Cara Mengejar Kebenaran (27)

Mengenai topik "melepaskan" dalam "Cara Mengejar Kebenaran", kita telah bersekutu sampai pada konten yang berkaitan dengan gagasan dan imajinasi dalam subjek "melepaskan penghalang di antara dirinya dan Tuhan serta permusuhannya terhadap Tuhan". Beberapa kali terakhir, kita bersekutu tentang "melepaskan gagasan dan imajinasi tentang Tuhan yang berinkarnasi". Hari ini, kita akan melanjutkan persekutuan tentang hal ini. Mengenai gagasan dan imajinasi tentang Tuhan yang berinkarnasi, kita telah mempersekutukan beberapa topik yang berkaitan dengan kemanusiaan normal dari Tuhan yang berinkarnasi, bukan? Jadi, apa yang kita persekutukan terakhir kali? Kita mempersekutukan beberapa perwujudan spesifik yang berkaitan dengan apa yang dihidupi dan diperlihatkan oleh kemanusiaan normal dari Tuhan yang berinkarnasi, serta beberapa prinsip tentang cara berperilaku dan bertindak dalam kemanusiaan normal dari Tuhan yang berinkarnasi, dan kemudian kita bersekutu tentang hal-hal apa yang tidak dilakukan oleh Tuhan yang berinkarnasi dalam hal kemanusiaan-Nya. Mempersekutukan aspek-aspek ini membantu orang untuk lebih memahami esensi watak daging inkarnasi Tuhan serta prinsip tentang cara-Nya berperilaku dan bertindak, serta beberapa perwujudan dan apa yang diperlihatkan-Nya secara spesifik. Ketika kita bersekutu tentang perwujudan-perwujudan Tuhan yang berinkarnasi ini—baik dalam bentuk fakta, contoh, maupun prinsip spesifik tentang cara bertindak—semua itu berkaitan dengan berbagai macam hal kecil dalam kehidupan. Hal-hal tersebut tampaknya tidak ada kaitannya dengan tindakan besar yang belum pernah dilakukan sebelumnya atau tindakan mulia yang patut dikagumi yang ada dalam gagasan dan imajinasi orang; semua perwujudan Tuhan yang berinkarnasi sangatlah umum dan sangat biasa. Justru karena Tuhan yang berinkarnasi hidup di antara umat manusia yang biasa dan rusak ini, di satu sisi, perwujudan-Nya yang normal dan nyata ini adalah perwujudan yang tak terelakkan dari kemanusiaan daging inkarnasi Tuhan, dan di sisi lain, merupakan kebutuhan normal Tuhan yang berinkarnasi dalam menjalani hidup di antara umat manusia. Tentu saja, perwujudan yang normal dan nyata ini juga memberi orang beberapa informasi atau jalan tentang pengenalan akan Tuhan. Hal-hal ini memungkinkan orang untuk mengenal kenyataan dan kenormalan Tuhan melalui cara hidup yang nyata dan prinsip yang nyata tentang cara berperilaku Tuhan yang berinkarnasi di antara manusia, dan juga mengenal Tuhan yang di surga, memungkinkan mereka untuk memahami Tuhan yang di surga dengan lebih akurat, dan memahami secara akurat esensi-Nya sebagai orang yang normal dan biasa di bumi.

Ada orang-orang yang berkata, "Hal-hal dan contoh-contoh yang Kaubicarakan terkait kemanusiaan normal dari Tuhan yang berinkarnasi semuanya sangatlah biasa; semuanya adalah hal-hal yang sangat kecil dan lazim dalam kehidupan sehari-hari. Dapatkah Kau berbicara tentang beberapa fakta yang terasa misterius dan tak terselami, atau yang tampak sangat agung?" Menanggapi hal ini, Kukatakan bahwa sampai sekarang, memang belum ada hal semacam itu. Tuhan yang berinkarnasi hidup dalam kenyataan kemanusiaan yang normal, serta di lingkungan kehidupan yang spesifik, dan selain melakukan pekerjaan Tuhan itu sendiri, Dia menghabiskan sisa waktu-Nya di dalam lingkup kehidupan kemanusiaan normal-Nya, berinteraksi dengan saudara-saudari atau menangani beberapa masalah sepele di gereja. Jadi, selain contoh-contoh yang kita persekutukan terkait dengan prinsip dan pedoman yang Dia gunakan dalam cara-Nya berperilaku dan bertindak, Dia tidak melakukan tindakan besar yang belum pernah dilakukan sebelumnya atau perbuatan luar biasa apa pun yang engkau semua bayangkan. Ini mungkin tak terduga bagi orang-orang, dan mungkin tidak sesuai dengan gagasan serta imajinasi orang, tetapi memang begitulah kenyataannya. Persekutuan kita tentang topik Tuhan yang berinkarnasi terutama berkaitan dengan beberapa perwujudan, cara menghidupi, dan prinsip spesifik tentang cara berperilaku dan bertindak dari Tuhan yang berinkarnasi dalam kemanusiaan normal-Nya. Ini berbeda dengan bagaimana perbuatan tokoh-tokoh besar dan orang-orang terkenal diceritakan di dunia. Ketika orang-orang di dunia membicarakan tokoh yang hebat, terkenal, atau luar biasa, mereka selalu berbicara tentang betapa unik, luar biasa, dan hebatnya tokoh tersebut, dan mereka membicarakan karismanya, terutama berfokus pada betapa tinggi dan agungnya tokoh tersebut. Namun, apa yang kita bicarakan tentang Tuhan yang berinkarnasi justru merupakan kebalikan dari apa yang dunia katakan tentang tokoh-tokoh luar biasa dan orang-orang hebat tersebut. Kita terutama berbicara tentang bagaimana Tuhan yang berinkarnasi itu normal, nyata, biasa, dan tidak luar biasa. Kita hanya membicarakan contoh-contoh konkret—contoh-contoh kecil dari kehidupan sehari-hari—berbicara tentang apa saja prinsip dan pandangan yang berkaitan dengan cara-Nya berperilaku dan bertindak. Pemikiran dan pandangan, prinsip, serta metode tentang cara berperilaku dan bertindak ini semuanya didasarkan pada hati nurani dan nalar dari kemanusiaan yang normal. Kita terutama berbicara tentang cara Dia berperilaku dan cara Dia bertindak. Namun, di dunia, sangat sedikit orang yang berbicara tentang cara berperilaku. Sekalipun ada orang-orang yang pernah membicarakan topik ini, mereka tidak dapat memberikan banyak contoh spesifik, apalagi mengungkapkan prinsip apa pun tentang cara berperilaku. Mereka tidak membicarakan prinsip-prinsip positif, metode positif, atau pemikiran dan pandangan benar apa yang dimiliki oleh orang-orang terkenal dan tokoh-tokoh besar dalam cara mereka berperilaku dan bertindak. Mereka hanya membicarakan pencapaian, bakat dan pembelajaran, serta semangat tokoh-tokoh tersebut, dan mereka juga membicarakan kedudukan dominan seperti apa yang tokoh-tokoh tersebut tempati di antara umat manusia karena hal-hal ini. Apa yang mereka bicarakan justru adalah kebalikan dari kemanusiaan normal yang dimiliki dan disandang oleh Tuhan yang berinkarnasi yang sedang kita persekutukan hari ini. Apa yang daging inkarnasi Tuhan mungkinkan untuk engkau semua ketahui dan pahami adalah prinsip dan pedoman tentang cara berperilaku dan bertindak yang dihidupi dan dimiliki dalam kemanusiaan-Nya yang normal dan nyata. Prinsip dan pedoman tentang cara berperilaku dan bertindak ini sepenuhnya sesuai dengan tuntutan Tuhan terhadap umat manusia yang hendak Dia selamatkan. Daging inkarnasi Tuhan memiliki kemanusiaan semacam itu, dan memiliki berbagai pemikiran dan pandangan—serta prinsip dan pedoman-Nya tentang cara berperilaku dan bertindak—dalam kemanusiaan yang normal dan nyata ini. Hanya karena inilah Dia dapat merepresentasikan Tuhan dalam melakukan pekerjaan Tuhan itu sendiri, dan menyelesaikan pekerjaan serta pelayanan yang harus dilakukan dengan baik oleh Tuhan yang berinkarnasi pada zaman ini, dalam kemanusiaan semacam ini, dan karena inilah Dia dapat sepenuhnya menyatakan kepada umat manusia watak representatif yang hendak Tuhan ungkapkan pada zaman ini, dan—tentu saja—sepenuhnya kompeten untuk pekerjaan mengungkapkan kebenaran yang hendak Tuhan lakukan pada tahap pekerjaan ini. Jika esensi kemanusiaan yang dihidupi, diperlihatkan, dan dimiliki oleh daging inkarnasi Tuhan bukanlah kenormalan, kenyataan, dan sifat biasa yang telah kita persekutukan ini, atau jika Dia tidak memiliki prinsip dan pedoman tentang cara berperilaku yang telah kita persekutukan ini, melainkan memiliki esensi kemanusiaan dari orang-orang terkenal dan tokoh-tokoh besar yang dibicarakan dan dipuja oleh orang tidak percaya, apa akibatnya? (Dia tidak akan dapat menuntun kami untuk menempuh jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan.) Itu akan menghasilkan situasi yang sama sekali berbeda. Misalkan daging inkarnasi Tuhan memiliki esensi kemanusiaan seorang tokoh besar atau orang terkenal yang tidak percaya—seseorang yang agung, luar biasa, unik, misterius, dan tak terselami. Orang semacam ini tidak memiliki batas dalam caranya berperilaku dan bertindak, terus-menerus berbohong, dan tidak berperilaku atau bertindak dengan cara yang taat aturan ataupun berkelakuan baik, serta tidak tahu diri ataupun melaksanakan tugasnya dengan bertanggung jawab, dan pengejaran, pemikiran, serta pandangannya sama dengan orang tidak percaya, yaitu hanya mengejar hal-hal yang tinggi dan megah, serta berfokus pada karunia, pengetahuan, dan kemampuan supernatural. Ke jalan seperti apa orang semacam ini akan menuntunmu? (Dia tidak akan mampu menuntun kami ke jalan keselamatan. Sebaliknya, orang-orang yang mengikutinya hanya akan menjadi makin rusak dan jahat.) Orang semacam itu tidak memiliki prinsip yang positif dalam caranya berperilaku; metode dan prinsip dalam caranya berperilaku tidaklah positif, melainkan bersifat Iblis. Jadi, prinsip dan pedoman dalam cara berperilaku orang yang berasal dari Iblis ini sangat mewakili esensi kemanusiaannya. Apa saja pengejaran dan jalan yang ditempuh oleh orang dengan esensi kemanusiaan semacam ini? Semuanya sama persis dengan pengejaran dan jalan Iblis. Pengejaran mereka dan jalan yang mereka tempuh semuanya berasal dari Iblis dan selaras dengan Iblis. Dengan demikian, bukankah orang-orang yang mengikuti mereka akan mengikuti kepemimpinan mereka, memiliki pengejaran yang sama dengan mereka, dan menempuh jalan yang sama? (Ya.) Orang-orang itu akan mengikuti kepemimpinan mereka, meniru prinsip mereka dalam cara mereka berperilaku, dan, seperti halnya mereka, mengejar pengetahuan, status, hal-hal supernatural, serta hal-hal yang tinggi dan agung, segala sesuatu yang luar biasa, dan segala sesuatu yang tampak misterius serta tak terselami bagi manusia. Tak seorang pun dapat memperoleh keselamatan dengan mengikuti orang semacam itu; sebaliknya, mereka akan menjadi makin merosot. Kelompok orang semacam itu tidak dapat disebut gereja, terutama karena mereka semua telah memisahkan diri dari pekerjaan Tuhan dan tidak memiliki pekerjaan Roh Kudus. Pemimpin yang mereka ikuti tidak ditetapkan oleh Tuhan, apalagi diutus oleh Tuhan. Sekalipun mereka semua menyebut diri mereka gereja, itu tidak akan ada gunanya; Tuhan akan mengabaikan mereka. Sebanyak apa pun mereka semua menyebut diri mereka gereja, Tuhan tidak akan mengakui mereka, dan Roh Kudus tidak akan bekerja atas mereka. Pemimpin tersebut akan mengajar orang untuk melakukan apa pun yang mereka sukai; mereka akan membekali orang dengan apa pun yang mereka miliki dalam diri mereka, dan itulah yang akan diperoleh orang-orang dari mereka. Mereka tidak memiliki kebenaran, dan tidak dapat membekali orang dengan hal positif apa pun ataupun membimbing orang ke arah yang benar, jadi mustahil bagi orang untuk memperoleh kebenaran dari mereka. Paling-paling, orang hanya akan mampu memperoleh sedikit pengetahuan dan mempelajari beberapa keterampilan profesional dari dunia orang tidak percaya atau beberapa kemampuan di bidang tertentu dari mereka. Singkatnya, orang seperti ini, yang tidak memiliki kenormalan dan kenyataan, maupun esensi ilahi sebagai hidup mereka, tidak dapat disebut Tuhan yang berinkarnasi; mereka tidak dapat membawa orang ke hadapan Tuhan, juga tidak dapat menuntun orang ke jalan keselamatan. Melihat fakta-fakta ini, di antara umat manusia, adakah orang selain daging inkarnasi Tuhan yang dapat merepresentasikan Tuhan untuk melakukan pekerjaan-Nya? (Tidak.) Adakah orang yang dapat merepresentasikan Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia dari watak rusak mereka? (Tidak.) Hidup dan esensi kemanusiaan yang dimiliki oleh setiap anggota umat manusia biasa hampir semuanya sama. Hidup dan esensi kemanusiaan semacam itu semuanya telah dirusak oleh Iblis; bagi manusia, watak yang rusak adalah hidup mereka. Jadi, baik dilihat dari perspektif kemanusiaan orang maupun esensi hidup orang, tidak ada satu orang pun di antara seluruh umat manusia yang kompeten untuk pekerjaan Tuhan yang berinkarnasi ini, dan tidak ada manusia rusak mana pun yang dapat merepresentasikan Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia yang rusak dari kerusakan. Tentu saja, fakta-fakta ini juga memberi tahu orang: Tidak ada manusia rusak yang dapat memberi tahu umat manusia apa itu hal positif dan apa itu hal negatif, dan tidak ada manusia rusak yang dapat memberi tahu orang apa itu kebenaran atau apa sebenarnya maksud Tuhan. Yang diberikan oleh manusia yang rusak kepada orang lain hanyalah pengetahuan, serta berbagai keterampilan, kemampuan, atau karunia yang dikejar oleh umat manusia yang rusak, dan berbagai taktik tentang cara berperilaku dan bertindak, falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain, dan berbagai pemikiran serta pandangan yang berasal dari Iblis. Umat manusia dari semua ras memiliki satu sifat yang sama. Apakah sifat yang sama ini? Mereka semua menganggap hal-hal yang relatif positif, atau yang relatif berniat baik, konservatif, dan tradisional di antara mereka sendiri, sebagai hal-hal positif, dan berusaha menggantikan kebenaran serta maksud Tuhan dengan hal-hal tersebut. Orang yakin bahwa dengan berpegang pada hal-hal ini, mereka telah mendapatkan jalan yang benar dan dapat memperoleh keselamatan. Sebenarnya, hal-hal ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan tuntutan Tuhan terhadap umat manusia. Engkau lihat, di antara umat manusia, betapa pun cerdiknya orang-orang, betapa pun besarnya karunia mereka atau betapa pun berbakat dan berpengetahuan mereka, atau betapa pun baik dan murah hati kemanusiaan mereka dari luarnya, tidak ada satu orang pun yang dapat memahami kebenaran, dan tidak ada satu orang pun yang dapat membedakan apa hal positif dan apa hal negatif. Sebelum Tuhan melakukan pekerjaan-Nya, dan sebelum Tuhan mengungkapkan firman-Nya, hampir semua orang menganggap budaya tradisional sebagai hal yang positif, dan ada orang-orang yang bahkan memuja budaya tradisional sebagai kebenaran. Oleh karena itu, dengan cara apa pun engkau melihatnya, jika bukan Tuhan yang berinkarnasi yang mengungkapkan kebenaran-kebenaran ini dan melakukan pekerjaan ini dalam kemanusiaan yang normal, melainkan seseorang dari anggota umat manusia yang melakukan pekerjaan ini, mereka hanya akan menuntun orang ke jalan yang menyimpang dari firman dan maksud Tuhan.

Mari kita lihat sebuah contoh sederhana. Jika orang diminta memilih kostum untuk program tarian, bagaimana mereka akan memilih? Secara teori, semua orang tahu bahwa ketika orang yang percaya kepada Tuhan memproduksi sebuah program tarian, terutama untuk video yang akan dipublikasikan secara daring, pakaian yang mereka kenakan dan sikap mereka merepresentasikan umat Tuhan. Jadi, kostum yang dipilih haruslah sopan dan pantas, bukan pakaian yang aneh. Mengenai sopan dan pantas, ada banyak hal yang terlibat di dalamnya. Berdasarkan gagasan orang, pakaian seperti apa yang dianggap sopan dan pantas? Yaitu pakaian yang paling umum dikenakan oleh berbagai kelompok etnis, pakaian yang relatif tradisional dan konservatif serta terlihat patut bagi semua orang, bukan pakaian yang aneh atau terlalu trendi. Inilah yang menurut gagasan orang dianggap sebagai pakaian yang sopan dan pantas. Apa pandangan sebagian besar saudara-saudari di gereja mengenai pemilihan kostum untuk program? Engkau lihat, ketika syuting sebuah film, pandangan yang dipegang oleh orang yang bertanggung jawab atas kostum sebenarnya merepresentasikan pandangan sebagian besar orang. Gaya pakaian yang mereka pilih semuanya adalah gaya yang umum dikenakan oleh sebagian besar orang pada tahun delapan puluhan dan sembilan puluhan. Warnanya sebagian besar biru, khaki, atau abu-abu, hanya bervariasi dalam seberapa gelap atau terangnya. Secara keseluruhan, hanya dua atau tiga warna sederhana itu. Mengapa mereka tidak memilih beberapa warna cerah? Menurut gagasan orang, orang yang percaya kepada Tuhan semuanya adalah orang baik yang bermartabat dan berintegritas, jadi mereka seharusnya memilih beberapa warna yang paling umum dan paling biasa ini untuk pakaian mereka. Engkau lihat, hal sesederhana memilih gaya dan warna kostum sepenuhnya menyingkapkan gagasan serta pemikiran dan pandangan yang keliru tentang percaya kepada Tuhan di dalam hati orang-orang. Artinya, orang menyimpan gagasan yang sangat serius di dalam diri mereka; banyak orang yakin bahwa percaya kepada Tuhan mengharuskan mereka untuk berpaut pada cara-cara lama dan memulihkan tradisi. Menurut gagasan mereka, hanya hal-hal yang tradisional, kuno, terbelakang, dan usanglah yang merupakan hal-hal positif, dan hanya hal-hal inilah yang menyenangkan Tuhan. Inikah yang dipikirkan sebagian besar orang? (Ya.) Inilah yang ada di benak orang. Semua orang mendefinisikan hal-hal yang tradisional, terbelakang, kuno, dan ketinggalan zaman itu sebagai hal-hal positif. Oleh karena itu, dalam produksi program, orang-orang bahkan tidak dapat membuat pilihan yang tepat mengenai warna dan gaya kostum, yang merupakan salah satu hal paling sederhana dan paling mendasar. Mereka semua menilai persoalan ini dengan menggunakan gagasan mereka, dan sangat konservatif, serta sangat bodoh dan bebal. Katakan kepada-Ku, betapa banyak tentunya gagasan yang orang miliki tentang Tuhan! Hal-hal positif yang orang definisikan, dan hal-hal yang menurut orang disukai Tuhan, semuanya adalah budaya tradisional seperti yang dibayangkan dalam gagasan orang, atau hal-hal di antara umat manusia yang diterima dan diakui oleh orang-orang duniawi; hal-hal itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan kebenaran. Jadi katakan kepada-Ku, apakah Aku seorang tradisionalis atau seorang modernis? (Tuhan bukanlah tradisionalis maupun modernis.) Ada orang-orang yang berkata, "Melalui apa yang telah Engkau persekutukan, kami tahu bahwa Engkau tidak menyukai budaya tradisional, karena Engkau hidup di masa sekarang. Setidaknya, Engkau tidak tradisional, dan Engkau tidak berpaut pada cara-cara lama." Engkau semua mengatakan Aku tidak tradisional, jadi apakah Aku modernis? (Bukan.) Bagaimana engkau bisa tahu bahwa Aku bukan modernis? (Orang-orang di dunia sekarang ini cukup menyukai tren, tetapi Tuhan mengajar kami untuk bermartabat dan berintegritas, yang bertentangan dengan tren.) Bukan hanya orang-orang sekarang ini yang menyukai tren; orang-orang di zaman kuno pun menyukai tren. Orang tidak percaya semuanya menyukai tren. Menyukai tren tidak berarti seseorang itu modernis. Jadi, bagaimana seharusnya pertanyaan ini dijawab? Renungkanlah sejenak. Pernahkah engkau melihat-Ku mengenakan pakaian kuno? Apakah Aku mengenakan pakaian tradisional? Aku mengenakan pakaian modern. Ini berkaitan dengan kemanusiaan yang normal dari Tuhan yang berinkarnasi. Di zaman mana pun Tuhan yang berinkarnasi hidup, dan apa pun tingkat perkembangan yang telah dicapai orang-orang pada zaman itu dalam hal menangani kebutuhan dasar, kemanusiaan normal-Nya secara alami mengadopsi metode yang sama seperti yang mereka gunakan untuk hal ini; Dia tidak akan mundur. Bukankah ini adalah perwujudan kemanusiaan yang normal? (Ya.) Kemanusiaan normal-Nya memiliki rasionalitas, jadi dalam hal kebutuhan dasar, Dia secara alami tahu apa yang pantas untuk dipilih. Ini adalah salah satu aspeknya. Dalam aspek lain, entah itu tradisi atau modernitas, itu bukanlah suatu bentuk, melainkan merepresentasikan suatu tren pemikiran dan sudut pandang. Jadi, apakah tradisi itu positif, atau apakah modernitas itu positif? Menurut pandangan-Ku, tak ada satu pun yang positif. Tak ada satu pun yang berkaitan dengan kebenaran; keduanya dihasilkan oleh umat manusia yang rusak di bawah pengaruh Iblis. Baik itu pemikiran dan pandangan tradisional, maupun pemikiran dan pandangan modern, apa pun yang tidak berasal dari Tuhan adalah hal yang negatif, bukan hal yang positif. Baik itu kebutuhan dasar tradisional, maupun kebutuhan dasar modern, tujuannya selalu untuk memenuhi kebutuhan kemanusiaan yang normal. Di zaman mana pun Tuhan yang berinkarnasi dilahirkan, Dia hidup di dalam kemanusiaan yang normal dan nyata, dan prinsip dalam cara-Nya berperilaku serta bertindak tidak berubah. Dalam segala hal yang Dia lakukan dan dalam perlakuan-Nya terhadap segala sesuatu, Dia bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip firman Tuhan dan prinsip-prinsip yang muncul dari watak hidup batin-Nya; Dia tidak mempertahankan atau mengikuti tradisi, Dia juga tidak mengikuti modernitas atau mengejar tren. Oleh karena itu, tuntutan Tuhan yang berinkarnasi terhadap mereka yang mengikuti-Nya tidak didasarkan pada tradisi, juga tidak dipengaruhi oleh modernitas. Berbagai pemikiran dan pandangan atau kebenaran yang Dia miliki dan persekutukan semuanya berasal dari Tuhan, dari esensi ilahi Tuhan serta hidup Tuhan; semua itu tidak ada hubungannya dengan budaya tradisional maupun pengetahuan modern.

Ketika melihat kostum yang dipilih untuk program tarian yang diproduksi oleh rumah Tuhan, apakah engkau semua mampu mengenali prinsip apa pun? Mengapa gaya dan warna tersebut dipilih? Jika engkau semua dapat memahami prinsip di sini, berarti engkau semua benar-benar memahami sedikit kebenaran, dan engkau memiliki pemahaman rohani; jika engkau bahkan tidak dapat memahami prinsip dalam hal yang begitu sederhana, berarti engkau adalah orang bingung yang kualitasnya terlalu buruk, dan engkau belum memahami kebenaran meskipun telah mendengarkan khotbah selama bertahun-tahun. Pertama-tama, ketika kita memproduksi program tarian, apakah pakaian yang dikenakan para penampil itu tradisional atau modern? (Modern.) Semuanya adalah pakaian modern, yaitu pakaian biasa sehari-hari. Ada orang-orang yang tidak mengerti, berkata, "Program tarian kita adalah program seni, jadi mengapa para penampil hanya mengenakan pakaian biasa sehari-hari dan bukannya kostum panggung? Pakaian yang dihiasi manik-manik dan payet sangatlah memukau. Lihatlah pakaian yang dikenakan di atas panggung oleh kelompok tari tingkat nasional itu. Pakaian itu sangat memukau, berkelas, serta mewah, dan terlihat gemerlap saat terkena sorot lampu. Jika penampil kita juga mengenakan pakaian semacam itu ketika kita memproduksi program, bukankah itu akan membuat mereka terlihat lebih baik dan lebih memuliakan Tuhan? Bukankah itu akan lebih menyatakan kuasa rumah Tuhan, dan lebih memungkinkan orang tidak percaya atau orang beragama untuk melihat kekuatan rumah Tuhan?" Apakah sudut pandang ini benar? (Tidak.) Katakan kepada-Ku, pertama-tama: Mengapa para penampil mengenakan pakaian biasa sehari-hari dan bukannya kostum yang sangat memukau saat kita memproduksi program tarian? (Jika semua saudara-saudari mengenakan kostum yang sangat memukau saat menari, penonton akan berfokus pada pakaian dan penampilan para penampil. Namun, jika mereka mengenakan pakaian biasa dan terlihat seperti orang yang bermartabat dan berintegritas, penonton tidak akan tertarik pada hal-hal lahiriah ini, dan akan memfokuskan pikiran mereka pada firman Tuhan.) Engkau benar tentang satu hal: tidak mengenakan kostum yang sangat memukau adalah untuk mencegah orang berfokus pada bentuk dan penampilan lahiriah. Ada juga poin lain, yang paling penting: Baik menari maupun menyanyi, ketika kita memproduksi program, apa tujuannya? (Untuk bersaksi tentang Tuhan.) Ini adalah tujuan satu-satunya. Baik menari maupun menyanyi, semuanya adalah untuk bersaksi tentang Tuhan. Bukan untuk menonjolkan individu mana pun, bukan pula untuk menyenangkan siapa pun; itu hanya untuk bersaksi tentang Tuhan. Jadi, cukuplah bagi para penampil untuk mengenakan pakaian yang sederhana, pas, sopan dan pantas, serta enak dipandang yang mencapai tujuan bersaksi tentang Tuhan. Pada dasarnya, program yang kita produksi bukanlah program hiburan. Apa itu program hiburan? Program hiburan adalah hal-hal yang ditonton orang untuk rekreasi di waktu luang mereka; itu hanya untuk menyenangkan manusia. Ketika orang beristirahat, mereka menonton program untuk bersenang-senang, bersantai, merasa gembira, melupakan kekhawatiran mereka, dan menghilangkan stres. Setelah itu, mereka kembali ke pekerjaan apa pun yang harus mereka lakukan, tanpa terus memikirkannya atau memiliki perasaan apa pun tentangnya. Inilah yang dimaksud dengan program hiburan. Bagaimana dengan program yang kita buat? Secara bentuk, program tersebut adalah hiburan, tetapi secara esensi, program itu bukan untuk menyenangkan publik, bukan pula untuk memamerkan keterampilan artistik. Tujuan program yang kita produksi adalah untuk bersaksi tentang Tuhan. Misalnya, ketika memproduksi program lagu pujian, tujuan lagu pujian firman Tuhan adalah untuk bersaksi tentang kebenaran firman Tuhan dan menyebarluaskannya, memungkinkan orang untuk datang ke hadapan Tuhan; tujuan lagu pujian berdasarkan pengalaman adalah untuk bersaksi tentang efek yang dicapai oleh pekerjaan Tuhan dan hasil yang telah diperoleh pekerjaan Tuhan dalam diri manusia. Singkatnya, apa pun jenis program yang kita produksi, program itu bukanlah murni program hiburan. Tujuannya bukan untuk menarik perhatian orang atau membantu orang menghabiskan waktu dan menghibur diri mereka sendiri, apalagi untuk memamerkan keterampilan artistik. Tujuan program yang kita produksi hanya satu, yaitu untuk menyebarluaskan firman Tuhan dan bersaksi tentang pekerjaan Tuhan, membuat lebih banyak orang tahu bahwa Tuhan telah menjadi daging dan telah melaksanakan tahap pekerjaan yang baru, membuat lebih banyak orang tahu bahwa pekerjaan Tuhan telah mendapatkan sekelompok orang, dan bahwa Tuhan sedang bekerja serta berfirman sekarang. Inilah satu-satunya tujuan program yang kita produksi. Karena inilah tujuan program yang kita produksi, jika orang mengenakan pakaian yang sangat memukau dan riasan tebal, serta berdandan dengan segala macam gaya, bukankah itu bertentangan dengan tujuan bersaksi tentang Tuhan? (Ya.) Itu bertentangan. Oleh karena itu, kita tidak berfokus pada apa yang dikenakan oleh para penampil. Apa satu-satunya hal yang menjadi fokus kita? Kita hanya berfokus pada apakah hal yang disajikan oleh program tersebut—sikap saudara-saudari, gerakan tarian, dan bentuk program—dapat menarik perhatian orang, dan apakah program tersebut dapat membuat orang menyukainya dan menjadi tertarik padanya, sehingga membuat orang memiliki kesan yang baik dan membantu orang menjadi bersedia untuk menyelidiki pekerjaan Tuhan, menerima firman Tuhan, dan menyanyikan lagu pujian serta menyembah Tuhan bersama dengan saudara-saudari. Inilah tujuan yang ingin kita capai. Untuk mencapai tujuan ini, dari segi pakaian dan penampilan para penampil, mereka hanya harus terlihat bermartabat dan berintegritas, bersih dan rapi, serta memiliki pembawaan yang sangat baik; sedangkan untuk sisanya—kostum yang sangat memukau, riasan tebal, dan segala macam dandanan—semua itu memiliki efek negatif. Apa efek negatifnya? Jika semua saudari yang menari berdandan seperti bidadari, dan semua saudara berdandan seperti pria tampan atau pewaris kaya, ketika orang melihat ini, mereka akan berpikir, "Kalian sedang pamer. Bukankah kalian menyimpan niat buruk? Bukankah kalian sedang menggoda orang?" Jika orang memiliki pemikiran ini, itu tidak baik. Saudara-saudari berpakaian dengan cara yang sopan dan pantas, serta enak dilihat dan sepatutnya. Meskipun, secara keseluruhan, mereka mungkin tidak terlihat elegan, mereka sangat bersih, rapi, bermartabat, dan enak dilihat. Ketika orang melihat mereka, tampak bahwa mereka memiliki pembawaan yang baik, bahwa mereka adalah orang yang percaya kepada Tuhan, dan bahwa program yang sedang mereka produksi adalah program yang bersaksi tentang Tuhan, bukan sesuatu yang bengkok atau jahat. Engkau lihat, program-program orang tidak percaya isinya hanya bermain mata, melempar ciuman, atau memamerkan lekuk tubuh para penampil. Saat menari, selain memamerkan keahlian mereka, para penampil juga memamerkan pesona mereka, tanpa memberikan bimbingan yang positif sedikit pun. Sebaliknya, program yang kita produksi menyampaikan bimbingan yang sepenuhnya positif. Sekalipun penonton benar-benar ingin menyimpan pemikiran yang tidak pantas, mereka tidak menemukan kesempatan atau celah untuk melakukannya. Jika mereka ingin memperhatikan lekuk tubuh dan fitur wajah para penampil, mereka tidak dapat melihatnya dengan jelas; jika mereka ingin melihat siapa yang memamerkan pesonanya, mereka juga tidak dapat melihatnya. Mereka hanya melihat satu ekspresi—senyuman—yang menampilkan sikap yang sepenuhnya bermartabat dan berintegritas. Yang terpenting, program kita bukan tentang pamer atau menyenangkan siapa pun, melainkan untuk bersaksi tentang Tuhan; ini adalah prinsip intinya. Selain itu, mengenai gaya pakaian yang kita pilih untuk tim tari—kaus, sweatshirt, dan celana olahraga—orang mungkin merasa cukup nyaman menari dengan pakaian tersebut, tetapi beberapa anak muda mungkin tidak terlalu menyukainya berdasarkan selera mereka sendiri. Mereka merasa bahwa gaya ini terlalu biasa, bahwa itu hanyalah pakaian santai sehari-hari, pakaian yang dikenakan di rumah, tetapi justru inilah pakaian yang terlihat sopan dan pantas. Kaus, sweatshirt, dan celana olahraga adalah gaya pakaian santai yang paling umum sekarang ini. Mengapa kita memilih gaya ini? Aku mengamati bahwa mungkin setidaknya sudah beberapa dekade sejak gaya pakaian santai ini pertama kali muncul. Kita memilih gaya ini untuk program kita sekarang dengan pertimbangan fakta bahwa bahkan dalam beberapa dekade lagi, gaya ini tidak akan ketinggalan zaman atau kuno. Selain itu, gaya ini cocok untuk orang-orang dari semua kelompok usia dan semua kelas sosial; entah orang biasa atau masyarakat kelas atas, mereka semua mengenakan pakaian semacam itu di rumah dalam kehidupan mereka sehari-hari. Terlebih lagi, pakaian ini longgar dan nyaman untuk menari. Jadi, kita akhirnya menentukan gaya pakaian ini sebagai kostum panggung. Entah orang yang mengenakannya di panggung menyukainya atau tidak, gaya ini cocok untuk panggung; artinya, baik penonton maupun pemakainya tidak dapat menemukan kesalahan apa pun pada pakaian semacam itu. Pemakainya mungkin berkata, "Pakaian yang Engkau pilihkan untuk kami ini terlalu norak; aku sama sekali tidak akan pernah mengenakan pakaian semacam itu dalam kehidupanku sehari-hari." Kujawab bahwa Aku tidak mencampuri apa yang kaukenakan dalam kehidupanmu sehari-hari. Apa yang kaukenakan dan apa yang kausukai merepresentasikan siapa dirimu; hal-hal itu merepresentasikan kemanusiaan dan esensimu. Jika engkau tidak menyukai pakaian yang sederhana, enak dilihat, sopan dan pantas, melainkan menyukai pakaian yang aneh, maka engkau cukup tidak biasa. Jika engkau suka memamerkan dada dan punggungmu, menggerai rambutmu, dan mengenakan kacamata hitam besar, selalu bertingkah seperti selebritas, maka Kukatakan bahwa engkau bukanlah anggota rumah Tuhan. Engkau tidak suka bersikap bermartabat dan berintegritas; setidaknya, engkau tidak selaras dengan-Ku. Bermartabat dan berintegritas, serta enak dipandang dan sepatutnya: Ini adalah prinsip untuk memilih gaya pakaian. Lalu bagaimana seharusnya memilih warna pakaian? Ada orang-orang yang berkata, "Putih melambangkan kekudusan, hijau melambangkan kehidupan, merah melambangkan perayaan, dan kuning melambangkan persahabatan, jadi kita seharusnya memilih warna-warna ini saja." Kukatakan ini murni omong kosong; warna tidak melambangkan apa pun. Lalu apa prinsip dalam memilih warna pakaian? Sangat sederhana; hanya ada satu prinsip: Pakaian itu harus terlihat bersih di kamera. Secara khusus, ada warna yang sangat pekat dan cukup cerah, dan orang mungkin jarang mengenakannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, tetapi kita memilih warna-warna ini untuk efek panggung dan efek visual yang diberikannya. Di satu sisi, warna-warna ini relatif sangat pekat dan cerah, jadi efek panggung yang diberikannya bagus. Di sisi lain, sebagian besar warna ini tidak terlalu aneh; tidak ada yang kusam, dan tidak ada yang membuat orang merasa jijik, jadi video yang diproduksi dengan cara ini memiliki efek yang bagus.

Apa yang baru saja Kupersekutukan adalah prinsip-prinsip untuk memilih kostum program tarian. Aspek mana saja yang telah engkau semua pahami dengan jelas? Katakan kepada-Ku, apakah prinsip-prinsip yang telah Kupertimbangkan ini sesuai? (Ya.) Ini terutama berkisar pada prinsip-prinsip dalam bersaksi tentang Tuhan, tidak membawa penghinaan terhadap Tuhan, dan mencapai hasil terbaik, bukan? (Ya.) Adakah aspek dari hal ini yang menyimpang atau ekstrem? (Tidak.) Adakah unsur berpaut pada cara-cara lama? (Tidak.) Sama sekali tidak menyimpang ataupun berpaut pada cara-cara lama. Jadi, apakah prinsip kita untuk memilih kostum ini mengikuti tradisi, atau mengikuti modernitas? (Prinsip ini tidak mengikuti tradisi maupun modernitas; asalkan program yang kita produksi dapat mencapai hasil bersaksi tentang Tuhan, itulah yang terbaik.) Engkau semua akhirnya mengerti; tujuan program-program ini adalah untuk bersaksi tentang Tuhan, dan tidak ada tujuan lain. Bersaksi tentang Tuhan mengharuskan orang untuk berpikir bahwa mereka tidak boleh membawa penghinaan terhadap Tuhan atau membuat rumah Tuhan terlihat buruk. Tentu saja, kita juga harus berpikir bahwa bahan dan gaya kostum harus nyaman dipakai. Artinya, setiap orang bermartabat dan berintegritas yang melihatmu mengenakan pakaian ini akan menganggapnya dapat diterima, engkau terlihat seperti orang yang percaya kepada Tuhan, dan engkau mampu merepresentasikan umat Tuhan, bukannya tampil sebagai orang tidak percaya, atau bintang film atau penyanyi, dan dalam sekilas pandang, orang dapat mengetahui bahwa engkau adalah orang yang bermartabat dan berintegritas. Dinilai dari hal ini, menurutmu, apakah sudut pandang-Ku dalam memperlakukan berbagai hal dan prinsip-prinsip yang Kuikuti di dalam kemanusiaan normal-Ku sama dengan sudut pandang dan prinsip-prinsipmu? (Tidak.) Itu sama sekali tidak sama. Jadi, katakan kepada-Ku, apakah prinsip-prinsip yang Kuikuti ini tinggi dan agung? Apakah prinsip-prinsip ini luar biasa? Semua ini sama sekali tidak tinggi dan agung. Semua ini sangat normal. Prinsip-prinsip yang Kuadopsi dan hasil yang ingin Kucapai dalam bertindak semuanya sangat nyata, dan Aku tidak pernah pamer. Jika kita mengikuti caramu dalam memandang berbagai hal, dalam memilih kostum untuk program, kita akan menjadi tradisional dan berpaut pada cara-cara lama, atau mengikuti tren-tren duniawi. Ada orang-orang yang berkata, "Riasan mata bergaya smokey, bulu mata palsu, anting hidung, dan anting besar sedang populer di dunia. Kita juga harus mendandani saudara-saudari agar menjadi tampan dan cantik. Pakaian mereka bukan saja harus memukau, tetapi riasan mereka juga harus menggoda. Mereka tidak boleh kalah dari para penyanyi dan bintang film dunia, dan harus terlihat lebih berkelas serta lebih mewah. Orang yang percaya kepada Tuhan harus lebih mulia daripada mereka, jadi inilah arah yang harus kita ambil saat mendandani para penampil." Lalu mengapa para penampil ini pada akhirnya tidak tampil di panggung dengan satu pun barang memukau yang menempel pada mereka? Karena Aku di sini memeriksa semuanya. Baik mereka modernis maupun tradisionalis, semuanya telah dikesampingkan, mereka tidak memiliki kesempatan apa pun untuk pamer "keterampilan". Mereka telah dikendalikan oleh-Ku. Jika engkau semua yang melakukan pemeriksaan, akankah engkau semua memberi orang-orang ini kesempatan untuk pamer "keterampilan"? (Tidak.) Mengapa tidak? (Jika diberi kesempatan, mereka akan keluar jalur. Mereka tidak akan mengikuti prinsip-prinsip yang dituntut oleh rumah Tuhan.) Jika diberi kesempatan, mereka akan mendandani para penampil seperti setan. Mereka akan memproduksi program hiburan seperti yang populer di tengah masyarakat, mengubah program yang dimaksudkan untuk bersaksi tentang Tuhan menjadi program hiburan yang menyenangkan publik, dan membuat orang-orang yang tampil di dalamnya terlihat seperti setan dan hantu. Dengan demikian, apakah program tersebut masih layak ditonton? Program tersebut akan berubah naturnya; program tersebut tidak akan bersaksi tentang Tuhan, melainkan membawa penghinaan terhadap Tuhan, dan program tersebut pantas dikutuk serta dilarang. Ini bukan melaksanakan tugas, melainkan melakukan kejahatan. Apakah engkau mengerti? (Ya.) Engkau semua bahkan tidak memahami hal sekecil itu. Sekarang setelah Aku menjelaskannya dengan lebih gamblang dan sederhana, ada orang yang tiba-tiba menyadari: "Jadi begitu rupanya. Sekarang aku tahu mengapa rumah Tuhan memilih kostum semacam itu untuk program tariannya." Di zaman apa pun, apa prinsip yang harus orang ikuti? Yaitu menjadikan firman Tuhan sebagai prinsip dalam segala hal. Dalam melakukan pekerjaan apa pun atau menangani hal apa pun, tujuan pertamamu haruslah untuk membangun orang, dan tujuan keduamu haruslah untuk bersaksi tentang pekerjaan Tuhan. Inilah kedua prinsipnya. Jadi, dalam segala hal, inilah kedua prinsip yang harus orang patuhi. Dengan demikian, kenormalan dan kenyataan yang dimiliki dalam kemanusiaan normal dari Tuhan yang berinkarnasi juga semata-mata terletak pada mengikuti prinsip-prinsip ini. Prinsip-prinsip ini tidak berubah; Tuhan yang berinkarnasi tidak mengikuti tradisi maupun modernitas. Prinsip yang Kupegang teguh dalam kemanusiaan normal-Ku adalah berperilaku dan bertindak di dalam lingkup hati nurani dan nalar. Jadi, prinsip apa yang Kuikuti dalam melakukan pekerjaan rumah Tuhan? Prinsipnya adalah memberi manfaat bagi orang-orang dalam segala hal yang Kulakukan: melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi mereka dan membangun mereka. Selain itu, prinsipnya adalah melakukan pekerjaan bersaksi tentang Tuhan, mengikuti prinsip-prinsip bersaksi tentang Tuhan dan menyebarluaskan firman Tuhan. Apakah menurutmu memang benar demikian? (Ya.) Dengan bersekutu seperti ini, apakah engkau semua lebih memahami-Ku sekarang? (Ya.) Jika Aku tidak membicarakan hal-hal ini secara terperinci, engkau semua tidak akan memahaminya dengan jelas. Engkau semua bahkan tidak dapat memahami hal yang begitu sederhana. Sebenarnya, hal ini sama sekali tidak mendalam; semua ini sangat nyata dan biasa. Seberapa biasakah hal ini? Hal ini sangat selaras dengan rasionalitas kemanusiaan yang normal. Artinya, jika engkau memiliki rasionalitas kemanusiaan yang normal, engkau dapat memahaminya, tetapi jika tidak, akan sangat sulit bagimu untuk memahaminya. Aku harus menerangkannya dengan jelas dan menyeluruh, menyampaikannya dengan gamblang dan menjelaskannya secara terperinci kepadamu, barulah engkau dapat memahami apa yang sedang terjadi. Ini adalah hal yang sangat sederhana, bahkan tidak mencapai tingkat prinsip kebenaran, tetapi engkau semua masih tidak dapat menerangkannya dengan jelas. Apa yang sedang terjadi di sini? Apakah hal ini mendalam dan tidak terselami? (Tidak.) Lalu, mengapa engkau semua tidak dapat menerangkannya dengan jelas? Secara garis besar, itu karena engkau semua tidak memahami kebenaran. Secara lebih terperinci, itu karena kemanusiaan normalmu dan rasionalitasmu tidak memiliki hal-hal tertentu dan memiliki kekurangan. Mengenai hal bermartabat dan berintegritas, engkau semua berpaut pada tradisi dan cara-cara lama. Mengenai kemanusiaan yang normal, engkau semua mengira bahwa memiliki kemanusiaan yang normal berarti menjadi orang yang polos, seperti orang bodoh. Bukankah ini menunjukkan bahwa kualitasmu benar-benar buruk dan bahwa engkau sama sekali tidak memiliki kemampuan memahami? (Ya.) Itulah tepatnya masalahnya. Baiklah, cukup sekian mengenai hal itu.

Terakhir kali, kita mempersekutukan topik bahwa Tuhan yang berinkarnasi "tidak bersiasat" dalam subjek "tidak menyamakan Tuhan yang berinkarnasi dengan umat manusia yang rusak". Hari ini, kita akan mempersekutukan topik "tidak menyerang orang lain". Tidak menyerang orang lain adalah bagian dari esensi kemanusiaan normal Tuhan yang berinkarnasi dan dari apa yang dihidupi oleh kemanusiaan normal itu, dan merupakan salah satu prinsip yang diikuti oleh hati nurani serta nalar kemanusiaan yang normal ketika memperlakukan orang lain. Artinya, paling tidak, Tuhan yang berinkarnasi dapat bergaul secara damai denganmu. Orang macam apa pun dirimu, entah engkau adalah orang dengan kualitas yang lebih baik atau lebih buruk, atau orang dengan kemanusiaan yang lebih baik atau lebih buruk, Tuhan yang berinkarnasi dapat memperlakukanmu dengan benar dan bergaul rukun denganmu. Jika Kudapati bahwa engkau memiliki kekurangan atau kelemahan, atau bahkan memiliki suatu esensi yang buruk dalam kemanusiaanmu, atau engkau pernah melakukan suatu perbuatan jahat, Aku akan bersekutu denganmu secara terus terang jika ada kesempatan atau jika kondisinya memungkinkan. Jika engkau dapat menerimanya, Aku akan secara terus terang mengungkapkan masalahmu dan menunjukkan kepadamu jalan untuk menyelesaikannya. Namun, jika engkau tidak dapat menerimanya, pada waktu yang tepat, Aku mungkin akan memanfaatkan masalah di kehidupan nyata yang telah Kutemukan untuk mengingatkanmu, menyingkapkanmu, dan memperingatkanmu, memberitahumu apa masalahmu; entah itu masalah kemanusiaanmu, kualitasmu, atau watak rusakmu. Berdasarkan masalah yang kaumiliki, Aku akan mengingatkan dan menegurmu, memberitahumu kekuranganmu atau di mana letak masalahmu, kemudian Aku akan memberitahumu apa esensi dari masalah semacam ini dan bagaimana sikap Tuhan terhadap orang-orang yang memiliki masalah ini. Jika engkau bersedia menerimanya dan mampu memberontak terhadap daging serta menerapkan kebenaran, Aku akan memberitahumu jalan penerapannya, dan cara memperlakukan serta menyelesaikan masalah semacam ini. Aku tidak akan memanfaatkan masalah dan kelemahanmu sebagai alat untuk melawanmu atau sebagai titik lemah untuk dieksploitasi, kemudian terkadang mengejek atau mentertawakanmu atau melontarkan komentar sinis tentangnya. Aku tidak akan melakukan hal itu; Aku akan memperlakukanmu dan masalah yang sedang kauhadapi dengan adil dan objektif. Jika Aku memberimu beberapa pengingat tetapi engkau tidak menyadarinya dan tidak merasa bahwa apa yang telah Kukatakan ada kaitannya denganmu, atau jika Aku memberitahumu bahwa natur masalahmu serius, tetapi engkau tidak menerimanya, dan engkau menolaknya, menentang, dan bahkan mencari-cari alasan untuk berdebat serta membenarkan dirimu sendiri, maka Aku akan menilai berbagai hal sesuai dengan situasinya. Jika pekerjaan yang kaulakukan sangat penting dan masalahmu telah memengaruhi pekerjaan gereja, Aku akan mempertimbangkan apakah engkau cocok untuk tugas ini. Namun, jika engkau hanyalah orang percaya biasa, dan tugas yang kaulaksanakan serta perwujudanmu tidak berdampak banyak pada pekerjaan gereja atau umat pilihan Tuhan, dan itu hanyalah masalah pribadimu, maka Aku akan memberimu pengingat dan bantuan karena niat baik. Jika engkau tidak menganggapnya serius, Aku tidak akan menyimpan dendam terhadapmu, dan tentu saja, Aku tidak akan mencoba segala cara untuk memaksamu menerimanya. Aku akan memperlakukan hal ini dengan sangat rasional, dan Aku akan terus memberimu pengingat serta bantuan karena niat baik. Jika Aku dapat melihat bahwa esensi masalahmu akan membawa akibat negatif bagi dirimu sendiri atau orang lain, maka, atas dorongan hati nurani-Ku, Aku akan memberimu pengingat dan bantuan karena niat baik, alih-alih hanya melihatmu mempermalukan dirimu sendiri. Aku juga tidak akan dengan sembarangan menggolongkanmu, dengan berkata, "Engkau tidak ada harapan, Tuhan membencimu, dan engkau adalah orang yang akan binasa," apalagi membuka mulut-Ku dan mengutukmu begitu saja, dengan berkata, "Engkau setan, engkau anak cucu Iblis, engkaulah yang menentang Tuhan." Aku sama sekali tidak akan melakukan hal ini. Karena identitas-Ku istimewa, Aku sering mengendalikan diri-Ku dengan sangat rasional: Cara-Ku memperlakukan seseorang dan cara-Ku berbicara kepadanya harus bergantung pada siapa dia; ini adalah satu aspek. Selain itu, Aku tidak boleh dengan sembarangan menggolongkan siapa pun. Dalam aspek lainnya, melalui nada suara-Ku, pilihan kata, atau cara penyampaian-Ku, Aku harus membuat orang itu merasa bahwa apa yang Kukatakan dan Kulakukan adalah karena niat baik, dan bebas dari niat jahat. Mengenai motif-Ku, Aku dengan tulus berusaha membantumu; Aku tidak ingin melihatmu mengambil jalan memutar, Aku juga tidak ingin melihatmu menjadi lemah, ragu-ragu, atau bahkan kehilangan arah atau tersesat saat engkau menghadapi berbagai hal. Sebaliknya, Kuharap setelah Aku menyampaikan persekutuan dan membantumu, engkau dapat memandang dirimu sendiri dengan benar, tidak membiarkan dirimu jatuh ke dalam kenegatifan, memiliki pemahaman yang tepat tentang watak-watak rusakmu dan masalah yang kaumiliki, dan memperlakukan dirimu sendiri dengan benar, lalu mencari jalan penerapan dari firman Tuhan, dan mengatasi watak-watak rusakmu serta menyelesaikan masalahmu sedikit demi sedikit sesuai dengan firman Tuhan, sembari juga bergaul secara rukun dengan orang lain dan membantu mereka. Artinya, Aku berupaya keras untuk memastikan bahwa apa yang Kukatakan dan Kulakukan ketika berinteraksi dengan orang lain dapat memungkinkan mereka untuk memahami maksud Tuhan, mengetahui prinsip apa yang Tuhan tuntut dari manusia, apa sikap dan sudut pandang Tuhan terhadap berbagai masalah yang orang miliki, bagaimana orang seharusnya menangani masalah-masalah ini agar dapat memenuhi tuntutan Tuhan dan memuaskan Tuhan, dan bagaimana mereka seharusnya mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah mereka. Tujuan-Ku adalah membantu orang menyikapi dan menyelesaikan masalah-masalah ini dengan benar ketika berurusan dengan segala jenis orang, peristiwa, dan hal-hal, dan ketika watak rusak mereka disingkapkan, sehingga hasil akhirnya adalah mereka tunduk pada kebenaran dan kepada Tuhan. Tentu saja, berdasarkan interaksi-Ku dengan berbagai macam orang yang telah berhubungan dengan-Ku selama bertahun-tahun bekerja dan berfirman, Aku telah menyadari satu fakta: Setenang apa pun Aku berbicara dan bercakap-cakap dengan orang-orang, sebesar apa pun niat baik yang Kumiliki atau mentalitas seperti apa pun yang Kumiliki dalam keinginan untuk membantu siapa pun, sangat sedikit orang yang dapat merasakan atau memahami apa yang Kukatakan dan mengapa Aku mengatakannya, kemudian melalui firman yang Kuucapkan serta isi persekutuan-Ku dengan mereka, membuat kemajuan atau memperoleh bantuan yang nyata dan praktis dalam kehidupan nyata mereka. Namun, sebanyak apa pun yang pada akhirnya orang tuai dan peroleh melalui komunikasi dan interaksi dengan-Ku, prinsip-Ku dalam berinteraksi dengan orang-orang tidak berubah. Ada orang-orang yang berkata, "Lalu mengapa Engkau tidak mengubah metode-Mu?" Katakan kepada-Ku, mengapa Aku tidak mengubah metode-Ku? Haruskah Aku mengubah metode-Ku? Ketika berbicara kepada orang-orang, haruskah Aku berbicara dari posisi yang tinggi, seolah-olah sedang menyerukan Sepuluh Perintah Tuhan kepada Musa? Haruskah suara-Ku seperti guntur di langit, atau haruskah Aku menggunakan nada suara tertentu, sehingga orang-orang akan takut, mudah mengingat apa yang Kukatakan, dan bersedia menerapkannya serta mampu tunduk? Atau ketika berkomunikasi dengan orang-orang, jika Aku selalu berbicara kepada mereka dengan nada mengutuk dan menggolongkan mereka, apakah dengan cara demikian, orang akan memetik pelajaran? Apakah dengan cara demikian, mereka akan mampu menerimanya? (Tidak.) Tahukah engkau semua mengapa tidak? Dahulu ketika Yahweh mengeluarkan Sepuluh Perintah Tuhan melalui Musa, orang-orang Israel mendengar suara guntur di langit dan melihat kilat. Apakah ini menghentikan mereka dari memberontak terhadap Yahweh dan menghakimi-Nya? Apa pun metode bicaramu, isi perkataanmu, atau motifmu dalam berbicara, bagi penerimanya, jika mereka secara subjektif memiliki kesediaan dan kebutuhan untuk menerima kebenaran serta mencintai hal-hal positif—jika mereka memiliki kebutuhan ini di dalam hati mereka—maka apa pun metode bicaramu, mereka akan mampu menerimanya dan akan mengingatnya dengan mudah. Namun, jika mereka tidak memiliki kebutuhan ini di dalam hati mereka, maka sekalipun mereka tahu apa itu hal positif dan apa itu hal negatif, mereka tetap tidak akan menerima apa pun yang kaukatakan ataupun menganggapnya serius, betapa pun benarnya hal itu, atau betapa pun masuk akalnya sumber dan motif hal itu. Oleh karena itu, dari perspektif-Ku, prinsip-Ku dalam melakukan hal-hal ini adalah bahwa Aku bersekutu secara normal dengan siapa pun. Mengenai apa yang dapat orang peroleh dan tuai dari-Ku, dan apakah mereka dapat memperoleh kebenaran, kuncinya terletak pada apakah mereka mencintai kebenaran, juga pada apakah mereka memiliki kebutuhan kemanusiaan yang normal. Jika mereka pada dasarnya mencintai hal-hal positif, maka ketika Aku berinteraksi dan bercakap-cakap dengan mereka secara normal seperti ini, mereka akan mampu merenungkan apa yang Kukatakan, apa prinsip di balik perkataan ini, dan apa yang Kuperintahkan untuk mereka lakukan; mereka akan merenungkan hal-hal ini setelahnya, mengingatnya, kemudian menerapkannya sesuai dengan perkataan ini. Jika orang ini tidak memiliki kebutuhan akan hal-hal positif dalam kemanusiaannya, maka apa pun yang Kukatakan, itu tidak ada gunanya. Sekalipun Aku memangkas mereka, mendisiplinkan mereka, atau bahkan mendidik mereka, itu tidak menghasilkan apa pun. Setelah dididik, mereka mungkin bertingkah laku baik dan taat secara lahiriah, tetapi karena mereka tidak memiliki kebutuhan akan hal-hal positif di dalam hati mereka, begitu segala sesuatunya berlalu, mereka akan segera kembali ke keadaan mereka sebelumnya, tanpa ada jejak perkataan positif, hal-hal positif, atau prinsip-prinsip kebenaran di dalam hati mereka. Oleh karena itu, bagi orang-orang seperti ini, sebanyak apa pun yang kaukatakan, engkau tidak dapat mengubah mereka agar mereka mengembangkan kebutuhan kemanusiaan yang normal. Ini adalah salah satu aspeknya. Selain itu, tidak menyerang orang lain pada dasarnya adalah salah satu prinsip-Ku dalam cara-Ku memperlakukan engkau semua. Orang seperti apa pun dirimu, entah engkau mengejar kebenaran atau tidak, sekalipun Aku mengungkapkan masalah tertentu yang kaumiliki, itu semata-mata untuk menelaah esensi masalah ini agar engkau dapat memahami dan mengetahuinya secara menyeluruh, membuat kemajuan selama proses pelaksanaan tugasmu di masa depan, berhenti melakukan kesalahan yang sama, dan berhenti mengganggu atau merusak pekerjaan gereja; itu untuk membantumu, bukan untuk membuatmu mendapat masalah atau untuk mencari sesuatu yang dapat digunakan melawanmu. Jadi, sekalipun Aku mengungkit hal-hal yang terjadi di masa lalu, itu bukan untuk meredam semangatmu atau untuk menyakitimu, melainkan untuk memungkinkanmu mengetahui esensi masalahmu, mencapai pemahaman yang menyeluruh tentang aspek kebenaran tertentu, memiliki pemahaman tentang dirimu sendiri, mengetahui bagaimana bertindak sesuai dengan maksud Tuhan, dan pada akhirnya menerapkannya secara akurat sesuai dengan prinsip-prinsip firman Tuhan. Apakah engkau semua memiliki pemahaman tentang fakta bahwa Tuhan yang berinkarnasi tidak pernah menyerang orang lain? (Kami memiliki sedikit pemahaman.)

Selain tidak menyerang orang lain, Tuhan yang berinkarnasi juga menyemangati orang-orang dari waktu ke waktu. Ada orang-orang yang rapuh dan memiliki tingkat pertumbuhan yang belum dewasa; mereka tidak begitu kuat dalam hal kemanusiaan, mereka kurang tekun dalam melakukan berbagai hal, atau mereka sering dikekang oleh segala macam hal, tidak tahu bagaimana mencari kebenaran, dan tidak mampu melaksanakan tugas mereka secara normal. Dalam situasi seperti itu, Aku akan memberi mereka sedikit semangat agar mereka dapat melihat jalan di depan, agar mereka tidak lagi mendapati diri mereka terjebak di dalam suatu hal dan dikekang olehnya. Ketika engkau mendengar kata-kata penyemangat ini, engkau mungkin merasa bahwa apa yang Kubicarakan berada di luar jangkauanmu, tetapi tujuan-Ku adalah agar engkau melepaskan beban yang ditimbulkan oleh pemikiran dan gagasanmu, tidak lagi dikekang oleh hal-hal tersebut dan meninggalkannya, lalu mengerahkan segenap kekuatanmu ke dalam tugasmu untuk memenuhi maksud Tuhan. Ada orang-orang yang pernah menempuh jalan kegagalan sebelumnya, atau melakukan hal-hal yang melanggar prinsip-prinsip rumah Tuhan, atau pernah memiliki beberapa perilaku memberontak yang nyata, dan ada orang-orang yang bahkan pernah menyebabkan kekacauan dan gangguan dengan tindakan mereka, membuat pekerjaan gereja mengalami kerugian. Jika Aku sesekali menyebutkan hal-hal ini dalam persekutuan-Ku, tujuan-Ku bukanlah untuk meredam semangatmu, Aku juga tidak sedang menyimpan dendam; sebaliknya, tujuan-Ku adalah menggunakan fakta-fakta dari kasusmu sebagai contoh untuk mengingatkan orang lain agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Tujuan-Ku adalah untuk mempersekutukan suatu aspek kebenaran dengan jelas, untuk membuat lebih banyak orang melihat dari hal ini bahwa jalan yang kautempuh itu salah dan dalam hal apa jalan tersebut salah, sehingga mereka dapat memetik pelajaran darinya, dan kemudian untuk memperingatkan lebih banyak orang agar tidak menempuh jalan yang sama, serta mengingatkan mereka prinsip apa yang harus mereka patuhi dalam melakukan berbagai hal. Terutama ketika mempersekutukan dan mengungkapkan berbagai watak rusak orang, contoh-contoh yang Kuberikan atau keadaan spesifik yang Kupersekutukan mungkin berkaitan dengan banyak orang, atau mungkin berkaitan dengan beberapa orang dan hal spesifik. Tujuan mempersekutukan hal-hal ini bukanlah untuk mencari kesempatan menyingkapkanmu dan mempermalukanmu; mengenai fakta yang Kuungkit atau keadaan yang Kuungkapkan, hal-hal itu hanya berkaitan dengan topik dan aspek kebenaran yang sedang kita persekutukan. Mungkin saja Aku tidak mengenalmu secara pribadi, dan Aku tidak tahu bahwa hal semacam itu pernah terjadi padamu, tetapi contoh yang Kuberikan atau keadaan yang Kuungkapkan kebetulan pernah terjadi dalam dirimu, dan engkau mencocokkan dirimu dengan hal tersebut. Ketika ada orang yang mencocokkan dirinya dengan hal-hal semacam itu, mereka berpikir, "Apakah ada yang mengadukanku? Bagaimana Engkau bisa tahu bahwa hal ini terjadi padaku, dan bahwa aku memiliki masalah ini serta berada dalam keadaan ini?" Kukatakan bahwa Aku benar-benar tidak tahu bahwa hal semacam ini terjadi pada orang tertentu atau bahwa mereka berada dalam keadaan semacam ini, tetapi kebenaran yang Kupersekutukan berkaitan dengan—atau masalah yang Kuungkapkan mencakup—keadaan ini, masalah semacam ini, atau jenis contoh spesifik ini. Karena keadaan semacam ini dan jenis contoh spesifik ini bersifat representatif, dan cukup dapat membuat orang mengenal jenis orang, peristiwa, dan hal-hal tertentu, sekaligus mengenal esensi jenis orang tertentu, maka saat memberikan contoh, mau tak mau Aku akan mengutip beberapa insiden spesifik yang telah terjadi di gereja atau membahas keadaan spesifik tertentu. Dengan demikian, mau tak mau akan ada orang, peristiwa, dan hal-hal yang terkait. Namun, Aku tidak memiliki niat sedikit pun untuk menyerang orang-orang tertentu; tujuan-Ku hanyalah untuk mengingatkan dan menasihati orang-orang, memungkinkan sebagian besar umat pilihan Tuhan untuk mendapatkan manfaat. Ketika Aku memberikan beberapa contoh saat menyampaikan khotbah dan bersekutu, itu sama sekali tidak ditujukan kepada orang tertentu; itu semata-mata untuk mempersekutukan kebenaran dan mengungkapkan esensi masalah tertentu, agar engkau semua dapat mengerti lebih jelas dan lebih memahami esensi masalah tersebut. Melalui pemahaman akan esensi masalahnya, baik engkau menyadari bahwa engkau sendiri memiliki masalah ini, maupun engkau mengetahui yang sebenarnya tentang orang, peristiwa, dan hal-hal yang terkait, engkau mampu menerapkan sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran yang relevan, menggunakannya untuk menyelesaikan masalah di dalam dirimu sendiri, dan mencapai jalan masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Masalah macam apa pun yang Kupersekutukan, entah itu masalah yang ada di dalam dirimu ataupun masalah yang ada di dalam diri orang lain, Aku melakukannya hanya untuk mempersekutukan kebenaran, dan untuk membantumu lebih memahami esensi serta kenyataan dari jenis masalah tertentu; itu tidak ditujukan pada individu spesifik mana pun atau jenis orang spesifik mana pun. Tentu saja, ada kemungkinan juga bahwa pola dasar untuk contoh yang Kuberikan saat mempersekutukan suatu masalah adalah sesuatu yang terjadi padamu, dan Aku menggunakan hal ini untuk memberikan contoh. Namun, dalam memberikan contoh ini, Aku tidak sedang mengungkapkan suatu masalah yang hanya merupakan masalahmu seorang; sebaliknya, masalahmu mewakili masalah-masalah yang ditemukan dalam diri semua orang, dalam diri seluruh umat manusia. Tentu saja, tujuan mengungkapkan masalah tersebut hanyalah untuk menyelesaikannya, bukan untuk menyerangmu. Jadi, ketika menghadapi situasi semacam ini, engkau harus menyikapinya dengan benar; ini adalah pekerjaan-Ku. Di satu sisi, pekerjaan-Ku adalah untuk membekalimu dengan semua kebenaran, semua aspek kebenaran, dan di sisi lain, untuk menyingkapkan masalah-masalah di dalam dirimu, berbagai keadaan umat manusia yang rusak, dan semua watak rusak di dalam diri mereka, serta masalah-masalah yang berkaitan dengan watak yang rusak. Ini adalah pekerjaan-Ku. Karena selain menyediakan kebenaran, pekerjaan-Ku juga mencakup mengungkapkan kenyataan dari kerusakan umat manusia yang rusak, maka terkait pekerjaan ini, motif-Ku baik. Aku ingin membantu dan mendukungmu, mengingatkanmu dan membekalimu, sehingga engkau semua dapat melihat dengan jelas esensi masalah tersebut dan menjadi mampu memberontak terhadap watak-watak rusakmu, sehingga engkau semua tidak lagi hidup dalam watak-watak rusakmu, melainkan mampu berbalik, melepaskan kejahatan di tanganmu, bertobat kepada Tuhan, dan menerapkan sesuai dengan prinsip-prinsip yang dituntut oleh Tuhan, mencapai ketundukan pada kebenaran dan ketundukan kepada Tuhan.

Apa pun masalahmu yang Kusingkapkan, dan apa pun metode atau nada suara yang Kugunakan ketika menyingkapkan masalah-masalah ini, Aku melakukannya berdasarkan prinsip dan dengan motif untuk membantumu serta mendukungmu untuk menempuh jalan keselamatan. Aku tidak memendam niat jahat apa pun, ini sepenuhnya karena niat baik. Sekalipun perkataan yang terkadang Kugunakan ketika menyingkapkan esensi masalah dalam diri individu atau jenis orang tertentu tidaklah sangat halus, tujuan-Ku bukanlah untuk menyerang atau menekan siapa pun, melainkan untuk menelaah esensi masalahnya agar orang dapat memiliki kemampuan mengenalinya dan membuang watak rusak mereka. Di dalam hal ini, tidak ada siasat, tidak ada niat untuk menyerangmu atau menekanmu, dan tidak ada niat untuk mengumbar aibmu atau mempermalukanmu. Sekalipun, ketika mempersekutukan beberapa masalah, Aku menggolongkan perilaku atau watak dan esensi jenis orang tertentu, penggolongan itu sepenuhnya sejalan dengan fakta-fakta objektif. Sebagai contoh, jika engkau congkak dan merasa diri benar, selalu bertindak sewenang-wenang, dan telah melakukan hal-hal yang mengacaukan serta mengganggu, dan Aku berkata kepadamu, "Jika engkau terus melakukannya dan menolak untuk bertobat apa pun yang terjadi, maka inilah esensimu, dan sikap Tuhan terhadapmu adalah mengesampingkanmu atau membenci dan menolakmu," apakah perkataan ini menyerangmu? Tidak. Meskipun hal-hal ini diucapkan dalam konteks tertentu, dan disampaikan dengan cara seperti ini, pembekalan dan bantuan yang Kuberikan kepadamu, serta harapan-Ku terhadapmu, tidak berubah; engkau tetap diberi kesempatan untuk bertobat. Jika engkau merasa menyesal, berbalik, dan berubah, rumah Tuhan akan tetap mempromosikanmu untuk tugas apa pun yang sesuai bagimu; Aku tidak akan pernah menghalanginya. Semua orang melakukan beberapa kesalahan ketika pertama kali mulai percaya kepada Tuhan dan belum memahami kebenaran, tetapi ada orang-orang yang mampu bertobat, dan telah melakukan beberapa hal baik serta melakukan beberapa perbuatan baik. Misalkan saudara-saudari merekomendasikan seseorang seperti itu, dengan berkata, "Orang ini memang telah bertobat dan berbeda dari dirinya yang sebelumnya. Sebelumnya, dia congkak dan tidak bermoral, tidak memiliki keserupaan dengan manusia; dia melakukan beberapa perbuatan jahat, sehingga mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja serta menyebabkan kerugian pada persembahan milik Tuhan, jadi gereja mengeluarkannya. Namun, setelah dikeluarkan, dia merasa sangat menyesal, dan sekarang dia telah bertobat. Dia bahkan berinisiatif mengganti kerugian tersebut, meminta gereja untuk menerimanya kembali, berjanji bahwa dia tidak akan pernah berbuat jahat lagi, dan bersedia menjadi yang terendah di gereja, serta tunduk pada apa pun yang rumah Tuhan minta untuk dia lakukan." Jika orang-orang yang relatif dekat dengannya ingin merekomendasikannya setelah memperoleh pemahaman yang menyeluruh tentangnya, Kukatakan bahwa jika dia benar-benar telah bertobat, dan dia dibutuhkan untuk pekerjaan rumah Tuhan sekarang, dia dapat digunakan kembali; Aku tidak akan menghalanginya. Sekalipun beberapa individu pernah melakukan hal-hal yang tidak terlalu bersahabat terhadap-Ku secara pribadi, jika mereka memenuhi syarat untuk dipromosikan, Aku juga tidak akan menghalanginya; Aku akan memberi mereka kesempatan. Oleh karena itu, baik dalam khotbah maupun dalam kehidupan nyata, dan seperti apa pun lingkungan atau konteksnya, Aku akan memperlakukanmu dengan adil dan benar. Dalam konteks di mana lingkungan memungkinkan, Aku akan membantu engkau semua karena niat baik atau menanyakan bagaimana pelaksanaan tugasmu. Jika dalam lingkungan pekerjaan yang khusus, Aku juga akan melakukan yang terbaik untuk membantu dan mendukungmu, memberimu pembinaan, bimbingan, atau bantuan dalam beberapa pekerjaan profesional. Terkadang yang Kulakukan adalah bertukar pendapat denganmu dan bertukar ide denganmu. Sekalipun Aku terkadang berkata, "Pekerjaan yang telah kaulakukan tidak dapat diterima," Aku hanya mengatakan yang sebenarnya dan berterus terang. Aku bukan mengatakan hal-hal semacam itu untuk menekanmu, melainkan untuk bertukar ide atau bertukar pikiran denganmu. Aku berusaha sebaik mungkin untuk memberimu kesempatan berbicara dan menerapkan kemampuanmu, agar kualitas, bakat, pengetahuan yang telah kaupelajari, akal sehat yang kaumiliki, atau pengalaman yang telah kaukumpulkan dapat dimanfaatkan sepenuhnya. Jika hasilnya tidak bagus, Aku hanya berkata, "Pekerjaan yang telah kaulakukan tidak terlalu bagus. Renungkanlah dan mencarilah lebih banyak, dan lihat apakah engkau dapat melakukannya dengan lebih baik." Aku selalu memberimu dukungan, pembekalan, dan bantuan yang maksimal, agar ketika engkau semua berkomunikasi dan berinteraksi dengan-Ku, engkau semua bisa mendapatkan manfaat, baik dalam kehidupan maupun dalam proses pelaksanaan tugasmu. Inilah prinsip-Ku dalam bekerja, begitu pula dalam kehidupan-Ku sehari-hari. Terkadang, ketika Aku berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang-orang, kami tak terhindarkan akan membicarakan beberapa hal sepele dalam kehidupan sehari-hari, yang berkaitan dengan hal-hal lahiriah seperti kebutuhan pokok, menjaga kesehatan, obat-obatan, dan sebagainya, dan ada orang-orang yang akan menyebutkan beberapa sudut pandang, pepatah, atau pemahaman umum tentang hal-hal sepele dalam kehidupan. Mengenai semua aspek pemahaman umum, Aku hanya mengungkapkan sudut pandang pribadi-Ku. Jika menurutmu apa yang Kukatakan itu benar, engkau dapat menerimanya; jika menurutmu apa yang Kukatakan itu salah, Aku tidak akan menggunakan identitas dan status-Ku untuk menekanmu, dengan berkata kepadamu, "Semua yang Kukatakan ini benar. Seperti apa pun nada suara yang Kugunakan, atau entah engkau menyukai apa yang Kukatakan, mungkinkah Aku mencelakakanmu atau merugikanmu? Engkau harus menerimanya!" Aku tidak akan melakukan hal ini; Aku akan membiarkan segala sesuatunya berjalan sebagaimana mestinya. Sebagai contoh, engkau menaruh terlalu banyak garam dalam masakanmu, dan Kukatakan bahwa terlalu banyak makan garam tidak baik bagi kesehatanmu. Beberapa orang tidak menerima hal ini; mereka merasa jika mereka menggunakan lebih sedikit garam, makanannya akan hambar dan kurang rasa. Mereka bersikeras untuk makan sesuai dengan selera mereka sendiri. Kukatakan engkau bebas melakukan itu, dan Aku tidak akan ikut campur. Meskipun perkataan "terlalu banyak makan garam tidak baik bagi kesehatanmu" tidak mencapai tingkat kebenaran, itu adalah pengetahuan umum dalam kehidupan. Mengenai tubuh jasmani yang Tuhan ciptakan untuk manusia, jumlah garam yang dibutuhkannya setiap hari telah ditetapkan; melebihi jumlah ini akan merusak tubuh seseorang dan menimbulkan akibat buruk. Ada juga orang yang selalu merasa kekurangan nutrisi, sehingga mereka terus-menerus makan makanan berat bergizi tinggi. Pada akhirnya, asupan nutrisi mereka yang berlebihan itu menimbulkan masalah kesehatan, dan mereka harus melakukan penyesuaian. Jumlah nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh jasmani yang Tuhan ciptakan ini berkaitan dengan proporsi biji-bijian, sayuran, buah, dan daging yang Tuhan ciptakan bagi umat manusia. Jika engkau makan sesuai dengan proporsi ini, engkau dapat menjaga kesehatan dasar; jika engkau mengabaikan proporsi ini serta makan sembarangan dan tanpa pertimbangan sesuai preferensimu, engkau akan mengalami masalah kesehatan. Aku memberitahumu fakta-fakta ini, tetapi engkau tidak menerimanya. Menurutmu, "Menyampaikan khotbah dan mempersekutukan kebenaran adalah keahlian-Mu, tetapi Engkau tidak memahami hal-hal dalam kehidupan sehari-hari ini. Aku tidak harus mendengarkan-Mu, karena ini tidak ada kaitannya dengan kebenaran." Kukatakan engkau bisa memilih untuk tidak menerimanya, dan engkau bisa hidup sesuai dengan preferensimu sendiri, tetapi engkau harus tahu bahwa jika engkau tidak dapat menerima perkataan-Ku, cepat atau lambat engkau akan mengalami masalah kesehatan. Engkau akan membayar harga atas pilihanmu. Aku hanya mengungkapkan sudut pandang-Ku; Aku tidak akan menggunakan status-Ku untuk menekanmu. Selain itu, jika engkau tidak menerima sudut pandang-Ku, Aku tidak akan memaksamu, Aku juga tidak akan mengatakan bahwa engkau terlalu bodoh dan tegar tengkuk karena tidak menerima hal-hal positif. Sebenarnya, engkau memang seperti itu, tetapi Aku tidak pernah mengatakannya. Aku tidak akan membesar-besarkan hal sepele dalam kehidupan sehari-hari dan kemudian menceramahi serta mengguruimu. Aku tidak akan melakukan hal itu, karena itu bukanlah tanggung jawab-Ku. Aku juga tidak ingin melakukannya. Aku telah memenuhi tanggung jawab-Ku dengan menyampaikan persekutuan dan khotbah; ini berada dalam lingkup pelayanan-Ku. Mengenai apa yang kaumakan setiap hari, tanganilah sendiri. Apa yang Tuhan ciptakan bagi umat manusia dan dalam jumlah berapa, serta makanan dan produk khas apa yang dihasilkan di setiap musim, caramu menggunakan semua hal ini adalah urusanmu sendiri; engkau dapat mengatur semua itu sendiri. Jika hati nurani dan nalar kemanusiaanmu normal dan sehat, engkau akan menggunakan serta mengatur semua itu secukupnya. Jika nalarmu tidak sehat, engkau akan menggunakan atau mengatur semua itu secara berlebihan, dan engkau sendirilah yang akan menanggung akibat apa pun yang pada akhirnya ditimbulkan pada tubuh jasmanimu. Oleh karena itu, Aku sangat rasional dalam hal ini; Aku hanya memberitahumu sudut pandang-Ku, dan Aku tidak akan memaksamu untuk menerimanya. Terkadang, ketika Aku melihat bahwa engkau semua memiliki beberapa kebiasaan hidup yang buruk, Aku juga tidak akan memaksamu untuk mengubahnya; Aku hanya akan memberikan pengingat sederhana. Jika engkau semua tidak menerimanya atau tidak berubah, Aku tidak akan berbicara lebih banyak lagi. Kebiasaan hidup sebenarnya sangat mudah untuk diperbaiki. Kebiasaan hidup yang salah atau tidak diinginkan harus diperbaiki; ini adalah sikap menerima hal-hal positif. Memiliki sikap dan kesediaan untuk menerima hal-hal positif adalah bagian dari rasionalitas dasar yang seharusnya ada dalam kemanusiaan yang normal. Ada orang-orang yang membiarkan hal-hal positif masuk ke telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Mereka tidak menganggapnya serius, bahkan bersikeras mempertahankan cara menerapkan dan bertindak yang salah. Ada orang-orang yang bahkan berkata, "Aku telah hidup seperti ini selama bertahun-tahun dan tidak ada akibat buruk apa pun." Ini adalah masalah watak. Watak macam apakah ini? Itu adalah watak yang tegar tengkuk dan keras kepala, serta tidak menerima sudut pandang yang benar ataupun hal-hal positif. Kuberitahukan kepadamu, ini menunjukkan watak yang rusak, dan engkau harus mengubahnya serta membuangnya. Cara penerapan yang salah dan sikapmu yang keras kepala itu harus diubah; hanya dengan demikian, engkau dapat memiliki perubahan yang sejati.

Ada orang-orang yang suka menyerang orang lain; ini tidak baik. Jika Aku melihatmu melakukan sesuatu yang salah, Aku akan secara rasional mengungkapkan sudut pandang-Ku dan mengingatkanmu karena niat baik. Inilah cara-Ku dalam bertindak. Selain itu, jika masalah tertentu mengharuskan watak-watak rusakmu untuk disingkapkan, maka Aku akan menyingkapkannya tanpa basa-basi; ini adalah bentuk tanggung jawab terhadap orang-orang. Ketika Aku menyingkapkan masalah orang-orang, Aku menyingkapkan esensi masalah tersebut dan menunjukkan bagaimana keadaannya sebenarnya; Aku tidak menerapkan peraturan atau membesar-besarkan masalah. Aku melakukan ini karena ini berada dalam lingkup pekerjaan-Ku, Aku menyingkapkan apa yang seharusnya disingkapkan, dan Aku tidak mengurangi sepatah kata pun dari apa yang perlu dikatakan. Oleh karena itu, Aku memiliki prinsip dalam melakukan sesuatu. Di satu sisi, dalam kehidupan sehari-hari, Aku menyikapi hal-hal ini berdasarkan prinsip rasionalitas, memungkinkanmu untuk mengetahui apa sudut pandang-Ku. Jika engkau memperhatikan, menganggapnya serius, dan memiliki rasionalitas kemanusiaan yang normal, engkau akan menerima atau menyikapi pemikiran dan pandangan ini dengan benar, tanpa Aku perlu menyampaikan khotbah tentang hal itu. Di sisi lain, dalam pekerjaan, Aku tidak akan menghindari masalahmu, Aku juga tidak akan menahan diri untuk berbicara karena takut mempermalukanmu. Aku akan menyingkapkan masalahmu dan watak rusakmu, agar engkau semua dapat mengenali masalah dalam hal ini dan membuang watak rusakmu. Tujuan-Ku adalah untuk memungkinkanmu menempuh jalan yang benar. Entah engkau memiliki masalah dalam kehidupan atau dalam pekerjaan, jika itu berkaitan dengan watak rusak atau kebenaran, Aku tidak akan menghindari masalah tersebut; Aku akan bersekutu tentang hal itu denganmu secara jelas. Dengan cara apa pun Aku bersekutu atau menyikapi suatu masalah, Aku memiliki metode dan prinsip-Ku sendiri. Ketika tiba waktunya bagi-Ku untuk memenuhi tanggung jawab-Ku, Aku akan memikul tanggung jawab itu. Aku tidak takut mempermalukanmu; Aku akan menyingkapkan masalahmu dan watak rusakmu agar engkau semua dapat mengenalinya. Ini adalah tanggung jawab-Ku. Jika masalahmu tidak berkaitan dengan watak yang rusak atau dengan prinsip-prinsip kebenaran, engkau semua memiliki kebebasan dan hak untuk membuat pilihan serta bertindak sesukamu; Aku tidak akan ikut campur. Oleh karena itu, entah Aku menyingkapkan masalahmu atau tidak, itu tidak berarti menyerangmu, mengekangmu, atau menekanmu. Dalam kehidupan sehari-hari, untuk hal-hal yang tidak berkaitan dengan prinsip, seperti kebutuhan pokok, Aku memberi engkau semua keleluasaan untuk memilih sendiri. Namun, jika itu berkaitan dengan hal prinsip—yaitu, jika itu berkaitan dengan watak yang rusak, atau berkaitan dengan sikapmu terhadap pelaksanaan pekerjaan, pelaksanaan tugas, Tuhan, atau kebenaran—maka Aku harus mempersekutukannya. Engkau lihat, dengan cara apa pun Aku melakukan sesuatu, Aku memikirkannya dengan saksama, bukan? Aku memiliki prinsip. Untuk apa pun yang tidak berkaitan dengan kebenaran, sikapmu terhadap Tuhan atau kebenaran, atau sikapmu terhadap pekerjaan gereja dan pelaksanaan tugasmu, Aku tidak ikut campur; Aku mengurus urusan-Ku sendiri. Terutama dalam hal pilihan pribadi dan preferensi pribadi, Aku tidak pernah ikut campur. Sebagai contoh, ada saudari yang suka membiarkan rambut mereka panjang, mengepangnya, atau menyanggulnya, dan ada saudara yang suka membiarkan rambut mereka pendek atau mencukur kepala mereka; engkau semua memiliki kebebasan untuk melakukannya, dan Aku tidak pernah ikut campur. Ada saudara-saudari yang suka pilih-pilih makanan dan sangat suka memakan jenis makanan tertentu, atau mereka memiliki kebiasaan gaya hidup tertentu yang tidak baik; Aku juga tidak pernah ikut campur dalam hal-hal ini. Jika kebiasaan gaya hidup yang buruk ini memengaruhi kesehatan mereka, pelaksanaan tugas mereka, atau pekerjaan gereja, Aku harus mengingatkan mereka dan membantu mereka, atau meminta saudara-saudari membantu mereka. Namun, ada orang-orang yang tidak terima ketika saudara-saudari membantu mereka, bahkan mengatakan bahwa mereka merasa dikekang dan ditekan; pada akhirnya, mereka diam-diam meninggalkan gereja tanpa memberi tahu siapa pun, dan semua saudara-saudari merasa berkecil hati. Kukatakan, "Salah jika engkau merasa berkecil hati. Kita tidak mencampuri kebebasan orang. Jika mereka ingin pergi, biarkan saja; itu adalah pilihan mereka. Aku sama sekali tidak merasa berkecil hati." Mengapa Aku tidak merasa berkecil hati? Karena Aku merasa bahwa membantu mereka adalah kewajiban-Ku, sesuatu yang sudah seharusnya Kulakukan dalam kemanusiaan-Ku. Bantuan yang Kuberikan kepada mereka bukanlah semacam kebaikan atau amal; hanya saja setelah mendengar tentang situasi mereka, Aku berkewajiban memercayakanmu untuk membantu mereka. Mereka sedang melaksanakan tugas mereka sepenuh waktu di gereja. Jika kebiasaan gaya hidup mereka yang buruk memengaruhi kesehatan mereka dan mereka mulai mengalami masalah kesehatan, bukankah saudara-saudari seharusnya membantu mereka karena kasih? Ini adalah moralitas sosial dasar bagi umat manusia. Namun, jika mereka tidak menerima bantuan semacam ini, dan merasa muak atau tertekan di dalam hatinya, kita tidak akan memaksa mereka, dan kita tidak akan mencampuri kebebasan mereka. Lalu, mengapa ada orang-orang yang merasa berkecil hati ketika orang-orang itu meninggalkan gereja? Engkau merasa berkecil hati karena engkau merasa bahwa memenuhi tanggung jawab dan kewajibanmu terhadap mereka adalah semacam kebaikan kepada mereka. Mereka tidak menghargainya, tidak menerima kebaikan ini, dan tidak melakukan seperti yang kauinginkan, melukai perasaanmu dan harga dirimu. Seperti kata pepatah, mereka menolak niat baikmu mentah-mentah, jadi engkau merasa berkecil hati. Aku sama sekali tidak merasa berkecil hati. Cara-Ku memahami hal ini berbeda dengan caramu. Kukatakan bahwa Aku harus memetik pelajaran dari hal ini dan tidak melakukan hal bodoh semacam ini lagi di masa depan. Setiap orang memiliki aspirasinya masing-masing. Engkau tidak bisa membuat orang tunduk di bawah kendalimu dan tetap mengharapkan mereka merasa bahagia dan menyanyikan pujian untukmu, bukan? Itu sama sekali tak masuk akal. Engkau harus memberi orang kebebasan dan membiarkan mereka memilih dengan bebas. Jika mereka merasa bahwa apa yang kaukatakan itu benar, mereka dapat memilih untuk menerimanya dan menerapkan sesuai dengan perkataan ini; jika mereka merasa bahwa apa yang kaukatakan itu salah, mereka juga dapat memilih untuk tidak menerimanya. Mereka memiliki hak untuk memilih. Engkau tidak seharusnya memaksa mereka untuk menerima niat baikmu. Entah mereka menerimanya atau tidak, itu soal sikap; mereka memiliki kebebasan untuk melakukannya. Paling-paling engkau dapat mempersekutukan masalah yang dimiliki oleh orang-orang seperti mereka, dan engkau dapat mempersekutukan pelajaran yang telah kaupetik dari orang seperti ini serta esensi masalah yang telah kaulihat pada mereka, yang membantumu belajar cara membedakan orang, cara memandang orang, dan cara memperlakukan orang-orang seperti ini sesuai dengan prinsip-prinsip firman Tuhan, dan tidak lagi melakukan hal-hal bodoh. Kalau begitu, di manakah letak kesalahanmu? Siapa pun yang kaubantu, engkau bertindak berdasarkan perasaan, dan bahkan berpikir, "Lihatlah betapa besarnya kasih yang kumiliki, dan betapa penuh kasihnya diriku." Ini bukanlah bertindak sesuai dengan prinsip, melainkan memperlakukan orang berdasarkan kehendak dan preferensimu sendiri; ini adalah bertindak berdasarkan perasaan. Dengan siapa pun Aku berbicara atau berurusan, Aku berbicara dan bertindak berdasarkan prinsip; tidak ada perasaan yang terlibat di dalamnya. Dalam berbicara dan bertindak, Aku bertindak sepenuhnya berdasarkan hati nurani dan niat baik, dan inilah pendekatan yang sudah seharusnya Kuambil terhadap semua orang. Khususnya, terhadap saudara-saudari yang melaksanakan tugas mereka secara normal, tepat seperti inilah Aku harus bertindak. Ini adalah kewajiban dan tanggung jawab-Ku. Asalkan Aku memenuhi tanggung jawab ini, itu sudah cukup. Mereka dapat memilih untuk menerimanya, atau mereka dapat memilih untuk menolaknya; Aku tidak memaksa orang. Jika mereka menerimanya, Aku senang; jika tidak, Aku tidak merasa sedih. Semua yang Kulakukan hanyalah beberapa hal yang sudah seharusnya Kulakukan sesuai dengan prinsip; Aku sekadar memenuhi tanggung jawab-Ku. Apakah engkau mengerti? (Ya.)

Seperti apa pun lingkungannya, ketika berinteraksi dengan orang-orang, Aku dapat memperlakukan semua jenis orang dan menyikapi segala macam hal sesuai dengan prinsip. Sekalipun, dalam kehidupan, Aku memberikan bantuan kepada orang-orang atau mengatakan beberapa hal yang membangun orang, ini juga merupakan bagian dari bertindak sesuai dengan prinsip; ini bukanlah bertindak berdasarkan perasaan. Tentang mempersekutukan kebenaran, seperti menyingkapkan esensi natur orang, menyingkapkan watak rusak orang, dan menyingkapkan berbagai perwujudan kerusakan dan keadaan rusak orang dalam hal-hal tertentu, serta esensi berbagai masalah, Aku juga bertindak sesuai dengan prinsip; Aku tidak bertindak berdasarkan perasaan, juga tidak bertindak dengan kehendak manusia. Ketika orang melakukan sesuatu, mereka selalu bertindak berdasarkan dengan siapa mereka berurusan, dan berdasarkan suasana hati serta preferensi mereka sendiri. Mereka menunjukkan kebaikan kepada orang-orang yang mereka sukai dan yang rukun dengan mereka, dan memberikan beberapa manfaat kepada orang-orang ini, sementara mereka menyerang dan mengucilkan orang-orang yang tidak mereka sukai dan yang tidak rukun dengan mereka; mereka tidak dapat memperlakukan orang dengan adil. Mereka entah bertindak berdasarkan perasaan atau melakukan perbuatan jahat; singkatnya, mereka tidak bertindak sesuai dengan prinsip. Ketika Aku bergaul dengan saudara-saudari di gereja, siapa pun mereka, Aku dapat memperlakukan mereka sesuai dengan prinsip. Demikian pula, ketika berinteraksi dan bergaul dengan orang tidak percaya, Aku juga memiliki prinsip dan batasan. Sekalipun mereka mengucapkan beberapa perkataan yang konfrontatif, atau perkataan yang tidak sopan, tidak santun, atau tidak hormat, Aku tidak akan membalasnya dengan cara yang sama. Jika Aku harus berinteraksi dengan mereka untuk menyelesaikan sesuatu, maka Aku akan berinteraksi dengan mereka; jika Aku tidak perlu menyelesaikan sesuatu, maka Aku akan memilih untuk menghindari dan menolak mereka. Jika seseorang memiliki karakter yang hina dan selalu ingin memanfaatkan orang lain serta menuntut keuntungan, dan sekalipun Kubantu, mereka tetap tidak dapat menyikapinya dengan benar ataupun berubah—yang berarti bahwa kemanusiaan mereka buruk—maka Aku cukup menjauh dari mereka. Singkatnya, baik Aku berinteraksi dengan saudara-saudari maupun dengan orang tidak percaya, Aku dapat bertindak sesuai dengan prinsip; paling tidak, Aku berinteraksi dengan orang-orang sesuai dengan batasan hati nurani dan nalar kemanusiaan. Dapatkah engkau semua mencapai hal ini? (Tidak.) Entah berinteraksi dengan manusia rusak mana pun, mereka selalu melindungi kepentingan mereka sendiri, atau memperlakukan orang berdasarkan perasaan dan preferensi, tanpa prinsip. Jika seorang saudara atau saudari mereka rasa rukun dan memiliki hubungan yang baik dengan mereka, mereka dapat membantu saudara atau saudari itu, menunjukkan kasih kepadanya, memberinya sesuatu, dan berinteraksi secara dekat dengannya. Namun, jika orang ini melakukan sesuatu yang melukai perasaan mereka, mereka berkata, "Aku tidak akan pernah menemuinya lagi, dan aku tidak akan pernah berinteraksi dengannya lagi. Aku benar-benar menyesalinya! Aku begitu baik kepadanya sebelumnya dan sangat banyak membantunya, tetapi dia tetap memperlakukanku seperti ini. Dia adalah orang yang tidak tahu berterima kasih, makhluk celaka yang tidak tahu balas budi!" Mereka tidak dapat bertindak sesuai dengan prinsip untuk memperlakukan orang dengan adil. Ketika mereka bersikap baik kepada siapa pun, mereka melakukannya berdasarkan perasaan, dan jika mereka bersikap buruk kepada siapa pun, itu karena preferensi pribadi mereka; semua yang mereka lakukan hanyalah untuk memuaskan perasaan mereka. Oleh karena itu, jika mereka membantu seseorang dan memberi manfaat kepadanya, tetapi orang tersebut bukan hanya tidak tahu berterima kasih melainkan juga melukai perasaan mereka, mereka akan sangat sedih dan terluka, dan mereka akan mengeluh, merasa bahwa upaya mereka telah sia-sia. Mereka tidak akan bersedia menerima hal itu, dan tidak akan pernah melakukannya lagi. Katakan kepada-Ku, jika Aku menghadapi situasi semacam ini, bagaimana Aku akan menyikapinya? Pertama, engkau tidak boleh menilai hal ini dari perspektif bahwa orang haruslah saling berbuat baik; engkau tidak boleh menilai situasi semacam ini berdasarkan perasaan. Engkau harus membedakan orang-orang seperti ini berdasarkan firman Tuhan dan prinsip-prinsip kebenaran; engkau harus mengenali kemanusiaan mereka dan jalan yang mereka tempuh, serta sikap mereka terhadap Tuhan, terhadap kebenaran, dan terhadap tugas mereka, bukannya mengenali dan memandang mereka berdasarkan perasaan. Memandang seseorang dengan cara ini jauh lebih akurat. Ini bukanlah menilai seseorang atau suatu hal berdasarkan perasaan atau keuntungan dan kerugian pribadimu, melainkan menilai semua itu berdasarkan firman Tuhan dan prinsip-prinsip kebenaran. Memandang seseorang atau suatu hal dengan cara ini akurat dan sesuai dengan prinsip. Ketika engkau memandang orang dan hal-hal dengan cara ini, engkau tidak akan merasa sedih dan terluka karena seseorang yang pernah kaubantu tidak tahu berterima kasih, engkau juga tidak akan merasakan terima kasih yang mendalam terhadap seseorang karena engkau pernah menerima kebaikan darinya; sebaliknya, engkau akan mampu memperlakukan mereka dengan benar sesuai dengan prinsip. Ada pepatah umum berbunyi: "Sedikit kebaikan harus dibalas dengan banyak kebaikan." Orang biasa masih hidup dalam logika pemikiran dan pandangan budaya tradisional semacam itu. Mereka tidak memandang berbagai hal atau orang berdasarkan firman Tuhan atau kebenaran, mereka juga tidak memperlakukan orang sesuai dengan prinsip. Mereka percaya bahwa, dalam hal caramu memperlakukan orang, selain tidak menipu mereka, mencelakai mereka, memukul mereka, mengumpat kepada mereka, atau melakukan hal-hal jahat kepada mereka, engkau juga harus bersikap baik kepada mereka. Terutama, jika seseorang telah menunjukkan kebaikan kepadamu, engkau harus membalasnya dua kali lipat; jika tidak, engkau tidak tahu berterima kasih. Apakah memperlakukan orang dengan cara-cara ini termasuk bersikap baik kepada orang lain? (Tidak.) Lalu seperti apa sebenarnya bersikap baik kepada orang lain? Itu bukanlah mengasihi, memedulikan, dan memperhatikan seseorang berdasarkan perasaan manusia, melainkan bertindak berdasarkan prinsip sesuai dengan firman Tuhan. Sebagian besar orang tidak dapat mencapai taraf bertindak berdasarkan prinsip; orang hanya bertindak berdasarkan perasaan, bukan berdasarkan prinsip. Bertindak berdasarkan perasaan dan bertindak berdasarkan prinsip sangatlah berbeda; itu adalah dua jalan yang berbeda. Bertindak berdasarkan perasaan dicemari oleh kehendak manusia: Ketika engkau membantu seseorang, itu adalah untuk memuaskan kebutuhan perasaan pribadimu; itu bukanlah menangani berbagai hal secara objektif. Jika orang ini merasa sangat berterima kasih kepadamu, engkau akan terus bersikap baik kepadanya; jika dia tidak menghargainya dan melukai hatimu serta menyakiti perasaanmu, engkau tidak akan membantunya lagi. Dengan demikian, bukankah engkau sedang bertindak tanpa prinsip? (Ya.) Ini berarti bertindak tanpa prinsip. Lalu, apa yang dimaksud dengan bertindak sesuai dengan prinsip? Itu berarti memenuhi tanggung jawabmu sebagai manusia, membantu orang lain sesuai kebutuhan, dan membiarkan mereka menyikapinya sesuka hati mereka. Jika mereka bersedia menerima bantuanmu, itu bagus; jika mereka tidak bersedia menerimanya, engkau tidak seharusnya mengatakan bahwa mereka tidak diberkati, engkau juga tidak seharusnya merasa kesal, sedih, atau kecewa, melainkan seharusnya tetap memperlakukan mereka dengan benar. Inilah yang dimaksud dengan bertindak sesuai dengan prinsip. Apakah engkau semua telah memahami prinsip "tidak menyerang orang lain" ini? (Ya.)

Salah satu prinsip daging inkarnasi Tuhan, saat Dia hidup di antara manusia serta berinteraksi dan berkomunikasi dengan mereka, adalah tidak menyerang mereka. Tidak menyerang orang lain berkaitan dengan prinsip dalam memperlakukan orang dan mempersekutukan kebenaran. Selain tidak menyerang orang lain, Tuhan yang berinkarnasi memiliki prinsip lain dalam memperlakukan orang, yaitu tidak membalas dendam. Bagaimana orang memandang hal tentang membalas dendam? Jika seseorang ditindas atau disakiti dan kemudian dengan alasan yang dapat dibenarkan membalas atau melawan, apakah orang menganggap hal ini dapat diterima? (Ya.) Namun, bagi Tuhan, apakah ini merupakan prinsip tentang cara memperlakukan orang? (Bukan.) Di antara umat manusia, siapa pun bisa saja membalas dendam, dan semua orang mampu melakukannya; semua orang memiliki naluri untuk membalas dendam, serta niat dan keinginan untuk membalas dendam. Jika orang pernah mencacimu atau menyakitimu, sekalipun engkau tidak dapat membalas dendam sekarang, engkau tetap akan mencari kesempatan untuk melakukannya, untuk memberi tahu mereka bahwa engkau bermartabat, bahwa engkau bukan orang yang bisa ditindas atau diremehkan, bahwa engkau bukan orang bodoh, dan bahwa engkau memiliki nalar kemanusiaan yang normal, serta dapat menyadari berbagai hal dan membuat penilaian. Lalu, bagaimana pemikiran untuk membalas dendam kepada orang lain ini muncul? Apakah pemikiran itu berasal dari hati nurani dan nalar kemanusiaan yang normal, atau dari sikap yang gampang marah dalam watak rusak Iblis? (Dari sikap yang gampang marah dalam watak rusak Iblis.) Ini sudah jelas. Jika orang ditindas, dimanfaatkan, atau ditipu oleh orang lain, ketika mereka tidak memiliki status apa pun, mereka tidak akan memiliki kesempatan untuk membalas dendam, dan kondisi mereka tidak akan memungkinkannya, sehingga mereka akan memendam semua hal ini dalam hati mereka, di mana semua ini berubah menjadi semacam kebencian. Karena kebencian ini, dan karena mereka menerima perlakuan yang tidak adil ini, mereka bisa menjadi penuh kebencian terhadap masyarakat, umat manusia, dan semua orang yang mereka anggap sebagai musuh. Siapa pun, ketika memiliki status, ketika kondisinya memungkinkan, dan memiliki kesempatan untuk melakukannya, mereka mampu melakukan tindakan balas dendam, membuat orang-orang yang pernah menyakiti atau memandang rendah mereka menderita pembalasan mereka dan mendapatkan balasan yang setimpal. Mereka merasa bahwa hidup dengan cara seperti ini berarti memiliki harga diri, dan bahwa mereka akhirnya telah melepaskan diri dari dendam ini. Di antara umat manusia, siapa pun yang melakukan hal ini tidak akan dikecam oleh masyarakat atau oleh hati nurani mereka. Jadi, orang-orang percaya bahwa membalas dendam bukanlah hal yang tidak semestinya dan memalukan, juga tidak menganggapnya sebagai hal positif atau hal negatif. Namun, dari Zaman Kasih Karunia hingga tahap pekerjaan ini, dalam semua firman yang Tuhan ucapkan, engkau tidak dapat menemukan satu kalimat pun yang menyuruh orang untuk membalas dendam kepada orang lain. Tuhan tidak pernah menyuruh orang, "Jika orang menyakitimu, atau jika orang telah menipumu, engkau harus membalas dendam, engkau harus membalas mereka, mata ganti mata, gigi ganti gigi." Apakah membalas dendam adalah salah satu prinsip tentang cara memperlakukan orang yang telah Tuhan beritahukan kepadamu? (Tidak.) Pada Zaman Kasih Karunia, apa yang Tuhan katakan kepada orang-orang tentang cara memperlakukan orang lain? Dengan kesabaran, toleransi, dan kasih. Apa lagi? (Kasihilah musuhmu, dan jika seseorang menampar pipi kirimu, berikan juga pipi kananmu kepadanya.) Apa lagi? Mengampuni orang lain tujuh puluh kali tujuh kali. Angka "tujuh puluh kali tujuh" hanyalah perumpamaan, bukan benar-benar berarti sebanyak itu. Tuhan mengatakan ini untuk menyuruhmu mengampuni semua orang yang telah berbuat salah terhadapmu, untuk mengampuni mereka berkali-kali tanpa batas; ini adalah sebuah prinsip. Kesabaran, toleransi, sikap mengalah, mengasihi musuhmu, memberikan pipi kanan saat pipi kiri ditampar, dan mengampuni orang lain tujuh puluh kali tujuh kali, semua ini adalah hal-hal yang sering dibicarakan pada Zaman Kasih Karunia. Lalu, dapatkah prinsip-prinsip dalam memperlakukan orang disimpulkan dari firman-firman ini? Apa prinsip-prinsip yang Tuhan tuntut untuk orang ikuti dalam memperlakukan orang lain? Apakah itu termasuk mata ganti mata, gigi ganti gigi? (Tidak.) Apakah itu termasuk membalas perbuatan orang lain dengan cara yang sama? (Tidak.) Apakah itu termasuk membalas dendam? (Tidak.) Tidak termasuk satu pun dari hal-hal ini. Meskipun setiap hal yang Tuhan katakan pada Zaman Kasih Karunia ini adalah jenis perilaku dan tindakan yang spesifik, semua itu adalah prinsip dalam memperlakukan orang lain yang Tuhan katakan kepada orang-orang. Jadi, di tahap pekerjaan pada akhir zaman ini, apa yang Tuhan katakan kepada orang-orang tentang cara memperlakukan orang lain? Memperlakukan orang dengan adil, melihat kelebihan dan keunggulan mereka, bukan kekurangan dan kelemahan mereka. Apa lagi yang spesifik? Tidak menipu, berdebat, atau menyerang orang lain, dan bekerja sama secara harmonis dengan orang lain. Apakah semua ini merupakan prinsip-prinsip spesifik tentang cara memperlakukan orang? (Ya.) Pada zaman apa pun, dari prinsip-prinsip spesifik yang Tuhan berikan tentang cara memperlakukan orang, tidak ada satu pun yang menyuruh orang untuk membalas dendam. Tak ada satu pun yang mengatakan, "Jika seseorang menyakitimu, sakitilah dia; jika seseorang memukulmu, engkau harus balas memukulnya; jika dia meninjumu, tinju balik dia; jika dia memakimu, makilah juga dia." Tuhan tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun seperti ini. Tuhan memintamu untuk bekerja sama secara harmonis dengan orang lain dan memperlakukan orang dengan adil. Orang lain itu mungkin adalah orang yang kau pandang rendah, orang yang pernah menyakiti atau menipumu, atau orang yang telah menyerang atau menghakimimu. Namun, asalkan mereka adalah orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan, engkau seharusnya memperlakukan mereka dengan adil dan bekerja sama secara harmonis dengan mereka. Inilah prinsipnya, dan inilah prinsip yang seharusnya dimiliki dan dipatuhi oleh orang dengan kemanusiaan yang normal dalam cara mereka memperlakukan orang lain. Orang yang memiliki hati nurani dan rasionalitas kemanusiaan yang normal akan menerima prinsip-prinsip kebenaran ini dan menerapkannya dengan memperlakukan orang lain secara adil. Mereka yang tidak memiliki hati nurani dan rasionalitas kemanusiaan yang normal akan memperlakukan firman-firman ini sebagai semacam doktrin atau ajaran agama ketika mereka mendengarnya. Jika kepentingan, harga diri, status, atau martabat orang-orang yang tidak dapat menerima kebenaran terusik, mereka akan menyingkapkan sikap yang gampang marah mereka sendiri. Mereka tidak hanya akan membalas dendam dan menuntut pihak lain untuk membayar kembali, tetapi mereka bahkan akan membalas pihak lain dua kali lipat, dengan pembalasan yang makin parah. Jika seseorang pernah menyakiti mereka, menyinggung mereka, menghina mereka dengan menunjukkan sikap tidak hormat kepada mereka, atau bertengkar atau bahkan berkelahi dengan mereka, mereka akan membalas dendam dan membalas orang itu dua kali lipat. Mereka sama sekali tidak mampu mematuhi prinsip-prinsip tentang cara memperlakukan orang yang dituntut oleh Tuhan.

Ada juga banyak contoh nyata yang berkaitan dengan topik bahwa Tuhan yang berinkarnasi tidak membalas dendam kepada orang-orang. Tuntutan Tuhan terhadap manusia tentang cara mereka memperlakukan orang lain adalah bahwa mereka harus mematuhi prinsip tidak membalas dendam, karena Tuhan yang berinkarnasi memiliki kemanusiaan yang normal semacam ini, dan esensi kemanusiaan semacam ini, dalam kehidupan nyata serta lingkungan kerja-Nya. Apa artinya Dia memiliki esensi kemanusiaan semacam ini? Itu berarti Dia mampu dengan ketat mematuhi prinsip tentang cara berperilaku semacam itu dalam memperlakukan orang, dan dalam hidup di antara umat manusia dan di antara kelompok-kelompok orang. Ini karena Dia memiliki esensi kehidupan semacam itu, dan juga karena Dia memiliki esensi kehidupan semacam itulah Dia memiliki kenyataan semacam itu dalam kehidupan-Nya. Tuhan yang berinkarnasi hidup di antara manusia secara nyata; Dia menjalani kehidupan nyata yang di dalamnya Dia berurusan dan berkomunikasi dengan orang-orang. Dia tidak hidup dalam ruang hampa. Hidup dalam daging, Dia tak terelakkan akan berhubungan, berkomunikasi, dan berurusan dengan orang-orang. Ketika berinteraksi dan berurusan dengan umat manusia yang rusak, Dia tak terelakkan akan diperlakukan tidak adil, tidak dihormati, didiskriminasi, ditipu, ditindas, dan dihakimi dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan kenyataan. Bagaimana Aku menyikapi perlakuan tidak adil semacam ini? Hidup di antara manusia selama bertahun-tahun ini, jangankan berbagai macam perlakuan tidak adil yang Kualami di antara orang-orang tidak percaya, bahkan di lingkungan keluarga, di gereja setempat, dan di antara semua pemimpin dan pekerja tingkat atas serta saudara-saudari biasa yang berhubungan dengan-Ku saja, katakan kepada-Ku, apakah semua orang mampu memperlakukan-Ku dengan adil? (Tidak.) Tentu saja tidak. Aku sama seperti engkau semua. Aku pernah menjadi orang percaya biasa, dan Aku juga pernah menjadi anggota sebuah keluarga. Ketika Aku menjadi anggota sebuah keluarga, Aku mengalami segala macam perlakuan tidak adil. Dalam sebuah keluarga, di antara saudara kandung, siapa pun yang paling kuat, dialah yang menjadi penentu keputusan, dan orang yang polos serta berakal sehat selalu ditindas dan diperlakukan tidak adil. Di dalam lingkungan keluarga, Aku ingat beberapa kejadian tertentu. Dalam kejadian-kejadian ini, jika engkau mendominasi, bersikap tidak masuk akal, dan membuat keributan, engkau tidak akan ditindas atau diperlakukan tidak adil. Namun, jika engkau berakal sehat dan menyikapi kejadian-kejadian ini secara rasional, engkau akan ditindas. Jika orang lain membuat keributan dan bersikap tak masuk akal, mereka akan dengan paksa mengambil keuntungan darimu dan bertindak tak tahu malu. Aku tidak tahu bagaimana bertindak tak tahu malu; Aku hanya tahu bagaimana bersikap dengan berakal sehat dan menyikapi masalah semacam itu secara rasional, tetapi bersikap dengan berakal sehat berarti Aku akan ditindas. Lihatlah dunia ini: Di kelompok orang mana pun, keadilan dan kebenaran tidak memegang kekuasaan. Siapa pun yang bisa bertindak tak tahu malu, membuat keributan, dan memaksakan pendapat yang tidak masuk akal akan unggul. Makin engkau berakal sehat, dan makin engkau menghargai keadilan, hati nurani, dan rasionalitas, akan makin sulit bagimu untuk memiliki kedudukan yang kuat dan stabil, dan makin engkau akan ditindas. Begitu pula yang Kualami dalam keluarga; Aku ditindas oleh anggota keluarga lainnya. Di gereja setempat, ada juga orang-orang yang selalu mendiskriminasi-Ku. Aku tidak pernah menyinggung mereka atau menyakiti mereka. Hanya karena Aku masih muda pada waktu itu, bertindak sedikit proaktif dan bersemangat, serta bersedia menghadiri pertemuan dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan, ada orang-orang yang selalu memandang-Ku dengan prasangka dan memberi-Ku tatapan yang berniat jahat. Selain itu, mereka memaki-Ku dan menghakimi-Ku di belakang-Ku, mengatakan segala macam hal yang buruk. Belakangan, ketika Aku pergi ke gereja-gereja di tempat lain dan tinggal bersama saudara-saudari setempat di sana, hal yang sama juga terjadi. Apa pun yang Kulakukan, ada orang-orang yang akan mengembangkan gagasan, dan bahkan ada yang mengejek-Ku, meremehkan-Ku, dan menghakimi-Ku di belakang-Ku. Apa pun perlakuan tidak adil yang Kuterima, selama bertahun-tahun Aku tidak pernah membalas dendam kepada siapa pun yang pernah menyakiti-Ku. Meskipun ada orang-orang yang mungkin telah memaki-Ku atau menghakimi-Ku, atau bahkan mengatakan hal-hal yang sangat buruk tentang-Ku, Aku tidak pernah membalas dendam kepada mereka. Apa artinya tidak membalas dendam? Apa saja bentuk perilaku yang termasuk balas dendam? Ada banyak bentuk perilaku balas dendam. Salah satu jenis balas dendam adalah mengungkit-ungkit perbuatan buruk orang di masa lalu di hadapan mereka, memberi tahu mereka bahwa Aku sekarang memiliki status, bagaimana perasaan-Ku ketika mereka memaki-Ku dan menghakimi-Ku di masa lalu, dan bahwa sekarang setelah Aku memiliki status, akan terlalu mudah jika Aku ingin menindak mereka dan membalas dendam kepada mereka. Namun, Aku tidak pernah melakukan hal itu, dan tidak akan melakukannya. Mengapa Aku tidak akan melakukannya? Di dalam hati-Ku, Aku memiliki prinsip dalam memperlakukan semua jenis orang. Jika kemanusiaan seseorang buruk dan dia adalah orang jahat, bukan masalah besar jika dia menyakiti-Ku. Namun, jika dia mengganggu gereja, merugikan kepentingan rumah Tuhan, melanggar ketetapan administratif gereja, melanggar prinsip-prinsip gereja, atau bertentangan dengan pengaturan pekerjaan, karena rumah Tuhan memiliki ketetapan administratif, rumah Tuhan tentu saja akan menangani orang ini. Jika saudara-saudari buta dan tidak memiliki kemampuan membedakan, serta ingin memilihnya sebagai pemimpin, Aku akan bersekutu dengan mereka tentang prinsip-prinsip rumah Tuhan dalam memilih pemimpin. Jika saudara-saudari memiliki kemampuan untuk mengenali orang ini, mereka dapat meminta orang ini untuk mundur dari pemilihan; jika mereka tidak memiliki kemampuan mengenali dan memilih orang ini, maka biarkan orang ini mencoba menjadi pemimpin. Setelah saudara-saudari cukup menderita, mereka dengan sendirinya akan mampu mengenali orang ini dan akan memberhentikannya. Di satu sisi, ini memungkinkan saudara-saudari memetik pelajaran; mereka dapat belajar bagaimana membedakan dan mengenali orang. Di sisi lain, ini adalah tindakan mematuhi dengan ketat ketetapan administratif rumah Tuhan dan prinsip-prinsip rumah Tuhan dalam menangani semua jenis orang. Ada poin lain di sini yang bahkan lebih penting: Rumah Tuhan, gereja, adalah tempat Roh Kudus bekerja, tempat Tuhan memegang kekuasaan; itu adalah rumah Tuhan. Apa artinya itu adalah rumah Tuhan? Itu berarti kebenaranlah yang memegang kekuasaan, yang juga berarti kebenaranlah yang menjadi penentu keputusan di sini. Setiap orang yang datang ke gereja memiliki kesudahan dan tempat tujuan yang sesuai. Entah seseorang itu dipertahankan, pergi, atau tinggal, di lingkungan apa pun seseorang berada, dan dengan cara apa pun rumah Tuhan menanganinya, Tuhan memiliki waktu-Nya sendiri untuk semua ini. Di mata-Ku, fakta bahwa seseorang pernah menyakiti-Ku, menyinggung-Ku, memaki-Ku, atau menjebak-Ku dan menghakimi-Ku di belakang-Ku tidak termasuk pelanggaran prinsip. Lalu, apa yang dimaksud dengan melanggar prinsip? Itu berarti merugikan kepentingan rumah Tuhan dan melanggar ketetapan administratif. Kebenaranlah yang memegang kekuasaan di rumah Tuhan. Cepat atau lambat, orang jahat akan menerima pembalasan; setiap orang akan menerima hukuman yang pantas mereka terima sesuai dengan perbuatan mereka. Menangani semua jenis orang adalah urusan gereja dan pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh para pemimpin dan pekerja; Aku tidak perlu melakukannya secara langsung. Inilah prinsip-Ku dalam menyikapi hal-hal seperti ini. Apa pun yang pernah dilakukan atau dikatakan seseorang kepada-Ku di masa lalu, entah itu penuh hormat atau penghinaan, entah itu pantas atau tidak pantas, Aku mampu memperlakukan dia dengan adil. Asalkan engkau menjalani kehidupan bergereja di rumah Tuhan, atau jika engkau baru percaya kepada Tuhan untuk waktu yang singkat dan belum memahami kebenaran, dan pekerjaan Roh Kudus belum berkembang ke tahap itu, maka engkau dapat tetap berada di rumah Tuhan. Sebelum tiba saatnya untuk akhirnya mengumumkan kesudahan orang-orang, Aku bisa menunggu. Aku tidak akan hanya menggunakan sikapmu terhadap-Ku sebagai bukti yang cukup untuk menentukan kesudahanmu. Oleh karena itu, Aku tidak akan membalas dendam kepada siapa pun yang pernah menyakiti-Ku; Aku akan memperlakukan mereka sesuai dengan prinsip.

Aku pernah berhubungan dengan beberapa orang di gereja; beberapa dari mereka berbicara kepada-Ku dengan sikap yang kurang sopan dan tanpa rasa hormat. Melihat bahwa mereka bersikap seperti ini terhadap-Ku, Aku mengabaikan mereka. Katakan kepada-Ku, apakah itu berarti Aku bersikap buruk terhadap mereka? (Tidak.) Lalu, haruskah Aku memangkas dan mendisiplinkan mereka karena sikap mereka? Aku benar-benar tidak pernah melakukan hal semacam itu. Yang akhirnya terjadi adalah beberapa saudara-saudari tidak tahan lagi. Mereka membela-Ku, dengan berkata, "Bagaimana orang ini bisa bersikap seperti ini saat berbicara kepada Tuhan? Keluarkan dia!" Saudara-saudari sangat geram. Berdasarkan perilaku konsisten orang itu, mereka mengeluarkannya sesuai dengan prinsip. Melihat bahwa saudara-saudari telah mengeluarkannya, Aku tahu di dalam hati-Ku, "Tampaknya perwujudan kemanusiaan sehari-hari orang ini tidak terlalu bagus. Saudara-saudari tidak akan menanganinya hanya karena dia memiliki sikap yang buruk terhadap-Ku; mungkin, perilaku orang ini buruk dalam sebagian besar hal." Gereja bertindak sesuai dengan prinsip dalam menanganinya; Aku tidak berkomentar apa pun tentang hal ini. Aku menghormati cara yang saudara-saudari pilih untuk menanganinya, dan Aku menghormati keputusan mereka. Namun, rasa hormat ini bukan karena engkau semua menangani seseorang yang bersikap tidak sopan kepada-Ku. Yang Kuhormati adalah prinsip-prinsip gereja dalam menangani orang. Katakan kepada-Ku, apakah benar prinsip-Ku dalam memperlakukan orang? (Ya.) Dalam hal cara memperlakukan orang, Aku tidak pernah menyuruh para pemimpin gereja setempat untuk menangani orang-orang yang menghakimi-Ku atau mencaci-Ku di masa lalu. Sebaliknya, jika gereja setempat mempromosikan dan memilih individu-individu tertentu di antara mereka untuk menjadi direktur penginjilan atau pemimpin dan pekerja, Aku tidak menghalanginya; Aku memberi mereka kesempatan. Ini terutama berlaku bagi orang-orang di gereja kampung halaman-Ku, mereka hanya melaksanakan tugas apa pun yang seharusnya mereka laksanakan. Aku tidak pernah memberi wewenang kepada siapa pun untuk membalas dendam kepada mereka yang pernah menyakiti atau menyinggung-Ku; Aku tidak pernah melakukan satu hal pun yang seperti ini. Bagaimana Aku memandang hal ini di dalam hati-Ku? Jika orang-orang semacam itu benar-benar mengejar kebenaran dan watak mereka berubah, ada harapan bagi mereka untuk memperoleh keselamatan. Semua hal buruk yang mereka katakan kepada-Ku sebelumnya adalah masalah kemanusiaan mereka, yang disebabkan oleh watak rusak mereka. Pada waktu itu, mereka tidak memahami kebenaran, dan semuanya memiliki watak yang kejam. Tidak dapat dihindari bahwa mereka akan mengatakan beberapa hal buruk dan melakukan beberapa hal tidak pantas kepada orang-orang yang mereka pandang rendah. Terutama, ketika orang-orang yang mereka cemburui atau pandang rendah itu dipromosikan, rasa iri, cemburu, dan kebencian muncul pun dalam hati mereka. Watak rusak mereka kemudian akan mendominasi mereka dan mendorong mereka untuk bertindak, dan mereka akan mengucapkan perkataan-perkataan setan. Ini disebabkan oleh watak rusak mereka, serta ambisi dan keinginan mereka. Ditambah dengan fakta bahwa mereka sama sekali tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan, mereka bisa saja mengatakan hal buruk apa pun; mereka akan mengatakan apa pun yang membantu melampiaskan amarah mereka, apa pun yang memungkinkan mereka meredakan kebencian mereka, dan apa pun yang memungkinkan mereka mencapai tujuan mereka. Hal buruk apa pun yang pernah orang katakan atau hal buruk apa pun yang pernah mereka lakukan di belakang-Ku, jika itu termasuk dalam lingkup perwujudan watak rusak yang normal dan merupakan sesuatu yang dapat Tuhan ampuni, maka, mengingat bahwa Tuhan memegang kedaulatan atas segala sesuatu, Tuhan akan memberi mereka kesempatan, memungkinkan mereka untuk dipromosikan, dibina, serta dipakai, dan beberapa orang bahkan dapat disempurnakan. Namun, jika perwujudan-perwujudan ini melampaui lingkup watak rusak kemanusiaan yang normal dan dikutuk oleh Tuhan, maka, mengingat bahwa Tuhan memeriksa semua ini, apa yang akan Tuhan lakukan terhadap orang-orang ini, atau apa yang akan Dia atur bagi mereka dan bagaimana Dia akan menangani mereka, itu terserah Tuhan. Aku tidak perlu mengkhawatirkan hal ini, Aku juga tidak perlu campur tangan. Oleh karena itu, ketika Aku mengalami beberapa perlakuan tidak adil atau mendengar perkataan yang menyerang-Ku dan mengutuk-Ku, Aku merasakan sedikit kepedihan atau kesedihan di dalam hati-Ku, tetapi Aku tidak akan melanggar prinsip untuk melakukan apa pun. Aku tidak hanya mengingat hal-hal ini, tetapi Aku juga melihat lebih jauh esensi kemanusiaan orang-orang ini yang tersingkap melalui perilaku mereka. Namun, mengenai keputusan apa yang pada akhirnya dijatuhkan atas semua perilaku dan perwujudan mereka ini, kemanusiaan mereka, serta esensi watak mereka, dan apa kesudahan mereka pada akhirnya, Aku hanya memiliki satu cara untuk menanganinya: Aku menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Ini karena Tuhan memegang kedaulatan atas segala sesuatu, nasib semua orang ada di tangan Tuhan, dan Tuhan memegang kedaulatan atas nasib semua orang. Aku tidak menentukan kesudahan siapa pun di antaramu. Meskipun Aku dapat mengetahui yang sebenarnya tentang semua ini, mendefinisikan dan menetapkannya di dalam hati-Ku, serta memiliki pendapat tentangmu di dalam hati-Ku, Aku tidak pernah secara terbuka menggolongkanmu; Aku tidak melakukan hal tersebut. Jika gereja ingin menanganimu, Aku dapat memberikan pendapat-Ku, tetapi Aku tidak campur tangan atau menghalangi gereja menanganimu. Pada saat yang sama, Aku tidak mencampuri Roh Tuhan dalam menjalankan kedaulatan-Nya atas dirimu. Aku memperlakukan orang berdasarkan prinsip-prinsip ini, sehingga hal-hal tidak adil yang dilakukan terhadap-Ku dan hal-hal buruk yang dikatakan kepada-Ku oleh mereka yang telah berinteraksi dengan-Ku berhenti pada-Ku, dan tidak berlanjut sedikit pun. Apa artinya hal itu tidak berlanjut sedikit pun? Artinya, siapa pun yang pernah mengatakan hal-hal buruk tentang-Ku, menindas-Ku, menghina-Ku, atau menyakiti-Ku, Aku tidak pernah mengungkitnya kepada siapa pun, apalagi membalas dendam kepada mereka. Ada orang-orang yang berkata, "Sudah bertahun-tahun berlalu sejak saat itu, apakah Engkau sudah melupakan orang-orang ini?" Dalam kehidupan seseorang, akan selalu ada beberapa hal yang meninggalkan kesan mendalam dan tidak pernah bisa dilupakan. Bukannya Aku telah melupakan hal-hal ini, bukan pula Aku tidak dapat merasakannya, apalagi Aku tidak memahaminya. Aku mampu untuk tidak menyimpan kebencian dan tidak membalas dendam karena hati-Ku tidak memiliki hal-hal seperti kebencian dan balas dendam; ini telah menjadi prinsip-Ku tentang cara memperlakukan orang. Salah satu aspek dari prinsip ini adalah memperlakukan semua orang dengan adil. Nasib semua orang berada di tangan Tuhan. Kesudahan dan tempat tujuan setiap orang berkaitan dengan apa yang telah mereka lakukan, perwujudan mereka, sikap mereka terhadap kebenaran dan terhadap Tuhan, serta jalan yang mereka tempuh; hal-hal tersebut ditentukan oleh faktor-faktor ini. Apa yang telah dilakukan seseorang terhadap-Ku bukanlah standar atau faktor untuk mengukur kesudahan dan tempat tujuannya. Oleh karena itu, dalam hal tidak membalas dendam, poin terpenting adalah bahwa Aku memiliki prinsip-prinsip-Ku dalam cara memperlakukan semua jenis orang. Jika engkau telah menyakiti-Ku, merugikan-Ku, menipu-Ku, atau bahkan menghina atau memaki-Ku, Aku tidak akan membalas dendam terhadapmu, karena membalas dendam bukanlah prinsip-Ku tentang cara-Ku memperlakukan orang, bukan pula prinsip yang Tuhan ajarkan kepada orang-orang tentang cara memperlakukan orang lain. Oleh karena itu, sebelum Tuhan memberi tahu orang prinsip-prinsip tentang cara memperlakukan orang lain, Tuhan juga memiliki prinsip-prinsip-Nya sendiri tentang cara-Nya memperlakukan orang. Dalam firman Tuhan, dan dalam semua prinsip yang Tuhan ajarkan kepada orang-orang, tidak ada prinsip seperti membalas dendam kepada orang lain. Menurutmu, bukankah benar demikian? (Ya.) Apakah prinsip-prinsip yang Kugunakan untuk menangani semua jenis hal dan memperlakukan semua jenis orang bertentangan dengan prinsip-prinsip kebenaran yang telah Kupersekutukan selama bertahun-tahun? (Tidak.)

Tuhan yang berinkarnasi mampu untuk tidak membalas dendam dalam kemanusiaan normal-Nya. Apakah mudah bagi manusia yang rusak untuk melakukan hal yang sama? (Tidak.) Mengapa tidak mudah? (Ketika berinteraksi dengan orang lain, manusia yang rusak sebagian besar mengandalkan watak rusak dan sikap mereka yang gampang marah, sehingga mereka sangat cenderung membalas dendam kepada orang lain.) Manusia yang rusak memiliki watak yang kejam, sehingga mereka tidak mampu menahan diri untuk tidak membalas dendam. Mereka tahu prinsip-prinsip apa yang Tuhan beritahukan kepada orang-orang tentang cara memperlakukan orang lain, tetapi mereka tidak dapat mematuhinya, karena mereka memiliki watak yang kejam. Sekalipun engkau tidak berniat menyakiti mereka saat berbicara, jika engkau tidak berhati-hati dan mengatakan satu hal yang menyakiti mereka, mereka akan naik pitam karena merasa terhina dan ingin membalas dendam kepadamu. Mereka juga akan mencoba membesar-besarkannya untuk menyerangmu; mereka akan mencemarkan nama baikmu dan memfitnahmu di belakangmu, serta membicarakan hal-hal buruk tentangmu kepada orang lain, mengatakan betapa ambisius dan licik dirimu, padahal sebenarnya sama sekali tidak demikian. Engkau hanya mengatakan sesuatu yang tanpa sengaja menyakiti mereka; engkau tidak memiliki niat jahat apa pun, tetapi mereka bisa membalas dendam kepadamu. Engkau lihat, bukankah watak kejam orang-orang seperti ini menakutkan? (Ya.) Demi membalas dendam kepada orang lain, ada orang-orang yang bisa bersikap tak masuk akal, bertindak tak tahu malu, dan bahkan mengamuk serta membuat keributan; ini tidak sesuai dengan prinsip. Manusia yang rusak sering bertindak seperti ini, bukan? Bagaimana tindakan-Ku saat dihadapkan pada kemungkinan membalas dendam? Seperti apa pun orang lain memperlakukan-Ku, Aku tidak membalas dendam kepada mereka, Aku juga tidak bertindak tak tahu malu. Kapan pun itu, prinsip dalam cara-Ku berperilaku tidak boleh berubah. Aku harus bersikap masuk akal, dan cara-Ku berperilaku serta bertindak haruslah berada dalam lingkup rasionalitas kemanusiaan. Aku tidak boleh menggunakan metode-metode yang tidak berkemanusiaan untuk membalas dendam kepadamu hanya karena engkau tidak rasional dan tidak memiliki kemanusiaan; itu tidak pantas. Aku harus tetap teguh melaksanakan pekerjaan-Ku dan berpegang teguh pada prinsip-Ku tentang cara berperilaku. Aku tidak akan meninggalkan prinsip-Ku tentang cara berperilaku hanya karena engkau tidak memiliki kemanusiaan dan tidak bertindak selayaknya manusia. Aku akan tetap berperilaku sebagaimana mestinya; prinsip-Ku tentang cara berperilaku tetap tidak berubah. Tepat seperti inilah cara-Ku bertindak di rumah. Dalam hal-hal seperti mencuci piring, merapikan rumah, dan bersih-bersih, seberapa banyak pun orang lain membuat keributan atau betapa pun tidak masuk akalnya mereka, Aku tetap melakukan apa yang seharusnya Kulakukan, dan Aku tidak pernah membalas dendam kepada siapa pun karena Aku telah menerima perlakuan yang tidak adil. Pada akhirnya, sebutan apa yang diberikan orang tua kepada-Ku? Mereka berkata bahwa Aku berpikiran luhur. Sampai hari ini, Aku mengingat perkataan ini dengan jelas. Ini adalah prinsip-Ku dalam memperlakukan orang, dan itu tetap tidak berubah sampai hari ini. Aku tidak hanya bertindak seperti ini di rumah, tetapi kemudian, ketika Aku pergi ke berbagai gereja dan berhubungan dengan saudara-saudari, prinsip ini juga tidak berubah. Katakan kepada-Ku, apakah ini ditentukan oleh esensi kemanusiaan? (Ya.) Dapatkah engkau semua mencapai hal ini? (Tidak.) Sulit, bukan? Engkau tidak dapat mencapainya sekalipun engkau mencobanya sampai kelelahan. Orang-orang hanya ingin memperjuangkan harga diri mereka dan mempertahankan argumen mereka, tetapi mereka melupakan batasan dan prinsip tentang cara berperilaku. Tak seorang pun pernah mematuhi batasan dan prinsip tentang cara berperilaku. Mengapa tak seorang pun mematuhinya? Karena kehidupan dalam diri manusia tidak memiliki kemanusiaan yang normal dan prinsip. Kehidupan manusia adalah watak-watak rusak mereka, yang berasal dari Iblis. Apa pun yang kaulakukan, prinsip yang mengatur dan membimbing perilakumu selalu berasal dari watak yang rusak. Apa pun penalaran yang kaugunakan atau apa pun dasar tindakanmu, semua itu berasal dari watak yang rusak. Oleh karena itu, berinteraksi dengan orang lain sesuai dengan prinsip terlalu sulit bagi manusia yang rusak. Engkau lihat, bukankah hal-hal dalam kehidupan yang Kubicarakan ini terdengar sangat biasa? Namun, bertindak seperti ini di antara umat manusia yang rusak digolongkan sebagai berpikiran luhur. Sifat berpikiran luhur ini adalah sesuatu yang bahkan tidak dimiliki dan tidak dapat dicapai oleh sebagian besar orang, apalagi menunjukkan sikap mengalah. Mereka bahkan tidak mampu berinteraksi dengan orang lain sesuai dengan prinsip, karena hal-hal ini sama sekali tidak ada dalam kemanusiaan yang rusak. Bukannya orang tidak dapat berpegang teguh pada prinsip, melainkan mereka tidak memiliki prinsip. Apa pun yang kaukatakan atau kaulakukan, atau apa pun yang kauhadapi, watak-watak rusakmu tersingkap. Preferensi pribadi, perasaan, kepentingan, kesombongan dan harga dirimu, kerinduan akan ketenaran, keuntungan, dan status, ambisi serta keinginanmu, dan bahkan keinginanmu untuk membalas dendam dan menyerang orang-orang, semuanya muncul. Hal-hal ini mengambil alih dan mengendalikan apa yang kaukatakan dan kaulakukan, yang memperlihatkan bahwa hatimu sepenuhnya dikuasai oleh watak-watak rusak ini. Dengan demikian, ketika engkau mengalami kerugian, engkau tidak dapat menelan amarahmu; engkau bersikeras untuk berselisih guna melihat siapa yang menang, barulah engkau mau menyerah. Apa yang terjadi pada akhirnya? Demi memenangkan kembali harga dirimu, memulihkan martabatmu, dan melindungi kepentinganmu sendiri, engkau akan menerobos batasan hati nurani dan dengan mati-matian bersaing serta berselisih dengan pihak lain, dan bahkan membalas dendam tanpa memedulikan moral, sampai menghalalkan segala cara. Lalu, ketika membalas dendam, engkau memaki mereka sampai engkau hilang kendali. Makin engkau memaki mereka, makin engkau merasa itu tidak meredakan kebencianmu; makin engkau memaki mereka, makin besar amarahmu; makin engkau memaki mereka, makin dalam kebencianmu, dan kemudian tibalah saatnya untuk baku hantam. Begitu perkelahian fisik terjadi, permusuhan pun lahir; situasinya menjadi tidak dapat diselamatkan, tanpa ada jalan untuk mundur. Jadi, membalas dendam pada dasarnya hanya dilakukan umat manusia yang rusak. Fakta bahwa engkau bisa membalas dendam membuktikan bahwa hati nurani dan nalarmu tidak memiliki kendali atas dirimu. Terlebih lagi, ada orang-orang di antaramu yang sama sekali tidak memiliki hati nurani dan nalar. Dengan demikian, ketika engkau menghadapi suatu situasi, selama pihak lain merugikan kepentinganmu atau melukai harga dirimu, engkau bukan hanya tidak mampu memperlakukan mereka sesuai dengan prinsip, melainkan engkau juga, tanpa memedulikan moral, membalas dendam, menerobos batasan hati nurani dan moralitas untuk melakukannya, bahkan berpikir bahwa pembalasan dendammu sangat dapat dibenarkan. Engkau terus-menerus menggantikan prinsip-prinsip kebenaran dan prinsip-prinsip tentang cara berperilaku dengan perbuatan jahat. Yang kauhidupi adalah wajah dan penampilan setan, tetapi engkau masih merasa bahwa engkau telah menang dan memperoleh keuntungan. Sebenarnya, bagaimana Tuhan memandang hal ini? Perilaku macam apa dan cara berperilaku seperti apa yang merupakan hal positif di mata Tuhan, dan diakui oleh Tuhan? Ini adalah hal yang paling krusial dan penting. Dari luarnya, karena beberapa orang sangat lihai, pandai bicara, tahu bagaimana melindungi kesombongan dan harga diri mereka, tahu bagaimana mencari kesempatan untuk membalas dendam kepada orang-orang, dan tahu bagaimana membuat keributan serta bertindak tak tahu malu, mereka tidak pernah menderita kerugian, apa pun yang mereka hadapi, dan mereka dapat menikmati kenyamanan serta kemudahan, tidak harus menderita rasa sakit apa pun. Mereka bisa membalas siapa pun yang memprovokasi atau menyakiti mereka, memperoleh baik prestise lahiriah maupun keuntungan nyata, tidak pernah membiarkan harga diri mereka terluka. Namun, mereka tidak akan pernah menerima kebenaran atau memperlakukan orang sesuai dengan prinsip, dan bahkan bisa melakukan hal-hal yang menerobos batasan hati nurani dan moralitas. Di mata Tuhan, membalas dendam dan menyakiti orang-orang demi melindungi harga diri serta kepentingan diri sendiri adalah perbuatan jahat. Engkau mungkin telah melindungi kesombongan dan harga dirimu serta mempertahankan kepentingan dagingmu, tetapi engkau tidak pernah berperilaku atau memperlakukan orang lain sesuai dengan prinsip-prinsip yang Tuhan ajarkan. Jadi, bagaimana Tuhan memandang hal ini? Engkau tidak pernah memperoleh perkenanan Tuhan di hadapan-Nya. Engkau terlalu lihai dan terlalu banyak bersiasat. Engkau bersaing demi prestise lahiriah, keuntungan nyata, dan kepentingan pribadi, serta memperjuangkan harga dirimu. Demi melindungi kesombongan dan harga dirimu, engkau tidak pernah menganggap serius prinsip tentang cara berperilaku yang Tuhan ajarkan kepadamu, dan tidak pernah mematuhinya. Oleh karena itu, meskipun kepentingan daging beberapa orang tampaknya sama sekali tidak dirugikan, dan tampaknya mereka menjalani kehidupan yang sangat sukses, luar biasa, dan terhormat, mereka tidak memiliki sedikit pun kebenaran firman Tuhan yang memberi hidup; mereka tidak memperolehnya. Mereka juga tidak memiliki kapasitas untuk menangkap makna berbagai hal; mereka tidak dapat menangkap maknanya dan tidak memahaminya. Bukankah ini berarti menderita kerugian dalam hal kehidupan? (Ya.) Mereka tidak memperoleh kebenaran, hidup mereka telah menderita kerugian, dan Tuhan tidak memberkati mereka, tetapi mereka masih merasa bahwa mereka cukup pintar, dan bahwa mereka tidak menderita kerugian apa pun. Orang-orang semacam itu adalah yang paling bodoh!

Melalui prinsip-prinsip Tuhan yang berinkarnasi dalam memperlakukan orang, apakah engkau semua sedikit lebih memahami cara-Ku berperilaku dalam kehidupan sehari-hari? (Ya.) Lalu, apakah engkau semua juga sedikit lebih memahami prinsip-prinsip apa yang seharusnya engkau semua patuhi dalam memperlakukan orang? (Ya.) Sekalipun ada orang-orang yang menganggapmu lemah, pengecut, serta mudah ditindas, dan engkau dapat merasakan bahwa mereka berpikir demikian—dan seperti ini pula cara mereka memperlakukanmu—engkau seharusnya tetap mematuhi prinsip memperlakukan orang dengan adil. Jika engkau mampu membantu mereka, engkau seharusnya mempersekutukan kebenaran untuk membantu mereka; jika mereka bukanlah orang yang menerima kebenaran, ataupun orang yang mencintai hal-hal positif, engkau seharusnya tetap memperlakukan mereka dengan benar sesuai prinsip. Kapan pun itu, secara lebih menyeluruh, Aku dengan teguh percaya bahwa Tuhan memegang kedaulatan atas segala sesuatu dan atas nasib semua orang. Di dalam hati-Ku, Aku yakin bahwa nasib umat manusia, nasib setiap orang, berada di tangan Tuhan, bahwa tak seorang pun dapat luput dari kedaulatan serta pengaturan Tuhan, dan bahwa tak seorang pun dapat luput dari pemeriksaan mata Tuhan. Dilihat dari perspektif yang lebih ringkas, rumah Tuhan adalah tempat di mana firman Tuhan memegang kekuasaan dan di mana kebenaran memegang kekuasaan. Lebih spesifiknya, rumah Tuhan memiliki ketetapan administratif, gereja memiliki peraturan, dan terdapat pengaturan kerja di setiap periode. Mengenai bagaimana rumah Tuhan memperlakukan semua jenis orang, rumah Tuhan akan semaksimal mungkin menangani mereka sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran, tidak membiarkan satu orang pun yang seharusnya dikeluarkan atau ditangani lolos begitu saja. Di mata Tuhan, para antikristus, orang jahat, dan pengikut yang bukan orang percaya, serta mereka yang tidak mencintai kebenaran, mereka yang memiliki kemanusiaan yang buruk, dan mereka yang tidak mengejar kebenaran, semuanya adalah sasaran yang akan disingkirkan. Cepat atau lambat, orang-orang ini akan disingkirkan dan dikeluarkan, sementara mereka yang benar-benar mengejar kebenaran, atau yang setidaknya bersedia berjerih payah bagi Tuhan dan memiliki kemanusiaan yang cukup baik, akan terus melaksanakan tugas makhluk ciptaan di rumah Tuhan. Adapun dunia manusia, Tuhan berdaulat atasnya; adapun gereja, rumah Tuhan memiliki peraturan administratif dan prinsip-prinsip kebenaran. Jadi, dalam hal bagaimana orang lain seharusnya diperlakukan, inilah dua prinsip yang harus dipatuhi. Apakah engkau memahami aspek ini? (Ya.) Mengenai berhubungan dan berinteraksi dengan orang-orang tertentu dalam kehidupan, jika Aku menghadapi beberapa situasi yang tidak menyenangkan atau jika seseorang mengatakan hal-hal yang tidak sejalan dengan sudut pandang-Ku, Aku juga akan menyikapinya dengan benar. Jika setelah itu Aku memikirkan, merenungkan, dan memeriksa apa yang kaukatakan, dan memastikan bahwa itu benar, maka Aku akan menerimanya; jika apa yang kaukatakan itu salah, Aku juga akan memperlakukanmu sesuai dengan prinsip. Jika ada gesekan, konflik, atau ketidaknyamanan dalam proses berinteraksi denganmu, dan itu berkaitan dengan kebenaran, pekerjaan gereja, atau watak-watak rusakmu, Aku akan bersekutu denganmu jika ada kesempatan, agar engkau dapat memahami kebenaran dan melihat dengan jelas masalah yang ada dalam dirimu. Jika kesempatan ini tidak pernah muncul atau jika tidak perlu mempersekutukan hal ini denganmu, engkau dapat mencari sendiri, jika engkau bersedia melakukannya. Jika watakmu cukup congkak, atau jika engkau berbicara kurang ajar di hadapan-Ku dan menyinggung-Ku, yakinlah, Aku akan memperlakukanmu sesuai dengan prinsip. Aku sama sekali tidak akan memangkasmu hanya karena engkau menyinggung-Ku atau telah menyinggung-Ku di masa lalu; Aku tidak akan melakukan hal semacam itu. Jika engkau telah menyinggung-Ku, Aku harus melihat apakah itu disengaja atau tidak disengaja. Jika itu tidak disengaja, Aku akan menyikapinya seolah-olah itu tidak pernah terjadi. Aku hanya akan menganggap engkau sedang bersikap bodoh, kurang rasional, dan berbicara tanpa berpikir. Begitu engkau berbicara, engkau tidak tahu apa natur perkataanmu, dan engkau tidak tahu apa yang sedang kaukatakan; itu hanyalah omong kosong. Namun, jika itu disengaja, Aku harus mempersekutukan dan mendiskusikan hal ini dengan semua orang, untuk melihat apakah hanya terhadap-Ku engkau berpikir dan bertindak seperti ini, atau apakah engkau memusuhi banyak orang, memusuhi gereja, dan memusuhi rumah Tuhan; Aku harus memahami bagaimana situasi spesifiknya. Jika engkau hanya memusuhi-Ku, Aku akan mengamatimu; Aku akan terlebih dahulu memberimu kesempatan untuk bertobat, dan juga akan melihat orang seperti apa dirimu sebenarnya. Jika, selain memusuhi-Ku, engkau juga memusuhi rumah Tuhan, gereja, dan semua saudara-saudari, selalu ingin melihat rumah Tuhan menjadi bahan tertawaan dan selalu ingin melihat-Ku menjadi bahan tertawaan; jika engkau bertepuk tangan dan bersorak ketika si naga merah yang sangat besar dan dunia keagamaan mengarang rumor yang tidak berdasar tentang-Ku, dan engkau bahkan menyebarkannya di antara saudara-saudari, dengan sengaja memfitnah-Ku serta menyesatkan saudara-saudari, maka Aku juga akan bertindak sesuai dengan prinsip. Aku tidak akan membalas dendam kepadamu; Aku akan menanganimu sesuai dengan ketetapan administratif rumah Tuhan, yang adil dan masuk akal. Aku akan meminta pemimpin dan pekerja mencari ketetapan administratif tersebut, Aku akan meminta orang yang dipakai oleh Roh Kudus untuk membedakan serta menangani hal ini, dan Aku akan menyerahkan keputusan akhir penanganannya kepada gereja dan kepada rumah Tuhan. Aku melakukan segala sesuatu sesuai dengan prinsip; yakinlah, Aku memperlakukan orang dengan keadilan mutlak. Jika seseorang adalah orang baik yang benar-benar percaya kepada Tuhan dan mengejar kebenaran, dia pasti akan tetap berada di rumah Tuhan. Namun, jika seseorang adalah orang jahat yang memusuhi rumah Tuhan dan memusuhi Tuhan, yang berasal dari Iblis, dan yang merupakan setan yang jahat, rumah Tuhan sama sekali tidak akan membiarkan orang semacam itu lolos. Apakah engkau mengerti? (Ya.) Jika engkau termasuk dalam kategori antikristus, orang jahat, setan yang jahat, atau hamba Iblis, Aku juga akan bertindak sesuai dengan prinsip dalam cara-Ku memperlakukanmu; Aku tidak akan berbuat tidak adil terhadapmu. Aku harus memahami apakah engkau menyinggung-Ku secara tidak disengaja, atau apakah engkau hanya memiliki pendapat dan pandangan negatif tentang-Ku secara pribadi, apakah karena Aku tampak tidak mencolok, memiliki penampilan yang biasa dan normal, tidak tinggi besar, tidak memiliki latar belakang yang bergengsi, berasal dari latar belakang sederhana, dan merupakan orang biasa sehingga engkau memandang rendah Aku serta berulang kali menyinggung-Ku, mengatakan hal-hal yang tidak sopan, atau apakah karena engkau memiliki pemikiran buruk dan sikap yang memusuhi terhadap seluruh gereja dan rumah Tuhan. Aku harus mencari tahu tentangmu. Setelah engkau menyinggung-Ku, Aku harus melihat bagaimana sikapmu di balik layar terhadap gereja, terhadap saudara-saudari, terhadap tugasmu, dan terhadap berbagai pekerjaan rumah Tuhan. Begitu Aku memiliki pemahaman yang akurat tentangmu, Aku akan menanganimu sesuai dengan prinsip. Aku sama sekali tidak akan berbuat tidak adil terhadapmu; sekalipun engkau dikeluarkan, itu bukanlah berbuat tidak adil terhadapmu. Rumah Tuhan akan sepenuhnya akurat dalam menanganimu. Namun, sebelum menanganimu, Aku sendiri sama sekali tidak akan secara subjektif berkata, "Keluarkan dia dari gereja!" Aku sama sekali tidak akan melakukan hal ini. Aku mengikuti prosedur rumah Tuhan untuk mencari tahu, menyelidiki, menangani, dan menyelesaikan hal ini, pada akhirnya membuat semua orang mengakui bahwa hal ini ditangani sesuai dengan prinsip. Engkau semua dapat melihat orang-orang yang telah diberhentikan dari tugas mereka, ditangani, dan dikeluarkan, serta melihat apakah cara rumah Tuhan menangani mereka ada hubungannya dengan sikap mereka terhadap-Ku. Selain itu, ada orang-orang yang telah percaya kepada Tuhan selama beberapa tahun, tetapi mereka masih berbicara kepada-Ku seperti orang tidak percaya. Aku merasakan kemuakan di dalam hati-Ku ketika mendengarnya, tetapi Aku tidak memangkas mereka secara langsung, Aku juga tidak pernah mengincar mereka. Ada juga orang-orang yang masih muda serta memiliki sikap yang gampang marah, dan memanggil siapa pun yang mereka ajak bicara dengan "hei, kau", tidak memiliki sopan santun, bersikap seperti orang yang tidak pernah diajari tata krama. Aku juga tidak memangkas orang-orang seperti ini; Aku tidak pernah melakukan hal semacam itu. Singkatnya, berapa lama pun engkau semua telah percaya kepada Tuhan, entah engkau memiliki landasan apa pun, seperti apa pun kemanusiaanmu, tugas apa pun yang engkau semua laksanakan, atau apakah Aku baru bertemu denganmu sekali atau telah berinteraksi denganmu berulang kali, Aku sedikit banyak memahami dan memiliki pandangan tertentu tentang esensi naturmu, dan untuk individu-individu tertentu, Aku bahkan telah menggolongkan mereka. Bahwa Aku memahami esensi natur seseorang dan memiliki pandangan tertentu tentangnya, itu tidak berkaitan dengan kesudahan orang tersebut, tetapi menggolongkan dirinya berkaitan dengan hal itu. Dia memiliki perwujudan dan penyingkapan semacam ini, jadi Aku memiliki prinsip untuk memperlakukannya, dan menggolongkan dirinya. Meskipun Aku memiliki prinsip untuk orang-orang, dan menggolongkan mereka, pernahkah engkau melihat-Ku menangani siapa pun? Aku tidak pernah menangani siapa pun. Aku menantikan kedaulatan Tuhan dan pengaturan-Nya. Selain itu, Aku menyerahkan hal-hal ini kepada gereja; gereja akan menanganinya sesuai dengan prinsip. Menurutmu, bagaimana prinsip-Ku tentang cara memperlakukan orang? (Itu sejalan dengan prinsip-prinsip kebenaran; yaitu, Tuhan memegang kedaulatan atas segala sesuatu dan mengatur segalanya.) Benar, Tuhan memegang kedaulatan atas segala sesuatu dan mengatur segalanya; segala sesuatu harus diserahkan pada kedaulatan dan pengaturan Tuhan. Prinsip-prinsip ini juga berkaitan dengan tunduk pada kebenaran dan tunduk pada pengaturan serta penataan Tuhan. Engkau tidak hanya harus memiliki kesadaran dan sikap ini, tetapi engkau juga harus bertindak dan menerapkannya dengan cara ini.

Tuhan yang berinkarnasi memiliki hidup Tuhan, dan memiliki esensi ilahi sebagai hidup-Nya. Pertama-tama, prinsip, sudut pandang, dan metode yang Dia miliki dalam segala hal yang Dia sendiri lakukan tidak boleh melanggar prinsip-prinsip kebenaran. Seperti apa pun kepribadian dan cara pengungkapan kemanusiaan normal-Nya, atau di antara orang-orang seperti apa pun Dia hidup, pertama-tama, prinsip yang Dia ikuti tidak boleh melanggar prinsip-prinsip kebenaran; prinsip-prinsip itu selaras dengan hidup Tuhan dan esensi Tuhan. Karena Tuhan yang berinkarnasi mengajarimu cara berperilaku, Dia sendiri harus terlebih dahulu menjadi orang seperti itu. Karena Dia memiliki apa yang dihidupi seperti itu dan esensi seperti itu, Dia dapat mengajarimu untuk menjadi orang seperti itu. Dalam hal ini saja, daging inkarnasi Tuhan memiliki kemampuan dan kondisi yang memadai untuk menuntunmu ke jalan hidup manusia yang benar, untuk menuntunmu ke jalan keselamatan, dan untuk membawamu ke hadapan Tuhan, memungkinkanmu untuk memiliki sikap dan hati yang tunduk kepada Tuhan. Jika engkau semua dapat menerapkan dan memperoleh firman-firman yang telah Kuucapkan serta khotbah-khotbah yang telah Kuberikan ini, maka firman ini sudah cukup untuk memungkinkanmu membuang watak-watak rusakmu dan menjadi orang-orang yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Daging inkarnasi Tuhan hidup dalam kemanusiaan yang normal dan dalam kehidupan nyata, dan meskipun cara hidup serta bentuk keberadaan ini hanya memungkinkan kontak yang terbatas dengan orang-orang, berbagai prinsip yang Dia ikuti tentang cara memperlakukan orang saat berinteraksi dengan sejumlah orang yang terbatas tidaklah bertentangan atau berlawanan dengan prinsip-prinsip tentang cara berperilaku yang Tuhan ajarkan kepada manusia, melainkan selaras dengannya. Oleh karena itu, dalam hal perwujudan kemanusiaan yang normal atau perwujudan watak-watak rusak dari semua jenis orang, entah itu tindakan yang menyinggung atau lancang terhadap-Ku secara pribadi, dan entah itu tindakan yang sesuai dengan kepribadian, preferensi, atau perasaan-Ku sendiri pada saat itu, Aku dapat memperlakukan semua orang dengan benar. Jika engkau selalu meragukan-Ku, bersikap waspada terhadap-Ku, dan bersiasat terhadap-Ku, atau selalu berpikir Aku sedang bersiasat terhadapmu, Aku tetap dapat memperlakukanmu dengan benar. Watak rusak macam apa pun yang kauperlihatkan, entah engkau berbohong, meragukan-Ku, berspekulasi tentang-Ku, bersikap waspada terhadap-Ku dan selalu ingin menghindari-Ku, atau bersiasat terhadap-Ku di dalam hatimu, Aku dapat memperlakukanmu dengan benar. Aku sama sekali tidak akan menggunakan metodemu untuk membalas dendam kepadamu. Aku tidak akan membalas mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Sekalipun Aku tahu apa yang sedang kaupikirkan, dan tahu bagaimana engkau ingin bersiasat terhadap-Ku serta memperlakukan-Ku, dan sekalipun Aku melihat bahwa engkau menatap-Ku dengan sangat tidak bersahabat, Aku tetap dapat memperlakukanmu dengan benar. Yakinlah, Aku sama sekali tidak akan membalas dendam kepadamu. Engkau mungkin merasa bahwa, dengan tidak membalas dendam kepadamu, Aku sebenarnya sedang mencari kesempatan untuk memanfaatkanmu, dan Aku sedang bersiasat terhadapmu. Engkau salah berpikir demikian; engkau sedang berspekulasi tentang-Ku. Aku telah memberitahumu prinsip-prinsip-Ku tentang cara-Ku memperlakukan orang. Apakah engkau semua memahami-Ku sekarang? (Ya.) Jadi, apakah Aku sangat mudah diajak bergaul? Apakah menurut orang-orang Aku mudah dihadapi? (Tuhan memperlakukan kami dengan ketulusan, jadi kami harus bersikap terbuka dan jujur kepada Tuhan.) Prinsip ini benar. Namun, jika engkau tidak dapat bersikap terbuka dan jujur, katakan kepada-Ku, akankah Aku memangkasmu dan mengungkapkan hal-hal buruk yang kaulakukan di masa lalu? (Tidak.) Aku akan memiliki kesan buruk tentangmu di dalam hati-Ku, berpikir bahwa orang ini sangat perhitungan, berbicara dengan ragu-ragu, seolah-olah setiap kata harus dipaksakan keluar, dan tidak berterus terang kepada orang-orang. Namun, sekalipun Aku memiliki kesan buruk tentangmu di dalam hati-Ku, Aku tidak akan mengincarmu. Jika sebagian besar orang melaporkan bahwa engkau melaksanakan tugasmu dengan lumayan baik di rumah Tuhan, tetapi watakmu sedikit licik, engkau tidak berterus terang kepada-Ku, dan engkau selalu pamer serta menyombongkan diri di hadapan-Ku, Aku akan tetap dapat memperlakukanmu dengan benar dan memberimu kesempatan untuk berubah seiring berjalannya waktu. Aku sama sekali tidak akan melihat watak-watak rusak apa yang engkau semua perlihatkan dan kemudian berkata, "Aku tidak bisa menoleransi kesalahan sedikit pun. Aku bisa langsung mengetahui dengan jelas apa pun watak rusak yang kaumiliki dengan melihatnya sekilas. Jika engkau tidak memercayai-Ku, Aku akan menyingkapkan apa yang sedang kaupikirkan di dalam hatimu, dan engkau dapat melihat apakah Aku benar." Aku tidak melakukan hal-hal ini. Aku menyikapi berbagai perwujudan watak rusak orang dengan benar, termasuk yang muncul dalam perkataan mereka, perilaku mereka, dan dalam pikiran serta pandangan mereka. Jika engkau adalah orang yang mengejar kebenaran dan mencintai hal-hal positif, engkau akan berangsur-angsur mengubah watak-watak rusak dan keadaanmu ini sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Jika engkau bukan orang yang mengejar kebenaran, bahkan menyiramimu secara paksa pun tidak akan ada gunanya; engkau tidak akan berubah. Sesopan dan sesantun apa pun engkau kepada-Ku di hadapan-Ku, itu tidak ada gunanya; itu tidak bisa menggantikan penerapanmu akan kebenaran atau ketundukanmu pada kebenaran. Entah engkau sopan atau tidak sopan di hadapan-Ku, Aku akan memperlakukanmu dengan benar. Dahulu, ada orang-orang yang, karena tingkat pertumbuhan mereka yang kecil dan kurangnya pemahaman akan kebenaran, memperlihatkan banyak watak rusak ketika mereka berinteraksi dan berkomunikasi dengan-Ku, dan mereka juga memperlihatkan banyak pemberontakan serta penentangan. Namun setelah itu, mereka merasa menyesal dan berbalik, dan beberapa tahun kemudian, mereka memahami beberapa kebenaran dan berubah. Kebetulan, rumah Tuhan mempromosikan mereka lagi. Ketika Aku mendengar mereka telah dipromosikan, Aku cukup senang di dalam hati-Ku. Engkau lihat, Aku tidak menyimpan dendam, bukan? (Engkau tidak menyimpan dendam.) Aku tetap dapat memperlakukan mereka dengan benar. Aku tidak berkata, "Sebelumnya, engkau tidak hormat kepada-Ku, engkau tidak mendengarkan apa pun yang Kukatakan, dan engkau melakukan begitu banyak hal yang menyakiti perasaan-Ku. Sekarang engkau telah dipromosikan lagi. Aku harus memberitahumu bahwa Aku tahu semua hal yang telah kaulakukan sebelumnya; jangan kaukira Aku telah melupakannya." Aku tidak melakukan hal-hal ini. Sebaliknya, Aku menghibur mereka, dengan berkata, "Mengejarlah dengan sungguh-sungguh. Jangan memiliki beban mental apa pun." Ketika orang memiliki tingkat pertumbuhan yang kecil dan tidak memahami kebenaran, mereka semua akan memperlihatkan pemberontakan, karena orang hidup di bawah kendali watak yang rusak, dan orang yang, di dalam hatinya, kebenaran tidak memegang kekuasaan, tidak dapat menguasai diri mereka sendiri, mengatakan dan melakukan hal-hal di luar kehendak mereka. Seperti inilah orang yang hidup menurut watak rusak. Oleh karena itu, jangan memiliki beban mental apa pun dalam pengejaranmu akan kebenaran. Aku sama sekali tidak akan memandang siapa pun, atau ras mana pun, dengan prasangka. Aku tidak melihat tingkat pendidikanmu, atau masa lalumu. Aku hanya melihat esensi kemanusiaanmu dan pengejaranmu, serta sikapmu terhadap kebenaran, sikapmu terhadap Tuhan, dan sikapmu terhadap tugasmu. Jika engkau pernah bersikap asal-asalan dalam melaksanakan tugasmu, dan menyebabkan beberapa kerugian bagi rumah Tuhan atau bahkan melakukan perbuatan jahat yang menyebabkan kekacauan serta gangguan saat melaksanakan tugasmu, meskipun hal-hal itu tergambar jelas di benak-Ku dan terpatri dalam ingatan-Ku, Aku tidak akan terpengaruh atau disesatkan oleh hal-hal itu dalam cara-Ku memandangmu. Aku akan memandangmu secara menyeluruh; Aku akan memandangmu sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran, melihat bagaimana engkau melaksanakan tugasmu dan memperlakukan tugasmu sekarang, dan apakah engkau masih bersikap asal-asalan seperti sebelumnya. Dahulu, engkau tidak dapat melindungi kepentingan rumah Tuhan, bertindak terlalu waspada dan berusaha menjadi penyenang orang. Sudahkah engkau berbalik dan berubah sekarang? Dapatkah engkau menerapkan beberapa kebenaran sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran? Dahulu, engkau selalu mendambakan kenyamanan daging; sekarang dapatkah engkau menanggung kesukaran? Sudahkah engkau mengorbankan dirimu dengan tulus? Dapatkah engkau mencari kebenaran selama proses pelaksanaan tugasmu? Apakah engkau memiliki sedikit kesetiaan dan ketulusan? Sudahkah engkau membuat kemajuan dan berubah dibandingkan dengan sebelumnya? Inilah hal-hal yang Kulihat. Jika dahulu engkau selalu bersikap asal-asalan, menikmati kenyamanan, dan tidak melindungi kepentingan rumah Tuhan, dan sekarang engkau masih seperti ini, maka Aku tidak akan memiliki perasaan yang baik terhadapmu di dalam hati-Ku. Jika dahulu engkau seperti itu, maka meskipun Aku memiliki kesan buruk tentangmu, sekarang setelah engkau berubah, Aku cukup senang. Aku bahkan akan menghiburmu, dengan berkata, "Mulai sekarang, mengejarlah seperti ini. Dahulu, tingkat pertumbuhanmu terlalu kecil, engkau masih muda dan belum dewasa, dan engkau hanya merajalela melakukan hal-hal buruk; semua ini adalah pelajaran bagimu. Engkau seharusnya mengejar kebenaran untuk membereskan sikapmu yang asal-asalan dan perbuatan jahatmu, kemudian engkau akan benar-benar berubah." Aku akan menghibur dan mendorongmu. Jika itu adalah orang-orang jahat, melihat bahwa engkau telah berubah, mereka akan cemburu kepadamu dan membencimu. Mereka tidak akan bersikap sopan kepadamu, dengan berkata, "Aku harus mengungkapkan hal-hal buruk yang kaulakukan di masa lalu dan menunjukkan kepada orang-orang betapa mengerikannya engkau sebelumnya. Jangan mengira aku tidak tahu tentang semua ini!" Engkau lihat, manusia yang rusak hanya suka berlagak pintar, memainkan tipu muslihat picik, membuat kehadiran mereka dirasakan, mengungkapkan kekurangan orang lain, dan menggali masa lalu orang yang buruk. Aku benar-benar tidak pernah melakukan hal-hal semacam itu. Aku tidak pernah mengatakan hal-hal semacam itu kepada orang-orang. Aku hanya mencoba mendorong dan menenangkan mereka, agar mereka merasakan kedamaian dalam hati mereka dan merasa bahwa mengejar kebenaran itu baik. Ketika Aku melihat bahwa mereka telah sedikit berubah, Aku harus mendorong mereka, memberi tahu bahwa mereka telah membuat kemajuan, dan memberi mereka sedikit motivasi serta kepercayaan diri. Katakan kepada-Ku, dalam memperlakukan orang dengan cara ini, apakah Aku bertindak sesuai prinsip? (Ya.) Apakah Aku bertindak berdasarkan sifat alami atau sikap yang gampang marah? (Tidak.) Ada orang yang berkata, "Apakah Engkau memiliki ingatan yang buruk? Mungkin Engkau tidak peduli dengan hal-hal ini? Atau Engkau pada dasarnya berpikiran luas?" Katakan kepada-Ku, apakah ini ada hubungannya dengan kepribadian, berpikiran luas, atau ingatan? (Tidak.) Sekalipun orang pada dasarnya berpikiran luas dan memiliki kepribadian yang baik, jika mereka hidup di bawah kendali watak yang rusak, mereka tetap tidak dapat memperlakukan orang sesuai dengan prinsip atau memberi orang kesempatan untuk menempuh jalan yang benar; mereka tidak dapat mencapai hal ini. Paling-paling, manusia yang rusak akan berkata, "Aku tidak akan mengungkapkan kekuranganmu, karena kalau aku melakukannya, orang justru akan mentertawakanku." Mereka melakukan ini demi harga diri dan karena tekanan opini publik di dunia, khawatir bahwa berperilaku seperti itu akan membuat mereka terlihat picik dan tidak berjiwa besar. Hanya untuk melindungi harga diri mereka sendiri, mereka menahan diri untuk tidak mengungkapkan kekurangan orang, tetapi dapatkah mereka menunjukkan beberapa jalan yang benar bagi orang-orang? (Tidak.) Bagi sebagian besar orang, sudah cukup baik jika mereka dapat menahan diri untuk tidak membalas dendam; meminta mereka untuk membantu orang lain atau mendoakan yang terbaik bagi orang lain adalah hal yang mustahil bagi mereka. Paling-paling, mereka merasa, "Apakah engkau berhasil atau tidak, itu tidak ada hubungannya denganku." Ada orang-orang yang menyerukan, "Aku adalah seorang berbudi pekerti yang rendah hati; aku tidak bisa membalas dendam kepada orang-orang," tetapi di dalam hati, mereka berpikir, "Seandainya saja segala sesuatunya berjalan buruk bagimu. Jika kau berhasil, aku akan merasa tidak nyaman di dalam hati. Aku akan senang ketika akhirnya tiba saat kau mati!" Perkataan mereka penuh dengan kebajikan, kebenaran, dan moralitas, tetapi hati mereka jahat dan kejam. Mereka hanya mengatakan hal-hal yang terdengar manis, sementara hati mereka lebih berniat jahat daripada siapa pun. Ini disebut memiliki lidah semanis madu dan hati sepahit empedu; ini disebut menjadi orang munafik. Engkau lihat, dapatkah manusia yang rusak berhasil memperlakukan orang lain berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran? Manusia yang rusak memikirkan satu hal dan melakukan hal yang lain. Di luarnya, untuk membuat diri mereka terlihat terhormat, santun, dan mulia, mereka mengatakan hal-hal yang terdengar manis, tetapi mereka tidak berpikir seperti itu di dalam hatinya, dan diam-diam melakukan hal-hal untuk menjegal orang lain. Oleh karena itu, dalam hal cara orang tidak percaya memperlakukan orang lain, sekalipun mereka tidak membalas dendam kepadamu, mereka juga tidak akan mengharapkan yang terbaik bagimu. Cara mereka memperlakukan orang tidak selaras dengan prinsip-prinsip kebenaran. Ketika melihatmu berhasil, di dalam hatinya, mereka merasa tidak nyaman dan iri; ketika melihatmu gagal, jika ada kesempatan, mereka akan menaburkan garam di atas lukamu atau bahkan menendangmu beberapa kali, dan barulah mereka akan merasa kebencian mereka mereda. Menahan diri untuk tidak membalas dendam saja sudah cukup sulit bagi mereka, apalagi bersikap sesuai dengan prinsip terhadap orang-orang; mereka tidak memiliki kemanusiaan semacam itu.

Tuhan yang berinkarnasi menjadi orang biasa. Dalam kehidupan-Nya sehari-hari, cara-Nya memperlakukan orang setidaknya berada dalam batas-batas hati nurani dan nalar; itu sama sekali tidak akan berada di bawah standar ini, dan hanya bisa berada di atasnya. Sudah jelas bahwa Tuhan yang berinkarnasi memperlakukan orang sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Karena Dia memiliki esensi ilahi, Dia bahkan lebih mampu memperlakukanmu sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran, dan sama sekali tidak akan mengincarmu. Sama halnya dengan cara rumah Tuhan memperlakukan semua jenis orang: memberhentikan pemimpin dan pekerja di semua tingkatan, menyesuaikan penugasan tugas orang atau memberhentikan mereka, mengeluarkan semua jenis orang, dan sebagainya, semuanya dilaksanakan sesuai dengan prinsip, tidak diputuskan berdasarkan preferensi siapa pun; keputusan-keputusan ini disetujui oleh sebagian besar orang di gereja. Jadi, kebenaran sepenuhnya memegang kekuasaan di rumah Tuhan; ini benar. Bahkan orang dengan kemanusiaan yang normal pun mampu melakukan berbagai hal dengan cara yang sesuai dengan standar hati nurani yang dimiliki oleh orang normal, dan ketika menyangkut prinsip-prinsip kebenaran, mereka tetap mampu mematuhi standar hati nurani dan nalar orang normal, apalagi kemanusiaan normal yang dikenakan oleh Tuhan yang berinkarnasi. Mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan gereja, tugas-tugas yang engkau semua laksanakan, dan watak-watak rusakmu, Dia terlebih lagi mampu memperlakukan engkau semua sesuai dengan prinsip. Dalam hal bagaimana Aku, orang yang biasa dan normal ini, berinteraksi dan berhubungan denganmu, dengan cara apa pun Aku mempersekutukan kebenaran atau masalah macam apa pun yang Kutangani, katakan kepada-Ku, apakah kemanusiaan-Ku yang normal ini layak engkau semua percayai? (Ya.) Apakah engkau semua perlu membangun garis pertahanan untuk mewaspadai-Ku? (Tidak.) Jadi, biar Kuberitahukan hal ini: Ketika berbicara dan berinteraksi dengan-Ku, engkau hanya perlu bersikap terbuka dan jujur. Sebanyak apa pun yang Kuketahui tentangmu atau apa pun yang Kuketahui tentangmu, Aku akan memperlakukanmu sesuai dengan prinsip. Sikap apa pun yang kaumiliki terhadap-Ku, Aku akan tetap memperlakukanmu sesuai dengan prinsip. Engkau bisa yakin; tidak perlu bersikap waspada terhadap-Ku. Mengesampingkan esensi ilahi-Ku dan kehidupan ilahi-Ku, hanya esensi kemanusiaan yang dimiliki oleh sisi diri-Ku yang normal dan nyata ini, orang biasa ini, adalah sesuatu yang dapat engkau semua percayai. Apa pun yang sedang kita diskusikan, engkau tidak boleh memiliki mentalitas yang rumit. Engkau hanya perlu bersikap sederhana dan terbuka. Jika engkau menghadapi kesulitan apa pun, bicarakan saja secara langsung. Tidak perlu bersikap waspada terhadap-Ku seperti engkau bersikap waspada terhadap orang asing. Jika engkau selalu bersikap waspada terhadap-Ku, maka ada satu hal yang akan Kukatakan kepadamu: Engkau terlalu bodoh, dan engkau buta! Tidakkah engkau tahu pekerjaan apa yang Kulakukan? Makin engkau bersikap waspada terhadap-Ku, makin engkau tidak akan mampu memperoleh kebenaran pada akhirnya. Bukankah ini menahan dirimu sendiri dan menghancurkan dirimu sendiri? Jika engkau selalu meragukan daging inkarnasi Tuhan dan bersikap waspada terhadap-Nya, dan dengan cara apa pun Dia berbicara serta mempersekutukan kebenaran, engkau selalu mempertahankan sikap meneliti, tidak menerima apa yang Dia katakan sekalipun engkau memang mengakui bahwa itu adalah kebenaran, maka Roh Kudus bukan saja tidak akan mencerahkan atau memberkatimu, tetapi sebaliknya, Tuhan akan menyembunyikan wajah-Nya darimu dan mengabaikanmu. Jika engkau tidak memercayai-Ku, cobalah saja dan lihat apakah memang benar demikian. Jika engkau tidak memiliki prinsip saat berinteraksi dengan-Ku, orang biasa dengan kemanusiaan yang normal ini, engkau tidak tahu bagaimana berinteraksi dengan-Ku, dan engkau tidak tahu bagaimana memperlakukan-Ku sesuai dengan prinsip-prinsip yang Tuhan ajarkan kepadamu, maka bukankah engkau akan memperlakukan Tuhan yang di surga dengan cara yang sama? (Ya.) Jika engkau berinteraksi dengan Tuhan yang di surga dengan cara yang sama, apa akibatnya? (Kami akan dikutuk dan dibunuh.) Engkau salah lagi. Tuhan tidak dengan sewenang-wenang membunuh orang. Namun, engkau tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk melihat rupa sejati Tuhan, engkau juga tidak akan pernah memenuhi syarat untuk melihatnya; ini adalah fakta. Engkau tidak akan pernah memenuhi syarat untuk melihat rupa sejati Tuhan; engkau bahkan tidak akan dapat melihat punggung Tuhan. Apa artinya? Artinya, Tuhan tidak akan pernah mengakuimu sebagai makhluk ciptaan-Nya. Apa artinya Ayub melihat punggung Yahweh? Apa artinya Abraham mendengar suara Tuhan sendiri berbicara kepadanya? (Tuhan berkenan kepada mereka.) Itu berarti mereka memenuhi syarat untuk bercakap-cakap dengan Tuhan, bercakap-cakap dengan Tuhan yang di surga, dengan rupa sejati-Nya, dengan Roh Tuhan. Tuhan mengakui dan menerima mereka sebagai makhluk ciptaan. Tuhan mengakui mereka sebagai makhluk ciptaan. Tuhan mendapatkan mereka. Makna dari hal ini sangatlah mendalam! Tuhan bersedia melihat mereka dan bersedia bercakap-cakap dengan mereka. Tuhan bersedia membuat mereka mendengar suara-Nya berbicara dari surga. Tuhan bersedia membuat mereka melihat tubuh rohani-Nya, untuk menyatakannya kepada mereka. Betapa besarnya berkat ini bagi umat manusia! Ini adalah kehormatan yang luar biasa! Apakah engkau semua mencari hal ini? Engkau semua mungkin tidak berani mencarinya, tetapi engkau semua harus memiliki keinginan ini. Jadi, bagaimana seharusnya engkau menerapkannya untuk mewujudkan keinginan ini? Pertama, mulailah menerapkannya dari caramu memperlakukan Tuhan yang berinkarnasi, orang yang biasa dan normal ini. Bagaimana seharusnya engkau berinteraksi dengan-Nya dan memperlakukan-Nya? Ketika engkau melihat-Nya dalam wujud-Nya yang nyata, jika engkau dapat berinteraksi dengan-Nya secara normal, menerima segala sesuatu tentang-Nya, bersikap terbuka dan jujur kepada-Nya, serta tidak memiliki penghalang atau kesulitan dalam berinteraksi dan bergaul dengan-Nya, maka di hadapan Tuhan—setidaknya di mata-Ku—Aku akan bersedia berinteraksi denganmu; Aku tidak akan merasa jijik terhadapmu. Dengan demikian, engkau mungkin memiliki kesempatan dan memenuhi syarat untuk mendengar suara Tuhan, mendengar suara Tuhan sendiri berbicara dari surga, dan melihat sosok Tuhan. Tentu saja, saat ini engkau semua masih jauh dari tujuan ini; Aku hanya memberimu jalan. Jika engkau semua bahkan tidak dapat melewati rintangan yang Aku, orang biasa ini, hadirkan, tetapi engkau ingin melihat Tuhan yang di surga, ada satu hal yang harus Kukatakan kepadamu: Itu tidak mungkin! Itu benar-benar angan-angan belaka!

Baiklah, mari kita akhiri persekutuan kita di sini untuk hari ini. Sampai jumpa!

14 September 2024

Sebelumnya: Cara Mengejar Kebenaran (26)

Selanjutnya: Cara Mengejar Kebenaran (29)

Pengaturan

  • Teks
  • Tema

Warna Solid

Tema

Jenis Huruf

Ukuran Huruf

Spasi Baris

Spasi Baris

Lebar laman

Isi

Cari

  • Cari Teks Ini
  • Cari Buku Ini

Hubungi kami via WhatsApp