Dibimbing oleh Firman Tuhan, Aku Mengatasi Penindasan Kekuatan Kegelapan

17 November 2019

Oleh Saudari Wang Li, Provinsi Zhejiang

Aku percaya kepada Tuhan Yesus bersama ibuku sejak aku masih kecil; selama hari-hariku mengikuti Tuhan Yesus, aku sering kali tersentuh oleh kasih-Nya. Aku merasa bahwa Dia sangat mengasihi kita sehingga Dia disalibkan dan mencurahkan darah-Nya sampai titik darah penghabisan untuk menebus kita. Pada waktu itu, saudara-saudari di gereja kami semuanya saling mengasihi dan mendukung, tetapi sayangnya iman kami kepada Tuhan dihadapkan pada penganiayaan dan penindasan di tangan pemerintah PKT (Partai Komunis Tiongkok). PKT mendefinisikan agama Kristen dan Katolik sebagai ajaran sesat atau "xie jiao", dan menyebut pertemuan-pertemuan yang diadakan oleh gereja-gereja rumah sebagai "pertemuan ilegal". Polisi sering menggerebek tempat-tempat pertemuan kami, memberi tahu kami bahwa kami terlebih dahulu harus mendapatkan persetujuan dari pemerintah dan memperoleh izin sebelum kami bisa mengadakan pertemuan, kalau tidak, kami akan ditangkap dan didenda atau dijebloskan ke penjara. Suatu kali, ibuku beserta lima atau enam saudara-saudari lainnya ditangkap dan diinterogasi sepanjang hari. Pada akhirnya, penyelidikan polisi mengonfirmasi bahwa mereka semua hanyalah orang Kristen biasa, dan mereka pun dibebaskan. Namun, sejak saat itu, kami harus bertemu secara rahasia untuk menghindari penggerebekan pemerintah; terlepas dari semua ini, iman kami tidak pernah melemah. Pada akhir 1998, seorang kerabatku berkhotbah kepadaku bahwa Tuhan Yesus telah datang kembali sebagai Tuhan yang Mahakuasa yang telah menjadi manusia pada akhir zaman. Kerabat ini juga membacakan banyak firman Tuhan Yang Mahakuasa kepadaku, firman yang benar-benar menggetarkan bagiku. Aku menjadi yakin bahwa firman Tuhan Yang Mahakuasa adalah perkataan-perkataan yang diucapkan oleh Roh Kudus kepada gereja-gereja, dan bahwa Tuhan Yang Mahakuasa adalah Tuhan Yesus yang datang kembali. Berpikir bahwa aku benar-benar dapat dipersatukan kembali dengan Tuhan selama hidupku membuatku tergerak melampaui kemampuanku untuk menggambarkannya, dan aku mencucurkan air mata penuh sukacita. Sejak saat itu, aku rajin membaca firman Tuhan setiap hari, dan dari firman tersebut akhirnya aku memahami banyak kebenaran dan misteri—rohku yang kering dengan demikian mendapatkan penyiraman dan makanan. Bermandikan kegembiraan dan penghiburan yang dibawakan kepada kami oleh pekerjaan besar Roh Kudus, aku dan suamiku membenamkan diri dalam kebahagiaan dan sukacita karena dipersatukan kembali dengan Tuhan. Kami sering belajar menyanyikan lagu-lagu pujian dan menari memuji Tuhan bersama saudara-saudari lainnya, dan kami sering berkumpul bersama untuk bersekutu tentang firman Tuhan. Rohku terasa segar dan diperkuat, dan aku merasa seolah-olah sudah bisa melihat di depan mataku pemandangan indah kerajaan yang terwujud di bumi dan semua orang bersukacita. Namun, aku tidak mungkin dapat mengantisipasi, bahwa tepat pada saat kami sedang mengikuti Tuhan dan menempuh jalan yang benar dalam kehidupan dengan keyakinan yang membubung tinggi, pemerintah PKT akan mulai menganiaya kami dengan kejam.

Pada tanggal 28 Oktober 2002, aku dan beberapa saudari lainnya sedang mengadakan sebuah kebaktian. Selama kebaktian tersebut, aku dan seorang saudari yang lain pergi untuk menjalankan suatu tugas, tetapi sebelum kami pergi terlalu jauh, aku mendengar saudariku berkata di belakangku, "Untuk apa kau menangkapku?" Sebelum aku sempat bereaksi, seorang petugas polisi berpakaian sipil mendekat dan memegangiku sambil berkata, "Kau ikut denganku ke kantor polisi!" sembari menyeretku ke mobil polisi. Kami dibawa ke kantor polisi dan tak lama setelah keluar dari mobil, aku melihat bahwa enam saudari lainnya yang menghadiri kebaktian itu juga telah ditangkap dan dibawa masuk. Polisi memerintahkan kami untuk menanggalkan pakaian dan menggeledah kami. Mereka menemukan dua pager pada diriku, dengan demikian mengidentifikasiku sebagai pemimpin gereja dan, dengan begitu, memberiku peringkat sebagai prioritas tinggi untuk diinterogasi. Seorang polisi berteriak kepadaku, "Kapan kau mulai percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa? Siapa yang mengkhotbahkannya kepadamu? Dengan siapa kau bertemu? Apa posisimu di gereja?" Ditanya sedemikian agresifnya membuatku sangat gugup, dan aku tidak tahu cara menghadapinya. Yang bisa kulakukan hanyalah berdoa dalam hati kepada Tuhan, memohon kepada-Nya untuk melindungiku agar aku tidak akan mengkhianati-Nya. Setelah berdoa, perlahan-lahan aku menenangkan diri dan memutuskan untuk tetap diam. Melihat bahwa aku tidak bicara, polisi itu menjadi marah dan memukul kepalaku keras-keras. Aku langsung merasa bingung dan pusing, dan telingaku mulai berdenging. Mereka kemudian membawa masuk salah seorang saudari dan menyuruh kami untuk saling mengidentifikasi. Namun, melihat bahwa kami tidak akan melakukan apa yang mereka katakan, mereka menjadi marah dan memerintahkanku untuk melepas sepatu berlapis kapas dan berdiri tanpa alas kaki di lantai semen yang beku. Mereka juga menyuruhku berdiri dengan punggung menempel tegak pada dinding, dan mereka akan menendangku keras-keras jika postur tubuhku goyah sedikit saja. Saat itu sudah memasuki musim gugur; suhunya turun dan hujan turun ringan. Aku sangat kedinginan sehingga seluruh tubuhku menggigil, dan gigiku bergemeletuk tanpa henti. Polisi itu mondar-mandir dan, sambil memukul-mukul meja, mengancamku, "Kami sudah mengikutimu sejak lama. Kami punya banyak cara untuk membuatmu bicara hari ini, dan kalau kau tidak bicara, kami akan membiarkanmu membeku hingga mati, atau kami akan membuatmu kelaparan, atau kami akan memukulmu sampai mati! Mari kita lihat berapa lama kau bertahan!" Aku merasa sedikit takut saat mendengarnya mengatakan ini, jadi aku berseru kepada Tuhan dalam hatiku: "Ya Tuhan! Aku tidak ingin menjadi Yudas dan mengkhianati-Mu. Kumohon lindungilah aku dan berilah aku keberanian dan iman yang kubutuhkan untuk melawan Iblis, agar aku dapat menjadi kesaksian bagi-Mu." Setelah berdoa, aku memikirkan firman Tuhan yang menyatakan: "Watak-Nya adalah lambang otoritas, lambang segala sesuatu yang benar, simbol segala sesuatu yang indah dan baik. Bahkan, ini adalah lambang bahwa Tuhan tidak bisa[a] dikalahkan atau dijajah oleh kekuatan kegelapan dan musuh mana pun, selain juga lambang diri-Nya sendiri yang tidak bisa disinggung (serta tidak membiarkan diri-Nya disinggung)[b] oleh makhluk ciptaan mana pun. Watak Tuhan adalah lambang kekuasaan yang tertinggi" ("Sangatlah Penting untuk Memahami Watak Tuhan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). "Ya," pikirku. "Tuhan memiliki otoritas dan kuasa, dan otoritas dan kuasa-Nya itu tidak dapat digulingkan oleh kekuatan musuh ataupun kegelapan. Sekejam apa pun kaki tangan PKT, semuanya berada di tangan Tuhan, dan selama aku mengandalkan Tuhan dan bekerja sama dengan-Nya, maka aku pasti akan mengalahkan mereka." Dengan bimbingan yang jelas dari firman Tuhan, tiba-tiba aku menemukan iman dan keberanianku, dan aku tidak lagi merasa kedinginan. Setelah aku berdiri di sana selama lebih dari tiga jam, polisi mengantarku kembali ke mobil polisi dan membawaku ke rumah tahanan.

Sore hari setibanya aku di rumah tahanan, dua petugas polisi, seorang pria dan seorang wanita, datang untuk menanyaiku. Dengan logat dari kampung halamanku sendiri, mereka memanggil namaku dan mencoba terdengar seolah-olah mereka berada di pihakku. Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai kepala Seksi Agama dari Biro Keamanan Umum, dan dia berkata, "Para petugas polisi di kantor telah mengumpulkan informasi tentangmu. Apa yang telah kau lakukan sebenarnya bukan masalah besar, dan kami telah melakukan perjalanan khusus ke sini untuk membawamu pulang. Jika kau memberi tahu kami semuanya saat kita sampai di sana, kau akan baik-baik saja." Aku tidak tahu trik macam apa yang mereka sembunyikan, tetapi saat aku mendengarnya mengatakan ini, seberkas harapan memasuki hatiku. Aku berpikir dalam hati: "Penduduk setempat tempatku berasal adalah orang-orang baik, jadi mungkin mereka akan melepaskanku meskipun aku tidak memberi tahu mereka apa pun." Namun, bertentangan dengan harapanku, saat kami kembali ke kampung halamanku, polisi itu mengungkapkan natur mereka yang sebenarnya yang seperti binatang buas dan mencoba memaksaku untuk menyerahkan kunci rumahku. Aku tahu bahwa mereka ingin menggeledah rumahku, dan aku memikirkan tentang semua buku firman Tuhan dan daftar nama saudara-saudari yang kumiliki di sana. Maka, aku berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan: "Ya Tuhan Yang Mahakuasa! Kumohon lindungilah buku-buku firman Tuhan dan daftar yang kumiliki di rumah agar semua itu tidak jatuh ke tangan Iblis …." Aku menolak menyerahkan kunci rumahku. Polisi itu membawa mobil ke gedung apartemenku dan mengunciku di dalam mobil sementara mereka masuk ke apartemenku. Saat duduk di mobil, aku terus berdoa kepada Tuhan, dan setiap detik yang berlalu merupakan siksaan. Setelah beberapa lama, polisi kembali dan berkata dengan marah, "Kau benar-benar bodoh, kau tahu itu? Tidak ada satu pun buku di tempatmu, tetapi kau berusaha keras untuk membantu orang-orang gereja itu." Saat mendengar mereka mengatakan ini, hatiku yang cemas akhirnya mulai terasa lega, dan aku bersyukur kepada Tuhan atas perlindungan-Nya dari dasar hatiku. Baru kemudian aku mengetahui bahwa polisi tidak pernah menemukan buku satu pun di rumahku, dan mereka hanya mengambil uang tunai 4.000 yuan, sebuah ponsel, dan semua foto aku dan keluargaku. Untungnya, adik perempuanku berada di sana ketika polisi tiba dan, segera setelah mereka pergi, dia bergegas menyerahkan semua buku firman Tuhan dan materi iman yang tersisa ke gereja. Keesokan harinya, polisi kembali menggeledah tempat itu lagi, tetapi mereka sekali lagi pergi dengan tangan hampa.

Saat malam tiba, polisi membawaku ke kantor polisi setempat dan melanjutkan mengajukan pertanyaan yang sama dengan yang pernah ditanyakan kepadaku sebelumnya. Melihat bahwa aku tetap tidak bicara, mereka memanggil seorang pendeta dari Gereja Tiga Pendirian untuk mencoba membujukku. "Jika kau bukan seorang Kristen dalam Gereja Tiga Pendirian, maka kau mengikuti jalan yang salah," katanya. Aku mengabaikannya, dan hanya berdoa dalam hati kepada Tuhan untuk melindungi hatiku. Semakin dia berbicara, semakin keterlaluan klaimnya, sampai dia mulai dengan seenaknya memfitnah dan menghujat Tuhan. Dipenuhi dengan kemarahan, aku menjawab, "Pendeta, kau semena-mena mengutuk Tuhan Yang Mahakuasa, tetapi bukankah Kitab Wahyu dengan jelas menyatakan 'yang ada sekarang, yang sudah ada, dan yang akan datang, Yang Mahakuasa' (Wahyu 1:8)? Apakah kau tidak takut menyinggung Roh Kudus dengan secara gegabah mengutuk Tuhan seperti itu? Tuhan Yesus pernah berkata: 'Tetapi jika ia berkata-kata melawan Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, tidak di dunia ini, ataupun di dunia yang akan datang' (Matius 12:32). Apakah kau tidak takut?" Pendeta itu terdiam dan hanya bisa pergi setelah teguran seperti itu. Dalam hatiku, aku bersyukur kepada Tuhan karena telah menuntunku untuk memenangkan rintangan ini. Ketika mereka melihat bahwa tipuan mereka tidak berhasil, polisi memintaku untuk menulis sesuatu di selembar kertas. Aku tidak tahu mengapa mereka memintaku melakukan ini, jadi aku berdoa dalam hati kepada Tuhan; kemudian aku menyadari bahwa ini adalah salah satu rencana licik Iblis dan aku menolak untuk menuliskan apa pun, mengatakan bahwa aku tidak tahu cara menulis. Belakangan aku tahu dari percakapan antara dua petugas polisi bahwa mereka telah memintaku untuk menulis sesuatu agar mereka dapat memeriksa tulisan tanganku dan dengan demikian mengonfirmasi bahwa buku catatan yang mereka temukan di tempat pertemuan kami telah ditulis olehku, dan kemudian menggunakan bukti ini untuk mengajukan tuntutan terhadapku. Ini menunjukkan kepadaku bahwa para petugas itu tidak lebih daripada anjing suruhan dan kacung yang dilatih oleh PKT, yang mampu melakukan apa saja dan terlibat dalam metode licik apa pun yang dapat mereka pikirkan untuk menganiaya orang-orang beriman—mereka benar-benar berbahaya, licik, jahat, dan penuh kebencian! Setelah melihat dengan jelas wajah-wajah keji dari anjing-anjing suruhan PKT yang menganiaya orang-orang yang percaya kepada Tuhan, aku dalam hati membulatkan tekadku: aku tidak akan pernah bertekuk lutut atau bersujud kepada Iblis!

Mereka menanyaiku tanpa henti selama berjam-jam sampai sekitar tengah malam, tetapi kepala Seksi Agama itu tidak bisa mendapatkan apa pun dariku. Tiba-tiba, dia tampak berubah menjadi binatang buas dan berteriak marah kepadaku, "Sialan, seharusnya aku sudah pulang pukul 11 malam. Kau menjengkelkan sekali sehingga aku harus tinggal di sini, dan jika aku tidak membuatmu menderita karenanya, kau tidak akan sepenuhnya memahami situasinya!" Sambil mengatakan ini, dia menarik tangan kananku ke atas meja dan menekannya dengan kuat. Dia kemudian mengambil batangan tebal berdiameter sekitar lima atau enam sentimeter dan memukulkannya keras-keras pada pergelangan tanganku. Setelah pukulan pertama, pembuluh darah utama di pergelangan tanganku mulai membengkak, dan kemudian semua otot di sekitarnya juga mulai membengkak. Aku menjerit kesakitan dan berusaha menarik tanganku kembali, tetapi dia memegangnya dengan cepat. Sambil memukulku, dia berteriak, "Ini untuk menolak menulis! Ini untuk menolak bicara! Aku akan memukulmu keras-keras agar kau tidak akan pernah bisa menulis sepatah kata pun!" Dia terus memukul pergelangan tanganku seperti itu selama lima atau enam menit sebelum akhirnya berhenti. Pada saat itu, tanganku sudah bengkak seperti jeruk besar, dan ketika dia melepaskanku, aku segera menarik tanganku ke belakang punggung. Namun, polisi jahat itu pergi ke belakangku, meraih tanganku dan mulai memukul keduanya dengan gila-gilaan saat menggantung di udara sambil berkata, "Kau menggunakan tangan ini untuk melakukan sesuatu demi Tuhanmu, bukan? Aku akan mematahkannya, aku akan melumpuhkannya, dan kemudian kita akan lihat bagaimana kau melakukan sesuatu! Lalu kita akan lihat apakah orang-orang yang beriman kepada Tuhan Yang Mahakuasa masih menginginkan dirimu!" Mendengarnya mengatakan ini membuatku dipenuhi dengan kebencian terhadap gerombolan polisi jahat ini. Mereka berperilaku sangat jahat dan bertindak bertentangan dengan Surga; mereka hanya mengizinkan orang-orang untuk menjadi budak PKT dan bekerja keras demi PKT, tetapi mereka tidak mengizinkan orang-orang untuk percaya kepada Tuhan atau menyembah Sang Pencipta. Dalam upaya memaksaku mengkhianati Tuhan, polisi itu tidak memiliki keraguan apa pun tentang menyiksaku dengan siksaan yang kejam—mereka benar-benar gerombolan binatang buas dan setan-setan berwujud manusia, dan mereka sangat jahat dan reaksioner! Polisi itu memukuliku tiga kali seperti itu; tangan dan lenganku dipukuli sampai lebam-lebam, dan pergelangan tangan serta punggung tanganku bengkak sekali sehingga hampir meledak—rasa sakitnya tak tertahankan. Persis saat aku merana dalam kesakitan yang luar biasa, beberapa baris dari nyanyian pujian Tuhan tebersit di benakku: "Maka, selama akhir zaman ini engkau harus menjadi saksi Tuhan. Tidak peduli seberapa besarnya pun penderitaanmu, engkau harus menjalaninya sampai akhir, dan bahkan sampai helaan napasmu yang terakhir, engkau tetap harus setia kepada Tuhan, dan berada dalam pengaturan Tuhan; hanya inilah yang disebut benar-benar mengasihi Tuhan, dan hanya inilah kesaksian yang kuat dan bergema" ("Berusahalah Kasihi Tuhan Tak Peduli Seberapa Besar Penderitaanmu" dalam "Ikuti Anak Domba dan Nyanyikan Lagu Baru"). Firman Tuhan ini menggerakkan hatiku, dan aku berpikir: "Benar sekali. Tuhan bekerja tanpa lelah siang dan malam untuk menyelamatkan kita. Dia mengawasi kita dan selalu tinggal bersama kita, dan Dia menunjukkan kepada kita kasih dan belas kasihan yang tak terbatas. Sekarang, saat Iblis berusaha memaksaku untuk mengkhianati Tuhan dan menjerumuskan saudara-saudariku, Tuhan dengan sungguh-sungguh berharap agar aku akan memberikan kesaksian yang kukuh dan bergema bagi-Nya. Bagaimana mungkin aku bisa mengecewakan-Nya atau menyakiti-Nya?" Memikirkan hal ini, aku menahan air mataku dan berkata kepada diriku untuk menjadi kuat, tidak menjadi penakut ataupun pengecut. Pemerintah PKT menganiaya dan mencelakaiku dengan sedemikian kejamnya bukan karena membenciku secara pribadi, tetapi karena esensinya yang menentang dan membenci Tuhan. Tujuannya memperlakukanku seperti itu adalah untuk membuatku mengkhianati dan menolak Tuhan, dan membuatku menerima pengendalian dan perbudakan atas diriku selamanya. Namun, aku tahu bahwa aku tidak akan pernah menyerah kepadanya, tetapi aku harus berdiri teguh di pihak Tuhan dan mempermalukan Iblis. Aku menyanyikan nyanyian pujian itu berulang-ulang di benakku dan merasa rohku berangsur-angsur semakin kuat. Setelah memukuliku, polisi jahat itu menugaskan beberapa polisi untuk menjagaku, dan mereka akhirnya membuatku terjaga sepanjang malam. Jika mereka melihatku mulai memejamkan mata sedikit saja, mereka akan berteriak atau menendangku. Namun, karena tergerak oleh kasih Tuhan, aku tidak menyerah kepada mereka.

Hari berikutnya, kepala Seksi Agama datang untuk kembali menanyaiku. Melihat bahwa aku masih tidak bicara, dia mengambil sebatang tongkat dan memukulkannya keras-keras pada pahaku. Setelah beberapa kali pukulan, kakiku mulai membengkak hingga aku bisa merasakan celanaku mulai mengencang di sekitar kakiku yang bengkak. Polisi jahat yang lain berdiri di satu sisi mengejekku, berkata, "Jika Tuhan yang kau percayai begitu hebat, mengapa Dia tidak datang membantumu sekarang saat kami menyiksamu?" Dia juga mengatakan sejumlah hal lain yang memfitnah dan menghujat Tuhan. Aku merasa terluka dan marah, dan di dalam hatiku menanggapi penghujatannya dengan berpikir: "Kalian pasukan iblis, Tuhan akan menuntut balasan sesuai dengan perbuatan jahatmu! Sekaranglah saatnya ketika Tuhan mengungkapmu dan mengumpulkan fakta dari perbuatan jahatmu!" Aku kemudian memikirkan firman dari Tuhan berikut ini: "Ribuan tahun kebencian berkumpul di hati, dosa ribuan tahun tertulis di hati—bagaimana ini tidak melahirkan kebencian? Tuhan yang membalas dendam, menghancurkan seluruh musuh-Nya, tidak membiarkannya mengacau lebih lama lagi, dan tidak lagi membiarkannya berulah seperti yang diinginkannya! Sekaranglah waktunya: Manusia sudah lama mengumpulkan kekuatannya, mendedikasikan usahanya, membayar harga, untuk ini, untuk menyingkapkan wajah Iblis dan membuat orang-orang, yang selama ini dibutakan dan mengalami segala penderitaan dan kesulitan agar bangkit dari rasa sakit mereka dan meninggalkan si Iblis tua yang jahat ini" ("Pekerjaan dan Jalan Masuk (8)" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Dari firman Tuhan ini, aku merasakan kehendak-Nya yang mendesak dan panggilan-Nya yang bersemangat, dan aku memahami bahwa PKT pasti akan dihancurkan oleh Tuhan. Meskipun aku menjadi sasaran penganiayaan kejam PKT pada waktu itu, hikmat Tuhan dilaksanakan berdasarkan rencana licik Iblis, dan Tuhan menggunakan apa yang terjadi pada diriku agar aku dapat melihat dengan jelas esensi iblis PKT, dan agar aku bisa membedakan yang baik dari yang jahat. Dengan demikian, kasih sejati dan kebencian sejati dapat muncul dalam diriku; aku kemudian dapat meninggalkan dan menolak PKT sekali dan untuk selamanya dan memalingkan hatiku kepada Tuhan, sehingga aku dapat menjadi kesaksian bagi Tuhan dan mempermalukan Iblis. Setelah aku memahami kehendak Tuhan, perasaan kekuatan yang luar biasa muncul dalam diriku, dan aku menjadi bertekad untuk bersumpah setia kepada Tuhan dan meninggalkan Iblis. Meskipun aku terus-menerus mengalami penyiksaan kejam, dan meskipun seluruh tubuhku kehabisan tenaga dan kakiku mengalami kesakitan yang tak tertahankan, dengan mengandalkan kekuatan yang Tuhan berikan kepadaku, aku tetap mampu diam seribu bahasa (aku belakangan mendapati bahwa kakiku dipukuli sampai lebam-lebam, dan bahkan sampai sekarang salah satu otot di kaki kananku tetap mengalami pengecilan). Pada akhirnya, kepala Seksi Agama tidak bisa berbuat apa-apa selain pergi dengan kesal.

Pada hari ketiga, polisi jahat itu menginterogasi dan memukuliku sekali lagi, baru berhenti ketika mereka sudah cukup banyak memakiku dan lelah memukulku. Setelah itu, seorang perwira polisi wanita mendekatiku dan, berpura-pura prihatin dengan berkata, "Kami pernah membawa seseorang yang percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa sebelumnya. Mereka tidak memberi tahu kami apa pun dan dijatuhi hukuman 10 tahun penjara. Bukankah berdiam diri sama sekali tidak akan membantumu? Kau bisa menghabiskan 10 tahun penuh di tempat ini, dan kemudian saat kau keluar, Tuhanmu tidak akan menginginkanmu lagi, dan akan terlambat untuk menyesal…." Dia mengatakan sejumlah hal lain untuk berusaha merayuku bicara, tetapi aku terus berdoa dalam hati, meminta Tuhan untuk melindungi hatiku agar aku tidak menjadi mangsa rencana licik Iblis. Setelah berdoa, sebagian nyanyian pujian melintas di benakku: "Aku sendiri bersedia mengejar-Mu dan mengikuti-Mu. Sekarang Engkau ingin meninggalkan aku tetapi aku tetap ingin mengikuti-Mu. Entah Engkau menginginkanku atau tidak, aku akan tetap mengasihi-Mu, dan pada akhirnya aku harus mendapatkan-Mu. Aku menyerahkan hatiku kepada-Mu, dan apa pun yang Engkau lakukan, aku akan mengikuti-Mu sepanjang hidupku. Apa pun yang terjadi, aku harus mengasihi-Mu dan aku harus mendapatkan-Mu; Aku tidak akan beristirahat sampai aku telah mendapatkan-Mu" ("Aku Bertekad untuk Mencintai Tuhan" dalam "Ikuti Anak Domba dan Nyanyikan Lagu Baru"). "Ya," pikirku. "Sekarang aku percaya kepada Tuhan dan mengikuti Tuhan karena itulah yang ingin aku lakukan. Tidak masalah apakah Tuhan menginginkanku atau tidak—aku akan tetap mengikuti Tuhan sampai akhir!" Firman Tuhan menjernihkan pikiranku dan aku menyadari bahwa Iblis sedang melakukan semua yang bisa dilakukannya untuk menabur pertentangan antara aku dan Tuhan sehingga aku akan menjadi putus asa, menyangkal Tuhan, dan akhirnya mengkhianati Tuhan sebagai seorang Yudas. Saat itu, satu-satunya cara aku bisa mengalahkan Iblis dan menjadi kesaksian kemenangan Tuhan atas Iblis adalah dengan tetap beriman kepada-Nya dan tetap setia kepada-Nya. "Apakah aku akan dikirim ke penjara atau tidak, dan apa pun hasilnya nanti semuanya berada di tangan Tuhan," pikirku dalam hati. "Seperti apa pun keputusan Tuhan dalam mengatur dan menata hidupku, aku tidak punya suara dalam masalah ini, dan aku sangat percaya bahwa segala yang dilakukan Tuhan dilakukan untuk menyelamatkanku. Meskipun mungkin aku harus menjalani tanpa kenyamanan daging di penjara, apa yang akan aku peroleh adalah kepuasan spiritual. Lebih jauh lagi, masuk penjara atas nama Tuhan akan menjadi kehormatanku, sedangkan jika aku mengkhianati Tuhan demi nafsuku untuk kenyamanan fisik, aku akan kehilangan semua martabat dan integritas, dan hati nuraniku tidak akan pernah lagi mengenal kedamaian." Oleh karena itu aku bertekad dalam hati: Meskipun dikirim ke penjara, aku akan tetap setia kepada Tuhan sampai akhir; aku persembahkan kasih sejatiku kepada Tuhan sehingga Iblis dapat dipermalukan dan dikalahkan sekali untuk selamanya! Polisi jahat itu mencoba rutinitas polisi baik dan polisi jahat terhadapku, dan mereka menyiksaku dengan kejam selama tiga hari tiga malam, tetapi mereka tidak mendapatkan petunjuk dariku. Tanpa pilihan, yang bisa mereka lakukan hanyalah membawaku, meskipun babak belur dan memar-memar, dan mengurungku di rumah tahanan. Saat mereka mengurungku, salah satu polisi berkata dengan jahat, "Kami akan membiarkanmu bernapas dan kemudian kami akan menginterogasimu lagi!"

Lima hari kemudian, polisi jahat itu datang untuk menanyaiku sekali lagi, hanya kali ini, mereka melakukannya secara bergantian untuk membuatku lelah. Mereka menyuruhku duduk di kursi logam dingin yang membeku dan kemudian memborgol tangan kananku pada kursi itu. Mereka memasang sebatang logam di depan dadaku untuk mencegahku bergerak, dengan kakiku menjuntai di atas lantai. Mereka melakukannya agar aku tidak bisa menggerakkan otot, dan tak lama kemudian, kedua tangan dan kakiku mati rasa. Polisi jahat itu berkata kepadaku, "Setiap orang yang pernah dirantai pada kursi ini akhirnya memberi tahu kami semua yang mereka ketahui. Jika kau tidak bicara dalam satu hari, maka kau akan dirantai di sini selama dua hari. Jika kau tidak mulai bicara dalam dua hari, maka itu akan menjadi tiga hari. Aku tidak ingin banyak hal darimu. Aku hanya ingin kau memberitahuku siapa pemimpin di gerejamu." Syukur kepada Tuhan karena memberiku kekuatan, karena selama ini aku hanya berpegang pada satu pikiran: aku tidak akan pernah menjerumuskan siapa pun! Mereka menanyaiku berulang-ulang, tidak memberiku apa-apa untuk dimakan atau bahkan diminum, dan tidak akan membiarkanku menggunakan kamar mandi. Malam itu, untuk mencegahku tertidur, mereka memborgol satu tanganku ke kursi, tetapi menyuruhku berdiri di sebelahnya sementara mereka terus menanyaiku. Aku lelah sekaligus lapar, dan seluruh tubuhku mati rasa. Aku tidak bisa berdiri sendiri dan hanya bisa berdiri dengan bersandar pada kursi. Namun, begitu aku bersandar pada kursi atau bahkan berpikir untuk tertidur, seorang polisi akan akan melambaikan sumpit bambu panjang di depan wajahku dan memukulku dengan sumpit itu, dan mereka tidak membiarkanku memejamkan mata sepanjang malam. Hal ini berlangsung selama dua hari dan aku menjadi sangat lemah sehingga seluruh tubuhku menjadi lemas dan lemah. Aku tidak tahu berapa lama mereka akan terus membuatku menjalani ini; aku takut tidak akan sanggup bertahan, bahwa aku akan mengkhianati Tuhan dan menjadi seorang Yudas, jadi aku berseru kepada Tuhan berulang-ulang: "Ya Tuhan! Dagingku sangat lemah dan tingkat pertumbuhanku sangat kecil. Kumohon jagailah aku agar aku tidak menjadi seorang Yudas." Tepat ketika aku berseru kepada Tuhan dengan perasaan mendesak, salah seorang polisi jahat itu mengeluarkan sebuah buku firman Tuhan dan membaca: "Aku tidak lagi akan menunjukkan belas kasihan kepada orang yang tidak menunjukkan kesetiaan sedikit pun kepada-Ku di masa kesukaran, sebab belas kasihan-Ku ada batasnya. Terlebih lagi, Aku tidak menyukai siapa pun yang pernah mengkhianati-Ku, apalagi bergaul dengan orang yang memperdaya sesamanya. Ini adalah watak-Ku, terhadap siapa pun orangnya. Aku harus memberitahumu hal ini: Barangsiapa menyakiti hati-Ku tidak akan menerima ampunan dari-Ku untuk kedua kalinya, tetapi siapa pun yang setia kepada-Ku, akan diam dalam hati-Ku untuk selamanya" ("Persiapkanlah Perbuatan Baik yang Cukup untuk Tiba di Tempat Tujuanmu" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Cahaya memenuhi hatiku—bukankah Tuhan sedang menunjukkan jalan kepadaku? Aku melihat bahwa Tuhan benar-benar penuh harapan dan kepedulian terhadapku dan, untuk membuatku tetap kuat, Dia telah menggunakan polisi jahat ini di sini di sarang setan ini untuk membacakan firman Tuhan kepadaku. Melalui ini, Tuhan mengatakan dengan jelas kepadaku bahwa Dia mengasihi dan memberkati orang-orang yang tetap setia kepada-Nya melalui kesulitan, dan bahwa Dia membenci dan menolak mereka yang cukup lemah untuk mengkhianati-Nya. Bagaimana mungkin aku gagal memenuhi harapan Tuhan di hadapan kasih dan belas kasihan-Nya? Ketika polisi jahat itu selesai membaca, dia bertanya, "Apakah ini perintah Tuhan kepadamu? Yaitu, tetap diam?" Aku tidak menjawab dan, anehnya, polisi itu berpikir bahwa aku tidak mendengarnya, jadi dia membaca bagian itu berkali-kali, dan menanyakan pertanyaan yang sama berulang-ulang. Aku melihat betapa bijaksana dan mahakuasanya Tuhan itu: semakin polisi jahat itu membaca firman Tuhan, semakin setiap kata terukir di hatiku, dan demikian juga, semakin kuat imanku tumbuh. Aku bertekad bahwa tidak peduli bagaimana setan-setan itu berusaha memeras pengakuan dariku, aku tidak akan pernah menjadi Yudas!

Pada hari ketiga, polisi jahat itu menyuruhku berjalan naik turun tangga, pergi dari satu ruang interogasi ke ruang interogasi yang lain, untuk menguras semua tenagaku yang tersisa. Siksaan ini berlanjut sampai tubuhku benar-benar lunglai dan kakiku goyah, dan sangat sulit untuk mengangkatnya menaiki tangga. Namun, karena iman dan kekuatan yang firman Tuhan telah berikan kepadaku, aku tetap menolak membuka mulut. Mereka menanyaiku sampai malam hari tetapi tetap belum menghasilkan apa-apa, dan mereka mengancamku, mengatakan, "Meskipun kau tidak bicara sepatah kata pun, kami tetap bisa membuatmu dinyatakan bersalah. Kami akan menghukummu!" Mendengar mereka mengatakan ini menimbulkan sedikit rasa takut di dalam diriku dan aku berpikir dalam hati: "Seperti apa lagi mereka bisa menyiksaku? Aku benar-benar lelah dan tidak bisa bertahan lebih lama lagi …." Kemudian aku berseru kepada Tuhan, berkata: "Ya Tuhan! Kumohon tolonglah aku. Aku benar-benar takut tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Tolong lindungi dan bimbinglah aku agar aku bisa tahu bagaimana bekerja sama dengan-Mu." Aku merasakan kekuatan bangkit dalam diriku setelah mengucapkan doa ini, dan aku merasa tidak sesakit sebelumnya. Dengan demikian, pada saat yang paling menyakitkan dan sulit bagiku, dengan terus-menerus berdoa, Tuhan memberiku iman dan kekuatan untuk terus melangkah.

Pagi-pagi sekali pada hari keempat, melihat bahwa interogasi tiga hari berturut-turut tidak membuahkan hasil, polisi jahat itu dengan marah membuka borgolku dan mendorongku ke lantai. Mereka kemudian menyuruhku berlutut dan tidak boleh bangun. Memanfaatkan kenyataan bahwa aku sudah berlutut, aku mulai berdoa dalam hati kepada Tuhan: "Ya Tuhan! Aku tahu bahwa perlindungan-Mu telah memungkinkanku untuk mengatasi penyiksaan, interogasi, dan upaya untuk mendapatkan pengakuan dalam beberapa hari terakhir ini dan kata-kata tak cukup untuk mengungkapkan rasa syukurku kepada-Mu atas kasih dan belas kasih-Mu. Ya Tuhan! Meskipun aku tidak tahu bagaimana lagi polisi jahat itu akan menyiksaku nanti, apa pun yang terjadi aku tidak akan pernah mengkhianati-Mu, aku juga tidak akan pernah menjerumuskan saudara-saudariku. Aku meminta agar Engkau terus memberiku iman dan kekuatan dan membuatku tetap kuat." Saat doaku berakhir, aku merasakan gelombang kekuatan yang besar muncul di dalam diriku, dan aku menjadi sadar betul bahwa aku sedang digenggam dalam kasih Tuhan. Seperti apa pun iblis-iblis itu dapat menyiksaku, aku tahu bahwa Tuhan akan membimbingku untuk mengatasi semuanya. Setelah beberapa waktu, polisi jahat itu mungkin menduga bahwa aku sedang berdoa kepada Tuhan dan, dengan marah, mereka berteriak dan memakiku. Salah satu dari mereka mengambil koran, menggulungnya menjadi semacam pentungan dan memukulkannya secara brutal ke pelipisku. Semuanya menjadi gelap dan aku jatuh ke lantai tak sadarkan diri. Mereka mengguyurkan air dingin padaku untuk membangunkanku dan, melalui kabut yang menyelimuti pikiranku, aku mendengar salah satu polisi jahat itu mengancamku. "Jika kau tidak memberi tahu kami semua yang kau tahu, aku akan memukulmu sampai kau mati atau sampai kau cacat! Tidak ada yang akan tahu jika aku memukulmu sampai mati, dan tidak ada saudara-saudarimu yang berani datang ke sini." Aku juga mendengar salah satu dari mereka berkata, "Lupakan saja. Jika kau terus memukulinya seperti itu, maka dia benar-benar akan mati. Dia kasus tanpa harapan. Kita tidak akan mendapatkan apa pun darinya." Mau tidak mau aku menghela napas lega saat mendengarnya, karena aku tahu bahwa Tuhanlah yang sedang menunjukkan pemahaman atas kelemahanku, dan bahwa Dia sekali lagi membuka jalan keluar untukku. Namun, polisi jahat itu masih tidak mau mengakui kekalahan, sehingga mereka membawa adik perempuan dan putraku, yang keduanya bukan orang yang percaya kepada Tuhan, untuk mencoba membuatku bicara. Ketika adik perempuanku melihat mata hitamku dan tanganku yang bengkak dan memar, dia bukan saja tidak berusaha membuatku bicara seperti yang diinginkan polisi, tetapi dia malah menangis dan berkata, "Li, aku percaya bahwa kau tidak mampu melakukan sesuatu yang buruk. Tetaplah kuat." Melihat adik perempuanku menyemangatiku, polisi itu menoleh ke arah putraku dan berkata, "Sebaiknya kau bicara dengan ibumu dan suruh dia bekerja sama dengan kami, dan kemudian dia bisa pulang dan merawatmu." Putraku memandangku dan tidak menanggapi petugas itu. Tepat ketika dia akan pergi, dia berjalan menghampiriku dan kemudian berkata tiba-tiba, "Bu, jangan khawatirkan aku. Jaga dirimu sendiri, dan aku akan menjaga diriku sendiri." Melihat betapa dewasa dan bijaksananya putraku, aku terharu melampaui yang dapat kuungkapkan dengan kata-kata, tetapi hanya mengangguk sungguh-sungguh dan menangis ketika mereka mengawalnya dan adikku keluar dari ruangan. Peristiwa ini memungkinkan aku untuk mengalami kasih dan perhatian Tuhan sekali lagi. Tuhan sedang menunjukkan pemahaman atas kelemahanku karena, selama beberapa hari terakhir, yang paling aku khawatirkan adalah putraku. Aku takut, tanpa aku di sana, dia tidak akan mampu mengatasinya sendiri. Yang lebih mengkhawatirkanku adalah, karena masih begitu muda, saat dia datang ke kantor polisi untuk menemuiku, dia akan dicuci otak untuk membenciku karena percaya kepada Tuhan. Namun, yang mengejutkanku, bukan saja dia tidak termakan oleh omongan jahat dan beracun dari polisi jahat itu, tetapi sebaliknya dia malah menghiburku. Aku melihat pada saat itu betapa Tuhan benar-benar menakjubkan dan mahakuasa! Hati dan roh manusia memang diatur oleh Tuhan. Setelah putra dan adikku pergi, polisi jahat itu sekali lagi mengancamku, mengatakan, "Jika kau tetap tidak mau bicara, percaya atau tidak, kami akan menyiksamu selama beberapa hari dan beberapa malam lagi. Dan meskipun kemudian kau tetap tidak bicara, kami tetap bisa membuatmu dijatuhi hukuman tiga sampai lima tahun penjara …." Setelah mengalami banyak perbuatan Tuhan, aku dipenuhi dengan iman kepada Tuhan dan karenanya aku berkata dengan tegas dan penuh tekad, "Yang terburuk yang bisa terjadi adalah aku mati di tanganmu! Kau bisa menyiksa dagingku, tetapi kau tidak pernah bisa menggoyahkan hatiku. Meskipun tubuhku mati, Tuhan akan tetap memiliki jiwaku." Melihat bahwa aku tetap bersikeras, tidak ada lagi yang bisa dilakukan polisi jahat itu kecuali mengakhiri interogasi mereka dan membawaku kembali ke selku. Menyaksikan sosok menyedihkan yang dipotong oleh Iblis dalam kekalahan totalnya memberiku sukacita yang tak tertandingi, dan aku benar-benar mengerti bahwa hanya Tuhan Yang Berdaulat atas semua hal dan bahwa hidup dan mati kita sepenuhnya berada di tangan-Nya. Meskipun aku tidak diperbolehkan makan atau minum selama berhari-hari dan tubuhku hancur, kasih Tuhan selalu menyertaiku. Firman-Nya merupakan sumber iman dan kekuatan yang terus-menerus, memampukanku untuk dengan gigih mengalahkan upaya Iblis untuk memeras pengakuan dariku oleh polisi yang secara bergiliran melemahkanku. Ini memungkinkanku untuk benar-benar menghargai betapa kekuatan hidup Tuhan itu transenden dan agung—kekuatan yang diberikan Tuhan kepada kita tidak ada habisnya dan tidak tunduk pada batasan daging.

Beberapa hari kemudian, pemerintah PKT merekayasa tuduhan berupa mengganggu ketertiban umum, dan setelah menjatuhiku hukuman tiga tahun pendidikan ulang melalui kerja paksa, polisi mengantarku ke kamp kerja paksa. Aku menjalani kehidupan yang tidak manusiawi di sana, bekerja tanpa henti dari fajar hingga petang. Oleh karena tanganku sudah terluka sebelumnya oleh semua pemukulan itu, otot-otot di punggung tanganku menegang begitu kencang selama enam bulan pertama hukumanku sehingga aku bahkan tidak punya kekuatan untuk mencuci pakaianku sendiri. Setiap kali hujan, lenganku akan kesakitan dan membengkak karena pembuluh darahnya tidak bisa mengalirkan darah dengan baik. Meskipun demikian, penjaga penjara akan memaksaku untuk melebihi kuota harianku setiap hari, jika tidak, hukumanku akan ditambah. Terlebih lagi, mereka melakukan pengawasan yang sangat ketat terhadap orang-orang yang percaya kepada Tuhan; selalu ada seseorang yang mengawasi kami saat kami makan, saat kami mencuci, dan bahkan saat kami pergi ke toilet …. Rasa sakit di tubuhku, kelebihan beban kerja, ditambah siksaan psikologis, semuanya membuatku menderita tak terperikan. Aku merasa tiga tahun di tempat itu akan terlalu lama bagiku dan aku tidak mungkin bertahan. Dalam banyak kesempatan aku berpikir tentang bunuh diri sebagai cara untuk mengakhiri penderitaanku. Dalam rasa sakit yang luar biasa, aku berdoa kepada Tuhan: "Ya Tuhan, Engkau tahu betapa lemahnya dagingku. Aku sangat menderita sekarang dan benar-benar tidak tahan lagi. Aku bahkan ingin mati. Kumohon berilah aku pencerahan dan bimbinglah aku, berilah aku kekuatan kemauan, dan beri aku iman yang aku butuhkan untuk bertahan …." Tuhan menunjukkan kebaikan kepadaku saat itu, karena Dia membuatku berpikir tentang sebuah nyanyian pujian dari firman Tuhan: "Tuhan telah menjadi daging kali ini untuk melakukan pekerjaan seperti itu, untuk mengakhiri pekerjaan yang belum Dia selesaikan, untuk mengakhiri zaman ini, untuk menghakimi zaman ini, untuk menyelamatkan manusia yang sangat berdosa dari dunia penuh lautan penderitaan dan sungguh-sungguh mengubah mereka. Banyak sudah malam-malam tanpa tidur yang telah diderita Tuhan demi pekerjaan umat manusia. Dari tempat yang tinggi sampai ke kedalaman yang paling rendah, Dia telah turun ke neraka hidup tempat manusia tinggal untuk melewati hari-hari-Nya bersama manusia, tidak pernah mengeluh tentang kejorokan di antara manusia, tidak pernah mencela manusia karena ketidaktaatannya, tetapi menanggung penghinaan terbesar sementara Dia melakukan pekerjaan-Nya sendiri. … Tetapi demi semua umat manusia, agar seluruh umat manusia dapat menemukan istirahat lebih cepat, Dia telah menanggung penghinaan dan menderita ketidakadilan untuk datang ke bumi, dan secara pribadi masuk ke dalam 'neraka' dan 'dunia orang mati,' ke dalam sarang harimau, untuk menyelamatkan manusia" ("Setiap Tahap Pekerjaan Tuhan adalah untuk Kehidupan Manusia" dalam "Ikuti Anak Domba dan Nyanyikan Lagu Baru"). Saat aku merenungkan firman ini, hatiku terilhami dan diperbarui oleh kasih Tuhan. Aku berpikir tentang bagaimana, untuk menyelamatkan umat manusia, yang telah rusak sedemikian dalamnya, Tuhan menjadi manusia dan turun dari puncak tertinggi ke palung terendah, membiarkan diri-Nya menghadapi bahaya besar untuk datang ke Tiongkok—sarang iblis ini—untuk melakukan pekerjaan-Nya. Dia telah menderita penghinaan dan rasa sakit yang luar biasa, penganiayaan dan kesulitan, tetapi Tuhan selalu mengorbankan diri-Nya secara diam-diam, tanpa keluhan dan tanpa penyesalan, demi umat manusia. Tuhan melakukan semua pekerjaan ini hanya agar Dia dapat memperoleh sekelompok orang yang dapat mempertimbangkan kehendak-Nya, yang menjunjung tinggi keadilan, dan yang tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti. Aku telah mendapati diriku dalam situasi itu karena Tuhan ingin menggunakannya untuk menguatkan kehendakku, dan untuk menyempurnakan iman dan ketaatanku kepada Tuhan; Dia telah membiarkan situasi ini menimpaku untuk membuatku mengerti dan masuk ke dalam kebenaran. Sejumlah kecil penderitaan yang aku alami tidak layak bahkan untuk disebutkan, untuk disamakan dengan rasa sakit dan penghinaan yang telah diderita Tuhan. Jika aku bahkan tidak tahan dengan penderitaan yang sekecil itu di penjara, bukankah aku akan membuktikan diriku tidak layak atas upaya melelahkan yang telah Tuhan lakukan demi diriku? Selain itu, bimbingan Tuhan telah memampukanku untuk mengatasi semua siksaan kejam yang ditimpakan kepadaku oleh polisi jahat itu saat aku pertama kali ditangkap. Tuhan sudah lama mengizinkan aku untuk melihat tindakan-Nya yang menakjubkan bekerja, jadi bukankah aku seharusnya memiliki iman yang lebih teguh dan terus menjadi kesaksian yang indah bagi-Nya? Memikirkan hal ini, kekuatanku kembali, dan aku memutuskan untuk meneladani Kristus: semenyakitkan atau sesulit apa pun segalanya nanti, aku akan tetap hidup dengan tabah. Setelah itu, setiap kali aku merasa hidupku di kamp kerja menjadi terlalu berat bagiku, aku akan menyanyikan lagu pujian itu, dan setiap kali aku melakukannya, firman Tuhan memberiku iman dan kekuatan yang tak ada habisnya, dan aku terinspirasi untuk melanjutkan. Pada waktu itu, ada sejumlah saudari lain dari gereja yang juga ditahan di kamp kerja paksa. Dengan mengandalkan hikmat yang Tuhan berikan kepada kami, kapan pun kami punya kesempatan, kami akan menulis firman Tuhan pada catatan dan menyampaikannya satu sama lain atau bersekutu tentang beberapa firman satu sama lain saat ada kesempatan—kami saling mendukung dan menyemangati. Terlepas dari kenyataan bahwa kami semua ditahan di sarang setan pemerintah PKT itu, terkunci di dalam tembok tinggi dan benar-benar terputus dari dunia luar, justru karena inilah kami akhirnya menghargai setiap firman Tuhan dengan lebih besar lagi dan jauh semakin menghargai ilham yang diberikan Tuhan kepada kami masing-masing, dan karena hal inilah hati kami saling berdekatan seperti semula.

Pada 29 Oktober 2005, hukumanku telah dijalani sepenuhnya dan akhirnya aku dibebaskan. Namun, meskipun dibebaskan dari penjara, aku tetap tidak bisa mendapatkan kembali kebebasanku. Polisi selalu mengirim orang untuk memantau pergerakanku, dan mereka memerintahkanku untuk melapor secara langsung ke kantor polisi setiap bulan. Meskipun aku berada di rumahku sendiri, rasanya seperti ditahan di dalam penjara yang tak kasatmata, dan aku harus selalu waspada terhadap para informan PKT. Meskipun berada di rumah, aku tetap harus sangat berhati-hati saat membaca firman Tuhan, takut bahwa polisi akan datang setiap saat. Selain itu, karena aku diawasi dengan ketat, aku tidak punya cara untuk bertemu saudara-saudariku atau menjalani kehidupan bergereja. Ini sangat menyiksa bagiku, dan setiap hari terasa seperti setahun. Pada akhirnya, aku tidak tahan menjalani kehidupan yang diawasi dan ditekan, karena harus meninggalkan gereja dan semua saudara-saudariku, jadi aku meninggalkan kampung halaman dan mencari pekerjaan di tempat lain. Pada akhirnya aku dapat berhubungan kembali dengan gereja dan sekali lagi aku mulai menjalani kehidupan bergereja.

Setelah mengalami penganiayaan di tangan pemerintah PKT, aku secara menyeluruh dan jelas melihat esensi pemerintah PKT yang munafik dan jahat yang menipu masyarakat untuk memenangkan pujian bagi dirinya sendiri, dan aku menjadi yakin bahwa ia tidak lebih daripada segerombolan setan yang menghujat Surga dan sepenuhnya menentang Tuhan. PKT sesungguhnya adalah perwujudan Iblis, inkarnasi setan itu sendiri; kebencianku pada PKT sangat dalam dan aku bersumpah akan tetap menjadi musuh bebuyutannya. Selama mengalami kesulitan ini, aku juga benar-benar menghargai kemahakuasaan dan kedaulatan Tuhan serta perbuatan-Nya yang menakjubkan, aku mengalami otoritas dan kekuatan dari firman Tuhan, dan aku benar-benar merasakan kasih Tuhan dan keselamatan-Nya yang luar biasa: saat aku dalam bahaya, Tuhanlah yang selalu di sisiku, mencerahkanku dan menerangiku melalui firman-Nya, memberiku iman dan kekuatan, membimbingku untuk mengatasi satu demi satu penyiksaan kejam dan membuatku melewati tiga tahun yang panjang dan gelap dalam penahanan. Menghadapi keselamatan Tuhan yang luas, aku diliputi rasa syukur, imanku berlipat ganda, dan aku telah bertekad: sebesar apa pun kesulitan yang harus aku alami di masa depan, aku akan selalu mengandalkan bimbingan dan kepemimpinan dari firman Tuhan untuk membuang semua pengaruh kegelapan, dan aku akan dengan setia mengikuti Tuhan sampai akhir!

Catatan kaki:

a. Dalam naskah aslinya tertulis "ini adalah simbol ketidakmampuan untuk …"

b. Dalam naskah aslinya tertulis "juga merupakan simbol ketidakmampuan untuk disinggung (dan tidak membiarkan diri disinggung)."

Ketika bencana melanda, bagaimana seharusnya kita orang Kristen menghadapinya? Anda diundang untuk bergabung dengan pertemuan online kami, di mana kita dapat menyelidiki bersama dan menemukan jalannya.
Tinggalkan Pesan
Hubungi kami via Whatsapp

Konten Terkait

Tinggalkan Balasan