Firman Tuhan Harian - "Pekerjaan Tuhan, Watak Tuhan, dan Tuhan itu Sendiri II" - Kutipan 39

18 Juni 2021

Watak Tuhan Tidak Pernah Tersembunyi dari Manusia—Hati Manusia telah Menyimpang dari Tuhan

Sejak waktu penciptaan, watak Tuhan telah sejalan dengan pekerjaan-Nya. Watak Tuhan tidak pernah tersembunyi dari manusia, melainkan sepenuhnya dibukakan dan dibuat menjadi jelas bagi manusia. Namun, dengan berlalunya waktu, hati manusia telah menjadi semakin jauh dari Tuhan, dan karena kerusakan manusia telah menjadi semakin dalam, manusia dan Tuhan telah menjadi semakin jauh terpisah. Perlahan tapi pasti, manusia telah menghilang dari mata Tuhan. Manusia menjadi tidak mampu "melihat" Tuhan, yang telah meninggalkannya tanpa "kabar berita" tentang Tuhan. Dengan demikian, manusia tidak tahu apakah Tuhan itu ada, bahkan melangkah sangat jauh hingga sepenuhnya menyangkal keberadaan Tuhan. Akibatnya, ketidakpahaman manusia akan watak Tuhan, akan apa yang dimiliki-Nya dan siapa diri-Nya bukanlah karena Tuhan tersembunyi dari manusia, melainkan karena hati manusia telah berpaling dari Tuhan. Meskipun manusia percaya kepada Tuhan, tidak ada Tuhan di hatinya, dan dia tidak tahu bagaimana mengasihi Tuhan, dia juga tidak ingin mengasihi Tuhan, karena hatinya tidak pernah mendekat kepada Tuhan dan dia selalu menghindari Tuhan. Sebagai akibatnya, hati manusia jauh dari Tuhan. Jadi, di manakah hatinya berada? Sebenarnya, hati manusia tidak pergi ke mana-mana: Alih-alih memberikan hatinya kepada Tuhan atau mengungkapkan hatinya kepada Tuhan untuk dilihat-Nya, dia menyimpannya bagi dirinya sendiri. Terlepas dari fakta bahwa sebagian orang sering berdoa kepada Tuhan dan berkata: "Oh Tuhan, lihatlah hatiku—Engkau tahu semua yang aku pikirkan," dan sebagian orang bahkan bersumpah membiarkan Tuhan melihat diri mereka, bahwa mereka boleh dihukum jika melanggar sumpah. Meskipun manusia mengizinkan Tuhan melihat ke kedalaman hatinya, bukan berarti dia mampu untuk menaati rancangan dan pengaturan Tuhan, juga bukan berarti dia telah menyerahkan nasib, prospek hidup, dan segalanya di bawah kendali Tuhan. Jadi, terlepas dari sumpahmu kepada Tuhan atau apa yang engkau nyatakan kepada-Nya, di mata Tuhan, hatimu masih tertutup bagi-Nya, karena engkau hanya mengizinkan Tuhan untuk melihat hatimu tetapi tidak mengizinkan Dia mengendalikannya. Dengan kata lain, engkau belum memberikan hatimu kepada Tuhan sama sekali, dan hanya mengucapkan kata-kata indah untuk Tuhan dengarkan. Sementara itu, berbagai tipu muslihatmu, engkau sembunyikan dari Tuhan, bersama dengan intrik, niat jahat dan rencanamu, dan engkau mencengkeram prospek dan nasib hidupmu di dalam tanganmu, sangat takut semua itu diambil oleh Tuhan. Dengan demikian, Tuhan tidak pernah melihat ketulusan hati manusia terhadap-Nya. Meskipun Tuhan memang mengamati kedalaman hati manusia, dan dapat melihat apa yang manusia pikirkan dan apa yang ingin Dia lakukan di hatinya, dan dapat melihat hal-hal apa yang tersimpan di dalam hatinya, hati manusia bukanlah milik Tuhan. Manusia belum memberikan hatinya untuk dikendalikan oleh Tuhan. Artinya, Tuhan punya hak untuk mengamati tetapi tidak punya hak untuk mengendalikan. Dalam kesadaran subjektifnya, manusia tidak ingin atau tidak berniat untuk menyerahkan dirinya pada kuasa Tuhan. Manusia bukan hanya telah menutup dirinya sendiri dari Tuhan, tetapi ada orang-orang yang bahkan memikirkan cara untuk membungkus rapat hati mereka, dengan menggunakan perkataan yang lembut dan sanjungan demi menciptakan kesan yang salah dan mendapatkan kepercayaan Tuhan, dan menyembunyikan wajah asli mereka dari pandangan Tuhan. Tujuan mereka tidak membiarkan Tuhan melihat adalah tidak mengizinkan Tuhan mengetahui bagaimana diri mereka yang sebenarnya. Mereka tidak ingin memberikan hati mereka kepada Tuhan, tetapi menyimpannya untuk diri mereka sendiri. Maksud tersirat dari hal ini adalah bahwa apa yang manusia lakukan dan inginkan semuanya direncanakan, diperhitungkan dan diputuskan oleh manusia itu sendiri. Dia tidak membutuhkan partisipasi atau campur tangan Tuhan, apalagi rancangan dan pengaturan Tuhan. Jadi, baik dalam hal perintah Tuhan, amanat-Nya, ataupun persyaratan yang Tuhan tuntut dari manusia, keputusan manusia adalah berdasarkan pada niat dan kepentingannya sendiri, pada kondisi dan keadaannya sendiri pada saat itu. Manusia selalu menggunakan pengetahuan dan wawasan yang terasa akrab dengannya, serta kecerdasannya sendiri untuk menilai dan memilih jalan yang harus ditempuhnya, dan tidak membiarkan adanya kendali dan campur tangan Tuhan. Inilah hati manusia yang Tuhan lihat.

Dari awal sampai sekarang, hanya manusia yang mampu untuk bercakap-cakap dengan Tuhan. Artinya, di antara semua makhluk hidup dan makhluk ciptaan Tuhan, tidak satu pun kecuali manusia yang mampu bercakap-cakap dengan Tuhan. Manusia memiliki telinga yang memampukannya untuk mendengar dan mata yang memampukannya untuk melihat. Dia memiliki bahasa dan gagasannya sendiri serta kehendak bebas. Dia memiliki semua yang dibutuhkan untuk mendengarkan Tuhan berbicara, untuk memahami kehendak Tuhan, dan menerima amanat Tuhan, dan karena itu, Tuhan pun menyampaikan semua keinginan-Nya kepada manusia, ingin menjadikan manusia rekan yang sepikiran dengan-Nya dan yang dapat berjalan bersama dengan-Nya. Sejak Dia mulai mengelola, Tuhan telah menunggu manusia untuk memberikan hatinya kepada-Nya, agar Tuhan memurnikan dan memperlengkapinya, membuatnya memuaskan hati Tuhan dan dikasihi oleh Tuhan untuk membuatnya menghormati Tuhan serta menjauhi kejahatan. Tuhan selalu menantikan dan menunggu hasil ini.

Dikutip dari "Pekerjaan Tuhan, Watak Tuhan, dan Tuhan itu Sendiri II"

Lihat lebih banyak

Pada tahun 2021 bencana semakin parah, apakah Anda ingin menemukan cara untuk dilindungi oleh Tuhan dan memasuki bahtera akhir zaman? Silakan hubungi kami sekarang.

Bagikan

Batalkan