Cara Mengejar Kebenaran (15) Bagian Empat
III. Ciri Ketiga: Kejahatan
Setelah selesai mempersekutukan perwujudan penyimpangan dalam diri mereka yang bereinkarnasi dari setan, mari kita bersekutu tentang perwujudan mereka yang lainnya—kejahatan. Perwujudan kejahatan memiliki kemiripan dengan perwujudan penyimpangan, tetapi juga ada perbedaannya. Perwujudan penyimpangan tidak sesuai dengan cara berpikir, hati nurani, nalar, atau naluri kemanusiaan yang normal, juga tidak sesuai dengan berbagai kondisi bawaan kemanusiaan normal yang Tuhan tetapkan bagi manusia ciptaan; sebaliknya, perwujudan tersebut melampaui berbagai kondisi bawaan kemanusiaan yang normal ini. Perwujudan secara keseluruhan adalah abnormal, supernatural, ekstrem, dan ganjil. Itu berarti, orang-orang dengan nalar dan hati nurani kemanusiaan yang normal menganggap orang-orang semacam itu sangat aneh, baik dalam hal perwujudan dan perilaku mereka maupun dalam hal pemikiran dan sudut pandang mereka. Engkau benar-benar tidak dapat memahami mengapa mereka berpikir atau bertindak dengan cara seperti itu. Kini melalui persekutuan, engkau memahaminya. Jadi, di mana letak akar masalahnya? Akar masalahnya terletak pada esensi natur mereka dan atribut mereka sebagai setan. Pada dasarnya, seperti inilah perwujudan penyimpangan itu. Namun, kejahatan para setan tidak hanya berkaitan dengan beberapa perwujudan yang umumnya terlihat di luarnya; sebaliknya, itu berkaitan langsung dengan sikap orang semacam ini terhadap kebenaran. Itu jauh lebih tercela dan lebih serius daripada penyimpangan. Perwujudan kejahatan, tentu saja, juga digolongkan oleh bagaimana orang-orang tersebut memperlakukan kebenaran. Pertama, mereka yang adalah para setan memusuhi kebenaran; ini adalah perwujudan kejahatan yang pertama. Perwujudan kejahatan yang kedua adalah, selain memiliki sikap yang memusuhi kebenaran, para setan juga secara proaktif menyerang kebenaran. Perwujudan kejahatan yang ketiga adalah, selain memusuhi dan menyerang kebenaran, para setan melangkah lebih jauh dan ingin menggantikan kebenaran. Perwujudan kejahatan mereka tidak akan pernah berhenti hanya pada taraf memusuhi dan menyerang kebenaran; sebaliknya, di atas dasar kedua perwujudan ini, mereka juga ingin menggantikan kebenaran. Inilah esensi mereka. Banyak dari perwujudan kejahatan dalam diri para setan adalah sama seperti perwujudan mereka yang memiliki esensi antikristus, yang telah kita persekutukan sebelumnya, jadi tidak perlu membahas aspek-aspek ini lebih lanjut. Hari ini, kita terutama akan menelaah tiga perwujudan kejahatan dalam diri para setan: memusuhi, menyerang, dan berusaha menggantikan kebenaran.
A. Memusuhi Kebenaran
Pertama, mari kita bersekutu tentang perwujudan sikap yang memusuhi kebenaran dalam diri mereka yang adalah para setan. Kita telah cukup banyak mempersekutukan topik tentang sikap yang memusuhi kebenaran sebelumnya; ini bukan pertama kalinya engkau semua bertemu dengan topik semacam ini. Perwujudan dari sikap yang memusuhi kebenaran sangat jelas terlihat dalam diri mereka yang adalah para setan. Itu berarti mereka sama sekali tidak mampu menerima hal yang positif, apa pun yang benar dan sesuai dengan hati nurani dan nalar kemanusiaan. Khususnya ketika itu adalah sesuatu yang berkaitan dengan prinsip-prinsip kebenaran, mereka terlebih lagi tidak mampu menerimanya. Ketidakmampuan mereka untuk menerima bukan sekadar mereka menggelengkan kepala dan menolak; melainkan, di dalam hatinya, mereka merasakan kejijikan dan kemuakan, serta kebencian. Seberapa dalam kebencian mereka? Jika ada orang yang mempersekutukan kebenaran secara spesifik dan dengan kenyataan, mereka merasa orang itu tidak menyenangkan. Itu bukanlah sekadar sedikit kecemburuan—itu adalah sikap yang memusuhi. Apa arti sikap yang memusuhi? Itu berarti memperlakukanmu seolah-olah engkau telah membunuh ayah mereka. Sebenarnya, engkau mungkin belum pernah berinteraksi secara mendalam dengan mereka, dan mereka juga belum tentu mengenalmu, tetapi jika engkau memahami kebenaran dan mempersekutukan kebenaran tersebut, di dalam hatinya, mereka merasakan kejijikan. Mereka tidak merasa jijik terhadap orang yang membicarakan kata-kata dan doktrin, tetapi mereka sangat jijik terhadap siapa pun yang mempersekutukan kebenaran kepada mereka, merasa seolah-olah itu membunuh mereka—kebencian mereka mencapai taraf ini. Apa perwujudan spesifik mereka? Ketika orang lain mempersekutukan prinsip-prinsip kebenaran atau maksud-maksud Tuhan, mereka menjadi muak mendengarnya dan tidak bisa duduk dengan tenang. Ada yang mencari-cari alasan lalu pergi, ada yang bahkan berdiri dan pergi tanpa sedikit pun keraguan. Di sisi lain, orang-orang dengan hati nurani dan nalar kemanusiaan yang normal, sekalipun mereka tidak merindukan atau tidak menyetujui perkataan yang benar—terutama perkataan yang sesuai dengan kebenaran—paling-paling mereka tidak akan menerimanya dalam hati mereka, tetapi mereka masih mampu tetap duduk selama persekutuan itu untuk menyelamatkan muka. Sedangkan mereka yang adalah para Iblis tidak mampu duduk dengan tenang. Begitu mendengar kebenaran, di dalam hatinya, mereka merasa jijik dan gelisah, dan ketika merasa sangat gelisah, mereka tidak mampu tetap berada di sana, mereka pun pergi. Jika mereka tidak bisa pergi, mereka menonton video di internet, membiarkan pikiran mereka mengembara dan melakukan beberapa tindakan yang mengalihkan perhatian mereka, mengganti topik pembicaraan dan mengobrolkan hal-hal sepele, atau meninggikan dan bersaksi tentang sejarah "mulia" mereka sendiri sambil meremehkan dan menggurui orang lain. Singkatnya, jika engkau mempersekutukan kebenaran, mereka merasa jijik; sikap mereka terhadap kebenaran adalah sikap memusuhi yang ekstrem. Jika engkau tidak mempersekutukan kebenaran tetapi hanya mempersekutukan beberapa pekerjaan administratif atau pekerjaan umum, membagikan beberapa anekdot dari pemberitaan Injil, atau mengobrol tentang hal-hal eksternal, mereka mampu duduk dengan tenang dan mengobrol bersama semua orang lainnya, terlihat cukup harmonis. Namun, begitu kebenaran dipersekutukan, khususnya ketika firman Tuhan dibacakan, esensi dan diri mereka yang sesungguhnya tersingkap. Mereka menjadi gelisah, dan jika mereka mendengarkan sedikit lebih lama lagi, mereka merasa kepala mereka seperti akan meledak. Makin banyak engkau membacakan firman Tuhan, makin mereka merasa sedang dihakimi, dan makin mereka merasa akan dikutuk dan disingkirkan, dan bahwa nyawa mereka terancam. Makin banyak engkau membacakan firman Tuhan, makin di dalam hatinya, mereka merasa jijik dan muak, seolah-olah mereka telah terjangkit suatu penyakit. Katakan kepada-Ku, bukankah masalah ini sangat serius? Masih dapatkah orang-orang semacam itu diselamatkan? Terutama dalam hal menerapkan kebenaran dan menjadi orang yang jujur, karena ingin menjadi jujur, mereka yang mengejar kebenaran melatih diri untuk berbicara jujur dan terbuka serta mengungkapkan tentang diri mereka yang sebenarnya. Ketika para setan mendengarnya, di dalam hatinya, mereka merasa jijik, memandang rendah dirimu, dan membencimu. Mereka merasa engkau hina karena menerapkan kebenaran, sedangkan mereka terhormat—dan lebih mulia serta lebih agung daripadamu—karena tidak menerapkan kebenaran. Sudut pandang macam apa ini? Bukankah ini mengubah hitam menjadi putih? Seperti inilah orang-orang yang memusuhi kebenaran itu. Jika engkau mempersekutukan kebenaran atau prinsip penerapan tertentu, di dalam hatinya, mereka tidak hanya memandang rendah dirimu, tetapi juga merasa muak akan engkau; mereka bahkan tidak akan menatap matamu. Jika engkau ingin membahas pekerjaan gereja dengan mereka, mereka selalu menghindarimu; mereka tidak ingin berbicara denganmu dan merasa bahwa engkau dan mereka tidak memiliki kesamaan. Engkau dapat mengobrol dengan mereka tentang topik apa pun, kecuali topik yang berkaitan dengan kebenaran atau dengan pekerjaan Tuhan menyelamatkan manusia; mereka tidak ingin membahas topik-topik ini. Misalnya, jika engkau berkata kepada mereka, "Mari kita bersekutu tentang bagaimana cara melaksanakan tugas kita dengan setia, dan mendiskusikan masalah-masalah apa yang masih ada dalam pelaksanaan tugas kita pada tahap ini dan bagaimana menyelesaikannya," setelah mendengarnya, mereka merasa kepala mereka seperti akan meledak, di dalam hatinya, mereka merasakan kejijikan yang luar biasa, dan mata mereka berapi-api saat mereka bersikap penuh perlawanan terhadapmu. Mereka bersedia menderita kesukaran apa pun demi setia kepada Iblis, tetapi mereka sangat jijik terhadap Tuhan dan kebenaran, tidak menerima kebenaran sedikit pun. Siapa pun yang mempersekutukan kebenaran kepada mereka, mereka tidak mau menerimanya. Jika engkau meminta mereka untuk mempelajari ilmu pengetahuan atau karya sastra terkenal, mereka sangat bersedia, merasa diri mereka sangat mulia. Namun, ketika mereka mendengarkan khotbah atau orang lain mempersekutukan kebenaran, seolah-olah mereka sedang disiksa atau diadili di pengadilan. Yang paling mereka muak adalah membaca firman Tuhan dan mempersekutukan kebenaran. Oleh karena itu, dalam kehidupan mereka sehari-hari, meskipun mereka akan melakukan beberapa pekerjaan umum dan hal-hal yang menguntungkan status, reputasi, dan prospek mereka untuk mendapatkan berkat, orang-orang semacam itu tidak pernah membaca firman Tuhan ataupun bersaat teduh. Mereka juga tidak mempersekutukan kebenaran selama pertemuan dan tidak pernah membagikan pengetahuan berdasarkan pengalaman pribadi mereka; kehadiran mereka di pertemuan hanyalah formalitas. Jika engkau meminta mereka untuk mempersekutukan pengetahuan mereka tentang firman Tuhan atau kebenaran, mereka tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun dan di dalam hatinya merasa jijik, berpikir, "Mempersekutukan firman tuhan dan kebenaran adalah sesuatu untuk para ibu rumah tangga dan orang-orang dari lapisan terendah di masyarakat. Bagaimana mungkin seorang tokoh besar sepertiku melakukan hal-hal semacam itu? Aku adalah orang yang melakukan hal-hal besar dan pekerjaan besar, orang yang akan menerima berkat-berkat besar. Ketika masuk ke dalam kerajaan, aku akan menjadi sokoguru dan tiang utama dalam kerajaan tuhan. Aku adalah orang yang memikul tanggung jawab besar. Kalian pikir kalian itu siapa? Menghadiri pertemuan di gereja yang sama dengan kalian saja sudah merupakan hal yang hina bagiku!" Lihatlah betapa sombongnya mereka! Sikap mereka yang memusuhi kebenaran adalah sikap memusuhi semua orang dan hal-hal yang berkaitan dengan kebenaran, serta terhadap penerapan dan perkataan yang berkaitan dengan kebenaran; mereka bahkan memusuhi hal-hal yang positif.
B. Menyerang Kebenaran
Ketika seseorang menyebutkan bahwa saudara-saudari di gereja harus memiliki kepatutan orang kudus, bahwa interaksi antar lawan jenis—baik di tempat kerja maupun dalam kehidupan sehari-hari—harus dilakukan dalam batasan tertentu, bahwa setiap orang harus bermartabat dan sopan, tidak boleh sembarangan menggoda orang, dan menghormati hubungan antara pria dan wanita serta menghormati pernikahan, bahwa orang haruslah menerapkan hal ini berdasarkan firman Tuhan, dan bahwa rumah Tuhan tidak menganjurkan kebebasan seksual, apa yang akan dipikirkan orang-orang yang bereinkarnasi dari setan setelah mendengarnya? "Itu adalah perkataan yang sudah ketinggalan zaman, klise. Zaman apa kita sekarang, masih membicarakan kepatutan orang kudus dan batasan antara pria dan wanita! Di masa lalu, para kaisar di istana mereka memiliki semua harem untuk diri mereka sendiri—betapa hebatnya itu! Jika aku memiliki kemampuan dan sarana, sekalipun aku tidak dapat memiliki sebuah harem, setidaknya aku akan memiliki pilihan orang untuk diajak berhubungan intim!" Mereka tidak pernah menerima hal positif apa pun, perkataan yang benar apa pun, terutama firman kebenaran, dan bahkan sangat jijik serta membencinya. Oleh karena itu, di atas dasar sikap mereka yang memusuhi kebenaran, orang-orang ini terus-menerus menyerang kebenaran dan hal-hal yang positif. Apa pun aspek kebenaran atau apa pun tuntutan spesifik dari Tuhan yang dipersekutukan, mereka selalu memiliki serangkaian ajaran sesat dan kekeliruan yang mereka gunakan untuk mengkritik dan menghakiminya. Bukankah kritik dan penghakiman ini merupakan serangan? (Ya.) Betapa pun banyaknya orang yang menerima kebenaran dan hal-hal yang positif, mereka tidak akan pernah menerimanya. Mereka percaya bahwa apa yang dianjurkan oleh rumah Tuhan dan apa yang dituntut kebenaran untuk orang terapkan, semua itu hanyalah slogan dan formalitas, dan bahwa yang benar-benar memenuhi kebutuhan manusia adalah tren-tren duniawi; apa pun yang dianjurkan oleh tren-tren duniawi saat ini, itu adalah kebenaran yang tertinggi. Bukankah ini berarti memuja kejahatan? Jadi, apa pun aspek kebenaran yang kaupersekutukan, mereka secara subjektif memusuhinya, dan terlebih lagi, mereka akan menghakimi, menyerang, dan menghujatnya. Misalnya, Tuhan menuntut orang untuk bersikap jujur. Apa definisi mereka tentang menjadi orang jujur? "Menjadi orang jujur adalah untuk orang bodoh; hanya orang bodoh yang menerapkan untuk menjadi orang jujur. Hanya orang bodoh yang memberi tahu orang lain apa yang mereka pikirkan di dalam hatinya, urusan pribadi mereka. Hanya orang bodoh yang berbicara jujur. Hanya orang bodoh yang memercayakan takdir mereka kepada orang lain untuk dikendalikan. Aku bukan orang bodoh; takdirku berada di tanganku sendiri, dan orang lain tidak berhak ikut campur! Entah aku ingin mengatakan apa yang kupikirkan dalam hatiku atau tidak, orang lain tidak berhak ikut campur. Jika itu bukan sesuatu yang ingin kuberitahukan kepada orang lain, jangan pernah bermimpi untuk mengetahuinya!" Bukankah ini berarti muak akan kebenaran dan membenci kebenaran? (Ya.) Orang-orang yang adalah para setan tidak menerima kebenaran dan tidak menerapkannya. Selain memusuhi dan menyerang kebenaran, mereka melangkah lebih jauh dan menggunakan berbagai racun Iblis dan sudut pandang serta tindakan dari Iblis untuk menggantikan kebenaran. Misalnya, mereka menggunakan siasat, kebohongan, berbagai cara, atau menggunakan kedok menanggung kesukaran dan membayar harga untuk menyesatkan orang lain, sebagai syarat untuk mendapatkan berkat dan tawar-menawar dengan Tuhan. Menurut mereka, dalam kepercayaan kepada Tuhan, orang tidak perlu menjadi orang yang jujur, tidak perlu setia pada tugas, dan tidak perlu menerima serta menerapkan kebenaran; selama orang menanggung lebih banyak kesukaran, membayar harga yang lebih besar, melakukan lebih banyak pekerjaan, melakukan lebih banyak tindakan yang baik dan mengumpulkan lebih banyak kebaikan, melakukan lebih banyak hal yang mendapatkan persetujuan dan penghargaan dari orang lain, dan melalui cara-cara ini mendapatkan kepercayaan dari saudara-saudari, serta peninggian dan dukungan mereka, maka mereka dapat mencapai tujuan menukarkan semua ini dengan berkat kerajaan surga. Bukankah sudut pandang ini sangat konyol? (Ya.)
Entah itu menghakimi dan mengutuk kebenaran, memusuhi dan menyerang kebenaran, atau selalu ingin menggunakan ajaran sesat dan kekeliruan Iblis untuk menggantikan kebenaran, semua ini adalah perwujudan spesifik dari bagaimana para setan memperlakukan kebenaran. Apa pun perwujudannya, semua itu sepenuhnya menyingkapkan esensi jahat para setan. Memusuhi kebenaran, menyerang kebenaran, dan berusaha menggantikan kebenaran—semua ini adalah tindakan yang hanya dapat dilakukan oleh para setan. Hanya setan yang memperlakukan kebenaran dan Tuhan dengan kebencian, penghakiman, dan kutukan seperti itu, dan mampu melakukan segala cara untuk menyesatkan, menipu, dan membujuk orang agar menjauh dari kebenaran dan menjauh dari Tuhan. Hanya setan yang akan memikirkan segala cara untuk secara curang memenangkan kepercayaan, dukungan, dan pujian manusia, untuk mencapai tujuan mereka membeli hati manusia dan mengendalikannya, dalam upaya untuk menggantikan tempat Tuhan di hati mereka. Singkatnya, fakta bahwa setan mengambil sikap seperti itu terhadap kebenaran dan terhadap mereka yang mengejar kebenaran menyingkapkan bahwa esensi mereka adalah jahat. Hal-hal yang positif dan kebenaran adalah hal yang didambakan dan dicintai oleh semua manusia ciptaan, dan semua itu juga layak dihargai oleh manusia. Tentu saja, semua itu juga merupakan hal yang paling dibutuhkan oleh manusia ciptaan. Hal ini karena kebenaran merupakan hal yang esensial bagi umat manusia untuk terbebas dari pengaruh Iblis, menempuh jalan yang benar, dan mampu takut akan Tuhan serta menjauhi kejahatan. Bagi orang normal untuk memperoleh keselamatan, mengejar kebenaran, menerima kebenaran, dan menerapkan kebenaran adalah proses yang diperlukan; tidak ada cara lain. Sekalipun sulit bagi mereka untuk menerima dan menerapkan kebenaran karena mereka memiliki watak yang rusak, dari perspektif batin mereka dan kehendak subjektifnya, mereka tidak memusuhi kebenaran; sikap subjektif mereka bukanlah sikap yang akan memusuhi kebenaran, juga bukan sikap yang dengan sengaja menyerang kebenaran atau mengusahakan segala cara untuk menggunakan ajaran sesat dan kekeliruan apa pun untuk menggantikan kebenaran. Hanya Iblislah yang dapat melakukan hal ini; esensinya yang memusuhi kebenaran sama dengan esensi si naga merah yang sangat besar. Apa pun yang merupakan hal positif, apa pun yang berkaitan dengan kebenaran, Iblis menyangkal, mengutuk, dan menolaknya. Sekalipun kebenaran ini tidak mengancam dirinya, dia tetap memusuhi dan membencinya; ini ditentukan oleh natur dirinya. Karena para setan memiliki natur jahat, bagi mereka, kebenaran adalah musuh mereka. Apa arti kata "musuh"? Musuh berarti tidak pernah bisa selaras, tidak pernah bisa menjadi teman, tidak pernah bisa menjadi teman yang sepemikiran. Ini seperti si naga merah yang sangat besar. Mereka memperlakukan orang-orang yang percaya kepada Tuhan dengan kebencian dan permusuhan yang khusus. Asalkan engkau tidak lagi percaya kepada Tuhan dan menghina Tuhan, engkau boleh melakukan kejahatan apa pun di tengah masyarakat—mereka tidak peduli jika engkau mencuri, merampok, atau melakukan percabulan; engkau boleh berkolusi dengan mereka dan melakukan hal buruk apa pun. Namun, jika engkau percaya kepada Tuhan dan menempuh jalan yang benar, mereka tidak akan mengizinkannya; mereka akan menangkapmu, menganiayamu, dan bahkan menghukum mati dirimu. Mereka sama sekali tidak akan membiarkanmu hidup. Selama engkau ada, engkau adalah duri dalam daging mereka; setiap hari engkau ada, di dalam hatinya, mereka merasa tertekan dan gelisah. Hanya setelah mereka menghancurkanmu, ketika engkau tidak ada lagi, barulah mereka merasa menang, tenang, dan damai. Sikap mereka yang adalah para setan terhadap kebenaran sama naturnya dengan kebencian si naga merah yang sangat besar terhadap kebenaran. Jika engkau mengejar kebenaran, menerapkan kebenaran, melakukan segala sesuatu berdasarkan prinsip, memiliki pendirian, dan menjunjung tinggi prinsip, mereka akan menganggapmu tidak menyenangkan dan membencimu. Jika mereka menjadi pemimpin dan memperoleh kekuasaan, mereka akan memikirkan segala cara demi menemukan celah untuk menyiksamu, dan bahkan menjebakmu atas suatu pelanggaran untuk mengeluarkanmu. Ketika semua orang yang mengejar kebenaran dikucilkan oleh orang-orang itu, dan mereka yang tersisa di gereja semuanya adalah orang-orang yang bingung dan yang tidak sedikit pun memahami kebenaran, orang-orang itu merasa aman, tidak ada yang mengancam mereka, dan merasa hari-hari mereka menjadi mudah. Oleh karena itu, mereka yang adalah para setan tidak hanya memusuhi kebenaran, tetapi juga memusuhi orang-orang yang mencintai dan mengejar kebenaran. Bukankah ini memperlihatkan bahwa mereka memiliki natur yang jahat? (Ya.) Ada orang-orang yang setelah dikutuk, dikucilkan, dan disiksa oleh para setan, berkata, "Aku tidak menyinggung mereka, tetapi mengapa mereka menganggapku tidak menyenangkan?" Bukankah ini perkataan yang bingung? Bukankah ini berarti gagal mengetahui yang sebenarnya tentang sesuatu dan tidak mampu membedakan orang? Apakah si naga merah yang sangat besar menangkap dan menganiaya orang Kristen karena orang Kristen melanggar hukum dan melakukan kejahatan? Atau karena orang Kristen berpartisipasi dalam kegiatan politik untuk menumbangkan serta merebut kekuasaan politik mereka? (Tidak keduanya.) Lalu, mengapa mereka melakukannya? Kita tidak berpartisipasi dalam politik, juga tidak menentang atau menyingkapkan mereka, apalagi terlibat dalam aktivitas politik untuk merebut kekuasaan mereka. Lalu, mengapa mereka menindas dan menangkap orang-orang di antara kita yang percaya kepada Tuhan dengan cara seperti ini? Hanya karena engkau mengikuti Tuhan, menerima kebenaran, dan menghormati Tuhan karena kebesaran-Nya serta menyembah-Nya maka mereka membencimu. Mereka yakin bahwa engkau telah mengkhianati mereka; engkau tidak mengikuti, menyembah, dan tunduk kepada mereka, jadi mereka membencimu. Oleh karena itu, mereka ingin menindas dan menyingkirkanmu, untuk mencapai tujuan melenyapkanmu. Hanya karena mereka adalah setan yang jahat, dan mereka memiliki esensi natur yang memusuhi kebenaran, jika engkau mengikuti Tuhan, mereka akan memusuhimu, mereka akan membencimu, dan akan mencoba segala cara untuk menyiksamu, menyingkirkanmu, dan merenggutmu dari sisi Tuhan. Inilah tujuan mereka. Jika engkau berhenti mengikuti Tuhan, mereka tidak akan begitu memusuhimu. Tentu saja, mereka akan tetap berusaha menghancurkan, merusak, mempermainkan, dan mengendalikan dirimu. Jika engkau dapat menyembah dan mengikutinya, mereka akan senang dan tidak akan menyiksamu, tetapi pada akhirnya, engkau hanya dapat dikubur bersama mereka. Tak ada seorang pun yang menyembah Iblis akan memiliki akhir yang baik!
Natur Iblis dalam menentang Tuhan tidak akan pernah berubah. Mengapa orang-orang milik Iblis yang adalah para antikristus begitu memusuhi kebenaran dan Tuhan? Katakan kepada-Ku, betapa jahatnya esensi natur mereka! Mereka tidak menerima kebenaran, pekerjaan Tuhan, hal positif apa pun, ataupun perkataan serta penerapan yang benar, tanpa terkecuali. Di dalam hatinya, mereka bukan hanya merasa jijik dan menolak untuk menerimanya, melainkan juga secara aktif melakukan kejahatan untuk menentang Tuhan, dan menyebarkan berbagai rumor yang tidak berdasar dan kekeliruan untuk mengutuk kebenaran serta hal-hal yang positif. Orang-orang jahat seperti ini juga ingin memperoleh berkat dengan percaya kepada Tuhan; mereka menyusup ke dalam rumah Tuhan, tetapi karena mereka tidak sedikit pun menerima kebenaran, mereka disingkapkan dan disingkirkan. Sebagai contoh, menerima pemangkasan adalah hal yang positif. Ketika orang normal melakukan kesalahan dan dipangkas, mereka akan merenungkan diri mereka sendiri. Jika kesalahan mereka disebabkan karena niat yang salah atau watak yang rusak, mereka akan mencari kebenaran untuk menyelesaikannya. Jika kesalahan mereka terjadi karena kualitas mereka yang buruk dan mereka tidak melihat segala sesuatunya dengan jelas, mereka juga akan secara proaktif mencari jalan untuk menyelesaikannya, menemukan orang-orang berkualitas baik yang memahami kebenaran untuk membantu dan membimbing mereka. Singkatnya, di bawah bimbingan dan aturan hati nurani dan nalar yang mereka miliki, mereka akan menyikapi pemangkasan dengan benar. Namun, bagaimana mereka yang adalah para setan menyikapi pemangkasan? Setan itu sendiri memusuhi kebenaran, tetapi dengan natur mereka yang jahat itu, mereka sama sekali tidak akan berhenti dengan sekadar memusuhi; mereka juga akan mengutuk, menentang, dan menghujat kebenaran. Jadi, ketika mereka dipangkas, mereka dengan gigih berusaha untuk membantah dan membela diri. Mereka tidak hanya menyangkal kebenaran, tetapi juga menyerang dan mengutuk orang-orang yang memangkas mereka, bahkan menyebarkan perkataan seperti: "Percaya kepada tuhan itu terlalu sulit! Orang-orang berkualitas buruk di antara kita yang tidak memahami kebenaran hanya akan diusir pada akhirnya. Tidak mudah berusaha hidup dengan bergantung pada rumah tuhan! Orang-orang yang berkualitas buruk tidak punya masa depan; kita tidak bisa berbuat apa-apa selain disiksa oleh orang lain. Bagaimanapun orang lain mempermainkan kita, kita harus menanggungnya. Siapa yang bisa kita salahkan selain kualitas buruk kita sendiri? Jika kualitasmu buruk, kau lebih rendah daripada orang lain!" Mereka bukan saja tidak menerima pemangkasan atau tidak merenungkan dan mengenal diri mereka sendiri, melainkan juga tidak mencari prinsip-prinsip penerapan atau jalan penerapan untuk menyelesaikan masalah ini. Jika kualitas mereka memang buruk, lalu di atas landasan kondisi bawaan mereka tersebut, bagaimana mereka dapat berusaha sebaik mungkin untuk melaksanakan tugas mereka dengan baik dan mempersembahkan kesetiaan mereka? Akankah mereka berpikir seperti ini? Mereka memusuhi kebenaran, jadi mereka sama sekali tidak akan berpikir seperti ini. Terlebih lagi, mereka akan makin menjadi-jadi dalam menghakimi dan memfitnah, bahkan di dalam hatinya, mereka diam-diam mengutuk orang-orang yang memangkas mereka: "Huh! Kau telah membuatku merasa tidak nyaman hari ini. Suatu hari nanti akan kuperlihatkan kepadamu diriku yang sesungguhnya! Menurutmu kualitasku buruk? Aku sudah percaya kepada tuhan selama bertahun-tahun, sedangkan kau baru percaya selama beberapa tahun! Kau menganggapku tidak menyenangkan? Suatu hari nanti aku akan membuatmu menanggung akibatnya, membuatmu mati dengan mengerikan!" Engkau lihat, ketika mereka dipangkas, meskipun mereka tidak mengatakan apa pun dan bahkan tersenyum, hati mereka dipenuhi dengan dendam, kebencian, dan kutukan. Ada orang-orang yang memperlihatkan keengganan mereka untuk menerima pemangkasan, sesekali mengucapkan perkataan yang mengeluh, menyerang, atau menghakimi. Mereka tidak hanya memusuhi pemangkasan, tetapi juga berinisiatif untuk menyerang orang-orang yang memangkas mereka, menolak untuk melepaskan siapa pun yang memangkas mereka. Ada wanita yang mungkin bertubuh mungil dan di luarnya terlihat rapuh, tetapi ketika seseorang benar-benar memangkasnya, mereka marah besar: "Aku telah begitu banyak menderita karena percaya kepada tuhan selama bertahun-tahun—memangnya itu mudah? Kau merasa aku tidak menyenangkan, aku sudah memberitakan Injil bahkan sebelum kau lahir! Apa kau sedang mencoba menindasku hanya karena aku lebih tua? Kuberitahukan kepadamu, itu tidak akan terjadi! Coba tanyakan kepada orang-orang—kepada siapa aku pernah mengalah di sepanjang hidupku?" Dapatkah orang dengan watak semacam ini menerima kebenaran? Tentu saja tidak. Mereka bukan saja tidak menerima diri mereka dipangkas, melainkan mereka juga mengutuk orang-orang yang memangkas mereka. Bukankah mereka terlalu berniat jahat? Orang-orang yang adalah para setan dan Iblis itu licik, licin, berbahaya, dan penuh tipu daya. Karena sikap mereka terhadap kebenaran adalah sikap yang memusuhi dan menyerang, ketika perbuatan jahat mereka tersingkap dan mereka terancam dikeluarkan atau diusir tanpa ada harapan untuk memperoleh berkat, mereka sama sekali tidak akan berperilaku baik atau patuh, tetapi akan menggunakan berbagai cara untuk menentang. Ada yang mengarang kebohongan, berkata bahwa para pemimpin dan pekerja sedang menyiksa mereka, menghasut orang lain untuk membela mereka, dengan sengaja mengganggu pekerjaan gereja. Ada yang berpura-pura tunduk, dengan berkata, "Dengan cara apa pun rumah tuhan memperlakukanku, sekalipun aku dikirim ke kelompok B atau dikeluarkan, aku akan tetap melaksanakan tugasku. Aku setia kepada tuhan, dan aku tidak akan pernah menyangkal jalan ini ataupun melepaskan tugasku." Mereka berpura-pura untuk menipu orang, seolah-olah mereka telah bertobat, seolah-olah mereka mampu menerima dan tunduk pada apa pun perlakuan rumah Tuhan terhadap mereka dan tidak akan melepaskan tugas mereka. Sebenarnya, mereka sedang menipu dan mempermainkanmu. Mereka berpikir: "Huh! Mau memanfaatkanku untuk melakukan pelayanan? Mustahil! Ketika aku mengungkapkan tekadku kepadamu dan berkata bahwa aku bersedia melaksanakan tugasku, itu hanya formalitas, aku hanya mengelabui kalian!" Di luarnya, mereka terlihat sangat penurut dan patuh, membuat orang mengira mereka bersedia melaksanakan tugas. Namun, ketika engkau benar-benar mengatur agar mereka melaksanakan tugas, mereka bersikap asal-asalan, menggunakan tipu daya dan menipumu, bahkan tiba-tiba menghilang darimu. Mungkin sudah lebih dari sepuluh hari sejak mereka diberi tugas, dan tidak akan ada kemajuan sama sekali. Ada orang-orang yang tidak mengerti dan tidak memiliki kemampuan untuk membedakan, akan merasa bingung, berpikir: "Mereka cukup bersungguh-sungguh ketika setuju untuk melaksanakannya, berkata bahwa mereka bersedia melaksanakan tugas mereka. Sepertinya mereka tidak berbohong. Bagaimana bisa mereka sekarang menghilang?" Biar Kuberitahu yang sebenarnya: Mereka benar-benar penipu ulung, mereka adalah para setan. Bagaimana anggapan mereka, para setan itu, terhadap pelaksanaan tugas? Mereka menganggap hal itu berarti rumah Tuhan sedang memanfaatkan mereka untuk melakukan pelayanan, yang berarti mempermainkan mereka. Inilah mentalitas mereka yang adalah para setan terhadap pelaksanaan tugas. Hal apa dalam dirimu yang layak untuk dimanfaatkan? Paling maksimal, engkau hanya mengerti sedikit tentang profesi tertentu. Jika rumah Tuhan membutuhkan pekerjaan di bidang ini, paling-paling itu berarti engkau cocok untuk melaksanakan tugas ini. Menggunakan hal melaksanakan tugas untuk mengukurmu dan menuntutmu adalah suatu peninggian terhadapmu. Jika engkau menolak dan tidak menerima, berarti engkau gagal menghargai kebaikan. Betapa tidak bisa diajak bernalar mereka yang adalah para setan itu. Mereka meminta untuk diberi tugas, dan ketika gereja mengatur pekerjaan untuknya, mereka berasumsi bahwa rumah Tuhan ingin memanfaatkan mereka. Jika engkau benar-benar memiliki nilai tertentu untuk dimanfaatkan di gereja, apakah ini keberuntungan atau kemalangan bagimu? (Keberuntungan.) Apakah ini kemalangan atau berkat bagimu? (Berkat.) Mengapa kaukatakan itu berkat? (Mampu melakukan pelayanan bagi Tuhan adalah peninggian dari Tuhan, jadi itu adalah berkat.) Engkau harus memahami hal ini: Melakukan pelayanan bagi Tuhan adalah peninggian dari Tuhan. Apa arti peninggian? Itu berarti engkau memiliki sedikit kelebihan profesional yang dapat dipakai dalam pekerjaan rumah Tuhan, yang merupakan kesempatan yang Tuhan berikan kepadamu, bahwa Tuhan telah memberimu kesempatan untuk melakukan pelayanan bagi-Nya, kesempatan untuk memperoleh keselamatan, dan bahwa ini merupakan syarat dasar bagimu untuk diberkati. Hanya ketika engkau memiliki syarat dasar ini, barulah engkau dapat memiliki kesempatan untuk menerima kebenaran dan menerapkan kebenaran selangkah demi selangkah, serta memperoleh keselamatan. Jika engkau sama sekali tidak memiliki kelebihan apa pun, di rumah Tuhan engkau adalah orang yang tidak berguna. Apakah rumah Tuhan akan tetap menyediakan kebutuhanmu secara cuma-cuma? Jika tidak ada tugas untuk kaulaksanakan di rumah Tuhan, berarti engkau tidak memiliki sarana dan syarat dasar yang semestinya dan masuk akal untuk mempertahankan hubungan yang normal dengan Tuhan. Jika engkau tidak dapat dipakai dalam pekerjaan spesifik apa pun di rumah Tuhan, itu berarti engkau belum membangun hubungan apa pun dengan Tuhan, sehingga tidak ada kesempatan bagimu untuk datang ke hadapan Tuhan, tidak ada kesempatan untuk menerima langkah apa pun atau periode apa pun dari pekerjaan yang Tuhan lakukan untuk menyelamatkan umat manusia. Lalu, apakah engkau masih memiliki kesempatan dan syarat untuk memperoleh keselamatan? Oleh karena itu, jika dikatakan bahwa engkau memiliki nilai untuk dimanfaatkan, ini mungkin terdengar tidak nyaman di dunia orang tidak percaya, dan mungkin "dimanfaatkan" adalah istilah negatif di sana—tetapi di rumah Tuhan, engkau harus melihat siapa yang sedang memanfaatkan dirimu. Bagaimana seharusnya menafsirkan kata "memanfaatkan" ini? Jika Tuhan memanfaatkan dirimu, itu membuktikan bahwa engkau masih memiliki nilai dan masih dapat melakukan pelayanan bagi Tuhan. Ketika engkau melakukan pelayanan bagi Tuhan, bukankah ini berarti Tuhan sedang meninggikan dirimu? (Ya.) Ini berarti Tuhan sedang memberimu kesempatan, Tuhan sedang meninggikan dirimu. Ini adalah hal yang baik; ini membuktikan bahwa Tuhan menghargaimu dan masih bersedia memberimu kesempatan. Jadi, apakah dimanfaatkan oleh Tuhan adalah hal yang memalukan? Apakah itu adalah kerugian? Apakah engkau menderita kerugian karena dimanfaatkan? Apakah itu membuatmu kehilangan harga diri atau martabat? Tidak, engkau memperoleh jauh lebih banyak. Itu memberimu kesempatan untuk datang ke hadapan Tuhan untuk menerima kebenaran dan keselamatan dari Tuhan. Engkau sama sekali tidak menderita kerugian; engkau memperoleh keuntungan yang besar. Namun, mereka yang bereinkarnasi dari setan tidak melihatnya dengan cara seperti itu. Mereka memiliki natur yang jahat. Seperti apa pun Iblis memanfaatkan dan merusak dirinya, mereka tidak keberatan; mereka cukup puas dengan hal itu. Jika pejabat pemerintah memanfaatkannya, mereka menganggapnya sebagai keberuntungan, tanda kemakmuran. Mereka tidak membedakannya, tidak menentang, melawan, atau menolaknya. Sedangkan di gereja, jika mereka dipromosikan untuk melaksanakan suatu tugas, mereka merasa bahwa itu adalah melakukan pelayanan, bahwa mereka mengkhianati diri mereka sendiri, dan bahwa gereja sedang memanfaatkan mereka. Contohnya, ada seorang wanita tertentu yang memahami sedikit tentang keterampilan profesional tertentu, sehingga gereja mengatur agar dia melakukan pekerjaan di bidang ini. Dia bukan saja tidak menerima bahwa hal itu adalah dari Tuhan, melainkan di dalam hatinya, dia juga merasa sangat jijik: "Mencoba memanfaatkanku? Jangan harap! Aku tidak sebodoh itu! Aku telah hidup selama ini dan tidak pernah dimanfaatkan oleh siapa pun. Orang yang dapat memanfaatkanku bahkan belum lahir!" Engkau tidak perlu sedemikian jengkelnya. Jika engkau bersedia melaksanakan tugasmu, terimalah bahwa itu adalah dari Tuhan dan laksanakanlah tugasmu dengan baik. Jika engkau tidak bersedia melaksanakan tugasmu, tinggalkan rumah Tuhan. Pintu gerbang rumah Tuhan terbuka; engkau boleh meninggalkannya kapan saja dan pergi ke mana pun yang kauinginkan. Tuhan menganugerahkan kebenaran kepada orang-orang dengan cuma-cuma. Anugerah kebenaran dari Tuhan dan pembekalan kehidupan dari-Nya bagi manusia semuanya gratis. Pernahkah Dia meminta sepeser pun darimu? (Tidak.) Engkau melaksanakan sedikit tugas, tetapi merasa bahwa itu berarti dimanfaatkan oleh Tuhan. Bukankah ini berarti tidak memiliki hati nurani, gagal menghargai kebaikan? Memangnya kenapa jika Tuhan memanfaatkanmu? Apakah itu salah? Nyawamu sendiri diberikan oleh Tuhan. Bukankah Tuhan layak memanfaatkan dirimu? Apakah Dia tidak memenuhi syarat? Bolehkah engkau bersikap tinggi hati hanya karena engkau sedikit memahami suatu profesi? Apakah Tuhan harus bersikap merendahkan diri, memohon kepadamu dengan penuh hormat, menjanjikan sesuatu kepadamu, menjunjung tinggi dirimu, dan menempatkanmu di atas takhta—apakah itu akan membuatmu bahagia? Orang-orang tanpa kemanusiaan yang normal tidak dapat memahami dengan benar tentang hal melaksanakan tugas. Mereka selalu berkata, "Rumah tuhan sedang memanfaatkanku. Aku tidak sebodoh itu; hanya orang bodohlah yang bersedia dimanfaatkan oleh tuhan!" Engkau lihat, pemikiran ini menyimpang sekaligus jahat, dan sama sekali tidak masuk akal! Bagaimana seharusnya memperlakukan orang-orang semacam itu? Itu mudah: Entah itu mengeluarkan mereka atau menempatkan mereka di kelompok B, keluarkan saja mereka. Jika engkau begitu takut dimanfaatkan, mengapa engkau masih berpegang teguh pada rumah Tuhan dan berkata ingin melaksanakan tugas? Bukankah ini berarti munafik dan menipu orang? Jika engkau takut dimanfaatkan, rumah Tuhan tidak akan pernah memakaimu untuk melaksanakan tugas; rumah Tuhan tidak memaksa orang untuk melakukan sesuatu. Sekaranglah waktunya ketika masing-masing dipilah menurut jenisnya. Siapa pun yang bersedia melaksanakan tugasnya akan tetap tinggal; siapa pun yang tidak mau melaksanakan tugasnya harus segera meninggalkan gereja dan jangan pernah kembali. Rumah Tuhan tidak memaksa siapa pun. Hanya mereka yang dengan sukarela melaksanakan tugasnya yang adalah umat pilihan Tuhan. Semua orang yang tidak bersedia melaksanakan tugasnya adalah hamba Iblis, yang ada di sini untuk mengganggu pekerjaan gereja. Ada orang-orang yang ingin mendapatkan berkat dengan melaksanakan tugas mereka, tetapi pada saat yang sama, takut dimanfaatkan. Apakah orang-orang ini memiliki hati nurani dan nalar? (Tidak.) Mereka selalu takut menderita kerugian, selalu merasa bahwa rumah Tuhan sedang memanfaatkan mereka, bahwa mereka menderita kerugian besar. Bukankah ini berarti gagal mengenali apa yang baik bagi diri mereka? Kerugian apa yang telah kauderita? Jika engkau berusaha menukar keterampilan teknismu dengan kebenaran dan keselamatan, Kukatakan kepadamu engkau tidak dapat melakukan pertukaran itu; engkau tidak layak, engkau tidak memenuhi syarat. Firman Tuhan adalah hidup; firman Tuhan adalah senjata yang paling berkuasa bagi umat manusia untuk membuang watak yang rusak dan melepaskan diri dari pengaruh Iblis. Hanya firman Tuhan, hanya kebenaran, yang dapat membasmi manusia lama yang memiliki esensi natur Iblis. Hanya hidup Tuhan, hanya kebenaran, yang dapat memungkinkan umat manusia ini untuk terus bertahan hidup dan mengakhiri takdir Iblis. Hidup Tuhan dan kebenaran adalah harta yang tak ternilai; tak ada satu pun benda di dunia ini, dan tak satu pun hal yang dianggap berharga oleh manusia, yang dapat ditukar dengannya. Sekalipun orang memberikan nyawa mereka, itu tidak dapat ditukarkan dengannya, apalagi keterampilan teknis mereka yang sangat kecil itu. Kebenaran tidak untuk dijual; rumah Tuhan tidak menjual kebenaran, juga tidak menjual hidup. Lalu, apa yang dapat orang lakukan untuk memperoleh hidup? Hanya dengan menerima kebenaran, tunduk pada kebenaran, mempersembahkan kesetiaan dan ketulusan mereka kepada Tuhan, serta melaksanakan tugas makhluk ciptaan dengan baik, barulah mereka dapat memperoleh hidup.