Prosesku Melepaskan Pekerjaan yang Mapan

24 November 2022

Oleh Terry, Jepang

Aku terlahir di keluarga pedesaan yang miskin dan tertinggal. Bahkan saat kecil, ayah menuntutku untuk rajin belajar, agar di masa depan aku bisa masuk ke universitas yang bagus, memiliki prospek yang bagus, sehingga dapat menikmati hidup yang makmur. Namun, semua tak berjalan sesuai rencana. Aku gagal di ujian masuk SMA tiga tahun berturut-turut. Aku pun bingung dengan jalan hidupku di masa depan, dan aku kehilangan keyakinan. Saat itu, aku mengalami banyak tekanan mental dan merasa sangat menderita. Itu berlangsung hingga tahun keempat, saat aku akhirnya diterima di sekolah teknik perkeretaapian; setelah lulus, aku mendapat pekerjaan yang mapan di kantor Biro Kereta Api.

Pada Maret 1999, aku dan istriku menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa di akhir zaman. Aku aktif melaksanakan tugas dan berpartisipasi dalam kehidupan bergereja, dan enam bulan kemudian, aku dipilih sebagai pemimpin gereja. Namun, setelah menjadi pemimpin, aku menghabiskan lebih banyak waktu di pertemuan dan pelaksanaan tugasku, sehingga muncul konflik dengan pekerjaanku. Agar tak melewatkan pertemuan, aku harus cuti beberapa kali sebulan. Selain pengurangan gaji, aku juga kehilangan bonus akhir bulan. Bosku berkata dengan nada tak senang, "Kau baru mulai bekerja, jadi kau harus bekerja dengan baik. Jika kau selalu cuti, kau akan kehilangan banyak gaji dan bonus; bukankah ini bodoh? Aku sudah memperhatikanmu, tetapi jika terus meminta cuti, kau akan sulit naik jabatan." Setelah itu, saat meminta cuti lagi, aku merasa canggung. Aku berpikir, "Bosku baik padaku. Jika selalu meminta cuti dan memberikan kesan yang buruk, aku akan sulit naik jabatan. Aku tak bisa meminta cuti kali ini, jika tidak, bosku tidak akan senang denganku." Aku lalu berpikir, sebagai pemimpin gereja, jika aku tak menghadiri pertemuan, aku tak akan tahu pekerjaan gereja atau keadaan saudara-saudari, jadi bagaimana aku bisa melaksanakan pekerjaan gereja dengan baik? Aku sangat bimbang. Aku tidak memiliki cara untuk mengatasinya, jadi beberapa kali, aku memilih untuk tetap bekerja. Ini menyebabkan pekerjaan gereja tertunda dan aku merasa sangat bersalah karenanya.

Suatu saat, pemimpin atasku memberitahuku tentang rapat rekan sekerja, dan aku mulai merasa bimbang lagi, jadi aku berdoa kepada Tuhan untuk mencari maksud-Nya. Lalu, aku membaca bagian firman Tuhan: "Di luarnya, setiap langkah pekerjaan yang Tuhan lakukan dalam diri manusia terlihat sebagai interaksi antara manusia, seolah-olah lahir dari pengaturan manusia atau dari gangguan manusia. Namun di balik setiap langkah pekerjaan, dan semua yang terjadi, adalah pertaruhan yang Iblis buat di hadapan Tuhan, dan hal ini menuntut orang-orang untuk tetap teguh dalam kesaksian mereka bagi Tuhan. Misalnya, ketika Ayub diuji: Di balik layar, Iblis bertaruh dengan Tuhan, dan yang terjadi kepada Ayub adalah perbuatan manusia, dan gangguan manusia. Di balik setiap langkah pekerjaan yang Tuhan lakukan pada engkau semua adalah pertaruhan antara Iblis dengan Tuhan—di balik itu ada peperangan. ... Segala sesuatu yang dilakukan orang membutuhkan sejumlah hati dan usaha. Tanpa penderitaan yang nyata, mereka tidak dapat memuaskan Tuhan; mereka bahkan jauh sekali dari memuaskan Tuhan, dan mereka hanya meneriakkan slogan kosong! Dapatkah slogan-slogan kosong ini memuaskan Tuhan? Ketika Tuhan dan Iblis berperang di alam roh, bagaimana seharusnya engkau memuaskan Tuhan, dan bagaimana seharusnya engkau tetap teguh dalam kesaksianmu bagi-Nya? Engkau harus tahu bahwa segala sesuatu yang terjadi padamu adalah ujian yang besar dan merupakan saat ketika Tuhan membutuhkanmu untuk memberi kesaksian. Meskipun di luarnya, hal-hal ini mungkin tampak tidak signifikan, ketika hal-hal ini terjadi, itu memperlihatkan apakah engkau mengasihi Tuhan atau tidak. Jika engkau mengasihi-Nya, engkau akan mampu tetap teguh dalam kesaksianmu bagi-Nya, dan jika engkau tidak menerapkan kasih kepada Tuhan, ini memperlihatkan bahwa engkau bukan orang yang menerapkan kebenaran, bahwa engkau tidak memiliki kebenaran, dan tidak memiliki hidup, bahwa engkau hanyalah sekam!" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Hanya Mengasihi Tuhan yang Berarti Sungguh-Sungguh Percaya kepada Tuhan"). Melalui firman Tuhan, aku menyadari bahwa di luarnya, orang, peristiwa, dan hal-hal yang kita hadapi setiap hari tampak seperti interaksi manusia. Namun, di balik semua itu, ada taruhan Iblis dengan Tuhan, dan kita harus tetap teguh dalam kesaksian kita kepada Tuhan. Saat ujian Ayub mendatanginya, dia kehilangan semua kekayaannya dalam semalam. Dari luar, para perampoklah yang telah mencuri hartanya, tetapi di balik itu adalah pencobaan dan serangan Iblis. Saat Ayub tetap teguh dalam kesaksiannya kepada Tuhan, Iblis pun mundur karena malu. Aku menghadapi pilihan antara pergi bekerja atau menghadiri pertemuan, dan merasakan kekangan dari apa yang dikatakan oleh atasanku kepadaku. Secara lahiriah, atasanku mengatakannya karena perhatian dan peduli padaku; dia ingin mempromosikanku. Namun kenyataannya, gangguan Iblis ada di balik semua ini. Iblis memanfaatkan ketenaran dan keuntungan untuk memancingku agar hanya fokus pada bekerja menghasilkan uang. Ini dilakukan untuk menghancurkan hubunganku yang normal dengan Tuhan, dan menjauhkanku dari Tuhan agar aku tak memiliki waktu untuk menghadiri pertemuan atau melaksanakan tugasku. Niat jahat Iblis ada di balik semua ini. Sambil memikirkan hal itu, aku berdoa kepada Tuhan agar aku tidak pernah membiarkan rencana Iblis berhasil. Lalu, aku memberanikan diri untuk meminta cuti dan menghadiri rapat rekan sekerja.

Seiring dengan makin padatnya pekerjaan gereja, banyak hal harus segera diatur dan diterapkan. Jika ingin melaksanakan tugasku dengan baik, aku harus mengambil lebih banyak cuti. Saat itu, aku sangat tersiksa, dan sering kali tak bisa mengatasinya, yang memengaruhi pekerjaan gereja. Terkadang aku berniat berhenti kerja, agar tak menunda pekerjaan gereja, tetapi aku khawatir jika aku berhenti, aku tak akan mungkin hidup makmur. Pekerjaanku begitu bagus hingga aku enggan untuk berhenti, dan di hatiku selalu terjadi pergolakan. Saat pulang, aku memberi tahu istriku tentang niatku untuk berhenti kerja, dan membagikan isi pikiranku. Aku berkata, "Aku tak bisa melepaskan pekerjaan ini. Aku belajar dengan giat selama bertahun-tahun demi pekerjaan yang mapan ini, dan gajinya tinggi. Jika aku berhenti, apa pandangan kerabat, teman, dan teman-teman sekelasku? Orang tuaku pasti akan murka jika mengetahuinya. Selain itu, jika aku berhenti bekerja, kita mungkin akan hidup miskin selamanya. Namun, kini, aku membaca banyak firman Tuhan Yang Mahakuasa, dan memahami maksud-Nya. Saudara-saudari telah memilihku sebagai pemimpin gereja. Jika aku menunda pekerjaan gereja karena pekerjaanku, bukankah aku meninggalkan tugasku?" Setelah mendengarkanku, istriku memintaku lebih banyak berdoa kepada Tuhan dan mengambil keputusan sendiri. Malam itu aku gelisah dan tak bisa tidur, jadi aku berdoa memohon bimbingan Tuhan. Suatu hari, aku membaca firman Tuhan Yang Mahakuasa: "Siapa yang sungguh-sungguh mampu mengorbankan diri mereka sepenuhnya bagi-Ku dan mempersembahkan seluruh keberadaan mereka demi Aku? Engkau semua setengah hati; pikiranmu berputar-putar, memikirkan keluarga, dunia luar, makanan dan pakaian. Walaupun engkau berada di sini di hadapan-Ku, bekerja bagi-Ku, di dalam hatimu engkau masih memikirkan istrimu, anak-anakmu, dan orang tuamu di rumah. Apakah mereka adalah hartamu? Mengapa engkau tidak memercayakan mereka ke dalam tangan-Ku? Apakah engkau tidak memercayai-Ku? Atau apakah engkau takut Aku akan membuat pengaturan yang tidak pantas bagimu? Mengapa keluarga lahiriahmu dan orang-orang yang kaukasihi selalu ada dalam pikiranmu? Apakah Aku menempati tempat tertentu dalam hatimu? Padahal engkau mengaku bahwa engkau akan membiarkan-Ku berkuasa dalam dirimu dan menempati seluruh keberadaanmu—ini semua adalah kebohongan yang menipu! Berapa banyak di antaramu yang memiliki komitmen terhadap gereja dengan sepenuh hati? Dan siapa di antaramu yang tidak memikirkan dirinya sendiri, tetapi memikirkan Kerajaan zaman sekarang? Pikirkan hal ini dengan sangat saksama" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Perkataan Kristus pada Mulanya, Bab 59"). Firman Tuhan menyingkapkan bahwa orang-orang tidak memiliki iman sejati kepada Tuhan, dan mereka tak berani menyerahkan masa depan serta takdir mereka ke tangan Tuhan. Mereka selalu khawatir dan membuat rencana demi kedagingan mereka, takut jika Tuhan tak mengatur segala hal dengan tepat. Orang seperti itu tak memiliki tempat untuk Tuhan di hatinya. Bukankah aku juga tidak beriman kepada Tuhan? Aku khawatir jika berhenti kerja, aku tak bisa hidup karena kesulitan ekonomi. Imanku kepada Tuhan terlalu kecil. Aku sama sekali tak memiliki pemahaman yang nyata akan kedaulatan Tuhan atas segala sesuatu. Aku memikirkan perkataan Tuhan Yesus: "Lihatlah burung-burung di udara: karena mereka tidak menabur, mereka juga tidak menuai, atau mengumpulkan makanan di dalam lumbung; tetapi Bapamu yang di surga memberi mereka makan. Bukankah engkau jauh lebih baik daripada mereka?" (Matius 6:26). "Carilah terlebih dahulu kerajaan Tuhan dan kebenaran-Nya; dan semuanya ini akan ditambahkan kepadamu" (Matius 6:33). Aku mampu melafalkan ayat-ayat ini, dan sering menggunakan kata-kata ini untuk menasihati orang lain, tetapi ketika benar-benar terjadi sesuatu padaku, aku tidak memiliki iman yang sejati kepada Tuhan. Saat merenungkan firman Tuhan, aku menyadari bahwa masa depan dan takdir semua orang ada di tangan Tuhan, dan Tuhan akan selalu membuat pengaturan yang cocok. Tuhan berjanji bahwa Dia tak akan memperlakukan mereka yang tulus berkorban untuk-Nya dengan tidak adil. Mengapa aku masih tidak bisa percaya kepada Tuhan? Saat itu, aku ingin langsung berhenti kerja dan melaksanakan tugasku dengan baik. Namun, saat sampai di kantor, rekan-rekan kerjaku membahas kenaikan gaji dan bonus, lalu aku mulai ragu, enggan melepaskan pekerjaanku. Aku tahu bahwa ada harga yang harus dibayar untuk menerapkan kebenaran, jadi aku berdoa, memohon bimbingan Tuhan dalam mengalahkan kedagingan, agar aku bisa berhenti kerja dan melaksanakan tugasku dengan baik.

Tak lama kemudian, aku mengalami kejadian mengerikan yang membuatku memikirkan kembali masa depanku. Suatu malam, aku bekerja dengan masinis, juru langsir, dan orang lain untuk melangsir gerbong kereta. Aku berdiri di tangga kereta yang sedang melaju, menggunakan HT untuk memberi instruksi kepada masinis dalam proses penyambungan gerbong. Pada saat itu, kereta melaju dengan kecepatan tinggi. Sesuai prosedur kerja, aku memberi instruksi untuk memperlambat laju saat kami berjarak sepuluh gerbong dari gerbong yang akan kami hubungkan. Namun, masinis tak melambatkan laju kereta, dan aku hanya menyaksikan tak berdaya saat kereta akan menabrak gerbong yang terparkir di rel. Lajunya begitu cepat sampai-sampai aku tak bisa melompat turun; yang bisa kulakukan hanyalah berbalik dengan cepat dari tangga ke dalam gerbong. Aku menutup mata, berpegangan ke sisi gerbong agar tak terlempar, dan terus-menerus berseru kepada Tuhan Yang Mahakuasa di dalam hati. Dengan benturan keras, kereta dan gerbong pun bertabrakan. Lengan asisten masinis patah, dan dia dilarikan ke rumah sakit untuk dirawat semalaman. Aku justru merasa lebih takut daripada terluka; aku tidak tergores sama sekali. Setelah itu, makin aku memikirkannya, makin aku takut dengan apa yang telah terjadi! Banyak orang yang bekerja di bidang pelangsiran kereta mengalami kecelakaan. Ada beberapa yang tangannya remuk dan ada juga yang kakinya remuk. Saat menghadapi bahaya, pekerjaan yang mapan tidak dapat membuat orang tetap aman atau melindungi hidup mereka. Mengejar uang hanya akan mendatangkan kenikmatan daging sesaat. Jika aku kehilangan kepedulian dan perlindungan Tuhan demi mencari uang, sambil mempertaruhkan nyawaku, apa gunanya pekerjaan yang mapan ini? Aku tak bisa lagi membiarkan pekerjaanku yang mapan menghalangi tugasku. Aku memutuskan untuk hidup berdasarkan firman Tuhan, memercayakan segalanya kepada Tuhan, memandang-Nya, serta tunduk kepada kedaulatan dan pengaturan-Nya. Aku memikirkan firman Tuhan: "Sebagai orang-orang yang normal dan orang-orang yang berusaha untuk mengasihi Tuhan, masuk ke dalam Kerajaan dan menjadi umat Tuhan adalah masa depanmu yang sejati, dan suatu kehidupan yang paling berharga dan bermakna; tak seorang pun lebih diberkati daripadamu. Mengapa Kukatakan demikian? Sebab mereka yang tidak percaya kepada Tuhan hidup untuk daging, dan mereka hidup untuk Iblis, tetapi sekarang, engkau semua hidup untuk Tuhan, dan hidup untuk mengikuti kehendak Tuhan. Itu sebabnya Kukatakan bahwa hidup engkau semua adalah hidup yang paling bermakna. Hanya sekelompok orang ini, yang telah dipilih oleh Tuhan, yang dapat menjalani kehidupan yang paling bermakna: Tidak ada orang lain di dunia ini yang dapat menjalani kehidupan yang sedemikian berharga dan bermakna seperti kehidupanmu" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Kenalilah Pekerjaan Terbaru Tuhan dan Ikutilah Jejak Langkah-Nya"). Firman Tuhan sangat menyentuh. Benar, mereka yang sungguh-sungguh mencintai Tuhan hidup bukan demi ketenaran, keuntungan, atau kesenangan daging, tetapi mereka hidup untuk Tuhan. Hidup untuk Tuhan adalah hidup yang bermanfaat dan berarti. Aku cukup beruntung bisa mendengarkan suara Sang Pencipta, memahami sedikit kebenaran, dan berkesempatan melaksanakan tugas; itu adalah hal yang luar biasa. Aku menyadari bahwa aku tidak boleh lagi hidup di dunia sempitku sendiri dan mengejar uang serta kesenangan materiel. Aku harus tunduk pada pengaturan dan penataan Tuhan, serta melaksanakan tugasku dengan benar sebagai makhluk ciptaan.

Setelah itu, aku membaca bagian lain dari firman Tuhan: "Bagaimana engkau akan menceritakan apa yang telah engkau lihat dan alami kepada orang-orang percaya yang religius yang patut dikasihani, miskin, dan saleh, yang lapar dan haus akan kebenaran serta sedang menantikanmu untuk menggembalakan mereka? Orang-orang macam apa yang sedang menantimu untuk menggembalakan mereka? Dapatkah engkau membayangkannya? Sadarkah engkau akan beban yang kaupikul, amanatmu, dan tanggung jawabmu? Di manakah kesadaran akan misi historismu? Bagaimana engkau akan menjadi tuan yang baik di zaman berikutnya? Apakah kesadaranmu sebagai tuan cukup kuat? Bagaimana menjelaskan tentang tuan atas segala sesuatu? Apakah itu benar-benar berarti tuan atas semua makhluk hidup dan atas semua hal materi di dunia? Rencana apa yang kaumiliki bagi kemajuan tahap pekerjaan berikutnya? Berapa banyak orang yang menantikanmu untuk menggembalakan mereka? Apakah tugasmu berat? Mereka miskin, patut dikasihani, buta, dan kebingungan, meratap dalam kegelapan—di mana jalannya? Betapa mereka merindukan terang, seperti bintang jatuh, yang tiba-tiba turun dan mengusir kekuatan kegelapan yang telah menindas manusia bertahun-tahun lamanya. Siang dan malam mereka berharap dengan cemas dan mendambakannya—siapa yang dapat memahami ini sepenuhnya? Bahkan di hari ketika terang itu melintas, orang-orang yang sangat menderita ini tetap terkurung di penjara gelap, tanpa harapan untuk bebas; kapankah mereka akan berhenti menangis? Betapa malangnya nasib roh-roh yang rapuh ini, yang tidak pernah diberi istirahat, dan telah lama dibelenggu dalam keadaan ini oleh ikatan yang tak kenal ampun dan sejarah yang membeku. Lalu siapa yang pernah mendengar suara ratapan mereka? Siapa yang pernah melihat keadaan mereka yang menyedihkan? Pernahkah terlintas dalam benakmu betapa sedih dan cemasnya hati Tuhan? Bagaimana Dia sanggup menyaksikan umat manusia yang tidak bersalah yang telah Dia ciptakan dengan tangan-Nya sendiri, menderita siksaan seperti itu? Bagaimana pun juga, manusia adalah korban yang telah diracuni. Dan walaupun manusia bertahan hingga sekarang, siapa yang tahu bahwa umat manusia telah lama diracuni oleh si jahat? Sudah lupakah engkau bahwa engkau adalah salah satu dari korban-korban itu? Tidak bersediakah engkau berjuang, demi kasihmu kepada Tuhan, untuk menyelamatkan semua orang yang bertahan ini? Tidak bersediakah engkau mengabdikan segenap kekuatanmu untuk membalas kebaikan Tuhan yang mengasihi manusia seperti darah dan daging-Nya sendiri? Bagaimana tepatnya pemahamanmu tentang dipakai oleh Tuhan untuk menjalani kehidupan yang luar biasa? Apakah engkau sungguh-sungguh memiliki tekad dan iman untuk menjalani hidup yang penuh makna sebagai orang saleh yang melayani Tuhan?" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Bagaimana Seharusnya Engkau Memperlakukan Misimu yang akan Datang?"). Dari firman Tuhan, aku merasakan kasih dan kepedulian-Nya kepada umat manusia, serta maksud-Nya yang mendesak untuk menyelamatkan manusia. Sekarang, kita berada di akhir zaman, dan bencana menjadi makin besar. Tuhan mengungkapkan kebenaran serta melakukan pekerjaan penghakiman dan hajaran untuk menyelamatkan manusia dari kekuasaan Iblis. Hari ini, aku sudah beruntung karena mendengar suara Tuhan dan menerima keselamatan dari-Nya, di mana hal ini merupakan kasih karunia Tuhan. Namun, masih banyak orang yang mendambakan penampakan Tuhan belum menyambut-Nya, masih disesatkan dan dikendalikan oleh pendeta serta penatua antikristus di dunia agamawi, dan tidak memiliki cara untuk mendengar suara Tuhan. Jika semua orang egois sepertiku, jika mereka hanya menikmati kenyamanan daging, dan tidak memberitakan Injil serta bersaksi tentang Tuhan, lalu kapan mereka yang mendambakan dan menantikan penampakan Tuhan akan menyambut Tuhan? Setelah merenungkan maksud Tuhan, aku memahami apa yang harus kupilih dan kukejar. Jadi, aku bertekad untuk melepaskan pekerjaanku dan melaksanakan tugas dengan benar untuk memberitakan Injil. Namun, saat aku akan mengundurkan diri, asisten direktur stasiun tiba-tiba menemuiku, lalu mengajariku cara memberi hadiah dan memberitahuku orang yang bisa mempromosikanku. Dia menunjukkan perhatian dan kepedulian yang besar kepadaku. Aku sadar bahwa tak semua orang bisa dipromosikan, dan bahwa upahku akan meningkat drastis. Setelah berdiskusi, tekadku untuk berhenti bekerja mulai goyah lagi.

Tak lama setelah itu, aku mengalami kejadian menakutkan yang sepenuhnya mengubah pemikiranku. Suatu hari, saat sif siang, kereta barang harus dilepas dan dirangkai ulang setelah memasuki stasiun. Setelah selesai, aku bertanggung jawab memasang ganjal di bawah roda. Setelah waktu istirahat makan siang, sebelum kereta berjalan, aku lupa melepasnya. Masinis mulai mengemudi, dan ganjal tersebut terseret sepanjang rel. Masinis menyadari bahwa ada yang salah, lalu menghentikan kereta tepat waktu, tepat saat kereta akan melewati wesel, menghindari kereta keluar jalur atau bahkan terguling. Hari itu, tanpa perlindungan Tuhan, jika kereta keluar jalur atau terguling, konsekuensinya tak dapat dibayangkan. Aku ketakutan, dan merenungkan diri serta bertanya mengapa hal itu terjadi. Aku menyadari bahwa sebagai pemimpin gereja, aku sudah tahu bahwa pekerjaanku menghambat tugasku, yang akhirnya berdampak serius pada pekerjaan gereja. Namun, aku rakus akan uang dan kesenangan daging, tak pernah mau melepaskannya, dan sering menipu Tuhan dengan membuat resolusi di hadapan-Nya lalu mengingkarinya. Aku memikirkan firman Tuhan: "Engkau semua telah menerima kasih karunia yang tak berkesudahan dari-Ku dan engkau telah menyaksikan berbagai misteri surga yang tiada habisnya; Aku bahkan telah menunjukkan kepadamu nyala api surga, tetapi Aku tidak sampai hati membakarmu. Kendati demikian, berapa banyak yang telah engkau sekalian berikan kepada-Ku sebagai balasannya? Seberapa banyak engkau sekalian bersedia memberi bagi-Ku?" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Engkau Sekalian Begitu Rendah dalam Karaktermu!"). Dari luar, kejadian itu bukanlah hal baik, tetapi aku paham bahwa itu adalah kasih Tuhan, serta pengingat untukku. Tuhan telah mengungkapkan banyak kebenaran, dan menjelaskan kesudahan serta tempat tujuan manusia dengan gamblang. Dia hanya ingin kita memahami maksud-Nya yang mendesak, mengejar kebenaran dan melaksanakan tugas sebagai makhluk ciptaan Tuhan, dan memperoleh keselamatan-Nya. Namun, aku keras kepala. Aku selalu berpikir bisa bertahan dan hidup layak dengan pekerjaanku yang mapan, jadi aku enggan melepaskannya untuk mengikut Tuhan dan melaksanakan tugasku. Dua kejadian mengerikan itu sangat menyadarkanku. Saat mengalami bencana, uang sebanyak apa pun tak bisa menyelamatkanku. Aku ingat perkataan Tuhan Yesus: "Siapa pun di antara engkau sekalian yang tidak melepaskan semua yang dimilikinya, ia tidak bisa menjadi murid-Ku" (Lukas 14:33). Baru sekarang aku benar-benar memahami makna firman Tuhan Yesus. Saat kita mencintai uang dan kesenangan materiel, hati kita akan dipenuhi oleh semua itu, dan kita tak mungkin mencintai serta mengikut Tuhan dengan tulus, mengorbankan diri untuk Tuhan, dan melaksanakan tugas sebagai makhluk ciptaan. Orang seperti itu masih mendambakan daging serta dunia, dan tak pantas menjadi pengikut Tuhan. Aku tak ingin memberontak terhadap Tuhan atau mengecewakan-Nya lagi. Aku harus mengubah sudut pandang, mengikut Tuhan sepenuh hati, mengorbankan diri untuk Tuhan, dan membalas kasih-Nya. Jadi, aku memberi tahu bosku bahwa aku ingin mengundurkan diri dan mengatur prosedur pemutusan kontrak kerja. Saat itu, aku merasa sangat lega. Aku bagaikan burung yang terbang dari sangkar. Aku tak perlu khawatir meminta cuti, dan aku tak perlu menderita karena pekerjaan gereja tertunda akibat pekerjaanku. Aku sangat bahagia telah mengambil keputusan itu.

Ayahku sangat marah saat mendengarku berhenti dari pekerjaan. Dia menemuiku dan berkata, "Ayah bekerja keras membesarkanmu. Ayah meminjam uang untuk sekolahmu. Akhirnya kau punya pekerjaan yang mapan, tetapi sekarang kau tak menginginkannya? Apa yang kau pikirkan? Pekerjaan di Biro Kereta Api adalah hal baik. Kau boleh percaya kepada Tuhan, tetapi kenapa sampai berhenti bekerja? Tanpa pekerjaan, bagaimana kau akan bertahan di masa depan?" Aku sedih melihat ekspresi kemarahan ayahku. Aku ingat bagaimana orang tuaku sangat berhemat agar aku bisa sekolah, dengan harapan aku mendapatkan pekerjaan yang bagus, lepas dari kemiskinan, dan hidup dengan luar biasa. Aku juga ingin membawa orang tuaku pindah dari desa ke gedung tinggi di kota dan menikmati kehidupan yang makmur. Namun, aku sudah memilih jalan percaya kepada Tuhan dan berhenti mengejar uang serta kesenangan materiel; aku tak bisa memberikan mereka kehidupan seperti itu, dan aku merasa berutang kepada mereka. Setelah mendengar perkataan ayahku, aku tak bisa menjawab. Air mataku berlinang, dan aku tak berani menatap ayahku. Namun, di dalam hatiku, sangat jelas bahwa ini adalah pilihan yang tepat, karena aku tahu bahwa Juru Selamat telah menampakkan diri dan melakukan pekerjaan-Nya di akhir zaman. Dia mengungkapkan kebenaran untuk menyelamatkan kita dari dunia gelap dan jahat ini, dan ini adalah satu-satunya cara untuk diselamatkan dan memasuki kerajaan surga. Ini kesempatan sekali seumur hidup. Bagaimana bisa aku melewatkannya demi menikmati kenyamanan daging? Bagaimana bisa aku membiarkan belitan pekerjaan menghalangiku mengejar kebenaran dan melaksanakan tugas sebagai makhluk ciptaan? Dalam kesakitan, aku diam-diam berdoa kepada Tuhan, dan memohon kepada-Nya untuk melindungi hatiku agar tidak terganggu. Aku memikirkan firman Tuhan: "Tuhan menciptakan dunia ini dan menghadirkan manusia di dalamnya, yakni makhluk hidup yang kepadanya Dia menganugerahkan kehidupan. Pada gilirannya, manusia memiliki orang tua dan kerabat dan tidak sendirian lagi. Sejak pertama kali manusia melihat dunia lahiriah ini, mereka telah ditakdirkan untuk bertahan hidup dalam penetapan Tuhan. Napas kehidupan dari Tuhanlah yang menyokong setiap makhluk hidup sepanjang masa pertumbuhannya hingga dewasa. Selama proses ini, tak seorang pun merasa bahwa manusia ada dan bertumbuh di bawah pemeliharaan Tuhan; sebaliknya mereka yakin bahwa manusia bertumbuh karena jasa pengasuhan orang tua, dan bahwa naluri kehidupan mereka sendirilah yang mendorong proses pertumbuhan mereka. Ini karena manusia tidak mengetahui siapa yang menganugerahkan kehidupan mereka dan dari mana kehidupan itu berasal, apalagi cara naluri kehidupan menciptakan keajaiban. Mereka hanya tahu bahwa makanan adalah dasar keberlanjutan hidup mereka, bahwa kegigihan adalah sumber keberadaan hidupnya, dan bahwa keyakinan dalam benak mereka adalah modal yang menjadi sandaran kelangsungan hidup mereka. Tentang kasih karunia dan perbekalan Tuhan, manusia sama sekali tidak menyadarinya, dan dengan cara inilah manusia menyia-nyiakan kehidupan yang dianugerahkan kepada mereka oleh Tuhan .... Tak seorang pun, yang dijaga Tuhan siang dan malam, mengambil inisiatif untuk menyembah-Nya. Tuhan hanya melakukan pekerjaan dalam diri manusia, yang darinya tidak ada yang bisa diharapkan, sebagaimana yang telah direncanakan-Nya. Dia berbuat demikian dengan harapan bahwa, suatu hari, manusia akan terjaga dari mimpi mereka dan tiba-tiba memahami nilai dan makna kehidupan, harga yang Tuhan bayar untuk semua yang telah dianugerahkan-Nya kepada manusia, dan kerinduan Tuhan yang sangat mendesak dan mendalam agar manusia kembali kepada-Nya" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Tuhan adalah Sumber Kehidupan Manusia"). "Engkau harus menderita demi kebenaran, engkau harus mengorbankan diri demi kebenaran, engkau harus menanggung penghinaan demi kebenaran, dan engkau harus menanggung lebih banyak penderitaan demi memperoleh lebih banyak kebenaran. Inilah yang harus kaulakukan. Jangan membuang kebenaran demi nikmatnya keharmonisan keluarga, dan jangan kehilangan martabat dan integritas seumur hidupmu demi kenikmatan sesaat. Engkau harus mengejar segala sesuatu yang indah dan baik, dan engkau harus mengejar jalan hidup yang lebih bermakna. Jika engkau menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja dan duniawi, serta tidak memiliki tujuan apa pun untuk dikejar, bukankah artinya engkau menyia-nyiakan hidupmu? Apa yang dapat kauperoleh dari kehidupan semacam itu? Engkau harus meninggalkan seluruh kenikmatan daging demi satu kebenaran, dan jangan membuang seluruh kebenaran demi sedikit kenikmatan. Orang-orang seperti ini tidak memiliki integritas atau martabat; keberadaan mereka tidak ada artinya!" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Pengalaman Petrus: Pengetahuannya tentang Hajaran dan Penghakiman"). Firman Tuhan mencerahkanku. Kupikir, orang tuakulah yang telah membesarkanku, berhemat dan menabung agar aku bisa menyelesaikan studiku, jika aku tak mendengarkan mereka dan melepaskan pekerjaanku demi tugas, aku merasa bersalah terhadap orang tuaku. Namun, pendapat ini konyol. Tuhanlah sumber kehidupan manusia, dan semua kehidupan kita berasal dari-Nya. Semua yang kita miliki berasal dari persediaan dan berkat-Nya. Tanpa Tuhan, kita tak akan memiliki semua ini. Orang tua yang merawatku hingga dewasa adalah kedaulatan dan pengaturan Tuhan. Aku harus bersyukur kepada Tuhan dan membalas kasih-Nya. Kepada orang tuaku, aku harus berbakti dan peduli kepada mereka secara wajar. Pada saat yang sama, aku harus membagikan Injil kepada mereka dan memberi tahu mereka arti iman kepada Tuhan. Jika mereka tidak percaya, aku tidak bisa melepaskan tugasku di bawah kekangan mereka. Aku adalah makhluk ciptaan dan melaksanakan tugasku itu sepenuhnya wajar dan dapat dibenarkan. Jika aku tak bisa melaksanakan tugasku, sekalipun aku memiliki pekerjaan tetap dan menikmati kehidupan materiel yang baik bersama keluargaku, itu tak akan bernilai atau berarti. Kesenangan sementara itu tak bisa membantuku memahami kebenaran dan mendapatkan kehidupan. Lagi pula, aku dianggap memberontak terhadap Tuhan, dan tak akan berkenan bagi-Nya. Untuk mendapatkan kebenaran, aku harus menderita dan dengan berat hati meninggalkan hal-hal yang kucintai. Hanya dengan begitu aku bisa hidup dengan integritas dan martabat, lalu bisa berkenan bagi Tuhan. Makin aku memikirkannya, makin aku merasakan kekuatan itu. Jadi, aku kembali memberi kesaksian kepada ayahku mengenai penampakan dan pekerjaan Tuhan, dan berkata bahwa jika tidak percaya kepada Tuhan, semua pengejaran adalah hampa, dan tak bernilai atau berarti. Saat ini, Juru Selamat telah datang untuk mengungkapkan kebenaran guna menyelamatkan manusia; hanya dengan memercayai Tuhan, mengejar kebenaran, menyingkirkan dosa, dan sungguh-sungguh bertobat kepada Tuhan, manusia bisa selamat dari bencana dan memasuki kerajaan-Nya. Orang-orang yang mengejar dunia, sekaya apa pun kehidupan materielnya, pada akhirnya akan terperosok ke dalam bencana dan dihukum. Namun, apa pun yang kukatakan, ayahku tetap tidak setuju dengan pengunduran diriku, dan ingin membuatku kembali bekerja. Pada akhirnya, melihatku bergeming, dia pun pergi dalam kondisi marah.

Setelah itu, ayahku meminta kerabatku datang untuk membujukku. Mereka semua mengatakan bahwa posisi di Biro Kereta Api adalah pekerjaan yang mapan, dan tidak mudah bagi banyak orang untuk memperoleh pekerjaan seperti itu lewat jalan belakang dengan imbalan hadiah dan uang. Mereka mengatakan bahwa dengan mengundurkan diri, berarti aku tidak tahu apa yang baik untukku, bahwa aku bodoh karena percaya kepada Tuhan, dan bahwa orang tuaku telah sia-sia membesarkanku. Saat mendengar tuduhan kerabatku, aku tahu bahwa Iblis menggunakan mereka untuk menyerang dan menghalangiku untuk meninggalkan segalanya serta mengorbankan diri untuk Tuhan. Aku memikirkan firman Tuhan Yang Mahakuasa: "Engkau harus memiliki keberanian-Ku di dalam dirimu, dan engkau harus memiliki prinsip dalam hal menghadapi kerabat yang tidak percaya. Namun demi Aku, engkau juga tidak boleh menyerah pada kekuatan gelap apa pun. Engkau harus mengandalkan hikmat-Ku untuk menempuh jalan yang sempurna, dan tidak membiarkan rencana jahat Iblis apa pun berhasil. Lakukan semua yang mampu kaulakukan untuk menempatkan hatimu di hadapan-Ku, dan Aku akan menghiburmu dan membawa kedamaian dan sukacita dalam hatimu" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Perkataan Kristus pada Mulanya, Bab 10"). Setelah merenungkan firman Tuhan, aku merasa yakin, dan menemukan keberanian untuk berkata kepada kerabatku, "Saat ini, orang-orang khususnya menyembah uang, ketenaran, keuntungan, dan status. Demi mendapatkannya, orang-orang berebut, berintrik, berkelahi, dan para suami istri bahkan saling berselingkuh dan berkhianat. Semua orang hidup seperti itu, jadi sekalipun mereka punya pekerjaan yang bagus dan mapan serta memiliki materi yang baik tidak kekurangan apa pun dalam hidup mereka, apakah mereka bisa merasa bahagia? Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: 'Segala macam bencana akan menimpa susul-menyusul; semua negara dan tempat akan mengalami bencana: Wabah, kelaparan, banjir, kekeringan, dan gempa bumi terjadi di mana-mana. Bencana-bencana ini tidak hanya terjadi di satu atau dua tempat saja, juga tidak akan berakhir dalam satu atau dua hari; sebaliknya, bencana-bencana ini akan meluas ke wilayah yang makin besar, dan akan bertambah parah. Selama masa ini, segala macam wabah serangga akan muncul berturut-turut, dan fenomena kanibalisme akan terjadi di mana-mana. Inilah penghakiman-Ku atas berlaksa-laksa bangsa dan suku' (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Perkataan Kristus pada Mulanya, Bab 65"). Saat ini, bencana menjadi makin besar. Hanya dengan mengikuti Tuhan Yang Mahakuasa, Dia akan menjaga kita dari bencana. Kepercayaanku kepada Tuhan dan pemberitaan Injil itu lebih penting daripada pekerjaanku. Membuat pilihan ini bukanlah keyakinan bodoh, seperti anggapan kalian. Saat Nuh memberitakan Injil, orang-orang menyebutnya gila, tetapi saat banjir datang, dari seluruh umat manusia, hanya delapan orang keluarga Nuh yang selamat. Nuh tak gila atau bodoh; dia bijak dan diberkati oleh Tuhan. Pada akhir zaman, kejahatan dan kerusakan umat manusia, serta penentangan mereka kepada Tuhan telah mencapai titik di mana Tuhan akan membinasakan ras manusia yang telah sepenuhnya rusak ini. Kita hanya bisa menerima perlindungan Tuhan dan hanya bisa bertahan hidup dengan memercayai dan menyembah-Nya. Aku menyampaikan kabar baik ini dengan harapan kalian juga akan menerima keselamatan Tuhan Yang Mahakuasa di akhir zaman. Jangan berusaha membujukku, karena keputusanku sudah bulat. Aku akan mengikuti Tuhan Yang Mahakuasa di sisa hidupku." Setelah aku selesai bicara, bibiku, yang percaya kepada Tuhan, berkata, "Syukur kepada Tuhan! Kau punya iman yang kuat kepada Tuhan, dan keputusanmu untuk memberitakan Injil menggembirakan Tuhan." Bibiku berkata kepada kerabat lainnya, "Jalan yang dia pilih sudah tepat. Kekayaan bukanlah hal penting. Yang terpenting adalah kehidupan. Kita harus menghormati pilihannya." Setelah itu, tak ada yang bicara. Aku sangat bahagia saat itu. Ketika aku teguh dan memilih untuk memuaskan Tuhan, tak ada yang dapat dilakukan kerabatku selain mundur dengan rasa malu. Sejak saat itu, aku tak lagi terkekang oleh orang, peristiwa, dan segala hal di sekitarku, dan aku bisa melaksanakan tugas penuh waktu.

Lalu, aku melihat banyak orang menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa di akhir zaman. Aku merasakan sukacita yang tak terlukiskan di hatiku. Membawa mereka yang tulus merindukan Tuhan untuk kembali ke rumah-Nya adalah hal paling bermakna, dan merupakan hal yang paling menghibur Tuhan. Memilih untuk berhenti dari pekerjaanku yang mapan dan mengambil jalan keyakinan kepada Tuhan adalah pilihan paling bijak dalam hidupku. Dapat mengorbankan dan mendedikasikan hidupku untuk memberitakan Injil dan bersaksi tentang Tuhan adalah hal yang lebih berharga dan bermakna daripada apa pun yang bisa kulakukan!

Selanjutnya: Pilihan Seorang Dokter

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Tugasku atau Karierku?

Sejak kecil, aku sering melihat di koran dan televisi tentang para pengusaha perempuan dan wanita-wanita tangguh dari berbagai latar...

Pilihan Seorang Kepala Sekolah

Aku dilahirkan dalam keluarga biasa, dan kedua orang tuaku adalah petani. Karena keluargaku miskin, orang lain mendiskriminasi dan...

Tinggalkan Balasan

Hubungi kami via WhatsApp