Setelah Dirusak oleh Iblis, Aku Jauh Lebih Menyadari Betapa Berharganya Kasih Karunia Tuhan

18 Oktober 2019

Oleh Saudara Xu Qiang, Daerah Otonomi Mongolia Pedalaman

Namaku Xu Qiang. Aku dahulu bekerja sebagai kontraktor teknik, memimpin sekelompok besar orang di banyak proyek teknik setiap tahun, dan penghasilanku cukup besar. Di mata para rekan sekerjaku, aku memiliki keluarga yang sempurna, karier yang lancar, dan prospek yang tak terbatas; mereka pasti menganggapku orang paling beruntung. Namun, pada saat yang sama aku menikmati gaya hidup materialistis, selalu ada perasaan kosong dalam hatiku yang tak dapat kujelaskan. Ini terutama terjadi dalam upayaku yang terus-menerus untuk mendapatkan proyek: aku harus "menjilat" para pemimpin departemen terkait, berusaha membaca pikiran mereka melalui bahasa tubuh mereka dan selalu perlu membungkuk-bungkuk dan memberi sanjungan dalam takaran yang tepat untuk mendapatkan apa kuinginkan; kalau tidak, aku tidak akan menghasilkan uang sepeser pun. Selain itu, aku harus berurusan dengan tipu daya di antara para rekanku, sikap waspada yang selalu mereka tunjukkan terhadap satu sama lain, dan semua perhitungan mereka. Semua ini membuatku semakin pusing…. Karena alasan ini, aku merasa sangat kehilangan semangat dan sangat lelah; tampaknya aku telah berubah menjadi boneka, mesin penghasil uang, dan aku telah sama sekali kehilangan seluruh martabat dan integritasku. Ini terus berlangsung hingga tahun 1999, ketika aku menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman. Aku sangat terjamah oleh pembebasan yang dibawa oleh kehidupan bergereja dan kesederhanaan serta kejujuran saudara-saudariku. Aku sangat ingin menjalani kehidupan bergereja ini, bersekutu dengan saudara-saudariku tentang firman Tuhan dan bercakap-cakap satu sama lain tentang pengalaman pribadi dan pengetahuan kami akan firman Tuhan. Aku juga sangat menghargai saat-saat seperti ini. Ketika aku terus membaca perkataan Tuhan dan mengambil bagian di dalam ibadah, aku mulai memahami banyak kebenaran, dan jiwaku menemukan kelepasan yang luar biasa. Aku terutama senang bahwa akhirnya aku menemukan cara hidup yang benar, dan telah menemukan kebahagiaan sejati. Hatiku dipenuhi rasa syukur kepada Tuhan: jika bukan karena Tuhan telah menyelamatkanku dari lautan penderitaan dunia, aku tidak akan pernah memiliki apa pun untuk dinanti-nantikan dalam kehidupan. Kemudian, aku mulai secara aktif menyebarkan Injil, dengan sukacita dan tanpa lelah terlibat bersama mereka menyelidiki jalan yang benar dan juga memampukan mereka untuk mendengar suara Tuhan dan mendapatkan keselamatan Tuhan Yang Mahakuasa.

Namun, di negara ateis Tiongkok, warga negara sama sekali tidak memiliki hak berdemokrasi atau hak asasi manusia, dan orang-orang yang percaya kepada Tuhan dan menyembah Tuhan sangat rentan untuk menghadapi kekerasan dan penganiayaan pemerintah Partai Komunis Tiongkok (PKT). Karena kepercayaanku kepada Tuhan, aku juga ditangkap oleh pemerintah PKT dan menjadi sasaran penyiksaan kejam dan tak berperikemanusiaan, dan aku menghabiskan hampir dua tahun kehidupan neraka di penjara PKT…. Setelah mengalami masa yang sulit dan menyakitkan dalam hidupku, aku melihat dengan jelas esensi jahat dari penentangan gila-gilaan pemerintah PKT terhadap Tuhan dan kebencian mereka terhadap kebenaran, dan aku mendapatkan penghargaan yang lebih dalam akan fakta bahwa firman Tuhan adalah kebenaran. Firman-Nya dapat menjadi hidupku, dan akan menunjukkan jalan di depan untukku. Kalau bukan karena bimbingan yang terus-menerus dari firman Tuhan, yang memberiku kekuatan dan iman, aku tidak mungkin masih hidup sampai hari ini. Aku tidak akan pernah melupakan kasih karunia keselamatan Tuhan selama sisa hidupku!

Saat itu pagi hari tanggal 18 Desember 2005, dan aku berada di tengah persekutuan bersama saudara-saudariku. Tiba-tiba, suara keras seperti sesuatu yang hancur terdengar dari pintu. Sebelum kami sempat berpikir, lebih dari sepuluh polisi menyerbu masuk, setiap dari mereka melotot dengan tatapan kejam di mata mereka. Gerakan polisi yang mereka lakukan tampak seperti adegan dalam film di mana seorang buronan yang tangguh sedang ditangkap. Tanpa memberi penjelasan apa pun, mereka menanggalkan sepatu kami demi mencegah kami melarikan diri, dan kemudian melepas ikat pinggang kami dan mengikat tangan kami di punggung kami. Mereka merampas semua barang pribadi kami, termasuk ponsel, jam tangan, uang tunai, dan sebagainya. Para polisi itu lalu memerintahkan kami untuk berlutut menghadap ke tembok, dan kalau ada di antara kami yang lamban bergerak, mereka mendorong dan menendang kami, memaksa kami berlutut di lantai. Setelah itu, mereka melakukan penggeledahan, membolak-balikkan perabot dan mengubrak-abrik seluruh rumah; setelah beberapa saat, isi rumah itu sama sekali berantakan. Setelah menyaksikan semua ini, aku bertanya dengan marah, "Kami tidak melanggar hukum apa pun, jadi mengapa kalian menangkap kami?" Dalam keherananku, seorang polisi bergegas menghampiri, meninjuku sampai rebah ke lantai dengan satu pukulan, dan berteriak kepadaku, "Kami sedang menangkap orang-orang yang percaya kepada Tuhan! Kami tidak akan bisa tidur nyenyak sampai kami menangkap kalian semua!" Letupan kemarahan ini membuatku terpana, dan juga membuatku sadar: Tuhanlah yang paling dibenci oleh pemerintah PKT, jadi bagaimana mungkin mereka melepaskan kami, orang-orang yang percaya? Aku selama ini begitu buta dan naif! Pada saat itu, aku mulai berdoa dalam hati kepada Tuhan, memohon kepada-Nya untuk melindungi kami agar kami dapat menjadi kesaksian dan tidak mengkhianati-Nya. Tak lama kemudian, polisi yang menjaga kami menginterogasiku: "Siapa yang menyuruhmu untuk menyebarkan agamamu ke mana-mana? Siapa pemimpinmu?" Aku berkata, "Penyebaran Injil kami sepenuhnya sukarela." Dia mengutuk, "Omong kosong! Jangan coba-coba menyangkali kesalahan apa pun, bung, atau kami akan segera menunjukkan kepadamu apa yang akan terjadi!" Saat itu juga, aku mendengar seorang polisi wanita berteriak dari ruangan lain, "Bawakan aku jarum! Coba saja kau berusaha sembunyi dariku…." Seketika itu aku merasa seolah-olah jantungku berada di tenggorokanku, karena pada saat itu aku menyadari bahwa seorang saudari muda tidak terlihat di antara kami; dia telah berusaha sembunyi untuk menghindarkan dirinya ditangkap polisi, tetapi ia telah ditemukan. Polisi wanita itu menangkapnya dan menggunakan jarum untuk menusukkannya ke daging di bawah kuku dan ke telapak kakinya, dan bahkan dengan kejam mulai menjambaki rambutnya sejumput demi sejumput. Akhirnya, mereka meninggalkan saudari muda itu di sana, yang saat itu telah jatuh pingsan, dan menahan kami semua, bersama dengan semua barang yang telah mereka rampas, dan pergi bersama kami.

Sekitar tengah hari, polisi telah menahan kami di kantor polisi, di mana mereka segera mulai menginterogasi kami secara terpisah. Orang yang bertanggung jawab untuk menanyai aku adalah seorang perwira yang kuat dan kekar, dan tak lama setelah aku memasuki ruang interogasi dia berteriak menyuruhku berlutut. Aku berkata, "Aku hanya menyembah Tuhan; hanya Tuhan atas langit, bumi, dan atas segala sesuatu, yang patut kusembah. Aku tidak mau berlutut di hadapanmu!" Begitu mendengar perkataanku, dia mengacungkan jarinya ke arahku dan membentak, "Kau harus tahu bahwa di sini, bahkan raja neraka pun harus patuh! Memang kau kira kau itu siapa? Kalau kami tidak membuatmu sedikit menderita, kau takkan tahu siapa yang sedang berkuasa! Sekarang, berlutut!" Sambil meneriakkan ini, dia menendangku sampai jatuh ke lantai. Setelah itu dia mulai menginterogasiku: "Katakan dengan jujur: kau adalah pemimpin gerejanya, bukan? Di mana kau menyimpan semua buku gerejamu?" Kebingungan, aku tidak tahu cara menjawabnya, jadi aku hanya berdoa berulang-ulang kepada Tuhan untuk memberiku hikmat yang dapat kugunakan untuk melawan polisi jahat ini. Setelah berdoa, aku merasa lebih tenang dan bersemangat serta berpikir dalam hati, "Aku lebih baik mati daripada mengkhianati saudara-saudariku. Aku tidak boleh mengkhianati Tuhan!" Jadi, aku berkata kepada polisi itu, "Aku tidak tahu tentang hal-hal yang kau tanyakan kepadaku ini. Apa yang kau mau aku katakan?" Tak lama setelah aku mengatakan ini, polisi jahat itu meninju kepalaku dengan keras, dan kemudian langsung memukuliku dengan tangan dan kakinya. Aku dipukuli begitu parah hingga aku merasa linglung dan kepalaku jadi pusing, sangat sakit hingga seakan-akan batok kepalaku retak. Aku langsung rebah tergeletak ke lantai. Setelah itu, dia memegang buku catatan Injil yang mereka temukan padaku di tangannya dan mengancam, "Lihat ini? Kami punya bukti, jadi tak ada gunanya menolak bicara. Katakan! Kau pemimpinnya, bukan? Kalau kau bukan pemimpinnya, kau tidak akan memiliki catatan ini!" Melihat aku tidak mau berbicara, dia mencoba cara lain, mendesakku dengan berkata, "Jangan keras kepala; ayolah, kerja sama dengan kami. Katakan kepada kami apa yang kau ketahui, dan kau akan dibebaskan besok." Saat itu juga, Tuhan memberiku pencerahan sehingga aku teringat satu bagian dari ucapan-Nya: "Ketika Tuhan dan Iblis bertempur di alam rohani, bagaimanakah seharusnya engkau memuaskan Tuhan, dan bagaimanakah cara agar engkau berdiri teguh dalam kesaksianmu bagi-Nya? Engkau harus tahu bahwa segala sesuatu yang terjadi kepadamu adalah sebuah ujian besar dan merupakan saat ketika Tuhan membutuhkan engkau untuk menjadi kesaksian. Dari luar, hal ini mungkin tidak terlihat seperti masalah besar, tetapi ketika terjadi, hal ini menunjukkan apakah engkau mengasihi Tuhan atau tidak. Jika engkau mengasihi-Nya, engkau akan mampu berdiri teguh dalam kesaksianmu bagi-Nya" ("Hanya Mengasihi Tuhan-lah yang Berarti Sungguh-Sungguh Percaya kepada Tuhan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Firman Tuhan membuatku melihat dengan jelas bahwa ini adalah peperangan dunia roh. Aku tidak boleh jatuh pada tipu daya Iblis, dan benar-benar harus menjadi kesaksian bagi Tuhan. Berapapun banyaknya barang yang mereka sebut sebagai barang bukti, aku tidak boleh menyingkapkan informasi apa pun tentang gereja. Ini adalah kesaksian kasihku kepada Tuhan dan pengabdian yang harus kupertahankan di hadapan Tuhan. Setelah itu, aku berdoa, dan sedikit demi sedikit aku merasa lebih tenang. Sebanyak apa pun dia menyiksaku, aku tidak pernah mengatakan sepatah kata pun. Akhirnya, polisi jahat itu sangat jengkel sehingga dia membanting pintu dan pergi.

Beberapa saat kemudian, seorang polisi berusia tiga puluhan masuk dan dengan perlahan membantuku bangun dari lantai dan duduk ke kursi. Dia bahkan memberiku secangkir air, dan kemudian berkata, "Sini, saudara; minumlah air. Kau telah menderita." Aku terkejut: apa yang sedang terjadi? Bagaimana mungkin seseorang di tempat seperti ini memanggilku "saudara"? Sebelum aku punya waktu untuk mempertimbangkan hal ini lebih lanjut, dia melanjutkan: "Saudaraku, hari-hari ini kita perlu hidup sedikit lebih realistis, dan sepenuhnya fleksibel. Dengan orang sepertimu, mereka tak punya pilihan selain memukulimu sampai mati. Sejujurnya, aku dahulu juga percaya kepada Tuhan, jadi aku tahu memiliki iman adalah hal yang baik—tetapi sangat menderita karenanya, belum lagi mempertaruhkan nyawamu, itu tidak layak! Kalau kau dihukum, itu akan memberi reputasi buruk kepada seluruh keluargamu. Kedua orang tuamu masih hidup, bukan? Kalau kau menghabiskan beberapa tahun di penjara, mereka tidak akan ada lagi pada saat kau bebas. Apa pendapat anggota keluargamu mengenaimu?…" Kedekatan emosionalku dengan ibu dan ayahku lebih dalam daripada siapa pun, jadi setiap perkataan orang ini menyengat hatiku. Ketika gambaran orang tuaku melintas di pikiranku, tiba-tiba aku merasakan gelombang kegelapan dan kelemahan melewatiku, dan aku berpikir, "Benar; jika aku dijatuhi hukuman penjara, lalu apa yang akan dilakukan ayah dan ibu? Siapa yang akan merawat mereka?…" Pikiran itu menyebabkan air mataku berlinang, dan aku tidak bisa menghentikannya. Polisi itu segera memanfaatkan kesempatan itu, mencoba untuk merayu lebih lanjut dan membujukku dengan berkata, "Jadi, kau harus melakukan yang terbaik untuk bekerja sama dengan mereka; kalau kau melakukannya, besok kau akan dibebaskan." Mendengar perkataan ini tiba-tiba membuatku tersadar, dan firman yang sangat jelas ini terlintas dalam pikiranku: engkau tidak boleh menjadi seorang Yudas yang mengkhianati Tuhan! Sungguh hampir saja terjadi! Polisi licik ini diutus oleh si Iblis sendiri, untuk merayuku agar mengkhianati Tuhan. Pada saat itu, firman Tuhan juga memberiku bimbingan: "Hanya dengan kesetiaan, engkau dapat menyusun serangan balik melawan kelicikan Iblis" ("Bab 10, Firman Tuhan kepada Seluruh Alam Semesta" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Aku menyadari bahwa semua yang dikatakan para polisi itu adalah tipu muslihat setan; mereka ingin mengambil keuntungan dari kedekatan emosional dagingku untuk mendorongku mengkhianati Tuhan. Aku sama sekali tidak boleh jatuh oleh tipu muslihat Iblis. Setelah itu, dalam hati aku berdoa kepada Tuhan, percaya bahwa urusan orang tuaku ada dalam kehendak-Nya dan sepenuhnya ada di tangan-Nya. Dengan memercayakan mereka pada kuasa Tuhan yang kuat, aku bertekad untuk menjadi kesaksian bagi Tuhan. Dengan tegas, aku berkata kepada pria itu, "Terima kasih atas niat baikmu; aku menghargai kebaikanmu. Namun, aku tidak tahu apa-apa tentang urusan gereja." Melihat taktiknya tidak berhasil, polisi jahat ini tiba-tiba menunjukkan sifat aslinya dengan berubah menjadi marah. Mengacungkan jari ke arahku, dia berteriak dengan penuh kebencian, "Kalau begitu tunggu saja di sini sampai kau mati!" Dan kemudian dia pergi. Sekitar pukul 2 siang, tiga atau empat polisi datang. Mereka menarikku keluar dari kursi dan menyeretku dengan merenggut kerah bajuku ke pintu, di mana mereka menggunakan borgol untuk menggantungku di balok melintang. Akhirnya, mereka berkomentar dengan sinis, "Nih, tunggulah di sini dan 'nikmatilah,'" dan kemudian mereka pergi. Aku tidak bisa menyentuh lantai dengan dua kaki sekaligus; jika aku menyentuh lantai dengan satu kaki, aku terpaksa harus mengangkat yang satunya. Gerakan tubuhku menyebabkan borgol itu menggores dagingku, dan itu sangat menyakitkan. Hampir satu jam kemudian, para polisi jahat itu kembali, setelah makan dan minum. Dengan seringai yang mengancam, mereka bertanya bagaimana perasaanku. Saat itu, karena rasa sakit, celana dan baju katunku basah dengan keringat, dan ketika aku diturunkan, kedua tanganku bengkak seperti roti dan sama sekali mati rasa. Gerombolan polisi jahat ini benar-benar kejam dan tak kenal ampun. Aku sangat membenci mereka dan juga mendapatkan pandangan yang jelas tentang kejahatan dan kekejaman pemerintah PKT. Mereka adalah segerombolan setan yang menentang dan membenci Tuhan, dan kebencianku terhadap kelompok jahat ini meningkat dengan cepat.

Malam itu, sekitar pukul tujuh malam, para polisi jahat itu memasukkan aku dan keempat saudariku ke dalam mobil polisi untuk membawa kami ke tempat lain. Setiap saudariku terlihat pucat; rupanya, mereka juga menderita kekejaman yang sama. Kami saling memberi semangat satu sama lain dengan tatapan penuh tekad. Ketika kami tiba di rumah tahanan, para polisi jahat itu mengeluarkan keempat saudariku dari mobil, tetapi aku disuruh tetap tinggal di dalam mobil dan kami segera mulai berjalan lagi. Ketika aku bertanya ke mana mereka akan membawaku, salah seorang polisi berkata dengan senyuman yang bersekongkol, "Meskipun kau belum memberitahukan informasi apa pun, kami tetap tahu kau bukan orang biasa di gereja itu. Kami tak ingin menjadi tuan rumah yang buruk, jadi kami ingin membawamu ke luar untuk menikmati sedikit 'camilan tengah malam.' …" Mengetahui bahwa gerombolan polisi jahat ini tidak punya niat baik, aku tidak berani membiarkan kewaspadaanku berkurang bahkan untuk sesaat. Aku terus memohon dalam hati kepada Tuhan untuk memberiku kekuatan dan melindungiku agar tidak mengkhianati Dia. Segera setelah itu, aku dibawa ke Brigade Keamanan Nasional. Aku diterima oleh dua orang kasar yang membawaku ke ruang interogasi. Melihat semua alat penyiksaan yang berserakan di lantai seperti harimau yang diam dan sangat lapar membuatku merasa sangat ketakutan. Saat itu, salah seorang polisi jahat itu membentakku, "Kudengar kau cukup keras kepala. Yah, kami benar-benar suka mengunyah tulang-tulang tua yang keras kepala sepertimu!" Tak lama setelah dia mengatakan ini, dua polisi jahat menerjang ke depan, berteriak sementara mereka berlari, dan merenggut telingaku, menarik dengan sekuat tenaga. Dalam pencahayaan yang redup, aku melihat sepasang wajah jahat yang mengerikan, dan hatiku mulai berdebar tak terkendali. Pada saat itu, aku mendengar polisi jahat lainnya tertawa terbahak-bahak dan berkata, "Nasibmu sial karena bertemu denganku hari ini. Nah, mari kita mulai dengan memandikanmu." Saat dia mengatakan ini, mereka memegangiku dan merobek setiap helai pakaianku. Aku berdiri di sana telanjang bulat di lantai sedingin es, seluruh tubuhku gemetaran dan gigiku gemeletuk. Polisi jahat itu menarik sebuah selang panjang, mengarahkannya tepat ke arahku, dan membuka katupnya. Dalam sepersekian detik aku dihantam oleh semburan air dingin yang membekukan tulang. Sangat menyakitkan, seakan-akan sebilah pisau sedang mengupas kulitku; rasanya darah yang mengalir di sekujur tubuhku mengental. Sesaat kemudian, aku tidak dapat merasakan apa-apa. Sambil menyiramku dengan air, polisi jahat itu terus meneriaki aku dengan nada mengancam, "Kalau kau tahu apa yang baik untukmu, cepat bicara; kalau kau tidak melakukannya, kau tidak akan hidup untuk melihat matahari terbit besok!" Menguatkan diriku sendiri untuk menanggung penderitaan ini, aku menundukkan kepala dan tidak mengatakan sepatah kata pun. Salah seorang polisi jahat itu menggertakkan giginya dan mengatakan bahwa dia akan menghangatkanku, yang berarti dia akan menyetrumku. Pada saat itu aku sudah sangat tersiksa sehingga aku bahkan tidak memiliki kekuatan yang tersisa dalam diriku. Merasa seakan-akan kematian semakin mendekat selangkah demi selangkah, aku dengan putus asa memohon kepada Tuhan: "Tuhan! Aku terlalu tak berarti untuk dapat melakukan apa pun bagi-Mu, tetapi hari ini aku ingin menggunakan kematianku untuk mempermalukan Iblis. Satu-satunya yang kumohon adalah agar Engkau melindungi hatiku sehingga tidak pernah menyimpang dari-Mu, dan agar aku tidak mengkhianati-Mu." Para polisi itu membuka mulutku dengan paksa dan menjejalkan kain basah ke dalamnya, ujung lainnya terhubung ke kabel listrik. Mereka menempelkan salah satu ujung kawat itu ke telingaku, dan kemudian polisi yang memegang sakelar menyalakannya. Tiba-tiba aku merasakan seluruh darah di tubuhku melonjak ke atas, dan rasanya seperti kepalaku akan meledak. Itu sangat mengerikan sehingga aku merasa sepertinya bola mataku akan meledak, dan setiap saraf di tubuhku berkedut dan rasanya seakan-akan mau putus. Melihatku sangat kesakitan, gerombolan polisi jahat ini hanya tertawa terbahak-bahak. Sesaat kemudian, aku pingsan. Segera setelah itu, aku dibangunkan dengan disiram seember air dingin. Ketika aku sadar, kain itu masih ada di mulutku. Seorang polisi tertawa terkekeh-kekeh dan bertanya, "Bagaimana rasanya? Kalau kau ingin mengatakan sesuatu, anggukan saja kepalamu." Saat itu, aku teringat bagian dari firman Tuhan: "Ketika manusia siap mengorbankan nyawa mereka, semuanya menjadi tidak penting, dan tidak ada orang yang bisa mengalahkannya. Apakah yang lebih penting daripada nyawa? Karenanya, Iblis menjadi tidak mampu bertindak lebih jauh dalam manusia, tidak ada yang bisa dilakukannya dengan manusia" ("Bab 36, Penafsiran Rahasia Firman Tuhan kepada Seluruh Alam Semesta" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Firman Tuhan memperkuat tekadku untuk memilih menjadi kesaksian daripada tunduk kepada Iblis. Pikirku, "Lakukan apa pun yang kau inginkan kepadaku. Lagipula, aku hanya punya satu nyawa; paling buruk, aku akan mati, tetapi jangan berpikir sedetik pun bahwa kau akan mendengar sepatah kata dariku!" Aku tidak menjawab polisi itu; aku hanya menutup mataku, menolak untuk menatapnya. Tindakan ini membuat marah polisi jahat itu, dan dia kembali menyetrumku dengan gelombang listrik, hanya saja kali ini arus listriknya lebih kuat dari sebelumnya. Dalam hati, aku berseru, "Tuhan! Selamatkan aku! Aku tak tahan lagi!" Tepat pada saat itu, gambar yang jelas tentang penyaliban Tuhan Yesus muncul di depan mataku: para prajurit yang ganas memakukan paku sepanjang 15 cm ke telapak tangan Tuhan, menembus kulit, menusuk tulang…. Penderitaan Tuhan Yesus menyebabkan hatiku sakit tanpa akhir, dan aku tidak bisa menahan tangis. Dalam hatiku, aku berdoa kepada Tuhan: "Tuhan! Engkau kudus; Engkau tidak memiliki dosa. Demi membawa keselamatan bagi umat manusia, Engkau menyerahkan diri-Mu kepada para bajingan itu dan membiarkan mereka memakukan-Mu di kayu salib dan menguras setiap tetes darah terakhir-Mu demi menebus kami manusia. Ya Tuhan, aku adalah orang yang sangat rusak, objek yang harus dimusnahkan. Aku telah menerima keselamatan-Mu dan cukup beruntung untuk mengalami pekerjaan-Mu, jadi aku harus mempersembahkan diriku kepada-Mu. Ya Tuhan, aku tahu tanpa keraguan bahwa Engkau ada di sisiku, saat ini, menemaniku melewati penderitaanku. Engkau selalu mengasihiku dan menanamkan kekuatan dalam diriku. Aku bersedia mempersembahkan diriku seluruhnya untuk memuaskan-Mu, sehingga Engkau tidak lagi harus menderita demi aku atau mengkhawatirkanku lagi." Saat itu, kedua polisi jahat itu berhenti menyetrumku. Memahami bahwa Tuhan telah bersimpati denganku dalam kelemahanku, hatiku dipenuhi rasa syukur kepada-Nya! Setelah itu, terlepas dari kenyataan bahwa para polisi itu tidak berhenti menyakitiku, aku tidak lagi merasakan sakit apa pun. Mengetahui bahwa Tuhan melindungiku dan memikul penderitaanku untukku, aku merasa sangat tersentuh oleh kasih Tuhan, dan terus-menerus meneteskan air mata. Kemudian, salah seorang polisi masuk, menatapku, dan berkata kepada kedua polisi jahat itu, "Sudah cukup; kalian telah memukulinya tanpa alasan, dan dia tidak bicara. Aku yakin dia tidak tahu apa-apa." Baru pada saat itulah mereka berhenti menyiksaku. Aku tahu bahwa ini semua adalah bagian dari pengaturan dan rencana Tuhan yang indah; Tuhan tidak mengizinkan gerombolan setan ini mengakhiri hidupku, dan telah mengirim seseorang untuk datang dan menghentikan mereka. Aku sungguh menghargai kasih Tuhan.

Dalam keadaanku yang kelelahan, para polisi jahat itu tidak menginterogasiku lebih lanjut, dan sekitar tengah malam, mereka membawaku ke rumah tahanan. Seorang penjaga membawaku ke sebuah sel yang menampung lebih dari tiga puluh pelaku kejahatan, dan ketika dia membuka pintu untuk memasukkanku ke dalamnya, aku mendengarnya tertawa secara diam-diam dan memerintahkan kepala tahanan, "Untuk sejenak, jangan ribut; jangan banyak bersuara." Kepala tahanan itu menatapku dari atas ke bawah, menyeringai, dan berkata kepada penjaga itu, "Jangan khawatir!" Sebelum aku punya waktu untuk bereaksi, ekspresi kepala tahanan itu berubah menjadi kejam dan memerintahkan yang lainnya dengan nada lirih yang mengancam, berkata, "Sama seperti biasa, saudara-saudara. Pukuli dia!" Semua tahanan duduk tegak dan memelototiku seperti seekor harimau yang mengawasi mangsanya, membuatku merasa sangat ketakutan. Begitu kepala tahanan itu melambaikan tangannya, mereka semua menghampiriku seperti sekawanan serigala ganas. Memegangiku dengan kuat, mereka merobek semua pakaianku dan mulai memukuliku dengan sekuat tenaga memakai sol sepatu mereka. Akhirnya, mereka telah memukuliku sampai babak belur sehingga aku pingsan. Baru pukul 6 pagi keesokan harinya aku sadar kembali. Aku menyadari bahwa aku telah ditempatkan di sudut ruangan, seluruh tubuhku bengkak sangat parah, sehingga aku tidak bisa mengenakan pakaian apa pun. Dan dalam keadaan seperti itulah, aku terbaring selama enam hari berturut-turut di atas tempat tidur papan dengan seluruh tubuhku yang memar dan babak belur. Selain itu, bagian dalam mulutku telah terpanggang sengatan listrik oleh para polisi jahat itu hingga semua jaringannya mati, dan aku sangat kesakitan sehingga aku bahkan tidak mampu menelan makanan sedikit pun. Khawatir kematianku akan menyebabkan masalah bagi mereka, para penjaga mengirim tahanan lain secara bergiliran untuk memberiku makan sup sayur.

Setelah lukaku agak sembuh, para tahanan dihasut oleh para polisi jahat itu untuk melanjutkan intimidasi dan penyiksaan mereka. Setiap pagi-pagi sekali, mereka menyuruhku membaca peraturan penjara; jika aku melakukannya dengan buruk, mereka akan memukuliku. Mereka juga menyuruhku mengerjakan tugas bersih-bersih, dan mencuci pakaian untuk para tahanan yang memiliki uang. Jika aku membuat kesalahan sekecil apa pun, aku ditinju dan ditendang. Mereka tahu bahwa aku percaya kepada Tuhan, jadi mereka sering dengan sengaja mengatakan banyak hal di depanku yang menghujat Tuhan hanya untuk membuatku marah, dan mereka juga mempermalukan aku, misalnya dengan mengatakan, "Bukankah orang yang percaya kepada Tuhan tidak merasakan sakit ketika mereka dipukuli? Dan tidak bisakah kau bekerja tanpa merasa lelah? Kau tidak peduli seberapa banyak kau menderita, bukan?… " Untuk menyiksaku, mereka memaksaku mengeruk toilet jongkok dengan tangan, sesuatu yang sangat menjijikkan bagiku sehingga membuatku mau muntah; mereka bahkan menyuruhku membersihkan ubin lantai dengan sikat gigiku, dan dengan sengaja melemparkan rotiku ke dalam toilet. Ketika penjaga datang untuk memeriksa kebersihan sel, dia melepas sepatunya dan berjalan berputar-putar dengan kaus kaki putih. Jika dia menemukan kotoran pada kaos kakinya, dia akan memukulku. … Diperhadapkan dengan siksaan yang tak berkesudahan dari para polisi jahat dan para tahanan itu, aku merasa sangat lemah dan sangat tertekan. Aku mulai merasa bahwa adalah lebih baik mati daripada tetap hidup seperti ini. Sementara dalam kelemahan dan penderitaanku, firman Tuhan memberiku iman dan motivasi untuk terus hidup. Aku teringat bahwa Dia telah berkata: "Mungkin engkau semua ingat firman ini: 'Sebab penderitaan ringan kami, yang hanya sementara, mengerjakan bagi kami kemuliaan yang lebih besar dan kekal.' Di masa lalu, engkau semua telah mendengar perkataan ini, namun tidak ada yang memahami arti sebenarnya dari perkataan ini. Saat ini, engkau tahu betul maknanya yang sesungguhnya. Firman ini adalah apa yang akan Tuhan genapi di akhir zaman. Dan firman ini akan digenapi atas diri mereka yang sangat menderita oleh karena si naga merah yang sangat besar di tanah tempat ia berada. Naga merah yang sangat besar menganiaya Tuhan dan merupakan musuh Tuhan, jadi di negeri ini, orang-orang yang percaya kepada Tuhan menjadi sasaran penghinaan dan penganiayaan. Itu sebabnya firman ini akan menjadi nyata di tengah-tengahmu" ("Apakah Pekerjaan Tuhan Begitu Sederhana Seperti yang Dibayangkan Manusia?" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Firman Tuhan mengajarku bahwa mampu mengalami penghinaan dan penyiksaan karena kepercayaanku adalah tanda bahwa Tuhan telah membuat pengecualian dan meninggikan aku—ini adalah kehormatan besar bagiku! Namun, aku pengecut dan tidak memiliki kekuatan batiniah; karena aku telah mengalami penderitaan fisik dan agak dipermalukan, aku telah kehilangan keyakinanku kepada Tuhan, dan tidak mau menjadi kesaksian untuk membalas kasih Tuhan melalui penderitaan. Tuhan telah membayar harga yang sangat mahal untuk menyelamatkanku, jadi bagaimana aku bisa membalas-Nya dengan cara ini? Bagaimana aku bisa menentang hati nuraniku seperti ini dan merespons dengan negatif seperti itu? Tidak boleh seperti ini! Aku sama sekali tidak boleh menjadi seorang yang lemah; aku sama sekali tidak boleh mempermalukan nama Tuhan! Setelah itu, aku buru-buru berdoa kepada Tuhan: "Tuhan, aku bersyukur kepada-Mu karena telah mencerahkanku dan membuatku mengerti makna penderitaan. Demi kehormatan-Mu, aku bersedia menanggung segala macam penderitaan; aku ingin memuaskan-Mu bahkan jika itu berarti menghabiskan sisa hidupku di penjara. Satu-satunya yang kumohon kepada-Mu adalah agar Engkau tetap menyertaiku, mencerahkan dan membimbingku, serta memampukanku untuk berdiri teguh dan menjadi kesaksian untuk-Mu selama mengalami siksaan Iblis." Setelah berdoa, aku merasa benar-benar disegarkan, dan memiliki keberanian untuk menghadapi lingkungan yang sulit itu.

Beberapa minggu kemudian, para polisi jahat itu datang kembali untuk menginterogasiku, mengatakan bahwa belum terlambat untuk bekerja sama dengan mereka, dan mengancam bahwa jika aku tidak melakukannya, keadaan akan menjadi jauh lebih sulit bagiku di hari-hari mendatang. Setelah mengalami beberapa sesi penyiksaan yang biadab, aku sudah lama melihat esensi jahat mereka dan aku sangat membenci mereka. Karena itu, bagaimanapun cara mereka membujuk, mengancam, dan mengintimidasiku, imanku tidak goyah sedikit pun. Kemudian, mereka mulai menginterogasiku setiap dua minggu sekali sampai akhirnya, menyadari bahwa mereka benar-benar tidak akan mendapatkan informasi apa pun dariku, mereka memvonisku dua tahun pendidikan ulang melalui kerja paksa karena kejahatan "mengganggu ketertiban umum" dan "terlibat dalam pertemuan ilegal."

Pada 24 Februari 2006, aku dikirim ke kamp kerja paksa. Karena kepercayaanku kepada Tuhan, aku telah dijuluki "penjahat politik," dan para penjaga penjara dengan sengaja menugaskanku ke tempat pembakaran batu bata yang paling berat, paling melelahkan, dan paling berbahaya untuk menjalani kerja paksaku. Tugasku adalah memindahkan batu bata yang dibakar dari tempat pembakaran, yang suhu di dalamnya mencapai sedikitnya tiga ratus derajat Celsius (572 derajat Fahrenheit). Di pagi hari, suhunya adalah yang terendah, tetapi masih lebih dari seratus derajat (212 derajat Fahrenheit). Meskipun kami harus bekerja dengan suhu setinggi itu, para penjaga tidak memperlengkapi kami dengan pakaian kerja yang tahan panas. Helm pengaman yang kami kenakan akan mencair setelah hanya dua menit berada di area pembakaran itu, dan agar tidak terkena efek melepuh, kami harus menahan napas sambil berlari masuk dan keluar secepat mungkin. Karena kami tidak punya sepatu bot tahan panas, ketika kami masuk ke area pembakaran, kami harus berdiri berganti-ganti antara kaki kiri dan kanan; jika tidak hati-hati, kaki kami akan melepuh karena luka bakar. Para tahanan baru tidak terbiasa dengan kondisi ini; setelah masuk, mereka tidak bisa bertahan lebih dari lima detik sebelum mereka lari keluar. Oleh karena itu, kapten tim kami mengatur para pemimpin kelompok untuk masing-masing diperlengkapi dengan pipa PVC yang dipenuhi dengan pasir; siapa pun yang berlari keluar akan dipukuli dengan pipa tersebut. Meskipun jenis pipa ini tidak cukup keras untuk mematahkan tulang, pipa itu membuat bekas bilur yang parah di kulit. Para narapidana menjulukinya "pukulan tersembunyi." Ketika kami memasuki area pembakaran, kami tidak berani bernapas; mengambil napas adalah seperti meniupkan api ke lubang hidung kami. Setelah mengeluarkan beberapa batu bata, kami harus segera menarik gerobak keluar, dan jika salah satu ban bocor, kami tidak hanya dihukum, tetapi waktu akan ditambahkan ke dalam hukuman kami, dianggap melakukan kejahatan "perusakan peralatan produksi dan perlawanan terhadap reformasi." Sebagai narapidana, tugas kami sehari-hari adalah mengisi penuh 115 gerobak dengan batu bata besar dan 95 gerobak dengan batu bata kecil. Dalam panas seperti itu, tugas ini tidak mungkin untuk diselesaikan, tetapi para penjaga tidak pernah bertanya mengapa kami tidak mampu menyelesaikannya; mereka hanya bertanya kepada kami mengapa kami bersikap menentang terhadap kerja paksa. Karena bekerja dalam keadaan panas membuatku sangat berkeringat, aku akhirnya menderita kekurangan kalium yang parah. Aku rebah ke tanah tak sadarkan diri beberapa kali, sehingga mereka akan melemparkanku di atas tembok tempat pembakaran untuk mengalami pendinginan selama beberapa menit. Setelah aku sadar, mereka memaksaku minum secangkir air asin, dan memaksaku kembali bekerja. Inilah pertama kalinya aku mencicipi apa artinya mencapai batasku, apa artinya penderitaan yang tak tertahankan, dan bagaimana rasanya lebih menginginkan kematian daripada tetap hidup. Di sini, tak seorang pun peduli apakah engkau hidup atau mati; kapten tim hanya peduli apakah kelompokmu telah menyelesaikan pekerjaannya atau tidak. Jika ya, dia tidak akan mengatakan apa pun, dan jika tidak, dia juga tidak akan mengatakan apa pun, tetapi hanya akan menunjuk ke arah pintu tempat pembakaran dan kemudian pergi. Setelah itu, ketua kelompok akan memanggil siapa saja yang belum menyelesaikan pekerjaannya untuk berdiri di tempat pembakaran dan dipukuli; begitu mereka rebah ke tanah, mereka terbakar begitu parah oleh tanah yang panas sehingga lepuh memenuhi seluruh kulit mereka. Selain itu, mereka harus tambah mengerjakan dua puluh gerobak penuh batu bata setiap hari, dan tidak boleh berhenti sampai mereka berteriak minta ampun. Menghadapi lingkungan seperti ini, aku merasa sangat lemah; hanya mengalami beberapa hari penyiksaan saja sudah terasa seperti perjalanan melewati neraka. Dalam benakku, dua tahun terasa seperti waktu yang sangat lama. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa melewati semua waktu itu, dan aku khawatir bahwa aku akan dipukuli sampai mati oleh para polisi jahat atau terpanggang sampai mati dalam panas yang luar biasa. Semakin aku memikirkan masa depanku, semakin aku merasa terperangkap; aku merasa aku benar-benar tidak tahan lagi di penjara iblis ini—jadi aku berpikir untuk mati. Setiap hari sejak saat itu, aku mencari peluang untuk "dibebaskan."

Suatu hari akhirnya, kesempatanku tiba. Persis ketika sebuah truk penuh batu bata sedang melaju, tanpa pikir panjang aku berbaring di bawahnya. Namun, roda kendaraan itu tiba-tiba berhenti hanya beberapa inci dariku; ternyata, truk itu mogok. Beberapa narapidana menarikku keluar, dan kepala penjaga mengatakan aku menolak menerima pendisiplinan dan tidak mau mengubah kebiasaan lama. Dia kemudian mulai menghukumku. Mereka menyodokkan tongkat listrik ke depan kemejaku, dan itu sangat menyakitkan hingga aku rebah ke tanah sampai kejang-kejang tak terkendali. Setelah itu, mereka memborgol tanganku ke belakang ke tiang telepon dan memukuliku dengan kejam dengan tongkat listrik. Setelah makan malam, aku dikenai hukuman di depan umum untuk dididik ulang dan "memperbaiki" ideologiku. … Penderitaan dan siksaan yang tak berakhir ini membuatku merasakan tingkat kengerian, keputusasaan, dan ketidakberdayaan yang luar biasa. Tepat ketika aku sedang bergulat dengan pertanyaan tentang bagaimana aku akan terus hidup, sebuah bagian dari firman Tuhan muncul dalam pikiranku: "Tidak peduli bagaimana Tuhan memurnikanmu, engkau tetap penuh keyakinan dan tidak pernah kehilangan keyakinan dalam Tuhan. Engkau melakukan apa yang seharusnya manusia lakukan. Inilah yang diminta Tuhan dari manusia, dan hati manusia harus dapat kembali kepada-Nya secara penuh dan menghadap kepada-Nya setiap saat. Inilah seorang pemenang. Mereka yang disebut oleh Tuhan sebagai pemenang adalah mereka yang tetap mampu bersaksi, mempertahankan keyakinan, dan pengabdian mereka kepada Tuhan saat dipengaruhi dan diserang oleh Iblis, yaitu, saat berada dalam kekuatan kegelapan. Jika engkau tetap mampu menjaga kemurnian hati dan kasih tulusmu terhadap Tuhan apa pun yang terjadi, engkau memberikan kesaksian di hadapan Tuhan, dan inilah yang disebut oleh Tuhan sebagai pemenang" ("Engkau Harus Mempertahankan Pengabdianmu kepada Tuhan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Firman Tuhan membawa secercah harapan dan kehangatan dalam hatiku, tepat ketika aku hampir saja menyerah. Memang benar; pada akhirnya, Tuhan ingin menciptakan sekelompok pemenang yang akan mampu mempertahankan iman dan pengabdian mereka kepada-Nya di lingkungan yang keras, hidup sesuai dengan firman-Nya dan, akhirnya, menjadi kesaksian yang kuat dan menggema bagi Tuhan di hadapan Iblis. Alasan Iblis menggunakan segala cara yang dia bisa untuk menyiksa dan melukaiku adalah karena dia ingin mengambil keuntungan dari kelemahanku, menyerangku ketika aku sedang jatuh dan memaksaku untuk mengkhianati Tuhan—tetapi aku tidak boleh menjadi lambang penghinaan terhadap Tuhan! Kasih Tuhan bagiku begitu nyata dan praktis; ketika aku berada pada posisi terlemah dan merindukan kematian, Tuhan masih mengawasiku secara diam-diam, melindungi dan menjagaku tetap hidup. Betapa pun lemahnya aku, Dia tidak pernah berniat sedikit pun untuk meninggalkanku; kasih-Nya kepadaku tetap sama dari sejak awal, dan Dia tetap mencerahkan, membimbing, dan membantuku menemukan jalan keluar dari penderitaan. Aku sama sekali tidak boleh mengecewakan Tuhan atau melukai perasaan-Nya. Aku bersyukur atas bimbingan Tuhan; bimbingan-Nya telah sekali lagi membuatku melihat tipu daya Iblis yang sebenarnya dan berjalan kembali dari ambang kematian. Aku tak bisa menahan diriku untuk menyanyikan sebuah lagu pujian: "Aku akan memberikan kasih dan kesetiaanku kepada Tuhan dan menyelesaikan misiku untuk memuliakan Tuhan. Aku bertekad untuk berdiri teguh dalam kesaksian bagi Tuhan, dan tidak pernah menyerah kepada Iblis. Oh, kepalaku mungkin hancur dan darahku tercurah, tetapi keberanian umat Tuhan tidak akan pernah hilang. Nasihat Tuhan ada dalam hati, aku bertekad mempermalukan Iblis. Kesulitan dan penderitaan digariskan oleh Tuhan, aku akan menanggung penghinaan supaya menjadi setia kepada-Nya. Aku tidak akan pernah lagi membuat Tuhan menitikkan air mata atau khawatir" ("Aku Berharap Melihat Hari Kemuliaan Tuhan" dalam "Ikuti Anak Domba dan Nyanyikan Lagu Baru").

Setelah aku tunduk dan mau menanggung semua penderitaan demi memuaskan Tuhan, Tuhan membuka jalan keluar bagiku: karena kapten tim itu buta huruf, dia memintaku membantunya mengisi laporannya, dan sejak saat itu, aku tidak harus melakukan begitu banyak pekerjaan mengangkut batu bata. Beberapa waktu kemudian, seorang saudari berusia lanjut dari gereja datang mengunjungiku. Dia memegang tanganku di tangannya dan berkata dengan berlinang air mata, "Nak, kau sudah menderita. Saudara-saudarimu sangat khawatir tentangmu, dan kami semua berdoa untukmu setiap hari. Kau harus tetap kuat, dan tidak sujud di hadapan Iblis. Kau harus berdiri teguh dan menjadi saksi bagi Tuhan. Kami semua menunggumu pulang." Dalam neraka manusia yang dingin dan kejam ini, selain dari firman penghiburan Tuhan, aku belum pernah mendengar perkataan yang penuh kehangatan dari siapa pun. Mendengar perkataan yang baik dari saudara-saudariku ini, perkataan yang sering kudengar di waktu lampau, memberiku penghiburan dan dorongan yang sangat besar. Untuk waktu yang lama setelah itu, aku merasa terdorong oleh kasih Tuhan; aku merasa sedikit lebih santai, dan aku memiliki sumber kekuatan untuk melangkah ketika aku sedang bekerja. Sepanjang waktuku di penjara, hari-hari itu berlalu paling cepat. Ini terutama terjadi selama empat bulan terakhirku. Aku selalu masuk baris pertama dalam daftar nama narapidana yang hukumannya diperpendek, yang diumumkan tiap bulan. Dalam beberapa bulan terakhir, daftar nama ini hanya mencakup para tahanan kepala, dan pemimpin tim; narapidana yang tidak memiliki uang atau kekuasaan telah diabaikan. Bagi seorang Kristen seperti aku, yang oleh pemerintah PKT telah dijuluki "penjahat politik," bahkan lebih kecil kemungkinannya untuk dapat menikmati perlakuan seperti itu. Karena alasan ini, para tahanan lainnya selalu mengelilingiku dan bertanya, "Bagaimana caramu melakukannya?" Setiap kali ini terjadi, aku bersyukur kepada Tuhan jauh di lubuk hatiku, karena aku tahu ini adalah hasil dari anugerah-Nya yang besar bagiku; kasih Tuhanlah yang memberiku kekuatan.

Pada 7 September 2009, aku dibebaskan bersyarat lebih awal. Segera setelah itu, aku kembali ke gereja dan memulai kembali kehidupan bergereja, dan sekali lagi aku bergabung dengan barisan orang-orang yang menyebarkan Injil. Setelah menjalani masa kesukaran ini, aku lebih bertekad dan lebih dewasa daripada sebelumnya, dan aku semakin menghargai kesempatan untuk memenuhi tugasku. Karena aku telah melihat wajah sesungguhnya dari penentangan pemerintah PKT kepada Tuhan dan kekejamannya terhadap manusia, aku memiliki perasaan yang lebih dalam tentang betapa berharganya keselamatan Tuhan. Seandainya Tuhan tidak datang secara pribadi, dalam daging yang berinkarnasi, untuk melakukan pekerjaan membawa keselamatan bagi umat manusia, semua orang yang hidup di bawah wilayah kekuasaan Iblis akan hancur dan ditelan olehnya. Sejak saat itu, setiap kali aku memenuhi tugasku, sikapku sangat berbeda dari sebelumnya; aku merasa bahwa pekerjaan menyebarkan Injil dan menyelamatkan jiwa manusia adalah yang paling penting, dan aku ingin mengabdikan seluruh kesetiaanku dan menghabiskan seluruh tenagaku selama sisa hidupku demi membawa lebih banyak orang ke hadapan Tuhan. Aku ingin memampukan mereka juga untuk sadar dari selubung kebingungan dan penipuan pemerintah ateis ini, untuk menerima suplai kehidupan dari Tuhan, dan untuk memperoleh keselamatan Tuhan. Mengingat dua tahun masa pemenjaraan yang sangat lama itu, aku tahu bahwa Iblis berusaha dengan sia-sia memakai penganiayaan kejamnya demi memaksaku mengkhianati Tuhan. Namun, Tuhan menggunakan lingkungan yang jahat itu untuk meningkatkan iman, kesetiaan, dan ketundukanku kepada-Nya, menyucikan perasaan kasihku yang bercampur aduk kepada-Nya, dan membuatku menyadari hikmat dan kemahakuasaan Tuhan serta mendapatkan penghargaan mendalam akan kenyataan bahwa Tuhan adalah keselamatan umat manusia, dan bahwa Dia adalah kasih! Dari dalam hatiku keluar penyembahan dan pujian yang tak terbatas bagi Tuhan!

Ketika bencana melanda, bagaimana seharusnya kita orang Kristen menghadapinya? Anda diundang untuk bergabung dengan pertemuan online kami, di mana kita dapat menyelidiki bersama dan menemukan jalannya.
Tinggalkan Pesan
Hubungi kami via Whatsapp

Konten Terkait

Tinggalkan Balasan