Cara Mengejar Kebenaran (29)
Kita telah mempersekutukan beberapa kebenaran mengenai Tuhan yang berinkarnasi. Apakah engkau semua merasa bahwa mempersekutukan aspek kebenaran ini membantu untuk mengenal Tuhan? (Ya.) Kalau begitu, bagus. Kita telah bersekutu sedikit tentang topik ini sebelumnya, tetapi kita tidak mempersekutukannya secara terperinci, poin demi poin; sebaliknya, kita mempersekutukannya secara sepotong-sepotong. Yang sedang kita persekutukan kali ini adalah kebenaran-kebenaran dalam topik Tuhan yang berinkarnasi yang berkaitan dengan gagasan manusia tentang Tuhan, serta sikapnya terhadap Tuhan dan pengenalannya akan Tuhan. Di satu sisi, mempersekutukan kebenaran-kebenaran ini adalah agar manusia dapat memahami dan mengenal Tuhan, serta memahami kebenaran yang berkaitan dengan sikap dan sudut pandangnya terhadap Tuhan yang harus ia ketahui. Di sisi lain, itu karena topik-topik ini sangat penting. Apa yang membuatnya penting? Manusia tidak dapat melihat atau menyentuh Tuhan yang di surga dan bahkan hampir tidak dapat merasakan-Nya; Tuhan yang di surga begitu jauh dari manusia. Jika orang berusaha membangun hubungan dengan Tuhan, itu akan sangat hampa dan samar bagi mereka. Di satu sisi, kehampaan dan kesamaran ini karena manusia penuh dengan gagasan dan imajinasi tentang Tuhan. Di sisi lain, itu karena manusia sama sekali tidak memiliki pemahaman tentang keberadaan yang nyata dan kenyataan diri Tuhan, atau tentang identitas dan esensi Tuhan, dan hidup sepenuhnya di tengah gagasan serta imajinasi yang tumbuh dari angan-angannya sendiri. Jadi, setelah manusia mulai mengikuti Tuhan, hubungan yang ia bangun dengan Tuhan pada dasarnya dibangun di atas gagasan dan imajinasinya, di atas landasan angan-angannya, dan juga di atas berbagai tuntutan dan hasratnya terhadap Tuhan. Hubungan antara manusia dan Tuhan yang dibangun di atas landasan semacam ini sangatlah tidak stabil, sangatlah tidak kokoh, dan, tentu saja, sangatlah tidak dapat diandalkan. Dengan embusan angin sekecil apa pun, atau dengan terjadinya suatu situasi yang tidak biasa, hubungan semacam ini dapat mudah retak, dan dapat mudah terputus. Sebagai contoh, ketika manusia menghadapi hal-hal yang tidak berjalan sesuai keinginannya, ketika ia menghadapi penderitaan, kemunduran, dan kegagalan, atau ketika ia menghadapi segala macam hal yang tidak sesuai dengan gagasannya atau tidak memenuhi kepentingan dagingnya—ketika manusia dihadapkan pada salah satu dari situasi-situasi yang ia yakini menurut gagasannya bahwa itu tidak seharusnya terjadi—ia secara naluriah akan meragukan Tuhan. Ia akan meragukan keberadaan Tuhan, ia akan meragukan apakah cara Tuhan memegang kedaulatan atas manusia—dan cara Tuhan mengatur dan menata segala sesuatu baginya—itu benar. Tentu saja, ia juga akan meragukan apakah benar bagi Tuhan untuk bertindak dengan cara ini, serta apakah Tuhan memiliki motif terselubung atau niat buruk terhadap manusia atau tidak, dan sebagainya. Singkatnya, hubungan semacam ini antara manusia dan Tuhan sangatlah tidak stabil dan tidak kokoh; dalam istilah manusia, hubungan ini penuh dengan ketidakpastian. Karena hubungan semacam ini antara manusia dan Tuhan dibangun di atas gagasan dan imajinasi manusia, dan di atas landasan berbagai tuntutan yang manusia ajukan terhadap Tuhan berdasarkan angan-angannya, maka sebesar apa pun iman yang manusia rasa ia miliki kepada Tuhan, atau sebesar apa pun tekad yang ia rasa ia miliki untuk mengikuti Tuhan, dari perspektif Tuhan, Dia tidak mengakui hubungan semacam ini. Tentu saja, secara fakta objektif, hubungan ini tidak stabil; hubungan ini dapat retak atau terputus kapan saja dan di mana saja, karena perubahan di segala macam lingkungan dan berbagai orang, peristiwa, dan hal-hal, serta munculnya berbagai situasi khusus. Sekalipun orang memahami beberapa kebenaran, mereka akan tetap meragukan Tuhan ketika mereka tidak memahami ataupun mengenal-Nya. Sekalipun mereka tidak meragukan keberadaan Tuhan, mereka akan tetap meragukan apa tujuan Tuhan bertindak dengan cara ini terhadap mereka, dan apakah benar bagi-Nya untuk bertindak dengan cara ini. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa hubungan yang manusia bangun dengan Tuhan ketika ia tidak memahami ataupun mengenal Tuhan tidaklah dapat bertahan menghadapi ujian apa pun, dan hampir tidak dapat bertahan menghadapi tempaan dari lingkungan khusus apa pun. Penyebab hal ini bukanlah karena ada kesalahan atau ketidaktepatan dalam kedaulatan dan pengaturan Tuhan, atau bahwa Tuhan tidak bertenggang rasa, tidak memperhitungkan kelemahan manusia atau berbagai kebutuhannya; sebaliknya, itu karena manusia yang rusak pada dasarnya penuh dengan gagasan dan imajinasi tentang Tuhan. Sejak awal, karena manusia memiliki watak yang rusak, hubungannya dengan Tuhan tidak dibangun di atas fondasi hubungan yang normal antara makhluk ciptaan dan Sang Pencipta. Dengan demikian, manusia mengambil sikap dan pandangan yang salah serta membangun hubungannya dengan Tuhan menggunakan sudut pandang yang keliru, dan ia juga menggunakan pemikiran dan pandangan yang keliru, serta metode yang keliru, untuk mempertahankan hubungan ini. Dengan cara ini, hubungan antara manusia dan Tuhan menjadi tidak normal. Hubungan ini tidak hanya gagal membantu manusia untuk lebih tunduk kepada Tuhan, pengaturan-Nya, dan penataan-Nya demi memenuhi tuntutan Tuhan terhadapnya, tetapi juga membuat Tuhan membencinya dan muak terhadapnya, dan bahkan menyebabkan manusia kehilangan kesempatannya untuk memperoleh keselamatan. Makin lama manusia mengikuti Tuhan, makin banyak kebenaran yang dipahaminya, dan makin ia mengumpulkan sejumlah modal serta mendapatkan beberapa pengalaman dan pelajaran dalam proses pelaksanaan tugasnya, ia makin merasa bahwa hubungannya dengan Tuhan itu benar dan kokoh. Namun, dalam hal pengenalan manusia akan Tuhan, di mata Tuhan, hubungan semacam ini antara manusia dan Tuhan masih tidak normal. Hubungan ini masih perlu diperbaiki dan diuji, dan manusia masih harus memahami lebih banyak kebenaran serta memiliki pemahaman dan pengenalan yang lebih besar akan Tuhan. Hanya dengan cara ini, barulah hubungan antara manusia dan Tuhan dapat benar-benar memenuhi standar di mata Tuhan, dan tentu saja, hanya dengan demikian, barulah manusia dapat dengan lebih akurat dan rasional menempatkan dirinya pada posisi makhluk ciptaan dalam caranya memperlakukan Sang Pencipta, dalam caranya memperlakukan Tuhan. Oleh karena itu, kebenaran tentang mengenal Tuhan yang berinkarnasi—mengenal Tuhan yang di bumi—bukanlah semacam pengetahuan akademis atau sejenis pengetahuan umum, apalagi semacam teori atau slogan. Sebaliknya, itu adalah aspek kebenaran yang harus manusia pahami untuk membangun hubungan yang normal dengan Tuhan, untuk membangun hubungan antara makhluk ciptaan dan Sang Pencipta. Ini adalah aspek kebenaran yang berkaitan dengan pengenalan akan esensi Tuhan, pengenalan akan cara Tuhan bekerja dan berfirman, dan pengenalan akan prinsip-prinsip dalam cara Tuhan melakukan segala macam hal. Begitu manusia memahami aspek kebenaran ini, mengenal Tuhan yang berinkarnasi, dan memiliki pemahaman dasar tentang Tuhan, ia akan membangun hubungan yang paling tepat dan paling sesuai dengan Tuhan, hubungan antara makhluk ciptaan dan Sang Pencipta. Hanya di atas landasan hubungan semacam inilah pengejaran manusia untuk menerapkan kebenaran demi memuaskan Tuhan, dan pengejarannya untuk tunduk kepada Tuhan dan menyembah-Nya, akan berkembang ke arah yang positif; hanya dengan demikian, manusia akan makin menjauhi kejahatan, dan menempuh jalan keselamatan.
Renungkan hal ini: Jika orang sama sekali tidak memiliki pengenalan akan Tuhan—artinya, meskipun percaya kepada Tuhan, mereka penuh dengan gagasan dan imajinasi tentang prinsip dan cara Tuhan melakukan segala sesuatu, serta tujuan-Nya dalam melakukannya, dan mereka penuh dengan gagasan dan imajinasi mengenai detail spesifik tentang cara Tuhan melakukan segala macam hal—maka, ketika mereka menghadapi berbagai hal, bagaimana mereka akan menyikapinya? Bagaimana mereka akan mencari kebenaran? Apa yang akan menjadi dasar mereka? Apa yang akan menjadi prinsip-prinsip mereka? Apa yang akan menjadi tujuan mereka? Ini bukanlah pertanyaan-pertanyaan yang sederhana. Jika orang penuh dengan gagasan dan imajinasi tentang Tuhan, dan tidak memiliki sedikit pun pemahaman tentang prinsip dan cara Tuhan melakukan segala sesuatu, dan sama sekali tidak memahami apa tujuan-Nya dalam melakukan segala macam hal, dan mereka memperlakukan Tuhan sepenuhnya berdasarkan gagasan dan imajinasi manusia, budaya tradisional, serta penalaran berdasarkan pengetahuan, dapatkah mereka mengenal dan tunduk kepada Tuhan? (Tidak.) Jika pengejaran orang untuk mengenal Tuhan secara keseluruhan didasarkan pada gagasan dan imajinasi manusia, pengetahuan dan falsafah, serta budaya tradisional, dan pengejaran mereka dibangun di atas landasan ini serta dibatasi oleh hal-hal ini, bukankah pengejaran ini akan sangat jauh dari memenuhi tuntutan Tuhan? Bukankah itu akan bertentangan dengan apa yang Tuhan tuntut? (Ya.) Begitu engkau semua memahami aspek-aspek ini—kenormalan dan kenyataan Tuhan yang berinkarnasi; prinsip dan cara Tuhan berfirman dan bertindak; serta tujuan, motif, dan sasaran di balik perkataan dan tindakan-Nya—melalui persekutuan, engkau akan memiliki pemahaman dasar tentang prinsip dan cara Tuhan bekerja dan berfirman, serta tujuan-Nya dalam melakukannya. Pemahaman ini tidak berasal dari gagasan dan imajinasi manusia tentang Tuhan, juga bukan sesuatu yang manusia simpulkan berdasarkan pengetahuannya, apalagi sesuatu yang manusia bayangkan berdasarkan budaya tradisional; sebaliknya, pemahaman ini terdiri dari perwujudan yang sangat nyata dari Tuhan yang di bumi yang dilihat, ditemui, dan dialami manusia. Prinsip dan cara Tuhan yang berinkarnasi dalam berfirman dan bertindak—serta tujuan-Nya dalam melakukannya—yang Dia perlihatkan dengan cara yang sepenuhnya nyata, sudah lebih dari cukup untuk memungkinkanmu memahami dan mengenal esensi dan watak Tuhan, serta prinsip dan cara spesifik Tuhan dalam bertindak, bekerja, dan berbicara, beserta tujuan-Nya dalam melakukannya. Oleh karena itu, memahami berbagai aspek Tuhan yang berinkarnasi adalah jalan untuk memahami Tuhan, Sang Pencipta. Meskipun mengenal Tuhan yang berinkarnasi tidak dapat menuntun pada pengenalan yang lengkap dan menyeluruh akan Sang Pencipta, setidaknya, mengenal Tuhan yang berinkarnasi adalah jalan untuk mengenal Tuhan yang di surga dan mengenal Sang Pencipta. Apa tujuan-Ku memberitahumu hal-hal ini? Meskipun memahami dan mengenal Tuhan adalah hal-hal yang harus berusaha manusia pelajari seumur hidupnya, dan meskipun manusia tidak dapat mengenal Tuhan secara lengkap dan menyeluruh sekalipun ia mengerahkan upaya seumur hidup, melalui pengenalan akan Tuhan yang berinkarnasi, engkau akan memahami Tuhan yang di surga dan Sang Pencipta dengan cara yang lebih nyata, dengan lebih tepat dan objektif. Ini sudah cukup. Artinya, cukup bagimu untuk memahami dan mengenal Tuhan melalui mengenal Tuhan yang berinkarnasi; itu sudah memenuhi syarat bagimu untuk mengenal Tuhan dan membangun hubungan yang normal dengan-Nya. Mengenal Tuhan yang berinkarnasi sudah cukup untuk memungkinkanmu mengenal Tuhan yang di surga dan Sang Pencipta.
Jika orang ingin mengenal Tuhan yang di surga sepenuhnya, berharap untuk memperoleh pengenalan yang lengkap dan menyeluruh akan Dia, apakah itu mungkin? (Tidak.) Mereka tidak akan pernah mampu mencapai hal itu. Karena ini tidak mungkin, mengapa manusia masih diminta untuk mengenal Tuhan? Sebab, jika engkau dapat mengenal Tuhan secara akurat dan nyata, ini bermanfaat dan membantumu dalam mengikuti Tuhan, mengejar kebenaran, serta menjadi takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Selain itu, mengenal Tuhan sangatlah krusial dan penting bagimu dalam menerapkan kebenaran dan memperoleh keselamatan. Jadi, apa yang seharusnya kaulakukan? (Kami seharusnya mementingkan kebenaran-kebenaran tentang mengenal Tuhan. Kami tidak seharusnya mencoba memahami aspek kebenaran ini seolah-olah itu hanyalah kebenaran biasa.) Di satu sisi, engkau harus memperlakukan Tuhan yang berinkarnasi dengan sikap yang benar. Selain itu, engkau harus memeriksa gagasan dan imajinasi apa yang kaumiliki tentang Tuhan yang berinkarnasi dan tentang Tuhan, serta mencari tahu bagaimana cara melepaskannya. Dalam interaksi dan hubunganmu dengan Tuhan, baik dalam kehidupan sehari-hari, selama proses melaksanakan tugasmu, maupun saat engkau mengalami kehidupanmu, engkau harus memeriksa gagasan dan imajinasi apa yang kaumiliki tentang Tuhan, dan apakah sikapmu terhadap Tuhan memiliki dua masalah ini: Pertama, membandingkan Tuhan yang berinkarnasi dengan Tuhan yang di surga, dan kedua, menyamakan Tuhan yang berinkarnasi dengan umat manusia yang rusak. Memeriksa kedua masalah ini dapat memungkinkanmu untuk mengenali beberapa gagasan dan imajinasimu tentang Tuhan, atau menemukan masalah apa yang ada antara engkau dan Tuhan; atau, hal ini juga dapat memungkinkanmu untuk menyingkapkan beberapa pemikiran dan pandanganmu yang keliru serta sikapmu yang keliru terhadap Tuhan. Tujuan memeriksa dirimu sendiri seperti ini adalah untuk membantumu mengenali dengan jelas berbagai pemikiran, pandangan, dan sikapmu yang keliru terhadap Tuhan, agar engkau dapat melepaskannya, serta memperlakukan firman Tuhan, pekerjaan Tuhan, dan Tuhan itu sendiri dengan pemikiran dan pandangan yang benar, dengan sikap yang benar, serta dengan cara yang benar. Hanya dengan menerapkannya seperti ini, barulah hubungan antara engkau dan Tuhan dapat berangsur-angsur menjadi normal dan memuaskan Tuhan, bukan? (Ya.) Jika engkau menerapkannya seperti ini, hubunganmu dengan Tuhan akan berangsur-angsur berkembang berdasarkan hubungan antara makhluk ciptaan dan Sang Pencipta, dan di atas landasan standar yang Tuhan tuntut dari manusia. Hanya setelah memenuhi standar ini, barulah hubungan antara manusia dan Tuhan dapat menjadi makin normal. Apa yang dimaksud dengan "normal" di sini? Apakah engkau semua tahu? (Itu berarti manusia dapat dengan lebih baik menempatkan diri pada posisi makhluk ciptaan dalam caranya memperlakukan Sang Pencipta. Ia tidak lagi memiliki sikap waspada dan curiga terhadap Tuhan, melainkan mampu memperlakukan Tuhan dengan keterbukaan dan kejujuran.) Apakah ada lagi yang ingin menambahkan sesuatu? (Setelah hubungan seseorang dengan Tuhan menjadi normal, ia bukan hanya tidak lagi bersikap waspada atau curiga terhadap Tuhan, melainkan ia juga tidak lagi mengajukan tuntutan terhadap Tuhan, tidak memiliki hasrat yang berlebihan, dan mampu benar-benar tunduk pada pengaturan dan penataan Tuhan.) Jawabanmu tepat sekali. Perwujudan utama yang terlihat pada orang-orang yang memperoleh keselamatan adalah bahwa mereka mampu menempatkan diri pada posisi yang semestinya sebagai makhluk ciptaan dan tunduk kepada Sang Pencipta. Ketika manusia tunduk kepada Tuhan, ia benar-benar menyembah Tuhan; hanya dengan benar-benar menyembah Tuhan, barulah ia dapat mencapai rasa takut akan Tuhan, dan benar-benar menjadi takut akan Tuhan serta menjauhi kejahatan. Oleh karena itu, mengenai jenis hubungan yang manusia miliki dengan Tuhan, atau jenis hubungan yang ia bangun dengan Tuhan, hal itu tergantung pada apa? Itu tergantung pada pengejaran manusia dan sikapnya terhadap Tuhan, serta pada seberapa banyak ia mengenal Tuhan. Jika engkau tidak memiliki pengenalan akan Tuhan, dan penuh dengan gagasan dan imajinasi tentang-Nya, serta hasrat yang berlebihan terhadap-Nya, maka sekalipun engkau mampu menerapkan beberapa kebenaran dan melaksanakan beberapa tugas yang seharusnya dilaksanakan oleh makhluk ciptaan, sejauh menyangkut hubunganmu dengan Tuhan, tugas yang kaulaksanakan atau kebenaran yang kauterapkan sangatlah terbatas. Sebagai contoh, dalam melaksanakan tugasmu, engkau mampu meninggalkan segala sesuatu dan mengorbankan dirimu, serta menderita dan membayar harga, atau engkau mampu melakukan beberapa pekerjaan yang sesuai dengan kemampuanmu di gereja. Namun, ketika Tuhan melakukan sesuatu kepadamu yang tidak sesuai dengan gagasanmu, atau ketika Dia mengambil sesuatu darimu, atau mendidik dan mendisiplinkanmu, mampukah engkau tunduk? Jika engkau memiliki pemahaman dan pengenalan sejati akan Tuhan, engkau akan secara alami menempatkan diri pada posisi makhluk ciptaan dan memiliki sikap yang tunduk. Namun, jika engkau tidak memiliki pemahaman dan pengenalan yang sejati akan Tuhan, ketika engkau dihadapkan pada hal-hal yang tidak berjalan sesuai keinginanmu, atau ketika engkau menghadapi hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan pribadimu, engkau akan secara alami mengembangkan segala macam pemikiran serta segala macam gagasan dan imajinasi tentang Tuhan. Dengan demikian, akan sangat sulit bagimu, sebagai makhluk ciptaan, untuk mencapai ketundukan sejati kepada Tuhan. Sekalipun engkau memiliki ketundukan yang dangkal atau kesediaan untuk tunduk, jika itu tidak sesuai dengan tuntutan Tuhan, maka ketundukanmu ini bukanlah apa yang Tuhan inginkan. Jika ketundukanmu ini sepenuhnya berasal dari gagasan dan imajinasi manusia, bertentangan dengan pengenalanmu akan Tuhan dan pekerjaan Tuhan, serta melanggar prinsip-prinsip kebenaran, maka itu adalah ketundukan yang tidak murni; itu bukanlah ketundukan sejati, dan itu bukanlah ketundukan yang Tuhan inginkan. Tuhan tidak berkenan akan ketundukan semacam itu. Di mata-Nya, engkau sama sekali tidak memiliki ketundukan. Jika engkau tidak mampu benar-benar tunduk kepada Tuhan, itu berarti yang kausebut sebagai "pengejaran"-mu dan yang kausebut sebagai "penerapan kebenaran"-mu pada dasarnya telah gagal membantumu membangun hubungan dengan Tuhan, yakni hubungan antara makhluk ciptaan dan Sang Pencipta. Dalam sebagian besar hal yang kaulakukan, engkau sedang hidup di tengah keinginan pribadimu, serta gagasan dan imajinasimu, dan ini tidak dapat memperoleh perkenanan Tuhan. Tidak memperoleh perkenanan Tuhan pada akhirnya mengarah pada satu hal: Apa yang kaulakukan dan apa yang kauterapkan sangat jauh dari apa yang Tuhan tuntut, dan engkau hidup di tengah angan-anganmu sendiri, atau di tengah gagasan dan imajinasimu. Pada akhirnya, hal yang kaulakukan dan kauterapkan, serta jalan yang kautempuh, tidak akan mampu menuntunmu untuk menempuh jalan keselamatan dan memperoleh keselamatan. Dengan demikian, bukankah tindakanmu akan menjadi sia-sia? (Ya.) Dalam situasi ini, tindakanmu akan menjadi sia-sia. Dengan demikian, bukankah pada dasarnya engkau tidak memperoleh apa pun dari kepercayaanmu kepada Tuhan selama bertahun-tahun ini? (Ya.) Apa alasan tidak memperoleh apa pun? (Orang menempuh jalan percaya kepada Tuhan sambil selalu hidup di tengah keinginan pribadi, serta gagasan dan imajinasi mereka.) Fakta bahwa engkau tidak memperoleh apa pun setelah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun bukanlah karena engkau tidak membayar harga, tidak bersedia menanggung kesukaran, atau tidak bersedia mengorbankan dirimu, apalagi karena engkau tidak melaksanakan tugasmu. Sebaliknya, apa alasannya? Alasannya adalah karena selama proses menderita dan membayar harga, meninggalkan segala sesuatu dan mengorbankan dirimu, serta melaksanakan tugasmu, sebagian besar dari apa yang kaulakukan hanya dilakukan karena angan-anganmu, dan engkau melakukannya selagi engkau hidup di tengah gagasan dan imajinasimu, bukannya bertindak sesuai dengan tuntutan Tuhan. Namun, engkau selalu yakin bahwa engkau sedang bertindak sesuai dengan tuntutan Tuhan. Karena keyakinanmu ini penuh dengan gagasan, pada akhirnya engkau gagal memperoleh kebenaran dan memperoleh keselamatan. Dengan demikian, semua tindakanmu menjadi sia-sia. Jika orang pada akhirnya mencapai titik ini, tidakkah menurut engkau semua itu sangat menyedihkan? (Ya.) Dari luarnya, orang terlihat telah melaksanakan tugas mereka, memberitakan firman Tuhan, serta menderita dan membayar harga, tetapi sebenarnya, mereka mengikuti dan melayani Tuhan sambil memiliki banyak gagasan dan imajinasi, serta banyak pemikiran, pandangan, dan sikap yang keliru. Jika engkau melaksanakan tugasmu dengan ketidakmurnian ini, pada akhirnya, ketika Tuhan mengujimu, engkau tidak akan tahu mengapa Tuhan bertindak dengan cara ini, atau apa yang Tuhan harapkan darimu dan hasil apa yang ingin Dia capai di dalam dirimu dengan mengujimu seperti ini. Pada akhirnya, ketika Tuhan mengujimu, perkataan yang kauucapkan kepada Tuhan dan doa-doamu akan penuh dengan keluhan, ketidakpahaman, dan keraguan, bahkan penuh dengan kesedihan dan rasa sakit, serta gagasan dan imajinasi tentang Tuhan. Dengan demikian, bukankah pengejaranmu selama ini akan menghasilkan kegagalan, dan bukankah penderitaan yang kautanggung dan harga yang kaubayar akan menjadi sia-sia? (Ya.) Sebagai contoh, katakanlah engkau telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun dan selalu menanggung kesukaran serta membayar harga; dari luarnya, engkau telah melakukan segala sesuatu yang Tuhan perintahkan kepadamu dan berpegang teguh pada firman ini. Namun suatu hari, ujian seperti yang Ayub alami datang atasmu, dan engkau tiba-tiba menjadi ragu: "Mungkinkah kepercayaanku salah? Mungkinkah aku sedang menempuh jalan yang salah? Mengapa Tuhan mengatur lingkungan seperti ini bagiku? Mengapa Tuhan melakukan pekerjaan semacam ini atasku? Mengapa Dia membiarkan hal seperti itu terjadi padaku?" Engkau tidak mengerti, dan tidak tahu apa yang sedang terjadi. Di satu sisi, secara subjektif, ada banyak hal yang tidak kaupahami. Selain itu, apa masalah terbesar yang orang miliki? Ketika menghadapi segala macam hal, yang mereka ketahui hanyalah berdoa dan mencari untuk melepaskan diri dari situasi-situasi ini. Mereka yang sedikit lebih baik akan berusaha mengenal diri mereka sendiri untuk mencari tahu apakah mereka telah menyinggung Tuhan, apakah Tuhan sedang mendisiplinkan mereka, apakah ada sesuatu tentang diri mereka yang tidak selaras dengan maksud Tuhan, atau apakah tindakan dan perbuatan mereka telah membuat diri mereka dibenci Tuhan. Namun, ketika sebagian besar orang menghadapi hal semacam itu, mereka tidak tahu—dalam arti positif—bagaimana secara proaktif melakukan bagian mereka untuk pekerjaan Tuhan dan bekerja sama dengan Tuhan, bagaimana menerapkan sesuai dengan prinsip-prinsip yang seharusnya dipatuhi oleh makhluk ciptaan atau sesuai dengan instruksi Sang Pencipta, atau bagaimana secara proaktif mencari jalan penerapan dan prinsip-prinsip kebenaran untuk menyelesaikan masalah yang ada. Ini di luar kemampuan sebagian besar orang. Bukankah benar demikian? (Ya.) Engkau lihat, ketika orang menghadapi berbagai hal, mereka mencoba mencari penyebab di berbagai tempat. Mereka mungkin mengintrospeksi diri, mereka mungkin mencoba mencari penyebab objektif, mereka mungkin mencoba mencari beberapa alasan yang dapat mereka gunakan untuk berbantah dan membenarkan diri mereka sendiri, atau mereka mungkin mencurigai orang lain dan mencari penyebabnya pada diri orang lain. Namun, sangat jarang ada orang yang datang ke hadapan Tuhan untuk secara proaktif mencari prinsip-prinsip kebenaran dan secara proaktif menyelesaikan masalah tersebut. Pada akhirnya, ketika Tuhan menyingkirkan situasi atau lingkungan yang sedang orang hadapi, seberapa banyak yang dapat orang peroleh? Sebagian besar orang hanya tahu bahwa mereka harus berhati-hati saat lain kali menghadapi hal-hal semacam itu, dan mereka hanya tahu bagaimana menghindari atau meredam hal-hal ini ketika ada tanda-tanda bahwa hal-hal tersebut mungkin muncul lagi. Namun, sangat sedikit orang yang merenungkan bagaimana mereka seharusnya bekerja sama secara proaktif ketika menghadapi hal-hal semacam itu, bagaimana menerapkan sesuai dengan prinsip-prinsip yang Tuhan beritahukan kepada manusia, dan bagaimana menyelesaikan masalah tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Ini tidak mudah dilakukan oleh sebagian besar orang, bukan? (Ya.)
Apakah mempersekutukan topik tentang melepaskan gagasan dan imajinasi orang mengenai Tuhan yang berinkarnasi ada hubungannya dengan mengenal Tuhan yang berinkarnasi? (Ada.) Apa hubungannya? (Jika kami tidak mengenal Tuhan yang berinkarnasi, dan hanya percaya kepada Tuhan berdasarkan gagasan dan imajinasi kami sendiri, pada akhirnya kemungkinan besar kami akan pulang dengan tangan kosong dan semua upaya kami akan menjadi sia-sia, tanpa memperoleh apa pun. Jadi, jika kami ingin berada di jalur yang benar dalam kepercayaan kami kepada Tuhan, kami harus mengenal Tuhan yang berinkarnasi. Kebenaran ini sangat penting.) Inilah yang seharusnya kaupahami dalam hal teori. Lalu, bagaimana seharusnya engkau menerapkannya? Ini adalah pertanyaan yang penting. Setelah memperoleh pengenalan akan Tuhan yang berinkarnasi, engkau seharusnya menangani dan menyelesaikan segala macam hal dalam kehidupan nyata berdasarkan pengenalan ini, dan menggunakannya untuk menyimpulkan apa prinsip-prinsip penerapan untuk segala macam hal. Pengenalan seperti apa pun yang kaumiliki, tujuan memiliki pengenalan ini adalah untuk menyelesaikan masalah, bukan agar engkau menguasai suatu teori. Engkau lihat, kita telah mempersekutukan begitu banyak topik yang berkaitan dengan Tuhan yang berinkarnasi, tetapi topik yang mana pun itu, semua itu berkaitan dengan masalah-masalah nyata dalam kehidupan nyata. Ketika engkau menghadapi masalah-masalah nyata ini, engkau seharusnya memikirkannya. Apa yang kaupikirkan tentang masalah-masalah itu? Bagaimana sikapmu terhadap semua itu? Bagaimana engkau berencana untuk menyelesaikannya? Apakah engkau akan membiarkannya berlalu begitu saja, atau akankah engkau mencari kebenaran untuk menyelesaikannya? Jika, setelah mendengarkan persekutuan-Ku tentang topik-topik ini, engkau hanya mengingat beberapa teori, tetapi tidak dapat menerapkan firman-Ku dalam kehidupan nyata untuk mengatasi kesulitan dan masalahmu, maka yang telah kauperoleh hanyalah doktrin, dan itu tidak akan membantumu. Namun, jika setelah mendengarkan persekutuan-Ku tentang topik-topik ini, engkau menerapkan firman-Ku dalam kehidupan nyata, memperbaiki sudut pandangmu yang keliru dan sikapmu yang keliru terhadap Tuhan, menyingkirkan gagasan dan imajinasimu tentang Tuhan, serta memperbaiki hubunganmu dengan Tuhan, maka yang telah kauperoleh adalah kebenaran. Jika engkau menggunakan firman dan isi yang telah Kupersekutukan denganmu untuk membereskan gagasan dan imajinasimu, pemikiran dan pandanganmu yang keliru, serta sikapmu yang keliru terhadap Tuhan, engkau akan mampu membangun hubungan yang normal dengan Tuhan. Namun, jika engkau memperlakukan masalah yang kaumiliki dengan sikap acuh tak acuh dan tidak memedulikannya, engkau tidak pernah merenungkannya dengan becermin pada firman Tuhan, dan engkau tahu dengan jelas bahwa ada masalah dengan sikapmu terhadap Tuhan tetapi tidak mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah nyata ini, maka firman-Ku tidak berarti apa-apa bagimu, dan engkau telah mendengarkannya dengan sia-sia, bukan? (Ya.) Seperti apa situasimu? (Meskipun tahu bahwa kami tidak seharusnya memperlakukan firman Tuhan sebagai doktrin, dan bahwa kami seharusnya menerapkannya dalam kehidupan nyata, jalan masuk kehidupan kami masih relatif dangkal saat ini.) Jalan masuk kehidupanmu yang dangkal bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Asalkan engkau terus-menerus mencari kebenaran, engkau akan berangsur-angsur mencapai jalan masuk kehidupan yang lebih dalam. Di atas landasan ini, renungkanlah berbagai hal secara bertahap dan periksalah dirimu sendiri, serta becerminlah pada firman Tuhan, lalu perbaikilah pemikiran dan pandanganmu yang keliru—serta sikapmu yang keliru terhadap Tuhan—dan mulailah memperlakukan dan mengenal Tuhan dengan pemikiran dan pandangan yang benar, serta sikap yang benar. Dengan cara ini, selangkah demi selangkah, hubunganmu dengan Tuhan akan menjadi makin normal.
Hal yang telah kita bicarakan mengenai topik Tuhan yang berinkarnasi tidaklah abstrak atau hampa. Ini sangat spesifik, berkaitan dengan kehidupan nyata, dan sama sekali tidak terlepas dari kehidupan nyata. Itulah sebabnya Kukatakan bahwa ini tidak hampa atau abstrak. Jika engkau mendengarkan dan merenungkannya dengan hatimu, engkau akan memahami aspek kebenaran ini dengan makin jelas. Singkatnya, jika orang ingin memperoleh pengenalan yang sejati akan Tuhan, dan ingin membangun hubungan yang normal antara makhluk ciptaan dan Sang Pencipta, pelajaran tentang mengenal Tuhan ini adalah sesuatu yang harus mereka pelajari, dan proses mengenal Tuhan adalah sesuatu yang harus mereka alami. Pelajaran tentang mengenal Tuhan ini seharusnya dimulai dengan dua hal: mengenal kenormalan dan kenyataan Tuhan yang berinkarnasi, serta melepaskan gagasan dan imajinasi tentang Tuhan yang berinkarnasi. Dapat juga dikatakan bahwa pelajaran ini seharusnya dimulai dari aspek-aspek paling dasar yang ada. Setelah engkau membangun hubungan yang normal antara makhluk ciptaan dan Sang Pencipta dengan Tuhan yang berinkarnasi, dan membangun hubungan yang normal antara manusia dan Tuhan, engkau akan mengambil perspektif manusia dan memperlakukan Tuhan yang berinkarnasi, firman dan pekerjaan-Nya, serta sikap apa pun yang Dia miliki terhadapmu dengan pemikiran dan pandangan yang benar, dan dengan sikap yang benar. Setelah engkau membangun hubungan yang normal dengan Tuhan yang berinkarnasi—hubungan antara manusia dan Tuhan—seharusnya tidak terlalu sulit bagimu untuk bersikap terbuka dan jujur kepada Tuhan, bersikap penuh hormat terhadap-Nya, dan taat kepada-Nya, bukan? (Ya.) Inilah tujuan yang seharusnya manusia kejar, dan ini juga merupakan prinsip yang seharusnya manusia terapkan. Membangun hubungan yang normal dengan Tuhan yang berinkarnasi seharusnya dimulai dengan berinteraksi, bergaul, berkomunikasi, dan berurusan dengan-Nya. Di atas landasan ini, engkau seharusnya meningkatkan pemahamanmu tentang Tuhan yang berinkarnasi, sering bercakap-cakap dan berkomunikasi dengan-Nya, dan dengan demikian memperoleh pemahaman serta pengenalan yang sejati akan Tuhan. Jika bercakap-cakap, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan Tuhan yang di surga adalah sesuatu yang sangat jauh dan bahkan di luar jangkauan manusia, dan juga tidak realistis serta tidak objektif, lalu bagaimana manusia dapat berhasil berinteraksi, berkomunikasi, dan bergaul dengan Tuhan di atas landasan telah membangun hubungan yang normal dengan-Nya? Selama periode ini, di mana Tuhan yang berinkarnasi sedang berfirman dan bekerja, terdapat kondisi yang memungkinkan manusia untuk mencapai hal-hal ini; baik dalam kehidupan maupun dalam melakukan pekerjaan, kondisi ini tersedia. Karena kondisi ini tersedia, manusia tidak seharusnya melewatkannya. Ini adalah kesempatan yang baik bagi manusia untuk berlatih cara memperlakukan Sang Pencipta dengan benar. Jika manusia meraih kesempatan ini dan memanfaatkannya dengan baik, ia akan memiliki kesempatan dan sarana untuk memahami dan mengenal Tuhan yang di surga dengan cara yang lebih nyata. Bagi manusia, memahami dan mengenal Tuhan yang di surga kemudian menjadi sesuatu yang tidak lagi samar dan hampa, dan tentu saja, itu tidak lagi menjadi sesuatu yang hanya bisa dipikirkannya tetapi tidak bisa dicapai olehnya. Dalam proses manusia berinteraksi dan bergaul dengan Tuhan yang berinkarnasi, di satu sisi, mereka berangsur-angsur mengenal diri mereka sendiri dan mengenali berbagai gagasan dan imajinasi yang mereka miliki tentang Tuhan. Selain itu, mereka juga berangsur-angsur memahami sukacita, kemarahan, kesedihan, dan kebahagiaan Tuhan, berbagai sikap Tuhan terhadap manusia, serta prinsip dan cara Tuhan berfirman dan bekerja, serta tujuan-Nya dalam melakukannya. Yang penting di sini adalah memungkinkan manusia, melalui apa yang dilihat matanya, didengar telinganya, dan dialami hatinya, untuk memahami dengan lebih nyata dan akurat berbagai aspek firman dan tindakan Tuhan. Dalam situasi ini, manusia tidak akan lagi hidup di tengah gagasan dan imajinasinya tentang Tuhan. Seandainya Tuhan tidak menjadi daging pada akhir zaman, sekalipun manusia masih percaya kepada Tuhan Yesus pada Zaman Kasih Karunia, dan telah melakukannya selama bertahun-tahun, pemahaman dan pengenalannya akan Tuhan hampir nol; ia tidak akan memiliki sedikit pun pengenalan yang sejati akan Tuhan. Jadi, tidak ada seorang pun di dunia keagamaan yang benar-benar mengenal Tuhan. Pengenalan akan Tuhan yang didapatkan oleh mereka yang menerima Tuhan yang berinkarnasi pada akhir zaman itu berbeda; mereka yang memilikinya jauh lebih mengenal Tuhan daripada mereka yang percaya kepada Tuhan Yesus pada Zaman Kasih Karunia. Karena Tuhan yang berinkarnasi pada akhir zaman telah bekerja untuk waktu yang lama, mengungkapkan banyak kebenaran, melakukan pekerjaan dalam jumlah yang sangat besar, telah berinteraksi, bergaul, dan tinggal bersama manusia untuk waktu yang lama, serta berhubungan dengan berbagai macam orang, hasilnya, kondisi bagi manusia untuk memahami dan mengenal Tuhan lebih mendukung. Artinya, inkarnasi ini telah membekali manusia dengan kondisi dan kesempatan yang lebih mendukung untuk berhubungan dengan Tuhan, memungkinkannya untuk mendengar suara Tuhan dengan telinganya sendiri, dan dengan matanya sendiri, menyaksikan setiap gerak-gerik Tuhan, sukacita, kemarahan, kesedihan, dan kebahagiaan Tuhan, serta banyak rincian dari berbagai aspek kehidupan Tuhan sehari-hari. Selain penampilan luar kemanusiaan Tuhan yang berinkarnasi yang dapat dijumpai manusia, seluruh rincian yang berkaitan dengan kehidupan Tuhan dan esensi-Nya seharusnya cukup untuk memungkinkan manusia memiliki pemahaman yang lebih dalam dan lebih akurat tentang Tuhan. Tentu saja, pemahaman yang lebih dalam dan lebih akurat ini seharusnya memungkinkan manusia untuk membangun hubungan yang lebih baik dan lebih sehat dengan Tuhan serta melepaskan diri dari berbagai gagasan dan imajinasi, membuang seluruh gagasan dan imajinasi yang dimilikinya tentang Tuhan. Bukankah demikian? (Ya.) Oleh karena itu, apa pun yang Kupersekutukan, tujuan dari persekutuan ini adalah untuk membantu manusia lebih memahami dan mengenal Tuhan. Tentu saja, Aku tidak pernah berbicara tentang keluarga Tuhan yang berinkarnasi sebagai seorang manusia, pendidikan yang Dia terima, atau lingkungan tempat Dia dibesarkan, apalagi berbicara tentang sejarah keluarga-Nya, kebiasaan keluarga-Nya, lingkungan rumah-Nya, atau gaya hidup dan metode pendidikan spesifik yang diterapkan keluarga-Nya. Tentu saja, Aku juga tidak pernah memberitahumu seperti apa kepribadian-Ku atau apa kebiasaan hidup-Ku; Aku juga tidak pernah membicarakan rincian sepele dalam kehidupan-Ku mengenai kebutuhan pokok. Sebaliknya, apa yang telah Kubicarakan? (Beberapa prinsip Tuhan yang berinkarnasi dalam berperilaku dan bertindak.) Baik itu memberikan contoh, berbicara tentang fakta-fakta dalam beberapa hal, maupun membicarakan suatu aspek kebenaran, semua yang telah Kubahas berkaitan dengan pekerjaan Tuhan, esensi Tuhan, dan identitas Tuhan; semuanya berkaitan dengan pengenalan manusia akan Tuhan. Sekalipun Aku memberikan beberapa contoh yang berkaitan dengan kebutuhan pokok, tujuan-Ku bukanlah agar engkau semua berfokus pada apa yang Kumakan, apa yang Kukenakan, atau apa kebiasaan hidup-Ku, melainkan untuk membantumu mengetahui apa saja prinsip Tuhan dalam berperilaku dan bertindak ketika Dia datang dalam daging dan tinggal bersama manusia. Sekalipun apa yang Kubicarakan berkaitan dengan beberapa cara hidup Tuhan yang berinkarnasi, itu adalah untuk membantu engkau semua memahami sudut pandang dan prinsip-prinsip-Nya mengenai hal-hal ini, memahami dan mengerti prinsip-prinsip dalam satu aspek, dan di atas landasan ini, lebih memahami kenormalan dan kenyataan Tuhan, serta prinsip-prinsip-Nya dalam berperilaku dan bertindak. Memahami rincian spesifik dari prinsip-prinsip ini justru untuk memungkinkan engkau semua memahami kehidupan seperti apa yang dimiliki oleh Tuhan yang berinkarnasi, orang biasa ini, dan bagaimana kehidupan-Nya berkaitan dengan Tuhan. Aku bersekutu sesuai dengan prinsip ini. Tujuan-Ku bukanlah agar engkau semua meniru pilihan-pilihan-Ku mengenai kebutuhan pokok, gaya hidup-Ku yang spesifik, atau warna apa yang Kusukai. Itu bukanlah tujuan-Ku. Aku hanya memberitahu engkau semua prinsip-prinsip-Ku. Sebagai contoh, ketika Kukatakan kepadamu apa yang Kumakan atau apa kebiasaan-Ku sehari-hari, itu bukan agar engkau dapat meniru-Ku atau berpegang pada aturan tertentu, melainkan untuk memberitahumu apa yang terkandung di dalam sifat biasa dari Tuhan yang berinkarnasi dan kenormalan-Nya ketika Dia datang ke bumi, dan apa prinsip-prinsip-Nya dalam berperilaku serta melakukan segala sesuatu. Cukuplah bahwa, melalui contoh-contoh yang Kuberikan dan melalui beberapa fakta, engkau memahami prinsip-prinsip, aspek kebenaran ini, serta kehidupan dan watak Tuhan yang seharusnya kaukenal. Jadi, Aku tidak pernah memberitahumu apakah Aku menyukai rambut panjang atau rambut pendek; Aku hanya memberitahumu apa alasan dan prinsip untuk membiarkan rambut tumbuh panjang atau memotongnya pendek, agar engkau dapat memahami prinsip-prinsip tersebut. Mempersekutukan kebenaran-kebenaran tentang Tuhan yang berinkarnasi ini berkaitan dengan pengenalan manusia akan esensi Tuhan dan identitas Tuhan, dan itu berkaitan dengan kenormalan serta kenyataan Tuhan. Jika orang beranggapan bahwa Tuhan yang di bumi hanya berkaitan dengan pekerjaan dan firman Tuhan, dan hanya Tuhan yang di surga yang berkaitan dengan perbuatan Tuhan, apakah pemahaman ini benar? (Tidak.) Lalu, apakah firman yang diucapkan dan pekerjaan yang dilakukan oleh Tuhan yang di bumi berasal dari Tuhan yang di surga? (Ya.) Bagus jika engkau dapat memahaminya seperti ini. Aku tidak pernah memberitahumu di mana Aku dilahirkan, seperti apa masa pertumbuhan-Ku, atau pendidikan seperti apa yang Kuterima, juga tidak pernah berbicara tentang lingkungan tempat Aku dibesarkan, lingkungan pendidikan yang Kualami, atau sejarah keluarga-Ku, bukan? (Tidak.) Ada orang yang berkata, "Keluarga-Mu bukanlah keluarga terpandang. Engkau tumbuh besar sama seperti orang biasa. Itu tidak layak dibicarakan, jadi Engkau tidak membicarakannya." Inikah alasan Aku tidak membicarakan hal-hal ini? (Bukan.) Lalu, mengapa Aku tidak membicarakannya? (Membicarakan hal-hal itu tidak akan membantu kami dalam mengenal Tuhan yang berinkarnasi.) Hal-hal itu tidak ada hubungannya dengan mengenal Tuhan yang berinkarnasi, jadi Aku tidak membicarakannya. Jika Aku membicarakan hal-hal itu, engkau semua boleh pergi dan tidak mendengarkannya. Namun, jika Aku memberitahumu tentang pekerjaan, firman, watak, dan esensi Tuhan yang berinkarnasi, serta berbagai perwujudan dan hal yang diperlihatkan dalam kehidupan-Nya, engkau semua seharusnya mendengarkannya dengan saksama dan sungguh-sungguh. Engkau semua harus mendengarkan hal-hal yang berkaitan dengan kebenaran; mendengarkan isi ini membantu bagimu untuk mengenal Tuhan. Ada orang yang berkata, "Apa hubungannya mengenal Tuhan dengan pengejaranku akan kebenaran?" Katakan kepada-Ku, apakah ada hubungannya? (Ada.) Dapatkah mengenal Tuhan menggantikan pengejaran akan kebenaran? Apa hubungan antara mengenal Tuhan dan mengejar kebenaran? Menurutmu, apakah prinsip-prinsip dalam bertindak dan berfirman yang terwujud dalam kenormalan dan kenyataan Tuhan yang berinkarnasi, yang sekarang sedang Kupersekutukan denganmu, ada hubungannya dengan kebenaran? (Ada.) Lalu, apa hubungannya mengenal Tuhan dengan mengejar kebenaran? (Menurutku, mengenal Tuhan itu sendiri adalah mengejar kebenaran. Ini karena mengenal Tuhan memungkinkan kami untuk mengenal berbagai prinsip Tuhan dalam bertindak dan berbagai watak yang Tuhan nyatakan, serta membantu kami merenungkan tindakan dan perbuatan kami sendiri serta watak rusak yang kami perlihatkan. Hal ini juga memberi kami arah untuk penerapan kami. Ini adalah satu poin. Poin lainnya adalah bahwa mengenal Tuhan dapat memacu manusia untuk mengejar kebenaran. Ketika orang memiliki pengenalan tertentu akan esensi dan watak Tuhan, hasrat dan tekad yang positif akan muncul di dalam hati mereka—mereka akan ingin lebih mengenal Tuhan dan menempuh jalan mengejar kebenaran—dan mereka akan berangsur-angsur membuang watak rusak mereka dan menghidupi keserupaan yang dituntut oleh Tuhan. Oleh karena itu, menurutku mengenal Tuhan itu sendiri adalah mengejar kebenaran, dan itu dapat memacu manusia untuk mengejar kebenaran.) Ketika orang sedang mengejar pengenalan akan Tuhan, mereka sebenarnya juga sedang mengejar kebenaran; mereka sedang menganggap serius kebenaran, dan melihat bagaimana tepatnya Tuhan bertindak dan apa yang Tuhan tuntut dalam berbagai bidang. Begitu manusia memahami hal-hal ini secara terperinci, ia akan memiliki tujuan yang lebih jelas dan arah yang lebih akurat dalam penerapannya. Mengejar pengenalan akan Tuhan itu sendiri adalah mengejar kebenaran; pernyataan ini tidak salah, dan kedua hal ini tidak bertentangan. Jadi, dapatkah mengejar kebenaran memungkinkanmu untuk mengenal Tuhan? (Ya.) Selagi engkau mengejar kebenaran, engkau juga berangsur-angsur mengenal Tuhan. Proses mengejar kebenaran adalah proses menerapkan kebenaran. Selagi engkau menerapkan kebenaran, engkau berangsur-angsur memahami maksud Tuhan dan tuntutan Tuhan terhadapmu, dan engkau juga memahami standar yang dituntut Tuhan, serta keinginan dan maksud-Nya dalam hal-hal spesifik. Begitu engkau memahami hal-hal ini, engkau berangsur-angsur mengenal Tuhan. Proses memahami ini adalah proses mengenal Tuhan itu sendiri. Kedua hal ini saling melengkapi; tidak satu pun berdiri sendiri. Dalam aspek kebenaran mana pun engkau memiliki pengalaman, pengenalan, dan penghayatan yang sejati, dalam aspek kebenaran mana pun engkau memperoleh hasil ini, apa yang kauperoleh juga akan mencakup pengenalan akan Tuhan. Ketika engkau memiliki pengalaman dan pengenalan akan kebenaran, pada saat yang sama engkau juga memiliki pengenalan dan pemahaman tentang Tuhan. Begitu engkau memiliki pengenalan akan Tuhan, engkau dapat lebih yakin akan maksud Tuhan dan standar yang dituntut Tuhan. Setelah itu, ketika engkau menerapkan kebenaran, penerapanmu akan lebih akurat, dan engkau tidak akan berpegang pada gagasan dan imajinasi; engkau akan tahu dengan jelas apa maksud Tuhan dan apa yang Tuhan kehendaki untuk kaulakukan. Mengenal Tuhan dan mengejar kebenaran tidak terlepas satu sama lain, dan keduanya tidak saling bertentangan; sebaliknya, keduanya saling melengkapi. Oleh karena itu, mengenal Tuhan yang berinkarnasi membantu dan bermanfaat bagi pengejaran dan penerapanmu akan kebenaran. Itu dapat berfungsi sebagai pendorong dalam hal ini. Sebelum ini, banyak orang berpikir, "Sekarang setelah memiliki firman yang diungkapkan oleh Tuhan yang berinkarnasi, aku telah memperoleh Tuhan. Ketika menghadapi berbagai hal, aku hanya perlu menerapkannya sesuai dengan firman ini. Sekalipun aku tidak memiliki pemahaman atau pengenalan akan Tuhan, itu tidak masalah; itu tidak akan memengaruhi penerapanku akan kebenaran." Namun, ketika mereka mencoba menerapkan kebenaran dalam kehidupan nyata, mereka semua dapat merasakan bahwa, meskipun Tuhan berfirman dengan sangat spesifik, dan dari firman-Nya mereka dapat memahami prinsip-prinsip penerapan dan standar yang dituntut Tuhan untuk banyak hal spesifik, ketika berkaitan dengan banyak hal yang terjadi pada mereka dalam kehidupan sehari-hari, mereka masih kurang yakin. Mereka tidak seratus persen yakin bahwa bertindak dengan cara ini adalah benar, atau bahwa bertindak dengan cara ini sesuai dengan maksud Tuhan. Namun, ketika engkau memahami prinsip-prinsip akurat Tuhan yang berinkarnasi dalam cara-Nya berperilaku dan bertindak, engkau akan merasa sepenuhnya tenang. Ketika kembali menghadapi hal-hal serupa, engkau tidak akan menanganinya seperti yang kaulakukan sebelumnya, bertindak berdasarkan tebakan, seolah-olah engkau sedang berjudi, dan setelah itu tidak tahu apakah yang kaulakukan itu benar atau salah. Melalui pemahaman akan prinsip-prinsip Tuhan yang berinkarnasi dalam cara-Nya berfirman dan bertindak, gagasan dan imajinasi manusia tentang Tuhan akan berkurang dan memudar bahkan tanpa ia sadari, dan semua itu akan berangsur-angsur dibereskan. Artinya, ketika engkau mengenal Tuhan yang berinkarnasi, dan terutama ketika engkau mengetahui prinsip dan cara-Nya dalam berperilaku dan bertindak, engkau akan memiliki tujuan dan arah yang lebih akurat untuk menerapkan kebenaran dan menangani segala macam hal dalam kehidupan. Ketika Tuhan belum menjadi daging dan Tuhan yang di surga atau Roh Kuduslah yang bekerja atas manusia, manusia tidak pernah mendapatkan jawaban atas hal-hal ini; ia juga tidak akan pernah menerima manfaat apa pun dari Tuhan yang di surga dengan memahami berbagai masalah spesifik kehidupan manusia yang seharusnya dipahami manusia. Sekalipun manusia mampu mematuhi beberapa hukum dan perintah, mengenai prinsip-prinsip kebenaran dan jalan yang ia tempuh, seandainya Tuhan tidak berinkarnasi untuk bekerja dan berbicara, umat manusia tidak akan pernah mampu mengetahui atau memahaminya. Manusia tidak dapat memperolehnya dari pencerahan Roh Kudus, dan ia juga tidak dapat memperolehnya dari Tuhan yang di surga. Satu-satunya jalan adalah memperoleh dari Tuhan yang berinkarnasi prinsip-prinsip kebenaran yang harus manusia pahami untuk hidup dan bertahan hidup. Singkatnya, mengenal Tuhan yang berinkarnasi adalah jalan untuk mengenal Tuhan, jalan untuk memahami Tuhan, dan terlebih lagi, jalan yang diperlukan bagi manusia untuk membangun atau mempertahankan hubungan dengan Tuhan.
Terakhir kali, kita bersekutu tentang "Tuhan tidak menggoda manusia", sebuah subjek yang termasuk dalam topik yang lebih luas tentang tidak menyamakan Tuhan yang berinkarnasi dengan umat manusia yang rusak. Sampai di mana pembahasan kita? (Tuhan mempersekutukan tiga perwujudan spesifik bahwa Tuhan tidak menggoda manusia: tidak mengorek informasi dari manusia, tidak memprovokasi manusia, dan tidak menghasut manusia. Kita selesai bersekutu tentang tidak menghasut manusia.) Ketiga topik ini—tidak mengorek informasi dari manusia, tidak memprovokasi manusia, dan tidak menghasut manusia—semuanya berkaitan dengan perwujudan spesifik bahwa Tuhan tidak menggoda manusia. Apakah engkau semua memiliki pemikiran tertentu setelah persekutuan kita yang terakhir? Lihatlah hal-hal yang telah Kukatakan kepada engkau semua selama bertahun-tahun. Apakah hal-hal itu mencerminkan prinsip Tuhan untuk tidak menggoda manusia? (Ya. Tuhan tidak pernah mencoba mengorek informasi dari kami saat berfirman kepada kami. Engkau selalu lugas. Engkau memberikan instruksi dengan sabar dan secara bertahap kepada kami, selalu membimbing dan membekali kami, serta mendukung dan membantu kami.) Salah satu prinsip-Ku ketika berbicara kepada engkau semua adalah tidak menggodamu, yang perwujudan spesifiknya adalah tidak mengorek informasi darimu, tidak memprovokasimu, dan tidak menghasutmu. Terkadang Aku mungkin bertanya kepada engkau semua tentang beberapa hal, tetapi sama sekali tidak ada godaan dalam hal ini. Jadi, ketika engkau salah paham terhadap Tuhan, engkau harus merenungkan, "Tidak ada godaan ataupun tindakan mengorek informasi dalam firman Tuhan mana pun. Aku tidak boleh salah paham terhadap Tuhan. Makna harfiah dari firman Tuhan adalah tepat sebagaimana yang Dia maksud. Apa pun yang Tuhan tanyakan kepadaku, aku akan menjawab dengan jujur dan memberitahu-Nya secara terbuka dan jujur. Aku akan mengatakan sebanyak yang kuketahui, dan jika tidak mengetahui sesuatu, aku akan berkata demikian, serta memberi tahu Tuhan bahwa aku perlu mencari tahu sebelum menjawab." Ini disebut bersikap terbuka dan jujur. Dalam berbicara dan mengurus berbagai hal denganmu, jika Aku melihat bahwa engkau semua sedang menghadapi kesulitan atau Aku menemukan masalah apa pun padamu—entah itu masalah yang kaualami dalam pelaksanaan tugasmu atau masalah dalam kemanusiaanmu—Aku akan mencari kesempatan untuk bercakap-cakap denganmu. Tujuan-Ku melakukannya adalah untuk membantu engkau semua melihat dengan jelas apa esensi masalahmu, agar engkau dapat menyelesaikannya setelah mengenalinya. Di satu sisi, tujuan-Ku membantumu menyelesaikan masalahmu adalah agar kekurangan atau masalah dalam kemanusiaanmu dapat diperbaiki, dan agar engkau tidak hidup berdasarkan watak yang rusak dan dapat menghidupi keserupaan dengan manusia. Di sisi lain, tujuannya adalah agar engkau dapat melaksanakan tugasmu dengan lebih baik. Tujuan-Ku bukanlah untuk memanfaatkanmu agar mengerahkan upaya bagi rumah Tuhan, melainkan membantumu agar lebih lancar dalam memenuhi standar selama melaksanakan tugasmu, tidak menyebabkan kekacauan dan gangguan, melakukan hal-hal yang seharusnya kaulakukan dengan sebaik-baiknya, menjalankan fungsimu, dan melaksanakan tugasmu dengan baik. Jika ada masalah dalam kemanusiaanmu, Aku akan berbicara kepadamu secara singkat tentangnya. Jika engkau dapat menerimanya, tentu akan lebih baik; jika engkau tidak dapat menerimanya pada saat itu, Aku akan menggunakan cara-Ku sendiri untuk memberitahumu, agar engkau tahu apa masalahmu. Singkatnya, tujuan-Ku selalu untuk mendukung dan membantumu. Aku tidak pernah bermaksud untuk menggodamu agar menempuh jalan yang salah atau jahat, membuatmu merosot atau melakukan kejahatan. Tujuan-Ku hanyalah untuk membantumu; Aku bermaksud baik, dan maksud di balik ini adalah benar dan positif. Tentu saja, ketika Aku mengucapkan firman ini dan melakukan hal-hal ini, tidak ada unsur pemaksaan. Artinya, setelah engkau mendengar firman ini, engkau tidak seharusnya terkekang oleh-Ku. Sekalipun Aku berbicara dengan pasti tentang masalah dalam kemanusiaanmu atau menelaah masalah dalam pelaksanaan tugasmu, engkau masih bisa berkata, "Aku belum dapat mengenali masalah-masalah yang telah Engkau singkapkan dalam diriku ini; aku perlu merenungkannya." Kukatakan bahwa engkau seharusnya merenungkannya dengan cara ini, atau mempersekutukan masalah ini dengan semua orang. Aku tidak dengan paksa menuntut agar engkau melakukan apa pun sesuai dengan keinginan pribadi-Ku; sebaliknya, Aku memberimu kebebasan yang luas. Ketika Aku menyingkapkan masalahmu, Aku sedang memberimu pengingat. Pengingat ini tidak Kusampaikan dengan perkataan yang samar-samar, tetapi dengan mempersekutukan fakta mengenai masalah itu. Aku memberitahumu dengan menyingkapkan perkataan yang kauucapkan atau perilaku yang kauperlihatkan, agar engkau mengetahui bahwa engkau memang memiliki masalah ini. Aku akan memberitahumu dengan jelas dan gamblang. Aku sama sekali tidak akan menggunakan perkataan yang samar-samar untuk memberimu kesan yang salah, yang menyebabkanmu jatuh ke dalam kenegatifan, kelemahan, dan kehilangan arah, atau membuatmu merasa bahwa firman-Ku begitu mendalam, sulit dipahami, dan tidak terselami, sehingga membuatmu memandang tinggi diri-Ku. Aku tidak akan berbuat demikian. Aku akan memberitahumu dengan lugas dan jelas; Aku tidak akan berbelit-belit dan membiarkanmu menebak-nebak. Misalnya, ada orang yang sangat sentimental dan perkataannya cenderung mengandung ketidakmurnian. Kuberitahukan kepadanya dengan lugas, "Perkataanmu sangat tidak murni, engkau berbicara sepenuhnya berdasarkan perasaanmu, dan engkau tidak menjaga kepentingan rumah Tuhan. Engkau hanyalah penyenang orang." Aku memang selugas itu. Ketika seseorang tidak tahu bagaimana menerapkannya saat menghadapi suatu situasi, Kuberitahukan kepadanya secara langsung, "Dalam hal ini, engkau harus bertindak seperti ini; untuk hal itu, terapkanlah seperti itu." Aku memberitahunya dengan sejelas itu. Setelah mendengarnya, orang yang bersungguh-sungguh dan orang yang rasional dapat memahaminya dengan jelas; mereka tidak bingung atau linglung, dan di dalam hatinya, mereka benar-benar tahu apa yang harus dilakukan. Tentu saja, beberapa orang bingung yang pemahamannya menyimpang menjadi linglung setelah mendengar Aku berbicara seperti ini. Dengan cara apa pun mereka berusaha mendengarkan, mereka tidak dapat mengerti maksudnya ataupun memahami prinsip-prinsipnya; mereka tetap membutuhkan-Ku untuk memberikan contoh dan menjelaskan berbagai hal secara terperinci. Namun, sekalipun Aku memberikan contoh dan mengajari mereka lagi, mereka tetap tidak dapat memahami dan tidak tahu bagaimana menerapkannya. Ini bukan karena Aku tidak menerangkan berbagai hal dengan jelas, melainkan karena kualitas mereka terlalu buruk dan mereka sendiri terlalu bingung. Singkatnya, prinsip-Ku dalam berbicara adalah agar setelah engkau semua mendengarkan-Ku berbicara, engkau tidak bingung, dan engkau memiliki jalan penerapan yang jelas di benakmu, serta tahu bagaimana menerapkannya dengan akurat. Inilah tujuan-Ku dalam berbicara kepadamu.
Dalam prinsip tidak menggoda manusia ini, selain ketiga perwujudan ini—tidak mengorek informasi dari manusia, tidak memprovokasi manusia, dan tidak menghasut manusia—ada perwujudan lain, yakni tidak samar. Apa artinya samar? Itu berarti mengatakan hal-hal yang tampaknya benar padahal salah, tidak dapat menjelaskannya dengan jelas dan gamblang, membuat hal-hal terdengar samar, dan mengucapkan perkataan yang kedengarannya benar tetapi tidak dapat diterapkan atau dilaksanakan, dan yang hanya perkataan kosong. Ini disebut samar dan tidak jelas. Jadi, tidak samar berarti perkataan yang diucapkan tidak mengandung unsur-unsur ini dan tidak memiliki esensi ini; sebaliknya, perkataan itu jelas dan gamblang, maknanya tepat, dan memberi manusia jalan untuk diikuti. Engkau lihat, ketika Aku mempersekutukan berbagai aspek kebenaran, setiap kali Aku memperkenalkan topik baru, Aku berusaha untuk terlebih dahulu memberimu definisi untuk aspek kebenaran ini. Apa tujuan-Ku memberimu definisi? Itu untuk membuat konsepnya menjadi jelas bagimu, dan memungkinkanmu mengetahui definisi yang akurat dari kebenaran yang sedang Kubicarakan. Setelah engkau memahami dengan jelas definisi yang akurat ini dan mampu menetapkannya dengan pasti, engkau akan memiliki tujuan dan arah. Dengan mencapai hasil ini pada manusia melalui definisi yang Kuberikan kepadanya, ia mampu mengetahui dengan lebih jelas di dalam hatinya apa yang seharusnya ia terapkan dan patuhi. Kemudian, Aku memberikan beberapa contoh spesifik. Tujuan-Ku dalam memberikan contoh adalah membantu manusia memahami aspek kebenaran ini dengan lebih jelas, membantunya memiliki pengenalan yang akurat tentangnya, dan membantunya mengetahui cara menerapkannya. Dengan demikian, ucapan-Ku akan mencapai hasil dan tujuannya. Apa cara terbaik agar tujuan ini dapat tercapai? Yaitu dengan memberitahumu, melalui definisi dan contoh, prinsip-prinsip kebenaran apa yang seharusnya kaupatuhi. Meskipun ada banyak orang yang tidak memiliki pemahaman rohani dan tidak memahami prinsip-prinsip kebenaran yang sedang dibahas, dan hanya tahu bagaimana mengikuti peraturan tertentu, setidaknya, peraturan yang mereka ikuti itu jelas. Misalnya, ketika mempersekutukan aspek tertentu dari prinsip-prinsip kebenaran, Aku memberikan beberapa contoh, mengatakan bahwa tidak sehat bagi manusia untuk mengonsumsi makanan tertentu, dan bahwa pilihan tertentu yang manusia buat serta hal-hal tertentu yang ia lakukan itu salah. Orang yang memiliki pemahaman rohani dan kemampuan memahami kemudian akan tahu, "Jadi, inilah pemahaman yang akurat tentang hal semacam ini. Sekarang aku tahu prinsip-prinsipnya, dan aku tahu bagaimana menerapkan, bagaimana memilih, dan apa yang harus diterima atau ditolak." Namun, ketika orang yang tidak memiliki pemahaman rohani mendengar hal ini, mereka berkata, "Aku mengerti. Tuhan tidak mengizinkan kami memakan ini, dan Dia tidak mengizinkan kami menggunakan itu." Perwujudan dari orang-orang yang tidak memiliki pemahaman rohani ini juga menunjukkan sesuatu, yaitu bahwa contoh-contoh yang Kuberikan sangat spesifik dan merupakan hal-hal yang dapat manusia temui dalam kehidupan nyata. Contoh-contoh itu sama sekali tidak hampa, dan bukan teori, slogan, atau pengetahuan yang mendalam.
Tuhan yang berinkarnasi tidak berbicara secara samar atau ambigu; ini berlaku bukan hanya ketika Aku menyampaikan persekutuan selama pertemuan, melainkan juga ketika berbicara dengan engkau semua sehari-hari. Terkadang Aku membicarakan tugasmu, terkadang Aku membicarakan pekerjaan gereja, dan terkadang Aku membicarakan keadaan rusak manusia dan penyimpangan yang ia miliki dalam penerapannya. Hal apa pun yang Kupersekutukan, Aku selalu mendasarkan persekutuan-Ku pada keadaanmu, tingkat pertumbuhanmu, dan masalahmu saat ini. Ketika Aku bersekutu denganmu, Aku tidak pernah meneriakkan slogan; sebaliknya, Aku memberikan penjelasan yang spesifik dan menguraikan hal-hal secara terperinci, lalu menunjukkan jalan bagimu. Terkadang Aku berbicara begitu banyak sampai-sampai Aku pun merasa Aku bertele-tele, tetapi pada akhirnya, engkau semua tetap memahaminya. Ini adalah hasil yang cukup baik. Apa maksud-Ku berkata demikian? Maksud-Ku adalah, ketika Aku bersekutu tentang sesuatu dengan engkau semua dalam kehidupan sehari-hari, sekalipun dalam persekutuan itu Aku hanya memberikan tugas sederhana kepadamu, Aku memastikan bahwa apa yang Kukatakan itu jelas bagimu dan engkau memahaminya, tanpa kesamaran apa pun. Apa artinya tidak ada kesamaran apa pun dalam perkataan-Ku? Itu berarti Aku tidak melontarkan ide yang muluk-muluk, Aku tidak berbicara seperti birokrat, dan Aku tidak mengucapkan kata-kata dan doktrin, perkataan kosong, ataupun perkataan yang membual. Makna dari apa yang Kukatakan itu pasti dan jelas, sama sekali tidak ambigu. Aku tidak hanya berbicara dengan jelas dan gamblang, tetapi Aku juga memberitahu engkau semua cara menerapkan. Sebagai contoh, ketika tinggal di luar negeri, jika kita perlu mendirikan beberapa bangunan di halaman untuk digunakan sehari-hari, Aku akan meminta orang yang menangani hal ini untuk berkonsultasi dengan pemerintah mengenai apa saja persyaratan dan ketentuan untuk mendirikan bangunan semacam itu. Setelah memahami semuanya dengan jelas, dia harus mendirikan bangunan tersebut secara ketat sesuai dengan ketentuan dan spesifikasi yang ditetapkan pemerintah. Jika kita tidak dapat memenuhi persyaratan yang ditetapkan pemerintah, kita bisa saja memilih untuk tidak mendirikannya. Ketika menangani hal ini, Aku memberi tahu orang tersebut beberapa hal yang harus diperhatikan, dan juga memberinya instruksi tentang bagaimana menangani beberapa situasi khusus yang mungkin tidak terpikirkan olehnya. Aku mengatakan semuanya dengan jelas, dan dia tahu bagaimana menangani hal tersebut setelah dia mendengar-Ku mengatakannya. Ada orang-orang yang, ketika memberikan tugas kepada orang lain, berbicara secara samar dan tidak jelas; mereka hanya berbicara seperti birokrat serta melontarkan doktrin dan kata-kata kosong. Misalnya, ketika mengatur agar seseorang pergi ke departemen pemerintah untuk menangani sesuatu, mereka hanya berkata, "Pergilah ke kantor pemerintah dan cari tahu apa saja peraturan yang berlaku." Setelah mendengar perkataan ini, orang yang menangani hal tersebut tidak tahu harus berbuat apa atau bagaimana seharusnya menanyakan hal ini; mereka bertanya sekadarnya lalu selesai, dan pada akhirnya tidak mencapai hasil apa pun. Bukankah memberi tugas kepada orang lain dengan cara seperti ini berarti bertindak seperti birokrat? (Ya.) Ketika Aku sedang melakukan pekerjaan spesifik, Aku akan mempersekutukan dan menyelesaikan masalah yang ada dalam pekerjaan tersebut, serta masalah yang dapat diperkirakan akan muncul dan masalah yang engkau semua kemukakan, satu per satu. Ketika mempersekutukan setiap masalah, di satu sisi, Aku menyelesaikannya sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran; di sisi lain, jika ada situasi khusus, Aku akan menanganinya dan mempersekutukannya secara khusus. Prinsip-prinsip yang Kujelaskan dan isi persekutuan-Ku tidak pernah samar. Setidaknya, motif-Ku adalah berusaha untuk memberikan kejelasan, memberimu prinsip umum sehingga ketika engkau menghadapi hal-hal semacam itu, engkau dapat menerapkan prinsip ini dan bertindak sesuai dengannya. Ini memastikan bahwa engkau memiliki jalan untuk diikuti, dan bahwa engkau tidak kehilangan arah saat menghadapi berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari, melainkan tahu bagaimana menangani masalah dan melakukan pekerjaan. Aku tidak berbicara muluk-muluk tentang doktrin dan teori yang tampaknya benar padahal keliru untuk menyesatkan atau menekanmu, atau mengajarimu pengetahuan atau teori yang tampaknya benar padahal keliru untuk membuatmu menerima dan tunduk; Aku tidak berbuat demikian. Aku tidak pernah menyuruh orang duduk di hadapan-Ku untuk mendengarkan-Ku berbicara muluk-muluk tentang teori, yang pada akhirnya hanya membuat mereka semua benar-benar bingung setelah Aku selesai berbicara, merasa seolah-olah mereka telah memahami dan memperoleh sesuatu, tetapi juga merasa seolah-olah tidak ada masalah yang terselesaikan sama sekali, hingga membuat mereka merasa bahwa beberapa jam persekutuan ini hanyalah membuang-buang waktu. Aku tidak berbuat demikian. Jika engkau semua memiliki masalah, Aku menyelesaikannya; jika engkau semua tidak memiliki masalah apa pun, Aku berusaha sebaik mungkin untuk tidak mengganggumu. Semua yang Kukatakan kepada engkau semua sangatlah spesifik. Sebagai contoh, ketika ada masalah dalam pekerjaan lagu pujian, Aku bersekutu denganmu tentang masalah mengenai lagu pujian. Meskipun Aku tidak mempelajari pengetahuan profesional yang relevan di bidang ini, Aku dapat mempersekutukan prinsip-prinsipnya. Ketika ada masalah pada pekerjaan penerjemahan, meskipun Aku tidak mahir berbahasa Inggris, Aku akan bersekutu dengan engkau semua tentang prinsip-prinsip penerjemahan, dan membantumu menyelesaikan masalah prinsip yang tidak dapat engkau semua tangani, serta berusaha untuk memastikan bahwa melalui persekutuan-Ku engkau semua dapat memahami beberapa prinsip tentang penerapan kebenaran. Mungkin, setelah mendengarkan-Ku, engkau semua tidak memahami kebenaran atau misteri mendalam apa pun, tetapi engkau semua menjadi tahu suatu aspek dari prinsip-prinsip penerapan atau jalan untuk menyelesaikan masalah dalam pekerjaan yang sedang kaulakukan. Inilah hasil yang ingin Kucapai dalam dirimu ketika Aku berhubungan, berinteraksi, dan menangani berbagai hal denganmu.
Ada hal lain yang termasuk dalam subjek tidak samar: Dalam hal membedakan jenis orang tertentu atau jenis hal tertentu, prinsip-prinsip yang Kupersekutukan denganmu dimaksudkan untuk membantumu mengenali dengan jelas esensi dari jenis orang tersebut dan natur dari jenis hal tersebut, serta untuk membantumu memahami dengan jelas di dalam hatimu tentang apa esensi dari jenis orang tersebut, apa natur dari jenis hal tersebut, bagaimana engkau seharusnya memperlakukan mereka, dan sudut pandang serta sikap yang benar yang seharusnya kaumiliki mengenai mereka. Tujuan-Ku dalam mempersekutukan persoalan ini adalah untuk membantumu memiliki sudut pandang, sikap, dan pendirian yang benar terhadap segala macam orang, peristiwa, dan hal, dan dengan demikian memastikan bahwa ketika engkau memegang teguh prinsip, engkau memegang teguh prinsip yang benar, bukan prinsip yang salah. Tujuan-Ku adalah memungkinkanmu untuk membedakan orang, peristiwa, dan hal-hal, agar engkau tahu persis apa esensi dan hakikat yang sebenarnya dari segala macam orang, peristiwa, dan hal-hal; memungkinkanmu untuk mengenali hal-hal positif dan—pada saat yang sama—hal-hal negatif; serta membantumu untuk memiliki pendirianmu sendiri yang benar, apa pun jenis orang, peristiwa, dan hal-hal yang kautemui dalam kehidupanmu sehari-hari. Apa artinya memiliki pendirian yang benar? Itu berarti engkau dapat mengambil pendirian yang tepat untuk memegang teguh prinsip, tidak mengambil jalan tengah, dan tidak menjadi orang yang linglung, orang yang bingung, atau penyenang orang. Engkau lihat, pada mulanya, ketika ular menggoda Adam dan Hawa, ia berkata kepada mereka, "Tuhan tidak mengizinkanmu memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Tuhan berkata bahwa setelah memakannya, engkau pasti akan mati, tetapi sebenarnya, engkau belum tentu mati." Meskipun pernyataan dari ular ini sangat samar, pernyataan itu menimbulkan efek menggoda pada Adam dan Hawa, yang mendatangkan akibat yang sangat buruk. Apa akibat ini? Adam dan Hawa tidak lagi mendengarkan firman Tuhan, tidak lagi memercayai firman Tuhan, tidak lagi memiliki pendirian yang benar, dan tidak lagi memegang teguh pendirian awal serta prinsip-prinsip awal mereka. Sebaliknya, atas dasar keraguan mereka terhadap Tuhan, mereka tidak memercayai instruksi Tuhan, dan tidak percaya bahwa mereka akan mati jika mereka memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Kemudian mereka mulai memiliki ide, dan saat itu terjadi, mereka mengulurkan tangan lalu memetik buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Ini adalah suatu proses godaan, dan juga merupakan hasil dari tergodanya Adam dan Hawa. Proses godaan ini dimulai dari mereka mendengarkan dan memercayai perkataan Iblis, memiliki ide, mulai meragukan Tuhan, dan tidak lagi memercayai firman Tuhan. Hasil dari tergodanya Adam dan Hawa adalah mereka melanggar firman Tuhan dan memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Meskipun ular tidak mengatakan, "Engkau semua pasti tidak akan mati jika memakannya; apa yang Tuhan katakan itu salah, dan Tuhan sedang menipumu," dalam pernyataan ular bahwa "engkau belum tentu mati jika memakannya," kata "belum tentu" ini adalah perkataan yang samar. Perkataan yang samar ini memiliki natur menggoda; itu menyebabkan manusia meragukan Tuhan dan tidak memercayai firman Tuhan. Perkataan yang samar ini juga menyebabkan manusia kehilangan pendiriannya yang benar, serta dorongan dan imannya untuk memegang teguh prinsip. Apa yang terjadi pada akhirnya? Manusia pun menempuh jalan tergoda oleh ular, mengkhianati Tuhan, dan hidup dalam dosa. Dilihat dari sudut pandang ini, frasa "belum tentu" yang diucapkan oleh ular ketika ia menggoda manusia memiliki efek negatif yang terlalu besar. Ia tidak secara langsung menyangkal firman Tuhan atau secara langsung menyuruh manusia untuk tidak mendengarkan firman Tuhan, dan ia tidak secara langsung menyuruh manusia untuk mencurigai dan meragukan Tuhan, apalagi memberi tahu manusia dengan gamblang bahwa "engkau tidak akan mati setelah memakannya". Namun, frasa yang samar seperti "belum tentu" sudah cukup untuk membuat pikiran manusia mulai bekerja, menipunya, dan menggodanya agar memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Inilah akibat yang ditimbulkan oleh perkataan yang samar terhadap manusia. Dari mana datangnya frasa "belum tentu" yang samar ini? Pada mulanya, frasa ini berasal dari perkataan yang ular ucapkan ketika menggoda Hawa. Sebelum ini, engkau tidak dapat menemukan satu pun kata yang samar, engkau juga tidak dapat menemukan sedikit pun jejak kesamaran, dalam beberapa instruksi yang Tuhan berikan kepada Adam dan Hawa. Artinya, firman yang Tuhan ucapkan semuanya tulus, sungguh-sungguh, dan akurat. Setiap kalimat yang Dia ucapkan merepresentasikan pendirian yang benar, serta sudut pandang yang benar dan akurat, yang semuanya seharusnya dipegang teguh oleh manusia, dan yang kepadanya manusia seharusnya tunduk selamanya, tanpa pernah meragukannya. Tidak ada satu pun firman Tuhan yang samar, jadi tidak ada satu pun firman Tuhan yang menggoda manusia. Dari sisi negatif, firman Tuhan tidak mengandung sedikit pun godaan atau tipuan bagi manusia; dari sisi positif, dapat dikatakan bahwa segala sesuatu yang Tuhan firmankan berfungsi untuk melindungi dan menjaga manusia, serta mampu memelihara kehidupan manusia dan mempertahankan hubungan yang paling intim ini antara dirinya dan Tuhan. Namun, frasa yang samar dari ular ini, yaitu "belum tentu", sepenuhnya menghancurkan hubungan ini, dan sepenuhnya menarik manusia menjauh dari Tuhan, membuatnya meragukan Tuhan dan menjauhkan dirinya dari Tuhan, serta membuatnya merasa terlalu malu untuk dilihat oleh Tuhan. Di atas landasan ini, ular makin menggoda, merusak, dan menghancurkan manusia. Dinilai dari bagian yang berisi instruksi Tuhan kepada Adam dan Hawa, esensi firman Tuhan dan tujuan-Nya dalam berfirman sangatlah bermanfaat bagi manusia. Mendengarkan firman Tuhan dan tunduk kepada Tuhan adalah pendirian yang seharusnya manusia miliki, dan itu juga merupakan prinsip kebenaran yang seharusnya manusia patuhi selamanya. Tuhan selamanya mengasihi, memedulikan, melindungi, dan menyayangi manusia, sedangkan tujuan Iblis dalam berbicara dan bertindak adalah menggoda dan merusak manusia, menggoda manusia agar meragukan Tuhan dan menjauhkan dirinya dari Tuhan, dan kemudian menggoda manusia agar menyembahnya dan dirusak olehnya. Karena Tuhan yang berinkarnasi memiliki hidup Tuhan dan esensi Tuhan, Dia juga memiliki perwujudan dan prinsip khusus ini, yaitu tidak samar dalam firman dan tindakan-Nya. Melalui semua khotbah-Ku, dan melalui interaksi dengan Tuhan yang berinkarnasi dalam kehidupanmu sehari-hari, engkau pasti akan berangsur-angsur menemukan bahwa dalam semua kebenaran yang Tuhan bekalkan kepada manusia, tidak ada kosakata yang samar seperti yang kautemukan dalam perkataan Iblis, dan tidak ada ungkapan yang samar seperti yang Iblis gunakan, bukan? (Ya.) Tidak samar adalah perwujudan kesejatian dan kesetiaan Tuhan ketika Dia berfirman dan bekerja, dan itu juga merupakan perwujudan esensi Tuhan. Artinya, pada Tuhan, tidak ada esensi seperti yang Iblis miliki ketika ia berbicara untuk menggoda manusia; esensi Tuhan bebas dari hal ini. Oleh karena itu, sekalipun firman Tuhan yang berinkarnasi tidak begitu terperinci atau jelas dalam hal-hal kecil tertentu, Dia sama sekali tidak akan menggunakan perkataan samar apa pun yang serupa dengan yang Iblis gunakan untuk menggoda manusia, dan Dia sama sekali tidak akan menggunakan jenis bahasa, cara berbicara, atau cara bekerja yang membuatmu kehilangan arah atau membuatmu menaruh kecurigaan terhadap Tuhan dan menjauhkan dirimu dari Tuhan. Sebaliknya, dengan cara apa pun Tuhan berfirman dan apa pun yang Dia katakan, tujuan akhir yang ingin Dia capai adalah agar engkau menjadi makin dekat dengan Tuhan, agar engkau memahami maksud Tuhan dari firman-Nya, agar engkau memiliki pemikiran dan pandangan yang benar serta pendirian yang benar, dan agar engkau lebih termotivasi untuk memegang teguh prinsip-prinsip kebenaran. Ini adalah satu aspek dari hal tersebut. Dalam aspek lain, Tuhan bertujuan agar engkau memperoleh tujuan, arah yang benar dalam hidup, dan arah untuk melangkah maju, dari perkataan yang jelas dan eksplisit ini. Tentu saja, poin yang lebih penting adalah bahwa ketika engkau memiliki sudut pandang dan pendirian yang benar terhadap segala macam orang, peristiwa, dan hal, dan engkau memegang teguh prinsip-prinsip kebenaran, engkau akan memperoleh perlindungan dan pemeliharaan Tuhan, dan kemudian, pengakuan serta penerimaan Tuhan. Dengan demikian, bukankah engkau semua adalah orang yang memperoleh manfaatnya? (Ya.) Fakta bahwa firman dan tindakan Tuhan tidak samar saja telah membawa manfaat yang begitu besar bagi engkau semua. Sudahkah engkau semua sedikit menyadari hal ini sekarang? (Ya.) Tanpa Aku mengatakan semua ini, engkau semua mungkin tidak akan pernah menyadarinya seumur hidupmu. Engkau hanya akan merasa, "Perkataan-Mu adalah kebenaran. Perkataan-Mu relatif akurat dan objektif, dan pemahaman-Mu tentang kami relatif mendalam," tetapi engkau semua mungkin tidak akan mampu mengenali bahwa Tuhan yang berinkarnasi tidaklah samar ketika Dia berbicara, bukan? (Ya.)
Tidak adanya kesamaran di dalam firman Tuhan yang berinkarnasi memiliki perwujudan lainnya, yaitu bahwa dalam berbagai subjek yang Kupersekutukan dengan engkau semua, baik yang berkaitan dengan pekerjaan profesional maupun jalan masuk kehidupan, persekutuan-Ku tidak mencakup pengetahuan, falsafah, atau teologi apa pun; persekutuan-Ku sama sekali bebas dari hal-hal ini. Sekalipun berkaitan dengan suatu hal dalam pekerjaan profesional, dalam sebagian besar hal yang Kupersekutukan, inti dari apa yang Kukatakan terutama adalah memberi tahu engkau semua cara memahami prinsip-prinsip kebenaran yang relevan, dan cara menerapkan pengetahuan dan keterampilan profesional di bidang ini dengan benar, agar engkau dapat memberi kesaksian tentang Tuhan dengan lebih baik dan melaksanakan tugasmu dengan cara yang memenuhi standar. Aku tidak menanamkan pengetahuan dalam diri engkau semua. Terkadang Aku menyampaikan beberapa pengetahuan umum kepada engkau semua, seperti pengetahuan umum tentang mencegah flu: Pastikan untuk tetap hangat di musim dingin. Jangan sampai kedinginan. Ketika jendela terbuka, jangan duduk di dekatnya, agar tidak terkena angin. Semua ini adalah pengetahuan umum. Apa yang dimaksud dengan pengetahuan umum? (Beberapa pengalaman hidup yang seharusnya orang ketahui dalam kehidupan mereka sehari-hari.) Itu adalah pengalaman hidup dan wawasan tentang cara menjaga kesehatan, bukan? (Ya.) Aku tidak menanamkan pengetahuan sosial atau pengetahuan teologis dalam dirimu. Mengapa Aku tidak menanamkan hal-hal ini dalam dirimu? (Hal-hal ini tidak ada manfaatnya bagi kami.) Itu menjawab dari satu sisi. Apa lagi? (Pengetahuan sosial berasal dari Iblis; Tuhan tidak akan menanamkan hal-hal ini dalam diri kami untuk menyesatkan kami.) Katakan kepada-Ku, apakah Aku memiliki apa pun yang berasal dari Iblis? (Tidak.) Apa yang Kubicarakan ketika Aku bersekutu dan mengobrol dengan engkau semua? (Semuanya adalah hal-hal positif, dan semuanya adalah kebenaran.) Pengetahuan, falsafah, logika, penalaran, dan teologi Iblis—Aku tidak pernah mencoba mempelajari hal-hal ini, dan engkau tidak akan menemukan semua itu di dalam diri-Ku. Ada orang yang berkata, "Mengapa Engkau tidak mencoba belajar sedikit?" Itu benar-benar bukan hobi-Ku. Aku tidak menyukai hal-hal itu. Aku merasa jijik dan muak ketika mendengar orang membahas teologi. Teologi semuanya adalah doktrin dan teori yang tampaknya benar padahal keliru; itu tidak nyata, bukan? Ada orang yang mengenal Alkitab luar dalam, dan selalu mempelajari kitab para nabi, dan kitab nubuat, yaitu apa yang dinubuatkan dalam pasal dan ayat tertentu, bagaimana itu akan digenapi, dan misteri apa yang ada di dalamnya. Aku tidak pernah mempelajari hal-hal ini, dan Aku tidak perlu mengerahkan upaya untuk mempelajarinya. Pada dasarnya, Aku tidak menyukai hal-hal ini. Ketika Aku menghadapi berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari, Aku hanya merenungkan bagaimana bertindak dengan tepat, bagaimana bertindak agar persoalan ini dapat diselesaikan, dan apa cara terbaik untuk menyelesaikannya. Bagi banyak orang, ketika menghadapi berbagai hal, mereka mengeluh, merasa menyesal, atau menjadi bingung, atau melontarkan doktrin yang muluk-muluk dan meneriakkan slogan. Ketika Aku menghadapi berbagai hal, dengan tenang Aku merenungkan cara yang tepat untuk menyelesaikannya; yang Kurenungkan adalah solusi. Oleh karena itu, ketika Aku berbicara dan bersekutu dengan engkau semua, Aku suka berbicara tentang hal-hal nyata, tentang hal-hal yang muncul ketika engkau semua sedang melaksanakan tugas, dan bahkan tentang hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, seperti orang, peristiwa, dan hal-hal tertentu, kebutuhan pokok, dan sebagainya. Aku hanya membicarakan hal-hal nyata. Aku tidak berbicara muluk-muluk yang penuh dengan omong kosong. Setelah menghabiskan waktu yang lama bersama-Ku, engkau semua akan melihat bahwa Aku sangat serius dan bersungguh-sungguh mengenai hal-hal nyata dan masalah-masalah nyata dalam kehidupan. Memang seperti itulah diri-Ku. Aku tidak bersikap samar tentang apa pun; terutama, ketika berkaitan dengan pelaksanaan tugas atau jalan masuk kehidupan engkau semua, ini bahkan lebih berlaku lagi, bukan? (Ya.) Itu mencakup satu aspek dari tidak bersikap samar.
Bahwa Tuhan yang berinkarnasi tidak bersikap samar juga berkaitan dengan topik tentang Tuhan tidak menggoda manusia. Tuhan tidak bersikap samar berarti cara-Ku dalam berbicara dan bekerja sangatlah jelas. Aku bicara apa adanya; Aku tidak menggunakan perkataan apa pun yang tampaknya benar padahal keliru, ataupun memiliki cara bertindak yang tampaknya benar padahal keliru. Bahkan ketika ada beberapa hal yang tidak dapat disimpulkan dengan tergesa-gesa pada saat itu, Aku akan memberi tahu engkau semua, "Mari kita amati orang ini untuk sementara waktu. Mari kita tunggu sebentar mengenai hal ini. Untuk saat ini, yang dapat kita lakukan hanyalah apa yang mungkin dilakukan manusia. Untuk langkah selanjutnya, mari kita lihat ke arah mana segala sesuatunya berkembang. Kita dapat secara bertahap merumuskan rencana dan menetapkan tujuan berdasarkan arah perkembangan segala sesuatunya." Sebagaimana yang dapat engkau semua lihat, Aku akan menerangkan berbagai hal dengan jelas kepadamu, dan dengan jelas menyatakan prinsip-prinsip yang ada serta bagaimana engkau seharusnya mengarahkan tindakanmu. Aku sama sekali tidak akan menggunakan perkataan yang tampaknya benar padahal keliru untuk membuat engkau semua merasa seolah-olah tidak tahu apa yang harus dilakukan atau tidak tahu bagaimana menangani hal-hal tertentu. Bahkan ketika menggolongkan beberapa orang, Aku bersekutu berdasarkan beberapa hal khusus yang telah mereka lakukan dan berdasarkan berbagai perwujudan mereka, agar dapat membantu engkau semua mengenali dengan jelas esensi orang semacam ini, dan mengetahui cara memperlakukan mereka. Benar? (Ya.) Artinya, Aku tidak pernah mencampurkan perasaan pribadi atau dendam pribadi ke dalam cara-Ku menangani berbagai hal. Bahkan ketika menangani beberapa orang, jika engkau semua tidak memahami dengan jelas esensi orang semacam ini, Aku akan mempersekutukannya secara khusus, menerangkan kepadamu dengan jelas masalah yang mereka miliki, kemudian menggunakan kebenaran untuk mengidentifikasi di mana posisi mereka dan menelaah esensi mereka, membantumu memahami dengan jelas mengapa rumah Tuhan menangani mereka seperti ini, mengapa prinsip-prinsip rumah Tuhan dalam memperlakukan orang semacam ini adalah demikian, dan mengapa hasil penanganan mereka demikian. Sekalipun ada orang-orang yang tidak mengakui dosa mereka ataupun bertobat setelah ditangani, dan tidak tahu mengapa mereka diberhentikan atau diusir, atau mengapa mereka dikeluarkan, ini semata-mata karena mereka tidak mengenal diri mereka sendiri dan tidak memiliki rasa penyesalan. Namun, mengenai mengapa rumah Tuhan menangani mereka dan mengapa hasil penanganan mereka demikian, kita perlu membeberkan persoalannya secara terbuka agar engkau semua dapat mengetahui rincian dari persoalan ini, masalah apa yang dimiliki orang-orang ini, apa alasan rumah Tuhan menangani mereka, dan apa dasar penanganan mereka. Singkatnya, dalam semua firman yang telah Kupersekutukan dengan engkau semua dari awal hingga sekarang ini, selain dari bagian yang diucapkan dalam bahasa keilahian, di mana orang tidak tahu apa yang sedang dikatakan, tidak dapat sepenuhnya memahaminya, dan tidak mengetahui kebenaran di dalamnya, mengenai persoalan apa pun yang berkaitan dengan jalan masuk kehidupanmu—baik itu menyingkapkan watak antikristus manusia maupun menyingkapkan berbagai perwujudan dan penyingkapan watak rusak manusia—Aku selalu menunjukkan dan menerangkannya dengan sangat jelas dan akurat, membantumu mengetahui hal apa yang positif, hal apa yang negatif, apa yang harus engkau semua pegang teguh, dan apa yang harus engkau semua perbaiki, memberontak terhadapnya, dan tolak. Singkatnya, prinsip yang secara konsisten Kupegang dalam berfirman adalah mempersekutukan dengan jelas kebenaran, maksud Tuhan, standar yang dituntut Tuhan terhadap manusia, dan berbagai aspek dari prinsip-prinsip penerapan yang seharusnya manusia taati, sehingga engkau semua diberi tujuan yang akurat, arah yang akurat, serta prinsip-prinsip penerapan dan jalan penerapan yang akurat. Selain itu, saat berfirman kepadamu, Aku juga dengan jelas mempersekutukan hasil akhir dan kesudahan bagi orang-orang yang tidak mematuhi berbagai prinsip tersebut; terutama, Aku memberi tahu engkau semua secara eksplisit bagaimana berbagai masalah yang ditemukan dalam diri setiap orang digolongkan. Sebagai contoh, ada orang yang bersikap asal-asalan dalam melaksanakan tugas mereka, tidak mengejar kebenaran, dan tidak pernah memiliki jalan masuk kehidupan, lalu Aku berkata kepada mereka, "Pelaksanaan tugasmu telah digolongkan: Engkau sedang berjerih payah. Jika engkau terus percaya seperti ini sampai akhir, mustahil bagimu untuk memperoleh keselamatan. Engkau harus mengejar kebenaran, memiliki jalan masuk kehidupan, membuang keadaan sebagai seseorang yang berjerih payah ini, dan berusaha untuk menempuh jalan keselamatan. Tujuan melaksanakan tugasmu adalah untuk memperoleh keselamatan, bukan untuk mengerahkan upaya atau berjerih payah." Engkau lihat, bukankah ini sangat jelas? (Ya.) Ini dengan jelas membuatmu tahu apa konsekuensinya jika tidak menerapkan kebenaran dan tidak memiliki jalan masuk kehidupan. Selain itu, aspek kebenaran mana pun yang Kupersekutukan, Aku tidak mempersekutukannya hanya dari satu sudut atau satu perspektif, melainkan dari berbagai sudut dan perspektif, menggunakan berbagai metode dan memberikan berbagai contoh. Aku berusaha untuk memungkinkan engkau semua memahami prinsip-prinsip kebenaran yang ada, alih-alih hanya membuatmu memahami beberapa aspek doktrin atau peraturan, atau mempelajari beberapa aspek pengetahuan dengan cara yang sederhana. Sejak Tuhan pertama kali berhubungan dengan umat manusia dan memberikan instruksi pertama-Nya kepada manusia hingga sekarang ini, prinsip Tuhan dalam berfirman tetap tidak berubah. Baik Tuhan berfirman dan bekerja sebagai Roh maupun berfirman dan bekerja dalam daging, Dia selalu mengikuti prinsip ini: berbicara dengan jelas dan saksama. Dari perspektif manusia, apa yang Dia katakan dan bekalkan kepada manusia semuanya adalah instruksi, dan tentu saja, juga merupakan pembekalan. Artinya, sebagai manusia ciptaan, orang seharusnya mengingat baik-baik setiap firman yang Tuhan ucapkan, dan mematuhinya dengan ketat dalam kehidupan mereka sehari-hari, terutama dalam hal melaksanakan tugas mereka, alih-alih memperlakukan firman Tuhan sebagai serangkaian teori teologis. Setiap firman yang diucapkan oleh Tuhan dan setiap aspek kebenaran yang Tuhan bekalkan kepada manusia dimaksudkan untuk menuntun manusia ke jalan yang benar, dan memberi manusia tujuan serta arah yang jelas. Jika manusia menaatinya, ia akan menjadi makhluk ciptaan yang memenuhi standar dan diakui oleh Tuhan.
Apakah ada persoalan lain mengenai aspek tidak bersikap samar ini? Apa lagi yang dapat engkau semua pikirkan? Sebelumnya di Tiongkok daratan, sebelum tahap pekerjaan ini resmi dimulai, ketika beberapa orang yang disebut sebagai pemimpin menemukan bahwa seseorang telah melakukan percabulan, mereka mempermasalahkan hal itu habis-habisan. Mereka membuat orang yang terlibat berlutut di tanah dan mengakui dosa-dosanya, dan para pemimpin itu mendengarkan semua yang ia katakan. Mereka berperan sebagai Tuhan, mendengarkan orang percaya biasa ini mengakui dosa-dosanya, dan ketika mereka mendengar bagian-bagian yang tidak diterangkan dengan cukup jelas, mereka bahkan mendesak orang tersebut untuk menceritakan detailnya. Sebenarnya, melakukan hal itu tidak perlu. Asalkan orang tersebut mengakui dosa-dosanya, bertobat, dan tidak akan melakukannya lagi, itu seharusnya sudah cukup. Orang mengakui dosa-dosa mereka kepada Tuhan, bukan kepada manusia. Orang tidak seharusnya bertindak sebagai hakim, apalagi mencoba merepresentasikan Tuhan. Namun, orang-orang yang disebut sebagai pemimpin ini secara khusus mendesak orang tersebut untuk menceritakan detail dari dosa-dosanya, membuat orang lain merasa jijik dan tidak nyaman hanya dengan mendengarkannya. Mereka tidak berhenti menginterogasi orang tersebut hingga ia merasa sangat malu. Bagaimana perasaan engkau semua mendengar hal ini? (Kami merasa sangat jijik.) Pemimpin semacam itu adalah pemimpin palsu, dan mereka memiliki esensi orang jahat. Mereka bahkan ingin bertindak sebagai hakim dan mengadili kasus; mereka benar-benar tidak tahu malu! Ketika orang percaya biasa berbuat dosa, terutama dosa percabulan, para pemimpin ini menjadi sangat tertarik, mengajukan pertanyaan-pertanyaan terperinci dan mendesak untuk mengorek informasi spesifik. Mereka tidak akan pernah menangani pekerjaan gereja dengan cara seperti ini, tetapi ketika menemukan masalah percabulan, mereka menjadi sangat tertarik dan sangat bersungguh-sungguh, menginterogasi orang yang berbuat dosa itu sedemikian rupa sampai-sampai orang itu berharap hilang ditelan bumi. Mereka bahkan merasa bahwa mereka sedang menganggap serius hal itu dan tidak bersikap samar, serta merasa bahwa mereka mampu melakukan pekerjaan nyata. Bukankah ini terlalu konyol? Ada orang-orang yang berpikir bahwa karena mereka memiliki status, mereka dapat merepresentasikan Tuhan, sehingga mereka memanfaatkan status mereka untuk melakukan hal-hal tertentu. Karena orang percaya biasa tidak memiliki banyak kemampuan membedakan, tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah, serta tidak tahu apa tuntutan Tuhan terhadap manusia, mereka akan menaati apa pun yang diminta oleh orang-orang yang disebut sebagai pemimpin itu, mengira bahwa tidak menaati pemimpin itu berarti memberontak terhadap Tuhan. Bahkan ketika diinterogasi hingga merasa sangat malu, orang itu tidak mengeluh, bahkan percaya bahwa ia sedang tunduk kepada Tuhan serta bersikap jujur dan terus terang kepada Tuhan. Orang-orang yang disebut sebagai pemimpin itu berpikir, "Hal sebesar ini telah terjadi. Kita tidak boleh bersikap samar dalam menanganinya. Kau melakukan percabulan; semua detailnya harus diungkapkan. Kau harus mengakui dosa-dosamu kepada semua orang!" Pada akhirnya, mereka menginterogasi orang tersebut sampai ia merasa sangat malu dan menderita, sampai-sampai ia bahkan tidak ingin hidup lagi. Bagaimana menurutmu pekerjaan yang mereka lakukan? (Itu tidak dilakukan dengan baik.) Pernahkah engkau semua melihat-Ku melakukan hal-hal semacam itu? Ketika Aku berinteraksi dengan engkau semua, pernahkah Aku mencoba mencari tahu tentang urusan pribadimu? (Tidak pernah.) Katakan kepada-Ku, apakah Aku ingin tahu tentang urusan pribadimu atau perbuatan buruk apa yang telah engkau semua lakukan secara diam-diam? Aku tidak ingin tahu tentang hal-hal ini. Ketika Kukatakan Aku tidak ingin tahu tentang hal-hal itu, apakah Aku sedang berpura-pura, atau tidak ada kesempatan bagi-Ku untuk tahu tentang hal-hal ini? (Tidak keduanya; Tuhan tidak ingin tahu tentang hal-hal itu.) Aku tidak ingin tahu tentang hal-hal itu karena Aku tidak berminat untuk mengetahuinya, dan karena Aku tidak perlu mengetahuinya. Jika engkau semua memiliki masalah apa pun, engkau sendiri seharusnya berdoa kepada Tuhan atau mencari kebenaran untuk menyelesaikannya; inilah yang terbaik. Begitu menjadi pemimpin, ada orang-orang yang ingin memanfaatkan status mereka untuk melakukan hal-hal yang ingin dilakukan oleh orang-orang yang memiliki status, mencoba untuk memahami pemikiran dan urusan pribadi orang lain. Mereka tidak melakukan pekerjaan nyata apa pun yang seharusnya dilakukan oleh pemimpin dan pekerja, tetapi sangat serius dalam mengorek-ngorek urusan pribadi orang. Mereka bahkan berpikir bahwa semua orang diyakinkan oleh cara mereka melakukan pekerjaan seperti ini; mereka merasa sangat terhormat. Apakah orang-orang semacam itu memiliki nalar? Mereka sama sekali tidak memiliki nalar, dan tidak memiliki kemanusiaan sedikit pun.
Dari firman dan pekerjaan Tuhan, semua orang dapat memahami fakta bahwa Tuhan itu tidak bersikap samar. Jika engkau sungguh-sungguh menghayati setiap kalimat yang Tuhan ucapkan dan setiap kali Dia berfirman, serta sungguh-sungguh menghayati dan mengalami pekerjaan Tuhan atasmu, engkau akan makin percaya bahwa Tuhan itu setia, dan bahwa pekerjaan serta firman-Nya mengandung kasih dan kepedulian-Nya terhadap manusia. Pembekalan hidup dari Tuhan bagi manusia tidak pernah menyesatkannya. Artinya, Tuhan tidak pernah memberikan bimbingan yang salah atau teladan yang salah kepada manusia, Dia juga tidak pernah membuat pernyataan yang salah, apalagi pernyataan yang tampaknya benar padahal keliru yang membingungkan manusia. Sebaliknya, apa pun isinya atau apa pun aspek kebenaran yang terlibat, Dia tanpa lelah membekali manusia dengan pernyataan-pernyataan yang positif dan benar. Bahkan ketika menyangkut hal tentang kehidupan orang sehari-hari, Aku akan memberi tahu mereka beberapa hal kecil dari pengetahuan umum tentang kehidupan, berdasarkan pengalaman pribadi-Ku. Terutama, ketika Aku membimbing beberapa orang muda, Aku akan memberi tahu mereka beberapa hal kecil dari pengetahuan umum tentang cara hidup agar mereka tidak mengambil jalan memutar yang tidak perlu, dan tidak mengadopsi cara hidup yang keliru atau mengembangkan kebiasaan hidup yang keliru. Oleh karena itu, baik dalam hal mempersekutukan kebenaran maupun dalam kehidupan sehari-hari, Tuhan yang berinkarnasi mutlak berperan untuk membekalimu, mendukungmu, dan membantumu. Dalam hal Tuhan yang berinkarnasi melakukan pekerjaan dan mempersekutukan kebenaran, pekerjaan yang Dia lakukan dan firman yang Dia ucapkan layak untuk engkau semua taati, serta layak bagi engkau semua untuk taat dan tunduk pada semua itu secara mutlak dan tanpa ragu. Ini karena firman tersebut berasal dari hidup Tuhan dan esensi Tuhan; firman tersebut membimbing engkau semua ke jalan keselamatan, dan semua ini adalah firman yang membimbingmu untuk berpaling kepada Tuhan. Engkau tidak harus memasukkan ke dalam hati beberapa perkataan yang Kuucapkan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi bagi-Ku secara pribadi, motif-Ku sama sekali bukan untuk menyakiti siapa pun. Sekalipun Aku tidak terlalu menyukai kepribadianmu, watakmu, caramu melakukan sesuatu, atau aspek tertentu dalam dirimu, Aku sama sekali tidak akan menyakitimu, dan Aku juga tidak akan pernah melakukan apa pun untuk menggodamu seperti yang dilakukan ular. Aku tidak akan menggodamu agar menempuh jalan yang salah atau jahat, dan Aku juga tidak akan menggodamu agar merosot, berbuat dosa, atau melakukan hal-hal yang menentang Tuhan; Aku sama sekali tidak akan berbuat demikian. Sekalipun ada sesuatu tentang dirimu yang tidak terlalu Kusukai atau yang tidak terlalu selaras dengan kepribadian-Ku, dan sekalipun Aku tidak akan bergaul atau berinteraksi denganmu dalam kehidupan sehari-hari, mengingat identitas-Ku, Aku mutlak akan memperlakukanmu dengan benar. Jika engkau mencari sesuatu yang berkaitan dengan kebenaran atau jalan masuk kehidupan, Aku mutlak akan memberitahumu jalan penerapan dengan cara yang jelas dan tidak samar. Satu hal yang pasti: Sekalipun Aku tidak menyukaimu, Aku tidak akan menyesatkanmu. Aku akan memperlakukanmu dengan cara yang benar. Jika engkau bersedia mengejar kebenaran dan bersedia menempuh jalan keselamatan, Aku akan bersekutu denganmu mengenai prinsip-prinsip penerapan yang seharusnya kautaati; ini pasti.
Topik tentang Tuhan tidak menggoda manusia juga berkaitan dengan bagaimana manusia memperlakukan Tuhan yang berinkarnasi, bukan? (Ya.) Karena perwujudan watak rusak ini—memprovokasi orang, menghasut orang, mencoba mengorek informasi dari orang, serta berbicara dengan ambigu dan samar—sangat umum dalam diri manusia, dan semua ini adalah perwujudan dari esensi rusak umat manusia, manusia memperlakukan Tuhan yang berinkarnasi dengan metode, perspektif, dan sudut pandang yang sama ini. Dengan demikian, penting bagi manusia untuk mengenali aspek-aspek ini, dan penting juga untuk menerangkan dengan jelas kepada manusia perwujudan-perwujudan berikut yang diperlihatkan oleh Tuhan yang berinkarnasi: tidak memprovokasi manusia, tidak menghasut manusia, tidak mengorek informasi dari manusia, dan tidak bersikap samar. Setelah memahami hal-hal ini, manusia akan mengenal Tuhan yang berinkarnasi dari sudut pandang yang baru. Di satu sisi, ini dapat memungkinkan manusia untuk memiliki lebih banyak pengenalan tentang aspek-aspek Tuhan yang berinkarnasi yang berkaitan dengan esensi Tuhan, memungkinkannya untuk lebih mengenal dan memahami Tuhan yang di surga. Di sisi lain, ini juga dapat mencegah manusia memperlakukan Tuhan yang berinkarnasi dengan cara yang mereka gunakan dalam memperlakukan manusia yang rusak lainnya. Mempersekutukan hal-hal ini akan sangat membantu manusia untuk memperlakukan Tuhan yang berinkarnasi dengan cara yang benar, dan juga sangat membantunya memperbaiki sikapnya terhadap Tuhan, memungkinkannya untuk memperlakukan Tuhan yang berinkarnasi dengan menggunakan sikap dan metode yang benar. Demikian pula, memperlakukan Tuhan yang berinkarnasi dengan cara yang benar juga akan membantu manusia untuk memperlakukan Sang Pencipta dengan cara yang benar. Artinya, jika engkau ingin memperlakukan Sang Pencipta dengan menggunakan sikap yang benar dan metode yang benar, dan jika engkau ingin membangun hubungan yang normal dengan Sang Pencipta sebagai makhluk ciptaan, serta memperlakukan Sang Pencipta dengan sikap yang benar sebagai makhluk ciptaan, engkau harus terlebih dahulu memperlakukan Tuhan yang berinkarnasi dengan menggunakan sikap dan metode yang benar. Setelah engkau memperlakukan Tuhan yang berinkarnasi dengan menggunakan sikap dan metode yang benar, engkau akan memiliki kesempatan atau sarana dasar untuk memperlakukan Sang Pencipta dengan cara yang benar. Oleh karena itu, bagaimana memperlakukan Tuhan yang berinkarnasi adalah rintangan yang tidak dapat dihindari oleh manusia. Jika engkau ingin dengan lancar melewati rintangan ini—memperlakukan Tuhan yang berinkarnasi dengan benar—engkau harus mengenali esensi Tuhan yang berinkarnasi, mengenali kenormalan dan kenyataan Tuhan yang berinkarnasi, serta mengenali dan memahami apa sebenarnya esensi hidup-Nya, apa yang dihidupi-Nya, dan perwujudan hidup dari Tuhan yang berinkarnasi. Hanya ketika engkau mengenali dan memahami hal-hal ini, barulah engkau akan memiliki kesempatan dan sarana untuk memperlakukan Tuhan yang berinkarnasi dengan benar. Ini adalah rintangan yang harus manusia lewati dalam percaya dan mengikuti Tuhan jika ia ingin tunduk dan menyembah Tuhan. Jika engkau dapat melewati rintangan ini, akan ada harapan bagimu untuk menjadi makhluk ciptaan yang memenuhi standar di mata Tuhan, dan ada harapan bagimu untuk menjadi seseorang yang diterima oleh Tuhan.
Selain beberapa topik yang baru saja kita persekutukan, ada topik lain yang perlu engkau semua pahami, yaitu bagaimana tepatnya Tuhan yang berinkarnasi menyikapi status. Ini adalah topik yang sangat penting bagi umat manusia, sebuah subjek yang tak dapat dihindari dalam pengalaman hidup. Ini berkaitan langsung dengan mentalitas yang sebenarnya dalam kehidupan rohani manusia, yang berkaitan dengan semua aspek hidupnya. Oleh karena itu, perlu juga untuk mempersekutukan dengan engkau semua sikap dan prinsip Tuhan yang berinkarnasi mengenai cara Dia menyikapi status. Di antara umat manusia, status dapat disebut sebagai persoalan yang tak dapat orang hindari di sepanjang hidup mereka, dan juga merupakan sesuatu yang dikejar oleh sebagian besar orang. Berbicara tentang status, status menempati posisi tertentu dan memiliki bobot tertentu di hati setiap orang. Bagi setiap orang, memiliki status adalah simbol kedudukan yang mulia, serta simbol kelas dan kekuasaan di tengah masyarakat. Dengan memiliki status, manusia bisa menikmati kehormatan dan gaya hidup unggul yang dibawa oleh status, serta berbagai manfaat dan kekuasaan yang diberikannya; karena itu, status sangat penting bagi setiap orang. Namun, setinggi apa pun umat manusia menghargai status, atau sepenting apa pun status bagi umat manusia, apakah Tuhan yang berinkarnasi memandang status dengan cara yang sama? (Tidak.) Tentu tidak. Status sangat penting bagi umat manusia, tetapi bagi Tuhan yang berinkarnasi, orang biasa ini—yaitu bagi-Ku secara pribadi—Aku sama sekali tidak memiliki konsep tentang status, dan Aku juga tidak memiliki keinginan sama sekali untuk mengejarnya. Tentu saja, Aku sama sekali tidak mungkin memiliki pemikiran atau kesadaran akan hal itu; Aku tidak memiliki satu pun dari hal-hal ini. Aku tidak memiliki perasaan semacam itu sejak lahir; artinya, sejak Aku cukup besar untuk mengingat dan dapat memahami bagaimana segala sesuatunya berjalan, Aku tidak memiliki kesadaran ini. Baik status di keluarga, status di sekolah, maupun kedudukan dan nilai diri-Ku di antara orang-orang, hati-Ku tidak memiliki hal-hal ini; Aku sama sekali tidak memiliki kesadaran ini. Bagaimana tidak adanya kesadaran ini terlihat? Aku tidak pernah berpikir untuk bersaing dengan orang lain, dan tidak pernah terpikir oleh-Ku untuk bersaing demi status dengan siapa pun. Ketika seseorang mencoba bersaing dengan-Ku, Aku berkata, "Apa yang kauperebutkan? Apa gunanya melakukan ini?" Seiring bertambahnya usia, Aku belajar bagaimana memandang orang dan berbagai hal dengan lebih jelas. Dalam proses mengalami dan menghadapi segala macam orang dan berbagai hal, Aku mengetahui bahwa semua orang suka saling bersaing. Yang orang perebutkan adalah status, kekuasaan, prestise, dan kepentingan; orang bersaing demi hal-hal ini. Ketika masih muda, Aku tidak memiliki konsep tentang bersaing demi hal-hal ini. Setelah dewasa, Aku sekadar menjadi mampu mengenali persaingan semacam itu, dan sekadar memahami mengapa orang bersaing dengan-Ku, tetapi Aku sendiri tetap tidak memiliki keinginan untuk bersaing dengan siapa pun. Bagaimana Aku memperlihatkan perwujudan tidak bersaing dengan orang lain? Ketika orang lain mencoba bersaing dengan-Ku, Aku berpikir, "Jika engkau bisa mendapatkan apa yang kauinginkan dengan bersaing dengan-Ku, berarti kau telah mengungguli-Ku; jika kau tidak bisa, berarti Aku telah mengunggulimu, tetapi Aku tidak merasa bahwa Aku lebih hebat daripadamu. Sekalipun Aku mengunggulimu, Aku tidak akan menindasmu ataupun menyiksamu; Aku tidak akan memperoleh manfaat apa pun dari hal itu, dan Aku juga tidak akan merasa jauh lebih mulia daripadamu." Engkau lihat, memang seperti inilah mentalitas-Ku, seperti inilah keadaan-Ku biasanya; seperti inilah kesadaran dan konsep-Ku tentang status. Setelah Aku datang ke gereja, Aku tetap demikian. Karena Aku sangat bersemangat ketika pertama kali menjadi orang percaya biasa, dan dihargai oleh para pemimpin tingkat atas, ada orang-orang yang menjadi cemburu terhadap-Ku. Kupikir, "Apa yang perlu dicemburui? Jika engkau sama bersemangatnya dan juga membayar harga, mempelajari lebih banyak lagu pujian, lebih banyak berdoa, lebih banyak berpartisipasi dalam kehidupan bergereja, dan lebih banyak membantu saudara-saudari, bukankah engkau juga akan dihargai oleh para pemimpin tingkat atas?" Dalam situasi tersebut, Aku tidak merasa bahwa dihargai adalah semacam kehormatan, simbol memiliki status, atau simbol telah memperoleh semacam identitas yang diagungkan; Aku tidak merasakan satu pun dari hal ini. Kemudian, sedikit demi sedikit, status-Ku menjadi makin istimewa, dan menjadi makin tinggi. Ketika Aku mulai bekerja secara resmi, Aku tetap tidak merasa bahwa status-Ku setinggi itu, atau bahwa Aku lebih mulia daripada orang lain atau berbeda dari orang lain. Secara subjektif, Aku sendiri tidak memiliki kesadaran ini, tetapi cara beberapa orang memandang-Ku dan memperlakukan-Ku berbeda dari sebelumnya. Baru pada saat itulah Aku menyadari bahwa seperti inilah rasanya berada di antara orang-orang setelah seseorang memperoleh status. Ketika Aku memiliki status dan mulai bekerja, cara orang memandang-Ku berbeda, sikap mereka ketika berbicara kepada-Ku berbeda, dan pilihan kata, nada, serta setiap aspek lainnya semuanya berbeda. Sebagai seorang manusia, Aku tidak berubah. Penampilan-Ku masih sama, dan kepribadian-Ku, kebiasaan hidup-Ku, serta cara-Ku berbicara tidak berubah. Jadi, mengapa sikap orang terhadap-Ku berbeda? Ini karena hasrat orang akan status sedang bertingkah. Semua orang menjunjung tinggi status; begitu Aku memiliki status, sikap orang terhadap-Ku berubah. Statuslah yang disukai orang, bukan Aku, karena Aku tidak berubah. Satu-satunya hal yang berubah adalah posisi-Ku. Aku berubah dari orang percaya biasa yang mendengarkan khotbah menjadi seseorang yang berkhotbah dari mimbar, dan sikap orang terhadap-Ku menjadi berbeda. Hanya ketika sikap orang terhadap-Ku menjadi berbeda, barulah Aku menyadari bahwa Aku memiliki status. Orang-orang berbicara kepada-Ku dengan lebih sopan dan menyebut-Ku dengan sapaan yang penuh hormat. Ketika Aku duduk di sana dan berbicara, seseorang akan menuangkan air untuk-Ku; ketika tiba waktunya makan, seseorang akan menyajikan makanan untuk-Ku dan mengambilkan sumpit untuk-Ku. Baru pada saat itulah Aku menyadari bahwa orang-orang memperlakukan-Ku seperti ini hanya karena Aku memiliki status. Namun, Aku sendiri tetap tidak merasa bahwa "memiliki status berarti memiliki kekuasaan; memiliki status menciptakan jarak antara diri sendiri dan orang lain, membuat orang merasa unggul, dan memungkinkan orang untuk bertindak sekehendak hati, melakukan apa pun yang diinginkannya." Aku tidak memiliki kesadaran ini, dan Aku juga tidak merasa seperti ini. Oleh karena itu, ketika Aku masih menjadi orang percaya biasa, Aku bisa berinteraksi secara normal dengan orang-orang, dan ketika Aku memiliki status, cara-Ku berinteraksi dengan orang-orang tidak berubah; Aku tetap bisa bergaul secara normal dengan mereka.
Memiliki status melambangkan memiliki kekuasaan, tetapi Aku tidak pernah menggunakan kekuasaan untuk menindas siapa pun atau menggunakan status-Ku untuk menggurui siapa pun. Aku juga tidak pernah merasa bahwa karena Aku memiliki status, Aku bisa menjadi penentu keputusan dalam segala hal, dan Aku bisa memanfaatkan status-Ku serta menggunakan kekuasaan yang Kujalankan untuk melakukan hal-hal yang ingin Kulakukan. Aku tidak pernah memiliki pemikiran semacam itu, dan tidak pernah bertindak demikian. Aku tetap mematuhi ketetapan administratif gereja, aturan gereja, dan pengaturan kerja gereja. Aku tidak memiliki kesadaran akan status, ataupun kesadaran untuk menggunakan kekuasaan guna melakukan sesuatu atau mencari keuntungan bagi diri-Ku sendiri. Aku tidak pernah mengatakan hal-hal semacam itu, dan juga tidak pernah melakukan hal-hal semacam itu. Misalkan seseorang datang kepada-Ku dan berkata bahwa dia mengalami beberapa kesulitan dalam pelaksanaan tugasnya, dan bertanya apakah Aku bisa memindahkannya ke tugas lain. Apa yang biasanya akan dikatakan oleh orang yang memiliki kekuasaan? "Aku hanya tinggal memberi perintah, bukan? Akulah penentu keputusan dalam hal ini!" Inilah mantra yang sering digunakan oleh manusia yang rusak, tetapi Aku tidak pernah mengatakan hal seperti ini. Kukatakan, "Engkau mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugas ini, jadi Aku harus menanyakan situasi spesifiknya. Gereja biasanya menyesuaikan penugasan orang berdasarkan prinsip dan berdasarkan kondisi individu tersebut. Aku harus menemui para pemimpin dan pekerja untuk mencari tahu tentang hal ini dan mengatasinya." Apa prinsip-Ku mengenai hal ini? Apa pertimbangan-Ku? Dia membawa hal ini ke hadapan-Ku, dan Aku hanya mendengar apa yang dia katakan, serta tidak tahu apa yang telah dia perbuat atau bagaimana perwujudan dirinya di balik layar; Aku tidak bisa memercayai perkataannya begitu saja. Sekalipun dia memiliki hubungan yang baik dengan-Ku atau tidak pernah menyinggung-Ku, Aku tidak bisa dengan sewenang-wenang mengatur tugasnya secara sepihak demi memamerkan kekuasaan-Ku. Aku harus bertanya kepada para pemimpin gereja bagaimana perilakunya biasanya, apakah pantas mengaturnya untuk melaksanakan tugas ini, apakah para pemimpin memiliki pertimbangan tertentu, dan apakah itu berdasarkan prinsip. Jika itu berdasarkan prinsip, tugasnya tidak bisa disesuaikan secara sewenang-wenang, bukan? (Ya.) Aku sama sekali tidak akan berkata, "Aku hanya tinggal mengatakannya. Aku memiliki kekuasaan untuk berbuat demikian. Aku akan pergi memberi tahu para pemimpin—lihatlah bagaimana mereka menuruti apa yang Kukatakan." Aku tidak akan berbuat demikian, dan Aku juga tidak pernah mengatakan hal-hal semacam itu. Aku tidak melakukan hal semacam ini ketika Aku berada di gereja di kampung halaman-Ku, dan belakangan, ketika melakukan pekerjaan gereja secara keseluruhan dan bepergian ke gereja-gereja di berbagai provinsi, Aku juga tidak melakukan hal-hal semacam itu. Artinya, Aku tidak pernah menggunakan kekuasaan yang Kujalankan untuk memberikan perlakuan khusus yang tidak berprinsip kepada individu; Aku tidak pernah menetapkan preseden semacam itu. Berapa pun jumlah anggota gereja kita sekarang ini, atau sebanyak apa pun ras dan negara asal mereka, hanya dari segi identitas-Ku, bukankah engkau semua akan mengatakan bahwa status-Ku cukup tinggi? Bukankah kekuasaan-Ku sangat besar? (Ya.) Di antara umat manusia yang rusak, status ini akan menjadi sesuatu yang luar biasa, dan kekuasaan ini akan sangat besar! Orang biasa tidak akan mampu menanganinya; mereka tidak akan tahu bagaimana menggunakan kekuasaan ini, dan mereka bahkan tidak akan tahu apa harus makan apa atau melakukan apa. Namun, lihatlah bagaimana Aku berbicara dan berinteraksi dengan engkau semua. Aku berinteraksi dengan semua orang, entah mereka adalah pemimpin dan pekerja atau orang percaya biasa. Aku bahkan telah berinteraksi dengan mereka yang mengerahkan upaya dan melakukan pekerjaan kasar, orang-orang yang paling tidak mencolok, dan orang percaya baru. Ketika melihat bahwa engkau semua memiliki masalah, Aku bersekutu dan berbicara denganmu. Terkadang, ketika berinteraksi dengan orang percaya baru, Aku berusaha sebaik mungkin agar mereka tidak mengetahui identitas-Ku. Yang terbaik adalah membiarkan mereka melihat-Ku hanya sebagai orang biasa. Jika bersedia mendengarkan-Ku, mereka bisa mendengarkan sedikit; jika mereka tidak bersedia, Aku tidak memaksa mereka. Aku memberi mereka kebebasan. Aku sama sekali tidak akan menempatkan diri-Ku di atas orang lain, dan Aku juga tidak akan berlagak penting. Aku sama sekali tidak akan memperkenalkan diri untuk memberi tahu mereka siapa Aku, memberi tahu mereka seberapa tinggi status-Ku atau seberapa besar kekuasaan-Ku, dan membuat mereka takut kepada-Ku. Aku tidak suka berbuat demikian, dan Aku tidak pernah melakukannya. Terkadang ketika Aku bertemu dengan saudara-saudari yang tidak Kukenal dan mengobrol dengan mereka, mereka menatap-Ku dari atas ke bawah dan berpikir, "Kau pikir Kau siapa? Mengapa Kau bersekutu dengan kami?" Aku melihat bahwa orang ini adalah orang asing, bahwa dia memandang-Ku dengan sikap yang memusuhi, dan bahwa dia ingin meneliti-Ku dan meremehkan-Ku, tetapi Aku tidak mempermasalahkannya. Jika dia meremehkan-Ku dan tidak bersedia mendengarkan persekutuan-Ku, maka Aku akan mempersingkat persekutuan-Ku; jika dia bersedia mendengarkan-Ku, Aku akan mengobrol dengannya sedikit lebih lama. Ada orang-orang yang senang mendengarkan persekutuan-Ku dan menjadi tertarik, dan mereka bahkan meminta-Ku untuk tinggal dan makan bersama serta berinisiatif untuk mengobrol dengan-Ku. Setelah itu, Aku tidak bertanya dari gereja mana mereka berasal, tugas apa yang mereka laksanakan, atau bagaimana situasi mereka; Aku hanya memperlakukan mereka secara normal dan dengan benar.
Dengan siapa pun Aku berinteraksi—entah dengan orang-orang yang mengejar kebenaran atau tidak, entah dengan orang-orang yang memiliki status di masyarakat atau tidak, entah dengan pemimpin dan pekerja atau orang percaya biasa—Aku tidak pernah memosisikan diri-Ku lebih tinggi ketika bersekutu denganmu tentang pekerjaan atau berinteraksi denganmu dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, jika kaukatakan engkau haus, Aku akan menuangkan segelas air untukmu. Bukan berarti Aku harus berlagak penting dan membuatmu melayani-Ku, dan Aku juga tidak akan berkata, "Ada perbedaan status dan nilai diri di antara kita; Aku sama sekali tidak akan melakukan pekerjaan melayani seseorang seperti ini." Aku tidak memiliki pemikiran semacam itu. Jika engkau menuangkan air untuk-Ku, Aku menganggapnya sebagai tindakan persaudaraan; jika engkau haus dan perlu Kutuangkan air, Aku juga bisa menuangkan segelas air untukmu. Ketika Aku menyampaikan persekutuan dalam pertemuan, ada orang-orang yang memendam gagasan dan sikap yang memusuhi, atau memiliki sikap yang buruk, atau tidak tertarik dan mengabaikan-Ku. Dalam hal itu, Aku bertindak sesuai aturan; Aku menyampaikan persekutuan jika persekutuan diperlukan, dan menyelesaikan masalah jika penyelesaian masalah diperlukan. Aku tidak memosisikan diri-Ku lebih tinggi atau berlagak penting. Sekalipun engkau memendam sikap yang memusuhi terhadap-Ku, Aku tetap melakukan pekerjaan yang seharusnya Kulakukan dan mengucapkan firman yang seharusnya Kuucapkan. Aku sama sekali tidak terpengaruh olehmu, dan Aku tidak menunda pekerjaan sedikit pun; apa yang seharusnya kauperoleh juga sama sekali tidak terpengaruh. Jika itu adalah bagian dari pelayanan-Ku, dan itu berkaitan dengan kebenaran, prinsip, dan pekerjaan gereja, siapa pun yang datang kepada-Ku mengenai suatu masalah, Aku sama sekali tidak akan berkata, "Apakah pangkatmu cukup tinggi? Memangnya kau ini siapa? Apakah kau seorang pemimpin regional atau pemimpin distrik? Atau apakah kau seorang pemimpin tim atau pengawas di tingkat tertentu?" Aku tidak menanyakan hal-hal ini. Jika engkau datang kepada-Ku mengenai suatu masalah atau melaporkan masalah terkait pemimpin tertentu atau aspek tertentu dari pekerjaan gereja, Aku akan bersekutu denganmu sesuai kebutuhan. Aku tidak akan memosisikan diri-Ku lebih tinggi, dan Aku tidak akan menanyakan pangkatmu. Mungkin engkau belum lama percaya kepada Tuhan, dan engkau merasa bahwa statusmu di rumah Tuhan tidak tinggi, sehingga engkau terlalu malu untuk bertanya. Namun, bukan begitu cara-Ku memandang segala sesuatu; Aku tidak memperlakukan manusia berdasarkan statusnya. Jadi, entah engkau adalah pemimpin dan pekerja atau saudara-saudari biasa, ketika Aku bersekutu dengan engkau semua tentang jalan masuk kehidupan atau membimbing pekerjaanmu, Aku sama sekali tidak akan berbicara seperti seorang birokrat atau membuatmu menebak-nebak, dan Aku juga tidak akan mengajukan segala macam pertanyaan untuk mempersulit dirimu. Aku mengerahkan segenap upaya ketika bekerja atasmu dan berbicara kepadamu. Aku bicara apa adanya, dan mengatakan sebanyak yang Kuketahui. Aku tidak memosisikan diri-Ku lebih tinggi, Aku tidak menjadikan engkau semua sebagai bahan tertawaan dan tidak mempersulit dirimu. Ketika Kulihat engkau semua mengalami kesulitan dalam pekerjaanmu dan tidak tahu cara melaksanakannya, Aku memberimu bimbingan dan arahan. Aku mengatakan dan melakukan hal-hal untuk membantumu belajar lebih banyak dan memahami beberapa prinsip dalam keterampilan profesionalmu, dan juga memperoleh sedikit lebih banyak pemahaman tentang kebenaran. Baik di depan umum maupun secara pribadi, seperti inilah cara-Ku bertindak. Baik berinteraksi secara tatap muka maupun bersekutu dan mengobrol dengan engkau semua secara daring, Aku tidak pernah bersikap sok. Apa artinya bersikap sok? Itu berarti selalu berlagak penting dan memiliki pembawaan yang mengintimidasi, membuat engkau semua merasa bahwa Aku luar biasa dan sok berkuasa, dan bahwa Aku berada di atasmu. Aku tidak pernah bersikap sok seperti ini. Selain itu, di pertemuan, Aku tidak mementingkan citra yang mulia atau bersikap seolah tidak boleh disinggung, dan Aku tidak berperan sebagai Tuhan yang di surga; Aku tidak melakukan hal-hal semacam itu. Seseorang pernah bertanya kepada-Ku apakah Aku perlu dibuatkan sebuah meja khusus untuk Kugunakan selama pertemuan. Kukatakan, "Itu tidak perlu; meja apa pun bisa digunakan." Lalu mereka menemukan sebuah meja yang sangat tua, dan Aku menggunakannya seadanya. Aku tidak berkata, "Meja macam apa yang kaucarikan untuk-Ku ini! Mengingat identitas-Ku, mengapa kau tidak mencarikan meja yang bagus untuk-Ku? Beginikah caramu menangani berbagai hal!" Aku tidak mengatakan apa pun, Aku juga tidak menuntut untuk menggunakan meja mewah atau berlapis emas; Aku tidak pernah mempermasalahkan hal-hal ini. Belakangan, ketika berkumpul secara daring, Aku juga duduk di bangku biasa dan menggunakan meja biasa, dengan lampu meja di atasnya, dan sebuah buku catatan untuk menuliskan topik dan garis besar dari setiap persekutuan. Memang sesederhana itu. Ketika berkumpul di gereja, Aku mengenakan pakaian formal yang sederhana, biasanya jas, celana bahan, dan sepatu kulit, dan di musim dingin Aku juga mengenakan mantel wol. Ini hanyalah pakaian yang sangat umum, hanya terlihat sedikit lebih formal daripada pakaian sehari-hari. Peralatan canggih yang digunakan selama pertemuan hanyalah mikrofon, pengeras suara, dan komputer; hanya inilah barang-barang canggih yang berharga. Engkau lihat, memang sesederhana itu. Semua ini berkat berada di luar negeri, di mana terdapat kebebasan berkeyakinan dan kondisi-kondisi ini tersedia. Dengan menggunakan pengeras suara, saudara-saudari dapat mendengar dengan jelas bahkan dari sudut ruangan, dan itu sangat meringankan-Ku saat berbicara. Dahulu di Tiongkok daratan, kondisi-kondisi seperti ini tidak ada. Kondisi fisik-Ku lemah dan suara-Ku pelan. Ketika ada banyak orang dalam suatu pertemuan, Aku harus berbicara dengan keras, dan meskipun demikian, orang-orang yang hadir masih merasa bahwa suara-Ku pelan. Untuk pertemuan yang berlangsung selama satu atau dua hari, Aku harus terus berbicara dengan keras seperti ini sepanjang waktu. Katakan kepada-Ku, bukankah itu melelahkan? (Ya.) Ketika kami dahulu mengadakan pertemuan besar di Tiongkok daratan, Aku menjadi sangat lelah. Sekarang setelah kami datang ke luar negeri dan bebas, dengan menggunakan pengeras suara, Aku tidak perlu berbicara terlalu keras. Itu sangat menghemat tenaga-Ku, dan orang-orang juga dapat mendengar dengan sangat jelas. Ketika Aku menyampaikan khotbah kepada engkau semua dalam pertemuan dan mempersekutukan berbagai aspek kebenaran yang dibutuhkan manusia, tidak ada formalitas, dan Aku tidak mencoba bermegah-megahan. Aku hanya bersekutu denganmu tentang berbagai aspek kebenaran yang seharusnya engkau semua pahami dan yang engkau semua butuhkan, agar engkau semua dapat memahaminya, meletakkan landasan di jalan yang benar, berangsur-angsur memperoleh kejelasan dan mengembangkan minat pada berbagai aspek kebenaran, kemudian tahu bagaimana menerapkannya, mampu memalingkan hatimu kepada Tuhan sedikit demi sedikit, dan tunduk kepada Tuhan. Ini sudah cukup. Engkau lihat, bukankah beginilah cara-Ku bertindak selama bertahun-tahun? (Ya.) Firman yang Kupersekutukan dalam pertemuan dicetak menjadi buku. Menurut imajinasi umat manusia yang rusak, karena firman ini adalah kebenaran dan merupakan pengungkapan Tuhan, firman ini pasti telah diungkapkan dengan semacam tata cara yang formal atau dengan penampilan yang sangat megah. Kenyataannya, itu sangat biasa. Ketika Aku berkhotbah dalam pertemuan, tidak ada orang di sekitar yang melayani-Ku. Ketika mulut-Ku kering karena berbicara, Aku menuangkan sendiri air untuk Kuminum. Terkadang Aku minum air madu untuk melegakan tenggorokan-Ku, dan terkadang Aku hanya minum air putih. Kehidupan-Ku sangatlah sederhana, lebih sederhana daripada yang bisa engkau semua bayangkan. Ada orang-orang yang mungkin berpikir, "Engkau sedang berpura-pura. Mana mungkin Engkau berkekurangan? Dengan identitas dan status-Mu, tidak mungkin Engkau hidup begitu sederhana." Kehidupan-Ku benar-benar sesederhana ini. Aku akan menggunakan satu cangkir minum selama bertahun-tahun, hanya menggantinya ketika cangkir itu pecah atau terlalu usang, dan kemudian Aku akan menggunakan cangkir penggantinya selama beberapa tahun lagi. Inilah kenyataannya. Sejak lahir hingga sekarang, beginilah cara-Ku menyikapi status. Entah Aku memiliki status atau tidak, bagi-Ku sama saja; Aku hanya hidup dengan cara yang sederhana dan teratur. Orang-orang yang tidak tahu akan berpikir, "Engkau memiliki status dan sarana seperti ini; entah seberapa banyak Engkau memanjakan diri-Mu!" Aku benar-benar tidak memanjakan diri dalam hal apa pun. Terkadang saudara-saudari membawakan beberapa sayuran, dan Aku makan apa pun yang mereka bawa. Memang sesederhana itu. Makanan-Ku tidak rumit. Aku tidak makan sembarang daging, Aku juga tidak makan makanan yang aneh dan tidak biasa. Aku makan dengan sangat sederhana; semuanya hanyalah masakan rumahan biasa. Selain itu, setelah bekerja selama bertahun-tahun, Aku tidak pernah merasa, "Ada begitu banyak orang di gereja kita; Aku merasa bangga dan unggul." Aku tidak sedikit pun merasa bangga, Aku juga tidak merasa bahwa Aku telah memberikan kontribusi kepada gereja, atau bahwa Aku memiliki aura kemuliaan. Aku tidak memiliki perasaan-perasaan ini, Aku juga tidak merasakan kenikmatan dari hal-hal ini. Orang luar mungkin berpikir, "Meskipun di luarnya Engkau terlihat biasa dan normal, mengingat pekerjaan yang Engkau lakukan dan kondisi-Mu saat ini, dengan begitu banyak orang yang mengikuti-Mu, status-Mu cukup tinggi dan kekuasaan-Mu cukup besar—Engkau seharusnya menikmati status-Mu, mendapat prioritas dalam segala sesuatu yang Engkau lakukan, dan merasa unggul." Kukatakan bahwa Aku tidak pernah sedikit pun merasa unggul, dan Aku juga tidak menikmati manfaat status. Ini bukan berarti Aku memberontak terhadap kesadaran ini atau pemikiran dan perasaan ini, melainkan bahwa pemikiran-pemikiran ini sama sekali tidak dapat ditemukan di dalam diri-Ku; Aku tidak merasakan keberadaan hal-hal semacam itu. Oleh karena itu, terkadang ketika Aku menghadapi hal-hal dalam kehidupan yang bisa Kutangani sendiri, Aku pergi dan menanganinya, tanpa menyuruh orang lain melakukannya untuk-Ku. Seseorang mungkin berkata, "Saudara Anu atau Saudari Anu bisa membantu-Mu untuk menangani hal ini." Kukatakan, "Mengapa Aku tidak terpikirkan hal itu? Mengapa pikiran-Ku tidak tertuju ke sana?" Di mata orang-orang, Aku sangat bodoh dan tidak tahu bagaimana memanjakan diri-Ku. Mereka berpikir, "Dengan begitu banyak orang yang mengikuti-Mu, dan dengan memiliki kondisi yang begitu menguntungkan, Engkau masih menangani hal-hal kecil secara pribadi. Apakah Engkau tidak tahu bagaimana menikmati status-Mu, apakah Engkau terlepas dari hal-hal duniawi, atau apakah Engkau sedang berpura-pura? Mengapa Engkau tidak mengerti? Mengapa Engkau tidak terpikir untuk melakukan ini?" Itu karena Aku tidak pernah memiliki kesadaran ini dalam pikiran-Ku; ini adalah fakta.
Ketika orang tidak percaya mendapatkan sedikit kekuasaan, mereka mulai bertingkah seolah-olah mereka adalah orang penting. Ketika mereka mendapatkan sedikit status, mereka bertingkah seolah-olah tidak ada yang setara dengan mereka. Mereka tidak hanya memiliki mobil pribadi untuk menjemput dan mengantar mereka, serta personel khusus untuk mengawal mereka, tetapi ketika pergi keluar, ada juga orang-orang yang membawakan tas mereka dan memegangkan pakaian mereka. Ada juga orang-orang yang memandikan mereka, memijat mereka, dan menyiapkan makanan bergizi untuk mereka. Aku tidak memiliki satu pun dari hal-hal ini, dan Aku tidak pernah meminta orang-orang untuk memperlakukan-Ku seperti ini. Ketika umat manusia yang rusak memiliki sedikit kemampuan atau meraih sedikit pencapaian, mereka mulai bertingkah seolah-olah mereka adalah orang penting. Mereka merasa memiliki aura kemuliaan, bertingkah seolah-olah tidak ada yang setara dengan mereka, dan mulai bertingkah seperti bangsawan. Ketika orang memperoleh status, mereka merasa nilai diri mereka telah meningkat, tetapi mengapa mereka menjadi begitu tidak cakap? Mereka menjadi tidak mampu lagi melakukan apa pun sendiri. Orang yang sepenuhnya sehat dan berbadan bugar malah tidak bisa berjalan tanpa ditopang seseorang. Kukatakan bahwa Aku sama sekali tidak membutuhkan siapa pun untuk menopang-Ku. Saat masuk ke dalam mobil, sebisa mungkin Aku berusaha agar tidak ada orang di dekat-Ku yang membukakan pintu untuk-Ku. Aku punya dua tangan dan dua kaki. Aku bisa melakukan semuanya sendiri; Aku tidak membutuhkan bantuanmu. Engkau lihat, dalam hal menyikapi status, sikap Tuhan yang berinkarnasi dan umat manusia yang rusak sepenuhnya berbeda. Dinilai dari berbagai perwujudan dan penyingkapan manusia yang rusak, mereka sangat mementingkan status dan sangat terobsesi dengannya, sehingga menimbulkan suasana dan tren yang buruk di antara manusia. Dapat dikatakan bahwa status menentukan segalanya tentang seseorang—itu menentukan nilai diri mereka, seberapa besar bobot perkataan mereka, dan manfaat serta kekuasaan yang bisa mereka nikmati. Mereka yang tanpa status tidak memenuhi syarat untuk memikirkan atau menikmati hal-hal ini, sehingga manusia mengejar status dengan segenap kekuatannya. Lalu, apa yang disimbolkan oleh status di rumah Tuhan? Bagaimana Tuhan memandang status? Jika Tuhan memberimu status, itu sama dengan Tuhan memberimu amanat dan tanggung jawab. Itu adalah simbol tanggung jawab, simbol bahwa engkau adalah makhluk ciptaan yang memenuhi tanggung jawab dan kewajibanmu; itu tidak berarti hal lainnya. Jika engkau memiliki status ini dan memenuhi tanggung jawabmu dengan baik, engkau tidak gagal memenuhi harapan Tuhan terhadapmu, dan engkau juga tidak gagal memenuhi status dan tanggung jawab yang telah Tuhan berikan kepadamu. Jika engkau tidak menjalankan tanggung jawab ini dengan semestinya, dan engkau gagal memenuhinya, engkau telah gagal memenuhi status dan tanggung jawab yang diberikan kepadamu oleh Tuhan. Tuhan memberikan status kepada manusia semata-mata untuk memungkinkan mereka memenuhi tanggung jawab mereka, menyelesaikan misi mereka, dan memanfaatkan status ini dengan lebih baik untuk melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan dan memenuhi tanggung jawab mereka yang semestinya. Ketika Tuhan memberimu status, Dia tidak sedang menganugerahimu kekuasaan khusus, Dia juga tidak sedang memberimu kekuasaan untuk menikmati status atau menikmati perlakuan khusus apa pun. Terlebih lagi, jika engkau dapat memenuhi tanggung jawab ini dan menjalankan misimu dengan benar, maka identitas dan nilai dirimu akan sepadan dengan status ini. Namun, jika engkau gagal memenuhi tanggung jawabmu, jika engkau gagal memenuhi misi ini, dan jika engkau tidak menyelesaikan misi atau amanat ini dengan baik, maka engkau tidak layak memiliki status ini, dan engkau tidak bernilai. Jika engkau memenuhi tanggung jawabmu, engkau bernilai mulia di mata Tuhan; jika engkau gagal memenuhi tanggung jawabmu, nilaimu rendah di mata Tuhan. Dapat dikatakan bahwa apakah seseorang itu mulia dan apakah hidup mereka berharga tidaklah bergantung pada seberapa tinggi atau rendah status mereka, melainkan pada apakah mereka telah memenuhi amanat yang Tuhan berikan dan apakah mereka telah memenuhi tanggung jawab mereka. Tuhan memercayakan amanat kepadamu dan memintamu untuk memenuhi tanggung jawab ini, dan juga memberimu berbagai kondisi yang diperlukan untuk memenuhi tanggung jawab ini: Jika engkau memenuhi tanggung jawabmu, engkau menjunjung tinggi misimu, dan Tuhan akan merasa puas; tetapi jika engkau tidak memenuhi tanggung jawabmu, melainkan mengandalkan statusmu dan bertindak demi memuaskan kepentingan, ambisi, dan hasratmu sendiri, ini adalah hal yang paling membuat Tuhan merasa jijik dan benci. Jika engkau menggunakan kekuasaan yang kaujalankan untuk melakukan hal-hal sepenuhnya demi ketenaran, keuntungan, dan statusmu sendiri, bersiasat demi keuntungan pribadi, menindas orang lain, dan menikmati manfaat status, maka engkau telah gagal memenuhi amanat yang telah Tuhan percayakan kepadamu ini, dan engkau tidak layak menerima amanat ini. Jika, setelah menerima amanat Tuhan, engkau memenuhi tanggung jawabmu dan melakukan pekerjaan dengan baik, tanpa menikmati manfaat status atau menggunakan statusmu atau kekuasaan dari posisimu untuk mencari keuntungan pribadi, maka engkau sedang menyelesaikan misimu, engkau sedang memenuhi tanggung jawabmu, dan engkau akan dapat memperoleh perkenanan Tuhan.
Semua manusia yang rusak menyukai status; begitu memiliki status, mereka semua menikmati manfaat status. Jika seseorang adalah pemimpin di tingkat mana pun, atau ia hanya memiliki sedikit prestise di antara orang-orang dan memiliki sedikit kekuasaan, ia akan mulai bertingkah seolah-olah ia adalah orang penting. Sejak memperoleh status, ia akan menggunakan kekuasaannya untuk mencari keuntungan pribadi, dan ia akan melakukan banyak hal yang melanggar prinsip-prinsip kebenaran, dan bahkan beberapa hal konyol. Sekalipun beberapa individu mampu mengucapkan beberapa kata dan doktrin, ketika berinteraksi dan bersekutu dengan orang lain, mereka akan pilih kasih. Jika mereka bertemu seseorang yang kaya dan memiliki status, yang mendukung mereka, berhubungan baik dengan mereka, dan menyanjung mereka, mereka akan lebih banyak berbicara dengan orang tersebut. Jika mereka bertemu seseorang yang miskin, tidak tahu cara menyanjung, yang tidak menyenangkan bagi mereka, atau yang merupakan orang percaya baru yang tidak memiliki landasan, mereka akan mencari-cari alasan untuk mengabaikannya. Engkau lihat, apakah mereka memiliki prinsip dalam cara mereka bertindak? (Tidak.) Begitu memiliki status, mereka mulai bertingkah seolah-olah mereka orang penting, tahu bagaimana berbicara seperti seorang birokrat dan meneriakkan slogan-slogan, serta tahu bagaimana menonjolkan status mereka dan berlagak penting. Bukankah ada banyak perwujudan semacam itu dalam diri orang-orang? (Ya.) Sebagai contoh, jika ada masalah yang tidak dipahami orang lain tetapi mereka pahami, dan mereka melihat tidak ada seorang pun yang bertanya tentang hal itu kepada mereka, mereka berpikir: "Tak ada seorang pun dari kalian yang memohon kepadaku atau membujukku, dan tak seorang pun meninggikanku dan menghormatiku. Jika kalian memohon kepadaku, aku mungkin akan memberi tahu kalian, tetapi itu tetap bergantung pada suasana hatiku. Jika tak seorang pun memohon kepadaku, aku tidak akan mengatakan apa pun; aku tidak akan memberi tahu kalian. Aku hanya perlu mengucapkan satu kalimat, tetapi jika aku tidak mengucapkannya, tak seorang pun dari kalian akan memahaminya!" Apakah orang-orang seperti ini baik hati? (Tidak.) Selain itu, begitu orang memiliki status, mereka akan berbuat sekehendak hati mereka. Jika mereka melihat seseorang yang tidak mengalah kepada mereka atau memiliki keluhan tentang mereka, mereka akan memikirkan cara untuk menyiksa dan menyerang orang tersebut, serta menundukkannya. Engkau lihat, Aku memiliki status dan kekuasaan, tetapi apakah Aku memiliki perwujudan tersebut dalam cara-Ku memperlakukan orang, termasuk orang tidak percaya? (Tidak.) Orang-orang jahat akan memikirkan cara untuk meremehkan dan menyiksa orang-orang yang tidak mereka sukai, dan bahkan menginjak-injaknya. Aku tidak pernah melakukan hal-hal ini kepada orang-orang yang tidak Kusukai, dan Aku jarang meminta orang lain untuk mengurus berbagai hal bagi-Ku. Aku telah melihat bahwa ketika membagikan sayuran dan makanan sehari-hari kepada-Ku, ada orang-orang yang secara khusus memilihkan yang buruk dan berkualitas rendah untuk-Ku. Ketika orang lain memilihkan beberapa yang bagus, mereka bahkan menukarkannya dengan yang buruk. Ketika seseorang mengirimi-Ku makanan, orang yang bertanggung jawab atas penyimpanan hanya membiarkannya begitu saja hingga kedaluwarsa dan membusuk. Di dalam hatinya, orang-orang ini berpikir, "Engkau hanyalah orang biasa, tetapi engkau ingin aku menangani berbagai hal untuk-Mu. Sudah cukup bagus aku melakukannya seperti ini. Aku hanya akan sedikit berjerih payah untukmu jika engkau memiliki kemampuan manusia super, atau engkau adalah pejabat tinggi daerah." Aku menyadari hal ini: Mereka tidak bersedia melakukan berbagai hal untuk-Ku. Kukira karena mereka adalah saudara-saudari di gereja, mereka setidaknya memiliki sedikit rasa hormat terhadap-Ku. Aku tidak menyangka bahwa mereka merasa enggan, memandang rendah diri-Ku, dan memperlakukan-Ku seperti sampah. Mereka bersedia melakukan berbagai hal untuk orang tua mereka, untuk bos mereka, untuk pejabat pemerintah, dan untuk orang-orang yang memiliki status. Namun, Aku bukanlah siapa-siapa bagi mereka, jadi mereka tidak bersedia melakukan berbagai hal untuk-Ku. Kupikir: "Jadi, orang semacam inilah dirimu. Kalau begitu, Aku tidak akan memintamu untuk melakukan sesuatu untuk-Ku. Jika engkau tidak bersedia melakukannya, Aku tidak akan memaksamu, dan Aku tidak akan menggunakan status-Ku untuk menekanmu. Aku hanyalah orang biasa, dan Aku memperlakukanmu sebagai saudara-saudari, tetapi engkau berbalik dan memperlakukan-Ku seperti ini. Kalau begitu, Aku akan mencari orang lain saja untuk melakukannya; Aku tidak akan lagi memakaimu." Ada cukup banyak orang seperti ini di gereja; mereka semua adalah pengikut yang bukan orang percaya. Sebanyak apa pun khotbah yang mereka dengar, mereka tidak memahami kebenaran, dan mereka sama sekali tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan. Melalui situasi-situasi semacam ini, mereka tersingkap. Orang-orang semacam itu telah mendengar begitu banyak khotbah, jadi mengapa mereka masih memperlakukan-Ku seperti ini? Mengapa mereka memperlakukan-Ku lebih buruk daripada kerabat dan teman mereka? Bukankah orang-orang semacam itu terlalu pamrih? (Ya.) Ada orang-orang seperti ini di gereja-gereja di mana-mana. Mereka tidak mencintai kebenaran, jadi bagaimana mungkin mereka memiliki sedikit saja ketundukan sejati kepada Tuhan? Mereka bukan hanya tidak memiliki ketundukan, tetapi mereka bahkan memendam kebencian. Mereka bisa memberikan sayuran dan makanan yang bagus kepada orang lain, jadi mengapa mereka secara khusus memberi-Ku yang berkualitas paling rendah? Siapa sebenarnya yang membayar sayuran dan makanan ini? Siapa yang mendanai pembangunan pertanian ini? Tak seorang pun memikirkan hal-hal ini. Kemudian, ketika hal-hal ini ditelaah, beberapa orang akhirnya sadar, tetapi pada saat itu, tak seorang pun mengambil inisiatif untuk menyingkapkan dan menangani orang-orang ini.
Di dunia manusia, penguasa tertinggi suatu negara adalah orang yang memiliki status tertinggi di antara orang-orang. Apa yang dimakan dan dinikmati oleh mereka yang memiliki status tertinggi? Pada dasarnya, mereka memakan daging rakyat dan meminum darahnya. Mengapa Kukatakan demikian? Lihatlah bagaimana jubah naga yang dikenakan oleh kaisar-kaisar Tiongkok di masa lalu dibuat. Semuanya dibuat khusus; satu jubah naga disulam dengan cermat menggunakan berbagai kain dan metode penenunan selama lebih dari tiga tahun, tetapi beberapa dari pakaian ini mungkin hanya dikenakan sekali atau dua kali seumur hidup. Jika para kaisar tidak memiliki status tersebut, bisakah mereka menikmati hal-hal ini? (Tidak.) Memiliki status berarti memiliki kekuasaan, dan memiliki kekuasaan berarti orang dapat melakukan apa pun yang diinginkannya dan menikmati seluruh kekayaan serta kemuliaan, tanpa ada seorang pun yang berani buka suara untuk menentangnya. Orang-orang bahkan merasa, "Kaisar negara kita sudah seharusnya menikmati hal-hal ini; memang sepantasnya begitu! Jika dia tidak menikmati kehidupan yang baik, itu mencoreng muka kita sebagai rakyat jelata. Merupakan kehormatan bagi kita bahwa kaisar berpakaian begitu megah!" Betapa hinanya orang-orang ini! Bukankah mereka telah dikondisikan oleh penguasa mereka? (Ya.) Jika setelah datang ke bumi, Tuhan yang berinkarnasi menikmati hidup yang sedikit lebih baik, apa yang akan orang pikirkan? "Tidak bisa begitu. Engkau adalah Tuhan, Engkau harus menderita. Jika Engkau tidak menderita, apakah Engkau layak untuk kami ikuti? Engkau tidak boleh makan enak atau berpakaian bagus; Engkau harus sangat menderita. Hanya dengan begitu, barulah Engkau adalah Tuhan!" Apakah manusia semacam itu memiliki kemanusiaan? (Tidak.) Apakah umat manusia ini memiliki niat baik terhadap Tuhan? Bukankah hati mereka sangat busuk? Para penguasa mengeksploitasi, mengendalikan, dan sangat menyengsarakan orang, tetapi orang dengan rela membiarkan diri mereka dikendalikan dan sangat disengsarakan oleh para penguasa. Sebaliknya, Tuhan bekerja untuk menyelamatkan manusia; Dia memedulikan manusia, mengasihi dan mengasihani manusia, dan Dia menganugerahkan segala sesuatu kepada manusia. Namun, bagaimana sikap manusia terhadap Tuhan? Manusia merasa, "Memang sepantasnya Tuhan menderita. Makin Dia menderita, makin aku bahagia; aku tidak merasa kasihan sama sekali. Karena Tuhan telah datang, Dia sudah seharusnya menderita seperti ini." Bukankah inilah mentalitas manusia? Namun kenyataannya, dalam inkarnasi mana pun, Tuhan memiliki status dan kekuasaan ini, tetapi Dia tidak pernah menikmatinya, Dia juga tidak pernah mendambakan kesenangan duniawi atau penghormatan dari manusia. Engkau lihat, siapa pun di dunia manusia yang memiliki sedikit status ingin menikmati perlakuan khusus; makanan yang mereka makan dan air yang mereka minum disediakan secara khusus untuk mereka. Apakah Tuhan memiliki sesuatu yang disediakan secara khusus untuk-Nya? (Tidak.) Aku makan sayuran apa pun yang ditanam di pertanian; semuanya hanyalah masakan rumahan biasa. Beberapa orang yang baik hati mungkin memilihkan beberapa sayuran yang bagus untuk-Ku sesuai musimnya, tetapi selain itu, tidak ada perbedaan. Pada dasarnya Aku makan apa pun yang dimakan olehmu. Bahkan ketika engkau semua diam-diam memakan makanan yang enak dan tidak mengirimkannya kepada-Ku, pernahkah Aku mempermasalahkannya denganmu? (Tidak.) Ada orang-orang tidak pernah bersedia menyediakan sayuran yang bagus untuk-Ku; mereka hanya memilihkan untuk-Ku sisa-sisa yang tidak bersedia mereka makan. Melihat-Ku memakan sayuran yang bagus membuat mereka merasa tidak nyaman. Apa pun yang Kumakan, Aku memakan makanan-Ku sendiri; Aku tidak memakan makananmu, jadi mengapa engkau tidak senang? Aku tidak pernah menikmati apa pun yang disediakan secara khusus untuk-Ku, dan Aku tidak pernah membagi persembahan menjadi beberapa bagian, menyisihkan sebagian untuk menjaga kesehatan-Ku, sebagian untuk pakaian dan perawatan diri-Ku sehari-hari, serta sebagian untuk perjalanan dan hiburan-Ku. Aku tidak pernah melakukan ini. Hidup-Ku sederhana. Sebagian besar persembahan digunakan untuk pekerjaan rumah Tuhan, dan untuk mengurus hidup serta kebutuhan dasarmu; Aku tidak menyimpan apa pun untuk-Ku sendiri. Benar, bukan? (Ya.) Lihatlah, apa yang dinikmati oleh pejabat pemerintah biasa? Corong media itu menghabiskan puluhan ribu yuan setahun hanya untuk kosmetik, dan mereka memiliki dana khusus untuk setiap pengeluaran pekerjaan. Lihatlah apa yang Kukenakan, apa yang Kugunakan, dan apa yang Kunikmati. Dibandingkan dengan mereka, apakah itu ada seujung kukunya? Bahkan tidak sampai seujung kuku. Biar Kuberikan contoh lain. Ambil contoh orang-orang kaya yang memiliki kemampuan finansial di antara saudara-saudari di gereja kita. Apa yang mereka nikmati? Apa yang mereka kenakan dan gunakan? (Barang-barang bermerek.) Mereka mengenakan pakaian dan aksesori bermerek, menikmati gaya hidup orang kaya dan kelas atas. Di Tiongkok, ada orang-orang yang sangat memuja barang impor; mereka secara khusus membeli produk luar negeri untuk dikenakan dan digunakan. Selain udara yang mereka hirup adalah udara lokal, semua yang mereka makan, kenakan, dan gunakan adalah merek internasional. Beberapa hal yang mereka nikmati bahkan belum pernah kita lihat. Apa yang dibeli oleh orang kaya ketika mereka memiliki status? Rumah mewah, mobil, dan kapal pesiar, serta jet pribadi, lapangan golf pribadi, klub pribadi, dan sebagainya. Bukankah apa yang mereka nikmati itu sangat mewah? (Ya.) Apakah engkau melihat-Ku menikmati hal-hal ini? (Tidak.) Aku akan mengenakan sepasang sepatu yang sama selama beberapa tahun, dan jika belum usang, Aku akan terus mengenakannya. Sebenarnya bukan karena Aku tidak punya uang untuk membeli yang baru; ini hanyalah salah satu kebiasaan hidup-Ku. Seperti inilah Aku menyikapi status dan kekuasaan. Aku tidak memiliki keinginan yang muluk-muluk dan besar; hidup-Ku biasa, sederhana, dan sangat teratur. Di mata beberapa orang, hidup-Ku sangatlah monoton. Hidup-Ku hanya ditandai dengan rutinitas yang teratur, gaya hidup hemat, serta suasana yang cukup tenang dan rapi; tidak ada yang mewah, berkelas tinggi, atau sangat elok di dalamnya. Namun, begitu beberapa orang di gereja menjadi pemimpin di tingkat tertentu, perwujudan seperti apa yang mereka miliki? (Mereka ingin menikmati yang terbaik dari segala sesuatu.) Begitu menjadi pemimpin, mereka mulai bertingkah seolah-olah mereka adalah orang penting dan merasa mereka memiliki status. Di mana pun mereka berada, harus ada seseorang yang menawarkan tempat duduk kepada mereka; jika tidak ada yang melakukannya, mereka menjadi marah. Ketika mereka berbicara, orang lain harus selalu menuruti kemauan mereka. Ke mana pun mereka pergi, selalu ada orang yang mengikuti mereka, seseorang yang membawakan tas mereka, dan rombongan pengikut. Jika mereka berada di luar untuk waktu yang lama dan merasa haus atau lapar, ada seseorang yang langsung membawakan makanan dan minuman kepada mereka; jika mereka lelah, ada seseorang yang memijat mereka. Kukatakan, hebat betul; begitu memiliki status, mereka menjadi istimewa, dan mereka bukan lagi manusia, bukan? (Ya.) Jadi, mengapa Aku tidak merasakan apa pun tentang memiliki status? Tanpa status, Aku menjalani hidup dengan cukup nyaman. Ketika Aku memiliki status, orang lain selalu memperlakukan-Ku sebagai sosok yang istimewa, dan Aku merasa canggung dan tidak nyaman sama sekali. Tidak memiliki status itu cukup menyenangkan, jadi Aku hanya bertindak seolah-olah Aku tidak memiliki status sama sekali, dan berinteraksi dengan orang-orang sebagai orang biasa, merasa sangat bebas. Engkau semua merasa bebas, begitu pun Aku; bergaul dengan orang lain dengan cara seperti ini cukup baik. Umumnya, setelah manusia yang rusak memperoleh status, mereka selalu harus memiliki beberapa orang di sekitar untuk melayani mereka. Ketika mereka ingin minum, harus ada yang menuangkannya; ketika mereka ingin makan, harus ada yang mengambilkan sumpit; ketika mereka pergi keluar, harus ada yang mengikuti di belakang mereka. Mereka juga harus membeli pakaian bermerek, menyiapkan pakaian baru dari kepala hingga kaki agar sesuai dengan status mereka. Aku berkata, "Melayani sebagai pemimpin adalah amanat dan tanggung jawab yang Tuhan berikan kepadamu; apakah ini berarti memiliki status? Pekerjaan nyata apa yang bisa kaulakukan, sehingga engkau sudah berlagak penting? Jika engkau benar-benar mampu melaksanakan pekerjaan, rumah Tuhan akan menyediakan pakaian dan peralatan kerja untukmu, serta telepon seluler dan komputer yang bagus. Namun, engkau tidak mampu melakukan pekerjaan nyata apa pun, tetapi engkau masih pamer dengan membabi buta. Apakah engkau percaya kepada Tuhan hanya untuk mengejar hal-hal ini: status, ketenaran, dan keuntungan? Mengapa engkau begitu dangkal?" Aku telah bekerja selama bertahun-tahun, dan skala pekerjaan-Ku cukup besar, tetapi Aku tidak merasa bahwa Aku memiliki status. Aku tidak memiliki fasilitas khusus, dan Aku juga tidak memiliki personel khusus untuk melayani dan mengurus-Ku. Aku sama sekali tidak meributkan hal-hal ini. Apakah menurutmu Aku tidak tahu bagaimana bersikap pilih-pilih dalam berbagai hal? (Tidak, Tuhan sama sekali tidak memedulikan hal-hal ini.) Jika Aku ingin bersikap pilih-pilih, Aku bisa saja melakukannya, dan Aku juga tahu bagaimana memilih barang-barang yang bagus. Namun, apa satu hal yang membuat-Ku berbeda dari engkau semua? Aku menyikapi hal-hal ini dengan benar. Aku tidak akan menggunakan pakaian dan perawatan diri agar sesuai dengan status-Ku hanya karena Aku memilikinya, Aku juga tidak akan menggunakannya untuk memvalidasi status dan nilai diri-Ku. Apa pun yang Kubeli atau Kumiliki, itu semata-mata karena Aku menyukainya atau membutuhkannya, dan Aku merasa itu cocok untuk Kugunakan. Aku tidak akan membeli atau memiliki sesuatu karena Aku memiliki status dan kekuasaan, atau karena nilai diri-Ku.
Aku sedang berbicara denganmu tentang topik bagaimana Tuhan yang berinkarnasi menyikapi status, agar engkau semua dapat sedikit memahami-Ku dan tahu persis bagaimana sudut pandang-Ku tentang status dan bagaimana Aku menyikapinya. Tentu saja, apa yang paling ingin Kukatakan kepadamu di sini? Di satu sisi, engkau semua perlu mengetahui perbedaan antara Tuhan yang berinkarnasi itu sendiri dan manusia yang rusak dalam cara mereka menyikapi status. Di sisi lain, ini untuk memungkinkan manusia memahami secara akurat apa sebenarnya status itu, dan bagaimana dia seharusnya tetap berada di tempatnya yang semestinya serta memenuhi tanggung jawab dan melaksanakan tugasnya dengan baik. Ini adalah pemikiran dan pandangan yang benar yang seharusnya dimiliki setiap orang. Dengan pemikiran dan pandangan yang benar semacam itu, dalam hal tugasmu, tanggung jawabmu, dan bahkan status yang diberikan kepadamu oleh rumah Tuhan, engkau akan menyikapi hal-hal ini sesuai dengan kebenaran dan prinsip. Aku telah cukup banyak mempersekutukan kepadamu topik tentang bagaimana Tuhan yang berinkarnasi menyikapi status. Engkau semua telah melihat beberapa dari hal-hal ini dan dapat mencocokkannya dengan kenyataan. Mengenai hal-hal lainnya, engkau semua hanya mendengar-Ku membicarakannya tetapi belum pernah berinteraksi dengan-Ku, jadi engkau semua tidak punya cara untuk mencocokkannya dengan kenyataan. Entah engkau semua telah melihatnya atau hanya mendengar fakta-fakta yang telah Kubicarakan, itu sudah cukup, asalkan engkau semua dapat memahaminya dengan benar dan memercayainya. Jika engkau masih memiliki keraguan, amatilah berbagai hal dalam kehidupanmu sehari-hari seiring berjalannya waktu untuk melihat apakah yang telah Kukatakan itu faktual dan akurat. Ketika engkau mendapatkan konfirmasi, engkau akan tahu apa sebenarnya arti status bagi Tuhan, bagaimana Tuhan menyikapi status, bagaimana perbedaannya dari sikap umat manusia yang rusak pada umumnya, dan apa kebenaran yang seharusnya dipahami atau diterapkan manusia dalam hal ini. Memiliki pemahaman dasar tentang konten ini akan memungkinkan engkau semua untuk lebih memahami Tuhan dan mengenal Tuhan dengan lebih akurat. Selain itu, ini juga akan membantumu menyikapi masalah status dengan benar, sekaligus memberimu pandangan yang benar dan cara yang benar untuk menanganinya, bukan? (Ya.)
Baiklah, mari kita akhiri persekutuan kita di sini untuk hari ini. Sampai jumpa!
26 Oktober 2024