E. Tentang Cara Menjadi Orang yang Jujur
384. Engkau semua harus tahu bahwa Tuhan menyukai orang yang jujur. Tuhan memiliki esensi kesetiaan, jadi firman-Nya selalu bisa dipercaya; terlebih lagi, tindakan-Nya tidak bercela dan tidak dapat diragukan, inilah sebabnya Tuhan menyukai mereka yang sepenuhnya jujur kepada-Nya. Kejujuran berarti memberikan hatimu kepada Tuhan, tidak bersikap palsu terhadap Tuhan dalam hal apa pun, terbuka kepada-Nya dalam segala sesuatu, tidak pernah menyembunyikan fakta, tidak berusaha menipu orang-orang di atas dan di bawahmu, dan tidak melakukan sesuatu hanya demi menjilat Tuhan. Singkatnya, jujur berarti murni dalam tindakan dan perkataanmu, dan tidak menipu baik Tuhan maupun manusia. Apa yang Kukatakan sangat sederhana, tetapi bagimu terasa dua kali lebih sulit. Banyak orang lebih suka masuk neraka daripada berbicara dan bertindak jujur. Tidak mengherankan bahwa Aku memiliki perlakuan lain bagi mereka yang tidak jujur. Tentu saja, Aku sangat tahu betapa sulitnya bagimu untuk menjadi orang jujur. Karena engkau semua begitu "pintar", begitu pandai mengukur hati orang mulia dengan pola pikirmu yang picik, ini membuat pekerjaan-Ku jauh lebih mudah. Karena engkau masing-masing menyimpan rahasia di dalam hati, baiklah, Aku akan mengirimmu satu per satu ke dalam bencana untuk "dididik" dengan api, sehingga sesudahnya engkau bisa teguh sepenuhnya dalam memercayai firman-Ku. Pada akhirnya, Aku akan memeras dari mulutmu kata-kata ini, "Tuhan adalah Tuhan yang setia," lalu engkau akan memukul dadamu dan meratap, "Hati manusia sangatlah licik!" Bagaimana keadaan pikiranmu pada saat itu? Engkau pasti tidak akan terbuai oleh kesombongan sebagaimana sekarang. Terlebih lagi, engkau tidak akan "sedalam dan sesulit itu untuk dipahami" sebagaimana sekarang. Di hadirat Tuhan, beberapa orang bertingkah laku sangat taat aturan, dan sangat "berperilaku baik", tetapi mereka memperlihatkan taringnya dan menunjukkan cakarnya di hadapan Roh. Apakah engkau akan memasukkan orang-orang seperti itu ke dalam golongan orang jujur? Jika engkau seorang munafik, seorang yang cakap dalam "hubungan antarpribadi", maka Aku katakan bahwa engkau benar-benar seseorang yang berusaha meremehkan Tuhan. Jika kata-katamu dipenuhi dengan alasan dan pembenaran diri yang tidak ada nilainya, Aku berkata bahwa engkau adalah orang yang enggan menerapkan kebenaran. Jika engkau memiliki banyak hal pribadi yang sulit untuk kaubicarakan, jika engkau sangat enggan untuk menyingkapkan rahasiamu—kesulitan-kesulitanmu—di depan orang lain untuk mencari jalan terang, Aku berkata bahwa engkau adalah orang yang akan sangat sulit untuk memperoleh keselamatan, dan yang akan sulit keluar dari kegelapan. Jika engkau sangat senang mencari jalan kebenaran, berarti engkau adalah orang yang selalu hidup di dalam terang. Jika engkau sangat senang menjadi pelaku pelayanan di rumah Tuhan, bekerja dengan rajin dan sungguh-sungguh dalam ketersembunyian, selalu memberi dan tidak pernah mengambil, Aku berkata bahwa engkau adalah orang kudus yang setia, karena engkau tidak mencari upah dan hanya menjadi seorang yang jujur. Jika engkau mau berterus terang, jika engkau rela mengorbankan diri sepenuhnya, jika engkau mampu mengorbankan hidupmu bagi Tuhan dan tetap teguh dalam kesaksianmu, jika engkau jujur sampai hanya tahu untuk memuaskan Tuhan dan tidak memikirkan dirimu sendiri atau mengambil untuk dirimu sendiri, Aku berkata bahwa orang-orang seperti ini adalah mereka yang terpelihara dalam terang dan yang akan hidup selamanya dalam kerajaan.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Tiga Peringatan"
385. Aku sangat menghargai orang-orang yang tidak menaruh curiga terhadap orang lain, dan Aku juga sangat menyukai mereka yang siap menerima kebenaran; terhadap kedua jenis manusia ini Aku menunjukkan perhatian yang besar, karena di mata-Ku mereka adalah orang-orang yang jujur. Jika engkau adalah orang yang licik, engkau akan selalu waspada dan curiga terhadap semua orang dan segala hal, dan dengan demikian imanmu kepada-Ku akan dibangun di atas dasar kecurigaan. Aku tidak pernah bisa mengakui iman seperti ini. Tanpa memiliki iman yang sejati, engkau bahkan lebih tidak memiliki kasih sejati. Dan jika engkau cenderung meragukan Tuhan dan berspekulasi tentang diri-Nya sesuka hatimu, maka tak diragukan lagi, engkau adalah orang yang paling licik di antara manusia. Engkau memikirkan apakah Tuhan dapat menjadi seperti manusia atau tidak: sangat berdosa hingga tak terampuni, berpikiran picik, tak memiliki keadilan dan nalar, tidak memiliki rasa keadilan, penuh dengan taktik yang kejam, berbahaya dan curang, serta senang dengan kejahatan dan kegelapan, dan sebagainya. Bukankah alasan manusia memiliki pemikiran seperti itu karena mereka sama sekali tidak memiliki pengenalan akan Tuhan? Iman seperti ini adalah sama dengan dosa! Bahkan ada beberapa orang yang meyakini bahwa orang-orang yang menyenangkan-Ku tidak lain adalah para penyanjung dan penjilat, dan bahwa mereka yang tidak memiliki kemampuan seperti ini tidak akan diterima di rumah Tuhan dan akan kehilangan tempat mereka di sana. Apakah hanya ini pengenalan yang telah kauperoleh selama bertahun-tahun? Apakah ini yang telah kauperoleh? Dan pengenalanmu tentang diri-Ku tidak berhenti pada kesalahpahaman ini; yang bahkan lebih buruk lagi adalah penghujatanmu terhadap Roh Tuhan dan fitnah terhadap surga. Inilah sebabnya Kukatakan bahwa iman seperti imanmu hanya akan menyebabkan engkau semua menyimpang lebih jauh dari-Ku dan semakin menentang-Ku.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Cara Mengenal Tuhan yang di Bumi"
386. Saat ini, kebanyakan orang terlalu takut untuk membawa tindakan mereka ke hadapan Tuhan; meskipun engkau mungkin bisa membohongi daging-Nya, engkau tidak bisa membohongi Roh-Nya. Apa pun yang tidak dapat bertahan dari pemeriksaan Tuhan berarti tidak sesuai dengan kebenaran, dan harus disingkirkan; jika tidak, hal itu merupakan dosa terhadap Tuhan. Jadi, engkau harus senantiasa menempatkan hatimu di hadapan Tuhan, terlepas dari apakah engkau sedang berdoa, berbicara, dan bersekutu dengan saudara-saudarimu, atau ketika engkau sedang melaksanakan tugas dan menangani urusanmu. Ketika engkau memenuhi fungsimu, Tuhan besertamu, dan selama niatmu benar dan demi pekerjaan di rumah Tuhan, Dia akan menerima semua hal yang engkau lakukan; engkau harus sungguh-sungguh mendedikasikan dirimu untuk memenuhi fungsimu. Ketika engkau berdoa, jika engkau memiliki hati yang mengasihi Tuhan, dan engkau mencari pemeliharaan, perlindungan, dan pemeriksaan Tuhan, jika ini semua adalah niatmu, doa-doamu akan membuahkan hasil. Sebagai contoh, saat engkau berdoa di berbagai pertemuan, jika engkau membuka hatimu dan berdoa kepada Tuhan dan memberitahukan kepada-Nya apa yang ada di hatimu tanpa berkata dusta, doa-doamu pasti akan membuahkan hasil. ...
Menjadi seorang yang percaya kepada Tuhan artinya segala yang engkau lakukan harus dibawa ke hadapan Tuhan dan tunduk pada pemeriksaan-Nya. Jika yang engkau lakukan dapat dibawa ke hadapan Roh Tuhan tetapi tidak dapat dibawa ke hadapan Tuhan yang menjadi manusia, ini menunjukkan bahwa engkau belum tunduk kepada pemeriksaan Roh Tuhan. Siapakah Roh Tuhan? Siapakah Orang yang tentang-Nya Tuhan memberi kesaksian? Bukankah Mereka adalah satu dan sama? Kebanyakan orang melihat Mereka sebagai dua pribadi yang terpisah, percaya bahwa Roh Tuhan adalah Roh Tuhan, sedangkan Orang yang tentang-Nya Tuhan memberi kesaksian hanyalah manusia biasa. Bukankah engkau salah? Atas nama siapakah Orang ini bekerja? Mereka yang tidak mengenal Tuhan yang berinkarnasi tidak memiliki pemahaman spiritual. Roh Tuhan dan inkarnasi-Nya sebagai manusia adalah satu, karena Roh Tuhan terwujud dalam sosok manusia. Jika Orang ini bersikap tidak baik kepadamu, apakah Roh Tuhan akan bersikap baik? Tidakkah engkau bingung? Sekarang ini, siapa pun yang tidak dapat menerima pemeriksaan Tuhan tidak dapat menerima perkenanan-Nya, dan siapa pun yang tidak mengenal Tuhan yang berinkarnasi tidak dapat disempurnakan. Lihatlah semua yang telah engkau lakukan dan tentukan apakah hal-hal tersebut dapat engkau bawa ke hadapan Tuhan. Jika engkau tidak dapat membawa hal-hal tersebut ke hadapan Tuhan, ini menunjukkan bahwa engkau adalah seorang pelaku kejahatan. Dapatkah pelaku kejahatan disempurnakan? Semua yang engkau lakukan, setiap tindakan, setiap niat, dan setiap reaksi harus dibawa ke hadapan Tuhan. Bahkan kehidupan spiritualmu sehari-hari—doamu, kedekatanmu dengan Tuhan, makan dan minum firman Tuhan, persekutuan dengan saudara-saudarimu, dan kehidupan bergerejamu—dan pelayananmu dalam kerja sama dapat dibawa ke hadapan Tuhan untuk diperiksa oleh-Nya. Penerapan semacam inilah yang akan membantumu mencapai pertumbuhan dalam hidup. Proses menerima pemeriksaan Tuhan adalah proses penyucian. Makin engkau mampu menerima pemeriksaan Tuhan, makin engkau disucikan, dan makin engkau selaras dengan maksud-maksud Tuhan, sehingga engkau tidak akan tertarik untuk melakukan kebejatan, dan hatimu akan hidup dalam hadirat-Nya. Makin engkau menerima pemeriksaan Tuhan, makin malu Iblis dan makin engkau mampu untuk memberontak melawan kedagingan. Jadi, menerima pemeriksaan Tuhan adalah jalan penerapan yang harus diikuti oleh orang-orang. Tidak peduli apa pun yang engkau lakukan, bahkan saat bersekutu dengan saudara-saudarimu, engkau dapat membawa tindakanmu ke hadapan Tuhan dan meminta pemeriksaan-Nya, serta bertekad untuk tunduk kepada Tuhan Sendiri; ini akan menjadikan penerapanmu jauh lebih benar. Hanya jika engkau membawa semua yang engkau lakukan ke hadapan Tuhan dan menerima pemeriksaan Tuhan, engkau dapat menjadi seseorang yang hidup dalam hadirat Tuhan.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Tuhan Menyempurnakan Orang-Orang yang Sejalan dengan Maksud-Maksud-Nya"
387. Ada orang-orang yang, ketika mendengar bahwa untuk menjadi orang jujur, orang harus mengatakan yang sebenarnya dan berbicara dari hati mereka, dan jika mereka berbohong atau menipu, mereka harus membuka diri, memberitahukan yang sebenarnya tentang diri mereka, dan mengakui kesalahan mereka, mereka berkata: "Menjadi orang jujur itu sulit. Apakah aku harus mengatakan semua yang kupikirkan kepada orang lain? Bukankah cukup mempersekutukan hal-hal yang positif? Aku tidak perlu memberi tahu orang lain tentang sisi gelap atau sisi rusakku, bukan?" Jika engkau tidak memberitahu orang lain yang sebenarnya tentang dirimu, dan tidak menganalisis dirimu, engkau tidak akan pernah mengenal dirimu sendiri. Engkau tidak akan pernah tahu orang macam apa dirimu, dan orang lain tidak akan pernah dapat memercayaimu. Ini adalah fakta. Jika engkau ingin orang lain memercayaimu, pertama-tama engkau harus menjadi orang jujur. Untuk menjadi orang yang jujur, engkau harus terlebih dahulu membuka hatimu sehingga semua orang dapat melihat isi hatimu, mengetahui semua yang kaupikirkan, dan mengetahui dirimu yang sebenarnya. Engkau tidak boleh berusaha menyamarkan dirimu atau menutupi dirimu. Baru setelah itulah, orang lain akan memercayaimu dan menganggapmu orang yang jujur. Inilah penerapan yang paling mendasar dan prasyarat untuk menjadi orang yang jujur. Jika engkau selalu bersandiwara, selalu berpura-pura kudus, berkarakter mulia, hebat, dan berkarakter tinggi; jika engkau tidak membiarkan orang lain melihat kerusakan dan kelemahanmu; jika engkau menampilkan citra yang palsu sehingga orang-orang menganggapmu orang yang berintegritas, orang yang hebat, orang yang menyangkal diri, adil, dan tidak mementingkan diri sendiri—bukankah ini adalah kelicikan dan kebohongan? Bukankah orang akan dapat mengetahui yang sebenarnya tentang dirimu seiring berjalannya waktu? Jadi, jangan menyamar, atau menutupi dirimu. Sebaliknya, ungkapkan dirimu dan ungkapkan isi hatimu agar orang lain dapat melihatnya. Jika engkau mampu mengungkapkan isi hatimu agar orang lain dapat melihatnya, jika engkau mampu mengungkapkan semua pemikiran dan rencanamu—baik yang positif maupun yang negatif—bukankah itu berarti engkau sedang bersikap jujur? Jika engkau mampu memberitahukan yang sebenarnya tentang dirimu agar orang lain dapat melihatnya, maka Tuhan juga akan melihatmu. Dia akan berkata, "Jika engkau telah memberitahukan yang sebenarnya tentang dirimu agar orang lain dapat melihatnya, engkau tentu jujur di hadapan-Ku." Namun jika engkau hanya memberitahukan yang sebenarnya tentang dirimu kepada Tuhan ketika tidak dilihat orang lain, dan selalu berpura-pura hebat dan penuh kebajikan dan tidak mementingkan diri sendiri saat bersama-sama dengan mereka, lalu apa yang akan Tuhan pikirkan tentang dirimu? Apa yang akan Dia katakan? Dia akan berkata: "Kau orang yang sepenuhnya licik. Kau sangat munafik dan hina; dan kau bukan orang yang jujur." Tuhan akan mengutukmu karenanya. Jika engkau ingin menjadi orang yang jujur, maka entah engkau berada di hadapan Tuhan atau di hadapan orang lain, engkau harus dapat memberikan penjelasan yang murni dan terbuka tentang keadaan di dalam dirimu, dan tentang perkataan di dalam hatimu. Apakah ini mudah dicapai? Ini mengharuskanmu untuk berlatih selama jangka waktu tertentu, dan mengharuskanmu untuk terus-menerus berdoa dan mengandalkan Tuhan. Engkau harus melatih dirimu untuk mengatakan isi hatimu dengan apa adanya dan terbuka mengenai segala hal. Dengan berlatih seperti ini, engkau akan dapat mengalami kemajuan. Jika engkau menghadapi kesulitan besar, engkau harus berdoa kepada Tuhan dan mencari kebenaran; engkau harus berperang di dalam hatimu dan mengalahkan daging, sampai engkau mampu menerapkan kebenaran. Dengan melatih dirimu seperti itu, sedikit demi sedikit, hatimu secara berangsur akan terbuka. Engkau akan menjadi makin murni, dan efek perkataan dan tindakanmu akan berbeda dari sebelumnya. Kebohongan dan kecuranganmu akan makin berkurang, dan engkau akan mampu hidup di hadapan Tuhan. Dengan melakukannya, engkau pada dasarnya telah menjadi orang yang jujur.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Penerapan Paling Mendasar untuk Menjadi Orang Jujur"
388. Tempat tujuan dan nasibmu sangatlah penting bagimu—semua itu memiliki pengaruh yang besar atasmu. Engkau semua percaya, jika engkau tidak melakukan segala sesuatu dengan sangat hati-hati, itu akan berarti bahwa engkau tidak lagi mempunyai tempat tujuan, dan engkau telah menghancurkan nasibmu sendiri. Namun, pernahkah terpikir olehmu bahwa orang-orang yang mencurahkan upaya hanya demi tempat tujuan mereka sedang bekerja keras dalam kesia-siaan? Upaya-upaya seperti itu tidak tulus—semua itu palsu dan tipu daya. Jika demikian, mereka yang mengerahkan upaya hanya demi tempat tujuan mereka sedang berada di ambang kekalahan akhir mereka, karena kegagalan dalam kepercayaan orang kepada Tuhan disebabkan oleh tipu daya. Sebelumnya, Aku telah mengatakan bahwa Aku tidak suka ketika orang menyanjung, menjilat, atau memperlakukan-Ku dengan antusiasme. Aku menyukai orang-orang yang jujur dalam menghadapi kebenaran-Ku dan harapan-Ku. Terlebih dari itu, Aku senang ketika orang-orang mampu memperlihatkan perhatian yang setinggi-tingginya bagi hati-Ku, dan ketika mereka bahkan mampu mengorbankan segalanya demi Aku. Hanya dengan cara inilah hati-Ku dapat dihiburkan.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Tentang Tempat Tujuan"
389. Untuk mengejar kebenaran, orang harus berfokus untuk menerapkan kebenaran, tetapi dari mana orang harus mulai menerapkan kebenaran? Tidak ada peraturan untuk hal ini. Engkau harus menerapkan aspek kebenaran mana pun yang kaupahami. Jika engkau telah memulai suatu tugas, maka engkau harus mulai menerapkan kebenaran dalam pelaksanaan tugasmu. Dalam melaksanakan tugasmu, ada banyak aspek kebenaran yang harus diterapkan, dan engkau harus menerapkan aspek kebenaran mana pun yang kaupahami. Misalnya, engkau bisa memulainya dengan menjadi orang yang jujur, berbicara dengan jujur, dan membuka hatimu. Jika ada sesuatu yang mengenainya engkau terlalu malu untuk membicarakannya dengan saudara-saudarimu, maka engkau harus berlutut dan menceritakannya kepada Tuhan melalui doa. Apa yang harus kaukatakan kepada Tuhan? Katakan kepada Tuhan apa yang ada di dalam hatimu; jangan mengatakan basa-basi kosong atau mencoba untuk menipu-Nya. Mulailah dengan bersikap jujur. Jika engkau lemah, katakanlah engkau lemah; jika engkau jahat, katakanlah engkau jahat; jika engkau licik, katakanlah engkau licik; jika engkau memiliki pemikiran yang berniat jahat dan berbahaya, katakanlah kepada Tuhan tentang hal itu. Jika engkau selalu bersaing untuk mendapatkan status, katakanlah juga kepada-Nya. Biarkan Tuhan mendisiplinkan dirimu; biarkan Dia mengatur lingkungan untukmu. Biarkan Tuhan membantumu melewati semua kesulitanmu dan membereskan semua masalahmu. Engkau harus membuka hatimu kepada Tuhan; jangan menutup hatimu. Sekalipun engkau menjauhkan Dia, Dia tetap bisa memeriksamu. Namun, jika engkau membuka hatimu kepada-Nya, engkau bisa mendapatkan kebenaran. Jadi, jalan mana yang harus kaupilih? Engkau harus membuka hatimu dan katakan kepada Tuhan apa yang terkandung di dalam hatimu. Engkau sama sekali tak boleh mengatakan sesuatu yang palsu atau menyamarkan dirimu. Engkau harus mulai dengan menjadi orang yang jujur. Selama bertahun-tahun, kita telah mempersekutukan kebenaran tentang menjadi orang yang jujur, tetapi saat ini masih banyak orang yang tetap acuh tak acuh, yang berbicara dan bertindak hanya menurut maksud, keinginan, dan tujuan mereka sendiri, dan yang tidak pernah terpikirkan untuk bertobat. Ini bukanlah sikap orang yang jujur. Mengapa Tuhan meminta orang untuk jujur? Apakah agar Dia dapat lebih mudah mengendalikanmu? Tentu saja tidak. Tuhan menuntut orang untuk jujur karena Tuhan mengasihi dan memberkati orang jujur. Menjadi orang jujur berarti menjadi orang yang memiliki hati nurani dan nalar. Itu berarti menjadi orang yang dapat dipercaya, orang yang Tuhan kasihi, dan orang yang mampu menerapkan kebenaran dan mengasihi Tuhan. Menjadi orang yang jujur adalah perwujudan paling mendasar dari orang yang memiliki kemanusiaan normal dan yang hidup dalam keserupaan dengan manusia sejati. Jika orang tidak pernah bersikap jujur, atau tidak pernah mempertimbangkan untuk menjadi jujur, mereka tidak dapat memahami kebenaran, apalagi mendapatkan kebenaran. Jika engkau tidak percaya kepada-Ku, silakan engkau melihatnya sendiri, atau silakan engkau sendiri mengalaminya. Hanya dengan menjadi orang yang jujur, hatimu dapat terbuka kepada Tuhan, engkau dapat menerima kebenaran, kebenaran dapat menjadi hidupmu dalam hatimu, dan engkau dapat memahami dan memperoleh kebenaran. Jika hatimu selalu tertutup, jika engkau tidak membuka dirimu, atau tidak mengatakan siapa pun apa yang terkandung di dalam hatimu, sehingga tidak ada yang bisa memahamimu, maka engkau terlalu penuh tipu daya dan tidak bisa dipahami, dan engkau adalah orang yang paling licik. Jika engkau percaya kepada Tuhan, tetapi tidak mampu secara murni membuka diri kepada Tuhan, jika engkau bisa berbohong kepada Tuhan atau melebih-lebihkan untuk menipu Tuhan, jika engkau tidak mampu membuka hatimu kepada Tuhan, dan masih bisa bicara berputar-putar dan menyembunyikan niatmu, maka engkau hanya akan merugikan dirimu sendiri, dan Tuhan akan mengabaikanmu dan tidak akan bekerja di dalam dirimu. Engkau tidak akan memahami kebenaran apa pun, dan tidak akan mendapatkan kebenaran apa pun. Jadi, mampukah engkau semua memahami pentingnya mengejar dan memperoleh kebenaran? Apa hal pertama yang harus kaulakukan untuk mengejar kebenaran? Engkau harus menjadi orang yang jujur. Hanya jika orang berusaha untuk jujur, barulah mereka dapat mengetahui betapa rusaknya mereka, entah mereka benar-benar memiliki keserupaan dengan manusia atau tidak, dan dapat menilai diri mereka sendiri dengan jelas serta menyadari kekurangan mereka. Hanya jika mereka menerapkan kejujuran, barulah mereka dapat menyadari seberapa banyak kebohongan yang mereka katakan dan sedalam apa tersembunyinya kelicikan dan ketidakjujuran mereka. Hanya ketika orang memiliki pengalaman menerapkan kejujuran, barulah mereka dapat secara berangsur-angsur mengetahui kebenaran tentang kerusakan mereka sendiri dan mengetahui esensi dari natur mereka sendiri, dan baru pada saat itulah watak rusak mereka akan terus-menerus disucikan. Hanya selama proses watak rusak mereka disucikan secara terus-menerus itulah, orang akan mampu memperoleh kebenaran. Luangkan waktumu untuk mengalami firman Tuhan ini. Tuhan tidak menyempurnakan orang yang licik. Jika hatimu tidak jujur—jika engkau tidak berusaha untuk menjadi orang yang jujur—engkau tidak akan didapatkan oleh Tuhan. Demikian pula, engkau tidak akan mendapatkan kebenaran dan juga tak akan mampu mendapatkan Tuhan. Apa maksudnya engkau tidak mendapatkan Tuhan? Jika engkau tidak mendapatkan Tuhan dan engkau belum memahami kebenaran, engkau tidak akan mengenal Tuhan, dan karena itu engkau tidak mungkin bisa sesuai dengan Tuhan, di mana dalam hal ini, engkau adalah musuh Tuhan. Jika engkau tidak sesuai dengan Tuhan, Tuhan bukan Tuhanmu; dan jika Tuhan bukan Tuhanmu, engkau tidak dapat diselamatkan. Jika engkau tidak berusaha memperoleh keselamatan, mengapa engkau percaya kepada Tuhan? Jika engkau tidak dapat memperoleh keselamatan, engkau akan selamanya menjadi musuh sengit Tuhan, dan kesudahanmu akan ditetapkan. Jadi, jika orang ingin diselamatkan, mereka harus memulainya dengan bersikap jujur. Pada akhirnya, orang-orang yang didapatkan oleh Tuhan memiliki suatu ciri. Tahukah engkau semua apa ciri tersebut? Ada tertulis dalam kitab Wahyu, di Alkitab: "Dan di dalam mulut mereka tidak ditemukan dusta; mereka tidak bercacat" (Wahyu 14:5). Siapakah "mereka"? Mereka adalah orang-orang yang diselamatkan, disempurnakan dan didapatkan oleh Tuhan. Bagaimana Tuhan menggambarkan orang-orang ini? Apa karakteristik dan pengungkapan dari cara berperilaku mereka? Mereka tidak bercacat. Mereka tidak berkata dusta. Engkau semua mungkin dapat mengerti dan memahami apa artinya tidak berkata dusta: Itu artinya bersikap jujur. Apa yang dimaksud dengan "tidak bercacat"? Itu berarti tidak melakukan kejahatan. Dan di atas dasar apa tidak melakukan kejahatan dibangun? Tanpa ragu, itu dibangun di atas dasar takut akan Tuhan. Karena itu, tidak bercacat berarti takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Bagaimana Tuhan mendefinisikan orang yang tidak bercacat? Di mata Tuhan, hanya orang yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan yang sempurna; jadi, orang yang tidak bercacat adalah orang yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, dan hanya orang sempurna yang tidak bercacat. Ini sepenuhnya benar.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Enam Indikator Pertumbuhan dalam Hidup"
390. Engkau harus tahu apakah ada iman sejati dan kesetiaan sejati dalam dirimu, entah engkau memiliki pengalaman menderita untuk Tuhan atau tidak, dan entah engkau sudah sepenuhnya tunduk kepada Tuhan. Jika engkau tidak memiliki hal-hal ini, maka masih ada dalam dirimu pemberontakan, kelicikan, ketamakan, dan keluhan. Karena hatimu jauh dari jujur, engkau tidak pernah menerima pengakuan dari Tuhan dan tidak pernah hidup dalam terang. Bagaimana nasib orang pada akhirnya bergantung pada apakah dia memiliki hati yang jujur dan bersih, dan apakah dia memiliki jiwa yang murni. Jika engkau adalah seorang yang sangat tidak jujur, seorang yang hatinya kejam, dan seorang yang jiwanya cemar, maka engkau pasti akan berakhir di tempat di mana manusia dihukum, sebagaimana tercatat dalam suratan takdirmu. Jika engkau mengeklaim dirimu sebagai seorang yang sangat jujur, tetapi tidak pernah berhasil bertindak sesuai kebenaran atau mengucapkan perkataan kebenaran, maka apakah engkau masih menantikan Tuhan untuk mengupahimu? Apakah engkau masih berharap Tuhan menganggapmu sebagai biji mata-Nya? Bukankah ini cara berpikir yang tidak masuk akal? Engkau menipu Tuhan dalam segala sesuatu; bagaimana mungkin rumah Tuhan menampung orang sepertimu, yang tangannya cemar?
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Tiga Peringatan"