Aplikasi Seluler mengenai Gereja Tuhan Yang Mahakuasa

Mendengarkan suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali!

Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia

Warna yang Kuat

Tema

Font

Ukuran Font

Spasi Baris

Lebar laman

% Hasil Pencarian

Hasil tidak ditemukan

Persoalan yang Sangat Serius: Pengkhianatan (1)

Pekerjaan-Ku tidak lama lagi selesai. Tahun-tahunyang kita habiskan bersama menjadi kenangan masa silam yang tak tertahankan. Aku terus mengulang firman-Ku dan belum berhenti menjalankan pekerjaan baru-Ku. Tentu saja, nasihat-Ku adalah komponen penting dalam setiap pekerjaan yang Kulakukan. Tanpa nasihat-Ku, engkau sekalian akan tersesat dan menjadi lebih bingung lagi. Pekerjaan-Ku kini hampir selesai dan sampai pada kesudahannya. Aku masih ingin melakukan beberapa pekerjaan dalam memberikan nasihat, yaitu, menyampaikan beberapa nasihatyang harus engkau sekalian dengarkan. Aku hanya berharap agar engkau sekalian tidak akan menyia-nyiakan segala jerih payah-Ku, dan terlebih lagi, supaya engkau sekalian dapat memahami seluruh perhatian dan pikiran yang telah Kucurahkan, memelihara firman-Ku sebagai dasar dari caramu berperilaku sebagai manusia. Entah ingin mendengar firman itu atau tidak, entah menerima firman itu dengan senang hati atau tidak, engkau sekalian tetap harus menganggapnya serius. Jika tidak, watak dan sikapmu yang sembrono dan tidak peduli akan benar-benar mendukakan Aku dan, bahkan terlebih lagi, membuat Aku jijik. Aku sangat berharap agar engkau sekalian dapat membaca firman-Ku berulang-ulang—ribuan kali—dan bahkan menghafalnya. Hanya dengan demikian engkau sekalian tidak dapat memupuskan harapan-Ku terhadapmu. Namun, tidak satu pun dari engkau sekalian yang hidup demikian sekarang. Sebaliknya, engkau sekalian tenggelam dalam kehidupan tidak bermoral dengan makan dan minum sampai kekenyangan. Tidak satu pun dari engkau sekalian menggunakan firman-Ku untuk memperkaya hati dan jiwamu. Inilah alasan Aku menyimpulkan bahwa wajah asli manusia adalah salah satunya yang akan selalu mengkhianati Aku dan tak seorang pun dapat sungguh-sungguh setia kepada firman-Ku.

“Manusia telah begitu rusak oleh Iblis sehingga ia tidak lagi memiliki wujud manusia.” Ungkapan ini sekarang mendapat sedikit pengakuan dari sebagian besar orang. Dikatakan demikian karena "pengakuan" di sini hanyalah pernyataan dangkal yang bertentangan dengan pengetahuan sejati. Karena tidak seorang pun dari engkau sekalian dapat mengevaluasi secara akurat atau menyelidiki dirimu sendiri sepenuhnya. Engkau sekalian selalu separuh percaya, setengah meragukan firman-Ku. Namun kali ini Aku menggunakan beberapa fakta untuk menjelaskan persoalanmu yang paling serius, yaitu pengkhianatan. Engkau sekalian sudah akrab dengan kata "pengkhianatan" sebab kebanyakan orang pernah berbuat sesuatu yang mengkhianati orang lain sebelumnya. Misalnya suami mengkhianati istrinya, istri mengkhianati suaminya, anak laki-laki mengkhianati ayahnya, anak perempuan mengkhianati ibunya, hamba mengkhianati tuannya, teman-teman saling mengkhianati, sanak keluarga mengkhianati satu sama lain, para penjual mengkhianati pembeli mereka, dan sebagainya. Semua contoh ini mengandung inti sari dari pengkhianatan. Singkatnya, pengkhianatan adalah bentuk perilaku seseorang yang memungkiri janji, melanggar prinsip-prinsip moral, atau bertentangan dengan etika manusia, dan yang menunjukkan hilangnya kemanusiaan. Sebagai manusia, tidak masalah jika engkau ingat bahwa engkau pernah berbuat sesuatu yang mengkhianati orang lain atau jika engkau pernah berulang kali mengkhianati orang lain. Secaraumum, jikaengkau sekalian dilahirkan di dunia ini, engkau sekalian telah melakukan sesuatu yang mengkhianati kebenaran. Jika engkau mampu mengkhianati orang tua atau temanmu, engkau mampu mengkhianati orang lain, dan terlebih lagi engkau mampu mengkhianati Aku dan melakukan hal-hal yang Kubenci. Dengan kata lain, pengkhianatan bukan hanya bentuk perilaku tidak bermoral secara lahiriah, melainkan sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran. Hal semacam ini justru merupakan sumber perlawanan dan ketidaktaatan manusia terhadap Aku. Inilah sebabnya Aku meringkasnya dalam pernyataan berikut: Pengkhianatan adalah sifat manusia. Sifat ini adalah musuh alami setiap orang yang sepadan dengan Aku.

Perilaku yang tidak dapat sepenuhnya taat kepada-Ku ialah pengkhianatan. Perilaku yang tidak bisa setia kepada-Ku adalah pengkhianatan. Menipu Aku dan menggunakan kebohongan untuk mendustai Aku juga merupakan pengkhianatan. Penuh dengan gagasan dan menyebarkannya ke mana-mana adalah pengkhianatan. Tidak melindungi kesaksian dan kepentingan-Ku adalah pengkhianatan. Berpura-pura tersenyum padahal di dalam hatinua meninggalkan Aku adalah pengkhianatan. Semua perilaku ini selalu mampu engkau perbuat, dan juga lazim di antaramu. Engkau sekalian mungkin tidak berpikir itu adalah persoalan, tetapi bukan itu yang Kupikirkan. Aku tidak bisa menganggap bahwa mengkhianati Aku adalah persoalan sepele, dan terlebih lagi Aku tidak bisa mengabaikannya. Sekarang Aku sedang bekerja di tengah-tengah engkau sekalian, tetapi engkau tetap seperti ini. Jika suatu hari tak seorang pun peduli dan mengawasimu, tidakkah engkau sekalian akan menjadi raja-raja di bukit?[a] Saat itu, siapakah yang akan membereskan kekacauanmu apabila engkau sekalian menimbulkan bencana besar? Engkau mungkin berpikir bahwa beberapa tindakan pengkhianatan hanyalah hal yang jarang terjadi dan bukan perilaku berkepanjangan, serta tidak seharusnya dibesar-besarkan secara serius, sehingga menyebabkan engkau kehilangan muka. Jika engkau sekalian sungguh-sungguh percaya akan hal itu, artinya engkau kurang memiliki kepekaan. Semakin banyak orang berpikir demikian, semakin mereka merupakan pola dasar pemberontakan. Sifat manusia adalah hidup mereka, prinsip inilah yang merekapegang dalam bertahan hidup, dan mereka tidak mampu mengubahnya. Sama seperti sifat pengkhianatan—jika engkau dapat berbuat sesuatu yang mengkhianati seorang kerabat atau teman, ini membuktikan bahwa itulah bagian dari kehidupanmu dan sifat yang engkau miliki sejak lahir. Inilah hal yang tidak bisa ditolak oleh siapa pun. Misalnya, jika seseorang gemar mencuri barang orang lain, “gemar mencuri” ini adalah bagian dari kehidupan mereka. Hanya saja sesekali mereka mencuri, dan kadang-kadang mereka tidak mencuri. Terlepas dari apakah mereka mencuri atau tidak, hal itu tidak dapat membuktikan bahwa tindakan pencurian mereka hanyalah sejenis perilaku. Sebaliknya, ini membuktikan bahwa tindakan pencurian mereka adalah bagian dari hidup mereka, yakni sifat mereka. Beberapa orang akan bertanya: Kalau itu sudah sifat mereka, lantas mengapa mereka terkadang melihat barang bagus namun tidak mencurinya? Jawabannya sangat sederhana. Ada banyak alasan mengapa mereka tidak mencuri, misalnyajika barang itu terlalu besar sehingga dapat dilihat banyak orang, atau tidak ada waktu yang tepat untuk bertindak, atau barang itu terlalu mahal, dijaga terlalu ketat, atau mereka tidak terlalu tertarik pada barang bagus itu, atau mereka belum memikirkankegunaannya, dan seterusnya. Semua alasan ini sangat mungkin. Tetapi tidak peduli apa pun, entah mereka mencurinya atau tidak, tidak dapat membuktikan bahwa pemikiran ini hanya terlintas sekejap di dalam diri mereka. Sebaliknya, inilah bagian dari sifat mereka yang sulit diperbarui. Orang seperti itu tidak puas hanya dengan satu kali mencuri, tetapi pikiran untuk menuntut hak atas barang milik orang lain sebagai milik mereka diaktifkan setiap kali mereka menemukan sesuatu yang bagus atau situasi yang cocok. Itulah sebabnya mengapa Aku berkata bahwa pikiran ini adakalanya tidak dibangkitkan, tetapi berasal dari sifat orang ini sendiri.

Siapa pun dapat menggunakan perkataan dan tindakan mereka sendiri untuk menunjukkan wajah asli mereka. Wajah asli ini tentu saja adalah sifat mereka. Jika engkau berbicara berbelit-belit, engkau memiliki sifat tidak jujur. Jika sifatmu sangat licik, caramu melakukan banyak hal akan sangat curang dan licik, dan engkau sangat lihai memperdaya orang-orang. Jika sifatmu sungguh jahat, kata-katamu mungkin sedap didengar, namun tindakanmu tidak dapat menutupi jalan-jalanmu yang jahat. Jika sifatmu teramat malas, semua perkataanmu dimaksudkan untuk mengelakkan kesalahan dan tanggung jawab atas keteledoran dan kemalasanmu. Tindakanmu sangat lamban dan sembarangan, dan sungguh hebat menutupi kebenaran. Jika sifatmu sangat berempati, kata-katamu akan masuk akal dan tindakanmu juga akan sangat sesuai dengan kebenaran. Jika sifatmu amat setia, tutur katamu pasti tulus dan caramu melakukan sesuatu pasti bersahaja, tanpa pernah membuat tuanmu mencurigai engkau. Jika sifatmu sangat bernafsu atau tamak akan uang, hatimu akan sering dipenuhi oleh hal-hal ini. Tanpa disadari engkau akan melakukan beberapa hal yang menyimpang dan tidak bermoral yang akan membuat orang-orang sulit melupakannya, dan terlebih lagi akan membuat mereka jijik. Sama seperti yang Kukatakan, jika engkau memiliki sifat pengkhianat, engkau tidak dapat melepaskan diri dari sifat itu. Jangan percaya pada keberuntungan bahwa engkau sekalian tidak memiliki sifat pengkhianatan hanya karena tidak melukai siapa pun. Jika itu yang engkau pikirkan, engkau terlalu memuakkan. Firman yang kusampaikan setiap waktu ditujukan kepada semua orang, bukan hanya satu orang atau satu jenis orang. Hanya karena engkau tidak mengkhianati Aku pada satu perkara, tidak membuktikan bahwa engkau tidak dapat mengkhianati Aku pada perkara lain. Orang-orang kehilangan kepercayaan mereka dalam mencari kebenaran selama masa-masa sulit dalam pernikahan mereka. Beberapa melalaikan kewajiban mereka untuk setia kepada-Ku selama kehancuran keluarga. Ada yang meninggalkan Aku demi mencari momen sukacita dan kegembiraan. Yang lain lebih suka jatuh ke dalam jurang yang gelap daripada hidup dalam terang dan memperoleh sukacita dari karya Roh Kudus. Beberapa orang mengabaikan saran teman-teman demi memuaskan hawa nafsu mereka akan kekayaan, dan bahkan sekarang tidak mampu mengakui kesalahan mereka dan bertobat. Ada juga yang hanya hidup beberapa waktu lamanya demi nama-Ku agar dapat menerima perlindungan-Ku, sementara yang lain hanya mencurahkan sedikit waktu karena mereka bergantung pada kehidupan dan takut akan kematian. Bukankah semua sifat ini serta tindakan amoral dan tidak bermartabat lainnya hanyalah perilaku orang-orang yang telah lama mengkhianati Aku jauh di dalam lubuk hati mereka? Tentu saja, Aku tahu pengkhianatan mereka tidak direncanakan sebelumnya, tetapi itulah penyingkapan alamiah dari sifat mereka. Tidak ada yang ingin mengkhianati Aku, dan selain itu tak seorangpun yang bahagia karena mereka telah berbuat sesuatu untuk mengkhianati Aku. Sebaliknya, mereka gemetar ketakutan, bukan? Jadi, apakah engkau sekalian berpikir tentang bagaimana cara agar dapat menebus pengkhianatan ini, dan bagaimana engkau sekalian dapat mengubah situasi saat ini?

Catatan Kaki:

a. Pepatah China, arti harfiahnya adalah "para penyamun yang mendiami pegunungan dan menyatakan diri mereka sebagai raja."

Sebelumnya:Cara Mengenal Tuhan yang di Bumi

Selanjutnya:Persoalan yang Sangat Serius: Pengkhianatan (2)

Anda Mungkin Juga Menyukai