Meloloskan Diri dari Kematian

02 September 2020

Tuhan Yang Mahakuasa berkata: "Tuhan tidak pernah menjauh dari hati manusia, dan selalu tinggal di antara manusia. Ia menjadi kekuatan penggerak dalam hidup manusia, landasan eksistensi manusia, dan simpanan yang melimpah bagi eksistensi manusia setelah dilahirkan. Ia menyebabkan manusia dilahirkan kembali, dan memampukan manusia menjalani setiap perannya dengan gigih. Berkat kuasa-Nya, dan kekuatan hidup-Nya yang tidak terpadamkan, manusia telah hidup selama generasi demi generasi, dan selama itulah kuasa kehidupan Tuhan telah menjadi landasan bagi eksistensi manusia, dan karenanya Tuhan telah membayar harga yang tidak pernah dibayarkan oleh manusia biasa mana pun. Kekuatan hidup Tuhan dapat mengatasi kekuatan mana pun, serta melampaui kekuatan lainnya. Kehidupan-Nya kekal, kuasa-Nya menakjubkan, dan kekuatan hidup-Nya tidak mudah ditundukkan oleh makhluk ciptaan atau kekuatan musuh mana pun. Kekuatan hidup Tuhan sungguh nyata, dan memancarkan cahaya terang kapan pun dan di mana pun. Langit dan bumi dapat mengalami perubahan dahsyat, tetapi kehidupan Tuhan tetap kekal untuk selama-lamanya. Segala sesuatu akan berlalu, tetapi kehidupan Tuhan tetap bertahan, karena Tuhan adalah sumber eksistensi dari segala sesuatu, dan akar dari segala eksistensi itu" ("Hanya Kristus Akhir Zaman yang Bisa Memberi Manusia Jalan Hidup yang Kekal" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Waktu kubaca bagian ini sebelumnya, aku hanya paham secara teori, tetapi tidak benar-benar memahami atau menghargainya. Kemudian, aku ditangkap, dianiaya, dan disiksa secara kejam oleh PKT, firman Tuhan-lah yang membimbingku meloloskan diri dari kematian, berkali-kali, saat Iblis menghancurkanku. Kulihat perbuatan ajaib Tuhan dan mengalami bahwa otoritas firman-Nya melampaui segalanya. Aku mendapatkan beberapa pemahaman tentang Tuhan dan imanku bertumbuh.

Saat itu tahun 2006, tanggung jawabku di gereja adalah membawa buku-buku firman Tuhan untuk dicetak. Aku ingat, saat pengiriman itu, beberapa saudara-saudari yang bertanggung jawab atas pengiriman buku-buku itu dan seorang sopir dari tempat percetakan yang kami pekerjakan semuanya ditangkap polisi PKT. Sepuluh ribu eksemplar Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia yang ada dalam mobil itu disita. Sopir itu mengkhianati kami, sehingga sekitar puluhan saudara-saudari akhirnya ditangkap. Kasus itu menghebohkan dua provinsi, dan kemudian Komite Sentral mulai mengawasinya. Pemerintah PKT kemudian tahu bahwa aku seorang pemimpin gereja, dan sampai menugaskan polisi bersenjata untuk menyelidiki ruang lingkup pekerjaanku. Pada saat itu, mereka menyita dua mobil dan satu truk dari tempat percetakan yang bekerja sama dengan kami, serta uang tunai sebesar 65.500 yuan dari mereka. Mereka juga menyita 3.000 yuan lebih dari saudara-saudari yang membantu pengiriman. Polisi datang menggeledah rumahku dua kali setelah itu, dengan selalu mendobrak pintu. Mereka merusak dan menghancurkan apa pun yang mereka pegang, meninggalkan rumah dalam keadaan berantakan. PKT akhirnya tidak menangkapku, tetapi mereka menangkap tetanggaku dan orang lain yang berhubungan denganku, dan berusaha untuk memaksa mereka membocorkan keberadaanku.

Aku terpaksa melarikan diri ke rumah kerabat yang sangat jauh untuk meloloskan diri dari penangkapan dan penganiayaan PKT. Di luar dugaanku, malam ketigaku di sana, polisi dari kampung halamanku berkoordinasi dengan polisi bersenjata dan polisi kriminal setempat, dan 100 orang lebih mengepung rumah kerabatku, tak ada yang bisa keluar. Polisi kemudian menyerbu masuk rumah. Puluhan polisi mengarahkan senjata ke kepalaku, dan seorang dari mereka berteriak, "Bergerak sedikit saja dan kau mati!" Mereka bergegas menyerbu untuk memborgolku, menarik lengan kananku ke belakang di atas bahuku dan menarik lengan kiriku ke atas dari belakang. Tak bisa memborgolku, mereka injakkan satu kaki di punggungku untuk menarik lenganku, kemudian secara paksa memborgol pergelangan tanganku. Rasa sakitnya tak tertahankan. Mereka merampas 650 yuan yang mereka temukan padaku dan bertanya di mana uang gereja disimpan, menyuruhku menyerahkan semuanya. Ini membuatku sangat marah. "Polisi rakyat" macam apa mereka? Kuhadiri pertemuan, baca firman Tuhan, melakukan tugas dalam kepercayaanku, tetapi mereka kumpulkan kekuatan begitu besar dan bersusah-payah hanya untuk menangkapku, dan sekarang mereka ingin merampas dan mencuri uang gereja. Benar-benar menggelikan! Melihatku diam, satu petugas mendekat dan memukulku sangat keras dua kali, menendangku jatuh ke lantai. Mereka lalu menendangiku seperti bola. Aku pingsan karena kesakitan. Saat siuman, aku di mobil polisi, dalam perjalanan kembali ke kampung halamanku. Di dalam mobil, polisi membelengguku dengan rantai yang berat, dengan leherku dirantai di ujung yang satu, dan kedua kakiku di ujung lainnya. Yang bisa kulakukan hanya meringkuk, menunduk, lalu bersandar pada dada dan kepalaku agar tak jatuh. Melihat kesengsaraan yang kualami, polisi hanya menertawakanku dan melontarkan kata-kata kotor kepadaku. Aku tahu betul mereka memperlakukanku begitu karena kepercayaanku kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Ayat yang diucapkan Tuhan pada Zaman Kasih Karunia ini muncul di benakku: "Jika dunia membenci engkau, ketahuilah bahwa ia sudah membenci Aku lebih dahulu sebelum ia membenci engkau" (Yohanes 15:18). Semakin mereka mempermalukanku seperti itu, semakin jelas aku melihat keburukan mereka dan natur setan mereka yang jahat yang membenci Tuhan. Aku makin membenci mereka. Aku terus-menerus berseru kepada Tuhan dalam doa di dalam hatiku, memohon kepada Tuhan untuk melindungi hatiku, sehingga apa pun penyiksaan yang akan kuhadapi, aku dapat memberikan kesaksian dan mempermalukan Iblis. Setelah berdoa, aku teringat firman Tuhan: Tuhan berkata: "Tenanglah di dalam diri-Ku, karena Akulah Tuhanmu, satu-satunya Penebusmu. Engkau harus selalu menenangkan hatimu, hidup di dalam diri-Ku; Aku adalah batu karangmu, pendukungmu" ("Bab 26, Perkataan Kristus pada Awal Mulanya" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Benar. Segala sesuatu tentang manusia berada dalam kekuasaan dan pengaturan Tuhan, dan Tuhan-lah yang menentukan apakah kita hidup atau mati. Dengan dukungan Tuhan Yang Mahakuasa, apa yang perlu kutakutkan? Pemikiran ini memperbarui imanku, dan aku menjadi mau bersandar kepada Tuhan untuk menghadapi siksaan kejam yang menantiku.

Entah berapa kali aku pingsan karena kesakitan selama lebih dari 18 jam dalam perjalanan. Aku hanya ingat saat itu sudah lewat pukul 2 pagi ketika aku sampai di rumah tahanan di kampung halamanku. Rasanya seakan semua darah di tubuhku telah membeku. Tangan dan kakiku sangat bengkak sampai kebas dan mati rasa, sama sekali tak bisa kugerakkan. Kudengar dua petugas membicarakanku, berkata, "Apa pria itu sudah mati?" Setelah itu, mereka menarik belengguku dan menyeretku turun. Aku merasakan gerigi borgol itu menusuk sampai ke dalam dagingku, dan kemudian mereka menyeretku keluar dari mobil dengan kasar dan melemparkanku ke lantai. Aku pingsan karena kesakitan. Setelah itu, seorang petugas menendangku kuat agar siuman, lalu menyeretku kasar ke sel hukuman mati. Besoknya, puluhan polisi, semuanya bersenjata, menjemputku dari rumah tahanan dan membawaku ke sebuah tempat terpencil di luar pinggiran kota. Ada halaman luas yang dikelilingi tembok tinggi. Terlihat dijaga sangat ketat. Banyak polisi bersenjata berjaga, dan "Pangkalan Pelatihan Anjing Polisi" tertulis di pintu. Begitu ada dalam ruangan, kulihat segala macam alat penyiksaan. Melihat itu membuatku sangat ketakutan. Polisi pertama-tama menyuruhku berdiri di tengah halaman dan memerintahkanku untuk tidak bergerak. Mereka membuka sebuah kandang dan melepaskan empat anjing ganas, kemudian menunjukku dan memberi perintah pada anjing-anjing itu, "Ayo, bunuh!" Keempat anjing itu semua berlari ke arahku dengan buas dan aku segera menutup mataku karena takut. Aku terpana dan kepalaku berdengung. Aku hanya punya satu pemikiran: "Ya Tuhan! Selamatkan aku! Selamatkan aku!" Aku berseru kepada Tuhan di dalam hatiku berulang kali. Setelah beberapa saat, tiba-tiba aku menyadari bahwa anjing-anjing itu hanya menggigiti pakaianku, dan sama sekali tidak melukaiku. Juga ada seekor anjing yang bersandar ke pundakku, mengendusku dan menjilati wajahku. Anjing itu juga tidak melukaiku. Tiba-tiba aku teringat akan Nabi Daniel dari Alkitab. Dia dilemparkan ke dalam gua singa karena dia menyembah Tuhan, tetapi Tuhan menyertainya. Dia mengutus para malaikat untuk menutup mulut singa-singa itu, sehingga singa yang lapar tidak melukai Daniel. Pemikiran itu memberiku iman yang lebih besar. Aku benar-benar merasa bahwa semua ada di tangan Tuhan, dan entah aku hidup atau mati terserah kepada-Nya. Kupikir, "Jika Tuhan mengizinkanku menjadi martir karena kepercayaanku sekarang, itu akan menjadi suatu kehormatan dan aku tidak akan mengeluh." Aku tidak dibatasi oleh pemikiran akan kematian, dan setelah aku rela menyerahkan nyawaku untuk memberi kesaksian bagi Tuhan, aku kembali melihat perbuatan Tuhan yang ajaib. Aku bisa mendengar polisi-polisi itu berteriak, "Bunuh! Bunuh!" Namun anjing-anjing hanya menghampiri dan menggigiti pakaianku, mengendusku dan menjilatiku, lalu berbalik dan pergi menjauh. Polisi menghentikan anjing-anjing itu dan berusaha membuatnya kembali dan menyerangku, tetapi anjing-anjing itu tercerai-berai dalam kepanikan dan pergi menjauh, dan mereka tetap tidak menggigitku. Para polisi kebingungan dan berkata, "Aneh sekali, anjing-anjing itu tidak mau menggigitnya!" Mendengar ini membuatku teringat akan firman Tuhan: "Hati dan jiwa manusia berada dalam genggaman Tuhan, dan seluruh kehidupannya berada dalam pengamatan mata Tuhan. Entah engkau memercayainya atau tidak, setiap dan segala hal, baik yang hidup maupun mati, akan berganti, berubah, diperbarui, dan lenyap sesuai dengan pemikiran Tuhan. Demikianlah cara Tuhan memerintah atas segala sesuatu" ("Tuhan adalah Sumber Kehidupan Manusia" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Masih hidup dan tak terluka di tengah sekawanan anjing polisi, jelaslah Tuhan diam-diam melindungiku, menunjukkan kepadaku kemahakuasaan dan perbuatan-Nya yang ajaib. Imanku kepada Tuhan semakin bertumbuh.

Melihat segalanya tidak berjalan seperti yang mereka harapkan, para polisi membawaku ke dalam ruang penyiksaan dan menggantungku di dinding dengan borgol. Ada rasa sakit yang seketika menusuk di pergelangan tanganku seolah keduanya putus. Mereka tetap tidak berhenti, tetapi mulai memukuli dan menendangiku. Ketika yang seorang kehabisan tenaga, yang lainnya akan mengambil alih. Aku dipukuli sampai lebam dan kehilangan banyak darah. Malam tiba dan mereka tetap tidak melepaskanku. Begitu kupejamkan mata sejenak, mereka menyetrumku dengan tongkat kejut listrik, dan seorang polisi berkata saat dia memukuliku, "Jika seseorang membuatmu pingsan, aku akan membangunkanmu dengan cara yang sama persis!" Ketika aku mendengar dia mengatakan ini, aku tahu bahwa Iblis sedang mencoba segala macam siksaan kejam untuk membuatku menyerah, sehingga ketika aku tersiksa sampai tak tahan lagi dan aku tak mampu berpikir jernih, mereka akan mendapatkan informasi tentang gereja dariku. Kemudian mereka dapat menangkap saudara-saudari dan merampas uang gereja. Kukertakkan gigi, menahan sakit, dan memperingatkan diriku sendiri: "Bahkan jika aku digantung, aku tak akan pernah menyerah kepada Iblis!" Mereka terus menyiksaku seperti itu sampai subuh keesokan harinya. Aku merasa seperti sama sekali kehabisan tenaga, bahwa kematian akan menjadi kelegaan, dan aku tidak punya kekuatan untuk bertahan lagi. Aku berseru kepada Tuhan tanpa henti di dalam hatiku: "Ya Tuhan! Dagingku lemah, dan aku benar-benar tak tahan lagi. Sementara aku masih bernapas, sementara pikiranku masih jernih, kumohon ambillah nyawaku. Aku tidak mau menjadi Yudas dan mengkhianati-Mu." Setelah berdoa, aku teringat akan firman Tuhan ini: "Tahap pekerjaan Tuhan ini membuat Tuhan harus mengambil rupa seorang manusia dan dilahirkan di tempat tinggal si naga merah yang sangat besar, kedatangan-Nya ke bumi kali ini disertai dengan bahaya yang jauh lebih besar lagi. Yang dihadapi-Nya adalah pisau, senapan, dan pentungan; yang dihadapi-Nya adalah pencobaan; yang dihadapi-Nya adalah orang banyak bertampang pembunuh. Dia berisiko terbunuh kapan saja" ("Pekerjaan dan Jalan Masuk (4)" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Tuhan adalah Sang Pencipta. Dia sangat berkuasa, sangat mulia. Dia menjadi daging dua kali, menanggung penghinaan sangat besar demi mengungkapkan kebenaran dan menyelamatkan manusia, selalu diburu untuk ditangkap dan dianiaya Iblis, dikutuk dan ditolak oleh dunia keagamaan, dan ditolak oleh dua generasi. Penderitaan Tuhan sangat besar. Merenungkan kasih Tuhan sangat mengharukan bagiku, dan aku bertekad, "Selama aku masih bisa bernapas, aku akan memberi kesaksian dan mempermalukan Iblis!" Melihatku diam dan tidak minta belas kasihan untuk waktu yang lama, polisi berhenti memukuliku, karena takut aku bakal mati dan mereka tak bisa membuat laporan. Tetapi meninggalkanku begitu saja tergantung di dinding selama dua hari dua malam lagi.

Cuaca saat itu sangat dingin. Aku mengenakan pakaian yang sangat tipis dan basah kuyup, aku juga belum makan berhari-hari. Aku merasa sepertinya tak mampu bertahan lebih lama lagi. Pada saat itulah polisi mencoba tipu daya mereka yang lain, memanggil seorang psikolog untuk mencoba memengaruhi pemikiranku, untuk mencuci otakku. Psikolog itu berkata, "Kau masih muda, punya orang tua dan anak-anak. Sejak penangkapanmu, orang-orang percaya lainnya, termasuk pemimpinmu, belum menunjukkan kepeduliannya kepadamu. Bukankah bodoh jika kau banyak menderita mewakili mereka?" Mendengar kebohongan ini, kupikir, "Jika saudara-saudaraku datang mengunjungiku, bukankah mereka akan masuk ke dalam perangkap? Kau mencoba menipu dan membujukku dengan tipuan ini, untuk menghasutku terhadap saudara-saudari sehingga aku akan salah paham, menyalahkan, dan menolak Tuhan. Aku tak akan membiarkanmu berhasil." Berkat perlindungan Tuhan, aku menyadari tipu daya Iblis dan tidak terjebak. Merasa kalah, psikolog itu kemudian menggelengkan kepalanya dan berkata, "Orang ini tak tertolong. Melakukan apa pun, kita tak bisa dapat informasi. Dia tak mau mengalah." Sambil mengatakan ini, dia menggelengkan kepalanya dan keluar ruangan dalam kekalahan.

Namun melihat bahwa mengambil pendekatan yang lebih lunak tidak berhasil, para polisi segera kembali menunjukkan sifat asli mereka dan menggantungku sehari lagi. Pada malam itu, aku sangat kedinginan sehingga aku menggigil dari kepala hingga kaki dan tanganku terasa seperti akan copot. Itu sangat menyakitkan. Pikiranku menjadi kabur, dan merasa benar-benar tidak bisa terus bertahan. Saat itu, sekelompok petugas tiba-tiba bergegas masuk, masing-masing memegang tongkat dengan panjang sekitar satu meter. Mereka mulai dengan kejam memukuli lutut dan pergelangan kakiku, dan beberapa petugas lainnya mulai mencubitiku. Aku sangat kesakitan hingga ingin mati. Waktu itu, aku benar-benar tak berdaya. Aku akhirnya tidak tahan lagi, dan aku mulai menangis. Pemikiran mengkhianati Tuhan terlintas di benakku. Kupikir mungkin aku bisa berbicara tentang kepercayaanku sendiri selama aku tidak membawa saudara-saudariku ke dalamnya. Melihatku menangis, polisi menurunkanku ke lantai. Mereka membiarkanku terbaring di sana, memberiku sedikit air, dan membiarkanku beristirahat sejenak. Mereka mengeluarkan pena dan kertas yang telah mereka persiapkan, siap untuk mencatat. Tepat ketika aku makin dalam tergelincir ke dalam cobaan Iblis dan nyaris mengkhianati Tuhan, firman Tuhan tiba-tiba muncul dengan jelas di benakku: "Aku tidak lagi akan menunjukkan belas kasihan kepada orang yang tidak menunjukkan kesetiaan sedikit pun kepada-Ku di masa kesukaran, sebab belas kasihan-Ku ada batasnya. Terlebih lagi, Aku tidak menyukai siapa pun yang pernah mengkhianati-Ku, apalagi bergaul dengan orang yang memperdaya sesamanya. Ini adalah watak-Ku .... Barangsiapa menyakiti hati-Ku tidak akan menerima ampunan dari-Ku untuk kedua kalinya" ("Persiapkan Perbuatan Baik yang Cukup demi Tempat Tujuanmu" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Ini membuatku sadar bahwa watak Tuhan tidak menoleransi pelanggaran, dan siapa pun yang mengkhianati Tuhan tidak akan pernah mendapatkan belas kasihan-Nya. Pikiranku tiba-tiba menjadi jernih dan aku teringat akan Yudas yang mengkhianati Tuhan Yesus demi 30 keping perak. Apakah aku akan benar-benar mengkhianati Tuhan demi kenyamanan fisik sesaat? Jika firman Tuhan tak membimbing dan mencerahkanku tepat pada waktunya, aku mungkin telah mengkhianati Tuhan dan dikutuk untuk selamanya! Saat itu aku teringat dengan lirik sebuah lagu pujian: "Kepalaku mungkin hancur dan darahku tercurah, tetapi keberanian umat Tuhan tidak akan pernah hilang. Nasihat Tuhan ada dalam hati, aku bertekad mempermalukan Iblis" (Ikuti Anak Domba dan Nyanyikan Lagu Baru). Aku bersenandung dengan lagu ini di dalam hatiku dan merasakan imanku bertambah. Hidup dan matiku ada di tangan Tuhan, dan aku tahu aku harus menaati pengaturan-Nya. Selama aku masih bisa bernapas, aku harus memberi kesaksian dan tidak pernah menyerah kepada setan-setan PKT!

Melihatku hanya berbaring di lantai tanpa bergerak sama sekali, mereka terus membujukku. Seseorang berkata, "Apakah sepadan dengan semua penderitaan ini? Kami memberimu kesempatan untuk menebus kesalahanmu, memberi tahu kami apa yang kau ketahui. Kami sudah tahu segalanya, entah kau bicara atau tidak. Kami memiliki banyak saksi dan bukti untuk membuatmu dituntut dan dihukum." Melihat mereka mencoba semua tipu daya yang ada untuk membuatku mengkhianati Tuhan dan orang-orang percaya lainnya, aku tak mampu menahan amarahku, dan aku berteriak kepada mereka, "Karena kalian sudah tahu segalanya, tak perlu lagi bertanya kepadaku. Bahkan jika tahu segalanya, aku tidak akan memberi tahu kalian!" Merasa jengkel, seorang petugas berkata, "Jika kau tidak bicara hari ini, itu akan menjadi kematianmu. Jangan pernah berpikir untuk keluar dari sini hidup-hidup!" Menanggapi itu, aku berkata, "Karena aku sudah jatuh ke tangan kalian, aku tak berharap bisa keluar hidup-hidup!" Marah, seorang petugas menendang perutku, membuatku merasa seakan isi perutku dikeluarkan Mereka semua kembali mengerumuniku dan mulai menendangi dan memukuliku, dan aku pingsan lagi karena kesakitan. Ketika aku sadar, aku digantung seperti sebelumnya, hanya kali ini lebih tinggi. Aku bisa merasakan seluruh tubuhku mulai membengkak dan aku bahkan tak mampu bicara. Namun berkat perlindungan Tuhan, aku sama sekali tidak merasakan kesakitan. Ketika malam tiba, empat petugas polisi berjaga mengawasiku dan mereka akhirnya tertidur di ruangan itu. Tiba-tiba, borgolku terlepas begitu saja dan aku jatuh ke lantai dengan perlahan seolah ditahan oleh sesuatu di bawahnya. Jika aku tidak mengalaminya sendiri, aku tidak akan pernah memercayainya! Kemudian aku teringat ketika Petrus berada di dalam penjara, dan seorang malaikat dari Tuhan menyelamatkannya. Pada saat itu, rantai Petrus terlepas begitu saja dan pintu penjaranya terbuka dengan sendirinya. Aku tak percaya aku bisa mengalami perbuatan ajaib Tuhan seperti yang dialami Petrus. Pada saat itu aku merasa aku benar-benar telah diangkat dan diberkati Tuhan! Dengan sangat terharu, aku bergegas berlutut di hadapan Tuhan dan menaikkan doa syukur. Aku berkata, "Ya Tuhan! Terima kasih atas belas kasihan dan pemeliharaan-Mu kepadaku. Aku disiksa berkali-kali oleh Iblis sampai hampir mati, dan Engkau secara diam-diam selalu melindungiku, mengizinkanku untuk melihat kemahakuasaan dan perbuatan-Mu yang ajaib." Doa ini membuatku merasa sangat tersentuh dan ada perasaan hangat di dalam hatiku. Aku sebenarnya ingin berdiri dan berjalan keluar, tetapi aku tak mampu menggerakkan tangan atau kakiku, jadi aku tidak pergi. Kemudian aku tertidur di lantai sampai keesokan harinya, aku terbangun saat polisi menendangku. Polisi-polisi jahat itu lalu mulai menyiksaku dengan cara baru. Mereka memindahkanku ke ruangan lain dan menyuruhku duduk di kursi harimau yang terhubung dengan listrik. Mereka mengikat leher dan kepalaku dengan klem besi dan mengunci kedua tanganku di kursi itu sehingga aku tak bisa bergerak sama sekali. Yang bisa kulakukan hanyalah berdoa dalam hati kepada Tuhan. Pada saat itu seorang petugas menyalakan saklar listrik dan puluhan polisi lainnya melayangkan pandangan ke arahku, untuk melihat seperti apa rupaku ketika aku disetrum listrik. Mereka terkejut melihatku sama sekali tidak bereaksi. Mereka memeriksa semua kabel, dan setelah beberapa saat, ketika aku masih tidak bereaksi, seorang dari mereka berkata, "Apakah kursi harimaunya rusak? Mengapa tidak ada arus listrik?" Tanpa pikir panjang, dia menepukku dengan tangannya dan dengan satu sentakan, sengatan listrik membuatnya terpental satu meter ke belakang di mana dia terbaring di lantai, menjerit kesakitan. Semua petugas lainnya sangat ketakutan mereka melarikan diri, dan seorang dari mereka tersandung dan jatuh karena tergesa ingin pergi. Beberapa saat berlalu sebelum dua petugas masuk kembali untuk melepaskanku, gemetar dengan ketakutan akan tersengat listrik. Aku telah duduk di kursi harimau itu selama setengah jam penuh tetapi sama sekali tidak merasakan aliran listrik. Rasanya seperti duduk di kursi biasa. Ini adalah pekerjaan Tuhan yang ajaib lainnya. Aku sangat tersentuh. Pada saat itu aku merasa sepertinya aku siap kehilangan apa pun, bahkan nyawaku. Asalkan Tuhan menyertaiku, itu sudah cukup.

Kemudian mereka membawaku kembali ke rumah tahanan. Tubuhku dipenuhi luka dan rasa sakit di tangan dan kakiku tak tertahankan. Seluruh tubuhku lemas dan lemah. Aku tidak mampu duduk atau berdiri, atau menelan makanan apa pun. Yang bisa kulakukan hanyalah berbaring di sana, tak berdaya. Ketika salah seorang dari tahanan yang sekamar denganku mengetahui aku tidak mengkhianati siapa pun, dia sangat mengagumiku. Dia berkata, "Kalian orang-orang percaya adalah para pahlawan sejati!" Kunaikkan doa mempersembahkan pujian kepada Tuhan dalam hati. Polisi kemudian mencoba menyuruh tahanan lain memukuli dan menyiksaku, tetapi di luar dugaan, mereka mendukung dan membelaku. Mereka berkata, "Orang ini percaya kepada Tuhan, dan tak berbuat salah. Kalian akan menyiksanya sampai mati." Takut situasi jadi tak terkendali, polisi tidak berani bicara apa pun, hanya diam-diam pergi, dikalahkan.

Melihat mereka tidak mengalami kemajuan apa pun, polisi beralih ke taktik lain, dan mulai bekerja sama dengan penjaga penjara di rumah tahanan untuk memberiku banyak pekerjaan tambahan untuk dikerjakan. Tiap hari aku disuruh membuat dua bundel kertas hio untuk dibakar bagi orang mati, dan masing-masing bundel terdiri dari 1.600 lembar kertas timah dan kertas bakar. Pekerjaan ini dua kali lebih banyak dari yang harus dikerjakan para tahanan lain. Tanganku sangat kesakitan dan aku tidak bisa mengangkat apa pun, walau bekerja sepanjang malam, tidak mungkin aku dapat menyelesaikannya. Polisi menggunakan alasan ini untuk menjatuhkan hukuman fisik kepadaku, memaksaku untuk mandi air dingin pada suhu 20 derajat di bawah nol, atau membuatku bekerja bermalam-malam, atau berjaga untuk waktu yang lama. Aku tidur kurang dari tiga jam setiap malam. Aku menderita seperti ini selama satu tahun delapan bulan di rumah tahanan itu. PKT kemudian menindakku dengan tuduhan "menggunakan organisasi xie jiao untuk melemahkan penegakan hukum" tanpa bukti apa pun, dan menghukumku tiga tahun penjara. Ketika dibebaskan, aku masih diawasi dengan ketat oleh kantor polisi setempat. Aku tidak bebas ke tempat yang aku mau, dan harus datang saat mereka panggil. Aku sama sekali tidak memiliki kebebasan pribadi. Aku tidak bisa menghadiri pertemuan gereja atau melakukan tugasku. Ini sangat sulit bagiku, dan kupikir jika aku terus-menerus berada di bawah pengawasan PKT dan tidak dapat melakukan tugasku sebagai makhluk ciptaan, apa bedanya aku hidup atau mati? Jadi, aku kemudian meninggalkan kampung halamanku untuk pergi ke wilayah lain di mana akhirnya aku bisa melakukan tugasku.

Penganiayaan kejam PKT terpatri dalam ingatanku. Aku telah melihat wajah kejamnya, penentangan jahatnya kepada Tuhan dan caranya mencelakai orang, dan aku membencinya dengan segenap hatiku. Aku juga menyaksikan perbuatan ajaib Tuhan, kemahakuasaan, dan kedaulatan-Nya. Perbuatan ajaib Tuhan-lah yang melindungiku sehingga aku dapat meloloskan diri dari cengkeraman Iblis dan itulah yang merenggutku kembali dari kematian. Lewat penganiayaan kejam PKT, firman Tuhan-lah yang membimbingku, dan kekuatan hidup-Nyalah yang mendukungku sehingga aku dapat terus hidup, dan ini memperkuat kepercayaanku untuk mengikuti Tuhan. Syukur kepada Tuhan! Segala kemuliaan bagi Tuhan Yang Mahakuasa!

Pada tahun 2021 bencana semakin parah, apakah Anda ingin menemukan cara untuk dilindungi oleh Tuhan dan memasuki bahtera akhir zaman? Silakan hubungi kami sekarang.

Konten Terkait