Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Firman Klasik Tuhan Yang Mahakuasa tentang Injil Kerajaan

Warna yang Kuat

Tema

Font

Ukuran Font

Spasi Baris

Lebar laman

% Hasil Pencarian

Hasil tidak ditemukan

Perbedaan Mendasar Antara Tuhan yang berinkarnasi dan Manusia yang Dipakai oleh Tuhan

Selama bertahun-tahun, Roh Tuhan tanpa henti terus mencari sementara Dia meneruskan pekerjaan-Nya di bumi. Selama beradab-abad Tuhan telah menggunakan banyak orang untuk melakukan pekerjaan-Nya. Tetapi Roh Tuhan masih belum menemukan tempat berdiam yang sesuai. Jadi Tuhan melakukan pekerjaan-Nya, tanpa henti berpindah dari satu orang kepada orang lain dan Dia menggunakan manusia untuk melakukan pekerjaan ini. Selama bertahun-tahun, pekerjaan Tuhan tidak pernah berhenti, tapi terus dikerjakan dalam diri manusia, sampai hari ini. Walau Tuhan menyampaikan banyak firman dan melakukan banyak pekerjaan, manusia masih tidak mengenal Tuhan, karena Tuhan tidak pernah menampakkan diri kepada manusia dan juga karena Dia tidak memiliki wujud yang bisa disentuh. Jadi Tuhan harus menyelesaikan pekerjaan-Nya – sehingga semua manusia tahu pentingnya signifikansi Tuhan yang praktis. Untuk mencapai tujuan ini, Tuhan harus menyatakan Roh-Nya dalam wujud yang bisa disentuh manusia dan melakukan pekerjaan di tengah-tengah mereka. Hanya ketika Roh Tuhan mengambil wujud fisik, memiliki daging dan tulang dan terlihat berjalan di antara manusia, menemani mereka dalam hidup sehari-hari, kadang muncul dan kadang sembunyi, hanya pada saat itulah manusia bisa mendapat pengetahuan yang lebih dalam tentang Dia. Jika Tuhan terus mengambil wujud manusia, maka Dia tidak akan mampu menyelesaikan pekerjaan-Nya. Setelah bekerja dalam wujud manusia selama beberapa waktu, menggenapi pelayanan yang harus dilakukan dalam daging, Tuhan akan pergi dari wujud manusia-Nya dan bekerja di alam roh dalam wujud manusia sama seperti yang dilakukan Yesus setelah Dia bekerja untuk sejangka waktu dalam rupa manusia dan menyelesaikan semua pekerjaan yang harus diselesaikan-Nya. Kalian mungkin ingat kata-kata dari “Jalan ... (5)” “Aku ingat Bapa-Ku pernah berkata kepada-Ku, ‘Di bumi, hanya lakukan kehendak Bapa-Mu dan selesaikan amanat-Nya. Tidak ada hal lain yang harus Engkau pikirkan.’” Apa pendapat Anda tentang kata-kata ini? Ketika Tuhan datang ke bumi, Dia melakukan pekerjaan-Nya dalam keilahian-Nya. Itulah yang dipercayakan Roh sorgawi kepada Tuhan yang berinkarnasi. Ketika Dia datang, Dia hanya menyampaikan firman ke mana-mana, menyuarakan perkataan-Nya dengan berbagai cara dan dari berbagai sudut pandang. Tugas utama-Nya adalah memenuhi manusia dan mengajar manusia tentang tujuan dan prinsip pekerjaan-Nya, dan tidak memusingkan diri dengan hal-hal seperti hubungan antar manusia atau detail kehidupan manusia. Pelayanan utama-Nya adalah berbicara atas nama Roh. Ketika Roh Tuhan terlihat dalam wujud manusia, Dia hanya memberikan kehidupan pada manusia dan melepaskan kebenaran. Dia tidak terlibat dalam pekerjaan manusia, yaitu, Dia tidak berpartisipasi dalam pekerjaan umat manusia. Manusia tidak bisa melakukan pekerjaan ilahi dan Tuhan tidak ikut serta dalam pekerjaan manusia. Selama bertahun-tahun sejak Tuhan datang ke bumi untuk melakukan pekerjaan-Nya, Dia selalu melakukannya melalui manusia. Tapi mereka tidak bisa dianggap sebagai Tuhan yang berinkarnasi, hanya manusia yang dipakai oleh Tuhan. Namun Tuhan masa kini bisa berbicara langsung dari sudut pandang ilahi, mengutus suara Roh-Nya dan bekerja atas nama Roh. Semua manusia yang dipakai Tuhan selama berabad-abad sama seperti Roh Tuhan yang bekerja dalam wujud manusia, jadi kenapa mereka tidak bisa disebut Tuhan? Tapi Tuhan masa kini juga Roh Tuhan yang bekerja secara langsung dalam daging dan Yesus juga Roh Tuhan yang bekerja dalam daging; dan keduanya disebut Tuhan. Jadi apa bedanya? Selama berabad-abad, manusia yang dipakai Tuhan mampu melakukan pemikiran normal dan berlogika. Mereka semua tahu prinsip tindakan manusia. Mereka memiliki ide manusia normal dan mereka diperlengkapi dengan segala hal yang harus dimiliki manusia normal. Kebanyakan dari mereka memiliki talenta luar biasa dan kepintaran yang belum terolah. Dalam bekerja lewat orang-orang ini, Roh Tuhan mengasah bakat mereka, yang adalah karunia pemberian Tuhan. Roh Tuhan membuat talenta mereka keluar, menggunakan kekuatan mereka untuk melayani Tuhan. Tapi esensi Tuhan yang sebenarnya tidak terpengaruh oleh ide atau pemikiran manusia, tidak tercemar dengan pemikiran manusiawi, dan bahkan tidak memiliki kemampuan yang dimiliki manusia. Bisa dikatakan, Dia bahkan tidak mengikuti prinsip tindakan manusia. Itulah yang terjadi ketika Tuhan masa kini datang ke bumi. Perkataan dan pekerjaan-Nya tidak terpengaruh oleh niat atau pikiran manusia, tapi adalah manifestasi langsung dari pemikiran Roh, dan Dia bekerja secara langsung atas nama Tuhan. Ini berarti Roh datang untuk bekerja, tanpa mencampurkan sedikit pun pemikiran manusia. Inilah Tuhan yang berinkarnasi, yang adalah perwujudan langsung dari keilahian, tanpa campuran dengan pemikiran manusia, dan tidak memiliki pengertian tentang prinsip tindakan manusia. Jika hanya keilahian saja yang bekerja (maksudnya hanya Tuhan sendiri yang bekerja), maka tidak mungkin pekerjaan Tuhan dikerjakan di bumi. Jadi ketika Tuhan datang ke bumi, Dia harus memiliki sejumlah kecil orang yang Dia pakai untuk melakukan pekerjaan-Nya di antara umat manusia dalam hubungannya dengan pekerjaan yang Tuhan lakukan dalam keilahian. Dengan kata lain, Dia menggunakan pekerjaan manusia untuk menopang pekerjaan ilahi-Nya. Jika tidak, maka tidak mungkin manusia bisa bersentuhan langsung dengan pekerjaan ilahi. Inilah yang terjadi dengan Yesus dan murid-murid-Nya. Semasa Dia ada di dunia, Yesus menghapuskan Hukum Taurat dan menetapkan hukum baru. Dia juga banyak menyampaikan firman. Semua pekerjaan ini dilakukan dalam keilahian. Yang lain, seperti Petrus, Paulus, dan Yohanes, semua mendasarkan pekerjaan mereka pada dasar firman Yesus. Begitulah cara Tuhan memulai pekerjaan-Nya di zaman itu, memulai awal Zaman Anugerah; Dia membawa sebuah zaman baru, menghapuskan zaman lama, dan juga menggenapi firman yang mengatakan “Tuhan adalah awal dan akhir.” Dengan kata lain, manusia harus melakukan pekerjaan manusiawi di atas dasar pekerjaan ilahi. Setelah Yesus menyampaikan semua yang harus dikatakan-Nya dan menyelesaikan pekerjaan-Nya di bumi, Dia pun pergi. Setelah ini, semua manusia yang melakukan pekerjaan Tuhan, melakukannya berdasarkan prinsip yang dinyatakan dalam firman-Nya, dan melakukan kebenaran yang Dia sampaikan. Mereka adalah manusia yang bekerja bagi Yesus. Jika Yesus sendiri saja yang bekerja, tidak peduli berapa banyak firman yang disampaikan-Nya, manusia tetap tidak akan bisa berkontak dengan firman-Nya, karena Dia bekerja secara ilahi dan hanya bisa menyampaikan firman ilahi dan Dia tidak bisa menjelaskan segala sesuatunya sampai ke tahap di mana manusia biasa bisa mengerti firman-Nya. Itu sebabnya Dia memiliki para rasul dan nabi yang setelah Dia pergi bisa melanjutkan pekerjaan-Nya. Inilah prinsip kerja Tuhan yang berinkarnasi – menggunakan inkarnasi daging untuk berbicara dan bekerja untuk menyelesaikan pekerjaan ilahi-Nya, dan menggunakan beberapa orang atau mungkin banyak orang, yang berkenan di hati-Nya untuk melanjutkan pekerjaan-Nya. Karena itulah Tuhan menggunakan manusia yang berkenan kepada-Nya untuk melakukan menggembalakan dan membasuh umat manusia sehingga mereka bisa mendapatkan kebenaran.

Jika, dengan berinkarnasi Tuhan hanya melakukan pekerjaan ilahi tanpa menambahkan beberapa orang yang berkenan di hati-Nya untuk bekerja sama dengan-Nya, maka tidak mungkin manusia mengerti kehendak Tuhan atau berkontak dengan Tuhan. Tuhan harus menggunakan manusia normal yang berkenan di hati-Nya untuk menyelesaikan pekerjaan ini, untuk mengawasi, dan menggembalakan gereja, supaya masuk ke dalam proses kognitif manusia, dan bisa dimengerti oleh otaknya. Dengan kata lain, Tuhan menggunakan sejumlah kecil orang yang berkenan kepada-Nya untuk “menerjemahkan” pekerjaan yang dilakukan dalam keilahian-Nya, sehingga pekerjaan itu bisa terbuka. Apa yang dilakukan manusia itu sebenarnya adalah mengubah bahasa ilahi menjadi bahasa manusia, sehingga orang bisa memahami dan mengerti. Jika Tuhan tidak melakukannya, tidak akan ada yang mengeri bahasa ilahi Tuhan, karena orang yang berkenan kepada-Nya sedikit, dan kemampuan manusia untuk mengerti itu lemah. Itu sebabnya Tuhan memilih menggunakan metode ini ketika bekerja di dalam inkarnasi-Nya. Jika Dia hanya bekerja secara ilahi saja maka tidak mungkin manusia mengenal atau berkontak dengan Tuhan, karena manusia tidak mengerti bahasa Tuhan. Manusia bisa mengerti bahasa ini hanya lewat bantuan manusia lain yang berkenan kepada Tuhan dan bisa menjelaskan kata-kata-Nya. Namun, jika hanya orang-orang itu saja yang bekerja di antara umat manusia, yang hanya mampu menjalankan kehidupan manusia normal; maka hal itu tidak akan mengubah watak manusia. Pekerjaan Tuhan tidak memiliki awal baru; semuanya sudah ada dan sudah pernah dikerjakan sebelumnya. Hanya lewat bantuan Tuhan yang berinkarnasi, yang mengatakan semua yang perlu dikatakan dan melakukan semua yang perlu dilakukan di masa inkarnasi-Nya, setelah pekerjaan dan pengalaman manusia sesuai dengan firman-Nya, maka watak kehidupan mereka mampu diubah dan mereka bisa mengikuti aliran waktu. Dia yang bekerja dalam keilahian mewakili Tuhan, sementara mereka yang bekerja dalam kemanusiaan, adalah orang-orang yang dipakai oleh Tuhan. Jadi, Tuhan yang berinkarnasi sangat berbeda dengan manusia yang dipakai oleh Tuhan. Tuhan yang berinkarnasi mampu melakukan pekerjaan ilahi, sementara orang-orang yang dipakai oleh Tuhan tidak. Di awal setiap masa, Roh Tuhan berbicara secara pribadi untuk membuka zaman dan membawa manusia masuk ke awal yang baru. Ketika Dia sudah selesai berbicara, ini menandakan pekerjaan Tuhan dalam keilahian-Nya sudah selesai. Karena itu, manusia mengikuti pimpinan mereka yang dipakai oleh Tuhan untuk masuk ke dalam pengalaman hidup mereka. Dengan cara yang sama, ini juga adalah tahap di mana Tuhan membawa masuk manusia ke dalam zaman baru dan memberikan semua orang awal yang baru. Dengan ini, pekerjaan Tuhan dalam daging selesai.

Tuhan datang ke bumi bukan untuk menyempurnakan kemanusiaan-Nya yang normal. Dia datang bukan untuk melakukan pekerjaan manusia normal, tapi untuk melakukan pekerjaan ilahi dalam diri manusia normal. Apa yang Tuhan maksud dengan manusia yang normal berbeda dengan apa yang dibayangkan manusia. Manusia mengartikan “manusia yang normal” sebagai memiliki istri atau suami dan anak-anak lelaki dan perempuan. Itu adalah bukti seseorang normal. Tapi Tuhan memandangnya berbeda. Dia melihat manusia normal sebagai manusia yang memiliki pikiran manusia biasa, hidup seperti manusia biasa, dan dilahirkan dari manusia biasa. Tapi kenormalan-Nya tidak termasuk memiliki istri, suami atau anak sebagaimana kenormalan yang dimengerti manusia. Karena itu, manusia normal yang Tuhan bicarakan adalah apa yang dianggap manusia sebagai ketiadaan kemanusiaan, tidak memiliki emosi dan sepertinya tidak memiliki kebutuhan duniawi, sama seperti Yesus, yang hanya memiliki penampilan manusia normal dan memiliki wujud manusia normal, tapi secara inti tidak memiliki apa yang dimiliki manusia normal. Dari sini bisa terlihat bahwa substansi Tuhan yang berinkarnasi tidak meliputi semua yang dianggap normal oleh manusia, tetapi hanya sebagian kecil yang dengannya manusia bisa hidup, untuk menjalankan rutinitas manusia sehari-hari, dan menunjang logika berpikir manusia normal. Tapi semua itu tidak ada hubungannya dengan apa yang dianggap normal oleh manusia. Itulah yang harusnya dimiliki Tuhan yang berinkarnasi. Ada mereka yang mengatakan bahwa Tuhan yang berinkarnasi baru bisa dikatakan manusia normal jika punya istri, anak lelaki dan perempuan, keluarga. Tanpa itu, kata mereka, Dia tidak normal Aku bertanya kepadamu kalau begitu, “Apakah Tuhan memiliki istri? Apakah mungkin Tuhan punya suami? Bisakah Tuhan punya anak?” Bukankah semua itu kepercayaan yang salah? Tapi Tuhan yang berinkarnasi tidak mungkin berasal dari retakan di antara batu atau jatuh dari langit. Dia hanya bisa dilahirkan dari keluarga manusia normal. Itu sebabnya Dia memiliki orangtua dan beberapa saudara perempuan. Itulah kenormalan yang harus dimiliki Tuhan yang berinkarnasi. Itulah yang terjadi dengan Yesus. Yesus punya ayah, ibu, saudara laki-laki dan perempuan. Semuanya normal. Tapi jika Dia memiliki istri dan anak-anak, maka ini bukanlah kemanusiaan yang normal yang Tuhan ingin agar Tuhan yang berinkarnasi miliki. Jika itu yang terjadi, Dia tidak akan mampu melakukan pekerjaan bagi Yang Ilahi. Karena Dia tidak memiliki anak atau istri, dan dilahirkan dari manusia normal ke dalam keluarga normal, maka Dia mampu melakukan pekerjaan ilahi. Untuk lebih jelasnya, Tuhan menganggap manusia normal ketika lahir dalam keluarga yang normal. Hanya orang seperti itu yang layak melakukan pekerjaan ilahi. Jika, di sisi lain, orang memiliki istri, atau suami, dan anak, maka orang itu tidak bisa melakukan pekerjaan ilahi, karena dia akan memiliki kenormalan yang disyaratkan manusia tetapi bukan yang disyaratkan Tuhan. Apa yang Tuhan pikirkan dan apa yang manusia pikirkan seringkali sangat berbeda jauh. Dalam tahap pekerjaan Tuhan ini, ada banyak yang berbeda dan berbeda sekali dengan watak manusia. Bisa dikatakan bahwa dalam tahap ini, pekerjaan Tuhan hanya terdiri dari pekerjaan ilahi, dengan manusia sebagai pendukung. Karena Tuhan datang ke bumi untuk melakukan pekerjaan-Nya sendiri bukan membiarkan manusia mengerjakannya, itu sebabnya DIa berinkarnasi dalam daging (dalam bentuk manusia yang normal, tidak sempurna) untuk melakukan tugas-Nya. Dia menggunakan inkarnasi ini untuk menyajikan sebuah zaman baru kepada manusia, memberitahu manusia tentang tahap berikut dalam pekerjaan-Nya dan meminta mereka bertindak sesuai dengan jalan yang dijelaskan dalam firman-Nya. Dengan ini, Tuhan menyelesaikan pekerjaan-Nya dalam daging dan Dia akan meninggalkan umat manusia, tidak lagi tinggal dalam daging manusia normal, tapi berpindah dari satu manusia kepada manusia lain untuk melanjutkan pekerjaan-Nya yang lain. Lalu, setelah memakai orang yang berkenan kepada-Nya, Dia meneruskan pekerjaan-Nya di bumi di antara sekelompok orang ini, tapi dalam kemanusiaan mereka.

Tuhan yang berinkarnasi tidak bisa selamanya tinggal dengan manusia karena ada banyak pekerjaan lain yang harus dilakukan Tuhan. Dia tidak bisa terikat pada daging; Dia harus memisahkan diri dari daging untuk melakukan pekerjaan yang harus dilakukan, walau Dia melakukan pekerjaan itu dalam wujud daging. Ketika Tuhan datang ke bumi, Dia tidak menunggu sampai Dia mencapai wujud di mana manusia normal akan meninggal dan pergi dari antara umat manusia. Tidak masalah berapa tua daging-Nya, ketika pekerjaan-Nya sudah selesai, Dia pergi dan meninggalkan manusia. Tidak ada batasan umur bagi-Nya; Dia tidak menghitung hari-hari-Nya dengan ukuran usia manusia; sebaliknya, Dia mengakhiri hidup-Nya di dalam daging sesauai dengan tahap dalam pekerjaan-Nya. Ada mereka yang merasa Tuhan, dengan datang dalam daging, harus berkembang sampai suatu tahap tertentu, menjadi dewasa, tua dan meninggalkan dunia ketika tubuh-Nya sudah tidak mampu lagi bertahan. Ini adalah bayangan manusia; Tuhan tidak bekerja seperti itu. Dia berinkarnasi hanya untuk melakukan pekerjaan yang seharusnya Dia lakukan dan bukan hidup seperti manusia normal yang lahir dari orangtua, tumbuh, membentuk keluarga, dan memulai karier, memiliki anak atau mengalami suka duka kehidupan – semua aktivitas normal manusia. Ketika Tuhan datang ke bumi, inilah Roh Tuhan yang masuk ke dalam daging, datang ke dalam daging, tapi Tuhan tidak hidup sebagaimana manusia pada umumnya. Dia datang untuk menyelesaikan satu bagian dari rencana pengelolaan-Nya. Setelah itu Dia akan meninggalkan umat manusia. Ketika Dia datang dalam daging, Roh Tuhan tidak menyempurnakan kemanusiaan daging itu. Sebaliknya, pada saat yang sudah ditentukan Tuhan, keilahian akan langsung bekerja. Lalu, setelah melakukan apa yang harus dilakukan dan menyelesaikan pelayanan-Nya, pekerjaan Roh Tuhan di tahap ini selesai, dan hidup Tuhan yang berinkarnasi juga berakhir, terlepas dari apakah tubuh jasmani-Nya telah mencapai batasnya atau belum. Jadi, apa pun tahap kehidupan yang dicapai tubuh jasmaninya, berapa lama Dia ada di bumi, semua ditentukan oleh pekerjaan Roh. Tidak ada hubungannya dengan apa yang dianggap normal oleh manusia. Mari kita lihat Yesus sebagai contoh. Dia hidup sebagai manusia selama 33,5 tahun. Secara manusia, Dia tidak harusnya meninggal di usia itu, dan Dia tidak seharunya pergi. Tapi bukan ini yang menjadi pertimbangan Roh Tuhan. Pekerjaan-Nya selesai, pada saat itu tubuh-Nya diangkat, menghilang bersama Roh. Inilah prinsip kerja Tuhan dalam daging. Dan, yang harus diingat, Tuhan yang berinkarnasi bukanlah manusia normal. Dia datang ke bumi, bukan untuk hidup normal sebagai manusia. Dia tidak menjalani kehidupan normal sebagai manusia lalu mulai bekerja. Sebaliknya, Dia dilahirkan dalam keluarga yang normal, Dia mampu melakukan pekerjaan ilahi. Dia bebas dari pemikiran manusia, Dia tidak kedagingan, dan tentu saja Dia tidak mengadopsi cara hidup manusia atau terlibat dalam pemikiran manusia, apa lagi terhubung dengan filosofi manusia. Inilah pekerjaan yang harus dilakukan Tuhan yang berinkarnasi, dan itu juga signifikansi praktis dari inkarnasi-Nya. Tuhan berinkarnasi terutama untuk melakukan satu tahap dalam pekerjaan-Nya yang harus dilakukan dalam daging, tanpa harus melewati proses yang kurang penting dan tidak perlu mengalami pengalaman yang dialami manusia lain. Pekerjaan Tuhan yang berinkarnasi tidak harus termasuk pengalaman manusia normal. Jadi Tuhan berinkarnasi untuk menyelesaikan pekerjaan yang Dia harus kerjakan di dalam daging. Sisanya tidak ada hubungan dengan-Nya. Dia tidak melewati banyak proses tidak penting. Begitu pekerjaan-Nya selesai, signifikansi inkarnasi-Nya juga berakhir. Menyelesaikan tahap ini berarti pekerjaan yang Dia harus lakukan dalam daging sudah selesai dan pelayanan-Nya dalam daging sudah selesai. Tapi Dia tidak bisa terus bekerja dalam daging. Dia harus berpindah ke tempat lain untuk bekerja, di luar daging. Hanya dengan cara ini, pekerjaan-Nya menjadi semakin sempurna dan berkembang. Tuhan bekerja menurut rencana awal-Nya. Pekerjaan yang harus dikerjakan-Nya dan pekerjaan yang harus diselesaikan-Nya, Dia tahu dengan detail semuanya. Tuhan memimpin setiap orang berjalan di jalan yang sudah ditetapkan-Nya. Tidak ada yang bisa kabur dari sini. Hanya mereka yang mengikuti pimpinan Roh Tuhan akan bisa masuk ke dalam tempat peristirahatan. Mungkin saja, dalam pekerjaan berikutnya, bukan Tuhan yang berbicara dalam daging untuk membimbing manusia, tapi Roh yang bisa disentuh yang akan membimbing manusia. Hanya dengan begitu manusia bisa menyentuh, melihat Tuhan, dan masuk dengan lebih sempurna ke dalam realita yang Tuhan inginkan, supaya disempurnakan oleh Tuhan yang praktis. Inilah pekerjaan yang Tuhan ingin selesaikan, apa yang sudah Dia rencanakan dari dulu sekali. Dari sini, kalian harusnya bisa melihat jalan yang harusnya kalian tempuh!

Sebelumnya:Kedua Inkarnasi Melengkapi Makna Penting Inkarnasi

Selanjutnya:Perbedaan Antara Pelayanan Tuhan yang Berinkarnasi dan Kewajiban Manusia

Anda Mungkin Juga Menyukai