semua tidak akan mengerti, dan sekalipun Aku mengatakannya kepadamu, apa manfaatnya? Itu tidak dapat menggantikan pelaksanaan pekerjaan, itu tidak dapat menggantikan persekutuan kebenaran, dan itu tidak dapat menggantikan hajaran dan penghakiman firman Tuhan.
Selain kedua jenis penderitaan yang baru saja kita bicarakan—menanggung berbagai bentuk kerusakan dan pemberontakan umat manusia, serta menanggung kesepian—ada jenis penderitaan lain yang ditanggung oleh Tuhan yang berinkarnasi. Engkau semua mungkin tidak akan pernah bisa menghayati jenis penderitaan ini, tetapi karena kita sedang membahas topik penderitaan, mari kita bersekutu tentang hal ini. Tuhan telah melakukan pekerjaan menyelamatkan umat manusia selama enam ribu tahun; mulai dari saat Tuhan berencana untuk mendapatkan sekelompok orang, entah dengan berfirman atau dengan mengambil bentuk lain, Tuhan mulai melangsungkan pekerjaan ini. Jadi, apa arti berlangsungnya pekerjaan ini bagi Tuhan? Apa artinya bagi umat manusia? Itu berarti Tuhan akan segera mendapatkan sekelompok orang; maksud dan rencana Tuhan telah ditetapkan, dan Dia ingin mendapatkan sekelompok orang, dan pada akhirnya sekelompok orang ini akan menjadi buah dari pekerjaan rencana pengelolaan Tuhan selama enam ribu tahun. Karena Tuhan telah merencanakan dan menetapkannya, Tuhan memiliki pengharapan akan hasil ini. Pengharapan ini telah menyertai pekerjaan-Nya selama ini. Dari Zaman Hukum Taurat hingga Zaman Kasih Karunia, Tuhan selalu memiliki pengharapan akan hasil ini, dan pengharapan ini terus berlanjut tanpa terputus hingga Tuhan yang berinkarnasi pada tahap ketiga pekerjaan. Saat Tuhan kembali menjadi daging, apa pun jenis kelamin-Nya, bagaimana pun kondisi-Nya, atau di lingkungan sosial macam apa pun Dia hidup, pengharapan ini terus menyertai pekerjaan-Nya. Oleh karena itu, dalam hal Tuhan yang berinkarnasi ini, Dia juga harus menanggung pengharapan ini. Dapat juga dikatakan bahwa Dia menerima tanggung jawab dan beban dari Tuhan, dan melakukan pekerjaan-Nya dengan pengharapan ini. Meskipun keduanya memiliki pengharapan yang sama, Tuhan yang berinkarnasi ini bekerja untuk jangka waktu yang jauh lebih lama daripada Tuhan yang berinkarnasi yang pertama. Karena Dia harus membekali orang-orang dengan seluruh kebenaran yang seharusnya mereka pahami, natur pekerjaan ini mengharuskan-Nya untuk hidup di tengah-tengah manusia untuk jangka waktu yang lama. Dia tidak semata-mata menyelesaikan pekerjaan dan memberikan pertanggungjawaban, dan dengan demikian pelayanan-Nya telah terlaksana. Sebaliknya, selama periode di mana Dia melakukan pekerjaan ini, Dia menyimpan pengharapan, ingin melihat hasilnya. Hasil ini tidak diperoleh dalam semalam, tidak juga dalam satu atau dua tahun. Sebaliknya, hasil ini harus dijaga, dipelihara, dan dinantikan dalam jangka panjang. Dengan demikian, Dia harus menghabiskan waktu yang sangat lama untuk menjaga dan menunggu hasil ini, serta menanti untuk melihat hasil semacam itu. Mengamati dan menunggu ini adalah suatu tanggung jawab, sebuah beban, dan tentu saja, suatu penderitaan bagi Tuhan yang berinkarnasi. Semua ini termasuk dalam lingkup tanggung jawab pelayanan-Nya, termasuk dalam cakupan tahap pekerjaan ini, dan merupakan bagian dari tahap pekerjaan ini. Pertama, Dia harus bersabar, dan Dia juga harus menanggung kesepian, kemudian Dia harus menjaga dan menunggu. Tak satu pun dari aspek-aspek ini dapat diabaikan. Ketiga aspek ini semuanya sangat menyakitkan bagi Tuhan yang berinkarnasi; Dia tidak dapat melepaskan diri dari satu pun di antara aspek-aspek tersebut, tak seorang pun dapat mengalami rasa sakit itu bagi-Nya, dan tidak ada metode yang baik untuk menyelesaikannya atau membebaskan diri darinya. Ini adalah hal yang paling menyakitkan bagi Tuhan. Oleh karena itu, penderitaan apa yang ditanggung oleh Tuhan yang berinkarnasi dalam kehidupan-Nya sehari-hari, sebanyak apa Dia mengorbankan diri-Nya, dan sebesar apa harga yang Dia bayar, semua itu bukanlah masalah besar. Ini karena sebanyak apa pun penderitaan lahiriah yang ditanggung-Nya ini, itu tidak dapat mengatasi sakit yang dirasakan oleh Tuhan yang berinkarnasi dari menanggung berbagai bentuk kerusakan dan pemberontakan umat manusia, dan itu juga tidak dapat membebaskan daging inkarnasi dari kesepian, apalagi—tentu saja—menggantikan hasil yang diharapkan oleh Tuhan yang berinkarnasi atau Tuhan itu sendiri. Ketiga hal ini adalah bagian dari tanggung jawab yang dipenuhi oleh Tuhan yang berinkarnasi ketika datang ke tengah-tengah manusia untuk melakukan tahap akhir pekerjaan, dan hal-hal ini adalah fakta objektif yang harus Dia hadapi. Sejak Aku secara resmi mulai melaksanakan pelayanan-Ku hingga sekarang, selama lebih dari tiga puluh tahun, Aku terus-menerus hidup dalam keadaan seperti itu. Mungkin seandainya Aku memberitahumu sepuluh tahun yang lalu bahwa ini adalah bagian dari penderitaan yang ditanggung oleh Tuhan yang berinkarnasi, engkau semua tidak akan mengerti, dan engkau tidak akan merasakan apa pun, dengan berkata, "Bagaimana itu bisa dianggap sebagai penderitaan? Engkau memiliki status yang begitu tinggi; Engkau pasti makan dengan baik, menikmati hal-hal yang menyenangkan, dan tidak kekurangan apa pun. Selain itu, ada begitu banyak orang yang mengikuti-Mu, dan bekerja keras bagi-Mu. Penderitaan apa yang Engkau tanggung? Apakah itu dianggap sebagai penderitaan?" Namun, sekarang engkau semua mungkin bisa sedikit mengerti. Seandainya pada waktu itu Kukatakan bahwa, selama masa Aku bekerja, Aku tidak memiliki rumah untuk pulang dan tidak ada tempat untuk meletakkan kepala-Ku, Aku tidak makan dengan baik, berpakaian buruk, dan hidup di lingkungan dengan kondisi yang buruk, dan bahkan tinggal di gua-gua untuk menghindari perburuan PKT, engkau semua pasti bersedia mendengarkan dan mampu memahaminya. Namun, Aku tidak pernah mengatakan hal-hal itu; hal-hal itu tidak terhitung sebagai penderitaan apa pun bagi-Ku. Penderitaan sejati adalah penderitaan di dalam hati-Ku. Apa yang telah Kuberitahukan kepada engkau semua hari ini adalah penderitaan sejati yang ditanggung oleh Tuhan yang berinkarnasi. Aku mengatakan hal-hal ini dengan harapan bahwa engkau semua mengetahui sebuah fakta: Bahwa Tuhan yang berinkarnasi datang ke tengah-tengah manusia untuk melakukan pekerjaan, itu juga mengharuskan Dia untuk membayar harga, juga mengharuskan Dia untuk bersabar, dan juga mengharuskan Dia untuk benar-benar mengalami semua rasa sakit ini. Karena Dia harus melaksanakan pelayanan-Nya, Dia harus menghadapi penderitaan yang sudah seharusnya ditanggung-Nya sendiri dan memikulnya sendiri. Penderitaan ini adalah apa yang secara pribadi harus dipikul-Nya untuk melakukan pekerjaan, menyelesaikan rencana pengelolaan Tuhan, dan menyelesaikan amanat Tuhan. Alasan Aku tidak pernah bersaksi tentang hal-hal ini, dan tidak membutuhkanmu untuk bersaksi tentang hal-hal ini, apalagi untuk menyebarluaskannya, dan tentu saja, terlebih lagi, tidak mengeklaim jasa dari engkau semua dan tidak membutuhkan engkau semua untuk sangat bersyukur kepada-Ku, adalah karena datangnya Tuhan yang berinkarnasi ke tengah-tengah manusia untuk bekerja sudah merupakan pekerjaan yang cukup berat. Ini adalah pekerjaan-Nya, juga tanggung jawab-Nya; Dia harus menanggungnya, dan harus menjaga serta menunggu. Aku mengatakan hal-hal ini semata-mata untuk memberitahumu sikap Tuhan yang berinkarnasi dalam menyikapi kesukaran-kesukaran ini, serta memberitahumu pemikiran dan pandangan yang benar agar engkau semua tahu cara menyikapi penderitaan; ini bukanlah agar engkau menghayati secara lebih mendalam apa itu penderitaan dan penderitaan apa yang telah ditanggung oleh Tuhan yang berinkarnasi. Aku tidak merasa diperlakukan tidak adil dengan menanggung penderitaan, Aku juga tidak merasa bahwa menanggung penderitaan ini berarti Aku telah bekerja begitu keras dan memberikan kontribusi yang sedemikian besarnya. Aku tidak sedang mencoba membenarkan diri-Ku sendiri kepada engkau semua, apalagi mencoba menuntut sesuatu darimu yang dapat Kugunakan sebagai modal. Aku menanggung penderitaan yang sudah seharusnya Kutanggung, karena Aku memiliki tanggung jawab terhadap engkau semua. Tentu saja, dalam hal pelayanan yang Kulaksanakan, Aku harus bertanggung jawab kepada Tuhan. Aku tidak perlu mencari jasa atau kesan baik darimu. Jadi, sederhananya, engkau semua tidak dapat menggantikan tempat-Ku dalam menanggung penderitaan sejati ini, dan tak seorang pun darimu dapat membebaskan-Ku darinya. Satu-satunya hal yang dapat engkau semua lakukan, satu-satunya cara engkau semua dapat bekerja sama, dan satu-satunya hal yang dapat sedikit meringankan penderitaan yang Kutanggung, adalah jika engkau semua memperoleh jalan masuk ke dalam kebenaran, belajar untuk taat, memiliki kesaksian seperti kesaksian Ayub, dan memiliki pengalaman seperti pengalaman Petrus; jika engkau semua memiliki perbuatan baik, sepenuh hati dalam melaksanakan tugasmu, tunduk kepada Tuhan, serta mencintai dan mengejar kebenaran; dan jika setiap artikel kesaksian pengalaman yang engkau semua tulis berisi beberapa pengalaman dan pemahaman yang sejati tentang kebenaran, serta mencapai beberapa hasil dalam hal tunduk kepada Tuhan. Hasil-hasil yang engkau semua peroleh ini adalah balasan terbesar dan penghiburan terbesar bagi-Ku secara pribadi; Aku tidak memiliki tuntutan tambahan lainnya terhadap engkau semua.
Bukanlah suatu kebetulan bahwa Tuhan yang berinkarnasi menanggung penderitaan ini. Kenyataannya, yang Tuhan selamatkan adalah umat manusia yang rusak, dan kerusakan umat manusia yang rusak adalah semacam rasa sakit bagi Tuhan. Hidup bersama, berurusan, dan berinteraksi dengan manusia yang rusak sembari juga menyelamatkan manusia yang rusak dan memiliki pengharapan terhadap mereka, tidaklah terelakkan bahwa Dia menderita, dan tidaklah terelakkan bahwa Dia membayar harga. Harga ini tidak sesederhana mengucapkan beberapa patah kata lagi. Apa yang Tuhan curahkan untuk menyelamatkan umat manusia? Dia mencurahkan tenaga-Nya, hati dan usaha-Nya, serta hidup-Nya. Roh Tuhan mencurahkan hati dan usaha-Nya untuk melakukan pekerjaan; demikian pula, Tuhan yang berinkarnasi mencurahkan hati dan usaha-Nya serta tenaga-Nya demi keselamatan manusia; begitu pun dengan Dia. Sejak Tuhan menciptakan umat manusia dan manusia mulai ada, Tuhan telah berhubungan dengan mereka dan bergaul dengan mereka, serta bekerja atas manusia. Sepanjang waktu, Tuhan sesungguhnya telah mencurahkan hati dan usaha-Nya yang tak terhitung banyaknya atas manusia, dan melakukan pekerjaan yang tak terhitung banyaknya atas manusia. Namun, Tuhan tidak pernah menyebutkan kepada umat manusia sebanyak apa Dia telah menderita atau sebesar apa harga yang telah dibayar-Nya. Dia hanya mengatakan secara umum bahwa Dia telah mencurahkan hati dan usaha-Nya, membayar harga dengan hidup-Nya untuk membekali manusia, dan menganugerahkan kebenaran kepada manusia sebagai hidupnya. Namun, Tuhan tidak pernah mengatakan penderitaan apa yang telah ditanggung-Nya, fitnah dan hinaan apa yang telah diderita-Nya, sebanyak apa kelelahan yang telah ditanggung-Nya, sebesar apa harga yang telah dibayar-Nya, atau sebanyak apa kerja keras-Nya. Dia tidak pernah menyebutkan hal-hal ini. Ada alasan Dia tidak menyebutkan hal-hal ini. Jika Aku tidak memberitahumu, engkau semua tidak akan pernah mengetahuinya. Alasannya adalah, dalam melakukan pekerjaan atas manusia, Tuhan tidak pernah berupaya untuk memperoleh apa pun darinya; Dia hanya bersedia membekali manusia dengan begitu tanpa pamrih, dan mengabdikan diri-Nya bagi manusia dengan begitu tanpa pamrih. Jika kita menggunakan bahasa manusia untuk mengatakan apa yang ingin Dia peroleh dengan bertindak seperti ini, yang dicari-Nya adalah bahwa manusia menempuh jalan yang benar, dan bahwa manusia mampu hidup dengan baik; mampu hidup dengan semestinya dan menghidupi keserupaan dengan manusia, serta mampu hidup sesuai dengan jalan yang Tuhan ajarkan kepada manusia; tidak lagi dihancurkan, dirusak, dan disesatkan oleh Iblis; mampu benar-benar tunduk kepada Tuhan. Ini akan memberi Tuhan ketenangan hati. Jika Tuhan mencari sesuatu, yang dicari-Nya itu adalah ketenangan hati, yaitu agar manusia mampu hidup dengan semestinya dan berperilaku dengan cara yang semestinya berdasarkan firman Tuhan, agar harga yang telah Tuhan bayar dan pekerjaan yang telah dilakukan-Nya tidak sia-sia, serta agar Dia melihat hasil dalam diri manusia. Sebanyak apa pun Tuhan telah menderita, sebesar apa pun harga yang telah Dia bayar, berapa tahun pun Dia telah menunggu, dan berapa tahun pun Dia telah menunjukkan kesabaran kepada manusia, Tuhan sepenuhnya bersedia melakukan semua ini. Untuk memperoleh ketenangan hati ini, Tuhan bersedia membayar harga semacam itu bagi manusia. Tuhan sendiri tidak pernah menyesali betapa pun banyaknya penderitaan yang telah Dia tanggung; dalam bahasa manusia, Dia tidak pernah ragu tentang hal itu. Dengan kata-kata yang paling sederhana dan paling dapat engkau semua pahami, Tuhan melakukan ini untuk mengakhiri kekhawatiran-Nya ini; inilah keinginan Tuhan. Tuhan menciptakan manusia, dan Tuhan memiliki keinginan untuk mendapatkan umat manusia ciptaan yang mampu hidup, bertahan hidup, dan mengelola segala sesuatu sesuai dengan jalan yang diajarkan-Nya kepada mereka, tidak lagi dikuasai oleh kerusakan Iblis dan tidak lagi menghancurkan diri mereka sendiri. Sekelompok orang seperti inilah yang ingin Tuhan dapatkan. Jadi, Tuhan memprakarsai dan mulai melakukan pekerjaan-Nya, dan telah melanjutkannya sampai sekarang; kepedulian-Nya terhadap orang-orang ini tidak berubah, begitu pun dengan tujuan ini. Sebanyak apa pun penderitaan yang ditanggung-Nya atau sebesar apa pun harga yang dibayar-Nya, Tuhan telah bekerja seperti ini selama ini. Saat bekerja seperti ini, Tuhan sebenarnya telah banyak menderita dan membayar banyak harga, tetapi Dia tidak pernah mencoba membenarkan diri-Nya kepada manusia, tidak pernah menjelaskan hal-hal ini kepada umat manusia, dan tidak pernah menyebutkan hal-hal ini; ini secara langsung berkaitan dengan esensi Tuhan. Sebesar apa pun hal-hal yang Tuhan lakukan, sebanyak apa pun pekerjaan yang Dia lakukan atas umat manusia, sebesar apa pun harga yang dibayar-Nya, atau sebanyak apa pun Dia membekali manusia—artinya, sebanyak apa pun Tuhan menganugerahi orang-orang atau sebanyak apa pun Tuhan memberi kepada mereka—Dia tidak pernah merasa bahwa ini adalah semacam jasa, dan Dia juga tidak membutuhkan umat manusia untuk merasa sangat bersyukur kepada-Nya. Sebaliknya, berdasarkan pemikiran dan pandangan manusia yang hidup di era mana pun, sebesar apa pun harga yang dibayar oleh seseorang dan apa pun yang mereka lakukan, mereka pasti selalu mencari cara untuk mendapatkan sesuatu darinya, dan mereka pasti selalu memikirkan sesuatu untuk diri mereka sendiri. Namun, Tuhan tidak pernah memiliki pemikiran semacam itu; hanya Tuhanlah yang benar-benar tanpa pamrih. Apa arti tanpa pamrih? Penjelasan paling sederhananya adalah tidak pernah memikirkan diri sendiri. Pikirkan bagaimana manusia membesarkan anak-anak dan mendidik mereka hingga dewasa. Orang tua menghabiskan begitu banyak uang untuk anak-anaknya dan membayar begitu banyak harga untuk mereka, dengan tujuan agar anak-anaknya dapat mencapai kesuksesan besar dan membawa kehormatan bagi keluarga, sehingga orang tua dapat ikut menikmati kejayaan anak-anaknya di masa depan. Tuhan tidak memiliki ide-ide semacam itu. Setiap gerak-gerik dan tindakan-Nya, setiap pemikiran dan ide-Nya, harga yang Dia bayar bagi manusia, dan semua yang Dia anugerahkan kepada mereka bukan hanya merupakan hal paling berharga, melainkan juga sepenuhnya bebas dari niat tersembunyi terhadap mereka. Itu hanyalah pengabdian tanpa pamrih dan penyediaan tanpa pamrih, terus-menerus menyediakan dengan cara seperti ini. Ini adalah sikap tanpa pamrih sejati. Semua ini dilakukan oleh Tuhan. Tuhan tidak pernah menuntut jasa apa pun dari manusia. Di tengah umat manusia, sebanyak apa pun kesalahpahaman dan sungut-sungut orang terhadap-Nya, atau sebanyak apa pun perlakuan tidak adil yang Dia tanggung, Dia tidak pernah mencoba membenarkan diri atau membela diri-Nya sendiri. Dia sepenuhnya bersedia dalam segala hal yang Dia lakukan bagi umat manusia, tidak mengeluh tentang hal itu, juga tidak merasakan penyesalan apa pun, dan Dia tidak pernah merasa bahwa ini adalah beban tambahan. Artinya, sikap tanpa pamrih Tuhan tidak mengandung sudut pandang transaksional yang dimiliki manusia, dan tidak mengandung hasrat manusia untuk tawar-menawar. Jika engkau mampu menerapkan kebenaran, pada akhirnya engkau akan mampu bertahan hidup. Bagi Tuhan, memberimu sedikit kasih karunia secara cuma-cuma bukanlah apa-apa. Dia membiarkanmu bertahan hidup, terus hidup, dan hidup dalam kebahagiaan, hidup di tengah segala sesuatu, yang telah Tuhan anugerahkan kepada umat manusia. Sebanyak apa pun berkat yang kaunikmati, Tuhan tidak merasa cemburu, dan Dia tidak mencoba bersaing denganmu untuk memperebutkannya. Asalkan engkau mampu mengenal pengaturan dan penataan Sang Pencipta, mampu tunduk pada pengaturan dan penataan Sang Pencipta, dan hidup dengan cara yang dituntut Sang Pencipta, ini sudah cukup. Tuhan tidak memintamu untuk terus-menerus merasa sangat bersyukur kepada-Nya, dan Dia tidak membutuhkan penghormatanmu yang mendalam. Tuhan tidak pernah meminta siapa pun untuk mendirikan kuil bagi-Nya dan membakar tiga batang dupa setiap hari. Tuhan tidak menikmati hal-hal ini. Engkau lihat, ketika Ayub melihat punggung Tuhan, apakah Tuhan memiliki tuntutan apa pun terhadapnya? (Tidak.) Tuhan hanya memberinya upah terbesar—mengizinkannya melihat punggung Tuhan—yang meningkatkan imannya kepada Tuhan. Inilah upah Tuhan baginya. Kemudian Tuhan pergi, berharap dia dapat hidup dalam kebahagiaan, hidup di tengah segala sesuatu yang diciptakan oleh Sang Pencipta, dan hidup di bawah kedaulatan Sang Pencipta. Bagi Tuhan, ini adalah balasan yang terbesar. Bahwa Ayub mampu takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan adalah penyembahan sejati kepada Sang Pencipta, dan itu juga merupakan balasan terbesar. Engkau lihat, apa yang Tuhan tuntut dari umat manusia juga untuk memberi manfaat bagi manusia. Sebenarnya, manusialah yang pada akhirnya memperoleh kenikmatan paling besar dan yang bisa hidup dalam kebahagiaan. Apakah Tuhan mengajukan tuntutan yang berat kepada manusia? Tuntutan Tuhan terhadap manusia tidaklah tinggi. Namun, dari tuntutan-Nya, kita dapat melihat bahwa Tuhan benar-benar tanpa pamrih; Dia terus-menerus mengabdikan diri-Nya, dan melakukannya secara cuma-cuma. Sebesar apa pun harga yang Dia bayar atau sebanyak apa pun Dia menderita, Tuhan menanggung semuanya sendirian dan tidak mencoba membenarkan diri-Nya sendiri kepada umat manusia yang rusak. Katakan kepada-Ku, apakah Iblis memiliki sifat-sifat ini? (Tidak.) Iblis tidak memiliki satu hal pun yang Tuhan miliki— bahkan tidak memiliki aspek terkecil dari apa yang dimiliki Tuhan dan siapa Tuhan itu, yang oleh orang-orang dianggap paling tidak layak diperhatikan—manusia juga tidak memiliki satu pun dari hal-hal ini. Apa yang dimiliki Tuhan dan siapa Tuhan itu semuanya positif, semuanya indah, dan semuanya mulia; itu adalah yang paling murni dan paling kudus. Esensi Tuhan, watak Tuhan, serta apa yang Tuhan miliki Tuhan dan siapa Tuhan itu dapat disebut tanpa cacat dan tanpa cela. Karena tanpa cela, hal-hal itu disebut kudus, bukan? (Ya.) Berbagai prinsip Tuhan dalam menyikapi segala sesuatu, termasuk bagaimana Dia memperlakukan umat manusia, sepenuhnya didasarkan pada kebenaran; inilah yang paling benar dari semuanya. Engkau lihat, dari aspek mana pun engkau memandangnya, esensi watak Tuhan layak mendapatkan pujian dari umat manusia. Namun, meskipun Tuhan telah begitu banyak menderita, Dia tidak menuntut apa pun dari umat manusia. Dia tidak pernah meminta hal berikut dari manusia: "Engkau semua harus bernyanyi dan menari dengan penuh sukacita untuk memuji-Ku setiap hari. Pujilah nama-Ku setiap hari. Setiap kali berkumpul atau membuat program, engkau semua harus memuji nama-Ku bersama-sama." Pernahkah Tuhan menuntut manusia untuk melakukan hal ini? (Tidak pernah.) Sebanyak apa pun penderitaan yang Tuhan tanggung, sebanyak apa pun pekerjaan yang Dia lakukan, atau sebanyak apa pun yang Dia anugerahkan kepada umat manusia, Dia tidak pernah menuntut orang untuk sangat bersyukur kepada-Nya, atau sangat menghormati-Nya seperti yang dilakukan orang tidak percaya terhadap berhala. Tuhan tidak pernah melakukan hal-hal semacam itu. Dia tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun atau melakukan satu hal pun demi status-Nya dan prestise-Nya di hati umat manusia. Dia tidak pernah melakukan hal-hal ini. Roh Tuhan tidak melakukan hal-hal semacam itu. Dia tidak pernah mengucapkan hal-hal semacam itu atau meninggalkan pesan-pesan semacam itu bagi umat manusia. Jadi, pernahkah Tuhan yang berinkarnasi melakukan hal-hal semacam itu atau mengucapkan perkataan semacam itu? (Tidak.) Selama bertahun-tahun bekerja dan menderita di tengah-tengah manusia, Dia terus-menerus menyediakan kebenaran dan hidup bagi manusia, serta mendukung dan membimbing manusia untuk menempuh jalan yang benar. Dia hanya berharap orang-orang dapat mengejar kebenaran dan bertahan hidup. Selain ini, apakah Dia memiliki tuntutan tambahan apa pun terhadap engkau semua? (Tidak.) Dia tidak memiliki tuntutan tambahan terhadap engkau semua.
Dalam hal naturnya, penderitaan yang ditanggung oleh Tuhan yang berinkarnasi sebenarnya berbeda dari jenis penderitaan yang manusia bicarakan. Dalam arti positif, manusia menanggung penderitaan mereka sepenuhnya demi membuang watak rusak mereka untuk memperoleh keselamatan. Dalam arti negatif, mereka menanggungnya sepenuhnya sebab mereka memiliki watak yang rusak, dan karena mereka dihakimi serta dihajar karena melakukan kejahatan dan menentang Tuhan. Berdasarkan hal ini, penderitaan manusia itu perlu dan tidak terelakkan. Namun, Tuhan yang berinkarnasi menanggung penderitaan-Nya demi melakukan pekerjaan-Nya, demi menyediakan kebenaran bagi manusia, dan agar mereka dapat melepaskan diri dari kerusakan dan siksaan Iblis serta menempuh jalan keselamatan. Tuhan harus menanggung kesukaran-kesukaran ini dalam jangka panjang. Ini juga merupakan bagian dari pekerjaan-Nya. Kesukaran-kesukaran ini adalah hal-hal yang harus ditanggung-Nya sendiri dan harus dipikul-Nya sendiri. Karena Tuhan yang berinkarnasi sedang melakukan pekerjaan-Nya dan melaksanakan pelayanan-Nya, dan penderitaan adalah bagian dari pekerjaan ini, Tuhan tidak membutuhkan orang-orang untuk sangat bersyukur kepada-Nya karena menanggung penderitaan ini, Dia juga tidak membutuhkan orang-orang untuk menyebarkan informasi tentang penderitaan-Nya, apalagi membutuhkan orang-orang untuk mengetahuinya. Jika engkau ingin mengenal Tuhan, engkau seharusnya mengenal-Nya dengan mengenal esensi Tuhan, dengan mengenal pemikiran dan pandangan Tuhan tentang bagaimana Dia menyikapi segala hal dan peristiwa, dan dengan mengenal prinsip-prinsip Tuhan dalam memperlakukan berbagai orang serta menyikapi berbagai peristiwa dan hal-hal. Mengenal-Nya dengan cara ini adalah pendekatan yang terbaik dan paling tepat. Tentang mengenal penderitaan Tuhan, engkau dapat melewatkannya; engkau tidak perlu mengenal aspek ini. Sekalipun engkau mengenalnya, engkau tidak akan mampu bersimpati kepada Tuhan, engkau tidak akan mampu memikirkan-Nya, dan engkau tidak akan mampu menggantikan-Nya untuk menanggungnya. Jadi, tidak perlu bersekutu tentang hal ini. Jika engkau semua tahu bahwa menanggung penderitaan adalah bagian dari pekerjaan Tuhan yang berinkarnasi, dan itu adalah proses yang pasti dialami-Nya ketika datang ke tengah-tengah manusia, memahami hal ini sudah cukup. Tidak perlu meributkannya, dan engkau semua juga tidak perlu membalas apa pun. Jika engkau semua mengejar kebenaran, engkau semua mungkin akan memahaminya suatu hari nanti, tetapi jika engkau bukanlah orang yang mengejar kebenaran, engkau mungkin mencapai akhirnya dan tetap tidak mampu memahaminya.
Kita dapat dikatakan telah selesai mempersekutukan topik tentang penderitaan. Jika engkau semua memahami sikap Tuhan yang berinkarnasi terhadap penderitaan, atau jika engkau memahami penderitaan apa yang ditanggung-Nya, apa yang ingin engkau semua lakukan? Yang terbaik adalah engkau semua mampu menerapkan kebenaran, bersikap penuh pengabdian, menjadi makhluk ciptaan yang memenuhi standar, dan membuat keinginan Tuhan terpenuhi. Ini adalah balasan terbesar kepada Tuhan. Jika engkau melakukan hal ini, Tuhan akan mengingatnya. Balasan terbesar kepada Tuhan adalah engkau semua mampu mengejar penerapan kebenaran, dan pada akhirnya mampu memperoleh keselamatan, tidak membiarkan rencana Tuhan gagal, tidak membiarkan firman Tuhan menjadi sia-sia, membuat firman Tuhan terwujud di dalam dirimu, dan membiarkan firman Tuhan menjadi hidupmu. Suatu hari nanti, ketika engkau semua berhasil bertahan hidup dan menjadi bagian dari umat manusia baru, mampu menjadi penguasa atas segala sesuatu dan hidup dalam kebahagiaan, serta telah memenuhi keinginan awal Tuhan dalam menciptakan umat manusia, itu akan menjadi balasan terbesar kepada Tuhan. Pada hari engkau semua memperoleh keselamatan dan menjadi orang-orang yang bertahan hidup, engkau semua akan mewujudkan keinginan Tuhan untuk menciptakan umat manusia baru. Tuhan akan mendapatkan sekelompok orang di bumi yang dapat menyembah Tuhan serta takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan; keinginan Tuhan ini akan terpenuhi. Ketika keinginan Tuhan terpenuhi, mungkin pada hari itu Tuhan akan mengatakan bahwa engkau telah membantu-Nya memenuhi keinginan-Nya, dan bahwa engkau telah membantu-Nya mengakhiri masa penderitaan-Nya. Ini adalah balasan terbesar kepada Tuhan. Ketika keinginan Tuhan terpenuhi, Tuhan tidak akan lagi mengorbankan apa pun bagi umat manusia; pengharapan-Nya telah terwujud. Tuhan tidak perlu lagi melakukan pekerjaan. Dia akan melihat hasilnya dan memperoleh hasilnya, pekerjaan-Nya akan berakhir, Dia akan dapat beristirahat, dan Dia tidak akan lagi memiliki kekhawatiran apa pun mengenai umat manusia. Artinya, engkau—melalui perolehanmu akan keselamatan dengan mengejar kebenaran—telah membantu Tuhan melepaskan diri dari kesukaran yang Dia rasakan, dan dari perjalanan kesukaran-Nya selama enam ribu tahun. Tuhan akan berterima kasih kepadamu. Hal ini karena penantian tersebut telah berjalan begitu panjang, tetapi untungnya, Tuhan pada akhirnya akan melihat hasilnya, keinginan-Nya akan terpenuhi, dan Dia akan mendapatkan umat manusia baru. Engkau seharusnya bersukacita bagi Tuhan. Jika engkau benar-benar memiliki hati yang memikirkan Tuhan, jika engkau benar-benar ingin memahami dan memikirkan hati Tuhan, dan engkau ingin membalas Tuhan, engkau seharusnya taat dan tunduk, menempuh jalan keselamatan, menempuh jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, serta menjadi orang yang mampu menyembah Tuhan. Ini adalah balasan terbesar kepada Tuhan. Tentu saja, ini juga satu-satunya cara untuk menghibur Tuhan dan memenuhi keinginan Tuhan, sehingga Dia dapat melepaskan segala kekhawatiran dan pengharapan-Nya mengenai manusia. Tentu saja, ini juga merupakan cara terbaik untuk membantu Tuhan melepaskan diri dari perjalanan kesukaran yang merupakan penantian-Nya selama enam ribu tahun. Dalam pandangan Tuhan, ini adalah balasan terbesar bagi-Nya; ini adalah hadiah terbaik yang dapat kaupersembahkan kepada Tuhan. Hadiah ini diterima dan diperkenan oleh Tuhan, dan itu lebih berharga daripada berapa banyak pun persepuluhan yang mungkin kaupersembahkan.
Apakah tidak apa-apa jika kita mengakhiri persekutuan tentang topik ini di sini? (Ya.) Kalau begitu, mari kita akhiri persekutuan kita di sini untuk hari ini. Sampai jumpa!
23 November 2024