Aplikasi Seluler mengenai Gereja Tuhan Yang Mahakuasa

Mendengarkan suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali!

Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Perkataan Tuhan Yang Mahakuasa (Cara untuk Mengenal Tuhan)

Perkataan Tuhan Yang Mahakuasa (Cara untuk Mengenal Tuhan)
Perkataan Tuhan Yang Mahakuasa (Cara untuk Mengenal Tuhan)

Kategorie

Antologi Bacaan Firman Tuhan Yang Mahakuasa
Perkataan Kristus pada Akhir Zaman (Pilihan)

Watak Tuhan yang Benar (Bagian Empat)

Pertobatan Sejati di Hati Penduduk Niniwe Membuat Mereka Mendapatkan Belas Kasih Tuhan dan Mengubah Nasib Mereka

Apakah ada kontradiksi antara perubahan hati Tuhan dan murka-Nya? Tentu saja tidak! Ini karena toleransi Tuhan pada saat itu memiliki alasan tersendiri. Apa alasannya? Jawabannya ada di Alkitab: "Semua orang berbalik dari jalannya yang jahat" dan "meninggalkan kekejaman yang ada di tangan mereka."

"Jalan yang jahat" ini bukan merujuk kepada sejumlah perbuatan jahat, tetapi pada sumber kejahatan di balik sikap orang-orang. "Berbalik dari jalannya yang jahat" berarti orang yang bersangkutan tidak akan pernah melakukan perbuatan-perbuatan itu lagi. Dengan kata lain, mereka tidak akan pernah berperilaku di jalan yang jahat ini lagi; metode, sumber, tujuan, niat, dan prinsip-prinsip tindakan mereka telah semuanya berubah. Mereka tidak akan pernah lagi menggunakan metode dan prinsip-prinsip tersebut untuk mendatangkan kesenangan dan kebahagiaan dalam hati mereka. "Meninggalkan" dalam "meninggalkan kejahatan yang ada di tangan mereka" berarti membuang atau menyingkirkan, benar-benar putus hubungan dengan masa lalu dan tidak pernah kembali lagi. Ketika penduduk Niniwe meninggalkan kejahatan di tangan mereka, hal ini membuktikan sekaligus merepresentasikan pertobatan sejati mereka. Tuhan memperhatikan tindakan luar manusia dan juga hati mereka. Ketika Tuhan melihat pertobatan sejati di hati penduduk Niniwe itu sungguh-sungguh dan melihat mereka sudah meninggalkan jalan-jalan mereka yang jahat dan meninggalkan kejahatan di tangan mereka, Dia mengubah hati-Nya. Ini berarti tindakan dan sikap manusia dan berbagai macam cara melakukannya, serta pengakuan dan pertobatan sejati dari dosa di hati mereka, menyebabkan Tuhan mengubah hati-Nya, mengubah niat-Nya, menarik kembali keputusan-Nya dan tidak menghukum atau menghancurkan mereka. Karena itulah penduduk Niniwe mendapatkan akhir yang berbeda. Mereka menebus hidup mereka sendiri dan pada saat yang sama mendapatkan belas kasih dan toleransi Tuhan, sampai di titik di mana Tuhan menarik kembali murka-Nya.

Belas Kasih dan Toleransi Tuhan Tidaklah Langka—Pertobatan Sejati Manusia yang Langka

Terlepas dari seberapa marah Tuhan terhadap penduduk Niniwe, begitu mereka menyatakan puasa dan mengenakan kain kabung dan abu, hati-Nya secara bertahap melembut dan Dia mulai mengubah hati-Nya. Ketika Dia menyatakan kepada mereka bahwa Dia akan menghancurkan kota mereka—sebelum pengakuan dan pertobatan mereka dari dosa—Tuhan masih marah terhadap mereka. Begitu mereka sudah melewati sejumlah tindakan pertobatan, amarah Tuhan terhadap orang-orang Niniwe berangsur berubah menjadi belas kasih dan toleransi kepada mereka. Tidak ada yang bertolak belakang tentang pengungkapan dua aspek watak Tuhan yang terjadi bersamaan ini. Bagaimana kita seharusnya memahami dan mengetahui bahwa tidak ada kontradiksi? Tuhan secara berturut-turut mengungkapkan dan menyatakan dua hakikat yang sangat bertolak belakang saat penduduk Niniwe bertobat sehingga manusia bisa melihat kenyataan dan hakikat Tuhan yang tidak terbantahkan. Tuhan menggunakan sikap-Nya untuk memberitahu manusia hal berikut: Bukannya Tuhan tidak menoleransi manusia atau Dia tidak mau menunjukkan belas kasihan kepada mereka; hanya saja mereka jarang bertobat dengan sungguh-sungguh terhadap Tuhan dan jarang manusia benar-benar berbalik dari jalan mereka yang jahat dan meninggalkan kejahatan di tangan mereka. Dengan kata lain, ketika Tuhan marah kepada manusia, Dia berharap manusia akan mampu bertobat dan Dia berharap melihat pertobatan sejati manusia, di mana Dia akan dengan bebas mencurahkan belas kasihan dan toleransi-Nya kepada manusia. Ini berarti perbuatan manusia mendatangkan murka Tuhan, sementara belas kasih dan toleransi Tuhan diberikan kepada mereka yang mendengarkan Tuhan dan benar-benar bertobat di hadapan-Nya, kepada mereka yang dapat berbalik dari jalan-jalannya yang jahat dan meninggalkan kejahatan di tangan mereka. Sikap Tuhan dinyatakan dengan sangat jelas dalam perlakuan-Nya terhadap penduduk Niniwe: Belas kasihan dan toleransi Tuhan tidak sulit didapat; Dia menginginkan pertobatan sejati dari manusia. Selama manusia berbalik dari jalan mereka yang jahat dan meninggalkan kejahatan di tangan mereka, Tuhan akan mengubah hati-Nya dan mengubah sikap-Nya terhadap mereka.

Watak Benar Sang Pencipta itu Nyata dan Jelas

Ketika Tuhan mengubah hati-Nya bagi penduduk Niniwe, apakah belas kasih dan toleransi-Nya pura-pura? Tentu saja tidak! Jadi apa yang bisa engkau pelajari dari perubahan antara dua aspek watak Tuhan dalam peristiwa yang sama? Watak Tuhan merupakan suatu keseluruhan yang lengkap; sama sekali tidak terpisah-pisah. Terlepas dari apakah Dia mengungkapkan kemarahan atau belas kasih dan toleransi terhadap manusia, semua ini adalah ungkapan dari watak-Nya yang benar. Watak Tuhan itu nyata dan jelas. Dia mengubah pikiran dan sikap-Nya menurut perkembangan yang terjadi. Perubahan sikap-Nya terhadap penduduk Niniwe memberitahu umat manusia bahwa Dia memiliki pemikiran dan gagasan-Nya sendiri; Dia bukan robot atau boneka tanah liat, melainkan Tuhan yang hidup itu sendiri. Dia bisa marah kepada penduduk Niniwe sama seperti Dia bisa mengampuni masa lalu mereka menurut sikap mereka, Dia bisa menentukan apakah akan mendatangkan bencana atas penduduk Niniwe, dan Dia bisa mengubah keputusan-Nya oleh karena pertobatan mereka. Manusia lebih suka menerapkan aturan secara mekanis dan mereka lebih suka menggunakan aturan untuk menentukan dan mendefinisikan Tuhan, sama seperti mereka lebih suka menggunakan formula untuk mengetahui watak Tuhan. Karena itulah, menurut cara pikir manusia, Tuhan tidak berpikir, juga tidak memiliki gagasan yang substansif. Pada kenyataannya, pikiran Tuhan secara konstan berubah mengikuti perubahan yang terjadi dalam berbagai hal dan lingkungan; sementara pikiran itu berubah, berbagai aspek berbeda dari hakikat Tuhan akan dinyatakan. Selama proses perubahan ini, pada saat Tuhan mengubah hati-Nya, Dia menyatakan kepada umat manusia kebenaran tentang keberadaan hidup-Nya dan Dia menyatakan bahwa watak-Nya yang benar itu nyata dan jelas. Lebih jauh lagi, Tuhan menggunakan pewahyuan sejati-Nya untuk membuktikan kepada umat manusia kebenaran tentang keberadaan murka, belas kasih, kebaikan dan toleransi-Nya. Hakikat-Nya akan dinyatakan kapan saja dan di mana saja sesuai dengan perkembangan berbagai hal. Dia memiliki murka seperti singa dan belas kasih dan toleransi seperti seorang ibu. Watak-Nya yang benar tidak bisa dipertanyakan, dilanggar, diubah atau diganggu oleh siapa pun. Di antara semua peristiwa dan segala sesuatu, watak Tuhan yang benar, yaitu murka dan belas kasih Tuhan, bisa dinyatakan kapan saja dan di mana saja. Dia dengan jelas mengungkapkan aspek-aspek ini seluruhnya hingga ke setiap sudut dan celah dan dengan jelas Dia menunjukkannya di setiap kesempatan. Watak Tuhan yang benar tidak dibatasi ruang dan waktu, atau dengan kata lain, watak Tuhan yang benar tidak diungkapkan secara mekanis atau dinyatakan sesuai dengan batasan waktu atau ruang. Sebaliknya, watak Tuhan yang benar diungkapkan dengan bebas dan dinyatakan kapan saja dan di mana saja. Ketika engkau melihat Tuhan mengubah hati-Nya dan berhenti mengungkapkan murka-Nya dan menahan diri untuk tidak menghancurkan kota Niniwe, bisakah engkau mengatakan bahwa Tuhan hanya berbelas kasih dan penyayang? Bisakah engkau mengatakan bahwa murka Tuhan terdiri dari kata-kata kosong? Ketika Tuhan mengungkapkan murka yang bernyala-nyala dan menahan belas kasih-Nya, bisakah engkau mengatakan Dia tidak merasakan kasih sejati terhadap umat manusia? Tuhan mengungkapkan murka yang bernyala-nyala sebagai respons terhadap perbuatan jahat manusia; murka-Nya tidak bercela. Hati Tuhan tergerak oleh pertobatan manusia dan pertobatan inilah yang mengubah hati Tuhan. Hati-Nya tergerak, perubahan hati-Nya, dan juga belas kasih dan toleransi-Nya terhadap manusia sama sekali tanpa cacat, semuanya bersih, murni, tak bercela, dan tak tercemar. Toleransi Tuhan adalah toleransi yang murni; belas kasih-Nya adalah belas kasih yang murni. Watak-Nya akan menyatakan murka, dan juga belas kasih dan toleransi, sesuai dengan pertobatan manusia dan berbagai tindakan berbeda yang dilakukannya. Tidak peduli apa pun yang Dia ungkapkan dan nyatakan, semuanya murni; semuanya langsung; hakikatnya berbeda dengan apa pun yang ada dalam ciptaan. Prinsip-prinsip tindakan yang Tuhan ungkapkan, pikiran dan gagasan atau keputusan tertentu dan juga setiap perbuatan-Nya, tidak ada noda atau cela. Sebagaimana yang Tuhan telah tetapkan demikianlah Dia akan bertindak, dan dengan cara ini Dia menyelesaikan perbuatan-Nya. Hasil yang didapat tepat dan tidak bercela karena sumbernya tidak bercela dan tidak bernoda. Murka Tuhan tidak bercela. Begitu juga dengan belas kasih dan toleransi Tuhan, kudus dan tidak bercela dan karakter ini tidak dimiliki oleh makhluk ciptaan mana pun, dan keduanya dapat bertahan melawan pengalaman dan pertimbangan.

Setelah memahami kisah Niniwe, apakah engkau semua melihat sisi lain dari hakikat watak Tuhan yang benar? Apakah engkau semua melihat sisi lain dari watak benar Tuhan yang unik? Apakah ada seseorang dari antara umat manusia yang memiliki watak seperti ini? Apakah ada orang yang memiliki murka seperti murka Tuhan? Apakah ada yang memiliki belas kasih dan toleransi seperti belas kasih dan toleransi Tuhan? Siapakah di antara ciptaan yang bisa menunjukkan murka sedahsyat itu dan memutuskan untuk menghancurkan atau membawa bencana kepada umat manusia? Dan siapa yang memenuhi syarat untuk menganugerahkan belas kasih, untuk bertoleransi, dan mengampuni manusia dan dengan demikian mengubah keputusan untuk menghancurkan manusia? Sang Pencipta mengungkapkan watak-Nya yang benar lewat metode dan prinsip-prinsip-Nya yang unik; Dia tidak tunduk pada kendali atau dibatasi oleh manusia, kejadian atau hal apa pun. Dengan watak-Nya yang unik, tidak ada orang yang bisa mengubah pikiran dan gagasan-Nya, juga tidak ada yang dapat membujuk-Nya dan mengubah keputusan-Nya. Seluruh tingkah laku dan pikiran makhluk ciptaan berada di bawah penghakiman watak-Nya yang benar. Tidak seorang pun yang dapat mengendalikan entah Dia menyatakan murka atau belas kasih; hanya hakikat Sang Pencipta—atau dengan kata lain, watak Sang Pencipta yang benar—yang bisa menentukan hal ini. Inilah sifat unik dari watak benar Sang Pencipta!

Begitu kita sudah menganalisis dan memahami perubahan sikap Tuhan terhadap penduduk Niniwe, apakah engkau semua mampu menggunakan kata "unik" untuk menjelaskan belas kasih yang ada dalam watak Tuhan yang benar? Sebelumnya kita mengatakan bahwa murka Tuhan adalah salah satu aspek dari hakikat watak-Nya yang benar. Sekarang Aku akan mendefinisikan dua aspek, murka Tuhan dan belas kasih Tuhan, yang merupakan watak-Nya yang benar. Watak Tuhan yang benar itu kudus, tidak dapat dilanggar, dan juga tidak dapat dipertanyakan; ini adalah sesuatu yang tidak dimiliki oleh satu pun makhluk ciptaan atau makhluk non ciptaan. Watak-Nya unik dan eksklusif hanya milik Tuhan. Bisa dikatakan bahwa murka Tuhan kudus dan tidak dapat dilanggar, pada saat yang sama, aspek lain dari watak Tuhan yang benar—yaitu belas kasih Tuhan—itu kudus dan tidak bisa dilanggar. Tidak satu pun dari makhluk ciptaan atau makhluk non ciptaan yang bisa menggantikan atau merepresentasikan Tuhan dalam tindakan-Nya, dan tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan atau merepresentasikan Dia dalam penghancuran Sodom dan penyelamatan Niniwe. Ini adalah ungkapan sejati dari watak benar Tuhan yang unik.

Perasaan Sang Pencipta yang Tulus Terhadap Umat Manusia

Manusia sering mengatakan tidak mudah mengenal Tuhan. Namun, Aku katakan bahwa mengenal Tuhan tidaklah sulit sama sekali, karena Tuhan sering membiarkan manusia menyaksikan perbuatan-Nya. Tuhan tidak pernah berhenti berdialog dengan umat manusia; Dia tidak pernah menyembunyikan diri-Nya dari manusia, atau menyembunyikan diri-Nya sendiri. Pikiran, gagasan, firman, dan perbuatan-Nya, semua dinyatakan kepada umat manusia. Oleh karena itu, selama manusia ingin mengenal Tuhan, ia bisa memahami dan mengenal Dia lewat segala macam cara dan metode. Alasan mengapa manusia dengan buta berpikir bahwa Tuhan dengan sengaja menghindarinya, bahwa Tuhan dengan sengaja menyembunyikan diri-Nya dari umat manusia, bahwa Tuhan tidak berniat membiarkan manusia memahami dan mengenal-Nya, adalah karena ia tidak tahu siapa Tuhan itu, juga karena ia tidak ingin memahami Tuhan, bahkan ia tidak peduli dengan pikiran, perbuatan, firman Sang Pencipta ... Sejujurnya, jika seseorang hanya menggunakan waktu luangnya untuk berfokus dan memahami firman atau perbuatan Sang Pencipta dan mencurahkan sedikit perhatian pada pikiran Sang Pencipta dan suara hati-Nya, tidak akan sulit bagi mereka untuk menyadari bahwa pikiran, perkataan, dan tindakan Sang Pencipta terlihat dan transparan. Begitu juga, akan dibutuhkan sedikit usaha untuk menyadari bahwa Sang Pencipta ada di antara manusia selama ini, bahwa Dia selalu berbicara dengan manusia dan seluruh ciptaan dan Dia melakukan perbuatan yang baru setiap harinya. Hakikat dan watak-Nya diungkapkan dalam dialog-Nya dengan manusia; pikiran dan gagasan-Nya dinyatakan sepenuhnya dalam perbuatan-Nya; Dia menemani dan menyelidiki umat manusia sepanjang waktu. Dia berbicara diam-diam kepada umat manusia dan seluruh ciptaan dengan firman-Nya yang lembut dan tenang: Aku ada di surga dan Aku berada di antara ciptaan-Ku. Aku mengawasi; Aku menunggu, Aku ada di sisi-Mu ... Tangan-Nya hangat dan kuat; langkah kaki-Nya ringan; suara-Nya lembut dan enak didengar; rupa-Nya melewati kita, merengkuh seluruh umat manusia; wajah-Nya indah dan lembut. Dia tidak pernah pergi atau menghilang. Siang dan malam, Dialah teman umat manusia yang selalu ada. Pemeliharaan-Nya yang sepenuh hati dan kasih sayang-Nya yang istimewa bagi umat manusia dan juga kepedulian dan cinta-Nya bagi manusia ditunjukkan sedikit demi sedikit ketika Dia menyelamatkan kota Niniwe. Secara khusus, pembicaraan antara Tuhan Yahweh dan Yunus menyingkapkan rasa iba Sang Pencipta bagi umat manusia yang Dia ciptakan sendiri. Lewat firman ini, engkau dapat memiliki pengertian yang dalam tentang perasaan Tuhan yang tulus bagi umat manusia ....

Berikut adalah apa yang tercatat di kitab Yunus 4:10-11: "Lalu kata Yahweh, engkau menyayangi pohon jarak itu, padahal engkau tidak perlu berjerih lelah menanam atau membuatnya tumbuh, yang tumbuh dalam semalam dan mati dalam semalam: Dan apakah Aku tidak boleh menyayangi Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari 120.000 orang, yang tidak bisa membedakan tangan kanan dari tangan kiri; dan juga banyak sekali ternaknya?" Ini adalah kata-kata Tuhan Yahweh yang sebenarnya, sebuah percakapan antara Dia dan Yunus. Walau percakapan ini singkat, di dalamnya penuh dengan kepedulian Sang Pencipta bagi umat manusia dan keengganan-Nya untuk melepaskan umat manusia. Kata-kata itu mengungkapkan sikap dan perasaan sebenarnya yang Tuhan rasakan dalam hati-Nya bagi ciptaan-Nya dan dengan kata-kata yang jelas ini, seperti yang jarang didengar manusia, Tuhan menyatakan maksud-Nya yang sebenarnya bagi umat manusia. Percakapan ini menyatakan sikap Tuhan terhadap penduduk Niniwe—tetapi sikap semacam apakah ini? Ini adalah sikap yang Dia tunjukkan kepada penduduk Niniwe sebelum dan sesudah pertobatan mereka. Tuhan memperlakukan umat manusia dengan cara yang sama. Dalam kata-kata ini kita bisa menemukan pikiran-Nya, dan juga watak-Nya.

Pikiran Tuhan apakah yang dinyatakan dalam kata-kata ini? Bila dibaca dengan teliti, kita akan segera menemukan bahwa Dia menggunakan kata "iba"; penggunaan kata ini menunjukkan sikap sebenarnya Tuhan terhadap umat manusia.

Dari sudut pandang semantik, kita bisa menafsirkan kata "iba" dalam berbagai cara: pertama, mengasihi dan melindungi, merasakan kelembutan terhadap sesuatu; kedua, menyayangi dengan sangat, dan terakhir, tidak mau menyakiti dan tidak bisa untuk menyakiti. Singkat kata, kata "iba" memiliki arti sayang dan kasih, dan juga keengganan untuk menyerahkan seseorang atau sesuatu; itu berarti belas kasih dan toleransi Tuhan terhadap manusia. Walau Tuhan menggunakan kata yang umum dikatakan di antara manusia, penggunaan kata ini menyuarakan isi hati Tuhan dan sikap-Nya terhadap umat manusia.

Walau kota Niniwe penuh dengan orang-orang yang rusak, jahat, dan kejam sama seperti orang-orang di Sodom; pertobatan mereka menyebabkan Tuhan mengubah hati-Nya dan memutuskan untuk tidak menghancurkan mereka. Karena reaksi mereka terhadap firman dan instruksi Tuhan menunjukkan sebuah sikap yang sangat berbeda dengan sikap penduduk Sodom dan karena penundukan diri mereka yang jujur kepada Tuhan dan pertobatan mereka yang jujur dari dosa-dosanya, serta perilaku mereka yang benar dan sepenuh hati dalam segala hal, Tuhan sekali lagi menunjukkan rasa iba-Nya yang sepenuh hati dan memberikannya kepada mereka. Upah Tuhan dan rasa iba-Nya kepada umat manusia tidak mungkin ditiru oleh siapa pun; tidak ada orang yang bisa memiliki belas kasih dan toleransi Tuhan atau perasaan-Nya yang tulus terhadap umat manusia. Apakah ada orang yang engkau anggap sebagai pria dan wanita yang hebat atau bahkan manusia super yang dari posisi yang tinggi berkata-kata sebagai seorang pria atau wanita yang hebat atau saking hebatnya membuat pernyataan serupa ini kepada umat manusia atau ciptaan? Siapakah di antara umat manusia yang bisa mengetahui kondisi kehidupan umat manusia seperti telapak tangannya sendiri? Siapakah yang bisa menanggung beban dan tanggung jawab bagi keberadaan umat manusia? Siapakah yang mampu menyatakan kehancuran sebuah kota? Dan siapakah yang mampu mengampuni sebuah kota? Siapakah yang bisa mengatakan mereka mengasihi ciptaannya sendiri? Hanya Sang Pencipta! Hanya Sang Pencipta memiliki rasa iba terhadap umat manusia. Hanya Sang Pencipta menunjukkan kasih dan kelembutan ini kepada umat manusia. Hanya Sang Pencipta yang memiliki kasih sayang yang benar, tidak terpatahkan bagi umat manusia. Demikian pula, hanya Sang Pencipta yang bisa memberikan belas kasih pada umat manusia dan mengasihi semua ciptaan-Nya. Hati-Nya melompat dan sakit karena setiap perbuatan manusia: Dia marah, tertekan, dan berduka karena kejahatan dan kerusakan manusia, Dia senang, gembira, bersukacita, mengampuni, dan bergirang karena pertobatan dan kepercayaan manusia; setiap pikiran, gagasan-Nya ada dan berpusat pada umat manusia. Siapa diri-Nya dan apa yang dimiliki-Nya diungkapkan sepenuhnya demi umat manusia; seluruh emosi-Nya terkait dengan keberadaan umat manusia. Demi umat manusia, Dia bepergian dan menjadi sibuk; Dia diam-diam memberikan seluruh hidup-Nya; Dia mendedikasikan setiap menit dan detik hidup-Nya ... Dia tidak pernah tahu cara menaruh rasa iba terhadap hidup-Nya sendiri, tetapi Dia selalu menaruh rasa iba dan mengasihi umat manusia yang Dia ciptakan sendiri.... Dia memberikan semua yang Dia punya kepada umat manusia.... Dia memberikan belas kasih-Nya dan toleransi tanpa syarat dan tanpa meminta balasan. Dia melakukan ini hanya agar umat manusia bisa terus bertahan hidup di hadapan mata-Nya, menerima perbekalan hidup dari-Nya; Dia melakukan ini hanya agar umat manusia suatu hari tunduk di hadapan-Nya dan mengenali-Nya sebagai Dia yang memelihara keberadaan manusia dan memberikan kehidupan pada semua ciptaan.

Sang Pencipta Mengungkapkan Perasaan-Nya yang Sejati Bagi Umat Manusia

Pembicaraan antara Tuhan Yahweh dan Yunus tidak diragukan lagi adalah ungkapan perasaan sejati Sang Pencipta bagi umat manusia. Di satu sisi hal ini memberitahu manusia tentang pemahaman Sang Pencipta akan semua ciptaan di bawah perintah-Nya; sebagaimana Tuhan Yahweh katakan, "Dan apakah Aku tidak boleh menyayangi Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari 120.000 orang, yang tidak bisa membedakan tangan kanan dari tangan kiri; dan juga banyak sekali ternaknya?" Dengan kata lain, pemahaman Tuhan tentang Niniwe jauh dari pemahaman yang sepintas lalu. Dia tidak hanya tahu jumlah makhluk hidup di dalam kota itu (termasuk manusia dan ternak), Dia juga tahu berapa banyak orang yang tidak bisa membedakan tangan kanan dari tangan kirinya—yaitu berapa banyak anak-anak dan anak muda yang ada di sana. Ini adalah bukti konkret pemahaman Tuhan yang luar biasa tentang umat manusia. Di sisi lain pembicaraan ini memberitahu manusia bahwa sikap Sang Pencipta terhadap umat manusia, yaitu bobot umat manusia di dalam hati Sang Pencipta. Ini seperti yang dikatakan Tuhan Yahweh: "Engkau menyayangi pohon jarak itu, padahal engkau tidak perlu berjerih lelah menanam atau membuatnya tumbuh, yang tumbuh dalam semalam dan mati dalam semalam: Dan apakah Aku tidak boleh menyayangi Niniwe, kota yang besar itu ...?" Ini adalah firman Tuhan Yahweh yang menyalahkan Yunus, tetapi kata-kata ini benar.

Walau Yunus dipercayakan untuk menyampaikan firman Tuhan Yahweh kepada penduduk Niniwe, ia tidak mengerti niat Tuhan Yahweh atau memahami kekhawatiran dan harapan-Nya bagi orang-orang di kota itu. Lewat teguran ini, Tuhan bermaksud mengatakan kepadanya bahwa umat manusia adalah hasil ciptaan tangan-Nya sendiri, Tuhan telah berupaya sungguh-sungguh bagi setiap manusia, setiap manusia membawa bersama dirinya harapan Tuhan, setiap manusia menikmati penyediaan kehidupan Tuhan; karena bagi setiap orang, Tuhan telah membayar harga yang sangat mahal. Teguran ini juga memberitahu Yunus bahwa Tuhan mengasihi umat manusia, yang adalah pekerjaan tangan-Nya sendiri, sama seperti Yunus sendiri mengasihi pohon jarak. Tuhan pasti tidak akan dengan mudah meninggalkan mereka sebelum saat yang kemungkinan merupakan saat terakhir, apalagi ada begitu banyak anak-anak dan ternak tidak bersalah di dalam kota itu. Ketika menangani hasil ciptaan Tuhan yang muda dan bodoh ini, yang tidak bisa membedakan tangan kanan dari tangan kirinya, Tuhan lebih tidak mampu lagi menyudahi hidup mereka dan menentukan akhir mereka secara terburu-buru. Tuhan berharap melihat mereka bertumbuh; Dia berharap mereka tidak berjalan di jalan yang sama dengan orangtuanya, supaya mereka tidak perlu mendengar peringatan Tuhan Yahweh lagi dan supaya mereka akan menjadi saksi tentang masa lalu Niniwe. Bahkan Tuhan berharap melihat Niniwe setelah ia bertobat, melihat masa depan Niniwe setelah pertobatannya, dan yang terpenting, melihat Niniwe hidup di bawah belas kasih Tuhan sekali lagi. Karena itulah di mata Tuhan, objek ciptaan-Nya yang tidak bisa membedakan tangan kanan dari tangan kirinya adalah masa depan Niniwe. Mereka akan menanggung masa lalu Niniwe yang menjijikkan, sama seperti mereka harus menanggung tugas penting menjadi saksi tentang masa lalu dan masa depan Niniwe di bawah bimbingan Tuhan Yahweh. Dalam pernyataan perasaan-Nya yang sejati ini, Tuhan Yahweh menyatakan belas kasih Sang Pencipta bagi umat manusia secara keseluruhan. Pernyataan itu menunjukkan kepada manusia bahwa "belas kasih Sang Pencipta" bukanlah sebuah frasa kosong, atau janji kosong, tetapi mengandung prinsip-prinsip, metode dan tujuan yang jelas. Dia nyata dan benar, dan tidak menggunakan tipuan atau penyamaran dan dengan cara yang sama belas kasih-Nya yang tanpa akhir itu diberikan kepada umat manusia di setiap waktu dan zaman. Namun sampai hari ini, percakapan Sang Pencipta dengan Yunus adalah satu-satunya pernyataan verbal eksklusif Tuhan tentang mengapa Dia menunjukkan belas kasih-Nya kepada umat manusia, bagaimana Dia menunjukkan belas kasih-Nya, betapa tolerannya Dia kepada umat manusia dan perasaan-Nya yang sejati bagi umat manusia. Pembicaraan Tuhan Yahweh yang singkat ini mengungkapkan pikiran-Nya yang utuh bagi umat manusia; ini adalah ungkapan sejati dari sikap hati-Nya terhadap umat manusia, dan juga bukti konkret dari penganugerahan-Nya akan belas kasih yang melimpah kepada umat manusia. Belas kasih-Nya tidak hanya dicurahkan kepada generasi umat manusia yang lebih tua saja, tetapi juga kepada umat manusia yang lebih muda; sama seperti yang sudah-sudah, dari satu generasi ke generasi. Walau murka Tuhan seringkali datang ke sudut tertentu dan zaman tertentu di dalam kehidupan umat manusia, belas kasih Tuhan tidak pernah berhenti. Dengan belas kasih-Nya, Dia membimbing dan memimpin satu generasi demi satu generasi ciptaan-Nya, memenuhi kebutuhan dan memelihara satu generasi demi satu generasi karena perasaan-Nya yang sejati terhadap manusia tidak pernah berubah. Sama seperti yang dikatakan Tuhan Yahweh: "Dan apakah Aku tidak boleh menyayangi Niniwe ...?" Dia selalu mengasihi ciptaan-Nya sendiri. Inilah belas kasih dari watak benar Sang Pencipta dan itu juga adalah keunikan murni dari Sang Pencipta!

Perkataan Tuhan Yang Mahakuasa (Cara untuk Mengenal Tuhan)

00:00
00:00

0Hasil Pencarian